PUTRA KARANGANYAR: MENCARI KEBAIKAN MENUJU KESEMPURNAAN HIDUP (mersudi becik,nggayuh sampurnaning urip). "dengan ilmu hidup menjadi mudah,dengan iman hidup semakin terarah, dengan berkebudayaan peradaban makin manusiawi dan membawa kebaikan bersama: satu bumi,satu nasib_kehidupan yang kita jalani=
Rabu, 31 Juli 2013
Gelora Nusantaraku Sakti: PENGENALAN DIRI ANDA YANG SEBENAR-BENARNYA
Gelora Nusantaraku Sakti: PENGENALAN DIRI ANDA YANG SEBENAR-BENARNYA: Membaca kata-kata yang berbunyi: "PENGENALAN DIRI ANDA YANG SEBENAR-BENARNYA" jika saja hanya sepintas saja, maka bukanlah merupa...
Senin, 29 Juli 2013
TB GRAMEDIA KARAWACI SAMBUT PENGUNJUNG DENGAN RAMAH
silahkan berkunjung ke TB Gramedia Karawaci, pasti anda akan di sapa dengan ramah pleh si Mbak yang cantik ini....
monggooooo...., selamat pagi..., selamat siang...., terimakasih atas kunjungannya...., dlll
monggooooo...., selamat pagi..., selamat siang...., terimakasih atas kunjungannya...., dlll
Selasa, 23 Juli 2013
MENGHARGAI ANAK SEBAGAI PRIBADI
Menghargai
Anak sebagai Pribadi
Suko Waspodo
Sebagai orangtua pasti ingin memiliki anak-anak yang kreatif dan
untuk itu peran sertanya sangat penting. Orangtua yang menginginkan anak-anak
kreatif seharusnya menghargai anak-anak mereka sebagai pribadi (person)
yang penting. Mereka diperlakukan sebagai anggota keluarga yang sejajar.
Pendapat mereka didengarkan dan ditanggapi. Perasaan-perasaan mereka diberi
tempat dan diterima dengan wajar. Usul-usul mereka diperhitungkan.
Keputusan-keputusan mereka mengenai beberapa hal yang sudah dikuasai seperti
warna pakaian, macam permainan dan olahraga, kegiatan di luar rumah, hobby,
dihargai.
Namun sikap dan perlakuan orangtua itu tidak permisif: “anak-anak
diperbolehkan berbuat apa saja”, acuh tak acuh, “apa-apa saja sama saja” atau
memanjakan: “membiarkan anak atau memenuhi kehendak anak-anak, biar mereka
senang, juga yang tak wajar”, tetapi penuh perhatian, cinta, dan pembinaan.
Anak-anak dihargai dengan disertai keinginan agar bertindak pantas. Anak-anak
dipercaya dengan harapan agar hidup bertanggung jawab.
Anak-anak diberi
kemungkinan untuk mengambil keputusan dengan catatan agar keputusan dibuat
secara bertanggung jawab dan berani bertanggung jawab pula atas akibat-akibat
dari keputusan yang sudah mereka ambil. Ini berarti dalam proses mengambil
keputusan dalam bidang yang di atas kemampuan mereka, anak-anak dibantu dengan
pertimbangan-pertimbangan yang diperlukan.
Dari sikap dan perlakuan orangtua itu, ada tiga akibat
penting yang terjadi pada anak.
Pertama, karena dihargai, harga diri dan kepercayaan diri mereka
berkembang.
Kedua, karena dilatih mengambil keputusan, mereka semakin cakap
dalam hal mengambil keputusan.
Ketiga, karena dilatih bertanggung jawab, rasa tanggung jawab
anak-anak dibina.
Demikianlah hal-hal yang perlu diperhatikan oleh orangtua yang
menginginkan anak-anak yang kreatif. Menghargai anak sebagai pribadi sehingga
hal ini menjadi dasar bagi mereka untuk hidup yang produktif dan perilaku yang
efektif di kemudian hari.
Selamat menyambut Hari Anak Nasional. Salam damai penuh cinta.
