Tampilkan postingan dengan label tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tokoh. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Juli 2012

TENTANG DAHLAN ISKAN dari beberap artikel terpilih kompasiana.com

TENTANG DAHLAN ISKAN

Setelah sekian lama menjabat sebagai Menteri BUMN, dan masa RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) BUMN lewat, terlihat bahwa Board of Directors (BoD) atau para direksi BUMN yang terpilih ternyata tidak ada yang berkualifikasi dream team seperti yang pernah disuarakan oleh Dahlan Iskan. Para direksi BUMN sekarang ini biasa-biasa saja, kecuali direksi-direksi top pilihan beberapa Menteri BUMN terdahulu yang berhasil melakukan turnaround BUMN merugi. BoD temuan atau pilihan Dahlan Iskan yang kategori dream team tidak ada.

Bahkan untuk Dewan Komisaris, malah banyak yang masih merangkap jabatan sebagai PNS eselon satu dan yang lainnya. Tidak ada assessment kredibel untuk menilai apakah ybs akan memberikan kontribusi signifikan untuk pengembangan perusahaan, adanya konflik kepentingan, atau waktu yang tidak memadai untuk BUMN itu. Keputusan hanya dilakukan dengan gut feeling, intuisi, tidak ada evaluasi terstruktur. Bukti nyatanya, Deni Indrayana menolak pada saat dia ditunjuk menjadi komisaris sebuah BUMN beberapa bulan yang lalu. Jelas kalau waktu tidak memadai, hasilnya hanya pasang nama dan menerima gaji. Buktinya lagi, tidak ada KPI yang jelas yang dipublikasikan terhadap kriteria keberhasilan para komisaris itu. Dalam perusahaan dengan manajemen modern dan perusahaan publik, ketiadaan KPI yang jelas bukan bukti sebuah good corporate governance.

Bahkan beberapa veteran bisnis yang sudah “kehabisan energi” malah dipasang sebagai komisaris. Apa tidak ada orang lain yang lebih muda dan energik yang bisa ditugaskan? Kalau yang dipakai hanya nostalgia pebisnis itu di masa lalu, apa akan efektif? Tantangan dunia usaha dan ekonomi sudah berbeda. Jaman sudah berganti. Lagipula, mendingan menugaskan orang yang masih energik. Sayang sekali …..

Terlihat bahwa Dahlan Iskan hanya ke sana kemari, tidak ada sistem. Blackberry diandalkan sebagai media komunikasi utama untuk berkoordinasi dengan jajarannya. Saya tidak ingin menyebutnya konyol, tapi terlalu menyederhanakan persoalan kalau BBM dipakai sebagai backbone (tulang punggung) bisnis yang nilainya ribuan trilyun.

Secara sistematika dan strategi, Dahlan Iskan kalah jauh dari Sofyan Djalil, Menteri BUMN terdahulu. Sofyan Djalil adalah peletak sistem di Kementerian BUMN. Dia membuat sistem menjadi rapi. Sofyan Djalil juga lah yang menemukan para Presdir top di BUMN dan membuat banyak BUMN menjadi perusahaan unggulan. Ini kelemahan SBY juga yang tidak bisa memilih putera-puteri bangsa terbaik. Yang unggulan malah tidak dipilih/diteruskan, yang tidak unggulan malah dipilih.

Pendekatan Dahlan Iskan untuk akusisi BUMN merugi oleh BUMN lain yang sudah untung juga bisa dilakukan semua orang. Bukan orang top pun bisa kalau hanya meleburkan BUMN rugi ke BUMN lain yang untung karena aksi korporasi seperti ini tidak membuat BUMN yang tadinya rugi menjadi untung. Hanya membuat kerugiannya menjadi tidak kelihatan karena sudah menjadi satu dengan BUMN lainnya.

Hasil Dahlan Iskan di PLN juga tidak nyata. Lagi-lagi lihatlah proyek pembangkit listrik 10.000 MW tahap pertama yang diawali oleh Jusuf Kalla. Mulai dari Dahlan Iskan menjabat Dirut PLN sampai lengser, bahkan sampai sekarang, proyek itu belum tuntas. Apakah PLN menjadi lebih baik? Perhatikan deh pertandingan Persebaya lawan QPR beberapa hari yang lalu ……. lampu stadion mati !

Jangan-jangan ada ambisi ybs untuk menjadi presiden di 2014? Tidak pas deh kalau gaya seperti ini menjadi presiden. Kalau menjadi bahan berita harian mungkin bagus karena ide-idenya lain dari pejabat lain. Tapi “asal lain” bukan bukti sebuah keberhasilan.

Ide mobil listrik juga hanya menyalin ide Jokowi dengan mobil SMK-nya. Mobil SMK yang menjadi fenomena kemudian dicontoh menjadi mobil listrik. Saya tahu ini hanya kejadian sesaat, yang sebentar lagi ybs juga bosan dan ditinggalkan! Meskipun dikatakan bahwa mobil listrik akan diproduksi masal, tapi tanpa ada sistem yang baik, mana mungkin? Meskipun dikatakan bahwa mobil listrik akan diproduksi masal, kalimat ini hanya untuk kosumsi berita sesaat saja untuk memanaskan popularitas.

Sebaiknya Dahlan Iskan fokus saja membuat sistem yang baik di Kementerian BUMN. Dia akan meninggalkan legacy yang lebih bermanfaat buat bangsa daripada seperti sekarang yang kesana kemari, kesannya mencari diri menjadi subyek berita setiap hari. Jangan seperti sekarang yang hanya mengandalakan individu dia dengan backboneBBM. Ini jelas bukan sistem yang tertata. High profile itu tidak selalu perlu, yang lebih penting adalah hasil pekerjaan utama.

Tulisan ini tidak untuk mendiskreditkan Dahlan Iskan. Tapi penulis merasa sayang dan merasa perlu mengingatkan bahwa ada pekerjaan utama yang sangat penting yang harus dilakukan. Dan ada sistem yang perlu ditata dan dibangun di Kementerian BUMN. Kita tidak bisa mengasumsikan bahwa Kementerian BUMN sudah bagus saat ini, karena masih banyak juga perusahaan yang merugi, dan pelayanan publik di BUMn juga masih sangat kurang.


LELAKI PENUH INSPIRASI

Lelaki Inspiratif, Dahlan Iskan

Membaca tulisan Bapak Dahlan Iskan di blognya Catatan Dahlan Iskan , saya merasakan ada aura perubahan yang luar biasa,  aura untuk perubahan yang dia lakukan untuk bangsa ini. Banyak hal-hal “feodal”  yang dia lewati untuk melakukan perubahan, seperti Sidak, Kegiatan Seremonial,  dll. Untuk sidak, dia tak melakukan pemberitahuan sebelumnya. Sehingga begitu dia datang, yang ada adalah kegiatan sehari-hari yang berlangsung tanpa ada rekayasa dari pihak yang didatangi.

Banyak cerita yang sebetulnya sederhana untuk ditangani, seperti masalah garam. Mengapa sampai garam saja bangsa ini masih import. Padahal di Maduran dan NTT potensinya luar biasa. Dengan Tataran Actionlah, masalah garam dalam hitungan 1-2 tahun selesai.

Saya sempat beberapa puluh kali melihat kegiatan yang diadakan oleh instansi tertentu yang akan didatangi oleh pihak kabupaten, provinsi bahkan sekelas menteri. Sebelum kedatangan mereka, pihak panitia merekayasa kegiatan, entah jalan atau daerah sekitar yang dipermak mendekati hari H. Tetapi begitu selesai, tempat seperti itu sudah balik ke habibatnya semula. Bila budaya seperti ini dapat dilewati akan banyak dana yang bisa dihemat.

Negara kita bisa bangkit dari keterpurukan dalam waktu cepat, bila lahir puluhan “Dahlan Iskan” yang baru dalam Tataran Action, bukan lagi sekedar ide. Kalau “Tataran Ide” sudah banyak di negeri ini,  bahkan sudah di atas angka ribuan ide. Yang kita butuhkan bukan lagi ide, tapi action untuk negera “Sehebat Indonesia”.
Sekali lagi, membaca tulisan-tulisan dan tataran actionnya membuka harapan baru dan semangat baru buat negeri yang bernama Indonesia. Negeri tanah airku dan tentunya negeri kita semua,,,


Dahlan Iskan (KOMPAS)

Bila perang kerap melahirkan pahlawan, maka musibah juga bisa memunculkan wartawan jempolan .
Entah apa yang mengendap di benak Menteri BUMN Dahlan Iskan ketika menyimak berita jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 belum lama ini yang mengakibatkan puluhan orang jadi korban. Mungkin ia tak habis pikir: Mengapa pesawat yang konon sudah dibikin sedemikian canggih tidak bisa menaklukkan dirgantara Indonesia?

Tapi mungkin juga Dahlan Iskan menerawang jauh. Bisa jadi ia teringat suatu masa ketika Tampomas tenggelam dan mengakibatkan ratusan nyawa melawang.

Hemmm…. Pernah dengar Tampomas? Kalau Anda penyuka lagu-lagunya Iwan Fals, Anda nggak bakal asing dengan nama itu. Ya, Tampomas, atau lebih tepatnya Tampomas II, adalah nama kapal bekas yang tenggelam pada 25 Januari 1981 di sekitar Kepulauan Masalembo, Jawa Timur. Kapal itu berlayar dari Jakarta menuju Ujungpandang.

Dua hari terbakar di tengah laut, kapal made in Japan itu akhirnya karam. Lebih dari 400 nyawa melayang. Bahkan ada yang menyebut jumlah korban tewas mencapai 666 orang, termasuk nahkoda Abdul Rivai.
Saat kecelakaan maut itu terjadi, Dahlan Iskan berada di Surabaya. Kala itu ia mengepalai Biro Tempo Jawa Timur. Kemudian datanglah penugasan dari Jakarta untuk meliput peristiwa itu secara langsung.

Menumpang kapal motor Sangihe—kapal yang pertama dipakai untuk mengevakuasi penumpang Tampomas—Dahlan menjadi satu-satunya wartawan yang meliput langsung musibah itu karena akses ke lokasi kejadian memang cukup sulit. Tiga hari tiga malam, ia mengumpulkan cerita terperinci untuk merekonstruksi tenggelamnya Tampomas.

Di atas Sangihe, dengan bau mayat yang menyengat, Dahlan Iskan mewawancarai hampir seluruh awak kapal. Ia juga berhasil mendapatkan foto-foto kebakaran di Tampomas. Foto-foto itu adalah hasil jepretan awak Sanghie. Tidak hanya itu, Dahlan Iskan pun mewawancarai para korban selamat yang dirawat di rumah sakit setempat.

“Rajutan ceritanya yang dimuat di edisi 7 Februari 1981 begitu hidup. Membaca tulisan Dahlan laksana berada di lokasi kejadian. Suasana tegang dan cemas begitu terasa,” demikian pujian atas karya jurnalistik Dahlan Iskan, sebagaimana tertulis di buku “Cerita di Balik Dapur Tempo: 40 Tahun (1971-2011)”.

Pemimpin Redaksi Tempo kala itu, Goenawan Mohamad, mengakui dahsyatnya reportase Dahlan. “Dahlan wartawan hebat,” kata empunya Catatan Pinggir yang terkenal lebih sering mengritik ketimbang memuji itu.
Hasil kerja Dahlan Iskan terus dikenang hingga kini. Laporan tenggelamnya Tampomas II bahkan disebut-sebut sebagai akar investigasi ala majalah Tempo.

Jadi, begitulah, nama Dahlan Iskan kian berkibar gara-gara musibah tenggelamnya Tampomas yang membuat ratusan orang tewas. Setelah itu ia makin dikenal sebagai wartawan andal sekaligus pebisnis ulung. Berkat kepiwaiannya, ia dipercaya untuk memimpin Jawa Pos. Koran kecil di Surabaya pada era 1980-an itu kini menjelma menjadi salah satu grup media terbesar di Indonesia. Bukan hanya berbentuk koran, produk grup Jawa Pos meliputi juga majalah, tabloid, situs internet, stasiun televisi, bahkan event organizer.

Hingga kini nasib pilot dan penumpang Sukhoi Superjet 100 masih simpang siur. Banyak wartawan yang meliput. Apakah peristiwa besar itu bakal melahirkan wartawan besar seperti Dahlan Iskan?

Rawamangun, 11 Mei 2012


Cerita Dahlan Iskan Pakai Sepatu Sopirnya

Saat Anda membaca cerita ini tentang Dahlan Iskan, Menteri Negara BUMN rela dan ikhlas memakai sepatu dari sopirnya yang bernama Handoko. Dari sepatu kets ke sepatu fantovel, “Saya memang suka pakai sepatu kets dari sejak jadi demosntran dulu saat mahasiswa, jurnalis atau di lingkungan media. Sepatu saya ini adalah DI-Demi Indonesia 19. Itu artinya Bismillahirrahmanirrahim yang berjumlah 19 huruf,” celetuk Dahlan yang tertawa renyah saat ditanya oleh Tina Talisa saat acara Teras Tina Talisa di stasiun TV Swasta Indosiar.

Sesaat sebelumnya Tina pun agak nyeleneh dan menantang Dahlan Iskan dengan untuk mempertontonkan cara dia marah dengan melempar kursi saat ngamuk saat pintu tol masih tertutup jam 06 lewat. Ia akui menyayangkan dan menyesal dan ia ambil lagi kursi itu karena saat pintu tol ia buka pasti menghalangi laju mobil yang akan melintas. “Terus terang saya ambil lagi kursi itu dan saya kembalikan ke posisinya dan langsung menelpon Dirut Jasa Marga untuk tidak memarahi apalagi memecat petugas tol yang sedang bertugas saat itu,” jelasnya sambil mempraktekkan cara ia marah dan melempar kursi lalu mengambilnya lagi.

Ada yang menarik saat Tina menghadirkan Handoko, sopir pribadi Dahlan sejak tahun 2002. Dari paparan lugas dan jujur dari sopirnya itu ia akui sudah seminggu ini tepatnya kata Dahlan sudah 8 hari, majikannya itu lebih suka naik mobil listrik berwarna hijau daripada ikut dirinya di mobil mercy. “Saya sering berada disampingnya dan beliau yang menyetir sendiri, walau begitu gaji saya tidak pernah dikurangi,” celetuknya sambil tertawa renyah.

Lalu Tina pun bertanya dengan para mahasiswa yang menyaksikan langsung di studio, memang Handoko lebih tampan dengan memakai semi safari dengan warna yang sama kemeja dan celana dengan sepatu fantovel. Sementara Dahlan hanya berkemeja putih lengan panjang yang ia gulung selengan dan bercelana kain hitam dan bersepatu kets.

 Jujur, seluruh hadirin di studio termasuk Tina melihat Handoko, sang sopir lebih ganteng dari majikan. “Jangan-jangan orang yang melihatnya bisa tertukar mana yang boss dan mana yang sopir yah pak ?” seloroh Tina sambil mengerling ke Dahlan yang terkekeh- kekeh.

Saat Tina meminta agar sepatu kets Dahlan dicopot dan memakai sepatu fantovel dari sang sopir, ia pun tak tanggung-tanggung dan berfikir dua kali lalu membuka sepatunya dan bertukar memakai fantovel sangh sopir. Penulis pun tertegun dan bangga bercampur haru dengan keikhlasan dan kepolosan seorang Dahlan Iskan yang justeru lebih suka menjadi pengusaha daripada menteri dan menjawab Yes dan No apabila ada permintaan dirinya menjadi PRESIDEN Indonesia periode mendatang.

Ia tampil lugas di acara baru dan memang punya format unik. Dahlan Iskan dengan semangat menceritakan pengalamannya memakai mobil listrik dan bangga dengan kehadiran mobil itu. “Beberapa hari yang lalu memang saya sudah mencobanya untuk ke Bogor dan sempat mengisi baterai alias men-charge di daerah sentul setelah itu bolak balik sampai ke rumah tidak ada masalah. 

Ini sudah hari yang ke-8 dan memang saya harus mencobanya apakah itu dengan rute yang panjang, saat macet, saat low batt jadi tidak ada istilah mogok karena tidak ada mesinnya atau jalan yang menungkik,” jelasnya

Lanjut ia jelaskan bahwa ada pendapat bahwa penggunaan listrik dengan hadirnya mobil listrik dianggap justeru pemborosan tapi menurut penjelasan pria humble yang ia akui dirinya tidak pintar karena pernah tinggal kelas. Pria yang apa adanya ini sudah berumur 61 tahun ini memang sudah tiba pukul 04.30 dan jam 05.00 sudah lari-lari pagi di kawasan monas dan itu memang dibuktikan oleh redaksi dan diakui oleh Tina Talisa yang memang hadir pada jam tersebut.

Penulis saat memang ingin meminta sumbangan untuk cetak buku Saya Bangga Jadi TKW-Catatan Inspiratif BMI Hong Kong dan bertandang ke kantornya sudah menunggu Dubes salah satu negara dan dari informasi dari satpam bahwa Dahlan memang sudah berada di kantor Shubuh dan setelah berolahraga dan mandi serta bersiap-siap menerima tamu.

