Selasa, 23 Juli 2013

MENGHARGAI ANAK SEBAGAI PRIBADI

Menghargai Anak sebagai Pribadi

Suko Waspodo

Sebagai orangtua pasti ingin memiliki anak-anak yang kreatif dan untuk itu peran sertanya sangat penting. Orangtua yang menginginkan anak-anak kreatif seharusnya menghargai anak-anak mereka sebagai pribadi (person) yang penting. Mereka diperlakukan sebagai anggota keluarga yang sejajar. Pendapat mereka didengarkan dan ditanggapi. Perasaan-perasaan mereka diberi tempat dan diterima dengan wajar. Usul-usul mereka diperhitungkan. Keputusan-keputusan mereka mengenai beberapa hal yang sudah dikuasai seperti warna pakaian, macam permainan dan olahraga, kegiatan di luar rumah, hobby, dihargai.

Namun sikap dan perlakuan orangtua itu tidak permisif: “anak-anak diperbolehkan berbuat apa saja”, acuh tak acuh, “apa-apa saja sama saja” atau memanjakan: “membiarkan anak atau memenuhi kehendak anak-anak, biar mereka senang, juga yang tak wajar”, tetapi penuh perhatian, cinta, dan pembinaan. Anak-anak dihargai dengan disertai keinginan agar bertindak pantas. Anak-anak dipercaya dengan harapan agar hidup bertanggung jawab.




Anak-anak diberi kemungkinan untuk mengambil keputusan dengan catatan agar keputusan dibuat secara bertanggung jawab dan berani bertanggung jawab pula atas akibat-akibat dari keputusan yang sudah mereka ambil. Ini berarti dalam proses mengambil keputusan dalam bidang yang di atas kemampuan mereka, anak-anak dibantu dengan pertimbangan-pertimbangan yang diperlukan.

Dari sikap dan perlakuan orangtua itu, ada tiga akibat penting yang terjadi pada anak.

Pertama, karena dihargai, harga diri dan kepercayaan diri mereka berkembang.

Kedua, karena dilatih mengambil keputusan, mereka semakin cakap dalam hal mengambil keputusan.

Ketiga, karena dilatih bertanggung jawab, rasa tanggung jawab anak-anak dibina.

Demikianlah hal-hal yang perlu diperhatikan oleh orangtua yang menginginkan anak-anak yang kreatif. Menghargai anak sebagai pribadi sehingga hal ini menjadi dasar bagi mereka untuk hidup yang produktif dan perilaku yang efektif di kemudian hari.

Selamat menyambut Hari Anak Nasional. Salam damai penuh cinta.
***
Solo, Selasa, 23 Juli 2013

Suko Waspodo

http://edukasi.kompasiana.com/2013/07/23/menghargai-anak-sebagai-pribadi-579053.html

Kamis, 04 Juli 2013

Sumber Kebosanan Pria

Sumber Kebosanan Pria

Apakah Pria itu pembosan? Bisa ya bisa tidak. Tapi setidaknya sebagian pria hidupnya suka dengan yang dinamis, enggan sesuatu yang monoton dan rutinitas.
Demikian dalam membina keintiman dengan pasangannya, termasuk keintiman seksual.
Dalam pengalaman Saya sebagai terapis keluarga, Ada beberapa sumber kebosanan pria
Pertama, jika mendengar isi komunikasi istrinya monoton. Terjadi pengulangan, apalagi dengan ekspresi dan intonasi yang kurang menarik.

Saat seperti ini nampak suami memilih diam atau hanya menjawab singkat: hmm…Ya… Mungkin….entahlah… Malas mengeksplorasi percakapan. Ekstrimnya malah memilih tidur atau bekerja di depan komputer, berpura-pura sibuk. Mengatasinya latih diri menjadi pendengar yang baik. Belajar humor dan memperbanyak kosa kata dan isu percakapan yang disukai pria. Seperti politik, mobil, bola dsb. Kembangkan juga hobi bersama, supaya nyambung.

Kedua, variasi hubungan seksual yang minim. Pria senang menikmati segala sesuatu dengan variasi. Lihat saja mungkin pasanganmu suka membawa motor atau mobilnya ke bagian variasi mobil, dan rela mengeluarkan uang banyak hanya sekedar ganti klakson atau knalpot. Hal yang sama tampak dalam hubungan suami-istri. Ia ingin punya variasi, tidak hanya posisi saat berhubungan seksual tapi juga tempat melakukannya. Jika istri kurang memahami kebutuhan ini, cepat atau lambat pasaanganmu akan merasa bosan dan bisa-bisa berujung selingkuh. Solusinya, bicarakan terbuka variasi hubungan yang disukai pasangan, dan frekuensi dan waktu yang dibutuhkan.

Ketiga, dalam hal karir. Jika pria sudah merasa mentok dengan jabatan, atau penghargaan di kantornya maka ia berpikiran ingin pindah kerja. Indikasinya, pasangan anda banyak mengeluh tentang kantor. Mengeluhkan hubungan dengan teman kerja hingga enggan banget berangkat kerja. Mungkin pasangan anda sibuk kerja dan lupa mengembangkan diri. Malas sekolah lanjut atau setidaknya ikut seminar rutin dsb. Sehingga saat terjadi kompetisi dengan rekan yang lebih muda, pasanganmu merasa diabaikan bosnya. Namun sering pindah kerja jusru melemahkan isi CVnya, karena dianggap tidak loyal.


Solusinya, sejak menikah dorong agar pasangan selalu kembangkan diri. Suka membaca dan belajar. Kalau perlu studi lanjut agar membuatnya lebih menguasai pekerjaannya.
Keempat, sibuk kerja dan kurang rekreasi. Kesibukan bekerja dan rutinitas bisa mendatangkan rasa jenuh. Sayangnya pasanganmu merasa tak perlu ambil cuti dan rekreasi. Saat mengalami overload syndrom dia merasa cepat capek. Banyak mengeluh. Saat seperti ini dorong pasanganmu ambil cuti dan pergi berlibur. Apalagi jika pasanganmu mengidap workaholic alias candu kerja.

Tentu ini bukan kesalahan pasangan (istri) semata. keluar dari rasa bosan juga merupakan tanggungjawab utama kita sebagai pria dewasa. Sorry baru dari sisi pria, moga nanti bisa menuliskan dari sisi istri. Semoga mencerahkan
Julianto Simanjuntak


Meniti Jembatan Iman: Ruang Imajinasi, Pengharapan, dan Praktis Hidup di Tengah Arus Zaman

  Meniti Jembatan Iman: Ruang Imajinasi, Pengharapan, dan Praktis Hidup di Tengah Arus Zaman   Pengantar Agama dan keyakinan bukan sek...