Kamis, 16 Agustus 2012

KI ANOM SUROTO:AMARTO BINANGUN, SENO NUGROHO:PANDOWO MBANGUN



Kembali PPW Jatim kali ini sharing Audio MP3 Wayang Kulit dengan Lakon Amarto Binangun yang dibawakan dalang Ki Anom Suroto.



Bagaimana Kisah lengkapnya ?
silahkan download link dibawah ini :



Kembali sharing dari koleksi bapak Sugiran Aulia audio MP3 wayang kulit dengan lakon Pandowo mbangun dengan dalang Ki Seno Nugroho.
 SENO NUGROHO: PANDAWO MBANGUN
PPW Jatim telah selesai menconvertnya menjadi Audio MP3
dibawah ini link audionya :

Film Soegijapranata Sarat Nilai Kebangsaan]


Film Soegijapranata Sarat Nilai Kebangsaan]





Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) menggelar acara nonton bareng film Soegija yang diputar secara serentak di berbagai bioskop di Jakarta maupun di kota lain, di beberapa daerah, Kamis (7/6).   

Film yang mengisahkan pelayanan iman dan perjuangan kemerdekaan Indonesia oleh Uskup Mgr Albertus Soegijapranata SJ ini sarat dengan nilai kebangsaan yang diharapkan dapat diteladani para pemimpin bangsa ini.   


Dari sekitar 169 penonton yang hadir, di antaranya pimpinan atau perwakilan Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU), Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI), Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi), Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin), Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), dan Nasinapati Institute. 

Sejumlah politisi, anggota partai dan lembaga tinggi negara, cendikiawan, profesional juga bergabung dalam acara Nonton Soegija Bareng ISKA ini.   

Ketua Presidium Pusat ISKA Muliawan Margadana sekaligus main host acara ini, mengatakan, ada dua hal yang disampaikan melalui pemutaran film ini, yakni pertama, ingin meneruskan semangat kebhinnekaan, pluralisme, dan nasionalisme Indonesia yang dihayati Uskup Soegijapranata dalam film ini. 

Kedua
, mencerminkan spirit dasar organisasi ISKA, yakni solidaritas tanpa sekat.   

Menurutnya, setidaknya ada empat teladan utama dari Uskup Soegija yang bisa kita petik, yakni satu kata dan tindakan, kepemimpinan yang mengutamakan kepentingan nasional, kepentingan agama dan negara yang dapat saling mengisi. Juga yang paling penting adalah agama itu membangun, bukan sebaliknya merusak.      

Muliaman berpendapat, nasionalisme Soegija dan kecintaannya pada Indonesia, tercermin dengan kuat melalui semboyannya yang masyur,  yakni 100 % Katolik,100% Indonesia.   



Hal ini mendorong agar spirit kebhinnekaan dan upaya solidaritas tanpa sekat sungguh-sungguh perlu dihadirkan tatkala Indonesia kian sering dilanda konflik horizontal, sementara peran negara dalam membangun spirit keindonesiaan terus melemah. 

Hilangnya nilai-nilai tradisional, seperti gotong royong dan toleransi lantaran radikalisme menyebabkan orang bekerja untuk kepentingan golongannya sendiri maupun pribadi.   

“Karena itu kami ingin mendorong publik , dan kami para cendikiawan sendiri ingin belajar,  merenungkan kembali spirit keindonesiaan melalui film ini. Soegija bukan milik kaum Katolik saja, melainkan milik Indonesia,” kata Muliawan di sela-sela acara tersebut.   

Film Soegija disutradarai Garin Nugroho. Dalam karyanya ini, Garin menyampaikan dan melukiskan pesan universal, bahwa perang dan penjajahan di mana-mana pasti menghancurkan kemanusiaan. Keluarga tercerai berai, kemiskinan dan kelaparan menghempaskan manusia, kekerasan berlangsung tanpa pandang bulu, bahkan juga menimpa mereka yang menindas.   

Romo Kanjeng Soegija yang pernah menjadi Uskup Agung Semarang  di sini menyerukan perdamaian di bumi dan kemerdekaan bangsa serta manusia dari penjajahan maupun penindasan. 

Menonton film, kata Muliaman  adalah proses pembelajaran bagi semua kalangan bahwa semua komponen adalah bagian integral republik ini, tidak ada satu kelompok pun yang bisa mengklaim diri paling berjasa terhadap kemerdekaan Indonesia. Sebab, Indonesia dibangun karena kesamaan cita-cita di atas kebhinnekaan, bukan cita-cita etnik, suku dan agama tertentu. 