Alhamdulillah saat menanti Dahlan Iskan setelah mengantar tamunya di bawah dan bergegas penulis menemuinya, senyum dan rangkulan langsung penulis rasakan dan bertanya ada apa saat tahu maksud dan tujuan ia pun setelah sampai di ruangan kerjanya menemui asisten pribadinya, Aziz untuk langsung membantu dan merealisasikan sumbangan yang diminta oleh penulis dan langsung terealisasi satu jam kemudian, amazing……!

Penulis pun dengan kesahajaannya tetap menganggap pantas dan realistis Dahlan Iskan menjadi kandidat Presiden RI mendatang dan wakilnya adalah JokoWi yang bersiap-siap mengikuti putaran kedua setelah putaran pertama berhasil menyingkirkan Foke rivalnya dengan angka cukup telak.

Acara masih berlangsung dan Dahlan terus bertutur tentang belum saatnya ia membaca buku Novel berjudul Sepatu Dahlan dan mungkin untuk beberapa Minggu ke depan baru ia baca.

Dahlan Iskan, menurut Anda………………?

LINK YANG INI SILAHKAN KUNJUNGI:
http://www.kompasiana.com/posts/tags/dahlan-iskan/

Senin, 09 Juli 2012

KONTROVERSIAL SIKAP MARZUKI ALI

 

Marzuki Ali: Orang Miskin karena Malas Kerja

 

Satu lagi pernyataan kontroversial Marzuki Ali  bahwa orang menjadi miskin itu karena malas bekerja. Jika seseorang tidak malas bekerja, kemiskinan tidak akan menghinggapi. “Orang miskin itu karena salahnya sendiri dia malas bekerja. Jadi bukan salah siapapun kalau ada orang miskin,” ujar Marzuki saat berbicara dalam acara seminar di Kongres BEM PTNU (Badan Eksekutif Mahasiswa-Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama) se-nusantara di kampus Unipdu Rejoso, Peterongan, Jombang, Minggu (8/7/2012-inilah.com)

Saya selaku koordinator lembaga pemberdayaan masyarakat desa merasa kecewa berat dengan pernyataan Ketua DPR yang notabene seharusnya mewakili kepentingan rakyat termasuk didalamnya masyarakat miskin. Pernyataan tersebut tidak berdasar pemikiran sama sekali baik secara akademis maupun empiris.

Faktor utama penyebab kemiskinan adalah ketimpangan dan ketidakadilan sosial dalam mengakses peluang perubahan nasib. Buktinya setelah Indonesia merdeka dari penjajahan kita terbuka peluang untuk menggali kesejahteraan bangsa.  Ketika kondisi sosial politik stabil maka akan diikuti pertumbuhan ekonomi yang membaik. Demikian pula secara riel di masyarakat miskin bila peluang perubahan nasib itu terbuka maka tanpa disuruh rakyat akan bergerak bekerja.

Saya melihat secara nyata betapa orang miskin di perkotaan telah bekerja keras demikian pula di pedesaan, banyak diantara mereka bangun pagi-pagi pukul 03.00 bekerja hingga malam hari, tapi apa yang mereka dapat hanya mampu menebus beli Raskin untuk makan keluarganya dalam satu hari.

Bila sebelumnya telah mendapat gugatan dari kalangan kampus atas pernyatan yang kontroversial maka siapakah yang membela luka hati rakyat miskin atas pernyataan si Juki.

Berikut ini pernyataan-pernyataan kontroversial Marzuki Ali yang lain:

27 Oktober 2010, setelah nelayan di Mentawai, Sumatera Barat, terkena tsunami. “Ada pepatah, kalau takut ombak, jangan tinggal di pantai.”

17 Februari 2011, Anggota DPR melakukan kunjungan kerja ke luar negeri membawa serta istrinya. Marzuki menanggapi, “Laki-laki sifatnya macam-macam. Ya, perlu diurus untuk minum obat, (atau) pengin hubungan dengan istrinya rutin. Itu terserah. Sepanjang tidak menggunakan uang negara.”

26 Februari 2011, Marzuki mengomentari sejumlah kasus yang menimpa tenaga kerja wanita di luar negeri. “PRT TKW itu membuat citra buruk, sebaiknya tidak kita kirim karena memalukan.”

9 Mei 2011, Marzuki menanggapi rencana pembangunan gedung baru di kompleks MPR/DPR yang menuai kritik. “DPR ini bukan ngurusin gedung, tapi rakyat. Kalau saudara-saudara tanya soal gedung terus, DPR tak ada lagi, ngurusin gedung saja.”

