Tampilkan postingan dengan label johan wahyudi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label johan wahyudi. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 September 2012

Jokowi Jualan Buku, Fauzi Bowo Mendapatkan Penghargaan dan Gelar Kehormatan


Jokowi Jualan Buku

Oleh Johan Wahyudi







Berbincang tentang calon gubernur ini memang tiada habisnya. Tidak hanya disebabkan sikapnya yang njawani, tetapi juga tentang kesederhanaannya. Hidup sebagai pengusaha yang bergelimang harta serta jabatannya sebagai Walikota Solo tidak lantas membuatnya sombong. Justru kekayaannya diumbar seraya berbagi kepada masyarakat awam yang memerlukannya. Sejak menjadi Walikota Solo, konon beliau belum pernah mengambil dan atau menggunakan gajinya. Dengar-dengar, gajinya diserahkan kepada panti asuhan atau lembaga sosial. Benar-benar beliau adalah suri tauladan yang baik.

Setelah menghentakkan dunia Pilkada DKI melalui kemenangannya pada putaran pertama, kini Jokowi sering menjadi bulan-bulanan media. Bukan bulan-bulanan karena keburukannya, melainkan beragam prestasi yang diraihnya. Sikapnya yang sangat ramah kepada awak media benar-benar mengena di hati para kuli berita. Nyaris kita belum menemukan berita-berita buruk tentangnya. Jika toh diberitakan buruk, sontak berita lain meng-counter attack secara otomatis. Maka, praktis beliau dikenal sebagai Calon Gubernur DKI yang diidam-idamkan khalayak.

Dengan baju khas kotak-kotaknya, Jokowi berusaha membangun image. Ketika ditanya tentang kesederhanaan tentang baju kotak-kotak, Jokowi berujar ringan, “Saya ingin mengembangkan Usaha Kecil Menengah (UKM) melalui kegiatan ekonomi bidang konveksi. Berapa banyak orang akan tertolong dengan pengembangan baju kotak-kotak. Sejak penyedia bahan, pendesain, penjahit, dan penjual, semua akan diuntungkan.” Dan itu terbukti. Baju kotak-kotaknya begitu membumi di seantero nusantara. Dalam waktu sekejab, berkioli-koli baju kotak-kotak terdistribusi ke seluruh penjuru nusantara. Luar biasa….!!!

Berhasil membangun image melalui baju kotak-kotak, Jokowi membangun image baru melalui boneka. Berpasangan dengan Ahok, boneka pasangan Calon Gubernur DKI ini laris manis di pasaran. Menurut kabar yang tersiar, Jokowi-Ahok terpaksa berjualan boneka karena pasangan itu tak mampu mencukupi pembiayaan kampanyenya. Dengan berjualan boneka, pasangan itu berharap meraih keuntungan untuk menyuplai biaya. Dan itu pun terbukti lagi. Semua pihak yang mendukung terciptanya boneka meraup keuntungan. Lagi-lagi UKM diuntungkan.

Tak hanya baju kotak-kotak dan boneka, kini Jokowi berjualan buku. Malam ini, saya mendapat link dari Kompas.com bahwa kiprah perjalanan Jokowi dibukukan. Judul bukunya sederhana, Jokowi (Politik Tanpa Pencitraan). Buku ini ditulis oleh Ajianto Dwi Nugroho. Mari kita simak sinopsis singkat buku tersebut.


Sudah saatnya kita meninggalkan politik yang penuh pencitraan dan poling survei bayaran yang membuat transisi demokrasi kita menjadi mahal serta dibajak oleh para elite instan dengan politik uang. Politik adalah seni memperebutkan dan berbagi kekuasaan untuk kepentingan publik. Wajar bila kita mendapatkan pemimpin yang menjalankan politik dengan sehat, hemat, dan bermartabat. Politisi yang baik dipilih karena prestasi dan reputasinya yang jujur serta bersih, bukan politisi yang mendapatkan jabatan publik dengan cara membeli suara.


Jokowi adalah salah satu politisi yang tampil apa adanya. Modalnya adalah prestasi dan reputasi yang diakui oleh banyak kalangan. Dia mempunyaipolitical brand yang unik dan tiada banding. Setiap orang sesungguhnya memiliki keunikan pribadi dan karakter yang khas masing-masing sehingga setiap orang, baik politisi maupun bukan, sejatinya dapat membangun political brand-nya sendiri tanpa dipoles oleh pencitraan yang palsu. Buku ini menjadi penting dibaca oleh setiap orang yang ingin menjadi dirinya sendiri dengan menyimak sosok Jokowi.


Bergidik saya membaca resensi buku tersebut. Bahkan, saya semakin dibuat kagum karena buku ini mendapat endorsement dari tiga tokoh dari profesi yang berbeda. Perhatikan endorsemen mereka berikut ini.


Jokowi mempunyai karakter mau mendengarkan apa yang dikehendaki masyarakat, dan yang terpenting dia mau melaksanakan dengan serius apa yang dikehendaki masyarakat itu. Pemimpin seperti itulah yang dibutuhkan oleh DKI Jakarta.”

— Jusuf Kalla, Mantan Wakil Presiden RI
“Buku ini menjelaskan mengapa Jokowi menjadi magnet bagi banyak orang untuk mendukungnya, yaitu kepemimpinan. Jokowi mempunyai kepemimpinan yang bisa dipercaya, jujur, dan bersih. Dan yang lebih penting, semua itu sudah dibuktikan dan diakui di tingkat nasional serta internasional.”

— Mooryati Sudibyo, Pengusaha
“Sekarang ini memilih manusia baik untuk setara dalam berkawan saja sulit, apalagi memilih pemimpin. Jokowi adalah salah satu orang yang membuat saya punya harapan. Barangkali sedikit berlebihan, tapi itu lebih baik daripada pesimistis dan putus asa.”

— Hanung Bramantyo, Film Maker

Tentu saja buku ini sangat menarik untuk dibaca oleh semua kalangan. Selain isinya merupakan perjalanan hidup tokoh yang layak diteladani, buku ini disajikan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Tutur kata dalam buku tersebut disusun bak kita berbincang langsung dengan Jokowi. Daya dukung buku ini pun luar biasa, yaitu pada harga karena buku ini dijual berkisar Rp 48.000 – 51.000. Sangat murah, bukan? Berikut adalah indentitas buku tersebut.


Judul Jokowi

Seri ISBN/EAN 9789792288025 / 9789792288025

Author Ajianto Dwi Nugroho

Publisher Gramedia Pustaka Utama (GPU)

Publish 29 Agustus 2012

Pages 278

Weight 234 gram

Dimension (mm) 135 x 200

Tag Hukum, Sosial, Politik

Sumber informasi: sini



Fauzi Bowo Mendapatkan Penghargaan dan Gelar Kehormatan


Oleh Wiro




Fauzi Bowo calon Gubernur incumbent DKI Jakarta dalam putaran ke dua kali ini, banyak sekali cobaan yang menerpa beliau mengenai pemberitaan di media dan isu-isu yang tidak sedap di dengar sekaligus menyudutkan. Fauzi Bowo seorang yang intelektual tinggi dan berjiwa besar, isu tersebut tidak pengaruh terhadap dirinya sebagai calon Gubernur 5 tahun kedepan.

Masih banyak warga Jakarta bahkan partai politik, organisasi atau komunitas yang menilai beliau sukses dalam mengemban Pemimpin di DKI Jakarta, seperti pada awal bulan Juli 2012 Fauzi Bowo dinobatkan sebagai Bapak Pekerja DKI Jakarta oleh Komunitas Hubungan Industrial Buruh dan Pekerja, karena beliau dinilai sebagai gubernur yang sangat berjasa telah memperjuangkan hak dan kesejahteraan kaum pekerja.

Hari minggu 2 september 2012 dari sumber 1 dan 2, merupakan hari yang sangat bersejarah buat Fauzi Bowo karena pada hari yang sama beliau sekaligus mendapatkan 2 penghargaan di tempat yang berbeda, yang pertama penghargaan dari Kemendikbud yang bekerjasama dengan lembaga Helen Keller International yang didukung lembaga USAID di Denpasar Bali yaitu Anugerah Pendidikan Inklusif 2012 sebagai Gubernur atas perjuangan keras dalam membantu pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus, tetapi dalam pemberian anugrah tersebut beliau tidak bisa hadir,diwakilkan sedangkan penghargaan kedua yang diterima beliau dari Kerukunan Warga Sulawesi Selatan (KKSS) wilayah Jakarta Utara yaitu gelar kehormatan dan pemberian nama.



Diberikannya gelar kehormatan dan pemberian nama saat beliau menghadiri halal bil halal Kerukunan Warga Sulawesi Selatan (KKSS) Wilayah Jakarta Utara di Gelanggang Olahraga Remaja (GOR) Tanjung Priok. Diberikannya gelar kehormatan dan diberi nama Daeng Gassing yang berarti Yang Kuat dan Yang Menang.

Penandaan gelar kehormatan itu saat Calon Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo diberikan Sokko Guru atau Peci khusus gelar kehormatan dan sarung Sabbe yang dikenakan oleh dua orang Tokoh Masyarakat Sulawesi selatan.
sarung itu diartikan sebagai simbol pengikat batin. Sedangkan peci yang dikenakan Fauzi Bowo artinya tanda penghormatan bagi penerima gelar itu. Dengan pemberian aksesori itu, nama beliau menjadi Fauzi Bowo Daeng Gassing.

Kalau dikaitkan dengan nama beliau Fauzi Bowo, yakni berasal dari bahasa Arab. Fauzi artinya Kemenangan, kejayaan, kesuksesan. Kemudian Bowo artinya Karakter, kepribadian. Menurut saya dengan diberikannya nama baru untuk Fauzi Bowo sangatlah cocok, karena sejalan dengan nama dirinya yaitu Fauzi Bowo Daeng Gassing berarti“Orang yang memiliki kepribadian Kuat untuk meraih kemenangan dan Kesuksesan”.

Beliau sendiri menyambut positif pemberian gelar kehormatan ini. Dia berjanji akan terus menjaga amanah warga kehormatan tersebut.

Ketua BPW Kerukunan Warga Sulawesi Selatan (KKSS)  Jakarta Utara, Ahmad Tahir Ratu mengaku lega karena kesediaan Fauzi Bowo untuk bersedia menerima gelar kehormatan tersebut dan menganggap Fauzi Bowo sebagai warga kehormatan karena sang calon gubernur incumbent itu cukup banyak berbuat untuk Republik Indonesia, khususnya Jakarta.

Daeng Gassing bermakna kuat. Ahmad menganggap Fauzi Bowo sebagai orang kuat yang memiliki keteguhan dan keimanan. Fauzi Bowo juga dinilai memiliki karisma dan tanggung jawab sehingga pantas mendapat gelar itu. “Sebagai gubernur, beliau itu punya keteguhan dan keimanan yang kuat,” katanya.Sumber

Semoga dengan pemberian gelar kehormatan dan nama Daeng Gassing yang diembannya, Fauzi Bowo bersama warga Sulawesi Selatan bisa membawa Jakarta lebih baik dan lebih maju serta sejahtera.***

Sabtu, 04 Agustus 2012

JANGAN REMEHKAN TULISAN ANDA

JANGAN REMEHKAN TULISAN ANDA

JOHAN WAHYUDI


Orang berjalan yang dipercaya adalah kakinya. Orang berbicara yang dipercaya adalah mulutnya. Orang bekerja yang dipercaya adalah tangannya. Dan penulis dipercaya karena tulisannya.

Saya menaruh kepercayaan yang teramat tinggi atas ungkapan-ungkapan di atas. Saya membenarkan isinya sehingga saya selalu berusaha menekankan aspek kejujuran atas segala perilaku. Jujur itu membawa ketenangan pikiran dan perasaan. Dengan kejujuran, kita tak lagi memiliki rasa takut kepada manusia lainnya meskipun mereka menjadi penguasa. Maka, penulis semestinya menjunjung tinggi kejujuran seraya menjaga kualitas tulisannya. Mengapa?

Pagi tadi, saya dikejutkan oleh sebuah peristiwa. Kejadian itu bermula ketika saya akan mengantar ananda untuk berangkat ke sekolahnya. Tiba-tiba, HP-ku berbunyi sebagai tanda dering kiriman SMS. Nomor pengirim belum dikenal. Sambil menaiki motor, saya pun membuka dan membaca SMS: “Selamat pagi, Pak Johan. Ini Wayan Mertayani dari Bali. Sebelumnya salam kenal.

Kaget saya dibuatnya. Lalu, teringatkanlah saya atas tulisanku yang berjudul Ni Wayan Mertayani, Anak SMA yang Yatim dan Teramat Miskin, Peraih Juara 1 Lomba Fotografi Internasional. Tulisan itu ter-posting pada 2 Mei 2011 atau setahun lalu. Saya menulis itu setelah mengikuti acara Kick Andy di Metro TV. Menurutku, anak ini memiliki talenta hebat untuk berubah menjadi pribadi yang berprestasi. Maka, tersusunlah tulisan itu yang membuatku sebagai penulis sempat menitikkan air mata. Ya, saya trenyuh sekali dengan kondisi keluarga dan nasibnya. Setahun telah berlalu.

