Tampilkan postingan dengan label manajemen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label manajemen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Juli 2012

Mayat Itu Berjalan Lagi Bukan sebagai Kuntilanak

Senin, 02 Juli 2012

Mayat Itu Berjalan Lagi Bukan sebagai Kuntilanak

http://dahlaniskan.wordpress.com/

APA kabar PT Kertas Leces (Persero)? Yang sudah lebih dari dua tahun mati suri? Yang selama itu nasib karyawannya tidak menentu? Yang diyakini tidak akan bisa hidup lagi kalau tidak digerojok uang negara Rp 200 miliar?
Sejak dua minggu lalu pabrik kertas yang sangat besar yang berlokasi di selatan Probolinggo ini mulai siuman. Tanda-tanda kehidupan sudah mulai kelihatan. Suara mesin sudah kembali menderu.
Leces hidup lagi!
Bukan sebagai mayat berjalan, tapi sebagai pasien yang sudah bisa dipaksa berjalan.
Semula negara sudah setuju kembali menggerojokkan Rp 200 miliar ke Leces. Tapi, ketika saya diangkat menjadi menteri BUMN, rencana penggerojokan itu saya minta ditunda. Saya ingin melihat dulu apakah benar persoalan pokoknya pada modal. Apakah bukan pada manajemen. Ini harus saya pelajari dulu agar negara tidak mudah begitu saja menggerojokkan dana ratusan miliar rupiah.
Belum tentu dengan dana tersebut pabrik kertas, atau bisnis apa pun yang lagi kesulitan, bisa diselamatkan. Kadang satu manajemen memiliki kecenderungan mencari jalan yang paling mudah. Alasan ketidakcukupan modal adalah kambing hitam yang sangat lezat disate dan disuguhkan. Tapi, dari pengalaman saya, belum tentu akar masalahnya ada di modal. Sering kali pokok persoalannya terjadi di manajemen itu sendiri.
Memang banyak yang sewot ketika saya menyetop pengucuran dana itu. Untuk apa distop? Kan sudah disetujui? Tinggal dicairkan? Kok bodoh amat diberi uang ratusan miliar rupiah tidak segera ditangkap?
Tentu saya tidak akan tergoyahkan dengan penilaian seperti itu. Kalau memang ada jaminan dengan pencairan dana tersebut Leces pasti hidup, saya pun akan langsung setuju. Masalahnya, jaminan pasti hidup itu yang tidak ada.
Terbukti gerojokan uang ratusan miliar rupiah pada tahun-tahun yang lalu juga tidak berhasil menghidupkan Leces. Uang itu habis lagi dan habis lagi. Dan kecenderungannya akan minta lagi dan minta lagi.
Untuk Leces, saya melihat persoalan pokok di manajemen. Itu bisa saya rasakan ketika saya bermalam di kompleks pabrik kertas Leces pada malam Idul Adha lalu. Saya melihat manajemen sudah betul membangun boiler baru berbahan bakar batu bara. Itu akan membuat biaya energi Leces jauh lebih murah. Saya salut dengan pemikiran dan langkah itu.
Tapi, untuk menghidupkan Leces tidak cukup hanya dengan satu langkah. Dia membutuhkan puluhan, bahkan ratusan terobosan. Itulah sebabnya diperlukan manajemen yang lebih kuat.
Tidak gampang menemukan tim manajemen yang tangguh. Apalagi, untuk “dijerumuskan” ke dalam perusahaan yang sedang pingsan. Tim manajemen yang kuat tentu ingin masuk ke perusahaan yang besar dan bagus.
Leces rupanya masih bernasib baik. Seseorang yang bernama Budi Kusmarwoto mau dijebloskan ke situ. Pengalamannya yang panjang saat menjadi direktur anak perusahaan PLN (PT PLN Engineering) memudahkan dia menganalisis kondisi Leces.
Orangnya juga tidak egois. Ketika diminta membentuk dream team untuk manajemen Leces, Budi tidak serta merta mengajak rombongan dari luar masuk ke Leces. Budi memilih orang-orang dalam untuk menjadi timnya.
Sebagai mantan Dirut PLN tentu saya mengenal Budi dengan baik. Antusiasmenya meledak-ledak. Gairah kerjanya tidak pernah padam. Kecintaannya kepada pekerjaan membuat moto hidupnya hanya kerja, kerja, kerja! Antusiasme itu yang juga terlihat menular ke seluruh tim Leces sekarang ini.
Sebagaimana saya, Budi juga berpandangan ini: untuk menghidupkan Leces tidak perlu gerojokan dana dari kas negara. Kini Leces hidup lagi tanpa mendapat modal baru satu rupiah pun. Kalau kelak Leces berhasil maju kembali, seluruh karyawannya tentu akan sangat bangga: bisa maju tanpa modal! Karyawan bisa menunjukkan bahwa tambahan modal bukan segala-galanya!
Tentu, karena sudah telanjur disetujui, Budi tetap berharap agar dana Rp 200 miliar itu bisa cair. Bukan lagi untuk modal, tapi untuk membayar utang lama. Pada masa lalu, Leces meninggalkan utang hampir Rp 1 triliun. Manajemen Leces berhasil melakukan negosiasi: kalau Leces mau bayar Rp 150 miliar, utang hampir Rp 1 triliun itu dianggap lunas.
Utang yang sudah berumur lebih dari 10 tahun itu harus dibayar. Kalau tidak, utang itu akan memusingkan manajemen baru yang sedang dituntut untuk maju.”
Budi juga berencana menggunakan dana sisanya untuk membangun hutan tanaman industri. Untuk mencukupi bahan baku Leces di masa depan. Tentu saya setuju dengan dua rencana itu: bayar utang dan hutan tanaman industri.
Persoalannya, belum tentu anggaran yang sudah disetujui untuk modal bisa dialihkan untuk membayar utang. Di sinilah BUMN akan selalu kalah lincah dengan swasta.
Apa pun kasus menghidupkan kembali Leces ala Budi akan menjadi perhatian saya. Maksud saya, perusahaan seperti galangan kapal IKI Makassar yang juga sudah lama mati bisa hidup kembali dengan cara yang sama. Demikian juga, pabrik PT Iglas yang lagi dalam kesulitan.
Kelak, kalau Leces sudah sehat, harus segera di-go public-kan. Industri kertas tidak lagi menempati posisi strategis bagi negara. Tidak selayaknya lagi negara terus menggerojokkan dana untuk industri seperti Leces. Semakin banyak modal publik masuk ke dalamnya akan semakin baik.
Leces memang belum teruji akan menjadi perusahaan yang pasti akan hidup sehat. Masih harus dilihat dalam satu periode tertentu.
Tapi, setidaknya Leces kini sudah kembali berjalan: bukan sebagai kuntilanak, tapi sebagai badan yang sudah lengkap dengan rohnya. Roh antusias dan roh penuh kiat! (*)

Dahlan Iskan
Menteri BUMN

Senin, 23 Januari 2012

CONTOH ANALISIS INVESTASI:SAHAM,OBLIGASI,REKSADANA

(kuliah Manajemen Investasi)


Pertanyaan: jika Anda sebagai manajer investasi mempunyai dana sebesar Rp. 5.000.000.000,- (lima milyar rupiah). Investasikanlah dana tersebut ke dalam portofolio, sebagai berikut:
a)         Deposito berjangka        7% p.a
b)         S B I                               7,5% p.a
c)         Reksadana                       11% p.a
d)         Saham                         komisi beli 0,3%,
                                                 komisi jual 0,4%

Transaksi dari 11 September 2009 hingga 17 desember 2009.


Jawaban: pembagian dana investasi

Deposito berjangka
40%
Rp. 2.000.000.000,-
S B I
30%
Rp. 1.500.000.000,-
Reksadana
20%
Rp. 1.000.000.000,-
Saham
10%
Rp. 500.000.000,-
Total

Rp. 5.000.000.000,-


a)  Deposito berjangka
7%×Rp. 2.000.000.000×97365×1-20%
=Rp. 140.000.000×0,25670,8
=Rp.140.000.000×0,2125
=Rp.29.750.000
v       total dana
=Rp.2.000.000.000+Rp.29.750.000
=Rp.2.029.750.000


b) S B I
360×Rp.1.500.000.000360+90×7,5%
=Rp.540.000.000.000366,75
=Rp.1.472.392.638

v       Keuntungan
=Rp.1.500.000.000-Rp.1.472.392.638
=Rp.27.607.362






c)  Reksadana
11%×Rp. 1.000.000.000×97365
=Rp.110.000.000×0,2657
=RP.29.227.000

v       Total pada saat jatuh tempo
=Rp.1.000.000.000+Rp.29.227.000
=Rp.1.029.227.000








d) Saham
Ø                  Beli saham, 14 september 2009
·    PGAS Rp. 3.600 =Rp.200.000.000500 lbr=400.0003.600/lbr=111 lot
·    ADRO Rp. 1.350 =Rp.300.000.000500 lbr=600.0001.350/lbr=444 lot

Nama saham
Lot
Jumlah lembar
Harga saham (Rp)
Komisi beli
Total
PGAS
110
500
3.600
1,003
Rp. 198.594.000
ADRO
444
500
1.350
1,003
Rp. 300.599.100


Jumlah dana yang tersedia                            Rp. 500.000.000
Jumlah pembelian saham                            Rp. 499.193.100      -
Sisa pembelian saham                                          Rp. 806.900

