Selasa, 08 Mei 2012

Airmata Wanita serta ketulusanya?

Airmata Wanita serta ketulusanya?


Jika seorang Wanita menangis dihadapanmu, itu berarti dia tidak dapat menahannya lagi.

Jika kau memegang tangannya saat dia menangis, dia akan tinggal bersamamu sepanjang hidupmu.

Jika kau membiarkannya pergi, dia tidak akan pernah kembali menjadi dirinya yang dulu, selamanya!

Seorang Wanita tidak akan menangis dengan mudah, kecuali didepan orang yang sangat dia sayangi, dia akan menjadi lemah!

Seorang Wanita tidak akan menangis dengan mudah, hanya jika dia sangat menyayangimu, Dia akan menurunkan rasa egonya.




Wahai Laki-laki, jika seorang Wanita pernah menangis karenamu, tolong pegang tangannya dengan penuh pengertian. Karena dia adalah orang yg akan tetap bersamamu sepanjang hidupmu disaat kau terpuruk terlalu dalam.

Wahai laki-laki, jika seorang Wanita menangis karenamu, tolong jangan menyia-nyiakannya.  Mungkin, karena keputusanmu, kau merusak kehidupannya.


Saat dia menangis didepanmu, saat dia menangis karenamu, lihatlah jauh ke dalam matanya.
Dapatkah kau lihat & kau rasakan SAKIT yang dirasakannya karenamu ?


Pada hari penciptaan PEREMPUAN, Malaikat bertanya kepada TUHAN :
“Apakah keistimewaan dari ciptaanMU ini ?”

Lalu TUHAN menjawab : “Ada banyak KEISTIMEWAAN yang dimiliki oleh ciptaanKU ini”.
Dibalik KELEMBUTANnya, dia memiliki KEKUATAN yang begitu dahsyat.

TUTUR KATAnya merupakan KEBENARAN.

SENYUMANnya adalah SEMANGAT bagi orang yang dicintainya.

PELUKAN & CIUMANnya bisa memberi KEHANGATAN bagi anak-anaknya.

Dia TERSENYUM bila melihat temannya tertawa.

Dia TERHARU, dia MENANGIS bila melihat KESENGSARAAN pada orang-orang yang dikasihinya.

Dia mampu TERSENYUM dibalik KESEDIHANnya.

Dia sangat GEMBIRA melihat KELAHIRAN, dia begitu sedih melihat KEMATIAN.

TETESAN air matanya bisa membawa PERDAMAIAN.

Tapi dia sering dilupakan oleh KEKASIHnya karena satu hal.

“Apa itu Ya..TUHAN ?

Bahwa “Betapa BERHARGAnya dia”.


Sebarkan ini ke SELURUH Wanita2 yang baik & LAKI2 yang kamu kenal agar mereka tidak lupa bahwa Wanita begitu berHARGA..??

:D


lihatlah wanita-wanita cantik di bawah ini:




 .

Senin, 07 Mei 2012

Investasi Tanah, Rumah atau Apartemen?

 
 
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/04/16/08581383/Investasi.Tanah.Rumah.atau.Apartemen
 
KOMPAS.com - Pembaca yang bijak, setelah artikel mengenai 5 Kiat agar Mahasiswa Mampu KPR, maka kini saatnya membahas secara garis besar mana yang lebih menguntungkan diantara investasi properti tanah, rumah atau apartemen?  Bagaimana formulasi tingkat pengembalian (return) didalam investasi properti tersebut? Faktor resiko apa yang mungkin terjadi dalam investasi tersebut?
Nah sebelum menjawabnya kami ingin sampaikan bahwa apa yang akan dijelaskan hanyalah secara garis besarnya saja, penulis memfokuskan pada sisi investasi yang bermuara pada peningkatan nilai pengembalian investasi. Adapun mengenai aspek legal khususnya undang-undang yang mengatur mengenai rumah susun tidak dibahas dalam artikel ini. Artikel ini semata mata hanya untuk membuka wawasan bagi para calon investor perorangan di bidang properti.
Selanjutnya bagaimana kita memilih investasi yang kita lakukan sebaiknya di tanah, rumah atau apartemen?
Sebelum menjawabnya ada baiknya kita pahami dulu rumus atau formula dalam sebuah investasi. Investasi dalam bidang apapun tentu mengharapkan tingkat pengembalian atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah return. Faktanya return dapat menjadi positif alias untung atau chuan maupun ada kemungkinan menjadi negatif alias rugi atau amsiaw. Mengapa demikian? Berikut formula dari return:
R = Income + Capital (jika + menjadi capital gain; jika – menjadi capital loss)
Nah sebagai contoh, dari formula diatas (jika) income hanya sebesar positif (+) Rp 1.000 sedangkan capital menjadi negatif  (-) Rp 1.500 maka akumulasi return menjadi negative (-) Rp 500 atau dengan kata lain investor rugi Rp 500.
Selanjutnya dalam bisnis properti kita tinggal memilah-milah mana yang berpotensi sebagai income dan mana yang berpotensi sebagai capital, nah untuk lebih jelasnya slikahkan simak tabel berikut:
Tabel Investasi Properti


Objek
Income (Pendapatan tambahan)
Potensi terjadinya income
Capital gain (Peningkatan modal / harga)
Potensi capital gain
Anjuran Investasi (holding period)
 
 
 
Tanah
Harga sewa / kontrak, kost2an, dll
Kecil
Kenaikan harga per M2
besar
> 5 tahun
 
Rumah
Sedang
sedang
> 3 tahun
 
Apartemen
Besar
kecil
< 3 tahun
 

 Analisa :
1. Tanaha. Return yang cukup besar, ini bisa didapat dari data rata-rata kenaikan tanah (disekitar Jakarta) dalam hal ini Cibubur, Depok dan Serpong pertahun dalam kisaran 15 persen s/d 30 persen tentu tergantung lokasi dan infrastruktur disekitarnya;
b. Biaya perwatan relatif sangat rendah;
c. Tidak perlu diasuransi, relatif aman karena tidak bisa terbakar.
d. Sulit untuk mendapatkan income tambahan dlm bentuk sewa, dll;
e. Lebih sulit dijadikan jaminan utang di Bank jika dibandingkan dengan rumah;
f. Semakin luas, semakin tidak likuid karena sulit mencari pembeli yang memiliki banyak uang.
2. Rumaha. Return yang sedang, namun tetap menjanjikan. Meskipun harga permeter persegi lebih mahal sekitar + 5 persen hingga 10 persen dari harga tanah, namun kenaikan harga pertahun masih dibawah kenaikan harga tanah. Kenaikan harga berada dalam kisaran 10 persen hingga 25 persen
b. Lebih likuid dari pada tanah karena mayoritas orang lebih suka membeli rumah dari pada membeli tanah;
c. Lebih mudah untuk dijadikan jaminan utang di Bank;
d. Kemungkinan mendapatkan income tambahan sedang karena bisa disewakan.
e. Nilai ekonomis bangunan terus menyusut setiap tahunnya, biasanya sebesar 10 persen penyusutan pertahun;
f. Dengan adanya bangunan maka pembayaran Pajak (PBB) menjadi lebih mahal jika dibanding dengan tanah;
g. Perlu diasuransikan terhadap kemungkinan kebakaran.
3. Apartemena. Return yang kecil, hal ini disebabkan karena adanya nilai susut dari bangunan apartemen yang cukup besar yakni sekitar 20 persen pertahun;
b. Cukup likuid karena orang masih mencari apartemen yang pada umumnya berlokasi strategis. Sedangkan jika membeli rumah pada lokasi strategis memerlukan jumlah uang yang lebih besar. Meskipun harga apartemen per M2 cukup mahal, namun masih lebih sedikit dana yang dikeluarkan karena luasan partemen yang relatif kecil;
c. Jika dijadikan jaminan di Bank, nilai taksasi dibawah rumah;
d. Umumnya income tambahan cukup besar;
e. Biaya rutin seperti listrik dan perawatan relatif mahal karena dihitung dengan mengikut sertakan fasilitas bersama atau fasilitas umum;
f. Tidak dapat merenovasi sesuka hati, hanya terbatas pada interior;
g. Sering terjadi masalah yang terkait dengan unit milik orang lain, misalkan kebocoran kamar mandi atau pipa pembuangan air milik orang lain yang mengakibatkan unit yang kita miliki harus di perbaiki.
Dengan demikian anda dapat memilih serta memilah investasi properti apa yang paling cocok dengan anda. (Taufik Gumulya, CFP®, Perencana Keuangan pada TGRM Financial Planning Services)
 
 

Kamis, 03 Mei 2012

Mengenalkan Keroncong Bersama Puisi - Omah Rembang

Mengenalkan Keroncong Bersama Puisi - Omah Rembang

Pentas Bulanan Kethek Ogleng Di Bekas Stasiun Rembang



Keroncong, musik itu sekarang seolah hilang tertelan bumi. Jangankan diperbincangkan, musik 32 birama yang diawali dengan intro mengarah pada akor awal lagu itu bahkan sekarang terasa sulit untuk ditemui berkumandang di ruang publik Rembang. Tak urung, segaris dengan menyurutnya pamor keroncong, kelompok-kelompok musik keroncong Rembang berguguran satu per satu.
''Memang belum ada penelitian sahih tentang jumlah kelompok keroncong di Rembang. Era 1970 hingga 1980-an, banyak sekali grup keroncong di Rembang. Namun saat ini tinggal segelintir saja dan bisa dihitung dengan jari yang masih eksis,'' tutur Yon Suprayogi, sesepuh Teater Pesisir yang juga mengemari keroncong.
Berbekal keinginan untuk mengenalkan kembali keroncong ke kalangan anak muda, beberapa minggu terakhir Komunitas Kethek Ogleng mulai bergerilya mencari kelompok keroncong untuk tampil di pentas bulanan. Namun, beberapa kelompok yang dihubungi mengaku belum siap. ''Beruntung, Susetyo Rini salah satu kawan kami di Facebook yang asli Gunem dan sekarang mukim di Sragen, suaminya, Budi Susetyo, aktif di grup keroncong Alam Buriska. Mereka bersedia hadir di Rembang secara cuma-cuma,'' terang Allief Zam Billah, pengiat Kethek Ogleng.
Keroncong Puisi
Akhirnya, hari Jumat (22/7) malam disepakati sebuah pementasan keroncong sederhana di pelataran bekas Stasiun Rembang. Tak hanya lagu keroncong beragam genre, suasana bertambah gayeng ketika sejumlah penyair muda Rembang seperti Yayan Triyansah yang baru saja mengeluarkan buku antologi puisi Halaman Rumah, Baskoro ''Pop'', Ipien Ngedot, Tejo Bejo, pelukis Abdul Chamim, Rosyid Ridho dan Fifie bereksperimen membacakan puisi sembari diiringi alunan musik keroncong. ''Sebuah pengalaman menarik membaca puisi dibalut musik keroncong. Sebelumnya tidak pernah terpikir oleh saya,'' kata Yayan.
Selain bermain musik, Alam Buriska malam itu juga berbagi pengalaman selama bermusik keroncong
kepada belasan remaja dari sejumlah komunitas seperti Rembang Slanker Club (RSC), Rumah Musik Smara Gusti Sumberejo serta Komunitas Pencinta Alam STIE YPPI (Kompas). ''Dengan bermain keroncong, kami justru banyak di minta tampil. Bahkan kami sering diminta tampil di Bogor oleh warga Sragen yang ada di Jakarta. Jangan takut memainkan musik keroncong,'' kata Teguh, pemegang cello dan pentolan Alam Buriska Sragen.
Berbagai eksplorasi lagu yang dimainkan dalam irama keroncong serta pengalaman yang dituturkan oleh Alam Buriska malam itu tak urung memantik hasrat pemusik muda Rembang untuk mulai mendalami keroncong. ''Kami selama ini memang mengabaikan keroncong. Tapi setelah malam ini, kami akan berusaha untuk mulai mendalami keroncong. Bahkan kami berharap bisa mementaskan keroncong di setiap kegiatan kami,'' tutur Beny Xp, pengiat Rumah Musik Smara Gusti Sumberejo.
Di penghujung malam yang eksotik itu, Alam Buriska membuat kejutan dengan memainkan lagu gubahan mereka sendiri ''Rembang Wayah Wengi'' yang khusus dipersembahkan bagi Kabupaten Rembang yang tengah memperingati hari jadi ke 270. ''Rembang wayah wengi, ning pinggir Pantai Kartini, pasunare bulan ndadari, alangkah endahe. Alun-alun Rembang, lan ing pinggir dalan Kartini, sapa kang bisa anyekseni. Rembang Bangkit kang asri,'' lantun Alam Buriska. (Mulyanto Ari Wibowo)

pernah dimuat di Suara Merdeka - Suara Muria 24 Juli 2011

Eksistensi dan Akar Permasalahan Buruh? - Harian Analisa

Eksistensi dan Akar Permasalahan Buruh? - Harian Analisa

Oleh : Abi Jumroh Harahap.


