Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Januari 2013

IMAN DALAM PERADABAN (dari beberapa artikel terpilih)


HUBUNGAN ANTARA MASALAH IMAN DAN PERADABAN

Pada bulan juni 1936, M Natsir, seorang tokoh muda islam hasil pendidikan islam Persis, bandung, yang akhirnya ditetapkan sebagai pahlawan Nasional Indonesia, menulis sebuah artikel yang dimuat dalam majalah Pedoman masyarakat dengan judul ” Islam dan kebudayyan”. Dalam artikel tersebut, M Natsir memulainya dengan mengutip tulisan seorang orientalis { Sarjana yang ahli masalah-masalah ketimuran ), Sir Hamilton Alexander Hoskeen Gibb dalam ketreranganya yang berjudul Whither Islam Sebagai berikut; ” Islam is Indeed much more than, a system of theology, it is a complete civilisation,” ( Capita Selecta, ( 1954 }, 3}. Pernyataan jujur HAR Gibb ini menunjukkan dengan Jelas bahwa islam bukanlah sebagaimana disangkakan orang bahwa islam hanyalah sekedar sistem ilimu ketuhanan saja melainkan islam adalah sebuah bangunan peradaban yang komplit [ lengkap].
Dalam sejarahnya, kalau kita telusuri secara cermat, umat islam yang dipenuhi rasa keimanan yang mendalam memang telah berhasil mematahkan sebuah mozaik peradaban dalam bingkai besar peradaban umat manusia. kalau mau jujur peradaban barat dewasa ini, memang kita telah tahu sangat mempengaruhi peradaban dunia sampai permulaan abad 21 ini, pada hakikatnya adalah keturusan dari peradaban islam yang telah mendahuluinya. lalu orong bertanya , bagaimana seharusnya umat beriman yang memeluk agama islam pada abad ini dan seterusnya dalam kontekspembentukan peradaban berikutnya?
Pada hakekatnya, kebudayyan adalah ” Proses” [ Produk]. Artinya, dalam apa yang disebut ‘ Kebudayaan ” masih terjadi proses – proses pembentukan yang bisa terjadi pasang surut, silah berganti, sampai menemukan pola umum  yang relatif mapan inilah yang disebut ” peradaban ” [ Civilisation ]. Pasang surut dan silih bergantinya kebudayyan tersebut sebagai konsekuensi dari proses – proses kreatif manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dan pemuasan idialisme yang ingin di expresikannya atau ditampilkannya secara nyata. Disamping itu disebabkan pula kecemderungan keinginan terus belajar dan saling memmengaruhi antara satu dengan lainnya.
digg



Dengan Iman Membangun Peradaban



Secara politik, ormas terwakili oleh utusan golongan yang perannya dihapus dalam UUD 45 amandemen, yang kemudian digantikan DPD. Meski tanpa keterwakilan di DPR, organisasi kemasyarakatan memiliki andil besar dalam membentuk peradaban.


Jean-Paul Sartre, filsuf ternama Prancis abad 20, menyebut Eropa malu kepada dirinya sendiri. Ketika peradaban Barat sampai pada titik tertinggi di dunia, namun moralitas justru menurun. Sartre mempertanyakan individu-individu yang justru terpuruk dalam pemujaan benda dan pergaulan bebas, yang menjurus pada rusaknya nilai-nilai moral.
Peradaban bukan hanya pencapaian teknologi maha canggih, namun juga keteraturan sosial. Bila demikian, masyarakat madani yang diimpikan adalah sebuah masyarakat berperadaban tinggi dan maju yang berbasiskan pada: nilai-nilai, norma, hukum, moral yang ditopang oleh keimanan; menghormati pluralitas; bersikap terbuka dan demokratis; dan bergotong royong menjaga kedaulatan negara.
Membicarakan masyarakat madani di Indonesia yang mayoritas muslim, dituntut untuk mewujudkan masyarakat yang terikat ukhuwah Islamiyyah (ikatan keislaman), ukhuwah wathaniyyah (ikatan kebangsaan), dan ukhuwah basyariyyah (ikatan kemanusiaan) dalam bingkai NKRI.
Cendekiawan muslim Yudi Latif melihat peran ormas Islam dalam masyarakat madani, adalah menjadikan nilai-nilai tauhid sebagai landasan tata kehidupan mereka. Di dalamnya terisi dengan individu-individu yang bebas dari sikap menzalimi diri sendiri. Berkumpul dalam keluarga yang egaliter yang menjadi basis internalisasi dan ideologisasi nilai-nilai kebaikan dan keimanan.
Di antara kaum laki-laki dan perempuan terikat dalam relasi yang proporsional saling melengkapi dalam rangka merealisasikan “amanah” penciptaan manusia. “Hak-hak masyarakat terdistribusi secara proporsional hingga terbangun kesederajatan sosial dan kehidupan yang tenteram dan dinamis menuju terbentuknya masyarakat madani,” kata Yudi Latif.
Cita-citanya adalah manusia Indonesia hidup dalam tatanan kekuasaan yang demokratis, berjalan dalam koridor hukum dan agama, dan rakyat memperoleh hak-hak politiknya secara penuh. Di sana tegak persamaan hak di hadapan hukum bagi setiap orang dengan prosedur dan mekanisme yudisial yang berkeadilan.
Mereka berusaha dalam sistem ekonomi egaliter, sebagai cermin dari ekonomi yang berkeadilan, yang memungkinkan perilaku ekonomi yang adil dan memberikan akses yang sama pada seluruh rakyat sehingga kekayaan tidak menumpuk hanya pada segelintir orang yang memicu jurang kesenjangan.
Dimana pemanfaatan dan pengendalian ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) secara etis sebagai modal dasar pembangunan peradaban untuk kesejahteraan manusia Indonesia dan kemandirian bangsa. Warna-warni kehidupan mencerminkan pluralitas kebudayaan sebagai entitas yang berinteraksi secara harmonis menuju kemajuan peradaban.  Individu dan masyarakat mendapat pendidikan yang berkualitas, untuk membangun manusia yang mampu merealisasikan “amanah” penciptaannya menuju kehidupan sejahtera dan kemajuan bangsa.
Itulah masyarakat yang relijius, yang seluruh komponennya bekerja sama dalam kebaikan, tolong-menolong dalam menyejahterakan masyarakat dan meningkatkan keimanan.  Masyarakat yang adil dan makmur, yang melindungi warganya, mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan turut menjaga ketertiban dunia. Suatu masyarakat dan bangsa yang hidup berdampingan sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia, masyarakat dengan budaya takwa.
Indonesia yang dicitakan adalah kondisi masyarakat yang hidup penuh dengan kasih-sayang, yang muda menghormati yang tua, yang tua menghargai yang muda, laki-laki bahu membahu dengan perempuan, dalam pluralitas kebudayaan.  Sebuah taman sari kehidupan kolektif, yang bermuara pada terjaminnya manusia dalam memenuhi 5 kebutuhan primer hidupnya (maqosid syariah), yakni perlindungan atas: agama, jiwa, akal, harta dan keturunan.  Masyarakat adil, makmur, sejahtera dan bermartabat.
Peran Iman dan Taqwa
Di mana peran iman dan taqwa (Imtaq) dalam pembangunan peradaban Indonesia madani? Ada pada jantung peradaban itu sendiri. Alasannya sederhana, karena  Indonesia madani adalah masyarakat berperadaban tinggi dan maju yang berbasiskan pada nilai-nilai, norma, hukum, moral yang ditopang oleh keimanan; menghormati pluralitas; bersikap terbuka dan demokratis; dan bergotong royong menjaga kedaulatan negara.
Mantan Menteri Riset dan Teknologi yang juga politisi PKS, Suharna Surapranata, menyebut masyarakat madani sangat bergantung manusia menjadi obyek dan subyek. Pertama, karena membangun peradaban madani ini bertumpu pada manusia sebagai obyek sekaligus subyek (aktor), maka pembangunan manusia ini perlu dijalankan secara terpadu antara sisi brain (aqliyah), mind (qolbiyah), dan body (jasadiyah).  Pada titik inilah pentingan Imtaq-spiritualitas-relijiusitas.
Menurut Suharna, membangun kecerdasan manusia Indonesia, kesalehan sosial, dan kemajuan budaya menuju peradaban madani atau dalam bahasa yang lebih operasional, menghapus kebodohan, kekerasan sosial, dan keterbelakangan budaya, “Sebab kita memandang kebodohan (rendahnya kualitas pendidikan), kekerasan (hilangnya kesantunan dan kedamaian dalam menyelesaikan segala bentuk konflik), serta keterbelakangan (kemandegan dan kejumudan) sebagai musuh sosial bangsa memerlukan kecerdasan bukan hanya dari sisi intelektual/rasional (IQ),” ujar Suharna.
Namun IQ harus ditunjang sisi emosional (EQ) dan spiritual (SQ), agar sempurnalah sosok manusia Indonesia (insan kamil).  Sisi emosional dan spiritual perlu mendapat perhatian yang memadai dalam proses pembangunan manusia Indonesia ke depan. Manusia yang cerdas paripurna itu akan lebih mampu menanggung beban dan menghadapi segenap cobaan hidup (adeversity quotient/AQ) dalam menggerakkan roda dan sebagai subyek pembangunan bangsa.
Manusia yang seimbang antara sisi intelektual, emosional dan spiritual itu sangat menyadari posisi dirinya dan tujuan yang akan dicapainya. Mereka tidak akan mudah mengalami krisis identitas sebagaimana terlihat pada sebagian warga di sekelilingnya, sehingga mereka dapat berperan sebagai unsur pengubah lingkungan dan pengarah masyarakat untuk menuju masyarakat madani.
Mereka juga menyadari betul agenda reformasi yang harus diperjuangkan, dan sejalan dengan cita-cita kemerdekaan yang telah diproklamsikan sejak lama. Mereka tak mudah goyah dan larut dalam perubahan zaman, bahkan menjadi pilar penjaga nilai-nilai perjuangan dan membuat arus baru yang akan menyelamatkan masyarakat dari kebobrokan dan kehancuran sosial.
Kedua, menurut Suharna, ruh dari peradaban madani adalah keimanan.  Manusia yang cerdas tidak hanya memikirkan kepentingan dan keselamatan dirinya sendiri, tetapi memikirkan kepentingan dan keselamatan masyarakat umum. Mereka melawan egoisme dan individualisme, lalu bersungguh-sungguh menumbuhkan semangat kolektif dan solidaritas sosial tanpa pamrih.
Bagi insan kamil sebagai subyek masyarakat madani, kesalehan bukan hanya semata bermakna ketaatan menjalankan ritual agama dan ketentuan hukum, melainkan juga mengobarkan spirit agama yang membebaskan dan substansi hukum yang menjunjung keadilan dan kebenaran.
Kesalehan (ascetism) berpangkal dari iman (faith) dan taqwa (pious), yang akhirnya melahirkan tindakan nyata yang bermanfaat bagi orang banyak.  Karenanya menjadi jelas bila Imtaq-spiritualitas-relijiusitas menjadi strategis dalam pembangunan peradaban Indonesia madani.
Aktor pembangunan masyarakat madani ialah mereka yang paling besar kontribusinya kepada masyarakat dan mengimplementasikan ketaatannya kepada Sang Khalik dengan berbuat kebajikan serta melayani semua makhluk. Kesalehan pribadi yang berakumulasi menjadi kesalehan publik akan membentuk lingkungan yang positif untuk berkembangnya seluruh potensi kemanusiaan (humanity) dan kewargaan (citizenry), melalui cermin peningkatan etos kerja, sikap terbuka akan kreasi dan inovasi baru, serta menguatnya solidaritas sosial.
Ketiga, tujuan akhir dari peradaban Indonesia madani adalah kesejahteraan, keadilan, martabat dll. yang merupakan nilai-nilai luhur diferensiasi dari nilai keimanan. Manusia madani berperan untuk menanggulangi krisis identitas dan modalitas bangsa; mengubah kondisi keterbelakangan menjadi kemajuan budaya. Kemajuan personal tidak hanya bersifat fisik, namun mengembangkan nilai-nilai universal kemanusiaan, sehingga tiap warga menyadari fungsi dan peran hidupnya sebagai seorang hamba, pemimpin, dan pembangun peradaban baru berbasis nilai-nilai keimanan.
Kemajuan kolektif juga tak hanya bersifat fisik dan material, melainkan tumbuh suburnya nilai dan pranata keimanan, serta semakin menipisnya nilai dan pranata keburukan dan kemungkaran. Kemajuan budaya bagi suatu bangsa berarti bangsa ini menyadari kembali jati dirinya yang telah lama tererosi.
Jati diri itu antara lain sebagai bangsa pejuang yang membenci segala bentuk penindasan, bangsa yang mandiri dan menolak segala format ketergantungan, serta bangsa yang terbuka terhadap perubahan dan menolak eksklusifisme atau fanatisme sempit. Bangsa yang maju tak selalu berarti meninggalkan nilai-nilai relijius, tradisional dan lokal, sepanjang itu masih mencerminkan substansi kebaikan dan kebenaran universal.  Namun, bangsa yang mau adalah bangsa, yang mampu memadukan nilai-nilai modern yang lebih baik dengan warisan tradisional yang sesuai tuntutan zaman, yang berbasis keimanan.
Selain faktor-faktor nomatif, untuk mewujudkan pembangunan peradaban Indonesia madani, para aktornya harus memiliki kredebilitas yang cukup (credibility agent of change).  Tanpa syarat kualitas ini, maka peradaban yang dicitakan tidak akan pernah terwujud apalagi membawa berkah bagi kehidupan kolektif. Tiga syarat kredibilitas itu adalah: integritas, akseptabilitas dan profesionalitas. Untuk itulah Ketua Umum DPP LDII Prof Dr Abdullah Syam menyebut, LDII terus menghasilkan kader yang profesional religius. “Mereka selain memiliki pengetahuan dan kefahaman agama, juga profesional di bidangnya, dan memiliki akhlak yang mulia,” papar Abdullah Syam.
Dengan demikian peran Imtaq menjadi penting, strategis dan dominan dalam seluruh bangunan peradaban Indonesia Madani.  Imtaq menjadi ruh dan spirit peradaban Indonesia madani, yang menyiadakan basis epos, etos dan elan vital dinamika transformasi bangsa menuju keunggulan.

