Mencari Pemimpin Sejati
* Joni Welman Simatupang
Bung Karno pernah berkata, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa pahlawannya.” Belakangan populer dengan istilah “Jasmerah” (jangan sekali-kali melupakan sejarah).
PUTRA KARANGANYAR: MENCARI KEBAIKAN MENUJU KESEMPURNAAN HIDUP (mersudi becik,nggayuh sampurnaning urip). "dengan ilmu hidup menjadi mudah,dengan iman hidup semakin terarah, dengan berkebudayaan peradaban makin manusiawi dan membawa kebaikan bersama: satu bumi,satu nasib_kehidupan yang kita jalani=
KATEKESE POLITIK: REALISTISKAH?
YR.
Edy Purwanto, Pr
Pengantar
Katekese (dari ‘katekeo’: mengajar secara lisan, memberitahu; Yunani) dianggap
oleh Gereja sebagai salah satu tugasnya yang terpenting (Yohanes Paulus II) dan
berdasarkan penugasan Kristus kepada para Rasul dan pengganti-pengganti mereka
“mengajar segala bangsa melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan
kepadamu” (Matius 28:20).
Gereja
menjalankan tugas ini dalam pewartaan umum dan dalam katekese (A. Heuken SJ,
dalam Ensiklopedi Gereja, jilid 4, hlm. 46, CLC Jakarta 2005). Dalam Nomor 13
“Catechesi Tradendae” (Paus Paulus VI, 1977) dikatakan: “Katekese erat
hubungannya dengan seluruh hidup Gereja. Bukan hanya penyebarluasan Gereja
secara geografis dan pertumbuhannya, melainkan juga dan bahkan terutama
perkembangan rohani umat sesuai dengan rencana ilahi, sangat tergantung dari
katekese”.
Pernyataan Bapa Suci tersebut dapat dijadikan titik tolak memahami katekese
dalam artinya yang sempit, luas dan sangat luas.
Dalam arti
sempit, tugas katekese adalah mengupayakan perkembangan rohani umat khususnya
anggota baru Gereja. Usaha penerusan iman kepada anggota baru Gereja ini
merupakan tugas paling lazim dari katekese itu.
Dalam arti luas dan sangat luas, katekese dapat digambarkan sebagai kegiatan
berikut:
(1) membuat
orang memahami sabda Allah, yaitu Kitab Suci, dan mengikuti Yesus Kristus, yang
adalah Sabda Allah yang hidup di dalam Gereja dan memimpinnya;
(2) membuat
orang sanggup ikut merayakan ibadat Gereja, khususnya Ekaristi dan
Sakramen-sakramen lain; dan
(3) membantu
orang mengamalkan iman dalam kehidupan pribadi dan kemasyarakatan.
Pada pokok ketiga dari tujuan kegiatan katekese inilah katekese politik
mendapatkan tempat untuk berpijak bahwa cita-cita itu mungkin dan bukan
merupakan ide liar yang “ngoyo-woro” (mengada-ada atau diada-adakan). Hal itu
menjadi kian mendesak dan relevan di tengah hingar-bingarnya masalah
perpolitikan di Negara Indonesia ini.
A.Panggilan Awam Untuk Merasul
1.Dasar Panggilan Untuk Merasul
Semua awam, yang terhimpun sebagai umat Allah dan berada dalam satu Tubuh
Kristus di bawah satu kepala, tanpa kecuali dipanggil untuk menyumbangkan segenap
tenaga, yang mereka terima berkat kebaikan Sang Pencipta dan rahmat Sang
Penebus demi perkembangan Gereja serta pengudusannya terus-menerus. Berkat
Sakramen baptis dan krisma (penguatan),yang telah diterimanya semua orang
ditugaskan oleh Tuhan sendiri untuk kerasulan itu. Kaum awam dipanggil untuk
menghadirkan dan mengaktifkan Gereja di tempat dimana mereka berada (bdk. LG
33).
Secara lebih terinci, dekrit tentang Kerasulan Awam
(Apostolicam Actuositatem) nomor 6 menguraikan tentang panggilan kerasulan yang
harus diemban oleh kaum awam sebagai memiliki tujuan berikut:
a. Mewartakan Injil
Memaparkan
warta tentang Kristus kepada dunia dengan kata-kata (verbal) maupun dengan
perbuatan (non-verbal), dan untuk menyalurkan rahmat-Nya. Pewartaan dengan
kata-kata menjadi penting.