13 April 2011, hama ulat bulu menyerang Pulau Jawa. “Saya dengar, (serangan hama) ulat bulu sampai ke Jakarta. Itu peringatan Tuhan.”

29 Juli 2011, Kasus korupsi di Indonesia terus terungkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi. Terungkap pula kasus politikus Partai Demokrat M. Nazaruddin. “Jadi, kita maafkan semuanya. Capek kita ngurusin masa lalu terus.” “Kalau tudingan Nazaruddin terbukti, sebaiknya KPK bedol desa atau lembaganya dibubarkan saja.”

21 Desember 2011, Fitra mengkritik besarnya anggaran DPR yang mencapai Rp 69 miliar untuk renovasi gedung. “Kalau tidak mau keluar biaya, kita tidur saja, gampang.”
Tugas ketua DPR bukan menyalahkan keadaan rakyat, tapi membuat pengaturan supaya rakyat dapat menggapai peluang kesejahteraan.

http://politik.kompasiana.com/2012/07/09/marzuki-ali-orang-miskin-karena-malas-kerja/

TENTANG PELECEHAN SEKSUAL


A SETYAWANKetua DPR, Marzuki Alie (tiga kanan) memberikan hasil pertemuan antar pemimpin lembaga tinggi negara yang dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Gedung MPR/DPR/DPD, Senayan, Jakarta, Senin (20/3/2012).
Saya heran komentar yang demikian sepihak, diucapkan oleh seorang petinggi.
Perempuan yang pakai rok mini adalah objek, mereka tentu ada alasan tertentu, mengapa pakai pakaian mini. Apapun alasan itu mereka tetap adalah objek seperti suatu lukisan atau pajangan foto yang bebas dilihat siapapun yang suka melihatnya.
Uang itu juga pemicu perampokan, apakah pantas mengatakan orang uang sebagai pemicu perampok. Bukankah perampok adalah memang mentalnya perampok  ?
Tetapi jika terjadi yang melihat melakukan kejahatan pelecehan terhadap objek itu, apakah pantas objeknya disalahkan ? Bukankah pelaku pelecehan itu memang sudah ada mental yang bejat, pikiran yang menggoda hawa nafsu yang tidak terbendung dalam otaknya.  Mata dan pikirannya sudah menggerakan hawa nafsu untuk berbuat. Objek apapun itu, begitu visual atau  mendengar ajakan atau memperoleh informasi tentang hal-hal sejenis otomatis sudah ada dorongan kuat untuk menuruti hawa nafsu.  Yang pasti jika pelaku sudah pernah melakukan pelecehan, maka berikutnya juga sama, bukan karena objek itu tetapi memang mentalnya.
Coba ujilah bagi mereka yang memiliki kerohanian yang baik, apapun itu dipertontonkan tidak akan menggoyangkan hawa nafsunya untuk berbuat. Meskipun diakui ada gejolak hati ( sangat wajar ), namun tetap terkendali baik.  Artinya akal-budi berjalan baik.
Menurut penulis, jika terjadi pelecehan, seyoganya pelaku itu yang ada kelainan yang tidak terkendalikan. Atau tidak memiliki kerohanian baik, agama apapun yang dianut hanya sebatas pengetahuan, ilmu agama, bukan aplikasi kehidupan sesuai ajaran agama.


http://sosbud.kompasiana.com/2012/03/12/marzuki-ali-pelecehan-seksual-dipicu-pakaian-tak-pantas/

Kamis, 31 Mei 2012

Menulis dengan Otak Dingin tapi Hati Hangat

Menulis dengan Otak Dingin tapi Hati Hangat

oleh Sutomo Paguci



http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2012/06/01/menulis-dengan-otak-dingin-tapi-hati-hangat


