Langsung ke konten utama

RUMAH INSPIRASI FILOSOFI TUAK

RUMAH INSPIRASI : FILOSOFI TUAK: Setiap hari, bapak saya yang hidup di Gelong, sebuah perkampungan kecil  yang terletak di atas bukit, tempat sandarnya sang matahari p...



FILOSOFI TUAK


Setiap hari, bapak saya yang hidup di Gelong, sebuah perkampungan kecil  yang terletak di atas bukit, tempat sandarnya sang matahari pagi, harus ke kebun untuk mengiris tuak putih  yang disadap dari pohon kelapa. Berbekal “nawin” (silinder bambu) dan “mer’e” (pisau khusus) untuk mengiris kelapa yang dijadikan tempat untuk menyadap tuak.  Mengingat kembali rutinitas hidupnya, kadang aku bertanya, untuk apa bapakku setia mengiris tuak? Dia tidak pernah alpa mengunjungi pohon  kelapa khusus yang dijadikan tempat menyadap tuak. Jaraknya begitu jauh dengan rumahku, dan bisa ditempuh dengan jalan kaki, menelusuri bukit dan lembah. Dia tidak pernah mengeluh capek. Yang terpancar dari wajahnya yang penuh keringat adalah sebuah dedikasi tinggi untuk dirinya dan terutama lewo tanah.
Di perkampunganku, tuak putih sudah menjadi warisan leluhur dan terus
digunakan, baik untuk seremoni adat dan minuman saat-saat pesta. Tanpa minuman tuak, suasana menjadi hambar dan komunikasi menjadi mandek. Tuak menyulut kata dan membangun komunikasi ketika orang-orang bertemu dalam suasana keakraban yang luar biasa. Saya ingat akan “oring” (pondok) yang dijadikan sebagai markas (epu oring) untuk bercerita dan bisa memecahkan banyak persoalan dengan ditemani tuak. 
Tidak banyak tuak yang diminum oleh bapakku walau dia sendiri yang mengiris. Lewat tuak, ia membangun persahabatan dengan orang-orang lain ketika sedang berjalan menyusuri “epu oring” (pondok yang dijadikan sebagai rumah kedua). Banyak tertahan dan tertawan oleh tuak yang rasanya “menera” (rasanya baik) setelah bercampur dengan “raha” (sejenis kulit pohon kersen) yang dicampur dengan tuak.

Dalam arti tertentu, pada tataran filosofis,  “tuak” membangun nilai-nilai peradaban melalui komunikasi yang intens. Lewat “epu oring,” orang-orang di kampungku tidak minum saja, apalagi mabuk tetapi menempatkan komunikasi untuk  “gua gahin” (merencanakan) sesuatu dalam membangun kampung tercinta. Dalam tuak yang disuguhkan oleh bapakku, terpancar nilai-nilai kebaikan dari si penyedia. Orang-orang yang pernah merasakan sentuhan rasa tuak bikinan bapakku, ia akan mengenang dan berusaha untuk mencari kembali sumber tuak itu. Tuak, minuman lokal yang mengedepankan kearifan lokal, menawarkan nilai filosofi hidup, tentang perjuangan, keakraban dan rasa memiliki lewo tanah. Tuak…..tuak….ah tuak, rasamu sudah saya cicipi. Kini, walau berada jauh dari tanah Gelong Lamaledan, seolah aromamu memburu rasaku di tanah rantau.**

*(Valery Kopong)  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RINGKASAN CERITA ANOMAN DUTA (SANG UTUSAN )

RINGKASAN CERITA ANOMAN DUTA (SANG UTUSAN ) Prabu Dasamuka menyerahkan Dewi Sinta yang diculiknya, di bawah pengawasan Dewi Trijata di Taman Argasoka, kemenakannya. Sementara Regawa alias Rama terus mencari istrinya yang hilang. Ia sudah mendapat petunjuk dari Jatayu bahwa Sinta diculik raja Alengka bernama Prabu Dasamuka. Perjalan Rama ke Alengka disertai Laksamana, adiknya, dan Prabu Sugriwa serta seluruh bala tentara Kerajaan Guwakiskenda. Setelah membangun perkemahan di daerah Mangliawan, Ramawijaya mengutus Anoman untuk menjadi duta, menemui Dewi Sinta di Keraton Alengka. Hal ini membuat iri Anggada, sehingga terjadi perkelahian dengan Anoman. Rama kemudian menyadarkan Anggada, bahwa nanti akan ada tugas penting lainnya bagi Anggada. Perjalanan Anoman ke Alengka ternyata penuh hambatan. Mulanya ia berjumpa dengan Dewi Sayempraba, salah seorang istri Prabu Dasamuka. Anoman dirayu, dan diberi hidangan buah-buahan beracun. Akibatnya Anoman menjadi buta. Untunglah ia ditol

DOWNLOAD KUMPULAN MP3 GENDING JAWA DAN LAGU JAWA

 Download Kumpulan MP3 Gending Jawa dan Lagu Jawa DOWNLOAD KUMPULAN MP3 GENDING JAWA DAN LAGU JAWA MP3 GENDHING JAWA http://piwulangjawi.blogspot.com/p/mp3-gending-jawi.html GENDHING-GENDHING JAWA DALAM FORMAT MP3  DIPERSILAHKAN KEPADA STRISNO BUDAYA JAWA UNTUK MENGUNDUH ANEKA GENDHING JAWA KLASIK I : 001.  BENDRONGAN – PUCUNG RUBUH – GANDRUNG MANIS – DANDANGGULA BANJET – ASMARADANA JAKALOLA.mp3 002.  BW. GAMBUH LGM. LELO LEDHUNG – LDR. SARAYUDA – LAGU ONDHE-ONDHE Pl. Br.mp3 003.  BW. LEBDAJIWA – KUTUT MANGGUNG Pl. Br.mp3 004.  BW. MUSTIKENGRAT – GENDHING CANDRA -LDR. SRI HASCARYA – LDR. WESMASTER Sl.9.mp3 005.  BW. SEKAR AGENG SUDIRAWARNA – UDAN BASUKI – LIPUSARI – GAMBUH Sl. Mny.mp3 006.  BW. SUDIRAWARNA – GENDHING WIDASARI – LDR. LIPUR SARI Sl. Mny.mp3 007.  GENDHING BANDILORI – LDR. ELING-ELING – KTW. PRANA ASMARA – SLEPEG MAWA PALARAN Pl. Br.mp3 008.  GENDHING BONANG SLEBRAK PL.5.mp3 009.  GENDHING BUDHENG-BUDHENG – LDR. SARAYUDA Pl.6.mp3 010.  GENDHING