Jumat, 09 Agustus 2013

ASUMSI ADALAH NALAR TERENDAH

Asumsi Adalah Nalar Terendah

ASUMSI ADALAH NALAR TERENDAH……
.

Esther Susianti



Tidak dapat di pungkiri lagi bahwa kegagalan, kemarahan, pertengkaran dan sebagainya biasanya di sebabkan oleh karena kita suka berasumsi daripada bertanya dengan jelas, ataupun tidak terjadinya keselarasan dalam komunikasi, salah pengertian karena persepsi masing-masing yang berbeda. Hal- hal kecilpun kadang bisa menjadi hal- hal yang besar dan bila hal itu dalam kebaikan akan menjadi sesuatu yang mendatangkan kebaikan,tetapi bagaimana bila hal itu menjurus kepada hal yang buruk, pasti tentunya akan menjadi lebih buruk lagi dan bahkan bisa membahayakan jiwa manusia. Hal inilah yang sering menjadi pemicu keretakan dalam hubungan ataupun yang dapat menimbulkan perasaan tidak senang bahkan anti antara satu dengan yang lainnya di antara sesama manusia.

Semakin majunya zaman, dengan manusia semakin bergantung kepada tekhonogi, semakin instan pula segala sesuatu yang di hasilkan, semakin langka pula manusia mengenali dan memahami masing-masing pribadi orang, yang hanya banyak menuntut orang lain untuk memahami  dirinya daripada dirinya memahami  orang lain. Seperti di gunung media, seberapa banyak sekarang, orang-orang yang menggunakan twieter, facebook dan youtube untuk berkomunikasi ,berbisnis, ataupun untuk sensasi yang lainnya 

.Mereka akan saling memfollow satu dengan yang lain untuk kepentingan masing-masing. Public figure sudah pasti mengharapkan banyak follower, maka dia akan semakin popular. Bila apa yang di bagikan oleh public figure tersebut hal-hal yang membangun mental dan keyakinan yang baik, sudah pasti akan mendampaki terbangunnya suatu bangsa yang damai sejahtera, tetapi apabila yang di bagikan bagaimana menjadi kaya secara instant maka dampaknyapun akan terjadi dengan bermacam-macam reaksi, seperti orang yang hanya focus kepada diri sendiri, menjadi bernafsu untuk berinvestasi tanpa menghitung resiko yang ada, atau kekecewaan dan kemarahan ketika terjadi kerugian atau penipuan.

 Berbagai beritapun dapat kita dengar dan tonton sekarang ini, sehingga apabila begitu banyak berita buruk yang terjadi, sebagian akan terdampaki menjadi resah, ketakutan atau mencontoh hal-hal buruk tersebut, tetapi apabila persepsi yang benar terjadi, maka akan terjadi kewaspadaan tanpa keresahan yang menimbulkan pembelajaran dan empati untuk orang-orang yang di rugikn tanpa pengutukan. Semua ini kembali kepada masing-masing kedewasaan berpikir seseorang, bukan kepintaran belaka.

Dalam segala hal memang di perlukan pengertian, tetapi bagaimana akan terjadi pengertian apabila tidak pernah terjadi komunikasi yang selaras ? komunikasi selaras juga perlu di dukung oleh pemahaman masing-masing orang dalam memandang. Bila pandangan orang satu dengan yang lain tidak dapat saling melengkapi, di situlah terjadinya celah asumsi yang mendatangkan salah pengertian dan bila di biarkan akan semakin membangun tembok perseteruan.

 Seperti dalam perkawinan, apabila pandangan satu dengan yang lain berbeda dan timbul asumsi-asumsi yang di bangun oleh perasaan marah,gelisah dan iri hati, bila tidak cepat di bereskan maka tidak heran akan terjadi permusuhan, pengkhianatan ataupun perceraian. Dan yang buruk lagi akan terjadi pertikaian yang memakan korban. Hal inipun juga dapat terjadi di tingkat perusahaan, organisasi,ataupun Negara. Akar permasalahannya adalah asumsi yang menjadi persepsi yang salah dalam berkomunikasi dan menjalar kepada tindakan.

Sangat di sayangkan apabila hanya karena asumsi, akan mengorbankan ketenangan diri sendiri bahkan orang lain yang tidak bersalah. Mari mulailah terus memperbaharui pikiran kita, bukan hanya dengan pengetahuan intelektual saja, tetapi Spiritual yang benar untuk menguasai emosi kita di terapkan kepada pilihan-pilihan yang benar. Seseorang memang rata-rata mempunyai watak kepribadian dan mental yang berbeda-beda. 

Ada orang bertype dominan, intim, stabil dan cermat. Secara mentalpun ada orang berada  di golongan rendah dan yang paling banyak jumlahnya, yaitu  yang cepat menyerah, ada pula di golongan menengah, yang rajin mencapai target tetapi setelah itu cepat puas diri dan mendirikan kemahnya, dan mental yang paling tanggung adalah seseorang yang tidak akan cepat puas dengan pencapaiannya sehingga dia akan terus menerus belajar dan memperbaharui pola pikirnya dengan tiada hentinya sehingga mampu mencapai kemaksimalan melewati batas dirinya sendiri.

Yang sering terjadi dalam salah persepsi adalah ketika terjadi pertemuan antar seorang yang berbeda  type dan mental, sudut pandang mereka yang berbeda menyebabkan komunikasi yang tidak seimbang sehingga tidak ada keselarasan dan akhirnya kerengganganpun tak dapat di elakkan lagi karena asumsi yang satu beranggapan negative dengan yang lainnya.

 Ah ironi sekali, bila ini terjadi di dalam keluarga kita sendiri, tetapi orang yang berpengertian pasti berkepala dingin sehingga dapat memahami dan mencairkan suasana yang kaku. Yang di butuhkan adalah kesabaran dan rendah hati untuk mengalah.

Dalam pengkelompokan, dapat diumpamakan terbagi menjadi dua: yaitu kelompok ayam dan kelompok rajawali.

1) Dalam kelompok ayam, di ibaratkan bahwa mereka mempunyai sayap untuk   
    terbang namun karena kesukaannya sedikit-sedikit ribut berkokok membuat 
    pandangan matanya rendah dan sempit sehingga dia tidak mau berupaya 
     melatih sayapnya untuk terbang tinggi.

 Seperti amsal berkata bahwa yang terpenting untuk berhasil adalah hikmat,sedangkan hikmat terlalu tinggi bagi orang bodoh. Suatu hardikan lebih masuk pada orang berpengertian daripada seratus pukulan pada orang bebal.Hikmat tinggal di dalam hati orang yang berpengertian tetapi tidak di kenal di dalam hati orang bebal.Bibir orang bebal menimbulkan perbantahan, dan mulutnya berseru meminta pukulan. Orang bebal dibinasakan oleh mulutnya, bibirnya adalah jerat bagi nyawanya.

2) Dalam kelompok rajawali, di ibaratkan bahwa mereka memiliki sudut pandang 
    yang begitu jauh dan tajam sehingga mereka lebih senang membangun 
    sarangnya di tempat yang tinggi di atas dasar sebuah batu.

 Apabila terjadi badai yang di umpamakan adalah sebuah tantangan, dia akan semakin berani dan tertantang untuk badai itu membawanya terbang tinggi dengan melewati badai tersebut. Seperti amsal berkata, berilah orang bijak nasihat, maka ia  akan menjadi lebih bijak, ajarilah orang benar, maka pengetahuannya akan bertambah.

 Hati orang berpengertian memperoleh pengetahuan, dan telinga orang bijak menuntut pengetahuan. Bibir orang bijak menaburkan pengetahuan, tetapi hati orang bebal tidak jujur.