***
Solo, Selasa, 23 Juli 2013
Suko Waspodo
Senin, 08 Juli 2013
Kamis, 04 Juli 2013
Sumber Kebosanan Pria
Sumber
Kebosanan Pria
Apakah
Pria itu pembosan? Bisa ya bisa tidak. Tapi setidaknya sebagian pria hidupnya
suka dengan yang dinamis, enggan sesuatu yang monoton dan rutinitas.
Demikian
dalam membina keintiman dengan pasangannya, termasuk keintiman seksual.
Dalam
pengalaman Saya sebagai terapis keluarga, Ada beberapa sumber kebosanan pria
Pertama,
jika mendengar isi komunikasi istrinya monoton. Terjadi pengulangan, apalagi
dengan ekspresi dan intonasi yang kurang menarik.
Saat
seperti ini nampak suami memilih diam atau hanya menjawab singkat: hmm…Ya…
Mungkin….entahlah… Malas mengeksplorasi percakapan. Ekstrimnya malah memilih
tidur atau bekerja di depan komputer, berpura-pura sibuk. Mengatasinya latih
diri menjadi pendengar yang baik. Belajar humor dan memperbanyak kosa kata dan
isu percakapan yang disukai pria. Seperti politik, mobil, bola dsb. Kembangkan
juga hobi bersama, supaya nyambung.
Kedua,
variasi hubungan seksual yang minim. Pria senang menikmati segala sesuatu
dengan variasi. Lihat saja mungkin pasanganmu suka membawa motor atau mobilnya
ke bagian variasi mobil, dan rela mengeluarkan uang banyak hanya sekedar ganti
klakson atau knalpot. Hal yang sama tampak dalam hubungan suami-istri. Ia ingin
punya variasi, tidak hanya posisi saat berhubungan seksual tapi juga tempat
melakukannya. Jika istri kurang memahami kebutuhan ini, cepat atau lambat
pasaanganmu akan merasa bosan dan bisa-bisa berujung selingkuh. Solusinya,
bicarakan terbuka variasi hubungan yang disukai pasangan, dan frekuensi dan
waktu yang dibutuhkan.
Ketiga,
dalam hal karir. Jika pria sudah merasa mentok dengan jabatan, atau penghargaan
di kantornya maka ia berpikiran ingin pindah kerja. Indikasinya, pasangan anda
banyak mengeluh tentang kantor. Mengeluhkan hubungan dengan teman kerja hingga
enggan banget berangkat kerja. Mungkin pasangan anda sibuk kerja dan lupa
mengembangkan diri. Malas sekolah lanjut atau setidaknya ikut seminar rutin
dsb. Sehingga saat terjadi kompetisi dengan rekan yang lebih muda, pasanganmu
merasa diabaikan bosnya. Namun sering pindah kerja jusru melemahkan isi CVnya,
karena dianggap tidak loyal.
Solusinya,
sejak menikah dorong agar pasangan selalu kembangkan diri. Suka membaca dan
belajar. Kalau perlu studi lanjut agar membuatnya lebih menguasai pekerjaannya.
Keempat,
sibuk kerja dan kurang rekreasi. Kesibukan bekerja dan rutinitas bisa
mendatangkan rasa jenuh. Sayangnya pasanganmu merasa tak perlu ambil cuti dan
rekreasi. Saat mengalami overload syndrom dia merasa cepat capek. Banyak
mengeluh. Saat seperti ini dorong pasanganmu ambil cuti dan pergi berlibur.
Apalagi jika pasanganmu mengidap workaholic alias candu kerja.
Tentu
ini bukan kesalahan pasangan (istri) semata. keluar dari rasa bosan juga
merupakan tanggungjawab utama kita sebagai pria dewasa. Sorry baru dari sisi
pria, moga nanti bisa menuliskan dari sisi istri. Semoga mencerahkan
Julianto
Simanjuntak
Langganan:
Postingan (Atom)
Meniti Jembatan Iman: Ruang Imajinasi, Pengharapan, dan Praktis Hidup di Tengah Arus Zaman
Meniti Jembatan Iman: Ruang Imajinasi, Pengharapan, dan Praktis Hidup di Tengah Arus Zaman Pengantar Agama dan keyakinan bukan sek...


















