Jumat, 27 Juli 2012

LINK BAGI PENGGEMAR PEDHALANGAN YOGYAKARTA


                                                                   
                                        ada gak yang semasa kecil pengin jadi dhalang gak kesampaian?

SILAHKAN TINGGAL DI KLIK SAJA, monggo:

http://wayangpustaka02.wordpress.com

http://wayangprabu.com/tag/ki-wisnu-hadi-sugito

http://bornjavanese.blogspot.com

http://www.thewindowofyogyakarta.com

http://padeblogan.com/2011/05/28/mengenang-ki-timbul-hadiprayitno

http://putragantiwarno.blogspot.com/2011/11/wayang-kresno-duto-ki-hadi-sugito.html

http://warta.pepadi.com

http://aakuntoa.wordpress.com/2008/01/11/hadi-sugito

http://www.tmcmetro.com/news/2012/06/hut-bhayangkara-ke-66-polpagelaran-wayang-kulit

http://wayangprabu.com/category/pagelaran-wayang/ki-sutono-hadi-sugito

http://wayangprabu.com/audio-mp3-pagelaran-wayang-berbagai-dalang/yogyakarta/kihadisugito

http://blog-indonesia.com/blog-archive-11337-1114.html

http://blog-indonesia.com/blog-archive-11337-1124.html

http://blog-indonesia.com/blog-archive-11337-1113.html

Ida Arimurti: Kisah Konglomerat yang Ditolak dan Segerobak Bunga dari Pengemar Fanatik

Ida Arimurti: Kisah Konglomerat yang Ditolak dan Segerobak Bunga dari Pengemar Fanatik


Kita berusaha, Allah berkehendak. Pepatah itu sepertinya persis sekali dengan perjalanan hidup seorang Ida Arimurti. Siapa yang tidak mengenal wanita cantik kelahiran Surabaya, Jawa Timur, 17 Desember  ini. Penyiar radio dan televisi, MC,dubber, dan belakangan berkecimpung dalam dunia wirausaha.
Kompasianers, kiprahnya di dunia radio tak sengaja dilakukan. Kisahnya terjadi saat Ida masih berseragam putih abu-abu alias SMU (dulu Sekolah Menengah Atas, SMA) di SMU 30, Rawasari, Jakarta Pusat. Temannya ingin menjadi penyiar radio Amigos. Saat mengantar temannya ke radio yang bermarkas di jalan Wijaya itu, penyiar Amigos, Leo Kresnapaty, justru menawari Ida untuk menjadi penyiar.

Begitu aku coba, eh, malah aku yang diterima,” katanya mengingat pada 1982, ketika pertama kali memulai siaran di Amigos. “Meski temanku nggak diterima, ia nggak marah. Justru ia malah bangga aku kemudian jadi penyiar kondang,” tambah wanita ini sambil tertawa.


Di Amigos, Ida berjumpa dengan Bens Leo, pria yang belakangan dikenal sebagai pengamat musik terkenal di tanah air. Di radio ini, ia belajar banyak, baik itu teknik siaran maupun suara. Harap maklum, pada saat masuk, ilmu radionya nol besar. Namun, tekad yang kuat, membuat dirinya langsung menjadi penyiar yang dinantikan oleh banyak pendengar.

Kompasianers, dua tahun bersiaran di Amigos, Ida ‘dibajak’ ke Radio Prambors. Di radio yang dahulu bermarkas di jalan Borobudur 4, Jakarta Pusat ini, namanya menjulang. Bak bintang film atau sinetron sekarang ini, Ida pun menjadi idola. Kepopulerannya ini membuat TVRI yang dahulu cuma satu-satunya televisi di Indonesia, merekrutnya menjadi penyiar di programa 2 TVRI Jakarta dan penyiar TVRI Nasional.

Alhamdulillah. Semua itu  aku syukuri. Niat aku bekerja itu adalah bekarya, bukan karena rutinitas saja, tetapi harus punya prestasi, sehingga perusahaan bisa melihatku sebagai aset.”

Saat di Prambors pada 1984, Ida dibayar Rp 5.000 per jam. Dalam seminggu, ia bersiaran selama 4 sampai 6 jam. Jadi, honornya sebulan sekitar Rp 500 ribuan. Zaman itu, angka itu cukup besar untuk honor seorang penyiar. Menurutnya, setiap tahun honornya terus dinaikkan. Tak heran, dalam 2 tahun siaran, ia bisa membeli Starlet seharga 25 juta perak dan mencicil rumah di Jatibening, Bekasi.

Kata perusahaan, aku termasuk penyiar termahal,” ungkapnya tanpa bermaksud menyombongkan diri. Sebab, faktanya, nama Ida memiliki nilai jual di radio. Rating program radio yang ada namanya, selalu menjulang. Sampai ketika pindah ke Group Delta, ia selalu bersiaran di jam primetime. Maklum, banyak agency yang pasang iklan di program acara dimana penyiarnya Ida Arimurti. “Makanya jangan heran, aku selalu dapat bonus besar,” akunya sambil tertawa lagi.

Kompasianers, bukan dari siaran saja honor yang didapat Ida. Tentu Anda tahu, pekerjaan sampingan jadi penyiar adalah menjadi MC. Tentu Anda tahu, 1 hari dalam setahun ada 365 hari. Namun dalam setahun, ia pernah mendapatkan job MC sebanyak 400 kali. Bayangkan jika siangnya ia  diundang perusahaan A, lalu malamnya diundang perusahaan B. Belum termasuk honor yang didapat dari menjual suaranya dengan menjadi dubber.



Bagi Ida, siaran radio ibarat darah nadi. Saking cintanya, waktu 24 jam tidaklah cukup untuk melakukan untuk radio. Memang, wanita ini begitu total ketika bersiaran. Resep itulah yang membuatnya cukup dikenal sampai saat ini. Totalitas itu pula yang menjadikan karirnya terus melesat, dari penyiar Prambors (1984-1994), Female (1994-2002), dan kemudian pada 2004 dipercaya menjadi Direktur Woman Radio.

Dengan jabatan sebagai Direktur, praktis penghasilannya berlipat-lipat dibanding menjadi penyiar. Namun, posisi tinggi di Female tersebut jelas merupakan konsekuensi logis yang memang sudah seharusnya ia dapatkan, mengingat kerja keras dan komitmennya selama ini di radio.

 “Alhamdulillah, aku membangun radio ini (Woman Radio-pen) mulai dari nol sampai kemudian cukup dikenal orang.”

Kompasianers, disiplin, tepat waktu, dan bertanggung jawab adalah resep sukses seorang Ida Arimurti agar bisa sukses di dunia radio dan tentu saja di profesi lain. “Dalam dunia radio, sedetik itu berharga. Jadi kalo kita tidak disiplin dan tepat waktu, sulit untuk berhasil,” jelas wanita yang sempat membawakan program TRAX (TVRI) bersama Erwin Parengkuan, dimana saat itu bersaing dengan program musik Rocket(RCTI) yang dibawakan oleh Jeffry Woworuntu dan Gladys Suwandi.

Tambah Ida, jadi penyiar itu tidak boleh setengah-setengah. Maksudnya, jangan sekadar suka siaran, tetapi harus melakukan sesuatu yang berbeda. “Jangan cuma datang, lalu siaran. Namun kita harus tahu detail tentang profesi kita dan belajar mengenai dunia penyiaran, termasuk manajemen. Dengan begitu, wawasan kita luas.”
Resep lain dari seorang penyiar, jelas tahu tentang dunia musik dan punya sense of humor alias selera humor. Mengenai selera humor ini, menurut Ida sangat penting. Sebab, ketika kita menginterview narasumber dan kita tidak punya selera humor, otomatis wawancara tersebut akan kering dan tidak cair. Hal itu jelas akan membosankan pendengar, pun pada diri narasumber itu.

Kerja keras Ida tentu ada konsekuensi lain yang dipertaruhkan, apa lagi kalo bukan masalah berkeluarga. Ia sadar, bahwa ia terlambat menikah. Padahal ia bukan tidak suka menikah tepat waktu atau ia termasuk wanita pilih-pilih pasangan. “Soalnya kalo ada cowok yang dekat sama aku bawanya ngajak kawin terus,” akunya. Salah satu pria yang dekat dengannya dan mengajak kawin adalah seorang pengusaha kaya dan termasuk konglomerat pribumi tersohor di tanah air.

Dulu aku memang lugu, nggak neko-neko gitu. Pacaran baik-baik. Nggak pernah ciuman. Eh, begitu diajakin serius, malah kabur. Aneh nggak sih?

Kompasianers, suara Ida yang lembut dan seksi, membuat pendengar selalu klepek-klepek. Saat di Prambors, ia selalu mendapatkan 3 surat per hari, dan paling banyak 10 surat. Isi surat itu rata-rata selain memuji suaranya, suka gaya siarannya, kelanjutan cerita Catatan Si Boy, Dairy, juga pertanyaan-pertanyaan yang ‘menjurus-jurus’ tentang masalah pribadi. “Ya, kebanyakan surat cinta gitu, deh.

Tak seperti kebanyakan idola pada fans-nya, Ida termasuk orang yang rajin membalas semua surat yang dikirimkan kepadanya. Hebatnya, surat-surat itu ditulis tangannya sendiri, bukan balasan surat yang berasal dari satu surat yang di-foto copy (baca: diperbanyak dengan cara foto copy). Ia pun menyisihkan ektra uang untuk membeli perangko jika ada penggemarnya yang tidak menyertakan perangko balasan.
Soal perangko, no problem. Kan memang aku budgetkan.”

Begitu banyak pendengar yang menjadi penggemar fanatik. Tak cuma konglomerat itu. Ada seorang pengemar yang membuat dirinya ketakutan, dimana ia selalu mengirimkan faks setiap hari. Penggemar fanatik ini mulai tergila-gila dengan Ida saat masih bersiaran di Prambors sampai ketika pindah di Delta FM.

Selain mengirim faks, penggemar fanatik ini sempat mengirimkan diary yang seluruh halamannya sudah ditulis penuh olehnya. Isi dairy itu tentang imajinasinya tentang Ida, mulai saat ia kenalan, pacaran, married, dan punya dua anak. Bahkan, ia berimajinasi pada saat bercinta.

Pernah orang ini ngikutin aku sampai ke mal. Sampai di eskalator, ia berdiri di sampingku sambil memegang tangangku. Ia mengatakan benar-benar jatuh cinta sama aku,” kenangnya saat masih bersiaran di Female, dimana kantornya di Plaza Bintaro, Tanggerang. “Saking panik, aku berusaha untuk menghindar dan lari.”

Ida mengerti, pengemar fanatik seperti itu tidak bisa diperlakukan kasar. Sebab, hal itu justru akan membahayakan dirinya. Makanya, jika terpaksa bertemu, ia harus bersikap bagi. Begitu ada kesempatan, ia coba menghindar. Percaya tak percaya, saking tahu Ida adalah ‘aset’ bagi perusahaan, pimpinan Prambors sempat menggaji seorang satpam untuk selalu mengawal kemana pun Ida pergi.
Kalo nggak salah, nama satpamnya pak Sardi.”

Kompasianers, penggemar fanatik yang sehari-hari bekerja sebagai PNS di Departemen Keuangan ini hampir setiap hari ke markas Prambors. Makanya, setiap kali habis siaran, Ida selalu dikawal pak Sardi keluar lewat jalan belakang. “Wah, kayak main petak umpet gitu, deh.”

Suatu kali, penggemar fanatik ini mengirimkan bunga pada saat Ida ulang tahun.  Jika bunganya cuma setangkai barangkali biasa. Namun yang terjadi, ia mengirimkan bunga segerobak, sebanyak usia Ida pada saat itu. Hebatnya, bunga-bunga itu komplit dikirim dengan menggunakan pot-potnya.

Pernah pula ia kirim bunga ke hotel saat aku jadi MC. Awalnya aku bingung dibilangi resepsionis ada yang kirim bunga. Eh, ternyata pengemar fanatikku itu yang kirim. Aku bingung dari mana dia tahu aku lagi jadi MC di hotel ini. Ternyata aku sempat keceplosan ngomong, nanti malam bakal jadi MC di hotel itu,” jelas wanita yang sempat menjadi tokoh Ina di acara Catatan Si Boy saat di Prambors ini.

Masih banyak kisah penggemar yang mebuat Ida ‘ketakutan’. Pernah ia dimarah-marahi oleh seorang wanita, gara-gara suaminya menyimpan foto Ida di dalam dompet. Wanita itu bertanya tentang hubungan Ida dengan suaminya itu. Tentu Ida cuma senyam-senyum, karena suami si wanita itu adalah penggemar fanatik Ida.

Entah dapat dari majalah mana, fotoku digunting dan dimasukkan dalam dompet. Yang bikin marah si istri, karena fotonya yang ada di dalam dompet itu diperlihatkan,” papar Ida yang juga sempat mendapatkan ‘teror’ melalui telepon ini. “Saat ini, aku dan wanita ini berkawan di FB. Namun, ia masih nggak habis pikir, suaminya masih tergila-gila dengan aku dan selalu membandingkan dia dengan aku.

Kisah tentang penggemar ini, menurut Ida ada yang lebih parah. Ia sempat dikejar-kejar dengan seorang perempuan yang mengaku laki-laki. Suaranya memang mirip laki-laki. Namun begitu ketemu, ternyata perempuan. “Waktu itu setiap aku ingin sesuatu, pengemar yang mengaku cowok ini selalu mengirimkan keinginanku ini ke studio.”

Kompasianers, keseksian suara Ida tidak bisa kita nikmati lagi. Pasalnya, sejak 2010, ia memutuskan untuk break bersiaran. Keputusannya ini setelah ia tidak lagi bersiaran di Delta dan fokus di program Zona Memori yang sempat ditayangkan di Metro TV. Ternyata, sejak 2011 lalu, Zona Memori pun berhenti siarannya.
Sekarang saatnya aku fokus membagi waktu untuk anak,” ujar wanita yang belakangan giat menjadi pengusaha ini.

 “Tentu ada pekerjaan selain mengurus anak. Namun yang pasti, pekerjaan yang aku lakukan ini tidak menyita waktu terlalu besar, sebagaimana dulu ketika aku di radio.”


Kamis, 26 Juli 2012

http://sosok.kompasiana.com/2012/07/27/ida-arimurti-kisah-konglomerat-yang-ditolak-dan-segerobak-bunga-dari-pengemar-fanatik

Ida Arimurti: Kisah Konglomerat yang Ditolak dan Segerobak Bunga dari Pengemar Fanatik


Kita berusaha, Allah berkehendak. Pepatah itu sepertinya persis sekali dengan perjalanan hidup seorang Ida Arimurti. Siapa yang tidak mengenal wanita cantik kelahiran Surabaya, Jawa Timur, 17 Desember  ini. Penyiar radio dan televisi, MC,dubber, dan belakangan berkecimpung dalam dunia wirausaha.

Kompasianers, kiprahnya di dunia radio tak sengaja dilakukan. Kisahnya terjadi saat Ida masih berseragam putih abu-abu alias SMU (dulu Sekolah Menengah Atas, SMA) di SMU 30, Rawasari, Jakarta Pusat. Temannya ingin menjadi penyiar radio Amigos. Saat mengantar temannya ke radio yang bermarkas di jalan Wijaya itu, penyiar Amigos, Leo Kresnapaty, justru menawari Ida untuk menjadi penyiar.

Begitu aku coba, eh, malah aku yang diterima,” katanya mengingat pada 1982, ketika pertama kali memulai siaran di Amigos. “Meski temanku nggak diterima, ia nggak marah. Justru ia malah bangga aku kemudian jadi penyiar kondang,” tambah wanita ini sambil tertawa.

Di Amigos, Ida berjumpa dengan Bens Leo, pria yang belakangan dikenal sebagai pengamat musik terkenal di tanah air. Di radio ini, ia belajar banyak, baik itu teknik siaran maupun suara. Harap maklum, pada saat masuk, ilmu radionya nol besar. Namun, tekad yang kuat, membuat dirinya langsung menjadi penyiar yang dinantikan oleh banyak pendengar.

Kompasianers, dua tahun bersiaran di Amigos, Ida ‘dibajak’ ke Radio Prambors. Di radio yang dahulu bermarkas di jalan Borobudur 4, Jakarta Pusat ini, namanya menjulang. Bak bintang film atau sinetron sekarang ini, Ida pun menjadi idola. Kepopulerannya ini membuat TVRI yang dahulu cuma satu-satunya televisi di Indonesia, merekrutnya menjadi penyiar di programa 2 TVRI Jakarta dan penyiar TVRI Nasional.
Alhamdulillah. Semua itu  aku syukuri. Niat aku bekerja itu adalah bekarya, bukan karena rutinitas saja, tetapi harus punya prestasi, sehingga perusahaan bisa melihatku sebagai aset.”

Saat di Prambors pada 1984, Ida dibayar Rp 5.000 per jam. Dalam seminggu, ia bersiaran selama 4 sampai 6 jam. Jadi, honornya sebulan sekitar Rp 500 ribuan. Zaman itu, angka itu cukup besar untuk honor seorang penyiar. Menurutnya, setiap tahun honornya terus dinaikkan. Tak heran, dalam 2 tahun siaran, ia bisa membeli Starlet seharga 25 juta perak dan mencicil rumah di Jatibening, Bekasi.

Kata perusahaan, aku termasuk penyiar termahal,” ungkapnya tanpa bermaksud menyombongkan diri. Sebab, faktanya, nama Ida memiliki nilai jual di radio. Rating program radio yang ada namanya, selalu menjulang. Sampai ketika pindah ke Group Delta, ia selalu bersiaran di jam primetime. Maklum, banyak agency yang pasang iklan di program acara dimana penyiarnya Ida Arimurti. “Makanya jangan heran, aku selalu dapat bonus besar,” akunya sambil tertawa lagi.

Kompasianers, bukan dari siaran saja honor yang didapat Ida. Tentu Anda tahu, pekerjaan sampingan jadi penyiar adalah menjadi MC. Tentu Anda tahu, 1 hari dalam setahun ada 365 hari. Namun dalam setahun, ia pernah mendapatkan job MC sebanyak 400 kali. Bayangkan jika siangnya ia  diundang perusahaan A, lalu malamnya diundang perusahaan B. Belum termasuk honor yang didapat dari menjual suaranya dengan menjadi dubber.

Bagi Ida, siaran radio ibarat darah nadi. Saking cintanya, waktu 24 jam tidaklah cukup untuk melakukan untuk radio. Memang, wanita ini begitu total ketika bersiaran. Resep itulah yang membuatnya cukup dikenal sampai saat ini. Totalitas itu pula yang menjadikan karirnya terus melesat, dari penyiar Prambors (1984-1994), Female (1994-2002), dan kemudian pada 2004 dipercaya menjadi Direktur Woman Radio.

Dengan jabatan sebagai Direktur, praktis penghasilannya berlipat-lipat dibanding menjadi penyiar. Namun, posisi tinggi di Female tersebut jelas merupakan konsekuensi logis yang memang sudah seharusnya ia dapatkan, mengingat kerja keras dan komitmennya selama ini di radio. “Alhamdulillah, aku membangun radio ini (Woman Radio-pen) mulai dari nol sampai kemudian cukup dikenal orang.”

Kompasianers, disiplin, tepat waktu, dan bertanggung jawab adalah resep sukses seorang Ida Arimurti agar bisa sukses di dunia radio dan tentu saja di profesi lain. “Dalam dunia radio, sedetik itu berharga. Jadi kalo kita tidak disiplin dan tepat waktu, sulit untuk berhasil,” jelas wanita yang sempat membawakan program TRAX (TVRI) bersama Erwin Parengkuan, dimana saat itu bersaing dengan program musik Rocket(RCTI) yang dibawakan oleh Jeffry Woworuntu dan Gladys Suwandi.

