Fajar Emas Pujangga: Kejayaan Sastra Jawa
Kuno pada Era Kerajaan Kediri
Pendahuluan
Masa klasik Nusantara tidak hanya dihiasi oleh megahnya bangunan candi dan ambisi ekspansi wilayah, tetapi juga oleh pencapaian intelektual yang luar biasa di bidang kesusastraan. Salah satu puncak pencapaian estetika dan intelektual tersebut terjadi pada masa Kerajaan Kediri (Panjalu) yang berpusat di Jawa Timur abad ke-11 hingga ke-13. Sastra Jawa Kuno pada periode ini mengalami transformasi radikal.
Sastra tidak
lagi sekadar menjadi catatan dokumenter atau mantra keagamaan, melainkan
menjelma menjadi kakawin—puisi naratif epik berlarik metrum India yang
digubah dengan cita rasa lokal Jawa (jawa dwipa). Artikel ini akan
membedah bagaimana lanskap sastra Nusantara pada masa itu, serta menguraikan
secara mendalam jalinan antara patronase raja, dedikasi para pujangga, dan
mahakarya sastra yang lahir dari rahim Kerajaan Kediri.
Situasi Sastra Jawa pada Masa Kerajaan
Nusantara Abad ke-11 hingga ke-13
Untuk memahami lompatan besar di Kediri, kita harus
melihat peta sastra Jawa pada masa kerajaan-kerajaan pendahulunya. Tradisi
tulis Jawa Kuno berakar kuat sejak zaman Mataram Kuno (abad ke-9 dan ke-10)
dengan munculnya karya seperti Kakawin Ramayana dan penerjemahan Mahabharata
ke dalam bahasa Jawa Kuno (prosa parwa) atas perintah Raja Dharmawangsa
Teguh. Ketika Airlangga membagi kerajaannya menjadi Janggala dan Kadiri pada
tahun 1045 M, tradisi literasi ini sempat mengalami masa transisi.
Pada abad ke-11 hingga ke-13, sementara wilayah
Sumatra didominasi oleh Kerajaan Sriwijaya yang lebih berfokus pada perdagangan
maritim dan literasi Buddhis berbahasa Sanskerta, Jawa memantapkan dirinya
sebagai pusat rekayasa budaya (cultural engineering). Bahasa Sanskerta
tidak lagi diserap mentah-mentah, melainkan diolah secara kreatif menjadi
bahasa Jawa Kuno yang puitis. Periode Kediri menjadi penanda penting di mana
sastra bertransformasi dari sekadar adaptasi teks India menjadi media
legitimasi politik, ekspresi spiritualitas, dan kritik sosial yang sangat
matang.
Kejayaan Kesusastraan pada Masa Kerajaan
Kediri
1. Raja-Raja yang Berkuasa dan Patronase
Sastra
Kejayaan sastra Kediri tidak dapat dilepaskan dari
peran para penguasanya yang bertindak sebagai patron (pelindung) seni.
Para raja Kediri sadar betul bahwa legitimasi kekuasaan tidak hanya dibangun
lewat ketajaman pedang, tetapi juga lewat goresan pena para pujangga. Raja-raja
Kediri yang tercatat memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan sastra
antara lain:
- Sri
Jayabhaya (1135–1159 M): Raja paling
legendaris yang membawa Kediri ke puncak kejayaan politik dan sastra.
Beliau memerintahkan penggubahan kitab Bharatayuddha sebagai
metafora kemenangan Kediri atas Janggala.
- Sri
Kameswara (1182–1185 M): Raja yang sangat
mencintai seni romantis. Pada masa pemerintahannya, sastra bertema
percintaan dan keindahan alam berkembang pesat.
- Sri
Kertajaya (1194–1222 M): Raja terakhir
Kediri yang, terlepas dari konflik politiknya dengan kaum brahmana, tetap
menjadi pelindung bagi penggubahan karya sastra besar bertema teologis.
2. Para Pujangga dan Pengarang Sastra
Pada era Kediri, profesi mpo atau mpu
(pujangga) memiliki kedudukan terhormat di istana. Mereka bukan sekadar
penulis, melainkan resi spiritual yang melakukan tapa manguri (bertapa
lewat menulis puisi). Beberapa pujangga besar Kediri yang namanya abadi dalam
sejarah sastra antara lain:
- Mpu
Sedah dan Mpu Panuluh: Dua maestro yang berkolaborasi
melahirkan epik terbesar Kediri. Mpu Sedah memulai penulisan, namun
mangkat sebelum selesai, yang kemudian dirampungkan dengan indah oleh Mpu
Panuluh.
- Mpu
Dharmaja: Pujangga yang meletakkan dasar bagi
genre sastra romantis Jawa.
- Mpu
Monaguna dan Mpu Triguna: Pujangga istana
yang mahir mengadaptasi mitologi Hindu menjadi teks lokal yang sarat nilai
filosofis.
- Mpu
Tanakung: Pujangga akhir era Kediri yang
sangat produktif dan dikenal sebagai ahli metrum (wirama) puisi
Jawa Kuno.
3. Mahakarya Sastra yang Dihasilkan
Kekayaan sastra Kediri melahirkan genre kakawin
bergaya monumental. Berikut adalah buku atau kitab utama yang dihasilkan pada
masa itu:
- Kakawin
Bharatayuddha (Mpu Sedah & Mpu Panuluh):
Karya paling monumental pada masa Raja Jayabhaya. Kitab ini menyadur kisah
perang besar keturunan Kuru dari Mahabharata. Keunikannya terletak
pada fungsi teks ini sebagai allegori politik: perang antara
Pandawa dan Korawa digambarkan sebagai visualisasi perang saudara antara
Kediri (Panjalu) dan Janggala. Kemenangan Pandawa melambangkan kemenangan
Jayabhaya.
- Kakawin
Gatotkacasraya & Hariwangsa (Mpu Panuluh):
Gatotkacasraya menonjol karena untuk pertama kalinya memperkenalkan
tokoh Punakawan (Semar, Petruk, Gareng) ke dalam teks tertulis,
sebuah local genius Jawa yang mengubah pakem India. Sementara Hariwangsa
mengisahkan tentang prabu Kresna yang menculik Dewi Rukmini.
- Kakawin
Smaradahana (Mpu Dharmaja): Ditulis pada masa
Raja Kameswara. Mengisahkan tentang terbakarnya Dewa Kamajaya dan Dewi
Rati oleh api kemarahan Dewa Siwa. Abu mereka jatuh ke bumi dan menyusup
ke dalam hati setiap manusia menjadi benih cinta kasih. Karya ini juga
memuji Raja Kameswara sebagai titisan Dewa Kamajaya dan permaisurinya, Sri
Kirana, sebagai titisan Dewi Rati. Teks inilah yang di kemudian hari
menginspirasi lahirnya Cerita Rakyat / Cerita Panji (Kisah Raden
Panji Inu Kertapati dan Dewi Galuh Candra Kirana) yang melegenda di
seluruh Asia Tenggara.
- Kakawin
Kresnayana (Mpu Triguna): Mengisahkan tentang
masa muda Kresna dan cintanya kepada Rukmini, yang menjadi inspirasi
banyak relief di Candi Jago dan candi-candi masa berikutnya.
- Kakawin
Sumanasantaka (Mpu Monaguna): Sebuah epik panjang
yang menceritakan kelahiran Raghu, leluhur Sri Rama, yang sarat dengan
ajaran moralitas Buddha-Hindu dan keindahan estetika alam Jawa.
Kesimpulan
Masa Kerajaan Kediri adalah Era Renaisans Sastra
Jawa Kuno. Melalui kebijakan patronase dari raja-raja seperti Sri Jayabhaya
dan Sri Kameswara, para pujangga berhasil mentransformasikan pengaruh sastra
India menjadi sebuah identitas kultural yang mandiri dan berkarakter lokal (Javanisasi).
Karya-karya yang lahir pada masa ini tidak hanya berfungsi sebagai legitimasi
politik sezaman, tetapi juga meletakkan fondasi bagi perkembangan cerita rakyat
(seperti Siklus Panji) dan seni pertunjukan wayang yang kita kenal hari ini.
Penutup
Kejayaan sastra Kediri memberikan pelajaran berharga
bahwa sebuah peradaban besar tidak hanya diukur dari seberapa luas wilayah yang
ditaklukkannya, melainkan dari seberapa tinggi nilai kebudayaan dan literasi
yang diwariskannya kepada generasi masa depan. Ketika keraton Kediri runtuh
akibat pemberontakan Ken Arok pada tahun 1222 M, karya-karya sastranya tidak
ikut musnah. Ia tetap hidup, disalin dari generasi ke generasi di Majapahit,
melintasi selat menuju Bali, dan tetap abadi dalam memori kolektif masyarakat
Nusantara hingga hari ini.
Catatan Kaki / Sumber yang Dikutip
1.
Zoetmulder, P.J. (1983). Kalangwan:
Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Jakarta: Djambatan. Hlm. 285–310. (Buku
Babon Sastra Jawa Kuno).
2.
Poerbatjaraka, R.M.Ng. (1952). Kapustakan
Djawi. Djakarta: Djambatan. Hlm. 15–24.
3.
Robson, S.O. (1983). "Kakawin
Reconsidered: Toward a New Approach to the Study of Old Javanese Poetry". Bijdragen
tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, 139(2), hlm. 291-319.
4.
Supomo, S. (1993). Bharatayuddha: An
Old Javanese Poem and its Indian Sources. New Delhi: International Academy
of Indian Culture.
5.
Worsley, P., dkk. (2013). Mpu Monaguṇa's
Sumanasāntaka: An Old Javanese Epic Poem, its Indian Source and Balinese
Illustrations. Leiden: Brill.
6.
Ras, J.J. (2014). Masyarakat dan Sastra
Jawa. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
7.
Ridin, S. (2008). "Mitologi Kebesaran
Raja Jayabhaya dalam Tradisi Kakawin dan Cerita Rakyat Jawa". Jurnal
Humaniora, 20(2), hlm. 145-156.
8.
Vickers, Adrian. (2005). Journeys of
Desire: A Study of the Balinese Malat Text. Leiden: KITLV Press. (Membahas
penyebaran Cerita Panji yang berakar dari era Kediri ke Asia Tenggara).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar