Anatomi Oposisi yang Jinak: Analisis
Sosiologi Politik terhadap Fenomena "Penjilat" dalam Lingkaran
Kekuasaan di Indonesia
Pendahuluan
Dinamika politik kontemporer di Indonesia sering kali
menampilkan sebuah fenomena psikologi sosial dan sosiologi politik yang unik:
pergeseran radikal aktor politik dari posisi pengkritik keras (oposisi) menjadi
pendukung setia penguasa. Dalam diskursus publik awam, fenomena ini sering kali
diberi label peyoratif sebagai tindakan "pepenjilat" atau
oportunisme politik. Secara ilmiah, fenomena ini dapat dijelaskan melalui teori
kooptasi elite (elite co-optation) dan pilihan rasional (rational
choice theory).
Di Indonesia, transisi sistematis dari oposisi ke
dalam lingkaran kekuasaan pasca-pemilu bukan lagi pengecualian, melainkan
sebuah pola yang berulang. Artikel ini akan membedah anatomi pergeseran
idealisme tersebut, motif material di baliknya, serta dampak sosiologis
terhadap ekosistem demokrasi di Indonesia.
Dari Oposisi Menjadi Kawan dalam Lingkaran
Kekuasaan
Fenomena migrasi politik dari luar ke dalam
pemerintahan pasca-konflik elektoral di Indonesia dapat diamati dengan jelas
pada lanskap politik nasional dalam dua dekade terakhir. Berbeda dengan sistem
oposisi murni di negara-negara barat, budaya politik Indonesia cenderung
menganut asas kartelisasi partai politik—di mana partai-partai cenderung
berkolaborasi demi mengamankan sumber daya negara daripada bertindak sebagai
pengawas pemerintah.
Contoh Kasus Riil:
1.
Peta Politik Pasca-Pemilu 2019:
Bergabungnya Prabowo Subianto dan Edhy Prabowo dari Partai Gerindra ke dalam
Kabinet Indonesia Maju pimpinan Presiden Joko Widodo. Langkah ini secara instan
mengubah peta kekuatan oposisi terbesar menjadi pilar penyokong utama
pemerintah.
2.
Transformasi Aktivis 1998 dan
Pengkritik Vokal: Banyak mantan aktivis reformasi atau
akademisi kritis yang awalnya berdiri di barisan depan demonstrasi menentang
kebijakan agraria, korupsi, atau pelanggaran HAM, yang kemudian bertransisi
menjadi Staf Khusus Presiden, Komisaris BUMN, atau jajaran Tenaga Ahli Utama
Kantor Staf Presiden (KSP). Begitu masuk ke dalam sistem, narasi kritis yang
dulu mereka gaungkan berubah total menjadi narasi pembelaan (apologetika)
terhadap kebijakan penguasa.
Secara ilmiah, proses ini diidentifikasi oleh sosiolog
Philip Selznick sebagai kooptasi formal, yaitu proses menyerap
elemen-elemen baru ke dalam struktur kepemimpinan sebuah organisasi sebagai
cara untuk mencegah ancaman terhadap stabilitas organisasi tersebut.
Sebab-Sebab Tergiurnya Idealisme: Uang dan
Jabatan sebagai Pilihan Rasional
Mengapa idealisme politik begitu mudah runtuh ketika
dihadapkan pada kekuasaan? Sosiologi politik menggunakan Rational Choice
Theory (Teori Pilihan Rasional) untuk menjelaskan bahwa aktor politik
bertindak sebagai homo economicus yang memaksimalkan keuntungan pribadi
(utility maximization).
Idealisme yang abstrak sering kali kalah bersaing
dengan kebutuhan yang lebih realistis dan pragmatis, yaitu akumulasi modal
(uang) dan akses otoritas (jabatan). Beberapa faktor
sosiologis-ekonomis yang mendasarinya meliputi:
- Tingginya
Biaya Politik di Indonesia: Demokrasi
transaksional di Indonesia menuntut logistik yang sangat besar. Bertahan
di jalur oposisi dalam waktu lama secara ekonomi tidak menguntungkan (unsustainable)
karena keringnya akses terhadap proyek negara dan konsesi bisnis.
- Komodifikasi
Jabatan Publik: Jabatan seperti Komisaris BUMN atau
Staf Khusus bukan sekadar posisi struktural, melainkan simbol status
sosial dan instrumen redistribusi kekayaan bagi jaringan patronase aktor
tersebut.
- Kelelahan
Politik (Political Fatigue): Berada di luar
kekuasaan membatasi kemampuan aktor untuk mengeksekusi kebijakan. Aktor
sering kali merasionalisasi kepindahan mereka dengan dalih, "Lebih
baik melakukan perubahan dari dalam sistem daripada berteriak dari
luar." Namun, batas antara "melakukan perubahan" dan
"menikmati fasilitas" kerap kali menjadi kabur.
Reaksi Keras Kawan-Kawan yang Diingkari
Pergeseran posisi ini selalu memicu guncangan sosial
di lingkaran internal sang aktor. Kawan-kawan seperjuangan, baik sesama
aktivis, akademisi, maupun basis massa pemilih, umumnya merespons dengan reaksi
keras yang berkisar dari kekecewaan mendalam hingga pengucilan sosial (social
ostracism).
- Disonansi
Kognitif dan Krisis Kepercayaan: Kelompok yang
ditinggalkan mengalami disonansi kognitif karena figur yang dulunya
dianggap sebagai representasi moral kini memvalidasi kebijakan yang dulu
mereka lawan bersama.
- Stigmatisasi
sebagai Penghianat Ideologis: Aktor yang
menyeberang akan dicap sebagai pengkhianat atau "penjilat".
Kritik dari mantan rekan sejawat biasanya jauh lebih tajam dibandingkan
kritik dari musuh politik lama, karena mereka memahami titik lemah
pemikiran sang aktor.
- Polarisasi
di Media Sosial: Di era digital, reaksi ini
terdokumentasi dengan jelas melalui pembongkaran rekam jejak digital
(cuitan lama, video pidato lama) untuk menelanjangi inkonsistensi sikap
sang aktor di hadapan publik.
Kesimpulan
Fenomena peralihan haluan aktor politik dari oposisi
kritis menjadi pembela setia penguasa di Indonesia bukan sekadar masalah
moralitas personal atau karakter individu yang lemah. Secara ilmiah, fenomena
ini merupakan konsekuensi logis dari sistem politik kartel dan struktur
insentif demokrasi transaksional yang belum matang.
Ketika sistem politik memberikan imbalan (reward)
materi dan posisi yang teramat besar bagi kepatuhan, serta memberikan hukuman (punishment)
berupa pengeringan sumber daya bagi oposisi yang konsisten, maka pragmatisme
politik akan selalu mengalahkan idealisme. Fenomena ini merugikan kualitas
demokrasi karena melemahkan fungsi checks and balances yang krusial bagi
kesehatan sebuah negara hukum.
Penutup
Pada akhirnya, keberadaan para pembela kekuasaan yang
oportunistik ini akan terus ada selama struktur politik Indonesia belum
mengalami reformasi kelembagaan yang mendalam—khususnya terkait pembenahan
pembiayaan partai politik dan transparansi penunjukan jabatan publik.
Selama politik
masih dipandang sebagai ruang investasi modal material alih-alih ruang
pengabdian gagasan, maka perpindahan dari idealisme menuju pragmatisme
kekuasaan akan tetap menjadi pemandangan biasa dalam panggung politik nasional.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar