Tampilkan postingan dengan label dahlan iskan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dahlan iskan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Juli 2012

TENTANG DAHLAN ISKAN dari beberap artikel terpilih kompasiana.com

TENTANG DAHLAN ISKAN

Setelah sekian lama menjabat sebagai Menteri BUMN, dan masa RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) BUMN lewat, terlihat bahwa Board of Directors (BoD) atau para direksi BUMN yang terpilih ternyata tidak ada yang berkualifikasi dream team seperti yang pernah disuarakan oleh Dahlan Iskan. Para direksi BUMN sekarang ini biasa-biasa saja, kecuali direksi-direksi top pilihan beberapa Menteri BUMN terdahulu yang berhasil melakukan turnaround BUMN merugi. BoD temuan atau pilihan Dahlan Iskan yang kategori dream team tidak ada.

Bahkan untuk Dewan Komisaris, malah banyak yang masih merangkap jabatan sebagai PNS eselon satu dan yang lainnya. Tidak ada assessment kredibel untuk menilai apakah ybs akan memberikan kontribusi signifikan untuk pengembangan perusahaan, adanya konflik kepentingan, atau waktu yang tidak memadai untuk BUMN itu. Keputusan hanya dilakukan dengan gut feeling, intuisi, tidak ada evaluasi terstruktur. Bukti nyatanya, Deni Indrayana menolak pada saat dia ditunjuk menjadi komisaris sebuah BUMN beberapa bulan yang lalu. Jelas kalau waktu tidak memadai, hasilnya hanya pasang nama dan menerima gaji. Buktinya lagi, tidak ada KPI yang jelas yang dipublikasikan terhadap kriteria keberhasilan para komisaris itu. Dalam perusahaan dengan manajemen modern dan perusahaan publik, ketiadaan KPI yang jelas bukan bukti sebuah good corporate governance.

Bahkan beberapa veteran bisnis yang sudah “kehabisan energi” malah dipasang sebagai komisaris. Apa tidak ada orang lain yang lebih muda dan energik yang bisa ditugaskan? Kalau yang dipakai hanya nostalgia pebisnis itu di masa lalu, apa akan efektif? Tantangan dunia usaha dan ekonomi sudah berbeda. Jaman sudah berganti. Lagipula, mendingan menugaskan orang yang masih energik. Sayang sekali …..

Terlihat bahwa Dahlan Iskan hanya ke sana kemari, tidak ada sistem. Blackberry diandalkan sebagai media komunikasi utama untuk berkoordinasi dengan jajarannya. Saya tidak ingin menyebutnya konyol, tapi terlalu menyederhanakan persoalan kalau BBM dipakai sebagai backbone (tulang punggung) bisnis yang nilainya ribuan trilyun.

Secara sistematika dan strategi, Dahlan Iskan kalah jauh dari Sofyan Djalil, Menteri BUMN terdahulu. Sofyan Djalil adalah peletak sistem di Kementerian BUMN. Dia membuat sistem menjadi rapi. Sofyan Djalil juga lah yang menemukan para Presdir top di BUMN dan membuat banyak BUMN menjadi perusahaan unggulan. Ini kelemahan SBY juga yang tidak bisa memilih putera-puteri bangsa terbaik. Yang unggulan malah tidak dipilih/diteruskan, yang tidak unggulan malah dipilih.

Pendekatan Dahlan Iskan untuk akusisi BUMN merugi oleh BUMN lain yang sudah untung juga bisa dilakukan semua orang. Bukan orang top pun bisa kalau hanya meleburkan BUMN rugi ke BUMN lain yang untung karena aksi korporasi seperti ini tidak membuat BUMN yang tadinya rugi menjadi untung. Hanya membuat kerugiannya menjadi tidak kelihatan karena sudah menjadi satu dengan BUMN lainnya.

Hasil Dahlan Iskan di PLN juga tidak nyata. Lagi-lagi lihatlah proyek pembangkit listrik 10.000 MW tahap pertama yang diawali oleh Jusuf Kalla. Mulai dari Dahlan Iskan menjabat Dirut PLN sampai lengser, bahkan sampai sekarang, proyek itu belum tuntas. Apakah PLN menjadi lebih baik? Perhatikan deh pertandingan Persebaya lawan QPR beberapa hari yang lalu ……. lampu stadion mati !

Jangan-jangan ada ambisi ybs untuk menjadi presiden di 2014? Tidak pas deh kalau gaya seperti ini menjadi presiden. Kalau menjadi bahan berita harian mungkin bagus karena ide-idenya lain dari pejabat lain. Tapi “asal lain” bukan bukti sebuah keberhasilan.

Ide mobil listrik juga hanya menyalin ide Jokowi dengan mobil SMK-nya. Mobil SMK yang menjadi fenomena kemudian dicontoh menjadi mobil listrik. Saya tahu ini hanya kejadian sesaat, yang sebentar lagi ybs juga bosan dan ditinggalkan! Meskipun dikatakan bahwa mobil listrik akan diproduksi masal, tapi tanpa ada sistem yang baik, mana mungkin? Meskipun dikatakan bahwa mobil listrik akan diproduksi masal, kalimat ini hanya untuk kosumsi berita sesaat saja untuk memanaskan popularitas.

Sebaiknya Dahlan Iskan fokus saja membuat sistem yang baik di Kementerian BUMN. Dia akan meninggalkan legacy yang lebih bermanfaat buat bangsa daripada seperti sekarang yang kesana kemari, kesannya mencari diri menjadi subyek berita setiap hari. Jangan seperti sekarang yang hanya mengandalakan individu dia dengan backboneBBM. Ini jelas bukan sistem yang tertata. High profile itu tidak selalu perlu, yang lebih penting adalah hasil pekerjaan utama.

Tulisan ini tidak untuk mendiskreditkan Dahlan Iskan. Tapi penulis merasa sayang dan merasa perlu mengingatkan bahwa ada pekerjaan utama yang sangat penting yang harus dilakukan. Dan ada sistem yang perlu ditata dan dibangun di Kementerian BUMN. Kita tidak bisa mengasumsikan bahwa Kementerian BUMN sudah bagus saat ini, karena masih banyak juga perusahaan yang merugi, dan pelayanan publik di BUMn juga masih sangat kurang.


LELAKI PENUH INSPIRASI

Lelaki Inspiratif, Dahlan Iskan

Membaca tulisan Bapak Dahlan Iskan di blognya Catatan Dahlan Iskan , saya merasakan ada aura perubahan yang luar biasa,  aura untuk perubahan yang dia lakukan untuk bangsa ini. Banyak hal-hal “feodal”  yang dia lewati untuk melakukan perubahan, seperti Sidak, Kegiatan Seremonial,  dll. Untuk sidak, dia tak melakukan pemberitahuan sebelumnya. Sehingga begitu dia datang, yang ada adalah kegiatan sehari-hari yang berlangsung tanpa ada rekayasa dari pihak yang didatangi.

Banyak cerita yang sebetulnya sederhana untuk ditangani, seperti masalah garam. Mengapa sampai garam saja bangsa ini masih import. Padahal di Maduran dan NTT potensinya luar biasa. Dengan Tataran Actionlah, masalah garam dalam hitungan 1-2 tahun selesai.

Saya sempat beberapa puluh kali melihat kegiatan yang diadakan oleh instansi tertentu yang akan didatangi oleh pihak kabupaten, provinsi bahkan sekelas menteri. Sebelum kedatangan mereka, pihak panitia merekayasa kegiatan, entah jalan atau daerah sekitar yang dipermak mendekati hari H. Tetapi begitu selesai, tempat seperti itu sudah balik ke habibatnya semula. Bila budaya seperti ini dapat dilewati akan banyak dana yang bisa dihemat.

Negara kita bisa bangkit dari keterpurukan dalam waktu cepat, bila lahir puluhan “Dahlan Iskan” yang baru dalam Tataran Action, bukan lagi sekedar ide. Kalau “Tataran Ide” sudah banyak di negeri ini,  bahkan sudah di atas angka ribuan ide. Yang kita butuhkan bukan lagi ide, tapi action untuk negera “Sehebat Indonesia”.
Sekali lagi, membaca tulisan-tulisan dan tataran actionnya membuka harapan baru dan semangat baru buat negeri yang bernama Indonesia. Negeri tanah airku dan tentunya negeri kita semua,,,


Dahlan Iskan (KOMPAS)

Bila perang kerap melahirkan pahlawan, maka musibah juga bisa memunculkan wartawan jempolan .
Entah apa yang mengendap di benak Menteri BUMN Dahlan Iskan ketika menyimak berita jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 belum lama ini yang mengakibatkan puluhan orang jadi korban. Mungkin ia tak habis pikir: Mengapa pesawat yang konon sudah dibikin sedemikian canggih tidak bisa menaklukkan dirgantara Indonesia?

Tapi mungkin juga Dahlan Iskan menerawang jauh. Bisa jadi ia teringat suatu masa ketika Tampomas tenggelam dan mengakibatkan ratusan nyawa melawang.

Hemmm…. Pernah dengar Tampomas? Kalau Anda penyuka lagu-lagunya Iwan Fals, Anda nggak bakal asing dengan nama itu. Ya, Tampomas, atau lebih tepatnya Tampomas II, adalah nama kapal bekas yang tenggelam pada 25 Januari 1981 di sekitar Kepulauan Masalembo, Jawa Timur. Kapal itu berlayar dari Jakarta menuju Ujungpandang.

Dua hari terbakar di tengah laut, kapal made in Japan itu akhirnya karam. Lebih dari 400 nyawa melayang. Bahkan ada yang menyebut jumlah korban tewas mencapai 666 orang, termasuk nahkoda Abdul Rivai.
Saat kecelakaan maut itu terjadi, Dahlan Iskan berada di Surabaya. Kala itu ia mengepalai Biro Tempo Jawa Timur. Kemudian datanglah penugasan dari Jakarta untuk meliput peristiwa itu secara langsung.

Menumpang kapal motor Sangihe—kapal yang pertama dipakai untuk mengevakuasi penumpang Tampomas—Dahlan menjadi satu-satunya wartawan yang meliput langsung musibah itu karena akses ke lokasi kejadian memang cukup sulit. Tiga hari tiga malam, ia mengumpulkan cerita terperinci untuk merekonstruksi tenggelamnya Tampomas.

Di atas Sangihe, dengan bau mayat yang menyengat, Dahlan Iskan mewawancarai hampir seluruh awak kapal. Ia juga berhasil mendapatkan foto-foto kebakaran di Tampomas. Foto-foto itu adalah hasil jepretan awak Sanghie. Tidak hanya itu, Dahlan Iskan pun mewawancarai para korban selamat yang dirawat di rumah sakit setempat.

“Rajutan ceritanya yang dimuat di edisi 7 Februari 1981 begitu hidup. Membaca tulisan Dahlan laksana berada di lokasi kejadian. Suasana tegang dan cemas begitu terasa,” demikian pujian atas karya jurnalistik Dahlan Iskan, sebagaimana tertulis di buku “Cerita di Balik Dapur Tempo: 40 Tahun (1971-2011)”.

Pemimpin Redaksi Tempo kala itu, Goenawan Mohamad, mengakui dahsyatnya reportase Dahlan. “Dahlan wartawan hebat,” kata empunya Catatan Pinggir yang terkenal lebih sering mengritik ketimbang memuji itu.
Hasil kerja Dahlan Iskan terus dikenang hingga kini. Laporan tenggelamnya Tampomas II bahkan disebut-sebut sebagai akar investigasi ala majalah Tempo.

Jadi, begitulah, nama Dahlan Iskan kian berkibar gara-gara musibah tenggelamnya Tampomas yang membuat ratusan orang tewas. Setelah itu ia makin dikenal sebagai wartawan andal sekaligus pebisnis ulung. Berkat kepiwaiannya, ia dipercaya untuk memimpin Jawa Pos. Koran kecil di Surabaya pada era 1980-an itu kini menjelma menjadi salah satu grup media terbesar di Indonesia. Bukan hanya berbentuk koran, produk grup Jawa Pos meliputi juga majalah, tabloid, situs internet, stasiun televisi, bahkan event organizer.

Hingga kini nasib pilot dan penumpang Sukhoi Superjet 100 masih simpang siur. Banyak wartawan yang meliput. Apakah peristiwa besar itu bakal melahirkan wartawan besar seperti Dahlan Iskan?

Rawamangun, 11 Mei 2012


Cerita Dahlan Iskan Pakai Sepatu Sopirnya

Saat Anda membaca cerita ini tentang Dahlan Iskan, Menteri Negara BUMN rela dan ikhlas memakai sepatu dari sopirnya yang bernama Handoko. Dari sepatu kets ke sepatu fantovel, “Saya memang suka pakai sepatu kets dari sejak jadi demosntran dulu saat mahasiswa, jurnalis atau di lingkungan media. Sepatu saya ini adalah DI-Demi Indonesia 19. Itu artinya Bismillahirrahmanirrahim yang berjumlah 19 huruf,” celetuk Dahlan yang tertawa renyah saat ditanya oleh Tina Talisa saat acara Teras Tina Talisa di stasiun TV Swasta Indosiar.

Sesaat sebelumnya Tina pun agak nyeleneh dan menantang Dahlan Iskan dengan untuk mempertontonkan cara dia marah dengan melempar kursi saat ngamuk saat pintu tol masih tertutup jam 06 lewat. Ia akui menyayangkan dan menyesal dan ia ambil lagi kursi itu karena saat pintu tol ia buka pasti menghalangi laju mobil yang akan melintas. “Terus terang saya ambil lagi kursi itu dan saya kembalikan ke posisinya dan langsung menelpon Dirut Jasa Marga untuk tidak memarahi apalagi memecat petugas tol yang sedang bertugas saat itu,” jelasnya sambil mempraktekkan cara ia marah dan melempar kursi lalu mengambilnya lagi.

Ada yang menarik saat Tina menghadirkan Handoko, sopir pribadi Dahlan sejak tahun 2002. Dari paparan lugas dan jujur dari sopirnya itu ia akui sudah seminggu ini tepatnya kata Dahlan sudah 8 hari, majikannya itu lebih suka naik mobil listrik berwarna hijau daripada ikut dirinya di mobil mercy. “Saya sering berada disampingnya dan beliau yang menyetir sendiri, walau begitu gaji saya tidak pernah dikurangi,” celetuknya sambil tertawa renyah.

Lalu Tina pun bertanya dengan para mahasiswa yang menyaksikan langsung di studio, memang Handoko lebih tampan dengan memakai semi safari dengan warna yang sama kemeja dan celana dengan sepatu fantovel. Sementara Dahlan hanya berkemeja putih lengan panjang yang ia gulung selengan dan bercelana kain hitam dan bersepatu kets.

 Jujur, seluruh hadirin di studio termasuk Tina melihat Handoko, sang sopir lebih ganteng dari majikan. “Jangan-jangan orang yang melihatnya bisa tertukar mana yang boss dan mana yang sopir yah pak ?” seloroh Tina sambil mengerling ke Dahlan yang terkekeh- kekeh.

Saat Tina meminta agar sepatu kets Dahlan dicopot dan memakai sepatu fantovel dari sang sopir, ia pun tak tanggung-tanggung dan berfikir dua kali lalu membuka sepatunya dan bertukar memakai fantovel sangh sopir. Penulis pun tertegun dan bangga bercampur haru dengan keikhlasan dan kepolosan seorang Dahlan Iskan yang justeru lebih suka menjadi pengusaha daripada menteri dan menjawab Yes dan No apabila ada permintaan dirinya menjadi PRESIDEN Indonesia periode mendatang.

Ia tampil lugas di acara baru dan memang punya format unik. Dahlan Iskan dengan semangat menceritakan pengalamannya memakai mobil listrik dan bangga dengan kehadiran mobil itu. “Beberapa hari yang lalu memang saya sudah mencobanya untuk ke Bogor dan sempat mengisi baterai alias men-charge di daerah sentul setelah itu bolak balik sampai ke rumah tidak ada masalah. 

Ini sudah hari yang ke-8 dan memang saya harus mencobanya apakah itu dengan rute yang panjang, saat macet, saat low batt jadi tidak ada istilah mogok karena tidak ada mesinnya atau jalan yang menungkik,” jelasnya

Lanjut ia jelaskan bahwa ada pendapat bahwa penggunaan listrik dengan hadirnya mobil listrik dianggap justeru pemborosan tapi menurut penjelasan pria humble yang ia akui dirinya tidak pintar karena pernah tinggal kelas. Pria yang apa adanya ini sudah berumur 61 tahun ini memang sudah tiba pukul 04.30 dan jam 05.00 sudah lari-lari pagi di kawasan monas dan itu memang dibuktikan oleh redaksi dan diakui oleh Tina Talisa yang memang hadir pada jam tersebut.

Penulis saat memang ingin meminta sumbangan untuk cetak buku Saya Bangga Jadi TKW-Catatan Inspiratif BMI Hong Kong dan bertandang ke kantornya sudah menunggu Dubes salah satu negara dan dari informasi dari satpam bahwa Dahlan memang sudah berada di kantor Shubuh dan setelah berolahraga dan mandi serta bersiap-siap menerima tamu.

Alhamdulillah saat menanti Dahlan Iskan setelah mengantar tamunya di bawah dan bergegas penulis menemuinya, senyum dan rangkulan langsung penulis rasakan dan bertanya ada apa saat tahu maksud dan tujuan ia pun setelah sampai di ruangan kerjanya menemui asisten pribadinya, Aziz untuk langsung membantu dan merealisasikan sumbangan yang diminta oleh penulis dan langsung terealisasi satu jam kemudian, amazing……!

Penulis pun dengan kesahajaannya tetap menganggap pantas dan realistis Dahlan Iskan menjadi kandidat Presiden RI mendatang dan wakilnya adalah JokoWi yang bersiap-siap mengikuti putaran kedua setelah putaran pertama berhasil menyingkirkan Foke rivalnya dengan angka cukup telak.

Acara masih berlangsung dan Dahlan terus bertutur tentang belum saatnya ia membaca buku Novel berjudul Sepatu Dahlan dan mungkin untuk beberapa Minggu ke depan baru ia baca.

Dahlan Iskan, menurut Anda………………?

LINK YANG INI SILAHKAN KUNJUNGI:
http://www.kompasiana.com/posts/tags/dahlan-iskan/

Selasa, 03 Juli 2012

Mayat Itu Berjalan Lagi Bukan sebagai Kuntilanak

Senin, 02 Juli 2012

Mayat Itu Berjalan Lagi Bukan sebagai Kuntilanak

http://dahlaniskan.wordpress.com/

APA kabar PT Kertas Leces (Persero)? Yang sudah lebih dari dua tahun mati suri? Yang selama itu nasib karyawannya tidak menentu? Yang diyakini tidak akan bisa hidup lagi kalau tidak digerojok uang negara Rp 200 miliar?
Sejak dua minggu lalu pabrik kertas yang sangat besar yang berlokasi di selatan Probolinggo ini mulai siuman. Tanda-tanda kehidupan sudah mulai kelihatan. Suara mesin sudah kembali menderu.
Leces hidup lagi!
Bukan sebagai mayat berjalan, tapi sebagai pasien yang sudah bisa dipaksa berjalan.
Semula negara sudah setuju kembali menggerojokkan Rp 200 miliar ke Leces. Tapi, ketika saya diangkat menjadi menteri BUMN, rencana penggerojokan itu saya minta ditunda. Saya ingin melihat dulu apakah benar persoalan pokoknya pada modal. Apakah bukan pada manajemen. Ini harus saya pelajari dulu agar negara tidak mudah begitu saja menggerojokkan dana ratusan miliar rupiah.
Belum tentu dengan dana tersebut pabrik kertas, atau bisnis apa pun yang lagi kesulitan, bisa diselamatkan. Kadang satu manajemen memiliki kecenderungan mencari jalan yang paling mudah. Alasan ketidakcukupan modal adalah kambing hitam yang sangat lezat disate dan disuguhkan. Tapi, dari pengalaman saya, belum tentu akar masalahnya ada di modal. Sering kali pokok persoalannya terjadi di manajemen itu sendiri.
Memang banyak yang sewot ketika saya menyetop pengucuran dana itu. Untuk apa distop? Kan sudah disetujui? Tinggal dicairkan? Kok bodoh amat diberi uang ratusan miliar rupiah tidak segera ditangkap?
Tentu saya tidak akan tergoyahkan dengan penilaian seperti itu. Kalau memang ada jaminan dengan pencairan dana tersebut Leces pasti hidup, saya pun akan langsung setuju. Masalahnya, jaminan pasti hidup itu yang tidak ada.
Terbukti gerojokan uang ratusan miliar rupiah pada tahun-tahun yang lalu juga tidak berhasil menghidupkan Leces. Uang itu habis lagi dan habis lagi. Dan kecenderungannya akan minta lagi dan minta lagi.
Untuk Leces, saya melihat persoalan pokok di manajemen. Itu bisa saya rasakan ketika saya bermalam di kompleks pabrik kertas Leces pada malam Idul Adha lalu. Saya melihat manajemen sudah betul membangun boiler baru berbahan bakar batu bara. Itu akan membuat biaya energi Leces jauh lebih murah. Saya salut dengan pemikiran dan langkah itu.
Tapi, untuk menghidupkan Leces tidak cukup hanya dengan satu langkah. Dia membutuhkan puluhan, bahkan ratusan terobosan. Itulah sebabnya diperlukan manajemen yang lebih kuat.
Tidak gampang menemukan tim manajemen yang tangguh. Apalagi, untuk “dijerumuskan” ke dalam perusahaan yang sedang pingsan. Tim manajemen yang kuat tentu ingin masuk ke perusahaan yang besar dan bagus.
Leces rupanya masih bernasib baik. Seseorang yang bernama Budi Kusmarwoto mau dijebloskan ke situ. Pengalamannya yang panjang saat menjadi direktur anak perusahaan PLN (PT PLN Engineering) memudahkan dia menganalisis kondisi Leces.
Orangnya juga tidak egois. Ketika diminta membentuk dream team untuk manajemen Leces, Budi tidak serta merta mengajak rombongan dari luar masuk ke Leces. Budi memilih orang-orang dalam untuk menjadi timnya.
Sebagai mantan Dirut PLN tentu saya mengenal Budi dengan baik. Antusiasmenya meledak-ledak. Gairah kerjanya tidak pernah padam. Kecintaannya kepada pekerjaan membuat moto hidupnya hanya kerja, kerja, kerja! Antusiasme itu yang juga terlihat menular ke seluruh tim Leces sekarang ini.
Sebagaimana saya, Budi juga berpandangan ini: untuk menghidupkan Leces tidak perlu gerojokan dana dari kas negara. Kini Leces hidup lagi tanpa mendapat modal baru satu rupiah pun. Kalau kelak Leces berhasil maju kembali, seluruh karyawannya tentu akan sangat bangga: bisa maju tanpa modal! Karyawan bisa menunjukkan bahwa tambahan modal bukan segala-galanya!
Tentu, karena sudah telanjur disetujui, Budi tetap berharap agar dana Rp 200 miliar itu bisa cair. Bukan lagi untuk modal, tapi untuk membayar utang lama. Pada masa lalu, Leces meninggalkan utang hampir Rp 1 triliun. Manajemen Leces berhasil melakukan negosiasi: kalau Leces mau bayar Rp 150 miliar, utang hampir Rp 1 triliun itu dianggap lunas.
Utang yang sudah berumur lebih dari 10 tahun itu harus dibayar. Kalau tidak, utang itu akan memusingkan manajemen baru yang sedang dituntut untuk maju.”
Budi juga berencana menggunakan dana sisanya untuk membangun hutan tanaman industri. Untuk mencukupi bahan baku Leces di masa depan. Tentu saya setuju dengan dua rencana itu: bayar utang dan hutan tanaman industri.
Persoalannya, belum tentu anggaran yang sudah disetujui untuk modal bisa dialihkan untuk membayar utang. Di sinilah BUMN akan selalu kalah lincah dengan swasta.
Apa pun kasus menghidupkan kembali Leces ala Budi akan menjadi perhatian saya. Maksud saya, perusahaan seperti galangan kapal IKI Makassar yang juga sudah lama mati bisa hidup kembali dengan cara yang sama. Demikian juga, pabrik PT Iglas yang lagi dalam kesulitan.
Kelak, kalau Leces sudah sehat, harus segera di-go public-kan. Industri kertas tidak lagi menempati posisi strategis bagi negara. Tidak selayaknya lagi negara terus menggerojokkan dana untuk industri seperti Leces. Semakin banyak modal publik masuk ke dalamnya akan semakin baik.
Leces memang belum teruji akan menjadi perusahaan yang pasti akan hidup sehat. Masih harus dilihat dalam satu periode tertentu.
Tapi, setidaknya Leces kini sudah kembali berjalan: bukan sebagai kuntilanak, tapi sebagai badan yang sudah lengkap dengan rohnya. Roh antusias dan roh penuh kiat! (*)

