Tampilkan postingan dengan label pemilukada. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pemilukada. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Agustus 2012

SELAMAT DATANG PARA PEMUDIK DI RUMAHMU PERTAMA LAGI

Untuk para warga Jakarta khususnya dan JABODETABEK PADA UMUMNYA, saya mengucapkan selamat datang kembali di rumahmmu pertama, setelah beberapa hari dari pulang kampung,- dimana dahulu engkau di lahirkan dan di besarkan. Setelah bersilaturahmi, juga mungkin dengan tradisi"yekar'' ,mendoakan nenek moyang ke makam yang telah di panggil Allah menurut tradisi masing-masing budaya/adat di Nusantara ini, di masing-masing daerah.

Setelah sekian lama merantau dan menetap di Jakarta, Jabodetabek, dan sekitarnya, puas di kampung halaman berjumpa dengan handai taulan, "sanak kadang, pamong mitro'', dll, kini anda mulai kembali di Jakarta, Jabodetabek dan sekitarnya, di mana engkau tinggal.

Dalam perjalanan dengan segala suka dan dukanya, kini kehidupan di rantau, di kota pertama di mana kita tinggal dan mencari penghidupan, kembali hari Senin, 27 Agt 2012 kehidupan normal akan kita mulai lagi.Mulai ngantor, bekerja, antar sekolah,jemput, dan seterusnya.

Dengan semanangat baru, spirit baru mari, "monggo" kita mulai lagi kehidupan ini, dengan etika, budaya, habitus baru yang lebih manusiawi.

Juga untuk warga Jakarta yang akan pemilukada putaran kedua, apapun pilihan anda itulah keyakinan anda untuk memilih pemimpin untuk periode berikutnya,- yang dengan harapan- ,akan membawa Jakarta ke arah yang lebih baik lagi.

Untuk yang sedang di rundung derita karena musibah dan lain-lain, tabahkanlah iman, mari memohon Perlindungan Allah, dan uluran sesama agar diringankan dalam musibah itu. Allah tidak akan memberi cobaan melebihi beban yang mampu kita pikul.

SEKALI LAGI SELAMAT IDHUL FITRI, MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN.

Selasa, 21 Agustus 2012

Jokowi Mendobrak Tradisi


Jokowi Mendobrak Tradisi

 

 

Oleh Blontank Poer

 

Suka-tidak suka, ‘kehadiran’ Pak Jokowi di DKI saya anggap telah mendobrak tradisi politik berebut kuasa dan kue, yang menjadi tren orde reformasi. Kemenangannya pada putaran pertama Pemilihan Gubernur adalah isyarat akan besarnya keinginan ‘rakyat Indonesia’ untuk move on, berubah dari yang sudah-sudah. Kemenangannya, kelak, bagi saya hanyalah bonus.

Andai perjuangan politiknya berbuah manis pada 20 September nanti, apalagi jika kemenangannya melawan incumbent tidak hanya berselisih perolehan suara yang tipis, maka rakyat Indonesia pantas merayakannya bersama-sama. Kesimpulan itu diambil karena Jakarta merupakan etalase dan miniatur keragaman (etnis, agama, dan sebagainya).

Yang terbayang di benak saya, kini, adalah bagaimana figur politisi seperti Jokowi yang dikenal memiliki integritas dan kapabilitas me-manage birokrasi menjadi efektif, tanpa harus mengorbankan banyak pihak, termasuk dirinya sendiri.

Satu hal yang harus kita pahami adalah, Jokowi tidak harus mengeluarkan biaya pendaftaran ke partai-partai pengusungnya. Asal tahu saja, seorang kandidat kepala daerah harus merogoh ratusan juta hingga miliaran rupiah untuk sebuah SK, Surat Keputusan atau rekomendasi partai sebagai syarat sahnya pencalonan (selain syarat khusus untuk calon independen) yang diwajibkan oleh komisi pemilihan (KPUD). (Silakan baca Matematika Pilkada dan Beli Suara Pikada sebagai referensi).

Selain biaya pendaftaran (yang biasanya permainan oknum politisi di DPP Partai), seorang kandidat harus mengeluarkan biaya kampanye yang tak sedikit. Di Jawa Tengah saja, menurut penuturan seorang aktivis politik, seseorang harus menyiapkan biaya hingga ratusan miliar rupiah untuk pembiayaan kampanye.
Selain dari kocek pribadi, saweran dari individu dan/atau pengusaha (putih maupun hitam) biasanya mendominasi besaran total biaya kampanye.

