Jumat, 27 Juli 2012

Ida Arimurti: Kisah Konglomerat yang Ditolak dan Segerobak Bunga dari Pengemar Fanatik

Ida Arimurti: Kisah Konglomerat yang Ditolak dan Segerobak Bunga dari Pengemar Fanatik


Kita berusaha, Allah berkehendak. Pepatah itu sepertinya persis sekali dengan perjalanan hidup seorang Ida Arimurti. Siapa yang tidak mengenal wanita cantik kelahiran Surabaya, Jawa Timur, 17 Desember  ini. Penyiar radio dan televisi, MC,dubber, dan belakangan berkecimpung dalam dunia wirausaha.
Kompasianers, kiprahnya di dunia radio tak sengaja dilakukan. Kisahnya terjadi saat Ida masih berseragam putih abu-abu alias SMU (dulu Sekolah Menengah Atas, SMA) di SMU 30, Rawasari, Jakarta Pusat. Temannya ingin menjadi penyiar radio Amigos. Saat mengantar temannya ke radio yang bermarkas di jalan Wijaya itu, penyiar Amigos, Leo Kresnapaty, justru menawari Ida untuk menjadi penyiar.

Begitu aku coba, eh, malah aku yang diterima,” katanya mengingat pada 1982, ketika pertama kali memulai siaran di Amigos. “Meski temanku nggak diterima, ia nggak marah. Justru ia malah bangga aku kemudian jadi penyiar kondang,” tambah wanita ini sambil tertawa.


Di Amigos, Ida berjumpa dengan Bens Leo, pria yang belakangan dikenal sebagai pengamat musik terkenal di tanah air. Di radio ini, ia belajar banyak, baik itu teknik siaran maupun suara. Harap maklum, pada saat masuk, ilmu radionya nol besar. Namun, tekad yang kuat, membuat dirinya langsung menjadi penyiar yang dinantikan oleh banyak pendengar.

Kompasianers, dua tahun bersiaran di Amigos, Ida ‘dibajak’ ke Radio Prambors. Di radio yang dahulu bermarkas di jalan Borobudur 4, Jakarta Pusat ini, namanya menjulang. Bak bintang film atau sinetron sekarang ini, Ida pun menjadi idola. Kepopulerannya ini membuat TVRI yang dahulu cuma satu-satunya televisi di Indonesia, merekrutnya menjadi penyiar di programa 2 TVRI Jakarta dan penyiar TVRI Nasional.

Alhamdulillah. Semua itu  aku syukuri. Niat aku bekerja itu adalah bekarya, bukan karena rutinitas saja, tetapi harus punya prestasi, sehingga perusahaan bisa melihatku sebagai aset.”

Saat di Prambors pada 1984, Ida dibayar Rp 5.000 per jam. Dalam seminggu, ia bersiaran selama 4 sampai 6 jam. Jadi, honornya sebulan sekitar Rp 500 ribuan. Zaman itu, angka itu cukup besar untuk honor seorang penyiar. Menurutnya, setiap tahun honornya terus dinaikkan. Tak heran, dalam 2 tahun siaran, ia bisa membeli Starlet seharga 25 juta perak dan mencicil rumah di Jatibening, Bekasi.

Kata perusahaan, aku termasuk penyiar termahal,” ungkapnya tanpa bermaksud menyombongkan diri. Sebab, faktanya, nama Ida memiliki nilai jual di radio. Rating program radio yang ada namanya, selalu menjulang. Sampai ketika pindah ke Group Delta, ia selalu bersiaran di jam primetime. Maklum, banyak agency yang pasang iklan di program acara dimana penyiarnya Ida Arimurti. “Makanya jangan heran, aku selalu dapat bonus besar,” akunya sambil tertawa lagi.

Kompasianers, bukan dari siaran saja honor yang didapat Ida. Tentu Anda tahu, pekerjaan sampingan jadi penyiar adalah menjadi MC. Tentu Anda tahu, 1 hari dalam setahun ada 365 hari. Namun dalam setahun, ia pernah mendapatkan job MC sebanyak 400 kali. Bayangkan jika siangnya ia  diundang perusahaan A, lalu malamnya diundang perusahaan B. Belum termasuk honor yang didapat dari menjual suaranya dengan menjadi dubber.



Bagi Ida, siaran radio ibarat darah nadi. Saking cintanya, waktu 24 jam tidaklah cukup untuk melakukan untuk radio. Memang, wanita ini begitu total ketika bersiaran. Resep itulah yang membuatnya cukup dikenal sampai saat ini. Totalitas itu pula yang menjadikan karirnya terus melesat, dari penyiar Prambors (1984-1994), Female (1994-2002), dan kemudian pada 2004 dipercaya menjadi Direktur Woman Radio.

Dengan jabatan sebagai Direktur, praktis penghasilannya berlipat-lipat dibanding menjadi penyiar. Namun, posisi tinggi di Female tersebut jelas merupakan konsekuensi logis yang memang sudah seharusnya ia dapatkan, mengingat kerja keras dan komitmennya selama ini di radio.

 “Alhamdulillah, aku membangun radio ini (Woman Radio-pen) mulai dari nol sampai kemudian cukup dikenal orang.”

Kompasianers, disiplin, tepat waktu, dan bertanggung jawab adalah resep sukses seorang Ida Arimurti agar bisa sukses di dunia radio dan tentu saja di profesi lain. “Dalam dunia radio, sedetik itu berharga. Jadi kalo kita tidak disiplin dan tepat waktu, sulit untuk berhasil,” jelas wanita yang sempat membawakan program TRAX (TVRI) bersama Erwin Parengkuan, dimana saat itu bersaing dengan program musik Rocket(RCTI) yang dibawakan oleh Jeffry Woworuntu dan Gladys Suwandi.

Tambah Ida, jadi penyiar itu tidak boleh setengah-setengah. Maksudnya, jangan sekadar suka siaran, tetapi harus melakukan sesuatu yang berbeda. “Jangan cuma datang, lalu siaran. Namun kita harus tahu detail tentang profesi kita dan belajar mengenai dunia penyiaran, termasuk manajemen. Dengan begitu, wawasan kita luas.”
Resep lain dari seorang penyiar, jelas tahu tentang dunia musik dan punya sense of humor alias selera humor. Mengenai selera humor ini, menurut Ida sangat penting. Sebab, ketika kita menginterview narasumber dan kita tidak punya selera humor, otomatis wawancara tersebut akan kering dan tidak cair. Hal itu jelas akan membosankan pendengar, pun pada diri narasumber itu.

Kerja keras Ida tentu ada konsekuensi lain yang dipertaruhkan, apa lagi kalo bukan masalah berkeluarga. Ia sadar, bahwa ia terlambat menikah. Padahal ia bukan tidak suka menikah tepat waktu atau ia termasuk wanita pilih-pilih pasangan. “Soalnya kalo ada cowok yang dekat sama aku bawanya ngajak kawin terus,” akunya. Salah satu pria yang dekat dengannya dan mengajak kawin adalah seorang pengusaha kaya dan termasuk konglomerat pribumi tersohor di tanah air.

Dulu aku memang lugu, nggak neko-neko gitu. Pacaran baik-baik. Nggak pernah ciuman. Eh, begitu diajakin serius, malah kabur. Aneh nggak sih?

Kompasianers, suara Ida yang lembut dan seksi, membuat pendengar selalu klepek-klepek. Saat di Prambors, ia selalu mendapatkan 3 surat per hari, dan paling banyak 10 surat. Isi surat itu rata-rata selain memuji suaranya, suka gaya siarannya, kelanjutan cerita Catatan Si Boy, Dairy, juga pertanyaan-pertanyaan yang ‘menjurus-jurus’ tentang masalah pribadi. “Ya, kebanyakan surat cinta gitu, deh.

Tak seperti kebanyakan idola pada fans-nya, Ida termasuk orang yang rajin membalas semua surat yang dikirimkan kepadanya. Hebatnya, surat-surat itu ditulis tangannya sendiri, bukan balasan surat yang berasal dari satu surat yang di-foto copy (baca: diperbanyak dengan cara foto copy). Ia pun menyisihkan ektra uang untuk membeli perangko jika ada penggemarnya yang tidak menyertakan perangko balasan.
Soal perangko, no problem. Kan memang aku budgetkan.”

Begitu banyak pendengar yang menjadi penggemar fanatik. Tak cuma konglomerat itu. Ada seorang pengemar yang membuat dirinya ketakutan, dimana ia selalu mengirimkan faks setiap hari. Penggemar fanatik ini mulai tergila-gila dengan Ida saat masih bersiaran di Prambors sampai ketika pindah di Delta FM.

Selain mengirim faks, penggemar fanatik ini sempat mengirimkan diary yang seluruh halamannya sudah ditulis penuh olehnya. Isi dairy itu tentang imajinasinya tentang Ida, mulai saat ia kenalan, pacaran, married, dan punya dua anak. Bahkan, ia berimajinasi pada saat bercinta.

Pernah orang ini ngikutin aku sampai ke mal. Sampai di eskalator, ia berdiri di sampingku sambil memegang tangangku. Ia mengatakan benar-benar jatuh cinta sama aku,” kenangnya saat masih bersiaran di Female, dimana kantornya di Plaza Bintaro, Tanggerang. “Saking panik, aku berusaha untuk menghindar dan lari.”

Ida mengerti, pengemar fanatik seperti itu tidak bisa diperlakukan kasar. Sebab, hal itu justru akan membahayakan dirinya. Makanya, jika terpaksa bertemu, ia harus bersikap bagi. Begitu ada kesempatan, ia coba menghindar. Percaya tak percaya, saking tahu Ida adalah ‘aset’ bagi perusahaan, pimpinan Prambors sempat menggaji seorang satpam untuk selalu mengawal kemana pun Ida pergi.
Kalo nggak salah, nama satpamnya pak Sardi.”

Kompasianers, penggemar fanatik yang sehari-hari bekerja sebagai PNS di Departemen Keuangan ini hampir setiap hari ke markas Prambors. Makanya, setiap kali habis siaran, Ida selalu dikawal pak Sardi keluar lewat jalan belakang. “Wah, kayak main petak umpet gitu, deh.”

Suatu kali, penggemar fanatik ini mengirimkan bunga pada saat Ida ulang tahun.  Jika bunganya cuma setangkai barangkali biasa. Namun yang terjadi, ia mengirimkan bunga segerobak, sebanyak usia Ida pada saat itu. Hebatnya, bunga-bunga itu komplit dikirim dengan menggunakan pot-potnya.

Pernah pula ia kirim bunga ke hotel saat aku jadi MC. Awalnya aku bingung dibilangi resepsionis ada yang kirim bunga. Eh, ternyata pengemar fanatikku itu yang kirim. Aku bingung dari mana dia tahu aku lagi jadi MC di hotel ini. Ternyata aku sempat keceplosan ngomong, nanti malam bakal jadi MC di hotel itu,” jelas wanita yang sempat menjadi tokoh Ina di acara Catatan Si Boy saat di Prambors ini.

Masih banyak kisah penggemar yang mebuat Ida ‘ketakutan’. Pernah ia dimarah-marahi oleh seorang wanita, gara-gara suaminya menyimpan foto Ida di dalam dompet. Wanita itu bertanya tentang hubungan Ida dengan suaminya itu. Tentu Ida cuma senyam-senyum, karena suami si wanita itu adalah penggemar fanatik Ida.

Entah dapat dari majalah mana, fotoku digunting dan dimasukkan dalam dompet. Yang bikin marah si istri, karena fotonya yang ada di dalam dompet itu diperlihatkan,” papar Ida yang juga sempat mendapatkan ‘teror’ melalui telepon ini. “Saat ini, aku dan wanita ini berkawan di FB. Namun, ia masih nggak habis pikir, suaminya masih tergila-gila dengan aku dan selalu membandingkan dia dengan aku.

Kisah tentang penggemar ini, menurut Ida ada yang lebih parah. Ia sempat dikejar-kejar dengan seorang perempuan yang mengaku laki-laki. Suaranya memang mirip laki-laki. Namun begitu ketemu, ternyata perempuan. “Waktu itu setiap aku ingin sesuatu, pengemar yang mengaku cowok ini selalu mengirimkan keinginanku ini ke studio.”

Kompasianers, keseksian suara Ida tidak bisa kita nikmati lagi. Pasalnya, sejak 2010, ia memutuskan untuk break bersiaran. Keputusannya ini setelah ia tidak lagi bersiaran di Delta dan fokus di program Zona Memori yang sempat ditayangkan di Metro TV. Ternyata, sejak 2011 lalu, Zona Memori pun berhenti siarannya.
Sekarang saatnya aku fokus membagi waktu untuk anak,” ujar wanita yang belakangan giat menjadi pengusaha ini.

 “Tentu ada pekerjaan selain mengurus anak. Namun yang pasti, pekerjaan yang aku lakukan ini tidak menyita waktu terlalu besar, sebagaimana dulu ketika aku di radio.”


Kamis, 26 Juli 2012

http://sosok.kompasiana.com/2012/07/27/ida-arimurti-kisah-konglomerat-yang-ditolak-dan-segerobak-bunga-dari-pengemar-fanatik

Ida Arimurti: Kisah Konglomerat yang Ditolak dan Segerobak Bunga dari Pengemar Fanatik


Kita berusaha, Allah berkehendak. Pepatah itu sepertinya persis sekali dengan perjalanan hidup seorang Ida Arimurti. Siapa yang tidak mengenal wanita cantik kelahiran Surabaya, Jawa Timur, 17 Desember  ini. Penyiar radio dan televisi, MC,dubber, dan belakangan berkecimpung dalam dunia wirausaha.

Kompasianers, kiprahnya di dunia radio tak sengaja dilakukan. Kisahnya terjadi saat Ida masih berseragam putih abu-abu alias SMU (dulu Sekolah Menengah Atas, SMA) di SMU 30, Rawasari, Jakarta Pusat. Temannya ingin menjadi penyiar radio Amigos. Saat mengantar temannya ke radio yang bermarkas di jalan Wijaya itu, penyiar Amigos, Leo Kresnapaty, justru menawari Ida untuk menjadi penyiar.

Begitu aku coba, eh, malah aku yang diterima,” katanya mengingat pada 1982, ketika pertama kali memulai siaran di Amigos. “Meski temanku nggak diterima, ia nggak marah. Justru ia malah bangga aku kemudian jadi penyiar kondang,” tambah wanita ini sambil tertawa.

Di Amigos, Ida berjumpa dengan Bens Leo, pria yang belakangan dikenal sebagai pengamat musik terkenal di tanah air. Di radio ini, ia belajar banyak, baik itu teknik siaran maupun suara. Harap maklum, pada saat masuk, ilmu radionya nol besar. Namun, tekad yang kuat, membuat dirinya langsung menjadi penyiar yang dinantikan oleh banyak pendengar.

Kompasianers, dua tahun bersiaran di Amigos, Ida ‘dibajak’ ke Radio Prambors. Di radio yang dahulu bermarkas di jalan Borobudur 4, Jakarta Pusat ini, namanya menjulang. Bak bintang film atau sinetron sekarang ini, Ida pun menjadi idola. Kepopulerannya ini membuat TVRI yang dahulu cuma satu-satunya televisi di Indonesia, merekrutnya menjadi penyiar di programa 2 TVRI Jakarta dan penyiar TVRI Nasional.
Alhamdulillah. Semua itu  aku syukuri. Niat aku bekerja itu adalah bekarya, bukan karena rutinitas saja, tetapi harus punya prestasi, sehingga perusahaan bisa melihatku sebagai aset.”

Saat di Prambors pada 1984, Ida dibayar Rp 5.000 per jam. Dalam seminggu, ia bersiaran selama 4 sampai 6 jam. Jadi, honornya sebulan sekitar Rp 500 ribuan. Zaman itu, angka itu cukup besar untuk honor seorang penyiar. Menurutnya, setiap tahun honornya terus dinaikkan. Tak heran, dalam 2 tahun siaran, ia bisa membeli Starlet seharga 25 juta perak dan mencicil rumah di Jatibening, Bekasi.

Kata perusahaan, aku termasuk penyiar termahal,” ungkapnya tanpa bermaksud menyombongkan diri. Sebab, faktanya, nama Ida memiliki nilai jual di radio. Rating program radio yang ada namanya, selalu menjulang. Sampai ketika pindah ke Group Delta, ia selalu bersiaran di jam primetime. Maklum, banyak agency yang pasang iklan di program acara dimana penyiarnya Ida Arimurti. “Makanya jangan heran, aku selalu dapat bonus besar,” akunya sambil tertawa lagi.

Kompasianers, bukan dari siaran saja honor yang didapat Ida. Tentu Anda tahu, pekerjaan sampingan jadi penyiar adalah menjadi MC. Tentu Anda tahu, 1 hari dalam setahun ada 365 hari. Namun dalam setahun, ia pernah mendapatkan job MC sebanyak 400 kali. Bayangkan jika siangnya ia  diundang perusahaan A, lalu malamnya diundang perusahaan B. Belum termasuk honor yang didapat dari menjual suaranya dengan menjadi dubber.

Bagi Ida, siaran radio ibarat darah nadi. Saking cintanya, waktu 24 jam tidaklah cukup untuk melakukan untuk radio. Memang, wanita ini begitu total ketika bersiaran. Resep itulah yang membuatnya cukup dikenal sampai saat ini. Totalitas itu pula yang menjadikan karirnya terus melesat, dari penyiar Prambors (1984-1994), Female (1994-2002), dan kemudian pada 2004 dipercaya menjadi Direktur Woman Radio.

Dengan jabatan sebagai Direktur, praktis penghasilannya berlipat-lipat dibanding menjadi penyiar. Namun, posisi tinggi di Female tersebut jelas merupakan konsekuensi logis yang memang sudah seharusnya ia dapatkan, mengingat kerja keras dan komitmennya selama ini di radio. “Alhamdulillah, aku membangun radio ini (Woman Radio-pen) mulai dari nol sampai kemudian cukup dikenal orang.”

Kompasianers, disiplin, tepat waktu, dan bertanggung jawab adalah resep sukses seorang Ida Arimurti agar bisa sukses di dunia radio dan tentu saja di profesi lain. “Dalam dunia radio, sedetik itu berharga. Jadi kalo kita tidak disiplin dan tepat waktu, sulit untuk berhasil,” jelas wanita yang sempat membawakan program TRAX (TVRI) bersama Erwin Parengkuan, dimana saat itu bersaing dengan program musik Rocket(RCTI) yang dibawakan oleh Jeffry Woworuntu dan Gladys Suwandi.

Tambah Ida, jadi penyiar itu tidak boleh setengah-setengah. Maksudnya, jangan sekadar suka siaran, tetapi harus melakukan sesuatu yang berbeda. “Jangan cuma datang, lalu siaran. Namun kita harus tahu detail tentang profesi kita dan belajar mengenai dunia penyiaran, termasuk manajemen. Dengan begitu, wawasan kita luas.”

Resep lain dari seorang penyiar, jelas tahu tentang dunia musik dan punya sense of humor alias selera humor. Mengenai selera humor ini, menurut Ida sangat penting. Sebab, ketika kita menginterview narasumber dan kita tidak punya selera humor, otomatis wawancara tersebut akan kering dan tidak cair. Hal itu jelas akan membosankan pendengar, pun pada diri narasumber itu.

Kerja keras Ida tentu ada konsekuensi lain yang dipertaruhkan, apa lagi kalo bukan masalah berkeluarga. Ia sadar, bahwa ia terlambat menikah. Padahal ia bukan tidak suka menikah tepat waktu atau ia termasuk wanita pilih-pilih pasangan. “Soalnya kalo ada cowok yang dekat sama aku bawanya ngajak kawin terus,” akunya. Salah satu pria yang dekat dengannya dan mengajak kawin adalah seorang pengusaha kaya dan termasuk konglomerat pribumi tersohor di tanah air.

Dulu aku memang lugu, nggak neko-neko gitu. Pacaran baik-baik. Nggak pernah ciuman. Eh, begitu diajakin serius, malah kabur. Aneh nggak sih?
Kompasianers, suara Ida yang lembut dan seksi, membuat pendengar selalu klepek-klepek. Saat di Prambors, ia selalu mendapatkan 3 surat per hari, dan paling banyak 10 surat. Isi surat itu rata-rata selain memuji suaranya, suka gaya siarannya, kelanjutan cerita Catatan Si Boy, Dairy, juga pertanyaan-pertanyaan yang ‘menjurus-jurus’ tentang masalah pribadi. “Ya, kebanyakan surat cinta gitu, deh.

Tak seperti kebanyakan idola pada fans-nya, Ida termasuk orang yang rajin membalas semua surat yang dikirimkan kepadanya. Hebatnya, surat-surat itu ditulis tangannya sendiri, bukan balasan surat yang berasal dari satu surat yang di-foto copy (baca: diperbanyak dengan cara foto copy). Ia pun menyisihkan ektra uang untuk membeli perangko jika ada penggemarnya yang tidak menyertakan perangko balasan.
Soal perangko, no problem. Kan memang aku budgetkan.”

Begitu banyak pendengar yang menjadi penggemar fanatik. Tak cuma konglomerat itu. Ada seorang pengemar yang membuat dirinya ketakutan, dimana ia selalu mengirimkan faks setiap hari. Penggemar fanatik ini mulai tergila-gila dengan Ida saat masih bersiaran di Prambors sampai ketika pindah di Delta FM.
Selain mengirim faks, penggemar fanatik ini sempat mengirimkan diary yang seluruh halamannya sudah ditulis penuh olehnya. Isi dairy itu tentang imajinasinya tentang Ida, mulai saat ia kenalan, pacaran, married, dan punya dua anak. Bahkan, ia berimajinasi pada saat bercinta.

Pernah orang ini ngikutin aku sampai ke mal. Sampai di eskalator, ia berdiri di sampingku sambil memegang tangangku. Ia mengatakan benar-benar jatuh cinta sama aku,” kenangnya saat masih bersiaran di Female, dimana kantornya di Plaza Bintaro, Tanggerang. “Saking panik, aku berusaha untuk menghindar dan lari.”

Ida mengerti, pengemar fanatik seperti itu tidak bisa diperlakukan kasar. Sebab, hal itu justru akan membahayakan dirinya. Makanya, jika terpaksa bertemu, ia harus bersikap bagi. Begitu ada kesempatan, ia coba menghindar. Percaya tak percaya, saking tahu Ida adalah ‘aset’ bagi perusahaan, pimpinan Prambors sempat menggaji seorang satpam untuk selalu mengawal kemana pun Ida pergi.

Kalo nggak salah, nama satpamnya pak Sardi.”
Kompasianers, penggemar fanatik yang sehari-hari bekerja sebagai PNS di Departemen Keuangan ini hampir setiap hari ke markas Prambors. Makanya, setiap kali habis siaran, Ida selalu dikawal pak Sardi keluar lewat jalan belakang. “Wah, kayak main petak umpet gitu, deh.”

Suatu kali, penggemar fanatik ini mengirimkan bunga pada saat Ida ulang tahun.  Jika bunganya cuma setangkai barangkali biasa. Namun yang terjadi, ia mengirimkan bunga segerobak, sebanyak usia Ida pada saat itu. Hebatnya, bunga-bunga itu komplit dikirim dengan menggunakan pot-potnya.

Pernah pula ia kirim bunga ke hotel saat aku jadi MC. Awalnya aku bingung dibilangi resepsionis ada yang kirim bunga. Eh, ternyata pengemar fanatikku itu yang kirim. Aku bingung dari mana dia tahu aku lagi jadi MC di hotel ini. Ternyata aku sempat keceplosan ngomong, nanti malam bakal jadi MC di hotel itu,” jelas wanita yang sempat menjadi tokoh Ina di acara Catatan Si Boy saat di Prambors ini.

Masih banyak kisah penggemar yang mebuat Ida ‘ketakutan’. Pernah ia dimarah-marahi oleh seorang wanita, gara-gara suaminya menyimpan foto Ida di dalam dompet. Wanita itu bertanya tentang hubungan Ida dengan suaminya itu. Tentu Ida cuma senyam-senyum, karena suami si wanita itu adalah penggemar fanatik Ida.

Entah dapat dari majalah mana, fotoku digunting dan dimasukkan dalam dompet. Yang bikin marah si istri, karena fotonya yang ada di dalam dompet itu diperlihatkan,” papar Ida yang juga sempat mendapatkan ‘teror’ melalui telepon ini. “Saat ini, aku dan wanita ini berkawan di FB. Namun, ia masih nggak habis pikir, suaminya masih tergila-gila dengan aku dan selalu membandingkan dia dengan aku.

Kisah tentang penggemar ini, menurut Ida ada yang lebih parah. Ia sempat dikejar-kejar dengan seorang perempuan yang mengaku laki-laki. Suaranya memang mirip laki-laki. Namun begitu ketemu, ternyata perempuan. “Waktu itu setiap aku ingin sesuatu, pengemar yang mengaku cowok ini selalu mengirimkan keinginanku ini ke studio.”

Kompasianers, keseksian suara Ida tidak bisa kita nikmati lagi. Pasalnya, sejak 2010, ia memutuskan untuk break bersiaran. Keputusannya ini setelah ia tidak lagi bersiaran di Delta dan fokus di program Zona Memori yang sempat ditayangkan di Metro TV. Ternyata, sejak 2011 lalu, Zona Memori pun berhenti siarannya.
Sekarang saatnya aku fokus membagi waktu untuk anak,” ujar wanita yang belakangan giat menjadi pengusaha ini. “Tentu ada pekerjaan selain mengurus anak. Namun yang pasti, pekerjaan yang aku lakukan ini tidak menyita waktu terlalu besar, sebagaimana dulu ketika aku di radio.”



Teeuw


Teeuw

Oleh Gunawan Muhamad

Pada umur 26, Andries Teeuw naik kapal pos, mengarungi laut, melintasi Terusan Suez, dan sampai di pelabuhan Sabang. Itu tahun 1947. Perjalanan yang tak menjanjikan ketenteraman.

Hanya dua tahun sebelumnya Indonesia menyatakan diri merdeka. Belanda, yang merasa dibangkang, kemudian mengirim pasukan untuk menaklukkannya kembali. Tapi Teeuw, kelahiran Gorinchem, Holland Selatan, datang sendirian, meskipun dengan dana pemerintah untuk riset di Lombok. Ia baru setahun beroleh gelar doktor dari Universitas Utrecht. Entah bagaimana seorang ilmuwan yang begitu muda melintasi ketegangan hari-hari itu.

Saya hanya pernah membaca, dari Sabang ia menulis sepucuk surat kepada istrinya: ”Seakan-akan saya telah berkenalan dengan dunia ini.”
Ia memang telah kenal bagian dunia ini—secara tak langsung. Ia belajar filologi; disertasinya terjemahan atas puisi Bhomântaka, naskah tua dari Jawa Timur. Bagi Teeuw, tak mudah memahami sepenuhnya teks bahasa Jawa Kuno ini, tapi satu hal yang terpaut pada filologi ada dalam dirinya: filologi, yang menelaah bahasa dalam pautannya dengan sastra dan sejarah, berasal dari bahasa Yunani yang berarti ”cinta kepada sastra dan pengetahuan”.

Tanpa cinta kepada sastra dan pengetahuan, Teeuw tak akan berjalan sejauh itu—melintasi dua satuan geografis, dua kubu ketegangan politik, dua posisi dalam proses pengetahuan: ia dapatkan sumber telaahnya dari Indonesia, ia berikan kemudian hasil telaahnya kepada Indonesia. Ia seorang Belanda; ia pro-Indonesia.

Beberapa tahun setelah Bhomântaka, ia lebih dikenal sebagai penelaah dan kritikus sastra Indonesia modern. Teeuw mula-mula tak merasa nyaman dengan label itu. Saya bertemu dengan dia pertama kali di musim dingin awal 1967. Waktu itu saya tinggal di Bruges, Belgia, dan datang naik kereta api ke Leiden. Ia menjemput saya di stasiun—dengan sikap rendah dan murah hati yang tak terduga dari seorang guru besar kepada seorang mahasiswa asing yang cuma dikenalnya lewat satu-dua sajak. Ia ramah, dengan kehangatan yang pelan datang.

Istrinya, yang kemudian akan disebut ”Ibu Teeuw” dengan akrab oleh semua kenalannya dari Indonesia, menyajikan teh panas dan biskuit.
”Saya sebenarnya bukan kritikus,” ia mengatakan, di ruang tamu rumahnya yang bersahaja dan penuh buku. ”Yang saya lakukan hanya mengisi kekosongan.”
Waktu itu tampaknya demikian. Ketika Teeuw mengajar di Universitas Indonesia di akhir 1940-an dan awal 1950-an, terbit bukunya, Voltooid Voorspel. Buku ini kemudian diindonesiakan jadi Pokok dan Tokoh (judul yang kemudian di-”pinjam” Tempo) pada 1952 dan 1955. Isinya lebih berupa pengantar tentang para sastrawan Indonesia modern dan karya-karyanya. Pendekatannya tak bisa dikatakan baru. Dalam kritik sastra waktu itu, ”pokok” dianggap terkait erat dengan ”tokoh”, satu hal yang digugat dalam teori sastra kemudian. Tapi tujuan Teeuw memang hanya jadi pemandu bagi mereka yang ingin mulai belajar. Dan sebab itu pula—di samping ia tahu menempatkan diri sebagai ”orang luar”—­Teeuw, seperti kata penyair dan kritikus Sapardi Djoko Damono, cenderung ”berhati-hati”.

Bagaimanapun terbatasnya, Pokok dan Tokoh besar sekali pengaruhnya bagi sastrawan Indonesia di tahun 1950-an. Waktu itu seseorang seakan-akan baru ”dibaptis” setelah dibahas Teeuw. Dalam hal ini ia sejajar dengan H.B. Jassin, yang menerbitkan tiga jilid kumpulan Kritik & Esei. Tapi Teeuw punya kelebihan. Ia pakar filologi yang kenal sastra klasik Melayu dan Jawa dengan mendalam. Dengan demikian ia melihat dengan tepat bahwa betapapun ”baru”-nya ungkapan Chairil Anwar dan para penyair sebelum dan sesudahnya, bahasa Indonesia tak lahir dari ruang linguistik yang hampa.

Itu sebabnya Teeuw dapat melihat apa yang istimewa pada puisi Amir Hamzah. Sementara Jassin menunjuk rapatnya penyair Buah Rindu dengan tradisi Melayu, Teeuw justru melihat ada dalam karya Amir sesuatu yang mempesona: sebuah energi baru. Puisinya mengatasi keterbatasan prosodi syair lama. Dalam bahasa Melayu, tak ada rima yang bertekanan seperti dalam bahasa Jermanik. Syair Melayu juga tak amat beragam bunyi vokalnya (hanya a, e, i, o, u, ê), sementara rima yang terbentuk dari itu, dalam gabungan dengan konsonan, tak seluas bahasa Jerman, Inggris, apalagi Rusia. Menghadapi keterbatasan itu, menurut ­Teeuw, Amir Hamzah menciptakan puisi yang mengejutkan dan kaya karena bunyi asonansi, aliterasi, dan rima yang mendadak di tengah-tengah.

Ketajaman (dan juga kepekaan) menangkap gerak bahasa yang seperti itulah yang sampai sekarang belum dilanjutkan, apalagi ditandingi, oleh telaah sastra di perguruan tinggi Indonesia. Dari apa yang saya contohkan tampak pula bahwa telaah Teeuw, yang kemudian makin lama makin dipermatang oleh teori-teori sastra mutakhir (Barth, Culler, Derrida), tetap menggali sumbernya bukan dari sastra Eropa, melainkan sastra Nusantara. Dengan lancar, dalam satu risalah, ia akan mengambil contoh dari sajak Jawa Kuno Hariwangsa dan puisi Sutardji Calzoum Bachri.

 Dalam menelaah Hikayat Hang Tuah, Teeuw membedakan diri dari penelaah lain karena ia tak memakai ukuran kesejarahan ”Barat”: ia melihat kisah itu sebagaimana orang Melayu memandang Hang Tuah sejak dulu: sebagai karya sastra yang asyik dinikmati.
Itu sebabnya sastra penting, meski sering disepelekan dalam zaman yang menyisihkan keasyikan. Manusia, Teeuw mengingatkan kita, juga homo fabulans: makhluk yang bercerita, yang bersastra—dengan bahasa dan imajinasi yang ganjil, tak pasti, tak mandek, tapi dengan demikian selalu baru dan hidup kembali berkali-kali.
Juga ketika sang kritikus pergi, 18 Mei 2012.

~Majalah Tempo, Edisi Senin, 28 Mei 2012~

TENTANG DAHLAN ISKAN dari beberap artikel terpilih kompasiana.com

TENTANG DAHLAN ISKAN

Setelah sekian lama menjabat sebagai Menteri BUMN, dan masa RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) BUMN lewat, terlihat bahwa Board of Directors (BoD) atau para direksi BUMN yang terpilih ternyata tidak ada yang berkualifikasi dream team seperti yang pernah disuarakan oleh Dahlan Iskan. Para direksi BUMN sekarang ini biasa-biasa saja, kecuali direksi-direksi top pilihan beberapa Menteri BUMN terdahulu yang berhasil melakukan turnaround BUMN merugi. BoD temuan atau pilihan Dahlan Iskan yang kategori dream team tidak ada.

Bahkan untuk Dewan Komisaris, malah banyak yang masih merangkap jabatan sebagai PNS eselon satu dan yang lainnya. Tidak ada assessment kredibel untuk menilai apakah ybs akan memberikan kontribusi signifikan untuk pengembangan perusahaan, adanya konflik kepentingan, atau waktu yang tidak memadai untuk BUMN itu. Keputusan hanya dilakukan dengan gut feeling, intuisi, tidak ada evaluasi terstruktur. Bukti nyatanya, Deni Indrayana menolak pada saat dia ditunjuk menjadi komisaris sebuah BUMN beberapa bulan yang lalu. Jelas kalau waktu tidak memadai, hasilnya hanya pasang nama dan menerima gaji. Buktinya lagi, tidak ada KPI yang jelas yang dipublikasikan terhadap kriteria keberhasilan para komisaris itu. Dalam perusahaan dengan manajemen modern dan perusahaan publik, ketiadaan KPI yang jelas bukan bukti sebuah good corporate governance.

Bahkan beberapa veteran bisnis yang sudah “kehabisan energi” malah dipasang sebagai komisaris. Apa tidak ada orang lain yang lebih muda dan energik yang bisa ditugaskan? Kalau yang dipakai hanya nostalgia pebisnis itu di masa lalu, apa akan efektif? Tantangan dunia usaha dan ekonomi sudah berbeda. Jaman sudah berganti. Lagipula, mendingan menugaskan orang yang masih energik. Sayang sekali …..

Terlihat bahwa Dahlan Iskan hanya ke sana kemari, tidak ada sistem. Blackberry diandalkan sebagai media komunikasi utama untuk berkoordinasi dengan jajarannya. Saya tidak ingin menyebutnya konyol, tapi terlalu menyederhanakan persoalan kalau BBM dipakai sebagai backbone (tulang punggung) bisnis yang nilainya ribuan trilyun.

Secara sistematika dan strategi, Dahlan Iskan kalah jauh dari Sofyan Djalil, Menteri BUMN terdahulu. Sofyan Djalil adalah peletak sistem di Kementerian BUMN. Dia membuat sistem menjadi rapi. Sofyan Djalil juga lah yang menemukan para Presdir top di BUMN dan membuat banyak BUMN menjadi perusahaan unggulan. Ini kelemahan SBY juga yang tidak bisa memilih putera-puteri bangsa terbaik. Yang unggulan malah tidak dipilih/diteruskan, yang tidak unggulan malah dipilih.

Pendekatan Dahlan Iskan untuk akusisi BUMN merugi oleh BUMN lain yang sudah untung juga bisa dilakukan semua orang. Bukan orang top pun bisa kalau hanya meleburkan BUMN rugi ke BUMN lain yang untung karena aksi korporasi seperti ini tidak membuat BUMN yang tadinya rugi menjadi untung. Hanya membuat kerugiannya menjadi tidak kelihatan karena sudah menjadi satu dengan BUMN lainnya.

Hasil Dahlan Iskan di PLN juga tidak nyata. Lagi-lagi lihatlah proyek pembangkit listrik 10.000 MW tahap pertama yang diawali oleh Jusuf Kalla. Mulai dari Dahlan Iskan menjabat Dirut PLN sampai lengser, bahkan sampai sekarang, proyek itu belum tuntas. Apakah PLN menjadi lebih baik? Perhatikan deh pertandingan Persebaya lawan QPR beberapa hari yang lalu ……. lampu stadion mati !

Jangan-jangan ada ambisi ybs untuk menjadi presiden di 2014? Tidak pas deh kalau gaya seperti ini menjadi presiden. Kalau menjadi bahan berita harian mungkin bagus karena ide-idenya lain dari pejabat lain. Tapi “asal lain” bukan bukti sebuah keberhasilan.

Ide mobil listrik juga hanya menyalin ide Jokowi dengan mobil SMK-nya. Mobil SMK yang menjadi fenomena kemudian dicontoh menjadi mobil listrik. Saya tahu ini hanya kejadian sesaat, yang sebentar lagi ybs juga bosan dan ditinggalkan! Meskipun dikatakan bahwa mobil listrik akan diproduksi masal, tapi tanpa ada sistem yang baik, mana mungkin? Meskipun dikatakan bahwa mobil listrik akan diproduksi masal, kalimat ini hanya untuk kosumsi berita sesaat saja untuk memanaskan popularitas.

Sebaiknya Dahlan Iskan fokus saja membuat sistem yang baik di Kementerian BUMN. Dia akan meninggalkan legacy yang lebih bermanfaat buat bangsa daripada seperti sekarang yang kesana kemari, kesannya mencari diri menjadi subyek berita setiap hari. Jangan seperti sekarang yang hanya mengandalakan individu dia dengan backboneBBM. Ini jelas bukan sistem yang tertata. High profile itu tidak selalu perlu, yang lebih penting adalah hasil pekerjaan utama.

Tulisan ini tidak untuk mendiskreditkan Dahlan Iskan. Tapi penulis merasa sayang dan merasa perlu mengingatkan bahwa ada pekerjaan utama yang sangat penting yang harus dilakukan. Dan ada sistem yang perlu ditata dan dibangun di Kementerian BUMN. Kita tidak bisa mengasumsikan bahwa Kementerian BUMN sudah bagus saat ini, karena masih banyak juga perusahaan yang merugi, dan pelayanan publik di BUMn juga masih sangat kurang.


LELAKI PENUH INSPIRASI

Lelaki Inspiratif, Dahlan Iskan

Membaca tulisan Bapak Dahlan Iskan di blognya Catatan Dahlan Iskan , saya merasakan ada aura perubahan yang luar biasa,  aura untuk perubahan yang dia lakukan untuk bangsa ini. Banyak hal-hal “feodal”  yang dia lewati untuk melakukan perubahan, seperti Sidak, Kegiatan Seremonial,  dll. Untuk sidak, dia tak melakukan pemberitahuan sebelumnya. Sehingga begitu dia datang, yang ada adalah kegiatan sehari-hari yang berlangsung tanpa ada rekayasa dari pihak yang didatangi.

Banyak cerita yang sebetulnya sederhana untuk ditangani, seperti masalah garam. Mengapa sampai garam saja bangsa ini masih import. Padahal di Maduran dan NTT potensinya luar biasa. Dengan Tataran Actionlah, masalah garam dalam hitungan 1-2 tahun selesai.

Saya sempat beberapa puluh kali melihat kegiatan yang diadakan oleh instansi tertentu yang akan didatangi oleh pihak kabupaten, provinsi bahkan sekelas menteri. Sebelum kedatangan mereka, pihak panitia merekayasa kegiatan, entah jalan atau daerah sekitar yang dipermak mendekati hari H. Tetapi begitu selesai, tempat seperti itu sudah balik ke habibatnya semula. Bila budaya seperti ini dapat dilewati akan banyak dana yang bisa dihemat.

Negara kita bisa bangkit dari keterpurukan dalam waktu cepat, bila lahir puluhan “Dahlan Iskan” yang baru dalam Tataran Action, bukan lagi sekedar ide. Kalau “Tataran Ide” sudah banyak di negeri ini,  bahkan sudah di atas angka ribuan ide. Yang kita butuhkan bukan lagi ide, tapi action untuk negera “Sehebat Indonesia”.
Sekali lagi, membaca tulisan-tulisan dan tataran actionnya membuka harapan baru dan semangat baru buat negeri yang bernama Indonesia. Negeri tanah airku dan tentunya negeri kita semua,,,


Dahlan Iskan (KOMPAS)

Bila perang kerap melahirkan pahlawan, maka musibah juga bisa memunculkan wartawan jempolan .
Entah apa yang mengendap di benak Menteri BUMN Dahlan Iskan ketika menyimak berita jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 belum lama ini yang mengakibatkan puluhan orang jadi korban. Mungkin ia tak habis pikir: Mengapa pesawat yang konon sudah dibikin sedemikian canggih tidak bisa menaklukkan dirgantara Indonesia?

Tapi mungkin juga Dahlan Iskan menerawang jauh. Bisa jadi ia teringat suatu masa ketika Tampomas tenggelam dan mengakibatkan ratusan nyawa melawang.

Hemmm…. Pernah dengar Tampomas? Kalau Anda penyuka lagu-lagunya Iwan Fals, Anda nggak bakal asing dengan nama itu. Ya, Tampomas, atau lebih tepatnya Tampomas II, adalah nama kapal bekas yang tenggelam pada 25 Januari 1981 di sekitar Kepulauan Masalembo, Jawa Timur. Kapal itu berlayar dari Jakarta menuju Ujungpandang.

Dua hari terbakar di tengah laut, kapal made in Japan itu akhirnya karam. Lebih dari 400 nyawa melayang. Bahkan ada yang menyebut jumlah korban tewas mencapai 666 orang, termasuk nahkoda Abdul Rivai.
Saat kecelakaan maut itu terjadi, Dahlan Iskan berada di Surabaya. Kala itu ia mengepalai Biro Tempo Jawa Timur. Kemudian datanglah penugasan dari Jakarta untuk meliput peristiwa itu secara langsung.

Menumpang kapal motor Sangihe—kapal yang pertama dipakai untuk mengevakuasi penumpang Tampomas—Dahlan menjadi satu-satunya wartawan yang meliput langsung musibah itu karena akses ke lokasi kejadian memang cukup sulit. Tiga hari tiga malam, ia mengumpulkan cerita terperinci untuk merekonstruksi tenggelamnya Tampomas.

Di atas Sangihe, dengan bau mayat yang menyengat, Dahlan Iskan mewawancarai hampir seluruh awak kapal. Ia juga berhasil mendapatkan foto-foto kebakaran di Tampomas. Foto-foto itu adalah hasil jepretan awak Sanghie. Tidak hanya itu, Dahlan Iskan pun mewawancarai para korban selamat yang dirawat di rumah sakit setempat.

“Rajutan ceritanya yang dimuat di edisi 7 Februari 1981 begitu hidup. Membaca tulisan Dahlan laksana berada di lokasi kejadian. Suasana tegang dan cemas begitu terasa,” demikian pujian atas karya jurnalistik Dahlan Iskan, sebagaimana tertulis di buku “Cerita di Balik Dapur Tempo: 40 Tahun (1971-2011)”.

Pemimpin Redaksi Tempo kala itu, Goenawan Mohamad, mengakui dahsyatnya reportase Dahlan. “Dahlan wartawan hebat,” kata empunya Catatan Pinggir yang terkenal lebih sering mengritik ketimbang memuji itu.
Hasil kerja Dahlan Iskan terus dikenang hingga kini. Laporan tenggelamnya Tampomas II bahkan disebut-sebut sebagai akar investigasi ala majalah Tempo.

Jadi, begitulah, nama Dahlan Iskan kian berkibar gara-gara musibah tenggelamnya Tampomas yang membuat ratusan orang tewas. Setelah itu ia makin dikenal sebagai wartawan andal sekaligus pebisnis ulung. Berkat kepiwaiannya, ia dipercaya untuk memimpin Jawa Pos. Koran kecil di Surabaya pada era 1980-an itu kini menjelma menjadi salah satu grup media terbesar di Indonesia. Bukan hanya berbentuk koran, produk grup Jawa Pos meliputi juga majalah, tabloid, situs internet, stasiun televisi, bahkan event organizer.

Hingga kini nasib pilot dan penumpang Sukhoi Superjet 100 masih simpang siur. Banyak wartawan yang meliput. Apakah peristiwa besar itu bakal melahirkan wartawan besar seperti Dahlan Iskan?

Rawamangun, 11 Mei 2012


Cerita Dahlan Iskan Pakai Sepatu Sopirnya

Saat Anda membaca cerita ini tentang Dahlan Iskan, Menteri Negara BUMN rela dan ikhlas memakai sepatu dari sopirnya yang bernama Handoko. Dari sepatu kets ke sepatu fantovel, “Saya memang suka pakai sepatu kets dari sejak jadi demosntran dulu saat mahasiswa, jurnalis atau di lingkungan media. Sepatu saya ini adalah DI-Demi Indonesia 19. Itu artinya Bismillahirrahmanirrahim yang berjumlah 19 huruf,” celetuk Dahlan yang tertawa renyah saat ditanya oleh Tina Talisa saat acara Teras Tina Talisa di stasiun TV Swasta Indosiar.

Sesaat sebelumnya Tina pun agak nyeleneh dan menantang Dahlan Iskan dengan untuk mempertontonkan cara dia marah dengan melempar kursi saat ngamuk saat pintu tol masih tertutup jam 06 lewat. Ia akui menyayangkan dan menyesal dan ia ambil lagi kursi itu karena saat pintu tol ia buka pasti menghalangi laju mobil yang akan melintas. “Terus terang saya ambil lagi kursi itu dan saya kembalikan ke posisinya dan langsung menelpon Dirut Jasa Marga untuk tidak memarahi apalagi memecat petugas tol yang sedang bertugas saat itu,” jelasnya sambil mempraktekkan cara ia marah dan melempar kursi lalu mengambilnya lagi.

Ada yang menarik saat Tina menghadirkan Handoko, sopir pribadi Dahlan sejak tahun 2002. Dari paparan lugas dan jujur dari sopirnya itu ia akui sudah seminggu ini tepatnya kata Dahlan sudah 8 hari, majikannya itu lebih suka naik mobil listrik berwarna hijau daripada ikut dirinya di mobil mercy. “Saya sering berada disampingnya dan beliau yang menyetir sendiri, walau begitu gaji saya tidak pernah dikurangi,” celetuknya sambil tertawa renyah.

Lalu Tina pun bertanya dengan para mahasiswa yang menyaksikan langsung di studio, memang Handoko lebih tampan dengan memakai semi safari dengan warna yang sama kemeja dan celana dengan sepatu fantovel. Sementara Dahlan hanya berkemeja putih lengan panjang yang ia gulung selengan dan bercelana kain hitam dan bersepatu kets.

 Jujur, seluruh hadirin di studio termasuk Tina melihat Handoko, sang sopir lebih ganteng dari majikan. “Jangan-jangan orang yang melihatnya bisa tertukar mana yang boss dan mana yang sopir yah pak ?” seloroh Tina sambil mengerling ke Dahlan yang terkekeh- kekeh.

Saat Tina meminta agar sepatu kets Dahlan dicopot dan memakai sepatu fantovel dari sang sopir, ia pun tak tanggung-tanggung dan berfikir dua kali lalu membuka sepatunya dan bertukar memakai fantovel sangh sopir. Penulis pun tertegun dan bangga bercampur haru dengan keikhlasan dan kepolosan seorang Dahlan Iskan yang justeru lebih suka menjadi pengusaha daripada menteri dan menjawab Yes dan No apabila ada permintaan dirinya menjadi PRESIDEN Indonesia periode mendatang.

Ia tampil lugas di acara baru dan memang punya format unik. Dahlan Iskan dengan semangat menceritakan pengalamannya memakai mobil listrik dan bangga dengan kehadiran mobil itu. “Beberapa hari yang lalu memang saya sudah mencobanya untuk ke Bogor dan sempat mengisi baterai alias men-charge di daerah sentul setelah itu bolak balik sampai ke rumah tidak ada masalah. 

Ini sudah hari yang ke-8 dan memang saya harus mencobanya apakah itu dengan rute yang panjang, saat macet, saat low batt jadi tidak ada istilah mogok karena tidak ada mesinnya atau jalan yang menungkik,” jelasnya

Lanjut ia jelaskan bahwa ada pendapat bahwa penggunaan listrik dengan hadirnya mobil listrik dianggap justeru pemborosan tapi menurut penjelasan pria humble yang ia akui dirinya tidak pintar karena pernah tinggal kelas. Pria yang apa adanya ini sudah berumur 61 tahun ini memang sudah tiba pukul 04.30 dan jam 05.00 sudah lari-lari pagi di kawasan monas dan itu memang dibuktikan oleh redaksi dan diakui oleh Tina Talisa yang memang hadir pada jam tersebut.

Penulis saat memang ingin meminta sumbangan untuk cetak buku Saya Bangga Jadi TKW-Catatan Inspiratif BMI Hong Kong dan bertandang ke kantornya sudah menunggu Dubes salah satu negara dan dari informasi dari satpam bahwa Dahlan memang sudah berada di kantor Shubuh dan setelah berolahraga dan mandi serta bersiap-siap menerima tamu.

Alhamdulillah saat menanti Dahlan Iskan setelah mengantar tamunya di bawah dan bergegas penulis menemuinya, senyum dan rangkulan langsung penulis rasakan dan bertanya ada apa saat tahu maksud dan tujuan ia pun setelah sampai di ruangan kerjanya menemui asisten pribadinya, Aziz untuk langsung membantu dan merealisasikan sumbangan yang diminta oleh penulis dan langsung terealisasi satu jam kemudian, amazing……!

Penulis pun dengan kesahajaannya tetap menganggap pantas dan realistis Dahlan Iskan menjadi kandidat Presiden RI mendatang dan wakilnya adalah JokoWi yang bersiap-siap mengikuti putaran kedua setelah putaran pertama berhasil menyingkirkan Foke rivalnya dengan angka cukup telak.

Acara masih berlangsung dan Dahlan terus bertutur tentang belum saatnya ia membaca buku Novel berjudul Sepatu Dahlan dan mungkin untuk beberapa Minggu ke depan baru ia baca.

Dahlan Iskan, menurut Anda………………?

LINK YANG INI SILAHKAN KUNJUNGI:
http://www.kompasiana.com/posts/tags/dahlan-iskan/

Rabu, 11 Juli 2012

Titip Pak Jokowi di DKI

Bagian 2: Titip Pak Jokowi di DKI (2)
Oleh Blontank Poer




Muji, apa perasaanmu juga seperti yang aku rasakan sekarang, senang-senang sedih? Senang Pak Jokowi mendapat kepercayaan tertinggi dari masyarakat DKI, tapi sedih karena aku, tetangga kanan-kiriku di Jajar dan kebanyakan Wong Sala bakal ditinggalnya.

Memang, untuk bisa duduk di kursi Gubernur DKI masih perlu dibuktikan di pemilihan umum putaran kedua, tak lama lagi. Pak Fauzi Bowo pasti tak akan tinggal diam, mengevaluasi kegagalan. Kelak, pertarungan head to head akan lebih seru. Bisa saja hasil statistik berbalik, ia memenangi pertarungan.
Namanya politik, bisa saja ada pihak yang kalah menukarkan suara dukungan dengan rupiah. Walau tak mudah membuktikan, tapi banyak orang seperti sudah aklamasi menyatakan Pak Fauzi Bowo punya duit melimpah.

Tapi bagiku, bukan kursi Gubernur DKI itu yang menjadi tolok ukur sebuah kemenangan. Seorang Jokowi yang kukenal bukanlah tipe orang yang memuja jabatan, seperti dituduhkan sebagian orang. Pak Jokowi, bagi saya adalah sosok manusia Jawa yang sesungguhnya. Ia merupakan tipe orang yang sanggup njaga praja, menjaga kehormatan. Ibarat sejatinya perut lapar ketika bertamu, diajak makan tuan rumah pun masih sanggup menampik dengan halus, hingga ketika dipaksa sekalipun, hanya akan mengambil sedikit nasi.

Sifat semacam ini, bisa disalahpahami sebagai sikap munafik, tak mau terus terang menyatakan apa adanya. Tapi, ya begitulah orang Jawa. Seperti kamu, sebagai orang Batu, Wonogiri, pun masih bersikap begitu kita dulu kuajak jajan di Pejompongan. Kita, dan kebanyakan orang Sala dan sekitarnya, nyatanya masih bersikap begitu.

Tapi, apakah dengan bersikap semacam itu lantas orang lain bisa meremehkan kita: menebak isi hati, nalar dan rasa kita, termasuk Pak Jokowi?

Jujur, aku masih mengurut dada ketika mendengar ucapan orang-orang yang tak bisa menerima kekalahan semu di Pilkada DKI, 11 Juli kemarin. Mereka masih saja membawa-bawa kebenciannya kepada Pak Prabowo, dan menimpakan dosa yang dituduhkan dan mereka yakini, untuk Pak Jokowi. Mereka merasa berhak dan mampu menakar isi hati seorang Jokowi.

Sejujurnya, saya paham perasaan mereka sehingga merasa perlu ‘menghabisi’ Pak Jokowi. Memang, sumber ketakutan mereka terletak pada sosok Jokowi. Mereka memang bisa membuat prediksi dari reputasi yang dimiliki Pak Jokowi. Kampanye model blusukan, tatap muka dengan warga saat pencalonan periode keduanya, terbukti murah dan efektif. Sedikitnya 90 persen dukungan warga Surakarta diperolehnya. Padahal, ia hanya diusung PDI Perjuangan. Rivalnya, dari Partai Demokrat, nyaris tak kebagian suara.

Padahal, Demokrat dan Partai Keadilan Sejahtera memiliki kursi legislatif nyaris seimbang dengan PDI Perjuangan pada pemilu lalu. Artinya, suara massa mengalir kepada dirinya. Malah, ada yang unik ketika itu, banyak warga menerima sembako atau uang pemberian pesaing Pak Jokowi, lantas berbondong-bondong menyerahkannya ke Panitia Pengawas Pemilu.

Mungkin, sikap warga Solo yang tak mempan disuap sembako dan uang itulah yang kini ditiru warga Jakarta. Mobilisasi pengurus RT/RW yang konon dilakukan oleh incumbent, demi mobilisasi dukungan, terbukti sia-sia belaka.

Muji, aku merinding kalau membaca hasil perhitungan suara sementara. Semua lembaga survei seperti mempertontnkan kecerobohannya secara terang-terangan. Baru beberapa pekan kompak mengunggulkan Fauzi Bowo, tapi pada Rabu sore kemarin, semua terbalik sedemikian rupa. Pak Jokowi justru memperoleh suara dukungan tertinggi.

Bahkan, tim pemenangan dari PDI Perjuangan pun terkaget-kaget melihat angka dukungan. Jika sepekan silam Pak Jokowi/Basuki diyakini masih selisih delapan persen (lantas H-1 menadi 5%) di bawah Fauzi Bowo/Nachrowi Ramli, ternyata mengungguli lebih dari sepuluh persen!
Dari manakah suara itu berasal?

Saya menduga, suara itu berasal dari nurani-nurani warga Jakarta yang memang sudah sesak dan ingin ada perubahan mendasar. Memang berat bagi Jokowi di DKI, tapi warga di sana, saya kira masih meyakini, setidaknya Pak Jokowi akan bisa menata lebih baik. Pokok soalnya, Pak Jokowi dinilai masih bisa bekerja dengan hati nurani, dengan sikap keberpihakan yang tegas, kepada masyarakat bawah, tanpa mengabaikan mereka yang berada di barisan  kelas menengah.

Suatu ketika, Pak Jokowi pernah rasan-rasan. Dari sisi transportasi saja, jika ditata dengan benar, maka akan ada dampak besar pada kurun waktu tertentu. Jika transportasi massal tersedia, maka warga Jakarta dan sekitarnya, akan bisa menghemat 2-3 jam setiap harinya. Berangkat kerja bisa dilakukan setelah mengantar anaknya pergi ke sekolah, dan pulang lebih awal sehingga bisa memandikan anak-anak, menyuapi, atau bercengkerama dengan keluarga.

Andai itu terjadi, maka ikatan sosial, sejak dalam rumah tangga hingga kehidupan bertetangga, akan tercipta sedemikian rupa akrabnya. Harmoni terjadi, tingkat stres berkurang, sehingga setiap orang bisa lebih produktif. Tak hanya transportasi massal, pedagang kakilima yang masih merenggut badan jalan, bisa dikurangi sehingga kian berkuranglah penyebab kemacetan. Nyaman di jalan, enteng di kepala, tentram di hati. Minim emosi.
***
Kalaupun hingga kini masih ada orang-orang yang jumawa dan merasa berkuasa menakar isi kepala dan nurani Jokowi, rasanya itu hanya mengada-ada. Yang mereka benci hanya Prabowo, namun semua ditimpakan kepada orang lain, yang tak lain dan tak bukan, Pak Jokowi. Padahal, sidang dewan kehormatan sudah memutuskan, sehingga status hukum Prabowo sudah sangat benderang. Soal puas/tidak puas, terserah saja. Jangan itu ditimpakan kepada Pak Jokowi. Itu bukan urusan dan tanggung jawab beliau.

Kalaupun mereka itu mau saya ajak berandai-andai, sebenarnya sederhana saja.
Intinya, mereka kuatir jika kelak Pak Jokowi jadi juru kampanye Prabowo dalam pemilihan presiden 2014. (Saya tahu, mereka tak rela lantaran kelewat cinta pada Pak Jokowi). Mereka yakin, Pak Jokowi memiliki magnet kuat menarik dukungan, bagi siapa saja, terkait track record-nya. Mereka terasa menghakimi, seolah-olah Pak Jokowi akan membela mati-matian Prabowo, lantaran Partai Gerindra menyokong pencalonannya di DKI.

Karena Gerindra berkoalisi dengan PDIP, maka Jokowi dan Basuki harus membayar hutang budi, jika kelak menang di Pemilukada DKI. Sebab Partai Gerindra dianggap ‘milik’ Prabowo, yang kebetulan pula disebut kaya raya, maka ia diasumsikan bisa membeli seorang Jokowi (dan Basuki). Sebuah simplifikasi, yang anehnya, dilakukan oleh orang-orang yang mengaku (dan nyatanya dianggap) berpendidikan tinggi dan berbudaya! Menyedihkan betul cara berpikir mereka.

Mungkinkah seorang Jokowi menganggap Gerindra (dan Prabowo) memang seharusnya mengupayakan kemenangan dirinya dan Basuki Tjahaja Purnama yang merupakan representasi Gerindra/Prabowo? Mungkinkah Pak Jokowi tidak mau mengelola dana kampanye (jika ada) dari Prabowo, dengan cara memintanya dialokasikan dan dikelola sendiri untuk biaya kampanye dan proses pemenangan?
Lantas jika kelak Pak Jokowi/Basuki benar-benar memimpin DKI, semudah itukah keduanya dijadikan juru kampanye bagi pencalonan presiden Prabowo pada 2014?

Jawabannya sederhana: jika PDI Perjuangan berkoalisi (lagi) dengan Gerindra, sah-sah saja jika Pak Jokowi dan Pak Basuki ikut terjun jadi jurkam. Tapi jika PDI Perjuangan tak berkoalisi dengan Geirndra (Prabowo), maka gugur sudah ‘kewajiban’ (moral) Pak Jokowi jadi juru kampanye, sebab ia representasi partai pimpinan Megawati. Dan, koalisi di DKI belum tentu abadi untuk level pemilu presiden.
Justru, Pak Jokowi kini merasa perlu menambatkan dirinya kepada rakyat, publik Jakarta. Semakin kuat ikatan, maka ia akan merasa aman, sebab jika ada kekuatan yang hendak menarik dirinya, maka rakyat akan serta merta mempertahankan. Dan itu, jauh lebih dari cukup.

Pemilu minim biaya (namun perlu tenaga ekstra keluar-masuk perkampungan untuk) kampanye yang dilakukan Pak Jokowi pada pencalonan walikota periode kedua dan pemilukada DKI Jakarta, terbukti manjur. Ini bisa dibaca sebagai pertanda, rakyat mulai menginginkan perubahan, bukan dengan slogan, janji dan gelontoran amunisi materi.

Kemenangan Pak Jokowi di putaran pertama Pemilukada DKI sudah cukup dijadikan pertanda munculnya harapan perubahan. Dari Jakarta, virus demikian mudah menjalar, merajalela hingga ke pelosok Nusantara. Saya yakin, peta politik nasional pun akan berubah karenanya. Ini, bukan lantaran Jokowi seorang, tapi lantaran rakyat sudah punya bekal berupa keinginan kuat untuk adanya perubahan.
Pak Jokowi, ibaratnya hanya kendaraan bagi hasrat perubahan itu. Ia hanya medium, bukan sebagai faktor tunggal.

Jika kemarin kabarnya ada 30 persen kelas menengah yang masih memilih memanfaatkan libur pemilukada untuk pelesiran, saya yakin, separuh dari mereka sudah menyesali sikapnya. Mereka yang abai, akan kembali menyadari perlunya mendatangi bilik pemilihan, pada pemilukada putaran kedua mendatang. Jika itu terjadi, dan mereka juga bergabung di barisan properubahan, bukan mustahil Pak Jokowi/Basuki akan memperoleh kemenangan telak atas Fauzi Bowo.

Sekali lagi, Pak Jokowi dan Pak Basuki hanya akan jadi kendaraan atas keinginan perubahan yang massif. Penentunya adalah penduduk Jakarta. Kebetulan, sebagai ‘kendaraan’, baik Pak Jokowi dan Pak Basuki sama-sama teruji, minim cacat selama menjabat jadi Walikota Surakarta dan Bupati Belitong Timur.

Muji, mungkin saja karirmu masih sama dengan yang kemarin. Tapi aku yakin, hidupmu akan lebih nyaman dan bermakna. Kamu akan mudah dan lancar ke mana saja, termasuk pulang ke Pemalang, melepas kangen dengan anak-istrimu. Atau, kamu malam bisa memboyongnya ke Jakarta tanpa ragu.
Satu hal yang tak diketahui banyak orang, terutama kaum sosialiskota, yang biasa membicarakan kemiskinan sembari menenggak bir atau wine di pojok-pojok kafe atau lobi hotel berbintang itu, adalah cara Pak Jokowi melawan arogansi dengan cara yang sangat nJawani. Ketika dikatai bodoh oleh Gubernur Bibit Waluyo, misalnya, Pak Jokowi hanya menanggainya dengan senyum, dan mengakui ‘kebodohannya’.

Begitu pula ketika PLN Surakarta mematikan lampu penerangan Jalan Slamet Riyadi, lantaran menunggak tagihan milyaran rupiah, Pak Jokowi meresponnya dengan cara membayar lunas, yang ia serahkan bersama Wakil Walikota secara tunai. Uang berkardus-kardus ia serahkan, dan meminta petugas PLN menghitungnya sendiri.

Banyak orang tak paham, banyak Pemerintah Daerah menunggak tagihan listrik ke PLN, dan tak diperlakukan demikian. Meski lazim pemerintah daerah menunggak, Pak Jokowi tak hendak meminta permakluman. Selain anggaran belum turun, ada beberapa penyebab hingga insiden mematikan lampu penerangan jalan itu terjadi.

Kabarnya, Pak Jokowi kerap protes ke PLN karena akurasi meteran kurang memuaskan sehingga membebani anggaran. Sebelumnya, Pak Jokowi juga pernah mengancam menggugat PLN lantaran menebang sejumlah pohon di pinggir jalan tanpa koordinasi dengan Pemerintah Kota Surakarta lantaran dianggap berpotensi mengganggu kabel listrik.

Memang, tak mudah bagi orang luar menilai secara obyektif dan komprehensif mengenai sepak terjang Pak Jokowi. Dan itu wajar saja.  Tak soal bagi Pak Jokowi.
Muji, kutitipkan lagi Pak Jokowi dalam pemilukada putaran kedua nanti. Terima kasih, kamu pasti sudah melakukan sesuatu dengan caramu, semampumu, sehingga Pak Jokowi mengungguli Pak Fauzi Bowo.
Matur nuwun….
-kancamu-
Tulisan terkait: Titip Pak Jokowi di DKI
TITIP PAK JOKOWI DI DKI 1





Surat untuk Muji
Muji, piyé kabarmu? Semoga kamu sekeluarga selalu sehat, tanpa kurang suatu apa. Soal kesehatan, aku yakin kamu pasti sehat. Masih sering badminton dengan Paklik dan tetangga-tetangganya di Ciputat, kan?
Ji… Katanya kamu pindah kerjaan di Tebet, ya? Gimana suasana di sana? Lebih enak dibanding Pejompongan atau sebaliknya? Piyé suasana kampanye di Jakarta? Kira-kira, Pak Jokowi menang nggak, ya? Mbok tulung, teman, tetangga dan kenalanmu dikasih tahu, supaya ikut menyumbangkan suaranya untuk Pak Jokowi.

Kalau tetangga, teman, kenalan atau ada orang yang bertanya tentang Pak Jokowi, ceritakan saja apa adanya. Jangan mengurangi, jangan pula menambahi. Bahwa dulu Pak Jokowi sukses menata kota, karena dia mau mengajak para pedagang kakilima bareng-bareng memikirkan nasib diri dan keluarganya. Pak Jokowi hanya menjadi lantaran semata, hanya alat Tuhan untuk sebuah perbaikan. Pak Jokowi bukan orang hebat. Dia sama seperti kita, masih suka wedangan, atau jajan lesehan walaupun jabatannya sebagai Walikota Solo. Kadang-kadang, ia juga pingin seperti kita, bisa jalan-jalan ke mana saja, tanpa sopir dan ajudan yang mendampinginya.

Mas Didik, pedagang akik, pernah cerita, kalau dia menjumpai Pak Jokowi naik Honda Astrea, memboncengkan istri dan anaknya. Waktu itu, kebetulan hari libur, dan dia ingin makan soto kesukaannya. Katanya, ketika memarkir sepeda motornya dan membuka helm, tukang parkirnya kaget. Pemilik warung soto, yang tempat berdagangnya hanya dengan tenda seadanya di bawah pohon waru juga, kaget ketika salah satu orang yang jajan adalah walikotanya.

