Selasa, 10 Juli 2012

Salah Pilih, Tersandera 5 Tahun

Oleh Duhita Dundewi

Sekarang tinggal hitungan jam ke waktu pencoblosan Pemilukada DKI. Nasib Jakarta lima tahun ke depan mulai besok pagi ditentukan, 11 Juli 2012. Apakah Jakarta akan begini-begini saja, jika Foke berkuasa lagi. Menjadi tidak jelas arah lajunya, jika salah satu dari dua calon independen itu mendapat suara memadai. Menjadi sektarian jika HNW-PKS menang, atau surut ke pedalaman dan terbelakang di tangan Jokowi-Ahok?

Harapan hanya tinggal pada Alex-Nono, pasangan nomor 6, jika Jakarta ingin segera menyelesaikan masalah akutnya (macet dan banjir), hak-hak warga Jakarta akan pendidikan, kesehatan, dan lapangan kerja terpenuhi secepatnya dengan layak. Dan terutama, arah pembangunan Jakarta menjadi Bandar Dunia yang disegani di Asia Tenggara, yang bisa mengangkat martabat warga Jakarta sendiri. Ini semua hanya bakal terwujud jika Jakarta berada di bawah pasangan pemimpin yang benar: Alex-Nono, nomor: 6.

Tidak ada salahnya kita mengingat lagi waktu pencalonan mereka, jika masih diperlukan serangkaian argumentasi yang bisa diterima dengan akal sehat. Hingga pilihan jatuh ke pasangan no. 6 ini benar-benar masuk akal.

Ingat Foke-Nara, kita harus ingat partai pengusungnya, Partai Demokrat. Partai penguasa yang para pemukanya banyak terjerat kasus korupsi kelas kakap. Hingga partai ini sekarang identik dengan sarang koruptor. Mereka sangat-sangat berkepentingan memertahankan Foke, demi mengamankan banyak perkara, yang bisa jadi, jika tidak terpilih lagi, berujung pada penjeblosan gubernur Jakarta berkumis ini ke dalam penjara.

Lihat saja gelagatnya, dana kampanye Foke-Nara yang tidak masuk akal besarannya. Terlebih lagi kampanye satu putaran yang digembar-gemborkannya, yang bisa menjerumuskan Jakarta dalam kerusuhan. Ini sungguh-sungguh di luar akal sehat. Kita bisa menandainya sebagai modus kecurangan yang rancangannya sudah disipakan sejak penyusunan Daftar Pemilih Tetap (DPT).
Jangan pernah berpikir bahwa pasangan Foke-Nara adalah pasangan paling siap memimpin Jakarta. Dasar pencalonannya tidak diarahkan untuk kebaikan Jakarta, melainkan kekuasaan dari tangan partai penguasa sekarang di Jakarta maupun tingkat nasional. Mereka disatukan pada saat-saat mepet. Kemenangan Foke-Nara adalah kekalahan Jakarta dan warganya. Jakarta sungguh tidak akan lebih baik di tangan mereka, karena hanya akan diabdikan kepada partai penguasa dan para cukongnya.

Dua pasangan independen, lupakan saja. Jakarta bakal menjadi amburadul di tangan mereka. Bahkan pasangan nomor 2, ketika pencalonannya dulu, sebenarnya disiapkan untuk menjadi boneka tandingan untuk pasangan independen no. 5. Belum, bahkan tidak mungkin, pasangan independen ini berkuasa di ibu kota, karena keduanya mengkhianati demokrasi kita, dengan pemunculannya saja. Yang setara nilainya dengan kegagalan bernegara.

Jokowi-Ahok, nomor 3. Membayangkan Jakarta di tangan mereka, sungguh serba tidak jelas. Setidak jelas pikiran-pikiran yang dikemukakan Jokowi sendiri selama ini. Reputasi media yang dibangunnya selama ini, sungguh tidak ada relevanasinya dengan problematika Jakarta. Jakarta bukan hanya perkara PKL yang bisa direlokasi. Jakarta bukan tempat adem-ayem seperti solo. Dan terlebih lagi, Jakarta tidak sedang memilih seorang walikota, melainkan gubernur.

Ingat pencalonan Jokowi. Deseret-seret oleh Partai Gerindra-Prabowo, bukan oleh PDIP. Dipasangkan dengan Ahok, sungguh menjadi tanda tanya besar, yang tidak ada jawabannya sampai sekarang. Siapa Ahok ini? Kenapa Ahok? Membayangkan dia menjadi wakil gubernur Jakarta, sungguh jauh dari penalaran akal sehat masa sekarang.

Pasangan HNW-Didik, nomor 4. Sudah disebutkan di atas. Pasangan pemimpin ini hanya akan menjadikan Jakarta menjadi kota sektarian. Lihat saja eksklusivisme pencalonannya. HNW adalah kartu terakhir dari satu-satunya partai penganut ideologi sektarian terakhir yang masih hidup di Indonesia. Jakarta dan warga Jakarta berkepentingan untuk menahan kekuatan sektarian ini, agar tidak menduduki puncak kekuasaan ibu kota.

Pilihan warga Jakarta memang harus ke pasangan Alex-Nono, nomor 6. Karena pasangan ini saja yang paling bisa diterima oleh akal sehat warga Jakarta. Sejak pencalonannya, Alex-Nono paling siap. Siap bukan berdasarkan ambisinya, melainkan dengan rencananya yang jelas untuk Jakarta. Pasangan ini disatukan oleh visi yang sama. Melihat Jakarta sebagai ibu kota Indonesia, yang harus menjadi lokomotif kemakmuran bagi kota-kota di seluruh Indonesia. Ini bukan keinginan, melainkan sudah menjadi rencana mereka sejak lama.

Memilih Alex-Nono, nomor urut 6, berarti menyelamatkan Jakarta, menyelamatkan Indonesia, dari sektarianisme ala PKS, kemunduran di tangan Jokowi-Ahok, atau kebangkrutan di tangan Foke-Nara-Demokrat. Sekian!




Peluang Usaha Pertanian dalam Greenhouse



Peluang usaha bidang pertanian ini dapat diterapkan juga pada peluang usaha hidroponik dan pertanian lainnya.
Pengembangan pertanian menggunakan teknologi greenhouse menjadi semakin penting jika dikaitkan dengan upaya peningkatan daya saing produk agribisnis nasional secara berkelanjutan untuk memenuhi tuntutan pasar global, disamping aman dikonsumsi (food safety attributes), punya kandungan nutrisi tinggi (nutrional attributes) dan ramah lingkungan (eco-labelling attributes), juga pasar membutuhkan produksi sepanjang tahun tanpa permasalahan iklim menjadikan kendala.
Pertanian didalam greenhouse adalah sistem produksi pertanian yang mengabungkan pemanfaatan perlindungan tanaman dari intensitas hujan, sinar matahari dan iklim mikro, yang mengoptimalkan pemeliharaan tanaman, pemupukan dan irigasi mikro, sehingga mampu meningkatkan produksi sayuran, buah dan bunga yang berkualitas tanpa tergantung dengan musim.
Pengembangan pertanian di dalam greenhouse dengan cara, antara lain:
1. Membangun greenhouse produksi dan perlengkapnnya
2. Membangun tempat pembibitan (nursery)
3. Membuat sistem irigasi mikro untuk greenhouse
4. Membuat Water Storage untuk keperluan sistem irigasi
5. Pelatihan produksi pertanian dengan teknologi greenhouse secara on farm (learning by doing).
Sejumlah keuntungan yang dapat dipetik dari pengembangan greenhouse untuk pertanian antara lain adalah:
1. Mengenalkan teknologi pertanian alternatif yang bisa dilakukan oleh pelaku usah pertanian untuk usaha tani yang menguntungkan dan terkesan pertanian modern yang berbahan lokal.
2. Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani, karena: (1) Harga jual hasil produksi pertanian didalam greenhouse seringkali lebih mahal; (3) Mendekatkan pasar global dengan hasil kepastian produksi pertanian yang berkualitas dan kepastian suplai (4) Pengembangan pertanian dengan teknologi greenhouse berarti mendorong (memacu) daya saing produk agribisnis Indonesia untuk memenuhi permintaan pasar internasional terhadap produk pertanian yang berkualitas dan kontinyu yang terus meningkat. Ini berarti akan mendatangkan devisa bagi pemerintah dan pemerintah daerah, yang pada akhirnya akan/dapat meningkatkan kesejahteraan petani itu sendiri;
3. Meminimalkan semua bentuk penggunann bahan kimi yang dihasilkan dari kegiatan pertanian konvensional. Karena kegiatan pertanian di dalam greenhouse: Menerapkan Pengelolaan Hama Terpadu;
4. Kegiatan pertanian didalam greenhouse selain menciptakan lapangan kerja baru juga dapat meningkatkan perolehan teknologi pertanian di perdesaan. Pertanian teknologi greenhouse akan menciptakan hadirnya peluang pasar lain yang berarti adanya lapangan kerja baru bagi masyarakat perdesaan. Disamping itu, penerapan pertanian dengan greenhouse juga akan mendorong terciptanya kerjasama kemitraan antara petani-pasar-penyedia input.
5. Dengan demikian, nampak bahwa kegiatan pertanian dengan mengunakan greenhouse merupakan suatu sistem pertanian yang terintegrasi, ekonomis, berkualitas, produksi sepanjang musim dan dapat meningkatkan nilai tambah masyarakat. Untuk merealisasikan usaha pertanian dengan greenhouse ini, dibutuhkan kegiatan pengembangan langsung kepada masyarakat dalam bentuk kegiatan pengembangan greenhouse pertanian di lapangan. Kegiatan pengembangan usaha produksi pertanian dengan greenhouse ini dapat dilakukan melalui intensifikasi lahan usaha dan/atau lahan transmigrasi, sehingga mempunyai daya produksi sebagai sentra pertanian berbagai sayuran.

http://ediskoe.blogspot.com/?expref=next-blog

FILOSOFI SEMAR


Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya
Bebadra = Membangun sarana dari dasar
Naya = Nayaka = Utusan mangrasul
Artinya : Mengembani sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia

Filosofi, Biologis Semar


Javanologi : Semar = Haseming samar-samar (Fenomena harafiah makna kehidupan Sang Penuntun). Semar tidak lelaki dan bukan perempuan, tangan kanannya keatas dan tangan kirinya kebelakang. Maknanya : “Sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakan simbul Sang Maha Tumggal”. Sedang tangan kirinya bermakna “berserah total dan mutlak serta selakigus simbul keilmuaan yang netral namun simpatik”.

Domisili semar adalah sebagai lurah karangdempel / (karang = gersang) dempel = keteguhan jiwa. Rambut semar “kuncung” (jarwadasa/pribahasa jawa kuno) maknanya hendak mengatakan : akuning sang kuncung = sebagai kepribadian pelayan.

Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat, tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi. Semar barjalan menghadap keatas maknanya : “dalam perjalanan anak manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang keatas (sang Khaliq ) yang maha pengasih serta penyayang umat”.



Kain semar Parangkusumorojo: perwujudan Dewonggowantah (untuk menuntun manusia) agar memayuhayuning bawono : mengadakan keadilan dan kebenaran di bumi.
Ciri sosok semar adalah :
Semar berkuncung seperti kanak kanak,namun juga berwajah sangat tua
Semar tertawannya selalu diakhiri nada tangisan
Semar berwajah mata menangis namun mulutnya tertawa
Semar berprofil berdiri sekaligus jongkok
Semar tak pernah menyuruh namun memberikan konsekwensi atas nasehatnya

Kebudayaan Jawa telah melahirkan religi dalam wujud kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, yaitu adanya wujud tokoh wayang Semar, jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu, Budha dan Isalam di tanah Jawa.

Dikalangan spiritual Jawa ,Tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis, tetapi lebih bersifat mitologi dan symbolis tentang KeEsa-an, yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan expresi, persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual . Pengertian ini tidak lain hanyalah suatu bukti yang kuat bahwa orang Jawa sejak jaman prasejarah adalah Relegius dan ber keTuhan-an yang Maha Esa.

Dari tokoh Semar wayang ini akan dapat dikupas ,dimengerti dan dihayati sampai dimana wujud religi yang telah dilahirkan oleh kebudayaan Jawa .

