Selasa, 22 Mei 2012

Kecelakaan Sukhoi dan santunan Jamsostek

Kecelakaan Sukhoi dan santunan Jamsostek




Jakarta (ANTARA News) - Di balik duka kecelakaan pesawat Sukhoi Super Jet 100 ternyata ditemukan fenomena berindikasi penipuan pada kepesertaan jaminan sosial, yakni sebuah perusahaan penerbangan mendaftarkan direkturnya yang menjadi korban dalam program jamsostek setelah kecelakaan terjadi.

Adalah Dirut PT Jamsostek Hotbonar Sinaga yang mengungkapkan kondisi itu kepada pers. Sikap yang menurut dia tidak santun dan tidak menghormati hak-hak normatif pekerja yang diatur dalam peraturan perundangan dan konvemsi ILO.

Peristiwa kecelakaan acap kali mengungkapkan kecurangan perusahaan pada pekerjanya. Praktik yang terungkap biasanya perusahaan tidak membayar upah yang sebenarnya sehingga pekerja mendapat santunan di bawah yang seharusnya.

PT Jamsostek hanya bisa membayar santunan senilai upah yang dilaporkan, jika upah yang dilaporkan dimanipulasi maka jumlah santunan menjadi tidak sebanding dengan upah yang didapat pekerja.


Tolak Membayar

Kembali pada kasus perusahaan penerbangan yang mendaftarkan direkturnya yang menjadi korban kecelakaan Sukhoi, PT Jamsostek dengan tegas menyatakan tidak akan membayar santunan kecelakaan tersebut karena perusahaan mendaftar korban sehari setelah peristiwa terjadi, yakni tanggal 10 Mei.

"Kecelakaan terjadi pada 9 Mei, mereka mendaftar via online 10 Mei," kata Hotbonar. Dia menambahkan perilaku seperti itu sama juga dengan penipuan.

Mungkin perusahaan penerbangan itu takut disalahkan keluarga korban dan juga masyarakat luas karena menjadi peserta jaminan sosial tenaga kerja adalah hak setiap pekerja.

Kondisi seperti ini pernah juga terjadi sebelumnya di mana perusahaan yang bersangkutan kelabakan memberi santunan karena malu dengan keluarga korban juga malu pada masyarakat luas.

Konsekuensi perusahaan yang bersangkutan harus memberi santunan kecelakaan sesuai hak keluarga korban.

"Ini menjadi pelajaran bagi perusahaan lain agar tidak mengabaikan hak-hak normatif pekerja," kata Hotbonar.

Dia juga menyatakan pada kasus Sukhoi juga terdapat perusahaan yang melaporkan sebagian dari upah pekerjannya. Istilah di jamsostek, perusahaan daftar sebagian upah pekerja.

Pada kondisi demikian, PT Jamsostek menyerahkan permasalahannya pada pekerja apakah merelakan santunan yang kebih kecil atau meminta perusahaan untuk menambah kekurangan santunan yang menjadi hak ahli waris.

Berdasarkan peraturan perundangan, perusahaan wajib mendaftarkan pekerjanya dalam program jaminan sosial jika memperkerjakan 10 orang atau membayar total upah Rp1 juta perbulan.

Dengan upah minimum yang rata-rata Rp1 juta perbulan saat ini maka perusahaan yang memperkerjakan satu orang saja sudah wajib mendaftarkan pekerjanya dalam program jaminan sosial tenaga kerja.

Berdasarkan Konvensi ILO pekerja berhak mendapatkan jaminan kematian, jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua, jaminan pemeliharaan kesehatan dan jaminan pensiun.


Rp7,5 Miliar


Terlepas dari itu, PT Jamsostek sebenarnya sudah menyiapkan sedikitnya Rp7,5 miliar untuk 12 korban kecelakaan Sukhoi Super Jet (SSJ) 100 yang jatuh setelah menabrak Gunung Salak, Bogor, pada Rabu (9/5) lalu.

Ke-12 korban tersebut adalah pekerja yang sudah menjadi peserta jaminan sosial tenaga kerja dan pada peristiwa tersebut mereka dikategorikan mengalami kecelakaan kerja.

"Kami siap menyalurkan santunan kepada ahli waris jika mereka sudah siap menerimanya," kata Hotbonar.

Keduabelasnya bekerja di perusahaan Indonesia Air Transport, PT Dirgantara Indonesia, Air Maleo, Pelita Air, Bloomberg, Trans TV, Aviastar dan Sky Aviati.

Hotbonar juga menambahkan besaran santunan kecelakaan kerja sangat tergantung pada upah yang dilaporkan perusahaan kepada PT Jamsostek. "Jika, upah yang dilapor yang benar maka ahli waris akan mendapatkan santunan yang sebenarnya," katanya.

Direktur Pelayanan PT Jamsostek Djoko Sungkono mengatakan salah satu penerima santunan atas nama KS yang bekerja di PT Dirgantara Indonesia yang mendapat santunan lebih dari Rp1 miliar. KS menjadi peserta Jamsostek sejak 1992 dan bekerja di PT Dirgantara Indonesia dengan gaji terakhir yang dilaporkan Rp19.939.200.

Berdasarkan upah yang dilaporkan tersebut maka ahli waris akan mendapat santunan dengan perhitungan, santunan kematian Rp19.939.200 x 48 jadi Rp957.081.600, uang pemakaman Rp2.000.000, santunan berkala Rp4.800.000, jaminan hari tua Rp72.008.506. Total santunan yang didapatkan Rp1.035.890.106.

Almarhum meninggalkan seorang isteri dan dua anak. Jabatan terakhir almarhum Kepala Divisi Integrasi Usaha PT DI.

Skema santunan kecelakaan kerja adalah 48 x upah yang dilaporkan + Jaminan Hari Tua + Rp2 juta uang pemakaman + Rp4,8 jt (jaminan berkala Rp200 ribu selama 24 bulan yang dibayarkan sekaligus sesuai PP 53/2012 yang baru dan berlaku 23 April 2012 lalu).

Dewan Komisaris dan Direksi serta seluruh karyawan PT Jamsostek menyatakan turut berbelasungkawa dan mendoakan agar arwah para kurban mendapat tempat terbaik di sisi-Nya


Harus Bertanggung jawab

Sementara Ketum Federasi Serikat Pekerja BUMN Abdul Latief Algafff menilai perusahaan penerbangan yang baru mendaftarkan direkturnya sehari setelah kecelakaan Sukhoi harus bertanggung jawab membayar santunan kecelakaan kerja.

Dia juga menilai tindakan perusahaan penerbangan itu tidak terpuji.

"Terdapat unsur penipuan di sana, mereka tidak jujur dan tidak bertanggungjawab atas hak normatif pekerja," kata Latief.

Dia meminta pegawai pengawas ketenagakerjaan bertindak tegas atas pelanggaran hak normatif pekerjanya tersebut.

Dalam UU Jamsostek dinyatakan bahwa perusahaan harus membayar selisih atau kekurangam jumlah klaim yang seharusnya diterima pekerja karena upah yang dilaporkan kepada PT Jamsostek bukan yang sebenarnya.

"Apa lagi perusahaan tidak mendaftarkan pekerjanya dalam program jamsostek, maka dia harus membayar santunan kecelakaan kerja sepenuhnya sesuai peraturan perundang," kata Latief.

