PUTRA KARANGANYAR: MENCARI KEBAIKAN MENUJU KESEMPURNAAN HIDUP (mersudi becik,nggayuh sampurnaning urip). "dengan ilmu hidup menjadi mudah,dengan iman hidup makin terarah, dengan seni dan senyum hidup makin indah,dengan olahraga hidup makin terjaga"
Tampilkan postingan dengan label blogspot. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label blogspot. Tampilkan semua postingan
Jumat, 01 Agustus 2014
Jumat, 21 Maret 2014
Selasa, 23 Juli 2013
MENGHARGAI ANAK SEBAGAI PRIBADI
Menghargai
Anak sebagai Pribadi
Suko Waspodo
Sebagai orangtua pasti ingin memiliki anak-anak yang kreatif dan
untuk itu peran sertanya sangat penting. Orangtua yang menginginkan anak-anak
kreatif seharusnya menghargai anak-anak mereka sebagai pribadi (person)
yang penting. Mereka diperlakukan sebagai anggota keluarga yang sejajar.
Pendapat mereka didengarkan dan ditanggapi. Perasaan-perasaan mereka diberi
tempat dan diterima dengan wajar. Usul-usul mereka diperhitungkan.
Keputusan-keputusan mereka mengenai beberapa hal yang sudah dikuasai seperti
warna pakaian, macam permainan dan olahraga, kegiatan di luar rumah, hobby,
dihargai.
Namun sikap dan perlakuan orangtua itu tidak permisif: “anak-anak
diperbolehkan berbuat apa saja”, acuh tak acuh, “apa-apa saja sama saja” atau
memanjakan: “membiarkan anak atau memenuhi kehendak anak-anak, biar mereka
senang, juga yang tak wajar”, tetapi penuh perhatian, cinta, dan pembinaan.
Anak-anak dihargai dengan disertai keinginan agar bertindak pantas. Anak-anak
dipercaya dengan harapan agar hidup bertanggung jawab.
Anak-anak diberi
kemungkinan untuk mengambil keputusan dengan catatan agar keputusan dibuat
secara bertanggung jawab dan berani bertanggung jawab pula atas akibat-akibat
dari keputusan yang sudah mereka ambil. Ini berarti dalam proses mengambil
keputusan dalam bidang yang di atas kemampuan mereka, anak-anak dibantu dengan
pertimbangan-pertimbangan yang diperlukan.
Dari sikap dan perlakuan orangtua itu, ada tiga akibat
penting yang terjadi pada anak.
Pertama, karena dihargai, harga diri dan kepercayaan diri mereka
berkembang.
Kedua, karena dilatih mengambil keputusan, mereka semakin cakap
dalam hal mengambil keputusan.
Ketiga, karena dilatih bertanggung jawab, rasa tanggung jawab
anak-anak dibina.
Demikianlah hal-hal yang perlu diperhatikan oleh orangtua yang
menginginkan anak-anak yang kreatif. Menghargai anak sebagai pribadi sehingga
hal ini menjadi dasar bagi mereka untuk hidup yang produktif dan perilaku yang
efektif di kemudian hari.
Selamat menyambut Hari Anak Nasional. Salam damai penuh cinta.
***
Solo, Selasa, 23 Juli 2013
Suko Waspodo
Senin, 13 Mei 2013
Lima Hal yang Membuat Pria “Menarik” di Mata Wanita
Lima
Hal yang Membuat Pria “Menarik” di Mata Wanita
Ketika
membaca judul diatas, mungkin bagi sebagian orang yang sudah apatis dengan
sikon di jaman modern ini yang pada umumnya mendudukkan “uang” dan “jabatan”
diatas segala galanya, akan segera berpikir ringkas, ” uang membuat pria
menarik di mata wanita.”
Jika
itu adalah jawaban anda, maka sebenarnya juga golongan “wanita” yang hanya tertarik dengan uang dan jabatan
semata bukanlah wanita sejati yang saya maksudkan dalam artikel ini.
Meskipun
standard pria secara umum di dalam artikel ini tentu memiliki pekerjaan atau
keahlian yang handal, namun bukan berarti harus kaya atau pada level “berduit”.
Semua pria bisa tampil menarik di mata wanita. Yang saya maksudkan adalah pria yang disukai
wanita sebagai sahabat, teman bicara yang baik, bahkan partner bisnis, dan
bukan terbatas semata mata dijadikan kekasih atau teman kencan.
Pria
yang “menarik” akan lebih mudah dibantu, lebih mudah dipahami dan disukai. Oleh
karenanya secara tidak langsung, menjadi pria dengan kepribadian menarik akan
mendatangkan banyak kemudahan secara “halal” dalam lingkungan pekerjaan dan
pergaulan sehari hari.
Pandangan
yang lebih relevan dan berimbang jika topik ini dilihat dan dibahas dari
sudut pandang wanita, karena sesunguhnya jauh di lubuk hatinya, para pria
juga mendambakan dirinya disukai dan menarik di mata wanita. Banyak pria yang
tidak tahu caranya, dan terlau gengsi untuk bertanya.
Dari
berbagai poin penting yang sangat banyak, saya coba membatasi dengan
mengemukakan lima hal mendasar yang penting bagi pria supaya menarik di mata
wanita, agar mudah diingat dan langsung bisa diaplikasikan tanpa ribet.
1. Sopan, ramah namun tidak genit.
Wanita menyukai pria yang “hangat” dan bisa
membuka percakapan dengan baik. Tapi bukan tipe pria yang saking hangatnya,
maka cara berbicara dan memandang malah seperti hendak “menelan” wanita hidup
hidup. Pria yang seperti ini akan kelihatan seperti orang utan yang baru keluar
dari hutan rimba dan kaget melihat suasana kota. Dijamin para wanita
berkelas justru akan segera menghindar menjauhi.
Sapalah
wanita dengan ramah, bicara dengan sopan dan hangat, namun tetap menjaga
sikap dan tidak memancing mancing pembicaraan yang menjurus kearah
“tabu”.
2. Bersih dan tidak tidak bau badan.
Soal wewangian, maka itu adalah sangat
subjektif. Saya pribadi selalu suka dengan pria yang beraroma “sporty”, namun
tidak menyengat hidung. Pria yang perfume-nya tercium dari jarak lima meter,
malahan menjadi seperti pengharum ruangan berjalan. Wanita tidak begitu
menyukai pria yang over dalam berdandan. Jangan menyaingi wanita dalam urusan
berdandan.
Kebersihan
kuku dan rambut penting untuk dijaga.
Soal
gaya berpakaian, saya tidak bisa mematok standard tertentu, karena selera
wanita juga berbeda beda. Ada yang senang melihat pria berjins dengan kemeja
kotak kotak yang kasual. Ada juga wanita yang senang melihat pria berkemeja
lengan panjang rapih dengan celana bahan kain dan sepatu resmi.
Kembangkan
gaya pribadi anda, tapi hal mendasar adalah pastikan kebersihan tubuh anda
terjaga dan jaga aroma tubuh dari bebauan “tidak sedap”.
3. Menjaga wibawa dengan fokus pada hal
hal yang penting dan utama.
Wanita tidak suka dan
alergi dengan pria “pecicilan”. Wanita tidak keberatan dikritisi, maupun diberi nasehat, namun
bukan berargumen dengan hal remeh temeh yang tidak penting. Pria yang berwibawa
akan mampu mengendalikan emosi wanita bukan dengan banyak kata kata, namun
dengan kehadirannya yang menenangkan, sudah mampu membuat wanita merasa aman
dan terlindungi.
4. Memberi pujian pada kadar yang tepat.
Semua wanita senang dipuji. Namun pujian yang
berlebihan akan kedengaran sebagai rayuan “gombal” di telinga wanita. Hindari
pujian klise seperti :” cantik sekali hari ini, meskipun kemarin kemarin juga
cantik”.
Wanita
akan terpesona dengan pujian yang tepat sasaran dan tidak berlebihan. Misalnya: “tadi presentasi
yang kamu bawakan sangat bagus, ringkas dan berisi. Apalagi ditambah dengan
grafik menunjang. Orang orang terkesan dengan itu semua.”
Atau
jika pujian itu kearah fisik dan penampilan, maka contoh kalimatnya seperti
ini: ” Kamu kelihatan sangat segar dengan jins dan kemeja putih”.
5. Menjaga etiket secara umum dan selalu
bersikap santun.
Wanita
bukan hanya akan memperhatikan perlakuan anda terhadap dirinya. Wanita cerdas
akan memperhatikan bagaimana pria bersikap kepada orang lain secara konsisten.
Pria yang tidak memiliki etiket dan bersikap tidak sopan kepada orang
lain secara umum, maka tidak peduli seberapa kaya maupun tinggi kedudukannya,
nilainya di mata wanita langsung merosot ke titik nadir.
Pria
tidak suka dengan artikel panjang yang ribet dan berbelit belit bukan ?. Mudah
mudahan lima hal pokok yang saya sampaikan ini dapat menjadi bahan pertimbangan
untuk menjadi pria yang menarik dan disukai wanita.
Hormat
saya untuk pria Indonesia.
Jumat, 27 Juli 2012
LINK BAGI PENGGEMAR PEDHALANGAN YOGYAKARTA
ada gak yang semasa kecil pengin jadi dhalang gak kesampaian?
SILAHKAN TINGGAL DI KLIK SAJA, monggo:
http://wayangpustaka02.wordpress.com
http://wayangprabu.com/tag/ki-wisnu-hadi-sugito
http://bornjavanese.blogspot.com
http://www.thewindowofyogyakarta.com
http://padeblogan.com/2011/05/28/mengenang-ki-timbul-hadiprayitno
http://putragantiwarno.blogspot.com/2011/11/wayang-kresno-duto-ki-hadi-sugito.html
http://warta.pepadi.com
http://aakuntoa.wordpress.com/2008/01/11/hadi-sugito
http://www.tmcmetro.com/news/2012/06/hut-bhayangkara-ke-66-polpagelaran-wayang-kulit
http://wayangprabu.com/category/pagelaran-wayang/ki-sutono-hadi-sugito
http://wayangprabu.com/audio-mp3-pagelaran-wayang-berbagai-dalang/yogyakarta/kihadisugito
http://blog-indonesia.com/blog-archive-11337-1114.html
http://blog-indonesia.com/blog-archive-11337-1124.html
http://blog-indonesia.com/blog-archive-11337-1113.html
Kamis, 26 Juli 2012
Teeuw
Teeuw
Oleh Gunawan Muhamad
Pada umur 26, Andries Teeuw naik kapal pos, mengarungi laut, melintasi Terusan Suez, dan sampai di pelabuhan Sabang. Itu tahun 1947. Perjalanan yang tak menjanjikan ketenteraman.
Hanya dua tahun sebelumnya Indonesia menyatakan diri merdeka. Belanda, yang merasa dibangkang, kemudian mengirim pasukan untuk menaklukkannya kembali. Tapi Teeuw, kelahiran Gorinchem, Holland Selatan, datang sendirian, meskipun dengan dana pemerintah untuk riset di Lombok . Ia baru setahun beroleh gelar doktor dari Universitas Utrecht. Entah bagaimana seorang ilmuwan yang begitu muda melintasi ketegangan hari-hari itu.
Saya hanya pernah membaca, dari Sabang ia menulis sepucuk surat kepada istrinya: ”Seakan-akan saya telah berkenalan dengan dunia ini.”
Ia memang telah kenal bagian dunia ini—secara tak langsung. Ia belajar filologi; disertasinya terjemahan atas puisi Bhomântaka, naskah tua dari Jawa Timur. Bagi Teeuw, tak mudah memahami sepenuhnya teks bahasa Jawa Kuno ini, tapi satu hal yang terpaut pada filologi ada dalam dirinya: filologi, yang menelaah bahasa dalam pautannya dengan sastra dan sejarah, berasal dari bahasa Yunani yang berarti ”cinta kepada sastra dan pengetahuan”.
Tanpa cinta kepada sastra dan pengetahuan, Teeuw tak akan berjalan sejauh itu—melintasi dua satuan geografis, dua kubu ketegangan politik, dua posisi dalam proses pengetahuan: ia dapatkan sumber telaahnya dari Indonesia , ia berikan kemudian hasil telaahnya kepada Indonesia . Ia seorang Belanda; ia pro-Indonesia.
Beberapa tahun setelah Bhomântaka, ia lebih dikenal sebagai penelaah dan kritikus sastra Indonesia modern. Teeuw mula-mula tak merasa nyaman dengan label itu. Saya bertemu dengan dia pertama kali di musim dingin awal 1967. Waktu itu saya tinggal di Bruges , Belgia, dan datang naik kereta api ke Leiden . Ia menjemput saya di stasiun—dengan sikap rendah dan murah hati yang tak terduga dari seorang guru besar kepada seorang mahasiswa asing yang cuma dikenalnya lewat satu-dua sajak. Ia ramah, dengan kehangatan yang pelan datang.
Istrinya, yang kemudian akan disebut ”Ibu Teeuw” dengan akrab oleh semua kenalannya dari Indonesia , menyajikan teh panas dan biskuit.
”Saya sebenarnya bukan kritikus,” ia mengatakan, di ruang tamu rumahnya yang bersahaja dan penuh buku. ”Yang saya lakukan hanya mengisi kekosongan.”
Waktu itu tampaknya demikian. Ketika Teeuw mengajar di Universitas Indonesia di akhir 1940-an dan awal 1950-an, terbit bukunya, Voltooid Voorspel. Buku ini kemudian diindonesiakan jadi Pokok dan Tokoh (judul yang kemudian di-”pinjam” Tempo) pada 1952 dan 1955. Isinya lebih berupa pengantar tentang para sastrawan Indonesia modern dan karya-karyanya. Pendekatannya tak bisa dikatakan baru. Dalam kritik sastra waktu itu, ”pokok” dianggap terkait erat dengan ”tokoh”, satu hal yang digugat dalam teori sastra kemudian. Tapi tujuan Teeuw memang hanya jadi pemandu bagi mereka yang ingin mulai belajar. Dan sebab itu pula—di samping ia tahu menempatkan diri sebagai ”orang luar”—Teeuw, seperti kata penyair dan kritikus Sapardi Djoko Damono, cenderung ”berhati-hati”.
