Senin, 12 November 2018

Nilai Agama, Pancasila dan Kemajemukan Bangsa


Nilai Agama, Pancasila dan Kemajemukan Bangsa


Oleh : J. Chaniago, Pemerhati Masalah Budaya dan Kemajemukan Bangsa
 
 
Kita lahir di desa bahkan negara yang majemuk dengan beraneka ragam agama profesi dan lain sebagainya sehingga kita harus bisa menyikapi keanekaragaman tersebut dengan baik, karena sekarang ini ada beberapa indikasi yang akan memecah belah bangsa dan negara karena ada suatu perbedaan yang dibesar besarkan sehingga bisa menumbuhkan friksi yang akan menimbulkan konflik. Kondisi keberagaman ini merupakan kekayaan yang harus dijaga dan dilestarikan. 
Sejarah membuktikan bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia dapat terwujud karena persatuan Rakyat Indonesia. Sebagai contoh Rusia, dalam sejarah Rusia adalah Unisoviet, dimana mereka terpecah menjadi beberapa negara. Tapi seiring warga/masyarakatnya dapat bersatu, kini Rusia menjadi salah satu negara yang kuat.
Kita sebagai warga negara tidak bisa melupakan sejarah. Buat apa kita menjadi warga negara Indonesia jika tidak bisa menjadikan negara kita menjadi maju.
Learning outcome dalam menjaga wilayah kedaulatan NKRI, dengan luas wilayah 1,905 juta KM², dari data fakta Nusantara 7.870 pulau dan belum mempunyai nama 9.638 pulau yang harus kita jaga dan pertahankan. Potensi kekayaan bangsa yang sangat luar biasa, yang didominasi luasan wilayah lautan dan memiliki 1.128 etnis/suku, dengan perberbedaan agama, bahasa dan, budaya. Indonesia merupakan negara yang majemuk dan sangat pluralistik dan mempunyai dampak positif dan negatif yang sangat berkesinambungan.
Harus dipahami bahwa kita dalam berbangsa dan bernegara ada berbagai masalah dalam ideologis, persoalan keagamaan, persoalan etnisitas/suku, persoalan ekonomi, persoalan Pemerintahan, persoalan relasi internal dan antar agama dan persoalan relasi agama dengan negara.
Dalam menghadapi permasalahan permasalahan tersebut ada solusi-solusi diantaranya menjadikan Pancasila adalah titik temu atau solusi dari problem kebangsaan Indonesia; cinta negara sebagian dari bukti keimanan; mengutamakan isi daripada wadah; merawat tradisi yang baik, mengambil pembaharuan yang lebih baik dan tiap manusia memiliki pemikiran untuk melihat dan berbuat untuk kebaikan.
Dari satu sisi, perbedaan-perbedaan yang ada dilihat dan dinilai sebagai kekayaan bangsa dimana para penganut agama yang berbeda bisa saling menghargai atau menghormati, saling belajar, saling menimba serta memperkaya dan memperkuat nilai-nilai keagamaan dan keimanan masing-masing.
Perbedaan tidak perlu dipertentangkan,tetapi dilihat dan dijadikan sebagai pembanding, pendorong, bahkan penguat dan pemurni apa yang dimiliki. Kaum beriman dan penganut agama yang berbeda-beda semestinya bisa hidup bersama dengan rukun dan damai selalu,bisa bersatu, saling menghargai, saling membantu dan saling mengasihi.
Namun dalam sejarah kehidupan umat beragama, sering terjadi bahwa perbedaan keagamaan dan keimanan dijadikan sebagai pemicu atau alasan pertentangan dan perpecahan. Di banyak tempat, termasuk di Maluku, telah terjadi konflik berdarah dan berapi yang menelan banyak korban manusia dan harta benda, serta menghancurkan sendi-sendi kehidupan di pelbagai bidang, di lingkungan kita. Unsur-unsur keagamaan dijadikan sebagai pemicu dan sasaran penghancuran dalam konflik tersebut.
Namun kenyataannya, dalam perilaku atau tindakan orang-orang tertentu, entah dengan sengaja atau tidak, agama dipakai sebagai pemicu konflik dan perpecahan. Bahkan ada orang-orang tertentu yang menganggap dan menjadikan agama sebagai dasar alasan untuk tidak boleh hidup bersama atau harus hidup terpisah, tidak boleh berdamai atau rukun dengan orang yang berbeda agama. Bahkan ada anjuran untuk memusuhi dan membinasakan orang-orang yang beragama lain.
Kenyataan bahwa unsur-unsur keagamaan dijadikan sebagai pemicu serentak sasaran konflik, baik pada tingkat lokal dan nasional maupun internasional akhir-akhir ini, tentu memprihatinkan dan mencemaskan banyak orang, terutama bagi kita bangsa Indonesia umumnya, yang berciri majemuk. Persaudaraan, kekeluargaan, kerukunan, perdamaian dan ketenteraman serta kebersamaan, persekutuan dan kerjasama akan terancam, terganggu.
Disamping itu, tantangan kebangsaan secara internal adalah, masih lemahnya nilai agama, kefanatiisme kedaerahan yang begitu tinggi, kurang berkembangnya kebhinekaan, kurangnya keteladanan sikap perilaku sesama, tidak berjalannya penegakan hukum secara optimal. Tantangan secara eksternal adalah campur tangan budaya asing yang terlalu tinggi, konsep kapiltalisme yang jauh dari konsep demokrasi negara kita. Untuk itulah, kita sebagai generasi penerus memikul dan kita dituntut merawat serta menjaga NKRI.
Solusi
Berbicara tentang implementasi Pancasila, semua elemen bangsa perlu belajar ke NU yang sangat toleran dengan kemajemukan. NU mencanangkan pijakan berfikir dalam menyikapi banyaknya konflik, merujuk Imam Syafii, pendapat kita dimungkinkan salah, pendapat luar salah bisa dimungkinkan benar,oleh karena itu kita harus saling menghormati karena saat ini banyak saudara saudara kita yang belum sampai dengan ranah memahami keragaman itu. Kita harus bisa merajut kerukunan dalam perbedaan.
Metodologi pemikiran NU dalam menjaga kemajemukan yaitu tawassuth yaitu berada ditengah dan moderat/menghindari segala bentuk pendekatan dengan tatharruf (ekstrim); Tawazun yaitu sikap berimbang atau harmoni dalam berkhidmad demi terciptanya keserasian hubungan antar sesama umat manusia dan antara manusia dengan Alloh SWT; Taâdul (netral atau adil) dan toleran (tasâmuh) yaitu sikap toleran yang berintikan penghargaan terhadap perbedaan pandangan dan kemajemukan identitas budaya masyarakat. Metodologi pemikiran NU senantiasa menghidari sikap-sikap tatharruf (ekstrim). Inilah yang menjadi esensi identitas untuk mencirikan paham NU dengan sekte-sekte Islam lainnya. Dan dari prinsip metodologi pemikiran seperti inilah NU membangun keimanan, pemikiran, sikap, perilaku dan gerakan.
Prinsip yang harus dilakukan tegas dalam akidah, damai dalam kehidupan, toleransi sesama bangsa (Tasamuh), peduli tolong menolong (Taawun), kasih sayang (Marhamah) dan anti radikalisme atau kekerasan.

BERITA TERKAIT

 
 

RELIGIOSITAS: Menjadi Pribadi yang Berkualitas

RELIGIOSITAS: Menjadi Pribadi yang Berkualitas: Menjadi Pribadi yang Berkualitas KD: Memahami diri untuk menjadi pribadi yang berkualitas Pengantar §   Dalam perjalanan sejarah, ...



Menjadi Pribadi yang Berkualitas


Menjadi Pribadi yang Berkualitas
KD: Memahami diri untuk menjadi pribadi yang berkualitas
Pengantar
§  Dalam perjalanan sejarah, banyak tokoh dikenal memiliki pengaruh hebat dan mempesona. misalnya:
o    Gajah Mada à mempersatukan kerajaan Majapahit
o    Mahatma Gandhi à mengantarkan India sukses melawan penjajah tanpa kekerasan (non violence)
o    mother Theresa à kebaikannya kepada mereka yang terlantar
o    Gus Dur à keterbukaan terhadapan kemajemukan, kesederhanaan, dll.
§  Mereka adalah pribadi-pribadi yang berkualitas:
§  Memberikan pengaruh luar biasa kepada dunia
§  Memiliki cara hidup, cara berpikir, kemampuan, iman dan watak tertentu yang menunjukkan keunggulan diri à berguna bagi orang lain.
Arti
§   Menurut Oxford (the Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English yang disusun oleh AS Hornby) Kualitas didefinisikan sebagai : (1) kebaikan atau harga (2) sesuatu yang sangat istimewa, yang membedakan dengan sesorang atau sesuatu. (3) (zaman kuno) posisi social yang tinggi.
§  Dari definisi di atas, disimpulkan bahwa kualitas mengacu kepada sesuatu atau seseorang yang memiliki nilai positif dan khusus, yang biasanya ditampilkan dalam bentuk gabungan dari kredibiltas seseorang atau sesuatu tersebut. Dari kesimpulan di atas kita melihat bahwa ada lima unsur yang dapat ditemukan, yaitu : bernilai positif dan khusus; dimiliki oleh; Sesuatu atau Seseorang; penampilan; dan integrasi dari kedibilitas.
§  Bernilai Positif dan Khusus mengacu kepada kemampuan/ nilai yang berharga yang hanya dapat ditemukan di dalam sesuatu atau seseorang tersebut, dan biasanya mereka akan diterima dan dihargai oleh orang lain oleh karena kemampuan tersebut. Dimiliki oleh menjelaskan bahwa nilai yang ada tersebut berada pada sesuatu atau seseorang secara khusus/ tertentu dan bersifat berkembang secara permanen. Sesuatu atau Seseorang merujuk kepada obyek atau subyek yang memiliki nilai tersebut. Penampilan adalah ekspresi dari nilai-nilai yang ada yang muncul ke permukaan dalam bentuk penampilan dan atau perilaku seseorang. Integrasi (gabungan) dari Kredibilitas adalah bentuk dari ekspresi. Integrasi menggambarkan penggabungan dari semua kemampuan, watak, pengetahuan, dan segala sesuatu yang bernilai plus dari seseorang atau sesuatu.. Sementara itu, kredibilitas menunjukkan kemampuan, watak, pengetahuan, dan segala sesuatu yang bernilai plus dari seseorang atau sesuatu
§  Sebagai manusia yang hidup di dunia, kita dipanggil untuk menjadi pribadi yang berkualitas.
§  Kualitas yang harus dimiliki manusia adalah  relasi.  Relasi ini terbagi menjadi dua bagian yang besar yaitu :
Ø  relasi internal: relasi yang yang terjadi antara seseorang dengan dirinya sendiri,
Ø  relasi eksternal adalah relasi yang terjadi antara seseorang dengan pribadi diluar dirinya sendiri. Relasi ini dibagi dua yaitu :
o    relasi vertikal:
·         adalah relasi yang terbangun antara Allah dan Manusia (Arab: Hablum Minallah)
·         relasi ini merupakan relasi yang didasarkan kepada iman
·         Seorang pribadi yang memiliki relasi vertikal yang kuat akan memiliki sisi spiritual yang matang, sehingga mereka mampu berdiri dengan prinsip-prinsip yang benar berdasarkan ajaran agama, dan seorang pribadi yang berpengetahuan dan berperilaku baik akan mampu membangun sesuatu yang bernilai tinggi.
o    relasi horizontal
·         adalah relasi yang terjadi antara manusia dengan sesamanya (Arab: Hablum Minannas).
·         relasi ini adalah relasi yang terbangun karena adanya pengetahuan dan perilaku.
Langkah-langkah agar bisa menjadi pribadi yang berkualitas
§  Menjadi Pribadi yang berkualitas tidak mudah. ada tahapan yang harus diketahui:
Ø  Self-discovery adalah tahap dimana seseorang berusaha untuk menemukan keberadaan diri mereka yang sebenarnya, bagaimana karakter mereka dan hal-hal apa saja yang ditaruh Allah dalam hidup mereka. Pada tahapan ini seseorang cenderung untuk menyadari bahwa mereka adalah sosok yang unik dihadapan Allah.
Ø  Self-respect adalah tahap dimana seseorang memiliki kemampuan untuk menghargai diri mereka sendiri, tanpa peduli dengan apapun yang dikatakan orang tentang mereka. Seseorang tidak akan bisa menghargai diri mereka sendiri apabila mereka tidak bisa melihat potensi besar apakah yang Allah telah taruh dalam diri mereka.
Ø  self-understanding, ini adalah kemampuan seseorang untuk mengetahui apa yang menjadi kekuatan dan sekaligus kelemahan mereka. Self-understanding menolong seseorang untuk membangun kebijaksanaan diri, karena setelah mereka mengetahui apa yang menjadi kelemahan dan kekuatan diri mereka, mereka akan sanggup untuk membangun diri sendiri.
Ø  Self-confidence adalah kekuatan untuk melakukan sesuatu, tanpanya semua kebijaksanaan akan tidak berguna. Kebijaksanaan harus di terapkan, dan kita tahu untuk menerapkan kebijaksanaan orang membutuhkan kepercayaan diri.
Ø  Self-responsibility adalah tahapan dimana seseorang bersedia untuk melihat apa yang telah mereka lakukan dan belajar bertanggung jawab atas apa yang telah mereka lakukan. Mereka menyadari bahwa segala sesuatu yang mereka lakukan harus dipertanggungjawabkan. Kejujuran adalah kunci dari keberhasilan tahapan ini.
Ø  Self-development adalah tahap untuk mengembangkan kemampuan diri. Seseorang hanya menggunakan 60% dari potensinya dan 10% dari kemampuan otaknya, apabila kita mampu mengembangkan sisa dari kemampuan potensi dan otak kita, akan menjadi manusia seperti apakah kita nantinya.
Ø  Self-fulfilment adalah tahapan dari pengfokusan semua tahapan yang telah dikerjakan kepada masa depan. Tahapan ini menolong seseorang untuk merencanakan dan mempersiapkan segala sesuatu dari kehidupan mereka di masa datang. Apa yang mereka
§  langkah yang  bisa ditempuh:
1.       learning by listening. Adalah proses pemebelajaran dengan menggunakan telingansebagai media. Sebagai contoh : mendengarkan radio, kuliah, pelajaran, dll. L
2.       Learning by seeing. Adalah proses pembelajaran dengan menggunakan mata sebagai media. Contohnya :membaca buku; melihat televisi; dll.
3.        learning by discussing. Adalah proses belajar yang dilakukan didalam sebuah kelompok yang berisi lebih dari dua orang. Sebagai conoth : diskusi panel, sharing.
4.       learning by experiencing/doing. Adalah proses dari pembelajaran yang hanya bisa dilakukan apabila seseorang tersebut bersedia untuk masuk kedalamm kondisi-kondisi tertentu. Sebagai contoh : berlatih komputer; menggambar, dll.
Unsur Pendukung Terwujudnya Pribadi yang Berkualitas
§  memiliki gambaran akan masa depan yang ideal, jelas, besar dan mulia
§  memiliki sasaran/ targert yang menunjang
§  memiliki strategi
§  melakukan aksi à langkah nyata yg dilakukan utk mencapai sasaran
§  mereflesikan kemajuan dan kemunduran
Unsur Penghambat
§  mentalitas meremehkan mutu
§  mentalitas suka menerabas
§  bernafsu untuk mencapai hasil secara cepat
§  tidak PD, minder, inferior
§  tidak disiplin
§  suka mengkambinghitamkan

Pandangan Agama-agama Berkenaan dengan Pribadi yang Berkualitas
1.       Hindu
§  ketika di dalam hidup manusia melakukan sesuatu dengan tergersa-gesa atau terburu nafsu, kadang-kadang akan mengakibatkan kehancuran. Demikian juga jika marah atau putus asa akan mengakibatkan dan ketidakselarasan.
§  sabar dan tahan uji adalah dasar perasaan hati yang normal dari manusia.
§  orang yang berkualitas adalah orang yang samapai pada jiwa mukta yaitu perasaan hatinya berkembang, dikuasai cinta yang mendalam, dan akhirnya mencapai jiwa mukti (kebebsan rohan)
2.       Budha
§  Bagi sang Budha, Murid Budha yang baik adalah mereka yang siap berkorban, mengabdi kepada yang menderita.
§  Mereka dikatakan baik karena motivasinya adalah dharma duta: memberikan pengabdian kepada Budha. Mereka memberikan pelayanan bukan meminta pelayanan
3.       Katolik
§  Sebagai orang percaya kita memiliki beberapa alasan yang membuat kita perlu menjadi sosok yang berkualitas, yaitu :
o    Orang percaya dipanggil untuk bersaksi kepada dunia. Sebagai garam dan terang dunia (Matthew 5 :13-16),
o    Orang percaya dipanggil untuk menyatakan keberadaan Kerajaan Allah di atas dunia. Hal ini berarti orang kristen harus mampu merubah pola hidup yang ditawarkan oleh dunia, orang percaya dapat membuat sebuah budaya tandingan/ pola hidup yang mempermuliakan Tuhan.
§  Orang percaya menghadapi tantangan dari dunia, yang menghalangi berkembangnya kualitas. Kita tahu bahwa di atas dunia ini berlaku hukum “ siapa yang kuat dialah yang bertahan”, hal ini berarti bahwa setiap orang yang tidak bisa berdiri tegak dalam kompetisi akan tersingkirkan.
4.       Kristen
§  Orang yang berkualitas menurut agama Kristen adalah berusaha hidup seperti Kristus  (Imitatio Christi) à Yoh 14:12; 1 Yoh 2:6
5.       Islam
§  Islam mengajarkan bahwa setiap manusia di dunia ini mengemban 2 tugas:
o    tugas kehambaan:
§  merupakan tugas setiap manusia yg diciptakan untuk mengabdi kepada Allah SWT
§  yang termasuk tugas kehambaan: ajaran Allah yang bersifat langsung kepada manusia, mis: sholat, zakat, puasa dan haji.
o    tugas kemasyarakatan
§  merupakan tugas yang diemban manusia dalam kaitannya dengan manusia.
§  dasar dari tugas ini; lillahi ta’ala: sikap tulus. semua amal kebaikan manusia tidak ada artinya di hadapan Allah bila tidak ada sikap ini.

  3 EKONOM INDONESIA   DAN PEMIKIRANNYA   3 tokoh ekonom Indonesia pasca-reformasi, sekedar sampling acak,   berfokus pada pemulihan kri...