Tampilkan postingan dengan label biografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label biografi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Juli 2012

http://sosok.kompasiana.com/2012/07/27/ida-arimurti-kisah-konglomerat-yang-ditolak-dan-segerobak-bunga-dari-pengemar-fanatik

Ida Arimurti: Kisah Konglomerat yang Ditolak dan Segerobak Bunga dari Pengemar Fanatik


Kita berusaha, Allah berkehendak. Pepatah itu sepertinya persis sekali dengan perjalanan hidup seorang Ida Arimurti. Siapa yang tidak mengenal wanita cantik kelahiran Surabaya, Jawa Timur, 17 Desember  ini. Penyiar radio dan televisi, MC,dubber, dan belakangan berkecimpung dalam dunia wirausaha.

Kompasianers, kiprahnya di dunia radio tak sengaja dilakukan. Kisahnya terjadi saat Ida masih berseragam putih abu-abu alias SMU (dulu Sekolah Menengah Atas, SMA) di SMU 30, Rawasari, Jakarta Pusat. Temannya ingin menjadi penyiar radio Amigos. Saat mengantar temannya ke radio yang bermarkas di jalan Wijaya itu, penyiar Amigos, Leo Kresnapaty, justru menawari Ida untuk menjadi penyiar.

Begitu aku coba, eh, malah aku yang diterima,” katanya mengingat pada 1982, ketika pertama kali memulai siaran di Amigos. “Meski temanku nggak diterima, ia nggak marah. Justru ia malah bangga aku kemudian jadi penyiar kondang,” tambah wanita ini sambil tertawa.

Di Amigos, Ida berjumpa dengan Bens Leo, pria yang belakangan dikenal sebagai pengamat musik terkenal di tanah air. Di radio ini, ia belajar banyak, baik itu teknik siaran maupun suara. Harap maklum, pada saat masuk, ilmu radionya nol besar. Namun, tekad yang kuat, membuat dirinya langsung menjadi penyiar yang dinantikan oleh banyak pendengar.

Kompasianers, dua tahun bersiaran di Amigos, Ida ‘dibajak’ ke Radio Prambors. Di radio yang dahulu bermarkas di jalan Borobudur 4, Jakarta Pusat ini, namanya menjulang. Bak bintang film atau sinetron sekarang ini, Ida pun menjadi idola. Kepopulerannya ini membuat TVRI yang dahulu cuma satu-satunya televisi di Indonesia, merekrutnya menjadi penyiar di programa 2 TVRI Jakarta dan penyiar TVRI Nasional.
Alhamdulillah. Semua itu  aku syukuri. Niat aku bekerja itu adalah bekarya, bukan karena rutinitas saja, tetapi harus punya prestasi, sehingga perusahaan bisa melihatku sebagai aset.”

Saat di Prambors pada 1984, Ida dibayar Rp 5.000 per jam. Dalam seminggu, ia bersiaran selama 4 sampai 6 jam. Jadi, honornya sebulan sekitar Rp 500 ribuan. Zaman itu, angka itu cukup besar untuk honor seorang penyiar. Menurutnya, setiap tahun honornya terus dinaikkan. Tak heran, dalam 2 tahun siaran, ia bisa membeli Starlet seharga 25 juta perak dan mencicil rumah di Jatibening, Bekasi.

Kata perusahaan, aku termasuk penyiar termahal,” ungkapnya tanpa bermaksud menyombongkan diri. Sebab, faktanya, nama Ida memiliki nilai jual di radio. Rating program radio yang ada namanya, selalu menjulang. Sampai ketika pindah ke Group Delta, ia selalu bersiaran di jam primetime. Maklum, banyak agency yang pasang iklan di program acara dimana penyiarnya Ida Arimurti. “Makanya jangan heran, aku selalu dapat bonus besar,” akunya sambil tertawa lagi.

Kompasianers, bukan dari siaran saja honor yang didapat Ida. Tentu Anda tahu, pekerjaan sampingan jadi penyiar adalah menjadi MC. Tentu Anda tahu, 1 hari dalam setahun ada 365 hari. Namun dalam setahun, ia pernah mendapatkan job MC sebanyak 400 kali. Bayangkan jika siangnya ia  diundang perusahaan A, lalu malamnya diundang perusahaan B. Belum termasuk honor yang didapat dari menjual suaranya dengan menjadi dubber.