Bagaimanapun terbatasnya, Pokok dan Tokoh besar sekali pengaruhnya bagi sastrawan Indonesia di tahun 1950-an. Waktu itu seseorang seakan-akan baru ”dibaptis” setelah dibahas Teeuw. Dalam hal ini ia sejajar dengan H.B. Jassin, yang menerbitkan tiga jilid kumpulan Kritik & Esei. Tapi Teeuw punya kelebihan. Ia pakar filologi yang kenal sastra klasik Melayu dan Jawa dengan mendalam. Dengan demikian ia melihat dengan tepat bahwa betapapun ”baru”-nya ungkapan Chairil Anwar dan para penyair sebelum dan sesudahnya, bahasa Indonesia tak lahir dari ruang linguistik yang hampa.
Itu sebabnya Teeuw dapat melihat apa yang istimewa pada puisi Amir Hamzah. Sementara Jassin menunjuk rapatnya penyair Buah Rindu dengan tradisi Melayu, Teeuw justru melihat ada dalam karya Amir sesuatu yang mempesona: sebuah energi baru. Puisinya mengatasi keterbatasan prosodi syair lama. Dalam bahasa Melayu, tak ada rima yang bertekanan seperti dalam bahasa Jermanik. Syair Melayu juga tak amat beragam bunyi vokalnya (hanya a, e, i, o, u, ê), sementara rima yang terbentuk dari itu, dalam gabungan dengan konsonan, tak seluas bahasa Jerman, Inggris, apalagi Rusia. Menghadapi keterbatasan itu, menurut Teeuw, Amir Hamzah menciptakan puisi yang mengejutkan dan kaya karena bunyi asonansi, aliterasi, dan rima yang mendadak di tengah-tengah.
Ketajaman (dan juga kepekaan) menangkap gerak bahasa yang seperti itulah yang sampai sekarang belum dilanjutkan, apalagi ditandingi, oleh telaah sastra di perguruan tinggi Indonesia . Dari apa yang saya contohkan tampak pula bahwa telaah Teeuw, yang kemudian makin lama makin dipermatang oleh teori-teori sastra mutakhir (Barth, Culler, Derrida), tetap menggali sumbernya bukan dari sastra Eropa, melainkan sastra Nusantara. Dengan lancar, dalam satu risalah, ia akan mengambil contoh dari sajak Jawa Kuno Hariwangsa dan puisi Sutardji Calzoum Bachri.
Dalam menelaah Hikayat Hang Tuah, Teeuw membedakan diri dari penelaah lain karena ia tak memakai ukuran kesejarahan ”Barat”: ia melihat kisah itu sebagaimana orang Melayu memandang Hang Tuah sejak dulu: sebagai karya sastra yang asyik dinikmati.
Itu sebabnya sastra penting, meski sering disepelekan dalam zaman yang menyisihkan keasyikan. Manusia, Teeuw mengingatkan kita, juga homo fabulans: makhluk yang bercerita, yang bersastra—dengan bahasa dan imajinasi yang ganjil, tak pasti, tak mandek, tapi dengan demikian selalu baru dan hidup kembali berkali-kali.
Juga ketika sang kritikus pergi, 18 Mei 2012.
~Majalah Tempo, Edisi Senin, 28 Mei 2012~
TENTANG DAHLAN ISKAN dari beberap artikel terpilih kompasiana.com
TENTANG DAHLAN ISKAN
Setelah sekian lama menjabat sebagai Menteri BUMN, dan masa RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) BUMN lewat, terlihat bahwa Board of Directors (BoD) atau para direksi BUMN yang terpilih ternyata tidak ada yang berkualifikasi dream team seperti yang pernah disuarakan oleh Dahlan Iskan. Para direksi BUMN sekarang ini biasa-biasa saja, kecuali direksi-direksi top pilihan beberapa Menteri BUMN terdahulu yang berhasil melakukan turnaround BUMN merugi. BoD temuan atau pilihan Dahlan Iskan yang kategori dream team tidak ada.
Bahkan untuk Dewan Komisaris, malah banyak yang masih merangkap jabatan sebagai PNS eselon satu dan yang lainnya. Tidak ada assessment kredibel untuk menilai apakah ybs akan memberikan kontribusi signifikan untuk pengembangan perusahaan, adanya konflik kepentingan, atau waktu yang tidak memadai untuk BUMN itu. Keputusan hanya dilakukan dengan gut feeling, intuisi, tidak ada evaluasi terstruktur. Bukti nyatanya, Deni Indrayana menolak pada saat dia ditunjuk menjadi komisaris sebuah BUMN beberapa bulan yang lalu. Jelas kalau waktu tidak memadai, hasilnya hanya pasang nama dan menerima gaji. Buktinya lagi, tidak ada KPI yang jelas yang dipublikasikan terhadap kriteria keberhasilan para komisaris itu. Dalam perusahaan dengan manajemen modern dan perusahaan publik, ketiadaan KPI yang jelas bukan bukti sebuah good corporate governance.
Bahkan beberapa veteran bisnis yang sudah “kehabisan energi” malah dipasang sebagai komisaris. Apa tidak ada orang lain yang lebih muda dan energik yang bisa ditugaskan? Kalau yang dipakai hanya nostalgia pebisnis itu di masa lalu, apa akan efektif? Tantangan dunia usaha dan ekonomi sudah berbeda. Jaman sudah berganti. Lagipula, mendingan menugaskan orang yang masih energik. Sayang sekali …..
Terlihat bahwa Dahlan Iskan hanya ke sana kemari, tidak ada sistem. Blackberry diandalkan sebagai media komunikasi utama untuk berkoordinasi dengan jajarannya. Saya tidak ingin menyebutnya konyol, tapi terlalu menyederhanakan persoalan kalau BBM dipakai sebagai backbone (tulang punggung) bisnis yang nilainya ribuan trilyun.
Secara sistematika dan strategi, Dahlan Iskan kalah jauh dari Sofyan Djalil, Menteri BUMN terdahulu. Sofyan Djalil adalah peletak sistem di Kementerian BUMN. Dia membuat sistem menjadi rapi. Sofyan Djalil juga lah yang menemukan para Presdir top di BUMN dan membuat banyak BUMN menjadi perusahaan unggulan. Ini kelemahan SBY juga yang tidak bisa memilih putera-puteri bangsa terbaik. Yang unggulan malah tidak dipilih/diteruskan, yang tidak unggulan malah dipilih.
Pendekatan Dahlan Iskan untuk akusisi BUMN merugi oleh BUMN lain yang sudah untung juga bisa dilakukan semua orang. Bukan orang top pun bisa kalau hanya meleburkan BUMN rugi ke BUMN lain yang untung karena aksi korporasi seperti ini tidak membuat BUMN yang tadinya rugi menjadi untung. Hanya membuat kerugiannya menjadi tidak kelihatan karena sudah menjadi satu dengan BUMN lainnya.