Dalam hal ini aparat penegak hukum memang sudah seharusnya bertindak tegas karena penegakan hukum menjadi faktor fundamental dalam pelaksanaan jaminan sosial.
(E007/Z002)
Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © 2012
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com


TENTANG EDITORIAL: BEBERAPA ARTIKEL DARI KOMPASIANA.COM

Mengenal Editorial


Oleh Agraemanuela

Dalam penulisan berita, wartawan atau surat kabar tidak boleh memberikan opininya, oleh karena itu dewan redaksi memberikan kesempatan bagi organisasi untuk memberikan pandangannya. Pandangan surat kabar mengenai isu tertentu di tulis dalam bentuk editorial. Editorial merupakan sebuah suara dan sudut pandang dari sebuah perusahan atau organisasi media mengenai isu kepentingan publik. Gagasan dari organisasi media ini ditulis dalam bentuk opini. Dua hal yang identik dari opini menurut Duyile (2005:63) adalah pendapat dari surat kabar yang ditulis untuk pemahaman pembaca dan yang dapat memberikan gambaran pada masyarakat untuk mengambil keputusan mengenai isu yang dibahas. Secara umum, editorial diatur dalam empat langkah yaitu SPECS yang terdiri dari Situation, Position, Evindence, Conclusion, dan Solution. Pertama situation, menyatakan subjek dan posisi anda dalam subjek pendahuluan. Kedua, diskusi berjalan berlawanan dari sudut pandang. Ketiga, buktikan posisi anda dengan rincian bukti-bukti yang berfungsi sebagai pendukung. Terakhir adalah penyampaian kesimpulan dan solusi.
Asal mula penggunaan kata editorial pada tahun 1830, periode dimana editorial adalah istilah yang digunakan sebagai sebutan untuk menunjukan pendapat editor. Pada perkembangannnya pada abad ke 20, cakupan editorial diperluas. Artikel editorial selain berisikan gagasan editor juga dapat menjadi sarana pemberian masukan kepada editor. Beberapa surat kabar mulai menempatkan editorial di kiri sisi halaman, biasanya bagian depan. Dewasa ini editorial muncul pada halaman editorial surat kabar itu, halaman yang meliputi editorial, kolom, artikel opini, review, dan kartun. Jika lebih dari satu halaman opini, yang lain disebut op-ed halaman. Dewan redaksi adalah jajaran staf tertinggi dalam redaksi seperti editor yang dapat menulis editorial. Sebuah editorial menjadi layak cetak apabila yang dibahas dalam edititorial tidak dibahas dalam berita utama. Reputasi dari sebuah organisasi media dapat terlihat dari keakuratan data sebagai materi pendukung dalam editorial. Surat Kabar yang berbeda akan memiliki ide yang berbeda tentang bagaimana mengatur sebuah editorial, meskipun sebagian besar akan mengikuti empat langkah sebelumnya.
Editorial bukan pendapat penulis, tetapi merupakan pendapat dewan redaksi. Oleh karena itu, tidak tepat jika menggunakan kalimat seperti, “Menurut pemikiran saya” dalam penulisan editorial. Pada kenyataannya, kata-kata ini sering melemahkan argumen anda pula. Akan muncul keraguan dalam pemikiran pembaca ketika penulis menggunakan kalimat tersebut.
Jenis editorial dapat dibagi menjadi empat yaitu untuk menjelaskan atau memaparkan, untuk menilai atau mengkritik, mengajak atau mempersuasi, dan pujian. Jenis yang pertama, editorial berbentuk penjelasana atau pemaparan. Tujuan dari editorial disini lebih berupa essai yang berisi penjelasan. Editor berusaha untuk menafsirkan atau menginformasikan fakta atau isu yang berhubungan dengan kepentingan masyarakat. Dalam lingkup ini, editor sering menggunakan editorial untuk menjelaskan cara media itu menanggapi subjek berita yang sensitif dan kontroversial.
Tujuan kedua dari editorial adalah untuk menilai atau mengkritik. Ini editorial konstruktif mengkritik tindakan, keputusan atau situasi sambil memberkan solusi untuk masalah diidentifikasi. Editorial sebagai evaluasi adalah editorial yang fokus mengevaluasi pada tindakan atau situasi yang sedang membutuhkan perbaikan atau yang patut dipuji. Harapan jangka pendek adalah untuk memberikan pemahaman kepada pembaca untuk melihat masalah yang sedang diangkat. Jika editorial mengkritik, harus selalu konstruktif. Apabila media mengkritik maka media memiliki kewajiban untuk menawarkan solusi alternative atau tindakan. Maka pendapat akan dipercayai oleh masyarakat.
Editorial sebagai persuader merupakan tujuan yang ketiga. Tujuan ini terlihat ketika editorial yang mengajak atau menawarkan solusi spesifik untuk suatu masalah yang sedang dihadapi. Editorila persuasif dapat memberikan kepemimpinan dalam sebuah perubahan. Oleh karena itu, maksud dari editorial ini mengajak untuk segera melihat pada solusinya bukan masalah. Dari paragraf pertama, pembaca akan didorong untuk mengambil tindakan dan sikapn yang positif. Salah satu contoh editorial persuasi adalah dukungan terhadap kinerja politik.
Jenis editorial yang terakhir adalah editorial yang berbentuk pujian. Editorial ini bermaksudkan untuk memuji seseorang atau organisasi yang telah memiliki prestasi atau kinerja yang baik. Dalam editorial ini pun perlu dicantumkan alas an tertentu mengapa orang atau organisasi inti pantas untuk dipuji.

Sekilas Mengenai Editorial


Elfreda Simbolon
Editorial
Editorial adalah suara dari sebuah organisasi media atas isu mengenai kepentingan umum. Okoro, N dan B Agbo (2003:125) mengatakan bahwa editorial adalah evaluasi kritis, interpretasi, dan penyajian yang signifikan dimana peristiwa masa kini dibalut sedemikian rupa sehingga mampu menginformasikan, mendidik, menghibur, dan memengaruhi pembaca. Sejalan dengan itu, Iyorkyaa (1996:14) mendefinisikan editorial sebagai sebuah esai jurnalistik yang mencoba untuk menginformasikan atau menjelaskan, membujuk atau meyakinkan, dan merangsang wawasan dengan cara yang menghibur.
Kualitas sebuah editorial yang baik adalah pertama, editorial harus membawa rasa kelembagaan atau loyalitas yang berarti media seharusnya “berbicara” dalam editorial, bukan sebagai usaha individu. Kedua, bahasa dari editorial harus jelas dan tidak ambigu. Walaupun tujuan dari editorial adalah untuk memengaruhi, mendidik, atau menghibur penonton, bahasa yang digunakan harus dipahami oleh target penonton. Jika tidak, misi dari sebuah editorial tidak akan tercapai. Ketiga, dalam menulis editorial, editor harus selalu tepat. Keempat, editorial harus kaya dengan nilai kemanusiaan. Kelima, sebuah editorial harus mudah diingat dan mampu menarik perhatian. Keenam, setiap editorial harus asli. Ketujuh, editorial harus diteliti dengan baik karena editorial harus didasarkan pada fakta yang konkret dan bukan spekulasi.
Opini Publik
Opini publik merupakan keseluruhan pandangan masyarakat atas isu tertentu. Isu tersebut dapat berasal dari politik, sosial, atau ekonomi. Opini publik berguna jika dimanfaatkan dalam cara-cara berikut, seperti menyediakan sumber daya untuk penentuan citra dari seorang individu atau organisasi, menunjukkan perlunya perubahan sosial, memprediksi masa depan finansial dan perkembangan organisasi, menyediakan bahan baku untuk tujuan penelitian, sebagai alat bantu perumusan kebijakan dan perencanaan dalam masyarakat, dan menetapkan agenda bagi masyarakat.
Format dari sebuah opini publik adalah pertama, melalui media massa dimana masyarakat dapat mengungkapkannya melalui radio, TV, surat kabar, atau majalah. Kedua, kelompok sebaya atau kelompok pemuda dan pemudi yang bergerak bersama dan saling berbagi mengenai hal-hal umum dan pengaruhnya. Ketiga, kelompok penekan dan partai politik. Keempat, simposium dan kuliah umum dimana sebagai wadah brainstorming. Kelima, pemilihan umum, dan keenam orientasi individu atau latar belakang.
Opini dapat berfungsi seperti layaknya editorial. Editorial dalam majalah dan surat kabar masa kini melaksanakan fungsi-fungsi berikut yaitu pertama, mengkritik dan menyerang ekonomi sosial-politik dan dilema moral masyarakat. Kedua, editorial seringkali mencoba untuk melihat sebuah isu dari dua buah sisi. Ketiga, untuk mendiskusikan dan menyelesaikan isu yang sedang hangat, editorial akan membawa isu yang sedang diperdebatkan ke depan dan menyediakan petunjuk yang bersifat intelektual bagi masyarakat. Keempat, editorial membela masyarakat yang tertindas karena pada masyarakat tertentu terdapat kesenjangan ekonomi di dalamnya. Kelima, editorial mendorong atau mendukung sebuah isu penting ke ranah publik. Keenam, editorial mampu membangkitkan para pembuat kebijakan supaya mereka mampu mengatur agenda proaktif untuk pemerintahan yang lebih baik bagi masyarakat. Ketujuh, editorial meyakinkan pembaca agar dapat menerima kebenaran atau kesalahan dari suatu isu.
Isi Editorial
Editorial dan Berita
Editorial berurusan dengan bahan-bahan yang bersifat subjektif sedangkan berita berurusan dengan bahan-bahan yang bersifat objektif. Editorial dapat membangkitkan opini publik yang bersifat mendukung atau menentang isu topik yang sedang hangat. Berita dipengaruhi oleh peristiwa, laporan, dan beberapa faktor lainnya. Faktor-faktor yang memengaruhi berita adalah timeliness, proximity, oddities, prominence, consequences, dan human interest.
Editorial dan Features
Tulisan editorial adalah penelitian yang berorientasi. Hal yang sama juga berlaku untuk menulis feature. Feature adalah artikel jurnalistik yang lebih bersifat kreatif dimana menginformasikan, menjelaskan, menganalisis, dan mengungkapkan isu-isu untuk kepentingan pembaca. Okoro dan Agbo (2003:96) membagi antara feature dan editorial yaitu pertama, feature biasanya membawa nama penulis artikel sedangkan editorial tidak. Kedua, feature dapat disertai ilustrasi, sedangkan editorial dalam beberapa kasus tidak dapat disertai ilustrasi (ilustrasi fotografi). Ketiga, feature biasanya merupakan hasil dari upaya individu sedangkan editorial merupakan hasil dari upaya kelompok yaitu dewan redaksi.
Editorial dan Kolom
Editorial dan kolom memiliki kemiripan yang mencolok. Menulis kolom tidak sama dengan menulis editorial. Kolom adalah sejenis feature yang mengekspresikan kepribadian penulis. Para pembaca akan selalu mengingat ekspresi, gaya, dan perlakuan penulis terhadap isu.
Editorial dibagi ke dalam beberapa tipe, yaitu editorial yang bersifat interpretatif atau menjelaskan isu-isu yang dipertaruhkan oleh fakta-fakta dan tokoh , editorial yang bersifat kontroversi atau editorial ini dikemas untuk misi-misi tertentu, dan editorial yang bersifat mengutarakan atau hanya menyajikan isu yang menyulitkan dan nantinya akan dinilai oleh pembaca.
Sumber Bahan Editorial
Dalam penulisan editorial, penelitian yang menyeluruh dan komprehensif diperlukan untuk menafsirkan atau menganalisis fenomena berita dari perspektif editorial. Penelitian merupakan hal yang paling penting dalam penulisan editorial. Penulis editorial dapat menggunakan penelitian survei dalam penyelidikannya. Penelitian lapangan yang menuntut pengalaman langsung dari fenomena sosial juga dapat membantu penulis editorial dalam pengumpulan data. Penulis editorial yang memiliki subjek penelitian yang berkaitan dengan sejarah akan mendapatkan gambaran atau perspektif yang jelas tentang apa yang terjadi di masa lalu, yang berarti gambaran tersebut akan menjadi panduan penulis dalam menganalisis masa kini dan memprediksi masa depan.
Bahan editorial bersumber dari peristiwa penting, yang nantinya dapat diberitakan di media massa. Sumber lainnya adalah internet, artinya penulis dapat menelusuri data melalui internet dan mengunduh bahan yang relevan untuk memperkaya bahan editorialnya. Selain itu, melalui catatan dimana editorial dapat menggunakan sumber yang lain seperti jurnal, biografi, konstitusi, dan lain-lain.
Karakteristik Editorial
Hal-hal yang harus dimiliki sebuah editorial yaitu pertama, pendahuluan, isi, dan kesimpulan. Kedua, penjelasan objektif atas sebuah isu, terutama isu yang kompleks. Ketiga, sudut pandang atas suatu berita. Keempat, opini yang berasal dari pandangan yang berbeda yang menyanggah secara langsung isu yang sama dengan yang penulis sebutkan. Kelima, dalam editorial opini penulis disampaikan dengan cara profesional. Keenam, solusi alternatif terhadap suatu isu dapat dikritisi. Ketujuh, opini penulis dirangkum menjadi kesimpulan yang padat dan ringkas.
Empat hal yang dilakukan editorial yaitu pertama, menjelaskan atau menginterpretasikan, mengkritisi, mengajak, dan menyanjung. Menjelaskan berarti editor menggunakan editorial untuk menjelaskan bagaimana surat kabar menutupi topik yang sensitif atau kontroversial sedangkan mengkritisi berarti mengkritik tindakan, keputusan atau situasi namun juga sekaligus memberikan solusi atas suatu masalah. Mengajak berarti editorial bertujuan untuk melihat solusi bukan masalah, dan menyanjung berarti editorial menghargai masyarakat dan organisasi atas tercapainya suatu hal.
Dalam menulis editorial, terdapat beberapa hal yang harus dilakukan yaitu mengambil topik penting yang mempunyai sudut pandang berita dan menarik perhatian pembaca, mengumpulkan informasi dan fakta dengan cara melakukan penelitian, menyatakan opini penulis secara singkat dalam tesis, menjelaskan isu secara objektif, artinya sebagai reporter penulis mampu menjelaskan mengapa situasi tersebut begitu penting, memberikan pandangan yang berbeda dengan kutipan dan faktanya, menolak sisi lain dan mengembangkan isu penulis dengan menggunakan fakta, detail, gambar, dan kutipan, artinya isu yang diangkat oleh penulis harus memiliki beberapa poin penting agar membuat isu tersebut terlihat rasional, mengulangi kata kunci untuk memperkuat ide di dalam pikiran pembaca, memberikan solusi yang realistis terhadap isu yang melampaui pengetahuan umum, menutup dengan kesimpulan yang menyatakan kembali pernyataan tesis, dan menyatakan isu tersebut dalam 500 kata.
Sumber :
Alan Weintraut. Writing an editorial (compilation)
Ate, Andrew Asan. 2008. Editorial Writing. Nigeria: National Open University of Nigeria
 



Apa dan Bagaimana Editorial Itu?