Bagi Ida, siaran radio ibarat darah nadi. Saking cintanya, waktu 24 jam tidaklah cukup untuk melakukan untuk radio. Memang, wanita ini begitu total ketika bersiaran. Resep itulah yang membuatnya cukup dikenal sampai saat ini. Totalitas itu pula yang menjadikan karirnya terus melesat, dari penyiar Prambors (1984-1994), Female (1994-2002), dan kemudian pada 2004 dipercaya menjadi Direktur Woman Radio.

Dengan jabatan sebagai Direktur, praktis penghasilannya berlipat-lipat dibanding menjadi penyiar. Namun, posisi tinggi di Female tersebut jelas merupakan konsekuensi logis yang memang sudah seharusnya ia dapatkan, mengingat kerja keras dan komitmennya selama ini di radio. “Alhamdulillah, aku membangun radio ini (Woman Radio-pen) mulai dari nol sampai kemudian cukup dikenal orang.”

Kompasianers, disiplin, tepat waktu, dan bertanggung jawab adalah resep sukses seorang Ida Arimurti agar bisa sukses di dunia radio dan tentu saja di profesi lain. “Dalam dunia radio, sedetik itu berharga. Jadi kalo kita tidak disiplin dan tepat waktu, sulit untuk berhasil,” jelas wanita yang sempat membawakan program TRAX (TVRI) bersama Erwin Parengkuan, dimana saat itu bersaing dengan program musik Rocket(RCTI) yang dibawakan oleh Jeffry Woworuntu dan Gladys Suwandi.

Tambah Ida, jadi penyiar itu tidak boleh setengah-setengah. Maksudnya, jangan sekadar suka siaran, tetapi harus melakukan sesuatu yang berbeda. “Jangan cuma datang, lalu siaran. Namun kita harus tahu detail tentang profesi kita dan belajar mengenai dunia penyiaran, termasuk manajemen. Dengan begitu, wawasan kita luas.”

Resep lain dari seorang penyiar, jelas tahu tentang dunia musik dan punya sense of humor alias selera humor. Mengenai selera humor ini, menurut Ida sangat penting. Sebab, ketika kita menginterview narasumber dan kita tidak punya selera humor, otomatis wawancara tersebut akan kering dan tidak cair. Hal itu jelas akan membosankan pendengar, pun pada diri narasumber itu.

Kerja keras Ida tentu ada konsekuensi lain yang dipertaruhkan, apa lagi kalo bukan masalah berkeluarga. Ia sadar, bahwa ia terlambat menikah. Padahal ia bukan tidak suka menikah tepat waktu atau ia termasuk wanita pilih-pilih pasangan. “Soalnya kalo ada cowok yang dekat sama aku bawanya ngajak kawin terus,” akunya. Salah satu pria yang dekat dengannya dan mengajak kawin adalah seorang pengusaha kaya dan termasuk konglomerat pribumi tersohor di tanah air.

Dulu aku memang lugu, nggak neko-neko gitu. Pacaran baik-baik. Nggak pernah ciuman. Eh, begitu diajakin serius, malah kabur. Aneh nggak sih?
Kompasianers, suara Ida yang lembut dan seksi, membuat pendengar selalu klepek-klepek. Saat di Prambors, ia selalu mendapatkan 3 surat per hari, dan paling banyak 10 surat. Isi surat itu rata-rata selain memuji suaranya, suka gaya siarannya, kelanjutan cerita Catatan Si Boy, Dairy, juga pertanyaan-pertanyaan yang ‘menjurus-jurus’ tentang masalah pribadi. “Ya, kebanyakan surat cinta gitu, deh.

Tak seperti kebanyakan idola pada fans-nya, Ida termasuk orang yang rajin membalas semua surat yang dikirimkan kepadanya. Hebatnya, surat-surat itu ditulis tangannya sendiri, bukan balasan surat yang berasal dari satu surat yang di-foto copy (baca: diperbanyak dengan cara foto copy). Ia pun menyisihkan ektra uang untuk membeli perangko jika ada penggemarnya yang tidak menyertakan perangko balasan.
Soal perangko, no problem. Kan memang aku budgetkan.”

