Jumat, 16 Maret 2012

SIKAP MUNAFIK

SIKAP MUNAFIK

Saya temukan hal-hal sehubungan dengan sikap munafik antara lain sebagai berikut:



A.SIKAP MUNAFIK MENOLAH HUKUM ALLAH
KH. Abdul Rasyid AS (Pimpinan Perguruan As Syafiiyyah)


Firman Allah SWT:

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya Telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? mereka hendak berhakim kepada thaghut[312], padahal mereka Telah diperintah mengingkari thaghut itu. dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah Telah turunkan dan kepada hukum Rasul", niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.(QS. An Nisa 60-61).

Tafsir

Imam Jalalain dalam tafsir Jalalain menerangkan, tatkala terjadi perselisihan antara seorang Yahudi dan seorang munafik, orang munafik itu mengajak kepada gembong Yahudi Ka’ab bin Al Asyraf untuk menghukumi masalah keduanya.  Sedangkan orang Yahudi itu justru mengajak kepada Nabi saw. Lalu keduanya mendatangi beliau saw.  Nabi lalu memutuskan bahwa yang menang dalam perkara tersebut adalah orang Yahudi itu.  Orang munafik itu tidak rela.  Lalu keduanya mendatangi  Umar bin Khaththab r.a. dan orang Yahudi itu menceritakan semua kejadian itu kepadanya.  Lalu Umar bin Khaththab r.a. bertanya kepada orang munafik: Apakah benar demikian?
Orang munafik itu menyatakan benar.  Lalu Umar membunuhnya.
Allah SWT berfirman:

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya Telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? mereka hendak berhakim kepada thaghut”.

Thagut dalam ayat ini menurut tafsir Jalalain adalah Ka’ab bin Al Asyraf.  Padahal mereka telah diperintahkan untuk mengkufuri dia, yakni tidak berwala kepadanya.  Dan setan hendak menyesatkan mereka dengan kesesatan yang jauh dari kebenaran.  Dan bila dikatakan kepada mereka marilah kalian kepada hukum yang diturunkan Allah dalam Al Quran dan kepada Rasul agar dia menghukum di antara kalian  maka engkau akan melihat orang-orang munafik benar-benar menghalang-halangi manusia untuk mendatangi engkau (wahai Rasul) sehingga datang kepada yang lain.

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan bahwa firman Allah SWT di atas merupakan penolakan Allah SWT terhadap sikap orang munafik yang mengklaim  bahwa mereka beriman kepada hukum yang diturunkan oleh Allah kepada Rasul-Nya dan para Nabi terdahulu.  Orang munafik itu ingin berhukum untuk memutuskan berbagai perselisihan dengan selain kitabullah dan sunnah Rasul-Nya. 

Imam Ibnu Katsir menerangkan bahwa sebab turunnya ayat ini adalah tentang seorang dari kalangan Anshar dan seorang dari kalangan Yahudi bersengketa.  Yahudi berkata: antara aku dan anda adalah Muhammad.  Sedangkan orang Anshar itu berkata: anatara aku dan engkau adalah Ka’ab bin Al Asyraf.  Ada yang mengatakan ayat tersebut turun berkenaan dengan sekelompok kaum munafik berhukum kepada hukum jahiliyah.  

Ada juga menyatakan ayat itu turun berkenaan dengan yang lain.  Namun ayat itu bersifat lebih umum dari semua itu.  Ini merupakan celaan terhadap orang yang mengganti Kitabullah dan As Sunnah lalu berhukum kepada selain keduanya yang batil tentunya.  Inilah yang dimaksud dengan thagut di sini.  Oleh karena itu, Allah SWT berfirman: “Mereka berkehendak untuk berhukum kepada thagut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengkufurinya dan setan berkehendak menyesatkan mereka dengan kesesatan yang jauh.  Dan bila dikatakan kepada mereka marilah kepada apa yang diturunkan Alalh dan kepada Rasul maka engkau melihat orang-orang munafik benar-benar menghalangi manusia darimu”

Sikap Munafik Menolak Hukum Allah

Firman Allah “mereka benar-benar menghalangi manusia darimu”, yakni menolakmu seperti orang-orang yang takabur.  Sebagaimana penolakan orang-orang musyrik dalam  firman-Nya:
Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang diturunkan Allah". mereka menjawab: "(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya"….” (QS. Luqman 21).

Sikap kaum munafik dan kaum musyrik itu berbeda dari sikap orang-orang mukmin yang dikatakan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:

Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar, dan kami patuh". dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung.(QS. An Nuur 51).

Sasaran hukum Allah SWT yang diputuskan oleh Rasulullah saw. dalam ayat di atas adalah untuk seluruh warga negara, yakni untuk mengatasi persolan di antara sesama kaum muslimin maupun antara kaum muslimin dengan kaum non muslim yang menjadi warga negara daulah Islamiyyah di kota Madinah pada waktu itu.

Kenapa terhadap orang non muslim yang menjadi warga negara daulah Islamiyyah diterapkan hukum Allah SWT?  Itulah perintah Allah SWT.  Sebagaimana dalam firman-Nya:

Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. dan Sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (QS. Al maidah 49).