Beritahu saja apa adanya, jangan ditambahi, biar kamu tidak dikira tim suksesnya. Kabarkan kepada tetangga, kenalan, atau siapa saja, bahwa Pak Jokowi sering memindahkan orang dari bantaran Bengawan Solo. Yang dipindahkan pun sukarela, sebab diajak berembuk mengenai lokasi barunya, di kawasan Mojosongo. Pemerintah menyediakan bantuan kepindahan dan ongkos pembangunan rumah sederhana.

Memang tak banyak orang. Hanya belasan keluarga. Tapi, dalam keluarga itu ada anggotanya, termasuk anak-anak. Kepada para kepala keluarga, Pak Jokowi mengajak berembuk, dan ngobrolnya santai seperti ketika kita ngobrol bareng Sola, Danang atau Tjahjono. Santai, tapi serius.

Para kepala keluarga diminta merancang sendiri desain rumah dan penataan ruangnya. Kata Pak Jokowi, pemerintah tidak ingin mendikte bahwa rumah di atas tanah tak seberapa luas itu dibangun seragam, termasuk letak ruang keluarga, kamar tidur, dapur dan kamar mandinya. Setiap keluarga, pasti ingin punya ruangan yang ideal. Anak lelaki dan perempuan, apalagi jika sudah remaja atau dewasa, pasti butuh kamar sendiri. Oleh sebab itu, Pak Jokowi menyerahkan sepenuhnya kepada mereka.

Intinya, pemerintah hanya memfasilitasi yang terbaik untuk warganya, termasuk memberikan kredit ringan pembangunan rumah. Ia meminta masing-masing membentuk kelompok sendiri, bisa tujuh atau sepuluh kepala keluarga dalam satu kelompok. Para anggota kelompok itulah yang akan saling mengingatkan jika ada yang lupa atau terlambat membayar cicilan.
Mereka senang, pemerintah pun tenang. Tak perlu repot mengawasi atau memarahi jika ada yang menunggak cicilan, cukup menanyakan kepada penanggung jawabnya saja, untuk memantau perkembangannya. Pak Jokowi itu orang yang tidak mau masuk terlalu dalam ke wilayah pribadi, sebab setiap orang/keluarga, pasti punya problem yang berbeda-beda.

Apalagi jika diingat, Pak Jokowi itu juga wong cilik, dulunya. Ia pernah merasakan kepedihan keluarganya, ketika rumah mereka digusur dari bantaran kali, tanpa pesangon, pada tahun 1970an. Dia tak mau warga miskin menderita seperti yang dirasakannya. Makanya, ia mengeluarkan kartu sehat dan kartu pendidikan bagi warga miskin. Kesehatan dan pendidikan adalah hak setiap warga negara, yang harus diperhatikan oleh negara. Sebagai Walikota Solo, dia menggunakan kekuasaanya mengatur keuangan daerah, untuk keperluan memenuhi hak setiap warga negara itu.

Makin miskin, pelayanan yang diberikan pemerintahnya kian banyak. Seperti dalam pendidikan, orang termiskin diberi kartu platinum, sehingga semua kebutuhan pokok untuk pendidikannya dipenuhi oleh pemerintah, sehingga diberikan seragam, sepatu, buku dan alat tulis, hingga pembebasan biaya pendidikan. Bagi Pak Jokowi, orang kaya bisa memilih jenis pendidikan karena punya biaya.

Begitu pula soal berobat atau pemenuhan hak atas kesehatan. Maka, orang miskin pun diberi kartu masing-masing orang dalam satu keluarga. Kartunya bisa dipakai di Puskesmas dan rumah sakit, dari sakit perut hingga operasi, tanpa perlu membawa surat keterangan miskin dari RT, RW hingga Kelurahan. Orang sakit perlu pertolongan cepat, sementara kerepotan mengurus surat keterangan tidak mampu (SKTM) yang memakan waktu, bisa-bisa meminta nyawa si penderita.

Pak Jokowi tahu, pada dasarnya, watak orang Indonesia itu malu dianggap, apalagi disuruh mengaku miskin. Karena itu, ia tak mau orang kesusahan dibuat makin susah ketika harus menghadap Pak Lurah atau Bu Lurah, hanya untuk mengatakan dirinya miskin. +

Muji yang baik, katakan kepada siapa saja: Pak Jokowi tidak sedang memperbaiki nasib dengan nyalon jadi Gubernur DKI. Dia pernah miskin, sebab pernah jadi pekerja rendahan di pabrik mebel pamannya, hingga ia mampu punya perusahaan sendiri. Ia sudah merasa kaya dari usahanya, sehingga tak merasa perlu mengambil gaji bulanannya sebagai walikota. Toh, semua keperluan hidup sekeluarganya ditanggung oleh negara. Pak Jokowi juga sudah punya gaji sendiri, yang jauh lebih gede dari gaji walikota. Sebagai komisaris perusahaan, ia sudah mendapat gaji bulanan.

Asal tahu saja, perusahaan ekspor mebelnya punya beberapa workshop/gudang. Beberapa malah sudah dijualnya di periode pertama jabatannya. Ia tidak lebih kaya ketika menjadi walikota. Biarkan orang menyimpulkan sendiri, apa itu artinya.

Kalau ada temanmu yang membawa-bawa nama Prabowo, diamkan saja. Itu bukan urusan kita, bahkan urusan Pak Jokowi. Ke Jakarta, ia hanya menjalankan amanah partainya. Karena di Solo bisa sukses, ia ‘dipromosikan’ partainya mengulang suksesnya di Jakarta. Keputusan koalisi PDI Perjuangan dengan Partai Gerindra, itu urusan orang-orang petinggi partai, bukan kemauan atau pilihan Pak Jokowi.

Ada orang yang lantaran takut kalah bersaing, lantas seenaknya membuat fitnah, atau menjelek-jelekkan pak Jokowi. Biarkan saja. Kelak, mereka akan kelelahan sendiri. Kalau memang Pak Jokowi buruk, tak mungkin dia bisa memiliki kemenangan hingga 90 persen pemilih di Solo. Padahal, dia diusung PDI Perjuangan, sementara Partai Demokrat yang punya banyak kursi di DPRD memiliki calonnya sendiri. PKS pun punya fraksi sendiri di DPRD Solo. Tapi, kenapa suara Pak Jokowi bisa memiliki dukungan sedemikian besar dari semua pemilih partai selain PDIP?

Aku yakin, soal memilih calon kepala daerah, orang sekarang tak lagi tergantung suara partainya. Mereka punya hitung-hitungannya sendiri, bisa mengukur seseorang dengan kemantaban dan referensinya sendiri. Coba perhatikan, siapa yang memfitnah Pak Jokowi sebagai orang Kristen dan antek Yahudi? Mereka adalah orang-orang yang mengaku lebih suci, bahkan merasa diri lebih tahu dari Tuhan yang katanya mereka sembah dan taati perintahNya. Aneh, bukan?

Begitulah, politik. Kamu kan juga mengenal nama Heru, Margiono, Gunawan dan banyak lagi. Mereka pinter, cerdas, hebat dan lebih berbudaya. Tapi apa yang terjadi dengan ucapan-ucapan mereka? Dulu, mereka mengaku segan dan kagum pada prestasi Pak Jokowi, tapi kini lebih banyak mencaci, mencibir, dan menghalangi kemenangan Pak Jokowi di DKI lantaran mereka punya calo sendiri, yang dianggapnya lebih baik. Yang begitu memang sah dalam politik.

Tapi yang tak pantas dilakukan mereka adalah, melampiaskan kebenciannya kepada Prabowo kepada Pak Jokowi, padahal sudah jelas, Gerindra dan PDI Perjuangan-lah yang memutuskan berkoalisi. Kenapa mereka hanya memojokkan Pak Jokowi? Anggap saja mereka tak bernyali, atau kuatir calonnya tak jadi Gubernur DKI. Begitulah mereka.

Kalau boleh memilih, Pak Jokowi, Faisal Basri, Fauzi Bowo, Alex Noerdin, Hidayat Nurwahid dan Hendarji, pasti ingin yang paling sempurna. Tanyakan kembali, apakah semua keinginan ideal bisa diwujudkan sendiri, tanpa dipengaruhi orang lain atau faktor-faktor selain dirinya?

Muji, jangan ragu mengatakan kepada teman, sahabat, atau siapa saja untuk memilih Pak Jokowi. Dia seorang haji, dia rendah hati, mau mendengar orang lain daripada banyak bicara kepada orang lain. Suruh orang mencari tahu, dari mana saja, pernahkah Pak Jokowi berpidato panjang, apalagi berjam-jam seperti kebanyakan pejabat yang hanya mau semua kalimat dan perintahnya didengarkan?

Jika terlambat atau sebuah acara ada banyak sambutan, Pak Jokowi memilih tak memberikan sambutan atau pidato. Itu karena dia tahu, siapa saja, apalagi rakyat, sudah bosan mendengar pidato-pidato pejabat yang pasti isinya serba baik semata. Ada paparan data dan angka, padahal itu hanya demi menarik simpati orang, seolah-olah seseorang yang berpidato menguasai masalah. Padahal, kebanyakan naskah pidato disusun oleh tim ahli, ajudan atau staf khusus lainnya.

Muji, aku titip Pak Jokowi di DKI, ya…..

Solo, 6 Juli 2012
-Kancamu-
*) Catatan: tulisan ini juga diposting di personal blog.
Baca juga referensi terkait Pak Jokowi:


Meniti Jembatan Iman: Ruang Imajinasi, Pengharapan, dan Praktis Hidup di Tengah Arus Zaman

  Meniti Jembatan Iman: Ruang Imajinasi, Pengharapan, dan Praktis Hidup di Tengah Arus Zaman   Pengantar Agama dan keyakinan bukan sek...