Rabu, 11 Juli 2012

Titip Pak Jokowi di DKI

Bagian 2: Titip Pak Jokowi di DKI (2)
Oleh Blontank Poer




Muji, apa perasaanmu juga seperti yang aku rasakan sekarang, senang-senang sedih? Senang Pak Jokowi mendapat kepercayaan tertinggi dari masyarakat DKI, tapi sedih karena aku, tetangga kanan-kiriku di Jajar dan kebanyakan Wong Sala bakal ditinggalnya.

Memang, untuk bisa duduk di kursi Gubernur DKI masih perlu dibuktikan di pemilihan umum putaran kedua, tak lama lagi. Pak Fauzi Bowo pasti tak akan tinggal diam, mengevaluasi kegagalan. Kelak, pertarungan head to head akan lebih seru. Bisa saja hasil statistik berbalik, ia memenangi pertarungan.
Namanya politik, bisa saja ada pihak yang kalah menukarkan suara dukungan dengan rupiah. Walau tak mudah membuktikan, tapi banyak orang seperti sudah aklamasi menyatakan Pak Fauzi Bowo punya duit melimpah.

Tapi bagiku, bukan kursi Gubernur DKI itu yang menjadi tolok ukur sebuah kemenangan. Seorang Jokowi yang kukenal bukanlah tipe orang yang memuja jabatan, seperti dituduhkan sebagian orang. Pak Jokowi, bagi saya adalah sosok manusia Jawa yang sesungguhnya. Ia merupakan tipe orang yang sanggup njaga praja, menjaga kehormatan. Ibarat sejatinya perut lapar ketika bertamu, diajak makan tuan rumah pun masih sanggup menampik dengan halus, hingga ketika dipaksa sekalipun, hanya akan mengambil sedikit nasi.

Sifat semacam ini, bisa disalahpahami sebagai sikap munafik, tak mau terus terang menyatakan apa adanya. Tapi, ya begitulah orang Jawa. Seperti kamu, sebagai orang Batu, Wonogiri, pun masih bersikap begitu kita dulu kuajak jajan di Pejompongan. Kita, dan kebanyakan orang Sala dan sekitarnya, nyatanya masih bersikap begitu.

Tapi, apakah dengan bersikap semacam itu lantas orang lain bisa meremehkan kita: menebak isi hati, nalar dan rasa kita, termasuk Pak Jokowi?

Jujur, aku masih mengurut dada ketika mendengar ucapan orang-orang yang tak bisa menerima kekalahan semu di Pilkada DKI, 11 Juli kemarin. Mereka masih saja membawa-bawa kebenciannya kepada Pak Prabowo, dan menimpakan dosa yang dituduhkan dan mereka yakini, untuk Pak Jokowi. Mereka merasa berhak dan mampu menakar isi hati seorang Jokowi.

Sejujurnya, saya paham perasaan mereka sehingga merasa perlu ‘menghabisi’ Pak Jokowi. Memang, sumber ketakutan mereka terletak pada sosok Jokowi. Mereka memang bisa membuat prediksi dari reputasi yang dimiliki Pak Jokowi. Kampanye model blusukan, tatap muka dengan warga saat pencalonan periode keduanya, terbukti murah dan efektif. Sedikitnya 90 persen dukungan warga Surakarta diperolehnya. Padahal, ia hanya diusung PDI Perjuangan. Rivalnya, dari Partai Demokrat, nyaris tak kebagian suara.

Padahal, Demokrat dan Partai Keadilan Sejahtera memiliki kursi legislatif nyaris seimbang dengan PDI Perjuangan pada pemilu lalu. Artinya, suara massa mengalir kepada dirinya. Malah, ada yang unik ketika itu, banyak warga menerima sembako atau uang pemberian pesaing Pak Jokowi, lantas berbondong-bondong menyerahkannya ke Panitia Pengawas Pemilu.

Mungkin, sikap warga Solo yang tak mempan disuap sembako dan uang itulah yang kini ditiru warga Jakarta. Mobilisasi pengurus RT/RW yang konon dilakukan oleh incumbent, demi mobilisasi dukungan, terbukti sia-sia belaka.

Muji, aku merinding kalau membaca hasil perhitungan suara sementara. Semua lembaga survei seperti mempertontnkan kecerobohannya secara terang-terangan. Baru beberapa pekan kompak mengunggulkan Fauzi Bowo, tapi pada Rabu sore kemarin, semua terbalik sedemikian rupa. Pak Jokowi justru memperoleh suara dukungan tertinggi.

Bahkan, tim pemenangan dari PDI Perjuangan pun terkaget-kaget melihat angka dukungan. Jika sepekan silam Pak Jokowi/Basuki diyakini masih selisih delapan persen (lantas H-1 menadi 5%) di bawah Fauzi Bowo/Nachrowi Ramli, ternyata mengungguli lebih dari sepuluh persen!
Dari manakah suara itu berasal?

Saya menduga, suara itu berasal dari nurani-nurani warga Jakarta yang memang sudah sesak dan ingin ada perubahan mendasar. Memang berat bagi Jokowi di DKI, tapi warga di sana, saya kira masih meyakini, setidaknya Pak Jokowi akan bisa menata lebih baik. Pokok soalnya, Pak Jokowi dinilai masih bisa bekerja dengan hati nurani, dengan sikap keberpihakan yang tegas, kepada masyarakat bawah, tanpa mengabaikan mereka yang berada di barisan  kelas menengah.

Suatu ketika, Pak Jokowi pernah rasan-rasan. Dari sisi transportasi saja, jika ditata dengan benar, maka akan ada dampak besar pada kurun waktu tertentu. Jika transportasi massal tersedia, maka warga Jakarta dan sekitarnya, akan bisa menghemat 2-3 jam setiap harinya. Berangkat kerja bisa dilakukan setelah mengantar anaknya pergi ke sekolah, dan pulang lebih awal sehingga bisa memandikan anak-anak, menyuapi, atau bercengkerama dengan keluarga.

