Kamis, 23 Maret 2017

DIALOG ANTAR AGAMA DI ASIA

Dialog Antar Agama Saat Yang Tepat Bagi Asia

24/01/2017

 

Kebutuhan mendesak untuk dialog antaragama di Asia harus menjadi perhatian sebagai bentuk ketaatan wilayah itu pada  “Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani” yang berlangsung 18 hingga 25 Januari.

Asia adalah tempat kelahiran sebagian besar agama-agama utama di dunia , termasuk Islam, , Hindu, Buddha, Taoisme, Konghucu, Yudaisme, dan bahkan Kristen.

Agama-agama kuno ini sangat mempengaruhi sebagian besar kehidupan orang- orang di benua tersebut. Multiplisitas budaya dan keragaman agama adalah ciri orang Asia.

Tidak seperti Barat, yang dapat memisahkan agama dari usaha ekonomi, politik, dan sosial, orang Asia tidak membedakan dikotomi dalam kehidupan pria dan wanita.

Seorang Asia melihat urusan kehidupan dari perspektif sistem kepercayaannya, dan ia menempatkan “otoritas” tertinggi kepada Tuhan sebagai pemberi dan penyedia kehidupan, menuntun nasib manusia, dan sumber utama hukum dan ketertiban, keadilan dan perdamaian di alam semesta.

Para wakil duniawi  Ilahi – uskup, imam, nabi, bhiksu, ulama, pendeta – sangat dihormati oleh orang-orang Asia sebagai pembawa pesan firman Allah yang benar dan sah kepada umat manusia dan untuk semua ciptaan.

Dalam konteks Asia, para pemimpin agama tidak hanya memiliki otoritas moral atas umat mereka, tapi juga mempengaruhi dan memobilisasi umat untuk bertindak atas nama keadilan dan dalam transformasi dunia.

Mendiang Kardinal Jaime Sin dari Filipina adalah contoh klasik ketika dikaitkan dengan otoritas keagamaan di mana ia menjadi pemain dalam mengubah lanskap politik negara itu.

Namun, Asia adalah juga rumah bagi komunitas manusia terbesar di mana mayoritas hidup dalam kemiskinan, kelaparan, dan kesengsaraan karena korupsi yang dilakukan oleh para pengelola negara, sistem politik dan sosial yang keras, dan tatanan dunia ekonomi yang dinikmati Barat.

Untuk alasan ini, pertemuan antaragama telah menjadi sebuah kebutuhan mendesak di Asia. Ini adalah saat yang tepat bagi berbagai agama untuk berkumpul bersama-sama dan membantu untuk membentuk lanskap Asia dan mengubahnya menjadi sebuah negeri  “yang berlimpah susu dan madu” bagi rakyatnya.

Hal ini harus menjadi satu kesatuan melalui dialog antaragama guna membangun jembatan di kalangan orang—orang dari berbagai budaya , ideologi dan agama . Ini harus menjadi dialog kehidupan agar orang-orang membuka hati dengan sikap kasih sayang satu dengan lainnya.

 

Hal yang sangat penting bahwa pria dan wanita di Asia yang religius mengambil peran utama dalam memfasilitasi dialog tersebut. Ini harus menjadi elemen inti dari doa dan tindakan kita selama perayaan tahunan Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani.

Sikap Kristen terhadap perlunya dialog antaragama di Asia dapat menjadi model tentang inkarnasi, ketika Tuhan dari sifat keilahianNya bersekutu dengan    manusia.. 

Melalui misteri ini, Tuhan berdialog dengan manusia, menegaskan martabat manusia, dan merayakan kehadiran ilahi dalam setiap diri manusia, terlepas dari agama.

Bonifacio Tago Jr adalah wakil ketua program akademik dan profesor filsafat di Kolese  Samaria Yang Baik,  Cabanatuan City, Filipina. Dia saat ini mengambil gelar doktor Teologi  Hidup Bakti di Institut Hidup Bakti di Asia.

Sumber: ucanews.com

 

Menganyam Damai di Benua Kuning: Menelisik Dialog Antar-Agama di Asia

Asia adalah tempat lahirnya berbagai agama besar dunia. Keberagaman ini memperkaya budaya, namun juga memicu konflik jika tidak dijaga. Dialog antar-agama hadir sebagai jembatan penting untuk merawat kerukunan, mengurangi salah paham, dan membangun perdamaian abadi di tingkat regional maupun global.

 

Panorama Agama Besar di Asia dan Peran Dialognya

Asia menaungi tradisi spiritual yang beragam. Setiap agama memiliki pandangan khas tentang keselamatan, kemanusiaan, dan pentingnya hidup berdampingan secara damai.

Islam

  • Penjelasan: Mengajarkan prinsip rahmatan lil 'alamin (kasih sayang bagi semesta alam). Dalam konteks Asia, Islam sering kali menjadi mayoritas di Asia Tenggara dan sebagian Asia Selatan serta Tengah, menuntut tanggung jawab moral pemimpinnya untuk melindungi minoritas.
  • Tokoh Garda Depan: Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dari Indonesia.
  • Kutipan Pendapat: "Tidak penting apa agama atau suku Anda. Kalau Anda bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah bertanya apa agama Anda."

Kekristenan (Katolik & Protestan)

  • Penjelasan: Berfokus pada kasih universal, pengampunan, dan rekonsiliasi. Gereja di Asia sangat aktif terlibat dalam dialog kontekstual dengan budaya lokal serta agama non-Kristen demi mengatasi kemiskinan dan perpecahan sosial.
  • Tokoh Garda Depan: Kardinal Malcolm Ranjith dari Sri Lanka.
  • Kutipan Pendapat: "Situasi bisa sangat tegang, tetapi kunci utamanya adalah menyatukan masyarakat dan menuntut kedamaian serta perlindungan bagi setiap warga tanpa memandang iman mereka."

Buddha

  • Penjelasan: Menekankan konsep welas asih (karuna) dan mengakhiri penderitaan batin melalui jalan kedamaian. Umat Buddha di Asia, mulai dari Tibet hingga Asia Tenggara, aktif mengampanyekan perdamaian batin dan harmoni sosial.
  • Tokoh Garda Depan: Dalai Lama ke-14 (Tenzin Gyatso).
  • Kutipan Pendapat: "Cinta dan kasih sayang adalah kebutuhan, bukan kemewahan. Tanpa itu, umat manusia tidak dapat bertahan hidup."

Hindu

  • Penjelasan: Berakar dari nilai keselarasan kosmis seperti Tri Hita Karana (tiga penyebab kesejahteraan) dan pengakuan bahwa jalan spiritual menuju kebenaran itu beragam.
  • Tokoh Garda Depan: Mahatma Gandhi (warisan pemikirannya terus hidup di gerakan lintas iman Asia).
  • Kutipan Pendapat: "Agama-agama adalah jalan berbeda yang menuju ke titik yang sama. Mengapa kita harus bertengkar karena jalannya berbeda?"

 

Penutup

Dialog antar-agama di Asia bukan sekadar wacana teologis di ruang seminar, melainkan kebutuhan hidup sehari-hari demi menjaga keutuhan masyarakat yang majemuk. Melalui keteladanan para tokoh garda depan, terbukti bahwa perbedaan keyakinan dapat diselaraskan dalam semangat kemanusiaan yang universal.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Anatomi Oposisi yang Jinak: Analisis Sosiologi Politik terhadap Fenomena "Penjilat" dalam Lingkaran Kekuasaan di Indonesia

  Anatomi Oposisi yang Jinak: Analisis Sosiologi Politik terhadap Fenomena "Penjilat" dalam Lingkaran Kekuasaan di Indonesia Pen...