Minggu, 17 Juni 2012

NI KOMANG ARIANI http://www.blogger.com/profile/11563385875159098393

Blog saya




<><><>Tentang saya

Jenis KelaminWanita
IndustriKomunikasi atau Media
JabatanPenulis dan Guru
LokasiTangerang, Banten, Indonesia
PendahuluanNi Komang Ariani was born in Bali, 19 May 1978, graduated from Airlangga University. In early 2003, she began work as radio news announcer on Global FM Bali, and in October that year, moved to Jakarta to work as a broadcaster and journalist with KBR68H until March 2006. As well as writing, Komang also works as an Social Studies Teacher in Highscope Indonesia. Her short stories have appeared in the newspapers Kompas, Suara Pembaruan, Jurnal Nasional, Sindo and Bali Post, and in the magazines Chic, Kartini and Gadis. Her novella, Nyanyi Sunyi Celah Tebing, won first prize in the 2007 Femina magazine serial story contest. Her other awards include a commendation in short story competition on the theme of the environment organized by the tabloid Parle, for her short story Kemana Iyah Sewaktu Banjir. Her published work includes the compilation of short stories "Lidah" published by Pustaka Pergaulan, June 2008. In 2009, her short story "Senja di Pelupuk Mata" was chosen as one of 14 Kompas Daily Short Stories Selection. In 2010, her first novel, Senjakala was published.In 2011, she was invited to Ubud Writers and Readers Festival




MinatShort Story
Film FavoritCarlito'way
Musik FavoritInstrumental
Buku FavoritInsiden Anjing di Tengah Malam

MEMPERSIAPKAN GURU MASA DEPAN

 
http://www.pontianakpost.com/index.php?mib=berita.detail&id=111087

SEMUA orang di dunia ini, tidak terkecuali mereka yang tidak terpelajar dan rakyat biasa (wong cilik), bukan hanya tidak mau, melainkan juga tidak rela putra-putri mereka dididik oleh guru yang tidak bekualitas, tidak profesional dan tidak bermartabat karena dampak buruknya sangat jelas, baik pada kompetensi kognitif (akal) apalagi pada kompetensi kepribadian atau karakter (budi) peserta didik dan diwariskan secara permanen kepada generasi berikutnya; diwariskan kepada anaknya, cucunya, dan generasi yang lahir kemudian.

Penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan dan kemampuan guru memiliki dampak yang signifikan pada kinerja anak didiknya. Penelitian di Tennessee memperkirakan lebih dari 50 persen dari kesenjangan pencapaian selama 3 tahun antara dua kelompok berusia antara 8 dan 11 tahun disebabkan karena kelompok yang satu diajar oleh guru berkemampuan tinggi, sementara kelompok lain diajar oleh guru berkemampuan rendah. Hasilnya, pada usia 11 tahun, kelompok siswa yang pernah diajar oleh guru berkemampuan tinggi meraih nilai di persentil ke-93, sementara kelompok siswa yang pernah diajar oleh guru berkemampuan rendah meraih nilai di persentil ke-37. Belum lagi dampak ikutannya, yakni kecendrungan terjadi proses ketidakberdayaan yang dipelajari dan diwariskan antara generasi.

Di negeri ini, ditemukan kualifikasi akademik guru masih lebih rendah dari yang dipersyaratkan undang-undang, yakni S1/D-IV. Demikian pula kompetensinya. Terdapat kekhawatiran tentang kompetensi atau pengetahuan guru pada mata pelajaran, dan kompetensi pedagogik yang masih dirasakan kurang dan tidak fokus. Selain itu, motivasi dan ethos kerja guru juga menimbulkan kekhawatiran yang serius, faktanya antara lain masih tingginya tingkat ketidakhadiran (mangkir) guru dari tugas mengajarnya.


Upaya meningkatkan mutu guru telah banyak dilakukan dan terus dilakukan/ditingkatkan, seperti meningkatkan kualifikasi, sertifikasi pendidik, dan kompetensi. Muara dari semua pemberdayaan guru tersebut adalah mewujudkan guru Indonesia menjadi manusia pembelajar.  Tidak kalah seriusnya pemerintah dan pemangku kepentingan lain membicarakan profesi guru sekarang ini, terutama berkaitan dengan mempersiapkan guru masa depan melalui pendidikan guru yang diselenggarakaan oleh Lembaga Pendidikan

Tenaga Kependidikan (LPTK). Akhir-akhir ini penulis mengamati banyak negara melakukan seminar internasional bersama dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta menyelenggarakan berkali-kali rapat koordinasi yang penulis ikuti. Seminar dan rakor tersebut membicarakan tema yang sama yang profesi guru, khususnya berkaitan dengan pendidikan dan pelatihan guru.

Penulis mengapresiasi kebijakan pemerintah terhadap pendidikaan dan pelatihan profesi guru tersebut. Beberapa negara maju (Finlandia dan Jepang) melakukan hal yang sama dalam memajukan bangsanya, dan mereka sangat yakin bahwa pendidikan dan pelatihan guru adalah sumber kekuatan bagi kemajuan bangsanya.
Terkait judul opini “Mempersiapan Guru Masa Depan” di Indonesia, sepengetahuan penulis beberapa kebijakan akan dilakukan oleh pemerintah antara lain; (1)

Penataan kelembagaan Pendidikan Guru. LPTK Ideal di masa depan mempersyaratkan LPTK Berasrama, dimana fungsi asrama bukan hanya untuk tidur, melainkan berfungsi sebagai tempat pengasuhan dan pembentukan karakter mahasiswa calon pendidik dan tenaga kependidikan; (2) Selain berasrama, LPTK harus memiliki labschool. Labschool LPTK sering kali dilematis;

(a) LPTK sebagai sebuah lembaga pendidikan tinggi tidak berkewenangan mendirikan sekolah, jalan keluarnya harus dibentuk sebuah yayasan agar ia dapat menyelenggarakan labschool; (b) Labschool sering kali digunakan sebagai tempat Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) mahasiswa, sementara orang tua/wali murid tidak mau putra-putri mereka dijadikan sasaran atau kelinci percobaan bagi mahasiswa praktek.