Sosok paling kuat dari Pahlawan Nasional ini adalah kesederhanaan. Uskup yang lahir di Surakarta 25 November 1896 dan wafat di Stevl, Venlo, Belanda 22 Juli 1963 itu tidak pernah memunculkan cirinya sebagai pemimpin yang harus ditakuti atau dihormati. Ini perlu diteladani manakala bangsa  ini sedang miskin akan pemimpin yang memberi teladan kesederhanaan.   

Oase 

Bagi Ketua Umum ISNU Ali Masykur Musa, Uskup Soegija adalah sosok yang tidak pernah mendikhotomikan antara agama dan bangsa.   Cara pandang seperti ini yang diajarkan Soegija untuk menjadi dasar orang melihat hubungan negara dan agama sebagai mutual simbiosis.  Keteladanan Soegija adalah oase di tengah kekeringan nilai dalam kehidupan bangsa.   

Oase seperti inilah yang perlu dilenterakan oleh pejabat, generasi muda dan tokoh agama dalam rangka menumbuhkan kenegarawanan yang tidak membedakan agama, etnik  atau golongan.   

Keteladanan  lain dari sosok Soegija ini adalah menumbuhkan humanisme sebagai esensi perjuangan keagamaan. Agama akan menjadi dangkal manakala tidak membentuk kepentingan kemanusiaan. Seperti Gus Dur, Soegija  selalu mengembangkan humanisme di dalam perjuangannya.   

“Dan inilah yang hilang saat ini setelah tokoh- tokoh ini tiada. Butuh tokoh-tokoh baru yang bisa mengembangkan aspek humanisme di dalam perjuangan,” katanya.   

Film Soegija diputar secara serentak mulai Kamis (7/6) di sejumlah bioskop di Tanah Air dan dipadati penonton. Di Bioskop 21 Depok Tower Square (Detos), Depok, Jawa Barat misalnya, film ini diputar empat kali, yakni pukul 12.00, 15.00, 17.00, dan 21.30 dan semuanya penuh penonton.   

Umat Katolik Depok dari beberapa paroki secara khusus menyempatkan diri menonton film ini dengan didampingi para Pastor Paroki masing-masing. 

Pastor Paroki St Markus Depok II Timur Romo RD Antonius Dwi Haryanto bersama Frater Bertho misalnya sejak pagi hingga malam mendampingi umatnya menyaksikan film Soegija yang sarat nilai ini. 

Menurut Romo Antonius, film ini sangat luar biasa memberikan pelajaran dan pengalaman bagi semua orang. Menurutnya, film Uskup Soegio di satu sisi menguatkan iman Katolik, di sisi lain juga menanamkan dan menguatkan semangat nasionalisme dan patriotisme.   

Kesan serupa juga diungkapkan warga lainnya Leo Rewa. Menurut Leo, film ini memberi pelajaran untuk semua. Bisa untuk anak-anak tentang bagaimana memahami nilai-nilai agama, juga sekaligus memberikan pemahaman tentang sejarah perjuangan bangsa Indonesia dan untuk semua kalangan film ini memberikan pelajaran kemanusiaan dan kekeluargaan yang mendalam. [D-13/M-15]  

BLUJER BLOG: Koleksi 300 foto cewek seksi dan foto cewek cantik...

BLUJER BLOG: Koleksi 300 foto cewek seksi dan foto cewek cantik...: Sebagai laki laki normal pasti banyak yang ingin memiliki cewek yang seksi dan cantik tapi tidak semua laki-laki seperti itu. ada juga laki...

SELAMAT IDHUL FITRI


SELAMAT IDHUL FITRI




Selamat hari raya Idhul Fitri bagi semua pembaca blog saya -yang merayakannya. Mohon maaf atas segala kekilafan dan kesalahan saya,- demikian juga saya memafkan semua kesalahan yang anda perbuat-, semoga kita saling     membukakan pintu maaf yang seluas-luasnya . Dan tentu Allah sendiri yang mengampuni segala dosa dan kekurangan kita.



Kita sadari bersama kiranya kita sebagai manusia, sangat pasti banyak kekurangan, kekilafan, sangat pasti tidak bisa menyenangkan semua orang; sangat pasti dalam tutur kata, tindakan sehari-hari baik dalam tugas-tugas kita masing-masing, pergaulan, relasi dengan teman-teman, pimpinan, perjumpaan di jalan, di tempat-tempat umum, tempat ibadah, dan seterusnya, tidak jarang tanpa sengaja melukai orang-orang yang kita jumpai itu.