Ibnu Abbas r.a. dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kata “mereka” dalam ayat di atas maksudnya adalah kaum Yahudi Bani Quraizhah, Yahudi Bani Nadlir, dan Yahudi Khaibar yang minta keputusan hukum kepada Rasulullah saw. 

Dan dalam asbabun nuzul dari firman Allah SWT dalam surat An Nisa di atas justru orang Yahudi merasa sreg dengan berhukum kepada Rasulullah saw. Salah satu sebabnya karena beliau tidak menerima suap dalam mengadili perkara.  Dan Yahudi itu menolak berhukum tokoh Yahudi, Ka’ab bin al Asyraf, karena suka menerima suap dalam mengadili perkara.  

Kesimpulan
Orang-orang munafik menolak hukum-hukum Allah SWT karena sesungguhnya mereka adalah kufur di dalam hatinya walaupun penampilan luarnya muslim.  Ayat di atas mengungkap sikap mereka yang ironis, yakni menghalangi orang non muslim untuk berhukum kepada Rasulullah saw. Na’udzubillahmindzalik!





Waspadai sikap Munafik pada diri kita

uji Syukur yang tak terhingga marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT, atas nikmat Islam dan iman yang telah dikaruniakannya kepada kita sehingga kita dapat mengenal jalan yang lurus menuju keridlo’annya.
Sholawat serta salam semoga terlimpahkan kepada rosul Muhammad SAW  Khotaminnabiyyiina-beserta keluarga, sahabat serta umatnya hingga yaumul akhir.
Pada  kesempatan kali ini  “Admin” mencoba merangkum materi pembahasan  Taklim yang telah berjalan 4 (empat) kali pertemuan. Oleh karenanya, melalui penulisan ini admin mencoba mengambil sumber lain  dari berbagai situs internet agar lebih mendalam lagi. Semoga maksud paparan dari pak ustad dapat lebih sinergi dengan hasil rangkuman  tulisan ini. Insya Alloh.
Medio, Rabu,  16 Pebruari 2011

CIRI-CIRI ORANG MUNAFIK
Melalui firman Alloh Swt dalam awal surat Al-Baqoroh  telah menginformasikan kepada kita bahwa manusia terbagi menjadi tiga sifat, yaitu Orang yang bertaqwa, Orang Kafir dan Orang Munafik, yang menarik jika kita cermati Alloh menerangkan sifat-sifat munafik lebih banyak dibandingkan sifat-sifat yang lainnya, yakni 13 (tiga belas) ayat.
Perlu diwaspadai bahwa sifat munafik dapat bersinggah di hati siapa saja termasuk kepada seorang yang mengatakan dirinya mengaku telah “beriman”. Karakter orang munafik antara lain disebutkan Alloh Swt dalam Surat Al-Baqoroh ayat 14 yang artinya: “Dan  bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengakatan: “Kami telah beriman”. Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok”.
Sangat berbahaya dampak yang ditimbulakan oleh perilaku orang munafik, sehingga Alloh Swt. mengingatkan kepada kita agar hati-hati supaya  tidak terjerumus dalam kesesatan yang nyata.  Yakni masuk ke dalam golongan orang-orang fasik dengan berbagai ancamannya.



Rosululloh  SAW telah memberikan gambaran tentang sifat-sifat orang munafik sebagaimana sabdanya, yang artinya:
Abu Hurairah r.a. berkata: Nabi saw. bersabda: Tanda seorang munafik itu tiga: Jika berkata-kata dusta, jika berjanji menyalahi janji, jika diamanati khianat.  (Bukhari, Muslim).
Artinya, jika seseorang telah melakukan salah satu ciri dari karakter orang munafik tersebut dapat dikatakan sudah pantas mendapat lebel fasik. Umpanya, jika seorang PNS yang telah disumpah dengan penyataan janji tidak akan menerima apapun pemberian berkaitan dengan tugas jabatannya. Kemudian mendapatkan sesuatu (pemberian/hadiah) atas tugas jabatannya yang dilarang peraturan perundang-undangan (PP 53 Tahun 2010 tentang Disiplin PNS). Maka seorang PNS tersebut disamping melanggar peraturan negara, juga telah melanggar kaidah syar’i atas sumpah janjinya dengan menggunakan atas nama Alloh Swt.
Maka, jika setiap orang memahami bahaya akibat kemunafikannya pasti akan menjauh dan sejauh-jauhnya, kemudian akan melahirkan pribadi mutaqin. Orang yang jujur, amanah dalam melaksanakan tugas kedinasannya.


1 komentar:

  1. Hari ini kaum Muslimin berada dalam situasi di mana aturan-aturan kafir sedang diterapkan. Maka realitas tanah-tanah Muslim saat ini adalah sebagaimana Rasulullah Saw. di Makkah sebelum Negara Islam didirikan di Madinah. Oleh karena itu, dalam rangka bekerja untuk pendirian Negara Islam, kelompok ini perlu mengikuti contoh yang terbangun di dalam Sirah. Dalam memeriksa periode Mekkah, hingga pendirian Negara Islam di Madinah, kita melihat bahwa RasulAllah Saw. melalui beberapa tahap spesifik dan jelas dan mengerjakan beberapa aksi spesifik dalam tahap-tahap itu

    BalasHapus