Andai itu terjadi, maka ikatan sosial, sejak dalam rumah tangga hingga kehidupan bertetangga, akan tercipta sedemikian rupa akrabnya. Harmoni terjadi, tingkat stres berkurang, sehingga setiap orang bisa lebih produktif. Tak hanya transportasi massal, pedagang kakilima yang masih merenggut badan jalan, bisa dikurangi sehingga kian berkuranglah penyebab kemacetan. Nyaman di jalan, enteng di kepala, tentram di hati. Minim emosi.
***
Kalaupun hingga kini masih ada orang-orang yang jumawa dan merasa berkuasa menakar isi kepala dan nurani Jokowi, rasanya itu hanya mengada-ada. Yang mereka benci hanya Prabowo, namun semua ditimpakan kepada orang lain, yang tak lain dan tak bukan, Pak Jokowi. Padahal, sidang dewan kehormatan sudah memutuskan, sehingga status hukum Prabowo sudah sangat benderang. Soal puas/tidak puas, terserah saja. Jangan itu ditimpakan kepada Pak Jokowi. Itu bukan urusan dan tanggung jawab beliau.

Kalaupun mereka itu mau saya ajak berandai-andai, sebenarnya sederhana saja.
Intinya, mereka kuatir jika kelak Pak Jokowi jadi juru kampanye Prabowo dalam pemilihan presiden 2014. (Saya tahu, mereka tak rela lantaran kelewat cinta pada Pak Jokowi). Mereka yakin, Pak Jokowi memiliki magnet kuat menarik dukungan, bagi siapa saja, terkait track record-nya. Mereka terasa menghakimi, seolah-olah Pak Jokowi akan membela mati-matian Prabowo, lantaran Partai Gerindra menyokong pencalonannya di DKI.

Karena Gerindra berkoalisi dengan PDIP, maka Jokowi dan Basuki harus membayar hutang budi, jika kelak menang di Pemilukada DKI. Sebab Partai Gerindra dianggap ‘milik’ Prabowo, yang kebetulan pula disebut kaya raya, maka ia diasumsikan bisa membeli seorang Jokowi (dan Basuki). Sebuah simplifikasi, yang anehnya, dilakukan oleh orang-orang yang mengaku (dan nyatanya dianggap) berpendidikan tinggi dan berbudaya! Menyedihkan betul cara berpikir mereka.

Mungkinkah seorang Jokowi menganggap Gerindra (dan Prabowo) memang seharusnya mengupayakan kemenangan dirinya dan Basuki Tjahaja Purnama yang merupakan representasi Gerindra/Prabowo? Mungkinkah Pak Jokowi tidak mau mengelola dana kampanye (jika ada) dari Prabowo, dengan cara memintanya dialokasikan dan dikelola sendiri untuk biaya kampanye dan proses pemenangan?
Lantas jika kelak Pak Jokowi/Basuki benar-benar memimpin DKI, semudah itukah keduanya dijadikan juru kampanye bagi pencalonan presiden Prabowo pada 2014?

Jawabannya sederhana: jika PDI Perjuangan berkoalisi (lagi) dengan Gerindra, sah-sah saja jika Pak Jokowi dan Pak Basuki ikut terjun jadi jurkam. Tapi jika PDI Perjuangan tak berkoalisi dengan Geirndra (Prabowo), maka gugur sudah ‘kewajiban’ (moral) Pak Jokowi jadi juru kampanye, sebab ia representasi partai pimpinan Megawati. Dan, koalisi di DKI belum tentu abadi untuk level pemilu presiden.
Justru, Pak Jokowi kini merasa perlu menambatkan dirinya kepada rakyat, publik Jakarta. Semakin kuat ikatan, maka ia akan merasa aman, sebab jika ada kekuatan yang hendak menarik dirinya, maka rakyat akan serta merta mempertahankan. Dan itu, jauh lebih dari cukup.

Pemilu minim biaya (namun perlu tenaga ekstra keluar-masuk perkampungan untuk) kampanye yang dilakukan Pak Jokowi pada pencalonan walikota periode kedua dan pemilukada DKI Jakarta, terbukti manjur. Ini bisa dibaca sebagai pertanda, rakyat mulai menginginkan perubahan, bukan dengan slogan, janji dan gelontoran amunisi materi.

Kemenangan Pak Jokowi di putaran pertama Pemilukada DKI sudah cukup dijadikan pertanda munculnya harapan perubahan. Dari Jakarta, virus demikian mudah menjalar, merajalela hingga ke pelosok Nusantara. Saya yakin, peta politik nasional pun akan berubah karenanya. Ini, bukan lantaran Jokowi seorang, tapi lantaran rakyat sudah punya bekal berupa keinginan kuat untuk adanya perubahan.
Pak Jokowi, ibaratnya hanya kendaraan bagi hasrat perubahan itu. Ia hanya medium, bukan sebagai faktor tunggal.

Jika kemarin kabarnya ada 30 persen kelas menengah yang masih memilih memanfaatkan libur pemilukada untuk pelesiran, saya yakin, separuh dari mereka sudah menyesali sikapnya. Mereka yang abai, akan kembali menyadari perlunya mendatangi bilik pemilihan, pada pemilukada putaran kedua mendatang. Jika itu terjadi, dan mereka juga bergabung di barisan properubahan, bukan mustahil Pak Jokowi/Basuki akan memperoleh kemenangan telak atas Fauzi Bowo.

Sekali lagi, Pak Jokowi dan Pak Basuki hanya akan jadi kendaraan atas keinginan perubahan yang massif. Penentunya adalah penduduk Jakarta. Kebetulan, sebagai ‘kendaraan’, baik Pak Jokowi dan Pak Basuki sama-sama teruji, minim cacat selama menjabat jadi Walikota Surakarta dan Bupati Belitong Timur.

Muji, mungkin saja karirmu masih sama dengan yang kemarin. Tapi aku yakin, hidupmu akan lebih nyaman dan bermakna. Kamu akan mudah dan lancar ke mana saja, termasuk pulang ke Pemalang, melepas kangen dengan anak-istrimu. Atau, kamu malam bisa memboyongnya ke Jakarta tanpa ragu.
Satu hal yang tak diketahui banyak orang, terutama kaum sosialiskota, yang biasa membicarakan kemiskinan sembari menenggak bir atau wine di pojok-pojok kafe atau lobi hotel berbintang itu, adalah cara Pak Jokowi melawan arogansi dengan cara yang sangat nJawani. Ketika dikatai bodoh oleh Gubernur Bibit Waluyo, misalnya, Pak Jokowi hanya menanggainya dengan senyum, dan mengakui ‘kebodohannya’.

Begitu pula ketika PLN Surakarta mematikan lampu penerangan Jalan Slamet Riyadi, lantaran menunggak tagihan milyaran rupiah, Pak Jokowi meresponnya dengan cara membayar lunas, yang ia serahkan bersama Wakil Walikota secara tunai. Uang berkardus-kardus ia serahkan, dan meminta petugas PLN menghitungnya sendiri.

Banyak orang tak paham, banyak Pemerintah Daerah menunggak tagihan listrik ke PLN, dan tak diperlakukan demikian. Meski lazim pemerintah daerah menunggak, Pak Jokowi tak hendak meminta permakluman. Selain anggaran belum turun, ada beberapa penyebab hingga insiden mematikan lampu penerangan jalan itu terjadi.

Kabarnya, Pak Jokowi kerap protes ke PLN karena akurasi meteran kurang memuaskan sehingga membebani anggaran. Sebelumnya, Pak Jokowi juga pernah mengancam menggugat PLN lantaran menebang sejumlah pohon di pinggir jalan tanpa koordinasi dengan Pemerintah Kota Surakarta lantaran dianggap berpotensi mengganggu kabel listrik.

Memang, tak mudah bagi orang luar menilai secara obyektif dan komprehensif mengenai sepak terjang Pak Jokowi. Dan itu wajar saja.  Tak soal bagi Pak Jokowi.
Muji, kutitipkan lagi Pak Jokowi dalam pemilukada putaran kedua nanti. Terima kasih, kamu pasti sudah melakukan sesuatu dengan caramu, semampumu, sehingga Pak Jokowi mengungguli Pak Fauzi Bowo.
Matur nuwun….
-kancamu-
Tulisan terkait: Titip Pak Jokowi di DKI
TITIP PAK JOKOWI DI DKI 1





Surat untuk Muji
Muji, piyé kabarmu? Semoga kamu sekeluarga selalu sehat, tanpa kurang suatu apa. Soal kesehatan, aku yakin kamu pasti sehat. Masih sering badminton dengan Paklik dan tetangga-tetangganya di Ciputat, kan?
Ji… Katanya kamu pindah kerjaan di Tebet, ya? Gimana suasana di sana? Lebih enak dibanding Pejompongan atau sebaliknya? Piyé suasana kampanye di Jakarta? Kira-kira, Pak Jokowi menang nggak, ya? Mbok tulung, teman, tetangga dan kenalanmu dikasih tahu, supaya ikut menyumbangkan suaranya untuk Pak Jokowi.

Kalau tetangga, teman, kenalan atau ada orang yang bertanya tentang Pak Jokowi, ceritakan saja apa adanya. Jangan mengurangi, jangan pula menambahi. Bahwa dulu Pak Jokowi sukses menata kota, karena dia mau mengajak para pedagang kakilima bareng-bareng memikirkan nasib diri dan keluarganya. Pak Jokowi hanya menjadi lantaran semata, hanya alat Tuhan untuk sebuah perbaikan. Pak Jokowi bukan orang hebat. Dia sama seperti kita, masih suka wedangan, atau jajan lesehan walaupun jabatannya sebagai Walikota Solo. Kadang-kadang, ia juga pingin seperti kita, bisa jalan-jalan ke mana saja, tanpa sopir dan ajudan yang mendampinginya.

Mas Didik, pedagang akik, pernah cerita, kalau dia menjumpai Pak Jokowi naik Honda Astrea, memboncengkan istri dan anaknya. Waktu itu, kebetulan hari libur, dan dia ingin makan soto kesukaannya. Katanya, ketika memarkir sepeda motornya dan membuka helm, tukang parkirnya kaget. Pemilik warung soto, yang tempat berdagangnya hanya dengan tenda seadanya di bawah pohon waru juga, kaget ketika salah satu orang yang jajan adalah walikotanya.

Beritahu saja apa adanya, jangan ditambahi, biar kamu tidak dikira tim suksesnya. Kabarkan kepada tetangga, kenalan, atau siapa saja, bahwa Pak Jokowi sering memindahkan orang dari bantaran Bengawan Solo. Yang dipindahkan pun sukarela, sebab diajak berembuk mengenai lokasi barunya, di kawasan Mojosongo. Pemerintah menyediakan bantuan kepindahan dan ongkos pembangunan rumah sederhana.

Memang tak banyak orang. Hanya belasan keluarga. Tapi, dalam keluarga itu ada anggotanya, termasuk anak-anak. Kepada para kepala keluarga, Pak Jokowi mengajak berembuk, dan ngobrolnya santai seperti ketika kita ngobrol bareng Sola, Danang atau Tjahjono. Santai, tapi serius.

Para kepala keluarga diminta merancang sendiri desain rumah dan penataan ruangnya. Kata Pak Jokowi, pemerintah tidak ingin mendikte bahwa rumah di atas tanah tak seberapa luas itu dibangun seragam, termasuk letak ruang keluarga, kamar tidur, dapur dan kamar mandinya. Setiap keluarga, pasti ingin punya ruangan yang ideal. Anak lelaki dan perempuan, apalagi jika sudah remaja atau dewasa, pasti butuh kamar sendiri. Oleh sebab itu, Pak Jokowi menyerahkan sepenuhnya kepada mereka.

Intinya, pemerintah hanya memfasilitasi yang terbaik untuk warganya, termasuk memberikan kredit ringan pembangunan rumah. Ia meminta masing-masing membentuk kelompok sendiri, bisa tujuh atau sepuluh kepala keluarga dalam satu kelompok. Para anggota kelompok itulah yang akan saling mengingatkan jika ada yang lupa atau terlambat membayar cicilan.
Mereka senang, pemerintah pun tenang. Tak perlu repot mengawasi atau memarahi jika ada yang menunggak cicilan, cukup menanyakan kepada penanggung jawabnya saja, untuk memantau perkembangannya. Pak Jokowi itu orang yang tidak mau masuk terlalu dalam ke wilayah pribadi, sebab setiap orang/keluarga, pasti punya problem yang berbeda-beda.

Apalagi jika diingat, Pak Jokowi itu juga wong cilik, dulunya. Ia pernah merasakan kepedihan keluarganya, ketika rumah mereka digusur dari bantaran kali, tanpa pesangon, pada tahun 1970an. Dia tak mau warga miskin menderita seperti yang dirasakannya. Makanya, ia mengeluarkan kartu sehat dan kartu pendidikan bagi warga miskin. Kesehatan dan pendidikan adalah hak setiap warga negara, yang harus diperhatikan oleh negara. Sebagai Walikota Solo, dia menggunakan kekuasaanya mengatur keuangan daerah, untuk keperluan memenuhi hak setiap warga negara itu.

Makin miskin, pelayanan yang diberikan pemerintahnya kian banyak. Seperti dalam pendidikan, orang termiskin diberi kartu platinum, sehingga semua kebutuhan pokok untuk pendidikannya dipenuhi oleh pemerintah, sehingga diberikan seragam, sepatu, buku dan alat tulis, hingga pembebasan biaya pendidikan. Bagi Pak Jokowi, orang kaya bisa memilih jenis pendidikan karena punya biaya.

Begitu pula soal berobat atau pemenuhan hak atas kesehatan. Maka, orang miskin pun diberi kartu masing-masing orang dalam satu keluarga. Kartunya bisa dipakai di Puskesmas dan rumah sakit, dari sakit perut hingga operasi, tanpa perlu membawa surat keterangan miskin dari RT, RW hingga Kelurahan. Orang sakit perlu pertolongan cepat, sementara kerepotan mengurus surat keterangan tidak mampu (SKTM) yang memakan waktu, bisa-bisa meminta nyawa si penderita.

Pak Jokowi tahu, pada dasarnya, watak orang Indonesia itu malu dianggap, apalagi disuruh mengaku miskin. Karena itu, ia tak mau orang kesusahan dibuat makin susah ketika harus menghadap Pak Lurah atau Bu Lurah, hanya untuk mengatakan dirinya miskin. +

Muji yang baik, katakan kepada siapa saja: Pak Jokowi tidak sedang memperbaiki nasib dengan nyalon jadi Gubernur DKI. Dia pernah miskin, sebab pernah jadi pekerja rendahan di pabrik mebel pamannya, hingga ia mampu punya perusahaan sendiri. Ia sudah merasa kaya dari usahanya, sehingga tak merasa perlu mengambil gaji bulanannya sebagai walikota. Toh, semua keperluan hidup sekeluarganya ditanggung oleh negara. Pak Jokowi juga sudah punya gaji sendiri, yang jauh lebih gede dari gaji walikota. Sebagai komisaris perusahaan, ia sudah mendapat gaji bulanan.

Asal tahu saja, perusahaan ekspor mebelnya punya beberapa workshop/gudang. Beberapa malah sudah dijualnya di periode pertama jabatannya. Ia tidak lebih kaya ketika menjadi walikota. Biarkan orang menyimpulkan sendiri, apa itu artinya.

Kalau ada temanmu yang membawa-bawa nama Prabowo, diamkan saja. Itu bukan urusan kita, bahkan urusan Pak Jokowi. Ke Jakarta, ia hanya menjalankan amanah partainya. Karena di Solo bisa sukses, ia ‘dipromosikan’ partainya mengulang suksesnya di Jakarta. Keputusan koalisi PDI Perjuangan dengan Partai Gerindra, itu urusan orang-orang petinggi partai, bukan kemauan atau pilihan Pak Jokowi.

Ada orang yang lantaran takut kalah bersaing, lantas seenaknya membuat fitnah, atau menjelek-jelekkan pak Jokowi. Biarkan saja. Kelak, mereka akan kelelahan sendiri. Kalau memang Pak Jokowi buruk, tak mungkin dia bisa memiliki kemenangan hingga 90 persen pemilih di Solo. Padahal, dia diusung PDI Perjuangan, sementara Partai Demokrat yang punya banyak kursi di DPRD memiliki calonnya sendiri. PKS pun punya fraksi sendiri di DPRD Solo. Tapi, kenapa suara Pak Jokowi bisa memiliki dukungan sedemikian besar dari semua pemilih partai selain PDIP?

Aku yakin, soal memilih calon kepala daerah, orang sekarang tak lagi tergantung suara partainya. Mereka punya hitung-hitungannya sendiri, bisa mengukur seseorang dengan kemantaban dan referensinya sendiri. Coba perhatikan, siapa yang memfitnah Pak Jokowi sebagai orang Kristen dan antek Yahudi? Mereka adalah orang-orang yang mengaku lebih suci, bahkan merasa diri lebih tahu dari Tuhan yang katanya mereka sembah dan taati perintahNya. Aneh, bukan?

Begitulah, politik. Kamu kan juga mengenal nama Heru, Margiono, Gunawan dan banyak lagi. Mereka pinter, cerdas, hebat dan lebih berbudaya. Tapi apa yang terjadi dengan ucapan-ucapan mereka? Dulu, mereka mengaku segan dan kagum pada prestasi Pak Jokowi, tapi kini lebih banyak mencaci, mencibir, dan menghalangi kemenangan Pak Jokowi di DKI lantaran mereka punya calo sendiri, yang dianggapnya lebih baik. Yang begitu memang sah dalam politik.

Tapi yang tak pantas dilakukan mereka adalah, melampiaskan kebenciannya kepada Prabowo kepada Pak Jokowi, padahal sudah jelas, Gerindra dan PDI Perjuangan-lah yang memutuskan berkoalisi. Kenapa mereka hanya memojokkan Pak Jokowi? Anggap saja mereka tak bernyali, atau kuatir calonnya tak jadi Gubernur DKI. Begitulah mereka.

Kalau boleh memilih, Pak Jokowi, Faisal Basri, Fauzi Bowo, Alex Noerdin, Hidayat Nurwahid dan Hendarji, pasti ingin yang paling sempurna. Tanyakan kembali, apakah semua keinginan ideal bisa diwujudkan sendiri, tanpa dipengaruhi orang lain atau faktor-faktor selain dirinya?

Muji, jangan ragu mengatakan kepada teman, sahabat, atau siapa saja untuk memilih Pak Jokowi. Dia seorang haji, dia rendah hati, mau mendengar orang lain daripada banyak bicara kepada orang lain. Suruh orang mencari tahu, dari mana saja, pernahkah Pak Jokowi berpidato panjang, apalagi berjam-jam seperti kebanyakan pejabat yang hanya mau semua kalimat dan perintahnya didengarkan?

Jika terlambat atau sebuah acara ada banyak sambutan, Pak Jokowi memilih tak memberikan sambutan atau pidato. Itu karena dia tahu, siapa saja, apalagi rakyat, sudah bosan mendengar pidato-pidato pejabat yang pasti isinya serba baik semata. Ada paparan data dan angka, padahal itu hanya demi menarik simpati orang, seolah-olah seseorang yang berpidato menguasai masalah. Padahal, kebanyakan naskah pidato disusun oleh tim ahli, ajudan atau staf khusus lainnya.

Muji, aku titip Pak Jokowi di DKI, ya…..

Solo, 6 Juli 2012
-Kancamu-
*) Catatan: tulisan ini juga diposting di personal blog.
Baca juga referensi terkait Pak Jokowi:


Selasa, 10 Juli 2012

Salah Pilih, Tersandera 5 Tahun

Oleh Duhita Dundewi

Sekarang tinggal hitungan jam ke waktu pencoblosan Pemilukada DKI. Nasib Jakarta lima tahun ke depan mulai besok pagi ditentukan, 11 Juli 2012. Apakah Jakarta akan begini-begini saja, jika Foke berkuasa lagi. Menjadi tidak jelas arah lajunya, jika salah satu dari dua calon independen itu mendapat suara memadai. Menjadi sektarian jika HNW-PKS menang, atau surut ke pedalaman dan terbelakang di tangan Jokowi-Ahok?

Harapan hanya tinggal pada Alex-Nono, pasangan nomor 6, jika Jakarta ingin segera menyelesaikan masalah akutnya (macet dan banjir), hak-hak warga Jakarta akan pendidikan, kesehatan, dan lapangan kerja terpenuhi secepatnya dengan layak. Dan terutama, arah pembangunan Jakarta menjadi Bandar Dunia yang disegani di Asia Tenggara, yang bisa mengangkat martabat warga Jakarta sendiri. Ini semua hanya bakal terwujud jika Jakarta berada di bawah pasangan pemimpin yang benar: Alex-Nono, nomor: 6.

Tidak ada salahnya kita mengingat lagi waktu pencalonan mereka, jika masih diperlukan serangkaian argumentasi yang bisa diterima dengan akal sehat. Hingga pilihan jatuh ke pasangan no. 6 ini benar-benar masuk akal.

Ingat Foke-Nara, kita harus ingat partai pengusungnya, Partai Demokrat. Partai penguasa yang para pemukanya banyak terjerat kasus korupsi kelas kakap. Hingga partai ini sekarang identik dengan sarang koruptor. Mereka sangat-sangat berkepentingan memertahankan Foke, demi mengamankan banyak perkara, yang bisa jadi, jika tidak terpilih lagi, berujung pada penjeblosan gubernur Jakarta berkumis ini ke dalam penjara.

Lihat saja gelagatnya, dana kampanye Foke-Nara yang tidak masuk akal besarannya. Terlebih lagi kampanye satu putaran yang digembar-gemborkannya, yang bisa menjerumuskan Jakarta dalam kerusuhan. Ini sungguh-sungguh di luar akal sehat. Kita bisa menandainya sebagai modus kecurangan yang rancangannya sudah disipakan sejak penyusunan Daftar Pemilih Tetap (DPT).
Jangan pernah berpikir bahwa pasangan Foke-Nara adalah pasangan paling siap memimpin Jakarta. Dasar pencalonannya tidak diarahkan untuk kebaikan Jakarta, melainkan kekuasaan dari tangan partai penguasa sekarang di Jakarta maupun tingkat nasional. Mereka disatukan pada saat-saat mepet. Kemenangan Foke-Nara adalah kekalahan Jakarta dan warganya. Jakarta sungguh tidak akan lebih baik di tangan mereka, karena hanya akan diabdikan kepada partai penguasa dan para cukongnya.

Dua pasangan independen, lupakan saja. Jakarta bakal menjadi amburadul di tangan mereka. Bahkan pasangan nomor 2, ketika pencalonannya dulu, sebenarnya disiapkan untuk menjadi boneka tandingan untuk pasangan independen no. 5. Belum, bahkan tidak mungkin, pasangan independen ini berkuasa di ibu kota, karena keduanya mengkhianati demokrasi kita, dengan pemunculannya saja. Yang setara nilainya dengan kegagalan bernegara.

Jokowi-Ahok, nomor 3. Membayangkan Jakarta di tangan mereka, sungguh serba tidak jelas. Setidak jelas pikiran-pikiran yang dikemukakan Jokowi sendiri selama ini. Reputasi media yang dibangunnya selama ini, sungguh tidak ada relevanasinya dengan problematika Jakarta. Jakarta bukan hanya perkara PKL yang bisa direlokasi. Jakarta bukan tempat adem-ayem seperti solo. Dan terlebih lagi, Jakarta tidak sedang memilih seorang walikota, melainkan gubernur.

Ingat pencalonan Jokowi. Deseret-seret oleh Partai Gerindra-Prabowo, bukan oleh PDIP. Dipasangkan dengan Ahok, sungguh menjadi tanda tanya besar, yang tidak ada jawabannya sampai sekarang. Siapa Ahok ini? Kenapa Ahok? Membayangkan dia menjadi wakil gubernur Jakarta, sungguh jauh dari penalaran akal sehat masa sekarang.

Pasangan HNW-Didik, nomor 4. Sudah disebutkan di atas. Pasangan pemimpin ini hanya akan menjadikan Jakarta menjadi kota sektarian. Lihat saja eksklusivisme pencalonannya. HNW adalah kartu terakhir dari satu-satunya partai penganut ideologi sektarian terakhir yang masih hidup di Indonesia. Jakarta dan warga Jakarta berkepentingan untuk menahan kekuatan sektarian ini, agar tidak menduduki puncak kekuasaan ibu kota.

Pilihan warga Jakarta memang harus ke pasangan Alex-Nono, nomor 6. Karena pasangan ini saja yang paling bisa diterima oleh akal sehat warga Jakarta. Sejak pencalonannya, Alex-Nono paling siap. Siap bukan berdasarkan ambisinya, melainkan dengan rencananya yang jelas untuk Jakarta. Pasangan ini disatukan oleh visi yang sama. Melihat Jakarta sebagai ibu kota Indonesia, yang harus menjadi lokomotif kemakmuran bagi kota-kota di seluruh Indonesia. Ini bukan keinginan, melainkan sudah menjadi rencana mereka sejak lama.

Memilih Alex-Nono, nomor urut 6, berarti menyelamatkan Jakarta, menyelamatkan Indonesia, dari sektarianisme ala PKS, kemunduran di tangan Jokowi-Ahok, atau kebangkrutan di tangan Foke-Nara-Demokrat. Sekian!




Peluang Usaha Pertanian dalam Greenhouse



Peluang usaha bidang pertanian ini dapat diterapkan juga pada peluang usaha hidroponik dan pertanian lainnya.
Pengembangan pertanian menggunakan teknologi greenhouse menjadi semakin penting jika dikaitkan dengan upaya peningkatan daya saing produk agribisnis nasional secara berkelanjutan untuk memenuhi tuntutan pasar global, disamping aman dikonsumsi (food safety attributes), punya kandungan nutrisi tinggi (nutrional attributes) dan ramah lingkungan (eco-labelling attributes), juga pasar membutuhkan produksi sepanjang tahun tanpa permasalahan iklim menjadikan kendala.
Pertanian didalam greenhouse adalah sistem produksi pertanian yang mengabungkan pemanfaatan perlindungan tanaman dari intensitas hujan, sinar matahari dan iklim mikro, yang mengoptimalkan pemeliharaan tanaman, pemupukan dan irigasi mikro, sehingga mampu meningkatkan produksi sayuran, buah dan bunga yang berkualitas tanpa tergantung dengan musim.
Pengembangan pertanian di dalam greenhouse dengan cara, antara lain:
1. Membangun greenhouse produksi dan perlengkapnnya
2. Membangun tempat pembibitan (nursery)
3. Membuat sistem irigasi mikro untuk greenhouse
4. Membuat Water Storage untuk keperluan sistem irigasi
5. Pelatihan produksi pertanian dengan teknologi greenhouse secara on farm (learning by doing).
Sejumlah keuntungan yang dapat dipetik dari pengembangan greenhouse untuk pertanian antara lain adalah:
1. Mengenalkan teknologi pertanian alternatif yang bisa dilakukan oleh pelaku usah pertanian untuk usaha tani yang menguntungkan dan terkesan pertanian modern yang berbahan lokal.
2. Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani, karena: (1) Harga jual hasil produksi pertanian didalam greenhouse seringkali lebih mahal; (3) Mendekatkan pasar global dengan hasil kepastian produksi pertanian yang berkualitas dan kepastian suplai (4) Pengembangan pertanian dengan teknologi greenhouse berarti mendorong (memacu) daya saing produk agribisnis Indonesia untuk memenuhi permintaan pasar internasional terhadap produk pertanian yang berkualitas dan kontinyu yang terus meningkat. Ini berarti akan mendatangkan devisa bagi pemerintah dan pemerintah daerah, yang pada akhirnya akan/dapat meningkatkan kesejahteraan petani itu sendiri;
3. Meminimalkan semua bentuk penggunann bahan kimi yang dihasilkan dari kegiatan pertanian konvensional. Karena kegiatan pertanian di dalam greenhouse: Menerapkan Pengelolaan Hama Terpadu;
4. Kegiatan pertanian didalam greenhouse selain menciptakan lapangan kerja baru juga dapat meningkatkan perolehan teknologi pertanian di perdesaan. Pertanian teknologi greenhouse akan menciptakan hadirnya peluang pasar lain yang berarti adanya lapangan kerja baru bagi masyarakat perdesaan. Disamping itu, penerapan pertanian dengan greenhouse juga akan mendorong terciptanya kerjasama kemitraan antara petani-pasar-penyedia input.
5. Dengan demikian, nampak bahwa kegiatan pertanian dengan mengunakan greenhouse merupakan suatu sistem pertanian yang terintegrasi, ekonomis, berkualitas, produksi sepanjang musim dan dapat meningkatkan nilai tambah masyarakat. Untuk merealisasikan usaha pertanian dengan greenhouse ini, dibutuhkan kegiatan pengembangan langsung kepada masyarakat dalam bentuk kegiatan pengembangan greenhouse pertanian di lapangan. Kegiatan pengembangan usaha produksi pertanian dengan greenhouse ini dapat dilakukan melalui intensifikasi lahan usaha dan/atau lahan transmigrasi, sehingga mempunyai daya produksi sebagai sentra pertanian berbagai sayuran.

http://ediskoe.blogspot.com/?expref=next-blog

FILOSOFI SEMAR


Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya
Bebadra = Membangun sarana dari dasar
Naya = Nayaka = Utusan mangrasul
Artinya : Mengembani sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia

Filosofi, Biologis Semar


Javanologi : Semar = Haseming samar-samar (Fenomena harafiah makna kehidupan Sang Penuntun). Semar tidak lelaki dan bukan perempuan, tangan kanannya keatas dan tangan kirinya kebelakang. Maknanya : “Sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakan simbul Sang Maha Tumggal”. Sedang tangan kirinya bermakna “berserah total dan mutlak serta selakigus simbul keilmuaan yang netral namun simpatik”.

Domisili semar adalah sebagai lurah karangdempel / (karang = gersang) dempel = keteguhan jiwa. Rambut semar “kuncung” (jarwadasa/pribahasa jawa kuno) maknanya hendak mengatakan : akuning sang kuncung = sebagai kepribadian pelayan.

Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat, tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi. Semar barjalan menghadap keatas maknanya : “dalam perjalanan anak manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang keatas (sang Khaliq ) yang maha pengasih serta penyayang umat”.



Kain semar Parangkusumorojo: perwujudan Dewonggowantah (untuk menuntun manusia) agar memayuhayuning bawono : mengadakan keadilan dan kebenaran di bumi.
Ciri sosok semar adalah :
Semar berkuncung seperti kanak kanak,namun juga berwajah sangat tua
Semar tertawannya selalu diakhiri nada tangisan
Semar berwajah mata menangis namun mulutnya tertawa
Semar berprofil berdiri sekaligus jongkok
Semar tak pernah menyuruh namun memberikan konsekwensi atas nasehatnya

Kebudayaan Jawa telah melahirkan religi dalam wujud kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, yaitu adanya wujud tokoh wayang Semar, jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu, Budha dan Isalam di tanah Jawa.

Dikalangan spiritual Jawa ,Tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis, tetapi lebih bersifat mitologi dan symbolis tentang KeEsa-an, yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan expresi, persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual . Pengertian ini tidak lain hanyalah suatu bukti yang kuat bahwa orang Jawa sejak jaman prasejarah adalah Relegius dan ber keTuhan-an yang Maha Esa.

Dari tokoh Semar wayang ini akan dapat dikupas ,dimengerti dan dihayati sampai dimana wujud religi yang telah dilahirkan oleh kebudayaan Jawa .

Gambar tokoh Semar nampaknya merupakan simbol pengertian atau konsepsi dari aspek sifat Ilahi, yang kalau dibaca bunyinya katanya ber bunyi :
Semar (pralambang ngelmu gaib) – kasampurnaning pati.
Bojo sira arsa mardi kamardikan, ajwa samar sumingkiring dur-kamurkan Mardika artinya “merdekanya jiwa dan sukma“, maksudnya dalam keadaan tidak dijajah oleh hawa nafsu dan keduniawian, agar dalam menuju kematian sempurna tak ternodai oleh dosa. Manusia jawa yang sejati dalam membersihkan jiwa (ora kebanda ing kadonyan, ora samar marang bisane sirna durka murkamu) artinya : “dalam menguji budi pekerti secara sungguh-sungguh akan dapat mengendalikan dan mengarahkan hawa nafsu menjadi suatu kekuatan menuju kesempurnaan hidup”.

Filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka dalam lakon Semar Mbabar Jati Diri
Dalam Etika Jawa ( Sesuno, 1988 : 188 ) disebutkan bahwa Semar dalam pewayangan adalah punakawan ” Abdi ” Pamomong ” yang paling dicintai. Apabila muncul di depan layar, ia disambut oleh gelombang simpati para penonton. Seakan-akan para penonton merasa berada dibawah pengayomannya.

Simpati para penonton itu ada hubungannya dengan mitologi Jawa atau Nusantara yang menganggap bahwa Semar merupakan tokoh yang berasal dari Jawa atau Nusantara ( Hazeu dalam Mulyono 1978 : 25 ). Ia merupakan dewa asli Jawa yang paling berkuasa ( Brandon dalam Suseno, 1988 : 188 ). Meskipun berpenampilan sederhana, sebagai rakyat biasa, bahkan sebagai abdi, Semar adalah seorang dewa yang mengatasi semua dewa. Ia adalah dewa yang ngejawantah ” menjelma ” ( menjadi manusia ) yang kemudian menjadi pamong para Pandawa dan ksatria utama lainnya yang tidak terkalahkan.

Oleh karena para Pandawa merupakan nenek moyang raja-raja Jawa (Poedjowijatno, 1975 : 49 ) Semar diyakini sebagai pamong dan danyang pulau Jawa dan seluruh dunia ( Geertz 1969 : 264 ).
Ia merupakan pribadi yang bernilai paling bijaksana berkat sikap bathinnya dan bukan karena sikap lahir dan keterdidikannya ( Suseno 1988 : 190 ).
Ia merupakan pamong yang sepi ing pamrih, rame ing ngawe ” sepi akan maksud, rajin dalam bekerja dan memayu hayuning bawana ” menjaga kedamaian dunia ( Mulyono, 1978 : 119 dan Suseno 1988 : 193 )
Dari segi etimologi, joinboll ( dalam Mulyono 1978 : 28 ) berpendapat bahwa Semar berasal dari sar yang berarti sinar ” cahaya “. jadi Semar berarti suatu yang memancarkan cahaya atau dewa cahaya, sehingga ia disebut juga Nurcahya atau Nurrasa ( Mulyono 1978 : 18 ) yang didalam dirinya terdapat atau bersemayam Nur Muhammad, Nur Illahi atau sifat Ilahiah. Semar yang memiliki rupa dan bentuk yang samar, tetapi mempunyai segala kelebihan yang telah disebutkan itu, merupakan simbol yang bersifat Ilahiah pula ( Mulyono 1978 : 118 – Suseno 1988 : 191 ). Sehubungan dengan itu, Prodjosoebroto ( 1969 : 31 ) berpendapat dan menggambarkan ( dalam bentuk kaligrafi ) bahwa jasat Semar penuh dengan kalimat Allah.

Sifat ilahiah itu ditunjukkan pula dengan sebutan badranaya yang berarti ” pimpinan rahmani ” yakni pimpinan yang penuh dengan belas kasih ( timoer, tt : 13 ). Semar juga dapat dijadikan simbol rasa eling ” rasa ingat ” ( timoer 1994 : 4 ), yakni ingat kepada Yang Maha Pencipta dan segala ciptaanNYA yang berupa alam semesta. Oleh karena itu sifat ilahiah itu pula, Semar dijadikan simbol aliran kebatinan Sapta Darma ( Mulyono 1978 : 35 )

Berkenaan dengan mitologi yang merekfleksikan segala kelebihan dan sifat ilahiah pada pribadi Semar, maka timbul gagasan agar dalam pementasan wayang disuguhkan lakon ” Semar Mbabar Jati Diri “. gagasan itu muncul dari presiden Suharto dihadapan para dalang yang sedang mengikuti Rapat Paripurna Pepadi di Jakarta pada tanggal, 20-23 Januari 1995. Tujuanya agar para dalang ikut berperan serta menyukseskan program pemerintah dalam pembangunan manusia seutuhnya, termasuk pembudayaan P4 ( Cermomanggolo 1995 : 5 ). Gagasan itu disambut para dalang dengan menggelar lakon tersebut. Para dalang yang pernah mementaskan lakon itu antara lain : Gitopurbacarita, Panut Darmaka, Anom Suroto, Subana, Cermomanggolo dan manteb Soedarsono ( Cermomanggolo 1995 : 5 – Arum 1995 : 10 ). Dikemukan oleh Arum ( 1995:10 ) bahwa dalam pementasan wayang kulit dengan lakon ” Semar Mbabar Jadi Diri ” diharapkan agar khalayak mampu memahami dan menghayati kawruh sangkan paraning dumadi ilmu asal dan tujuan hidup, yang digali dari falsafat aksara Jawa Ha-Na-Ca-Ra-Ka. Pemahaman dan penghayatan kawruh sangkan paraning dumadi yang bersumber filsafat aksara Jawa itu sejalan dengan pemikiran Soenarto Timoer ( 1994:4 ) bahwa filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka mengandung makna sebagai sumber daya yang dapat memberikan tuntunan dan menjadi panutan ke arah keselamatan hidup. Sumber daya itu dapat disimbolkan dengan Semar yang berpengawak sastra dentawyanjana. Bahkan jika mengacu pendapat Warsito ( dalam Ciptoprawiro 1991:46 ) bahwa aksara Jawa itu diciptakan Semar, maka tepatlah apabila pemahaman dan penghayatan kawruh sangkan paraning dumadi tersebut bersumberkan filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka
 


Batara Semar

MAYA adalah sebuah cahaya hitam. Cahaya hitam tersebut untuk menyamarkan segala sesuatu.
Yang ada itu sesungguhnya tidak ada.
Yang sesungguhnya ada, ternyata bukan.
Yang bukan dikira iya.
Yang wanter (bersemangat) hatinya, hilang kewanterane (semangatnya), sebab takut kalau keliru.

Maya, atau Ismaya, cahaya hitam, juga disebut SEMAR artinya tersamar, atau tidak jelas.

Di dalam cerita pewayangan, Semar adalah putra Sang Hyang Wisesa, ia diberi anugerah mustika manik astagina, yang mempunyai 8 daya, yaitu:
1.     tidak pernah lapar
2.     tidak pernah mengantuk
3.     tidak pernah jatuh cinta
4.     tidak pernah bersedih
5.     tidak pernah merasa capek
6.     tidak pernah menderita sakit
7.     tidak pernah kepanasan
8.     tidak pernah kedinginan

kedelapan daya tersebut diikat pada rambut yang ada di ubun-ubun atau kuncung. Semar atau Ismaya, diberi beberapa gelar yaitu; Batara Semar, Batara Ismaya, Batara Iswara, Batara Samara, Sanghyang Jagad Wungku, Sanghyang Jatiwasesa, Sanghyang Suryakanta. Ia diperintahkan untuk menguasai alam Sunyaruri, atau alam kosong, tidak diperkenankan menguasi manusia di alam dunia.

Di alam Sunyaruri, Batara Semar dijodohkan dengan Dewi Sanggani putri dari Sanghyang Hening. Dari hasil perkawinan mereka, lahirlah sepuluh anak, yaitu: Batara Wungkuam atau Sanghyang Bongkokan, Batara Siwah, Batara Wrahaspati, Batara Yamadipati, Batara Surya, Batara Candra, Batara Kwera, Batara Tamburu, Batara Kamajaya dan Dewi Sarmanasiti. Anak sulung yang bernama Batara Wungkuam atau Sanghyang Bongkokan mempunyai anak cebol, ipel-ipel dan berkulit hitam. Anak tersebut diberi nama Semarasanta dan diperintahkan turun di dunia, tinggal di padepokan Pujangkara. Semarasanta ditugaskan mengabdi kepada Resi Kanumanasa di Pertapaan Saptaarga.

Dikisahkan Munculnya Semarasanta di Pertapaan Saptaarga, diawali ketika Semarasanta dikejar oleh dua harimau, ia lari sampai ke Saptaarga dan ditolong oleh Resi Kanumanasa. Ke dua Harimau tersebut diruwat oleh Sang Resi dan ke duanya berubah menjadi bidadari yang cantik jelita.

 Yang tua bernama Dewi Kanestren dan yang muda bernama Dewi Retnawati. Dewi Kanestren diperistri oleh Semarasanta dan Dewi Retnawati menjadi istri Resi Kanumanasa. Mulai saat itu Semarasanta mengabdi di Saptaarga dan diberi sebutan Janggan Semarsanta.

Sebagai Pamong atau abdi, Janggan Semarasanta sangat setia kepada Bendara (tuan)nya. Ia selalu menganjurkan untuk menjalani laku prihatin dengan berpantang, berdoa, mengurangi tidur dan bertapa, agar mencapai kemuliaan. Banyak saran dan petuah hidup yang mengarah pada keutamaan dibisikan oleh tokoh ini. Sehingga hanya para Resi, Pendeta atau pun Ksatria yang kuat menjalani laku prihatin, mempunyai semangat pantang menyerah, rendah hati dan berperilaku mulia, yang kuat di emong oleh Janggan Semarasanta.

Dapat dikatakan bahwa Janggan Semarasanta merupakan rahmat yang tersembunyi. Siapa pun juga yang diikutinya, hidupnya akan mencapai puncak kesuksesan yang membawa kebahagiaqan abadi lahir batin. Dalam catatan kisah pewayangan, ada tujuh orang yang kuat di emong oleh Janggan Semarasanta, yaitu; Resi Manumanasa sampai enam keturunannya, Sakri, Sekutrem, Palasara, Abiyasa, Pandudewanata dan sampai Arjuna.

Jika sedang marah kepada para Dewa, Janggan Semarasanta katitisan oleh eyangnya yaitu Batara Semar. Jika dilihat secara fisik, Semarasanta adalah seorang manusia cebol jelek dan hitam, namun sesungguhnya yang ada dibalik itu ia adalah pribadi dewa yang bernama Batara Semar atau Batara Ismaya.

Karena Batara Semar tidak diperbolehkan menguasai langsung alam dunia, maka ia memakai wadag Janggan Semarasanta sebagai media manitis (tinggal dan menyatu), sehingga akhirnya nama Semarasanta jarang disebut, ia lebih dikenal dengan nama Semar.

Seperti telah ditulis di atas, Semar atau Ismaya adalah penggambaran sesuatau yang tidak jelas tersamar.

Yang ada itu adalah Semarasanta, tetapi sesungguhnya Semarasanta tidak ada.
Yang sesungguhnya ada adalah Batara Semar, namun ia bukan Batara Semar, ia adalah manusia berbadan cebol,berkulit hitam yang bernama Semarasanta.
Memang benar, ia adalah Semarasanta, tetapi yang diperbuat bukan semata-mata perbuatan Semarasanta.
Jika sangat yakin bahwa ia Semarasanta, tiba-tiba berubah keyakinan bahwa ia adalah Batara Semar, dan akhirnya tidak yakin, karena takut keliru. Itulah sesuatu yang belum jelas, masih diSAMARkan, yang digambarkan pada seorang tokoh Semar.

SEMAR adalah sebuah misteri, rahasia Sang Pencipta. Rahasia tersebut akan disembunyikan kepada orang-orang yang egois, tamak, iri dengki, congkak dan tinggi hati, namun dibuka bagi orang-orang yang sabar, tulus, luhur budi dan rendah hati. Dan orang yang di anugerahi Sang Rahasia, atau SEMAR, hidupnya akan berhasil ke puncak kebahagiaan dan kemuliaan nan abadi.

(herjaka)



 
 

  3 EKONOM INDONESIA   DAN PEMIKIRANNYA   3 tokoh ekonom Indonesia pasca-reformasi, sekedar sampling acak,   berfokus pada pemulihan kri...