Senin, 12 November 2018

Nilai Agama, Pancasila dan Kemajemukan Bangsa


Nilai Agama, Pancasila dan Kemajemukan Bangsa


Oleh : J. Chaniago, Pemerhati Masalah Budaya dan Kemajemukan Bangsa
 
 
Kita lahir di desa bahkan negara yang majemuk dengan beraneka ragam agama profesi dan lain sebagainya sehingga kita harus bisa menyikapi keanekaragaman tersebut dengan baik, karena sekarang ini ada beberapa indikasi yang akan memecah belah bangsa dan negara karena ada suatu perbedaan yang dibesar besarkan sehingga bisa menumbuhkan friksi yang akan menimbulkan konflik. Kondisi keberagaman ini merupakan kekayaan yang harus dijaga dan dilestarikan. 
Sejarah membuktikan bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia dapat terwujud karena persatuan Rakyat Indonesia. Sebagai contoh Rusia, dalam sejarah Rusia adalah Unisoviet, dimana mereka terpecah menjadi beberapa negara. Tapi seiring warga/masyarakatnya dapat bersatu, kini Rusia menjadi salah satu negara yang kuat.
Kita sebagai warga negara tidak bisa melupakan sejarah. Buat apa kita menjadi warga negara Indonesia jika tidak bisa menjadikan negara kita menjadi maju.
Learning outcome dalam menjaga wilayah kedaulatan NKRI, dengan luas wilayah 1,905 juta KM², dari data fakta Nusantara 7.870 pulau dan belum mempunyai nama 9.638 pulau yang harus kita jaga dan pertahankan. Potensi kekayaan bangsa yang sangat luar biasa, yang didominasi luasan wilayah lautan dan memiliki 1.128 etnis/suku, dengan perberbedaan agama, bahasa dan, budaya. Indonesia merupakan negara yang majemuk dan sangat pluralistik dan mempunyai dampak positif dan negatif yang sangat berkesinambungan.
Harus dipahami bahwa kita dalam berbangsa dan bernegara ada berbagai masalah dalam ideologis, persoalan keagamaan, persoalan etnisitas/suku, persoalan ekonomi, persoalan Pemerintahan, persoalan relasi internal dan antar agama dan persoalan relasi agama dengan negara.
Dalam menghadapi permasalahan permasalahan tersebut ada solusi-solusi diantaranya menjadikan Pancasila adalah titik temu atau solusi dari problem kebangsaan Indonesia; cinta negara sebagian dari bukti keimanan; mengutamakan isi daripada wadah; merawat tradisi yang baik, mengambil pembaharuan yang lebih baik dan tiap manusia memiliki pemikiran untuk melihat dan berbuat untuk kebaikan.
Dari satu sisi, perbedaan-perbedaan yang ada dilihat dan dinilai sebagai kekayaan bangsa dimana para penganut agama yang berbeda bisa saling menghargai atau menghormati, saling belajar, saling menimba serta memperkaya dan memperkuat nilai-nilai keagamaan dan keimanan masing-masing.
Perbedaan tidak perlu dipertentangkan,tetapi dilihat dan dijadikan sebagai pembanding, pendorong, bahkan penguat dan pemurni apa yang dimiliki. Kaum beriman dan penganut agama yang berbeda-beda semestinya bisa hidup bersama dengan rukun dan damai selalu,bisa bersatu, saling menghargai, saling membantu dan saling mengasihi.
Namun dalam sejarah kehidupan umat beragama, sering terjadi bahwa perbedaan keagamaan dan keimanan dijadikan sebagai pemicu atau alasan pertentangan dan perpecahan. Di banyak tempat, termasuk di Maluku, telah terjadi konflik berdarah dan berapi yang menelan banyak korban manusia dan harta benda, serta menghancurkan sendi-sendi kehidupan di pelbagai bidang, di lingkungan kita. Unsur-unsur keagamaan dijadikan sebagai pemicu dan sasaran penghancuran dalam konflik tersebut.
Namun kenyataannya, dalam perilaku atau tindakan orang-orang tertentu, entah dengan sengaja atau tidak, agama dipakai sebagai pemicu konflik dan perpecahan. Bahkan ada orang-orang tertentu yang menganggap dan menjadikan agama sebagai dasar alasan untuk tidak boleh hidup bersama atau harus hidup terpisah, tidak boleh berdamai atau rukun dengan orang yang berbeda agama. Bahkan ada anjuran untuk memusuhi dan membinasakan orang-orang yang beragama lain.
Kenyataan bahwa unsur-unsur keagamaan dijadikan sebagai pemicu serentak sasaran konflik, baik pada tingkat lokal dan nasional maupun internasional akhir-akhir ini, tentu memprihatinkan dan mencemaskan banyak orang, terutama bagi kita bangsa Indonesia umumnya, yang berciri majemuk. Persaudaraan, kekeluargaan, kerukunan, perdamaian dan ketenteraman serta kebersamaan, persekutuan dan kerjasama akan terancam, terganggu.
Disamping itu, tantangan kebangsaan secara internal adalah, masih lemahnya nilai agama, kefanatiisme kedaerahan yang begitu tinggi, kurang berkembangnya kebhinekaan, kurangnya keteladanan sikap perilaku sesama, tidak berjalannya penegakan hukum secara optimal. Tantangan secara eksternal adalah campur tangan budaya asing yang terlalu tinggi, konsep kapiltalisme yang jauh dari konsep demokrasi negara kita. Untuk itulah, kita sebagai generasi penerus memikul dan kita dituntut merawat serta menjaga NKRI.
Solusi
Berbicara tentang implementasi Pancasila, semua elemen bangsa perlu belajar ke NU yang sangat toleran dengan kemajemukan. NU mencanangkan pijakan berfikir dalam menyikapi banyaknya konflik, merujuk Imam Syafii, pendapat kita dimungkinkan salah, pendapat luar salah bisa dimungkinkan benar,oleh karena itu kita harus saling menghormati karena saat ini banyak saudara saudara kita yang belum sampai dengan ranah memahami keragaman itu. Kita harus bisa merajut kerukunan dalam perbedaan.
Metodologi pemikiran NU dalam menjaga kemajemukan yaitu tawassuth yaitu berada ditengah dan moderat/menghindari segala bentuk pendekatan dengan tatharruf (ekstrim); Tawazun yaitu sikap berimbang atau harmoni dalam berkhidmad demi terciptanya keserasian hubungan antar sesama umat manusia dan antara manusia dengan Alloh SWT; Taâdul (netral atau adil) dan toleran (tasâmuh) yaitu sikap toleran yang berintikan penghargaan terhadap perbedaan pandangan dan kemajemukan identitas budaya masyarakat. Metodologi pemikiran NU senantiasa menghidari sikap-sikap tatharruf (ekstrim). Inilah yang menjadi esensi identitas untuk mencirikan paham NU dengan sekte-sekte Islam lainnya. Dan dari prinsip metodologi pemikiran seperti inilah NU membangun keimanan, pemikiran, sikap, perilaku dan gerakan.
Prinsip yang harus dilakukan tegas dalam akidah, damai dalam kehidupan, toleransi sesama bangsa (Tasamuh), peduli tolong menolong (Taawun), kasih sayang (Marhamah) dan anti radikalisme atau kekerasan.

