Gema Merdeka: Dari Borobudur Baru hingga
Ibu Kota Baru
Fajar '45 merobek malam yang kelam,
letupan asa menembus cakrawala.
Sukarno berdiri di singgasana sejarah,
suaranya menggelegar, membangun mercusuar jiwa,
menegakkan panji di panggung dunia.
Di bawah derap revolusi yang membara,
pondasi pertiwi ditegakkan dengan peluh dan darah.
Tiga puluh dua tahun, tirai berganti tangan,
tangan besi yang mengukur setiap jengkal makmur.
Suharto memburu swasembada di atas hamparan subur,
desa bersolek, kota menderu menembus lembur.
Namun kemakmuran berpagar besi,
membungkam suara dalam sendu,
menyisakan lara di balik megahnya tugu.
Badai reformasi menderu tanpa ampun,
meruntuhkan singgasana yang jenuh.
Habibie hadir membawa angin sejuk,
membuka kran kebebasan di udara yang keruh.
Gus Dur melangkah membawa lentera damai,
merangkul semesta tanpa gaduh.
Megawati berdiri tegak, menjahit robekan jubah pertiwi,
menyalakan tunas demokrasi di bumi yang riuh.
Sepuluh tahun SBY merajut tenang,
menjaga stabilitas dalam kendali hati-hati.
Bantuan menyapa pelosok sunyi,
menyeka air mata kaum tersisih nyeri.
Meski bayang nestapa belum sepenuhnya pergi,
asa tetap disiram di bumi pertiwi.
Sepuluh tahun Jokowi menenun pulau-pulau,
jalan tol membelah bukit, merajut nusantara.
IKN berdiri sebagai poros baru,
memindah titik gravitasi mimpi dan rindu.
Namun jurang ketimpangan tetap menanti,
menagih janji keadilan yang abadi.
Kini estafet beralih di lembaran baru,
pangan dan gizi anak bangsa dijaga sepenuh hati.
Memperkokoh kedaulatan, menghalau resah di sanubari.
Sebab kemerdekaan bukan sekadar upacara fana,
ia adalah peluh petani, keringat buruh, dan doa yang merata.
Menuju Indonesia Emas,
tempat keadilan dan sejahtera bersemi selamanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar