Minggu, 17 Juni 2012

Ketika Rokok Menjadi Bahan Pokok | Kaget Net

Ketika Rokok Menjadi Bahan Pokok | Kaget Net



Seseorang rela melewatkan makan siang demi sebungkus rokok, membakar kertas hanya dalam waktu kurang dari sehari. Kenyataan besar bahwa negara ini memproduksi asap dalam jumlah besar, menghasilkan pajak dari daun tembakau.
Saya sendiri salah satu pelaku yang rela meninggalkan makan siang demi sebungkus rokok, menyedihkan…. ketika asap-asap itu memenuhi paru-paru. Apa yang ada difikiran perokok ketika mereka melewatkan bahan pokok demi membeli penyakit? Dalam fikiran saya,…. tak ada beban!

Rokok, Penghasil Pajak Yang Perlu Diperhitungkan

Kenyataannya memang demikian, berapa jumlah penduduk kita yang berusia dewasa? Bisa dikatakan setengah dari 200 juta penduduk negeri ini berusia dewasa yang sebagian besar mengkonsumsi rokok layaknya kebutuhan pokok. Dan ini belum termasuk perokok berusia dini,… bisa bayangkan berapa banyak hasil cukai yang diperoleh dari daun tembakau?

Setidaknya, undang undang rokok diperketat, larangan-larangan merokok dalam lingkup aturan yang tegas, bahkan untuk anak-anak dan pelajar harus benar-benar diatur dalam undang-undang. Tapi sepertinya semua itu hanya angan-angan perokok seperti saya, yang bebas membakar sebatang rokok dimanapun berada.
Atau mungkin ‘mereka’ berfikir jika aturan itu digalakkan, konsumsi rokok berkurang, pemasukan pajak drastis menurun. Dan kenyataannya, bahwa negeri ini memang menjadi target penjualan rokok dalam skala besar, hampir tak ada aturan didalamnya.

Sehari, Sebungkus Rokok

Sehari sebungkus rokok, jumlah minimal perokok berat dewasa yang setara dengan sebungkus nasi berbobot cukup gizi, bahkan bisa ditambah dengan satu sachet susu sebagai minuman sehat. Untuk bergerak menuju perubahan itu, cukup sulit. Rokok seperti melilit sekujur tubuh, dan lebih baik saya dililit hutang!
Satu kenyataan lagi, bahwa pecandu rokok sulit meninggalkan kebiasaan membakar tembakau. Salah satu alasannya adalah ‘lingkungan’ yang sangat berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, memang benar jika kalian berniat meninggalkan rokok, maka jauhi perokok atau mereka akan menawarkanmu sebatang rokok. Ini kenyataan…. mengisolasi diri dan membuat karantina pribadi tanpa harus terkurung seperti di ruang tahanan.

Saya tak bertanya pada kalian, tapi bertanya pada diri sendiri,… ‘Sanggupkah mengganti sebungkus rokok dengan sebatang cokelat?’

http://kaget.net/gaya-hidup/rokok-bahan-pokok.html



Advertisement

http://wayangprabu.com/audio-mp3-pagelaran-wayang-berbagai-dalang/surakarta


Surakarta


Dalang-dalang yang bertempat tinggal Surakarta dan sekitarnya dan cenderung membawakan gagrak Surakarta:


MONGGO SILAHKN KLIK AJA DAN DOWNLOAD, nikmati pagelarannya.

Jumat, 15 Juni 2012

100 dalang wayang kulit pentas serentak dalam ulang tahun Kab.Klaten ke-208 tahun

 
 
 
 
HUT Klaten Ke 208th, 100 Dalang Wayang Kulit Pentas Serentak - Dalam rangka memeriahkan Hari jadi Kota Klaten yang ke 208th, pemerintah Kota Klaten akan menyelenggarakan pentas seni wayang kulit secara serentak di beberapa titik yang di ikuti sebanyak kurang lebih 100 dalang. Pertunjukan spektakuler 100 dalang main serentak ini merupakan pertama kalinya diadakan di Kota Klaten demi memeriahkan HUT Kota Klaten yang ke 208th. 100 Dalang Wayang Kulit Pentas Serentak ini rencananya akan berlangsung pada tanggal 7 Juli 2012. Bagi pencinta kesenian wayang kulit ini adalah kesempatan yang baik karena bisa menikmati pertunjukan dalang kesayangannya. Tetapi juga akan membingungkan karena banyaknya pagelaran wayang kulit yang main serentak pasti bingung mau melihat pagelaran pentas wayang kulit yang mana benar bukan? pagelaran wayang kulit yang di ikuti oleh lebih 100 dalang dan main serentak ini terlihat begitu meriah, tetapi berapa ya dana yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kota Klaten untuk menyelenggarakan pentas wayang kulit ini.
 