Jika labschool tidak dikelola secara professional, maka akan menimbulkan konflik;  (3) Rekrutmen atau seleksi mahasiswa calon guru semakin diperketat dan berlapis terutama untuk merekam profil kepribadian calon pendidik dan tenaga kependidikan dan jumlah mahasiswa baru sangat terbatas sesuai kebutuhn guru. Pemerintah melalui Permendikbud akan melakukan intervensi mengenai jumlah mahasiswa di setiap program studi atau melarang menerima mahasiswa baru jika sebuah program studi tidak memenuhi persyaratan minimal yang harus ditaatinya. Berdampak pada daya saing mahasiswa calon guru yang semakin tinggi, hanya siswa terbaik lulusan sekolah menengah yang bisa menjadi mahasiswa calon guru di LPTK.

Saat ini saja sudah terlihat jelas lulusan sekolah menengah terbaik di negeri ini berebut masuk ke LPTK, peluang lulus 1 berbanding 7, jauh lebih ketat dibanding mereka yang berminat meneruskan pendidikannya di program studi lain. Berdasarkan kondisi LPTK saat ini, maka mulai tahun depan pemerintah akan mengendalikan jumlah mahasiswa baru di LPTK, yakni tidak boleh melebihi 40.000 mahasiswa baru setiap tahun sesuai kebutuhan, terutama untuk mengganti formasi guru yang  pensiun dan secara nasional jumlah guru adalah cukup, namun kenyatakannya sekarang ini lebih dari 300.000 orang mahasiswa baru mendaftar di LPTK setiap tahun, berarti berlebihan.

Oleh karena, semua LPTK diingatkan agar syahwat menerima mahasiswa baru tanpa perhitungan yang matang harus disadari betul oleh semua LPTK, dan LPTK yang masih melakukan praktek seperti itu segera bertobat. Sebuah metafora, LPTK ibarat penjahit atau konveksi yang menerima pesanan yang jelas pembelinya atau pasarnya, bukan penjahit loakan yang memproduksi pakaian sebanyak-banyaknya tanpa perhitungan, atau dijahit oleh mereka yang sedang belajar menjahit; (5) Kurikulum LPTK harus segera disempurnakan berdasarkan Pedoman Pengembangan Kurikulum LPTK yang telah ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi,  Mei 2012 lalu;

(6) Proses pembelajaran di LPTK adalah mengimplementasikan model pembelajaran inovatif; (7)  Setelah menyelesaikaan program sarjana, mahasiswa LPTK yang ingin menjadi guru kepadanya diwajibkan mengikuti program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Pra Jabatan. Bukti mereka telah mengikuti program PPG Pra Jabatan tersebut adalah sertifikat pendidik yang akan digunakan sebagai satu persyaratan penting menjadi guru, tanpa sertifikat pendidik tersebut, tidak akan diterima menjadi guru. Permasalahannya saat ini tidak semua LPTK memperoleh izin penyelenggaraan PPG;

(7) Bagi guru pemula, diwajibkan mengikuti program induksi berbasis sekolah guna memberikan pengalaman yang lebih luas mengenai profesi guru yang akan dijalaninya, terutama di sekolah-sekolah di daerah 3T (Tertinggal, Terpencil dan Terluar); dan (8) Seleksi calon guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) dimasa yang akan datang akan diperketat dan kompetitis. Peminat CPNS Guru direncanakan setidaknya mengikuti dua tahapan, yakni; tahap pertama; menguji kelayakan administrasi, setidaknya guna mengetahui legalitas ijasahnya dan menguji kompetensi dasarnya. Setelah dinyatakan lulus seleksi tahap pertama, mereka diberi kesempatan untuk mengikuti seleksi CPNS Guru bersama CPNS Non Guru lainnya (Penulis, Dosen FKIP Untan, Direktur Aswandi Foundation).



EKONOMI  
More
  • METROPOLIS  
    More
  • AGAMA  
    More
  • HIBURAN  
    More
  • KALBAR  
    More
  • OLAHRAGA  
    More
  • POLITIK  
    More
  • RUBRIK  
    More
  • TEKNOLOGI  
    More
  • UTAMA  
  • Ketika Rokok Menjadi Bahan Pokok | Kaget Net

    Ketika Rokok Menjadi Bahan Pokok | Kaget Net



    Seseorang rela melewatkan makan siang demi sebungkus rokok, membakar kertas hanya dalam waktu kurang dari sehari. Kenyataan besar bahwa negara ini memproduksi asap dalam jumlah besar, menghasilkan pajak dari daun tembakau.
    Saya sendiri salah satu pelaku yang rela meninggalkan makan siang demi sebungkus rokok, menyedihkan…. ketika asap-asap itu memenuhi paru-paru. Apa yang ada difikiran perokok ketika mereka melewatkan bahan pokok demi membeli penyakit? Dalam fikiran saya,…. tak ada beban!

    Rokok, Penghasil Pajak Yang Perlu Diperhitungkan

    Kenyataannya memang demikian, berapa jumlah penduduk kita yang berusia dewasa? Bisa dikatakan setengah dari 200 juta penduduk negeri ini berusia dewasa yang sebagian besar mengkonsumsi rokok layaknya kebutuhan pokok. Dan ini belum termasuk perokok berusia dini,… bisa bayangkan berapa banyak hasil cukai yang diperoleh dari daun tembakau?

    Setidaknya, undang undang rokok diperketat, larangan-larangan merokok dalam lingkup aturan yang tegas, bahkan untuk anak-anak dan pelajar harus benar-benar diatur dalam undang-undang. Tapi sepertinya semua itu hanya angan-angan perokok seperti saya, yang bebas membakar sebatang rokok dimanapun berada.
    Atau mungkin ‘mereka’ berfikir jika aturan itu digalakkan, konsumsi rokok berkurang, pemasukan pajak drastis menurun. Dan kenyataannya, bahwa negeri ini memang menjadi target penjualan rokok dalam skala besar, hampir tak ada aturan didalamnya.