BERITA TERKAIT

 
 

RELIGIOSITAS: Menjadi Pribadi yang Berkualitas

RELIGIOSITAS: Menjadi Pribadi yang Berkualitas: Menjadi Pribadi yang Berkualitas KD: Memahami diri untuk menjadi pribadi yang berkualitas Pengantar §   Dalam perjalanan sejarah, ...



Menjadi Pribadi yang Berkualitas


Menjadi Pribadi yang Berkualitas
KD: Memahami diri untuk menjadi pribadi yang berkualitas
Pengantar
§  Dalam perjalanan sejarah, banyak tokoh dikenal memiliki pengaruh hebat dan mempesona. misalnya:
o    Gajah Mada à mempersatukan kerajaan Majapahit
o    Mahatma Gandhi à mengantarkan India sukses melawan penjajah tanpa kekerasan (non violence)
o    mother Theresa à kebaikannya kepada mereka yang terlantar
o    Gus Dur à keterbukaan terhadapan kemajemukan, kesederhanaan, dll.
§  Mereka adalah pribadi-pribadi yang berkualitas:
§  Memberikan pengaruh luar biasa kepada dunia
§  Memiliki cara hidup, cara berpikir, kemampuan, iman dan watak tertentu yang menunjukkan keunggulan diri à berguna bagi orang lain.
Arti
§   Menurut Oxford (the Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English yang disusun oleh AS Hornby) Kualitas didefinisikan sebagai : (1) kebaikan atau harga (2) sesuatu yang sangat istimewa, yang membedakan dengan sesorang atau sesuatu. (3) (zaman kuno) posisi social yang tinggi.
§  Dari definisi di atas, disimpulkan bahwa kualitas mengacu kepada sesuatu atau seseorang yang memiliki nilai positif dan khusus, yang biasanya ditampilkan dalam bentuk gabungan dari kredibiltas seseorang atau sesuatu tersebut. Dari kesimpulan di atas kita melihat bahwa ada lima unsur yang dapat ditemukan, yaitu : bernilai positif dan khusus; dimiliki oleh; Sesuatu atau Seseorang; penampilan; dan integrasi dari kedibilitas.
§  Bernilai Positif dan Khusus mengacu kepada kemampuan/ nilai yang berharga yang hanya dapat ditemukan di dalam sesuatu atau seseorang tersebut, dan biasanya mereka akan diterima dan dihargai oleh orang lain oleh karena kemampuan tersebut. Dimiliki oleh menjelaskan bahwa nilai yang ada tersebut berada pada sesuatu atau seseorang secara khusus/ tertentu dan bersifat berkembang secara permanen. Sesuatu atau Seseorang merujuk kepada obyek atau subyek yang memiliki nilai tersebut. Penampilan adalah ekspresi dari nilai-nilai yang ada yang muncul ke permukaan dalam bentuk penampilan dan atau perilaku seseorang. Integrasi (gabungan) dari Kredibilitas adalah bentuk dari ekspresi. Integrasi menggambarkan penggabungan dari semua kemampuan, watak, pengetahuan, dan segala sesuatu yang bernilai plus dari seseorang atau sesuatu.. Sementara itu, kredibilitas menunjukkan kemampuan, watak, pengetahuan, dan segala sesuatu yang bernilai plus dari seseorang atau sesuatu
§  Sebagai manusia yang hidup di dunia, kita dipanggil untuk menjadi pribadi yang berkualitas.
§  Kualitas yang harus dimiliki manusia adalah  relasi.  Relasi ini terbagi menjadi dua bagian yang besar yaitu :
Ø  relasi internal: relasi yang yang terjadi antara seseorang dengan dirinya sendiri,
Ø  relasi eksternal adalah relasi yang terjadi antara seseorang dengan pribadi diluar dirinya sendiri. Relasi ini dibagi dua yaitu :
o    relasi vertikal:
·         adalah relasi yang terbangun antara Allah dan Manusia (Arab: Hablum Minallah)
·         relasi ini merupakan relasi yang didasarkan kepada iman
·         Seorang pribadi yang memiliki relasi vertikal yang kuat akan memiliki sisi spiritual yang matang, sehingga mereka mampu berdiri dengan prinsip-prinsip yang benar berdasarkan ajaran agama, dan seorang pribadi yang berpengetahuan dan berperilaku baik akan mampu membangun sesuatu yang bernilai tinggi.
o    relasi horizontal
·         adalah relasi yang terjadi antara manusia dengan sesamanya (Arab: Hablum Minannas).
·         relasi ini adalah relasi yang terbangun karena adanya pengetahuan dan perilaku.
Langkah-langkah agar bisa menjadi pribadi yang berkualitas
§  Menjadi Pribadi yang berkualitas tidak mudah. ada tahapan yang harus diketahui:
Ø  Self-discovery adalah tahap dimana seseorang berusaha untuk menemukan keberadaan diri mereka yang sebenarnya, bagaimana karakter mereka dan hal-hal apa saja yang ditaruh Allah dalam hidup mereka. Pada tahapan ini seseorang cenderung untuk menyadari bahwa mereka adalah sosok yang unik dihadapan Allah.
Ø  Self-respect adalah tahap dimana seseorang memiliki kemampuan untuk menghargai diri mereka sendiri, tanpa peduli dengan apapun yang dikatakan orang tentang mereka. Seseorang tidak akan bisa menghargai diri mereka sendiri apabila mereka tidak bisa melihat potensi besar apakah yang Allah telah taruh dalam diri mereka.
Ø  self-understanding, ini adalah kemampuan seseorang untuk mengetahui apa yang menjadi kekuatan dan sekaligus kelemahan mereka. Self-understanding menolong seseorang untuk membangun kebijaksanaan diri, karena setelah mereka mengetahui apa yang menjadi kelemahan dan kekuatan diri mereka, mereka akan sanggup untuk membangun diri sendiri.
Ø  Self-confidence adalah kekuatan untuk melakukan sesuatu, tanpanya semua kebijaksanaan akan tidak berguna. Kebijaksanaan harus di terapkan, dan kita tahu untuk menerapkan kebijaksanaan orang membutuhkan kepercayaan diri.
Ø  Self-responsibility adalah tahapan dimana seseorang bersedia untuk melihat apa yang telah mereka lakukan dan belajar bertanggung jawab atas apa yang telah mereka lakukan. Mereka menyadari bahwa segala sesuatu yang mereka lakukan harus dipertanggungjawabkan. Kejujuran adalah kunci dari keberhasilan tahapan ini.
Ø  Self-development adalah tahap untuk mengembangkan kemampuan diri. Seseorang hanya menggunakan 60% dari potensinya dan 10% dari kemampuan otaknya, apabila kita mampu mengembangkan sisa dari kemampuan potensi dan otak kita, akan menjadi manusia seperti apakah kita nantinya.
Ø  Self-fulfilment adalah tahapan dari pengfokusan semua tahapan yang telah dikerjakan kepada masa depan. Tahapan ini menolong seseorang untuk merencanakan dan mempersiapkan segala sesuatu dari kehidupan mereka di masa datang. Apa yang mereka
§  langkah yang  bisa ditempuh:
1.       learning by listening. Adalah proses pemebelajaran dengan menggunakan telingansebagai media. Sebagai contoh : mendengarkan radio, kuliah, pelajaran, dll. L
2.       Learning by seeing. Adalah proses pembelajaran dengan menggunakan mata sebagai media. Contohnya :membaca buku; melihat televisi; dll.
3.        learning by discussing. Adalah proses belajar yang dilakukan didalam sebuah kelompok yang berisi lebih dari dua orang. Sebagai conoth : diskusi panel, sharing.
4.       learning by experiencing/doing. Adalah proses dari pembelajaran yang hanya bisa dilakukan apabila seseorang tersebut bersedia untuk masuk kedalamm kondisi-kondisi tertentu. Sebagai contoh : berlatih komputer; menggambar, dll.
Unsur Pendukung Terwujudnya Pribadi yang Berkualitas
§  memiliki gambaran akan masa depan yang ideal, jelas, besar dan mulia
§  memiliki sasaran/ targert yang menunjang
§  memiliki strategi
§  melakukan aksi à langkah nyata yg dilakukan utk mencapai sasaran
§  mereflesikan kemajuan dan kemunduran
Unsur Penghambat
§  mentalitas meremehkan mutu
§  mentalitas suka menerabas
§  bernafsu untuk mencapai hasil secara cepat
§  tidak PD, minder, inferior
§  tidak disiplin
§  suka mengkambinghitamkan

Pandangan Agama-agama Berkenaan dengan Pribadi yang Berkualitas
1.       Hindu
§  ketika di dalam hidup manusia melakukan sesuatu dengan tergersa-gesa atau terburu nafsu, kadang-kadang akan mengakibatkan kehancuran. Demikian juga jika marah atau putus asa akan mengakibatkan dan ketidakselarasan.
§  sabar dan tahan uji adalah dasar perasaan hati yang normal dari manusia.
§  orang yang berkualitas adalah orang yang samapai pada jiwa mukta yaitu perasaan hatinya berkembang, dikuasai cinta yang mendalam, dan akhirnya mencapai jiwa mukti (kebebsan rohan)
2.       Budha
§  Bagi sang Budha, Murid Budha yang baik adalah mereka yang siap berkorban, mengabdi kepada yang menderita.
§  Mereka dikatakan baik karena motivasinya adalah dharma duta: memberikan pengabdian kepada Budha. Mereka memberikan pelayanan bukan meminta pelayanan
3.       Katolik
§  Sebagai orang percaya kita memiliki beberapa alasan yang membuat kita perlu menjadi sosok yang berkualitas, yaitu :
o    Orang percaya dipanggil untuk bersaksi kepada dunia. Sebagai garam dan terang dunia (Matthew 5 :13-16),
o    Orang percaya dipanggil untuk menyatakan keberadaan Kerajaan Allah di atas dunia. Hal ini berarti orang kristen harus mampu merubah pola hidup yang ditawarkan oleh dunia, orang percaya dapat membuat sebuah budaya tandingan/ pola hidup yang mempermuliakan Tuhan.
§  Orang percaya menghadapi tantangan dari dunia, yang menghalangi berkembangnya kualitas. Kita tahu bahwa di atas dunia ini berlaku hukum “ siapa yang kuat dialah yang bertahan”, hal ini berarti bahwa setiap orang yang tidak bisa berdiri tegak dalam kompetisi akan tersingkirkan.
4.       Kristen
§  Orang yang berkualitas menurut agama Kristen adalah berusaha hidup seperti Kristus  (Imitatio Christi) à Yoh 14:12; 1 Yoh 2:6
5.       Islam
§  Islam mengajarkan bahwa setiap manusia di dunia ini mengemban 2 tugas:
o    tugas kehambaan:
§  merupakan tugas setiap manusia yg diciptakan untuk mengabdi kepada Allah SWT
§  yang termasuk tugas kehambaan: ajaran Allah yang bersifat langsung kepada manusia, mis: sholat, zakat, puasa dan haji.
o    tugas kemasyarakatan
§  merupakan tugas yang diemban manusia dalam kaitannya dengan manusia.
§  dasar dari tugas ini; lillahi ta’ala: sikap tulus. semua amal kebaikan manusia tidak ada artinya di hadapan Allah bila tidak ada sikap ini.

Jumat, 26 Oktober 2018

KUALITAS HIDUP ORANG PERCAYA

KUALITAS HIDUP ORANG PERCAYA 

Efesus 6:1-9

Taat dan kasih
6:1 Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. 6:2 Hormatilah ayahmu dan ibumu--ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: 6:3 supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi. 6:4 Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. 6:5 Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus, 6:6 jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah, 6:7 dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia. 6:8 Kamu tahu, bahwa setiap orang, baik hamba, maupun orang merdeka, kalau ia telah berbuat sesuatu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan. 6:9 Dan kamu tuan-tuan, perbuatlah demikian juga terhadap mereka dan jauhkanlah ancaman. Ingatlah, bahwa Tuhan mereka dan Tuhan kamu ada di sorga dan Ia tidak memandang muka.


Efesus 6:1-9

Nas ini berisi nasihat-nasihat yang sifatnya praktis atau aplikatif. Konkretnya: nasihat tentang bagaimana seharusnya masing-masing anggota keluarga, khususnya orang tua (ayah dan ibu), anak-anak, dan para pekerja menjalankan peran mereka sehingga idealisme tentang keluarga yang sehat dan harmonis itu dapat terealisasi. Manusia adalah makhluk sosial maka mau tidak mau komunikasi menjadi hal yang  penting bagi kehidupan manusia.

1. Sikap Orang Tua (ayah dan ibu)

Dalam Efesus 6:4. Rasul Paulus berkata bahwa para ayah harus mendidik anak-anaknya "di dalam ajaran dan nasihat Tuhan." Para ayah Kristen yang melakukan hal ini akan menunjukkan bahwa mereka berbeda dari ayah-ayah yang lain, dan taat pada kehendak Allah. Alangkah baiknya bila anak-anak kita diasuh oleh ayah dan ibu yang mengasihi Tuhan! Jika orangtua tak punya waktu untuk membangun komunikasi dan memberi perhatian yang cukup untuk anak, dengan alasan harus bekerja keras demi masa depan anak. Sikap ini justru secara langsung menunjukkan sikap egois orangtua. Jika orangtua rindu anak-anak tetap hormat, peduli, dan mengasihi, sejak dini orangtua harus membangun kasih dan kepedulian. Bukan dengan kasih materialistis membanjiri anak-anak dengan materi tanpa kehadiran orang-tua.

Dalam bukunya yang berjudul “How to really love your child”, Ross Campbell menulis, “Aku sangat heran, betapa banyak orangtua menghabiskan beribu-ribu dolar dan berbuat apa saja demi memastikan anak-anak mereka dipersiapkan pendidikannya secara sempurna. Namun demikian, dalam persiapan yang terpenting, yaitu perjuangan rohani dalam penemuan makna kehidupan, seorang anak dibiarkan mempertahankan dirinya sendiri sehingga mudah menjadi mangsa kuasa kegelapan.” Apakah kita sebagai orangtua berada dalam kelompok yang disebut Ross Champbell? Sebagai orangtua kita mempunyai tanggungjawab utama.

Setiap tahun orang Amerika membelanjakan hampir 24 miliar dollar untuk anak-anaknya. Sebagian besar uang itu memang digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok mereka, namun bermiliar-miliar sisanya dihabiskan untuk membeli "barang-barang" dalam iklan yang tak ada habisnya, seperti boneka Furbie, Barbie, Beanie, serta CD dan TV. Salahkah kita bila membelanjakan uang sebanyak itu untuk anak-anak? Sulit untuk menjawabnya. Namun pertanyaan yang lebih sulit lagi ialah: Apakah para orangtua membelanjakan uang seperti itu supaya mereka tak perlu menyediakan waktu bagi anak-anak? Sebuah penelitian yang dilaporkan The Wall Street Journal memberi kesan demikian: Sebagian besar anak-anak berusia 10 dan 11 tahun di Amerika memiliki TV di kamar dan dapat menonton apa saja yang mereka inginkan.

Sebenarnya yang menjadi masalah bukanlah uang, melainkan alasan di baliknya. Apakah dengan uang itu para orangtua bermaksud memberi hiburan, memanjakan, dan membeli kasih sayang anak-anak mereka? Atau, maukah mereka mendidik anak-anak dalam kesalehan? Hal ini membutuhkan petunjuk yang cermat dari Alkitab.  Dibutuhkan waktu untuk mendidik orang muda (Amsal 22:6). Dibutuhkan ketekunan untuk mendisiplin anak. Dibutuhkan usaha untuk mengajarkan prinsip-prinsip Allah (Ulangan 4:9). Dibutuhkan hikmat untuk dapat bersikap adil (Efesus 6:4; Kolose 3:21). Dibutuhkan kerajinan untuk mengurus keluarga dengan baik (1 Timotius 3:12). “Hadiah terbaik yang dfapat diberikan bagi anak Anda adalah waktu Anda.”

Paul Lee Tan melaporkan data tentang pengakuan dan penerimaan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat seperti ini:
· 1 dari 10 orang menerima Yesus sebelum mencapai usia 25 tahun
· 1 dari 10.000 orang menerima Yesus setelah usia 25 tahun
· 1 dari  50.000 orang menerima Yesus setelah usia 35 tahun
· 1 dari  200.000 orang menerima Yesus setelah usia 45 tahun
· 1 dari 300.000 orang menerima Yesus setelah usia 55 tahun
· 1 dari 500.000 orang menerima Yesus setelah usia 65 tahun
· 1 dari 700.000 orang menerima Yesus setelah usia 75 tahun
Setidaknya data tersebut  mengingatkan dan menggugah kesadaran kita untuk sedini mungkin memberikan perhatian akan pertumbuhan rohani anak – anak  dan anggota keluarga kita lainnya sebelum semuanya menjadi terlambat. “Memberi teladan yang serupa dengan Kristus adalah hadiah terbesar seorang ayah bagi anak-anaknya.” Sebagai orangtua kita juga diperintahkan untuk konsisten “melakukan apa yang baik dan benar di mata Tuhan” (ayat 18), yang didalamnya terkandung pengertian bahwa pengaruh kuat hanya dimungkinkan melalui keteladanan hidup orangtua. Para orangtua harus memberi teladan untuk dilihat anak-anaknya, bukan sekedar memberikan peraturan-peraturan untuk dipatuhi. Sebagai orangtua, kita adalah cermin bagi anak-anak kita dan merupakan contoh/model kongkrit bagi mereka bagaimana iman dan kehidupan sehari-hari menyatu. Apa yang mereka lihat dalam diri kita adalah cermin yang menunjukkan siapa mereka dan akan menjadi  apa mereka. 

Kita adalah cermin istimewa dan tidak ada duanya, sebuah cermin dengan perasaan, penilaian dan akal. Ketika anak-anak kita berkaca  ke arah kita untuk mencari identitasnya dan kesannya akan dunia, mereka melihat pantulannya yang telah disaring melalui sistem nilai kepercayaan kita. Efesus 6: 4, “…jangan bangkitkan amarah dii dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka dii dalam ajaran clan nasihat Tuhan.”

Ada dua prinsip penting yang menonjol dalam Alkitab tentang pendidikan rohani anak. Pertama, dari rumahlah pertama-tama tanggungjawab untuk memperkenalkan pengajaran kristen itu harus diberikan. Kedua, pengajaran iman yang efektif pertama-tama harus dinyatakan melalui tindakan dan keteladanan, baru kemudian dengan kata-kata. Keteladanan orangtua, pengalaman sehari-hari dan keikutsertaan dalam ibadah merupakan bahan dasar untuk memperkenalkan anak pada konsep-konsep berkenaan tentang Allah.

2. Sikap Anak

Alanda Kariza adalah putri pejabat bank yang terlilit kasus hukum dan terancam 10 tahun penjara dan denda 10 miliar. Di blognya, Kariza menulis demi mendapat opini teman-temannya tentang ketidakadilan yang dialami ibunya. Namun, ia justru kebanjiran simpati dan dukungan. Ketika ditanya apa cita-citanya, Kariza hampir selalu menjawab: “Saya ingin membuat Ibu bangga dengan terus berprestasi.”

Adalah suatu keharusan bagi anak untuk menghormati kedua orangtuanya karena orangtua bertindak sebagai wakil Tuhan untuk anak-anaknya dalam hal mengasihi, memelihara, mengasuh dan juga memperhatikan.  Itulah sebabnya firman Tuhan memerintahkan agar anak-anak memiliki rasa hormat dan takut kepada orangtuanya seperti umat takut kepada Tuhan. Takut akan Tuhan mempunyai arti segan dan hormat.  Bukan rasa takut seperti seorang anak yang telah mencuri uang dan kepergok ayah ibunya.  Atau seorang pencuri yang takut terhadap polisi dan sebagainya.  Tetapi rasa takut ini menyebabkan anak-anak bersikap sebaik mungkin kepada orangtuanya supaya jangan sampai membuat kesalahan dan menyakiti hatinya, takut jangan sampai berbuat dosa kepadanya.

Sudah sepantasnya bila anak menghormati orangtua dan takut kepadanya, sebab memang orangtua adalah orang-orang yang sangat terhormat bagi anak-anak, ibarat pahlawan tanpa tanda jasa yang setiap saat siap menolong, melindungi dan mencintai kita lebih dari pada semua orang lain di dunia ini.  Oleh karenanya anak-anak harus takut, hormat dan selalu taat kepada mereka.  Di zaman sekarang ini banyak anak memberontak dan melawan orangtua, bahkan cenderung meremehkan dan merendahkan mereka.  Salomo memberi nasihat,  "Dengarkanlah, hai anak-anak, didikan seorang ayah, dan perhatikanlah supaya engkau beroleh pengertian, karena aku memberikan ilmu yang baik kepadamu; janganlah meninggalkan petunjukku."  (Amsal 4:1-2).

Tuhan sangat benci terhadap anak yang tidak menghormati orangtuanya.  Alkitab menyatakan:  "Terkutuklah orang yang memandang rendah ibu dan bapanya."  (Ulangan 27:16a).  Contohnya Absalom.  Ia menjadi orang yang berhasil dan memiliki segalanya (fasilitas dan harta) karena bapanya (Daud).  Sayang, setelah dewasa ia malah mengusir bapanya sendiri dan hendak membunuhnya. Hidup Absalom pun berakhir tragis sebagai akibat ia berlaku kurang ajar dan tidak menghormati ayahnya! 

Apabila kita tidak mempersiapkan anak-anak kita dengan baik maka di hari depan mereka menjadi generasi yang berperilaku buruk.“Satu generasi di bawah kita selalu terancam menjadi kafir.Jika satu generasi gagal meneruskan obor iman, maka generasi berikutnya takkan mengenal Allah dan akan hidup dengan mengabaikan kehendakNya.” Ada sebuah sajak yang menggambarkan tugas dan panggilan orangtua dalam pendidikan rohani anak: “Bangunlah, namun bukan hanya untuk hari iniBangunlah dengan batu cadas dan perkokohlah kerangka di dalamnya agar pada tahun-tahun mendatang anak cucumu akan melihat dan mengecap dan berkata dengan hormat dan cinta “lnilah bebatuan yang sudah disusun orangtua kami Inilah bangunan Yang sudah dibangun orangtua kami.”

3. Sikap Majikan

Saat Truett Cathy memulai usaha restoran pertamanya pada tahun 1946, restoran selalu itu tutup pada hari Minggu untuk memberi waktu bagi para karyawannya berkumpul bersama keluarga dan pergi ke gereja. Hal itu masih berlaku sampai sekarang, pada lebih dari 1.000 gerai cepat saji Chick-fil-A milik perusahaan Cathy. Semboyan Cathy adalah "utamakan orang dan prinsip dulu, baru keuntungan". Semboyan ini dapat diterapkan pada diri kita sendiri, baik saat memberikan perintah maupun saat mempekerjakan seseorang. Rasul Paulus berpesan kepada para majikan dan hamba. Menurutnya, kita perlu ingat bahwa kita mempunyai Tuan di surga.

Kepada tuan-tuan (majikan) diperingatkan juga. “ Dan kamu tuan-tuan, perbuatlah demikian juga terhadap mereka dan jauhkanlah ancaman. Ingatlah, bahawa Tuhan mereka dan Tuhan kamu ada di Sorga dan Tuhan tidak memandang muka.” (Efesus 6:9). “Hai tuan-tuan berlakulah adail dan jujur terhadap hambamu; ingatlah, kamu juga mempunyai tuan di Sorga.” (Kolose 4:1). Sebagai orang yang percaya kepada Yesus Kristus, wajiblah kita mentaati perintah-perintah ini.

Orang kadang berlomba-lomba melakukan ibadah ritual pada hari atau bulan tertentu, tetapi lalai atas kehidupan sosialnya. Ibadah terus berjalan, namun korupsi, kolusi, dan segala bentuk penyimpangan terus dilakukan. Perilaku buruk para pemimpin atau majikan bisa berdampak pada nasib para pekerja bawahan. Para pekerja tidak mendapatkan teladan yang baik. Pada akhirnya, para pekerja juga akan menghalalkan segala cara untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan.

Berbagai permasalahan yang dihadapi Indonesia adalah bencana yang timbul akibat dosa manusia. Para pemimpin, katanya, sering melakukan perbuatan dosa yang merugikan rakyat.Beragam bencana yang menimpa negeri ini tampaknya belum menyadarkan para pemimpin dan para elit untuk berintropeksi. Bahkan mereka tetap larut dalam korupsi, kolusi, dan berbagai bentuk penyimpangan lainnya yang merugikanpin, majikan atau tuan, kita juga harus bersikap serupa yaitu dengan takut dan gentar kepada Tuhan, tidak memperlakukan bawahan seperti binatang, tapi perlakukanlah mereka tanpa memandang muka, karena Tuhan di Sorga juga memperlakukan setiap manusia adalah sama, baik hamba maupun tuan.

Ingatlah kisah tentang Lazarus yang miskin dan orang kaya dimana orang kaya memperlakukan Lazarus seperti seekor binatang (Lukas 16:19-31) dan tidak ada belas kasihan kepadanya untuk memperlakukan Lazarus seperti layaknya seorang manusia. Orang kaya tersebut akhirnya mendapat penderitaan yang kekal setelah mengalami kematian. Menghormati sesama dan memperlakukannya dengan baik, entah bawahan maupun atasan, baik orang miskin maupun kaya, baik muda maupun tua, dan lain sebagainya akan dapat menjadikan hidup kita lebih berarti karena akan menjadi berkat bagi orang lain dan damai sejahtera tercipta diantara umat Tuhan yang melakukan hal demikian.

4.Sikap Para Pekerja 

Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus,” (Efesus 6:5). Secara sederhana ayat ini mengajar kita untuk taat kepada pimpinan di perusahaan atau kepada majikan kita, sehingga apa pun tugas yang diberikan akan kita kerjakan tanpa adanya keluh kesah atau gerutu. Sebagai seorang pekerja Kristen kita harus memiliki rasa hormat dan taat kepada siapa pun yang memegang tampuk kepemimpinan, “…sama seperti kamu taat kepada Kristus,  jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah,”(Efesus 6:5-6).

Di dunia kerja, keberadan orang Kristen dengan orang dunia hampir-hampir setali tiga uang, susah membedakannya dan hampir-hampir tidak ada perbedaan yang mencolok dalam hal nilai dan etika kerja. Kadang orang-orang dunia justru lebih baik dibanding anak-anak Tuhan. Para pekerja Kristen seringkali tidak menunjukkan kualitas sebagai karyawan yang baik. Ketika berada di gereja, kita seolah-oleh berkomitmen penuh untuk menerapkan nilai-nilai firman Tuhan. Tetapi saat di tempat kerja, kita bertindak dan menganut cara-cara kerja duniawi yang sarat dengan kecurangan, rekayasa, kemalasan, serta menghalalkan segala cara.

Pengaruh dunia ini begitu kuat, sehingga banyak pekerja Kristen yang malah menjadi batu sandungan dan tidak lagi menjadi berkat bagi orang-orang di sekitarnya. Firman Tuhan jelas menyatakan, “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”Dalam segala hal kita harus menjadi pekerja teladan dan bisa dibanggakan atasan kita. Namun, haruskah kita menaati pimpinan kita bila mereka memerintahkan kita untuk melakukan sesuatu yang salah, tidak etis dan bertentangan dengan firman Tuhan? Tidak! Kita harus dengan tegas menolaknya, meskipun itu membawa konsekuensi. Ada tertulis, “…kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia.” (Kisah 5:29). Bila kita tidak menjadi teladan dalam hal pekerjaan berarti kita gagal dalam mengemban tugas sebagai ‘terang’. (Matius 5:16). AMIN. 
 
