Jumat, 28 Februari 2014

Kekecewaan yang Menjadi Kekuatan

Kekecewaan yang Menjadi Kekuatan


http://cara-mengatur-keuangan-keluarga.blogspot.com/2013/01/kekecewaan-yang-menjadi-kekuatan.html


Menuju kesuksesan atau hidup yang lebih baik, kegagalan pasti hadir. Kecewa karena gagal bisa Anda jadikan kekuatan melalui cara-cara menggunakan kekecewaan yang benar.


Bagi seorang pemenang, kekecewaan, kekalahan atau kegagalan memberi inspirasi kepada mereka untuk terus belajar dan take action sehingga mereka lebih baik dan lebih kuat. Bagi pecundang, kekecewaan, kekalahan atau kegagalan menghentikan mereka.

Mengutip John D. Rockefeller, “Saya selalu berusaha mengubah setiap bencana menjadi peluang.” Menurut ayah kaya Robert Kiyosaki, “ Hanya orang bodoh yang berharap semua berjalan sesuai dengan keinginannya.”


Siap untuk kecewa bukan berarti menjadi seorang pecundang yang kalah atau pasif. Dengan siap secara mental dan emosional serta finansial mempersiapkan diri menghadapi kejutan yang mungkin kita tidak inginkan maka kita bisa bertindak dengan tenang dan bijaksana ketika keadaan tidak sesuai dengan keinginan kita.


Dengan kata lain kita harus siap dengan kemungkinan terburuk dan selalu berjuang (termasuk dalam hal ini belajar, mempunyai impian) dengan konsisten dan persisten untuk mencapai yang terbaik.


Singkatnya, kita semua melakukan kesalahan. Kita semua merasa kesal dan kecewa ketika keadaan tidak sesuai keinginan kita. Namun perbedaannya terdapat pada cara kita memproses kekecewaan itu secara internal. Ayah kaya meringkasnya seperti ini. Ia berkata, “ukuran keberhasilanmu ditentukan oleh kekuatan hasratmu; besarnya mimpimu; dan caramu menghadapi kekecewaan selama perjalanan.”


Banyak orang yang menggunakan kekecewaannya seperti membangun tembok mengelilingi mereka sehingga mereka tidak berkembang lagi. Tetapi ada juga yang menggunakan kekecewaan sebagai pondasi atau batu pijakan untuk tumbuh menjadi lebih baik.


Bagaimana caranya menggunakan kekecewaan, kekalahan atau kegagalan menjadi kekuatan. Yaitu dengan menggunakan pertanyaan di bawah ini :


- Apa yang harus saya pelajari dari kejadian ini sehingga besok saya menjadi lebih baik?


- Saya harus belajar apa sedemikian sehingga bila menghadapi hal yang sama, saya akan jauh lebih berhasil?


- Siapa yang bisa membantu saya untuk menghadapi masalah yang sama sedemikian sehingga menjadi lebih mudah berhasil?


Semoga bermanfaat,





Tung Desem Waringin

Jangan Lupa Ribuan Orang Telah Membaca Artikel Berikut Ini

GUNAWAN MUHAMAD, PEMIKIR KEBUDAYAAN

Goenawan Mohamad
Author profile

born
in Batang, Pekalongan, Indonesia 
July 29, 1941

gender
male

website

twitter username

genre


About this author

Ia seorang jurnalis dan sastrawan yang kritis dan berwawasan luas. Tanpa lelah, ia memperjuangkan kebebasan berbicara dan berpikir melalui berbagai tulisan dan organisasi yang didirikan-nya. Tulisannya banyak mengangkat tema HAM, agama, demokrasi, korupsi, dan sebagainya. Seminggu sekali menulis kolom “Catatan Pinggir” di Majalah Tempo.

Pendiri dan mantan Pemimpin Redaksi Majalah Berita Tempo kelahiran Karangasem Batang, Pekalongan, Jawa Tengah, 29 Juli 1941, ini pada masa mudanya lebih dikenal sebagai seorang penyair. Ia ikut menandatangani Manifesto Kebudayaan 1964 yang mengakibatkannya dilarang menulis di berbagai media umum.

Ia juga pernah menjadi Nieman fellow di Universitas Harvard dan menerima penghargaan Louis Lyons Award untuk kategori Consience in Journalism dari Nieman Foundation, 1997. Secara teratur, selain menulis kolom Catatan Pinggir, ia juga menulis kolom untuk harian Mainichi Shimbun (Tokyo).

Ia menulis sejak berusia 17 tahun, dan dua tahun kemudian menerjemahkan puisi penyair wanita Amerika, Emily Dickinson. Sejak di kelas VI SD, ia mengaku menyenangi acara puisi siaran RRI. Kemudian, kakaknya yang dokter (Kartono Mohamad, mantan Ketua Umum PB IDI) ketika itu berlangganan majalah Kisah, asuhan H.B. Jassin. “Mbakyu saya juga ada yang menulis, entah di harian apa, di zaman Jepang,” tutur Goenawan.



Pada 1971, Goenawan bersama rekan-rekannya mendirikan Majalah Mingguan Tempo, sebuah majalah yang mengusung karakter jurnalisme majalah Time. Di sana ia banyak menulis kolom tentang agenda-agenda politik di Indonesia. Jiwa kritisnya membawanya untuk mengkritik rezim Soeharto yang pada waktu itu menekan pertumbuhan demokrasi di Indonesia. Tempo dianggap sebagai oposisi yang merugikan kepentingan pemerintah sehingga dihentikan penerbitannya pada 1994.

Goenawan Mohamad kemudian mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), asosiasi jurnalis independen pertama di Indonesia. Ia juga turut mendirikan Institut Studi Arus Informasi (ISAI) yang bekerja mendokumentasikan kekerasan terhadap dunia pers Indonesia. ISAI juga memberikan pelatihan bagi para jurnalis tentang bagaimana membuat surat kabar yang profesional dan berbobot. Goenawan juga melakukan reorientasi terhadap majalah mingguan D&R, dari tabloid menjadi majalah politik.

Ketika Majalah Tempo kembali terbit setelah Pak Harto diturunkan pada 1998, berbagai perubahan dilakukan seperti perubahan jumlah halaman namun tetap mempertahankan mutunya. Tidak lama kemudian, Tempo memperluas usahanya dengan menerbitkan surat kabar harian bernama Koran Tempo.

Setelah terbit beberapa tahun, Koran Tempo menuai masalah. Pertengahan bulan Mei 2004, Pengadilan Negeri Jakarta Timur menghukum Goenawan Mohamad dan Koran Tempo untuk meminta maaf kepada Tomy Winata, (17/5/2004). Pernyataan Goenawan yang dimuat Koran Tempo pada 12-13 Maret 2003 dinilai telah melakukan pencemaran nama baik bos Arta Graha itu.

Goenawan yang biasa dipanggil Goen, mempelajari psikologi di Universitas Indonesia, mempelajari ilmu politik di Belgia dan menjadi Nieman Fellow di Harvard University, Amerika Serikat. Goenawan menikah dengan Widarti Djajadisastra dan memiliki dua anak.

Selama kurang lebih 30 tahun menekuni dunia pers, Goenawan menghasilkan berbagai karya yang sudah diterbitkan di antaranya kumpulan puisi dalam Parikesit (1969) dan Interlude (1971), yang diterjemahkan ke bahasa Belanda, Inggris, Jepang, dan Prancis. Sebagian eseinya terhimpun dalam Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang (1972), Seks, Sastra, dan Kita (1980), dan Catatan Pinggir (1982).

Hingga kini, Goenawan Mohamad banyak menghadiri konferensi baik sebagai pembicara, narasumber maupun peserta. Salah satunya, ia mengikuti konferensi yang diadakan di Gedung Putih pada 2001 dimana Bill Clinton dan Madeleine Albright menjadi tuan rumah.

(from tokohindonesia.com)(less)


 https://www.goodreads.com/photo/author/617860.Goenawan_Mohamad

http://www.menpan.go.id

http://www.menpan.go.id/


Rabu, 26 Februari 2014

Kamis, 06 Februari 2014

HARI ESOK BELUM TENTU MILIK KITA

Hari Esok Belum Tentu Milik Kita






Apa yang kita lakukan hari ini,akan menjadi masa depan kita.Bila kita ingin menata masa depan,maka mulailah menata hidup kita hari ini;Karena hari esok belum tentu menjadi milik kita.
Judul diatas tentunya tidak dalam kontek menggiring orang untuk berpikiran pepsimis,seolah olah besok dunia akan kiamat. Maksudnya justru menjadi suatu bahan yang patut direnungkan. Siapa diantara kita yang berani memastikan bahwa hari esok akan jadi milik kita? Saya yakin,tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat memastikannya.

