Selasa, 03 Juli 2012

MOTIVASI:"BERGERAK MAJU!"




Salah satu pengkerdilan terkejam dalam hidup adalah membiarkan pikiran yang cemerlang menjadi budak bagi tubuh yang malas, yang mendahulukan istirahat sebelum lelah.

Penderitaan, kemiskinan, Kelaparan, Kesedihan, Kegagalan dan kegundahan hidup yang kita alami adalah anugerah Maha Pencipta kepada kita, untuk bisa memahami dan mengerti akan kehidupan saudara kita lainnya.

Jika kita sedang benar, jangan terlalu berani dan bila kita sedang takut, jangan terlalu takut.Karena keseimbangan sikap adalah penentu ketepatan perjalanan kesuksesan kita.

Tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita adalah untuk mencoba, karena di dalam mencoba itulah kita menemukan dan belajar membangun kesempatan untuk berhasil.

Kita hanya dekat dengan mereka yang kita sukai dan seringkali kita menghindari orang yang tidak kita sukai; padahal dari dialah kita akan mengenal sudut kita yang baru.

Orang-orang yang berhenti belajar akan menjadi pemilik masa lalu. Orang-orang yang masih terus belajar, akan menjadi pemilik masa depan.

Tinggalkanlah kesenangan yang menghalangi pencapaian kecemerlangan hidup yang diidamkan. Dan berhati-hatilah, karena beberapa kesenangan adalah cara gembira menuju kegagalan.

Jangan menolak perubahan hanya karena kita takut kehilangan yang telah dimiliki(wilayah nyaman), karena dengannya kita merendahkan nilai yang bisa kita capai melalui perubahan itu kita tidak akan berhasil menjadi pribadi baru bila kita berkeras untuk mempertahankan cara-cara lama kita. Kita akan disebut baru, hanya bila cara-cara kita baru, senantiasa mengupdate, memperbarui diri.

Ketepatan sikap adalah dasar semua ketepatan.Tidak ada penghalang keberhasilan bila sikap kita tepat, dan tidak ada yang bisa menolong bila sikap kita salah.

Jangan merasa benar sendiri, hebat sendiri, paling super sendiri. Karena di dunia ini ada pepatah “ diatas langit masih ada langit”. Padi yang makin berisi justru makin menunduk, senantiasa rendah hatilah dalam segala situasi. Kendalikan emosi dengan logika dan nalar sehat.

Beranilah “ya aku salah, minta maaf”,tanpa harus kehilangan muka,  senantiasa mau dan mampulah mengghargai kelebihan orang lain-tanpa harus minder/rendah diri.

Tetaplah bergerak maju . Saya punya slogan:” dengan ilmu hidup menjadi mudah, dengan iman hidup menjadi  terarah, dengan seni hidup menjadi indah dan dengan olah raga hidup menjadi lebih bermakna KARENA SEHAT”.

BERBUATLAH BAIK AGAR HIDUPMU MENDAPAT BERKAT&menjadi berkat bagi orang lain

BERBUATLAH BAIK, BENAR,JUJUR DAN ADIL AGAR HIDUPMU DIBERKATI

PENGANTAR


Salah satu karya besar dari RADEN Mas Ngabehi Ronggowarsito, Serat Kalatidha yang berisi gambaran zaman penjajahan yang disebut "zaman edan".Lahir pada 15 Maret 1802 dengan nama asli Bagus Burham. Ayahnya seorang carik Kadipaten Anom yang bernama Raden Mas Pajangswara. Ibunya Raden Ayu Pajangswara merupakan keturunan ke-9 Sultan Trenggono dari Demak.Pada 24 Desember 1873, meninggal dunia dengan tenteram. Tempat peristirahatan terakhirnya terletak di Palar, sebuah desa kecil di wilayah Klaten.

Mangkya darajating praja
Kawuryan wus sunyaturi
Rurah pangrehing ukara
Karana tanpa palupi
Atilar silastuti
Sujana sarjana kelu
Kalulun kala tida
Tidhem tandhaning dumadi
Ardayengrat dene karoban rubeda


Keadaan negara waktu sekarang, sudah semakin merosot.
Situasi (keadaan tata negara) telah rusah, karena sudah tak ada yang dapat diikuti lagi.
Sudah banyak yang meninggalkan petuah-petuah/aturan-aturan lama.
Orang cerdik cendekiawan terbawa arus Kala Tidha (jaman yang penuh keragu-raguan).
Suasananya mencekam. Karena dunia penuh dengan kerepotan.


Ratune ratu utama
Patihe patih linuwih
Pra nayaka tyas raharja
Panekare becik-becik
Paranedene tan dadi
Paliyasing Kala Bendu
Mandar mangkin andadra
Rubeda angrebedi
Beda-beda ardaning wong saknegara


Sebenarnya rajanya termasuk raja yang baik,
Patihnya juga cerdik, semua anak buah hatinya baik, pemuka-pemuka masyarakat baik,
namun segalanya itu tidak menciptakan kebaikan.
Oleh karena daya jaman Kala Bendu.
Bahkan kerepotan-kerepotan makin menjadi-jadi.
Lain orang lain pikiran dan maksudnya.


Katetangi tangisira
Sira sang paramengkawi
Kawileting tyas duhkita
Katamen ing ren wirangi
Dening upaya sandi
Sumaruna angrawung
Mangimur manuhara
Met pamrih melik pakolih
Temah suka ing karsa tanpa wiweka


Waktu itulah perasaan sang Pujangga menangis, penuh kesedihan,
mendapatkan hinaan dan malu, akibat dari perbuatan seseorang.
Tampaknya orang tersebut memberi harapan menghibur
sehingga sang Pujangga karena gembira hatinya dan tidak waspada.


Dasar karoban pawarta
Bebaratun ujar lamis
Pinudya dadya pangarsa
Wekasan malah kawuri
Yan pinikir sayekti
Mundhak apa aneng ngayun
Andhedher kaluputan
Siniraman banyu lali
Lamun tuwuh dadi kekembanging beka


Persoalannya hanyalah karena kabar angin yang tiada menentu.
Akan ditempatkan sebagai pemuka tetapi akhirnya sama sekali tidak benar,
bahkan tidak mendapat perhatian sama sekali.
Sebenarnya kalah direnungkan, apa sih gunanya menjadi pemuka/pemimpin ?
Hanya akan membuat kesalahan-kesalahan saja.
Lebih-lebih bila ketambahan lupa diri, hasilnya tidak lain hanyalah kerepotan.


Ujaring panitisastra
Awewarah asung peling
Ing jaman keneng musibat
Wong ambeg jatmika kontit
Mengkono yen niteni
Pedah apa amituhu
Pawarta lolawara
Mundhuk angreranta ati
Angurbaya angiket cariteng kuna


Menurut buku Panitisastra (ahli sastra), sebenarnya sudah ada peringatan.
Didalam jaman yang penuh kerepotan dan kebatilan ini, orang yang berbudi tidak terpakai.
Demikianlah jika kita meneliti. Apakah gunanya meyakini kabar angin akibatnya hanya akan menyusahkan hati saja. Lebih baik membuat karya-karya kisah jaman dahulu kala.


Keni kinarta darsana
Panglimbang ala lan becik
Sayekti akeh kewala
Lelakon kang dadi tamsil
Masalahing ngaurip
Wahaninira tinemu
Temahan anarima
Mupus pepesthening takdir
Puluh-Puluh anglakoni kaelokan


Membuat kisah lama ini dapat dipakai kaca benggala,
guna membandingkan perbuatan yang salah dan yang betul.
Sebenarnya banyak sekali contoh -contoh dalam kisah-kisah lama,
mengenai kehidupan yang dapat mendinginkan hati, akhirnya “nrima”
dan menyerahkan diri kepada kehendak Tuhan.
Yah segalanya itu karena sedang mengalami kejadian yang aneh-aneh.


Amenangi jaman edan
Ewuh aya ing pambudi
Milu edan nora tahan
Yen tan milu anglakoni
Boya kaduman melik
Kaliren wekasanipun
Ndilalah karsa Allah
Begja-begjane kang lali
Luwih begja kang eling lawan waspada


Hidup didalam jaman edan, memang repot.
Akan mengikuti tidak sampai hati, tetapi kalau tidak mengikuti geraknya jaman
tidak mendapat apapun juga. Akhirnya dapat menderita kelaparan.
Namun sudah menjadi kehendak Tuhan. Bagaimanapun juga walaupun orang yang lupa itu bahagia namun masih lebih bahagia lagi orang yang senantiasa ingat dan waspada.


Semono iku bebasan
Padu-padune kepengin
Enggih mekoten man Doblang
Bener ingkang angarani
Nanging sajroning batin
Sejatine nyamut-nyamut
Wis tuwa arep apa
Muhung mahas ing asepi

Supayantuk pangaksamaning Hyang Suksma


Segalanya itu sebenarnya dikarenakan keinginan hati. Betul bukan ?
Memang benar kalau ada yang mengatakan demikian.
Namun sebenarnya didalam hati repot juga. Sekarang sudah tua,
apa pula yang dicari. Lebih baik menyepi diri agar mendapat ampunan dari Tuhan.


Beda lan kang wus santosa
Kinarilah ing Hyang Widhi
Satiba malanganeya
Tan susah ngupaya kasil
Saking mangunah prapti
Pangeran paring pitulung
Marga samaning titah
Rupa sabarang pakolih
Parandene maksih taberi ikhtiyar


Lain lagi bagi yang sudah kuat. Mendapat rakhmat Tuhan.
Bagaimanapun nasibnya selalu baik.
Tidak perlu bersusah payah tiba-tiba mendapat anugerah.
Namun demikian masih juga berikhtiar.


Sakadare linakonan
Mung tumindak mara ati
Angger tan dadi prakara
Karana riwayat muni
Ikhtiyar iku yekti
Pamilihing reh rahayu
Sinambi budidaya
Kanthi awas lawan eling
Kanti kaesthi antuka parmaning Suksma


Apapun dilaksanakan. Hanya membuat kesenangan pokoknya tidak menimbulkan persoalan.
Agaknya ini sesuai dengan petuah yang mengatakan bahwa manusia itu wajib ikhtiar,
hanya harus memilih jalan yang baik.
Bersamaan dengan usaha tersebut juga harus awas dan
waspada agar mendapat rakhmat Tuhan.


Ya Allah ya Rasulullah
Kang sipat murah lan asih
Mugi-mugi aparinga
Pitulung ingkang martani
Ing alam awal akhir
Dumununging gesang ulun
Mangkya sampun awredha
Ing wekasan kadi pundi
Mula mugi wontena pitulung Tuwan


Ya Allah ya Rasulullah, yang bersifat murah dan asih,
mudah-mudahan memberi pertolongan kepada hambamu disaat-saat menjelang akhir ini.
Sekarang kami telah tua, akhirnya nanti bagaimana.
Hanya Tuhanlah yang mampu menolong kami.


Sageda sabar santosa
Mati sajroning ngaurip
Kalis ing reh aruraha
Murka angkara sumingkir
Tarlen meleng malat sih
Sanityaseng tyas mematuh
Badharing sapudhendha
Antuk mayar sawetawis
BoRONG angGA saWARga meSI marTAya


Mudah-mudahan kami dapat sabar dan sentosa,
seolah-olah dapat mati didalam hidup.
Lepas dari kerepotan serta jauh dari keangakara murkaan.
Biarkanlah kami hanya memohon karunia pada MU agar mendapat ampunan sekedarnya.
Kemudian kami serahkan jiwa dan raga dan kami.

http://aindra.blogspot.com/2007/12/serat-kalatidha-raden-mas-ngabehi.html
 
2. MENCOBA MEMAHAMI SEBABKEMEROSOTAN MORAL
 
1. Kuatnya paham Materialisme dan liberalisme.
Dua saudara ini telah menciptakan suatu fatamorgana bagi manusia(bisa jadi ini adalah qiyasan apa yang disebut DAJJAL, yang dalam sebuah hadits disebutkan bahwa nerakanya adalah surga dan surganya adalah neraka). keduanya menjanjikan 'kebahagian' bagi manusia. materialisme mengajarkan bahwa kebahagian adalah dengan menjadi orang kaya dan memiliki segalanya. Sementara liberalisme mengajarkan kebebasan dalam segala hal, karena menganggap manusia bebas berbuat apapun selama tidak mengganggu orang lain. Liberalisme sendiri bermula dari paham materialisme yang menganggap bahwa kehidupan ini hanyalah yang tampak saja. Yang tidak kasat mata dianggap tidak ada. Sehingga manusia tidak memahami Agama dengan doktrin ghaibnya serta keTuhanannya, agama dianggap hanya akal-akalan manusia sehingga agama disingkirkan. Akhirnya kehidupannya di dunia ini dianggap satu-satunya, tidak ada pembalasan atas segala perbuatannya yang telah dikerjakannya. dan ujungnya liberalisme beranak hedonisme. Kesenangan hidup dunialah yang menjadi tujuannya.
Tapi semua hal yang dijanjikan oleh kedua paham ini hanyalah fatamorgana yang nampak indah tetapi nayatanya hanyalah kekosongan. Yang paling kita khawtirkan dalam masalah ini adalah generasi remaja kita, karena banyak remaja saat ini secara tidak sadar terjerat oleh paham ini. Hal ini disebabkan kondisi para remaja sendiri(faktor dari dalam) dan kondisi lingkungannya (faktor eksternal).
Faktor-faktor Internal:
- kelabilan emosi

Faktor eksternal:
- Keluarga yang tidak Islami-kurangnya atau bahkan ketiadaan keteladanan.
- Pendidikan sekuler
- Hantaman budaya Barat yang materialis dan sekuler melalui berbagai media yang tidak terkendali.

2. Keterpukauan/ketercengangan Muslim terhadap Sains Modern
Banyak orang Islam yang terpukau dengan sains modern barat, sehingga terlalu begitu terpukaunya sampai-sampai menyilaukan pemahamannya akan arti kehidupan ini. Berbagai kekuatan yang dihasilkan oleh Sains modern menjadikan manusia lupa posisinya yang serba lemah. Manusia merasa paling berkuasa dapat melakukan apapun terhadap dunia ini. Akhirnya Lupa akan Kekuasaan Allah SWT. Alam beserta isinya yang seharusnya menjadi tanda-tanda kekuasaanNya bagi manusia, malah dijadikan alat untuk menjadi tuhan.

Saran Pemecahan masalah:
- Merubah dan membentengi pemahaman masyarakat terhadap materialisme dan liberalisme. Praktisnya dengan terus menerus memahamkan akan keburukan dan kebusukan dari dua paham ini. Menanamkan kesadaran muslimin akan keagungan ajaran Islam. Memberikan Pemahaman akan makna hakiki dari kehidupan di dunia ini dalam berbagai ceramah dan pengajian serta dalam khutbah jum'at.

- Keluarga adalah benteng utama bagi awal terbentuk moralitas manusia. Dari banyak kasus yang ada dapat disimpulkan bahwa keluarga yang tidak islami akan sangat mempengaruhi moralitas anggota keluarganya. Sehingga setiap keluarga muslim perlu untuk membangun keluarga yang Islami. Akan tetapi masalah selanjutnya adalah bagaiamana menciptakan keluarga yang Islami, sementara banyak umat islam yang baru mulai membangun keluarga tidak paham ajaran Islam khususnya mengenai kehidupan berkeluarga.Dewasa ini alih-alih, mereka yang baru menikah adalah produk budaya materialisme dan liberalisme. Praktisnya: Nampaknya umat Islam perlu mencontoh umat kristiani dalam persoalan pernikahan. Sebelum dua orang berlawanan jenis melaksanakan akad pernikahan, maka kedua orang itu wajib ditraining mengenai membentuk keluarga yang baik. Menurut salah seorang kristiani biasanya umat kristen yang akan menikah, selama dua bulan sebelum akad pernikahan mendapat pelatihan khusus untuk menjalani kehidupan keluarga yang baik. Memang sebenarnya di KUA sendiri ada hal semacam ini. Ada kegiatan training selama beberapa hari bagi seorang yang akan mencatatkan pernikahanya di KUA. Tapi nyatanya banyak yang enggan melakukan kegiatan ini. Mungkin seharusnya ada paksaan dengan cara menjadikannya sebagai syarat terlaksananya pencatatan nikah. Jika hal ini diterapkan mungkin juga akan ada masalah baru khususnya masalah dana. Kemudian yang menjadi pertanyaan, bisakah dana sedekah(Zakat, infak, sedekah) digunakan untuk pendanaan kegiatan seperti ini? Bukankah ini juga fisabilillah, Atau dana bagi orang fakir miskin yang tidak mampu membayar.

- Pendidikan formal yang ada saat ini adalah pendidikan sekuler. Apa yang diajarkan di sekolah-sekolah adalah ilmu sekuler, terutama Sains modern barat yang tidak pernah meyinggung sama sekali tentang KeTuhanan, padahal di dalam Islam seharusnya Sains Alam semakin memperkuat keimanan karena menunjukan tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Akhirnya Ulama kontemporer seperti Hosein Nasr, Ziaudin Sardar, Naquib al Atas mengkampanyekan perlunya islamisasi ilmu Sains modern.

- Dalam era informasi ini media massa memiliki peran yang signifikan dalam kehidupan manusia. Salah satu sisi buruknya adalah penjajahan budaya. Saat ini begitu mudahnya budaya asing menyusupi kehidupan masyarakat islam melalui media massa khususnya lagi media berbasis video.Padahal banyak ahli psikologi setuju bahwa keteladanan adalah seribu kata-kata. Sementara ini banyak generasi muda kita meneladani apa yang ditontonnya melalui media massa. Sehingga seharusnya pemerintah harus tanggap dan bergerak cepat mengenai masalah ini khususnya terhadap budaya asing yang jelas bertentangan dengan nilainilai Islam. Meskipun telah ada badan-badan yang menangani permasalahan ini seperti KPI, lembaga sensor, dan lainnya.Bahkan Undang-undang pun telah dibuat. Tetapi masih belum begitu tampak hasilnya. Seperti kita saksikan sendiri dalam kebanyakan tayangan TV, begitu banyak acara yang mengusung nilai2 materialisme, liberalisme dan hedonisem.(dan nan'uzubillah, akhir-akhir ini sering beredar video-video x).yah, gimana lagi, pendirian berbagai stasiun TV yang ada kebanyakan berlandaskan semangat kapitalisme. begitu pula dalam film layar lebar, banyak produser hanya mengejar keuntungan (kapitalis) meskipun ada beberapa film yang sebaliknya. Kenapa demikian? Bagaimana tidak , sistem pendidikan kita adalah sekuler. Agama selalu disampingkan bahkan disisihkan. Sementara ilmu-ilmu sains didengung2kan. Hal ini juga tidak terlepas dari keterpukauan terhadap kecanggihan teknologi modern (yang akhirnya saat ini akibat tidak memperhatikan nilai-nilai agama manusia hampir memusnahkan rasnya sendiri akibat ulah tangannya). Akibat pendidikan sekuler masyarakat terdidik banyak yang tidak mengindahkan moralitas.

WaAllahu A'lamu bishawa

Read more: Mencoba Memahami sebab kemerosotan Moral - IslamWiki http://islamwiki.blogspot.com/2010/03/mencoba-memahami-sebab-kemerosotan.html#ixzz1zcPHbcJ2
Under Creative Commons License: Attribution
 

Benturan Budaya Lokal dengan Budaya Luar Tidak dapat Dihindari

Benturan budaya tidak terelakkan. Kita tidak dapat menghindari benturan antara budaya lokal dengan budaya luar. Disadari atau tidak, banyak dari antara kita merasakan pengaruh budaya yang tidak berasal dari budaya nasional. Kita lihat pengaruh internet. Facebook, Twitter, Blackberry, handphone, dan berbagai produk dari budaya luar telah mempengaruhi kehidupan kita.

Masih ada buku, mass media asing atau interaksi langsung dengan orang Barat. Informasi begitu terbuka dan sulit membendung nilai-nilai dari budaya luar. Apakah itu nilai yang baik seperti kebebebasan berpikir ataupun nilai yang buruk seperti film porno- ini bersentuhan dengan mudah pada kehidupan kita.
Kita juga harus menghadapi tantangan dari budaya Cina. Dengan semakin baiknya keadaan ekonomi negara Cina, benturan budaya antara budaya lokal dengan budaya Cina akan mewarnai kehidupan kita. Kita akan berhadapan dengan pikiran-pikiran Confucianisme yang telah ribuan tahun mempengaruhi bangsa Tionghoa, yang bisa juga mempengaruhi masyarakat dan budaya lokal.
Di dalam negeri sendiri budaya lokal telah bersentuhan dengan budaya lokal lainnya. Mahasiswa yang pindah dari satu daerah ke daerah lain atau dari kota yang satu ke kota lain membawa nilai-nilai budaya lokalnya. Mau tidak mau ia harus menghadapi budaya yang ditemui di daerah atau kota yang baru.
Pertemuan antara dua atau beberapa budaya memang tidak dapat menghindari benturan budaya. Akan ada benturan nilai dan sistem kehidupan. Benturan tidak selalu dalam bentuk phisik. Namun, benturan pikiran tidak dapat dihindari, yang bisa berbuntut pada benturan phisik. Apa akibat dari pertemuan budaya-budaya yang berbeda ini? Budaya yang kuat akan menang pada akhirnya sekalipun itu harus melalui pertarungan yang alot dan waktu yang panjang. Bagaimana putra-putri Indonesia menghadapi hal ni? Apakah kita akan lari atau menutup diri seolah-olah pengaruh budaya luar ini tidak ada? Ataukah kita berdiam diri dan merelakan budaya lokal kita hanyut?
Kita harus berbesar hati menghadapi kenyataan ini dan waspada terhadap nilai-nilai dari budaya luar. Kita perlu menilai budaya-budaya ini; nilai-nilai manakah yang harus diambil dan nilai mana yang harus ditolak. Kita juga harus bersabar bila nilai-nilai dari budaya yang tinggi akan memenangkan pertarungan. Sebab ada kemungkinan kita sendiri akan meninggalkan nilai-nilai budaya lokal dan merangkul nilai-nilai budaya luar yang dianggap lebih baik.

Mayat Itu Berjalan Lagi Bukan sebagai Kuntilanak

Senin, 02 Juli 2012

Mayat Itu Berjalan Lagi Bukan sebagai Kuntilanak

http://dahlaniskan.wordpress.com/

APA kabar PT Kertas Leces (Persero)? Yang sudah lebih dari dua tahun mati suri? Yang selama itu nasib karyawannya tidak menentu? Yang diyakini tidak akan bisa hidup lagi kalau tidak digerojok uang negara Rp 200 miliar?
Sejak dua minggu lalu pabrik kertas yang sangat besar yang berlokasi di selatan Probolinggo ini mulai siuman. Tanda-tanda kehidupan sudah mulai kelihatan. Suara mesin sudah kembali menderu.
Leces hidup lagi!
Bukan sebagai mayat berjalan, tapi sebagai pasien yang sudah bisa dipaksa berjalan.
Semula negara sudah setuju kembali menggerojokkan Rp 200 miliar ke Leces. Tapi, ketika saya diangkat menjadi menteri BUMN, rencana penggerojokan itu saya minta ditunda. Saya ingin melihat dulu apakah benar persoalan pokoknya pada modal. Apakah bukan pada manajemen. Ini harus saya pelajari dulu agar negara tidak mudah begitu saja menggerojokkan dana ratusan miliar rupiah.
Belum tentu dengan dana tersebut pabrik kertas, atau bisnis apa pun yang lagi kesulitan, bisa diselamatkan. Kadang satu manajemen memiliki kecenderungan mencari jalan yang paling mudah. Alasan ketidakcukupan modal adalah kambing hitam yang sangat lezat disate dan disuguhkan. Tapi, dari pengalaman saya, belum tentu akar masalahnya ada di modal. Sering kali pokok persoalannya terjadi di manajemen itu sendiri.
Memang banyak yang sewot ketika saya menyetop pengucuran dana itu. Untuk apa distop? Kan sudah disetujui? Tinggal dicairkan? Kok bodoh amat diberi uang ratusan miliar rupiah tidak segera ditangkap?
Tentu saya tidak akan tergoyahkan dengan penilaian seperti itu. Kalau memang ada jaminan dengan pencairan dana tersebut Leces pasti hidup, saya pun akan langsung setuju. Masalahnya, jaminan pasti hidup itu yang tidak ada.
Terbukti gerojokan uang ratusan miliar rupiah pada tahun-tahun yang lalu juga tidak berhasil menghidupkan Leces. Uang itu habis lagi dan habis lagi. Dan kecenderungannya akan minta lagi dan minta lagi.
Untuk Leces, saya melihat persoalan pokok di manajemen. Itu bisa saya rasakan ketika saya bermalam di kompleks pabrik kertas Leces pada malam Idul Adha lalu. Saya melihat manajemen sudah betul membangun boiler baru berbahan bakar batu bara. Itu akan membuat biaya energi Leces jauh lebih murah. Saya salut dengan pemikiran dan langkah itu.
Tapi, untuk menghidupkan Leces tidak cukup hanya dengan satu langkah. Dia membutuhkan puluhan, bahkan ratusan terobosan. Itulah sebabnya diperlukan manajemen yang lebih kuat.
Tidak gampang menemukan tim manajemen yang tangguh. Apalagi, untuk “dijerumuskan” ke dalam perusahaan yang sedang pingsan. Tim manajemen yang kuat tentu ingin masuk ke perusahaan yang besar dan bagus.
Leces rupanya masih bernasib baik. Seseorang yang bernama Budi Kusmarwoto mau dijebloskan ke situ. Pengalamannya yang panjang saat menjadi direktur anak perusahaan PLN (PT PLN Engineering) memudahkan dia menganalisis kondisi Leces.
Orangnya juga tidak egois. Ketika diminta membentuk dream team untuk manajemen Leces, Budi tidak serta merta mengajak rombongan dari luar masuk ke Leces. Budi memilih orang-orang dalam untuk menjadi timnya.
Sebagai mantan Dirut PLN tentu saya mengenal Budi dengan baik. Antusiasmenya meledak-ledak. Gairah kerjanya tidak pernah padam. Kecintaannya kepada pekerjaan membuat moto hidupnya hanya kerja, kerja, kerja! Antusiasme itu yang juga terlihat menular ke seluruh tim Leces sekarang ini.
Sebagaimana saya, Budi juga berpandangan ini: untuk menghidupkan Leces tidak perlu gerojokan dana dari kas negara. Kini Leces hidup lagi tanpa mendapat modal baru satu rupiah pun. Kalau kelak Leces berhasil maju kembali, seluruh karyawannya tentu akan sangat bangga: bisa maju tanpa modal! Karyawan bisa menunjukkan bahwa tambahan modal bukan segala-galanya!
Tentu, karena sudah telanjur disetujui, Budi tetap berharap agar dana Rp 200 miliar itu bisa cair. Bukan lagi untuk modal, tapi untuk membayar utang lama. Pada masa lalu, Leces meninggalkan utang hampir Rp 1 triliun. Manajemen Leces berhasil melakukan negosiasi: kalau Leces mau bayar Rp 150 miliar, utang hampir Rp 1 triliun itu dianggap lunas.
Utang yang sudah berumur lebih dari 10 tahun itu harus dibayar. Kalau tidak, utang itu akan memusingkan manajemen baru yang sedang dituntut untuk maju.”
Budi juga berencana menggunakan dana sisanya untuk membangun hutan tanaman industri. Untuk mencukupi bahan baku Leces di masa depan. Tentu saya setuju dengan dua rencana itu: bayar utang dan hutan tanaman industri.
Persoalannya, belum tentu anggaran yang sudah disetujui untuk modal bisa dialihkan untuk membayar utang. Di sinilah BUMN akan selalu kalah lincah dengan swasta.
Apa pun kasus menghidupkan kembali Leces ala Budi akan menjadi perhatian saya. Maksud saya, perusahaan seperti galangan kapal IKI Makassar yang juga sudah lama mati bisa hidup kembali dengan cara yang sama. Demikian juga, pabrik PT Iglas yang lagi dalam kesulitan.
Kelak, kalau Leces sudah sehat, harus segera di-go public-kan. Industri kertas tidak lagi menempati posisi strategis bagi negara. Tidak selayaknya lagi negara terus menggerojokkan dana untuk industri seperti Leces. Semakin banyak modal publik masuk ke dalamnya akan semakin baik.
Leces memang belum teruji akan menjadi perusahaan yang pasti akan hidup sehat. Masih harus dilihat dalam satu periode tertentu.
Tapi, setidaknya Leces kini sudah kembali berjalan: bukan sebagai kuntilanak, tapi sebagai badan yang sudah lengkap dengan rohnya. Roh antusias dan roh penuh kiat! (*)

Dahlan Iskan
Menteri BUMN

Senin, 02 Juli 2012

Media Indonesia - Carilah Ilmu hingga ke Mal

Media Indonesia - Carilah Ilmu hingga ke Mal

Amanda, 21, bersama Rara, 20, dan Mesty, 21, asyik mengobrol di sebuah kafe di Plaza Festival, kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Mereka membahas ujian akhir semester yang sudah di depan mata. Di atas meja, di sela-sela gelas dan penganan, terserak laptop, buku-buku teks, dan catatan kuliah.

Menunggu kuliah sembari menyeruput kopi atau minuman dingin di kafe menjadi aktivitas lazim buat ketiga mahasiswa Jurusan Manajemen Bisnis, Universitas Bakrie itu. Lokasi kampus yang berada dalam Plaza Festival, sebelumnya dikenal sebagai Pasar Festival, membuat mereka bisa dengan mudah berpindah dari ruang kelas ke kafe.

Universitas Bakrie, semula bernama Bakrie Management School, sejak berdiri pada 2006 lalu, memang membuka ruang kelas dalam Plaza Festival. Langkah serupa juga dilakukan Binus University International yang pada September nanti akan membuka 21 ruang kelas di lantai 6 FX Lifestyle Center, Sudirman, Jakarta Selatan, lengkap dengan coffee shop dan lounge.

Buat pihak kampus, memboyong kursi, papan tulis, peranti proyektor, serta ruang perpustakaan ke mal menjadi solusi buat memperoleh fasilitas infrastruktur yang paripurna.

"Daya tampung di kampus The Joseph Wibowo Center di kawasan Hang Lekir, Senayan, Jakarta Selatan, tak sebanding dengan pertumbuhan jumlah mahasiswa. Yang bermasalah sekali tempat parkir,” ujar Dekan Fakultas Creative Media dan Technologies Binus University, Minaldi Loeis.

Lokasi mal yang di pusat perkantoran Jakarta itu, kata Minaldi, juga memudahkan para pengajar di kampus yang mengirim mahasiswanya ke berbagai universitas luar negeri, di antaranya ke Australia dan Korea, untuk memperoleh gelar ganda itu.

"Dosen-dosen kami banyak para profesional di bidangnya, dan mayoritas berkantor di kawasan Sudirman-Thamrin dan sekitarnya. Karena itu, FX kami anggap sangat strategis,” kata Limandi.

Faktor lokasi itu juga yang membuat Wahyu, 25, mengambil program pascasarjana di Universitas Pelita Harapan yang berkampus di Plaza Semanggi, Jakarta Selatan.
“Karena pagi saya kerja di kawasan Sudirman juga, baru bisa kuliah sore, kalau pilih kampus yang jauh mungkin belum bisa lanjut kuliah sampai sekarang,” ujar Wahyu.

Fenomena ini, kata Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia, Handaka Santosa, menunjukkan Jakarta dan beberapa kota besar di negeri ini tengah mengarah ke model superblok yang sebelumnya telah diadopsi negara maju. "Semua fasilitas ada di satu tempat, tidak hanya sarana belanja, tetapi ada kantor dan sekolah. Tujuannya, efisiensi waktu, menunjang gaya hidup masyarakat urban yang sibuk,” kata Handa yang juga CEO Plaza Senayan.

Namun, berbeda dengan negara-negara lain, pembangunan superblok itu idealnya didukung sistem transportasi yang sempurna. "Agar lebih efisien,” tegasnya.

Di Indonesia, superblok yang dikawal pihak swasta telah membuat Amanda bisa menghirup kopi sembari menikmati alunan musik lembut di kampus seusai menyelesaikan kuis yang lumayan menguras konsentrasi dari dosennya. Namun setelah seluruh jam kuliah tuntas, para dosen dan mahasiswa itu mesti berpikir keras untuk mencari ruas jalan menuju rumah yang kemacetannya lebih bisa ditoleransi. (M-1)

Media Indonesia - Target Penurunan Angka Kemiskinan Meleset

Media Indonesia - Target Penurunan Angka Kemiskinan Meleset

JUMLAH warga miskin di Indonesia pada Maret 2012 tercatat 29,13 juta jiwa atau 11,96% dari total penduduk. Angka itu berarti hanya turun 0,53% ketimbang jumlah penduduk miskin satu tahun sebelumnya (Maret 2011) yang mencapai 12,49%.

Dengan demikian, penurunan angka kemiskinan 1% dalam kurun satu tahun yang ditargetkan oleh pemerintah tidak tercapai.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat faktor yang mengurangi jumlah penduduk miskin, antara lain, upah harian nominal buruh tani dan bangunan yang meningkat pada triwulan I 2012, yakni 4,81%. Kenaikan nilai tukar petani juga menjadi faktor pendorong berkurangnya jumlah warga miskin.

"Indeks kedalaman kemiskinan turun dari 2,08 menjadi 1,88, sedangkan indeks keparahan kemiskinan turun dari 0,55 menjadi 0,47. Turun sedikit, tetapi menunjukkan penduduk yang tadinya berada di ujung bawah kini mendekati garis kemiskinan walau masih dikategorikan miskin," kata Kepala BPS Suryamin dalam konferensi pers, kemarin.

Suryamin memaparkan jumlah penduduk miskin yang naik kelas selama Maret 2011 ke Maret 2012, yakni 399,5 ribu orang di perkotaan dan 487 ribu orang di perdesaan. Dengan demikian, kini persentase penduduk miskin di perkotaan turun menjadi 8,78% dari sebelumnya 9,23%. Adapun di perdesaan turun dari 15,12% dari 15,72%.

Dalam menanggapi laporan BPS, Direktur Indef Enny Sri Hartati menilai pertumbuhan ekonomi 6,3% secara year on year pada triwulan I 2012 jika dibandingkan dengan akhir periode sama tahun lalu tidak mampu menekan kemiskinan secara signifikan. Kemiskinan hanya turun 0,53%, yakni dari 12,49% menjadi 11,96%.

Dia juga mempertanyakan dasar perhitungan kemiskinan yang tidak sesuai realitas kebutuhan.

"Rata-rata (kebutuhan penduduk yang berada di) garis kemiskinan itu Rp250 ribu per kapita per bulan. Makanan Rp182 ribu dan di luar makanan Rp65 ribuan. Kini, katakan beli obat batuk saja Rp20 ribu, belum buku sekolah anak. Ini tidak rasional," tegas Enny.

Setidaknya standar garis kemiskinan yang diberlakukan sama dengan Bank Dunia, yakni US$2 per kapita per hari. Angka itu, dengan asumsi nilai tukar 9.400 per dolar AS, berarti Rp564 ribu per kapita per bulan, atau di atas patokan BPS sebesar Rp248.707 per kapita per bulan. (GA/X-15)


Sabtu, 30 Juni 2012

radio gglink : http://radiogglink.com


http://radiogglink.com/

Bagi penggemar radio http://radiogglink.com/ MONGGO dipun pirsani , silahkan di lihat inilah sebagian dari awak penyiarnya. Biasa saya dengar hanya suaranya, nah kali ini Si EMBAK berkenan memberikan fotonya. Beribu terima kasih atas kiriman fotonya.
Ada mbak Colin, ada Mbak Candra Kirana, ada Mbak Rinjani..., Tapi sayang yang mana-mana saja ya?......??????

Waduh..., bingung aku je!!!.

Kebon Jeruk, Sabtu-06-2012

Jumat, 22 Juni 2012

Macet, Banjir, dan Peluang Usaha: Selamat Ulang Tahun, Jakarta

Macet, Banjir, dan Peluang Usaha: Selamat Ulang Tahun, Jakarta

 

Jakarta masih jadi lokasi yang merindukan. Di sinilah jutaan orang dari berbagai suku memulai kehidupan, bahkan menciptakan kehidupan baru.

