fxsutono blogspot.com

Senin, 26 Oktober 2026

Menakar Kuasa Lewat Jenaka: Sepak Terjang, Pemikiran, dan Kritik Kultural Mohammad Sobary

 

Menakar Kuasa Lewat Jenaka: Sepak Terjang, Pemikiran, dan Kritik Kultural Mohammad Sobary

 

Pendahuluan

Dalam konstelasi pemikiran kebudayaan di Indonesia, kritik terhadap kekuasaan tidak melulu lahir dari mimbar akademis yang kaku atau orasi jalanan yang meledak-ledak. Ada ruang alternatif di mana kritik disampaikan melalui metafora yang subtil, esai yang mengalir, dan humor yang segar namun menohok.

 Eksponen utama dari corak kritik kultural ini adalah Mohammad Sobary (atau yang akrab disapa Kang Sobary). Sebagai seorang budayawan, cendekiawan, dan kolumnis kawakan, Kang Sobary meletakkan kebudayaan bukan sekadar sebagai kesenian, melainkan sebagai pisau analisis sosial untuk membedah perilaku para pemangku kekuasaan.

Tulisan sederhana dan ala kadarnya ini bertujuan membedah pemikiran Kang Sobary, sepak terjangnya dalam merawat nalar kritis bangsa, kedekatannya dengan lingkaran intelektual tradisi, serta bagaimana humor dan kultur Jawa (Njawani) bertransformasi menjadi oposisi moral yang solutif.

 

Biografi Kang Sobary: Intelektual Njawani berpendidikan Tinggi

Mohammad Sobary lahir di Yogyakarta, sebuah wilayah yang membentuk fondasi kultural kediriannya secara mendalam. Beliau adalah representasi utuh dari perpaduan antara akademisi modern dan manusia tradisi yang njawani (memiliki nilai spiritualitas dan etika Jawa yang kental). Kang Sobary menempuh pendidikan tinggi di bidang sosiologi/antropologi, yang kemudian membawanya menjadi peneliti senior di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) serta pernah dipercaya memimpin Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara.

Meskipun menyandang gelar akademis tinggi dan fasih dengan metodologi riset modern, Kang Sobary tidak pernah kehilangan pijakan akarnya. Dalam kesehariannya, tutur kata, hingga tulisan-tulisannya di berbagai media massa (seperti kolom Asal-Usul di Kompas dan esai-esai di Tempo), ia selalu memosisikan diri sebagai "orang biasa" atau wong cilik. Kelenturan kultural inilah yang membuatnya disebut sebagai manusia yang cerdas secara rasional sekaligus peka secara spiritual.

Kritik Pedas Terhadap Kekuasaan Melalui Humor dan Kultur

Kritik Kang Sobary terhadap kekuasaan memiliki karakteristik yang unik: pedas, jujur, namun disampaikan dengan jenaka. Ketika Orde Baru sedang berada di puncak hegemoninya, maupun saat era Reformasi mulai kehilangan arah, Sobary konsisten memakai tulisan sebagai cermin bagi para penguasa yang kerap mabuk kekuasaan.

Bagi Sobary, humor bukanlah sekadar alat hiburan, melainkan instrumen subversif yang sah untuk menelanjangi kepalsuan politik. Ia kerap menggunakan anekdot pedesaan, karakter fiktif penuh sindiran, atau analogi perilaku mahluk hidup untuk menyentil kebijakan publik yang tidak memihak rakyat. Kritiknya menjadi pedas justru karena kejujurannya; ia membongkar watak feodalisme akut yang sering bersembunyi di balik baju birokrasi modern Indonesia. Melalui humor, tensi politik yang tegang didekonstruksi menjadi sebuah diskursus yang cair, tanpa kehilangan esensi tuntutan keadilannya.

Kecintaan terhadap Indonesia dan Kedekatan dengan Gus Dur

Di balik setiap goresan kritik tajamnya, terdapat manifestasi kecintaan yang luar biasa mendalam terhadap Indonesia. Sobary tidak mengritik atas dasar kebencian personal, melainkan karena rasa cemas melihat nilai-nilai luhur kebangsaan yang digerus oleh keserakahan elite politik.

Kecocokan frekuensi berpikir ini pula yang mendekatkan Kang Sobary dengan tokoh-tokoh budayawan nasional, terutama K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Persahabatan kultural antara Kang Sobary dan Gus Dur didasari oleh kesamaan pandangan hidup: melihat Islam, kebudayaan Jawa, dan keindonesiaan sebagai satu kesatuan yang selaras. Keduanya kerap berbagi ruang humor, mendiskusikan nasib rakyat miskin, serta saling membela ketika hak-hak sipil masyarakat diinjak-injak oleh otoritarianisme negara.

Kesalahmengertian terhadap Cara Pandang Kang Sobary

Dalam dinamika ruang publik Indonesia yang sering kali terpolarisasi, cara pandang Kang Sobary tak jarang menuai kesalahmengertian. Sebagian kritikus politik atau kelompok formalis menganggap esai-esai Sobary terlalu santai, sarkastik, atau dinilai "kurang ilmiah" karena tidak dipenuhi oleh istilah-istilah teoretis barat yang rumit. Ada pula yang menyalahartikan kritik humorisnya sebagai bentuk ketidakseriusan dalam menanggapi krisis negara.

Kesalahmengertian ini bersumber dari ketidakmampuan sebagian kalangan dalam menangkap kedalaman metodologi "kritik kebudayaan". Apa yang ditulis oleh Kang Sobary sejatinya adalah sublimasi dari pembacaan sosiologis yang mendalam. Ia sengaja meruntuhkan menara gading akademis agar pesan moral pembelaan terhadap kemanusiaan dapat dicerna langsung oleh seluruh lapisan masyarakat luas, bukan sekadar menjadi konsumsi elite terdidik belaka.

Kesimpulan

Mohammad Sobary adalah potret budayawan-cendekiawan lintas zaman yang berhasil mengawinkan rasionalitas pendidikan tinggi dengan kearifan lokal Nusantara. Sepak terjangnya membuktikan bahwa mengawal jalannya demokrasi dan keadilan tidak selamanya harus dijalani dengan ketegangan yang destruktif.

Melalui esai yang tajam, kritik yang dibalut humor, dan keberpihakan yang konsisten pada nilai kemanusiaan, ia telah mewariskan kompas moral penting bagi perjalanan literasi dan kebudayaan Indonesia.

Bersikap Kritis, Seimbang, dan Solutif

Meneladani pemikiran Kang Sobary di era disrupsi informasi saat ini menuntut kita untuk merefleksikan kembali cara kita merespons masalah kebangsaan. Kita diajak untuk tidak terjebak pada dua kutub ekstrem: menjadi pemuji kekuasaan yang buta, atau menjadi pengritik yang dipenuhi kebencian destruktif tanpa arah.

Mari kita bangun tradisi kritik yang seimbang dan solutif. Kritik yang lahir dari ketajaman berpikir dan kejernihan hati, yang mampu melihat persoalan secara struktural sekaligus kultural. Ketika kita dihadapkan pada karut-marut persoalan bangsa, hadapilah dengan kepala dingin, argumentasi berbasis data yang kuat, serta sisipan humor yang cerdas untuk merawat kewarasan publik. Dengan demikian, nalar kritis kita tidak hanya akan meruntuhkan kekeliruan, tetapi juga mampu menawarkan jalan keluar yang memanusiakan manusia demi masa depan Indonesia yang lebih baik.

Eh, jadi bagaimana tentang keindonesiaan kita saat ini ya

Tidak ada komentar:

KLIPING NASIONAL HARI INI: DINAMIKA PEMBANGUNAN DAN SOSIAL INDONESIA 26 oktober 2026

  KLIPING NASIONAL HARI INI: DINAMIKA PEMBANGUNAN DAN SOSIAL INDONESIA 26 oktober 2026   1. JUDUL ARTIKEL: Menyiasati Backlog Perumaha...