Arum Narwastu

Editorial adalah artikel yang menyajikan pendapat surat kabar terhadap suatu isu. Artikel ini mencerminkan suara mayoritas dari para dewan redaksi, dewan redaksi surat kabar terdiri dari editor dan manajer bisnis. Editorial biasanya unsigned atau diterbitkan tanpa byline (nama penulis) karena editorial mewakili pendapat surat kabar, bukan penulis.
Surat kabar itu adalah suara dari masyarakat sedangkan editorial adalah suara dari koran. Suara ini dapat memberi informasi kepada pembaca, merangsang pemikiran, mencetak opini dan kadang-kadang menggerakkan orang untuk bertindak. Umumnya, editorial menawarkan solusi spesifik untuk suatu masalah yang tengah dirasakan. Dalam editorial, redaksi mengharapkan tindakan segera daripada pemahaman situasi.
Bentuk dan isi editorial dipengaruhi oleh kebijakan dan filosofi surat kabar, struktur kepemilikan dan lingkungan politik dimana koran beroperasi. Terdapat tiga jenis editorial. Pertama adalah Interpretative Editorial. Ini adalah jenis editorial yang ditulis dengan misi utama untuk menjelaskan isu-isu yang dipertaruhkan oleh fakta-fakta dan figur untuk memberikan penerangan dan pengetahuan.  Editorial interpretatif bisa positif, negatif atau bahkan netral dalam pendekatan atau postur tergantung pada keadaan dan perlakuan penulis editorial terhadap suatu isu.
Kedua, Controversial Editorial. Controversial Editorial adalah jenis editorial yang dikemas dengan misi tertentu atau mandat untuk menyebarkan sudut pandang tertentu. Editorial yang kontroversial digunakan untuk meyakinkan pembaca pada keinginan atau keniscayaan isu tertentu sementara sudut pandang yang berlawanan akan digambarkan secara buruk.
Jenis yang terakhir adalah Explanatory Editorial. Editorial ini hanya menyajikan masalah untuk dinilai oleh pembaca. Jenis editorial ini hanya membuka dan memprovokasi pikiran pembaca mengenai masalah kepentingan sosial-politik dan ekonomi untuk menarik perhatian pembaca dan memungkinkan mereka untuk menilai. Explanatory Editorial mengidentifikasi masalah, menjelaskannya dan memungkinkan pembaca untuk mencari solusi untuk itu.
Editorial dikatakan baik jika memenuhi beberapa kriteria. Beberapa kriteria tersebut antara lain, sebuah editorial harus membawa rasa kelembagaan, artinya suara yang harus didengar “berbicara” dalam editorial adalah suara media dan bukan suara individu. Bahasa editorial harus jelas dan tidak ambigu. Tujuan editorial harus ditentukan, apakah untuk mempengaruhi penonton, mendidik atau menghibur mereka. Bahasa dalam editorial harus dipahami oleh target audiens. Jika tidak, misi editorial tidak akan tercapai.
Dalam menulis editorial, editorialist harus selalu tepat. Katakan apa yang ingin Anda katakan tanpa perlu menghabiskan banyak ruang. Hindari “verbosity and circumlocution” (penggunaan terlalu banyak kata).
Sebuah editorial harus kaya nilai human interest. Hal ini karena orang biasanya tertarik dalam urusan sesama manusia. Selain itu, editorial juga harus menarik dan menangkap perhatian. Editorial yang buruk dan lemah tidak akan dapat memberikan efek yang diinginkan pada target pembaca. Teknik persuasif dapat digunakan untuk tujuan ini. Setiap editorial harus asli dalam gaya dan substansi. Artinya tidak ada plagiasi dari media yang lain
Sebuah editorial harus diteliti dengan baik. Faktor ketepatan waktu atau kebaruan dalam penelitian kualitatif dan kuantitatif menjadi master piece editorial untuk diproduksi. Editorial harus didasarkan pada fakta-fakta konkret, bukan spekulasi. Seorang penulis editorial harus memeriksa fakta untuk memastikan tingkat kredibilitas editorialnya.
Opini Publik dan Editorial
Opini publik merupakan keseluruhan pandangan dari anggota masyarakat terhadap suatu masalah. Masalah ini meliputi masalah politik, sosial ataupun masalah ekonomi yang memiliki hubungan secara signifikan dengan publik. Terdapat hubungan yang mencolok antara opini publik dan editorial. Isu di media massa, mungkin akan disetujui masyarakat ketika isu tersebut mulai meledak dalam lingkup publik. Untuk hal-hal seperti inilah editorial hadir untuk mendukung maupun menentang pandangan yang ada dalam opini publik.
Secara garis besar, editorial dalam surat kabar biasanya melakukan beberapa hal, seperti, mengkritik atau menyerang dilema sosial-politik ekonomi dan moral masyarakat. Selain itu editorial juga memberikan pengetahuan baru pada hari itu. Dengan melemparkan lebih banyak sudut pandang untuk masalah yang kompleks, editorial sering mencoba untuk melihat dua sisi dari sebuah isu. Mereka menyoroti dan menganalisis kekuatan dan kelemahan isu-isu publik sementara pengajuan solusi untuk kompleks isu-isu yang menjadi perhatian publik.
Editorial seringkali membawa masalah baru untuk bisa diperdebatkan dan memberikan arahan intelektual bagi masyarakat untuk membahas dan menyelesaikan masalah tersebut.
Editorial akan membela underdog di masyarakat, mendukung isu penting publik, dan turut memengaruhi perumusan kebijakan atau pengambilan keputusan atas masalah tertentu.
Editorial dan Berita (News)
Berita menceritakan peristiwa yang faktual dan aktual untuk memungkinkan masyarakat memperoleh informasi mengenai kehidupannya sendiri dan lingkungan sekitarnya. Beberapa faktor yang menjadi nilai dalam berita antara lain adalah ketepatan waktu (timeliness), kedekatan (proximity), keanehan (oddities), nama membuat berita (prominence), konsekuensi (consequences) dan human interest.
Berita berurusan dengan pandangan objektif, sementara editorial berurusan dengan pandangan subjektif. Editorial dapat membangkitkan opini publik yang mendukung atau menentang suatu isu.
Editorial dan Features
Features adalah artikel jurnalistik kreatif yang menginformasikan, menjelaskan, menganalisis, menafsirkan, dan mengekspos suatu masalah. Tulisan editorial adalah penelitian yang berorientasi, hal yang sama juga berlaku untuk features. Meskipun begitu, terdapat titik perpisahan antara features dan editorial. Kebanyakan features membawa bylines, artinya nama penulis akan dicantumkan dalam tulisan tersebut. Hal ini berbeda dari editorial yang tidak membawa bylines.
Features dapat disertai dengan ilustrasi gambar. Sebaliknya dalam kebanyakan kasus, editorial tidak digambarkan (ilustrasi fotografi). Features biasanya hasil dari upaya individu, sementara editorial adalah hasil dari upaya kelompok, yaitu dewan editorial.
Editorial dan Kolom
Editorial adalah artikel atau esai jurnalistik yang kritis dan rasional yang bersifat menginformasikan, mendidik dan menghibur pembaca pada masalah sosial-politik dan ekonomi. Sedangkan sebuah kolom merupakan sebuah artikel yang membawa kepribadian, gaya, dan identitas pribadi penulis. Kolom sebagai sebuah artikel, pada khususnya subjek atau oleh seorang penulis tertentu, secara teratur muncul di koran atau majalah.
Editorial dan kolom memiliki kemiripan yang mencolok dalam gaya dan substansi terutama urusan kolom publik. Namun, editorial masih memiliki rasa kelembagaan, sementara kolom memiliki rasa pribadi. Dalam menulis editorial, kata “kita” atau nama surat kabar atau majalah sering digunakan sebagai pengesahan dari kepedulian perusahaan sementara “saya” yang digunakan dalam kolom untuk menampilkan daya tarik pribadi.
Sumber:
Ate, Andrew Asan. 2008. Editorial Writing. Nigeria: National Open University of Nigeria.
Smith, Dianne. Editorial Writing (Compilation).
Weintraut, Alan. Writing an Editorial.
 