Kamis, 31 Mei 2012

Menulis dengan Otak Dingin tapi Hati Hangat

Menulis dengan Otak Dingin tapi Hati Hangat

oleh Sutomo Paguci



http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2012/06/01/menulis-dengan-otak-dingin-tapi-hati-hangat


Mencoba memahami para komentator aktif di kompasiana baik yang sependapat dengan penulis maupun yang tidak sependapat. Para pengecam yang pedas ini kuklik akun Kompasiananya, kubaca artikelnya, dan kuajak berteman. Sekarang masih menunggu tanggapan. Hallo?
Penasaran mau melihat seberapa dewasa sikap para pengkritik itu. Apakah menganggap pihak yang kontra dengan pemikirannya sebagai musuh?
Aku sendiri penulis yang cukup bersemangat. Otak seperti bergemuruh menumpahkan segala kesumat pikiran. Treet-tret-tret tuts berbunyi dengan cepat. Otak menumpahkan segala kegelisahan pikiran ke ujung sepuluh jari. Ya, aku mengetik dengan sepuluh jari sambil mata terpejam. Suatu keahlian yang telah berpuluh tahun ku asah sejak SMP dulu.
Kadang kasihan melihat kawan yang begitu besemangat menulis, ide-idenya gemuruh seperti air terjun, tapi tak diimbangi kecepatan menulis. Ia menulis dengan dua ujung jari telunjuk kiri dan kanan. Nampaknya sih cepat bahkan brutal, tetapi sebenarnya lambat. Secepat apapun penulis dengan dua telunjuk tidak akan mampu mengalahkan sepuluh jari yang bergerak refleks seperti pendekar Dhanapati yang menggunakan ajian menjelma jadi sepuluh dalam “Puncak Dendam Dhanapati” buah karya Kompasianer Ken Hirai itu.
Bunyi tuts komputer yang dihajar dengan dua ujung jari kira-kira begini: tak-tuk tak-tuk tak-tuk. Sedangkan bunyi tuts yang digagahi sepuluh jari kira-kira begini: tret-tret-tret-treeeeet! Bablas. Satu artikel pendek selesai dalam 15 menit.
Wah kok jadi ngelantur nih. Rahasia menulis dengan otak dingin tapi hati hangat di Kompasiana segera dimulai! Otak boleh panas tapi hati tetap dingin. Tapi saya lebih merasa pas dengan istilah “hangat” untuk hati, yaitu sebentuk perasaan yang menangkap rasa kata denga antusias dan humor.
Saya sendiri tidak berpretensi harus mempertahankan apa yang saya pikirkan dengan hati penuh amarah, dendam, kebencian dan angkara murka anak manusia. Untuk apa? Cuma tulisan pemikiran aja kok dibawa serius banget. Setuju, ambil. Tidak setuju, ya tinggalkan. Walau aku orangnya agak sinis, tapi menghargai pemikiran yang berlawanan.
Kalau ada yang meninggalkan jejak digital di akun saya–umpamanya corong liberal, kafir, antek AS, antek Yahudi, Islamophobia, dst–bagaimana? Ya, santai aja. Dipikirin tapi tak masuk ke hati. Yang tahu apakah benar semua stigma itu adalah diri kita sendiri. Ikuti aja kata Stephen R Covey, kita yang memutuskan.
Begitupun ketika orang mengkritik konten tulisan, wah, ini wajib dipikirkan benar-benar. Dipikirkan dengan otak terbuka bahkan terngaga. Jangan-jangan kritik itu benar. Jika benar, ya perbaiki lain kali. Jika pun tidak benar, ya tetap berterima kasih sudah berpartisipasi.
Otak ini memang dibiarkan terbuka dengan segala ide: fundamental, literal, liberal, kapital, demokratis, ortodok, dan lain-lain. Sejauh ini ia membaca blog/web http://islamlib.com dan http://ulil.net. Sebaliknya dia juga membaca dengan serius blog http://IndonesiatanpaJIL.com. Dia membaca timeline #IndTanpaFPI, juga membaca timeline #IndonesiaTanpaJIL di twitter.
Sejauh ini Otak berusaha keras memahami alur pemikiran seumpama #IndonesiaTanpaJIL, Abu Bakar Ba’asyir, Irene Handono, Habib Rizieq. Namun pemikiran tersebut belum memuaskan logika si Otak. Habisnya, pemikiran mereka lebih banyak bernuansa provokasi, kebencian, bahkan kekerasan. Tapi si Otak akan tetap berusaha menyelami pemikiran mereka.
Sebaliknya. Logika si Otak yang terbuka itu justru terpuaskan oleh tulisan-tulisan tokoh Indonesia seperti Quraish Shihab, Gus Dur, Ulil Abshar Abdalla, Said Agil Siradj, Syafii Maarif, Abdul Moqsith Ghazali, Luthfi Assyaukanie, Adnan Buyung Nasution, Todung Mulya Lubis, Abdurahman Saleh, Yusril Ihza Mahendra, Budiarto Shambazy, Andrea Hirata, Habiburrahman El Shirazy, Anis Baswedan, Pipih Nugraha, Dewa Gilang, Arab Kere, Katrokelana, Hanung DW Nugrahanto, dan Kompasianer senada lainnya.
Di tengah pertarungan pemikiran pro dan kontra itu, akhirnya si Otak bersandar pada Cinta. Siapa saja tokoh dunia yang memancarkan cinta dalam gerakannya? Nabi Muhammad, sudah tentu. Mahatma Gandhi, ya. Nelson Mandela, ya juga.
Sudah dulu menulisnya. Lagi sibuk.

Jumat, 23 Maret 2012

NILAI-NILAI PENDIDIKAN DALAM KEBUDAYAAN WAYANG

NILAI-NILAI PENDIDIKAN DALAM KEBUDAYAAN WAYANG

 
PENDAHULUAN

WAYANG adalah salah satu puncak seni budaya bangsa Indonesia yang paling menonjol di antara banyak karya budaya lainnya. Budaya wayang meliputi seni peran, seni suara, seni musik, seni tutur, seni sastra, seni lukis, seni pahat, dan juga seni perlambang. Budaya wayang, yang terus berkembang dari zaman ke zaman, juga merupakan media penerangan, dakwah, pendidikan, hiburan, pemahaman filsafat, serta hiburan.
Menurut penelitian para ahli sejarah kebudayaan, budaya wayang merupakan budaya asli Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Keberadaan wayang sudah berabad-abad sebelum agama Hindu masuk ke Pulau Jawa. Walaupun cerita wayang yang populer di masyarakat masa kini merupakan adaptasi dari karya sastra India, yaitu Ramayana dan Mahabarata. Kedua induk cerita itu dalam pewayangan banyak mengalami pengubahan dan penambahan untuk menyesuaikannya dengan falsafah asli Indonesia.
Penyesuaian konsep filsafat ini juga menyangkut pada pandangan filosofis masyarakat Jawa terhadap kedudukan para dewa dalam pewayangan. Para dewa dalam pewayangan bukan lagi merupakan sesuatu yang bebas dari salah, melainkan seperti juga makhluk Tuhan lainnya, kadang-kadang bertindak keliru, dan bisa jadi khilaf. Hadirnya tokoh panakawan dalam_ pewayangan sengaja diciptakan para budayawan In­donesia (tepatnya budayawan Jawa) untuk mem­perkuat konsep filsafat bahwa di dunia ini tidak ada makhluk yang benar-benar baik, dan yang benar-benar jahat. Setiap makhluk selalu menyandang unsur kebaikan dan kejahatan.



Rumusan Masalah
1. Bagaimana Sejarah Wayang?
2. Apakah Nilai – nilai Pendidikan Islam yang terkandung dlam kebudayaan wayang?

ANALISIS

Saat ini bangsa Indonesia sedang mengalami krisis multidimensi yang diakibatkan oleh krisis moral. Krisis multidimensi ini terjadi berkepanjangan karena moralitas bangsa Indonesia sebagian besar telah rusak, hal ini terlihat dari aktivitas pelanggaran hukum yang semakin merajalela. Krisis moral diduga berawal dari semakin jauhnya bangsa Indonesia terhadap kebudayaan yang ada dan semakin maraknya budaya-budaya asing yang kurang sesuai dengan budaya asli bangsa Indonesia. Masuknya budaya-budaya asing yang kurang sesuai ini terjadi dari lemahnya karakter bangsa Indonesia yang mengakibatkan daya saring terhadap budaya asing yang masuk ke Indonesia. Bahkan saat ini para penerus generasi bangsa merasa lebih senang bila menerapkan budaya-budaya asingdaripada budaya kita sendiri. Hal ini terlihat dari gaya berpakaian maupun gayadalam bertingkah laku.



Pertunjukkan wayang di Indonesia kurang disukai karena cara pengemasan pertunjukan wayang yang kurang menarik. Pertunjukkan wayang ditayangkan malam hari sampai menjelang subuh. Hal ini menyebabkan pertunjukan wayang lebih diminati oleh sebagian kecil masyarakat. Padahal banyak nilai-nilai luhur yang dapat dipelajari dari pertunjukan wayang. Bagi kebanyakan anak muda, image pertunjukan wayang bukanlah suatu trend yang patut diikuti. Hal ini menyebabkan anak-anak muda cenderung tidak memiliki ketertarikan pada seni pertunjukan wayang. Durasi pertunjukan wayang yang terlalu lama menyebabkan rasa bosan bagi penontonnya. Selain itu pertunjukkan wayang sering menggunakan bahasa daerah yang kental, sehingga hanya orang-orang tertentuyang dapat memahami isi cerita dari pertunjukan wayang.

Berdasarkan berbagai keterbatasan tersebut, maka langkah-langkah yang dapat diambil adalah dengan mengubah pengemasan pertunjukan wayang kulit tanpa merubah isi dan juga nilai-nilai ajaran di dalamnya. Kemasan yang dapat diubah adalah jam tayang pertunjukan, durasi pertunjukan, dan bahasa penyajiannya. Jam tayang pertunjukan dapat diganti menjadi lebih awal sehingga akan lebih banyak orang yang dapat menyaksikan pertunjukan wayang. Durasi pertunjukan juga dapat dikurangi tanpa mengurangi isi cerita dan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya sehingga penonton tidak akan cepat bosan selama pertunjukan berlangsung. Bahasa yang digunakan dalam pertunjukan sebaiknya menggunakan bahasa Indonesia sehingga bukan hanya orang Jawa yang dapat
mengerti jalan ceritanya. Selain itu, perpaduan seni dalam pertunjukan wayang kulit juga dapat dilakukan tanpa mengubah ajaran moral yang dapat diambil didalamnya. Masyarakat akan senang menyaksikan, sehingga masyarakat dapat menerima pendidikan moral dengan senang.


Dengan demikian pertunjukan wayang kulit dapat menjadi sarana untuk memberikan pendidikan moral yang menyenangkan, karena suasananya menghibur penonton. Selain memperoleh hiburan dengan seni yang dimainkan oleh dalang dengan wayang kulit serta lagu-lagu iringan oleh para sinden atau penyanyi lagu-lagu yang mengiringi kisah cerita dalam pewayangan, penonton juga mendapatkan pendidikan moral.