 

Untuk memperingati HUT Kota Klaten yang ke 208th sepertinya Bupati Klaten Sunarna ingin memanjakan warga Kabupaten Klaten dengan menyelenggarakan pentas kesenian budaya 100 Dalang Wayang Kulit Pentas Serentak. “Gelar budaya spektakuler ini baru kali pertama di gelar di  Kota Klaten,” kata Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Sugeng Haryanto kepada Media Indonesia, Kamis (17/5). Dikarenakan pada tanggal 19 Juli sudah memasuki bulan Ramadhan, semua acara diharapkan sudah selesai satu hari sebelum memasuki bulan puasa. Dengan demikian kemungkinan puncak acara kegiatan diajukan dari tanggal hari jadi Kota Klaten yang jatuh setiap tanggal 28 Juli.
 
 


*Sumber:http://www.mediaindonesia.com/read/2012/05/05/320313/289/101/Gebyar-100-Dalang-Ramaikan-HUT-Klaten 
Dan informasi pak dalang waktu pentas wayang kulit di desa Mireng, Trucuk tanggal 9 Juni 2012

Demikianlah sekedar info Kota Klaten dari Mas GunKlaten Berbagi.


Anda sedang membaca artikel tentang HUT Klaten Ke 208th, 100 Dalang Wayang Kulit Pentas Serentak dan anda bisa menemukan artikel HUT Klaten Ke 208th, 100 Dalang Wayang Kulit Pentas Serentak ini dengan url http://gunklaten.blogspot.com/2012/06/hut-klaten-ke-208th-100-dalang-wayang.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel HUT Klaten Ke 208th, 100 Dalang Wayang Kulit Pentas Serentak ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link HUT Klaten Ke 208th, 100 Dalang Wayang Kulit Pentas Serentak sumbernya. Salam Mas GunKlaten Berbagi


Baca lebih lanjut / Read more: http://gunklaten.blogspot.com/2012/06/hut-klaten-ke-208th-100-dalang-wayang.html#ixzz1xqWdmUeU


Baca lebih lanjut / Read more: http://gunklaten.blogspot.com/2012/06/hut-klaten-ke-208th-100-dalang-wayang.html#ixzz1xqWSiFpA

Kamis, 14 Juni 2012

Din: Muhammadiyah Bukan Kelompok Islam Minimalis, Tetapi Proporsionalis

Din: Muhammadiyah Bukan Kelompok Islam Minimalis, Tetapi Proporsionalis



Kuala Lumpur- Muhammadiyah bukanlah kelompok Islam minimalis, tetapi Muhammadiyah ialah kelompok Islam proporsionalis. Maksudnya ialah cara ibadah Muhammadiyah itu sesuai dengan proporsinya yang telah diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah saw., termasuk dalam proporsional di sini adalah adanya pemaknaan dan penghayatan yang mendalam ketika melakukan ibadah ritual. Ucapan salam dalam sholat, dalam pandangannya bukanlah akhir dari ibadah sholat, karena setelah sholat seseorang dituntut untuk mengaktualisasikan nilai-nilai sholat tersebut dalam realitas kehidupannya.
Hal tersebut diungkapkan ketua umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin dalam Tabligh Akbar di Gedung Kelab Sultan Sulaiman, Kg. Baru, Bandar Kuala Lumpur, Rabu (20/04/2011) Berdasarkan pola pemikiran diatas menurut Din, Muhammadiyah tidak pernah lelah untuk mendorong umat Islam, khususnya warga Muhammadiyah agar melembagakan amal saleh yang fungsional dan solutif, sebagai pancaran iman yang sempurna dan untuk merefleksikan ajaran Islam yang memberikan rahmat atau kasih sayang bagi seluruh alam semesta (rahmatan lil 'alamin).
Dalam ceramahnya, Ketua Umum PP Muhammadiyah juga menyinggung masalah idiologi gerakan dakwah Muhammadiyah. Selain dikenal sebagai gerakan tajdid (Pembaharuan), sejak awal pendirianaya Muhammadiyah juga dikenal sebagai gerakan tajdid (pemurnian atau purifikasi). Di Muhammadiyah, gerakan tajdid ini meliputi pemurnian dalam masalah akidah dan ibadah mahdhoh. Sehingga dengan gerakan tajdid ini, Muhammadiyah disebut-sebut sebagai gerakan puritan. Sedangkan tajdid (pembaharuan) hanya berlaku dalam aspek ibadah mu'amalah dunyawiyah saja.
Oleh sebab itu, Muhammadiyah harus senantiasa menjaga dan memegang teguh keseimbangan (tawazun) antara gerakan tajdid (pemurnian akidah dan ibadah mahdhoh) dan tajdid dalam bidang ibadah mu'amalah dunyawiyah, tegasnya.
Dari gerakan purifikasi dan tajdid tersebut, maka terbentuklah rasionalisasi yang ditandai dengan aksi nyata atau amal usaha yang memberikan manfaat kepada masyarakat luas, seperti amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi dan sebagainya. Dan amal usaha ini harus dikelola secara profesional dan modern. Dari sini para pengamat, baik dari dalam atau luar negeri menilai, bahwa Muhammadiyah adadah sebagai organisasi Islam modern. "Muhammadiyah the largest Modernist Islam Organization", Tuturnya.
Ketika dihadapkan dengan perbedaan antara golongan Islam tradisional dan kelompok Islam garis keras, maka Muhammadiyah mengambil posisi yang disebut wasathiyah (moderasi atau posisi tengah) dengan mengedepankan keterbukaan, dialog dan komunikasi dengan semua pihak. Tandasnya.
Di penghujung ceramahnya, pak Din menyampaikan beberapa amanat dan harapannya kepada pengurus PCIM dan warga Muhammadiyah di Kuala Lumpur, di antaranya adalah agar PCIM mampu mendirikan lembaga amal usaha Muhammadiyah, paling tidak lembaga amal usaha di sektor pendidikan.

Rabu, 13 Juni 2012

Menguji Daya Tarik Partai


Menguji Daya Tarik Partai PDF Print


Thursday, 14 June 2012
Diberitakan, Partai Nasional Demokrat (Nas- Dem) akan membuat strategi terobosan dalam pencalegan Pemilu 2014 yakni dengan melarang pemungutan biaya kepada setiap caleg. Partai ini juga akan merekrut tokohtokoh potensial dan membantu modal pembiayaannya.

Strategi demikian merupakan upaya NasDem mengerucutkan daya tarik. Inilah salah satu potret bagaimana partai politik bersiap menuju 2014. Bagi partai baru seperti NasDem, targetnya, ia harus eksis,punya pendukung jelas, dan terkuantifikasi secara nyata pada 2014. Pemilu akan menguji seberapa jauh kekuatan nyata NasDem sebagai partai. Sementara bagi partai lama, targetnya tidak hanya eksis, tetapi juga survive, dalam arti mereka berjuang untuk tetap bertahan dan meningkatkan jumlah kursinya di parlemen.

Dalam konteks Indonesia, ada duahal yang selalu mengemuka dalam daya tarik partai-partai. Pertama,tokoh.Kedua,kegiatan partai.Bagi partai baru yang belum kuat institusionalisasi partainya, tokoh menjadi sangat penting.Kultur politik Indonesia masih belum lepas dari patrimonialisme. Tokoh, karenanya,bahkan,dalam kondisi tertentu, dipandang lebih penting ketimbang kendaraan pengusungnya.

Bagi partai lama,tokoh juga penting, tetapi yang tak kalah pentingnya,dan ini cukup mendasar, bagaimana kelembagaan partainya efektif. Setidaknya, partai-partai itu sistemnya sudah jalan,identitas kepartaiannya sudah tertanam, dan ia sudah punya citra tersendiri.

Partai-partai lama dan baru sekarang lebih bercorak “catchall parties”, bukan partai segmental seperti yang beridentitas “agama”. Pasar politik “catch-all” atau meminjam istilah Ichlasul Amal “campur baur” ini masih demikian terbuka, cair, dan menentukan. Dukungan terhadap partaipartai “catch-all” mapan karena bisa berubah-ubah.

Tren Survei

Hasil-hasil survei popularitas dan elektabilitas partai-partai, terlepas dari motif penyelenggaranya, penting untuk dibaca secara kritis. Survei Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) misalnya perlu dicermati.Survei yang dilakukan pada 14–24 Mei 2014 itu melibatkan 2.192 responden di 33 provinsi yang mencakup 163 kabupaten/ kota dengan metode “stratified random sampling”.

Hasilnya, Partai Golkar paling banyak dipilih responden (23%). Selanjutnya,PDIP(19,6%), Partai Demokrat (10,7%), Partai Gerindra (10,5%), PKS (6,9%),NasDem (4,8%), PPP (3%), Partai Hanura (2,7%), PAN (2,2%), dan PKB (2%).Sedangkan 0,6% responden memilih partai lain. Berdasarkan ketentuan parliamentary threshold 3,5%, hanya enam partai yang lolos ke Senayan.

Dari survei itu,alasan responden dalam memilih partai karena “tokoh dan pimpinan partai” (18,2%), atau terbesar kedua setelah kriteria dekat dengan rakyat (21,3%). Manakala membaca surveisurvei lain, tiga partai utama yakni Partai Golkar, PDIP, dan Partai Demokrat saling bersaing ketat di urutan pertama sampai ketiga. Dalam surveisurvei itu tren Demokrat masih bertahan walaupun suaranya anjlok.

Demokrat memang partai yang tengah menjadi sorotan saat ini,menyusul kasus-kasus hukum para oknum politiknya. Wajar manakala responden kritis terhadap partai penguasa ini. Berbagai ulasan mengemuka seiring dengan fenomena anjloknya Demokrat, yang dalam survei SSS hanya memperoleh 10,7%, mengedepankan alasan utamanya,selalu dikaitkan dengan kasus-kasus yang menjadi sorotan publik.

Tetapi, seolah-olah melupakan tren kemerosotannya yang sangat terkait dengan anjloknya prestasi kerja dan popularitas pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.Berbagai hasil survei mempertegas tren anjloknya popularitas pemerintah. Hal ini berdampak pada pergeseran preferensi publik terhadap Demokrat. Yang juga perlu dicermati ialah, kekompakan internal yang kurang tampak di Demokrat.

Beberapa politisinya bahkan kontraproduktif komunikasi politiknya. Dari sisi ini publik menyorot gradasi kualitas kader-kadernya yang ada di elite kekuasaan. Padahal, sesungguhnya partai ini telah cukup berjalan baik dalam konteks institusionalisasinya, di mana Ketua Umum Anas Urbaningrum telah berupaya menjalankan fungsi keorganisasian dengan baik.

Sementara Partai Golkar tampak jauh lebih solid walaupun kontroversi dukungan calon presiden sempat menyeruak. Kendati demikian, strategi kampanye ganda yakni partai sekaligus tokoh (Aburizal Bakrie) yang dilakukan lebih awal ketimbang partaipartai lain merupakan eksperimen politik yang bukan tanpa konsekuensi. Kalau tidak hatihati dan cermat dalam melangkah, tokoh malah bisa menjadi faktor negatif bagi partai.

Kekuatan tokoh itulah yang menjadi problem Partai Golkar saat ini.Popularitas dan elektabilitas Aburizal Bakrie perlu terus digenjot.Itu bukanlah perkara yang mudah. PDIP, di sisi lain, tampak mengalami problem stagnasi. Seperti belum ada yang berubah dari partai ini. Namun, figur Megawati Soekarnoputri masih elektabel. Partai ini perlu membuat terobosanterobosan kreatif,belajar pada pengalaman kemenangannya pada 1999, agar semakin aktual.

Trust dan Kreativitas

Trust atau kepercayaan penting untuk dijaga, bahkan diraih melalui kreativitas. Cara elite-elite partai untuk mengemas, lebih tepatnya,membawa atau mengelola partainya sehingga menumbuhkan daya tarik perlu terus diuji. Pertama, apakah caranya melanggar ketentuan hukum atau tidak. Kedua, etis atau tidak. Yang pertama ranahnya lebih ketat ketimbang yang kedua, tetapi jangka panjang, eksistensi dan survivalitas partai ditentukan yang kedua.

Masing-masing partai punya problem tersendiri dari skala prioritasnya.Partai-partai besar lebih berupaya untuk menghilangkan ganjalan-ganjalan yang menghambatnya. Partai-partai menengah dan kecil berupaya memperkencang laju politiknya. Namun, semuanya dituntut untuk bisa bekerja secara wajar dan etis. Etika politik semakin penting dalam menggalang dukungan, mengingat mengemuka kecenderungan etis di ranah publik di tengah-tengah arus pragmatisme-transaksional.

Sekarang partai-partai tengah beradu strategi untuk merebut dukungan publik. Kompetisi antarpartai merupakan pertarungan pengaruh atau kepercayaan dari berbagai sudut pandang.Beragam daya tarik dikedepankan. Publik semakin dihadapkan beragam alternatif.Tampaknya, yang paling wajar dan etislah, yang paling berpeluang. Wallahua’lam.● M ALFAN ALFIAN Dosen Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional (Unas), Jakarta

Diberitakan, Partai Nasional Demokrat (Nas- Dem) akan membuat strategi terobosan dalam pencalegan Pemilu 2014 yakni dengan melarang pemungutan biaya kepada setiap caleg. Partai ini juga akan merekrut tokohtokoh potensial dan membantu modal pembiayaannya.

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/503089/

Strategi demikian merupakan upaya NasDem mengerucutkan daya tarik. Inilah salah satu potret bagaimana partai politik bersiap menuju 2014. Bagi partai baru seperti NasDem, targetnya, ia harus eksis,punya pendukung jelas, dan terkuantifikasi secara nyata pada 2014. Pemilu akan menguji seberapa jauh kekuatan nyata NasDem sebagai partai. Sementara bagi partai lama, targetnya tidak hanya eksis, tetapi juga survive, dalam arti mereka berjuang untuk tetap bertahan dan meningkatkan jumlah kursinya di parlemen.

Dalam konteks Indonesia, ada duahal yang selalu mengemuka dalam daya tarik partai-partai. Pertama,tokoh.Kedua,kegiatan partai.Bagi partai baru yang belum kuat institusionalisasi partainya, tokoh menjadi sangat penting.Kultur politik Indonesia masih belum lepas dari patrimonialisme. Tokoh, karenanya,bahkan,dalam kondisi tertentu, dipandang lebih penting ketimbang kendaraan pengusungnya.

Bagi partai lama,tokoh juga penting, tetapi yang tak kalah pentingnya,dan ini cukup mendasar, bagaimana kelembagaan partainya efektif. Setidaknya, partai-partai itu sistemnya sudah jalan,identitas kepartaiannya sudah tertanam, dan ia sudah punya citra tersendiri.

Partai-partai lama dan baru sekarang lebih bercorak “catchall parties”, bukan partai segmental seperti yang beridentitas “agama”. Pasar politik “catch-all” atau meminjam istilah Ichlasul Amal “campur baur” ini masih demikian terbuka, cair, dan menentukan. Dukungan terhadap partaipartai “catch-all” mapan karena bisa berubah-ubah.

Tren Survei

Hasil-hasil survei popularitas dan elektabilitas partai-partai, terlepas dari motif penyelenggaranya, penting untuk dibaca secara kritis. Survei Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) misalnya perlu dicermati.Survei yang dilakukan pada 14–24 Mei 2014 itu melibatkan 2.192 responden di 33 provinsi yang mencakup 163 kabupaten/ kota dengan metode “stratified random sampling”.

Hasilnya, Partai Golkar paling banyak dipilih responden (23%). Selanjutnya,PDIP(19,6%), Partai Demokrat (10,7%), Partai Gerindra (10,5%), PKS (6,9%),NasDem (4,8%), PPP (3%), Partai Hanura (2,7%), PAN (2,2%), dan PKB (2%).Sedangkan 0,6% responden memilih partai lain. Berdasarkan ketentuan parliamentary threshold 3,5%, hanya enam partai yang lolos ke Senayan.

Dari survei itu,alasan responden dalam memilih partai karena “tokoh dan pimpinan partai” (18,2%), atau terbesar kedua setelah kriteria dekat dengan rakyat (21,3%). Manakala membaca surveisurvei lain, tiga partai utama yakni Partai Golkar, PDIP, dan Partai Demokrat saling bersaing ketat di urutan pertama sampai ketiga. Dalam surveisurvei itu tren Demokrat masih bertahan walaupun suaranya anjlok.

Demokrat memang partai yang tengah menjadi sorotan saat ini,menyusul kasus-kasus hukum para oknum politiknya. Wajar manakala responden kritis terhadap partai penguasa ini. Berbagai ulasan mengemuka seiring dengan fenomena anjloknya Demokrat, yang dalam survei SSS hanya memperoleh 10,7%, mengedepankan alasan utamanya,selalu dikaitkan dengan kasus-kasus yang menjadi sorotan publik.

Tetapi, seolah-olah melupakan tren kemerosotannya yang sangat terkait dengan anjloknya prestasi kerja dan popularitas pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.Berbagai hasil survei mempertegas tren anjloknya popularitas pemerintah. Hal ini berdampak pada pergeseran preferensi publik terhadap Demokrat. Yang juga perlu dicermati ialah, kekompakan internal yang kurang tampak di Demokrat.

Beberapa politisinya bahkan kontraproduktif komunikasi politiknya. Dari sisi ini publik menyorot gradasi kualitas kader-kadernya yang ada di elite kekuasaan. Padahal, sesungguhnya partai ini telah cukup berjalan baik dalam konteks institusionalisasinya, di mana Ketua Umum Anas Urbaningrum telah berupaya menjalankan fungsi keorganisasian dengan baik.

Sementara Partai Golkar tampak jauh lebih solid walaupun kontroversi dukungan calon presiden sempat menyeruak. Kendati demikian, strategi kampanye ganda yakni partai sekaligus tokoh (Aburizal Bakrie) yang dilakukan lebih awal ketimbang partaipartai lain merupakan eksperimen politik yang bukan tanpa konsekuensi. Kalau tidak hatihati dan cermat dalam melangkah, tokoh malah bisa menjadi faktor negatif bagi partai.

Kekuatan tokoh itulah yang menjadi problem Partai Golkar saat ini.Popularitas dan elektabilitas Aburizal Bakrie perlu terus digenjot.Itu bukanlah perkara yang mudah. PDIP, di sisi lain, tampak mengalami problem stagnasi. Seperti belum ada yang berubah dari partai ini. Namun, figur Megawati Soekarnoputri masih elektabel. Partai ini perlu membuat terobosanterobosan kreatif,belajar pada pengalaman kemenangannya pada 1999, agar semakin aktual.

Trust dan Kreativitas

Trust atau kepercayaan penting untuk dijaga, bahkan diraih melalui kreativitas. Cara elite-elite partai untuk mengemas, lebih tepatnya,membawa atau mengelola partainya sehingga menumbuhkan daya tarik perlu terus diuji. Pertama, apakah caranya melanggar ketentuan hukum atau tidak. Kedua, etis atau tidak. Yang pertama ranahnya lebih ketat ketimbang yang kedua, tetapi jangka panjang, eksistensi dan survivalitas partai ditentukan yang kedua.

Masing-masing partai punya problem tersendiri dari skala prioritasnya.Partai-partai besar lebih berupaya untuk menghilangkan ganjalan-ganjalan yang menghambatnya. Partai-partai menengah dan kecil berupaya memperkencang laju politiknya. Namun, semuanya dituntut untuk bisa bekerja secara wajar dan etis. Etika politik semakin penting dalam menggalang dukungan, mengingat mengemuka kecenderungan etis di ranah publik di tengah-tengah arus pragmatisme-transaksional.

Sekarang partai-partai tengah beradu strategi untuk merebut dukungan publik. Kompetisi antarpartai merupakan pertarungan pengaruh atau kepercayaan dari berbagai sudut pandang.Beragam daya tarik dikedepankan. Publik semakin dihadapkan beragam alternatif.Tampaknya, yang paling wajar dan etislah, yang paling berpeluang. Wallahua’lam.●
 
 M ALFAN ALFIAN
 Dosen Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional (Unas), Jakarta

KALENDER LITURGI KATOLIK:bacaan 1 tahun

Kalender Liturgi

Liturgical Calendar

 
Kalender Liturgi 2012 Tahun B/II(27 Nov 2011- 2 Des 2012)
Kalender Liturgi Iman Katolik tahun B/II - 2012 Bekerja sama dengan Komisi Liturgi KWI
Kalender Liturgi 2013 Tahun C/I (2 Des 2012- Nov 2013)
==>Download<==

MENGKAJI AJARAN PELAYANAN SOSIAL KATOLIK

MENGKAJI AJARAN PELAYANAN SOSIAL KATOLIK

Wah, pertanyaan anda cukup unik, dan tidak mudah untuk menjawabnya, karena selain memang luas cakupannya, namun juga penerapannya memerlukan kreativitas dari yang terlibat. Saya menganjurkan, anda untuk membaca ringkasan beberapa dokumen resmi tentang ajaran sosial Gereja, jika anda mempunyai keterbatasan waktu untuk membaca semua dokumen ajaran sosial Gereja ini. Bukunya berjudul Precis of Official Catholic Teaching on the Social Teaching of the Church yang dikeluarkan oleh CCSP, berisi ringkasan beberapa surat ensiklik dari para Paus, seperti Rerum Novarum, Quadragesimo Anno, Mater et Magistra, Populorum Progressio, Laborem Excercens, Centesimus Annus, Sollicitudo Rei Socialis, Gaudium et Spes, dst.


Saya bukan seorang ahli dalam hal ini, maka yang dapat saya sampaikan di sini adalah prinsip-prinsip secara umum, yang dapat kita ketahui tentang prinsip ajaran sosial Gereja, yang mungkin dapat dipegang dalam pelayanan sosial Katolik, entah yang dilakukan oleh kaum religius ataupun oleh kaum awam, sehingga harapannya dapat membedakannya dengan LSM yang non-Katolik:

1. Prinsip dasar:
- Ajaran sosial Gereja selalu mempunyai prinsip dasar menjunjung tinggi martabat manusia sehingga hubungan timbal balik antar manusia dapat terwujud (Mater et Magistra, 220). Dasar martabat manusia ini adalah karena manusia diciptakan menurut gambaran Allah (lih. Kej 1:26; Keb 2:23, Gaudium et Spes 12, 29)

- Para pelayan sosial religius selayaknya mengusahakan hubungan timbal 
   balik/ dialog antara kedua kelompok (yang menolong dan ditolong), 
   dengan menyatakan kepada kedua pihak pengajaran Injil (lih. Rerum
    Novarum 41, Populorum Progressio 54)

- Semua kegiatan harus sesuai dengan prinsip moralitas praktis, di mana
  semua kebutuhan pribadi maupun masyarakat harus diharmonisasikan
  dengan persyaratan untuk mencapai kebaikan bersama/ “common
   good” (lih Mater et Magistra, 37).

- Setiap orang harus melihat sesamanya sebagai dirinya sendiri, dengan
  memikirkan hidupnya dan jalan yang diperlukan untuk hidup dengan
  cara yang layak: makanan, pakaian, perumahan, hak untuk memilih status
  hidup dan membentuk keluarga, hak untuk mengecap pendidikan,
  bekerja, nama baik, penghormatan, pengetahuan sepantasnya, hak untuk
  bertindak sesuai dengan hati nuraninya dan untuk melindungi
  keleluasaan pribadi (privacy) dan kebebasan beragama. (lih Gaudium et
  Spes, 26, 27).

- Solidaritas membantu kita melihat orang lain tidak sebagai alat tetapi
   sebagai sesama, seorang penolong (lih. Kej 2:18-20), sama-sama
   mengambil bagian di perjamuan kehidupan yang kepadanya kita semua
   dipanggil oleh Tuhan (Sollicitudo Rei Socialis, 39).

- Pihak yang lemah/ miskin harus dibantu untuk dapat memperoleh
  keahlian, agar dapat bersaing, dan dapat memperoleh kemampuan untuk
  menggunakan kapasitas dan sumber daya yang ada pada diri mereka
  (Centesimus Annus, 34)

- Kasih harus melampaui keadilan, dan bahwa segala kegiatan sosial
   ditujukan untuk memberikan kasih (dan keadilan) demi kebaikan
   bersama (Caritas in Veritate, 6)

Penerapannya mungkin adalah sebagai berikut:
a) mendorong agar pihak yang ditolong dapat berkembang, dan bukan
  hanya sekedar menerima bantuan.

b) Maka pihak lembaga pelayanan sosial Katolik tersebut juga harus
    mengusahakan berbagai pelatihan ataupun pendidikan agar dapat
    meningkatkan kemampuan mereka.

c) lembaga pelayanan sosial Katolik tersebut sedapat mungkin membuka
    kemungkinan dialog antara para donatur (pihak yang menolong) dan
    pihak yang ditolong.

d) jika pelatihan sudah diperoleh, maka langkah selanjutnya adalah untuk
     mencari kemungkinan penyaluran jasa ataupun barang-barang yang
     dihasilkan dari orang-orang yang ditolong agar mereka dapat
     berkembang sebagai pribadi yang mandiri.

2. Penekanan kepada perkembangan manusia seutuhnya:

- Gereja dipercaya dengan tugas untuk membuka pemikiran manusia
   terhadap misteri Allah dan dengan demikian manusia dapat memahami
   arti dari keberadaannya, suatu kebenaran yang terdalam tentang dirinya
   sendiri (lih Gaudium et Spes, 41).

- Perkembangan otentik harus lebih dari sekedar pertumbuhan ekonomi,
   namun harus lengkap: harus memajukan kebaikan setiap manusia dan
   keseluruhan manusia (Populorum Progressio, 14, lihat juga prinsip-
   prinsip yang diajarkan dalam ensiklik Paus Benediktus XVI yang
   terbaru, Caritas in Veritate)

- Perkembangan otentik manusia mensyaratkan pemahaman akan makna
   seksualitas manusia seperti yang dituliskan dalam Humane Vitae, dan
   pemahaman akan penerapan nilai-nilai Injil di dalam perbuatan, seperti
   yang tertulis dalam Evangelii Nuntiandi (lih. Caritas in Veritate, 15)

Penerapannya mungkin adalah:

a) sedapat mungkin melibatkan/ mendorong pembinaan iman keluarga
     yang ditolong.

b) mengajarkan nilai-nilai/ makna perkawinan di dalam ajaran Kristiani,
    terutama jika yang ditolong adalah keluarga-keluarga Katolik. Jika
    perlu mengadakan edukasi tentang KB alamiah.

c) menekankan pentingnya diadakan pelatihan/ edukasi, baik kepada
    pihak kepala keluarga dan jika mungkin program bea siswa anak-anak
    mereka.


3. Hal religius diutamakan:

- Segala organisasi sosial harus diatur dan diarahkan untuk melaksanakan
   cara-cara yang tepat untuk membantu setiap anggota untuk
   “meningkatkan kondisinya sedapat mungkin dalam hal jasmani, rohani
   dan kepemilikan.” (Rerum Novarum 42, Quadragesimo Anno 32).

- Lembaga pelayanan sosial Katolik harus melihat kepada Tuhan sebagai
   acuannya, maka instruksi religius harus mendapatkan tempat. Semua
   orang yang terlibat di dalamnya harus diingatkan akan kewajibannya
   kepada Tuhan, untuk menyembah Tuhan dan untuk mempraktekkan
   ajaran agamanya. Yang beragama Katolik harus diarahkan untuk
   menghormati Gereja Katolik, mematuhi peraturan Gereja dan mengikuti
   sakramen-sakramen Gereja, untuk menghantar mereka kepada
   pertobatan dan hidup yang suci (lih. Rerum Novarum 42)

Penerapannya mungkin adalah:

a) selain mengusahakan terpenuhinya kebutuhan hidup dasar dan
    perbaikan taraf hidup, segi rohani juga diperlukan, misalnya jika
    memungkinkan diadakan Misa Kudus bersama atau acara bersama
    yang bersifat rohani, jika mungkin diadakan rutin, bagi pengurus
    maupun bagi umat yang ditolong.

b) sebelum diadakan dan sesudah diadakannya kegiatan diawali dan
     ditutup dengan doa bersama, terutama para pengurusnya.

4. Keberpihakan Gereja adalah kepada yang miskin/ termiskin (Laborem
    Exercens, 8, Sollicitudo Rei Socialis, 42, Centesimus Annus, 11)
    maka prioritas utama harus diberikan kepada yang paling 
     membutuhkan.

Penerapannya :

a) memberi prioritas utama untuk membantu mereka yang benar-benar
    miskin/ membutuhkan bantuan.

b) untuk ini diperlukan sistem dan kriteria yang jelas dan transparan.

Demikian yang dapat saya tuliskan untuk menjawab pertanyaan anda. Untuk melakukan hal ini tidaklah mudah, sebab diperlukan orang-orang yang berkomitmen, jujur, dan di atas semua itu, digerakkan oleh semangat kasih yang besar kepada Kristus untuk melakukan karya kerasulan ini.
 
Karya pelayanan yang demikian juga selayaknya dapat menyebarkan nilai-nilai Injil di dalamnya, agar dapat menerapkan apa yang diajarkan oleh Kristus dan Gereja-Nya, demi mencapai perkembangan manusia yang seutuhnya: jasmani, rohani, baik pada orang yang ditolong, maupun yang menolong.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org/
 
http://sutonofx.blogspot.com/2010/06/mengkaji-ajaran-pelayanan-sosial

Jejak Jiwa dalam Bayangan: Transformasi Estetis, dan Jejak Historis Seni Pedalangan Ki H. Anom Suroto (1948–2025)

  Jejak Jiwa dalam Bayangan: Transformasi Estetis, dan Jejak Historis Seni Pedalangan Ki H. Anom Suroto (1948–2025)   https://www.youtube....