Jumat, 06 Desember 2013

Pemimpin Rohani

Bacaan Alkitab: 1 Timotius 3: 1 – 7
“Hendaklah ia juga mempunyai nama baik diluar jemaat”. (1 Timotius 3 : 7)

Sesungguhnya adalah indah dan mulia, jabatan atau pekerjaan sebagai seorang pemimpin rohani.  Didalam surat ini disebut penilik jemaat dan diaken, yang pada masa kini bisa berarti hamba Tuhan, majelis gereja, pendeta, gembala sidang, pelayan Injil ataupun orang-orang yang menjadi pemimpin-pemimpin rohani dalam suatu organisasi.  Jabatan ini bukan suatu kehormatan atau keuntungan, tetapi merupakan pekerjaan yang indah serta berharga dimata Tuhan.  Namun, tugas atau pekerjaan inipun memerlukan tanggungjawab yang tinggi serta syarat-syarat yang tidak ringan bagi seorang pemimpin rohani yang sesuai dengan kehendak Tuhan.
Adapun kriteria seorang pemimpin rohani, bahkan menjadi syarat umum bagi setiap orang Kristen, adalah sbb:
  • Seorang yang tak bercacat.  Yang artinya memiliki reputasi yang baik (nama baik), yang dalam dirinya tidak ditemukan satu kesalahan. Memiliki karakter yang baik dimata Tuhan.
  • Kehidupan keluarga yang baik (suami dari satu istri), artinya, bebas dari poligami, menjunjung tinggi kesetiaan dan kesucian hubungan suami istri, tidak ada penyelewengan dalam keluarga.
  • Dapat menahan diri.  Kata Yunani yang sama ini dalam Titus 2 :2 diterjemahkan “hidup sederhana”.  Berarti memiliki pengendalian diri yang tinggi dalam berbagai segi kehidupan.
  • Bijaksana, pengertiannya dalam bahasa Yunani adalah: keseimbangan pemikiran yang ideal yang tak pernah terpengaruh dengan hal-hal yang ekstrim.
  • Sopan, berkelakuan sopan atau “tertib” dan “anggun”.  Suatu sifat yang dihasilkan dari kelakuan yang tertib. Memiliki tatakrama yang baik dalam pergaulan.
  • Suka memberi tumpangan.  Kata Yunaninya berarti “mencintai orang-orang yang belum dikenal”.
  • Cakap mengajar orang.  Mampu mengajar kebenaran Firman dengan benar dan tidak sesat.
  • Bukan peminum atau pecandu alcohol. Orang percaya seharusnya bukanlah orang yang gemar terhadap minuman yang memabukkan.
Seorang pemimpin bukan saja pandai berteori, namun memiliki teladan atau karakter yang baik.

Pemimpin Rohani Yang Dipimpin Roh Kudus


Pemimpin rohani adalah pemimpin yang sudah mengalami Yesus secara pribadi. Pemimpin rohani adalah pemimpin yang sedang bertumbuh secara dinamis di dalam hidup rohaninya. Pemimpin rohani adalah pemimpin yang berkecimpung di bidang kerohanian.

Pemimpin rohani yang dipimpin Roh Kudus menunjuk kepada pemimpin Kristen. Pemimpin Kristen adalah pemimpin yang menjadikan Yesus sebagai pusat kepemimpinannya. Seluruh perilakunya meneladani kepada Sang Pemimpin Sempurna, yaitu Tuhan Yesus Kristus.

Menulis tentang pemimpin rohani yang dipimpin Roh Kudus sebenarnya bukan hal yang baru. Karena sudah banyak penulis yang menulisnya dalam bentuk buku maupun artikel lainnya. Namun, penulis merasa penting untuk menuliskan hal tersebut. Mengingat perkembangan kepemimpinan Kristen akhir-akhir ini yang sepertinya "tidak lagi memimpin" dalam pimpinan Roh Kudus.

Banyak pemimpin yang mulai memimpin dengan gaya otoriter, mementingkan diri dan kelompoknya. Bahkan ada kecenderungan untuk membangkitkan lagi pola kepemimpinan monarkhi. Tentu hal semacam ini merupakan ancaman bagi kelangsungan kepemimpinan Kristen.

Itu sebabnya, penulis ingin mengangkat kembali topik tentang pemimpin rohani yang dipimpin Roh Kudus. Tujuan ialah untuk menggugah setiap pemimpin dan juga pembaca blog ini untuk menaruh perhatian kepada nilai-nilai kepemimpinan yang dipimpin Roh Kudus.

Landasan teologis dari pemimpin rohani yang dipimpin Roh Kudus terambil dari tulisan rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Galatia. Rasul Paulus menulis demikian: "Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah lembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu" - Galatia 5:22-23.

Dari tulisan Paulus di atas, kita bisa menemukan bahwa ada beberapa ciri dari pemimpin rohani yang dipimpin Roh Kudus. Ciri-ciri tersebut teraktualisasi dalam kepemimpinan seorang pemimpin rohani. Ditandai dengan adanya buah-buah Roh yang mewarnai seluruh mekanisme kepemimpinannya.

1. Kasih
Kasih merupakan landasan dan motivasi utama seorang pemimpin rohani dalam melaksanakan kepemimpinannya. Kasih tidak dapat dimanipulasi. Kasih bukan hasil usaha sang pemimpin rohani. Kasih bisa tumbuh dalam diri pemimpin rohani hanya dimungkinkan oleh kuasa Roh Kudus.

Dengan kemampuan pemimpin rohani sendiri mustahil ia dapat memimpin dalam kasih. Motif kepemimpinan di luar Roh Kudus cenderung kasar, otoriter dan menyakitkan serta merusak. Lebih dari itu di Roh Kudus pemimpin akan cenderung egois dan mementingkan kelompoknya saja.

Tetapi sebaliknya, pemimpin rohani yang dipimpin oleh Roh Kudus, kasih adalah dinamika, sifat dan dasar kepemimpinannya. Pemimpin rohani yang dipimpin Roh Kudus akan terbukti mengasihi TUHAN Allah dan mengasihi orang-orang yang dipimpinnya serta mengasihi pelayanan yang dipercayakan kepadanya.

2. Sukacita
Pemimpin rohani yang dipimpin oleh Roh Kudus, ada sukacita dalam menjalankan roda kepemimpinannya. Hatinya selalu bergairah untuk melayani TUHAN Allah dan umat-Nya. Ia tidak bersungut-sungut. Ia tidak protes. Ia tidak mudah putus asa.

Sukacita pemimpin rohani lahir karena ada Roh Kudus di dalam hati dan hidupnya. Ia membiarkan Roh Kudus mencurahkan sukacita sorgawi dalam kepemimpinannya. Dengan sukacita yang Roh Kudus berikan, pemimpin rohani mampu menjalani kepemimpinannya dalam semua situasi dan kondisi. Artinya, sukacita pemimpin rohani tidak ditentukan oleh situasi dan kondisi yang ada di dalam dan di luar dirinya. Tetapi ia tahu bahwa Roh Kudus sedang memimpin hidupnya di jalan yang benar. Inilah tanda pemimpin rohani yang dipimpin Roh Kudus.

3. Damai sejahtera
Tugas seorang pemimpin rohani tidak semudah membalik telapak tangan. Pekerjaan sebagai pemimpin rohani merupakan pekerjaan yang berat. Beban tugas yang dipikulnya sangat berat. Tekanan-tekanan yang datang begitu kuat.

Semua itu bisa saja merampas damai sejahtera dalam hati pemimpin rohani. Ia bisa saja kehilangan keseimbangan dalam menjalankan tugas kepemimpinannya. Ia bisa melakukan kesalahan dan kekhilafan karena berbagai tekanan yang diterimanya ketika menjalankan tugasnya sebagai pemimpin rohani.

Tetapi, bagi pemimpin rohani yang dipimpin Roh Kudus, selalu tersedia aliran damai sejahtera dalam hati, batin, roh, jiwa dan pikirannya. Sehingga walaupun sangat berat tugas dan tanggung-jawabnya sebagai pemimpin rohani, selalu ada damai karena Roh Kudus memimpin dan menguasai hidupnya.  

KEPEMIMPINAN ALAMIAH DAN KEPEMIMPINAN ROHANI

Ketika aku datang kepadamu . . . perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh. I Korintus 2:1,4
KEPEMIMPINAN ADALAH PENGARUH, yaitu kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain. Orang hanya dapat memimpin orang lain sejauh ia dapat mempengaruhi mereka. Kenyataan ini didukung oleh definisi-definisi kepemimpinan yang dirumuskan oleh orang-orang yang mempunyai pengaruh yang besar.
Lord Montgomery mendefinisikan kepemimpinan sebagai berikut: "Kepemimpinan adalah kemampuan dan kehendak untuk mengerahkan orang laki-laki dan perempuan untuk satu tujuan bersama, dan watak yang menimbulkan kepercayaan." Contoh yang menonjol dari sifat ini adalah Sir Winston Churchill, terutama pada masa-masa yang paling sulit dalam Perang Dunia II.
Dr. John R. Mott, seorang pemimpin kaliber dunia di kalangan mahasiswa, memberikan definisi sebagai berikut, "Seorang pemimpin adalah orang yang mengenal jalan, yang dapat terus maju dan yang dapat menarik orang lain mengikuti dia."
Definisi Presiden Truman berbunyi, "Seorang pemimpin adalah orang yang mempunyai kemampuan untuk membuat orang lain suka melakukan sesuatu yang tadinya mereka tidak suka melakukannya."
Jendral Charles Gordon pernah mengajukan pertanyaan ganda kepada Li Hung Chang, seorang pemimpin Tiongkok yang sudah lanjut usia, demikian: "Apakah kepemimpinan? Dan bagaimana umat manusia dapat digolongkan?" Ia menerima jawaban yang mengandung arti tersembunyi: "Hanya ada tiga macam orang di dunia ini, yaitu mereka yang dapat digerakkan, mereka yang tidak dapat digerakkan dan mereka yang menggerakkan orang-orang itu."
Kepemimpinan rohani merupakan satu campuran antara sifat-sifat alamiah dan rohani. Sifat-sifat alamiah pun bukannya timbul begitu saja, melainkan diberikan oleh Allah, dan oleh karena itu sifat-sifat ini akan mencapai efektivitasnya yang tertinggi, jika digunakan di dalam melayani Allah dan untuk kemuliaan-Nya. Definisi-definisi yang disebutkan tadi adalah mengenai kepemimpinan secara umum. Walaupun kepemimpinan rohani mencakup sifat-sifat ini, masih ada unsur-unsur yang melengkapi dan yang lebih utama daripada sifat-sifat itu. Kepribadian merupakan faktor yang terpenting dalam kepemimpinan alamiah. "Taraf pengaruh seseorang bergantung pada kepribadian orang itu," tulis Lord Montgomery, "pada kekuatan 'daya pijarnya', pada nyala yang ada di dalam dia, dan pada daya tarik yang akan menarik orang-orang lain kepadanya."
Tetapi seorang pemimpin rohani mempengaruhi orang lain bukan dengan kekuatan kepribadiannya sendiri saja, melainkan dengan kepribadian yang diterangi, ditembusi dan dikuatkan oleh Roh Kudus. Oleh karena ia membiarkan Roh Kudus mengatur hidupnya dengan sepenuhnya, maka kuasa Roh dapat mengalir melalui dia kepada orang lain dengan tidak terhalang.
Kepemimpinan rohani merupakan masalah kuasa rohani yang lebih tinggi nilainya dan yang tidak dapat ditimbulkan sendiri. Tidak ada seorang pun yang menjadi pemimpin rohani atas usaha sendiri. Ia mampu mempengaruhi orang lain secara rohani hanya karena Roh Allah dapat bekerja di dalam dan melalui dia sampai pada taraf yang lebih tinggi daripada orang-orang yang dipimpinnya.
Sudah menjadi satu prinsip umum bahwa kita dapat mempengaruhi dan memimpin orang lain sejauh kita sendiri melangkah. Orang yang akan berhasil adalah orang yang memimpin bukan hanya dengan menunjukkan jalannya saja, tetapi juga dengan menjalaninya sendiri. Kita menjadi pemimpin sejauh kita mengilhami orang lain untuk mengikut kita.
Dalam satu pertemuan besar badan-badan Utusan Injil Protestan di Tiongkok, dibahas masalah mengenai syarat-syarat kepemimpinan. Ada perdebatan yang seru mengenai masalah tersebut. D.E.Hoste, Direktur Jendral The China Inland Mission duduk dengan tenang mendengarkan sampai ketua bertanya kepadanya apakah ia akan mengemukakan sesuatu mengenai masalah itu. Semua hadirin dalam aula itu bergumam menyatakan persetujuannya atas permohonan itu, karena sumbangannya kepada tiap pembicaraan selalu didengar dengan minat yang lebih besar dari biasanya.
Dengan mata yang bersinar-sinar ia berkata dengan nada tinggi yang agak mengherankan: "Saya kira, barangkali ujian yang terbaik untuk mengetahui apakah ia seorang pemimpin yang memenuhi syarat ialah menyelidiki apakah ada orang yang mengikut dia."
Kepemimpinan alamiah dan kepemimpinan rohani mempunyai banyak segi persamaan, tetapi dalam beberapa hal nampak ada pertentangan. Ini dapat dilihat, apabila kita membandingkan sifat-sifatnya yang menonjol.
ALAMIAH
ROHANI
Percaya kepada diri sendiri Mengenal orang Mengambil keputusan- keputusan sendiri Ambisius Menciptakan cara-caranya sendiri Suka menyuruh orang lain Didorong oleh pertimbangan- pertimbangan pribadi Berdiri sendiri
Percaya kepada Allah Juga mengenal Allah Berusaha mencari kehendak Allah Tidak menonjolkan diri sendiri Mencari dan mengikuti cara Allah Suka mentaati Allah Didorong oleh kasih kepada Allah dan manusia Bergantung pada Allah
Pertobatan biasanya tidak membuat orang menjadi pemimpin, walaupun tanpa pertobatan orang tidak dapat menjadi pemimpin, namun sejarah Gereja menunjukkan bahwa pada saat orang berserah dengan sepenuhnya, kadang-kadang Roh Kudus memberikan karunia-karunia dan sifat-sifat yang selama itu terpendam dan tidak aktif. Hanya Roh Kuduslah yang mempunyai hak istimewa untuk melimpahkan karunia-karunia rohani yang menambah besarnya potensi kepemimpinan bagi penerimanya.
Inilah keyakinan Dr. A.W. Tozer:
Seorang pemimpin yang benar dan dapat dipercaya mungkin sekali adalah orang yang tidak ingin memimpin, tetapi dipaksa memegang pimpinan oleh dorongan Roh Kudus dari dalam dan tekanan keadaan dari luar. Orang-orang seperti itu adalah Musa dan Daud dan para nabi dalam Perjanjian Lama. Saya kira, sejak Paulus sampai sekarang, boleh dikata tidak ada pemimpin besar yang tidak dipanggil oleh Roh Kudus untuk tugas itu, dan ditugaskan oleh Tuhan yang mengepalai Gereja untuk menempati satu kedudukan yang tidak begitu disukainya. Saya percaya bahwa umumnya orang yang ambisius untuk memimpin biasanya tidak memenuhi syarat sebagai pemimpin. Seorang pemimpin sejati tidak mempunyai keinginan untuk berkuasa atas milik Allah, melainkan ia akan rendah hati, lembut, penuh pengorbanan dan bersedia memimpin, dan apabila Roh menyatakan dengan jelas bahwa ada orang yang lebih bijaksana dan berbakat daripada dirinya sendiri, ia juga rela untuk menjadi pengikut.
Di dalam riwayat hidup William E. Sangster, setelah kematiannya ditemukan naskah pribadi yang menggambarkan pendiriannya. Ia menulis mengenai pertumbuhan keyakinannya bahwa ia seharusnya mengambil bagian lebih banyak di dalam kepemimpinan Gereja Metodis di Inggris.
Inilah kehendak Allah bagi saya. Saya tidak memilihnya. Saya berusaha untuk mengelakkan, tetapi kehendak Allah telah terjadi pada saya.
Hal lain yang juga telah terjadi pada saya ialah keyakinan bahwa Allah tidak hanya menghendaki saya sebagai seorang pengkhotbah. Ia juga menghendaki saya menjadi seorang pemimpin, yaitu pemimpin aliran Metodis.
Saya merasa ditugaskan untuk bekerja dengan pimpinan Allah untuk menghidupkan kembali cabang Gereja-Nya ini, tanpa menghiraukan nama baik saya; tanpa mempedulikan komentar orang-orang yang lebih tua dan yang iri hati.
Saya berumur tiga puluh enam tahun. Jika saya harus melayani Tuhan dengan cara seperti ini, saya tidak boleh menghindari tugas itu dan harus melakukannya.
Saya telah memeriksa hati saya kalau-kalau ada ambisi. Saya yakin tidak ada. Saya benci terhadap kritik yang akan timbul dan omongan orang yang menyakitkan. Hidup menyepi, membaca buku-buku, dan pelayanan terhadap orang-orang sederhana, adalah selera saya -- tetapi karena kehendak Allah, maka inilah tugas saya. Kiranya Allah menolong saya!
Dalam keadaan bingung dan tidak percaya, saya mendengar suara Allah yang berkata kepada saya, "Aku akan menyampaikan pesan dengan perantaraan engkau." Ya Allah, pernahkah ada seorang rasul yang lebih keras usahanya untuk mengelakkan tugasnya? Saya tidak berani berkata, "Tidak," tetapi seperti Yunus, saya lebih suka melarikan diri.
Bahwa kepemimpinan dan kekuasaan rohani tidak dapat dijelaskan semata- mata atas dasar kemampuan alamiah, dinyatakan dengan jelas sekali dalam kehidupan Santo Fransiskus dari Asisi. Pada suatu waktu Bruder Masseo menatap Fransiskus, dan berkata, "Mengapa justru anda? Mengapa justru anda?" Ia mengulanginya berkali-kali, seolah-olah mengejek dia.
"Apa yang anda katakan?" teriak Fransiskus pada akhirnya.
"Aku katakan bahwa setiap orang mengikut anda, setiap orang ingin melihat anda, ingin mendengar anda, ingin menurut anda, padahal anda tidak tampan, tidak terpelajar, dan bukan berasal dari keluarga bangsawan. Apa sebabnya, maka harus anda yang diikuti oleh dunia?"
Ketika Fransiskus mendengar perkataan ini, hatinya penuh sukacita, matanya memandang ke sorga dan setelah beberapa waktu lamanya termenung, ia berlutut sambil mengucap syukur dan memuji Allah dengan penuh semangat. Kemudian ia berpaling kepada Bruder Masseo:
"Anda ingin tahu? Ini disebabkan karena mata Yang Mahatinggi menghendaki demikian. Ia terus-menerus memperhatikan orang-orang yang benar dan yang jahat, dan pada waktu mataNya yang suci tidak menemukan orang yang lebih kecil di antara orang-orang berdosa, atau yang lebih tidak layak dan berdosa, maka itulah sebabnya Ia telah memilih aku untuk menyelesaikan pekerjaan yang mengherankan, yang diberikan oleh Allah; Ia memilih Aku karena ia tidak dapat menemukan orang yang lebih tidak berharga, dan Ia ingin membingungkan kaum bangsawan dan orang- orang besar, orang-orang kuat, orang-orang tampan, dan orang-orang terpelajar di dunia ini."
Banyak hal dapat dipelajari dari hikmat orang yang telah membuktikan dirinya sebagai pemimpin. Dua orang yang dikutip berikut ini mengadakan beberapa test untuk memastikan potensi kepemimpinan orang- orang yang mereka wawancarai.
Lord Montgomery menyatakan dengan jelas tujuh unsur yang perlu bagi seorang pemimpin di dalam peperangan, dan ketujuh unsur itu cocok untuk pertempuran rohani: (1) Ia harus dapat menarik diri dan tidak menceburkan diri dalam persoalan-persoalan kecil. (2) Ia tidak boleh berpikiran picik. (3) Ia tidak boleh sombong. (4) Ia harus pandai memilih orang. (5) Ia harus menaruh kepercayaan kepada orang-orang bawahannya, dan membiarkan mereka melakukan tugasnya tanpa dicampuri. (6) Ia harus mampu mengambil keputusan dengan tegas. (7) Ia harus memperoleh kepercayaan orang.
Dr. John R. Mott bergerak di bidang mahasiswa dan test yang diajukan olehnya mencakup bidang yang berlainan: (1) Apakah ia melakukan pekerjaan-pekerjaan kecil dengan baik? (2) Apakah ia telah mempelajari arti prioritas? (3) Bagaimana ia memakai waktu senggangnya? (4) Apakah ia bersemangat? (5) Apakah ia telah belajar memanfaatkan kesempatan? (6) Apakah ia mempunyai kekuatan untuk bertumbuh? (7) Bagaimana sikapnya jika ia putus asa? (8) Bagaimana ia menghadapi jalan buntu? (9) Apakah titik-titik kelemahannya?
Oleh karena kepemimpinan pada dasarnya adalah kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain, maka perlu dipertimbangkan kemungkinan- kemungkinan yang tidak terhingga untuk mempengaruhi orang lain -- pengaruh-pengaruh yang baik maupun yang buruk. Baik Kitab Suci maupun pengalaman menguatkan bahwa tidak seorang pun dapat bersikap netral, baik secara moral maupun rohani. Dalam kehidupan orang-orang yang kita pengaruhi, kita meninggalkan kesan yang tidak dapat dihilangkan, apakah kita menyadari hal itu atau tidak. Dr. John Geddie, misalnya, pergi ke Aneityum pada tahun 1848 dan bekerja untuk Allah di sana selama dua puluh empat tahun. Pada sebuah tugu yang didirikan untuk mengenang dia tertulis kata-kata ini:
Ketika ia datang pada tahun 1848, belum ada orang Kristen.
Ketika ia pergi pada tahun 1872, tidak ada lagi orang kafir.
Pada waktu semangat gereja rasuli yang berkobar-kobar menghasilkan petobat-petobat yang berlipat ganda secara luar biasa, maka Roh Kudus mengajarkan satu pelajaran yang luar biasa mengenai hakekat kepemimpinan rohani. Para rasul menghadapi tuntutan-tuntutan pekerjaan yang terlampau berat bagi mereka, sehingga perlu diciptakan suatu eselon kepemimpinan di bawah mereka untuk memperhatikan orang-orang miskin dan para janda yang terlantar. Orang-orang ini harus dipilih dengan hati-hati, oleh sebab itu para rasul menetapkan macam orang yang harus dipilih, "Karena itu saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu" (Kis 6:3).
Perlu kita perhatikan bahwa syarat utama yang dikemukakan ialah bahwa mereka harus "dipenuhi dengan Roh Kudus", meskipun pelayanan yang akan mereka lakukan bukan pelayanan rohani. Mereka haruslah orang-orang yang tulus hati, yang terkenal baik, yang bijaksana, yang penuh hikmat, yang rohani, yang penuh dengan Roh. Sifat rohani tidak mudah didefinisikan, tetapi ada atau tidak adanya sifat ini mudah sekali dilihat. Sifat ini bagaikan bau-bauan yang harum semerbak di kebun Tuhan. Orang yang penuh dengan Roh dapat mengubah suasana melalui kehadirannya, karena ia mempunyai pengaruh yang tidak disadari, yang menyebabkan Kristus dan hal-hal rohani menjadi nyata untuk banyak orang.
Jika ini merupakan ukuran bagi mereka yang memegang jabatan pada tingkat yang lebih rendah di gereja, apalagi bagi mereka yang bercita- cita untuk memegang jabatan yang lebih tinggi. Tujuan-tujuan rohani hanya dapat dicapai oleh orang-orang rohani yang memakai cara-cara rohani. Betapa besar perubahan yang dapat dihasilkan di dalam gereja- gereja dan organisasi-organisasi Kristen kita, jika prioritas ini dilaksanakan dengan teliti! Orang-orang dunia, walaupun sangat berbakat dan memiliki kepribadian yang menarik, tidak mempunyai tempat di dalam kepemimpinan gereja, meskipun dalam persoalan-persoalan yang tidak bersifat rohani.
Gagasan-gagasan yang terpenting mengenai kepemimpinan rohani yang benar disimpulkan oleh John R. Mott dalam kata-kata ini:
Yang saya pikirkan ialah arti kata kepemimpinan yang pasti ada pada pikiran Tuhan Yesus, ketika Ia berkata, "Barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya", yaitu kepemimpinan dalam arti memberikan pelayanan yang sebesar-besarnya; kepemimpinan yang sama sekali tidak mementingkan diri sendiri; yang tidak mengenal lelah dan terus-menerus memusatkan perhatian pada pekerjaan yang terbesar di dunia, yaitu pekerjaan membangun kerajaan Tuhan kita Yesus Kristus.
Kepemimpinan Kristen Versus Kepemimpinan Sekuler
Oleh: Pdt. Ruslan Christian

      Pengertian tentang arti dan hakekat kepemimpinan sangat penting bagi seorang pemimpin. Sebab sadar atau tidak sadar, sengaja atau tidak sengaja, kepemimpinan yang dipraktikkan seorang pemimpin akan diwarnai oleh pemahaman internalnya tentang arti kepemimpinan itu sendiri.
      Demikian pula seorang pemimpin Kristen, pola kepemimpinannya akan ditentukan oleh pemahaman dan penghayatannya tentang arti kepemimpinan itu sendiri. Jika makna kepemimpinan sekuler yang dihayatinya, maka sekalipun ia dikenal sebagai “pemimpin Kristen” tetapi sesungguhnya praktik kepemimpinannya bukan “kepemimpinan Kristen.” Sebaliknya, jika ia menghayati dan menerapkan kepemimpinan yang “Kristen” - berlandaskan perspektif Alkitab- maka baru kepemimpinannya layak disebut kepemimpinan rohani.


PANDANGAN UMUM TENTANG KEPEMIMPINAN
1. Arti pemimpin 
      Arti pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan, khususnya kecakapan/ kelebihan di satu bidang sehingga dia mampu mempengaruhi orang-orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi pencapaian satu atau beberapa tujuan.
(01) Mengutip Henry Pratt Fairchild, Kartini Kartono mengatakan, pemimpin dalam pengertian luas, seorang yang memimpin, dengan jalan memprakarsai tingkah laku sosial dengan mengatur, menujukan, mengorganisir atau mengontrol usaha/upaya orang lain, atau melalui prestise, kekuasaan, atau posisinya. Dalam pengertian terbatas, pemimpin adalah seorang yang memimpin dengan bantuan kualitas-kualitas persuasifnya, dan akseptansi/penerimaan secara sukarela oleh para pengikutnya.(02) Berdasarkan beberapa definisi dari kata “pemimpin”, Kartini Kartono mendefinisikan pemimpin sebagai pribadi yang memiliki kecakapan khusus, dengan atau tanpa pengangkatan resmi dapat mempengaruhi kelompok yang dipimpinnya, untuk melakukan usaha bersama mengarah pada pencapaian sasaran-sasaran tertentu.(03)

2. Penyebab munculnya pemimpin
      Ada tiga teori tentang kemunculan pemimpin.
(04) Pertama, Teori genetis. Teori ini menyatakan bahwa pemimpin lahir dari pembawaan bakatnya sejak ia lahir, bukan dibentuk menurut perencanaan yang disengaja. Pemimpin demikian lahir dari situasi yang bagaimanapun juga karena ia bersifat sudah ditetapkan (determinis dan fatalis).
      Kedua, Teori Sosial. Teori ini kebalikan atau lawan teori pertama. Pemimpin tidak muncul akibat bawaannya sejak lahir, melainkan disiapkan dan dibentuk. Sebab itu setiap orang bisa menjadi pemimpin asal dipersiapkan dan dididik secara sistematis.
      Ketiga, Teori Ekologis atau Sintetis. Teori ini muncul sebagai respon terhadap dua teori terdahulu. Teori ini menyatakan bahwa pemimpin muncul melalui bakat-bakat sejak kelahirannya, lalu dipersiapkan melalui pengalaman dan pendidikan sesuai dengan konteksnya.

3. Persyaratan pemimpin
      Ada tiga hal penting yang menjadi persyaratan pemimpin sekuler.
(05) Pertama, Kekuasaan. Seorang pemimpin harus memiliki kekuatan, otoritas, dan legalitas untuk mempengaruhi dan menggerakkan bawahannya. Kedua, Kewibawaan. Pemimpin harus memiliki kelebihan, keunggulan, keutamaan agar ia mampu mengatur orang lain untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tertentu. Ketiga, Kemampuan. Pemimpin harus memiliki daya, kekuatan, keunggulan, kecakapan teknis dan sosial yang melampaui bawahannya.
      Ada pula yang beranggapan bahwa pemimpin harus memiliki kualitas-kualitas unggul seperti kemampuan berpikir tinggi, bijaksana, bertanggung jawab, adil, jujur, memiliki rasa humor, dsb. Sebagian lagi beranggapan pemimpin harus memiliki kemampuan relasional dengan bawahannya, misal, kemampuan mengkoordinasi bawahannya, menyusun konsep dan penjabaran tujuan-tujuan, bersikap adil, dsb. Namun, menurut pandangan umum/sekuler ini, keunggulan pemimpin dari sisi karakter tidak bersifat mutlak, sebab bisa saja karakter yang baik tidak terdapat pada seorang pemimpin dunia yang paling menonjol dan dipandang paling sukses.
(06) Misalnya, Hitler dan Idi Amin yang dikenal sebagai tiran dan menimbulkan petaka dahsyat dalam sejarah dunia dan melenyapkan banyak jiwa, memiliki tabiat yang abnormal dan destruktif.

4. Arti kepemimpinan
      Menurut Warren Bennis dan Burt Nanus, seperti yang dikutip Henry dan Richard Blackaby, mereka menemukan ada lebih dari 850 rumusan tentang kepemimpinan.
(07) Mengutip pelbagai pandangan umum tentang makna kepemimpinan, Kartini Kartono mengatakan kepemimpinan(08) sebagai:
Proses dengan mana seorang agen menyebabkan seorang bawahan bertingkah laku menurut satu cara tertentu.
Kegiatan mempengaruhi orang-orang agar bekerjasama untuk mencapai tujuan yang mereka inginkan.
Kegiatan mempengaruhi orang-orang agar mereka suka berusaha mencapai tujuan-tujuan kelompok.
Seni untuk mempengaruhi tingkah laku manusia, kemampuan untuk membimbing orang.
Kepemimpinan adalah proses pengaruh sosial melalui mana seseorang dapat memperoleh bantuan dari orang lain dalam mencapai sebuah gol.
(09)
      Berdasarkan beragam pandangan di atas, kepemimpinan berarti proses/kegiatan atau kesanggupan menggerakkan/mempengaruhi orang yang dipimpin, kemampuan menuntun mereka mencapai tujuan-tujuan tertentu, yang bersifat individu maupun kelompok.

5. Tipe kepemimpinan
      Kepemimpinan dalam pengertian umum dapat dikategorisasikan berdasarkan beberapa cara. Ada yang membagi tipe kepemimpinan sebagai:
(10) 1) the crowd-compeller, kepemimpinan yang memaksakan kehendaknya kepada kelompok. 2) the crowd-exponent, penerjemah atau bentuk penampilan dari kelompok. 3) the crowd-representative, kepemimpinan sebagai wakil/utusan dari kelompok. Ada pula pembagian tipe: 1) kepemimpinan konservatif/kuno, 2) kepemimpinan radikal, dan 3) kepemimpinan yang ilmiah.(11) Berdasarkan orientasinya (tugas, hubungan kerja, dan hasil efektif) kepemimpinan dapat dibagi menjadi delapan tipe: deserter (pembelot), birokrat, misionari, developer (pembangun), otokrat, otokrat yang bajik, compromiser, dan eksekutif.(12)


PERBEDAAN ANTARA GEREJA DAN ORGANISASI
      Bagaimanakah makna pemimpin dan kepemimpinan rohani atau Kristen? Sebelum kita menelaah tentang definisi dan arti kepemimpinan Kristen, maka harus dikenali perbedaan konteks dari pemimpin dan kepemimpinannya, yakni organisasi atau gereja di mana kepemimpinan itu dilaksanakan. Ada dua perbedaan prinsipil antara gereja dan organisasi.
(13) Pertama, dari segi naturnya. Hakekat gereja adalah organisme bukan organisasi. Ada tiga pihak yang hadir dalam gereja: Kristus, warga jemaat, dan pemimpin. Karena hakekat gereja sebagai organisme maka setiap anggota harus memiliki relasi pribadi dengan Kristus sebagai kepala gereja, dan sewajarnya setiap anggota memiliki persekutuan satu dengan lainnya. Kedua, sasaran utamanya. Gereja mengutamakan manusia lebih daripada benda, kerja, atau hasil. Sebab itu tujuan utama gereja adalah kedewasaan dari tubuh dalam relasi dengan Tuhan dan antar sesama di dalamnya. Sedangkan tujuan utama organisasi adalah untuk melaksanakan tugas dan mencapai upaya produktif,(14) sehingga bisa saja mengabaikan kepentingan individu dalam organisasi sebab yang penting bisa mencapai targetnya.
      Implikasi dari prinsip Alkitab tersebut adalah, gereja (komunitas umat Allah) sebagai organisme, secara terbatas
(15) dapat memanfaatkan sistem organisasi dan manajemen untuk melaksanakan fungsinya sebagai umat Allah. Namun gereja harus tetap mempertahan sifat “keorganismeannya” yang mengutamakan manusia, relasi antar pribadi, dan kebergantungan kepada Kristus sebagai Kepalanya.


PANDANGAN ALKITAB TENTANG KEPEMIMPINAN
      Di dalam Perjanjian Baru, khususnya klaim tentang kebenaran nampak di dalam perkataan Yesus Kristus dan seluruh karya-Nya di dalam dunia. Di dalam Yohanes 14:6a, Yesus Kristus berkata ”Akulah jalan, kebenaran, dan hidup.” Perkataan ini ditujukan kepada murid-muridnya di dalam perjamuan malam sebelum hari raya Paskah. Apakah maksud dari perkataan ini? Bagaimana hubungannya dengan konsep kebenaran yang dipahami secara umum dan di dalam kekristenan?

1. Arti pemimpin rohani (Kristen)
      Makna pemimpin dalam konsepsi Alkitab, bukan berarti seseorang disebut pemimpin rohani (Kristen) karena ia seorang Kristen atau melibatkan diri dalam pelayanan Kristen. Pemimpin Kristen berarti pemimpin yang mengenal Allah secara pribadi dalam Kristus dan memimpin secara kristiani.
(16) Pemimpin Kristen adalah pribadi yang memiliki perpaduan antara sifat-sifat alamiah dan sifat-sifat spiritualitas Kristen. Sifat-sifat alamiahnya mencapai efektivitas yang benar dan tertinggi karena dipakai untuk melayani dan memuliakan Allah. Sedangkan sifat-sifat spiritualitas kristianinya menyebabkan ia sanggup mempengaruhi orang-orang yang dipimpinnya untuk menaati dan memuliakan Allah. Sebab daya pengaruhnya bukan dari kepribadian dan ketrampilan dirinya sendiri, tetapi dari kepribadian yang diperbaharui Roh Kudus dan karunia yang dianugrahkan Roh Kudus.(17)
      Pemimpin Kristen berbeda dengan pemimpin alamiah (sekuler/umum) dalam beberapa hal. Pemimpin rohani mengenal Allah, mencari kehendak Allah, menaati kehendak Allah, bergantung pada Allah, mengasihi Allah dan manusia,
(18) dan akhirnya memuliakan Allah. Sedangkan pemimpin alamiah hanya mengenal manusia, membuat keputusan sendiri atau organisasi, berusaha mencapai sasaran pribadi atau organisasi, bersandar pada cara-cara sendiri, bergantung pada kuasa dan ketrampilan diri sendiri, mengutamakan hasil kerja dan cenderung mengabaikan manusia.

2. Penyebab munculnya pemimpin rohani
      Pemimpin rohani muncul bukan menurut kemauan atau ambisi pribadi, melainkan karena tindakan Allah yang mempersiapkan, memanggil, menetapkan dan membimbingnya dalam mencapai tujuan-tujuan dari Allah. Dalam PL, Allah yang mempersiapkan dan memanggil Musa dan Yosua menjadi pemimpin bagi umatNya (Kel. 4; Yos. 1). Begitu pula dengan Harun dan keturunannya dalam jabatan keimaman PL (Kel. 28:1). Allah juga yang membangkitkan para hakim (Hak. 2:16). Allah yang menetapkan raja bagi Israel, misalnya Saul (1Sam. 10:1), Daud (1Sam. 13:14; 2Sam. 7), dan Salomo (1Raj. 8). Dia juga yang memanggil para nabi dalam PL. Sedangkan dalam PB, Kristus sendiri yang memilih, mempersiapkan, dan mengutus keduabelas rasul-Nya. Allah pula yang memberikan karunia-karunia rohani untuk melaksanakan pelayanan di dalam dan melalui gereja-Nya (1Tim. 4:14).

3. Persyaratan pemimpin rohani
      Jika persyaratan kualitas karakter dan sosial dalam pemimpin umum bersifat relatif, bahkan boleh saja tidak dimiliki, maka persyaratan pemimpin Kristen sangat menekankan aspek karakter dan sosialnya. Ada dua puluh kriteria yang dicantumkan dalam 1Tim. 3:1-13 dan Tit. 1:5-9, delapan belas berkaitan dengan reputasi seseorang, etika, moralitas, temperamen, kebiasaan, dan kedewasaan rohani serta psikisnya.
(19) J. Oswald Sanders, melihat kualifikasi yang ditulis Paulus ini sebagai kualifikasi sosial, moral, mental, kepribadian, rumah tangga, dan kedewasaan.(20) Kualifikasi dalam 1Tim. 3:1-7 ini memiliki tiga ciri menonjol,(21) yakni menyangkut 1) persyaratan fundamen, bukan tugas, 2) tingkah laku yang teramati, 3) karakter tersebut bukan khas Kristen melainkan ideal tertinggi moralitas konteks Hellenistis zaman itu. Ini berguna demi kesaksian gereja. Jadi kriteria di atas menunjukkan bahwa persyaratan seorang pemimpin rohani sangat ketat dan menuntut kedewasaan jiwani, rohani dan sosial.

4. Arti kepemimpinan rohani
      Ada beragam definisi mengenai kepemimpinan rohani atau Kristen.
(22)
“Kepemimpinan adalah pengaruh.” (Oswald J. Sanders)
“Tugas utama pemimpin adalah mempengaruhi umat Allah untuk melaksanakan rencana Allah.” (Robert Clinton)
“Seorang pemimpin Kristen yaitu seorang yang dipanggil oleh Allah untuk memimpin; dia memimpin dengan dan melalui karakter seperti Kristus; dan menunjukkan kemampuan fungsional yang memungkinkan kepemimpinan efektif terjadi.” (George Barna)
“Kepemimpinan rohani adalah menggerakkan orang-orang berdasarkan agenda Allah.” (Henry & Richard Blackaby)

      Dari beberapa definisi di atas terlihat bahwa kepemimpinan rohani memiliki persamaan dengan kepemimpinan umum dalam hal mempengaruhi atau menggerakkan orang lain, mensyaratkan kemampuan fungsional dan membimbing kepada tujuan tertentu. Sedangkan perbedaannya, kepemimpinan rohani berdasarkan panggilan Allah, bukan dari manusia atau organisasi; melaksanakan tugas dalam lingkup agenda/rencana Allah, dengan berdasarkan karakter Kristus, dan menuntun kepada tujuan yang Allah kehendaki, bukan tujuan organisasi atau manusiawi.

5. Sifat khas kepemimpinan rohani
      Berdasarkan prinsip Alkitab, terdapat beragam karakteristik kepemimpinan rohani. Pertama, kepemimpinan rohani adalah kepemimpinan yang menghambakan diri. Identitas pemimpin Kristen adalah sebagai “hamba.”
(23)Kepemimpinan Kristen bukan untuk mencari keuntungan materi maupun non-materi, melainkan untuk pelayanan (Luk. 22:26). Dalam PL, para raja bukan untuk meninggikan diri atas rakyat (Ul. 17:20). Korah ditegur dan dihukum akibat sikap kepemimpinan yang mengutamakan kedudukan (Bil. 16:933). Paulus memandang jabatan rasuli bukan untuk kemuliaan dirinya, melainkan untuk bekerja keras dalam pelayanan (2Kor. 11-12; 1Kor. 15:910). Para penatua gereja dipanggil untuk menggembalakan dan memelihara umat Allah (Ibr. 13:17; 1Ptr. 5:23). Yesus mengajarkan kepemimpinan sebagai “menjadi hamba” dan Dia menegaskannya melalui keteladanan-Nya (Mrk. 10:3545)
      Kedua, kepemimpinan yang menempatkan posisinya di bawah kontrol Kristus.
(24) Seorang pemimpin Kristen bukan menjadi orang nomor satu dalam gereja, sebab Kristus adalah Kepala Gereja. Ia memimpin namun juga dipimpin oleh Pemimpin Agung, Tuhan Yesus (Yoh. 13:13). Dengan demikian kerendahan hati dalam kepemimpinannya akan riil dalam praktiknya. Kerendahan hati yang melihat baik kebenaran tentang dirinya maupun keterbukaan untuk terus belajar akan kepemimpinan yang lebih baik, termasuk keunggulan dalam orang lain.(25)
      Ketiga, kepemimpinan yang berdasarkan karakter yang baik.
(26) Kepemimpinan Kristen sangat menekankan karakter yang teruji. Otentisitas kepemimpinan Kristen bergantung pada ketaatannya terhadap Kristus dan meneladani Kristus. Dengan otentisitas tersebut maka kepemimpinan Kristen memiliki legitimasi dan otoritas untuk memimpin.
      Keempat, kepemimpinan yang bergantung pada Roh Kudus.
(27) Pemimpin Kristen bukan dilahirkan atau dibentuk melalui usaha manusia, melainkan kemampuannya terutama karena karunia Roh Kudus (Rm. 12:6; 1Kor. 12:7). Karunia kepemimpinan adalah satu dari banyak karunia rohani dalam gereja. Sebab itu kemampuan kepemimpinan rohani harus bersandar pada Roh Kudus.
      Kelima, kepemimpinan berdasarkan motivasi Kristen. Kepemimpinan sekuler pada umumnya berdasarkan kekuatan manusiawi dan bertujuan untuk meraih keuntungan pribadi (Mrk. 10:42). Sedangkan kepemimpinan rohani harus menanggalkan pementingan diri dan motivasinya untuk kepentingan orang lain dan kemuliaan Tuhan. Sebab itu dia dimotivasi oleh kasih Kristus.
      Keenam, kepemimpinan yang mendasarkan otoritasnya pada pengorbanan. Sebab itu pemimpin Kristen yang sejati disebut “pemimpin pelayan” (a servant leader). Cacat terdalam dalam kepemimpinan sekuler berakar pada arogansi yang membuatnya bertindak dominan berdasarkan rasa superioritas.
(28) Yesus mengajarkan bahwa ciri khas dan kebesaran pemimpin spiritual terletak bukan pada posisi dan kuasanya, melainkan pada pengorbanannya. Hanya melalui melayani, seseorang menjadi besar (Mrk. 10:43-44). Pemimpin yang memberi keteladanan dan pengorbanan akan memiliki wibawa spiritual untuk memimpin orang lain.


KESIMPULAN
      Tuhan Yesus menegaskan adanya perbedaan esensial antara pemimpin Kristen dan pemimpin sekuler dengan menyatakan, "Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (Mrk. 10:42-45). •



Footnotes
01/ Kartini Kartono, Pemimpin dan Kepemimpinan (Jakarta: CV Rajawali, 1988), hlm. 33
02/ Ibid., hlm. 34.
03/ Ibid., hlm. 35.
04/ Ibid., hlm. 29.
05/ Ibid., hlm. 31.
06/ Ibid., hlm. 35-37.
07/ Henry & Richard Blackaby, Kepemimpinan Rohani (Batam Centre: Gospel Press, 2005), hlm.33.
08/ Ibid., hlm. 38-39.
09/ Martin M. Chemers, An Integrative Theory of Leadership (New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates, 1997), hlm. 2.
10/ Kartini Kartono, Pemimpin dan Kepemimpinan, hlm. 39.
11/ Kartini Kartono, Pemimpin dan Kepemimpinan, hlm. 40.
12/ Kartini Kartono, Pemimpin dan Kepemimpinan, hlm. 30-31.
13/ Lihat Lawrence O. Richards and Clyde Hoeldtke, A Theology of Church Leadership (Grand Rapids: Zondervan Publishing House, 1980), hlm. 31-42; 150-204.
14/ Martin, An Integrative Theory of Leadership, hlm. 2.
15/ Engstrom dan Dayton memandang bahwa organisasi dan manajemen bersifat netral, demikian pula orang yang memanfaatkannya, baik Kristen maupun bukan Kristen. Sedangkan Richards dan Hoeldtke menilai bahwa organisasi dan manajemen bersifat “amoral,” atau netral, sedangkan manusia yang memanfaatkannya tidak netral dan berperan secara krusial, Kristen dan bukan Kristen. Lihat Richards and Hoeldtke, A Theology of Church Leadership, hlm. 191-204.
16/ Bd. Blackaby, Kepemimpinan Rohani, hlm. 31.
17/ Bd. J. Oswald Sanders, Kepemimpinan Rohani (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1979), hlm. 21.
18/ Ibid., hlm. 22.
19/ Bd. Gene A. Getz, Sharpening The Focus Of The Church (Chicago: Moody Press, 1976), hlm. 118.
20/ Sanders, Kepemimpinan Rohani, hlm. 32-41.
21/ Gordon D. Fee, New International Biblical Commentary (Peabody: Hendrickson Publishers, 1988), hlm. 78. Bd. Donald Guthrie, Tyndale New Testament Commentaries (Grand Rapids: Wm. B. Eermands Publishing Company, 1986), hlm. 80.
22/ Beragam definisi kepemimpinan rohani dan penilaian atasnya dapat dilihat pada George Barna, ed., Leaders On Leadership (Malang: Penerbit Gandum Mas, 2002), hlm. 22-26. Blackkaby, Kepemimpinan Rohani, hlm. 33-38.
23/ Richards and Clyde Hoeldtke, A Theology of Church Leadership, hlm. 102-112. Lihat Elwell, Walter A., and Walter A. Elwell, Evangelical Dictionary of Biblical Theology (Grand Rapids: Baker Book House, 1997).
24/ Bd. Lihat William D. Lawrence, “Distinctives of Christian Leadership,” Bibliotheca Sacra 575, (Juli-September 1987): 318-319.
25/ John Adair, Inspiring Leadership (London: Thorogood, 2002), hlm. 344.
26/ Bd. Lawrence, “Distinctives of Christian Leadership,” hlm. 320-321.
27/ Bd. Lawrence, “Distinctives of Christian Leadership,” hlm. 321-323.
28/ John, Inspiring Leadership, hlm. 37-38.




MANUSIA DAN CINTA KASIH

.http://nadaaviana95.blogspot.com/2013_04_01_archive.html


Manusia dan Cinta Kasih


Pengertian Cinta Kasih dan Sayang
Ada beberapa pendapat mengenai pengertian cinta kasih. Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia karangan W.J.S. Purwodarminta, cinta adalah rasa sangat suka (kepada) atau rasa sayang (kepada), ataupun rasa sangat kasih atau sangat tertarik hatinya. Sedangkan kata kasih, artinya perasaan sayang atau cinta (kepada) atau menaruh belas kasihan. Dengan demikian, arti cinta dan kasih itu hamper sama sehingga kata kasih dapat dikatakan lebih memperkuat rasa cinta. Oleh karena itu, cinta kasih dapat diartikan sebagai perasaan suka (sayang) kepada seseorang yang disertai dengan menaruh belas kasihan.
Walaupun cinta dan kasih mengandung arti yang hamper sama, antara keduanya terdapat perbedaan, yaitu cinta lebih mengandung pengertian tentang rasa yang mendalam, sedangkan kasih merupakan pengungkapan untuk mengeluarkan rasa, mengarah pada orang atau yang dicintai. Dengan kata lain, bersumber dari cinta yang mendalam itulah kasih dapat diwujudkan secara nyata.
Erich Fromm (1983: 24-27) dalam bukunya Seni Mencintai menyebutkan bahwa cinta itu terutama member, bukan menerima, dan member merupakan ungkapan yang paling tinggi dari kemampuan. Yang paling penting dalam member adalah hal-hal yang sifatnya manusiawi, bukan materi. Cinta selalu menyertakan unsure-unsur dasar tertentu, yaitu pengasuhan, tanggung jawab, perhatian, dan pengenalan.

Dr. Sarlito W. Sarwono mengemukakan bahwa cinta itu memiliki tiga unsure, yaitu ketertarikan, keintiman, dan kemesraan. Keterikatan adalah perasaan untuk hanya bersama dia, segala prioritas hanya untuk dia. Keintiman yaitu adanya kebiasaan-kebiasaan dan tingkah laku yang menunjukan bahwa antara Anda dan dia sudah tidak ada jarak lagi sehingga panggilan-panggilan formal seperti Bapak, Ibu, Saudara digantikan dengan sekedar memanggil nama atau sebutan seperti sayang. Sedangkan kemesraan adalah adanya rasa ingin membelai atau dibelai, rasa kangen jika jauh dan lama tidak bertemu, adanya ucapan-ucapan yang mengungkapkan rasa sayang. Ketiga unsur cinta tersebut sama kuatnya, jika salah satu unsur cinta itu tidak ada maka cinta itu tidak sempurna atau dapat disebut bukan cinta.





Secara sederhana cinta kasih adalah perasaan kasih sayang yang dibarengi unsur terikatan, keintiman dan kemesraan (Cinta Ideal / Segitiga Cinta) di sertai dengan belas kasihan, pengabdian yang diungkapkan dengan tingkah laku yang bertanggung jawab. Tanggung jawab yang diartikan akibat yang baik, positif, berguna, saling menguntungkan, menciptakan keserasian, keseimbangan dan kebahagiaan.

Pengertian Kasih Sayang
Pengertian kasih sayang menurut kamus umum bahasa Indonesia karangan W.J.S Poerwadaminta yitu perasaan sayang, perasaan cinta atau perasaan suka pada seseorang. Dalam berumah tangga kasih sayang merupakan kunci kebahagiaan. Kasih sayang ini merupakan pertumbuhan dari cinta. Dalam kasih sayang sadar atau tidak dituntut tanggung jawab, pengorbanan, kejujuran, saling percaya, saling pengertian, saling terbuka,  sehingga keduannya merupakan suatu kesatuan yang utuh. Seorang remaja menjadi frustasi, morfinis, berandalan dan sebagainya itu disebabkan karena kekurangan perhatian dan kasih sayang dalam kehidupan keluarga.
 
Macam-macam Cinta
Menurut Erich Fromm (1983 : 54) dalam bukunya Seni Mencintai mengemukakan tentang adanya berbagai macam-cinta yang dapat di uraikan sebagai berikut :

  1. Cinta Diri Sendiri
Secara alami manusia mencintai dirinya sendiri (self love) dan banyak orang yang menafsirkan cinta diri sendiri diidentikan dengan egoistis. Jika demikian cinta diri sendiri ini bernilai negatif. Namun apabila diartikan bahwa cinta diri sendiri adalah mengurus dirinya sendiri, sehingga kebutuhan jamsmani dan rohaninya terpenuhi seimbang  ini bernilai positif. Dengan demikian cinta terhadap dirinya tidak harus dihilangkan tetapi harus berimbang dengan cinta kepada orang lain untuk berbuat baik.


  1. Cinta Sesama Manusia / Persaudaraan
Cinta kepada sesama manusia atau persaudaraan (agape. Bahasa Yunani) itu merupakan watak manusia itu sendiri dan diwujudkan dalam tingkah laku atau perbuatannya kepada sesama manusia. Perbuatan dan perlakuan yang baik kepada sesama manusia bukan berarti karena seseorang itu membela, menyetujui, mendukung dan berguna, bagi dirinya, melainkan dating dari hati nuraninya yang ikhlas disertai tujuan yang mulia. Motivasi perbuatan dan perlakuan seseorang mencintai sesama manusia itu disebabkan karena pada dasarnya manusia tidak dapat hidup sendirian (manusia sebagai makhluk social) dan sudah merupakan suatu kewajiban.

  1. Cinta Erotis
Cinta yang erat dorongannya dengan dorongan seksual (sifat membirahikan) ini merupakan sifat eksklusif (khusus) yang bias memperdayakan cinta yang sebenarnya. Hal itu dikarenakan cinta dan nafsu tersebut letaknya tidak berbeda jauh. Disi lain Cinta erotis jika didasari dengan cinta ideal, kasih sayang, keserasian maka berfungsi dalam melestarikan keturunan dalam ikatan yang sah yaitu pernikahan. Sebaliknya jika tidak didasari kasih sayang yaitu nafsu yang membutakan akal pikiran sehingga yang ada hanya nafsu birahi didalamnya akan timbul rasa ketidak puasan bias berakhir dengan sebuah perceraian bahkan akan mungkin timbul juga perselingkuhan atau ke tempat pelacuran yang didalamnya tidak mungkin akan timbul rasa kasih sayang karena yang ada hanya nafsu birahi berhubungan badan saja, dengan uang sebagai bayarannya.

  1. Cinta Keibuaan
Kasih sayang itu bersumber dari cinta keibuan, yang paling asli dan yang terdapat pada diri seorang ibu terhadap anaknya sendiri. Ibu dan anak terjalin suatu ikatan fisiologi. Seorang ibu akan memelihara anaknya dengan hati-hati penuh dengan kasih sayang dan naluri alami seorang ibu. Sedangkan menurut para ahli ilmu jiwa berpendapat bahwa dorongan kebapakan bukan karena fisologis, melainkan dorongan psikis.



  1. Cinta terhadap Allah
Merupakan puncak cinta manusia, yang paling jernih, spiritual dan yang dapat memberikan tingkat perasaan kasih sayang yang luhur, khususnya perasaan simpatik dan sosial. Cinta yang ikhlas seorang manusia kepada Allah akan membuat cinyta menjadi kekuatan pendorong yang mengarahkannya dalam kehidupan dan menundukkan semua bentuk cinta yang lain.

  1. Cinta terhadap Rasul
Ini merupakan ideal yang sempurna bagi manusia baik dalam tingkah laku, moral, maupun berbagai sifat luhur lainnya.

Mewujudkan Cinta Kasih
Untuk dapat mewujudkan cinta kasih dan sayang dalam kehidupan agar tentram damai dan bahagia dapat dengan cara :

  1. Cara mewujudkan cinta diri sendiri
Dapat dilakukan dengan mengurus dirinya sendiri, sehingga kebutuhan jasmani dan rohani dirinya sendiri terpenuhi secara wajar. Contohnya mandi, menyisir rambut, memaka wangi- wangian, mengenakan baju yang sopan tidak melanggar adat atau norma yang ada.

  1. Cara mewujudkan cinta sesama manusia / persaudaraan
Dapat dilakukan dengan perbuatan yang bersifat sosial dan kemanusian. Contohnya saling tolong menolong, kerja bakti, saling tepo seliro, Jean Henry Dunant ( 1882-1910) seorang bankir dan penulis berkebangsaan Swiss yang atas suka relanya menolong setiap orang yang menderita luka-luka dalam pertempuran Solferino (1859) mendirikan Palang Merah International (1863)




  1. Cara mewujudkan cinta erotis
Dapat dilakukan apabila dilandasi dasar cinta kasih yang bertanggung jawab dan tidak melanggar adat atau norma yang ada. Contohnya cinta eotis seorang lelaki terhadap perempuan yang di sudah di ikat pernikahan di dasari percintaan.

  1. Cara mewujudkan Cinta Keibuan
Dapat dilakukan dengan dilandasi kasih sayang ibu yang tak terhingga terhadap anaknya dari sejak dikandung, melahirkan, dan mengurus sampai menikahkan dengan tanpa pamrih sedikitpun dan doanya yang selalu menginginkan dan melihat anaknya bahagia di jauhkan dari segala kesusahan.

  1. Cara mewujudkan Cinta kepada Allah
Dapat dilakukan dengan dilandasi cinta yang teramat sangat dan meniadakan Tuhan selain Allah dengan beraqidah yang kokoh dan bertaqwa atau menjalankan segala perintah dan menjauhi larangan yang sudah di tentukan Nya.

  1. Cara mewujudkan Cinta kepada Rasull
Dapat dilandasi dengan cinta dengan mencontoh suri teladan yang baik yang ada pada diri rasul yaitu sidiq, tablig, amanah, dan fatonah yang di laksanakan setiap saat selama masih diberi kehidupan oleh sang maha hidup.

Dari pembahasan ini dapat ditarik suatu kesimpulan :
  1. Manusia pada hakikatnya tidak akan dapat terpisahkan dari Cinta kasih dan sayang
  2. Cinta kasih Ideal itu adanya tiga unsur yaitu keterikatan, keintiman dan kemesraan atau sering juga di sebut Segitiga Cinta yang satu sama lain harus sinergi, selaras, seimbang satu sama lain.
  3. Cinta dan kasih mengandung arti yang hamper sama, tapi antara keduanya terdapat perbedaan, yitu cinta lebih mengandung pengertian tentang rasa yang mendalam sedangkan kasih meupakan pengungkapan untuk mengeluarkan rasa mengarah kepada yang dicintai.
  4. Cinta itu mulia, bisa sangat indah, cinta itu sebuah kebahagiaan, tetapi manakala cinta itu tidak sesuai dengan apa yang diharpakan, apa yang diperkirakan dan apa yang didambakan bertolak belakang dari kenyataaan yang sudah terlanjur tercipta dalam angan-angan maka cinta bisa sangat menyakitkan dan menimbulkan penderitaan yang luar biasa.

DAFTAR PUSTAKA

http://ibd99.blogspot.com/2012/12/makalah-manusia-dan-cinta-kasih.html

Rabu, 04 Desember 2013

KASMARAN




















TIPS AGAR ANAK DEKAT DENGAN PAPA

TIPS AGAR ANAK DEKAT DENGAN PAPA

Pada umumnya anak akan lebih dekat dengan ibunya. Meski ada juga sebagian anak dekat dengan papa. Tedapat berapa hal mengapa anak selalu dekat dengan ayah atau lebih dekat dengan ibunya. Anak akan lebih dekat dengan ibunya karena anak merasa lebih nyaman dan lebih senang bila ibunya ada di dekatnya. Dan itu sudah terjadi mulai lahir hingga anak menjadi besar. Salah satu faktor utama biasanya anak akan lebih dekat dengan salah satu orang tuanya bila dirasa lebih nyaman dan lebih dilindungi.  Hal itu terjadi tidak hanya dalam waktu sekejap tetapi memerlukan tahapan yang panjang dan terus menerus. Ibu banyak lebih dekat dan berperanan dengan anak karena sejak lahir hingga usia balita dan remaja anak lebih dekat dengan ibunya. Jika ingin anak lebih dekat dengan anak maka ayah harus sedikit berperanan seperti ibu sejak kecil meski tidak harus dengan kuantitas waktu yang selama dengan ibunya. Karena ayah sebagai kepala rumah tangga yang mencari nafkah, dan waktu terbatas maka yang penting kualitas komunikasi yang harus dipentingkan.

Sehingga bagaimana agar anak menjadi lebih dekat dengan ayah, sebaiknya setiap perilaku kita harus ditujukan supaya anak lebih nyaman, lebih senang dan lebih dilindungi. Untuk meraih hal tersebut maka ayah harus memberikan kasih sayang yang tulus dengan kualitas dan kuantitas yang cukup.  Kasih sayang tersebut bukan hanya kebutuhan materi tetapi juga dapat berupa belaian, gendongan dan komunikasi yang baik.

Tips Anak Menjadi Anak Papa atau Dekat Dengan Papa
  • Beri perhatian bila anak menangis dan sedih Dekati bayi atau anak anda bila sedang menangis, sedih atau ketakutan. Saat bayi menangis perlu dekapan ayah supaya anak merasa lebih nyaman dan lebih tenang bisa dengan menggendong dan mengganti popok saat bayi menangis . Tenangkan dengan sabar dan penuh kasih sayang bila anak bvalita anda menangis atau ketakutan.
  •  Hal itu juga harus dilakukan sampai anak bertambah usia baik saat usia balita, usia anak sekolah bahkan saat remaja. Saat anak remaja anda sedih, galau atau sedang menghadapi kegagalan beri perhatian dengan kasih sayang dan belaian dan ciuman di pipinya agar anak merasa tenang dan nyaman. Perhatian saat anak galau ini bukan hanya bermanfaat terhadap anak, tetapi akan memberikan pelajaran kepada ayah tentang pentingnya empati pada anak bila sedang cemas dan sedih. Saat ini karena kesibukannya ayah sulit belajar untuk memberikan empati dan impati yang baik terhadap anaknya.

  • Menyuap makan dan mendampingi makan Saat bayi ternyata tugas yang remeh ini bagi ibu dapat lebih mendekatkan kenyamanan pada anak sehingga mengapa anak dekat dengan ibunya. Ayah juga harus sekali-sekali merasakan memberikan makan pada bayi dan menyuap makan pada anaknya.Pada umumnya tugas  itu merup[akan hal paling tabu dan  paling menakutkan bagi para ayah.  butuh kesabaran dan toleransi pada anak. Anda bisa menggantikan tugas istri untuk menyuapi si kecil dengan mengajaknya bermain atau membacakan cerita sambil makan. Bila anak sudah beranjak deawasa maka mendampingi makan pada anakmerupakan perilaku yang dapat lebih mendekatkan kedekatan psikologis anak dan ayah.

  • Bermain dalam waktu senggang. Di waktu senggang kadang ayah lebih sibuk dengan urusan kantor yang dibawa kerumah, menonton televisi atau bermain BB diabndingkan bermain dengan anak. Sesihkan wakttu untu anak anda meski tidak lama untuk bermaion. Bermain bisa dilakukan di tempat tidur, di kamar mandi, di halaman atau dimana saja saat anda berada.  Bermain dengan anak bisa membantu membangun ikatan batin antara anak dan Anda. Jika si kecil berusia di bawah empat tahun, mainan sederhana yang bisa dilakukan. Jika ia sudah berusia di atas empat tahun, Anda berdua bisa memainkan beberapa mainan yang pastinya lebih ‘menantang’.

  • Merawat anak Perawatan rutin pada anak biasa dilakukan oleh baby sitter dan ibunya. kadang hal ini yang membuat mengapa anak lebih dekat dengan perawat atau ibunya. Meski tidak harus setiap hari secara berkala minmal seminggu 2 kali sebaiknya ayah ikut melakukan perawatan bayi dan anak. Seperti memandikan, mengganti baju, memakaikan sepatu dan kegiatan lainnya sambil bercanda dan bernyanyi dengan anak

  • Bicara dan berkomunikasi dengan baik. Komunikasi dengan harus dilakukan sejak bayi hingga tumbuh dewasa. pada saat bayi bisa dilakukan kapan saja. Bisa saat memandikan, saat meberi makan, saat meberi susu. Pada anak balita sebaiknya ajak anak bercerita, melaukan permainan atau bermain sandiwara dengan anak. Pada anak lebih besar bisa dilakukan komunikasi dan bersenda gurau di mobil, saat mengantar anak sekolah, di meja makan atau dimanapun ayah berada dekat dengan anak. Komunikasi tersebut dapayt dilakukan dengan kata, lagu atau belaian kasih sayang dan cuiman rinbgan di pipi dan kening anak.

  • Beri tanda mata meski hanya kecil dan sederhana saat pulang kerumah. Saat ayah berpergian baik berpegian dekat atau jauh, baik dari luar kota atau luar negeri atau bahkan pulang kantor. Beri anak anda hadiah bisa berupa makanan ringan, buku, atau benda-benda yang menarik yang dapat anda bawa dari kantor, toko atau dari manapun anada berada. Saat di kantor dalam waktu senggang anda dapat membuatkan mainan dari lipatan ketrtas atau gambar menarik saat melihat majalah atau buku di kantor. Bila di kantor anda mendapat snack atau makanan ringan, tidak ada salahnya sekali-sekali anda bungkus untuk dihadiahkan pada anak anda sesampai di rumah. Bila anda melakukan rutin dan sering maka jangan heran anda akan selalu dinantikan dan disambut anak di depan pintu rumah saat anda pulang kantor.

  • Menjadi panutan Anak-anak sangat mencerminkan orang tuanya. Oleh sebab itu, berilah contoh yang baik sejak anak masih kecil, terutama ketika mereka beranjak besar, selalu perhatikan setiap perkataan dan tingkah laku Anda.

  • Beri dukungan dan pujian Setiap pilihan anak atau prestasi anak atau kelebihan anak asalkan tidak menyimpang, sebaiknya didukung dan diberi pujian. Tak ada salahnya jika Anda menjadi ayah yang demokratis bagi anak. Jangan pernah memaksakan kehendak karena tidak ada kekuatan yang lebih besar untuk seorang anak daripada dukungan ayahnya. Pemberian pujian dan dukungan bukan hanya dengan hadiah tetapi cukup dengan pujian kata-kata disertai belaian ndan ciuman di pipi anak.

  • Jangan terlalu keras dan memaksa. Pada anak tertentu yang keras kepala dan emosi tinggi seringkali pendekatan yang keras dan memaksa berdampak tidak baik pada anak. Bukannya anak menurut tetapi sebaliknya justru anak suka menentang. Saat ingin memberikan pengertian pada anak atau memberikan larangan pada anak harus dilakukan dengan pelan dan kasih sayang serta disertai penjelasan yang masuk akal nalar anak. Tetapi bila anda melarang dan merahi anak dan memaksa anak tanpa penjelasan dan alasan yang rasional maka seringkali pada anak tertentu membuat anak lebih suka menentang dan memusuhi ayahnya.

  • Berilah ciuman meski anak sudah terlelap. Berilah ciuman kepada anak anda minimal 3 kali sehari. Saat anda pergi ke kantor, pulang dari kantor atau sebelum tidur. Berilah ciuman pada anak meski anak sedang tidur saat anda pulang larut malam.

  • Jangan menggoda berlebihan. Seringkali ayah menggoda anak berlebihan hingga anak menangis. Menggoida anak hingga anak menangis dianggap moment yang menyenangkan bagi sang Ayah. Tetapi tidak disadari hal yang berlebihan membuat anak menangis akan membuat anak tidak nyaman dan mencari pelarian ke ibunya untuk mengadu bahwa ayah membuat si anak tidfak nyaman. Saat anak mengadu pada ibunya itulah anak merasa lebihn nyaman dengan ibunya. Jangan memberi julukan pada anak yang membuat anak sakit hati dan marah.

  • Isteri jangan jangan melecehkan atau mengolok-olek ayah di depan anaknya. Seringkali beberapa isteri mempunyai perilaku mengolok-olok dan menyindir ayah dengan perkataanm dan sikap negatif. MisalnyaL papa ini pemalas, tidak bantu papa. papa ini pelit tidak belikan adik mainan. Hal yang dianggapo bercanbda ini bila terlalu sering akan mencetak memory pada anak bahwa sosok ayah seklalu menjadi sosok negatif, Sosok negatif ini memuat anak tidak senang dan tidak nyaman. Bila hal ini dilakukan oisteri anda sebaiknya bicaralah dan berdiskusilah dengan isteri anda.

  • Biasakan minta maaf kepada bayi dan anak anda. Setiap anda melakukan kesalahan, perkataaan kasar, bicara terlalu keras, emosi dan memarahi anak sebaikjnya segera meminta maaf pada anak. Sampaikan dengan lembut dan sayang ayah kilaf dan tidak akan terulang lagi.

  • Jangan bertengkar dan bersuara keras terhadap isteri di depan anak.Sebaiknya ayah menghindari berkata keras, berteriak, bertengkar apalagi melakukan kekerasan terhadap isteri di depan anak. Pada kasus tertentu hal tersebut membuat anak trauma dan lebih dekat ibunya dan lebih mengkasihani ibunya karena dianggap selama ini ibunya uayang merupakan sosok yang paling dekat disakiti dan dianiaya meski hanya dengan kata-kata.  Bila ibunya disakiti maka secara alamiah berati juga menyakiti si anak. Bila ini terjadi maka sosok ayah merupakan sosk negatif yang tidak nyaman untuk didekati. Bila hal itu sudah terlanjur terjadi sebaiknya dengan segera dekati anak , belai dan cium dan segera meminta maaf kapada anak terhadap segala kekerasan kata-kata atau fisik  terhadap ibunya.

  • Biasakan tidak membawa pekerjaan kantor ke rumah. Bila hal itu sering dilakukan maka akan mengurangi kualitas dan komunikasi komunikasi anda dengan anak. Pekerjaan kantor di rumah sering membuat anda malas untuk menyuap, mengganti popk dan menggendong bayi. Pekerjaan kantor yang memenumpuk  membuat anda segan bermain dan bercerita saat tidur. Bila perkerjaan kantor tidak bisa dihindari harus dikerjakan di rumah, utamakan anak daripada pekerjaan kantor. sebaiknya anda lebih mengutamakan perkejaan kantor hanya sat di kantor bukan di rumah.
Petunjuk penting bila tips tersebut dilakukan dalam waktu beberapa bulan maka anda akan merasakan hasilnya. Petunjuk positif yang dapat dilihat saat anak lebih dekat dengan ayahnya adalah
  • Bila menangis yang sebelumnya minta gendong ibunya sekarang anak berlari minta digendong ayahnya.
  • Saat pulang kerja anak berlari minta gendong paponya untuk minta ciuman
  • Bayi akan lebih tenang dan lebih nyaman digendong ayahnya dibandingkan digendong ibunya saat menangis lama.
  • Anak balita anda minta disuapin, minta dimandikan atau minta bobok dengan ayahnya.
  • Bila hal itu belum dilakukan berusahalah lebih keras lagi untuk melakukan beberapa tips tersebut di atas seraya seringkali meminta maaf  dan memberi kasih sayang yang lebih
“Hal-hal terbaik yang dapat anda berikan kepada anak-anak selain tingkah laku yang baik adalah kenangan yang indah.” SAVE OUR CHILDREN


  3 EKONOM INDONESIA   DAN PEMIKIRANNYA   3 tokoh ekonom Indonesia pasca-reformasi, sekedar sampling acak,   berfokus pada pemulihan kri...