Minggu, 08 Juli 2012

cinta: kata2 mutiara

Bagi yang sedang jatuh cinta mungkin butuh ini, kata mutiara cinta untuk kekasih yang paling menyentuh banget. Kata mutiara adalah kata yang indah dan bermakna, terkadang berisi motivasi yang di tuangkan dengan kata-kata agar lebih menarik bahkah terkadang seseatu yang sepele bisa di jadikan inspirasi untuk membuatnya salah satu contohnya adalah sebuah pintu, pintu bisa dibilang sesuatu yang biasa saja dan tidak mempunyai makna tetapi hanya mempunyai fungsi. Selain kata kata mutiara cinta dan kata kata mutiara indah ada juga kata-kata mutiara persahabatan, kata-kata mutiara islami dan masih banyak lagi kata-kata yang lainnya.



Kata Mutiara

Berikut ini ada beberapa kumpulan kata kata mutiara cinta dan kata-kata mutiara indah yang di tuangkan dengan kata kata. Biasanya, kata kata mutiara cinta sering di gunakan oleh seseorang sebagai ungkapan perasaan terhadap seseorang yang di cintainya karena kata mutiara bisa dibilang cara jitu atau tips yang ampuh untuk meluluhkan hati seseorang selain menggunakan Puisi Cinta
·                            Kebencian hanya akan merugikan dirimu sendiri, tersenyum lah ketika hatimu tersakiti
·                            Jangan biarkan seseorang mencintai mu diam-diam karena cinta bukan untuk di sembunyikan
·                            Cintailah apa yang kamu miliki, dan milikilah apa yang kamu cintai
·                            Cintailah sesuatu hanya sekedarnya saja, jangan lah kamu mencintai sesuatu melebihi dirimu sendiri
·                            Jangan menjadikan seseorang ibarat sebuah batang tebu yang habis manis sepah di buang
·                            Janganlah bangga ketika dirimu menjadi yang nomor satu, tetapi bangga lah ketika dirimu bermanfaat untuk orang lain
·                            Janganlah kamu bermain dengan perasaan , tetapi pakailah logika jika kamu mengambil sebuah keputusan
  • Bencilah seseorang sewajarna karena suatu saat seseorang yang kamu benci mungkin akan menjadi seseorang yang penting dalam hidup mu
  • Cinta itu membuat orang yang kuat menjadi lemah dan orang yang lemah menjadi kuat
  • Cinta itu unik karena di dalam nya terdapat rasa dan warna yang berbeda-beda
  • Cinta bukanlah sebuah barang yang dapat kita beli, kita tukar maupun kita jual tapi cinta adalah sebuah perasaan yang harus kita nikmati
  • Cinta bagaikan musik yang mengalun harmonis
  • Janganlah kamu memikirnya apa yang harus di lakukan orang lain tapi berpikirlah apa yang harus kamu lakukan
  • Cinta ibarat sebuah medali yang harus di perjuangkan
  • Cinta sejati akan timbul dari hati seseorang yang tulus dan tidak menuntut apa –apa
  • Cinta itu terlalu istimewa karena setiap orang ingin memilikinya
  • Cinta itu indah tapi tidak selamanya di dalamnya ada keindahan
  • Cinta ibarat api, bila dipermainkan akan membakar diri sendiri
  • Cinta yang dibasuh oleh airmata akan tetap murni dan indah senantiasa. ( khalil Gibran )
  • Sesuatu menjadi spesial jika dirasakan, diucapkan, dilakukan, dan diberikan untuk seseorang, bukan semua orang
  • Apa yang bisa kita dapat dari kehidupan kita tergantung dari apa yang kita masukan ke situ
  • Rasa takut bukanlah untuk di nikmati tetapi untuk di hadapi
  • Kesetiaan adalah kunci dari cinta
  • Cinta ibarat sebuah tanaman yang harus diberi pupuk sebuah kejujuran ,ketulusan dan kepercayaan
  • Cinta timbul dari perasaan hati yang terdalam
  • Cinta dilihat bukan dari harta maupun fisik melainkan dari sebuah pengorbanan
  • Cinta ibarat sebuah pintu dan kejujuran adalah kuncinya
  • Cinta bagaikan oksigen yang di butuhkan banyak orang.
  • Kata-kata tidak mengenal waktu. Kamu harus mengucapkannya atau menuliskannya dengan menyadari akan keabadiannya. (khalil Gibran )
  • cinta bersifat relatif, seperti halnya sebuah sungai yang mengalir Mencari lautan sebagai pelabuhan terakhir.
  • Cinta tidak pernah meminta, ia senantiasa memberi, cinta membawa penderitaan, tetapi tidak pernah membalas dendam.
  • Cinta yang suci dapat dilihat dari pengorbanan seseorang bukanlah dari pemberian semata.
  • Cinta bukanlah kata murah dan lumrah dituturkan dari mulut ke mulut tetapi cinta adalah anugerah Tuhan yang indah dan suci.
  • Cinta itu seperti air, Dibutuhkan semua orang cuma-cuma, tapi banyak orang yang tidak menghargainya.
  • Kamu tidak akan pernah menemukan apa yang kamu cari dalam cinta, jika kamu tak mencintai dirimu sendiri.
  • Cinta bagaikan tulang rusuk yang saling menyatu satu sama lain.
  • Sebuah kesempurnaan ada ketika cinta tumbuh diantara kita.
  • Jika cinta tumbuh dari dalam hati segalanya akan terasa nikmat.
  • Rasa cinta akan semakin terasa ketika kita kehilangan dan sadar bahwa betapa kita telah
·                            menyia-nyiakannya.
·                            Perlakukanlah setiap orang dengan kebaikan walaupun meraka berlaku buruk pada kamu.
·                            Jangan menunggu hari esok, jika kamu bisa melakukannya hari ini.
·                            Janganlah kamu mengungkit masa lalu karena masa lalu tidak perlu di ungkit-ungkit tetapi hanya untuk di kenang.
·                            Cinta akan lari bila kita mencarinya tetapi cinta juga sering kali dibiarkan pergi bila ia menghampiri .
·                            Cinta bukan berasal dari kata-kata tetapi dari segumpal keinginan diberi pada hati yang memerlukan.
·                            Cinta bukanlah sebuah objek yang dapat diliat oleh kasat mata karena cinta hanya dapat di hayati, dirasakan melalui hati dan perasaan saja.
·                            Keindahan cinta adalah ketika kita bisa menyayangi dan di sayangi seseorang.
·                            Jangan mengubah dirimu hanya karena ingin dicinta, jika dia tidak bisa menerima kamu apa adanya, temukan seseorang yang bisa.
·                            Cinta dimulai dengan senyuman, tumbuh dengan dekapan dan seringkali berakhir dengan air mata.
·                            Aku tidak pernah tahu bagaimana cara memuja sampai aku mengetahui bagaimana cara mencinta. (Henry Word Beercher)
·                            Salahlah orang yang mengira bahwa cinta itu datang kerana pergaulan yang lama dan rayuan yang terus-menerus. Cinta adalah tunas pesona jiwa, dan jika tunas ini tidak tercipta dalam sesaat, ia takkan tercipta bertahun-tahun atau bahkan dari generasi ke generasi . (Kahlil Gibran )
Itulah 50 kata kata mutiara cinta yang di ambil dari berbagai sumber, semoga bisa sedikit menyejukkan hati dan menghilangkan rasa galau. Buktikan kata-kata mutiara cinta ini untuk mengungkapkan perasaan terhadap seseorang yang kita cintai.

Kata Kata Mutiara Cinta Terbaru 2012 Hanya untuk kalian semua para pecinta suasana romantis.



Ketika cinta sejati menemukan kekecewaan
Janganlah terucap kata kecewa
Cinta sejati yang sebenarnya
Adalah cinta yang rela mengorbankan hati untuk tersakiti

Kalaupun dia pergi meninggalkanmu
Sendiri di dalam hati yang penuh kekecewaan
Tak ada gunanya untuk disesali
Sebab kaulah yang memilihnya

Cinta sejati tidaklah harus saling memiliki
Cinta sejati tidaklah untuk selalu bersama
Cinta sejati merupakan cinta yang harusnya saling mengerti
Cinta yang saling memahami diantara keduanya

Tak ada dendam dalam Bukti Cinta Sejati
Tak ada marah dalam cinta sejati
Yang ada hanyalah sebuah ketulusan
Ataupun hanyalah sebuah keikhlasan

Mengejar cinta tak semudah membalik telapak tangan
Pengorbanan jiwa dan raga menjadi kunci sukses sebuah cinta
Tak perlu mengejar cinta, karena cintalah yang akan mengejar
Itulah timbal balik dari sebuah pengorbanan untuk cinta

Melepas lara hati dengan air mata
Bukannya dengan goresan darah
Air mata merupakan sebuah tanda ketulusan
Sedangkan darah merupakan tanda kebencian

Jika cinta, ada sebuah ketenangan ketika bersamanya
Jika tulus, ada sebuah kekhawatiran jika menyakitinya
Jika setia, ada sebuah ketakutan untuk mengakhirinya
Jika sayang, ada sebuah perasaan untuk melindunginya

Cukuplah untuk menerima apa adanya
Diapun akan cukup menerima kamu apa adanya
Sayangilah dengan setulus hatimu
Maka, dia akan menyayangimu dengan ketulusan hatinya

Mulailah katakanlah cinta dari dirimu sendiri
Jika memang kamu benar – benar mencintainya
Janganlah kamu menunggu untuk Tips Mengatakan Cinta
Jika kamu tidak ingin dia menghilang darimu

Perjuangan untuk mendapat cinta mu tak akan berakhir
Terus mengalir bagai air sungai ke satu tujuan
Terus berhembus bagai angin yang hanya satu arah
Seperti ketulusan cinta yang mengalir dan berhembus di jiwa raga

Satu menit secepat satu detik, Jika memelukmu
Satu jam secepat satu menit, Jika menemanimu
Satu hari secepat satu jam, Jika bersamamu
Begitulah waktu akan terasa karena kebahagiaan sebuah cinta

Sepuluh ranjau tak membuat takut
Seratus rintangan tak ada artinya
Seribu halangan tak menjadi masalah
Hanya untuk satu tujuan, cinta sejati

Penolakan cinta bukanlah sebuah jawaban akhir
Tapi sebuah jawaban untuk mengawali sebuah perjuangan
Penolakan cinta memotivasi untuk menjadikanmu lebih baik lagi
Bukan membuatmu menjadi putus asa bagai kapas yang tertiup angin

Mencintai cinta sejati tak akan kusesali
Sebab kaulah yang menjadi pilihan diriku
Kau tak akan memilihku menjadi cinta sejati
Jika kau tak mencintai diriku dari hatimu

Cinta bagaikan pelangi indah yang terpancar penuh warna
Tak akan indah jika hanya terpancar satu warna
Seperti itulah sebuah cinta
Tidak akan bermakna jika hanya ucapan saja




wahyu cakraningrat

WAHYU CAKRANINGRAT

Tiga ksatria berlomba-lomba mendapatkan wahyu Cakraningrat, yaitu Raden Lesmana mandrakumara, putra mahkota kerajaan Astina,Raden Samba Winsu Brata, putra mahkota Dwarawati dan Raden Abimayu, putra Arjuna.

      Lesmana bertapa di Gunung Gangga Warayang sebelah timur, dengan di temani sengkuni, Drona dan para Kurawa. Raden Samba bertapa di sisi barat. Sedangkan Raden Abimayu bertapa di selatan dengan di temani oleh para pana kawan: Semar, Gareng, |Petruk dan Bagong.

   Berbulan-bulan mereka bertapa, hingga suatu saat ada sinar terang jatuh di sisi timur. Korawa bersuka ria, karena sinar itu masuk ke tubuh Lesmana. Mereka pun pulang. Di dalam perjalanan, Lesmana kesal karena melihat ada orang tidak memberi hormat padanya. Ia pun marah, orang itu di tendangi oleh para Korawa.

    Orang itu hilang, berubah menjadi cahaya yang masuk ke tubuh Lesmana tapi keluar lagi. Lesmana jatuh pingsan.  Ternyata itu tadi ujian dewa, wahyu telah lenyap. Para Korawa mengejar perginay wahyu itu.

    Ternyata wahyu itu hinggap di sisi barat gunung. Wahyu masuk dalam badan Raden Samba, sehingga menjadi sakti, digdaya. Korawa menyerbu, tetapi tak sanggub melawan Raden  Samba. Kini Samba menjadi sombong, merasa sebagai penguasa jagad. Ujian bagi Samba datang, perempuan cantik dan lelaki tua ingin mengabdi. Samba menerima permintaan perempuan cantik itu, tetapi tidak untuk lelaki tua. Si perempuan marah, akibatnya wahyu pun lepas, pergi.

   Sementara itu, para panakawan yang menunggu Abimanyu, di malam hari merasa seperti ada bayangan hitam, dan terdengar suara, Abimanyu telah mendapatkan wahyu, maka pulanglah mereka ke Amarta.
Namun malang Korawa tetap menginginkan wahyu itu, maka terjadilah peperangan. Di akhitr cerita  wahyu tetap dimiliki oeh raden Abimanyu, yang kelah akan menurunkan raja termasyur.  

Jumat, 06 Juli 2012

Bila Kau Miskin Janganlah Merasa Hina, dan Bila Engkau Kaya Janganlah Terlena.

Bila Kau Miskin Janganlah Merasa Hina, dan Bila Engkau Kaya Janganlah Terlena.
http://id.netlog.com/Niaga_Arloji/blog/blogid=138303#blog




Kebanyakan diantara manusia menilai mulia dan hinanya seseorang diukur dari jumlah harta yang dimiliki. Maka jika ada seseorang yang melimpah hartanya semua orang menganggap mulia derajatnya, dan sebaliknya jika ada sebagian orang yang kurang beruntung dalam hartanya, orang sering menganggap mereka hina dan rendah derajatnya. Hal Ini sangat jelas tercermin dalam pergaulan sehari-hari, sehingga setiap orang berlomba-lomba untuk mencari harta dan kekayaan. Tak peduli harta yang didapat adalah hasil dari perbuatan yang tidak terpuji.

Orang yang Miskin bukanlah Orang yang Hina
Kalau kita sadari, sebenarnya orang yang tidak memiliki harta tidaklah merasa hina dan rendah dimata orang lain, tidak perlu untuk merasa sedih dan selalu merenungi nasib dirinya, karena harta adalah hanya satu dari sekian juta nikmat yang telah diberikan kepada kita. Masih banyak nikmat-nikmat lain yang tak kalah pentingnya daripada sebuah harta. Yaitu nikmat sehat, nikmat yang tak bisa dibandingkan dengan apapun. Apalah artinya rumah megah kalau badan kita sendiri dalam keadaan sakit.




Kekayaan adalah Ujian.
Persefsi orang yang berkembang di masyarakat adalah bahwa bila ada seseorang yang naik jabatan atau mendapatkan harta mendadak, sering kita menilai bahwa dia sedang beruntung, berbeda dengan jika seseorang mengalami kepailitan atau kebangkrutan, kita menganggap bahwa dia sedang diuji oleh yang Maha Kuasa. Padahal kalau kita pahami antara Kepailitan atau keberuntungan adalah sama pada hakekatnya adalah sebuah ujian. Yang miskin diuji dengan kefakirannya begitu juga dengan yang kaya, dia diuji dengan banyaknya harta. Kelak di akhirat nanti orang kaya akan diminta pertanggungan jawab terkait dengan harta yang dimiliki.


Meskipun harta sebenarnya merupakan sebuah ujian. Kalaulah boleh memilih mungkin kita meminta untuk diuji dengan kekayaan daripada kemiskinan, karena kemiskinan lebih banyak menyajikan kesulitan-kesulitan yang membuat seseorang bersikap putus asa hingga cenderung untuk berbuat curang dan lari dari tanggung jawab. Nah, faktor kemiskinan ini juga adalah salah satu dari faktor yang menyebabkan angka kriminal di masyarakat kita semakin tinggi.

Banyak orang yang memimpikan untuk mendapatkan harta dan kekayaan secara instan.Segala macam cara dilakukan, sikat kiri-hantam kanan, tak peduli saudara dan tak menghiraukan teman, tendang bawahan-jilat atasan, yang penting yang penting harta cepat berpindah tangan. Mereka lupa akan hakekat hartanya, padahal semakin banyak harta yang dikumpulkan, maka semakin banyak pula kebutuhan-kebutuhan lain yang harus dipenuhi untuk menjaga hartanya. Ibarat sebuah pepatah, menikmati harta bagaikan orang yang minum air laut, semakin banyak air laut diminum maka rasanya semakin haus saja.

Maka dari itu kita sebagai manusia sudah sepantasnya untuk bersyukur dengan apa yang sudah kita terima selama ini, Kaya harta tidaklah lebih mulia bila miskin hatinya, tetapi miskin harta adalah lebih baik asalkan kaya akan hati.

Simaklah Ayat ini:
1. Demi masa.

2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,

3. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati dalam mentaati kebenaran dan nasehat menasehati dalam menetapi kesabaran.

Hakikat nya :
Kaya itu ujian dan Miskin itu ujian juga, jadi tidak ada yang perlu di banggakan hidup di Dunia ini.
Kecuali yang Manusia yang TAWAKAL dan ISTIQOMAH di jalan SANG ILAHI ROBBI.

Wassalam...

Kamis, 05 Juli 2012

Cara Asyik Untuk Menikmati Liburan di Jogja!

 
 

Itu poto masa lalu ketika didalam keraton, aku mau memfoto 3 temanku yang sedang eksen, eh itu budhe bule nyelonong aja. Aku pun bengong liat itu budhe bule yang lewat begitu saja dengan polosnya, teman pun tertawa dan kemudian budhe bule itu mungkin nyadar bahwa ia telah nyelonong disela-sela orang yang lagi eksen, kemudian si budhe bule pun minta maaf dan minta foto kita berempat, kita berempat pun di poto oleh si budhe bule, mungkin foto-nya mau disempen buat kenangan atas peristiwa penyelonongan yang beliau lakukan.




 Ah, lupakan soal poto, mari ngerumpiin tentang Cara Asyik Untuk Menikmati Liburan di Jogja! karena blog ini kan konsep ide-nya sederhana, jadi aku mau ketik cara asyik-nya yang sederhana juga menurut persi pribadi gitu. Gimana caranya? ya nikmati liburan di Jogja itu dengan melakukan aktifitas yang menyenangkan. Kunjungi tempat-tempat yang asyik nan nyantai. Misal:
  1. Mengunjungi Keraton Dan Taman Sari
    Jalan santai didalam keraton sambil lihat-lihat dalemannya keraton, lihat pertunjukan tari atau gamelannya (kalo pas ada), terus keluar dari keraton bisa geser keselatan dikit ke Taman Sari, sambil jalan nyantai lihat-lihat pemandangan yang ada didalam taman sari.
  2.   Muter-muter naik Andong atau Becak
    Kalo misal merasa capek kalo-kalo jalan-jalan pakek kaki, yah bisa deh muter-muternya itu naik andong atau becak. Di Jogja banyak kok andong dan becak yang siap mengantar kamu keliling Jogja, kalo muter-muter naik andong atau becak pesan dariku “jangan lupa pakek bayar”, kalo mau yang gratis ya jalan kaki aja.
  3. Belanja di Malioboro
    Buat yang suka belanja, bisa melampiaskannya di Malioboro. Mau belanja pakaian batik atau segala macam aseroris bisa-bisa saja karena di Malioboro mau beli apa aja ada, kalo gak ada yang mau dibeli ya sudah beli saja apa yang ada.
  4. Makan sambil Nongkrong
    Nah, soal makan sambil nongkrong ini bisa dilakukan dimana aja, cari aja angkringan, mungkin bisa di utara station Tugu tuh sambil ngopi Joss, kalo sarapa gitu bisa tuh disekitar depan pasar Beringharjo.
  5. Keliling pakek Sepeda
    Kalo muter-muter pakai andong atau becak kan jangkauannya biasa dalam kota atau yang dekat-dekat aja gitu kan, kalo misal mau jauh-jauh bisa sih tapi tentu lebih mahal. Nah, kalo pengen lebih murah meriah kelilingnya pakai sepeda aja. Kalo gak bawa atau gak punya sepeda? bisa nyewa!!! (mau nyewa sepedaku? boleh,hub @mbak_widha). Kalo naik sepeda kamu bisa muter-muter kemana-mana, dari kota ke Prambanan pun boleh aja, soal jalan jangan kawatir, jalan di kota Jogja rata-rata rata alias tidak naik turun kayak di gunung. Kalo dari kota Jogja ke Prambanan itu yang berasa naik/turun tajam cuma di sekitar Carefour jalan Jogja-Solo itu. Kok aku tau? sudah pernah nyepeda dari kota ke Prambanan ya? jangankan dari kota ke Prambanan, sampek Klaten dengan waktu tempuh 3 jam pun pernah kok.
  6. Jalan-jalan malam ke alun-alun kidul
    Kalo malam itu dari Tugu hingga alun-alun kidul itu bisa banyak orang nongkrong, tapi kalo tidak ingin sekedar nongkrong bisa tuh jalan-jalan malamnya ke alun-alun kidul. Disana bisa main diantara beringin kembar, yang rame-rame bisa nyewa sepeda tandem atau sepeda hias buat muter-muter, atau bisa juga nyewa sepeda gandeng. Kalo malam itu alun-alun kidul paling berkelip-kelip deh.
Apa lagi ya? ah udahan aja deh, ini cara asyik tapi sederhana persi ketak-ketik, persi anda gimana ya mana ku tahu. Buat yang sedang berlibur ke Jogja selamat menikmati liburannya, buat yang belum pernah ke Jogja ya buruan deh ke Jogja, buat yang pengen lagi kembali berkunjung ke Jogja ya silakan aja deh.
Salam ketak-ketik dengan asyik
dari pojokan…..

Kebodohan Rohani


Sesungguhnya bagi yang mengerti tentang hakekat kebenaran (ajaran agama), maka tiada yang perlu diperdebatkan lagi. Karena mereka akan menyibukkan diri mewujudkan ajaran agamanya.
Sebaliknya orang-orang yang lebih sibuk memperdebatkan agama tanpa sadar telah memperlihatkan kebodohan rohaninya.
#
Membicarakan hakekat kebenaran bisa jadi bisa membuat kita lebih pintar dan berwawasan luas. Membuat kita banyak tahu dan tampak hebat. Karena kita menjadi berhasrat untuk mencari dan belajar.
Tetapi belum tentu menjamin kita akan semakin cerdas secara kerohanian. Menjadikan kita lebih bijak dan dewasa dalam kebatinan.

Karena kecerdasan rohani hanya dapat kita peroleh dengan merenungi dalam kesunyian tentang hakekat kebenaran yang diajarkan oleh agama.
Kedewasaan rohani akan kita peroleh melalui pengalaman hidup sehari-hari yang dapat kita jadikan sebagai refleksi dan introspeksi.

Hiruk-pikuk perdebatan kita tentang ajaran agama lebih membuat jiwa kita semakin kerdil. Lebih parah lagi ego semakin membesar. Semakin menjauh dari kesejatian.
Bisa saja kita kemukakan sejuta pembenaran. Bahwa perdebatan itu baik adanya. Bisa menambahkan kedewasaan kita dalam beradu argumen.

Tidak ada yang salah memang. Namun siapa yang dapat menjamin demikian kebenarannya?
Seringkali dalam keramaian membicarakan tentang ajaran agama. Kita terjebak menunjukkan kebodohan rohani kita.
Karena bagi mereka yang mengerti ajaran agamanya. Sudah memahami inti kebenaran, maka tidak akan banyak bicara lagi. Lebih banyak meneliti ke dalam diri.

Percayalah. Bagi mereka yang telah mengerti, maka tidak akan menyibukkan diri mempertunjukkan bahwa dirinya paling benar.
Hanya kita yang masih dalam kebodohan rohani yang masih perlu merasa sibuk untuk mendapatkan pengakuan. Bahwa ajaran atau keyakinan kita yang paling benar.

Percayalah.Bahwa kebenaran hakiki itu tidak perlu pengakuan dari siapapun. Karena semesta akan menunjukkan kebenaran itu pada akhirnya.
Lagi pula kebenaran yang sesungguhnya tidak akan mampu dibahas dengan kata-kata.
Kata-kata yang ditulis dari tinta sebanyak tujuh samudra pun tak akan sanggup menjelaskan.

Semakin banyak kebenaran ajaran agama yang kita bicarakan dan perdebatan. Bisa-bisa membuat kita semakin jauh dari kebenaran. Semakin terjebak dalam kebodohan rohani.

Selesai membaca tulisan ini kemungkinan akan terdengar protes dari semuanya,”Woiii sadar woiiii… yang nulis tuh bodohnya kebangetan. Udah bodoh duniawi, bodoh rohani lagi!”

Bisa protes apa saya, selain mengamini?