Karena itu sekali lagi Mohon maaf atas segala kekurangan dan kesalahan saya.  


Mari kita ambil spirit baru dari momen ini untuk meningkatkan kwalitas diri, agar hidup ini lebih banyak lagi memberi manfaat bagi kehidupan ini melalui talenta/bakat/kemampuan yang kita miliki masing-masing lewat bidang-bidang yang kita geluti.

Jakarta, 16 Agustus 2012

Jumat, 10 Agustus 2012

MAGELANG, JATENG: Satu Emas dan Lima Perak Bagi Imam Projo KAS - Hidup Katolik

MAGELANG, JATENG: Satu Emas dan Lima Perak Bagi Imam Projo KAS - Hidup Katolik

MAGELANG, JATENG: Satu Emas dan Lima Perak Bagi Imam Projo KAS - Hidup Katolik

MAGELANG, JATENG: Satu Emas dan Lima Perak Bagi Imam Projo KAS - Hidup Katolik

The Book’s Hunter

The Book’s Hunter

                                             

 Menyambangi kampus tempat 7,5 tahun menempa diri, hadirkan suasana tersendiri. Kampus sederhana yang telah melahirkan banyak orang-orang kreatif. Sapaan adik-adik kelas yang dulu masih bertemu di tahun-tahun akhir sebelum wisuda dan obrolan singkat dengan 2 pejabat teras fakultas Dr. Mukhtasar (Dekan) dan Dr. Arqom Kuswanjono (Wakil Dekan I) menjadi teman pengusir sepi.

Lalu lalang mobil yang memasuki parkiran fakultas Filsafat UGM, memunculkan harap kedatangan tamu dari Jakarta yang sudah janji ketemuan hari ini. Bukannya turun dari mobil berplat B, tapi seorang yang berjalan santai ke arah perpustakaan ternyata adalah orang yang ditunggu-tunggu.

Tampilannya sederhana. Berbatik dengan bawahan celana dasar. Wajahnya lusuh, rambutnya putih dipenuhi uban, tapi matanya penuh gairah. Perkenalan awal sambil menyebutkan nama sudah cukup menjadi pemicu mengalirnya cerita. Seminggu yang lalu bapak tua yang sedang berada di hadapanku menelpon dengan nomor telepon Jakarta untuk memesan buku “Manusia Minangkabau” untuk dikirim ke Amerika Serikat dan Australia.

Namanya Goris. Singkatan dari nama baptis Georgerius. Setelah menamatkan sarjana di seminari terbesar di Indonesia Flores NTT, beliau merantau ke Jakarta. Awalnya bekerja pada seorang Romo dengan tugas melakukan editan naskah berbahasa Jerman.

Tuntutan biaya hidup yang tinggi di Jakarta, membuatnya harus mencari pekerjaan dengan salary lebih. Lamaran dimasukkan ke Penerbit Yayasan Obor dan Harian Suara Karya. Keduanya lolos dan bisa dijalani bersamaan. Menjadi editor dari pagi sampai sore. Jadi wartawan kantoran dari 4 sore sampai 9 malam.

Selama 3 tahun menekuni 2 pekerjaan itu telah membuat Pak Goris berkenalan dengan banyak peneliti luar negeri yang mengurus penerbitan buku di Yayasan Obor dan membangun jaringan  pertemanan para kuli tinta. Seringkali peneliti-peneliti asing itu meminta tolong kepadanya untuk mencari naskah-naskah langka yang tidak beredar di pasaran. Lewat bantuan kawan-kawan wartawan dari berbagai penjuru daerah, ia hampir selalu berhasil memenuhi pesanan peneliti-peneliti asing itu. Awalnya hanya kerja sambilan di tengah kesibukan utama sebagai editor dan wartawan kantoran.

Merasa jenuh terus menjadi anak buah orang, Pak Goris memutuskan berhenti dan bilang mau buka usaha sendiri. Ketika niat itu diutarakan kepada teman-teman sekampung yang juga berjuang hidup di Jakarta, mereka pada ketawa. “Hi Goris. Kita ini orang Flores. Sudah terbiasa jadi anak buah orang. Sekarang kau berpikir mau jadi pengusaha. Tak normal kau ini.” Tapi cemoohan itu dianggap angin lalu saja.