Dahlan Iskan
Menteri BUMN

Selasa, 20 Maret 2012

Hidup Bahagia Jakob Oetama

Hidup Bahagia Jakob Oetama

saya temukan tulisan Pak Dahlan Iskan sbb:

Dahlan Iskan

http://dahlaniskan.wordpress.com/2011/10/03/hidup-bahagia-jakob-oetama

Manis Pembawaannya, tapi Keras Hatinya
Kalau hidup dimulai dari umur 40 tahun (life begins at fourty), Pak Jakob Utama, pemilik grup Kompas-Gramedia itu, baru mulai hidup lagi untuk yang kedua kalinya pada 27 September minggu lalu.
Jarang ada berita wartawan merayakan ulang tahun ke-80 seperti Pak Jakob Oetama. Yang sering adalah berita wartawan mati muda: sakit lever karena bekerja tidak teratur, terkena kanker karena tiap malam stres terkena deadline, terbunuh di medan pergolakan atau terlibat kecelakaan lalu lintas.
Rasanya kini tinggal tiga wartawan yang berusia di atas 80 tahun: Jakob Oetama dan Herawati Diah. Memang, ada tokoh seperti Harjoko Trisnadi yang juga lebih dari 80 tahun dan sangat sehat. Tapi, dia lebih dikenal sebagai pengusaha pers daripada wartawan, meski awalnya juga wartawan.
Yang lumayan banyak adalah calon wartawan berumur 80 tahun: Fikri Jufri (75, Tempo), Rahman Arge Makassar (76), Lukman Setiawan (76, Tempo), Ja”far Assegaf (78, Media Indonesia), dan beberapa lagi.
Ini berarti rekor usia wartawan terpanjang kini dipegang Ibu Herawati Diah. Beliau lahir pada 3 April 1917, yang berarti tahun ini berusia 94 tahun. Pak Rosihan Anwar sebenarnya juga hampir mencapai 90 tahun. Tapi, tak disangka-sangka dia meninggal mendadak pada usia 89 tahun, 14 April lalu.
Mungkin karena beda generasi, saya tidak akrab dengan dua tokoh pers yang dikaruniai usia yang begitu panjang. Saya mengenal Ibu Herawati Diah karena sempat berhubungan bisnis sekitar lima tahun, tapi terbatas hanya bicara perusahaan. Yakni, ketika suaminya, B.M. Diah, pemilik harian Merdeka yang juga mantan Menteri Penerangan, menyerahkan pengelolaan harian Merdeka yang lagi pingsan kepada saya pada 1994.





Setelah B.M. Diah meninggal dan saham Merdeka beralih ke putranya, kerja sama itu berakhir. Sebagian besar pengelolanya, di bawah pimpinan Margiono, kemudian mendirikan Rakyat Merdeka. Margiono, yang masih memimpin Rakyat Merdeka sampai sekarang menjadi ketua umum PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) pusat.
Lima tahun sering rapat bersama, saya bisa menarik kesimpulan mengapa Ibu Herawati Diah bisa berusia begitu panjang. Hatinya sangat baik, berpikirnya longgar, bicaranya sangat terkontrol, dan pembawaannya sangat tenang. Disiplinnya sangat tinggi, termasuk dalam hal makanan. Karena itu, Ibu Herawati terjaga langsing sampai sekarang. Ibu Herawati bisa mewakili sosok wanita intelektual yang bergaya elegan. Beliau tercatat sebagai wanita pertama Indonesia yang sekolah di luar negeri (Amerika Serikat).
Mengapa saya juga tidak akrab dengan Pak Jakob Oetama? Di samping beda generasi, kami berbeda tempat tinggal. Pak Jakob di Jakarta, sedang saya berbasis di Surabaya. Tapi, penyebab utamanya adalah karena kami berdua termasuk orang yang sangat fokus ke perusahaan masing-masing. Kami berdua sama-sama lebih mementingkan sibuk memajukan perusahaan masing-masing daripada misalnya menghadiri pesta-pesta, atau bergentayangan di kafe atau rapat-rapat organisasi. Begitu sulit kami menemukan kesempatan berinteraksi.
Beliau memang sangat lama menjadi ketua umum SPS (Serikat Penerbit Surat Kabar, kini bernama Serikat Perusahaan Pers), namun tidak pernah habis-habisan mempertaruhkan waktunya di situ. Beliau termasuk tokoh yang tidak mau menjadikan organisasi pers sebagai batu loncatan untuk berkarir di politik.
Karena itu, beliau enak saja ketika akhirnya meminta saya agar mau dipilih sebagai ketua umum SPS untuk menggantikannya. Sikap saya juga mirip itu. Saya tidak akan mau dicalonkan sepanjang beliau masih mau menjadi ketua umumnya. Bahkan, ketika suatu saat saya dicalonkan menjadi ketua PWI Jatim, saya mengajukan syarat: asal PWI jangan terlalu aktif.



Itu saya maksudkan agar tugas wartawan yang utama tidak terganggu oleh gegap gempita organisasi. Saya tidak ingin PWI-nya maju, tapi mutu koran merosot. Saya juga tidak malu kalau kantor PWI menjadi sepi. Sebab, itu berarti mereka sibuk menggali berita.
Pak Jakob adalah contoh dari sedikit orang yang bisa fokus. Sejak pikiran sampai tindakan. Godaan-godaan di luar pers tidak pernah meruntuhkan kefokusannya mengurus media. Padahal, sebagai pemimpin dan pemilik grup media nasional yang terbesar dan paling berpengaruh, pastilah begitu banyak rayuan dan iming-iming.
Beliau tidak tergoda sama sekali. Beliau terus saja konsentrasi mengurus Kompas dan grupnya. Karena itu, kalau pada akhirnya kita menyaksikan Kompas-Gramedia begitu sukses, kita tidak boleh melupakan bahwa itulah hasil nyata dari karya orang yang sangat fokus.



Generasi yang lebih muda (meski sekarang saya sudah tergolong generasi tua) memberikan dua penilaian kepada Jakob Oetama. Beliau dikecam sebagai wartawan penakut. Bukan sosok wartawan pejuang yang gagah berani menantang maut, seperti Mochtar Lubis (Indonesia Raya), atau Rosihan Anwar (Pedoman), atau Tasrif (Abadi), Aristides Katoppo (Sinar Harapan), Nono Anwar Makarim (Kami), Goenawan Mohamad (Tempo), dan beberapa lagi.
Di pihak lain dia dipuji sebagai wartawan yang santun, mengurus anak buah (termasuk kesejahteraan wartawan) dengan baik, dan sosok yang sangat menonjol tepo seliro-nya. Beliau juga tokoh yang kalau berbicara di depan umum lebih mengedepankan filsafat daripada masalah-masalah yang praktis. Misalnya, filsafat kritik. Sampai-sampai di era Orba itu muncul berjenis-jenis filsafat kritik. Ada kritik pedas macam Mochtar Lubis, kritik manis model Jakob Oetama, atau kritik jenaka model Goenawan Mohamad.
Kepribadian yang manis seperti itulah yang membuat pemerintah Orde Baru sangat percaya kepada Jakob Oetama. Sebuah kepercayaan yang ternyata juga tidak mutlak dan tulus. Pada suatu saat Kompas ikut dibredel juga, meski kemudian diizinkan terbit kembali. Tentu salah Orba juga mengapa memercayai Jakob Oetama. Padahal, di balik kehalusan dan kemanisannya itu tetaplah dia seorang wartawan yang asli. Manis hanyalah pembawaannya. Sikap batinnya tetaplah keras.


Kepercayaan yang begitu tinggi dari pemerintahan Orde Baru itu bukan tidak ada ruginya bagi Kompas. Setidaknya menurut saya. Akibat kepercayaan itu regenerasi di pucuk pimpinan Kompas menjadi terhambat. Umur 37 tahun saya sudah berhenti menjadi pemimpin redaksi Jawa Pos. Ini agar berganti kepada generasi yang lebih muda. Umur 39 tahun saya sudah berhenti menjadi pemimpin umum Jawa Pos. Pak Jakob Oetama terus menjadi pemimpin redaksi dan pemimpin umum sampai usia hampir 70 tahun.
Saya tahu itu bukan kehendak beliau sendiri. Siapa pun tahu bahwa untuk mengganti pemimpin redaksi, saat itu, harus minta izin menteri penerangan. Pemerintah merasa lebih tenang kalau Kompas dipimpin Jakob Oetama daripada misalnya tokoh muda yang mungkin lebih radikal.
Bagi saya pribadi Jakob Oetama adalah “lawan” yang harus saya hormati, tapi juga harus saya kalahkan. Saya menempatkan diri sebagai “penantangnya”. Baik dalam bidang jurnalistik maupun dalam bidang bisnis pers. Sebagai penantang saya merasakan bukan main susahnya hidup di luar dominasi Kompas. Kompas sudah menjadi koran dan koran sudah menjadi Kompas. Semua minta agar koran itu harus seperti Kompas. Bahkan, kalau ada wartawan baru keinginannya menulis ternyata juga harus seperti gaya Kompas.
Tentu saya tidak suka semua itu. Kalau hanya mengikuti Kompas, selamanya hanya akan menjadi ekornya. Tidak akan bisa menjajarinya. Karena itu, saya mengambil jalan yang sangat berbeda. Bukan dari ibu kota menguasai nusantara, tapi dari nusantara menguasai Indonesia. Di bidang jurnalistik juga harus berbeda. Jawa Pos memilih jurnalistik bertutur. Untuk wartawan baru saya langsung mencekokkan doktrin “jangan ketularan penyakit Kompas”.
Kata “penyakit” di situ terpaksa saya pakai bukan karena gaya Kompas itu jelek, tapi hanya karena harus dihindari. Agar wartawan Jawa Pos benar-benar punya gaya yang berbeda. Maafkan saya pernah menggunakan kata penyakit itu, Pak Jakob. Tentu saya tidak akan tersinggung kalau ada pihak lain menggunakan istilah yang sama: penyakit Jawa Pos.
Memang di kalangan pers sempat muncul istilah “perang total” Kompas-Jawa Pos. Tapi, itu hanya di permulaan. Pada akhirnya semua orang tahu bahwa Kompas dan Jawa Pos bergerak di medan yang berbeda. Kompas dengan majalah-majalahnya yang luar biasa, dengan toko bukunya yang the best dan biggest, dengan hotel-hotelnya yang meluas dan dengan bidang usaha yang meraksasa ternyata punya pasarnya sendiri.
Demikian juga Jawa Pos dengan koran-koran daerahnya, pabrik kertasnya, dan jaringan TV lokalnya juga punya dunianya sendiri. Keduanya masih terus membesar tanpa ada salah satu yang kalah. Inilah dinamisnya persaingan yang sehat. “Pertempuran” itu telah berakhir.
Bukan hanya karena masing-masing sudah menempati makom-nya, tapi juga karena masing-masing sudah tua. Pak Jakob sudah 80 tahun. Sudah memilih dan memiliki CEO baru yang sangat andal, Agung Adiprasetyo. Saya sudah 60 tahun dan Jawa Pos juga sudah dipimpin Azrul Ananda yang berumur 34 tahun. Pak Jakob mungkin sudah tinggal menjadi pendetanya di Kompas dan bahkan saya sudah bukan siapa-siapa lagi di Jawa Pos, kecuali hanya pemegang sahamnya.


Hasil pertempuran itu sudah final: saya tidak mampu mengalahkan Pak Jakob Oetama. Kompas Group masih jauh lebih gede daripada Jawa Pos Group meski koran Jawa Pos sudah tidak kalah besar dari koran Kompas.


Yang lebih penting: saya melihat Pak Jakob sangat berbahagia dalam hidupnya. Dia mengerjakan bidang yang sangat disenanginya. Dia berhasil menjadi kaya raya. Dia diberi rahmat sangat panjang usianya. Belum tentu saya bisa sebahagia Pak Jakob Oetama. Belum tentu saya bisa membahagiakan orang lain sebesar dan sebanyak yang dilakukan Pak Jakob Oetama. Belum tentu juga saya bisa mencapai usia 80 tahun seperti Pak Jakob Oetama.(*)

  3 EKONOM INDONESIA   DAN PEMIKIRANNYA   3 tokoh ekonom Indonesia pasca-reformasi, sekedar sampling acak,   berfokus pada pemulihan kri...