Selasa, 04 Agustus 2026

Misteri Ketukan Pintu dan Kantong Kering di Dusun Wates Jumantoro


Misteri Ketukan Pintu dan Kantong Kering di Dusun Wates Jumantoro

 

Suasana sore di Dusun Wates, Kelurahan Jumantoro, terasa sangat sejuk. Angin gunung dari lereng barat Gunung Lawu bertiup sepoi-sepoi, membuat siapa saja betah untuk sekadar duduk di teras. Namun, sore itu ketenangan dusun lama tersebut agak terusik oleh aksi iseng seorang gadis kota bernama Rere.

Rere yang berparas cantik, berkulit putih, dan modis, sedang berlibur di rumah neneknya. Karena bosan, dia berjalan-jalan menyusuri jalanan kampung yang sepi. Otak jahilnya mulai berputar saat melihat sebuah rumah limasan tua yang pintunya tertutup rapat. Rumah itu milik keluarga beranak bujang bernama joko.

Rere berjalan mengendap-endap mendekati pintu rumah tersebut. Sambil menahan tawa, dia mengetuk pintu dengan gaya centil, lalu berteriak dengan suara yang sengaja dibuat mendayu-dayu ala pijat keliling.

"Pijeeet... Pijat capek, Mas... Mau pijat?" seru Rere dari balik pintu.

Di dalam rumah, Joko yang sedang tiduran di dipan bambu langsung terperanjat. Dia sedang pusing tujuh keliling karena tanggal tua dan kiriman uang belum masuk. Mendengar suara perempuan yang begitu merdu dan seksi di depan rumahnya, Joko langsung bangkit.

Joko tahu betul tidak ada tukang pijat muda di Dusun Wates. Dia langsung menebak bahwa ini pasti kerjaan orang iseng atau modus penipuan baru. Dasar Joko juga punya selera humor yang ajaib, dia tidak langsung membuka pintu. Dia malah mendekatkan mulutnya ke celah pintu kayu yang agak renggang, lalu menjawab dengan suara yang sengaja dikeras-keraskan dan logat medok yang dramatis.

"Gak duuwe-duwe duit blas!" teriak Joko dari dalam.

Rere yang mendengar jawaban spontan itu kaget, tetapi tertantang untuk melanjutkan keisengannya.

"Murah kok, Mas. Bisa diskon khusus buat masnya yang di dalam," sahut Rere lagi, menahan tawa yang hampir meledak.

Joko kembali berteriak, kali ini suaranya terdengar makin merana.

"Dibilangi gak duuwe duit kok ngeyel! Jangankan buat bayar pijat, Mbak, buat beli kerupuk aja uangku kurang dua ratus perak! Gak minta pijat, Mbak! Punggungku wis kebal karo capek!"

Rere sudah tidak kuat lagi menahan tawa. Badannya sampai terguncang-guncang di depan pintu. Penasaran dengan wajah cowok gokil di dalam, Rere akhirnya mengetuk pintu dengan normal.

"Mas, buka dong pintunya. Aku bukan tukang pijat beneran," kata Rere sambil tertawa.

Pintu kayu tua itu terbuka perlahan dengan bunyi berderit. Begitu pintu terbuka sempurna, Joko teronggong melihat sosok di depannya. Di hadapannya berdiri seorang mbak-mbak cantik berpakaian modis yang sedang tertawa sampai keluar air mata. Joko sempat mengira dia sedang berhalusinasi akibat kelaparan sore-sore.

"Lho, sampeyan siapa? Malah ketawa lagi," tanya Joko sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Maaf, Mas, maaf. Aku cuma iseng tadi jalan-jalan dari rumah simbah di depan. Habisnya dusun ini sepi banget," kata Rere sambil menyeka air matanya. "Tapi jawaban Mas tadi beneran bikin sakit perut. Gak duuwe duit blas ya, Mas?"

Joko yang sadar dirinya baru saja dikerjai oleh gadis cantik langsung memasang muka lempeng tanpa dosa.

"Wah, Mbak, kalau tahu yang nawarin pijat secantik sampeyan, biarpun gak duuwe duit blas, minimal aku berani ngutang dulu lah ke warung sebelah buat bayar jasanya," sahut Joko tangkas.

Rere kembali tertawa terbahak-bahak mendengar kepolosan dan kegokilan Joko. Sore itu, keisengan di Dusun Wates tidak berakhir dengan kemarahan, melainkan pertemanan baru yang berawal dari dompet yang kosong melompong.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menjaga Pelita di Tengah Badai: Panduan Merawat Kebenaran dan Integritas bagi Pewarta Kristiani

  Menjaga Pelita di Tengah Badai: Panduan Merawat Kebenaran dan Integritas bagi Pewarta Kristiani Di era digital yang penuh arus informasi...