Menakar Kuasa Lewat Jenaka: Sepak Terjang,
Pemikiran, dan Kritik Kultural Mohammad Sobary
Pendahuluan
Dalam konstelasi pemikiran kebudayaan di Indonesia,
kritik terhadap kekuasaan tidak melulu lahir dari mimbar akademis yang kaku
atau orasi jalanan yang meledak-ledak. Ada ruang alternatif di mana kritik
disampaikan melalui metafora yang subtil, esai yang mengalir, dan humor yang
segar namun menohok.
Eksponen utama
dari corak kritik kultural ini adalah Mohammad Sobary (atau yang akrab
disapa Kang Sobary). Sebagai seorang budayawan, cendekiawan, dan kolumnis
kawakan, Kang Sobary meletakkan kebudayaan bukan sekadar sebagai kesenian,
melainkan sebagai pisau analisis sosial untuk membedah perilaku para pemangku
kekuasaan.
Tulisan sederhana dan ala kadarnya ini bertujuan
membedah pemikiran Kang Sobary, sepak terjangnya dalam merawat nalar kritis
bangsa, kedekatannya dengan lingkaran intelektual tradisi, serta bagaimana
humor dan kultur Jawa (Njawani) bertransformasi menjadi oposisi moral
yang solutif.
Biografi Kang Sobary: Intelektual Njawani
berpendidikan Tinggi
Mohammad Sobary lahir di Yogyakarta, sebuah wilayah
yang membentuk fondasi kultural kediriannya secara mendalam. Beliau adalah
representasi utuh dari perpaduan antara akademisi modern dan manusia tradisi
yang njawani (memiliki nilai spiritualitas dan etika Jawa yang kental).
Kang Sobary menempuh pendidikan tinggi di bidang sosiologi/antropologi, yang
kemudian membawanya menjadi peneliti senior di Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia (LIPI) serta pernah dipercaya memimpin Lembaga Kantor Berita Nasional
(LKBN) Antara.
Meskipun menyandang gelar akademis tinggi dan fasih
dengan metodologi riset modern, Kang Sobary tidak pernah kehilangan pijakan
akarnya. Dalam kesehariannya, tutur kata, hingga tulisan-tulisannya di berbagai
media massa (seperti kolom Asal-Usul di Kompas dan esai-esai di Tempo),
ia selalu memosisikan diri sebagai "orang biasa" atau wong cilik.
Kelenturan kultural inilah yang membuatnya disebut sebagai manusia yang cerdas
secara rasional sekaligus peka secara spiritual.
Kritik Pedas Terhadap Kekuasaan Melalui
Humor dan Kultur
Kritik Kang Sobary terhadap kekuasaan memiliki
karakteristik yang unik: pedas, jujur, namun disampaikan dengan jenaka.
Ketika Orde Baru sedang berada di puncak hegemoninya, maupun saat era Reformasi
mulai kehilangan arah, Sobary konsisten memakai tulisan sebagai cermin bagi
para penguasa yang kerap mabuk kekuasaan.
Bagi Sobary, humor bukanlah sekadar alat hiburan,
melainkan instrumen subversif yang sah untuk menelanjangi kepalsuan politik. Ia
kerap menggunakan anekdot pedesaan, karakter fiktif penuh sindiran, atau
analogi perilaku mahluk hidup untuk menyentil kebijakan publik yang tidak
memihak rakyat. Kritiknya menjadi pedas justru karena kejujurannya; ia
membongkar watak feodalisme akut yang sering bersembunyi di balik baju
birokrasi modern Indonesia. Melalui humor, tensi politik yang tegang
didekonstruksi menjadi sebuah diskursus yang cair, tanpa kehilangan esensi
tuntutan keadilannya.