Rabu, 04 Juli 2012

FRAGMENTASI SPIRITUAL

Dikotomi spiritual
Spiritualitas adalah sebuah jalan batin yang memungkinkan seseorang untuk menemukan esensi dalam memaknai hidup dan kehidupan diri mereka di dunia ini. Praktek-praktek spiritual, termasuk meditasi, doa dan kontemplasi, diarahkan dengan maksud untuk mengembangkan kehidupan batin individu, praktik-praktik tersebut sering bertumpu kepada pengalaman keterhubungan dengan suatu realitas yang lebih besar, menghasilkan lebih komprehensif diri; dengan individu lain atau komunitas manusia, dengan alam atau kosmos, atau dengan alam ilahi. Spiritualitas sering dialami sebagai sumber inspirasi atau orientasi dalam hidup. Hal ini dapat mencakup keyakinan pada realitas material atau pengalaman sifat imanen atau transenden dunia.

Banyak pemahaman kemudian menyandingkan spiritual dengan agama. Agama memiliki kecakupan yang lebih luas, mengatur tatanan peradaban manusia, sedangkan spiritual lebih kepada laku pribadi masing-masing individu. Agama adalah sebuah laku spiritual dalam memaknai Ad Dien (Jalan Lurus). Maka menurut pemahaman kaum teologis, agama itulah adalah ad dien itu.  Sementara kaum spiritualis, memaknai spiritual sebagai sebuah laku dalam  mencari Ad Dien tersebut. Persoalan yang muncul bagi kaum spiritualis, kemudian adalah apakah Ad Dien itu berupa agama atau hanya sebuah aliran kepercayaan,  atau yang  biasa disebut sebagai kearifan lokal.

Banyak masyarakat, kaum suatu atau suku, atau golongan kemudian masih berpegangan kepada kearifan lokal saat menjalankan agama.  Penyebaran agama yang demikian hebat. Memaksa masyarakat lokal untuk menerima begitu saja agama baru tersebut pada jaman itu. Pen-syiar-an agama, tausiah, dan dakwah-dakwah,  sering gagal menyentuh aspek-aspek spiritual mereka. Walaupun sebenarnya, jikalau kita kaji benar, diantara pemahaman tersebut  sebenarnya, terdapat juga titik singgung dimana keduanya bertemu. Masing-masing pelaku, merasakan  hasil yang relative sama pada badan mereka. Kenyamanan, ketenangan dan hal-hal postip dalam cara pandang mereka dalam memaknai hidup dan kehidupan mereka di dunia.

Para pelaku spiritual baik yang memakai baju  agama dan atau  penganut kepercayaan serta pelaku meditasi sama-sama akan mendapatkan rasa di badan,  mereka menjadi  lebih nyaman. Selama dalam mereka menjalani laku spiritual. Masing-masing dalam ritual-ritual mereka. Kenyamanan ini akan membuahkan perilaku positip. Inilah faktanya. Sebuah konsep dalam pengolahan jiwa manusia. Sehingga pelaku yang sungguh-sungguh menetapi jalannya masing-masing tersebut menjadi yakin. Keyakinan  ini rupanya melahirkan pemahaman  bahwa semua agama itu “benar”. 

 Bahwa aliran kepercayan mereka juga “benar”. Dalam persepsi masing-masing tentunya.  Semua akhirnya menjadi benar dan  yakin dengan  laku peribadahan masing-masing. Maka tidak sedikit akhirnya diantara kaum spiritualis kemudian meyakini bahwa  mengawinkan kearifan lokal dengan agama adalah sebuah keniscayaan. Bermula dari sinilah kemudian spiritual mengalami fragmentasi dalam segmennya masing-masing. Muncullah Islam dengan spiritual Jawa, Islam dengan spiritual Batak, Islam dengan spiritual India, Cina, Persia, atau spiritual Arab dengan kabilah-kabilahnya, dan sebagainya dan sebagainya. Meskipun fenomena ini tidak kasat mata namun bagi pelaku spiritual akan sangat paham sekali kemungkinan kemungkinan ini.

Sebagaimana juga di alami oleh agama Kristen. Dimana  ketika berbenturan dengan kearifan lokal mereka kemudian bersimbiosis  muncul Kristen Jawa, Batak, Sunda, dan lain sebagainya.
Masalahnya adalah apakah Islam menerima simbiosis ini. Islam menuntut agar para penganutnya masuk kedalam agama Islam secara kafaf, secara totalitas. Dengan sebuah konsep ˜BERSERAH DIRI” tanpa “reserve”.

Inilah problematika yang dihadapi para spiritualis lokal dalam mempelajari Islam. Ketidak berdayaannya melepaskan diri atas kesadaran kolektif yang di bangun oleh nenek moyang, atas hal ghaib dan realitas. Mana imanen dan mana transeden. Dengan istilah-istilah yang sulit dicarikan referensinya dalam Islam, membuat para spiritualis lokal (Baca; Jawa) mengalami kegamangan. Ambivalensi agama atas spiritual (baca; kejawen). Kesemua ini telah menyebabkan kemunduran tersendiri bagi spiritual Islam. Sehingga kita dapati orang Indonesia sekarang beragama namun tidak ber ketuhanan. Hancurnya tatanan moralitas sekarang ini, mungkin dapat dijadikan ukuran atas pernyataan ini.

Kearifan lokal (Spiritual lokal)

Ketika agama berbenturan dengan spiritual lokal. Ketika agama mengalami pergumulan dengan kearifan lokal. Ketika terjadi pemaksaan atas nama agama kepada kaum spiritualis lokal. Ketika tidak ada lagi wacana. Ketika yang ada adalah salah dan benar, kafir atau muslim. Tidak ada jalan bagi kaum spiritualis untuk menolak kehadiran agama dalam hidupnya. Maka yang terjadi kemudian pergumulan dalam jiwa para pemeluk agama,  (spiritualis)  yang masih tetap tak berkesudahan hingga melintas memasuki jaman milinium ini.

Bagaimana kearifan spiritual lokal kemudian menyikapi hal ini.?. Beberapa spiritualis Islam Jawa masa lalu seperti diantaranya  Ki Ageng Selo, dan Ki Ronggowarsito paham benar dengan situasi ini. Mereka mengerti betapa tinggi dan luhurnya filosofi Jawa, mengakar begitu kuat dan dalam pada kesadaran orang-orang Jawa. Laku orang Jawa adalah spiritual itu sendiri dalam kesehariannya. Maka untuk menjebatani ini, mereka kemudian membuat beberapa methode dan simbolisme , agar mudah dipahami oleh orang-orang Jawa dalam menetapi Islam. Mereka mencoba men-transformasikan kearifan lokal, spiritual Jawa ke dalam Spiritual Islam. (Baca Pepali Ki Ageng Selo).

Dalam agama Islam, dan juga agama agama lainnya, spiritual selalu disandingkan dengan pemahaman surga dan neraka. Perimbangan antara keduanya menjadi titik sentral agar manusia selalu mawas diri dalam menapaki jalan kehidupannya di dunia. Tingkah laku mereka sudah diatur dan diarahkan dengan sangat hati-hati agar tidak terjerumus kepada perlilaku negatif. Sejak masih kecil pemeluk agama di berikan doktrinasi dan ritual-ritual keagamaan, yang diharapkan akan mampu mengarahkan perilaku pemeluknya kepada perilaku positip.
Rangkaian  methode peribadatanpun sudah di berikan oleh para pembawa risalah agama-agama masing-masing, untuk menuntun semua pemeluk dan penganutnya agar mendapatkan hasil optimal sebagaimana yang diharapkan oleh agama tersebut. Sementara dalam spiritual biasa menitik beratkan~berporos kepada kehidupan di dunia saja. Penyatuan kepada alam semesta. Harmonisasi alam.

Jika semua menuju kepada jalan yang sama kepada Ad Dien yang diyakini kebenarannya masing-masing. Tentunya semua akan sampai kepada titik singgung, titik pertemuan para penempuh jalan,  suatu kearifan spiritual. Kearifan yang mampu meredam seluruh perbedaan atas jalan masing-masing yang di tempuh. Ibarat kita akan pergi ke Roma, tentunya banyak jalan kesana.  Sayangnya itu tidak pernah terjadi, kalaupun terjadi biasanya dalam skala minimal tidak berlaku umum. Sejarah telah mencatat pada setiap agama-agama yang diturunkan di bumi ini, ternyata sama-sama telah menyisakan sejarah kelam. Dalam perkembangan dan pertumbuhan agama itu sendiri.  Kearifan nyaris terkikis oleh benar dan salah. Agama telah kehilangan nilai spiritual-nya?. Mungkinkah terjadi ?.

Maka , ketika kenyamanan badan  yang di dapatkan oleh seorang pelaku spiritual menjadi ukuran dalam pembenaran atas dirinya, atas ajaran sebuah agama, atas sebuah kepercayaan. Niscaya mereka akan berhadapan dengan ajaran lain yang juga sepertinya mendapatkan hasil yang sama, meski  laku mereka agak berbeda. Jika spiritual bekerja dengan cara seperti ini, maka dapat dipahami apabila hasilnya adalah sebuah peradaban yang penuh dengan caci maki, perpecahan dan pertikaian. Demi pembenaran terhadap perilaku manusia atas manusia lainnya, yang tengah menjalani laku berbeda, walau keduanya sama-sama sedang berusaha memaknai kehidupan ini. Menetapi kehidupan ini. Tak peduli, walaupun masing-masingnya juga sedang berusaha untuk menjadi baik dengan perilaku yang tengah mereka jalani itu.

Akhirnya wajar jika sesuatu yang baik menurut suatu golongan dianggap tidak baik oleh sebagian manusia lainnya. Sayangnya lagi, meski masih dalam satu golongan, konotasi baik diantara mereka itu juga kemudian telah  di persepsikan lagi oleh sebagian lainnya, menjadi hitam putih lagi. Jadilah baik bagi siapa dan untuk siapa. Baik menjadi banyak makna.

Semua punya cerita dan alasan sendiri-sendiri. Dan tanpa disadari, semua menuju jurang perpecahan dan penghancuran masing-masing. Maka tidak mengherankan apabila kemudian dalam sebuah agama terjadi puluhan perpecahan dan di dalamnya banyak sekte, banyak ritual dan banyak dogma-dogma yang justru semakin menjauhkan diri mereka sendiri dari niat mereka dalam ber-spiritual pada awalnya.
Kalau begitu, kemudian timbul pertanyaan adakah sebuah garis lurus (Shirotol Mustakim) ?, sebuah benang merah yang mampu menjelaskan spiritual seperti apakah sebenarnya yang dapat menjebatani seluruh pemahaman yang ada di dunia ini ?.

Kemudian spiritual seperti apakah yang  mampu  menyadarkan manusia dalam dikotomi dan ambivalensi agama. Sehingga tidak ada pemisah lagi antara agama dan spiritual. Dan spiritual seperti apakah yang kemudian mampu menyadarkan kita bahwa setiap manusia berada dalam makomnya masing-masing ?.
Jika agama adalah sebuah pemahaman yang satu. Diibaratkan sebagai sebuah jalan yang lurus (shirotol mustakim), maka setiap golongan dan sekte tengah berjalan bersama-sama menuju Tuhan yang satu.

Tentunya yang membedakan dari masing-masing manusia, dan agama, atau golongan, adalah pencapaiannya pada kilometer keberapa dia pada akhirnya nanti. Apakah mereka mampu sampai ke garis finis..?. Ataukah berhenti ditengah jalan dan tidak pernah sampai. ?. Dengan methode dan kendaraan yang tepat manusia dapat mencapai kilometer yang lebih jauh dibandingkan dengan manusia lainnya. Manusia hanya perlu mencari kendaraan yang tepat  dan strategy mana yang lebih cepat dalam  menghantarkannya ke titik akhir di sebuah jalan yang lurus tersebut. Dalam keterbatasan sang waktu. Tidak ada saling menyalahkan dan tidak ada perpecahan. Bukankah ini tujuan kita dalam ber spiritual ?. Mungkinkah..?.

Sistem kesadaran manusia

Dalam kitab-kita suci agama-agama besar yang ada di dunia. Banyak diceritakan tentang perimbangan surga dan neraka. Bagaimana sifat-sifat orang-orang yang akan menghuni surga dan bagaimana ciri-ciri orang yang akan menghuni neraka. Telah diuraikan dengan teliti. Nah..Dengan pengetahuan itulah para pemeluk agama kemudian menyatakan diri mereka masing-masing sebagai ahli surga. Tidak ada satu mahkluk di bumi ini yang bersedia menjadi ahli neraka.  Sudah jamaknya memang demikian. Namun apa jadinya, jika kemudian lantas menjadi  tidak peduli dengan pernyataan Tuhan mereka.

Pernyataan mutlak bahwa siapa-siapa saja yang akan menghuni surga atau neraka adalah kewenangan dan hak mutlak Tuhan mereka. Sudah menjadi ketentuan Tuhan. Tidak ada sedikitpun campur tangan manusia dalam hal ini. Tidak juga atas usaha manusia itu sendiri. Tuhan berbuat sekehendak diri-NYA, dalam system keadilan yang sangat luar biasa. Sehingga, sesungguhnya menjadi sangat naif ketika semua orang berebut menyatakan dirinya sebagai ahli surga. 

Menjadi sangat naif lagi jika kemudian memvonis manusia lain adalah ahli neraka. Jikalau begini, telah kita dapati kembali  sebuah peradaban yang hanya berisi perpecahan, caci maki, dan sebagainya, baik dalam satu agama apalagi lintas agama. Sungguh luar biasa sekali manusia dengan akalnya ini.
Apakah kalau begitu semua golongan adalah benar..?. Atau
Apakah hanya satu golongan yang benar dan yang lain salah..?.

Benar dan salah, akhirnya memiliki kompleksitas tersendiri. Ketika berbenturan dengan kearifan lokal. Meskipun penyebaran agama yang demikian hebatnya telah mampu memaksa dan  menerobos tatanan spiritual suatu masyarakat yang telah dibangun secara turun temurun dengan cara menggantikan kesadaran kolektif (spiritual) yang ada pada kaum tersebut dengan pemahaman baru . Namun ternyata pemaksaan ini, tanpa disadari telah melahirkan  pertentangan hebat dalam diri pemeluknya.

Kesadaran kolektif akan selalu menemukan jalannya untuk diturunkan. Sebuah entitas yang sudah masuk kedalam kesadaran manusia tidak akan begitu saja mudah dibuang. Bagaimanapun caranya entitas tersebut mencoba mempertahankan diri bahkan mungkin juga malah tetap dipertahankan oleh manusia itu sendiri. Inilah bekerjanya spiritual dalam kesadaran manusia. Ketika sesuatu hal ghaib sudah dimasukan dalam kesadaran manusia maka akan menjadi realitas bagi mereka.

Sebagai contoh, ketika saat kesadaran manusia masih berada dalam tahap mengakui bumi sebagai pusat tata surya. Masuknya pemahaman baru yang menyatakan bahwa mataharilah pusat tata surya bukannya bumi. Pemahaman ini, mendapat perlawanan hebat, tidak sedikit korban manusia. Sungguhpun tidak ada satu orangpun pada jaman itu yang mampu menyaksikan bagaiamana system tata surya tersebut bekerja.

Kesadaran kolektif mereka terlanjur menganggap bahwa matahari mengelilingi bumi adalah realitas. Dan pemahaman lain adalah ghaib.  Tidak mudah kesadaran manusia beralih begitu saja. Padahal kalau kita kaji nyatanya kedua duanya adalah sama-sama ghaib, mengapa..?. Karena tidak ada satupun manusia yang mampu dengan inderanya mengetahui itu.

Banyak instrument dalam diri manusia yang perlu ditundukkan agar kesadaran manusia mau menerima sebuah kesadaran yang lain lagi. Begitulah kesadaran, begitulah spiritual.
Hal ini begitu nyata dalam tatanan spiritual Jawa. Banyak entitas yang dimasukan dalam kesadaran orang-orang Jawa. Hingga banyak orang Jawa tetap dalam spiritual Jawanya meski telah ber-Islam atau telah memeluk Kristen.

Rupanya ini juga terjadi diseluruh pelosok penjuru bumi, dalam penyebaran-penyebaran agama baru, sejak kisah para orang-orang Romawi hingga menyebar di kekinian. Ketika agama berhadapan dengan spiritual lokal, baik di India, di Persia, di Cina, bahkan di pusat peradaban Islam sendiri spiritual Arab mengalami hal yang sama dan lain sebagainya, agama diterima dengan pemahaman spiritual lokal yang melekat secara turun temurun.

Kenyataannya tidak ada transformasi kesadaran dari spiritual lokal kepada spiritual agama yang baru.(baca ;Islam).  Jika akal dan jiwa masih belum mau tunduk maka sulit sekali kesadaran akan ber transformasi. Maka menjadi dimengerti ketika Islam kesulitan melakukan transformasi kesadaran dari jaman sahabat kepada generasi-genersi  berikutnya. Ada sebuah missing link. Banyaknya suku dengan beragam budaya dan spiritual lokalnya menjadi kesulitan tersendiri. Maka tak heran jika kemudian wajah Islam dan agama-agama menjadi seperti sekarang ini. Banyak golongan ter-fragmentasi dalam segmennya masing-masing. Maka tak aneh jika surga kemudian telah dikapling berdasarkan segmennya masing-masing, dalam persepsi masing-masing golongan. Sungguhkah tak ada surga bagi golongan lainnya..?.

Memasuki millennium baru, benturan-benturan tersebut tidak mampu di tuntaskan. Sejak masuknya Islam di Pulau Jawa, sejak jaman para Wali. Hal ini seperti mengendap begitu saja. Menyisakan kegamangan tersendiri bagi orang Jawa, bagi bangsa-bangsa lainnya, dan demikian juga  halnya dengan bangsa arab sendiri. Spiritual Arab juga mengalami kegamangan yang sama ketika bertemu dengan spiritual Islam. 
Hasilnya selaramh baru kita sadari,  kita menjadi kesulitan memisahkan antara mana yang spiritual Arab dan mana yang spiritual Islam.

 Kita sebenarnya tahu bahwa Spiritual Arab melekat bersama adat istiadat dan budaya lokal mereka. Ketika mereka mempelajari Islam , orang arab juga kesulitan membebaskan diri atas spiritual lokal mereka (Arab). Hingga kejadiannya spiritual Arab dianggap sebagai perwujudan spiritual Islam. Dakwah Islam pun akhirnya sulit membebaskan diri dari hal ini. Tanpa disadari mereka memasukan unsure-unsur lokal Arab kepada spiritual Islam.

Akhirnya menjadi salah kaprah ketika masyarakat menganggap semua budaya arab identik dengan Islam. Tak aneh jika sekarang muncul fenomena, bila ingin dianggap sspiritualis sejati tinggal pakai baju gamis saja, ala orang arab maka kita pasti cepat dianggap sebagai ustad. Kita sudah terlupa bahwasanya Islam sejatinya adalah pembebas atas semua itu. Islam adalah agama PEMBEBASAN atas kesadaran spiritual yang yang ter fragmentasi.
Bagaimana  sebaiknya menyikapi ini..?.

Islam adalah spiritual

Spiritual adalah sebuah laku agar manusia mampu menundukan instrument ketubuhannya, sehingga manusia mampu menggunakan kesadarannya  untuk memahami dualitas  alam semesta dan meletakannya pada tempat yang semestinya.  Sehingga manusia juga mampu memahami antara mana hal ghaib dan mana hal  realitas .

Memaknai kelahiran dan kematian. Kemudian kesadarannya juga mampu membedakan antara bangun dan tidur. Dan dualita-dualitas lainnya. Dengan memahami ini manusia menjadi tenang, tidak pernah dirisaukan oleh dualitas tersebut.  Sehingga diharapkan  manusia mampu mencapai sebuah kesadaran tertinggi dalam martabatnya sebagai manusia. Kesadaran tertinggi inilah yang tidak sama antara satu agama dengan agama lainnya, antara satu keyakinan dengan keyakinan lainnya. Antara suatu kepercayaan dengan kepercayaan lainnya.

Kesalahan dalam memahami kesadaran tertinggi akan menyebabkan penderitaan berkepanjangan, itulah neraka. Maka dalam ber spiritual manusia memerlukan  teladan dan panduan. Kesalahan dalam mengambil teladan dan panduan juga akan menyebabkan penderitaan bagi manusia itu sendiri. Manusia yang mampu menemukan kesadaran tertingginya itulah manusia yang akan mendapatkan surga kebahagiaan. Maka meskipun teladan dan panduannya benar namun jika dia tidak mampu mendapatkan kesadaran tertingginya, maka manusia inipun akan mengalami penderitaan berkepanjangan pula.
Kesadaran tertinggi dalam Islam adalah jika manusia mampu mendapatkan sebuah kesadaran :
“LA ILA HA ILALLAH”.

Meletakan kesadaran pada kehendak Allah. Bahwa semua realitas yang ada adalah merupakan rangkaian kehendak-kehendak Allah yang tersusun dengan sangat luar biasa sekali. Pada setiap kejadian, pada setiap pembentukan, pada setiap apapun yang terjadi di seluruh permukaan bumi ini, baik itu sebutir  debu yang jatuh hingga kematian yang menerjang suatu kaum, berupa suatu bencana. Pada hamparan bumi dan langit, pada sintesa dan biosentesa, terjadinya angin dan hujan. Terjadinya malam dan siang. Dan sebagainya, dan sebagainya.

Apapun kejadiannya dan realitasnya yang nampak adalah kehendak-kehendak Allah atas semua itu. Maka dalam kesadarannya hanya ada Allah saja yang berkreasi yang hidup, yang bekerja, yang mematikan, yang menghidupkan, semua, sebagaimana kesemuanya dalam asmaul husna,  dalam 99 nama-NYA.  Kemanapun manusia menghadap disitulah wajah  Allah. Kemanapun kesadarannya diletakan disitulah nama-nama Allah. Dalam penciptaan manusia, rejeki, jodoh dan mati. Distu terdapat nama-nama Allah. Maka tidak ada keraguan lagi ketika dia menghadapkan kesadarannya bahwa TIADA TUHAN SELAIN ALLAH, yang mampu berbuat semua itu, sekehendak diri-NYA.

Kesadaran seperti inilah sebenarnya yang diharapkan dalam ber spiritual. Sehingga manusia yang sudah mencapai kesadaran ini akan berperilaku penuh santun. Karena senantiasa dia akan melihat dalam perspektif ketuhanan sebelum melakukan tindakan apapun. Karena hanya Allah saja yang ada dalam kesadaran-NYA. Jika kemudian, ketika manusia beragama~namun kehilangan kearifan~kehilangan ketuhanannya.

Maka dapat diyakini dia tidak ber-spiritual. Hasil yang di peroleh dalam spiritual Islam begitu nyata dan merupakan suatu kepastian. Sholat akan mencegah perbuatan keji dan mungkar. Pernyataan ini dalam Islam adalah sebuah kepastian yang akan diperoleh bagi orang yang sholat dan ber spiritual. Jika dia masih melakukan perbuatan keji dan mungkar dengan adar yang sama dari waktu ke waktu tidak berkurang. Maka yakinlah bahwa dia itu tidak sedang sholat. Sederhana dan simple sekali.

Bagaimana dengan lainnya..?. Menjadi pertanyaan penting adalah, sejauh mana suatu agama, atau aliran kepercayaan memandu para pengikutnya menuju kepada kesadaran tertingginya.
Jikalau kesadaran manusia selalu dihadapkan dengan patung. Maka kesadarannya akan berhenti pada patung tersebut. Hal ini tentu akan menyiksanya.
Jikalau kesadaran manusia selalau di hadapkan kepada harta. Maka kesadarannya senantiasa akan diliputi harta saja, oleh sebab itu kesadarannya akan berhenti dan menetap pada harta. Hal ini lebih akan menyiksanya lagi.

Jikalau kesadarannya dihadapkan kepada wanita, tahta, keluarga, anak, kerjaan, dan lain-lainnya, atau bahkan kepada alam semesta itu sendiri. Tetap saja kesadaran manusia akan berhenti kepada apa yang setiap saat dihadapkan dirinya kepada benda-benda itu. Dalam Islam hal ini di tentang sangat keras. INILAH SYIRIK. Tidak ada toleransi bagi para penempuh jalan spiritual jika mereka syirik. Kesadaran mereka harus senantiasa dihadapkan kepada Allah.

Islam sungguh telah menyiapkan dengan sempurna agar setiap suku, setiap golongan, setiap manusia manapun mampu memahami dan menetapi spiritual dalam Agama Islam. Jalan spiritual yang di tawarkan Islam hanya melalui rangkaian pemahaman; Iman, Islam dan Ihsan. Sangat sederhana sekali. Namun sebaik apapun methode yang di tawarkan selama manusia itu tidak mau menundukan akalnya terlebih dahulu maka manusia itu tetap tidak akan mampu memperoleh nilai spiritual seperti yang diharapkan Islam. Spiritual Islam menuntut agar pemeluknya mampu menundukan seluruh entitas dalam dirinya, melakukan transformasi dari sebuah kesadaran spiritual lokal kepada suatu kesadaran spiritual Islam. (Insyaallah ; Langkah-langkahnya akan diulas dalam Bab Membuka Hijab). Walohualam
salam

Meniti Jembatan Iman: Ruang Imajinasi, Pengharapan, dan Praktis Hidup di Tengah Arus Zaman

  Meniti Jembatan Iman: Ruang Imajinasi, Pengharapan, dan Praktis Hidup di Tengah Arus Zaman   Pengantar Agama dan keyakinan bukan sek...