 


Jakarta, Ibu Kota Indonesia cerminan heterogenitas bangsa, berulang tahun hari ini, 22 Juni 2012. Layaknya orang tua yang sudah terlalu renta, Jakarta di usia 485 tahun, dirongrong oleh "anak-anak"-nya harus memiliki keperkasaan layaknya masih muda dulu.


Dalam "Profil Etnik Jakarta" oleh Lance Castles, Jakarta di tahun 1815 hanya memiliki 45.000 orang penduduk. Jumlah ini hanya bertambah menjadi 72.000 di tahun 1893. Angka pertumbuhan ini jauh di bawah daripada tingkat pertumbuhan penduduk Pulau Jawa secara keseluruhan.
Gelombang pertama imigrasi besar-besaran ke Jakarta terjadi akibat pembangunan Pelabuhan Tanjung Priok, perluasan fungsi pemerintahan di bawah pengaruh Politik Etis, dan pertumbuhan penduduk Jawa yang cepat. Di tahun 1930, gelombang imigran tersebut mengubah karakter penduduk dan melipatkangandakan jumlahnya menjadi 435.00 jiwa.
82 tahun kemudian, jumlah anak-anak Jakarta bertambah lebih dari 20 kali lipat. Namun, mereka menuntut Jakarta harus sama nyamannya ketika saudara-saudara mereka lebih sedikit. Tuntutan utamanya adalah melepaskan dua masalah: macet dan banjir. Sedang di saat bersamaan, dia dituntut harus terus membuka bentangan untuk peluang usaha berbagai anak bangsa yang mendiami tanahnya.


Macet merupakan masalah pertama yang diucapkan tiap kali nama Jakarta disebut. Bukan keinginan Jakarta ketika anak-anaknya mampu meningkatkan pertumbuhan kendaraan bermotor lima hingga sepuluh persen setiap tahun dengan motor sebagai penyumbang terbesar. Bukan maksud Jakarta pula saat pengelolanya (Pemerintah) hanya bisa menambah satu persen pertumbuhan jalan tiap tahunnya.

Kemacetan, ketika kendaraan saling menumpuk di jalanan, menurunkan dua masalah lain berikutnya, polusi udara dan stres para penggunanya.  Danang Parikesit sebagai Pakar Transportasi pernah menyatakan, masyarakat Jakarta menghabiskan enam hingga delapan persen PDB untuk biaya transportasi. Di mana idealnya menurut standar internasional adalah hanya empat persen dari PDB. Ini artinya banyak biaya yang harusnya bisa dialokasikan untuk hal lain, "menguap" di udara Jakarta dalam bentuk polusi.


Tertahan di jalanan selama berjam-jam terasa sekali membuat kesal, stres, dan yang paling menyebalkan adalah waktu yang terbuang. Situasi bertambah tidak nyaman karena kita tertahan bersama ratusan -bahkan ribuan- orang yang sedang memiliki mood sama. Tak heran jika bertukar kata makian terjadi saat kemacetan.
Dengan demikian, anak-anak Jakarta berhasil menggabungkan kemacetan, polusi, biaya, dan masalah kesehatan dalam satu waktu yang sama. Ditaksir oleh Yayasan Pelangi, paduan semua ini memakan biaya kesehatan Rp12,8 triliun tiap tahunnya.
Banjir jadi hal berikut. Letak geografis Jakarta dan curah hujan yang mencapai 2.000 milimeter per tahun merupakan faktor pemicunya. Menurut Kepala Bidang Pemeliharaan Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta Tarjuki, ada 62 titik banjir di Ibu Kota. Titik terbanyak berada di Jakarta Utara dengan 19 titik.
Namun, ada faktor pemicu tambahan yakni perubahan tata guna lahan di sekitar Ibu Kota. Pembangunan di Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi mengurangi infiltrasi air ke tanah dan mempercepat waktu tempuh hujan.


Dalam wawancara dengan National Geographic Traveler Juni 2012, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo coba mengurangi dampak buruk lingkungan ini dengan pertumbuhan Ruang Terbuka Hijau (RTH). "Kami mendapatkan data bahwa RTH Jakarta terbentang sebesar sembilan persen dari keseluruhan luas Jakarta. Kami berusaha meningkatkan jadi 14 persen," kata Fauzi.
Ditambahkannya, Jakarta tengah dipersiapkan untuk waktu yang akan datang dengan mempertimbangkan jumlah, karakteristik, dan kemampuan penduduknya. Ukuran yang harus digunakan adalah relevansi apa yang harus disediakan kota dengan kebutuhan penduduk di dalamnya.
"Orang Jakarta itu spontan dan jarang punya prasangka buruk. Orang Jakarta itu sangat adaptif, akan begitu banyak perubahan singgah dan pergi," ujar Fauzi lagi.
Dengan beragam masalah di dalamnya, Jakarta masih jadi lokasi yang merindukan. Di sinilah jutaan orang dari berbagai suku memulai kehidupan, bahkan menciptakan kehidupan baru. Mengutip perkataan dari Fauzi Bowo, "Jakarta is everything."

(Zika Zakiya. Sumber; pelbagai sumber)

Meniti Jembatan Iman: Ruang Imajinasi, Pengharapan, dan Praktis Hidup di Tengah Arus Zaman

  Meniti Jembatan Iman: Ruang Imajinasi, Pengharapan, dan Praktis Hidup di Tengah Arus Zaman   Pengantar Agama dan keyakinan bukan sek...