 Pembangunan nasional merupakan pengamalan Pancasila dan pelaksanaan UUD 1945 yang diarahkan pada peningkatan harkat, martabat dan kemampuan manusia serta kepercayaan pada diri sendiri dalam rangka mewujudkan masyarakat adil dan makmur baik material maupun spiritual. Dalam mewujudkan kesejahteraan kehidupan warganya, negara Republik Indonesia menekankan kepada terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur secara merata. Ini berarti bahwa negara RI bertekad untuk mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh Bangsa Indonesia, bukan hanya bagi sekelompok atau sebahagian masyarakat tertentu saja. Dilihat dari tujuan pembangunan nasional maka negara RI menganut tipe negara kesejahteraan (welfare state).
Berbicara konteks kesejahteraan, kehidupan buruh cenderung marjinal dan tak sesuai dengan hak-hak manusiawi, berbicara hak-hak pekerja/buruh, berarti kita membicarakan hak-hak asasi maupun hak yang bukan asasi. Hak asasi adalah hak yang melekat pada diri pekerja/buruh itu sendiri yang dibawa sejak lahir dan jika hak tersebut terlepas/terpisah dari diri pekerja/buruh itu akan menjadi turun derajad dan harkatnya sebagai manusia, sedangkan hak yang bukan asasi berupa hak pekerja/buruh yang telah diatur dalam peraturan perundang-undangan yang sifanya non asasi.

Memang hampir di semua negara saat ini, problem ketenagakerjaan atau perburuhan selalu tumbuh dan berkembang, baik di negara maju maupun berkembang, baik yang menerapkan ideologi kapitalisme maupun sosialisme. Hal demikian terlihat dari adanya departemen yang mengurusi ketenagakerjaan pada setiap kabinet yang dibentuk. Hanya saja realitas tiap negara memberikan beragam problem riil, sehingga terkadang memunculkan berbagai problema yang berbeda.

Pada negara berkembang seperti Indonesia, problem ketenagakerjaan terkait dengan sempitnya peluang kerja, tingginya angka pengangguran, rendahnya kemampuan SDM tenaga kerja, tingkat gaji yang rendah, serta jaminan sosial yang lemah. Belum lagi perlakuan pengusaha yang merugikan pekerja, seperti perlakuan buruk, tindak asusila, penghinaan, pelecehan seksual, larangan berjilbab, beribadah dan lain-lain.

Berbagai problem yang menyangkut hak-hak kaum buruh tidak terselesaikan dengan baik. Lebih ironis lagi, pemerintah dengan aparat keamanannya bertindak represif menekan gerakan buruh untuk meraih hak-haknya. Harus diakui bahwa akar permasalahan buruh masih berkutat pada problem yang berhubungan dengan ketenagakerjaan, yaitu:

1. Problem Upah

Salah satu problem yang langsung menyentuh kaum buruh adalah rendahnya atau tidak sesuainya pendapatan upah/gaji yang diperoleh dengan tuntutan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya beserta tanggungannya. Faktor ini, yakni kebutuhan hidup semakin meningkat, sementara gaji yang diterima relatif tetap, menjadi salah satu pendorong gerak protes kaum buruh.

Untuk membantu mengatasi problem upah/gaji, pemerintah biasanya membuat "Batas minimal gaji" yang harus dibayarkan oleh perusahaan kepada pekerjanya, yang kemudian dikenal dengan istilah Upah Minimum Regional (UMR) atau Upah Minimum Daerah (UMD). Intervensi pemerintah dalam hal ini ditujukan menghilangkan kesan eksploitasi pemilik usaha kepada buruh, karena membayar di bawah standar hidupnya. Nilai UMR dan UMD ini biasanya dihitung bersama berbagai pihak yang merujuk kepada Kebutuhan Fisik Minimum Keluarga (KFM), Kebutuhan Hidup Minimum (KHM), atau kondisi lain di daerah yang bersangkutan.

Penetapan UMR sendiri sebenarnya sangat bermasalah dilihat dari realitas terbentuknya kesepakatan upah antara pengusaha dan buruh. Dalam kondisi normal dan dalam sudut pandang keadilan ekonomi, seharusnya nilai upah sebanding dengan besarnya peran jasa buruh dalam mewujudkan hasil usaha dari perusahaan yang bersangkutan.

2. Problem Kesejahteraan Hidup

Ketika para buruh hanya memiliki sumber pendapatan berupa upah/gaji, maka pencapaikan kesejahteraan bergantung pada kemampuan gaji dalam memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya. Dalam kenyataanya, jumlah gaji relatif tetap, sementara itu kebutuhan hidup selalu bertambah (adanya bencana, sakit, sekolah, tambah anak, harga barang naik, listrik, telepon, biaya transportasi, dan lain-lain.) Hal ini menyebabkan kualitas kesejahteraan rakyat (termasuk buruh) semakin rendah. Sejatinya, negara tidak lepas tangan dari usaha pemenuhan kebutuhan dasar warga negara, apalagi yang menyangkut kebutuhan pokok.

Kondisi yang menimpa kaum buruh, memang tidak jauh beda dengan mayoritas rakyat/kaum lainnya selain buruh. Artinya, problem kesejahteraan ini lebih bersifat problem sistemis dari pada hanya sebatas problem ekonomi, apalagi problem buruh cukup diselesaikan antara buruh dan pengusaha semata. Padahal dwi pihak, kaum buruh selalu tak bisa berbuat apa-apa bila berhadapan dengan pengusaha.

Jika hendak menyelesaikan problem kesejahteraan hidup, baik bagi kaum buruh maupun rakyat secara makro, tentunya penyelesaiannya harus mampu mencakup penyelesaian yang bersifat kasuistis dan sekaligus dibarengi oleh usaha penyelesaian bersifat sistemis-integralistis. Bila penyelesaian yang dilakukan hanya bersifat kasuistis dan parsial, maka problem mendasar seputar kesejahteraan hidup kaum buruh dan rakyat secara menyeluruh tidak akan selesai.

3. Problem Pemutusan Hubungan Kerja

Salah satu persoalan besar yang dihadapi para buruh saat ini adalah Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Pemutusan hubungan kerja menjadi momok menakutkan bagi buruh dan menambah kontribusi pengangguran di Indonesia. Dalam kondisi ketika tidak terjadi keseimbangan posisi tawar menawar dan pekerjaan merupakan satu-satunya sumber pendapatan untuk hidup, maka PHK menjadi bencana besar yang bisa-bisa membuat buruh traumatis.

Secara umum PHK terjadi karena beberapa sebab, seperti permintaan sendiri, berakhirnya masa kontrak kerja, kesalahan buruh, masa pensiun, kesehatan/kondisi fisik yang tidak memungkinkan, atau karena meninggal dunia. Problem PHK biasanya terjadi dan kemudian menimbulkan problem lain yang lebih besar di kalangan buruh karena beberapa kondisi dalam hubungan buruh-pengusaha

Sebenarnya, PHK bukanlah problem yang besar kalau kondisi sistem hubungan buruh pengusaha telah seimbang dan adanya jaminan kebutuhan pokok bagi buruh sebagaimana bagi seluruh rakyat oleh sistem pemerintahan yang menjadikan pemenuhan kebutuhan dasar rakyat sebagai asas politik perekonomiannya.

4. Problem Tunjangan Sosial dan Kesehatan

Dalam masyarakat kapitalistis seperti saat ini, tugas negara lebih pada fungsi regulasi, yakni pengatur kebebasan warga negaranya. Karena itu, sistem ini tidak mengenal tugas negara sebagai "pengurus dan penanggung jawab pemenuhan kebutuhan dasar rakyatnya". Rakyat yang ingin memenuhi kebutuhannya harus bekerja secara mutlak, baik untuk memenuhi kebutuhan dasarnya maupun kebutuhan pelengkapnya sehingga prinsip struggle for life benar-benar terjadi. Jika seseorang terkena bencana atau kebutuhan hidupnya meningkat, ia harus bekerja lebih keras secara mutlak. Begitu pula ketika ia sudah tidak mampu bekerja karena usia, kecelakaan, PHK atau sebab lainnya, maka ia tidak punya pintu pemasukan dana lagi. Kondisi ini menyebabkan kesulitan hidup luar biasa, terutama bagi seorang warga negara yang sudah tidak dapat bekerja atau bekerja dengan gaji sangat minim hingga tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya.