A.Sejarah Wayang

Ada dua pendapat mengenai asal – usul wayang. Pertama, pendapat bahwa wayang berasal dan lahir pertama kali di Pulau Jawa, tepatnya di Jawa Timur. Pendapat ini selain dianut dan dikemukakan oleh para peneliti dan ahli-ahli bangsa Indonesia, juga merupakan hasil penelitian sarjana-sarjana Barat. Di antara para sarjana Barat yang termasuk kelompok ini, adalah Hazeau, Brandes, Kats, Rentse, dan Kruyt.
Alasan mereka cukup kuat. Di antaranya, bahwa seni wayang masih amat erat kaitannya dengan keadaan sosiokultural dan religi bangsa Indonesia, khususnya orang Jawa. Panakawan, tokoh terpenting dalam pewayangan, yakni Semar, Gareng, Petruk, Bagong, hanya ada dalam pewayangan Indonesia, dan tidak di negara lain. Selain itu, nama dan istilah teknis pewayangan, semuanya berasal dari bahasa Jawa (Kuna), dan bukan bahasa lain.


Sementara itu, pendapat kedua menduga wayang berasal dari India, yang dibawa bersama dengan agama Hindu ke Indonesia. Mereka antara lain adalah Pischel, Hidding, Krom, Poensen, Goslings, dan Rassers. Sebagian besar kelompok kedua ini adalah sarjana Inggris, negeri Eropa yang pernah menjajah India.
Namun, sejak tahun 1950-an, buku-buku pe­wayangan seolah sudah sepakat bahwa wayang memang berasal dari Pulau Jawa, dan sama sekali tidak diimpor dari negara lain. Budaya wayang diperkirakan sudah lahir di Indo­nesia setidaknya pada zaman pemerintahan Prabu Airlangga, raja Kahuripan (976 -1012), yakni ketika kerajaan di Jawa Timur itu sedang makmur-makmur­nya.

Karya sastra yang menjadi bahan cerita wayang sudah ditulis oleh para pujangga Indonesia, sejak abad X. Antara lain, naskah sastra Kitab Ramayana Kakawin berbahasa Jawa Kuna ditulis pada masa pemerintahan raja Dyah Balitung (989-910), yang merupakan gubahan dari Kitab Ramayana karangan pujangga In­dia, Walmiki.


Selanjutnya, para pujangga Jawa tidak lagi hanya menerjemahkan Ramayana dan Mahabarata ke bahasa Jawa Kuna, tetapi menggubahnya dan menceritakan kembali dengan memasukkan falsafah Jawa kedalamnya. Contohnya, karya Empu Kanwa Arjunawiwaha Kakawin, yang merupakan gubahan yang berinduk pada Kitab Mahabarata. Gubahan lain yang lebih nyata bedanya derigan cerita asli versi In­dia, adalah Baratayuda Kakawin karya Empu Sedah dan Empu Panuluh. Karya agung ini dikerjakan pada masa pemerintahan Prabu Jayabaya, raja Kediri (1130 – 1160).

Wayang sebagai suatu pergelaran dan tontonan pun sudah dimulai ada sejak zaman pemerintahan raja Airlangga. Beberapa prasasti yang dibuat pada masa itu antara lain sudah menyebutkan kata-kata “mawa­yang” dan `aringgit’ yang maksudnya adalah per­tunjukan wayang.

B. Kelahiran Wayang Kulit

Mengenai saat kelahiran budaya wayang, Ir. Sri Mulyono dalam bukunya Simbolisme dan Mistikisme dalam Wayang (1979), memperkirakan wayang sudah ada sejak zaman neolithikum, yakni kira-kira 1.500 tahun sebelum Masehi. Pendapatnya itu didasarkan atas tulisan Robert von Heine-Geldern Ph. D, Prehis­toric Research in the Netherland Indie (1945) dan tulisan Prof. K.A.H. Hidding di Ensiklopedia Indone­sia halaman 987.3


Kata `wayang’ diduga berasal dari kata `wewa­yangan’, yang artinya bayangan. Dugaan ini sesuai dengan kenyataan pada pergelaran Wayang Kulit yang menggunakan kelir, secarik kain, sebagai pembatas antara dalang yang memainkan wayang, dan penonton di balik kelir itu. Penonton hanya menyaksikan gerakan-gerakan wayang melalui bayangan yang jatuh pada kelir. Pada masa itu pergelaran wayang hanya diiringi oleh seperangkat gamelan sederhana yang terdiri atas saron, todung (sejenis seruling), dan kemanak. Jenis gamelan lain dan pesinden pada masa itu diduga masih belum ada.

Sejak saat itulah cerita – ­cerita Panji, yakni cerita tentang leluhur raja-raja Majapahit, mulai diperkenalkan sebagai salah satu bentuk wayang yang lain. Cerita Panji ini kemudian lebih banyak digunakan untuk pertunjukan Wayang Beber. Tradisi menjawakan cerita wayang juga diteruskan oleh beberapa ulama Islam, di antaranya oleh para Wali Sanga. Mereka mulai mewayangkan kisah para raja Majapahit, di antaranya cerita Damarwulan.


Masuknya agama Islam ke Indonesia sejak abad ke-15 juga memberi pengaruh besar pada budaya wayang, terutama pada konsep religi dari falsafah wayang itu. Pada awal abad ke-15, yakni zaman Kerajaan Demak, mulai digunakan lampu minyak berbentuk khusus yang disebut blencong pada pergelaran Wayang Kulit.
Sejak zaman Kartasura, penggubahan cerita wayang yang berinduk pada Ramayana dan mahabarata makin jauh dari aslinya. Sejak zaman itulah masyarakat penggemar wayang mengenal silsilah tokoh wayang, termasuk tokoh dewanya, yang berawal dari Nabi Adam. Sisilah itu terus berlanjut hingga sampai pada raja-raja di Pulau Jawa. Dan selanjutnya, mulai dikenal pula adanya cerita wayang pakem. yang sesuai standar cerita, dan cerita wayang carangan yang diluar garis standar. Selain itu masih ada lagi yang disebut lakon sempalan, yang sudah terlalu jauh keluar dari cerita pakem.

Memang, karena begitu kuatnya seni wayang berakar dalam budaya bangsa Indonesia, sehingga terjadilah beberapa kerancuan antara cerita wayang, legenda, dan sejarah. Jika orang India beranggapan bahwa kisah Mahabarata serta Ramayana benar-benar terjadi di negerinya, orang Jawa pun menganggap kisah pewayangan benar-benar pernah terjadi di pulau Jawa.

C. Nilai-nilai Pendidikan yang terkandung Dalam Budaya Wayang

Lewat pertunjukkan wayang melalui tokoh serta ceritanya mempunyai peran dalam pembinaan dan pendidikan untuk membangun karakter bangsa.Karena wayang menjadi salah satu kekayaan tradisi bangsa Indonesia,sudah seharusnya dilestarikan dan dimanfaatkan dalam pembentukan budaya bangsa yang akan jadi potret orang Indonesia sampai kapanpun.
Nilai-nilai filosofi yang terkandung dalam pewayangan selalu mengajak masyarakat untuk berbuat baik dan menhindari kejahatan,serta menanamkan kepada masyarakat semangat “amar ma’ruf nahi mungkar” atau istilah dalam pewayangan “memayu hayuning bebrayan agung”,sesuai dengan ajaran agama dan kepercayaan masing-masing.