Setelah mengantar ananda ke sekolahnya, saya mampir ke sebuah rumah makan. Saya bermaksud menikmati makan pagi sebelum bekerja. Pada waktu itulah, saya menyempatkan diri untuk menghubungi Wayan. Ya, saya ingin mengetahui kondisi dan perkembangan nasib si anak malang itu. Begitu ingin saya langsung mengenal suara agar saya benar-benar teryakinkan bahwa pengirim SMS itu benar-benar Ni Wayan Mertayani.

Ketika saya menghubunginya, sungguh saya dibuat kaget lagi. Suara anak ini benar-benar renyah dan terkesan sangat gembira dengan panggilanku. Maka, tentunya saya berusaha mengenal lebih jauh tentang dirinya. Akhirnya, terkuaklah perkembangan Wayan. Saat ini, Wayan sudah duduk di bangku SMA kelas XI Program IPS. Saat ini, Wayan sedang mengikuti Ulangan Kenaikan Kelas (UKK) di sekolahnya.

Sejak muncul di acara Kick Andy Metro TV, nasib Wayan mulai berubah. Wayan telah diberi Beasiswa oleh Menteri Pendidikan Nasional. Selain itu, Wayan tak lagi menjadi pemulung. Wayan kini sudah menikmati perubahan kehidupan yang lebih baik. Jika dahulu rumahnya hanya beratap daun rumbia yang tak bisa menahan air hujan dan teriknya sinar matahari, kini rumahnya telah dibangun atas bantuan acaraBedah Rumah. Bagaimana nasib Wayan bisa berubah secara drastis itu dalam waktu sekejab? Jawabnya hanya satu: kekuatan media.

Menurut penuturan Wayan, dirinya sering dihubungi banyak pihak untuk memberikan bantuan. Banyak pihak menaruh simpati setelah mengetahui kondisi keluarga Wayan yang memang teramat mengenaskan. Para simpatisan itu tentu mengetahuinya setelah mengikuti acara itu, mendengarkan kisah serupa, sertamembaca beragam berita. Itulah pengakuan Ni Wayan Mertayani. Lalu, bagaimanakah Wayan mengenalkompasiana?

Menurut kisah Wayan, sebenarnya waktu itu dirinya hanya ingin mem-browsing untuk beragam keperluan sekolah. Secara iseng, nalurinya mengajaknya untuk mengetahui beragam perkembangan informasi. Lalu, Wayan pun mengetikkan tags atau kata kunci namanya: Ni Wayan Mertayani. Dan hasilnya sungguhlah teramat mengejutkan!

Melalui penelusuran sekitar 5,400 hasil (0.52 detik), mesin google memberikan informasi bahwa tulisanku di kompasiana menduduki posisi teratas. Itu berarti bahwa tulisan-tulisan di kompasiana sering dijadikan sebagai bahan rujukan oleh netter atau pembaca. Setidak-tidaknya, tulisan di kompasiana sering dikunjungi untuk dipelajari isinya. Dan ini adalah keuntungan sekaligus perhatian bagi kompasianer. Mengapa?

Tentunya kita tak mau dianggap sebagai kompasianer ecek-ecek. Kompasianer yang sekadar menulis ini dan itu tanpa memertimbangkan aspek keseriusan, aktualitas, kedalaman kajian, dan kemapanan bahasa. Sungguh disayangkan jika kita hanya sekadar menjadikan kompasiana sebagai media belajar menulis karena menganggapnya sebagai media gratisan.

Ketika kita benar-benar-benar serius menekuni suatu profesi, hendaknya kita berusaha menjaga konsistensi dalam bersikap. Janganlah kita terombang-ambingkan oleh nafsu alias keinginan untuk tenar alias terkenal. Jika kita sudah menjalani profesi secara serius, tentu orang lain akan memberikan predikat alias brandingtersendiri. Predikat itu diberikan karena kita memang serius menjaga kualitas diri. Akhirnya, saya jadi teringat dengan ucapan bijak: sukses hanya dimiliki mereka yang serius menekuni bidangnya. Anda ingin sukses? Camkan baik-baik ucapan itu!


  3 EKONOM INDONESIA   DAN PEMIKIRANNYA   3 tokoh ekonom Indonesia pasca-reformasi, sekedar sampling acak,   berfokus pada pemulihan kri...