5. Problem Lapangan Pekerjaan

Kelangkaan lapangan pekerjaan bisa terjadi ketika muncul ketidakseimbangan antara jumlah calon buruh yang banyak, sedangkan lapangan usaha relatif sedikit; atau banyaknya lapangan kerja, tapi kualitas tenaga kerja buruh yang ada tidak sesuai dengan kualitas yang dibutuhkan. Kelangkaan lapangan pekerja ini memunculkan angka tingkat pengangguran yang tinggi yang dapat berakibat pada aspek sosial yang lebih luas.

Perjuangan kaum buruh untuk memperbaiki kesejahteraan selama ini cukup jelas, yakni menunjukkan betapa upah tenaga kerja sangat tidak kompetitif dan jauh dari mencukupi. Relasi yang selama ini dibangun masih menempatkan posisi subordinatif terhadap majikan (pengusaha). Sehingga yang muncul ketidaksatu paduan buruh dan pengusaha, justru rasa ketidakpercayaan dan kecurigaan antara satu dan yang lain semakin mengkristalisasi perbedaan orientasi masing-masing.

Melihat persoalan ketenagakerjaan yang demikian kompleks di atas, tentu saja juga membutuhkan pemecahan yang komprehensip dan sistemis. Sebab, persoalan tenaga kerja, bukan lagi merupakan persoalan individu, yang bisa diselesaikan dengan pendekatan individual. Akan tetapi, persoalan tenaga kerja di atas merupakan persoalan sosial, yang akhirnya membutuhkan penyelesaian yang mendasar dan menyeluruh.***

Penulis adalah Dosen Fakultas Hukum Universitas Medan Area

Rabu, 02 Mei 2012

Endang Rahayu Sedyaningsih

Endang Rahayu Sedyaningsih


Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Endang Rahayu Sedyaningsih
Menteri Kesehatan Indonesia ke-18
Masa jabatan
22 Oktober 2009 – 26 April 2012
PresidenSusilo Bambang Yudhoyono
Didahului olehSiti Fadilah
Digantikan olehBelum ditentukan
Informasi pribadi
Lahir1 Februari 1955
Bendera Indonesia Jakarta, Indonesia
Meninggal2 Mei 2012 (umur 57)
Bendera Indonesia Jakarta, Indonesia
KebangsaanIndonesia
Suami/istriDr. Reanny Mamahit, SpOG, MM
AnakArinanda Wailan Mamahit
Awandha Raspati Mamahit
Rayinda Raumanen Mamahit
Alma materUniversitas Indonesia
Harvard School of Public Health
dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, DR.PH (lahir di Jakarta, 1 Februari 1955 – meninggal di Jakarta, 2 Mei 2012 pada umur 57 tahun) adalah Menteri Kesehatan pada Kabinet Indonesia Bersatu II yang menjabat sejak 22 Oktober 2009 hingga 26 April 2012.[1] Sebelumnya ia pernah menjabat sebagai Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Biomedis dan Farmasi, Badan Penelitian dan Pengembangan Depkes.[2]
Endang memperoleh gelar sarjana pada tahun 1979 dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan gelar magister dan doktor dari Harvard School of Public Health.[3]

[sunting] Karier

Endang memulai karirnya pada tahun 1979 sebagai dokter di Rumah Sakit Pertamina Jakarta. Dia bergabung pada pelayanan kesehatan masyarakat pada tahun 1980 dan bekerja di daerah terpencil sebagai Kepala Puskesmas Waipare di Nusa Tenggara Timur selama tiga tahun.
Pada tahun 1983, ia pindah ke Jakarta dan meneruskan bekerja dalam pelayanan kesehatan masyarakat di Dinas Kesehatan Provinsi Jakarta. Pada tahun 1997, dia bergabung dengan Badan Nasional Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Badan Litbangkes) Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Dia bekerja sebagai peneliti di Pusat Penelitian Pengendalian dan Pengembangan Program Penyakit , NIHRD untuk lebih dari satu dekade. Selama 6 bulan pada tahun 2001, dia menghabiskan waktunya dengan bekerja pada Kantor Pusat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Jenewa, Swiss.
Ia diangkat sebagai Direktur Pusat Penelitian Biomedis dan Program Pengembangan, NIHRD pada tahun 2007. Pada bulan Oktober 2009, ia diangkat sebagai Menteri Kesehatan Republik Indonesia oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan bergabung dengan Kabinet Indonesia Bersatu jilid Dua. Pada tanggal 26 April 2012 ia mengundurkan diri dari posisinya sebagai Menteri Kesehatan karena kondisi kesehatan.[4]

[sunting] Kehidupan pribadi

Ia bersuamikan Dr. Reanny Mamahit, SpOG, MM (Direktur RSUD Tangerang) dan memiliki dua putra dan satu putri [5].Putra pertama bernama Arinanda Wailan Mamahit, putra kedua bernama Awandha Raspati Mamahit, dan anak putri paling kecil bernama Rayinda Raumanen Mamahit.
Pada 26 April 2012, Endang mengundurkan diri dari kabinet terkait dengan kondisi kesehatannya.[1] Pada tanggal 2 Mei 2012, Endang meninggal dunia karena kanker paru lanjut di usia 57 tahun di RSCM, sekitar pukul 11.41 WIB.[6]

[sunting] Referensi


Jabatan politik
Didahului oleh:
Siti Fadilah
Menteri Kesehatan Indonesia
22 Oktober 2009 – 26 April 2012
Lowong
Belum ditentukan

Selasa, 01 Mei 2012

Mendengarkan Musik Musim Semi di Amerika

Musim semi adalah musim yang indah untuk menandai kehidupan atau kelahiran baru. Musim salju yang dingin dan panjang berakhir, udara menjadi lebih hangat dan terang. Pepohonan mulai berdaun dan bunga-bunga bermekaran. Musim ini melukiskan harapan, kegembiraan dan keindahan.

Namun, tidak semua lagu tentang musim semi bernada riang. Lagu yang dilantunkan KD Lang ini melukiskan  mimpi musim semi di tempat-tempat gelap dan dingin. Ia merekam lagu  “I Dream of Spring” ini pada tahun 2008.



Tidak seperti musim lainnya, musik rock tidak banyak mendendangkan musim semi. Kebanyakan lagu tentang musim ini diciptakan tahun 1930-1940-an oleh penggubah lagu modern terkenal. Kemudian, lagu-lagu itu menjadi lagu-lagu pop standar yang direkam oleh banyak penyanyi.

Inilah satu contohnya, "It Might as Well Be Spring” yang ditulis  Richard Rodgers dan Oscar Hammerstein untuk film "State Fair" tahun 1945. Frank Sinatra menyanyi tentang dirinya yang terkena demam musim semi. Tentu saja, itu bukanlah sakit sungguh, melainkan sebuah perasaan resah atau gembira yang tergugah oleh suasana musim semi.

Richard Rodgers juga menggubah lagu "Spring Is Here", kali ini dengan Lorenz Hart. Lagu itu dinyanyikan  almarhun  Ella Fitzgerald, yang melukiskan  perasaan kesepian selama musim semi.

Frank Loesser menulis lagu sendu ini, "Spring Will be a Little Late This Year." Mengapa musim ini tertunda? Karena kekasih penyanyi itu meninggalkannya. Sarah Vaughn meluncurkan versinya pada tahun 1953.

Setelah mendengarkan lagu ini, mungkin Anda merasa: "Cukup dengan lagu-lagu sendu itu!” Kalau begitu, bagaimana dengan lagu koboi? Gene Autry adalah salah seorang penyanyi koboi Amerika yang terkenal. Ia merekam, "When It's Springtime in the Rockies" pada tahun 1937.



Di sebagian besar wilayah Amerika, musim semi, hangat dan menyenangkan. Tetapi, itu tidak terjadi di Alaska, di barat laut Amerika. Menurut  Johnny Cash, musim semi di sana sangat dingin. Ia menyanyi "When It's Springtime in Alaska (It's Forty Below)."

Sebelum kami tinggalkan Anda, nikmatilah sebuah lagu ceria "Up Jumped Spring" karya  Freddie Hubbard, berwarna jazz dan dimainkan oleh trio Billy Taylor.


Jejak Jiwa dalam Bayangan: Transformasi Estetis, dan Jejak Historis Seni Pedalangan Ki H. Anom Suroto (1948–2025)

  Jejak Jiwa dalam Bayangan: Transformasi Estetis, dan Jejak Historis Seni Pedalangan Ki H. Anom Suroto (1948–2025)   https://www.youtube....