Gambar tokoh Semar nampaknya merupakan simbol pengertian atau konsepsi dari aspek sifat Ilahi, yang kalau dibaca bunyinya katanya ber bunyi :
Semar (pralambang ngelmu gaib) – kasampurnaning pati.
Bojo sira arsa mardi kamardikan, ajwa samar sumingkiring dur-kamurkan Mardika artinya “merdekanya jiwa dan sukma“, maksudnya dalam keadaan tidak dijajah oleh hawa nafsu dan keduniawian, agar dalam menuju kematian sempurna tak ternodai oleh dosa. Manusia jawa yang sejati dalam membersihkan jiwa (ora kebanda ing kadonyan, ora samar marang bisane sirna durka murkamu) artinya : “dalam menguji budi pekerti secara sungguh-sungguh akan dapat mengendalikan dan mengarahkan hawa nafsu menjadi suatu kekuatan menuju kesempurnaan hidup”.

Filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka dalam lakon Semar Mbabar Jati Diri
Dalam Etika Jawa ( Sesuno, 1988 : 188 ) disebutkan bahwa Semar dalam pewayangan adalah punakawan ” Abdi ” Pamomong ” yang paling dicintai. Apabila muncul di depan layar, ia disambut oleh gelombang simpati para penonton. Seakan-akan para penonton merasa berada dibawah pengayomannya.

Simpati para penonton itu ada hubungannya dengan mitologi Jawa atau Nusantara yang menganggap bahwa Semar merupakan tokoh yang berasal dari Jawa atau Nusantara ( Hazeu dalam Mulyono 1978 : 25 ). Ia merupakan dewa asli Jawa yang paling berkuasa ( Brandon dalam Suseno, 1988 : 188 ). Meskipun berpenampilan sederhana, sebagai rakyat biasa, bahkan sebagai abdi, Semar adalah seorang dewa yang mengatasi semua dewa. Ia adalah dewa yang ngejawantah ” menjelma ” ( menjadi manusia ) yang kemudian menjadi pamong para Pandawa dan ksatria utama lainnya yang tidak terkalahkan.

Oleh karena para Pandawa merupakan nenek moyang raja-raja Jawa (Poedjowijatno, 1975 : 49 ) Semar diyakini sebagai pamong dan danyang pulau Jawa dan seluruh dunia ( Geertz 1969 : 264 ).
Ia merupakan pribadi yang bernilai paling bijaksana berkat sikap bathinnya dan bukan karena sikap lahir dan keterdidikannya ( Suseno 1988 : 190 ).
Ia merupakan pamong yang sepi ing pamrih, rame ing ngawe ” sepi akan maksud, rajin dalam bekerja dan memayu hayuning bawana ” menjaga kedamaian dunia ( Mulyono, 1978 : 119 dan Suseno 1988 : 193 )
Dari segi etimologi, joinboll ( dalam Mulyono 1978 : 28 ) berpendapat bahwa Semar berasal dari sar yang berarti sinar ” cahaya “. jadi Semar berarti suatu yang memancarkan cahaya atau dewa cahaya, sehingga ia disebut juga Nurcahya atau Nurrasa ( Mulyono 1978 : 18 ) yang didalam dirinya terdapat atau bersemayam Nur Muhammad, Nur Illahi atau sifat Ilahiah. Semar yang memiliki rupa dan bentuk yang samar, tetapi mempunyai segala kelebihan yang telah disebutkan itu, merupakan simbol yang bersifat Ilahiah pula ( Mulyono 1978 : 118 – Suseno 1988 : 191 ). Sehubungan dengan itu, Prodjosoebroto ( 1969 : 31 ) berpendapat dan menggambarkan ( dalam bentuk kaligrafi ) bahwa jasat Semar penuh dengan kalimat Allah.

Sifat ilahiah itu ditunjukkan pula dengan sebutan badranaya yang berarti ” pimpinan rahmani ” yakni pimpinan yang penuh dengan belas kasih ( timoer, tt : 13 ). Semar juga dapat dijadikan simbol rasa eling ” rasa ingat ” ( timoer 1994 : 4 ), yakni ingat kepada Yang Maha Pencipta dan segala ciptaanNYA yang berupa alam semesta. Oleh karena itu sifat ilahiah itu pula, Semar dijadikan simbol aliran kebatinan Sapta Darma ( Mulyono 1978 : 35 )

Berkenaan dengan mitologi yang merekfleksikan segala kelebihan dan sifat ilahiah pada pribadi Semar, maka timbul gagasan agar dalam pementasan wayang disuguhkan lakon ” Semar Mbabar Jati Diri “. gagasan itu muncul dari presiden Suharto dihadapan para dalang yang sedang mengikuti Rapat Paripurna Pepadi di Jakarta pada tanggal, 20-23 Januari 1995. Tujuanya agar para dalang ikut berperan serta menyukseskan program pemerintah dalam pembangunan manusia seutuhnya, termasuk pembudayaan P4 ( Cermomanggolo 1995 : 5 ). Gagasan itu disambut para dalang dengan menggelar lakon tersebut. Para dalang yang pernah mementaskan lakon itu antara lain : Gitopurbacarita, Panut Darmaka, Anom Suroto, Subana, Cermomanggolo dan manteb Soedarsono ( Cermomanggolo 1995 : 5 – Arum 1995 : 10 ). Dikemukan oleh Arum ( 1995:10 ) bahwa dalam pementasan wayang kulit dengan lakon ” Semar Mbabar Jadi Diri ” diharapkan agar khalayak mampu memahami dan menghayati kawruh sangkan paraning dumadi ilmu asal dan tujuan hidup, yang digali dari falsafat aksara Jawa Ha-Na-Ca-Ra-Ka. Pemahaman dan penghayatan kawruh sangkan paraning dumadi yang bersumber filsafat aksara Jawa itu sejalan dengan pemikiran Soenarto Timoer ( 1994:4 ) bahwa filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka mengandung makna sebagai sumber daya yang dapat memberikan tuntunan dan menjadi panutan ke arah keselamatan hidup. Sumber daya itu dapat disimbolkan dengan Semar yang berpengawak sastra dentawyanjana. Bahkan jika mengacu pendapat Warsito ( dalam Ciptoprawiro 1991:46 ) bahwa aksara Jawa itu diciptakan Semar, maka tepatlah apabila pemahaman dan penghayatan kawruh sangkan paraning dumadi tersebut bersumberkan filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka
 


Batara Semar

MAYA adalah sebuah cahaya hitam. Cahaya hitam tersebut untuk menyamarkan segala sesuatu.
Yang ada itu sesungguhnya tidak ada.
Yang sesungguhnya ada, ternyata bukan.
Yang bukan dikira iya.
Yang wanter (bersemangat) hatinya, hilang kewanterane (semangatnya), sebab takut kalau keliru.