Begitu banyak pendengar yang menjadi penggemar fanatik. Tak cuma konglomerat itu. Ada seorang pengemar yang membuat dirinya ketakutan, dimana ia selalu mengirimkan faks setiap hari. Penggemar fanatik ini mulai tergila-gila dengan Ida saat masih bersiaran di Prambors sampai ketika pindah di Delta FM.
Selain mengirim faks, penggemar fanatik ini sempat mengirimkan diary yang seluruh halamannya sudah ditulis penuh olehnya. Isi dairy itu tentang imajinasinya tentang Ida, mulai saat ia kenalan, pacaran, married, dan punya dua anak. Bahkan, ia berimajinasi pada saat bercinta.

Pernah orang ini ngikutin aku sampai ke mal. Sampai di eskalator, ia berdiri di sampingku sambil memegang tangangku. Ia mengatakan benar-benar jatuh cinta sama aku,” kenangnya saat masih bersiaran di Female, dimana kantornya di Plaza Bintaro, Tanggerang. “Saking panik, aku berusaha untuk menghindar dan lari.”

Ida mengerti, pengemar fanatik seperti itu tidak bisa diperlakukan kasar. Sebab, hal itu justru akan membahayakan dirinya. Makanya, jika terpaksa bertemu, ia harus bersikap bagi. Begitu ada kesempatan, ia coba menghindar. Percaya tak percaya, saking tahu Ida adalah ‘aset’ bagi perusahaan, pimpinan Prambors sempat menggaji seorang satpam untuk selalu mengawal kemana pun Ida pergi.

Kalo nggak salah, nama satpamnya pak Sardi.”
Kompasianers, penggemar fanatik yang sehari-hari bekerja sebagai PNS di Departemen Keuangan ini hampir setiap hari ke markas Prambors. Makanya, setiap kali habis siaran, Ida selalu dikawal pak Sardi keluar lewat jalan belakang. “Wah, kayak main petak umpet gitu, deh.”

Suatu kali, penggemar fanatik ini mengirimkan bunga pada saat Ida ulang tahun.  Jika bunganya cuma setangkai barangkali biasa. Namun yang terjadi, ia mengirimkan bunga segerobak, sebanyak usia Ida pada saat itu. Hebatnya, bunga-bunga itu komplit dikirim dengan menggunakan pot-potnya.

Pernah pula ia kirim bunga ke hotel saat aku jadi MC. Awalnya aku bingung dibilangi resepsionis ada yang kirim bunga. Eh, ternyata pengemar fanatikku itu yang kirim. Aku bingung dari mana dia tahu aku lagi jadi MC di hotel ini. Ternyata aku sempat keceplosan ngomong, nanti malam bakal jadi MC di hotel itu,” jelas wanita yang sempat menjadi tokoh Ina di acara Catatan Si Boy saat di Prambors ini.

Masih banyak kisah penggemar yang mebuat Ida ‘ketakutan’. Pernah ia dimarah-marahi oleh seorang wanita, gara-gara suaminya menyimpan foto Ida di dalam dompet. Wanita itu bertanya tentang hubungan Ida dengan suaminya itu. Tentu Ida cuma senyam-senyum, karena suami si wanita itu adalah penggemar fanatik Ida.

Entah dapat dari majalah mana, fotoku digunting dan dimasukkan dalam dompet. Yang bikin marah si istri, karena fotonya yang ada di dalam dompet itu diperlihatkan,” papar Ida yang juga sempat mendapatkan ‘teror’ melalui telepon ini. “Saat ini, aku dan wanita ini berkawan di FB. Namun, ia masih nggak habis pikir, suaminya masih tergila-gila dengan aku dan selalu membandingkan dia dengan aku.

Kisah tentang penggemar ini, menurut Ida ada yang lebih parah. Ia sempat dikejar-kejar dengan seorang perempuan yang mengaku laki-laki. Suaranya memang mirip laki-laki. Namun begitu ketemu, ternyata perempuan. “Waktu itu setiap aku ingin sesuatu, pengemar yang mengaku cowok ini selalu mengirimkan keinginanku ini ke studio.”

Kompasianers, keseksian suara Ida tidak bisa kita nikmati lagi. Pasalnya, sejak 2010, ia memutuskan untuk break bersiaran. Keputusannya ini setelah ia tidak lagi bersiaran di Delta dan fokus di program Zona Memori yang sempat ditayangkan di Metro TV. Ternyata, sejak 2011 lalu, Zona Memori pun berhenti siarannya.
Sekarang saatnya aku fokus membagi waktu untuk anak,” ujar wanita yang belakangan giat menjadi pengusaha ini. “Tentu ada pekerjaan selain mengurus anak. Namun yang pasti, pekerjaan yang aku lakukan ini tidak menyita waktu terlalu besar, sebagaimana dulu ketika aku di radio.”



Sabtu, 17 Maret 2012

PROF. WIDJOJO NITISASTRO

Prof. Dr. Widjojo Nitisastro (lahir 23 September 1927 – meninggal di Jakarta, 9 Maret 2012 pada umur 84 tahun) adalah Menteri Indonesia yang dikenal sebagai arsitek utama perekonomian orde baru. Ia sempat diangkat sebagai Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional periode 1971-1973 dan Menko Ekuin sekaligus merangkap sebagai Ketua Bappenas pada periode 1973-1978 dan 1978-1983.
Widjojo sering dianggap sebagai pemimpin Mafia Berkeley— julukan yang diberikan kepada sekolompok menteri bidang ekonomi dan keuangan yang menentukan kebijakan ekonomi Indonesia pada masa awal pemerintahan Presiden Suharto.
Riwayat
 Masa muda dan pendidikan
Widjojo berasal dari keluarga pensiunan penilik sekolah dasar. Ayahnya adalah seorang aktivis Partai Indonesia Raya (Parindra), yang menggerakkan Rukun Tani.[1] Ketika pecah Revolusi Kemerdekaan di Surabaya, ia baru duduk di kelas I SMT (setingkat SMA). Pada tahun 1945, Widjojo bergabung dengan pasukan pelajar yang kemudian dikenal sebagai TRIP. Ia bertempur dengan gagah berani dan nyaris gugur di daerah Ngaglik dan Gunung Sari Surabaya.[1]
Seusai perang, Widjojo sempat mengajar di SMP selama 3 tahun. Ia kemudian memutuskan untuk melanjutkan pendidikan tingginya di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) dan mengkhususkan diri pada bidang demografi.[2] Ketika masih menjadi mahasiswa di FEUI, bersama seorang ahli dari Canada Prof. Dr. Nathan Keyfiz, Widjojo menulis sebuah buku berjudul "Soal Penduduk dan Pembangunan Indonesia". Kata pengantarnya ditulis oleh Mohammad Hatta. Hatta menulis, "Seorang putra Indonesia dengan pengetahuannya mengenai masalah tanah airnya, telah dapat bekerja sama dengan ahli statistik bangsa Canada. Mengolah buah pemikirannya yang cukup padat dan menuangkannya dalam buku yang berbobot." Buku ini sangat populer di kalangan mahasiswa ekonomi.[1] Widjojo lulus dengan predikat Cum Laude.[1]
Sebagai salah satu mahasiswa paling cemerlang di kampusnya, Widjojo kemudian mendapat kesempatan untuk berkuliah di University of California at Berkeley atas beasiswa dari Ford Foundation. Ia lulus pada tahun 1961 dan kembali ke Indonesia untuk mengajar di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (SESKOAD).
 Awal karier
Saat Widjojo lulus dari UCB, Indonesia yang berada di bawah pemerintahan Presiden Soekarno menjalankan politik demokrasi terpimpin. Di bawah politik ini, perekonomian Indonesia cenderung mengarah pada sosialisme/komunisme yang mempercayai bahwa pemerintah mengetahui segalanya tentang perekonomian dan karenanya pemerintah harus memiliki kontrol penuh atas perekonomian—karena itu, mekanisme pasar diabaikan. Pemerintah Soekarno juga tidak mempercayai analisis-analisis ekonomi ala Barat, terutama AS. Soekarno bahkan dengan bangga bahwa ia benar-benar tidak paham (illiterate ) tentang analisis ekonomi.[3]
Perekonomian Indonesia saat itu menjadi kacau, dengan tingkat inflasi yang sangat tinggi. Harga barang rata-rata pada tahun 1965 adalah tujuh kali harga rata-rata di tahun 1964.[3] Widjojo menyampaikan pendapatnya kepada pemerintah untuk mengubah paradigma ekonomi Indonesia. Saat inaugurasinya sebagai profesor ekonomi Universitas Indonesia pada 10 Agustus 1963, Widjojo membacakan pidato berjudul "Analisis Ekonomi dan Perencanaan Pembangunan."[3] Ia menyampaikan saran agar memasukkan analisis ekonomi dalam pembuatan kebijakan pemerintah. Ia juga menyarankan adanya kombinasi mekanisme pasar dan intervensi pemerintah alih-alih membiarkan pasar terlalu bebas atau sebaliknya membuat pemerintah terlalu berkuasa.[3]
Namun secara politis, posisi Widjojo dan kawan-kawannya sebagai seorang lulusan asal Amerika Serikat—yang memiliki ideologi bertentangan dengan ideologi sosialis/komunis—sangat sulit. Keadaan diperparah dengan meningkatnya tensi antara Indonesia dengan AS, Inggris, Malaysia, dan Singapura. Soekarno melancarkan konfrontasi terhadap Federasi Malaysia karena menganggap negara itu sebagai negara boneka bentukan Inggris.[3] Pendapat Widjojo akhirnya tidak didengar oleh Pemerintahan Soekarno.[3]
 "Mafia Berkeley"
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Mafia Berkeley
Pada tahun 1966, Jenderal Soeharto mengambil alih kekuasaan di Indonesia dari Presiden Soekarno melalui Supersemar. Meskipun belum menjadi presiden hingga dua tahun berikutnya, Soeharto mulai membangun dasar-dasar pemerintahan yang nantinya akan disebut sebagai rezim Orde Baru. Pada akhir Agustus 1966, Soeharto mengadakan seminar di SESKOAD untuk mendiskusikan masaldah ekonomi dan politik serta bagaimana Orde Baru akan mengatasi permasalahan itu. Ekonom-ekonom FEUI, yang diketuai oleh Widjojo Nitisastro, mengikuti seminar itu.
Dalam seminar, para ekonom mempresentasikan ide mereka serta rekomendasi kebijakan kepada Soeharto. Soeharto kagum akan ide mereka dan dengan cepat meminta mereka untuk bekerja sebagai Tim Ahli di bidang Ekonomi dan Keuangan.[4] Pengangkatan ini menjadi awal karier Widjojo di dunia politik. Di kemudian hari, tepatnya pada tahun 1970, ia dan beberapa ekonom lulusan University of California at Berkeley lainnya dituduh sebagai Mafia Berkeley yang dibentuk oleh CIA untuk menanamkan paham ekonomi liberalisme di Indonesia.[5]
 Karier politik
Pada usianya yang relatif muda, 39 tahun, ia dipercaya sebagai ketua tim penasihat ekonomi presiden (1966). Ia juga beberapa kali duduk sebagai menteri kabinet pada posisi yang sesuai dengan bidang tugasnya, yaitu ekonomi. Pada 1968 ia menjadi Ketua Badan Perancang Pembangunan Nasional (Bappenas). Sejak tahun 1971 hinga 1973, ia diangkat menjadi Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional. Kemudian secara berturut-turut, dari tahun 1973 hingga 1983, ia menjabat sebagai menteri Ekuin merangkap Ketua Bappenas.[1]
Tahun 1984, Widjojo menerima penghargaan dari Universitas Berkeley, California, AS, yakni Elise Walter Haas Award. Perhargaan tradisi tahunan universitas tersebut diberikan kepada bekas mahasiswa asing yang jasa-jasanya dianggap menonjol. Dan Widjojo merupakan orang Indonesia pertama yang menerima penghargaan ini.[1]
Pada awal tahun 1980-an namanya sempat mencuat sebagai bakal calon wakil presiden periode 1983-1988. Ia dicalonkan oleh Forum Studi dan Komunikasi (Fosko), suatu organisasi beranggotakan bekas aktivis angkatan 66. Namun ia menolak.[1]
Pengaruhnya melemah pada era kepemimpinan Habibie, yang pemikiran ekonominya bertentangan dengan perekonomian Widjojo. Ia kembali ke pemerintahan sebagai Penasehat Ekonomi Presiden setelah pertanggungjawaban Habibie ditolak oleh MPR, dan masih menjabat hingga kini.
Ketika Gus Dur menjabat Presiden, Widjojo diminta untuk memimpin Tim Ekonomi Indonesia pada pertemuan Paris Club pertengahan April 2000. Misi tim ini adalah membicarakan penjadwalan kembali pembayaran utang RI, untuk priode April 2000 hingga Maret 2002 senilai 5,9 milyar AS. Permintaan tim ini disetujui kelompok donor yang beranggotakan 19 negara itu. Ekonom Mohammad Sadli Profesor memuji peranan Widjojo Nitisastro dalam keberhasilan tim itu. Menurut Sadlli, 95 persen kerja delegasi Indonesia adalah arahan Widjojo.[1]
 Pemikiran ekonomi
Pemikiran ekonomi yang dianut Widjojo berdasar dari pemikiran Keynes yang menyarankan kombinasi antara mekanisme pasar dan intervensi pemerintah.[3] Konsep ekonomi Widjojo—yang kerap disebut pers sebagai Widjojonomics—menekankan prinsip kehati-hatian yang "sangat" (prudent).[1] Pemikiran Widjojo diuraikan dalam buku Pengalaman pembangunan Indonesia: Kumpulan tulisan dan uraian Widjojo Nitisastro (2010).[6]
 Karier
*       Perencana pada Badan Perencanaan Negara (1953-1957)
*       Direktur Lembaga Ekonomi dan Riset UI dan Dekan FE UI (1961-1964, 1964-1968)
*       Guru Besar Ekonomi UI (1964 --1993)
*       Dosen Seskoad (sejak 1962)
*       Dosen Lemhanas (sejak 1964)
*       Direktur Lembaga Ekonomi dan Kebudayaan Nasional (Leknas), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (1964-1967)
*       Ahli PBB bagi penilaian pelaksanaan dasawarsa Pembangunan II dan anggota Governing Council of United Nations Institute of Development (1967)
*       Ketua Bappenas (1967-1971)
*       Ketua Delegasi Rescheduling Utang RI (1967)
*       Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional (1971-1973)
*       Menko Ekuin merangkap Ketua Bappenas (1973-1978 dan 1978- 1983)
*       Penasihat Bappenas (1983 -- sekarang)
*       Penasehat Pemerintah RI
*       Penasehat Ekonomi Presiden (1993-sekarang)
 Karya
Karya tulis penting:
*       Soal Penduduk dan Pembangunan Indonesia (bersama Prof. Dr. Nathan Keyfiz)
*       Population Trends in Indonesia
*       The Socio Economic Basic of the Indonesian State
*       The Role of Research in a University
 Penghargaan
*       Elise Walter Haas Award dari Universitas Berkeley, AS (1984)
*       Piagam Hatta (1985)
*       Penghargaan Kependudukan (1992)
 Referensi
1.      ^ a b c d e f g h i (Indonesia) Arsitek Ekonomi Orba yang Masih Cemerlang. Tokoh Indonesia. Diakses 5 Februari 2010.
2.      ^ (Indonesia) Profil Prof. Dr. Widjojo Nitisastro di Tempo. Diakses 5 Februari 2010.
3.      ^ a b c d e f g (Inggris) Ananta, Aris. Widjojo Nitisastro and changes to development paradigms. The Jakarta Post. Diakses 5 Februari 2010.
4.      ^ (Inggris) Dick, Howard (2002). The Emergence of a National Economy: An Economic History of Indonesia 1800-2000. Crow's Nest, NSW, Australia: Allen and Unwin. hlm. 196. 
5.      ^ (Indonesia) Boediono Bela Widjojo Nitisastro Soal Tuduhan Mafia Berkeley. Tempo Interaktif. Diakses 4 Februari 2011.
6.      ^ Widjojo Nitisastro (2010), Pengalaman pembangunan Indonesia: Kumpulan tulisan dan uraian Widjojo Nitisastro, Kompas Penerbit Buku, Jakarta. Ada ringkasan dalam karangan Peter McCawley, 'Review article: Widjojo Nitisastro and Indonesian development', Bulletin of Indonesian Economic Studies, 41(1), April 2011, pp. pp. 87-103.

PROF. WIDJOJO NITISASTRO

PROF. WIDJOJO NITISASTRO

Pesona Sang Pemicu: Dekonstruksi Karakter Pemimpin Reaksioner Berjubah Narasi Kesalehan

  Pesona Sang Pemicu: Dekonstruksi Karakter Pemimpin Reaksioner Berjubah Narasi Kesalehan   Pendahuluan Fenomena kepemimpinan kontempo...