Dalam kisah pewayangan ini yang patut diteladani adalah peran tokoh Sri Rama dan Arjuna yang memilki sifat selalu mengedepankan kebenaran dan keadilan,dalam penampilanya rapi,penuh dengan senyum,tutur bahasanya halus,tingkah lakunya terukur dan tampak tidak berminat membuat orang susah terhadap siapapun.

Peran kepemimpinan tokoh A biasa yang juga patut diteladani,karena paada waktu ia menjadi penguasa di negeri Astina selalu mencintai dan memberi perhatian kepada rakyatnya,memiliki kepribadian yang kuat dan konsisten,memiliki visioner dan integritas yang tinggi,sehingga ia dicintai dan dipercaya oleh pengikutnya.

Dalam menjalankan kepemimpinan hendaknya berlandaskan pada kepemimpinan “Hasta Brata” yang terdapat 8 (delapan) laku nilai-nilai watak kepemimpinan yang meniru sifat-sifat keutamaan alam semesta,yaitu:
1. Bumi yaitu seorang pemimpin harus setia memberi kebutuhan-kebutuhan hidup kepada siapa saja,sabar(bumi sebagai sumber kehidupan).
2. Air yaitu pemimpin harus selalu turun ke bawah(rakyat) untuk melihat dan memberi kesejukan serta tidak menempatkan diri lebih tinggi dan lebih rendah daripada siapapun,karena air bertabiat rata.
3. Angin yaitu pemimpin harus sanggup menghembus siapa saja tanpa pandang bulu dan tanpa pilih kasih.
4. Bulan yaitu pemimpin harus dapat menerangi siapapun yang sedang kegelapan sehingga dapat memberikan kesejahteraan,keindahan dan harapan.
5. Matahari yaitu pemimpin harus memberi petunjuk sebagai sumber kekuatan yang menghidupkan.
6. Samudra yaitu pemimpin harus memberi kasih sayang dan kebebasan tak terbatas,karena samudra luas dan tak bertepi.
7. Gunung yaitu pemimpin harus kukuh dan kuat untuk melindungi rakyatnya.
8. Api yaitu pemimpin harus mampu membakar dan memberi kehangatan(mampu memberantas kejahatan dan memberi kenikmatan).

Dengan harapan muatan tulisan diatas,dapat menyadarkan masyarakat akan pentingnya kearifan nilai-nilai budaya lokal dalam membangun sosok watak bangsa yang memiliki budaya unggul,baik keunggulan bidang spiritulitas,intelektualitas,disiplin dan ethos kerja,yang selanjutnya diharapkan dapat mendorong terwujudnya cita-cita reformasi untuk memenuhi harapan kita

Dalam dunia pewayangan kita juga mengenal beberapa hal diantaranya kata brahmana, ksatria, wisya, sudra. Dengan mengenal tingkat status sosial maka masing-masing tokoh bisa mengenal dirinya sebagai apa dan harus bagaimana dalam bersikap dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari dalam dunia pewayangan.

Misal Seorang Brahmana dalam membawakan diri harus :
a. Sumeh : ramah tamah terhadap siapapun dan selalu bermuka jernih. Murah senyum.
b. Sareh : tidak mudah emosi, semua diatasi dengan kebijaksanaan.
c. Waleh : selalu berterus terang dan tidak ada yang dirahasiakan.
d. Sumeleh : percaya kepada keadilan Tuhan. Berpegang pada siapa yang menanam dia yang akan menuai.
e. Aja remeh : tahu untuk tidak bertindak nistha, seperti menipu, maling, membunuh, main perempuan dan lain-lain.

Kastra Sudra dalam dunia pewayangan menggambarkan kawula alit yang penuh dengan kekurangan baik secara fisik maupun mental spiritual, sehingga mereka digambarkan dalam bentuk yang tidak sempurna. Misal seperti tokoh dibawah ini.

Nala Gareng, secara fisik dia diberi kekurangan: mata kero, sikil pencik, tangan ceko, irung menthol. Petruk (wudel bodhong, irung bangir, awak bungkuk), Bagong (pawakan cebol, lambe doble, irung pesek), Semar (secara fisik sama dengan Bagong), Bilung (orang kerdil, banyak borok, kudisan), Togog juga demikian adanya, semuanya ini menggambarkan kawula alit yang penuh dengan kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan. Tokoh-tokoh inilah yang dapat melengkapi dunia pertunjukan wayang kulit sehingga semakin komplit dan dapat diterima disemua kalangan masyarakat. Dengan tokoh2 sudra inilah para dalang mampu memberikan kritik-kritik yang pedas terhadap tatanan masyarakat dan pemerintahan yang tidak sesuai dengan norma.

D. Pendapat Para Ahli Kebudayaan Tentang Nilai Pendidikan Dalam Kebudayaan Wayang

Menurut Amir (1997), nilai-nilai yang terdapat dalam wayang, oleh sejarahnya yang teramat panjang, merangkum nilai-nilai yang berasal dari system etika purba, Hinduisme/Budhisme, Islam, aliran-aliran kepercayaan/kebathinan dan lain-lain. Ajaran wayang purwa banyak mempengaruhi cara berpikir dan perilaku masyarakat penggemarnya (Jawa).

Seorang pemerhati wayang di Yogyakarta, Tjipto Haribowo memandang kesenian wayang kulit dapat dipakai sebagai sebuah media pembelajaran hidup mulai dari sensitivitas, sensibilitas, etika, demokratisasi, atau bahkan pembelajaran bagaimana hidup dalam suasana pluralisme (Rahman, 2008).

Pancasila sebagai filsafat hidup bangsa maupun sebagai dasar negara/ideologi negara adalah sebuah kesadaran; artinya kita meyakini nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dengan penuh kesadaran. Ini juga berarti adanya kesadaran bahwa eksistensi kita sebagai bangsa dan negara yang sangat beragam ini adalah sebuah potensi, jika dikelola dengan baik dengan meng-implementasikan nilai-nilai Pancasila di berbagai bidang: kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi, pendidikan, hukum, sejarah, ekonomi, industri dan sebagainya maka niscaya akan membuat kita menjadi sebuah bangsa dan negara yang besar (Arifin, 2008).