    Sehari, Sebungkus Rokok

    Sehari sebungkus rokok, jumlah minimal perokok berat dewasa yang setara dengan sebungkus nasi berbobot cukup gizi, bahkan bisa ditambah dengan satu sachet susu sebagai minuman sehat. Untuk bergerak menuju perubahan itu, cukup sulit. Rokok seperti melilit sekujur tubuh, dan lebih baik saya dililit hutang!
    Satu kenyataan lagi, bahwa pecandu rokok sulit meninggalkan kebiasaan membakar tembakau. Salah satu alasannya adalah ‘lingkungan’ yang sangat berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, memang benar jika kalian berniat meninggalkan rokok, maka jauhi perokok atau mereka akan menawarkanmu sebatang rokok. Ini kenyataan…. mengisolasi diri dan membuat karantina pribadi tanpa harus terkurung seperti di ruang tahanan.

    Saya tak bertanya pada kalian, tapi bertanya pada diri sendiri,… ‘Sanggupkah mengganti sebungkus rokok dengan sebatang cokelat?’

    http://kaget.net/gaya-hidup/rokok-bahan-pokok.html



    Advertisement

    http://wayangprabu.com/audio-mp3-pagelaran-wayang-berbagai-dalang/surakarta


    Surakarta


    Dalang-dalang yang bertempat tinggal Surakarta dan sekitarnya dan cenderung membawakan gagrak Surakarta:


    MONGGO SILAHKN KLIK AJA DAN DOWNLOAD, nikmati pagelarannya.

    Jumat, 15 Juni 2012

    100 dalang wayang kulit pentas serentak dalam ulang tahun Kab.Klaten ke-208 tahun

     
     
     
     
    HUT Klaten Ke 208th, 100 Dalang Wayang Kulit Pentas Serentak - Dalam rangka memeriahkan Hari jadi Kota Klaten yang ke 208th, pemerintah Kota Klaten akan menyelenggarakan pentas seni wayang kulit secara serentak di beberapa titik yang di ikuti sebanyak kurang lebih 100 dalang. Pertunjukan spektakuler 100 dalang main serentak ini merupakan pertama kalinya diadakan di Kota Klaten demi memeriahkan HUT Kota Klaten yang ke 208th. 100 Dalang Wayang Kulit Pentas Serentak ini rencananya akan berlangsung pada tanggal 7 Juli 2012. Bagi pencinta kesenian wayang kulit ini adalah kesempatan yang baik karena bisa menikmati pertunjukan dalang kesayangannya. Tetapi juga akan membingungkan karena banyaknya pagelaran wayang kulit yang main serentak pasti bingung mau melihat pagelaran pentas wayang kulit yang mana benar bukan? pagelaran wayang kulit yang di ikuti oleh lebih 100 dalang dan main serentak ini terlihat begitu meriah, tetapi berapa ya dana yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kota Klaten untuk menyelenggarakan pentas wayang kulit ini.
     
     

    Untuk memperingati HUT Kota Klaten yang ke 208th sepertinya Bupati Klaten Sunarna ingin memanjakan warga Kabupaten Klaten dengan menyelenggarakan pentas kesenian budaya 100 Dalang Wayang Kulit Pentas Serentak. “Gelar budaya spektakuler ini baru kali pertama di gelar di  Kota Klaten,” kata Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Sugeng Haryanto kepada Media Indonesia, Kamis (17/5). Dikarenakan pada tanggal 19 Juli sudah memasuki bulan Ramadhan, semua acara diharapkan sudah selesai satu hari sebelum memasuki bulan puasa. Dengan demikian kemungkinan puncak acara kegiatan diajukan dari tanggal hari jadi Kota Klaten yang jatuh setiap tanggal 28 Juli.
     
     


    *Sumber:http://www.mediaindonesia.com/read/2012/05/05/320313/289/101/Gebyar-100-Dalang-Ramaikan-HUT-Klaten 
    Dan informasi pak dalang waktu pentas wayang kulit di desa Mireng, Trucuk tanggal 9 Juni 2012

    Demikianlah sekedar info Kota Klaten dari Mas GunKlaten Berbagi.


    Anda sedang membaca artikel tentang HUT Klaten Ke 208th, 100 Dalang Wayang Kulit Pentas Serentak dan anda bisa menemukan artikel HUT Klaten Ke 208th, 100 Dalang Wayang Kulit Pentas Serentak ini dengan url http://gunklaten.blogspot.com/2012/06/hut-klaten-ke-208th-100-dalang-wayang.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel HUT Klaten Ke 208th, 100 Dalang Wayang Kulit Pentas Serentak ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link HUT Klaten Ke 208th, 100 Dalang Wayang Kulit Pentas Serentak sumbernya. Salam Mas GunKlaten Berbagi


    Baca lebih lanjut / Read more: http://gunklaten.blogspot.com/2012/06/hut-klaten-ke-208th-100-dalang-wayang.html#ixzz1xqWdmUeU


    Baca lebih lanjut / Read more: http://gunklaten.blogspot.com/2012/06/hut-klaten-ke-208th-100-dalang-wayang.html#ixzz1xqWSiFpA