Kecintaan terhadap Indonesia dan Kedekatan
dengan Gus Dur
Di balik setiap goresan kritik tajamnya, terdapat
manifestasi kecintaan yang luar biasa mendalam terhadap Indonesia. Sobary tidak
mengritik atas dasar kebencian personal, melainkan karena rasa cemas melihat
nilai-nilai luhur kebangsaan yang digerus oleh keserakahan elite politik.
Kecocokan frekuensi berpikir ini pula yang mendekatkan
Kang Sobary dengan tokoh-tokoh budayawan nasional, terutama K.H. Abdurrahman
Wahid (Gus Dur). Persahabatan kultural antara Kang Sobary dan Gus Dur didasari
oleh kesamaan pandangan hidup: melihat Islam, kebudayaan Jawa, dan
keindonesiaan sebagai satu kesatuan yang selaras. Keduanya kerap berbagi ruang
humor, mendiskusikan nasib rakyat miskin, serta saling membela ketika hak-hak
sipil masyarakat diinjak-injak oleh otoritarianisme negara.
Kesalahmengertian terhadap Cara Pandang
Kang Sobary
Dalam dinamika ruang publik Indonesia yang sering kali
terpolarisasi, cara pandang Kang Sobary tak jarang menuai kesalahmengertian.
Sebagian kritikus politik atau kelompok formalis menganggap esai-esai Sobary
terlalu santai, sarkastik, atau dinilai "kurang ilmiah" karena tidak
dipenuhi oleh istilah-istilah teoretis barat yang rumit. Ada pula yang
menyalahartikan kritik humorisnya sebagai bentuk ketidakseriusan dalam
menanggapi krisis negara.
Kesalahmengertian ini bersumber dari ketidakmampuan
sebagian kalangan dalam menangkap kedalaman metodologi "kritik
kebudayaan". Apa yang ditulis oleh Kang Sobary sejatinya adalah sublimasi
dari pembacaan sosiologis yang mendalam. Ia sengaja meruntuhkan menara gading
akademis agar pesan moral pembelaan terhadap kemanusiaan dapat dicerna langsung
oleh seluruh lapisan masyarakat luas, bukan sekadar menjadi konsumsi elite
terdidik belaka.
Kesimpulan
Mohammad Sobary adalah potret budayawan-cendekiawan
lintas zaman yang berhasil mengawinkan rasionalitas pendidikan tinggi dengan
kearifan lokal Nusantara. Sepak terjangnya membuktikan bahwa mengawal jalannya
demokrasi dan keadilan tidak selamanya harus dijalani dengan ketegangan yang
destruktif.
Melalui esai yang tajam, kritik yang dibalut humor,
dan keberpihakan yang konsisten pada nilai kemanusiaan, ia telah mewariskan
kompas moral penting bagi perjalanan literasi dan kebudayaan Indonesia.
Bersikap Kritis, Seimbang, dan Solutif
Meneladani pemikiran Kang Sobary di era disrupsi
informasi saat ini menuntut kita untuk merefleksikan kembali cara kita
merespons masalah kebangsaan. Kita diajak untuk tidak terjebak pada dua kutub
ekstrem: menjadi pemuji kekuasaan yang buta, atau menjadi pengritik yang
dipenuhi kebencian destruktif tanpa arah.
Mari kita bangun tradisi kritik yang seimbang dan
solutif. Kritik yang lahir dari ketajaman berpikir dan kejernihan hati,
yang mampu melihat persoalan secara struktural sekaligus kultural. Ketika kita
dihadapkan pada karut-marut persoalan bangsa, hadapilah dengan kepala dingin,
argumentasi berbasis data yang kuat, serta sisipan humor yang cerdas untuk
merawat kewarasan publik. Dengan demikian, nalar kritis kita tidak hanya akan
meruntuhkan kekeliruan, tetapi juga mampu menawarkan jalan keluar yang
memanusiakan manusia demi masa depan Indonesia yang lebih baik.
Eh, jadi bagaimana tentang keindonesiaan kita saat ini
ya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar