Kamis, 13 Agustus 2026

Dari Bung KARNO hingga Pak Prabowo

 

Dari Bung KARNO hingga Pak Prabowo

Fajar 45 memecah malam yang kelam dengan letupan asa yang tak terkira,
Sukarno berdiri di atas mimbar sejarah, suaranya menggelegar merobek alam raya,
Membangun monumen-monumen megah dan mercusuar jiwa untuk membakar semangat yang terpendam lama,
Politik mercusuar ditegakkan tinggi, membawa bangsa ini melangkah gagah ke panggung dunia.
Di bawah derap revolusi, gelora sosial bergejolak hebat, mendamba daulat yang belum sepenuhnya padam,
Pondasi awal kebangsaan diletakkan dengan peluh dan darah di atas tanah pertiwi yang hitam.

 

Lalu datanglah tiga puluh dua tahun babak baru di bawah kendali tangan besi yang terukur,
Suharto memimpin dengan ambisi swasembada pangan yang memburu setiap jengkal makmur,
Wajah desa berubah drastis, sementara gedung-gedung tinggi di kota menderu menembus lembur,
Infrastruktur membentang luas, jalan tol dan bendungan raksasa mengalirkan air dan angan yang lebur.
Namun kemakmuran itu berpagar besi, membuat suara rakyat kecil terbungkam dan membisu dalam sendu,
Ketimpangan sosial merayap pelan di balik senyum pembangunan, menyisakan luka sejarah yang begitu pilu.

Badai reformasi menerjang tanpa ampun, meruntuhkan tirai kekuasaan lama yang telah rapuh dan jenuh,
Habibie datang di tengah masa transisi yang limbung, membawa angin sejuk dan langkah yang teguh,
Membuka kran kebebasan seluas-luasnya, agar udara politik tak lagi pekat dan keruh.
Gus Dur melangkah dengan lentera keberagaman yang utuh, merangkul setiap perbedaan tanpa gaduh,
Megawati berdiri tegak menjahit kembali robekan-robekan bangsa agar hukum dan tatanan kembali patuh.
Wajah sosial berganti rupa secara perlahan, tunas-tunas demokrasi mulai bertumbuh di bumi yang gaduh.

Sepuluh tahun kepemimpinan SBY membawa ketenangan dan stabilitas yang lama dinanti,
Roda ekonomi tumbuh stabil, dinamika politik terjaga rapi dalam kendali yang hati-hati,
Bantuan sosial mengalir ke pelosok desa, mencoba menyeka air mata di pipi kaum yang tersisih nyeri.
Pembangunan infrastruktur dilanjutkan kembali, asa kemakmuran ditanam dan disiram di bumi pertiwi,
Meski bayang-bayang kemiskinan dan ketertinggalan masih setia menjadi ujian yang mengikuti.

Berganti nakhoda, sepuluh tahun era Jokowi berbakti menenun pulau-pulau dalam satu koneksi,
Jalan-jalan tol membelah bukit dan pulau, pelabuhan serta bandara merajut nusantara penuh ambisi,
Ibu Kota Nusantara (IKN) berdiri sebagai poros baru, memindahkan titik pusat mimpi dan gravitasi.
Infrastruktur melesat tanpa henti, daerah pinggiran dan terluar kini tak lagi merasa sepi.
Namun jurang ketimpangan masih menguji, perbedaan si kaya dan si miskin terus menuntut solusi,
Keadilan sosial yang sejati masih terus dicari, ditagih oleh janji-janji reformasi yang belum mati.

Kini lembaran baru berjalan, kepemimpinan melanjutkan estafet di bumi pertiwi,
Ketahanan pangan dan perbaikan gizi anak bangsa menjadi fokus utama yang diuji setiap hari,
Memperkuat fondasi negeri agar tak mudah goyah oleh badai krisis yang mengitari.
Politik merangkul dihadirkan, memperkokoh pertahanan nasional demi menjaga kedaulatan diri,
Menatap masa depan dengan ikhtiar nyata, menghalau sepi dan resah di hati rakyat kecil ini.

Kemerdekaan ini bukanlah sekadar angka tahunan atau upacara seremonial yang fana,
Ia adalah tetesan keringat buruh di pabrik, peluh petani di sawah, dan kobaran asa yang menyala,
Harapan luhur rakyat terus mengangkasa menembus cakrawala langit nusantara:
Agar kemiskinan benar-benar terhapus, agar ketimpangan tiada lagi bersuara duka,
Menuju Indonesia Emas yang benar-benar makmur, adil, merata, dan sejahtera.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Siklus Waktu dan Bayang-Bayang Krisis: Mengapa Sejarah Selalu Berulang?

  Siklus Waktu dan Bayang-Bayang Krisis: Mengapa Sejarah Selalu Berulang? Krisis ekonomi global sering datang seperti tamu tak diundang na...