Maya, atau Ismaya, cahaya hitam, juga disebut SEMAR artinya tersamar, atau tidak jelas.

Di dalam cerita pewayangan, Semar adalah putra Sang Hyang Wisesa, ia diberi anugerah mustika manik astagina, yang mempunyai 8 daya, yaitu:
1.     tidak pernah lapar
2.     tidak pernah mengantuk
3.     tidak pernah jatuh cinta
4.     tidak pernah bersedih
5.     tidak pernah merasa capek
6.     tidak pernah menderita sakit
7.     tidak pernah kepanasan
8.     tidak pernah kedinginan

kedelapan daya tersebut diikat pada rambut yang ada di ubun-ubun atau kuncung. Semar atau Ismaya, diberi beberapa gelar yaitu; Batara Semar, Batara Ismaya, Batara Iswara, Batara Samara, Sanghyang Jagad Wungku, Sanghyang Jatiwasesa, Sanghyang Suryakanta. Ia diperintahkan untuk menguasai alam Sunyaruri, atau alam kosong, tidak diperkenankan menguasi manusia di alam dunia.

Di alam Sunyaruri, Batara Semar dijodohkan dengan Dewi Sanggani putri dari Sanghyang Hening. Dari hasil perkawinan mereka, lahirlah sepuluh anak, yaitu: Batara Wungkuam atau Sanghyang Bongkokan, Batara Siwah, Batara Wrahaspati, Batara Yamadipati, Batara Surya, Batara Candra, Batara Kwera, Batara Tamburu, Batara Kamajaya dan Dewi Sarmanasiti. Anak sulung yang bernama Batara Wungkuam atau Sanghyang Bongkokan mempunyai anak cebol, ipel-ipel dan berkulit hitam. Anak tersebut diberi nama Semarasanta dan diperintahkan turun di dunia, tinggal di padepokan Pujangkara. Semarasanta ditugaskan mengabdi kepada Resi Kanumanasa di Pertapaan Saptaarga.

Dikisahkan Munculnya Semarasanta di Pertapaan Saptaarga, diawali ketika Semarasanta dikejar oleh dua harimau, ia lari sampai ke Saptaarga dan ditolong oleh Resi Kanumanasa. Ke dua Harimau tersebut diruwat oleh Sang Resi dan ke duanya berubah menjadi bidadari yang cantik jelita.

 Yang tua bernama Dewi Kanestren dan yang muda bernama Dewi Retnawati. Dewi Kanestren diperistri oleh Semarasanta dan Dewi Retnawati menjadi istri Resi Kanumanasa. Mulai saat itu Semarasanta mengabdi di Saptaarga dan diberi sebutan Janggan Semarsanta.

Sebagai Pamong atau abdi, Janggan Semarasanta sangat setia kepada Bendara (tuan)nya. Ia selalu menganjurkan untuk menjalani laku prihatin dengan berpantang, berdoa, mengurangi tidur dan bertapa, agar mencapai kemuliaan. Banyak saran dan petuah hidup yang mengarah pada keutamaan dibisikan oleh tokoh ini. Sehingga hanya para Resi, Pendeta atau pun Ksatria yang kuat menjalani laku prihatin, mempunyai semangat pantang menyerah, rendah hati dan berperilaku mulia, yang kuat di emong oleh Janggan Semarasanta.

Dapat dikatakan bahwa Janggan Semarasanta merupakan rahmat yang tersembunyi. Siapa pun juga yang diikutinya, hidupnya akan mencapai puncak kesuksesan yang membawa kebahagiaqan abadi lahir batin. Dalam catatan kisah pewayangan, ada tujuh orang yang kuat di emong oleh Janggan Semarasanta, yaitu; Resi Manumanasa sampai enam keturunannya, Sakri, Sekutrem, Palasara, Abiyasa, Pandudewanata dan sampai Arjuna.

Jika sedang marah kepada para Dewa, Janggan Semarasanta katitisan oleh eyangnya yaitu Batara Semar. Jika dilihat secara fisik, Semarasanta adalah seorang manusia cebol jelek dan hitam, namun sesungguhnya yang ada dibalik itu ia adalah pribadi dewa yang bernama Batara Semar atau Batara Ismaya.

Karena Batara Semar tidak diperbolehkan menguasai langsung alam dunia, maka ia memakai wadag Janggan Semarasanta sebagai media manitis (tinggal dan menyatu), sehingga akhirnya nama Semarasanta jarang disebut, ia lebih dikenal dengan nama Semar.

Seperti telah ditulis di atas, Semar atau Ismaya adalah penggambaran sesuatau yang tidak jelas tersamar.

Yang ada itu adalah Semarasanta, tetapi sesungguhnya Semarasanta tidak ada.
Yang sesungguhnya ada adalah Batara Semar, namun ia bukan Batara Semar, ia adalah manusia berbadan cebol,berkulit hitam yang bernama Semarasanta.
Memang benar, ia adalah Semarasanta, tetapi yang diperbuat bukan semata-mata perbuatan Semarasanta.
Jika sangat yakin bahwa ia Semarasanta, tiba-tiba berubah keyakinan bahwa ia adalah Batara Semar, dan akhirnya tidak yakin, karena takut keliru. Itulah sesuatu yang belum jelas, masih diSAMARkan, yang digambarkan pada seorang tokoh Semar.

SEMAR adalah sebuah misteri, rahasia Sang Pencipta. Rahasia tersebut akan disembunyikan kepada orang-orang yang egois, tamak, iri dengki, congkak dan tinggi hati, namun dibuka bagi orang-orang yang sabar, tulus, luhur budi dan rendah hati. Dan orang yang di anugerahi Sang Rahasia, atau SEMAR, hidupnya akan berhasil ke puncak kebahagiaan dan kemuliaan nan abadi.

(herjaka)



 
 

Senin, 09 Juli 2012

Lima Kesalahan Besar Pesaing Foke

Lima Kesalahan Besar Pesaing Foke




 

Enam cagub-cawagub yang akan bersaing dalam Pilkada Rabu besok (11/07) semuanya adalah orang-orang hebat. Punya track record di jalur mereka masing-masing. Siapa yang tidak kenal Jokowi, wali kota terpandang dari Solo. Hidayat Nurwahid, mantan Ketua MPR dan sukses memimpin PKS. Faisal Basri, ekonom keanamaan yang tiada letih menyuarakan keadilan kebijakan. Begitu juga Alex Noerdin, dan Hendardji, semuanya telah berhasil meniti karir dengan baik.

Namun entah kenapa, lima sosok itu tidak berhasil merontokkan kredibilitas Foke sebagai incumbent. Padalah media massa, baik cetak, on line, media sosial dan televisi hampir sepenuhnya mendukung mereka. Lihat saja misalnya, pemberitaan mengenai Jokowi dan Alex yang hampir saban hari menghiasi berbagai media. Bahkan ada yang menyebutkan, saat ini Jokowi sudah menjadi media darling.
Dalam pengamatan saya, setidaknya ada lima kesalahan besar yang dilakukan oleh pesaing Foke itu. Dengan posisi yang selama ini tidak terlalu disukai media, Foke sebetulnya bukanlah lawan yang terlalu berat. Seandainya pesaing tidak melakukan kesalahan besar, mampu menawarkan ide-ide segar, bisa jadi posisi Foke saat ini sudah terjepit.
Apakah kesalahan besar pesaing itu?
1. Kesalahan Pertama, sebagian besar pesaing Foke tidak mampu menyalami problematika di Jakarta dengan baik. Ini terlihat dari pesan-pesan yang disampaikan melalui media, tidak ada satupun yang merupakan ide segar. Bahkan terkesan, pesaing telah teperangkap oleh opini dan kesan ketidakpuasan segilintir orang terhadap Foke yang selama ini diangkat oleh media.
Buktinya, begitu sering pesaing melakukan kesalahan dalam pernyataannya, terutama Jokowi-Ahok. Jokowi misalnya, mengatakan Pemprov tidak berperan dalam KBT, padahal fakta menunjukkan DKI Jakarta menanggung 52% beban pembangunan KBT. Ini menunjukkan bahwa Jokowi atau orang-orang sekitarnya tidak mempelajari data-data Jakarta dengan baik. Akibatnya tudingan itu langsung bisa dimentahkan pihak Foke.
Kemudian apa karena terlalu bernafsu, Ahok mengatakan ayat konstitusi lebih penting dari ayat suci. Ini menunjukkan Ahok sangat tidak paham kondisi demografi Jakarta, kok berani-beraninya menantang arus kehidupan beragama yang semakin berkembang di Jakarta, baik Islam, Kristen, Budha atau agama lainnya.
Begitu juga ketika Ahok mengatakan bahwa seharusnya pendidikan gratis di Jakarta sampai pada perguruan tinggi atau sampai kuliah. Apa Ahok tidak mengerti, bahwa menurut undang-undang tanggung jawab Pemprov itu hanya sampai SLTA. Untuk perguruan tinggi itu urusan Kementerian Pendidikan atau pemerintah pusat.
2. Kesalahan kedua, pesaing tampaknya terlalu terbuai oleh sanjungan media. Akibatnya mereka lupa menyiapkan strategi untuk bersaing. Sasaran mereka hanya sebatas “YO tembak” Foke. Bayangkan lima sosok terkenal itu, nada kampanyenya nyaris sama semua. Andalan janji kampanye mereka hanyalah sekolah gratis, kesehatan gratis, pengusuran PKL.
Akibatnya, masyarakat tidak bisa membedakan ide-ide mereka. Masyarakat bingung sendiri mau pilih siapa di antara ke lima pesaing Foke itu. Apa yang dijanjikan Jokowi tidak beda dengan Alex, begitu juga Hendardji atau Hidayat. Yang agak lain kayak Faisal, tapi kita tahu back upnya kurang.
3. Terkait dengan kesalahan kedua, kesalahan ketiga adalah pesaing tidak sadar bahwa mereka sebetulnya saling berkompetisi sesama mereka. Hanya Alex yang sedikit menyadari hal itu dengan mengubah tema kampanye dari 3 Tahun Bisa, menjadi Membangun Bandar Jakarta. Tapi waktu yang tersedia sudah sedikit, sehingga orang juga sulit menilai serealistis apa janji Alex itu.
4. Kesalahan Keempat, pesaing tidak mau melihat sisi positif dari kinerja Foke, dengan demikian secara otomatis mereka menutup mata untuk mengetengahkan persoalan kota ini secara obyektif. Yang terjadi, pesaing cenderung menyederhanakan persoalan.
Akibatnya, masyarakat tidak bisa mengetahui secara pasti apa sesungguhnya persoalan obyektif yang dihadapi Jakarta dan bagaimana pesaing itu akan mengatasinya.
Pada saat bersamaan, serangan yang datang bertubi-tubi melalui media massa memberikan peluang bagi Foke untuk punya hak jawab dan ia menjawab dengan baik. Mengetengah persoalan Jakarta secara lebih realistis. Buktinya, baik disadari atau tidak disadari oleh media atau pesaing, banyak keberhasilannya yang terungkap saat mengkonfirmasi tudingan kepadanya.
Dari berita itu, banyak masyarakat menjadi tahu bahwa Foke tidaklah seperti yang dilukiskan oleh pesaingnya. Banyak yang sudah Ia capai selama lima tahun ini.
Mungkin tidak terlalu disadari, kenapa Foke berani tidak terjun langsung berkampanye. Jika pada awalnya Ia akan berencana mengajukan cuti selama 4 hari untuk berkampanye, menurut media, akhirnya ia hanya mengambil cuti 2 hari saja yaitu saat penyampaian visi misi di rapat Paripurna DPRD dan kampanye terbuka.
Kenapa? Menurut saya, barangkali Foke yakin sekali, gaya kampanye pesaing sangat lemah, dan ia tidak mau terjebak dalam suasana janji-janji yang tidak realistis yang dikembangkan lawan-lawan.
5. Kesalahan Kelima, pesaing terlalu mengabaikan kompetensi Foke. Padahal, menurut hasil survei dan pengamatan surat kabar terpandang Harian Kompas bersama tim pakar psikologi UI, dalam derajat tertentu Foke memiliki semua kompetensi kepemimpinan transformasional yang tinggi untuk semua bidang yang dibutuhkan untuk memenahi Jakarta. Kekurangan Foke selama ini, menurut laporan itu, realisasi visinya kurang terpublikasi sehingga kurang menginspirasi warga (Kompas, Senin, 25/06).
Sementara itu calon lain, seperti Jokowi yang digadang-gadang menjadi lawan berat Foke, gaya kemimpinan kurang otoritatif, cenderung mementingkan konsensus sehingga sulit bertindak cepat dalam saat genting. (Kompas, Rabu, 27/08).
Jokowi juga dinilai kurang mampu memberikan rangsangan intelektual kepada bawahannya, berbeda dengan Foke yang mempunyai keunggulan untuk hal ini.
Sesuai dengan kedudukan Jakarta sebagai ibukota negara, gubernur DKI Jakarta juga dituntut untuk mempunyai kepekaan global, mempunyai pengalaman budaya dan negara lain, membuat atmosfir yang membuat orang lain merasa diterima dan diundang.
Dalam hal ini, menurut pengamatan Kompas dan tim pakar UI, Jokowi mempunyai kekurangan karena pembawaan dan gaya bicaranya terlalu sederhana, tidak meyakinkan kalangan elite dan dunia interasional.
Foke sekali lagi unggul dalam hal ini, karena pengetahuannya dan pengalamannya yang luas. Menurut artikel itu, Foke mampu melibatkan pihak dari negara lain untuk terlibat penyelesaian Jakarta.
Foke dikenal mempunyai hubungan kerja yang erat dengan berbagai lembaga internasional, termasuk dengan Bank Dunia. Secara pribadi, dia dikenal baik oleh pejabat Bank Dunia, termasuk Robert Zoelick yang baru saja menghabiskan masa jabatannya di lembaga ini.
Selamat memilih warga Jakarta.

Cantik Hati dan Bodoh, Beda Tipis?

CANTIK HATI DAN BODOH, BEDA TIPIS? 

 

oleh Aridha Prassetya 




Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu,—–
“Cahaya keilmuan mengikuti setiap gerakan perempuan “cantik”. Yang cantik itu selalu jatuh cinta pada aktivitas berbagi keilmuan yang ia tahu, tanpa syarat” (Aridha Prassetya)

Kali ini saya berani berkata bahwa perempuan Cantik itu adalah mereka yang bersedia “Mengerti Perasaan Tuhan”.



Suatu malam, saya kedatangan tamu sahabat lama. “Haaaiiii…!” , begitu kami saling menyapa histeris. Kami saling berpeluk. Saya berucap berulang-ulang, “maafkan aku ya…!, aku minta maaf ya…!, maafkan aku ya…!”

Ia hanya tersenyum sembari kami menuju ruang tamu untuk bercerita. Saya mengulangi semua kalimat penting yang sebenarnya siangnya sudah saya ucap melalui telepon. Saya katakan padanya bahwa saya minta maaf, sebab telah menyakitinya dengan kata keras. Saya telah bersikap tidak baik menganggap ia bertindak sangat bodoh. Dalam batas “pandangan” saya, ia tidak mampu mengambil keputusan tepat. Ia perempuan “bodoh”.

Sahabat ini, tak pernah sekalipun marah. Ia hanya tersenyum. Setahu saya ia memang hanya bisa tersenyum. Ia adalah salah satu dari sedikit perempuan, yang tidak punya rasa sakit hati.
Tuhan telah menganugerahkan seorang suami yang sepanjang rumah tangganya hanya menyakiti hidupnya. Berapa kali ia berikan modal usaha, namun yang terjadi bukan keuntungan, melainkan kerugian yang terus menerus. Kabar terakhir yang saya dengar, sahabat ini telah menguras habis seluruh tabungannya. Ia telah menutup rekening bank nya. Bahkan sahabat ini sudah melibatkan orang tuanya untuk “menolong” suaminya yang selalu saja terjerat  masalah hutang bunga berbunga.

Dalam “ketidaksabaran” saya melihat dia yang begitu baik hatinya, tetapi hidupnya “penuh disakiti”, saya seperti “tidak terima”. Sempat saya sarankan agar ia meninggalkan suaminya dan tinggal saja bersama ibunya yang memang juga sudah dibuat jengkel oleh ulah suaminya. Ia bilang ia mungkin saja bercerai tetapi tetap “tak bisa meninggalkan” suaminya. Ia tetap saja ingin menolong suaminya dengan cara semampu-mampu dia.
Jauh lebih mengagetkan, ia berharap saya dan orang-orang yang membenci suaminya, bisa memaafkan dia.

Bagi saya, ini permintaan “gila”. Ia tahu persis bahwa saya ikut sakit bila ada yang menyakitinya. Itulah sebabnya, ia hati-hati memohon agar saya maafkan suaminya.
Lama saya memikirkan permintaanya yang sungguh tidak masuk akal. Jalan pikirannya “mengganggu” saya. Hingga suatu saat saya sempat berkirim pesan ke halaman face booknya.
“Jika kamu meminta aku memaafkan suami yang sudah menyakitimu, mungkin aku bisa, tetapi jika kamu meminta orang tuamu berbaik-baik padanya dan memaafkannya, itu sungguh keterlaluan”.
Ia tak membalas. Meskipun demikian, saya yakin ia tak bakal marah dengan kata-kata “keras” saya itu. Sejenak kemudian ada pesannya masuk. Ia bilang ia mengerti. Namun sekali lagi, ia tak mampu “memusuhi” suaminya. Ia tetap akan menolong dengan caranya, dengan semampu-mampunya. Ia tetap saja mengasihi suaminya.

Waktu berjalan biasa. Saya berpikir sangat dalam. Tentang anugerah yang tidak selalu berupa kebahagiaan tetapi justru berwujud ketidakbahagiaan.
Saya ingat pernah membuka buku kecil  pemberian seorang guru. Ada satu  chapter menarik. Sebuah bahasan yang luar biasa indah. Soal pemberiaan dan penerimaan hadiah. Soal “perasaan Tuhan”.

Lantas saya bercermin. Memeriksa sikap diri saya terhadap pemberian siapapun. Nampak betapa buruknya kelakuan saya. Saya memang gemar memberikan “hadiah” terbagus untuk orang yang saya kasihi. Tetapi menjadi kecewa ketika balasannya tak sepadan dengan apa yang sudah saya berikan untuknya.

Saat hendak memberi hadiah, saya perlu waktu untuk memikirkan hadiah apa yang paling bagus untuk diberikan. Namun, ketika menerima sesuatu yang tidak seperti harapan, saya kecewa dan tidak bahagia.
Buku kecil itu, sungguh berperan menyadarkan saya. Jika manusia saja memilih hadiah terbaik untuk diberikan kepada seseorang yang dikasihinya, maka bagaimana mungkin Tuhan tidak berbuat demikian?
Tuhan pasti memilih dan memberi yang terbaik untuk saya. Saya jadi berimajinasi tentang bagaimana perasaan  si pemberi hadiah, ketika saya kecewa atas pemberiannya. Saya larut dalam ajaran sang guru yang mengajak berpikir tentang Tuhan, lalu kemudian masuk ke dalam “perasaan Tuhan”.
Bagaimana “perasaan Tuhan”, jika saya tidak menyukai hadiah yang pasti sudah dipilihkanNya yang terbaik untuk saya…???
Buku itu memahamkan saya. Saya mengerti akhirnya, mengapa sahabat saya itu begitu khidmat “menikmati” anugerahNya, meskipun anugerahNya “nampak seperti” tidak membahagiakan.
Kami berbincang malam itu, saling menghibur dan memilih menjadi sosok yang saling memaafkan tanpa berfikir terlalu panjang soal pemberian Tuhan. Kami sepakat bahwa Pemberian Tuhan harus diterima dengan lapang dada.
Tanpa direncanakan air mata kami menjadi tiba-tiba saja menetes bersamaan larut dengan perdebatan mendalam soal “kesyukuran”. Saya sungguh mendapat pelajaran baru. Saya berguru padanya malam itu soal kecantikan hati. Dan inilah sesuatu yang dapat saya simpulkan dari pelajaran baru itu.

“Cara sahabat menyikapi anugerahNya yang tidak membahagiakannya adalah contoh praktik sebuah pelajaran Cantik di MataNya. Dan itu pula yang membuatnya selalu cantik dan baik-baik saja. Saya kini mengerti bahwa Cantik juga “Mengerti Perasaan Tuhan”.

Terima kasih sudah membaca,
Salam bahagia dan terus berkarya!

KONTROVERSIAL SIKAP MARZUKI ALI

 

Marzuki Ali: Orang Miskin karena Malas Kerja

 

Satu lagi pernyataan kontroversial Marzuki Ali  bahwa orang menjadi miskin itu karena malas bekerja. Jika seseorang tidak malas bekerja, kemiskinan tidak akan menghinggapi. “Orang miskin itu karena salahnya sendiri dia malas bekerja. Jadi bukan salah siapapun kalau ada orang miskin,” ujar Marzuki saat berbicara dalam acara seminar di Kongres BEM PTNU (Badan Eksekutif Mahasiswa-Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama) se-nusantara di kampus Unipdu Rejoso, Peterongan, Jombang, Minggu (8/7/2012-inilah.com)

Saya selaku koordinator lembaga pemberdayaan masyarakat desa merasa kecewa berat dengan pernyataan Ketua DPR yang notabene seharusnya mewakili kepentingan rakyat termasuk didalamnya masyarakat miskin. Pernyataan tersebut tidak berdasar pemikiran sama sekali baik secara akademis maupun empiris.

Faktor utama penyebab kemiskinan adalah ketimpangan dan ketidakadilan sosial dalam mengakses peluang perubahan nasib. Buktinya setelah Indonesia merdeka dari penjajahan kita terbuka peluang untuk menggali kesejahteraan bangsa.  Ketika kondisi sosial politik stabil maka akan diikuti pertumbuhan ekonomi yang membaik. Demikian pula secara riel di masyarakat miskin bila peluang perubahan nasib itu terbuka maka tanpa disuruh rakyat akan bergerak bekerja.

Saya melihat secara nyata betapa orang miskin di perkotaan telah bekerja keras demikian pula di pedesaan, banyak diantara mereka bangun pagi-pagi pukul 03.00 bekerja hingga malam hari, tapi apa yang mereka dapat hanya mampu menebus beli Raskin untuk makan keluarganya dalam satu hari.

Bila sebelumnya telah mendapat gugatan dari kalangan kampus atas pernyatan yang kontroversial maka siapakah yang membela luka hati rakyat miskin atas pernyataan si Juki.

Berikut ini pernyataan-pernyataan kontroversial Marzuki Ali yang lain:

27 Oktober 2010, setelah nelayan di Mentawai, Sumatera Barat, terkena tsunami. “Ada pepatah, kalau takut ombak, jangan tinggal di pantai.”

17 Februari 2011, Anggota DPR melakukan kunjungan kerja ke luar negeri membawa serta istrinya. Marzuki menanggapi, “Laki-laki sifatnya macam-macam. Ya, perlu diurus untuk minum obat, (atau) pengin hubungan dengan istrinya rutin. Itu terserah. Sepanjang tidak menggunakan uang negara.”

26 Februari 2011, Marzuki mengomentari sejumlah kasus yang menimpa tenaga kerja wanita di luar negeri. “PRT TKW itu membuat citra buruk, sebaiknya tidak kita kirim karena memalukan.”

9 Mei 2011, Marzuki menanggapi rencana pembangunan gedung baru di kompleks MPR/DPR yang menuai kritik. “DPR ini bukan ngurusin gedung, tapi rakyat. Kalau saudara-saudara tanya soal gedung terus, DPR tak ada lagi, ngurusin gedung saja.”

13 April 2011, hama ulat bulu menyerang Pulau Jawa. “Saya dengar, (serangan hama) ulat bulu sampai ke Jakarta. Itu peringatan Tuhan.”

29 Juli 2011, Kasus korupsi di Indonesia terus terungkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi. Terungkap pula kasus politikus Partai Demokrat M. Nazaruddin. “Jadi, kita maafkan semuanya. Capek kita ngurusin masa lalu terus.” “Kalau tudingan Nazaruddin terbukti, sebaiknya KPK bedol desa atau lembaganya dibubarkan saja.”

21 Desember 2011, Fitra mengkritik besarnya anggaran DPR yang mencapai Rp 69 miliar untuk renovasi gedung. “Kalau tidak mau keluar biaya, kita tidur saja, gampang.”
Tugas ketua DPR bukan menyalahkan keadaan rakyat, tapi membuat pengaturan supaya rakyat dapat menggapai peluang kesejahteraan.

http://politik.kompasiana.com/2012/07/09/marzuki-ali-orang-miskin-karena-malas-kerja/

TENTANG PELECEHAN SEKSUAL


A SETYAWANKetua DPR, Marzuki Alie (tiga kanan) memberikan hasil pertemuan antar pemimpin lembaga tinggi negara yang dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Gedung MPR/DPR/DPD, Senayan, Jakarta, Senin (20/3/2012).
Saya heran komentar yang demikian sepihak, diucapkan oleh seorang petinggi.
Perempuan yang pakai rok mini adalah objek, mereka tentu ada alasan tertentu, mengapa pakai pakaian mini. Apapun alasan itu mereka tetap adalah objek seperti suatu lukisan atau pajangan foto yang bebas dilihat siapapun yang suka melihatnya.
Uang itu juga pemicu perampokan, apakah pantas mengatakan orang uang sebagai pemicu perampok. Bukankah perampok adalah memang mentalnya perampok  ?
Tetapi jika terjadi yang melihat melakukan kejahatan pelecehan terhadap objek itu, apakah pantas objeknya disalahkan ? Bukankah pelaku pelecehan itu memang sudah ada mental yang bejat, pikiran yang menggoda hawa nafsu yang tidak terbendung dalam otaknya.  Mata dan pikirannya sudah menggerakan hawa nafsu untuk berbuat. Objek apapun itu, begitu visual atau  mendengar ajakan atau memperoleh informasi tentang hal-hal sejenis otomatis sudah ada dorongan kuat untuk menuruti hawa nafsu.  Yang pasti jika pelaku sudah pernah melakukan pelecehan, maka berikutnya juga sama, bukan karena objek itu tetapi memang mentalnya.
Coba ujilah bagi mereka yang memiliki kerohanian yang baik, apapun itu dipertontonkan tidak akan menggoyangkan hawa nafsunya untuk berbuat. Meskipun diakui ada gejolak hati ( sangat wajar ), namun tetap terkendali baik.  Artinya akal-budi berjalan baik.
Menurut penulis, jika terjadi pelecehan, seyoganya pelaku itu yang ada kelainan yang tidak terkendalikan. Atau tidak memiliki kerohanian baik, agama apapun yang dianut hanya sebatas pengetahuan, ilmu agama, bukan aplikasi kehidupan sesuai ajaran agama.


http://sosbud.kompasiana.com/2012/03/12/marzuki-ali-pelecehan-seksual-dipicu-pakaian-tak-pantas/

Menjadi Pribadi yang Sabar dan Ikhlas - mataajinatha

Menjadi Pribadi yang Sabar dan Ikhlas - mataajinatha

Dalam hidup ini sangat dibutuhkan kearifan dalam menerima semua keadaan, dan itu memang tidaklah mudah, kearifan dalam berpikir dan bertindak datangnya dari kebersihan jiwa yang bersumber dari hati. Kadang sering kita dihadapkan pada perlakuan yang tidak adil, baik itu oleh orang tua sendiri, oleh atasan atau juga teman dalam sebuah komunitas. Bahkan ketidakadilan dari penguasa yang berwenang akan lebih terasa.

Tentunya disinilah dibutuhkan sikap dan kearifan dalam menerimanya. Berpikir positif adalah salah satu cara untuk berlapang dada dalam menerima keadaan tersebut, sebaliknya keluh kesah malah akan membuat kita semakin terpuruk dalam perasaan. Bersikap optimis agar keadaan tersebut cepat terkendali, adalah juga merupakan cara untuk menjauhkan diri dari keputus asaan dan rasa frustasi.



Sebagai mahluk sosial yang berintegrasi dan berinteraksi antar sesama dalam sebuah komunitas masyarakat yang majemuk, sering kita terjebak pada ego pribadi, sehingga kita lebih ingin orang lain memahami diri kita ketimbang kita memahami orang lain, kadang juga asyik dengan diri sendiri sehingga tidak peduli dengan keadaan disekitar kita. Hal-hal seperti inilah yang sering menyebabkan kita pada akhirnya bersinggungan antara satu dengan yang lainnya.

Membangun kearifan adalah upaya untuk menumbuhkan sikap bijak dan berjiwa besar, melatih diri dalam kesabaran, juga melatih diri untuk senantiasa bersifat ikhlas dalam menerima keadaan. Tapi semua ini tentunya dibarengi dengan ketaatan dan keyakinan pada Sang Maha Penguasa dan Maha berkehendak. Penyerahan diri dengan ketaqwaan bukanlah sekedar kepasrahan.

Jiwa yang senantiasa ikhlas adalah jiwa yang penuh kekuatan dan tidak mudah rapuh karena keadaan, adalah jiwa yang penuh kearifan dan ketaqwaan. Sangat sadar akan kelemahan dan kekuatannya, selalu melihat kedalam diri dan bercermin pada kebenaran yang di digariskan-Nya.


Tulisan ini sebetulnya merupakan upaya saya untuk instropeksi diri, terhadap segala kelemahan dan kekuarangan saya selama ini, cuma saya berpikir ada juga baiknya kalau saya berbagi dengan teman-teman. Tulisan ini merupakan sebuah perenungan selama ini, yang terus menerus saya kaji, agar saya bisa mengkoreksi diri sendiri.

Illustrasi by : http://funkytridoretta.files.wordpress.com/2011/09/ikhlas.jpg

VTS_01_4.mp3 - 4shared.com - penyimpanan dan berbagi-pakai file online - unduh

VTS_01_4.mp3 - 4shared.com - penyimpanan dan berbagi-pakai file online - unduh

Meniti Jembatan Iman: Ruang Imajinasi, Pengharapan, dan Praktis Hidup di Tengah Arus Zaman

  Meniti Jembatan Iman: Ruang Imajinasi, Pengharapan, dan Praktis Hidup di Tengah Arus Zaman   Pengantar Agama dan keyakinan bukan sek...