Sebagaikompensasinya, sang penyawer akan beroleh konsesi proyek-proyek pemerintah, jika sang kadidat memenangi pertarungan. Asal tahu saja, seorang teman yang kebetulan jadi tangan kanan pengusaha besar, pernah berkali-kali menelepon saya, menanyakan kepastian maju/tidaknya Jokowi ke bursa pencalonan kandidat Gubernur DKI. Sang teman bercerita, boss-nya ingin ikut membiayai Jokowi jika ia tak maju ke DKI, melainkan di Jawa Tengah.

Bahkan, ketika Fauzi Bowo dipanggil ke Cikeas, sang teman yang mengaku ikut serta menemani boss-nya meluncur ke Cikeas saat itu, masih menanyakan keseriusan pencalonan Jokowi, melalui saluran telepon. Soal benar/tidaknya cerita sang teman, hanya dia dan Tuhan yang tahu. Yang jelas, ia meminta saya untuk membantu mempertemukan the big boss dengan Pak Jokowi. (Dan ini aneh juga. Wong saya bukan siapa-siapanya Pak Jokowi, kok diminta bantuan mempertemukan sebuah kepentingan demikian).

Sang teman bercerita panjang lebar, bahwa sang pengusaha yang diwakilinya, sudah tak mau membiayai siapapun calon gubernur Jawa Tengah pada pemilihan 2013 mendatang, seraya menyebut beberapa nama penting, bahkan dari beberapa partai besar.
Mungkin, sang teman tak paham seperti apa moral politik Jokowi, yang tak pernah mau terbebani utang budi, bahkan kepada beberapa pengusaha asal Solo, untuk urusan ‘sederhana’ sekalipun. Silakan baca ini.

Pak Jokowi justru memilih pola partisipasi publik dalam pencalonannya. Ia memperkenalkan baju motif kotak-kotak sebagai strategi diferensiasi, sekaligus mengajak keikutsertaan yang nyata kepada publik, sambil menakar kesungguhan dukungannya. Dan ajaibnya, publik rela membeli baju yang diproduksi Pak Jokowi dan relawan pendukungnya, di mana keuntungan hasil penjualannya digunakan untuk pembiayaan kampanyenya.

Ini bukan saja peristiwa politik biasa. Lebih dari itu, orang rela menebus harapan akan perubahan secara nyata, sehingga benar-benar membalik keyakinan mayoritas politisi kita, bahwa para individu pemilih rela menggadaikan suaranya dengan sogokan. “Serangan fajar” yang dianggap lazim, bahkan konon termasuk rekomendasi resmi kebanyakan lembaga konsultan politik demi sebuah kemenangan kliennya, menjadi tidak berlaku di pemilihan gubernur DKI pada putaran pertama.

Jika koalisi PDIP-Gerindra yang pada pemilu legislatif lalu hanya berhasil meraih 18 persen suara, maka kelebihan 25 persen angka kemenangan bisa disebut hasil resmi dukungan kepada masing-masing individu, baik Jokowi maupun Basuki. Incumbentyang didukung banyak partai besar, pun tumbang dengan jebloknya perolehan suara. Begitu pula kandidat-kandidat lain, yang seharusnya memiliki jumlah suara tertentu, merosot sebagian besarnya.

Serangan-serangan bernada hasutan dengan isu SARA dari para pendukung rival Jokowi/Basuki, bahkan ditanggapi sinis oleh kebanyakan orang, dari seluruh penjuru Nusantara. Hal itu bisa disimak di percakapan hampir semua media sosial dan Internet. Peristiwa ‘petasan’ yang disebut sebagai ‘granat’ atau ‘bom’ di Solo pada malam takbiran, misalnya, justru direspon publik sebagai bentuk rekayasa untuk sabotase atau kampanye hitam untuk menjegal kemenangan Jokowi (dan Basuki).