Bagi yang tidak/belum beriman pewartaan itu berperan
mengantar mereka kepada iman; sedang bagi mereka yang sudah beriman pewartaan
itu berfungsi mengajar dan meneguhkan serta mengajak dan menyemangati mereka
untuk hidup dengan semangat yang lebih besar.
b. Manusia Menyucikan Umat
Penyucian umat manusia ini lebih berhubungan dengan masalah-masalah yang
dihadapi oleh umat manusia zaman ini: kesesatan-kesesatan yang menghancurkan
agama, yang mengacaukan tata kesusilaan, dan yang memporak-porandakan
bangunan/tata susunan masyarakat.
c. Pembaruan Tata Dunia
Kaum awam wajib menerima pembaruan tata dunia sebagai tugasnya yang khusus, dan
dibimbing oleh cahaya Injil dan maksud-maksud Gereja serta didorong oleh kasih
kristiani bertindak langsung dan mengupayakan agar tata dunia ini diperbarui
terus-menerus.
d. Menjalankan Amal Kasih
Amal kasih yang merupakan bukti nyata dari karya menyucikan dunia harus
ditingkatkan guna menjawab kebutuhan manusia yang paling elementer atau
dasariah: makanan, minuman, pakaian, perumahan, obat-obatan, pekerjaan,
pendidikan, sarana ibadah, dll.
Karena kaum awam mengemban tugas perutusan Gereja
dengan cara mereka sendiri, dengan ciri istimewa dari sifat sekuler (keduniaan)
serta corak hidup rohani yang khas bagi status awam, maka pembinaan kerasulan
awam dititik-beratkan pada hal-hal sebagai berikut (bdk. AA 29):
a). Pembinaan manusiawi yang utuh.
Pembinaan ini harus disesuaikan dengan watak-perangai
serta situasi-situasi masing-masing. Sebab seorang awam, yang mengenal dunia
zaman sekarang dengan baik, harus menjadi anggota yang sungguh berintegrasi
dalam masyarakat serta kebudayaan sendiri.
b).Pembinaan rohani yang mendalam.
Hal ini menjadi penting karena seorang awam hendaknya
pertama-tama belajar menjalankan perutusan Kristus dan Gereja, dengan hidup
dari iman akan misteri ilahi penciptaan dan penebusan, lagi pula digerakkan
oleh Roh Kudus yang menghidupkan Umat Allah, dan yang mendorong semua orang
untuk mencintai Allah Bapa dan dunia serta orang-orang dalam Dia.
Pembinaan itu harus dipandang sebagai dasar dan syarat
setiap kerasulan yang subur.
c) Pendidikan pengetahuan yang tangguh.
Pembinaan di
bidang ini meliputi bidang teologi, etika dan filsafat, sesuai dengan usia,
situasi hidup dan bakat-kemampuan yang bermacam-macam. Lagi pula janganlah
diabaikan pentingnya tingkat hidup budaya yang umum beserta pendidikan praktis
dan teknis.
d) Pembinaan berkomunikasi yang baik.
Untuk
memelihara hubungan-hubungan antar-manusia yang baik perlulah nilai-nilai
sungguh manusiawi dikembangkan, terutama seni bergaul dan bekerja sama secara
persaudaraan, dan mengadakan dialog.
e) Pembinaan iman yang mendalam.
Pembinaan untuk kerasulan tidak dapat hanya terdiri
dari pengajaran teoritis melulu. Hendaknya awam setapak demi setapak dan dengan
bijaksana, belajar memandang, menilai serta menjalankan segalanya dalam cahaya
iman, melalui kegiatannya membina serta menyempurnakan diri bersama orang-orang
lain, dan dengan demikian secara aktif memulai pengabdiannya kepada Gereja.
Pembinaan itu selalu disempurnakan, karena pribadi manusia semakin menjadi
dewasa dan karena perkembangan masalah-persoalan, dan menuntut mutu pengetahuan
yang semakin tinggi serta kegiatan yang menanggapi situasi.
2.Dasar Panggilan Untuk Merasul di Bidang
Politik
Kutipan dari dekrit tentang Kerasulan Awam nomor 14 ini menjadi salah satu
dasar utama bagi umat Katolik (khususnya kaum awam) untuk memberikan perhatian
besar pada kerasulan politik di masyarakat.
“Terdorong oleh cinta akan bangsanya dan
oleh rasa tanggungjawab akan tugas-tugas sebagai warga negara, orang Katolik
harus merasa dirinya bertanggungjawab untuk memajukan kesejahteraan bersama
dalam arti kata yang sebenarnya.
Mereka berusaha memperbesar pengaruh mereka,
supaya perundang-undangan sejalan dengan hukum-hukum kesusilaan dan dengan
kesejahteraan bersama”.
Dasar tersebut masih bisa dilengkapi dengan seruan
sebagaimana disampaikan oleh para Bapa Konsili Vatikan II melalui Konstitusi
Pastoral tentang Gereja Dalam Dunia Dewasa Ini (Gaudium et Spes) nomor 75
berikut ini:
”Hendaknya diselenggarakan secara intensif
pembinaan kewarganegaraan dan politik, yang sekarang ini perlu sekali bagi
masyarakat dan terutama bagi generasi muda, supaya semua warganegara mampu
memainkan peranannya dalam hidup bernegara.
Mereka yang cakap atau berbakat hendaknya
menyiapkan diri untuk mencapai keahlian politik, yang sukar sekaligus amat
luhur, dan berusaha mengamalkannya, tanpa memperhitungkan kepentingan pribadi
atau keuntungan materiil”.
Dari dua kutipan di atas menjadi jelas bahwa panggilan
awam Katolik untuk terlibat di dalam bidang politik memiliki dasarnya yang
kuat. Keterlibatan itu hendaknya dilaksanakan karena dua alasan pokok:
pertama, terdorong oleh cinta akan bangsanya dan oleh
rasa tanggungjawab akan tugas-tugas sebagai warga negara untuk memajukan
kesejahteraan bersama (bonum publicum).
Kedua,
mengabdikan kecakapan dan bakatnya untuk berpolitik tanpa memperhitungkan
kepentingan pribadi atau keuntungan materiil bagi terwujudnya kesejahteraan
umum (bonum commune).
Kutipan ini pantas direnungkan secara lebih mendalam
oleh kaum awam Katolik:
”Hendaknya orang-orang Katolik, yang mahir di
bidang politik, dan sebagaimana wajarnya berdiri teguh dalam iman serta ajaran
kristiani, jangan menolak untuk menjalankan urusan-urusan umum” (AA 14).
Awam Katolik yang memiliki keahlian khusus di bidang
politik didorong untuk ikut aktif dalam pergulatan politik praktis, sehingga
mereka dapat menjadi garam dan terang bagi bidang kehidupan tersebut.
3.Mengapa Keterlibatan di Bidang Politik
Menjadi Kian Penting?
Keterlibatan Gereja (khususnya awam Katolik) dalam bidang politik menjadi kian
penting karena adanya masalah serius yang kita hadapi bersama sebagai bangsa,
yaitu persoalan rusaknya keadaban publik (public civility).
Salah satu kunci yang bisa digunakan untuk membuka
pintu keruwetan bangsa sekarang ini adalah perbaikan di bidang politik.
Hanya kemauan politik yang baik (political will),
khususnya yang dijalankan secara konsekuen oleh pemerintah, maka
masalah-masalah bangsa yang dipotret oleh KWI melalui Nota Pastoral 2004 ”Keadaban
Publik: Menuju Habitus Baru Bangsa – Keadilan Sosial bagi Semua, Pendekatan
Sosio-Budaya” akan dapat diatasi/dipecahkan.
Problematik bangsa itu dideskripsikan dengan sangat
bagus sebagai berikut: ”hidup kita sekarang ini telah menjadi begitu
lemah, karena tidak ditata berdasarkan iman dan ajaran agama. Hidup tidak lagi
sesuai dengan nilai-nilai budaya dan cita-cita mulia kehidupan berbangsa. Hati
nurani tidak dipergunakan, perilaku tidak dipertanggungjawabkan kepada Allah
dan sesama.
Perilaku lebih dikendalikan oleh
perkara-perkara yang menarik indera dan menguntungkan sejauh perhitungan
materi, uang dan kedudukan di tengah masyarakat.
Dalam kehidupan bersama, terutama
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara manusia menjadi egoistik,
konsumeristik dan materialistik. Untuk memperoleh harta dan jabatan, orang
sampai hati mengorbankan kepentingan orang lain, sehingga martabat manusia
diabaikan. Uang menjadi terlalu menentukan jalannya kehidupan
Karena itu
Indonesia hampir selalu gagal untuk memiliki pemerintahan yang bersih dan baik.
Keadilan dan hukum tidak dapat ditegakkan, korupsi merajalela, penyelenggara
negara memboroskan uang rakyat. Semua itu membuat orang menjadi rakus dan
kerakusan itu merusak lingkungan hidup dan dengan demikian orang tidak
memikirkan masa depan” (NP KWI 2004, hlm 2-3).
Keterlibatan orang Katolik dalam dunia politik bangsa ini dilaksanakan bukan
sekedar dipacu oleh fenomena politik yang kini sedang dijadikan primadona dalam
hidup berbangsa dan bernegara, tetapi hendaknya didorong oleh kerinduan untuk
ambil bagian dalam menciptakan tata hidup politik yang dijiwai oleh semangat
serta nilai-nilai Injil demi terwujudnya kesejahteraan bersama.
Keterlibatan
dilakukan karena ingin menghadirkan habitus baru di bidang politik. Dan pilihan
itu diambil berdasarkan kesadaran sendiri akan tanggungjawab sebagai warga
negara dan kesadaran itu tumbuh karena penghayatan iman Katolik yang kian
mendalam.
B.Implikasi Bagi Pengembangan Katekese
Politik
1.Pembelajaran Politik Umat Katolik
Gereja Katolik senantiasa menyebutkan bahwa dirinya bukan suatu institusi atau
lembaga politik, walaupun peran dan kehadirannya memiliki muatan politis. Oleh
karena itu Gereja tidak pernah memiliki suatu program politik tertentu. Tataran
hidup Gereja ada di bidang moral dan iman.
Kedua bidang itu memiliki dimensi dan konsekuensi
politis. Namun demikian, politik yang dimaksud bukan politik kekuasaan,
sebagaimana digeluti oleh para politisi Katolik. Kalau toh suatu ketika Gereja
memberikan pernyataan yang memiliki dimensi politis, lingkupnya tetap ada dalam
bidang moral.
Pembelajaran politik umat Katolik
mempunyai beberapa praktis:
1) bagi mereka yang berminat terjun dalam politik
praktis dan memiliki kemampuan untuk berpolitik praktis; pembelajaran ini
dimaksudkan agar mereka semakin menyadari bahwa menjadi politisi adalah suatu
panggilan, yaitu panggilan untuk melayani sesama.
Melalui
pembelajaran bersama sangat diharapkan lahir politisi-politisi yang memiliki
integritas pribadi, yang tercermin dalam kompetensi dalam keterlibatan dan
moralitas diri yang solid, serta penggunaan kekuasaan yang dapat
dipertanggungjawabkan.
2) bagi umat pada umumnya, pempelajaran politik
dimaksudkan untuk semakin membangun dan menumbuhkan kesadaran atas tugas dan
panggilannya mencintai bangsa dan negaranya.
Demikian juga
agar umat semakin menyadari hak dan kewajibannya sebagai warga negara yang
baik.
Umat diharapkan semakin melek politik
supaya bisa ikut serta mengawal terwujudnya prinsip-prinsip politik berikut
ini:
(1) kebijakan
dan kegiatan politik harus menunjang kesejahteraan bersama seluruh rakyat, maka
yang bertentangan dengannya adalah jahat;
(2) politik harus dijalankan sebagai penghormatan
terhadap martabat setiap manusia dari rakyat yang membentuk negara itu, orang
tidak boleh dikorbankan demi kepentingan politik apa pun;
(3) politik harus dijauhkan dari praktek yang
diskriminatif baik atas dasar keyakinan agama dan kepercayaan, ras dan
keturunan, jenis kelamin dan status sosial, maupun keyakinan politik dan
ideologi, setiap warga bangsa berhak ambil bagian dalam perencanaan dan
penentuan kebijakan publik;
(4) politik harus semakin menyadarkan bahwa negara
bukan tujuan an sich melainkan hanyalah sarana untuk mencapai kesejahteraan
rakyat, maka masyarakat bersifat primer dan negara bersifat sekunder; oleh
karena itu kegiatan politik tidak boleh memperbudak lembaga-lembaga
kemasyarakatan yang berifat primer, seperti keluarga, organisasi kebudayaan dan
keagamaan, dll.
