Jumat, 25 Mei 2012

MAKNA AJARAN DEWA RUCI


Orang Jawa menganggap cerita wayang merupakan cermin dari pada kehidupannya.

Dewa Ruci yang merupakan cerita asli wayang Jawa memberikan gambaran yang jelas mengenai hubungan harmonis antara Kawula dan Gusti, yang diperagakan oleh Bima atau Aria Werkudara dan Dewa Ruci.


Pencarian air suci Prawitasari


Guru Durna memberitahukan Bima untuk menemukan air suci Prawitasari. Prawita dari asal kata Pawita artinya bersih, suci; sari artinya inti. Jadi Prawitasari pengertiannya adalah inti atau sari dari pada ilmu suci.


Hutan Tikbrasara dan Gunung Reksamuka


Air suci itu dikatakan berada dihutan Tikbrasara, dilereng Gunung Reksamuka. Tikbra artinya rasa prihatin; sara berarti tajamnya pisau, ini melambangkan pelajaran untuk mencapai lendeping cipta (tajamnya cipta). Reksa berarti mamalihara atau mengurusi; muka adalah wajah, jadi yang dimaksud dengan Reksamuka dapat diartikan: mencapai sari ilmu sejati melalui samadi.


1. Sebelum melakukan samadi orang harus membersihkan atau menyucikan badan dan jiwanya dengan air.2. Pada waktu samadi dia harus memusatkan ciptanya dengan fokus pandangan kepada pucuk hidung. Terminologi mistis yang dipakai adalah mendaki gunung Tursina, Tur berarti gunung, sina berarti tempat artinya tempat yang tinggi.Pandangan atau paningal sangat penting pada saat samadi. Seseorang yang mendapatkan restu dzat yang suci, dia bisa melihat kenyataan antara lain melalui cahaya atau sinar yang datang kepadanya waktu samadi. Dalam cerita wayang digambarkan bahwasanya Resi Manukmanasa dan Bengawan Sakutrem bisa pergi ketempat suci melalui cahaya suci.


Raksasa Rukmuka dan Rukmakala


Di hutan, Bima diserang oleh dua raksasa yaitu Rukmuka dan Rukmala. Dalam pertempuran yang hebat Bima berhasil membunuh keduanya, ini berarti Bima berhasil menyingkirkan halangan untuk mencapai tujuan supaya samadinya berhasil.Rukmuka : Ruk berarti rusak, ini melambangkan hambatan yang berasal dari kemewahan makanan yang enak (kemukten).Rukmakala : Rukma berarti emas, kala adalha bahaya, menggambarkan halangan yang datang dari kemewahan kekayaan material antara lain: pakaian, perhiasan seperti emas permata dan lain-lain (kamulyan)Bima tidak akan mungkin melaksanakan samadinya dengan sempurna yang ditujukan kepada kesucian apabila pikirannya masih dipenuhi oleh kamukten dan kamulyan dalam kehidupan, karena kamukten dan kamulyan akan menutupi ciptanya yang jernih, terbunuhnya dua raksasa tersebut dengan gamblang menjelaskan bahwa Bima bisa menghapus halangan-halangan tersebut.


Samudra dan Ular


Bima akhirnya tahu bahwa air suci itu tidak ada di hutan , tetapi sebenarnya berada didasar samudra. Tanpa ragu-ragu sedikitpun dia menuju ke samudra. Ingatlah kepada perkataan Samudra Pangaksama yang berarti orang yang baik semestinya memiliki hati seperti luasnya samudra, yang dengan mudah akan memaafkan kesalahan orang lain.Ular adalah simbol dari kejahatan. Bima membunuh ular tersebut dalam satu pertarungan yang seru. Disini menggambarkan bahwa dalam pencarian untuk mendapatkan kenyataan sejati, tidaklah cukup bagi Bima hanya mengesampingkan kamukten dan kamulyan, dia harus juga menghilangkan kejahatan didalam hatinya.


Untuk itu dia harus mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:


Rila : dia tidak susah apabila kekayaannya berkurang dan tidak iri kepada orang lain.
Legawa : harus selalu bersikap baik dan benar.
Nrima : bersyukur menerima jalan hidup dengan sadar.
Anoraga : rendah hati, dan apabila ada orang yang berbuat jahat kepadanya, dia tidak akan membalas, tetap sabar.
Eling : tahu mana yang benar dan salah dan selalu akan berpihak kepada kebaikan dan kebenaran.
Santosa : selalu beraa dijalan yang benar, tidak pernah berhenti untuk berbuat yang benar antara lain : melakukan samadi. Selalu waspada untuk menghindari perbuatan jahat.
Gembira : bukan berarti senang karena bisa melaksanakan kehendak atau napsunya, tetapi merasa tentram melupakan kekecewaan dari pada kesalahan-kesalahan dari kerugian yang terjadi pada masa lalu.
Rahayu : kehendak untuk selalu berbuat baik demi kepentingan semua pihak.
Wilujengan : menjaga kesehatan, kalau sakit diobati.
Marsudi kawruh : selalu mencari dan mempelajari ilmu yang benar.
Samadi .
Ngurang-ngurangi: dengan antara lain makan pada waktu sudah lapar, makan tidak perlu banyak dan tidak harus memilih makanan yang enak-enak: minum secukupnya pada waktu sudah haus dan tidak perlu harus memilih minuman yang lezat; tidur pada waktu sudah mengantuk dan tidak perlu harus tidur dikasur yang tebal dan nyaman; tidak boleh terlalu sering bercinta dan itu pun hanya boleh dilakukan dengan pasangannya yang sah.
Legawa : harus selalu bersikap baik dan benar.Nrima : bersyukur menerima jalan hidup dengan sadar.Anoraga : rendah hati, dan apabila ada orang yang berbuat jahat kepadanya, dia tidak akan membalas, tetap sabar.Eling : tahu mana yang benar dan salah dan selalu akan berpihak kepada kebaikan dan kebenaran.Santosa : selalu beraa dijalan yang benar, tidak pernah berhenti untuk berbuat yang benar antara lain : melakukan samadi. Selalu waspada untuk menghindari perbuatan jahat.Gembira : bukan berarti senang karena bisa melaksanakan kehendak atau napsunya, tetapi merasa tentram melupakan kekecewaan dari pada kesalahan-kesalahan dari kerugian yang terjadi pada masa lalu.Rahayu : kehendak untuk selalu berbuat baik demi kepentingan semua pihak.Wilujengan : menjaga kesehatan, kalau sakit diobati.Marsudi kawruh : selalu mencari dan mempelajari ilmu yang benar.Samadi .Ngurang-ngurangi: dengan antara lain makan pada waktu sudah lapar, makan tidak perlu banyak dan tidak harus memilih makanan yang enak-enak: minum secukupnya pada waktu sudah haus dan tidak perlu harus memilih minuman yang lezat; tidur pada waktu sudah mengantuk dan tidak perlu harus tidur dikasur yang tebal dan nyaman; tidak boleh terlalu sering bercinta dan itu pun hanya boleh dilakukan dengan pasangannya yang sah.Legawa : harus selalu bersikap baik dan benar.Nrima : bersyukur menerima jalan hidup dengan sadar.Anoraga : rendah hati, dan apabila ada orang yang berbuat jahat kepadanya, dia tidak akan membalas, tetap sabar.Eling : tahu mana yang benar dan salah dan selalu akan berpihak kepada kebaikan dan kebenaran.Santosa : selalu beraa dijalan yang benar, tidak pernah berhenti untuk berbuat yang benar antara lain : melakukan samadi. Selalu waspada untuk menghindari perbuatan jahat.Gembira : bukan berarti senang karena bisa melaksanakan kehendak atau napsunya, tetapi merasa tentram melupakan kekecewaan dari pada kesalahan-kesalahan dari kerugian yang terjadi pada masa lalu.Rahayu : kehendak untuk selalu berbuat baik demi kepentingan semua pihak.Wilujengan : menjaga kesehatan, kalau sakit diobati.Marsudi kawruh : selalu mencari dan mempelajari ilmu yang benar.Samadi .Ngurang-ngurangi: dengan antara lain makan pada waktu sudah lapar, makan tidak perlu banyak dan tidak harus memilih makanan yang enak-enak: minum secukupnya pada waktu sudah haus dan tidak perlu harus memilih minuman yang lezat; tidur pada waktu sudah mengantuk dan tidak perlu harus tidur dikasur yang tebal dan nyaman; tidak boleh terlalu sering bercinta dan itu pun hanya boleh dilakukan dengan pasangannya yang sah.


Pertemuan dengan Dewa Suksma Ruci


Sesudah Bima mebunuh ular dengan menggunakan kuku Pancanaka, Bima bertemu dengan Dewa kecil yaitu Dewa Suksma Ruci yang rupanya persis seperti dia. Bima memasuki raga Dewa Suksma Ruci melalui telinganya yang sebelah kiri. Di dalam, Bima bisa melihat dengan jelas seluruh jagad dan juga melihat dewa kecil tersebut.


Pelajaran spiritual dari pertemuan ini adalah :Bima bermeditasi dengan benar, menutup kedua matanya, mengatur pernapasannya, memusatkan perhatiannya dengan cipta hening dan rasa hening.Kedatangan dari dewa Suksma Ruci adalah pertanda suci, diterimanya samadi Bima yaitu bersatunya kawula dan Gusti.Di dalam paningal (pandangan didalam) Bima bisa melihat segalanya segalanya terbuka untuknya (Tinarbuka) jelas dan tidak ada rahasia lagi. Bima telah menerima pelajaran terpenting dalam hidupnya yaitu bahwa dalam dirinya yang terdalam, dia adalah satu dengan yang suci, tak terpisahkan. Dia telah mencapai kasunyatan sejati. Pengalaman ini dalam istilah spiritual disebut “mati dalam hidup” dan juga disebut “hidup dalam mati”. Bima tidak pernah merasakan kebahagiaan seperti ini sebelumnya. Mula-mula di tidak mau pergi tetapi kemudian dia sadar bahwa dia harus tetap melaksanakan pekerjaan dan kewajibannya, ketemu keluarganya dan lain-lain.Arti simbolis pakaian dan perhiasan BimaBima mengenakan pakaian dan perhiasan yang dipakai oleh orang yang telah mencapai kasunyatan-kenyataan sejati.Gelang Candrakirana dikenakan pada lengan kiri dan kanannya. Candra artinya bulan, kirana artinya sinar. Bima yang sudah tinarbuka, sudah menguasai sinar suci yang terang yang terdapat di dalam paningal.Batik poleng : kain batik yang mempunyai 4 warna yaitu; merah, hitam, kuning dan putih. Yang merupakan simbol nafsu, amarah, alumah, supiah dan mutmainah. Disini menggambarkan bahwa Bima sudah mampu untuk mengendalikan nafsunya.Tusuk konde besar dari kayu asemKata asem menunjukkan sengsem artinya tertarik, Bima hanya tertarik kepada laku untuk kesempurnaan hidup, dia tidak tertarik kepada kekeyaan duniawi.Tanda emas di antara mata.Artiya Bima melaksanakan samadinya secara teratur dan mantap.Kuku PancanakaBima mengepalkan tinjunya dari kedua tangannya. Melambangkan :1. Dia telah memegang dengan kuat ilmu sejati.2. Persatuan orang-orang yang bermoral baik adalah lebih kuat, dari persatuan orang-orang yang tidak bertanggung jawab, meskipun jumlah orang yang bermoral baik itu kalah banyak.Contohnya lima pandawa bisa mengalahkan seratus korawa. Kuku pancanaka menunjukkan magis dan wibawa seseorang yang telah mencapai ilmu sejati.Sumber : karatonsurakarta.blogspot.com


DENGERIN LAGU MELALUI WINAMP YANG ADA LIRIKNYA

Bagi teman2 yang suka dengerin lagu sambil kerja, eh.... kerja di depan komputer sambil dengerin lagu silahkan kunjungi situs di bawah ini dan unduh/download dan jalankan instruksinya. Anda pasti bisa.

http://topan.web.id/lirikwinamp















Kamis, 24 Mei 2012

KETIKA BERMITRA DENGAN ORANG LAIN

Thomas jefferson berkata, "Sebatang lilin tidak kehilangan apa-apa, ketika lilin itu menyalkan lilin lain." Inilah sifat sejati sebuah kemitraan. Saya pikir tidak semua orang berpendapat seperti itu. Mereka percaya bahwa berbagi berarti kehilangan sesuatu, tetapi saya pikir itu tidak benar.

Setiap orang memiliki satu dari dua pola pikir:kelangkaan atau kelimpahan. Orang yuang memiliki pola pikir kelangkaan percaya bahwa hanya terdapat sedikit sumberdaya untuk melanjutkan perjalanan, jadi ia harus memanfaatkan dengan hati-hati setiap sumberdaya sehingga tidak ada yang terbuang dari apa yang dimiliki dan melindungi sebaik-baiknya apa pun yang ia miliki.

Orang yang memiliki pola pikir kelimpahan percaya bahwa akan selalu tersedia cukup sumberdaya untuk menempuh perjalanan. Jika meiliki sebuah ide, bagikanlah, dan Anda akan selalu mendapat ide baru. Jika Anda hanya meiliki sepotong kue, biarkanlah orang lain memakannya, Anda masih bisa membuat kue lain.

Saya percaya bahwa dalam hal ini, Anda mendapatkan apa yang Anda harapkan dari kehidupan. Anda dapat menimbun milik Anda yang sedikit itu dan tidak menerima apa-apa lagi. Atau, Anda dapat memberikan apa yang Anda miliki, dan Anda mendapat ganjaran yang melimpah. Sikap Andalah yang membuat perbedaan itu.

Jadi jika Anda bermitra dengan orang lain dan berbagi dengan murah hati, melalui bebagai cara Anda akan menerima kembali lebih dari yang Anda berikan.
                                   
                                                                                _Winning with People

Renungkan bagaimana pola pikir Anda tentang kelangkaan atau kelimpahan memengaruhi kepemimpinan (sikap diri) Anda.


diambil dari Maxwell Daily Reader HC: bacaan Inspirasional 365 hari..., BIP,2011, Jakarta
http://www.gramediaonline.com/
 
  

Perjuangan Perempuan Desa; Tiada Pernah Berakhir

Perjuangan Perempuan Desa; Tiada Pernah Berakhir


Perempuan pedesaan memiliki peran yang besar dalam mengatur kondisi keuangan dalam rumah tangga. Dimana mayoritas rumah tangga petani berada pada posisi subsistensi ditandai; secara struktural kondisi kehidupan yang cenderung minimalis dengan melakukan usaha-usaha kecil untuk bisa bertahan hidup dan secara kultural petani enggan mengambil resiko untuk mengatasi permasalahan subsistensinya. Upaya bertahan hidup ini merupakan kondisi yang erat dengan garis kemiskinan, ditandai dengan kekhawatiran kekurangan pangan.
Pada saat ini daya beli rumah tangga petani semakin menurun karena pendapatan yang diperoleh dari sektor pertanian ini tidak bisa mencukupi untuk ditukar dengan kebutuhan-kebutuhan subsisten, atau nilai tukar petani sangat rendah terhadap kebutuhan-kebutuhan subsisten. Kebutuhan subsisten tersebut dapat dikategorikan sebagai berikut;

Tabel 1. Pengeluaran Bulanan Rumah Tangga Petani


No
Item
Harga
Frekuensi
Total
Keterangan
1.
Beras
5.000
31 hari
155.000
Asumsi untuk 3 anggota keluarga
2.
Sayur, buah dan lauk
10.000
31 hari
310.000
Lauknya; tahu, tempe,telur
3.
Minyak goreng
9.500
4 liter
38.000
-
4.
Minyak tanah
3.000
10 liter
30.000
Asumsi masak menggunakan kompor minyak tanah
5.
Belanja bulanan
150.000
1 kali
150.000
Pembelian; sabun,odol,sikat
6.
Bayar listrik
50.000
1 kali
50.000
Termasuk untuk air
7.
Kegiatan sosial
25.000
5 kali
125.000
Nyumbang
8.
Jimpitan dan ronda
1.000
31 hari
31.000
Tidak termasuk arisan
9.
Sangu anak
5.000
31 hari
155.000
Rincian; sekolah, main, ngaji
10.
Lain-lain
50.000
1 kali
50.000
Menjenguk tetangga sakit
TOTAL
1.094.000


Sumber : Wawancara dengan Petani di Desa Bokoharjo, Prambanan, Sleman, Yk



Setiap bulan seorang RTP dengan kurang lebih memiliki satu orang anak harus mencukupi kebutuhan subsistensinya sejumlah Rp 1.049.000 selama sebulan dan setahun sejumlah Rp 13.128.000 selama setahun, dengan rincian sebagian besar kebutuhan untuk makan dan sosial.
Untuk memenuhi kebutuhan subsistensi itu, mengandalkan dari hasil pertanian pasti hasilnya tidak cukup. Selama 1 tahun dengan tiga kali musim tanam,mayoritas musim tanam I, menghasilkan padi, rata-rata kepemilikan lahan sekitar 500 m2 hanya menghasilkan beras kurang lebih 4-5 karung beras; pada musim tanam II, tanaman padi hasilnya berkurang, menjadi 3-4 karung karena pasokan air yang berkurang dan musim tanam III lahan menghasilkan tanaman palawija. Hasil panen pada musim tanam I dan II digunakan RTP untuk cadangan atau stok pangan, kecuali pada kondisi terpaksa dijual, sedangkan palawija yang dikonversi dalam bentuk uang untuk mencukupi beraneka ragam kebutuhan rumah tangga petani.
Hasil panen selama 1 tahun itu dengan 3 kali musim tanam digunakan RTP untuk memenuhi kebutuhan subsisten, yakni kebutuhan harian makan dan kebutuhan sosial selama satu tahun. Upaya untuk memenuhi kebutuhan tersebut karena kekurangan dari hasil penen, beraneka usaha dilakukan petani dengan melakukan berbagai macam pekerjaan serabutan; tukang bangunan, buruh tani, berdagang, beternak, membangun usaha-usaha mikro dan mengadu nasib menjadi TKI/TKW di luar negeri. Pada kondisi kekurangan memenuhi kebutuhan subsistensi RTP ini, peran perempuan pedesaan di sektor ekonomi sangat dominan. Pembagian kerja yang nampak, perempuan menutupi kebutuhan subsistensi, sedangkan petani menutupi kebutuhan-kebutuhan simpanan untuk kepentingan jangka panjang, misalnya; membangun rumah, sekolah anak-anak, kendaraan, dan kebutuhan tak terduga.
Mbah Wagirah (56), perempuan buruh tani di Pelemsari, Bokoharjo, Prambanan. Dia adalah penjaga subsistensi rumah tangga dengan mengandalkan tenaga untuk mendapatkan penghasilan dari sektor pertanian. Pekerjaan rutin yang menjadi penopang hidupnya; tandur yakni menanam padi, matun yakni panen padi, ndaut yakni membersihkan tanaman padi dari gulma dan rumput-rumput liar, menanam palawija, panen palawija dan bekerja serabutan di desa; rewang tetangga yang punya hajat (mantu), menjemur padi dan membantu orang-orang kaya di desa untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Bekerja di sektor pertanian, buruh tandur Mbah Wagirah mendapatkan upah Rp 5.000 dengan sekali mendapat snack dan makan siang, upah tersebut lebih rendah daripada buruh laki-laki Rp 6.000 dengan sekali snack dan makan siang. Pekerjaan matun mendapat upah 1/6 dari hasil panen dibagi dengan jumlah orang yang matun, misalnya hasil panen 6 kwintal, maka buruh matun mendapatkan 1/6 dari 6 kwintal yakni 1 kwintal = 100 kg. Jika buruh matunnya sebanyak 10 orang, maka Mbah Wagirah mendaptkan jatah 100/10, yakni 10 kg sekali matun. Sedangkan pekerjaan menanam atau panen palawija Mbah Wagirah mendapatkan upah Rp 5.000-Rp 10.000 sekali bekerja. Perempuan buruh tani seperti Mbah Wagirah ini, dengan hanya mengandalkan tenaga bekerja di sektor pertanian, sangat sulit untuk mendapat uang cash berapa pun jumlahnya dan hasil pertanian pun juga tidak melimpah karena sawah yang dimiliki kurang lebih 250-500 m2. Pekerjaan matun, tandaur dan menama palawija bersifat musiman. Kalau tidak ada pekerjaan itu, mereka pasti menganggur.
Produktivitas yang rendah di sektor pertanian, menjadi penyebab kurangnya minat generasi muda melanjutkan pekerjaan ini. Perempuan di Bokoharjo bisa dihitung dengan jari yang mau bekerja di sektor ini. Mbak Atun (29) merupakan satu-satunya perempuan di dusun Pelemsari  yang mau menggeluti kotornya lumpur pertanian. Petani perempuan ini bersama dengan suami mengelola sawah yang disewa dari salah seorang perangkat desa Bokoharjo seluas 1.000 m2 dengan uang sewa senilai Rp 1.000.000 per tahun. Selama musim tanam I dan II ditanami padi dan pada musim tanam III ditanami kacang tanah. Dia berani berspekulasi menanam tanaman sayur mayur; sawi, bayam, cabe dan kacang panjang di sawah yang bisa dia jual sewaktu-waktu membutuhkan uang dan menguntungkan ketika harga sayur mayur mahal, meskipun pada kondisi cuaca buruk hasilnya merugi karena tanaman holtikultura tersebut lebih banyak yang membusuk. Untuk menambal kebutuhan rumah tangga, bagi Mbak Atun, peranian bukan merupakan satu-satunya pekerjaan yang diandalkan. Dengan tenaganya Mbak Atun masih beternak sapi; mencari rumput dan ngombor (memberi makanan tambahan berupa dedak atau polar) setiap hari, memandaikan sapi tiga hari hari sekali dan memeriksakan kesehatan sapi kepada mantri hewan juga dia lakukan. Tidak tanggung-tanggung, sapi peliharaannya ada 3 ekor. Berdesak-desakan dengan petani lain ketika memandikan sapi di kali, tidak malu dia lakukan untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga. Pekerjaan bertani dan beternak itu dia lakukan sendiri karena suaminya menjalankan bisnis lain, yakni blantik kambing. Terkadang Mbak Atun juga meminta bantuan buruh tani untuk membantu tandur, matun dan daut. Penghasilan dari bertani dan beternak Mbak Atun gunakan untuk simpanan membeli tanah, membangun rumah yang dikerjakan mboko sithik dan membiayai sekolah kedua anak perempuannya. Sementara itu, bisnis blantik sapi yang dijalankan oleh suaminya tidak hanya sekedar bisnis jual beli semata tetapi juga pra jual beli, yakni perawatan dan penggemukan kambing. Sehingga pekerjaan mencari rumput harus dilakukan oleh suami Mabk Atun ini. Setengah dari luas rumahnya didesain untuk kandang penggemukan kambing. Bau kambing, kotoran ternak dan suara hewan peliharaan selalu menemani Mbak Atun dan keluarganya. Istilah jorok, bau dan tidak higienis tidak dia kenal karena usaha seperti itu dia lakukan untuk mengatasi subsistensi ruamh tangganya.
Rumah tangga Mbak Atun merupakan cerminan keluarga muda di desa yang mau bertani. Mayoritas rumah tangga muda lain di pedesaan enggan menekuni pekerjaan bertani. Diantaranya rumah tangga Iyem (28), anak seorang buruh tani miskin di dusun. Alasan mengapa rumah tangga Iyem tidak bertani; tidak memiliki lahan pertanian, tidak pernah diajari oleh orang tuanya bertani, hasil pertanian yang dijalankan oleh orang tua selama ini tidak mencukupi kebutuhan subsistensi keluarga dan pertanian itu tidak bergengsi serta jorok. Bagi Iyem yang berpendidikan hanya lulusan SMP untuk mendapatkan pekerjaan formal di desa atau merantau ke kota besar sangat lah berat, sehingga pekerjaan yang dilakukannya selama ini cenderung serabutan, demikian juga suaminya; pelayan toko, rewang tetangga, pabrik tegel, buruh bangunan, tukang semprot nyamuk demam berdarah ataupun membantu pekerjaan rumah tangga keluarga kaya di dusun. Pekerjaan serabutan dan tidak tidak tetap itu menjadikan keluarga Iyem “kekurangan” dan hidup dengan sangat bersahaja. Akan tetapi sedikit demi sedikit rumah tangga tesebut mampu mengumpulkan uang untuk membangun rumah sederhana yang belum dilepo, belum berlantai tegel, perabotan rumah tangga ala kadarnya dan memili simpanan untuk biaya sekolah kedua anak laki-lakinya.
Demikian halnya dengan rumah tangga Mbak Yuni (32) yang tidak bergelut di sektor pertanian. Harapan rumah tangga Yuni ini lebih tinggi daripada Iyem. Cita-cita dan harapan itu diwujudkan dengan menjadi TKI/TKW di Malaysia. Bagi pasangan suami istri ini, mengadu nasib di luar negeri adalah pilihan yang dianggap mendatangkan kesejahteraan keluarga, bahkan pasangan rumah tangga ini memulai perjumpaan di Malaysia juga, ketika sama-sama masih bekerja di pabrik. Untuk bisa bekerja di Malaysia tidaklah murah. Orang tua Mbak Yuni harus mengeluarkan uang jutaan rupiah yang diperoleh dari menjual sapi simpanan dan pinjaman sana-sini dari keluarga dan tetangga lain, bahkan ketika pada kondisi kepepet dan tidak mempunyai simpanan lain, tanah warisan orang tua terpaksa direlakan dijual dan mereka menggarap lahan sewa milik pejabat desa untuk mempertahankan subsistensinya. Setelah kontrak selama 2 tahun di Malaysia, pasangan ini memutuskan tidak bekerja lagi di luar negeri karena mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi dan mulai memilih bekerja di negeri sendiri walaupun hasilnya tidak seberapa dan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan subsistensi rumah tangga. Pulang kampung, rumah tangga Mbak Yuni sudah mampu membangun rumah menengah dengan bahan-bahan serba mahal dan membuka usaha kelontong dan berjualan sayuran keliling setiap pagi hari. Pendapatan kecil, pasti dan rutin yang dia geluti mampu mencukupi kebutuhan subsistensi keluarganya pada skala kecil.


Mbah Wagirah, Mbak Atun, Iyem dan Yuni merupakan bagian dari perempuan-perempuan pejuang di pedesaan untuk bisa bertahan hidup. Perempuan ini tidak mengenal kesetaraan gender dan perjuangan gerakan perempuan, tetapi dalm praktek sosial dan ekonominya, kesetaraan dan perjuangan sudah mereka lakukan untuk bisa hidup seperti orang-oarang kaya desa dan gaya hidup orang kota yang mereka ketahui dari berbagai macam iklan di televeisi, satu-satunya hiburan yang mereka miliki. Mereka terus berjuang untuk menyejahterakan keluarga, masyarakat sekitarnya dan demi anak-anak mereka sebagai penerus perjuangan suci perempuan-perempuan desa.  (*)



Selasa, 22 Mei 2012

Kecelakaan Sukhoi dan santunan Jamsostek

Kecelakaan Sukhoi dan santunan Jamsostek




Jakarta (ANTARA News) - Di balik duka kecelakaan pesawat Sukhoi Super Jet 100 ternyata ditemukan fenomena berindikasi penipuan pada kepesertaan jaminan sosial, yakni sebuah perusahaan penerbangan mendaftarkan direkturnya yang menjadi korban dalam program jamsostek setelah kecelakaan terjadi.

Adalah Dirut PT Jamsostek Hotbonar Sinaga yang mengungkapkan kondisi itu kepada pers. Sikap yang menurut dia tidak santun dan tidak menghormati hak-hak normatif pekerja yang diatur dalam peraturan perundangan dan konvemsi ILO.

Peristiwa kecelakaan acap kali mengungkapkan kecurangan perusahaan pada pekerjanya. Praktik yang terungkap biasanya perusahaan tidak membayar upah yang sebenarnya sehingga pekerja mendapat santunan di bawah yang seharusnya.

PT Jamsostek hanya bisa membayar santunan senilai upah yang dilaporkan, jika upah yang dilaporkan dimanipulasi maka jumlah santunan menjadi tidak sebanding dengan upah yang didapat pekerja.


Tolak Membayar

Kembali pada kasus perusahaan penerbangan yang mendaftarkan direkturnya yang menjadi korban kecelakaan Sukhoi, PT Jamsostek dengan tegas menyatakan tidak akan membayar santunan kecelakaan tersebut karena perusahaan mendaftar korban sehari setelah peristiwa terjadi, yakni tanggal 10 Mei.

"Kecelakaan terjadi pada 9 Mei, mereka mendaftar via online 10 Mei," kata Hotbonar. Dia menambahkan perilaku seperti itu sama juga dengan penipuan.

Mungkin perusahaan penerbangan itu takut disalahkan keluarga korban dan juga masyarakat luas karena menjadi peserta jaminan sosial tenaga kerja adalah hak setiap pekerja.

Kondisi seperti ini pernah juga terjadi sebelumnya di mana perusahaan yang bersangkutan kelabakan memberi santunan karena malu dengan keluarga korban juga malu pada masyarakat luas.

Konsekuensi perusahaan yang bersangkutan harus memberi santunan kecelakaan sesuai hak keluarga korban.

"Ini menjadi pelajaran bagi perusahaan lain agar tidak mengabaikan hak-hak normatif pekerja," kata Hotbonar.

Dia juga menyatakan pada kasus Sukhoi juga terdapat perusahaan yang melaporkan sebagian dari upah pekerjannya. Istilah di jamsostek, perusahaan daftar sebagian upah pekerja.

Pada kondisi demikian, PT Jamsostek menyerahkan permasalahannya pada pekerja apakah merelakan santunan yang kebih kecil atau meminta perusahaan untuk menambah kekurangan santunan yang menjadi hak ahli waris.

Berdasarkan peraturan perundangan, perusahaan wajib mendaftarkan pekerjanya dalam program jaminan sosial jika memperkerjakan 10 orang atau membayar total upah Rp1 juta perbulan.

Dengan upah minimum yang rata-rata Rp1 juta perbulan saat ini maka perusahaan yang memperkerjakan satu orang saja sudah wajib mendaftarkan pekerjanya dalam program jaminan sosial tenaga kerja.

Berdasarkan Konvensi ILO pekerja berhak mendapatkan jaminan kematian, jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua, jaminan pemeliharaan kesehatan dan jaminan pensiun.


Rp7,5 Miliar


Terlepas dari itu, PT Jamsostek sebenarnya sudah menyiapkan sedikitnya Rp7,5 miliar untuk 12 korban kecelakaan Sukhoi Super Jet (SSJ) 100 yang jatuh setelah menabrak Gunung Salak, Bogor, pada Rabu (9/5) lalu.

Ke-12 korban tersebut adalah pekerja yang sudah menjadi peserta jaminan sosial tenaga kerja dan pada peristiwa tersebut mereka dikategorikan mengalami kecelakaan kerja.

"Kami siap menyalurkan santunan kepada ahli waris jika mereka sudah siap menerimanya," kata Hotbonar.

Keduabelasnya bekerja di perusahaan Indonesia Air Transport, PT Dirgantara Indonesia, Air Maleo, Pelita Air, Bloomberg, Trans TV, Aviastar dan Sky Aviati.

Hotbonar juga menambahkan besaran santunan kecelakaan kerja sangat tergantung pada upah yang dilaporkan perusahaan kepada PT Jamsostek. "Jika, upah yang dilapor yang benar maka ahli waris akan mendapatkan santunan yang sebenarnya," katanya.

Direktur Pelayanan PT Jamsostek Djoko Sungkono mengatakan salah satu penerima santunan atas nama KS yang bekerja di PT Dirgantara Indonesia yang mendapat santunan lebih dari Rp1 miliar. KS menjadi peserta Jamsostek sejak 1992 dan bekerja di PT Dirgantara Indonesia dengan gaji terakhir yang dilaporkan Rp19.939.200.

Berdasarkan upah yang dilaporkan tersebut maka ahli waris akan mendapat santunan dengan perhitungan, santunan kematian Rp19.939.200 x 48 jadi Rp957.081.600, uang pemakaman Rp2.000.000, santunan berkala Rp4.800.000, jaminan hari tua Rp72.008.506. Total santunan yang didapatkan Rp1.035.890.106.

Almarhum meninggalkan seorang isteri dan dua anak. Jabatan terakhir almarhum Kepala Divisi Integrasi Usaha PT DI.

Skema santunan kecelakaan kerja adalah 48 x upah yang dilaporkan + Jaminan Hari Tua + Rp2 juta uang pemakaman + Rp4,8 jt (jaminan berkala Rp200 ribu selama 24 bulan yang dibayarkan sekaligus sesuai PP 53/2012 yang baru dan berlaku 23 April 2012 lalu).

Dewan Komisaris dan Direksi serta seluruh karyawan PT Jamsostek menyatakan turut berbelasungkawa dan mendoakan agar arwah para kurban mendapat tempat terbaik di sisi-Nya


Harus Bertanggung jawab

Sementara Ketum Federasi Serikat Pekerja BUMN Abdul Latief Algafff menilai perusahaan penerbangan yang baru mendaftarkan direkturnya sehari setelah kecelakaan Sukhoi harus bertanggung jawab membayar santunan kecelakaan kerja.

Dia juga menilai tindakan perusahaan penerbangan itu tidak terpuji.

"Terdapat unsur penipuan di sana, mereka tidak jujur dan tidak bertanggungjawab atas hak normatif pekerja," kata Latief.

Dia meminta pegawai pengawas ketenagakerjaan bertindak tegas atas pelanggaran hak normatif pekerjanya tersebut.

Dalam UU Jamsostek dinyatakan bahwa perusahaan harus membayar selisih atau kekurangam jumlah klaim yang seharusnya diterima pekerja karena upah yang dilaporkan kepada PT Jamsostek bukan yang sebenarnya.

"Apa lagi perusahaan tidak mendaftarkan pekerjanya dalam program jamsostek, maka dia harus membayar santunan kecelakaan kerja sepenuhnya sesuai peraturan perundang," kata Latief.

Dalam hal ini aparat penegak hukum memang sudah seharusnya bertindak tegas karena penegakan hukum menjadi faktor fundamental dalam pelaksanaan jaminan sosial.
(E007/Z002)
Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © 2012
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com


TENTANG EDITORIAL: BEBERAPA ARTIKEL DARI KOMPASIANA.COM

Mengenal Editorial


Oleh Agraemanuela

Dalam penulisan berita, wartawan atau surat kabar tidak boleh memberikan opininya, oleh karena itu dewan redaksi memberikan kesempatan bagi organisasi untuk memberikan pandangannya. Pandangan surat kabar mengenai isu tertentu di tulis dalam bentuk editorial. Editorial merupakan sebuah suara dan sudut pandang dari sebuah perusahan atau organisasi media mengenai isu kepentingan publik. Gagasan dari organisasi media ini ditulis dalam bentuk opini. Dua hal yang identik dari opini menurut Duyile (2005:63) adalah pendapat dari surat kabar yang ditulis untuk pemahaman pembaca dan yang dapat memberikan gambaran pada masyarakat untuk mengambil keputusan mengenai isu yang dibahas. Secara umum, editorial diatur dalam empat langkah yaitu SPECS yang terdiri dari Situation, Position, Evindence, Conclusion, dan Solution. Pertama situation, menyatakan subjek dan posisi anda dalam subjek pendahuluan. Kedua, diskusi berjalan berlawanan dari sudut pandang. Ketiga, buktikan posisi anda dengan rincian bukti-bukti yang berfungsi sebagai pendukung. Terakhir adalah penyampaian kesimpulan dan solusi.
Asal mula penggunaan kata editorial pada tahun 1830, periode dimana editorial adalah istilah yang digunakan sebagai sebutan untuk menunjukan pendapat editor. Pada perkembangannnya pada abad ke 20, cakupan editorial diperluas. Artikel editorial selain berisikan gagasan editor juga dapat menjadi sarana pemberian masukan kepada editor. Beberapa surat kabar mulai menempatkan editorial di kiri sisi halaman, biasanya bagian depan. Dewasa ini editorial muncul pada halaman editorial surat kabar itu, halaman yang meliputi editorial, kolom, artikel opini, review, dan kartun. Jika lebih dari satu halaman opini, yang lain disebut op-ed halaman. Dewan redaksi adalah jajaran staf tertinggi dalam redaksi seperti editor yang dapat menulis editorial. Sebuah editorial menjadi layak cetak apabila yang dibahas dalam edititorial tidak dibahas dalam berita utama. Reputasi dari sebuah organisasi media dapat terlihat dari keakuratan data sebagai materi pendukung dalam editorial. Surat Kabar yang berbeda akan memiliki ide yang berbeda tentang bagaimana mengatur sebuah editorial, meskipun sebagian besar akan mengikuti empat langkah sebelumnya.
Editorial bukan pendapat penulis, tetapi merupakan pendapat dewan redaksi. Oleh karena itu, tidak tepat jika menggunakan kalimat seperti, “Menurut pemikiran saya” dalam penulisan editorial. Pada kenyataannya, kata-kata ini sering melemahkan argumen anda pula. Akan muncul keraguan dalam pemikiran pembaca ketika penulis menggunakan kalimat tersebut.
Jenis editorial dapat dibagi menjadi empat yaitu untuk menjelaskan atau memaparkan, untuk menilai atau mengkritik, mengajak atau mempersuasi, dan pujian. Jenis yang pertama, editorial berbentuk penjelasana atau pemaparan. Tujuan dari editorial disini lebih berupa essai yang berisi penjelasan. Editor berusaha untuk menafsirkan atau menginformasikan fakta atau isu yang berhubungan dengan kepentingan masyarakat. Dalam lingkup ini, editor sering menggunakan editorial untuk menjelaskan cara media itu menanggapi subjek berita yang sensitif dan kontroversial.
Tujuan kedua dari editorial adalah untuk menilai atau mengkritik. Ini editorial konstruktif mengkritik tindakan, keputusan atau situasi sambil memberkan solusi untuk masalah diidentifikasi. Editorial sebagai evaluasi adalah editorial yang fokus mengevaluasi pada tindakan atau situasi yang sedang membutuhkan perbaikan atau yang patut dipuji. Harapan jangka pendek adalah untuk memberikan pemahaman kepada pembaca untuk melihat masalah yang sedang diangkat. Jika editorial mengkritik, harus selalu konstruktif. Apabila media mengkritik maka media memiliki kewajiban untuk menawarkan solusi alternative atau tindakan. Maka pendapat akan dipercayai oleh masyarakat.
Editorial sebagai persuader merupakan tujuan yang ketiga. Tujuan ini terlihat ketika editorial yang mengajak atau menawarkan solusi spesifik untuk suatu masalah yang sedang dihadapi. Editorila persuasif dapat memberikan kepemimpinan dalam sebuah perubahan. Oleh karena itu, maksud dari editorial ini mengajak untuk segera melihat pada solusinya bukan masalah. Dari paragraf pertama, pembaca akan didorong untuk mengambil tindakan dan sikapn yang positif. Salah satu contoh editorial persuasi adalah dukungan terhadap kinerja politik.
Jenis editorial yang terakhir adalah editorial yang berbentuk pujian. Editorial ini bermaksudkan untuk memuji seseorang atau organisasi yang telah memiliki prestasi atau kinerja yang baik. Dalam editorial ini pun perlu dicantumkan alas an tertentu mengapa orang atau organisasi inti pantas untuk dipuji.

Sekilas Mengenai Editorial


Elfreda Simbolon
Editorial
Editorial adalah suara dari sebuah organisasi media atas isu mengenai kepentingan umum. Okoro, N dan B Agbo (2003:125) mengatakan bahwa editorial adalah evaluasi kritis, interpretasi, dan penyajian yang signifikan dimana peristiwa masa kini dibalut sedemikian rupa sehingga mampu menginformasikan, mendidik, menghibur, dan memengaruhi pembaca. Sejalan dengan itu, Iyorkyaa (1996:14) mendefinisikan editorial sebagai sebuah esai jurnalistik yang mencoba untuk menginformasikan atau menjelaskan, membujuk atau meyakinkan, dan merangsang wawasan dengan cara yang menghibur.
Kualitas sebuah editorial yang baik adalah pertama, editorial harus membawa rasa kelembagaan atau loyalitas yang berarti media seharusnya “berbicara” dalam editorial, bukan sebagai usaha individu. Kedua, bahasa dari editorial harus jelas dan tidak ambigu. Walaupun tujuan dari editorial adalah untuk memengaruhi, mendidik, atau menghibur penonton, bahasa yang digunakan harus dipahami oleh target penonton. Jika tidak, misi dari sebuah editorial tidak akan tercapai. Ketiga, dalam menulis editorial, editor harus selalu tepat. Keempat, editorial harus kaya dengan nilai kemanusiaan. Kelima, sebuah editorial harus mudah diingat dan mampu menarik perhatian. Keenam, setiap editorial harus asli. Ketujuh, editorial harus diteliti dengan baik karena editorial harus didasarkan pada fakta yang konkret dan bukan spekulasi.
Opini Publik
Opini publik merupakan keseluruhan pandangan masyarakat atas isu tertentu. Isu tersebut dapat berasal dari politik, sosial, atau ekonomi. Opini publik berguna jika dimanfaatkan dalam cara-cara berikut, seperti menyediakan sumber daya untuk penentuan citra dari seorang individu atau organisasi, menunjukkan perlunya perubahan sosial, memprediksi masa depan finansial dan perkembangan organisasi, menyediakan bahan baku untuk tujuan penelitian, sebagai alat bantu perumusan kebijakan dan perencanaan dalam masyarakat, dan menetapkan agenda bagi masyarakat.
Format dari sebuah opini publik adalah pertama, melalui media massa dimana masyarakat dapat mengungkapkannya melalui radio, TV, surat kabar, atau majalah. Kedua, kelompok sebaya atau kelompok pemuda dan pemudi yang bergerak bersama dan saling berbagi mengenai hal-hal umum dan pengaruhnya. Ketiga, kelompok penekan dan partai politik. Keempat, simposium dan kuliah umum dimana sebagai wadah brainstorming. Kelima, pemilihan umum, dan keenam orientasi individu atau latar belakang.
Opini dapat berfungsi seperti layaknya editorial. Editorial dalam majalah dan surat kabar masa kini melaksanakan fungsi-fungsi berikut yaitu pertama, mengkritik dan menyerang ekonomi sosial-politik dan dilema moral masyarakat. Kedua, editorial seringkali mencoba untuk melihat sebuah isu dari dua buah sisi. Ketiga, untuk mendiskusikan dan menyelesaikan isu yang sedang hangat, editorial akan membawa isu yang sedang diperdebatkan ke depan dan menyediakan petunjuk yang bersifat intelektual bagi masyarakat. Keempat, editorial membela masyarakat yang tertindas karena pada masyarakat tertentu terdapat kesenjangan ekonomi di dalamnya. Kelima, editorial mendorong atau mendukung sebuah isu penting ke ranah publik. Keenam, editorial mampu membangkitkan para pembuat kebijakan supaya mereka mampu mengatur agenda proaktif untuk pemerintahan yang lebih baik bagi masyarakat. Ketujuh, editorial meyakinkan pembaca agar dapat menerima kebenaran atau kesalahan dari suatu isu.
Isi Editorial
Editorial dan Berita
Editorial berurusan dengan bahan-bahan yang bersifat subjektif sedangkan berita berurusan dengan bahan-bahan yang bersifat objektif. Editorial dapat membangkitkan opini publik yang bersifat mendukung atau menentang isu topik yang sedang hangat. Berita dipengaruhi oleh peristiwa, laporan, dan beberapa faktor lainnya. Faktor-faktor yang memengaruhi berita adalah timeliness, proximity, oddities, prominence, consequences, dan human interest.
Editorial dan Features
Tulisan editorial adalah penelitian yang berorientasi. Hal yang sama juga berlaku untuk menulis feature. Feature adalah artikel jurnalistik yang lebih bersifat kreatif dimana menginformasikan, menjelaskan, menganalisis, dan mengungkapkan isu-isu untuk kepentingan pembaca. Okoro dan Agbo (2003:96) membagi antara feature dan editorial yaitu pertama, feature biasanya membawa nama penulis artikel sedangkan editorial tidak. Kedua, feature dapat disertai ilustrasi, sedangkan editorial dalam beberapa kasus tidak dapat disertai ilustrasi (ilustrasi fotografi). Ketiga, feature biasanya merupakan hasil dari upaya individu sedangkan editorial merupakan hasil dari upaya kelompok yaitu dewan redaksi.
Editorial dan Kolom
Editorial dan kolom memiliki kemiripan yang mencolok. Menulis kolom tidak sama dengan menulis editorial. Kolom adalah sejenis feature yang mengekspresikan kepribadian penulis. Para pembaca akan selalu mengingat ekspresi, gaya, dan perlakuan penulis terhadap isu.
Editorial dibagi ke dalam beberapa tipe, yaitu editorial yang bersifat interpretatif atau menjelaskan isu-isu yang dipertaruhkan oleh fakta-fakta dan tokoh , editorial yang bersifat kontroversi atau editorial ini dikemas untuk misi-misi tertentu, dan editorial yang bersifat mengutarakan atau hanya menyajikan isu yang menyulitkan dan nantinya akan dinilai oleh pembaca.
Sumber Bahan Editorial
Dalam penulisan editorial, penelitian yang menyeluruh dan komprehensif diperlukan untuk menafsirkan atau menganalisis fenomena berita dari perspektif editorial. Penelitian merupakan hal yang paling penting dalam penulisan editorial. Penulis editorial dapat menggunakan penelitian survei dalam penyelidikannya. Penelitian lapangan yang menuntut pengalaman langsung dari fenomena sosial juga dapat membantu penulis editorial dalam pengumpulan data. Penulis editorial yang memiliki subjek penelitian yang berkaitan dengan sejarah akan mendapatkan gambaran atau perspektif yang jelas tentang apa yang terjadi di masa lalu, yang berarti gambaran tersebut akan menjadi panduan penulis dalam menganalisis masa kini dan memprediksi masa depan.
Bahan editorial bersumber dari peristiwa penting, yang nantinya dapat diberitakan di media massa. Sumber lainnya adalah internet, artinya penulis dapat menelusuri data melalui internet dan mengunduh bahan yang relevan untuk memperkaya bahan editorialnya. Selain itu, melalui catatan dimana editorial dapat menggunakan sumber yang lain seperti jurnal, biografi, konstitusi, dan lain-lain.
Karakteristik Editorial
Hal-hal yang harus dimiliki sebuah editorial yaitu pertama, pendahuluan, isi, dan kesimpulan. Kedua, penjelasan objektif atas sebuah isu, terutama isu yang kompleks. Ketiga, sudut pandang atas suatu berita. Keempat, opini yang berasal dari pandangan yang berbeda yang menyanggah secara langsung isu yang sama dengan yang penulis sebutkan. Kelima, dalam editorial opini penulis disampaikan dengan cara profesional. Keenam, solusi alternatif terhadap suatu isu dapat dikritisi. Ketujuh, opini penulis dirangkum menjadi kesimpulan yang padat dan ringkas.
Empat hal yang dilakukan editorial yaitu pertama, menjelaskan atau menginterpretasikan, mengkritisi, mengajak, dan menyanjung. Menjelaskan berarti editor menggunakan editorial untuk menjelaskan bagaimana surat kabar menutupi topik yang sensitif atau kontroversial sedangkan mengkritisi berarti mengkritik tindakan, keputusan atau situasi namun juga sekaligus memberikan solusi atas suatu masalah. Mengajak berarti editorial bertujuan untuk melihat solusi bukan masalah, dan menyanjung berarti editorial menghargai masyarakat dan organisasi atas tercapainya suatu hal.
Dalam menulis editorial, terdapat beberapa hal yang harus dilakukan yaitu mengambil topik penting yang mempunyai sudut pandang berita dan menarik perhatian pembaca, mengumpulkan informasi dan fakta dengan cara melakukan penelitian, menyatakan opini penulis secara singkat dalam tesis, menjelaskan isu secara objektif, artinya sebagai reporter penulis mampu menjelaskan mengapa situasi tersebut begitu penting, memberikan pandangan yang berbeda dengan kutipan dan faktanya, menolak sisi lain dan mengembangkan isu penulis dengan menggunakan fakta, detail, gambar, dan kutipan, artinya isu yang diangkat oleh penulis harus memiliki beberapa poin penting agar membuat isu tersebut terlihat rasional, mengulangi kata kunci untuk memperkuat ide di dalam pikiran pembaca, memberikan solusi yang realistis terhadap isu yang melampaui pengetahuan umum, menutup dengan kesimpulan yang menyatakan kembali pernyataan tesis, dan menyatakan isu tersebut dalam 500 kata.
Sumber :
Alan Weintraut. Writing an editorial (compilation)
Ate, Andrew Asan. 2008. Editorial Writing. Nigeria: National Open University of Nigeria
 



Apa dan Bagaimana Editorial Itu?

Arum Narwastu

Editorial adalah artikel yang menyajikan pendapat surat kabar terhadap suatu isu. Artikel ini mencerminkan suara mayoritas dari para dewan redaksi, dewan redaksi surat kabar terdiri dari editor dan manajer bisnis. Editorial biasanya unsigned atau diterbitkan tanpa byline (nama penulis) karena editorial mewakili pendapat surat kabar, bukan penulis.
Surat kabar itu adalah suara dari masyarakat sedangkan editorial adalah suara dari koran. Suara ini dapat memberi informasi kepada pembaca, merangsang pemikiran, mencetak opini dan kadang-kadang menggerakkan orang untuk bertindak. Umumnya, editorial menawarkan solusi spesifik untuk suatu masalah yang tengah dirasakan. Dalam editorial, redaksi mengharapkan tindakan segera daripada pemahaman situasi.
Bentuk dan isi editorial dipengaruhi oleh kebijakan dan filosofi surat kabar, struktur kepemilikan dan lingkungan politik dimana koran beroperasi. Terdapat tiga jenis editorial. Pertama adalah Interpretative Editorial. Ini adalah jenis editorial yang ditulis dengan misi utama untuk menjelaskan isu-isu yang dipertaruhkan oleh fakta-fakta dan figur untuk memberikan penerangan dan pengetahuan.  Editorial interpretatif bisa positif, negatif atau bahkan netral dalam pendekatan atau postur tergantung pada keadaan dan perlakuan penulis editorial terhadap suatu isu.
Kedua, Controversial Editorial. Controversial Editorial adalah jenis editorial yang dikemas dengan misi tertentu atau mandat untuk menyebarkan sudut pandang tertentu. Editorial yang kontroversial digunakan untuk meyakinkan pembaca pada keinginan atau keniscayaan isu tertentu sementara sudut pandang yang berlawanan akan digambarkan secara buruk.
Jenis yang terakhir adalah Explanatory Editorial. Editorial ini hanya menyajikan masalah untuk dinilai oleh pembaca. Jenis editorial ini hanya membuka dan memprovokasi pikiran pembaca mengenai masalah kepentingan sosial-politik dan ekonomi untuk menarik perhatian pembaca dan memungkinkan mereka untuk menilai. Explanatory Editorial mengidentifikasi masalah, menjelaskannya dan memungkinkan pembaca untuk mencari solusi untuk itu.
Editorial dikatakan baik jika memenuhi beberapa kriteria. Beberapa kriteria tersebut antara lain, sebuah editorial harus membawa rasa kelembagaan, artinya suara yang harus didengar “berbicara” dalam editorial adalah suara media dan bukan suara individu. Bahasa editorial harus jelas dan tidak ambigu. Tujuan editorial harus ditentukan, apakah untuk mempengaruhi penonton, mendidik atau menghibur mereka. Bahasa dalam editorial harus dipahami oleh target audiens. Jika tidak, misi editorial tidak akan tercapai.
Dalam menulis editorial, editorialist harus selalu tepat. Katakan apa yang ingin Anda katakan tanpa perlu menghabiskan banyak ruang. Hindari “verbosity and circumlocution” (penggunaan terlalu banyak kata).
Sebuah editorial harus kaya nilai human interest. Hal ini karena orang biasanya tertarik dalam urusan sesama manusia. Selain itu, editorial juga harus menarik dan menangkap perhatian. Editorial yang buruk dan lemah tidak akan dapat memberikan efek yang diinginkan pada target pembaca. Teknik persuasif dapat digunakan untuk tujuan ini. Setiap editorial harus asli dalam gaya dan substansi. Artinya tidak ada plagiasi dari media yang lain
Sebuah editorial harus diteliti dengan baik. Faktor ketepatan waktu atau kebaruan dalam penelitian kualitatif dan kuantitatif menjadi master piece editorial untuk diproduksi. Editorial harus didasarkan pada fakta-fakta konkret, bukan spekulasi. Seorang penulis editorial harus memeriksa fakta untuk memastikan tingkat kredibilitas editorialnya.
Opini Publik dan Editorial
Opini publik merupakan keseluruhan pandangan dari anggota masyarakat terhadap suatu masalah. Masalah ini meliputi masalah politik, sosial ataupun masalah ekonomi yang memiliki hubungan secara signifikan dengan publik. Terdapat hubungan yang mencolok antara opini publik dan editorial. Isu di media massa, mungkin akan disetujui masyarakat ketika isu tersebut mulai meledak dalam lingkup publik. Untuk hal-hal seperti inilah editorial hadir untuk mendukung maupun menentang pandangan yang ada dalam opini publik.
Secara garis besar, editorial dalam surat kabar biasanya melakukan beberapa hal, seperti, mengkritik atau menyerang dilema sosial-politik ekonomi dan moral masyarakat. Selain itu editorial juga memberikan pengetahuan baru pada hari itu. Dengan melemparkan lebih banyak sudut pandang untuk masalah yang kompleks, editorial sering mencoba untuk melihat dua sisi dari sebuah isu. Mereka menyoroti dan menganalisis kekuatan dan kelemahan isu-isu publik sementara pengajuan solusi untuk kompleks isu-isu yang menjadi perhatian publik.
Editorial seringkali membawa masalah baru untuk bisa diperdebatkan dan memberikan arahan intelektual bagi masyarakat untuk membahas dan menyelesaikan masalah tersebut.
Editorial akan membela underdog di masyarakat, mendukung isu penting publik, dan turut memengaruhi perumusan kebijakan atau pengambilan keputusan atas masalah tertentu.
Editorial dan Berita (News)
Berita menceritakan peristiwa yang faktual dan aktual untuk memungkinkan masyarakat memperoleh informasi mengenai kehidupannya sendiri dan lingkungan sekitarnya. Beberapa faktor yang menjadi nilai dalam berita antara lain adalah ketepatan waktu (timeliness), kedekatan (proximity), keanehan (oddities), nama membuat berita (prominence), konsekuensi (consequences) dan human interest.
Berita berurusan dengan pandangan objektif, sementara editorial berurusan dengan pandangan subjektif. Editorial dapat membangkitkan opini publik yang mendukung atau menentang suatu isu.
Editorial dan Features
Features adalah artikel jurnalistik kreatif yang menginformasikan, menjelaskan, menganalisis, menafsirkan, dan mengekspos suatu masalah. Tulisan editorial adalah penelitian yang berorientasi, hal yang sama juga berlaku untuk features. Meskipun begitu, terdapat titik perpisahan antara features dan editorial. Kebanyakan features membawa bylines, artinya nama penulis akan dicantumkan dalam tulisan tersebut. Hal ini berbeda dari editorial yang tidak membawa bylines.
Features dapat disertai dengan ilustrasi gambar. Sebaliknya dalam kebanyakan kasus, editorial tidak digambarkan (ilustrasi fotografi). Features biasanya hasil dari upaya individu, sementara editorial adalah hasil dari upaya kelompok, yaitu dewan editorial.
Editorial dan Kolom
Editorial adalah artikel atau esai jurnalistik yang kritis dan rasional yang bersifat menginformasikan, mendidik dan menghibur pembaca pada masalah sosial-politik dan ekonomi. Sedangkan sebuah kolom merupakan sebuah artikel yang membawa kepribadian, gaya, dan identitas pribadi penulis. Kolom sebagai sebuah artikel, pada khususnya subjek atau oleh seorang penulis tertentu, secara teratur muncul di koran atau majalah.
Editorial dan kolom memiliki kemiripan yang mencolok dalam gaya dan substansi terutama urusan kolom publik. Namun, editorial masih memiliki rasa kelembagaan, sementara kolom memiliki rasa pribadi. Dalam menulis editorial, kata “kita” atau nama surat kabar atau majalah sering digunakan sebagai pengesahan dari kepedulian perusahaan sementara “saya” yang digunakan dalam kolom untuk menampilkan daya tarik pribadi.
Sumber:
Ate, Andrew Asan. 2008. Editorial Writing. Nigeria: National Open University of Nigeria.
Smith, Dianne. Editorial Writing (Compilation).
Weintraut, Alan. Writing an Editorial.
 






Editorial Berperan Kuat Membentuk Opini Publik


Mega Latu




Editorial merupakan tulisan yang mengungkapkan pendapat atau suara dari perusahaan atau organisasi media surat kabar atau majalah mengenai beberapa pokok permasalahan (persoalan) yang aktual, faktual, fenomenal, ataupun kontroversial yang berkembang di masyarakat dari aspek sosial, politik, ekonomi, kebudayaan, hukum, pemerintahan, olah raga bahkan hingga entertainment dengan mengekspresikan opini atau pendapat dari sebuah perusahaan/instansi/organisasi media tertentu. Opini tersebut kemudian dapat menjadi suatu reaksi terhadap masyarakat atas berita-berita, kejadian, atau isu-isu terjadi yang telah disajikan, dimana hanya ditulis untuk mendapat pemahaman pembaca, sehingga pembaca dapat mengambil keputusan mengenai isu, peristiwa, atau permasalahan yang dibahas.
Berbicara mengenai editorial, menurut KBBI online editorial adalah ; mengenai atau berhubungan dengan editor/pengeditan (pekerjaan); artikel dari surat kabar/majalah yang mengungkapkan pendirian editor atau pimpinan surat kabar (majalah) tersebut, mengenai beberapa pokok masalah ; tajuk rencana.
Editorial juga dapat berisikan argumen untuk mendukung suatu kebijakan, tindakan, atau ide, dimana dapat menjadi argumen yang logis, kritis, evaluatif dan interpretatif yang disusun sedemikian rupa untuk menginformasikan, mendidik, menghibur dan mempengaruhi pembaca untuk menanggapi ide, peristiwa, kebijakan atau tindakan yang berdasarkan fakta yang ada dengan menunjukkan penalaran yang diberikan surat kabar.
Editorial dapat dibedakan atas tiga jenis, berdasarkan isinya ; Pertama, editorial yang menjelaskan (explain). Editorial ini sering digunakan untuk menjelaskan cara media menutupi subyek/topik yang sensitif atau kontroversional dan untuk menjelaskan situas-situasi baru yang berlangsung di seputar media tersebut. Kedua, editorial yang mengkritik (evaluate). Editorial ini menghadirkan kritik terhadap tindakan, keputusan, maupun situasi yang sifatnya membangun sembari menyediakan solusi bagi masalah yang diidentifikasi, dengan tujuan mendorong pembaca untuk melihat masalah, bukan solusinya. Ketiga, editorial yang persuasif (persuade). Model ini bertujuan untuk menyoroti solusi, bukan masalah. Umumnya, pembaca (institusi, organisasi tertentu (pemerintah)) akan didorong untuk mengambil tindakan spesifik yang nyata terhadap suatu masalah.
Karena editorial merupakan suara dari lembaga, perusahaan, instansi, atau organisasi media, maka editorial tidak ditulis dengan mencantumkan nama penulisnya, seperti halnya menulis berita atau feature. Idealnya sebelum melakukan penulisan editorial, sebaiknya segenap insan media terlebih dahulu mengadakan rapat redaksi yang dihadiri oleh pemimpin redaksi, redaktur pelaksana serta segenap jajaran redaktur yang berkompeten, untuk menentukan pilihan dan keputusan bersama terhadap suatu permasalahan krusial yang sedang berkembang di masyarakat atau dalam kebijakan pemerintahan untuk dijadikan sebuah tulisan, karena editorial merupakan tulisan yang berdasarkan dari pemikiran kolektif dari segenap awak media.
Secara tekhnik penulisan ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menulis sebuah editorial antara lain ; (1) pengantar, isi, dan kesimpulan, (2) penjelasan yang objektif mengenai isu, peristiwa, dan permasalahan tertentu, (3) sudut pandang berita ditulis dengan akurat, (4) editorial yang baik mengangkat isu/berita/peristiwa, bukan personalitas, (5) tidak menyebutkan nama panggilan/julukan, (6) memberikan solusi alternatif kepada masalah/isu yang sedang diangkat, (7) memberikan kritik yang membangun, sekaligus memberikan solusi. (8) memberikan kesimpulan yang padat, jelas dan singkat.
Oleh sebab itu untuk melakukan penulisan editorial yang baik dan profesional, penulis harus memperhatikan prinsip-prinsip dari penulisan editorial, diantaranya penulis harus mengerti bahwa editorial merupakan pandangan sebuah lembaga/perusahaan/institusi bukan pandangan pribadi, sehingga penulis harus memahami secara benar karakter, visi dan misi media yang bersangkutan. Selain itu penulis juga harus memahami bahwa editorial harus mencerminkan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat dan sebaiknya menghindari pemaparan yang bersifat menggurui dan menganggap pembaca tidak memahami isu yang terjadi.
Kemudian, topik, arah, dan permasalahan yang akan diangkat harus dibicarakan secra kolektif dengan tim redaksi. Selain itu, juga jangan menjadikan editorial hanya sekadar penghias atau pelengkap halaman saja, namun berusaha dapat menyajikan pendapat/pemaparan tentang berita/isu yang sedang hangat, menggunakan pemakaian kalimat yang ringkas, padat, jelas, lugas, dan langsung ke pokok persoalan, tidak bertele-tele dan berputar-putar, sehingga tulisan tersebut dapat menarik minat pembaca.
Hal tersebut pada hakikatnya, editorial merupakan sebuah analisa singkat yang diperlukan pengerjaan yang serius berupa argumentasi yang valid dan solid, sehingga memperkaya refrensi-refrensi yang lengkap dan representatif sangat diperlukan dalam penulisan editorial. Space yang tersedia juga terbatas, oleh karena itu penulis harus menghindari penulisan latar belakang permasalahan secara berlebihan, serta yang paling terpenting pemaparan editorial harus berpijak pada kebenaran.
Dari semua penjelasan yang telah terpapar sudah jelas terlihat bahwa editorial memiliki peran dan fungsi pembentuk opini publik yang kuat di media massa. Hal tersebut tentu saja dapat terealisasi, karena media massa berfungsi sebagai salah satu kekuatan terkemuka dalam pembentukan opini publik. Selama interpretasi masyarakat tetap menganggap editorial dan tulisan opini itu penting, maka editorial tersebut juga akan tetap memiliki eksistensinya di tengah masyarakat dan dapat terus menjadi relevan di segala usia.


  3 EKONOM INDONESIA   DAN PEMIKIRANNYA   3 tokoh ekonom Indonesia pasca-reformasi, sekedar sampling acak,   berfokus pada pemulihan kri...