Tambah Ida, jadi penyiar itu tidak boleh setengah-setengah. Maksudnya, jangan sekadar suka siaran, tetapi harus melakukan sesuatu yang berbeda. “Jangan cuma datang, lalu siaran. Namun kita harus tahu detail tentang profesi kita dan belajar mengenai dunia penyiaran, termasuk manajemen. Dengan begitu, wawasan kita luas.”

Resep lain dari seorang penyiar, jelas tahu tentang dunia musik dan punya sense of humor alias selera humor. Mengenai selera humor ini, menurut Ida sangat penting. Sebab, ketika kita menginterview narasumber dan kita tidak punya selera humor, otomatis wawancara tersebut akan kering dan tidak cair. Hal itu jelas akan membosankan pendengar, pun pada diri narasumber itu.

Kerja keras Ida tentu ada konsekuensi lain yang dipertaruhkan, apa lagi kalo bukan masalah berkeluarga. Ia sadar, bahwa ia terlambat menikah. Padahal ia bukan tidak suka menikah tepat waktu atau ia termasuk wanita pilih-pilih pasangan. “Soalnya kalo ada cowok yang dekat sama aku bawanya ngajak kawin terus,” akunya. Salah satu pria yang dekat dengannya dan mengajak kawin adalah seorang pengusaha kaya dan termasuk konglomerat pribumi tersohor di tanah air.

Dulu aku memang lugu, nggak neko-neko gitu. Pacaran baik-baik. Nggak pernah ciuman. Eh, begitu diajakin serius, malah kabur. Aneh nggak sih?
Kompasianers, suara Ida yang lembut dan seksi, membuat pendengar selalu klepek-klepek. Saat di Prambors, ia selalu mendapatkan 3 surat per hari, dan paling banyak 10 surat. Isi surat itu rata-rata selain memuji suaranya, suka gaya siarannya, kelanjutan cerita Catatan Si Boy, Dairy, juga pertanyaan-pertanyaan yang ‘menjurus-jurus’ tentang masalah pribadi. “Ya, kebanyakan surat cinta gitu, deh.

Tak seperti kebanyakan idola pada fans-nya, Ida termasuk orang yang rajin membalas semua surat yang dikirimkan kepadanya. Hebatnya, surat-surat itu ditulis tangannya sendiri, bukan balasan surat yang berasal dari satu surat yang di-foto copy (baca: diperbanyak dengan cara foto copy). Ia pun menyisihkan ektra uang untuk membeli perangko jika ada penggemarnya yang tidak menyertakan perangko balasan.
Soal perangko, no problem. Kan memang aku budgetkan.”

Begitu banyak pendengar yang menjadi penggemar fanatik. Tak cuma konglomerat itu. Ada seorang pengemar yang membuat dirinya ketakutan, dimana ia selalu mengirimkan faks setiap hari. Penggemar fanatik ini mulai tergila-gila dengan Ida saat masih bersiaran di Prambors sampai ketika pindah di Delta FM.
Selain mengirim faks, penggemar fanatik ini sempat mengirimkan diary yang seluruh halamannya sudah ditulis penuh olehnya. Isi dairy itu tentang imajinasinya tentang Ida, mulai saat ia kenalan, pacaran, married, dan punya dua anak. Bahkan, ia berimajinasi pada saat bercinta.

Pernah orang ini ngikutin aku sampai ke mal. Sampai di eskalator, ia berdiri di sampingku sambil memegang tangangku. Ia mengatakan benar-benar jatuh cinta sama aku,” kenangnya saat masih bersiaran di Female, dimana kantornya di Plaza Bintaro, Tanggerang. “Saking panik, aku berusaha untuk menghindar dan lari.”

Ida mengerti, pengemar fanatik seperti itu tidak bisa diperlakukan kasar. Sebab, hal itu justru akan membahayakan dirinya. Makanya, jika terpaksa bertemu, ia harus bersikap bagi. Begitu ada kesempatan, ia coba menghindar. Percaya tak percaya, saking tahu Ida adalah ‘aset’ bagi perusahaan, pimpinan Prambors sempat menggaji seorang satpam untuk selalu mengawal kemana pun Ida pergi.

Kalo nggak salah, nama satpamnya pak Sardi.”
Kompasianers, penggemar fanatik yang sehari-hari bekerja sebagai PNS di Departemen Keuangan ini hampir setiap hari ke markas Prambors. Makanya, setiap kali habis siaran, Ida selalu dikawal pak Sardi keluar lewat jalan belakang. “Wah, kayak main petak umpet gitu, deh.”

Suatu kali, penggemar fanatik ini mengirimkan bunga pada saat Ida ulang tahun.  Jika bunganya cuma setangkai barangkali biasa. Namun yang terjadi, ia mengirimkan bunga segerobak, sebanyak usia Ida pada saat itu. Hebatnya, bunga-bunga itu komplit dikirim dengan menggunakan pot-potnya.

Pernah pula ia kirim bunga ke hotel saat aku jadi MC. Awalnya aku bingung dibilangi resepsionis ada yang kirim bunga. Eh, ternyata pengemar fanatikku itu yang kirim. Aku bingung dari mana dia tahu aku lagi jadi MC di hotel ini. Ternyata aku sempat keceplosan ngomong, nanti malam bakal jadi MC di hotel itu,” jelas wanita yang sempat menjadi tokoh Ina di acara Catatan Si Boy saat di Prambors ini.

Masih banyak kisah penggemar yang mebuat Ida ‘ketakutan’. Pernah ia dimarah-marahi oleh seorang wanita, gara-gara suaminya menyimpan foto Ida di dalam dompet. Wanita itu bertanya tentang hubungan Ida dengan suaminya itu. Tentu Ida cuma senyam-senyum, karena suami si wanita itu adalah penggemar fanatik Ida.

Entah dapat dari majalah mana, fotoku digunting dan dimasukkan dalam dompet. Yang bikin marah si istri, karena fotonya yang ada di dalam dompet itu diperlihatkan,” papar Ida yang juga sempat mendapatkan ‘teror’ melalui telepon ini. “Saat ini, aku dan wanita ini berkawan di FB. Namun, ia masih nggak habis pikir, suaminya masih tergila-gila dengan aku dan selalu membandingkan dia dengan aku.

Kisah tentang penggemar ini, menurut Ida ada yang lebih parah. Ia sempat dikejar-kejar dengan seorang perempuan yang mengaku laki-laki. Suaranya memang mirip laki-laki. Namun begitu ketemu, ternyata perempuan. “Waktu itu setiap aku ingin sesuatu, pengemar yang mengaku cowok ini selalu mengirimkan keinginanku ini ke studio.”

Kompasianers, keseksian suara Ida tidak bisa kita nikmati lagi. Pasalnya, sejak 2010, ia memutuskan untuk break bersiaran. Keputusannya ini setelah ia tidak lagi bersiaran di Delta dan fokus di program Zona Memori yang sempat ditayangkan di Metro TV. Ternyata, sejak 2011 lalu, Zona Memori pun berhenti siarannya.
Sekarang saatnya aku fokus membagi waktu untuk anak,” ujar wanita yang belakangan giat menjadi pengusaha ini. “Tentu ada pekerjaan selain mengurus anak. Namun yang pasti, pekerjaan yang aku lakukan ini tidak menyita waktu terlalu besar, sebagaimana dulu ketika aku di radio.”



Teeuw


Teeuw

Oleh Gunawan Muhamad

Pada umur 26, Andries Teeuw naik kapal pos, mengarungi laut, melintasi Terusan Suez, dan sampai di pelabuhan Sabang. Itu tahun 1947. Perjalanan yang tak menjanjikan ketenteraman.

Hanya dua tahun sebelumnya Indonesia menyatakan diri merdeka. Belanda, yang merasa dibangkang, kemudian mengirim pasukan untuk menaklukkannya kembali. Tapi Teeuw, kelahiran Gorinchem, Holland Selatan, datang sendirian, meskipun dengan dana pemerintah untuk riset di Lombok. Ia baru setahun beroleh gelar doktor dari Universitas Utrecht. Entah bagaimana seorang ilmuwan yang begitu muda melintasi ketegangan hari-hari itu.

Saya hanya pernah membaca, dari Sabang ia menulis sepucuk surat kepada istrinya: ”Seakan-akan saya telah berkenalan dengan dunia ini.”
Ia memang telah kenal bagian dunia ini—secara tak langsung. Ia belajar filologi; disertasinya terjemahan atas puisi Bhomântaka, naskah tua dari Jawa Timur. Bagi Teeuw, tak mudah memahami sepenuhnya teks bahasa Jawa Kuno ini, tapi satu hal yang terpaut pada filologi ada dalam dirinya: filologi, yang menelaah bahasa dalam pautannya dengan sastra dan sejarah, berasal dari bahasa Yunani yang berarti ”cinta kepada sastra dan pengetahuan”.

Tanpa cinta kepada sastra dan pengetahuan, Teeuw tak akan berjalan sejauh itu—melintasi dua satuan geografis, dua kubu ketegangan politik, dua posisi dalam proses pengetahuan: ia dapatkan sumber telaahnya dari Indonesia, ia berikan kemudian hasil telaahnya kepada Indonesia. Ia seorang Belanda; ia pro-Indonesia.

Beberapa tahun setelah Bhomântaka, ia lebih dikenal sebagai penelaah dan kritikus sastra Indonesia modern. Teeuw mula-mula tak merasa nyaman dengan label itu. Saya bertemu dengan dia pertama kali di musim dingin awal 1967. Waktu itu saya tinggal di Bruges, Belgia, dan datang naik kereta api ke Leiden. Ia menjemput saya di stasiun—dengan sikap rendah dan murah hati yang tak terduga dari seorang guru besar kepada seorang mahasiswa asing yang cuma dikenalnya lewat satu-dua sajak. Ia ramah, dengan kehangatan yang pelan datang.

Istrinya, yang kemudian akan disebut ”Ibu Teeuw” dengan akrab oleh semua kenalannya dari Indonesia, menyajikan teh panas dan biskuit.
”Saya sebenarnya bukan kritikus,” ia mengatakan, di ruang tamu rumahnya yang bersahaja dan penuh buku. ”Yang saya lakukan hanya mengisi kekosongan.”
Waktu itu tampaknya demikian. Ketika Teeuw mengajar di Universitas Indonesia di akhir 1940-an dan awal 1950-an, terbit bukunya, Voltooid Voorspel. Buku ini kemudian diindonesiakan jadi Pokok dan Tokoh (judul yang kemudian di-”pinjam” Tempo) pada 1952 dan 1955. Isinya lebih berupa pengantar tentang para sastrawan Indonesia modern dan karya-karyanya. Pendekatannya tak bisa dikatakan baru. Dalam kritik sastra waktu itu, ”pokok” dianggap terkait erat dengan ”tokoh”, satu hal yang digugat dalam teori sastra kemudian. Tapi tujuan Teeuw memang hanya jadi pemandu bagi mereka yang ingin mulai belajar. Dan sebab itu pula—di samping ia tahu menempatkan diri sebagai ”orang luar”—­Teeuw, seperti kata penyair dan kritikus Sapardi Djoko Damono, cenderung ”berhati-hati”.

Bagaimanapun terbatasnya, Pokok dan Tokoh besar sekali pengaruhnya bagi sastrawan Indonesia di tahun 1950-an. Waktu itu seseorang seakan-akan baru ”dibaptis” setelah dibahas Teeuw. Dalam hal ini ia sejajar dengan H.B. Jassin, yang menerbitkan tiga jilid kumpulan Kritik & Esei. Tapi Teeuw punya kelebihan. Ia pakar filologi yang kenal sastra klasik Melayu dan Jawa dengan mendalam. Dengan demikian ia melihat dengan tepat bahwa betapapun ”baru”-nya ungkapan Chairil Anwar dan para penyair sebelum dan sesudahnya, bahasa Indonesia tak lahir dari ruang linguistik yang hampa.

Itu sebabnya Teeuw dapat melihat apa yang istimewa pada puisi Amir Hamzah. Sementara Jassin menunjuk rapatnya penyair Buah Rindu dengan tradisi Melayu, Teeuw justru melihat ada dalam karya Amir sesuatu yang mempesona: sebuah energi baru. Puisinya mengatasi keterbatasan prosodi syair lama. Dalam bahasa Melayu, tak ada rima yang bertekanan seperti dalam bahasa Jermanik. Syair Melayu juga tak amat beragam bunyi vokalnya (hanya a, e, i, o, u, ê), sementara rima yang terbentuk dari itu, dalam gabungan dengan konsonan, tak seluas bahasa Jerman, Inggris, apalagi Rusia. Menghadapi keterbatasan itu, menurut ­Teeuw, Amir Hamzah menciptakan puisi yang mengejutkan dan kaya karena bunyi asonansi, aliterasi, dan rima yang mendadak di tengah-tengah.

Ketajaman (dan juga kepekaan) menangkap gerak bahasa yang seperti itulah yang sampai sekarang belum dilanjutkan, apalagi ditandingi, oleh telaah sastra di perguruan tinggi Indonesia. Dari apa yang saya contohkan tampak pula bahwa telaah Teeuw, yang kemudian makin lama makin dipermatang oleh teori-teori sastra mutakhir (Barth, Culler, Derrida), tetap menggali sumbernya bukan dari sastra Eropa, melainkan sastra Nusantara. Dengan lancar, dalam satu risalah, ia akan mengambil contoh dari sajak Jawa Kuno Hariwangsa dan puisi Sutardji Calzoum Bachri.

 Dalam menelaah Hikayat Hang Tuah, Teeuw membedakan diri dari penelaah lain karena ia tak memakai ukuran kesejarahan ”Barat”: ia melihat kisah itu sebagaimana orang Melayu memandang Hang Tuah sejak dulu: sebagai karya sastra yang asyik dinikmati.
Itu sebabnya sastra penting, meski sering disepelekan dalam zaman yang menyisihkan keasyikan. Manusia, Teeuw mengingatkan kita, juga homo fabulans: makhluk yang bercerita, yang bersastra—dengan bahasa dan imajinasi yang ganjil, tak pasti, tak mandek, tapi dengan demikian selalu baru dan hidup kembali berkali-kali.
Juga ketika sang kritikus pergi, 18 Mei 2012.

~Majalah Tempo, Edisi Senin, 28 Mei 2012~

TENTANG DAHLAN ISKAN dari beberap artikel terpilih kompasiana.com

TENTANG DAHLAN ISKAN

Setelah sekian lama menjabat sebagai Menteri BUMN, dan masa RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) BUMN lewat, terlihat bahwa Board of Directors (BoD) atau para direksi BUMN yang terpilih ternyata tidak ada yang berkualifikasi dream team seperti yang pernah disuarakan oleh Dahlan Iskan. Para direksi BUMN sekarang ini biasa-biasa saja, kecuali direksi-direksi top pilihan beberapa Menteri BUMN terdahulu yang berhasil melakukan turnaround BUMN merugi. BoD temuan atau pilihan Dahlan Iskan yang kategori dream team tidak ada.

Bahkan untuk Dewan Komisaris, malah banyak yang masih merangkap jabatan sebagai PNS eselon satu dan yang lainnya. Tidak ada assessment kredibel untuk menilai apakah ybs akan memberikan kontribusi signifikan untuk pengembangan perusahaan, adanya konflik kepentingan, atau waktu yang tidak memadai untuk BUMN itu. Keputusan hanya dilakukan dengan gut feeling, intuisi, tidak ada evaluasi terstruktur. Bukti nyatanya, Deni Indrayana menolak pada saat dia ditunjuk menjadi komisaris sebuah BUMN beberapa bulan yang lalu. Jelas kalau waktu tidak memadai, hasilnya hanya pasang nama dan menerima gaji. Buktinya lagi, tidak ada KPI yang jelas yang dipublikasikan terhadap kriteria keberhasilan para komisaris itu. Dalam perusahaan dengan manajemen modern dan perusahaan publik, ketiadaan KPI yang jelas bukan bukti sebuah good corporate governance.

Bahkan beberapa veteran bisnis yang sudah “kehabisan energi” malah dipasang sebagai komisaris. Apa tidak ada orang lain yang lebih muda dan energik yang bisa ditugaskan? Kalau yang dipakai hanya nostalgia pebisnis itu di masa lalu, apa akan efektif? Tantangan dunia usaha dan ekonomi sudah berbeda. Jaman sudah berganti. Lagipula, mendingan menugaskan orang yang masih energik. Sayang sekali …..

Terlihat bahwa Dahlan Iskan hanya ke sana kemari, tidak ada sistem. Blackberry diandalkan sebagai media komunikasi utama untuk berkoordinasi dengan jajarannya. Saya tidak ingin menyebutnya konyol, tapi terlalu menyederhanakan persoalan kalau BBM dipakai sebagai backbone (tulang punggung) bisnis yang nilainya ribuan trilyun.

Secara sistematika dan strategi, Dahlan Iskan kalah jauh dari Sofyan Djalil, Menteri BUMN terdahulu. Sofyan Djalil adalah peletak sistem di Kementerian BUMN. Dia membuat sistem menjadi rapi. Sofyan Djalil juga lah yang menemukan para Presdir top di BUMN dan membuat banyak BUMN menjadi perusahaan unggulan. Ini kelemahan SBY juga yang tidak bisa memilih putera-puteri bangsa terbaik. Yang unggulan malah tidak dipilih/diteruskan, yang tidak unggulan malah dipilih.

Pendekatan Dahlan Iskan untuk akusisi BUMN merugi oleh BUMN lain yang sudah untung juga bisa dilakukan semua orang. Bukan orang top pun bisa kalau hanya meleburkan BUMN rugi ke BUMN lain yang untung karena aksi korporasi seperti ini tidak membuat BUMN yang tadinya rugi menjadi untung. Hanya membuat kerugiannya menjadi tidak kelihatan karena sudah menjadi satu dengan BUMN lainnya.

Hasil Dahlan Iskan di PLN juga tidak nyata. Lagi-lagi lihatlah proyek pembangkit listrik 10.000 MW tahap pertama yang diawali oleh Jusuf Kalla. Mulai dari Dahlan Iskan menjabat Dirut PLN sampai lengser, bahkan sampai sekarang, proyek itu belum tuntas. Apakah PLN menjadi lebih baik? Perhatikan deh pertandingan Persebaya lawan QPR beberapa hari yang lalu ……. lampu stadion mati !

Jangan-jangan ada ambisi ybs untuk menjadi presiden di 2014? Tidak pas deh kalau gaya seperti ini menjadi presiden. Kalau menjadi bahan berita harian mungkin bagus karena ide-idenya lain dari pejabat lain. Tapi “asal lain” bukan bukti sebuah keberhasilan.

Ide mobil listrik juga hanya menyalin ide Jokowi dengan mobil SMK-nya. Mobil SMK yang menjadi fenomena kemudian dicontoh menjadi mobil listrik. Saya tahu ini hanya kejadian sesaat, yang sebentar lagi ybs juga bosan dan ditinggalkan! Meskipun dikatakan bahwa mobil listrik akan diproduksi masal, tapi tanpa ada sistem yang baik, mana mungkin? Meskipun dikatakan bahwa mobil listrik akan diproduksi masal, kalimat ini hanya untuk kosumsi berita sesaat saja untuk memanaskan popularitas.

Sebaiknya Dahlan Iskan fokus saja membuat sistem yang baik di Kementerian BUMN. Dia akan meninggalkan legacy yang lebih bermanfaat buat bangsa daripada seperti sekarang yang kesana kemari, kesannya mencari diri menjadi subyek berita setiap hari. Jangan seperti sekarang yang hanya mengandalakan individu dia dengan backboneBBM. Ini jelas bukan sistem yang tertata. High profile itu tidak selalu perlu, yang lebih penting adalah hasil pekerjaan utama.

Tulisan ini tidak untuk mendiskreditkan Dahlan Iskan. Tapi penulis merasa sayang dan merasa perlu mengingatkan bahwa ada pekerjaan utama yang sangat penting yang harus dilakukan. Dan ada sistem yang perlu ditata dan dibangun di Kementerian BUMN. Kita tidak bisa mengasumsikan bahwa Kementerian BUMN sudah bagus saat ini, karena masih banyak juga perusahaan yang merugi, dan pelayanan publik di BUMn juga masih sangat kurang.


LELAKI PENUH INSPIRASI

Lelaki Inspiratif, Dahlan Iskan

Membaca tulisan Bapak Dahlan Iskan di blognya Catatan Dahlan Iskan , saya merasakan ada aura perubahan yang luar biasa,  aura untuk perubahan yang dia lakukan untuk bangsa ini. Banyak hal-hal “feodal”  yang dia lewati untuk melakukan perubahan, seperti Sidak, Kegiatan Seremonial,  dll. Untuk sidak, dia tak melakukan pemberitahuan sebelumnya. Sehingga begitu dia datang, yang ada adalah kegiatan sehari-hari yang berlangsung tanpa ada rekayasa dari pihak yang didatangi.

Banyak cerita yang sebetulnya sederhana untuk ditangani, seperti masalah garam. Mengapa sampai garam saja bangsa ini masih import. Padahal di Maduran dan NTT potensinya luar biasa. Dengan Tataran Actionlah, masalah garam dalam hitungan 1-2 tahun selesai.

Saya sempat beberapa puluh kali melihat kegiatan yang diadakan oleh instansi tertentu yang akan didatangi oleh pihak kabupaten, provinsi bahkan sekelas menteri. Sebelum kedatangan mereka, pihak panitia merekayasa kegiatan, entah jalan atau daerah sekitar yang dipermak mendekati hari H. Tetapi begitu selesai, tempat seperti itu sudah balik ke habibatnya semula. Bila budaya seperti ini dapat dilewati akan banyak dana yang bisa dihemat.

Negara kita bisa bangkit dari keterpurukan dalam waktu cepat, bila lahir puluhan “Dahlan Iskan” yang baru dalam Tataran Action, bukan lagi sekedar ide. Kalau “Tataran Ide” sudah banyak di negeri ini,  bahkan sudah di atas angka ribuan ide. Yang kita butuhkan bukan lagi ide, tapi action untuk negera “Sehebat Indonesia”.
Sekali lagi, membaca tulisan-tulisan dan tataran actionnya membuka harapan baru dan semangat baru buat negeri yang bernama Indonesia. Negeri tanah airku dan tentunya negeri kita semua,,,


Dahlan Iskan (KOMPAS)

Bila perang kerap melahirkan pahlawan, maka musibah juga bisa memunculkan wartawan jempolan .
Entah apa yang mengendap di benak Menteri BUMN Dahlan Iskan ketika menyimak berita jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 belum lama ini yang mengakibatkan puluhan orang jadi korban. Mungkin ia tak habis pikir: Mengapa pesawat yang konon sudah dibikin sedemikian canggih tidak bisa menaklukkan dirgantara Indonesia?

Tapi mungkin juga Dahlan Iskan menerawang jauh. Bisa jadi ia teringat suatu masa ketika Tampomas tenggelam dan mengakibatkan ratusan nyawa melawang.

Hemmm…. Pernah dengar Tampomas? Kalau Anda penyuka lagu-lagunya Iwan Fals, Anda nggak bakal asing dengan nama itu. Ya, Tampomas, atau lebih tepatnya Tampomas II, adalah nama kapal bekas yang tenggelam pada 25 Januari 1981 di sekitar Kepulauan Masalembo, Jawa Timur. Kapal itu berlayar dari Jakarta menuju Ujungpandang.

Dua hari terbakar di tengah laut, kapal made in Japan itu akhirnya karam. Lebih dari 400 nyawa melayang. Bahkan ada yang menyebut jumlah korban tewas mencapai 666 orang, termasuk nahkoda Abdul Rivai.
Saat kecelakaan maut itu terjadi, Dahlan Iskan berada di Surabaya. Kala itu ia mengepalai Biro Tempo Jawa Timur. Kemudian datanglah penugasan dari Jakarta untuk meliput peristiwa itu secara langsung.

Menumpang kapal motor Sangihe—kapal yang pertama dipakai untuk mengevakuasi penumpang Tampomas—Dahlan menjadi satu-satunya wartawan yang meliput langsung musibah itu karena akses ke lokasi kejadian memang cukup sulit. Tiga hari tiga malam, ia mengumpulkan cerita terperinci untuk merekonstruksi tenggelamnya Tampomas.

Di atas Sangihe, dengan bau mayat yang menyengat, Dahlan Iskan mewawancarai hampir seluruh awak kapal. Ia juga berhasil mendapatkan foto-foto kebakaran di Tampomas. Foto-foto itu adalah hasil jepretan awak Sanghie. Tidak hanya itu, Dahlan Iskan pun mewawancarai para korban selamat yang dirawat di rumah sakit setempat.

“Rajutan ceritanya yang dimuat di edisi 7 Februari 1981 begitu hidup. Membaca tulisan Dahlan laksana berada di lokasi kejadian. Suasana tegang dan cemas begitu terasa,” demikian pujian atas karya jurnalistik Dahlan Iskan, sebagaimana tertulis di buku “Cerita di Balik Dapur Tempo: 40 Tahun (1971-2011)”.

Pemimpin Redaksi Tempo kala itu, Goenawan Mohamad, mengakui dahsyatnya reportase Dahlan. “Dahlan wartawan hebat,” kata empunya Catatan Pinggir yang terkenal lebih sering mengritik ketimbang memuji itu.
Hasil kerja Dahlan Iskan terus dikenang hingga kini. Laporan tenggelamnya Tampomas II bahkan disebut-sebut sebagai akar investigasi ala majalah Tempo.

Jadi, begitulah, nama Dahlan Iskan kian berkibar gara-gara musibah tenggelamnya Tampomas yang membuat ratusan orang tewas. Setelah itu ia makin dikenal sebagai wartawan andal sekaligus pebisnis ulung. Berkat kepiwaiannya, ia dipercaya untuk memimpin Jawa Pos. Koran kecil di Surabaya pada era 1980-an itu kini menjelma menjadi salah satu grup media terbesar di Indonesia. Bukan hanya berbentuk koran, produk grup Jawa Pos meliputi juga majalah, tabloid, situs internet, stasiun televisi, bahkan event organizer.

Hingga kini nasib pilot dan penumpang Sukhoi Superjet 100 masih simpang siur. Banyak wartawan yang meliput. Apakah peristiwa besar itu bakal melahirkan wartawan besar seperti Dahlan Iskan?

Rawamangun, 11 Mei 2012


Cerita Dahlan Iskan Pakai Sepatu Sopirnya

Saat Anda membaca cerita ini tentang Dahlan Iskan, Menteri Negara BUMN rela dan ikhlas memakai sepatu dari sopirnya yang bernama Handoko. Dari sepatu kets ke sepatu fantovel, “Saya memang suka pakai sepatu kets dari sejak jadi demosntran dulu saat mahasiswa, jurnalis atau di lingkungan media. Sepatu saya ini adalah DI-Demi Indonesia 19. Itu artinya Bismillahirrahmanirrahim yang berjumlah 19 huruf,” celetuk Dahlan yang tertawa renyah saat ditanya oleh Tina Talisa saat acara Teras Tina Talisa di stasiun TV Swasta Indosiar.

Sesaat sebelumnya Tina pun agak nyeleneh dan menantang Dahlan Iskan dengan untuk mempertontonkan cara dia marah dengan melempar kursi saat ngamuk saat pintu tol masih tertutup jam 06 lewat. Ia akui menyayangkan dan menyesal dan ia ambil lagi kursi itu karena saat pintu tol ia buka pasti menghalangi laju mobil yang akan melintas. “Terus terang saya ambil lagi kursi itu dan saya kembalikan ke posisinya dan langsung menelpon Dirut Jasa Marga untuk tidak memarahi apalagi memecat petugas tol yang sedang bertugas saat itu,” jelasnya sambil mempraktekkan cara ia marah dan melempar kursi lalu mengambilnya lagi.

Ada yang menarik saat Tina menghadirkan Handoko, sopir pribadi Dahlan sejak tahun 2002. Dari paparan lugas dan jujur dari sopirnya itu ia akui sudah seminggu ini tepatnya kata Dahlan sudah 8 hari, majikannya itu lebih suka naik mobil listrik berwarna hijau daripada ikut dirinya di mobil mercy. “Saya sering berada disampingnya dan beliau yang menyetir sendiri, walau begitu gaji saya tidak pernah dikurangi,” celetuknya sambil tertawa renyah.

Lalu Tina pun bertanya dengan para mahasiswa yang menyaksikan langsung di studio, memang Handoko lebih tampan dengan memakai semi safari dengan warna yang sama kemeja dan celana dengan sepatu fantovel. Sementara Dahlan hanya berkemeja putih lengan panjang yang ia gulung selengan dan bercelana kain hitam dan bersepatu kets.

 Jujur, seluruh hadirin di studio termasuk Tina melihat Handoko, sang sopir lebih ganteng dari majikan. “Jangan-jangan orang yang melihatnya bisa tertukar mana yang boss dan mana yang sopir yah pak ?” seloroh Tina sambil mengerling ke Dahlan yang terkekeh- kekeh.

Saat Tina meminta agar sepatu kets Dahlan dicopot dan memakai sepatu fantovel dari sang sopir, ia pun tak tanggung-tanggung dan berfikir dua kali lalu membuka sepatunya dan bertukar memakai fantovel sangh sopir. Penulis pun tertegun dan bangga bercampur haru dengan keikhlasan dan kepolosan seorang Dahlan Iskan yang justeru lebih suka menjadi pengusaha daripada menteri dan menjawab Yes dan No apabila ada permintaan dirinya menjadi PRESIDEN Indonesia periode mendatang.

Ia tampil lugas di acara baru dan memang punya format unik. Dahlan Iskan dengan semangat menceritakan pengalamannya memakai mobil listrik dan bangga dengan kehadiran mobil itu. “Beberapa hari yang lalu memang saya sudah mencobanya untuk ke Bogor dan sempat mengisi baterai alias men-charge di daerah sentul setelah itu bolak balik sampai ke rumah tidak ada masalah. 

Ini sudah hari yang ke-8 dan memang saya harus mencobanya apakah itu dengan rute yang panjang, saat macet, saat low batt jadi tidak ada istilah mogok karena tidak ada mesinnya atau jalan yang menungkik,” jelasnya

Lanjut ia jelaskan bahwa ada pendapat bahwa penggunaan listrik dengan hadirnya mobil listrik dianggap justeru pemborosan tapi menurut penjelasan pria humble yang ia akui dirinya tidak pintar karena pernah tinggal kelas. Pria yang apa adanya ini sudah berumur 61 tahun ini memang sudah tiba pukul 04.30 dan jam 05.00 sudah lari-lari pagi di kawasan monas dan itu memang dibuktikan oleh redaksi dan diakui oleh Tina Talisa yang memang hadir pada jam tersebut.

Penulis saat memang ingin meminta sumbangan untuk cetak buku Saya Bangga Jadi TKW-Catatan Inspiratif BMI Hong Kong dan bertandang ke kantornya sudah menunggu Dubes salah satu negara dan dari informasi dari satpam bahwa Dahlan memang sudah berada di kantor Shubuh dan setelah berolahraga dan mandi serta bersiap-siap menerima tamu.

Alhamdulillah saat menanti Dahlan Iskan setelah mengantar tamunya di bawah dan bergegas penulis menemuinya, senyum dan rangkulan langsung penulis rasakan dan bertanya ada apa saat tahu maksud dan tujuan ia pun setelah sampai di ruangan kerjanya menemui asisten pribadinya, Aziz untuk langsung membantu dan merealisasikan sumbangan yang diminta oleh penulis dan langsung terealisasi satu jam kemudian, amazing……!

Penulis pun dengan kesahajaannya tetap menganggap pantas dan realistis Dahlan Iskan menjadi kandidat Presiden RI mendatang dan wakilnya adalah JokoWi yang bersiap-siap mengikuti putaran kedua setelah putaran pertama berhasil menyingkirkan Foke rivalnya dengan angka cukup telak.

Acara masih berlangsung dan Dahlan terus bertutur tentang belum saatnya ia membaca buku Novel berjudul Sepatu Dahlan dan mungkin untuk beberapa Minggu ke depan baru ia baca.

Dahlan Iskan, menurut Anda………………?

LINK YANG INI SILAHKAN KUNJUNGI:
http://www.kompasiana.com/posts/tags/dahlan-iskan/

Sakramen Ekaristi: Sumber dan Puncak Hidup Katolik (sharing pemahaman pribadi seorang awam Katolik)

  Sakramen Ekaristi: Sumber dan Puncak Hidup Katolik (sharing pemahaman pribadi seorang awam Katolik)   Sakramen Ekaristi adalah salah...