KESIMPULAN

Secara lahiriah, kesenian wayang merupakan hiburan yang mengasyikkan baik ditinjau dari segi wujud maupun seni pakelirnya. Namun demikian dibalik seni pakeliran yang tersurat ini terkandung nilai adiluhur sebagai santapan rohani secara tersirat. Peranan seni dalam pewayangan merupakan unsur dominan. Akan tetapi apabila dikaji secara mendalam dapat ditelusuri nilai-nilai edukatif yang sangat penting dalam kehidupan manusia.

Unsur-unsur pendidikan tampil dalam bentuk pasemon atau perlambang. Oleh karena itu, kemampuan seseorang dalam melihat nilai-nilai tersebut tergantung juga dari cara menghayati dan mencerna bentuk-bentuk simbol atau lambang dalam pewayangan. Dalam lakon-lakon tertentu misalnya lakon yang diambil dari Serat Ramayana maupun Mahabarata sebenarnya dapat diambil pelajaran yang mengandung pendidikan. Peranan kesenian wayang sebagai sarana penunjang pendidikan kepribadian bangsa, rasanya perlu mendapat tinjauan secara khusus. Berdasarkan sejarahnya, kesenian wayang jelas lahir di bumi Indonesia.

Berbicara mengenai kesenian wayang dalam hubungannya dengan pendidikan kepribadian bangsa tidak dapat lepas dari tinjauan kesenian wayang itu sendiri dengan falsafah hidup bangsa Indonesia yaitu Pancasila. Pancasila sebagai falsafah negara dan pandangan hidup bangsa Indonesia merupakan cirri khusus yang dapat membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa lain. Pancasila adalah norma yang mengatur tingkah laku dan perikehidupan bangsa.



Wayang merupakan suatu bentuk seni gabungan antara unsur seni seni rupa dengan menampilkan tokoh wayangnya yang diiringi dengan gending atau irama gamelan, diwarnai dialog (antarwacana), menyajikan lakon dan pitutur atau petunjuk hidup manusia dalam falsafah. Sehingga pertunjukan wayang kulit di daerah jawa dapat menjadi sarana hiburan sekaligus sebagai sarana pendidikan
yang dapat memperbaiki moralitas penduduk jawa dan bangsa Indonesia secara umum. Perbaikan moral merupakan faktor yang sangat penting untuk mengentaskan bangsa Indonesia dari krisis multidimensi yang berkepanjangan. Sehingga pertunjukan wayang kulit dapat menjadi solusi untuk memperbaiki kondisi bangsa Indonesia.

Dengan membudayanya pertunjukan wayang kulit di Indonesia khususnya Tanah Jawa akan berdampak pada:
1. Melestarikan budaya Jawa sebagai budaya daerah yang menopang kuatnya budaya nasional.
2. Dapat menyaring budaya-budaya asing yang masuk, yang mana budaya asing yang baik artinya yang sesuai dengan budaya kita, kita terima dan yang tidak sesuai tidak kita terima.
3. Melindungi generasi Indonesia agar tidak terkontaminasi dengan budaya asing yang kurang baik.
4. Memperbaiki perilaku bangsa Indonesia karena pertunjukan wayang selalu berisi tentang ajaran-ajaran kehidupan yang benar sesuai dengan nurani.
5. Rasa cinta dan bangga terhadap tanah air dan bangsa akan semakin meningkat dibenak generasi Indonesia pada khususnya dan masyarakat indonesia pada umumnya, sehingga akan berdampak pada lancarnya pembangunan Indonesia menjadi negara yang lebih baik.

http://ekodariyanto.wordpress.com/2012/03/20/nilai-nilai-pendidikan-dalam-kebudayaan-wayang/

Kamis, 08 Maret 2012

Peneliti: 12 Grup Media Besar Kuasai Indonesia

Jakarta (ANTARA) - Para Peneliti dari Centre for Innovation Policy and Governance (CIPG) mengumumkan hasil riset bahwa ada 12 grup besar yang menguasai hampir seluruh kanal media di Indonesia.



 
"Hasil penelitian kami bekerja sama dengan lembaga non pemerintah Hivos Asia Tenggara menunjukkan bahwa ada 12 grup media besar yang menguasai Indonesia," kata Peneliti CIPG Yanuar Nugroho didampingi peneliti lainnya yakni Dinita Andriani Putri dan Muhammad Fajri Siregar di Jakarta, Kamis.
Dia menjelaskan, grup tersebut adalah MNC Media Group, Jawa Pos Group, Kompas Gramedia Group, Mahaka Media Group, Elang Mahkota Teknologi, CT Corp, Visi Media Asia, Media Group, MRA Media, Femina Group, Tempo Inti Media dan Beritasatu Media Holding.



Dia mengatakan, meskipun konsentrasi kepemilikan media semacam itu bukanlah monopoli namun struktur industri seperti itu mempunyai implikasi serius dalam konteks ruang publik dalam bermedia.
Para peneliti, tambah Yanuar, menilai bahwa konsentrasi kepemilikan berdampak tak hanya pada keputusan redaksi lewat intervensi pemilik melalui "agenda setting" namun corak industri media juga mengakibatkan terjadinya uniformitas isi media karena prinsip pasar dan mengejar rating.
Dalam konteks tersebut, kata dia, pemusatan kepemilikan tersebut bisa jadi disebabkan oleh tidak tegasnya regulator.



"Lembaga penyiaran publik seperti TVRI dan RRI seharusnya menjadi pilihan untuk mengimbangi media swasta baik dalam sisi konten maupun jangkauan penyiaran sehingga saat industri media mengedepankan aspek komersil dari pemberitaan, penyiaran publik harusnya bisa tampil lebih strategis dan bebas dari kepentingan modal dan berpihak ke publik," katanya.
Aspirasi publik yang tidak tertampung di media arus utama mendorong munculnya media komunitas dan media online alternatif meskipun pada perkembangannya terhambat oleh regulasi yang kurang mendukung.
"Internet sebagai salah satu harapan bagi partisipasi warga dalam bermedia melalui jejaring sosial dan blog juga terhambat oleh ketidakmerataan infrastrukturnya yang masih terpusat di Indonesia bagian Barat," katanya.



Riset CIPG dan HIVOS menegaskan bahwa pemerataan infrastruktur media dan penguatan institusi media publik adalah sarana untuk mengembalikan ruang publik dalam bermedia.
"Tentu saja hal ini perlu di dukung oleh pemerintah lewat kebijakan media yang memadai dan juga keterlibatan masyarakat dalam menuntut haknya dalam bermedia," katanya.

http://id.berita.yahoo.com/peneliti-12-grup-media-besar-kuasai-indonesia-151410514.html

Jumat, 03 Februari 2012

INDONESIA SEBAGAI RUMAH BERSAMA

INDONESIA SEBAGAI RUMAH BERSAMA

oleh FX SUTONO

Akhir-akhir ini, terutama sesudah era reformasi, ganjang-ganjing dunia politik, ekonomi, sosial di tanah air meningkat tajam. Tuntutan tentang pemekaran wilayah, sekadar contoh meningkat, hingga Presiden sendiri melalui Dirjen Otonomi Daerah untuk sementara menyetop dulu pemekaran dan adakan evaluasi terhadapnya. Produk-produk turunan Undang-Undang yang namanya PERDA banyak yang bertabrakan dengan Undang-Undang diatasnya. Masih banyak lagi hal-hal lain yang dengan hingar bingarnya era reformasi seakan berkat keluarnya dari rejim dictator ke era roformasi,  masyarakat(baca orang-oportunis yang memanfaatkan kesempatan) menikmati pesta pora kebebasan.

Indonesia sebagai rumah bersama seharusnya antara kebijakan pemerintah dan tuntutan masyarakat di era keterbukaan ini tetap selaras/searah. Apapun kebebasan itu tetap dalam koridor Pancasila dan UUD 1945 Amandemen sebagaimana telah disepakati bersama, serta dalam bingkai NKRI, Bhineka Tunggal Ika.

Indonesia sebagai rumah bersama, keberadaannya mulai terkoyak, Pemilik sah Negara ini, yakni sebagian minoritas negeri ini merasa terusik/tidak bebas lagi di negeri sendiri, karena ulah/pola pikir sebagian masyarakat yang mulai berubah.

Ambil contoh peristiwa kebebasan beragama/berkepercayaan akhir-akhir ini pemerintah dan masyarakat di repotkan oleh ulah segelintir ormas yang merasa sebagai panglima/pembela agama, sementara kaum/masyarakat yang minoritas, atau ajarannya berbeda dengan apa yang mereka yakini di anggap sesat, sehingga tidak boleh hidup di negeri pertiwi ini.

Sebagian etnis negeri ini yang memiliki etos kerja tinggi, sehingga memiliki kapital (baca kekayaaan materi)justru sering dizalimi/dijadikan sasaran empuk kemarahan massa(baca peristiwa 1998).

PENGHAYATAN IMAN instrinsik adalah suatu penghayatan indidualitas/komunitas terhadap apa yang ia yakini dalam kehidupan si pemeluk itu. Adalah wajar dan sah dan seharusnya mendapat perlindungan dari negara. Bukan kok malah hanya sekadar contoh untuk beribadah saja, tempat ibadahnya di segel/tidak boleh digunakan. Kalau hal ini masih terjadi, dimana letak pengayoman/perlindungan negara terhadap warganya dalam menjalankan kebebasan dalam hal beribadah?

PENGHAYATAN IMAN EKSTRINSIK adalah penghayatan iman dalam perjumpaannya di masyarakat dengan pemeluk agama/keyakinan lain. Disini diandaikan harus mulai tumbuh kesadaran untuk bertoleransi, bertenggang rasa, rendah hati, bisa menerima perbedaan, dll.

Dalam penghayatan ekstringsik ini sudah saatnya ada revitalisasi /tafsir ulang tentang dogma/doktrin iman/keyakinan masing-masing agama/iman dalam kerangka Keindonesiaan. Bagiamana bagi pemeluk agama Islam bisa menghadirkan bahwa Islam itu mejadi rahmat bagi semesta alam (bukan pembawa pedang bagi kaum minoritas, bagi yang paham garis keras), juga Katolik/Kristen bukan ancaman bagi pemeluk Islam terutama dalam bidang-bidang ekonomi, pendidikan, dll; tetapi masing-masing dengan cara sedemikian rupa dapat kerjasama dan dialog karya, dialog peradaban.


AGAMA MISIONER.

Banyak bertabrakannya para pembela agama/keyakinan, dan terutama oleh yang merasa mayoritas (terutama yang memiliki paham radikal) adalah oleh agama-agama samawi:YAHUDI, ISLAM, KRISTEN/KATOLIK. Sebenarnya tiga agama ini adalah memiliki satu nabi yang sama Ibrahim/Abraham, tetapi mengapa bertabrakan, atau paling tidak ada yang merasa lebih mendominasi atas umat yang lebih minoritas(dari segi massa, ekonomi, dll)?



Karena didalam tiga agama ini ada sifat misionaris/sifat bahwa mereka ada semacam perintah/ajaran bahwa mereka harus mengembangkan diri sedemikian rupa hingga ke ujung bumi.

Sekedar contoh dalam alkitab Mat.28

28:18 Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.
28:19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,
28:20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."

Dari ayat ini oleh umat Kristen/Katolik yang memiliki paham lama/ortodok dipahami bahwa mereka harus mengristenkan/mengatotikan orang sebanyak-banyaknya, dan celakanya oleh umat agama/berkeyakinan lain juga di pahami demikian, sehingga ada ketakutan bawah sadar bagi mereka, dari pada mereka mengristenkan/mengatolikkan aku lebih baik dia yang menjadi umat seperti yang aku peluk.
Padahal yang di maksud Yesus bukanlah demikian. Dan sebenarnya dari ajaran Konsili Vatican II pun telah ada semacam pandangan baru /revisi tentang pandangan Kristiani terhadap agama-agama di dunia.

Juga pemahaman para pemeluk agama mayoritas kita di negeri ini , Muslim/Islam bahwa bagi umat Islam dengan bisa mengislamkan orang sebanyak-banyaknya maka dia akan mendapat pahala yang banyak.

Jadi paham bahwa agamaku yang paling benar, paling murni, paling...., paling..., paling...ini harus direvitalisasi/ ditafsir ulang lagi dalam konteks keindonesiaan kita sebagai negara bangsa yang pluralitas/majemuk dari suku, agama/kenyakinan,kekayaan budaya, dll.
Sehingga Negara ini menjadi nyaman bagi setiap orang yang tinggal di dalamnya.

Banyak hal yang seharusnya kita tata ulang dalam menjadikan Indonesia sebagai milik bersama, juga terutama dalam hal pembagian kue ekonomi sebagai topangan hidup dari masing-masing individu di negeri ini.


Pondok Aren, 12 Maret 2011

Sakramen Ekaristi: Sumber dan Puncak Hidup Katolik (sharing pemahaman pribadi seorang awam Katolik)

  Sakramen Ekaristi: Sumber dan Puncak Hidup Katolik (sharing pemahaman pribadi seorang awam Katolik)   Sakramen Ekaristi adalah salah...