Hasil Dahlan Iskan di PLN juga tidak nyata. Lagi-lagi lihatlah proyek pembangkit listrik 10.000 MW tahap pertama yang diawali oleh Jusuf Kalla. Mulai dari Dahlan Iskan menjabat Dirut PLN sampai lengser, bahkan sampai sekarang, proyek itu belum tuntas. Apakah PLN menjadi lebih baik? Perhatikan deh pertandingan Persebaya lawan QPR beberapa hari yang lalu ……. lampu stadion mati !
Jangan-jangan ada ambisi ybs untuk menjadi presiden di 2014? Tidak pas deh kalau gaya seperti ini menjadi presiden. Kalau menjadi bahan berita harian mungkin bagus karena ide-idenya lain dari pejabat lain. Tapi “asal lain” bukan bukti sebuah keberhasilan.
Ide mobil listrik juga hanya menyalin ide Jokowi dengan mobil SMK-nya. Mobil SMK yang menjadi fenomena kemudian dicontoh menjadi mobil listrik. Saya tahu ini hanya kejadian sesaat, yang sebentar lagi ybs juga bosan dan ditinggalkan! Meskipun dikatakan bahwa mobil listrik akan diproduksi masal, tapi tanpa ada sistem yang baik, mana mungkin? Meskipun dikatakan bahwa mobil listrik akan diproduksi masal, kalimat ini hanya untuk kosumsi berita sesaat saja untuk memanaskan popularitas.
Sebaiknya Dahlan Iskan fokus saja membuat sistem yang baik di Kementerian BUMN. Dia akan meninggalkan legacy yang lebih bermanfaat buat bangsa daripada seperti sekarang yang kesana kemari, kesannya mencari diri menjadi subyek berita setiap hari. Jangan seperti sekarang yang hanya mengandalakan individu dia dengan backboneBBM. Ini jelas bukan sistem yang tertata. High profile itu tidak selalu perlu, yang lebih penting adalah hasil pekerjaan utama.
Tulisan ini tidak untuk mendiskreditkan Dahlan Iskan. Tapi penulis merasa sayang dan merasa perlu mengingatkan bahwa ada pekerjaan utama yang sangat penting yang harus dilakukan. Dan ada sistem yang perlu ditata dan dibangun di Kementerian BUMN. Kita tidak bisa mengasumsikan bahwa Kementerian BUMN sudah bagus saat ini, karena masih banyak juga perusahaan yang merugi, dan pelayanan publik di BUMn juga masih sangat kurang.
LELAKI PENUH INSPIRASI
Lelaki Inspiratif, Dahlan Iskan
Membaca tulisan Bapak Dahlan Iskan di blognya Catatan Dahlan Iskan , saya merasakan ada aura perubahan yang luar biasa, aura untuk perubahan yang dia lakukan untuk bangsa ini. Banyak hal-hal “feodal” yang dia lewati untuk melakukan perubahan, seperti Sidak, Kegiatan Seremonial, dll. Untuk sidak, dia tak melakukan pemberitahuan sebelumnya. Sehingga begitu dia datang, yang ada adalah kegiatan sehari-hari yang berlangsung tanpa ada rekayasa dari pihak yang didatangi.
Banyak cerita yang sebetulnya sederhana untuk ditangani, seperti masalah garam. Mengapa sampai garam saja bangsa ini masih import. Padahal di Maduran dan NTT potensinya luar biasa. Dengan Tataran Actionlah, masalah garam dalam hitungan 1-2 tahun selesai.
Saya sempat beberapa puluh kali melihat kegiatan yang diadakan oleh instansi tertentu yang akan didatangi oleh pihak kabupaten, provinsi bahkan sekelas menteri. Sebelum kedatangan mereka, pihak panitia merekayasa kegiatan, entah jalan atau daerah sekitar yang dipermak mendekati hari H. Tetapi begitu selesai, tempat seperti itu sudah balik ke habibatnya semula. Bila budaya seperti ini dapat dilewati akan banyak dana yang bisa dihemat.
Negara kita bisa bangkit dari keterpurukan dalam waktu cepat, bila lahir puluhan “Dahlan Iskan” yang baru dalam Tataran Action, bukan lagi sekedar ide. Kalau “Tataran Ide” sudah banyak di negeri ini, bahkan sudah di atas angka ribuan ide. Yang kita butuhkan bukan lagi ide, tapi action untuk negera “Sehebat Indonesia ”.
Sekali lagi, membaca tulisan-tulisan dan tataran actionnya membuka harapan baru dan semangat baru buat negeri yang bernama Indonesia . Negeri tanah airku dan tentunya negeri kita semua,,,
Dahlan Iskan (KOMPAS)
Bila perang kerap melahirkan pahlawan, maka musibah juga bisa memunculkan wartawan jempolan .
Entah apa yang mengendap di benak Menteri BUMN Dahlan Iskan ketika menyimak berita jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 belum lama ini yang mengakibatkan puluhan orang jadi korban. Mungkin ia tak habis pikir: Mengapa pesawat yang konon sudah dibikin sedemikian canggih tidak bisa menaklukkan dirgantara Indonesia ?
Tapi mungkin juga Dahlan Iskan menerawang jauh. Bisa jadi ia teringat suatu masa ketika Tampomas tenggelam dan mengakibatkan ratusan nyawa melawang.
Hemmm…. Pernah dengar Tampomas? Kalau Anda penyuka lagu-lagunya Iwan Fals, Anda nggak bakal asing dengan nama itu. Ya, Tampomas, atau lebih tepatnya Tampomas II, adalah nama kapal bekas yang tenggelam pada 25 Januari 1981 di sekitar Kepulauan Masalembo, Jawa Timur. Kapal itu berlayar dari Jakarta menuju Ujungpandang.
Dua hari terbakar di tengah laut, kapal made in Japan itu akhirnya karam. Lebih dari 400 nyawa melayang. Bahkan ada yang menyebut jumlah korban tewas mencapai 666 orang, termasuk nahkoda Abdul Rivai.
Saat kecelakaan maut itu terjadi, Dahlan Iskan berada di Surabaya . Kala itu ia mengepalai Biro Tempo Jawa Timur. Kemudian datanglah penugasan dari Jakarta untuk meliput peristiwa itu secara langsung.
Menumpang kapal motor Sangihe—kapal yang pertama dipakai untuk mengevakuasi penumpang Tampomas—Dahlan menjadi satu-satunya wartawan yang meliput langsung musibah itu karena akses ke lokasi kejadian memang cukup sulit. Tiga hari tiga malam, ia mengumpulkan cerita terperinci untuk merekonstruksi tenggelamnya Tampomas.
Di atas Sangihe, dengan bau mayat yang menyengat, Dahlan Iskan mewawancarai hampir seluruh awak kapal. Ia juga berhasil mendapatkan foto-foto kebakaran di Tampomas. Foto-foto itu adalah hasil jepretan awak Sanghie. Tidak hanya itu, Dahlan Iskan pun mewawancarai para korban selamat yang dirawat di rumah sakit setempat.
“Rajutan ceritanya yang dimuat di edisi 7 Februari 1981 begitu hidup. Membaca tulisan Dahlan laksana berada di lokasi kejadian. Suasana tegang dan cemas begitu terasa,” demikian pujian atas karya jurnalistik Dahlan Iskan, sebagaimana tertulis di buku “Cerita di Balik Dapur Tempo: 40 Tahun (1971-2011)”.
Pemimpin Redaksi Tempo kala itu, Goenawan Mohamad, mengakui dahsyatnya reportase Dahlan. “Dahlan wartawan hebat,” kata empunya Catatan Pinggir yang terkenal lebih sering mengritik ketimbang memuji itu.
Hasil kerja Dahlan Iskan terus dikenang hingga kini. Laporan tenggelamnya Tampomas II bahkan disebut-sebut sebagai akar investigasi ala majalah Tempo.
Jadi, begitulah, nama Dahlan Iskan kian berkibar gara-gara musibah tenggelamnya Tampomas yang membuat ratusan orang tewas. Setelah itu ia makin dikenal sebagai wartawan andal sekaligus pebisnis ulung. Berkat kepiwaiannya, ia dipercaya untuk memimpin Jawa Pos. Koran kecil di Surabaya pada era 1980-an itu kini menjelma menjadi salah satu grup media terbesar di Indonesia . Bukan hanya berbentuk koran, produk grup Jawa Pos meliputi juga majalah, tabloid, situs internet, stasiun televisi, bahkan event organizer.
Hingga kini nasib pilot dan penumpang Sukhoi Superjet 100 masih simpang siur. Banyak wartawan yang meliput. Apakah peristiwa besar itu bakal melahirkan wartawan besar seperti Dahlan Iskan?
Rawamangun, 11 Mei 2012
http://media.kompasiana.com/mainstream-media/2012/05/11/ternyata-dahlan-iskan-%E2%80%98dibesarkan%E2%80%99-oleh-kecelakaan-maut/
Cerita Dahlan Iskan Pakai Sepatu Sopirnya
Saat Anda membaca cerita ini tentang Dahlan Iskan, Menteri Negara BUMN rela dan ikhlas memakai sepatu dari sopirnya yang bernama Handoko. Dari sepatu kets ke sepatu fantovel, “Saya memang suka pakai sepatu kets dari sejak jadi demosntran dulu saat mahasiswa, jurnalis atau di lingkungan media. Sepatu saya ini adalah DI-Demi Indonesia 19. Itu artinya Bismillahirrahmanirrahim yang berjumlah 19 huruf,” celetuk Dahlan yang tertawa renyah saat ditanya oleh Tina Talisa saat acara Teras Tina Talisa di stasiun TV Swasta Indosiar.
Sesaat sebelumnya Tina pun agak nyeleneh dan menantang Dahlan Iskan dengan untuk mempertontonkan cara dia marah dengan melempar kursi saat ngamuk saat pintu tol masih tertutup jam 06 lewat. Ia akui menyayangkan dan menyesal dan ia ambil lagi kursi itu karena saat pintu tol ia buka pasti menghalangi laju mobil yang akan melintas. “Terus terang saya ambil lagi kursi itu dan saya kembalikan ke posisinya dan langsung menelpon Dirut Jasa Marga untuk tidak memarahi apalagi memecat petugas tol yang sedang bertugas saat itu,” jelasnya sambil mempraktekkan cara ia marah dan melempar kursi lalu mengambilnya lagi.
Lalu Tina pun bertanya dengan para mahasiswa yang menyaksikan langsung di studio, memang Handoko lebih tampan dengan memakai semi safari dengan warna yang sama kemeja dan celana dengan sepatu fantovel. Sementara Dahlan hanya berkemeja putih lengan panjang yang ia gulung selengan dan bercelana kain hitam dan bersepatu kets.
Jujur, seluruh hadirin di studio termasuk Tina melihat Handoko, sang sopir lebih ganteng dari majikan. “Jangan-jangan orang yang melihatnya bisa tertukar mana yang boss dan mana yang sopir yah pak ?” seloroh Tina sambil mengerling ke Dahlan yang terkekeh- kekeh.
Saat Tina meminta agar sepatu kets Dahlan dicopot dan memakai sepatu fantovel dari sang sopir, ia pun tak tanggung-tanggung dan berfikir dua kali lalu membuka sepatunya dan bertukar memakai fantovel sangh sopir. Penulis pun tertegun dan bangga bercampur haru dengan keikhlasan dan kepolosan seorang Dahlan Iskan yang justeru lebih suka menjadi pengusaha daripada menteri dan menjawab Yes dan No apabila ada permintaan dirinya menjadi PRESIDEN Indonesia periode mendatang.
Ia tampil lugas di acara baru dan memang punya format unik. Dahlan Iskan dengan semangat menceritakan pengalamannya memakai mobil listrik dan bangga dengan kehadiran mobil itu. “Beberapa hari yang lalu memang saya sudah mencobanya untuk ke Bogor dan sempat mengisi baterai alias men-charge di daerah sentul setelah itu bolak balik sampai ke rumah tidak ada masalah.
Ini sudah hari yang ke-8 dan memang saya harus mencobanya apakah itu dengan rute yang panjang, saat macet, saat low batt jadi tidak ada istilah mogok karena tidak ada mesinnya atau jalan yang menungkik,” jelasnya
Lanjut ia jelaskan bahwa ada pendapat bahwa penggunaan listrik dengan hadirnya mobil listrik dianggap justeru pemborosan tapi menurut penjelasan pria humble yang ia akui dirinya tidak pintar karena pernah tinggal kelas. Pria yang apa adanya ini sudah berumur 61 tahun ini memang sudah tiba pukul 04.30 dan jam 05.00 sudah lari-lari pagi di kawasan monas dan itu memang dibuktikan oleh redaksi dan diakui oleh Tina Talisa yang memang hadir pada jam tersebut.
Penulis saat memang ingin meminta sumbangan untuk cetak buku Saya Bangga Jadi TKW-Catatan Inspiratif BMI Hong Kong dan bertandang ke kantornya sudah menunggu Dubes salah satu negara dan dari informasi dari satpam bahwa Dahlan memang sudah berada di kantor Shubuh dan setelah berolahraga dan mandi serta bersiap-siap menerima tamu.
Alhamdulillah saat menanti Dahlan Iskan setelah mengantar tamunya di bawah dan bergegas penulis menemuinya, senyum dan rangkulan langsung penulis rasakan dan bertanya ada apa saat tahu maksud dan tujuan ia pun setelah sampai di ruangan kerjanya menemui asisten pribadinya, Aziz untuk langsung membantu dan merealisasikan sumbangan yang diminta oleh penulis dan langsung terealisasi satu jam kemudian, amazing……!
Penulis pun dengan kesahajaannya tetap menganggap pantas dan realistis Dahlan Iskan menjadi kandidat Presiden RI mendatang dan wakilnya adalah JokoWi yang bersiap-siap mengikuti putaran kedua setelah putaran pertama berhasil menyingkirkan Foke rivalnya dengan angka cukup telak.