    Kamis, 14 Juni 2012

    Din: Muhammadiyah Bukan Kelompok Islam Minimalis, Tetapi Proporsionalis

    Din: Muhammadiyah Bukan Kelompok Islam Minimalis, Tetapi Proporsionalis



    Kuala Lumpur- Muhammadiyah bukanlah kelompok Islam minimalis, tetapi Muhammadiyah ialah kelompok Islam proporsionalis. Maksudnya ialah cara ibadah Muhammadiyah itu sesuai dengan proporsinya yang telah diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah saw., termasuk dalam proporsional di sini adalah adanya pemaknaan dan penghayatan yang mendalam ketika melakukan ibadah ritual. Ucapan salam dalam sholat, dalam pandangannya bukanlah akhir dari ibadah sholat, karena setelah sholat seseorang dituntut untuk mengaktualisasikan nilai-nilai sholat tersebut dalam realitas kehidupannya.
    Hal tersebut diungkapkan ketua umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin dalam Tabligh Akbar di Gedung Kelab Sultan Sulaiman, Kg. Baru, Bandar Kuala Lumpur, Rabu (20/04/2011) Berdasarkan pola pemikiran diatas menurut Din, Muhammadiyah tidak pernah lelah untuk mendorong umat Islam, khususnya warga Muhammadiyah agar melembagakan amal saleh yang fungsional dan solutif, sebagai pancaran iman yang sempurna dan untuk merefleksikan ajaran Islam yang memberikan rahmat atau kasih sayang bagi seluruh alam semesta (rahmatan lil 'alamin).
    Dalam ceramahnya, Ketua Umum PP Muhammadiyah juga menyinggung masalah idiologi gerakan dakwah Muhammadiyah. Selain dikenal sebagai gerakan tajdid (Pembaharuan), sejak awal pendirianaya Muhammadiyah juga dikenal sebagai gerakan tajdid (pemurnian atau purifikasi). Di Muhammadiyah, gerakan tajdid ini meliputi pemurnian dalam masalah akidah dan ibadah mahdhoh. Sehingga dengan gerakan tajdid ini, Muhammadiyah disebut-sebut sebagai gerakan puritan. Sedangkan tajdid (pembaharuan) hanya berlaku dalam aspek ibadah mu'amalah dunyawiyah saja.
    Oleh sebab itu, Muhammadiyah harus senantiasa menjaga dan memegang teguh keseimbangan (tawazun) antara gerakan tajdid (pemurnian akidah dan ibadah mahdhoh) dan tajdid dalam bidang ibadah mu'amalah dunyawiyah, tegasnya.
    Dari gerakan purifikasi dan tajdid tersebut, maka terbentuklah rasionalisasi yang ditandai dengan aksi nyata atau amal usaha yang memberikan manfaat kepada masyarakat luas, seperti amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi dan sebagainya. Dan amal usaha ini harus dikelola secara profesional dan modern. Dari sini para pengamat, baik dari dalam atau luar negeri menilai, bahwa Muhammadiyah adadah sebagai organisasi Islam modern. "Muhammadiyah the largest Modernist Islam Organization", Tuturnya.
    Ketika dihadapkan dengan perbedaan antara golongan Islam tradisional dan kelompok Islam garis keras, maka Muhammadiyah mengambil posisi yang disebut wasathiyah (moderasi atau posisi tengah) dengan mengedepankan keterbukaan, dialog dan komunikasi dengan semua pihak. Tandasnya.
    Di penghujung ceramahnya, pak Din menyampaikan beberapa amanat dan harapannya kepada pengurus PCIM dan warga Muhammadiyah di Kuala Lumpur, di antaranya adalah agar PCIM mampu mendirikan lembaga amal usaha Muhammadiyah, paling tidak lembaga amal usaha di sektor pendidikan.

    Rabu, 13 Juni 2012

    Menguji Daya Tarik Partai


    Menguji Daya Tarik Partai PDF Print


    Thursday, 14 June 2012
    Diberitakan, Partai Nasional Demokrat (Nas- Dem) akan membuat strategi terobosan dalam pencalegan Pemilu 2014 yakni dengan melarang pemungutan biaya kepada setiap caleg. Partai ini juga akan merekrut tokohtokoh potensial dan membantu modal pembiayaannya.

    Strategi demikian merupakan upaya NasDem mengerucutkan daya tarik. Inilah salah satu potret bagaimana partai politik bersiap menuju 2014. Bagi partai baru seperti NasDem, targetnya, ia harus eksis,punya pendukung jelas, dan terkuantifikasi secara nyata pada 2014. Pemilu akan menguji seberapa jauh kekuatan nyata NasDem sebagai partai. Sementara bagi partai lama, targetnya tidak hanya eksis, tetapi juga survive, dalam arti mereka berjuang untuk tetap bertahan dan meningkatkan jumlah kursinya di parlemen.

    Dalam konteks Indonesia, ada duahal yang selalu mengemuka dalam daya tarik partai-partai. Pertama,tokoh.Kedua,kegiatan partai.Bagi partai baru yang belum kuat institusionalisasi partainya, tokoh menjadi sangat penting.Kultur politik Indonesia masih belum lepas dari patrimonialisme. Tokoh, karenanya,bahkan,dalam kondisi tertentu, dipandang lebih penting ketimbang kendaraan pengusungnya.

    Bagi partai lama,tokoh juga penting, tetapi yang tak kalah pentingnya,dan ini cukup mendasar, bagaimana kelembagaan partainya efektif. Setidaknya, partai-partai itu sistemnya sudah jalan,identitas kepartaiannya sudah tertanam, dan ia sudah punya citra tersendiri.

    Partai-partai lama dan baru sekarang lebih bercorak “catchall parties”, bukan partai segmental seperti yang beridentitas “agama”. Pasar politik “catch-all” atau meminjam istilah Ichlasul Amal “campur baur” ini masih demikian terbuka, cair, dan menentukan. Dukungan terhadap partaipartai “catch-all” mapan karena bisa berubah-ubah.

    Tren Survei

    Hasil-hasil survei popularitas dan elektabilitas partai-partai, terlepas dari motif penyelenggaranya, penting untuk dibaca secara kritis. Survei Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) misalnya perlu dicermati.Survei yang dilakukan pada 14–24 Mei 2014 itu melibatkan 2.192 responden di 33 provinsi yang mencakup 163 kabupaten/ kota dengan metode “stratified random sampling”.

    Hasilnya, Partai Golkar paling banyak dipilih responden (23%). Selanjutnya,PDIP(19,6%), Partai Demokrat (10,7%), Partai Gerindra (10,5%), PKS (6,9%),NasDem (4,8%), PPP (3%), Partai Hanura (2,7%), PAN (2,2%), dan PKB (2%).Sedangkan 0,6% responden memilih partai lain. Berdasarkan ketentuan parliamentary threshold 3,5%, hanya enam partai yang lolos ke Senayan.

    Dari survei itu,alasan responden dalam memilih partai karena “tokoh dan pimpinan partai” (18,2%), atau terbesar kedua setelah kriteria dekat dengan rakyat (21,3%). Manakala membaca surveisurvei lain, tiga partai utama yakni Partai Golkar, PDIP, dan Partai Demokrat saling bersaing ketat di urutan pertama sampai ketiga. Dalam surveisurvei itu tren Demokrat masih bertahan walaupun suaranya anjlok.

    Demokrat memang partai yang tengah menjadi sorotan saat ini,menyusul kasus-kasus hukum para oknum politiknya. Wajar manakala responden kritis terhadap partai penguasa ini. Berbagai ulasan mengemuka seiring dengan fenomena anjloknya Demokrat, yang dalam survei SSS hanya memperoleh 10,7%, mengedepankan alasan utamanya,selalu dikaitkan dengan kasus-kasus yang menjadi sorotan publik.

    Tetapi, seolah-olah melupakan tren kemerosotannya yang sangat terkait dengan anjloknya prestasi kerja dan popularitas pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.Berbagai hasil survei mempertegas tren anjloknya popularitas pemerintah. Hal ini berdampak pada pergeseran preferensi publik terhadap Demokrat. Yang juga perlu dicermati ialah, kekompakan internal yang kurang tampak di Demokrat.

    Beberapa politisinya bahkan kontraproduktif komunikasi politiknya. Dari sisi ini publik menyorot gradasi kualitas kader-kadernya yang ada di elite kekuasaan. Padahal, sesungguhnya partai ini telah cukup berjalan baik dalam konteks institusionalisasinya, di mana Ketua Umum Anas Urbaningrum telah berupaya menjalankan fungsi keorganisasian dengan baik.

    Sementara Partai Golkar tampak jauh lebih solid walaupun kontroversi dukungan calon presiden sempat menyeruak. Kendati demikian, strategi kampanye ganda yakni partai sekaligus tokoh (Aburizal Bakrie) yang dilakukan lebih awal ketimbang partaipartai lain merupakan eksperimen politik yang bukan tanpa konsekuensi. Kalau tidak hatihati dan cermat dalam melangkah, tokoh malah bisa menjadi faktor negatif bagi partai.

    Kekuatan tokoh itulah yang menjadi problem Partai Golkar saat ini.Popularitas dan elektabilitas Aburizal Bakrie perlu terus digenjot.Itu bukanlah perkara yang mudah. PDIP, di sisi lain, tampak mengalami problem stagnasi. Seperti belum ada yang berubah dari partai ini. Namun, figur Megawati Soekarnoputri masih elektabel. Partai ini perlu membuat terobosanterobosan kreatif,belajar pada pengalaman kemenangannya pada 1999, agar semakin aktual.

    Trust dan Kreativitas

    Trust atau kepercayaan penting untuk dijaga, bahkan diraih melalui kreativitas. Cara elite-elite partai untuk mengemas, lebih tepatnya,membawa atau mengelola partainya sehingga menumbuhkan daya tarik perlu terus diuji. Pertama, apakah caranya melanggar ketentuan hukum atau tidak. Kedua, etis atau tidak. Yang pertama ranahnya lebih ketat ketimbang yang kedua, tetapi jangka panjang, eksistensi dan survivalitas partai ditentukan yang kedua.

    Masing-masing partai punya problem tersendiri dari skala prioritasnya.Partai-partai besar lebih berupaya untuk menghilangkan ganjalan-ganjalan yang menghambatnya. Partai-partai menengah dan kecil berupaya memperkencang laju politiknya. Namun, semuanya dituntut untuk bisa bekerja secara wajar dan etis. Etika politik semakin penting dalam menggalang dukungan, mengingat mengemuka kecenderungan etis di ranah publik di tengah-tengah arus pragmatisme-transaksional.

    Sekarang partai-partai tengah beradu strategi untuk merebut dukungan publik. Kompetisi antarpartai merupakan pertarungan pengaruh atau kepercayaan dari berbagai sudut pandang.Beragam daya tarik dikedepankan. Publik semakin dihadapkan beragam alternatif.Tampaknya, yang paling wajar dan etislah, yang paling berpeluang. Wallahua’lam.● M ALFAN ALFIAN Dosen Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional (Unas), Jakarta

    Diberitakan, Partai Nasional Demokrat (Nas- Dem) akan membuat strategi terobosan dalam pencalegan Pemilu 2014 yakni dengan melarang pemungutan biaya kepada setiap caleg. Partai ini juga akan merekrut tokohtokoh potensial dan membantu modal pembiayaannya.

    http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/503089/

    Strategi demikian merupakan upaya NasDem mengerucutkan daya tarik. Inilah salah satu potret bagaimana partai politik bersiap menuju 2014. Bagi partai baru seperti NasDem, targetnya, ia harus eksis,punya pendukung jelas, dan terkuantifikasi secara nyata pada 2014. Pemilu akan menguji seberapa jauh kekuatan nyata NasDem sebagai partai. Sementara bagi partai lama, targetnya tidak hanya eksis, tetapi juga survive, dalam arti mereka berjuang untuk tetap bertahan dan meningkatkan jumlah kursinya di parlemen.

    Dalam konteks Indonesia, ada duahal yang selalu mengemuka dalam daya tarik partai-partai. Pertama,tokoh.Kedua,kegiatan partai.Bagi partai baru yang belum kuat institusionalisasi partainya, tokoh menjadi sangat penting.Kultur politik Indonesia masih belum lepas dari patrimonialisme. Tokoh, karenanya,bahkan,dalam kondisi tertentu, dipandang lebih penting ketimbang kendaraan pengusungnya.

    Bagi partai lama,tokoh juga penting, tetapi yang tak kalah pentingnya,dan ini cukup mendasar, bagaimana kelembagaan partainya efektif. Setidaknya, partai-partai itu sistemnya sudah jalan,identitas kepartaiannya sudah tertanam, dan ia sudah punya citra tersendiri.

    Partai-partai lama dan baru sekarang lebih bercorak “catchall parties”, bukan partai segmental seperti yang beridentitas “agama”. Pasar politik “catch-all” atau meminjam istilah Ichlasul Amal “campur baur” ini masih demikian terbuka, cair, dan menentukan. Dukungan terhadap partaipartai “catch-all” mapan karena bisa berubah-ubah.

    Tren Survei

    Hasil-hasil survei popularitas dan elektabilitas partai-partai, terlepas dari motif penyelenggaranya, penting untuk dibaca secara kritis. Survei Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) misalnya perlu dicermati.Survei yang dilakukan pada 14–24 Mei 2014 itu melibatkan 2.192 responden di 33 provinsi yang mencakup 163 kabupaten/ kota dengan metode “stratified random sampling”.

    Hasilnya, Partai Golkar paling banyak dipilih responden (23%). Selanjutnya,PDIP(19,6%), Partai Demokrat (10,7%), Partai Gerindra (10,5%), PKS (6,9%),NasDem (4,8%), PPP (3%), Partai Hanura (2,7%), PAN (2,2%), dan PKB (2%).Sedangkan 0,6% responden memilih partai lain. Berdasarkan ketentuan parliamentary threshold 3,5%, hanya enam partai yang lolos ke Senayan.

    Dari survei itu,alasan responden dalam memilih partai karena “tokoh dan pimpinan partai” (18,2%), atau terbesar kedua setelah kriteria dekat dengan rakyat (21,3%). Manakala membaca surveisurvei lain, tiga partai utama yakni Partai Golkar, PDIP, dan Partai Demokrat saling bersaing ketat di urutan pertama sampai ketiga. Dalam surveisurvei itu tren Demokrat masih bertahan walaupun suaranya anjlok.

    Demokrat memang partai yang tengah menjadi sorotan saat ini,menyusul kasus-kasus hukum para oknum politiknya. Wajar manakala responden kritis terhadap partai penguasa ini. Berbagai ulasan mengemuka seiring dengan fenomena anjloknya Demokrat, yang dalam survei SSS hanya memperoleh 10,7%, mengedepankan alasan utamanya,selalu dikaitkan dengan kasus-kasus yang menjadi sorotan publik.

    Tetapi, seolah-olah melupakan tren kemerosotannya yang sangat terkait dengan anjloknya prestasi kerja dan popularitas pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.Berbagai hasil survei mempertegas tren anjloknya popularitas pemerintah. Hal ini berdampak pada pergeseran preferensi publik terhadap Demokrat. Yang juga perlu dicermati ialah, kekompakan internal yang kurang tampak di Demokrat.

    Beberapa politisinya bahkan kontraproduktif komunikasi politiknya. Dari sisi ini publik menyorot gradasi kualitas kader-kadernya yang ada di elite kekuasaan. Padahal, sesungguhnya partai ini telah cukup berjalan baik dalam konteks institusionalisasinya, di mana Ketua Umum Anas Urbaningrum telah berupaya menjalankan fungsi keorganisasian dengan baik.

    Sementara Partai Golkar tampak jauh lebih solid walaupun kontroversi dukungan calon presiden sempat menyeruak. Kendati demikian, strategi kampanye ganda yakni partai sekaligus tokoh (Aburizal Bakrie) yang dilakukan lebih awal ketimbang partaipartai lain merupakan eksperimen politik yang bukan tanpa konsekuensi. Kalau tidak hatihati dan cermat dalam melangkah, tokoh malah bisa menjadi faktor negatif bagi partai.

    Kekuatan tokoh itulah yang menjadi problem Partai Golkar saat ini.Popularitas dan elektabilitas Aburizal Bakrie perlu terus digenjot.Itu bukanlah perkara yang mudah. PDIP, di sisi lain, tampak mengalami problem stagnasi. Seperti belum ada yang berubah dari partai ini. Namun, figur Megawati Soekarnoputri masih elektabel. Partai ini perlu membuat terobosanterobosan kreatif,belajar pada pengalaman kemenangannya pada 1999, agar semakin aktual.

    Trust dan Kreativitas

    Trust atau kepercayaan penting untuk dijaga, bahkan diraih melalui kreativitas. Cara elite-elite partai untuk mengemas, lebih tepatnya,membawa atau mengelola partainya sehingga menumbuhkan daya tarik perlu terus diuji. Pertama, apakah caranya melanggar ketentuan hukum atau tidak. Kedua, etis atau tidak. Yang pertama ranahnya lebih ketat ketimbang yang kedua, tetapi jangka panjang, eksistensi dan survivalitas partai ditentukan yang kedua.

    Masing-masing partai punya problem tersendiri dari skala prioritasnya.Partai-partai besar lebih berupaya untuk menghilangkan ganjalan-ganjalan yang menghambatnya. Partai-partai menengah dan kecil berupaya memperkencang laju politiknya. Namun, semuanya dituntut untuk bisa bekerja secara wajar dan etis. Etika politik semakin penting dalam menggalang dukungan, mengingat mengemuka kecenderungan etis di ranah publik di tengah-tengah arus pragmatisme-transaksional.

    Sekarang partai-partai tengah beradu strategi untuk merebut dukungan publik. Kompetisi antarpartai merupakan pertarungan pengaruh atau kepercayaan dari berbagai sudut pandang.Beragam daya tarik dikedepankan. Publik semakin dihadapkan beragam alternatif.Tampaknya, yang paling wajar dan etislah, yang paling berpeluang. Wallahua’lam.●
     
     M ALFAN ALFIAN
     Dosen Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional (Unas), Jakarta

    KALENDER LITURGI KATOLIK:bacaan 1 tahun

    Kalender Liturgi

    Liturgical Calendar

     
    Kalender Liturgi 2012 Tahun B/II(27 Nov 2011- 2 Des 2012)
    Kalender Liturgi Iman Katolik tahun B/II - 2012 Bekerja sama dengan Komisi Liturgi KWI
    Kalender Liturgi 2013 Tahun C/I (2 Des 2012- Nov 2013)
    ==>Download<==

    MENGKAJI AJARAN PELAYANAN SOSIAL KATOLIK

    MENGKAJI AJARAN PELAYANAN SOSIAL KATOLIK

    Wah, pertanyaan anda cukup unik, dan tidak mudah untuk menjawabnya, karena selain memang luas cakupannya, namun juga penerapannya memerlukan kreativitas dari yang terlibat. Saya menganjurkan, anda untuk membaca ringkasan beberapa dokumen resmi tentang ajaran sosial Gereja, jika anda mempunyai keterbatasan waktu untuk membaca semua dokumen ajaran sosial Gereja ini. Bukunya berjudul Precis of Official Catholic Teaching on the Social Teaching of the Church yang dikeluarkan oleh CCSP, berisi ringkasan beberapa surat ensiklik dari para Paus, seperti Rerum Novarum, Quadragesimo Anno, Mater et Magistra, Populorum Progressio, Laborem Excercens, Centesimus Annus, Sollicitudo Rei Socialis, Gaudium et Spes, dst.


    Saya bukan seorang ahli dalam hal ini, maka yang dapat saya sampaikan di sini adalah prinsip-prinsip secara umum, yang dapat kita ketahui tentang prinsip ajaran sosial Gereja, yang mungkin dapat dipegang dalam pelayanan sosial Katolik, entah yang dilakukan oleh kaum religius ataupun oleh kaum awam, sehingga harapannya dapat membedakannya dengan LSM yang non-Katolik:

    1. Prinsip dasar:
    - Ajaran sosial Gereja selalu mempunyai prinsip dasar menjunjung tinggi martabat manusia sehingga hubungan timbal balik antar manusia dapat terwujud (Mater et Magistra, 220). Dasar martabat manusia ini adalah karena manusia diciptakan menurut gambaran Allah (lih. Kej 1:26; Keb 2:23, Gaudium et Spes 12, 29)

    - Para pelayan sosial religius selayaknya mengusahakan hubungan timbal 
       balik/ dialog antara kedua kelompok (yang menolong dan ditolong), 
       dengan menyatakan kepada kedua pihak pengajaran Injil (lih. Rerum
        Novarum 41, Populorum Progressio 54)

    - Semua kegiatan harus sesuai dengan prinsip moralitas praktis, di mana
      semua kebutuhan pribadi maupun masyarakat harus diharmonisasikan
      dengan persyaratan untuk mencapai kebaikan bersama/ “common
       good” (lih Mater et Magistra, 37).

    - Setiap orang harus melihat sesamanya sebagai dirinya sendiri, dengan
      memikirkan hidupnya dan jalan yang diperlukan untuk hidup dengan
      cara yang layak: makanan, pakaian, perumahan, hak untuk memilih status
      hidup dan membentuk keluarga, hak untuk mengecap pendidikan,
      bekerja, nama baik, penghormatan, pengetahuan sepantasnya, hak untuk
      bertindak sesuai dengan hati nuraninya dan untuk melindungi
      keleluasaan pribadi (privacy) dan kebebasan beragama. (lih Gaudium et
      Spes, 26, 27).

    - Solidaritas membantu kita melihat orang lain tidak sebagai alat tetapi
       sebagai sesama, seorang penolong (lih. Kej 2:18-20), sama-sama
       mengambil bagian di perjamuan kehidupan yang kepadanya kita semua
       dipanggil oleh Tuhan (Sollicitudo Rei Socialis, 39).

    - Pihak yang lemah/ miskin harus dibantu untuk dapat memperoleh
      keahlian, agar dapat bersaing, dan dapat memperoleh kemampuan untuk
      menggunakan kapasitas dan sumber daya yang ada pada diri mereka
      (Centesimus Annus, 34)

    - Kasih harus melampaui keadilan, dan bahwa segala kegiatan sosial
       ditujukan untuk memberikan kasih (dan keadilan) demi kebaikan
       bersama (Caritas in Veritate, 6)

    Penerapannya mungkin adalah sebagai berikut:
    a) mendorong agar pihak yang ditolong dapat berkembang, dan bukan
      hanya sekedar menerima bantuan.

    b) Maka pihak lembaga pelayanan sosial Katolik tersebut juga harus
        mengusahakan berbagai pelatihan ataupun pendidikan agar dapat
        meningkatkan kemampuan mereka.

    c) lembaga pelayanan sosial Katolik tersebut sedapat mungkin membuka
        kemungkinan dialog antara para donatur (pihak yang menolong) dan
        pihak yang ditolong.

    d) jika pelatihan sudah diperoleh, maka langkah selanjutnya adalah untuk
         mencari kemungkinan penyaluran jasa ataupun barang-barang yang
         dihasilkan dari orang-orang yang ditolong agar mereka dapat
         berkembang sebagai pribadi yang mandiri.

    2. Penekanan kepada perkembangan manusia seutuhnya:

    - Gereja dipercaya dengan tugas untuk membuka pemikiran manusia
       terhadap misteri Allah dan dengan demikian manusia dapat memahami
       arti dari keberadaannya, suatu kebenaran yang terdalam tentang dirinya
       sendiri (lih Gaudium et Spes, 41).

    - Perkembangan otentik harus lebih dari sekedar pertumbuhan ekonomi,
       namun harus lengkap: harus memajukan kebaikan setiap manusia dan
       keseluruhan manusia (Populorum Progressio, 14, lihat juga prinsip-
       prinsip yang diajarkan dalam ensiklik Paus Benediktus XVI yang
       terbaru, Caritas in Veritate)

    - Perkembangan otentik manusia mensyaratkan pemahaman akan makna
       seksualitas manusia seperti yang dituliskan dalam Humane Vitae, dan
       pemahaman akan penerapan nilai-nilai Injil di dalam perbuatan, seperti
       yang tertulis dalam Evangelii Nuntiandi (lih. Caritas in Veritate, 15)

    Penerapannya mungkin adalah:

    a) sedapat mungkin melibatkan/ mendorong pembinaan iman keluarga
         yang ditolong.

    b) mengajarkan nilai-nilai/ makna perkawinan di dalam ajaran Kristiani,
        terutama jika yang ditolong adalah keluarga-keluarga Katolik. Jika
        perlu mengadakan edukasi tentang KB alamiah.

    c) menekankan pentingnya diadakan pelatihan/ edukasi, baik kepada
        pihak kepala keluarga dan jika mungkin program bea siswa anak-anak
        mereka.


    3. Hal religius diutamakan:

    - Segala organisasi sosial harus diatur dan diarahkan untuk melaksanakan
       cara-cara yang tepat untuk membantu setiap anggota untuk
       “meningkatkan kondisinya sedapat mungkin dalam hal jasmani, rohani
       dan kepemilikan.” (Rerum Novarum 42, Quadragesimo Anno 32).

    - Lembaga pelayanan sosial Katolik harus melihat kepada Tuhan sebagai
       acuannya, maka instruksi religius harus mendapatkan tempat. Semua
       orang yang terlibat di dalamnya harus diingatkan akan kewajibannya
       kepada Tuhan, untuk menyembah Tuhan dan untuk mempraktekkan
       ajaran agamanya. Yang beragama Katolik harus diarahkan untuk
       menghormati Gereja Katolik, mematuhi peraturan Gereja dan mengikuti
       sakramen-sakramen Gereja, untuk menghantar mereka kepada
       pertobatan dan hidup yang suci (lih. Rerum Novarum 42)

    Penerapannya mungkin adalah:

    a) selain mengusahakan terpenuhinya kebutuhan hidup dasar dan
        perbaikan taraf hidup, segi rohani juga diperlukan, misalnya jika
        memungkinkan diadakan Misa Kudus bersama atau acara bersama
        yang bersifat rohani, jika mungkin diadakan rutin, bagi pengurus
        maupun bagi umat yang ditolong.

    b) sebelum diadakan dan sesudah diadakannya kegiatan diawali dan
         ditutup dengan doa bersama, terutama para pengurusnya.

    4. Keberpihakan Gereja adalah kepada yang miskin/ termiskin (Laborem
        Exercens, 8, Sollicitudo Rei Socialis, 42, Centesimus Annus, 11)
        maka prioritas utama harus diberikan kepada yang paling 
         membutuhkan.

    Penerapannya :

    a) memberi prioritas utama untuk membantu mereka yang benar-benar
        miskin/ membutuhkan bantuan.

    b) untuk ini diperlukan sistem dan kriteria yang jelas dan transparan.

    Demikian yang dapat saya tuliskan untuk menjawab pertanyaan anda. Untuk melakukan hal ini tidaklah mudah, sebab diperlukan orang-orang yang berkomitmen, jujur, dan di atas semua itu, digerakkan oleh semangat kasih yang besar kepada Kristus untuk melakukan karya kerasulan ini.
     
    Karya pelayanan yang demikian juga selayaknya dapat menyebarkan nilai-nilai Injil di dalamnya, agar dapat menerapkan apa yang diajarkan oleh Kristus dan Gereja-Nya, demi mencapai perkembangan manusia yang seutuhnya: jasmani, rohani, baik pada orang yang ditolong, maupun yang menolong.

    Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
    Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org/
     
    http://sutonofx.blogspot.com/2010/06/mengkaji-ajaran-pelayanan-sosial

    BERTANAM SENGON SEBAGAI INVESTASI MASA DEPAN

    Liburan akhir tahun 2010 ini bersama tiga bidadari kecilku dan Ibunya sengaja pulang kampung ke Solo, tepatnya ke Desa Karangelo, Kec.Bendosari, Kab. Sukoharjo, tempat mbak saya nomor tiga tinggal. Belilaulah yang merawat ibu saya dari empat bersaudara hingga ibu dipanggil Tuhan sekitar 6 tahun yang lalu. Jadi setiap kali kami pulang pasti ketempat mbak Nyenik itulah yang kami jujug(tempat pertama kami kunjungi).

    Saya sebenarnya lahir di Dusun Wates, Desa Jumantoro, Kec.Jumapolo, Kab.Karanganyar, Jawa Tengah, namun karena tempat tabon (induk dari orangtua) sudah tidak ada, ya itulah jujugan saya ke mbak nomor tiga.

    Ada satu hal yang ingin kami bagikan suatu pengalaman bahwa ternyata di desa kami telah banyak berubah dengan segala plus dan minusnya. Secara umum ternyata pembangunan infrastruktur meroisot tajam dibandingkan dengan ketika aku masih di desa; walaupun telah berganti kepala desa hingga 3 periode tetapi rupanya mereka-mereka kurang pecus di banding yang terdahulu, kurang mberani mengambil resiko, takut menyusahkan penduduk/masyarakat, disamping memang rata-rata sang kepala desa tadi hanya berpendidikan rata-rata SMP, sementara dulu lulusan sarjana muda ekonomi (BE).

    Hal lain adalah bahwa di desa kami terutama yang telah berpikir jauh tentang investasi, margin, bisnis pertanian, tidak lagi hanya sekedar menanam tamanan pertanian seperti jagung, singkong, kacang, kedelai, padi, dll; tetapi ada sebagian masyarakat yang mulai memanam pohon jati dan pohon mahoni, pohon akasia, pohon sengon sebagai investasi.

    Menurut cerita dari Bapak Y. Pardiyono, BE; yang secara kebetulan dulu mantan kepala Desa 2 periode semasa Pak Harto, yang berarti 16 tahun menjabat, dan juga kenal sebagai tetangga dulu, berdasarkan pengalaman beliau masih menguntungkan dengan masa tanam antara 5-7 tahun pohon sengon bisa di jual. Konon beliau pernah menjual dengan harga sekitar 30 juta sekitar 3 tahun lalu. Sementara kakak saya pernah menjual 15 juta 2 tahun yang lalu,dengan menanami ladang awarisan orang tua.

    ALKISAH sekitar 3 tahun yang lalu saya ikut-ikutan menanam pohon jati sekitar 150 pohon jati, dan eh...ternyata kemarin aku sambangi kok hidup. diantara sela-sela itu pohon masih ada jarak yang bisa saya manfaatkan saya tanami lagi pohon sengon sekitar 160 batang, juga tempat warisan yang lain sekitar 100 pohon sengon. Jadi sambil besok saudara-saudara dan yang utama tradisi nyekar ke tempat leluhur, juga ke mertua berlatih investasi melalui tamanan jati dan sengon. Kami berharap di masa mendatang ada hasilnya.

    2 Januari 2011, fxsutono

    http://sutonofx.blogspot.com/

    Meniti Jembatan Iman: Ruang Imajinasi, Pengharapan, dan Praktis Hidup di Tengah Arus Zaman

      Meniti Jembatan Iman: Ruang Imajinasi, Pengharapan, dan Praktis Hidup di Tengah Arus Zaman   Pengantar Agama dan keyakinan bukan sek...