Kalau dibanding-bandingkan, gaji sebagai editor dan wartawan kalah dengan kerja sela-sela waktu membantu peneliti asing mencari naskah-naskah langka. Bulatlah tekadnya bantir stir. Berbagai kota di Jawa, Sumatera dan Sulawesi disabangi untuk mendapatkan naskah atau rekaman suara yang diorder oleh kolega luar negeri. Dari naskah-naskah pesantren, buku-buku dosen proyek inpres, jurnal-jurnal universitas, pidato-pidato bupati, sampai rekaman ceramah dan kuliah. Dan kebanyakan semua itu sangat sulit ditemukan di pasaran.

Meski seorang penganut Katolik, Pak Goris ternyata cukup melek dengan wacana negara Islam di Indonesia. Suatu hari seorang peneliti  asing mengatakan kepadanya, “Salah satu penolak gagasan negara Islam di Indonesia adalah kalangan pesantren. Meskipun sangat didominasi pengaruh Kiyai, pesantren tetaplah lembaga yang memberi ruang kebebasan berpikir. Lihatlah pelajaran mantiq yang sampai hari ini masih menjadi kurikulum wajib. Mereka tidak suka dengan wacana negara Islam karena berpotensi memberangus kebebasan berpikir yang mereka rasakan sampai saat ini.”

Para peneliti asing berani membeli mahal naskah-naskah dari Pak Goris karena selain sangat penting untuk riset, juga didorong oleh cara berpikir futuristik. Barang-barang arkeologis saat ini menjadi barang antik yang rela dibeli ratusan juta oleh kolektor. Dengan logika yang sama, naskah-naskah yang hari ini tak diacuhkan sama sekali, 50 atau 100 tahun yang akan datang akan menjadi barang langka yang nilainya tak terkira. Karena akan menjadi kunci menguak sejarah pemikiran suatu bangsa.

Jogja adalah kota favorit Pak Goris. Selain istrinya adalah orang Jogja, ketersediaan naskah-naskah akademik unik yang melimpah membuatnya sering bolak-bolak mengunjungi kota ini. Kereta Senja Malam Solo menjadi teman pengantar setianya. Selain memborong buku “Manusia Minangkabau” milikku, Pak Goris memperlihatkan koleksi lain yang didapatkannya 2 hari ini di Jogja.

  Ada kumpulan puisi penulis-penulis pemula mahasiswa sastra UGM, dan beberapa jurnal yang diterbitkan oleh universitas di Jogja. Yang menarik adalah buletin mahasiswa UIN Sunan Kalijaga turut masuk tas beliau. Katanya, di luar negeri “naskah-naskah ecek-ecek” kek gini jadi bahan penelitian menarik dan punya daya jual tinggi.

Semakin tua omzetnya semakin naik. Begitulah penuturan Pak Goris kepadaku. Meski usianya sudah 63 tahun, ia belum terpikir untuk pensiun.
Terima kasih Pak Goris atas pertemuan yang telah membuka cakrawala baru tentang ruang-ruang misteri perbukuan yang selama ini  gelap bagiku…

Serat Tuntunan Padalangan Irawan Rabi jilid 1

Serat Tuntunan Padalangan Irawan Rabi jilid 1.

 

Buku pedalangan klasik gagrag Surakarta gaya 1950an yang patut dibaca oleh penggemar pakeliran wayang kulit purwa adalah :
(Ingkang ngimpun) M. Ng. Najawirangka al. Atmatjendana, Guru pasinaon padalangan paheman Radyapustaka, utawi kasenian Kraton ing Surakarta,“ Serat Tuntunan Padalangan Tjaking Pakeliran Lampahan Irawan Rabi “ , Jogjakarta : (ingkang ngedalaken) Tjabang Bagian Bahasa Jogjakarta, Djawatan Kebudajaan, Kementerian P. P. Dan K, 1958 (tjap-tjapan ingkang kaping II). Jilid I = 85 halaman, jilid II = 77 halaman, bahasa Jawa pedalangan.

Mas Prabu sudah menampilkan yang jilid 3 dan 4. Berikut ini disajikan yang jilid 1 :

‘Ebook’ jilid 1 bisa ditemui dan diunduh di internet :
Selamat membaca.

Meniti Jembatan Iman: Ruang Imajinasi, Pengharapan, dan Praktis Hidup di Tengah Arus Zaman

  Meniti Jembatan Iman: Ruang Imajinasi, Pengharapan, dan Praktis Hidup di Tengah Arus Zaman   Pengantar Agama dan keyakinan bukan sek...