Acara masih berlangsung dan Dahlan terus bertutur tentang belum saatnya ia membaca buku Novel berjudul Sepatu Dahlan dan mungkin untuk beberapa Minggu ke depan baru ia baca.
Dahlan Iskan, menurut Anda………………?
LINK YANG INI SILAHKAN KUNJUNGI:
http://www.kompasiana.com/posts/tags/dahlan-iskan/
Selasa, 10 Juli 2012
Salah Pilih, Tersandera 5 Tahun
Oleh Duhita Dundewi
Sekarang tinggal hitungan jam ke waktu pencoblosan Pemilukada DKI. Nasib Jakarta lima tahun ke depan mulai besok pagi ditentukan, 11 Juli 2012. Apakah Jakarta akan begini-begini saja, jika Foke berkuasa lagi. Menjadi tidak jelas arah lajunya, jika salah satu dari dua calon independen itu mendapat suara memadai. Menjadi sektarian jika HNW-PKS menang, atau surut ke pedalaman dan terbelakang di tangan Jokowi-Ahok?
Harapan hanya tinggal pada Alex-Nono, pasangan nomor 6, jika Jakarta ingin segera menyelesaikan masalah akutnya (macet dan banjir), hak-hak warga Jakarta akan pendidikan, kesehatan, dan lapangan kerja terpenuhi secepatnya dengan layak. Dan terutama, arah pembangunan Jakarta menjadi Bandar Dunia yang disegani di Asia Tenggara, yang bisa mengangkat martabat warga Jakarta sendiri. Ini semua hanya bakal terwujud jika Jakarta berada di bawah pasangan pemimpin yang benar: Alex-Nono, nomor: 6.
Tidak ada salahnya kita mengingat lagi waktu pencalonan mereka, jika masih diperlukan serangkaian argumentasi yang bisa diterima dengan akal sehat. Hingga pilihan jatuh ke pasangan no. 6 ini benar-benar masuk akal.
Ingat Foke-Nara, kita harus ingat partai pengusungnya, Partai Demokrat. Partai penguasa yang para pemukanya banyak terjerat kasus korupsi kelas kakap. Hingga partai ini sekarang identik dengan sarang koruptor. Mereka sangat-sangat berkepentingan memertahankan Foke, demi mengamankan banyak perkara, yang bisa jadi, jika tidak terpilih lagi, berujung pada penjeblosan gubernur Jakarta berkumis ini ke dalam penjara.
Lihat saja gelagatnya, dana kampanye Foke-Nara yang tidak masuk akal besarannya. Terlebih lagi kampanye satu putaran yang digembar-gemborkannya, yang bisa menjerumuskan Jakarta dalam kerusuhan. Ini sungguh-sungguh di luar akal sehat. Kita bisa menandainya sebagai modus kecurangan yang rancangannya sudah disipakan sejak penyusunan Daftar Pemilih Tetap (DPT).
Jangan pernah berpikir bahwa pasangan Foke-Nara adalah pasangan paling siap memimpin Jakarta. Dasar pencalonannya tidak diarahkan untuk kebaikan Jakarta, melainkan kekuasaan dari tangan partai penguasa sekarang di Jakarta maupun tingkat nasional. Mereka disatukan pada saat-saat mepet. Kemenangan Foke-Nara adalah kekalahan Jakarta dan warganya. Jakarta sungguh tidak akan lebih baik di tangan mereka, karena hanya akan diabdikan kepada partai penguasa dan para cukongnya.
Dua pasangan independen, lupakan saja. Jakarta bakal menjadi amburadul di tangan mereka. Bahkan pasangan nomor 2, ketika pencalonannya dulu, sebenarnya disiapkan untuk menjadi boneka tandingan untuk pasangan independen no. 5. Belum, bahkan tidak mungkin, pasangan independen ini berkuasa di ibu kota, karena keduanya mengkhianati demokrasi kita, dengan pemunculannya saja. Yang setara nilainya dengan kegagalan bernegara.
Jokowi-Ahok, nomor 3. Membayangkan Jakarta di tangan mereka, sungguh serba tidak jelas. Setidak jelas pikiran-pikiran yang dikemukakan Jokowi sendiri selama ini. Reputasi media yang dibangunnya selama ini, sungguh tidak ada relevanasinya dengan problematika Jakarta. Jakarta bukan hanya perkara PKL yang bisa direlokasi. Jakarta bukan tempat adem-ayem seperti solo. Dan terlebih lagi, Jakarta tidak sedang memilih seorang walikota, melainkan gubernur.
Ingat pencalonan Jokowi. Deseret-seret oleh Partai Gerindra-Prabowo, bukan oleh PDIP. Dipasangkan dengan Ahok, sungguh menjadi tanda tanya besar, yang tidak ada jawabannya sampai sekarang. Siapa Ahok ini? Kenapa Ahok? Membayangkan dia menjadi wakil gubernur Jakarta, sungguh jauh dari penalaran akal sehat masa sekarang.
Pasangan HNW-Didik, nomor 4. Sudah disebutkan di atas. Pasangan pemimpin ini hanya akan menjadikan Jakarta menjadi kota sektarian. Lihat saja eksklusivisme pencalonannya. HNW adalah kartu terakhir dari satu-satunya partai penganut ideologi sektarian terakhir yang masih hidup di Indonesia. Jakarta dan warga Jakarta berkepentingan untuk menahan kekuatan sektarian ini, agar tidak menduduki puncak kekuasaan ibu kota.
Pilihan warga Jakarta memang harus ke pasangan Alex-Nono, nomor 6. Karena pasangan ini saja yang paling bisa diterima oleh akal sehat warga Jakarta. Sejak pencalonannya, Alex-Nono paling siap. Siap bukan berdasarkan ambisinya, melainkan dengan rencananya yang jelas untuk Jakarta. Pasangan ini disatukan oleh visi yang sama. Melihat Jakarta sebagai ibu kota Indonesia, yang harus menjadi lokomotif kemakmuran bagi kota-kota di seluruh Indonesia. Ini bukan keinginan, melainkan sudah menjadi rencana mereka sejak lama.
Memilih Alex-Nono, nomor urut 6, berarti menyelamatkan Jakarta, menyelamatkan Indonesia, dari sektarianisme ala PKS, kemunduran di tangan Jokowi-Ahok, atau kebangkrutan di tangan Foke-Nara-Demokrat. Sekian!
Selasa, 03 Juli 2012
Mayat Itu Berjalan Lagi Bukan sebagai Kuntilanak
Senin, 02 Juli 2012
Mayat Itu Berjalan Lagi Bukan sebagai Kuntilanak
http://dahlaniskan.wordpress.com/
APA kabar PT Kertas Leces (Persero)? Yang sudah lebih dari dua tahun mati suri? Yang selama itu nasib karyawannya tidak menentu? Yang diyakini tidak akan bisa hidup lagi kalau tidak digerojok uang negara Rp 200 miliar?
Sejak dua minggu lalu pabrik kertas yang sangat besar yang berlokasi di selatan Probolinggo ini mulai siuman. Tanda-tanda kehidupan sudah mulai kelihatan. Suara mesin sudah kembali menderu.
Leces hidup lagi!
Bukan sebagai mayat berjalan, tapi sebagai pasien yang sudah bisa dipaksa berjalan.
Semula negara sudah setuju kembali menggerojokkan Rp 200 miliar ke Leces. Tapi, ketika saya diangkat menjadi menteri BUMN, rencana penggerojokan itu saya minta ditunda. Saya ingin melihat dulu apakah benar persoalan pokoknya pada modal. Apakah bukan pada manajemen. Ini harus saya pelajari dulu agar negara tidak mudah begitu saja menggerojokkan dana ratusan miliar rupiah.
Belum tentu dengan dana tersebut pabrik kertas, atau bisnis apa pun yang lagi kesulitan, bisa diselamatkan. Kadang satu manajemen memiliki kecenderungan mencari jalan yang paling mudah. Alasan ketidakcukupan modal adalah kambing hitam yang sangat lezat disate dan disuguhkan. Tapi, dari pengalaman saya, belum tentu akar masalahnya ada di modal. Sering kali pokok persoalannya terjadi di manajemen itu sendiri.
Memang banyak yang sewot ketika saya menyetop pengucuran dana itu. Untuk apa distop? Kan sudah disetujui? Tinggal dicairkan? Kok bodoh amat diberi uang ratusan miliar rupiah tidak segera ditangkap?
Tentu saya tidak akan tergoyahkan dengan penilaian seperti itu. Kalau memang ada jaminan dengan pencairan dana tersebut Leces pasti hidup, saya pun akan langsung setuju. Masalahnya, jaminan pasti hidup itu yang tidak ada.
Terbukti gerojokan uang ratusan miliar rupiah pada tahun-tahun yang lalu juga tidak berhasil menghidupkan Leces. Uang itu habis lagi dan habis lagi. Dan kecenderungannya akan minta lagi dan minta lagi.
Untuk Leces, saya melihat persoalan pokok di manajemen. Itu bisa saya rasakan ketika saya bermalam di kompleks pabrik kertas Leces pada malam Idul Adha lalu. Saya melihat manajemen sudah betul membangun boiler baru berbahan bakar batu bara. Itu akan membuat biaya energi Leces jauh lebih murah. Saya salut dengan pemikiran dan langkah itu.
Tapi, untuk menghidupkan Leces tidak cukup hanya dengan satu langkah. Dia membutuhkan puluhan, bahkan ratusan terobosan. Itulah sebabnya diperlukan manajemen yang lebih kuat.
Tidak gampang menemukan tim manajemen yang tangguh. Apalagi, untuk “dijerumuskan” ke dalam perusahaan yang sedang pingsan. Tim manajemen yang kuat tentu ingin masuk ke perusahaan yang besar dan bagus.
Leces rupanya masih bernasib baik. Seseorang yang bernama Budi Kusmarwoto mau dijebloskan ke situ. Pengalamannya yang panjang saat menjadi direktur anak perusahaan PLN (PT PLN Engineering) memudahkan dia menganalisis kondisi Leces.
Orangnya juga tidak egois. Ketika diminta membentuk dream team untuk manajemen Leces, Budi tidak serta merta mengajak rombongan dari luar masuk ke Leces. Budi memilih orang-orang dalam untuk menjadi timnya.
Sebagai mantan Dirut PLN tentu saya mengenal Budi dengan baik. Antusiasmenya meledak-ledak. Gairah kerjanya tidak pernah padam. Kecintaannya kepada pekerjaan membuat moto hidupnya hanya kerja, kerja, kerja! Antusiasme itu yang juga terlihat menular ke seluruh tim Leces sekarang ini.
Sebagaimana saya, Budi juga berpandangan ini: untuk menghidupkan Leces tidak perlu gerojokan dana dari kas negara. Kini Leces hidup lagi tanpa mendapat modal baru satu rupiah pun. Kalau kelak Leces berhasil maju kembali, seluruh karyawannya tentu akan sangat bangga: bisa maju tanpa modal! Karyawan bisa menunjukkan bahwa tambahan modal bukan segala-galanya!
Tentu, karena sudah telanjur disetujui, Budi tetap berharap agar dana Rp 200 miliar itu bisa cair. Bukan lagi untuk modal, tapi untuk membayar utang lama. Pada masa lalu, Leces meninggalkan utang hampir Rp 1 triliun. Manajemen Leces berhasil melakukan negosiasi: kalau Leces mau bayar Rp 150 miliar, utang hampir Rp 1 triliun itu dianggap lunas.
Utang yang sudah berumur lebih dari 10 tahun itu harus dibayar. Kalau tidak, utang itu akan memusingkan manajemen baru yang sedang dituntut untuk maju.”
Budi juga berencana menggunakan dana sisanya untuk membangun hutan tanaman industri. Untuk mencukupi bahan baku Leces di masa depan. Tentu saya setuju dengan dua rencana itu: bayar utang dan hutan tanaman industri.
Persoalannya, belum tentu anggaran yang sudah disetujui untuk modal bisa dialihkan untuk membayar utang. Di sinilah BUMN akan selalu kalah lincah dengan swasta.
Apa pun kasus menghidupkan kembali Leces ala Budi akan menjadi perhatian saya. Maksud saya, perusahaan seperti galangan kapal IKI Makassar yang juga sudah lama mati bisa hidup kembali dengan cara yang sama. Demikian juga, pabrik PT Iglas yang lagi dalam kesulitan.
Kelak, kalau Leces sudah sehat, harus segera di-go public-kan. Industri kertas tidak lagi menempati posisi strategis bagi negara. Tidak selayaknya lagi negara terus menggerojokkan dana untuk industri seperti Leces. Semakin banyak modal publik masuk ke dalamnya akan semakin baik.
Leces memang belum teruji akan menjadi perusahaan yang pasti akan hidup sehat. Masih harus dilihat dalam satu periode tertentu.
Tapi, setidaknya Leces kini sudah kembali berjalan: bukan sebagai kuntilanak, tapi sebagai badan yang sudah lengkap dengan rohnya. Roh antusias dan roh penuh kiat! (*)
Dahlan Iskan
Menteri BUMN
Mayat Itu Berjalan Lagi Bukan sebagai Kuntilanak
http://dahlaniskan.wordpress.com/
APA kabar PT Kertas Leces (Persero)? Yang sudah lebih dari dua tahun mati suri? Yang selama itu nasib karyawannya tidak menentu? Yang diyakini tidak akan bisa hidup lagi kalau tidak digerojok uang negara Rp 200 miliar?
Sejak dua minggu lalu pabrik kertas yang sangat besar yang berlokasi di selatan Probolinggo ini mulai siuman. Tanda-tanda kehidupan sudah mulai kelihatan. Suara mesin sudah kembali menderu.
Leces hidup lagi!
Bukan sebagai mayat berjalan, tapi sebagai pasien yang sudah bisa dipaksa berjalan.