Mencoba memahami para komentator aktif di kompasiana baik yang sependapat dengan penulis maupun yang tidak sependapat. Para pengecam yang pedas ini kuklik akun Kompasiananya, kubaca artikelnya, dan kuajak berteman. Sekarang masih menunggu tanggapan. Hallo?
Penasaran mau melihat seberapa dewasa sikap para pengkritik itu. Apakah menganggap pihak yang kontra dengan pemikirannya sebagai musuh?
Aku sendiri penulis yang cukup bersemangat. Otak seperti bergemuruh menumpahkan segala kesumat pikiran. Treet-tret-tret tuts berbunyi dengan cepat. Otak menumpahkan segala kegelisahan pikiran ke ujung sepuluh jari. Ya, aku mengetik dengan sepuluh jari sambil mata terpejam. Suatu keahlian yang telah berpuluh tahun ku asah sejak SMP dulu.
Kadang kasihan melihat kawan yang begitu besemangat menulis, ide-idenya gemuruh seperti air terjun, tapi tak diimbangi kecepatan menulis. Ia menulis dengan dua ujung jari telunjuk kiri dan kanan. Nampaknya sih cepat bahkan brutal, tetapi sebenarnya lambat. Secepat apapun penulis dengan dua telunjuk tidak akan mampu mengalahkan sepuluh jari yang bergerak refleks seperti pendekar Dhanapati yang menggunakan ajian menjelma jadi sepuluh dalam “Puncak Dendam Dhanapati” buah karya Kompasianer Ken Hirai itu.
Bunyi tuts komputer yang dihajar dengan dua ujung jari kira-kira begini: tak-tuk tak-tuk tak-tuk. Sedangkan bunyi tuts yang digagahi sepuluh jari kira-kira begini: tret-tret-tret-treeeeet! Bablas. Satu artikel pendek selesai dalam 15 menit.
Wah kok jadi ngelantur nih. Rahasia menulis dengan otak dingin tapi hati hangat di Kompasiana segera dimulai! Otak boleh panas tapi hati tetap dingin. Tapi saya lebih merasa pas dengan istilah “hangat” untuk hati, yaitu sebentuk perasaan yang menangkap rasa kata denga antusias dan humor.
Saya sendiri tidak berpretensi harus mempertahankan apa yang saya pikirkan dengan hati penuh amarah, dendam, kebencian dan angkara murka anak manusia. Untuk apa? Cuma tulisan pemikiran aja kok dibawa serius banget. Setuju, ambil. Tidak setuju, ya tinggalkan. Walau aku orangnya agak sinis, tapi menghargai pemikiran yang berlawanan.
Kalau ada yang meninggalkan jejak digital di akun saya–umpamanya corong liberal, kafir, antek AS, antek Yahudi, Islamophobia, dst–bagaimana? Ya, santai aja. Dipikirin tapi tak masuk ke hati. Yang tahu apakah benar semua stigma itu adalah diri kita sendiri. Ikuti aja kata Stephen R Covey, kita yang memutuskan.
Begitupun ketika orang mengkritik konten tulisan, wah, ini wajib dipikirkan benar-benar. Dipikirkan dengan otak terbuka bahkan terngaga. Jangan-jangan kritik itu benar. Jika benar, ya perbaiki lain kali. Jika pun tidak benar, ya tetap berterima kasih sudah berpartisipasi.
Otak ini memang dibiarkan terbuka dengan segala ide: fundamental, literal, liberal, kapital, demokratis, ortodok, dan lain-lain. Sejauh ini ia membaca blog/web http://islamlib.com dan http://ulil.net. Sebaliknya dia juga membaca dengan serius blog http://IndonesiatanpaJIL.com. Dia membaca timeline #IndTanpaFPI, juga membaca timeline #IndonesiaTanpaJIL di twitter.
Sejauh ini Otak berusaha keras memahami alur pemikiran seumpama #IndonesiaTanpaJIL, Abu Bakar Ba’asyir, Irene Handono, Habib Rizieq. Namun pemikiran tersebut belum memuaskan logika si Otak. Habisnya, pemikiran mereka lebih banyak bernuansa provokasi, kebencian, bahkan kekerasan. Tapi si Otak akan tetap berusaha menyelami pemikiran mereka.
Sebaliknya. Logika si Otak yang terbuka itu justru terpuaskan oleh tulisan-tulisan tokoh Indonesia seperti Quraish Shihab, Gus Dur, Ulil Abshar Abdalla, Said Agil Siradj, Syafii Maarif, Abdul Moqsith Ghazali, Luthfi Assyaukanie, Adnan Buyung Nasution, Todung Mulya Lubis, Abdurahman Saleh, Yusril Ihza Mahendra, Budiarto Shambazy, Andrea Hirata, Habiburrahman El Shirazy, Anis Baswedan, Pipih Nugraha, Dewa Gilang, Arab Kere, Katrokelana, Hanung DW Nugrahanto, dan Kompasianer senada lainnya.
Di tengah pertarungan pemikiran pro dan kontra itu, akhirnya si Otak bersandar pada Cinta. Siapa saja tokoh dunia yang memancarkan cinta dalam gerakannya? Nabi Muhammad, sudah tentu. Mahatma Gandhi, ya. Nelson Mandela, ya juga.
Sudah dulu menulisnya. Lagi sibuk.

Rabu, 02 Mei 2012

Endang Rahayu Sedyaningsih

Endang Rahayu Sedyaningsih


Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Endang Rahayu Sedyaningsih
Menteri Kesehatan Indonesia ke-18
Masa jabatan
22 Oktober 2009 – 26 April 2012
PresidenSusilo Bambang Yudhoyono
Didahului olehSiti Fadilah
Digantikan olehBelum ditentukan
Informasi pribadi
Lahir1 Februari 1955
Bendera Indonesia Jakarta, Indonesia
Meninggal2 Mei 2012 (umur 57)
Bendera Indonesia Jakarta, Indonesia
KebangsaanIndonesia
Suami/istriDr. Reanny Mamahit, SpOG, MM
AnakArinanda Wailan Mamahit
Awandha Raspati Mamahit
Rayinda Raumanen Mamahit
Alma materUniversitas Indonesia
Harvard School of Public Health
dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, DR.PH (lahir di Jakarta, 1 Februari 1955 – meninggal di Jakarta, 2 Mei 2012 pada umur 57 tahun) adalah Menteri Kesehatan pada Kabinet Indonesia Bersatu II yang menjabat sejak 22 Oktober 2009 hingga 26 April 2012.[1] Sebelumnya ia pernah menjabat sebagai Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Biomedis dan Farmasi, Badan Penelitian dan Pengembangan Depkes.[2]
Endang memperoleh gelar sarjana pada tahun 1979 dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan gelar magister dan doktor dari Harvard School of Public Health.[3]

[sunting] Karier

Endang memulai karirnya pada tahun 1979 sebagai dokter di Rumah Sakit Pertamina Jakarta. Dia bergabung pada pelayanan kesehatan masyarakat pada tahun 1980 dan bekerja di daerah terpencil sebagai Kepala Puskesmas Waipare di Nusa Tenggara Timur selama tiga tahun.
Pada tahun 1983, ia pindah ke Jakarta dan meneruskan bekerja dalam pelayanan kesehatan masyarakat di Dinas Kesehatan Provinsi Jakarta. Pada tahun 1997, dia bergabung dengan Badan Nasional Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Badan Litbangkes) Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Dia bekerja sebagai peneliti di Pusat Penelitian Pengendalian dan Pengembangan Program Penyakit , NIHRD untuk lebih dari satu dekade. Selama 6 bulan pada tahun 2001, dia menghabiskan waktunya dengan bekerja pada Kantor Pusat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Jenewa, Swiss.
Ia diangkat sebagai Direktur Pusat Penelitian Biomedis dan Program Pengembangan, NIHRD pada tahun 2007. Pada bulan Oktober 2009, ia diangkat sebagai Menteri Kesehatan Republik Indonesia oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan bergabung dengan Kabinet Indonesia Bersatu jilid Dua. Pada tanggal 26 April 2012 ia mengundurkan diri dari posisinya sebagai Menteri Kesehatan karena kondisi kesehatan.[4]

[sunting] Kehidupan pribadi

Ia bersuamikan Dr. Reanny Mamahit, SpOG, MM (Direktur RSUD Tangerang) dan memiliki dua putra dan satu putri [5].Putra pertama bernama Arinanda Wailan Mamahit, putra kedua bernama Awandha Raspati Mamahit, dan anak putri paling kecil bernama Rayinda Raumanen Mamahit.
Pada 26 April 2012, Endang mengundurkan diri dari kabinet terkait dengan kondisi kesehatannya.[1] Pada tanggal 2 Mei 2012, Endang meninggal dunia karena kanker paru lanjut di usia 57 tahun di RSCM, sekitar pukul 11.41 WIB.[6]

[sunting] Referensi


Jabatan politik
Didahului oleh:
Siti Fadilah
Menteri Kesehatan Indonesia
22 Oktober 200926 April 2012
Lowong
Belum ditentukan

Pesona Sang Pemicu: Dekonstruksi Karakter Pemimpin Reaksioner Berjubah Narasi Kesalehan

  Pesona Sang Pemicu: Dekonstruksi Karakter Pemimpin Reaksioner Berjubah Narasi Kesalehan   Pendahuluan Fenomena kepemimpinan kontempo...