 
“Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: "Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya." Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya atas mereka Ia memberkati mereka.” (Markus 10 : 14 – 16)
Ketika seorang anak diserahkan kepada Tuhan atau dibabtis pastilah orangtua akan mendapatkan nasehat dari pendeta tentang tugas dan tanggungjawab orangtua dalam mendidik anak-anak sampai mereka dewasa. Banyak hal yang bisa dilakukan orangtua untuk membekali anak-anaknya agar kelak setelah mereka dewasa bisa mandiri dan memiliki tanggungjawab.
Dalam Amsal 29:17 dituliskan “Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu.” Di tengah situasi dan kondisi seperti sekarang ini, banyak orangtua yang mempercayakan pendidikan anaknya kepada sekolah atau ke tempat penitipan anak. Ketika anak berada di rumah dengan orangtua, interaksi antara anak dan orangtua sangat jarang terjadi. Orangtua sudah lelah bekerja seharian, waktu untuk mendidik anak sudah tidak ada lagi karena sudah waktunya tidur malam.
Di dunia pendidikan kita saat ini ada dikenal pendidikan anak usia dini (PAUD) ada pendidikan dasar, pendidikan menengah dan akhirnya masuk ke perguruan tinggi. Banyak orang berpikir bahwa pendidikan untuk anak itu dimulai ketika anak sudah bisa sedikit berkata-kata dan sedikit menangkap apa yang kita maksudkan, bahkan tidak jarang ada orang tua yang mendidik anaknya ketika anaknya dirasa sudah cukup besar.
Tak perlu heran kalau ada orangtua saat ini yang memaksakan kehendaknya kepada anak. Sejak usia lima tahun sudah dipaksakan untuk belajar ini dan itu, dipaksa harus bisa ini dan itu. Kadang-kadang kita tak menyadari bahwa cara kita memaksakan anak untuk bisa cepat tahu menulis, membaca dan berhitung akan berdampak pada mental si anak.
Pendidikan bagi anak-anak itu sebenarnya sudah dimulai pada waktu anak masih berada dalam kandungan ibunya dan masih berwujud janin. Ini bukan sebuah mitos, sebab dalam dunia medispun ditemukan bahwa suasana hati ibu yang sedang hamil sangat mempengaruhi bayi yang dikandungnya. Jika ibu yang hamil itu tidak menghendaki kelahiran bayinya, maka jika anak itu lahir, kelak anak itupun akan bertumbuh menjadi anak yang tertolak.
Jangan pernah berpikir bahwa anak kita yang masih kecil tidaktahu apa-apa. Justru mereka sangat peka untuk menangkap semua informasi dan semua perbuatan yang kita lakukan. Ingatlah bahwa anak merupakan titipan dan anugerah yang Tuhan percayakan kepada kita.
Sebab itu jadilah orang tua yang bijak sana dan bertanggungjawab atas anak kita. Sekalipun ada beberapa di antara kita yang terlambat dalam memberikan pendidikan kepada anak, jauh lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Berikan waktu yang lebih lagi untuk anak-anak kita.
Seperti ayat firman Tuhan di awal renungan ini, Yesus berkata “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku.” Apakah anak-anak bisa menjalin hubungan yang berarti dengan Tuhan? Banyak kisah menceritakan tentang anak-anak yang walaupun masih sangat kecil, sudah menyerahkan diri kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh, dan penyerahan itu ternyata tidak menjadi luntur.
Sekolah Minggu
Ketika melihat sebuah ibadah di salah satu gereja, biasanya gereja itu memberlakukan sekolah minggu bagi anak-anak dilaksanakan pagi hari atau di beberapa gereja yang memiliki gedung dan ruangan cukup, ibadah untuk anak sekolah minggu akan dipisahkan di sebuah ruangan.
Akan tetapi, ada juga orangtua yang kurang sungguh-sungguh untuk mengajak anaknya sekolah minggu. Saat ibadah untuk orang dewasa, orangtua mengajak anaknya ikut serta dan membiarkan anaknya duduk manis di dalam ibadah orangtua. Padahal, gereja itu telah menyediakan kelas sekolah minggu untuk Batita, Balita, anak-anak yang sudah sekolah dan anak remaja.
Ajakan Tuhan Yesus  “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepadaKu.” ( Matius 19:14 ) harus benar-benar kita renungkan, terutama kepada keluarga yang memiliki anak-anak. Anak-anak selalu tertarik kepada Tuhan Yesus dan Ia tidak pernah menyuruh mereka menunggu sampai mereka benar-benar mengerti dulu tentang konsep teologia sebelum boleh datang kepada-Nya. Ia juga tidak menegor mereka sebaliknya, “Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka. “ ( Matius 19:15 ).
Anak-anak mempunyai tempat istimewa dalam hati Tuhan. Sambil memanggil seorang anak, Tuhan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga.” ( Matius 18:4)
Yesus menjadi marah ketika murid-murid-Nya menghalang-halangi anak-anak datang kepada-Nya (Markus 10:14). Barangkali murid-murid mengira bahwa ada ha-hal yang lebih penting yang akan dikerjakan oleh Tuhan mereka dan mereka tidak ingin Dia diganggu oleh anak-anak itu. Betapa sering kita telah menghalangi anak-anak datang kepada Tuhan? Berapa sering kita telah tengelam dalam hal-hal yang kita anggap “lebih penting” dari pada membawakan mereka kepada Tuhan.
Terkadang, orangtua lupa tanggungjawabnya untuk mengajak anak-anak datang kepada Tuhan. Mengajak anak-anak ikut serta bersekutu dengan Tuhan. Atau mengajak anak-anak untuk mengadakan ibadah kecil bersama keluarga di rumah. Mengajar anak-anak untuk rajin membaca firman Tuhan dan memberikan penjelasan kepada anak-anak tentang pengertian firman yang mereka baca.
Dunia ini semakin jahat terhadap anak-anak Tuhan. Banyak acara saat ini yang sengaja digelar pada hari-hari kita beribadah. Banyak orangtua saat ini yang memaksakan anaknya untuk ikut sebuah kontes kecantikan atau perlombaan menggambar tepat pada hari wakti ibadah. Orangtua memaksakan kehendak kepada anak agar bisa mendapat prestasi.
Prestasi sehebat apa pun yang dimiliki anak kita kalau anak yang kita didik dan besarkan itu tidak mengenal Tuhan sama saja dengan sia-sia. Anak yang sejak kecil telah kita didik untuk selalu berkompetisi, dan tak pernah kita ingatkan dengan firman Tuhan, kelak setelah mereka dewasa mereka akan merasa bahwa dirinyalah yang paling hebat.
Kita harus menyadari bahwa tidak ada di antara kita yang mampu menyelamatkan diri kita sendiri walau sebagian orang mengira bahwa mereka lebih cerdik daripada orang lain, bahwa mereka bisa akal-akalan dengan Allah, mereka bisa mencari jalan menuju keselamatan lewat usaha sendiri. Itu adalah pemikiran duniawi. Dan saat ini pemikiran seperti itu sudah mulai bermunculan. Ada banyak orang saat ini yang merasa paling kaya, merasa paling pintah dan hebat.
Kita tak pernah menyadari bahwa segala sesuatu yang kita dapatkan itu adalah berkat dari Tuhan. Kerajaan Allah hanya buat mereka yang menyadari bahwa mereka memang sepenuhnya tidak mampu, mereka tidak berdaya saat berhadapan dengan perkara rohani, seperti bayi-bayi yang menghadapi realita kehidupan.
Kasih karunia Allah adalah tempat kita bergantung sepenuhnya, bukan hanya pada saat kita pertama kali percaya, akan tetapi kita memerlukan kasih karunia-Nya yang memberi kekuatan bagi kita untuk menjalani kehidupan iman kita setiap hari. Amin.

Biarkan Anak-anak itu Datang Kepada-Ku

Sabtu, 26 April 2014 | Dibaca 3593 kali 
Oleh: Jekson Pardomuan.  “Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: "Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya." Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya atas mereka Ia memberkati mereka.” (Markus 10 : 14 – 16)
Ketika seorang anak diserahkan kepada Tuhan atau dibabtis pastilah orangtua akan mendapatkan nasehat dari pendeta tentang tugas dan tanggungjawab orangtua dalam mendidik anak-anak sampai mereka dewasa. Banyak hal yang bisa dilakukan orangtua untuk membekali anak-anaknya agar kelak setelah mereka dewasa bisa mandiri dan memiliki tanggungjawab.
Dalam Amsal 29:17 dituliskan “Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu.” Di tengah situasi dan kondisi seperti sekarang ini, banyak orangtua yang mempercayakan pendidikan anaknya kepada sekolah atau ke tempat penitipan anak. Ketika anak berada di rumah dengan orangtua, interaksi antara anak dan orangtua sangat jarang terjadi. Orangtua sudah lelah bekerja seharian, waktu untuk mendidik anak sudah tidak ada lagi karena sudah waktunya tidur malam.
Di dunia pendidikan kita saat ini ada dikenal pendidikan anak usia dini (PAUD) ada pendidikan dasar, pendidikan menengah dan akhirnya masuk ke perguruan tinggi. Banyak orang berpikir bahwa pendidikan untuk anak itu dimulai ketika anak sudah bisa sedikit berkata-kata dan sedikit menangkap apa yang kita maksudkan, bahkan tidak jarang ada orang tua yang mendidik anaknya ketika anaknya dirasa sudah cukup besar.
Tak perlu heran kalau ada orangtua saat ini yang memaksakan kehendaknya kepada anak. Sejak usia lima tahun sudah dipaksakan untuk belajar ini dan itu, dipaksa harus bisa ini dan itu. Kadang-kadang kita tak menyadari bahwa cara kita memaksakan anak untuk bisa cepat tahu menulis, membaca dan berhitung akan berdampak pada mental si anak.
Pendidikan bagi anak-anak itu sebenarnya sudah dimulai pada waktu anak masih berada dalam kandungan ibunya dan masih berwujud janin. Ini bukan sebuah mitos, sebab dalam dunia medispun ditemukan bahwa suasana hati ibu yang sedang hamil sangat mempengaruhi bayi yang dikandungnya. Jika ibu yang hamil itu tidak menghendaki kelahiran bayinya, maka jika anak itu lahir, kelak anak itupun akan bertumbuh menjadi anak yang tertolak.
Jangan pernah berpikir bahwa anak kita yang masih kecil tidaktahu apa-apa. Justru mereka sangat peka untuk menangkap semua informasi dan semua perbuatan yang kita lakukan. Ingatlah bahwa anak merupakan titipan dan anugerah yang Tuhan percayakan kepada kita.
Sebab itu jadilah orang tua yang bijak sana dan bertanggungjawab atas anak kita. Sekalipun ada beberapa di antara kita yang terlambat dalam memberikan pendidikan kepada anak, jauh lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Berikan waktu yang lebih lagi untuk anak-anak kita.
Seperti ayat firman Tuhan di awal renungan ini, Yesus berkata “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku.” Apakah anak-anak bisa menjalin hubungan yang berarti dengan Tuhan? Banyak kisah menceritakan tentang anak-anak yang walaupun masih sangat kecil, sudah menyerahkan diri kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh, dan penyerahan itu ternyata tidak menjadi luntur.
Sekolah Minggu
Ketika melihat sebuah ibadah di salah satu gereja, biasanya gereja itu memberlakukan sekolah minggu bagi anak-anak dilaksanakan pagi hari atau di beberapa gereja yang memiliki gedung dan ruangan cukup, ibadah untuk anak sekolah minggu akan dipisahkan di sebuah ruangan.
Akan tetapi, ada juga orangtua yang kurang sungguh-sungguh untuk mengajak anaknya sekolah minggu. Saat ibadah untuk orang dewasa, orangtua mengajak anaknya ikut serta dan membiarkan anaknya duduk manis di dalam ibadah orangtua. Padahal, gereja itu telah menyediakan kelas sekolah minggu untuk Batita, Balita, anak-anak yang sudah sekolah dan anak remaja.
Ajakan Tuhan Yesus  “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepadaKu.” ( Matius 19:14 ) harus benar-benar kita renungkan, terutama kepada keluarga yang memiliki anak-anak. Anak-anak selalu tertarik kepada Tuhan Yesus dan Ia tidak pernah menyuruh mereka menunggu sampai mereka benar-benar mengerti dulu tentang konsep teologia sebelum boleh datang kepada-Nya. Ia juga tidak menegor mereka sebaliknya, “Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka. “ ( Matius 19:15 ).
Anak-anak mempunyai tempat istimewa dalam hati Tuhan. Sambil memanggil seorang anak, Tuhan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga.” ( Matius 18:4)
Yesus menjadi marah ketika murid-murid-Nya menghalang-halangi anak-anak datang kepada-Nya (Markus 10:14). Barangkali murid-murid mengira bahwa ada ha-hal yang lebih penting yang akan dikerjakan oleh Tuhan mereka dan mereka tidak ingin Dia diganggu oleh anak-anak itu. Betapa sering kita telah menghalangi anak-anak datang kepada Tuhan? Berapa sering kita telah tengelam dalam hal-hal yang kita anggap “lebih penting” dari pada membawakan mereka kepada Tuhan.
Terkadang, orangtua lupa tanggungjawabnya untuk mengajak anak-anak datang kepada Tuhan. Mengajak anak-anak ikut serta bersekutu dengan Tuhan. Atau mengajak anak-anak untuk mengadakan ibadah kecil bersama keluarga di rumah. Mengajar anak-anak untuk rajin membaca firman Tuhan dan memberikan penjelasan kepada anak-anak tentang pengertian firman yang mereka baca.
Dunia ini semakin jahat terhadap anak-anak Tuhan. Banyak acara saat ini yang sengaja digelar pada hari-hari kita beribadah. Banyak orangtua saat ini yang memaksakan anaknya untuk ikut sebuah kontes kecantikan atau perlombaan menggambar tepat pada hari wakti ibadah. Orangtua memaksakan kehendak kepada anak agar bisa mendapat prestasi.
Prestasi sehebat apa pun yang dimiliki anak kita kalau anak yang kita didik dan besarkan itu tidak mengenal Tuhan sama saja dengan sia-sia. Anak yang sejak kecil telah kita didik untuk selalu berkompetisi, dan tak pernah kita ingatkan dengan firman Tuhan, kelak setelah mereka dewasa mereka akan merasa bahwa dirinyalah yang paling hebat.
Kita harus menyadari bahwa tidak ada di antara kita yang mampu menyelamatkan diri kita sendiri walau sebagian orang mengira bahwa mereka lebih cerdik daripada orang lain, bahwa mereka bisa akal-akalan dengan Allah, mereka bisa mencari jalan menuju keselamatan lewat usaha sendiri. Itu adalah pemikiran duniawi. Dan saat ini pemikiran seperti itu sudah mulai bermunculan. Ada banyak orang saat ini yang merasa paling kaya, merasa paling pintah dan hebat.
Kita tak pernah menyadari bahwa segala sesuatu yang kita dapatkan itu adalah berkat dari Tuhan. Kerajaan Allah hanya buat mereka yang menyadari bahwa mereka memang sepenuhnya tidak mampu, mereka tidak berdaya saat berhadapan dengan perkara rohani, seperti bayi-bayi yang menghadapi realita kehidupan.
Kasih karunia Allah adalah tempat kita bergantung sepenuhnya, bukan hanya pada saat kita pertama kali percaya, akan tetapi kita memerlukan kasih karunia-Nya yang memberi kekuatan bagi kita untuk menjalani kehidupan iman kita setiap hari. Amin.
 

  3 EKONOM INDONESIA   DAN PEMIKIRANNYA   3 tokoh ekonom Indonesia pasca-reformasi, sekedar sampling acak,   berfokus pada pemulihan kri...