Semula negara sudah setuju kembali menggerojokkan Rp 200 miliar ke Leces. Tapi, ketika saya diangkat menjadi menteri BUMN, rencana penggerojokan itu saya minta ditunda. Saya ingin melihat dulu apakah benar persoalan pokoknya pada modal. Apakah bukan pada manajemen. Ini harus saya pelajari dulu agar negara tidak mudah begitu saja menggerojokkan dana ratusan miliar rupiah.
Belum tentu dengan dana tersebut pabrik kertas, atau bisnis apa pun yang lagi kesulitan, bisa diselamatkan. Kadang satu manajemen memiliki kecenderungan mencari jalan yang paling mudah. Alasan ketidakcukupan modal adalah kambing hitam yang sangat lezat disate dan disuguhkan. Tapi, dari pengalaman saya, belum tentu akar masalahnya ada di modal. Sering kali pokok persoalannya terjadi di manajemen itu sendiri.
Memang banyak yang sewot ketika saya menyetop pengucuran dana itu. Untuk apa distop? Kan sudah disetujui? Tinggal dicairkan? Kok bodoh amat diberi uang ratusan miliar rupiah tidak segera ditangkap?
Tentu saya tidak akan tergoyahkan dengan penilaian seperti itu. Kalau memang ada jaminan dengan pencairan dana tersebut Leces pasti hidup, saya pun akan langsung setuju. Masalahnya, jaminan pasti hidup itu yang tidak ada.
Terbukti gerojokan uang ratusan miliar rupiah pada tahun-tahun yang lalu juga tidak berhasil menghidupkan Leces. Uang itu habis lagi dan habis lagi. Dan kecenderungannya akan minta lagi dan minta lagi.
Untuk Leces, saya melihat persoalan pokok di manajemen. Itu bisa saya rasakan ketika saya bermalam di kompleks pabrik kertas Leces pada malam Idul Adha lalu. Saya melihat manajemen sudah betul membangun boiler baru berbahan bakar batu bara. Itu akan membuat biaya energi Leces jauh lebih murah. Saya salut dengan pemikiran dan langkah itu.
Tapi, untuk menghidupkan Leces tidak cukup hanya dengan satu langkah. Dia membutuhkan puluhan, bahkan ratusan terobosan. Itulah sebabnya diperlukan manajemen yang lebih kuat.
Tidak gampang menemukan tim manajemen yang tangguh. Apalagi, untuk “dijerumuskan” ke dalam perusahaan yang sedang pingsan. Tim manajemen yang kuat tentu ingin masuk ke perusahaan yang besar dan bagus.
Leces rupanya masih bernasib baik. Seseorang yang bernama Budi Kusmarwoto mau dijebloskan ke situ. Pengalamannya yang panjang saat menjadi direktur anak perusahaan PLN (PT PLN Engineering) memudahkan dia menganalisis kondisi Leces.
Orangnya juga tidak egois. Ketika diminta membentuk dream team untuk manajemen Leces, Budi tidak serta merta mengajak rombongan dari luar masuk ke Leces. Budi memilih orang-orang dalam untuk menjadi timnya.
Sebagai mantan Dirut PLN tentu saya mengenal Budi dengan baik. Antusiasmenya meledak-ledak. Gairah kerjanya tidak pernah padam. Kecintaannya kepada pekerjaan membuat moto hidupnya hanya kerja, kerja, kerja! Antusiasme itu yang juga terlihat menular ke seluruh tim Leces sekarang ini.
Sebagaimana saya, Budi juga berpandangan ini: untuk menghidupkan Leces tidak perlu gerojokan dana dari kas negara. Kini Leces hidup lagi tanpa mendapat modal baru satu rupiah pun. Kalau kelak Leces berhasil maju kembali, seluruh karyawannya tentu akan sangat bangga: bisa maju tanpa modal! Karyawan bisa menunjukkan bahwa tambahan modal bukan segala-galanya!
Tentu, karena sudah telanjur disetujui, Budi tetap berharap agar dana Rp 200 miliar itu bisa cair. Bukan lagi untuk modal, tapi untuk membayar utang lama. Pada masa lalu, Leces meninggalkan utang hampir Rp 1 triliun. Manajemen Leces berhasil melakukan negosiasi: kalau Leces mau bayar Rp 150 miliar, utang hampir Rp 1 triliun itu dianggap lunas.
Utang yang sudah berumur lebih dari 10 tahun itu harus dibayar. Kalau tidak, utang itu akan memusingkan manajemen baru yang sedang dituntut untuk maju.”
Budi juga berencana menggunakan dana sisanya untuk membangun hutan tanaman industri. Untuk mencukupi bahan baku Leces di masa depan. Tentu saya setuju dengan dua rencana itu: bayar utang dan hutan tanaman industri.
Persoalannya, belum tentu anggaran yang sudah disetujui untuk modal bisa dialihkan untuk membayar utang. Di sinilah BUMN akan selalu kalah lincah dengan swasta.
Apa pun kasus menghidupkan kembali Leces ala Budi akan menjadi perhatian saya. Maksud saya, perusahaan seperti galangan kapal IKI Makassar yang juga sudah lama mati bisa hidup kembali dengan cara yang sama. Demikian juga, pabrik PT Iglas yang lagi dalam kesulitan.
Kelak, kalau Leces sudah sehat, harus segera di-go public-kan. Industri kertas tidak lagi menempati posisi strategis bagi negara. Tidak selayaknya lagi negara terus menggerojokkan dana untuk industri seperti Leces. Semakin banyak modal publik masuk ke dalamnya akan semakin baik.
Leces memang belum teruji akan menjadi perusahaan yang pasti akan hidup sehat. Masih harus dilihat dalam satu periode tertentu.
Tapi, setidaknya Leces kini sudah kembali berjalan: bukan sebagai kuntilanak, tapi sebagai badan yang sudah lengkap dengan rohnya. Roh antusias dan roh penuh kiat! (*)
Dahlan Iskan
Menteri BUMN
HALAMAN CATATAN
STATISTIK CATATAN
- 2,991,081 dilihat sejak 3 April 2008
ARSIP CATATAN
KATEGORI CATATAN
CATATAN TERPOPULER
- Mayat Itu Berjalan Lagi Bukan sebagai Kuntilanak
- Inisiatif Sendiri untuk Mencari Solusi
- Profil Dahlan Iskan
- Menyerahkan PKBL kepada ahlinya
- Berita Dahlan Iskan
- Tekad Baru: Hidup yang Polos-Polos Saja
- Garuda yang Kalahkan MAS dan BatanTek yang Mengasia
- “Plok–plok–plok” di Istana Jogja
- Tentang Blog ini
- Kritik & Saran untuk Blog ini
Langganan:
Postingan (Atom)
3 EKONOM INDONESIA DAN PEMIKIRANNYA 3 tokoh ekonom Indonesia pasca-reformasi, sekedar sampling acak, berfokus pada pemulihan kri...
-
Gendhing Jawa - Javanese Gamelan Notation New notation website new! Pélog Lima Pélog Nem Pélog Barang Sléndro Nem Sléndro Sanga Sl...





























KOMENTAR TERAKHIR