Editorial Berperan Kuat Membentuk Opini Publik


Mega Latu




Editorial merupakan tulisan yang mengungkapkan pendapat atau suara dari perusahaan atau organisasi media surat kabar atau majalah mengenai beberapa pokok permasalahan (persoalan) yang aktual, faktual, fenomenal, ataupun kontroversial yang berkembang di masyarakat dari aspek sosial, politik, ekonomi, kebudayaan, hukum, pemerintahan, olah raga bahkan hingga entertainment dengan mengekspresikan opini atau pendapat dari sebuah perusahaan/instansi/organisasi media tertentu. Opini tersebut kemudian dapat menjadi suatu reaksi terhadap masyarakat atas berita-berita, kejadian, atau isu-isu terjadi yang telah disajikan, dimana hanya ditulis untuk mendapat pemahaman pembaca, sehingga pembaca dapat mengambil keputusan mengenai isu, peristiwa, atau permasalahan yang dibahas.
Berbicara mengenai editorial, menurut KBBI online editorial adalah ; mengenai atau berhubungan dengan editor/pengeditan (pekerjaan); artikel dari surat kabar/majalah yang mengungkapkan pendirian editor atau pimpinan surat kabar (majalah) tersebut, mengenai beberapa pokok masalah ; tajuk rencana.
Editorial juga dapat berisikan argumen untuk mendukung suatu kebijakan, tindakan, atau ide, dimana dapat menjadi argumen yang logis, kritis, evaluatif dan interpretatif yang disusun sedemikian rupa untuk menginformasikan, mendidik, menghibur dan mempengaruhi pembaca untuk menanggapi ide, peristiwa, kebijakan atau tindakan yang berdasarkan fakta yang ada dengan menunjukkan penalaran yang diberikan surat kabar.
Editorial dapat dibedakan atas tiga jenis, berdasarkan isinya ; Pertama, editorial yang menjelaskan (explain). Editorial ini sering digunakan untuk menjelaskan cara media menutupi subyek/topik yang sensitif atau kontroversional dan untuk menjelaskan situas-situasi baru yang berlangsung di seputar media tersebut. Kedua, editorial yang mengkritik (evaluate). Editorial ini menghadirkan kritik terhadap tindakan, keputusan, maupun situasi yang sifatnya membangun sembari menyediakan solusi bagi masalah yang diidentifikasi, dengan tujuan mendorong pembaca untuk melihat masalah, bukan solusinya. Ketiga, editorial yang persuasif (persuade). Model ini bertujuan untuk menyoroti solusi, bukan masalah. Umumnya, pembaca (institusi, organisasi tertentu (pemerintah)) akan didorong untuk mengambil tindakan spesifik yang nyata terhadap suatu masalah.
Karena editorial merupakan suara dari lembaga, perusahaan, instansi, atau organisasi media, maka editorial tidak ditulis dengan mencantumkan nama penulisnya, seperti halnya menulis berita atau feature. Idealnya sebelum melakukan penulisan editorial, sebaiknya segenap insan media terlebih dahulu mengadakan rapat redaksi yang dihadiri oleh pemimpin redaksi, redaktur pelaksana serta segenap jajaran redaktur yang berkompeten, untuk menentukan pilihan dan keputusan bersama terhadap suatu permasalahan krusial yang sedang berkembang di masyarakat atau dalam kebijakan pemerintahan untuk dijadikan sebuah tulisan, karena editorial merupakan tulisan yang berdasarkan dari pemikiran kolektif dari segenap awak media.
Secara tekhnik penulisan ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menulis sebuah editorial antara lain ; (1) pengantar, isi, dan kesimpulan, (2) penjelasan yang objektif mengenai isu, peristiwa, dan permasalahan tertentu, (3) sudut pandang berita ditulis dengan akurat, (4) editorial yang baik mengangkat isu/berita/peristiwa, bukan personalitas, (5) tidak menyebutkan nama panggilan/julukan, (6) memberikan solusi alternatif kepada masalah/isu yang sedang diangkat, (7) memberikan kritik yang membangun, sekaligus memberikan solusi. (8) memberikan kesimpulan yang padat, jelas dan singkat.
Oleh sebab itu untuk melakukan penulisan editorial yang baik dan profesional, penulis harus memperhatikan prinsip-prinsip dari penulisan editorial, diantaranya penulis harus mengerti bahwa editorial merupakan pandangan sebuah lembaga/perusahaan/institusi bukan pandangan pribadi, sehingga penulis harus memahami secara benar karakter, visi dan misi media yang bersangkutan. Selain itu penulis juga harus memahami bahwa editorial harus mencerminkan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat dan sebaiknya menghindari pemaparan yang bersifat menggurui dan menganggap pembaca tidak memahami isu yang terjadi.
Kemudian, topik, arah, dan permasalahan yang akan diangkat harus dibicarakan secra kolektif dengan tim redaksi. Selain itu, juga jangan menjadikan editorial hanya sekadar penghias atau pelengkap halaman saja, namun berusaha dapat menyajikan pendapat/pemaparan tentang berita/isu yang sedang hangat, menggunakan pemakaian kalimat yang ringkas, padat, jelas, lugas, dan langsung ke pokok persoalan, tidak bertele-tele dan berputar-putar, sehingga tulisan tersebut dapat menarik minat pembaca.
Hal tersebut pada hakikatnya, editorial merupakan sebuah analisa singkat yang diperlukan pengerjaan yang serius berupa argumentasi yang valid dan solid, sehingga memperkaya refrensi-refrensi yang lengkap dan representatif sangat diperlukan dalam penulisan editorial. Space yang tersedia juga terbatas, oleh karena itu penulis harus menghindari penulisan latar belakang permasalahan secara berlebihan, serta yang paling terpenting pemaparan editorial harus berpijak pada kebenaran.
Dari semua penjelasan yang telah terpapar sudah jelas terlihat bahwa editorial memiliki peran dan fungsi pembentuk opini publik yang kuat di media massa. Hal tersebut tentu saja dapat terealisasi, karena media massa berfungsi sebagai salah satu kekuatan terkemuka dalam pembentukan opini publik. Selama interpretasi masyarakat tetap menganggap editorial dan tulisan opini itu penting, maka editorial tersebut juga akan tetap memiliki eksistensinya di tengah masyarakat dan dapat terus menjadi relevan di segala usia.


Jumat, 18 Mei 2012

7-manfaat-berolahraga

 

http://majalahkesehatan.com/7-manfaat-berolahraga



1. Olah raga mengurangi risiko penyakit

Olah raga menjaga Anda dari berbagai penyakit seperti tekanan darah tinggi, diabetes tipe 2, penyakit jantung dan osteoporosis. Bila Anda sudah mengidap penyakit itu, berolah raga secara teratur akan membantu mengelolanya sehingga tidak berkembang membahayakan.
Olah raga bahkan mengurangi risiko stroke, sakit punggung bawah (LBP), kanker usus besar, kanker payudara, kanker paru dan endometrium.
Jogging, bermain tenis atau berenang bermanfaat mencegah stroke pada kaum pria. Sebuah riset baru menemukan bahwa pria yang berolah raga secara teratur dengan intensitas sedang dan berat lebih kecil kemungkinannya terkena stroke dibandingkan pria yang kurang aktif. Riset tersebut meneliti 3.298 orang dengan usia rata-rata 69 tahun yang tinggal di Manhattan Utara, New York. Pria yang berolah raga 63% lebih kecil kemungkinannya terkena stroke dibandingkan mereka yang tidak berolah raga (Neurology, 24 November 2009). Namun, olah raga tampaknya tidak memberikan dampak yang sama bagi kaum wanita.

2. Olah raga mengurangi stres

Kegiatan fisik merangsang berbagai zat kimia dalam otak yang akan membuat Anda lebih bahagia dan rileks. Anda juga akan merasa lebih bugar, percaya diri dan terhindar dari depresi bila Anda berolahraga secara teratur.


3. Olah raga menjaga berat badan

Melakukan kegiatan fisik membakar kalori dalam tubuh kita. Semakin intensif, semakin banyak kalori yang terbakar sehingga mengurangi timbunan lemak dalam tubuh. Tentu saja, Anda juga harus mengimbanginya dengan pola makan yang sehat agar lemak tidak kembali tertimbun dalam tubuh. Berat badan yang ideal sangat penting bagi kita agar tetap sehat dan panjang umur.

4. Olah raga meningkatkan energi

Kegiatan fisik membuat sistem kardiovaskuler berjalan dengan baik, memperlancar jumlah oksigen dan sari makanan yang didistribusikan ke seluruh jaringan tubuh. Akibatnya, Anda akan memiliki energi yang lebih besar untuk menjalani kehidupan Anda.



5. Olah raga membuat tidur lebih nyenyak

Tukang becak, kuli bangunan dan penyapu jalanan tidak pernah mengalami insomnia! Lihatlah, mereka bahkan bisa tidur lelap di udara terbuka di tengah keramaian orang. Itu karena mereka selalu melakukan kegiatan fisik.
Berolah raga secara teratur membuat Anda tidur lebih mudah dan lebih lelap. Kualitas tidur yang baik pada gilirannya akan meningkatkan konsentrasi, produktivitas dan kualitas emosi Anda. Namun demikian, jangan berolah raga terlalu dekat dengan waktu tidur Anda sehingga justru membuat Anda sulit tidur.

6. Olah raga membuat gairah seksual Anda tetap membara

Berolah raga secara teratur membuat wanita berusia lanjut tetap bersemangat menjalani kehidupan seksualnya dan menurunkan risiko disfungsi ereksi pada laki-laki. Tidak ada yang lebih merusak gairah seksual dibandingkan rasa lelah terus-menerus karena badan yang kurang fit.



7. Olah raga meningkatkan kualitas hubungan antar manusia

Cobalah berolah raga bersama anggota keluarga Anda, misalnya pergi ke kolam renang atau bersepeda santai bersama. Keakraban di antara Anda akan meningkat. Anda juga bisa menggalakkan olahraga bersama di kantor dan lingkungan Anda untuk meningkatkan keakraban.



Kamis, 17 Mei 2012

Membaca Perubahan


oleh Muhamad Rifai


Perjalanan kesuksesan tidak serta merta langsung menuju kepada puncaknya, tentu harus banyak tangga-tangga yang harus dilewati. Tidak mudah tapi itu bisa dijangkau oleh siapa saja yang memiliki kekuatan untuk selalu mempersiapakan diri menghadapi perubahan dan mampu menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada. Langkah - langkah kecil memang memerlukan energi yang kecil, tapi setiap perkara kecil itu ketika kita bisa melewati, hal tersebut bisa mengakumulasi pada kesuksesan besar kita.

Sederhana saja kita melihat sejarah perusahan-perusahan besar seperti Harley Davidson yang pernah mengalami masa kejayaan pada tahun sembilan puluhan. Ada pasang surut menghadapi dunia pasar yang selalu berubah-ubah dengan gaya konsumen yang semakin beragam kebutuhannya. Produk yang di presepsikan geng motor pun mengalami penurunan dari sisi pendapatan produsen dan produksinya.
Pesaing-pesaing besar mulai bermunculan seperti honda, kawasaki, suzuki dan yamaha. Harley davidson pun gagal memenuhi keinginan pasar.

Singkat cerita tak ada  yang bisa di andalakan lagi selain mengikuti perubahan dan presepsi untuk selalu menmenuhi kebutuhan konsumen. Strategi membenahi cara kerja berlangsung secara terus menerus, kwalitas dan efisien menjadikan harley davidson melakukan strategi pemasaran yang sangat radikal.

Perubahan secara radikal itu meliputi cara-cara berikut:

1. Herly davidson merekrut bukan karyawan tapi misionaris yaitu orang-orang tipe
     aktivis.
2. Love and respect your costumer.
3.  Create a community of consumens.
4. Celebrity uncommon sense.
5.Use Market research caustiously.
6. The CEO Must Own the marketing fungction.

Dengan konsep-konsep diatas Harley davidson mampu bangkit dengan sistem pasar yang tidak memerlukan banyak energi besar. Konsumennya sendirilah yang terus kemudian memasarkan produk Harley Davidson itu sendiri.
-Disarikan dari Rhenald Kasali Change-
 

Memunculkan kekuatan diri

Memunculkan kekuatan diri

 

http://harapansatria.blogspot.com/2012/03/memunculkan-kekuatan-diri.html

 

Dr. David Seabury (The Art Living Without Tension) , berkata :” Tidak ada terapi yg lebih penting dibandingkan  memperingatkan diri kita sendiri tentang kekuatan dimensi ini, dan mempelajarinya terus–menerus. Pendirian kuat yg dimiliki menjadi modal penting untuk melakukan banyak hal dalam hidup. Setelah melakukan penelitian klinis, dikatakan dgn tegas bahwa, pusat dari keberanian dan kekuatan batin terdapat dlm diri setiap orang, dan kepercayaan terhadap fakta ini merupakan hal mendasar dari segala bentuk terapi. Seseorang bertanya pada Dr David , bahwa mereka percaya akan kekuatan batin-nya sendiri, tetapi tidak tahu bagaimana cara mewujudkannya ? Anda tidak bisa percaya kepada sesuatu yg tidak anda percayai. Dan walaupun anda berjuang keras utk menumbuhkan kepercayaan tersebut, akan percuma saja.
Namun bila anda bisa menemukan diri anda yg lebih hebat. Dan ketika anda percaya pd diri anda, maka tidak ada persoalan yg muncul. Anda sebenarnya memiliki modal kekuatan Luar Biasa

Allah berfirman,

لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلا تُحَمِّلْنَا مَا لا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo`a): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”. (Q.S.Al Baqarah 286).

Sering  kita merasa beban begitu berat, namun berdasarkan ayat diatas, itu semua pasti  sesuai dengan kemampuan kita dan Allah sudah memperhitungkan kemampuan kita dalam menghadapi ujian dari-Nya. Ini menunjukan bahwa kita sebenarnya sudah diberikan bekal yang cukup dari Allah untuk menghadapi beban ujian yang kita hadapi. Ini harus diyakini setiap hamba beriman , Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.

Langkah pertama, ialah yakin bahwa potensi kekuatan itu ada. Jika tidak yakin, Anda tidak akan pernah bisa membangkitkan kekuatan tersebut. Jadi yakinlah bahwa Anda memiliki kekuatan yang besar, lebih besar dibandingkan dengan beban yang Anda hadapi.

Kiita sudah diberi kemampuan untuk menjadikan tugas sebagai sebab, namun kemampuan itu masih bersifat laten (terpendam). Kita harus menggali, mengasah dan mengembangkan kemampuan yang ada (potensi, prestasi, keahlian, ketrampilan) , yang telah dianugerahkan Allah kepada kita.Allah berfirman,

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِّن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللّهِ إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللّهُ بِقَوْمٍ سُوءاً فَلاَ مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِ مِن وَالٍ


baginya (setiap manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya secara bergiliran di depan dan di belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya. Sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain dia. (Qs QS Ar-ra'd :  11)
Dalam kisah , ketika Nabi Adam setelah  diturunkan dari surga .  Nabi menginjakkan kaki di bumi, yang pertama dikeluhkan Nabi Adam adalah rasa lapar yg menyengat. Maka kepada Malaikat Jibril yang mendampinginya, Nabi Adam bertanya: “Wahai malaikat Jibril, saya merasa lapar yang membuat perut ini sanat pedih. Di mana ada makanan yang bisa menghilangkan rasa lapar ini?”
Jibril menjawab, “kalau di bumi ini, engkau harus mencari dan membuat  makanan sendiri. Harus membajak sawah, bercocok tanam, menanam buah sendiri. Tidak ada yang instan. Semua kebutuhan wajib kami berusaha sendiri untuk memperolehnya”.
Selanjtnya  Jibril mengajarkan cara  bercocok tanam, menanam buah dan lain-lain agar Nabi Adam bisa berdikari. Tentu saja dengan peluh keringat yang bercucuran.

Agar tidak terlalu lama menganggur (pasif) dgn status ‘akibat’, adalah dengan mengubah paradigma berpikir kita, dan memperbaharui pemahaman diri bahwa kita adalah penyebab. Maka kita harus makin bertanggung jawab pada hidup dan diri kita sendiri, karena kitalah yang menginginkan hidup ini menjadi lebih baik. Besar-kecilnya rasa tanggung jawab seseorang terhadap perubahan status hidupnya, dari akibat menjadi penyebab akan menentukan besar-kecilnya aksi serta usaha yang dikeluarkan untuk meraih prestasi. George Washington Carver menyimpulkan bahwa 99 % kegagalan, justru berasal dari sikap mental kita yang membiarkan diri ber-status ‘akibat’.

Apa hambatan terbesar dalam mengembangkan kekuatan diri? Jawaban tentu klise: diri kita sendiri yang sering menyabotasi pengembangan kekuatan diri. Kita takut akan kelemahan diri, takut gagal, dan takut untuk mengetahui seperti apa diri kita sesungguhnya. Ketakutan seperti ini memang ada . Rasakan ketakutan itu, namun tetap hadapi secara langsung.

Sabagaimana suatu alat dongkrak. Sebuah alat kecil yang mampu mengangkat mobil saat Anda akan mengganti ban mobil. Dongkrak memiliki kekuatan, tetapi bila kita tidak  menggunakannya maka kita tidak akan mengetahui kekuatannya. Begitu juga kekuatan dalam diri, tidak akan berguna jika tidak bisa memanfaatkan atau
menggunakannya.

Selanjutnya, bagaimana dengan kelemahan kita? Apa tidak perlu ditutupi? Jangan terlalu buang waktu mengurusi kelemahan. Kalau kelemahan itu merugikan, cukup ditutup sedikit saja, yang penting bisa jalan terus. Contoh: bintang basket Shaquille O’Neal terkenal sangat dominan mencetak nilai namun tidak bisa mencetak lemparan bebas. Akhirnya kelemahan ini dimanfaatkan oleh lawan sampai merugikan timnya. Shaquille O’Neal pun berlatih memperbaiki lemparan bebasnya, tapi hanya sedikit saja supaya tidak jelek-jelek amat dan dimanfaatkan lawan. Dia tidak berlatih menjadi pemain dengan lemparan bebas terbaik di liga basket NBA. Namun dia tetap berlatih mengeksploitasi kekuatannya dalam mencetak nilai.

Ada beberapa cara lain juga untuk mengatasi kelemahan. Ciptakan support system. Seperti kalau kita pelupa, maka kita gunakan kalendar di handphone sebagai reminder acara2 penting. Lalu bisa juga kita mengeksploitasi kekuatan sedemikian rupa sampai membuat kelemahan kita menjadi tidak signifikan. Cara lain yang paling ok menurut saya adalah mencari partner untuk saling menutupi kelemahan dan saling mengisi. Cara terakhir adalah berhenti melakukan sesuatu yang tergantung pada hal yang justru kita lemah. Artinya sesuatu itu tidak cocok untuk kita.

Lalu bagaimana caranya ?

Ya dengan , menantang diri anda sendiri.
Hanya inilah cara untuk menyelam kedalam sumber kekuatan batin. Misalnya anda melakukan suatu kegiatan. Dan ketika menghadapi masalah, anda bisa mengubahnya menjadi petualangan yang kreatif. Anda bisa menikmati kesulitan anda jika anda mampu mengubahnya secara bijak menjadi tantangan yang menarik.

Suatu penelitian di Wall Street, membuktikan nilai dari pekerjaan/ kegiatan yang dikerjakan dengan rasa senang. Salah satu kesimpulan dari penelitian itu menyebutkan bahwa bekerja dengan riang dapat meningkatkan keuntungan finansial 75% lebih.
Seorang pedagan teh yang terkenal Thomas Lipton, bahkan memajang semboyan : “ Bekerja adalah kesenanganku”.

Tantangan akan menumbuhkan kepercayaan diri . Sedangkan kepercayaan diri menumbuhkan kesuksesan.

Tingkat keberhasilan seseorang ditentukan oleh kemampuannya memusatkan kekuatan mental dalam mencapai sasaran. Dengan demikian , kita mengubah masa depan dengan terlebih dahulu mengubah mentalitas dan menjernihkan pikiran kita.

Sumber : Secrets of mental Magic , Vernon Howard, Dr. David Seabury dalam The Art Living Without Tension , StrengthsFinder 2.0, dll

Pernyataan Habib Rizieq tentang Lucifer dan Iluminati

Pernyataan Habib Rizieq tentang Lucifer dan Iluminati





 

Ditolaknya konser lagu Lady Gaga beberapa waktu lalu oleh FPI sedikit mengejutkan saya. Bukan karena faktor dari Lady Gaga, tapi lebih karena faktor si pembuat statemen, yaitu Habib Rizieq. Habib Rizieq berkata ke media nasional bahwa Lady Gaga adalah seorang Iluminatus (anggota Iluminati) yang memuja Lucifer. Bagi saya pribadi, pernyataan Habib Rizieq sudah kelewat batas. Dia adalah simbol kepemimpinan Islam tapi kata-katanya sudah mencampuradukkan antara kepercayaan Nasrani dengan Islam dan tidak menggambarkan kecerdasan samasekali. Mungkin Habib Rizieq “lupa” bahwa dalam Islam tidak dikenal dengan istilah teori konspirasi Iluminati, Freemason atau perangkat-perangkat yang otomatis mengikutinya seperti The New World Order atau Lucifer (sebagai sosok yang dipuja mereka).

Sebagai seorang role model bagi muslim, seharusnya Habib Rizieq lebih berhati-hati dalam berbicara dan turut mempertimbangkan ekses dari statementnya yang bias. Dan bagi saya pribadi, statement Habib Rizieq selain mencampuradukkan kepercayaan agama tapi juga kelewat konyol karena membahas Iluminati dan Freemason serta Lucifer yang tidak bisa dibuktikan secara empiris. Berikut adalah penjelasannya.

Lucifer

Secara tradisional, makna Lucifer merujuk iblis atau setan, terutama sosok yang disebut dengan fallen angel atau malaikat jatuh. Dalam cerita kristiani (benarkan kalau saya salah), Lucifer adalah ex-malaikat yang terjatuh (diusir) dari surga karena berusaha melawan Tuhan dan kemudian dikirim ke Neraka.
Dari sedikit deskripsi dapat kita lihat bahwa Lucifer adalah cerita dalam religiositas Kristen, yang tidak ada sangkut pautnya dengan Islam samasekali. Seumur hidup saya membaca/mendengarkan terjemahan Quran dan puluhan atau bahkan ratusan hadist, belum pernah saya menemukan ayat atau kalimat yang menggambarkan konsep Lucifer (Benarkan saya jika salah). Kalaupun kita mencari-cari kejadian yang mirip dengan apa yang dialami Lucifer adalah pengusiran Iblis karena tidak mau tunduk di depan Adam, itupun dengan pemahaman bahwa Iblis memang sudah iblis sejak awal, bukan Malaikat. Dengan dasar pemahaman yang saya miliki ini, maka saya untuk sementara berhipotesis bahwa Habib Rizieq sudah mencampuradukkan antara teologi Kristen dan Islam.

Freemason & Iluminati

Secara sederhana, Freemason adalah sebuah organisasi sekular. Maksudnya, Freemason adalah sebuah organisasi yang terdiri dari kaum sekular diseluruh dunia dan mempunyai latar belakang reliji yang beragam (Jasper,JE. 1956: Spiritiual Values of Freemasonry, ’S-Gravenhage). Selain itu dalam acara Discovery Channel beberapa minggu silam, saya menyaksikan banyak pengakuan anggota Freemason yang berasal dari Agama Islam, Kristen dan Yahudi, yang mana hal ini diluar dugaan saya pada awalnya.
Tujuan organisasi Freemason adalah menciptakan pola pikir sekularisme, yakni bentuk pemikiran yang memisahkan antara ajaran agama dengan hukum formal negara. Hal ini dikarenakan faktor traumatik yang dialami ilmuwan-ilmuwan Eropa pada masa kekuasaan gereja dahulu, dimana ilmu pengetahuan dikekang sedemikian rupa dan ilmuwannya pun dihukum mati karena dianggap melanggar ketentuan gereja (seperti Galileo dan Nicolaus Copernicus). Pengekangan ekstrim gereja terhadap sains inilah yang membuat kaum ilmuwan bersatu dan menciptakan organisasi Freemason yang menyuarakan kebebasan berpikir ilmiah dari kekangan dogma agama.

Iluminati kurang lebih sama seperti Freemason, yang berbeda hanya bahwa Iluminati didirikan ditahun yang lebih modern (1776). Baik Iluminati atau Freemason adalah sama-sama gerakan kebebasan yang merupakan reaksi dari dogma kaku kekuatan gereja di Eropa. Singkatnya, Iluminati dan Freemason adalah organisasi reaktif yang diakibatkan dominasi Gereja pada masa itu. Iluminati dan Freemason tidak punya hubungan samasekali dengan sihir apalagi agama pagan atau pemujaan terhadap iblis/setan. Ilumati dan Freemason adalah gerakan sekuler itu sendiri, yang kalau kita bicara mengenai penguasaan dunia, 99% negara di dunia sudah menganut prinsip sekularisme (termasuk peraturan perundang-undangan di Indonesia).
Lalu apa yang menyebabkan cerita-cerita bombastis seputar Iluminati dan Freemason begitu bergumuruh, bahkan dalam komunitas Non-kristiani sekalipun? Jawabannya sederhana: karena sebuah buku fiksi! The Illuminatus Trilogy karya Robert Shea. Penulis inilah yang membawa isu seputar Iluminati dan Freemason yang sebenarnya urusan dalam kegiatan religiositas historis Kristen menjadi terbawa ke dalam wacana-wacana yang terkait dengan kegiatan religiositas Islam. Penulis ini juga yang bertanggungjawab atas munculnya teori-teori konspirasi hiperbolik mengenai The New World Order seperti dalam film-film anime Jepang.

Secara tidak sadar Habib Rizieq mungkin sudah termakan cerita-cerita hiperbolik ini, mengaitkan Freemason dan Iluminati sebagai penyembah Iblis, penyembah Dajjal dan lain sebagainya. Dari segi ilmu sejarah pun tidak ada hubungan antara gerakan Iluminati dengan peradaban Islam samasekali. Definisi Iluminati itu sendiri merujuk pada gerakan pembaharuan di Eropa yang berusaha memisahkan urusan agama (kristen) dengan urusan negara, jadi sama sekali tidak ada unsur unsur Islam di dalamnya.