Rhoma Irama pun turut menjadi ‘korban’, di-bully habis-habisan oleh pengguna Internet selama beberapa pekan. Begitu pula akun Twitter @TrioMacan2000 yang konon kehilangan banyak followers lantaran berubah sikap, dari semula memuji Jokowi menjadi penyebar informasi memojokkan Jokowi dan Basuki. Tak kurang, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan sejumlah elitnya sempat dijadikan sebagai bahan olok-olok lantaran berbalik dari memojokkan Fauzi Bowo menjadi berkoalisi untuk kemenangan sang incumbent.

Siapapun yang menyudutkan Jokowi/Basuki, sepertinya akan berhadapan dengan publik. Vox populi vox dei sepertinya seturut dengan harapan publik akan terjadinya perubahan politik. Orang yang menyudutkan Jokowi/Basuki, seolah-olah dianggap pengagum Machiavelli, sehingga rela membabi buta, menghalalkan segala cara untuk merebut jabatan dan kekuasaan.

Bahwa dalam politik semua bisa terjadi, semua sudah mafhum. Termasuk analogi “tak ada makan siang gratis” untuk sebuah persekutuan menggapai kekuasaan.
Kini rakyat Indonesia tinggal menunggu tanggal mainnya. Hari ke-20 bulan September 2012 akan menjadi momentum bersejarah. Akankah harapan publik bisa ditukar janji dan iming-iming materi, atau sebaliknya, justru meneguhkan sikap mereka pada putaran pertama pemilihan?

Yang jelas, saya meyakini, para pemilih Jokowi/Basuki kemarin, akan lebih giat mengajak kawan, kerabat dan kenalan mereka, untuk memenangkan pada putaran kedua. Sebagian besar kelas menengah yang kemarin golput alias tidak memilih, menurut prediksi saya, telah menyesal karena kemarin tidak turut serta menyumbangkan dukungan mereka.

Andai Jokowi/Basuki keluar sebagai pemenang, dampak positif bagi Indonesia kelak, adalah rakyat di mana-mana akan meniru apa yang terjadi di Jakarta. Dengan begitu, bukan kandidat kaya raya atau didukung elit partai yang akan dipilih, melainkan mereka yang kwalitas kemanusiaannya sudah terbukti, dan teruji. Saya menduga, calon yang pamer kekayaan hanya akan ‘diperas’ (dalam arti uangnya diterima), namun tetap otonom dalam soal menentukan pilihan. Politisi pun akan hati-hati berpolitik dengan cara kotor.

Mungkin saya kelewat berlebihan dalam berpendapat. Tapi, Insya Allah, saya menuliskan hal demikian bukan lantaran saya menjadi pendukung Jokowi, melainkan lebih didorong oleh naluri berpolitik yang saya yakini selama ini. Jokowi bukan nabi. Ia pasti punya banyak kekurangan yang manusiawi sifatnya. Tapi jika ditimbang positif dan negatifnya, bisa-bisa perbandingannya masih 99:1!

Saya percaya, kebanyakan bangsa kita, juga warga DKI Jakarta, mendambakan sosok pemimpin yang memang bisa menenggang rasa, mau dan mampu berempati terhadap yang lemah dan terpinggirkan, sehingga tidak membuat jarak dengan siapa saja. Pada sisi ini, saya kira tak ada yang bisa menandingi karakter dasar seorang Joko Widodo.

Satu hal yang sering dilupakan para politisi kita, bahwa tindak-tanduk dan tata krama berbicara, bisa dirumuskan lewat ‘kursus singkat’ oleh konsultan komunikasi dan pebisnis jasa pencitraan. Baik kandidat maupun koonsultan pada lupa, watak dan karakter tidak bisa dipelajari dan dipraktekkan secara instan.

Orang bermain teater saja butuh bedah naskah, menghafal dialog, dan proses internalisasi karakter lewat latihan panjang dengan intensitas tinggi. Latihan tiap hari selama tiga bulan, pun belum cukup untuk mementaskan sebuah naskah drama dengan penokohan yang tepat. Celakanya, kebanyakan politisi kita seperti pemain opera sabun atau sinetron serial, di mana ia baru membaca naskah dengan dialog dan penokohan yang diarahkan oleh sutradara sesaat menjelang proses syuting. Jika gagal, maka tinggal dilakukan retake, persis seperti kebanyakan sutradara sinetron dan film kita, saat ini.



Senin, 09 Juli 2012

Lima Kesalahan Besar Pesaing Foke

Lima Kesalahan Besar Pesaing Foke




 

Enam cagub-cawagub yang akan bersaing dalam Pilkada Rabu besok (11/07) semuanya adalah orang-orang hebat. Punya track record di jalur mereka masing-masing. Siapa yang tidak kenal Jokowi, wali kota terpandang dari Solo. Hidayat Nurwahid, mantan Ketua MPR dan sukses memimpin PKS. Faisal Basri, ekonom keanamaan yang tiada letih menyuarakan keadilan kebijakan. Begitu juga Alex Noerdin, dan Hendardji, semuanya telah berhasil meniti karir dengan baik.

Namun entah kenapa, lima sosok itu tidak berhasil merontokkan kredibilitas Foke sebagai incumbent. Padalah media massa, baik cetak, on line, media sosial dan televisi hampir sepenuhnya mendukung mereka. Lihat saja misalnya, pemberitaan mengenai Jokowi dan Alex yang hampir saban hari menghiasi berbagai media. Bahkan ada yang menyebutkan, saat ini Jokowi sudah menjadi media darling.
Dalam pengamatan saya, setidaknya ada lima kesalahan besar yang dilakukan oleh pesaing Foke itu. Dengan posisi yang selama ini tidak terlalu disukai media, Foke sebetulnya bukanlah lawan yang terlalu berat. Seandainya pesaing tidak melakukan kesalahan besar, mampu menawarkan ide-ide segar, bisa jadi posisi Foke saat ini sudah terjepit.
Apakah kesalahan besar pesaing itu?
1. Kesalahan Pertama, sebagian besar pesaing Foke tidak mampu menyalami problematika di Jakarta dengan baik. Ini terlihat dari pesan-pesan yang disampaikan melalui media, tidak ada satupun yang merupakan ide segar. Bahkan terkesan, pesaing telah teperangkap oleh opini dan kesan ketidakpuasan segilintir orang terhadap Foke yang selama ini diangkat oleh media.
Buktinya, begitu sering pesaing melakukan kesalahan dalam pernyataannya, terutama Jokowi-Ahok. Jokowi misalnya, mengatakan Pemprov tidak berperan dalam KBT, padahal fakta menunjukkan DKI Jakarta menanggung 52% beban pembangunan KBT. Ini menunjukkan bahwa Jokowi atau orang-orang sekitarnya tidak mempelajari data-data Jakarta dengan baik. Akibatnya tudingan itu langsung bisa dimentahkan pihak Foke.
Kemudian apa karena terlalu bernafsu, Ahok mengatakan ayat konstitusi lebih penting dari ayat suci. Ini menunjukkan Ahok sangat tidak paham kondisi demografi Jakarta, kok berani-beraninya menantang arus kehidupan beragama yang semakin berkembang di Jakarta, baik Islam, Kristen, Budha atau agama lainnya.
Begitu juga ketika Ahok mengatakan bahwa seharusnya pendidikan gratis di Jakarta sampai pada perguruan tinggi atau sampai kuliah. Apa Ahok tidak mengerti, bahwa menurut undang-undang tanggung jawab Pemprov itu hanya sampai SLTA. Untuk perguruan tinggi itu urusan Kementerian Pendidikan atau pemerintah pusat.
2. Kesalahan kedua, pesaing tampaknya terlalu terbuai oleh sanjungan media. Akibatnya mereka lupa menyiapkan strategi untuk bersaing. Sasaran mereka hanya sebatas “YO tembak” Foke. Bayangkan lima sosok terkenal itu, nada kampanyenya nyaris sama semua. Andalan janji kampanye mereka hanyalah sekolah gratis, kesehatan gratis, pengusuran PKL.
Akibatnya, masyarakat tidak bisa membedakan ide-ide mereka. Masyarakat bingung sendiri mau pilih siapa di antara ke lima pesaing Foke itu. Apa yang dijanjikan Jokowi tidak beda dengan Alex, begitu juga Hendardji atau Hidayat. Yang agak lain kayak Faisal, tapi kita tahu back upnya kurang.
3. Terkait dengan kesalahan kedua, kesalahan ketiga adalah pesaing tidak sadar bahwa mereka sebetulnya saling berkompetisi sesama mereka. Hanya Alex yang sedikit menyadari hal itu dengan mengubah tema kampanye dari 3 Tahun Bisa, menjadi Membangun Bandar Jakarta. Tapi waktu yang tersedia sudah sedikit, sehingga orang juga sulit menilai serealistis apa janji Alex itu.
4. Kesalahan Keempat, pesaing tidak mau melihat sisi positif dari kinerja Foke, dengan demikian secara otomatis mereka menutup mata untuk mengetengahkan persoalan kota ini secara obyektif. Yang terjadi, pesaing cenderung menyederhanakan persoalan.
Akibatnya, masyarakat tidak bisa mengetahui secara pasti apa sesungguhnya persoalan obyektif yang dihadapi Jakarta dan bagaimana pesaing itu akan mengatasinya.
Pada saat bersamaan, serangan yang datang bertubi-tubi melalui media massa memberikan peluang bagi Foke untuk punya hak jawab dan ia menjawab dengan baik. Mengetengah persoalan Jakarta secara lebih realistis. Buktinya, baik disadari atau tidak disadari oleh media atau pesaing, banyak keberhasilannya yang terungkap saat mengkonfirmasi tudingan kepadanya.
Dari berita itu, banyak masyarakat menjadi tahu bahwa Foke tidaklah seperti yang dilukiskan oleh pesaingnya. Banyak yang sudah Ia capai selama lima tahun ini.
Mungkin tidak terlalu disadari, kenapa Foke berani tidak terjun langsung berkampanye. Jika pada awalnya Ia akan berencana mengajukan cuti selama 4 hari untuk berkampanye, menurut media, akhirnya ia hanya mengambil cuti 2 hari saja yaitu saat penyampaian visi misi di rapat Paripurna DPRD dan kampanye terbuka.
Kenapa? Menurut saya, barangkali Foke yakin sekali, gaya kampanye pesaing sangat lemah, dan ia tidak mau terjebak dalam suasana janji-janji yang tidak realistis yang dikembangkan lawan-lawan.
5. Kesalahan Kelima, pesaing terlalu mengabaikan kompetensi Foke. Padahal, menurut hasil survei dan pengamatan surat kabar terpandang Harian Kompas bersama tim pakar psikologi UI, dalam derajat tertentu Foke memiliki semua kompetensi kepemimpinan transformasional yang tinggi untuk semua bidang yang dibutuhkan untuk memenahi Jakarta. Kekurangan Foke selama ini, menurut laporan itu, realisasi visinya kurang terpublikasi sehingga kurang menginspirasi warga (Kompas, Senin, 25/06).
Sementara itu calon lain, seperti Jokowi yang digadang-gadang menjadi lawan berat Foke, gaya kemimpinan kurang otoritatif, cenderung mementingkan konsensus sehingga sulit bertindak cepat dalam saat genting. (Kompas, Rabu, 27/08).
Jokowi juga dinilai kurang mampu memberikan rangsangan intelektual kepada bawahannya, berbeda dengan Foke yang mempunyai keunggulan untuk hal ini.
Sesuai dengan kedudukan Jakarta sebagai ibukota negara, gubernur DKI Jakarta juga dituntut untuk mempunyai kepekaan global, mempunyai pengalaman budaya dan negara lain, membuat atmosfir yang membuat orang lain merasa diterima dan diundang.
Dalam hal ini, menurut pengamatan Kompas dan tim pakar UI, Jokowi mempunyai kekurangan karena pembawaan dan gaya bicaranya terlalu sederhana, tidak meyakinkan kalangan elite dan dunia interasional.
Foke sekali lagi unggul dalam hal ini, karena pengetahuannya dan pengalamannya yang luas. Menurut artikel itu, Foke mampu melibatkan pihak dari negara lain untuk terlibat penyelesaian Jakarta.
Foke dikenal mempunyai hubungan kerja yang erat dengan berbagai lembaga internasional, termasuk dengan Bank Dunia. Secara pribadi, dia dikenal baik oleh pejabat Bank Dunia, termasuk Robert Zoelick yang baru saja menghabiskan masa jabatannya di lembaga ini.
Selamat memilih warga Jakarta.

  3 EKONOM INDONESIA   DAN PEMIKIRANNYA   3 tokoh ekonom Indonesia pasca-reformasi, sekedar sampling acak,   berfokus pada pemulihan kri...