Ø                  Jual saham PGAS, 16 September 2009

Nama saham
Lot
Jumlah lembar
Harga saham (Rp)
Komisi jual
Total
PGAS
110
500
3.750
0,996
Rp. 205.425.000


Keuntungan menjual saham PGAS              Rp. 6.831.000

Ø                  Beli saham PGAS, 28 September 2009
Dana tersedia                                                        Rp. 205.245.000
Sisa dana awal pembelian saham                            RP.        806.900     +
                            Total                                                        Rp. 206.231.900

·    PGAS Rp. 3.600
=Rp.206.231.900500 lbr=412.463,83.600/lbr=114 lot


Nama saham
Lot
Jumlah lembar
Harga saham (Rp)
Komisi beli
Total
PGAS
114
500
3.600
1,003
Rp. 205.815.600

             
Dana saham                                          Rp. 206.231.900
              Jumlah pembelian saham              Rp. 205.815.600     -
              Sisa pembelian                                          Rp.        416.300



Ø       Jual saham ADRO, 6 Oktober 2009

Nama saham
Lot
Jumlah lembar
Harga saham (Rp)
Komisi jual
Total
ADRO
444
500
1440
0,996
RP. 320.963.855,4


Keuntungan menjual saham ADRO                            Rp. 20.364.755, 42


Ø       Beli saham ADRO, 9 Oktober 2009
Dana saham                                          Rp. 320.963.855, 4
Sisa pembelian saham                            Rp.        416.300     +
              Total                                          Rp. 321.380.155, 4
·       ADRO Rp. 1.390
=Rp.321.963.855,4500 lbr=642.760,31083.600/lbr=461lot
Sisa pembelian              Rp. 30


Nama saham
Lot
Jumlah lembar
Harga saham (Rp)
Komisi beli
Total
ADRO
461
500
1.390
1,003
Rp. 321.356.185



Ø       Jual saham ADRO, 26 Oktober 2009

Nama saham
Lot
Jumlah lembar
Harga saham (RP)
Komisi jual
Total
ADRO
461
500
1.620
0,996
Rp. 371.916.360


Keuntungan penjualan saham ADRO              Rp. 50.560.175
Sisa pembelian saham                                          Rp.                30       +
              Total                                                        Rp. 50.560.205

Ø       Beli saham ADRO, 3 November 2009
Dana saham                            Rp. 371.916.390
·       ADRO Rp. 1.510
=Rp.371.916.390500 lbr=743.837,781.510/lbr=491 lot

Nama saham
Lot
Jumlah lembar
Harga saham (Rp)
Komisi beli
Total
ADRO
491
500
1.510
1,003
Rp. 371.916.390


Sisa pembelian saham                            Rp. 99.275


Ø       Jual saham PGAS & ADRO, 4 Desember 2009

Nama saham
Lot
Jumlah lembar
Harga saham (Rp)
Komisi jual
Total
PGAS
114
500
4.100
0,996
Rp. 232.765.200
ADRO
491
500
1.750
0,996
Rp. 427.906.500


Total dana dari penjualan seluruh saham                            Rp. 660.671.700
Sisa dana pembelian saham                                                        Rp.          99.275    +
              Total                                                                                    Rp. 660.770.975
Dana awal pembelian saham                                                        Rp. 500.000.000    _
              Keuntungan                                                                      Rp. 160.770.975
v                  Dana keuntungan dari saham di tambahkan ke dalam perhitungan deposito berjangka:

11%×Rp. 2.000.000.000+Rp.160.770.975×97365×80%
=Rp.151.253.968,3×0,2125
=Rp.32.141.468,26
              Total dana Rp. 2.000.000.000 + Rp. 32.141.468,26 = Rp. 2.032.141.468,26


v                  Analisis
Ø    Jumlah dana atau prosentase yang di investasikan ke dalam deposito berjangka dan SBI sangat besar, karena kedua surat berharga ini memiliki resiko yang rendah (zero risk).

Ø    Dana yang di investasikan ke dalam reksadana dan saham hanya sedikit, karena tidak ingin berspekulasi atas keuntungan di dalam kedua surat berharga tersebut yang memiliki resiko tinggi, walaupun keuntungan yang didapat dari saham dapat mencapai keuntungan 100%, namun sebaliknya akan mendapatkan kerugian sebesar itu pula.

Ø    Keuntungan yang didapat pada saat menjual saham besar Rp. 32.141.468,26,-.Dana tersebut ditambahkan ke dalam perhitungan deposito berjangka, hal ini untuk mendapatkan tambahan total dana pada saat jatuh tempo.

Pesona Sang Pemicu: Dekonstruksi Karakter Pemimpin Reaksioner Berjubah Narasi Kesalehan

  Pesona Sang Pemicu: Dekonstruksi Karakter Pemimpin Reaksioner Berjubah Narasi Kesalehan   Pendahuluan Fenomena kepemimpinan kontempo...