Misteri Ketukan Pintu dan Kantong Kering
di Dusun Wates Jumantoro
Suasana sore di Dusun Wates, Kelurahan Jumantoro,
terasa sangat sejuk. Angin gunung dari lereng barat Gunung Lawu bertiup
sepoi-sepoi, membuat siapa saja betah untuk sekadar duduk di teras. Namun, sore
itu ketenangan dusun lama tersebut agak terusik oleh aksi iseng seorang gadis
kota bernama Rere.
Rere yang berparas cantik, berkulit putih, dan modis,
sedang berlibur di rumah neneknya. Karena bosan, dia berjalan-jalan menyusuri
jalanan kampung yang sepi. Otak jahilnya mulai berputar saat melihat sebuah
rumah limasan tua yang pintunya tertutup rapat. Rumah itu milik keluarga
beranak bujang bernama joko.
Rere berjalan mengendap-endap mendekati pintu rumah
tersebut. Sambil menahan tawa, dia mengetuk pintu dengan gaya centil, lalu
berteriak dengan suara yang sengaja dibuat mendayu-dayu ala pijat keliling.
"Pijeeet... Pijat capek, Mas... Mau pijat?"
seru Rere dari balik pintu.
Di dalam rumah, Joko yang sedang tiduran di dipan
bambu langsung terperanjat. Dia sedang pusing tujuh keliling karena tanggal tua
dan kiriman uang belum masuk. Mendengar suara perempuan yang begitu merdu dan
seksi di depan rumahnya, Joko langsung bangkit.
Joko tahu betul tidak ada tukang pijat muda di Dusun
Wates. Dia langsung menebak bahwa ini pasti kerjaan orang iseng atau modus
penipuan baru. Dasar Joko juga punya selera humor yang ajaib, dia tidak
langsung membuka pintu. Dia malah mendekatkan mulutnya ke celah pintu kayu yang
agak renggang, lalu menjawab dengan suara yang sengaja dikeras-keraskan dan
logat medok yang dramatis.
"Gak duuwe-duwe duit blas!" teriak Joko dari
dalam.
Rere yang mendengar jawaban spontan itu kaget, tetapi
tertantang untuk melanjutkan keisengannya.
"Murah kok, Mas. Bisa diskon khusus buat masnya
yang di dalam," sahut Rere lagi, menahan tawa yang hampir meledak.
Joko kembali berteriak, kali ini suaranya terdengar
makin merana.
"Dibilangi gak duuwe duit kok ngeyel! Jangankan
buat bayar pijat, Mbak, buat beli kerupuk aja uangku kurang dua ratus perak!
Gak minta pijat, Mbak! Punggungku wis kebal karo capek!"
Rere sudah tidak kuat lagi menahan tawa. Badannya
sampai terguncang-guncang di depan pintu. Penasaran dengan wajah cowok gokil di
dalam, Rere akhirnya mengetuk pintu dengan normal.
"Mas, buka dong pintunya. Aku bukan tukang pijat
beneran," kata Rere sambil tertawa.
Pintu kayu tua itu terbuka perlahan dengan bunyi
berderit. Begitu pintu terbuka sempurna, Joko teronggong melihat sosok di
depannya. Di hadapannya berdiri seorang mbak-mbak cantik berpakaian modis yang
sedang tertawa sampai keluar air mata. Joko sempat mengira dia sedang
berhalusinasi akibat kelaparan sore-sore.
"Lho, sampeyan siapa? Malah ketawa lagi,"
tanya Joko sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Maaf, Mas, maaf. Aku cuma iseng tadi jalan-jalan
dari rumah simbah di depan. Habisnya dusun ini sepi banget," kata Rere
sambil menyeka air matanya. "Tapi jawaban Mas tadi beneran bikin sakit
perut. Gak duuwe duit blas ya, Mas?"
Joko yang sadar dirinya baru saja dikerjai oleh gadis
cantik langsung memasang muka lempeng tanpa dosa.
"Wah, Mbak, kalau tahu yang nawarin pijat
secantik sampeyan, biarpun gak duuwe duit blas, minimal aku berani ngutang dulu
lah ke warung sebelah buat bayar jasanya," sahut Joko tangkas.
Rere kembali tertawa terbahak-bahak mendengar
kepolosan dan kegokilan Joko. Sore itu, keisengan di Dusun Wates tidak berakhir
dengan kemarahan, melainkan pertemanan baru yang berawal dari dompet yang
kosong melompong.