Menyadari hal ini,justru akan memberikan pencerahan kepada kita,bahwa setiap kali kita bangun di pagi hari,adalah karunia yang patut disyukuri. Mengawali hari dengan penuh rasa syukur ,akan memberikan dampak yang sangat positif bagi diri kita. Memberikan kita kedamaian hati dan keceriaan. Adakah suatu kegembiraan yang lebih besar didalam hidup ini,dari pada kenyataaan bahwa kita masih hidup?Biarlah kita menjawab didalam hati masing masing.

Falsafah hidup adalah pondasi untuk membangun masa depan

Yesterday is a history, today is a gift and to-morrow is a mystery.
Hari yang telah berlalu adalah sejarah bagi diri kita. Hari ini adalah karunia hidup,sedangkan hari esok masih merupakan misteri . Maka bila kita ingin menata hidup untuk masa depan,mulailah dengan menata hidup hari ini. Karena apa yang kita lakukan pada hari ini,akan menjadi masa depan kita.

Hal yang kelihatan sepele ini,ternyata mampu memberikan perubahan perubahan besar ,baik dalam pola berpikir kita,maupun dalam prilaku kita. Karena setiap hari ,kita mengingatkan diri sendiri,bahwa ketika matahari terbit,bukan hanya petanda bahwa pagi sudah tiba,tetapi terlebih petanda bahwa kita masih hidup.

Jadilah Pemeran Terbaik

Setiap orang berhak menentukan makna atau arti kehidupan bagi dirinya Antara lain:
Hidup adalah sebuah perjuangan - maka jadilah pemenang dalam perjuangan ini
Hidup adalah sebuah ujian - maka pastikanlah agar diri kita lulus
Hidup adalah sebuah karunia - maka syukurilah hidup itu
Hidup adalah untuk berbagi - maka jadikanlah hidup kita bermanfaat
Hidup adalah proses pembelajaran diri - maka jangan pernah berhenti belajar
Daftar ini tentunya bisa diperpanjang sesuai dengan pilihan hidup kita masing masing Setidaknya kita sudah mendapatkan sebuah gambaran,untuk senantiasa memaknai hidup secara arif dan bijaksana.

Konsisten dan Persistensi

Dalam menata hidup untuk meraih masa depan yang ceria,tidak luput dari kemantapan kita menjalaninya secara konsisten dan persintensi.
Konsistensi adalah ketetapan atau kemantapan hati,untuk mengerjakan apa yang telah diputuskan atau menjadi pilihan hidup.Persistensi atau kegigihan berarti tetap teguh pada pendirian . Dengan landasan persistensi orang yang ingin meraih impiannya, akan fokus pada apa yang menjadi kewajibannya. Karena merasa bahwa pekerjaannya adalah sesuatu yang menggairahkan.

Persistensi atau kegigihan merupakan semangat yang bernyala untuk meraih kesuksesan sesuai dengan cita cita.Hal ini akan mampu menjadi perisai diri,terhadap faktor faktor eksternal yang berusaha menggerogoti hasrat hati dan sekaligus menjadi motivasi diri untuk terus berbenah diri.Kondisi inilah yang hendaknya dipertahankan ,demi untuk terwujudnya cita cita hidup kita. Setiap orang ingin memiliki impian ,namun hanya sedikit sekali orang yang percaya dan yakin,bahwa impiannya akan menjadi sebuah kenyataan. Inilah yang membedakan antara orang orang yang sukses meraih cita cita hidupnya dengan orang orang yan hanya senang bermimpi,namun tidak secara sungguh sungguh berhasrat untuk meraihnya.

Termasuk kelompok manakah kita? Jangan tanya pada rumput yang bergoyang ,karena disana tidak akan ada jawabannya. Ask your heart,because the answer is in your heart. Mari kita tanya hati masing masing,karena disana pasti akan ada jawabannya.

Wollongong.06 Febuari,2014
Tjiptadinata Effendi


http://filsafat.kompasiana.com/2014/02/06/hari-esok-belum-tentu-milik-kita-633251.html

Seni Mencinta ala Erich Fromm: Mengapa Cinta Itu Skill, Bukan Sekadar Vibes!

  Seni Mencinta ala Erich Fromm: Mengapa Cinta Itu Skill, Bukan Sekadar Vibes!   Pernah gak sih kamu ngerasa kalau urusan cinta zaman ...