Siapa bergaul dengan dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang.mahkota orang bijak adalah kepintarannya, tajuk orang bebal adalah kebodohannya.

Dalam penuturan di atas, semoga pemahaman yang benar dapat kita ambil untuk merefleksikan diri kita berada di dalam kelompok yang mana saat ini, dan keputusan apa yang kita inginkan terjadi pada diri kita di saat ini untuk saat mendatang.




Selasa, 06 Agustus 2013

IDUL FITRI HARI KEMENANGAN

IDUL FITRI HARI KEMENANGAN

 Mengapa Idul Fitri disebut-sebut sebagai ‘Hari Kemenangan’ ? Jawaban atas pertanyaan ini
bias ditelusuri melalui 2 (dua) pengertian berikut ini :

Pertama, dari kata idul fithri itu sendiri yang berarti kembali ke fitrah, yakni ‘asal kejadian’,
atau ‘kesucian’, atau ‘agama yang benar’. Maka setiap orang yang merayakan idul fitri dianggap
sebagai cara seseorang untuk kembali kepada ajaran yang benar, sehingga dia bisa memperoleh
kemenangan.

Kedua, dari kata ‘minal ‘aidin wal faizin’ yang berarti ‘semoga kita termasuk orang-orang
yang kembali memperoleh kemenangan’ . Karena menurut para ahli, kata al-faizin diambil dari kata
fawz, sebagaimana tersebut dalam Al-Qur’an, yang berarti ‘keburuntungan’ atau ‘kemenangan’.

Menurut Quraish Shihab, bila kata fawz dirujukkan kepada Al-Qur’an, ditemukan bahwa
hampir seluruh kata itu kecuali Al-Qur’an surat An-Nisa : 73 mengandung makna ‘pengampunan dan
keridhaan Allah serta kebahagiaan surgawi’. Kalau begitu, maka bisa dipahami bahwa kata ‘minal
‘aidin wal faizin’ sesungguhnya bermakna do’a, yakni ‘semoga kita termasuk orang-orang yang
memperoleh ampunan dan ridha Allah SWT sehingga kita bisa mendapatkan kenikmatan
surga-Nya’.

Makna lain dari kata idul fitri sebagai hari kemenangan adalah karena pada hari itu seluruh
kaum muslimin dan muslimat baru saja menuntaskan kewajiban agamanya yang paling berat yaitu
menahan hawa nafsu melalui ibadah Ramadhan. Karena itu, barangsiapa mampu menuntaskan
ibadah Ramadhan itu selama sebulan penuh, tentu dia akhirnya keluar sebagai pemenang dalam
ujian kesabarannya itu. Bukankah di bulan puasa segenap umat Islam diuji kesabarannya dalam
menahan diri dari godaan hawa nafsu, baik nafsu syahwat maupun nafsu makan dan minum di siang
hari ? Itulah sebabnya, usai kita melakukan ibadah puasa, lalu diakhiri dengan perayaan idul fitri,
adalah tidak lain dari upaya merayakan kemenangan jiwa kita sendiri.

 Cobalah rasakan pada saat bulan puasa tetapi kita tidak berpuasa, lantas tibalah saatnya
hari Raya Idul Fitri, apa kira-kira yang harus kita sambut ? Tidak ada. Sebab, orang yang tidak
berpuasa di bulan Ramadhan, maka pada saat tiba idul fitri, dia akan menyambut hari kemenangan
itu dengan sikap dingin, hambar, hampa, seolah tidak terjadi apa-apa. Sementara orang yang
berpuasa, apalagi sampai sebulan penuh, pasti merayakannya dengan penuh kenikmatan. Inilah
kemudian bisa dipahami bahwa mengapa Al-Qur’an mengisyaratkan bahwa orang yang merayakan
idul fitri itu seolah dia memperoleh ampunan dan ridha Allah sehingga dia bisa mendapatkan
kenikmatan surgawi.

 Menurut saya, kenikmatan surgawi tidaklah semata-mata dalam pengertian material, yaitu
surga yang dijanjikan oleh Allah di yaumil akhir nanti, tetapi juga bermakna spiritual, yaitu berupa
konsep tentang kebahagiaan dan kenikmatan hidup yang diperoleh manusia setelah dia mampu
menuntaskan suatu pekerjaan berat yang dibebankan kepadanya. Dan kenikmatan spiritual itu bisa
diperolehnya di dunia. Bukankah kenikmatan hidup itu terasa kian besar manakala kita mampu
keluar dari kesulitan hidup dengan selamat ?  Seolah-olah kita dihadapkan pada sebuah kesulitan besar laksana keluar dari lubang jarum kemudian masuk ke lapangan terbuka, sehingga kita bisa menikmati udara segar dan hawa sejuk.

Tiada lagi kepengapan dan kepenatan yang mengepung jiwa kita.
 Sesungguhnya metafora ‘lapangan terbuka’ akan mampu memberikan kepada kita
kenikmatan hidup yang membahagiakan. Itulah yang disebut-sebut sebagai kemampuan manusia
untuk memperoleh kemenangan sejati dalam ber’idul fitri. Seolah di Hari Fitri semua persoalan yang
mengganjal kehidupan, terselesaikan. Apakah kamu tidak ingin Alah memaafkan kamu ?

 Allah adalah Maha Pemaaf lagi Maha Penyayang (Al-Qur’an, An-Nur : 22). Mudah-mudahan di Hari Raya
Idul Fitri ini, kita pun kembali termasuk orang-orang yang kembali memperoleh keridhaan Allah dan
menikmati keindahan surga-Nya, sebagai bukti bahwa kita ‘menang’ dalam mengatasi segala ujianNya. Wallahua’lam.

 Inilah hakikat Idul Fitri yang mengisyaratkan adanya upaya manusia untuk kembali
kepangkuan Tuhannya, atau kembali ke asal usul yang menciptakan manusia, yaitu Allah SWT itu
sendiri. Kembali ke Tuhan dalam keadaan putih bersih setelah melakukan tawbatan nashuha.

 Gerak upaya kembali ke asal adalah sebuah jargon yang mengindikasikan adanya ikhtiar
sadar manusia untuk melakukan penyegaran moral tatkala manusia hendak melakukan transformasi
social kehidupannya. Karena, setiap gerak ke depan ia selalu membutuhkan langkah kembali ke
belakang, agar gerak ke depan bias memiliki daya jangkau yang lebih jauh dan panjang. Tanpa
gerak kembali ke belakang besar kemungkinan lompatan ke depan tidak memiliki daya tumpu yang
kuat, sehingga jangkauan yang tercapaikan pun akan sangat dekat dan pendek.

 Ilustrasi ini menggambarkan, bahwa setiap gerak maju betapapun hebatnya selalu
membutuhkan langkah mundur sebagai proses persiapan, ancang-ancang , bahkan penyegaran,
agar dia dapat lebih leluasa menata kembali arus nafas sehingga mampu melesat ke depan secara
lebih ringan.

 ‘Idul Fitri pun memiliki makna yang sama, yaitu sebagai langkah mundur untuk proses
persiapan dalam menghadapi tantangan hidup yang mungkin jauh lebih hebat dan berat di masamasa yang akan datang. Namun jauh lebih penting lagi adalah gerakan memacu meningkatkan
moral sosial kita yang suci, murni, dan sejati itu, baik di mata manusia maupun di mata Allah SWT.

Wassalam.

Dikutip dari buku : “Noktah Pengharapan Manusia” .
http://www.depnakertrans.go.id/microsite/korpri/uploads/doc/kultum18.pdf

  3 EKONOM INDONESIA   DAN PEMIKIRANNYA   3 tokoh ekonom Indonesia pasca-reformasi, sekedar sampling acak,   berfokus pada pemulihan kri...