The New World Order

Penjelasan untuk istilah The New World Order (TNWO) ini mungkin tidak terdengar asing ditelinga kita. TNWO adalah sebuah rencana untuk mempersatukan dunia dibawah satu rezim, setidak-tidaknya itu yang dikatakan oleh pendukung teori TNWO. Dalam bayangan orang awam, konspirasi untuk mempersatukan dunia ini adalah dengan gerakan-gerakan mistis super-rahasia dengan bantuan iblis (atau Lucifer) dan memanfaatkan armada hard-power (militer). Faktanya, gerakan ini sifatnya jauh lebih rahasia ketimbang bayangan kita namun pada saat yang sama format dari komunitas gerakan ini samasekali tidak rahasia dan bahkan bagi anda bekerja di deplu, ini adalah makanan anda sehari-hari. Gerakan ini, secara ilmiah, tidak ada hubungannya dengan Lucifer atau makhluk gaib lainnya. Gerakan TNWO murni gerakan politik yang berorientasi pada kekuasaan dan kekuatan ekonomi politik. Bila saya sederhanakan, TNWO adalah sebuah gerakan untuk mempersatukan dunia dibawah suatu rezim super.

Terdengar berlebihan? Kalau kita menelan penjelasan itu secara mentah-mentah dan menggunakan referensi non-ilmiah mungkin kita melihat ini hanya omong kosong belaka. Tapi mari kita gunakan disiplin ilmu politik Internasional untuk mengetahui apakah kegiatan semacam ini memang benar-benar ada di dunia atau hanya khayalan para penulis novel saja. Untuk menghubungkan antara  TNWO dengan politik Internasional, maka disini saya akan menggunakan penjelasan dalam Teori Globalisasi.

Globalisasi & Unipolarisme

Sesuai dengan tulisan saya sebelum-sebelumnya, maka postulat globalisasi adalah suatu proses yang bertujuan untuk menyeragamkan. Penyeragaman ini terjadi di berbagai sektor, salah satunya adalah sospol. Gejala penyeragaman politik terlihat salah satunya dari kampanye AS dalam menyebarkan faham demokrasi. Sedangkan penyeragaman masalah sosial adalah salah satunya melalui kampanye HAM.
Karena sifatnya yang merupakan sebuah proses (proses menyeragamkan), maka globalisasi butuh pemimpin atau kutub. Pertanyaannya adalah siapa kutubnya? Dengan melihat konstelasi polarisme pasca perang dunia II, maka dapat kita sederhanakan bahwa ada 2 periode negara yang mendominasi: Periode satu adalah perebutan hagemoni (bipolarisme) antara Uni Soviet dengan AS dari 1945 - 1990 dan periode kedua adalah masa unipolarisme AS dari 1990 hingga hari ini.

Dalam tulisan ini saya hanya akan membahas unipolarisme global yang berkiblat kepada AS sesuai dengan banyak teori konspirasi yang dengar di lingkungan saya. Perlu dipahami bahwa muara dari proses globalisasi adalah globalisasi ekonomi (J. Bhagwati) yang kemudian memberikan efek ke bidang lain seperti politik dan militer.

Pada dasarnya, hasrat terdalam sekaligus paling sederhana AS adalah “menguasai dunia”. Menguasai dunia disini tidak selalu diterjemahkan menguasai dengan tentara atau kelompok-kelompok tempur seperti dalam film science-fiction Hollywood. Menguasai dunia bisa diartikan sebagai sebuah keadaan dimana AS mampu mengontrol pemerintahan negara-negara lain melalui politik transaksional, soft-power ataupun hard-power. Contohnya dapat kita lihat di negara kita sendiri dimana telah terjadi politik transaksional antara rezim SBY denganp pemerintah AS. Rezim SBY yang banyak dibiayai oleh pemerintah AS (silahkan cek di Wikileaks dan reaksi pemerintah AS sendiri yang tidak pernah menyangkalnya) mempunyai beban “balas budi” kepada AS, salah satunya adalah dengan membiarkan SDA Indonesia untuk habis-habisan di eksploitasi oleh korporasi AS. Kondisi ini sudah termasuk ke dalam tujuan AS untuk menguasai dunia, melalui eksploitasi SDA.

Mengapa harus AS yang menjadi kutub unipolarisme? Kenapa tidak Jepang, Jerman atau Italia? Hal ini menyangkut erat dengan fenomenon pasca perang dunia II, yaitu bangkrutnya negara-negara Eropa. Bangkrutnya negara Eropa pasca PD II waktu itu dilihat AS sebagai ancaman terhadap demokrasi karena posisi Geopolitik Uni Soviet yang dekat dengan Eropa, sehingga dikhawatirkan faham komunisme akan dengan mudah menjalar hingga Eropa bagian barat. Dari sinilah Amerika mulai melakukan kebijakan ekonomi internasionalnya dengan mengadakan program Marshall Plan. Marshall Plan yang utamanya adalah pinjaman lunak kepada negara-negara Eropa (Jerman, Italia, Belanda, Prancis, Inggris dan lain-lain) merupakan proses globalisasi politik pertama AS pasca PD II: Negara-negara penerima dana Marshall Plan wajib mengimplementasikan sistem politik demokrasi dan menolak masuknya komunisme.

Politik ini tentu saja memperkokoh pengaruh AS di wilayah Eropa, yang pada hari ini dapat kita lihat hasilnya. Tidak ada negara lain di dunia pada masa itu selain AS yang memberikan kredit masif kepada banyak negara sekaligus (bahkan Soviet pun tidak sebesar itu), sehingga dapat dipahami kenapa AS kini di “vonis” sebagai aktor globalisasi.

Apa hubungan TNWO dengan Globalisasi? Sangat jelas bahwa terdapat persamaan tujuan dari kedua teori tersebut. TNWO: Mengintegrasikan (menyatukan) sekaligus menyeragamkan dunia (Jesper, JE); Globalisasi: Mengintegrasikan dan juga menyeragamkan dunia (Gill, S). Bedanya hanya di Istilah: TNWO populer dikalangan awam dan pemuja teori konspirasi; sedangkan Globalisasi populer dikalangan akademisi sosial politik. Bagi akademisi sospol, istilah TNWO terdengar begitu konyol dan cenderung diabaikan karena sifatnya yang lebih acak dan tidak ilmiah (pemujaan setan, Dajjal dll), termasuk bagi saya. Sebaliknya, Globalisasi dilihat sebagai sebuah isu yang senantiasa diperdalam karena inilah agenda raksasa negara superpower seperti AS terhadap negara-negara di dunia tanpa terkecuali.

Pada tingkat yang lebih kompleks globalisasi juga dilihat sebagai sebuah input dalam kebijakan politik dalam negeri sebuah negara.
Kenapa saya bahas mengenai The New World Order dalam bahasan mengenai Habib Rizieq dan ucapannya ini? Karena secara tidak langsung saat Habib Rizieq bicara mengenai iluminati, saya terpaksa berasumsi (karena anggapan saya HR adalah orang cerdas berwawasan luas) bahwa dia juga telah mempertimbangkan bersatunya dunia dibawah satu rezim atau kekuatan tertentu.

Dalam teori konspirasi modern, Iluminati adalah organisasi super rahasia yang bertujuan menyatukan negara-negara di seluruh dunia. Teori itulah yang menjadi dasar keyakinan saya bahwa Habib Rizieq juga pastinya sudah memikirkan mengenai TNWO.

Jadi kesimpulannya tetap berada di tangan anda, apakah pernyataan Habib Rizieq ini adalah pernyataan yang cerdas sekaligus benar atau pernyataan dangkal yang benar? Atau justru mungkin pernyataannya itu salah total? Kesimpulannya ada di dalam pikiran anda para pembaca, tugas saya dalam tulisan ini hanya menyambaikan sebagian fakta-faktanya.

Ref:
Harun Yahya: Global Freemasonry, The Masonic Philosophy,Unveiled and Refuted,
- Layiktez, C (2008): Freemasonry in the Islamic world, The Masonic Magazine Grand Lodge of Turkey
Sumber tulisan: http://www.dagelanwayang.com/

Meniti Jembatan Iman: Ruang Imajinasi, Pengharapan, dan Praktis Hidup di Tengah Arus Zaman

  Meniti Jembatan Iman: Ruang Imajinasi, Pengharapan, dan Praktis Hidup di Tengah Arus Zaman   Pengantar Agama dan keyakinan bukan sek...