2.Pembelajaran Politik Mulai Usia Dini
Pembelajaran
politik sejak usia dini bisa dilakukan dengan beberapa cara:
(a)
memperkenalkan kepada anak-anak tokoh-tokoh dan pahlawan-pahlawan bangsa yang
memiliki dedikasi dan komitmen kuat dalam membela dan mengembangkan bangsanya;
(b) memperkenalkan pola-pola berpolitik yang sehat
dengan melakukan simulasi-simulasi kecil dan sederhana mengenai hidup berbangsa
dan bernegara serta pola-pola pelaksanaan politik praktis;
(c) membentuk kelompok basis di kalangan kaum muda
untuk mendiskusikan hal-hal yang menyangkut perkembangan problematik sosial
kemasyarakatan sehingga kaum muda kita tidak tertinggal dari kaum muda
komunitas agama lain;
(d) menerbitkan
buku-buku komik pendidikan nilai yang arahnya kepada pendidikan politik bagi
anak-anak.
3.Redefinisi Wawasan Kebangsaan
Semakin
mendesak untuk dilakukan perumusan ulang tentang konsep wawasan kebangsaan dan
pendidikan mengenai hal tersebut. Hal itu sangat penting karena krisis yang
dialami, khususunya di kalangan kaum muda, sangat kuat. Rasa ke-Indonesiaan
perlu digugah atau dibangunkan kembali.
Memudarnya rasa keindonesiaan terjadi karena pendangkalan dalam memaknai Sila
“Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”. Prof. Dr. M. Sastrapratedja SJ, menyatakan
bahwa pendangkalan ini menghambat—dan nyaris menghentikan—proses pemberadaban
(civilizing process) dalam diri bangsa kita. Penghambatan proses pemberadaban
ini menggerogoti kemampuan kita untuk mengatur perilaku, kemampuan
mengendalikan diri, dan kemampuan melawan diri sendiri.
Hilangnya
kemampuan mengendalikan dan mengatur diri bisa membuat kita membinasakan diri
sendiri
Menyikapi keprihatinan yang sangat mendalam itu maka
sangat mendesak proses penyegaran kembali wawasan kebangsaan di kalangan umat
Katolik khususnya dan masyarakat pada umumnya.
4.Keterlibatan Mendesak yang Harus
Dilakukan Gereja
Yang mendesak harus dilakukan Gereja Katolik Indonesia menyikapi kondisi bangsa
adalah:
(a) menguatkan
akar ideologi bangsa yaitu Pancasila;
(b) ambil
bagian untuk membenahi peradaban bangsa dengan mewujudkan habitus baru mulai
dari dalam Gereja sendiri.
Demikianlah beberapa catatan seputar perlunya
pendidikan politik dalam dan melalui katekese.
Semoga catatan
ini mengingatkan kita akan ungkapan tersohor dari Presiden Amerika ke-35 yaitu John
F. Kennedy pada pidato pelantikannya tanggal 20 Januari 1961: “Ask not
what your country can do for you – Ask what you can do for your country”
(Jangan bertanya apa yang dapat dikerjakan negaramu untukmu – Bertanyalah apa
yang dapat kamu kerjakan untuk negaramu).
Juga semangat Mgr. A. Soegijapranata SJ:
menjadi 100% Indonesia, 100% Katolik atau Seratus
Persen Warga Negara, Seratus Persen Warga Gereja. Ungkapan tersebut menegaskan
bahwa kekatolikan tidak hanya tidak pernah menghambat semangat nasionalisme,
melainkan menguatkannya.
Semoga dengan rangsangan itu kita menjadi semakin peduli pada upaya-upaya
pencerdasan dan pendewasaan politik umat.
Catatan Redaksi: Tulisan ini telah
dipresentasikan pada PKKI IX, 2008 di Manado. Pada saat itu penulis adalah
Sekretaris Komisi Kerawam – KWI.
Analisis Historis Masuk dan Berkembangnya Enam Agama di Jawa Pendahuluan Pulau Jawa secara historis merupakan episentrum politik, ...