Jumat, 04 Oktober 2013

Kesaksian: Kesaksian Hidup "Bertemu Tuhan" di Retret

Kesaksian: Kesaksian Hidup "Bertemu Tuhan" di Retret: By Grace Silvanna Wiradjaja. Bagi orang yang tidak percaya, cerita berikut pasti menjadi sesuatu yang tidak mungkin. Tapi satu hal yang...

Kesaksian Hidup "Bertemu Tuhan" di Retret

By Grace Silvanna Wiradjaja.
Bagi orang yang tidak percaya, cerita berikut pasti menjadi sesuatu yang tidak mungkin. Tapi satu hal yang saya imani adalah bahwa hal ini benar-benar terjadi dalam hidup saya.

Tanggal 1-6 Juli 2008 boleh jadi menjadi hari-hari yang sebenarnya tidak pernah menjadi waktu yang begitu saya nanti-nantikan sebelumnya. Bayangkan, bahkan dua hari tepat sebelum saya mengikuti retret di Cikanyere, saya sempat bertengkar hebat dengan mama saya. Ya, bisa dibilang, kami sering sekali bertengkar. Kami berdua memiliki luka batin yang akhirnya menyebabkan kami sering berbeda pendapat dan salah paham.

Pada hari pertama, jujur saja, saya sudah tidak memiliki semangat sedikit pun untuk mengikuti retret. Saya pikir, untuk apa, apa tujuan saya mengikuti retret ini? Sejak awal tahun lalu, saya benar-benar mencari seorang sosok Yesus dalam hidup saya. Dalam batin, saya ingin sekali untuk bertemu Yesus, berbicara dengan Yesus secara pribadi. Saya ingin merasakan bagaimana rasanya berada dalam pelukan Yesus. Sekitar awal tahun 2007 lalu, saya mengikuti adorasi yang diadakan oleh Romo Yohanes Indrakusuma, O.Charm, di Hotel Mulia Jakarta. Hingga sampai adorasi itu selesai, saya seperti sama sekali tidak mendapatkan apa-apa. Saya sama sekali tidak merasakan adanya hadirat Tuhan saat itu. Kecewa, pasti. Tapi saya tidak lantas berhenti untuk terus mencari Tuhan.

Retret sekolah pada Agustus 2007 ternyata sama saja. Tidak ada yang berubah. Saya tetap menjadi saya biasanya. Oktober 2007, saya mengikuti acara KRK Imago Dei. Dan lagi-lagi, Tuhan sama sekali seperti tidak memberikan apapun kepada saya. Jujur saja, saat itu saya menjadi sangat kecewa terhadap Tuhan dan bersumpah untuk tidak lagi mencari Tuhan dalam hidup saya. Semalam-malaman itu saya terus menangis. Ke mana Tuhan yang selama ini saya damba-dambakan untuk membuktikan bahwa Ia sungguh ada dan hadir dalam hidup saya?

Sejak saat itu, akhirnya saya hanya berdoa biasa saja (tidak khusyuk). Saya pikir, untuk apa saya berdoa dengan keras, sementara itu Tuhan tidak pernah menunjukkan bahwa diri-Nya benar-benar ada bagi saya? Toh, sepertinya Tuhan juga tidak akan membiarkan diri-Nya untuk datang kepada saya secara khusus dan berbicara layaknya ayah dan anak. Tapi entah bagaimana, sejak bulan lalu, selalu ada suara hati saya yang meyakinkan saya bahwa saya harus mengikuti retret ini. Saya tidak tahu bagaimana hal ini dapat terjadi, tapi ternyata sampailah saya pada acara tersebut!


Hari pertama
Bosan, iya. Tidak punya teman, iya. Bingung, pasti!
Saya merasa retret ini hanya akan membuang waktu saya. ”Tidak ada yang akan saya dapat dari sini”, kata saya membatin. Malam itu, diadakan sebuah misa pembukaan retret. Pada saat itu, saya berdoa, ”Tuhan, tunjukkan bahwa Engkau sungguh ada. Buktikan bahwa retret ini sungguh mendatangkan sesuatu untuk Grace, Tuhan. Tapi kalau sampai retret ini selesai dan Grace tidak merasakan apapun, maaf Tuhan,  Grace akan meninggalkan Tuhan.” Setelah berkata demikian, tiba-tiba dalam bayangan saya, saya melihat Tuhan Yesus menangis dan berkata, ”Grace, Tuhan sayang sama Grace tanpa syarat.” Jujur, waktu itu hati saya langsung hancur dan saya langsung menangis mendengar perkataan Tuhan yang begitu singkat tapi mendalam. Tapi saya tidak berani berkata macam-macam kepada Tuhan, saya hanya berkata, ”Baik, Tuhan. Tolong buktikan saja.”. ”Iya, Grace. Tapi tolong buka hati Grace benar-benar buat Tuhan selama 6 hari ini.”, jawab Tuhan lagi.

Hari itu juga, tiba-tiba saya dipilih untuk menjadi ketua kelompok retret, dengan anggota sekitar 20 orang. Saya tidak mengerti apa rencana Tuhan. Ini adalah pertama kalinya saya mengikuti retret penyembuhan luka batin seperti ini, dan saya masih belum mengetahui apa-apa. Tapi sesuai janji saya kepada Tuhan, saya kemudian menganggap bahwa ini adalah bagian dari rencana Tuhan.


Hari kedua
Saya mengikuti acara adorasi. Saya benar-benar membuka diri sepenuhnya untuk Tuhan. Saya bernyanyi dengan hati, saya berdoa khusyuk. Saya benar-benar membuka hati untuk Tuhan, tanpa memikirkan apa yang akan Tuhan beri bagi saya selama 6 hari itu. Setelah mendengar para frater dan suster berkata-kata dalam bahasa roh, dalam keadaan duduk bersila, tiba-tiba seluruh badan saya keram. Saat itu, saya benar-benar merasa yakin, bahwa Roh Kudus sungguh sedang menguasai tubuh saya. Tak lama kemudian, seorang Pastor mendatangi saya dengan membawa monstran, tempat tubuh Yesus (hosti) disimpan. “Tuhan Yesus ingin menyapamu. Apakah kamu dapat berdiri?”, tanyanya. Tubuh saya sungguh lemah, tapi demi menjawab sapaan Tuhan Yesus, saya berusaha sekuat tenaga untuk bangkit berdiri. “Ya, saya mau, Romo. Tapi tolong bantu saya berdiri.” Tidak sampai 1 menit kemudian, tubuh saya langsung terhempas lagi ke belakang, terbaring dan mulai kaku pada seluruh tubuh. Frater itu pun kemudian berjalan meninggalkan saya menuju peserta lain.

“Yesus, Yesus, Yesus...”, saya terus membatin seperti itu dalam hati saya. Tapi yang keluar dari mulut saya hanyalah kata-kata, “Sess…sesss..sesss..”. Itu adalah pertama kalinya saya mendapat karunia bahasa Roh. Saya tidak dapat mengucapkan kata-kata secara ’indonesiawi’. Semua kata yang keluar seperti sudah ada translator-nya.

Dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba lengan saya terangkat sendiri oleh tangan kuat yang kemudian menopang pinggang kiri saya juga. ”Grace, Tuhan akan menjelaskan semuanya.”, ada suara Tuhan Yesus yang dengan sangat jelas terdengar pada telinga saya. Kemudian, Tuhan Yesus menjelaskan kepada saya mengenai segala hal yang terjadi dalam hidup saya, tentang apa maksud Tuhan untuk tidak mengangkat habis seluruh luka batin saya, tentang setiap masalah yang saya miliki, dan yang terpenting tentang mengapa baru saat ini, di saat saya tidak terlalu mengharapkan adanya pelukan Tuhan, Ia malah baru datang dan menyapa saya.

Kata Tuhan demikian, ”Grace tahu, semua sudah Tuhan atur. Ini adalah saat yang tepat bagi Tuhan untuk memeluk dan menggendong Grace.”. Seluruh tubuh saya sungguh kaku, tidak mampu bergerak. Bukan lemas, bukan lemah, tapi kaku! Tangan-tangan dan kaki kiri saya terjulur ke atas, kaki kiri saya keram hebat, dan semua jari-jari saya saling menyimpul tidak beraturan dan tidak dapat digerakkan sama sekali, meskipun dibantu dengan bantuan orang lain. Semakin saya berusaha berteriak nama Yesus, semakin tubuh saya merasa sakit dan kaku. Tapi saat itu saya sungguh merasa yakin, bahwa itu adalah kuasa Tuhan yang menghampiri saya. Saya merasakan sungguh jari-jari Yesus, pelukan Yesus. Bahkan, saya merasakan bagaimana Yesus mulai menegakkan tubuh saya sendiri! Saya melihat dengan mata saya sendiri, bagaimana itu bentuk tangan Tuhan Yesus!

Tapi anehnya, dalam pertemuan saya dengan Tuhan itu, saya sama sekali tidak dapat mengingat apa saja yang menjadi harapan duniawi saya. Sepintas, saya seperti dibawa Tuhan untuk melihat keadaan di dalam kapel tersebut. Saya melihat bahwa hampir semua orang di sana berdoa dengan khusyuk kepada Tuhan, memohon agar Tuhan menjawab doa-doa mereka.

Saya melihat, bahwa tiap-tiap dari diri mereka kemudian seperti membuat sebuah saluran (pipa) berwarna abu-abu. Pipa-pipa tersebut itu lalu membentuk piramid hingga ke puncak kapel (menuju hadirat Tuhan). Masing-masing peserta menyumbangkan ’pipa-pipa’ mereka. Akan tetapi ada juga beberapa peserta yang tidak memiliki pipa yang dapat mencapai puncak kapel. Pada saat itu, satu hal yang saya lakukan adalah berdoa agar Tuhan membantu mereka untuk dapat memperpanjang pipa-pipa mereka hingga dapat mencapai langit-langit kapel itu juga.

Saya bukanlah orang yang sering mendoakan orang lain. Tapi pada saat itu, saya terus-menerus hanya dapat mendoakan orang-orang lain, baik yang saya kenal maupun yang tidak saya kenal sekali pun. Saya mendoakan agar Tuhan menurunkan berkat-Nya secara lebih lagi kepada tiap-tiap dari mereka.

Setelah sekitar 1 jam setelah itu, saya meminta Tuhan untuk benar-benar menggendong saya yang sedang terbaring di lantai. Dengan lembut Tuhan menyelipkan tangan-tanganNya pada pinggang saya. Pinggang kiri saya mulai terangkat. Tapi kemudian tiba-tiba saya merasa bahwa saya terlalu naif untuk mengakui bahwa Tuhan memang sungguh mencintai saya. Saya meminta Tuhan menggendong saya semata-mata hanya karena saya ingin Tuhan menunjukkan kasih-Nya terhadap saya.

Setelah acara adorasi selesai, saya masih dalam keadaan membujur kaku di atas lantai. Saya sungguh takut. Saya ingin membuka mata, tapi bahkan untuk melakukan hal itu saja saya tidak mampu! Beberapa suster dan teman akhirnya mulai mendoakan saya dan berusaha menggerak-gerakkan tubuh saya. Tapi percuma, tubuh saya begitu kaku. Akhirnya, tubuh saya diangkat menggunakan tandu.


Hari ketiga
Sampai pukul 02.00 dini hari, sikut tangan saya masih kaku (900). Pukul 05.00, seluruh badan saya mulai dapat digerakkan kecuali kedua telapak tangan. Pukul 11.00, sikut saya sudah membaik, tapi paha kanan saya malah tidak dapat bergerak. Pukul 15.00, seluruh kaki kanan tidak dapat bergerak. Malam itu (3 Juli 2008), diadakan pencurahan roh kudus. Setelah didoakan oleh seorang suster, tiba-tiba perut saya merasa sangat amat sakit. Menjalar dari perut bagian kiri hingga ke perut bagian kanan, kemudian menuju ke bagian tulang punggung. Rasanya seperti semua badan sudah mau rontok! Ditambah lagi tiba-tiba kedua kaki saya kembali kaku. Akhirnya, untuk kedua kalinya, kaki saya tidak dapat bergerak. Kali ini, saya benar-benar tidak bisa berjalan.


Hari keempat
Hingga keesokan harinya, saya masih tidak dapat berjalan. Saya harus dibantu oleh orang lain untuk dapat berjalan (dibopoh). Saya berlatih berjalan sejak pukul 09.00-15.00. Setelah itu, saya terus-menerus dibantu oleh orang lain untuk mengikuti sesi-sesi selanjutnya. Malam itu, diadakan acara Perayaan Bunda Maria. Karena jaraknya cukup jauh, akhirnya saya dibawa menggunakan mobil untuk mencapai bangunan gereja. Saya terus-menerus berdoa supaya kaki saya segera dapat kembali berjalan.


Hari kelima
Saya bangun lebih awal dari teman-teman yang lain, untuk berlatih berjalan (sebelum doa rosario tadi malam, ada seorang ibu yang menawarkan terapi jalan dengan menggunakan embun kepada saya). Tapi, seketika itu juga, tanpa saya sadari, ternyata saya sudah dapat mengontrol kedua kaki saya lagi! Saya langsung bangkit dari tempat tidur, dan dengan langkah kaki yang masih sedikit goyah, saya langsung kembali berjalan!

Hampir semua orang tidak mempercayai akan hal itu. Enam ratus peserta retret, dan saya adalah satu-satunya orang yang benar-benar merasakan betapa Tuhan Yesus memeluk saya dengan begitu erat. Sampai saat ini, saya masih sangat jelas mengingat bagaimana bentuk lekuk tangan Tuhan. Tangan-Nya begitu kuat, besar, begitu mampu menopang segala masalah dan rintangan dalam hidup kita.

Satu hal yang menjadi acuan bagi saya adalah, bahwa Tuhan sungguh-sungguh menyediakan hal terbaik dalam hidup kita. Begitu begitu banyak kekecewaan dan kesakitan, kesedihan yang kita alami dan rasakan dalam hidup. Ketika kita berteriak, ”Di mana, Tuhan? Di mana, Tuhan?”, mungkin rasanya dalam menunggu jamahan Tuhan adalah sesuatu yang begitu lama dan melelahkan. Tapi, ketika saat itu datang, saat yang sangat kita nanti-nantikan tiba, ketika akhirnya Tuhan menjelaskan segala hal yang terjadi dalam hidup kita, percayalah pada saya, Anda tidak akan dapat melakukan apa pun kecuali mensyukuri setiap berkat Tuhan dalam hidup Anda!

Sewaktu saya terbujur kaku di hari kedua, Tuhan menunjukkan kepada saya 3 lingkaran besar yang menjadi bagian dalam hidup saya. Lingkaran pertama, Tuhan menjelaskan setiap masalah yang saya alami. Lingkaran kedua, mengenai semua kekecewaan yang ada pada hati saya. Dan lingkaran ketiga, mengenai betapa besar kerinduan saya akan kehadiran Tuhan atas saya. Dan Tuhan menjelaskan itu satu per satu! Tuhan mampu menjelaskan semua itu!

Tuhan memperlihatkan kepada saya, seluruh yang terjadi pada saya sejak saya masih dalam kandungan! Tuhan memperlihatkan bagaimana ibu saya merasa sedih karena sikap ayah saya yang kasar ketika saya masih dalam kandungan, Tuhan menunjukkan bagaimana saya dapat lahir, bagaimana saya bertumbuh, terlebih bagaimana Tuhan mencurahkan seluruh berkat dan rahmat-Nya lewat setiap masalah yang Tuhan izinkan masuk dalam hidup saya! Tuhan seperti menunjukkan, ”Gini loh, grace, kalau dalam masalah itu tidak ada berkat Tuhan yang kamu terima!”. Tuhan menunjukkan bagaimana masalah itu dapat menjadi semakin rumit dan bagaimana masalah itu menjadi seperti yang saya telah alami di mana di dalamnya selalu ada berkat Tuhan, baik sekecil apa pun itu kuasa Tuhan yang kita rasakan.

Mungkin kita merasa, di mana sih yang namanya kuasa, berkat Tuhan ketika setiap masalah datang? Ketika kita sakit panas, pekerjaan kantor kita terbengkalai, dan sebagainya, syukurilah hal-hal positif yang masih Tuhan berikan. Bagaimana jika sakit panas itu kemudian mengakibatkan hal yang lebih buruk daripada itu, kematian misalnya? Bagaimana jika terbengkalainya pekerjaan kantor itu kemudian membuat kita kehilangan segala job kita? Semua pasti ada konsekuensinya, ada hal baik dan buruknya. Tapi Tuhan ternyata masih memberikan berkat-Nya kepada kita semua. Kita masih bisa bernafas bebas selagi ada orang-orang yang untuk bernafas saja harus membeli tabung oksigen. Kita masih bisa makan kenyang, di mana di belahan bumi lain masih banyak orang-orang kelaparan.

Mungkin sempat terlintas dalam benak kalian, apa yang saya minta pada Tuhan lewat perjumpaan singkat saya tersebut. Jawabannya adalah tidak ada. Tidak ada. Mengapa? Ketika Anda dijelaskan dengan sangat mendetail oleh guru Anda mengenai perkalian dan pembagian, apakah Anda masih dapat menawar-nawar bahwa 4x4=7? Hal itulah yang terjadi pada saya. Seketika itu juga tidak ada yang dapat saya proteskan pada Tuhan selain hanya bersyukur, bahwa saya masih memiliki Allah yang begitu luar biasa!

Jangan pernah mengharapkan bahwa masa depan Anda sepenuhnya berada dalam tangan Anda. Ketika saya berdoa, ”Tuhan, saya mau apa yang saya rencanakan, bahwa saya akan mendapat beasiswa S2, bahwa saya akan kuliah di Itali, dan sebagainya terjadi!”, Tuhan malah menjawab, ”Grace, Tuhan punya hal yang jauh lebih besar, jika Grace mau mengikuti rencana Tuhan.”

Apa yang bisa kita ambil dari sini? Hiduplah saat ini juga! Jangan mematok harga mati untuk masa depan Anda! Tuhan punya tawaran yang jauh lebih menggiurkan! Lewat tulisan ini, saya sungguh berharap, agar Anda semua, dapat terus berharap dalam menunggu pemenuhan janji-janji Tuhan dalam hidup Anda! Saya sudah menunggu 2 tahun untuk merasakan tangan kuat-Nya menggendong saya. Dan saya pun akan terus menerus menunggu Tuhan lagi untuk merasakan bagaimana Tuhan Yesus kembali memeluk saya lagi, sampai kapan pun itu!

Hidup Anda akan terus berubah. Dan Anda tidak akan pernah dapat meramalkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Tuhan Yesus sungguh mencintai satu per satu dari Anda, betapa pun kotornya Anda, betapa pun dosa yang pernah Anda perbuat.
Tunggulah. Semua ada waktunya.
Tuhan memberkati.

Jakarta, 7 Juli 2008,

Jumat, 20 September 2013

MAGANG DI GRAMEDIA LIPPO KARAWACI

  membawa barang ke area display.


pak muta penjaga tamu yang murah senyum


    sang asisten, USI  yang cantik
   
Firman yang ganteng...


 lagi kumat genitnya...

Rabu, 28 Agustus 2013

❤ Niar Ningrum ❤: About Niar

❤ Niar Ningrum ❤: About Niar: Assalamuallaikum :)  Resmi laman about ini dibuat 1 Agustus 2012, bulan Agustus itu penuh cerita kehidupan. :) Tak Kenal Maka Tak Sayan...

Jumat, 09 Agustus 2013

ASUMSI ADALAH NALAR TERENDAH

Asumsi Adalah Nalar Terendah

ASUMSI ADALAH NALAR TERENDAH……
.

Esther Susianti



Tidak dapat di pungkiri lagi bahwa kegagalan, kemarahan, pertengkaran dan sebagainya biasanya di sebabkan oleh karena kita suka berasumsi daripada bertanya dengan jelas, ataupun tidak terjadinya keselarasan dalam komunikasi, salah pengertian karena persepsi masing-masing yang berbeda. Hal- hal kecilpun kadang bisa menjadi hal- hal yang besar dan bila hal itu dalam kebaikan akan menjadi sesuatu yang mendatangkan kebaikan,tetapi bagaimana bila hal itu menjurus kepada hal yang buruk, pasti tentunya akan menjadi lebih buruk lagi dan bahkan bisa membahayakan jiwa manusia. Hal inilah yang sering menjadi pemicu keretakan dalam hubungan ataupun yang dapat menimbulkan perasaan tidak senang bahkan anti antara satu dengan yang lainnya di antara sesama manusia.

Semakin majunya zaman, dengan manusia semakin bergantung kepada tekhonogi, semakin instan pula segala sesuatu yang di hasilkan, semakin langka pula manusia mengenali dan memahami masing-masing pribadi orang, yang hanya banyak menuntut orang lain untuk memahami  dirinya daripada dirinya memahami  orang lain. Seperti di gunung media, seberapa banyak sekarang, orang-orang yang menggunakan twieter, facebook dan youtube untuk berkomunikasi ,berbisnis, ataupun untuk sensasi yang lainnya 

.Mereka akan saling memfollow satu dengan yang lain untuk kepentingan masing-masing. Public figure sudah pasti mengharapkan banyak follower, maka dia akan semakin popular. Bila apa yang di bagikan oleh public figure tersebut hal-hal yang membangun mental dan keyakinan yang baik, sudah pasti akan mendampaki terbangunnya suatu bangsa yang damai sejahtera, tetapi apabila yang di bagikan bagaimana menjadi kaya secara instant maka dampaknyapun akan terjadi dengan bermacam-macam reaksi, seperti orang yang hanya focus kepada diri sendiri, menjadi bernafsu untuk berinvestasi tanpa menghitung resiko yang ada, atau kekecewaan dan kemarahan ketika terjadi kerugian atau penipuan.

 Berbagai beritapun dapat kita dengar dan tonton sekarang ini, sehingga apabila begitu banyak berita buruk yang terjadi, sebagian akan terdampaki menjadi resah, ketakutan atau mencontoh hal-hal buruk tersebut, tetapi apabila persepsi yang benar terjadi, maka akan terjadi kewaspadaan tanpa keresahan yang menimbulkan pembelajaran dan empati untuk orang-orang yang di rugikn tanpa pengutukan. Semua ini kembali kepada masing-masing kedewasaan berpikir seseorang, bukan kepintaran belaka.

Dalam segala hal memang di perlukan pengertian, tetapi bagaimana akan terjadi pengertian apabila tidak pernah terjadi komunikasi yang selaras ? komunikasi selaras juga perlu di dukung oleh pemahaman masing-masing orang dalam memandang. Bila pandangan orang satu dengan yang lain tidak dapat saling melengkapi, di situlah terjadinya celah asumsi yang mendatangkan salah pengertian dan bila di biarkan akan semakin membangun tembok perseteruan.

 Seperti dalam perkawinan, apabila pandangan satu dengan yang lain berbeda dan timbul asumsi-asumsi yang di bangun oleh perasaan marah,gelisah dan iri hati, bila tidak cepat di bereskan maka tidak heran akan terjadi permusuhan, pengkhianatan ataupun perceraian. Dan yang buruk lagi akan terjadi pertikaian yang memakan korban. Hal inipun juga dapat terjadi di tingkat perusahaan, organisasi,ataupun Negara. Akar permasalahannya adalah asumsi yang menjadi persepsi yang salah dalam berkomunikasi dan menjalar kepada tindakan.

Sangat di sayangkan apabila hanya karena asumsi, akan mengorbankan ketenangan diri sendiri bahkan orang lain yang tidak bersalah. Mari mulailah terus memperbaharui pikiran kita, bukan hanya dengan pengetahuan intelektual saja, tetapi Spiritual yang benar untuk menguasai emosi kita di terapkan kepada pilihan-pilihan yang benar. Seseorang memang rata-rata mempunyai watak kepribadian dan mental yang berbeda-beda. 

Ada orang bertype dominan, intim, stabil dan cermat. Secara mentalpun ada orang berada  di golongan rendah dan yang paling banyak jumlahnya, yaitu  yang cepat menyerah, ada pula di golongan menengah, yang rajin mencapai target tetapi setelah itu cepat puas diri dan mendirikan kemahnya, dan mental yang paling tanggung adalah seseorang yang tidak akan cepat puas dengan pencapaiannya sehingga dia akan terus menerus belajar dan memperbaharui pola pikirnya dengan tiada hentinya sehingga mampu mencapai kemaksimalan melewati batas dirinya sendiri.

Yang sering terjadi dalam salah persepsi adalah ketika terjadi pertemuan antar seorang yang berbeda  type dan mental, sudut pandang mereka yang berbeda menyebabkan komunikasi yang tidak seimbang sehingga tidak ada keselarasan dan akhirnya kerengganganpun tak dapat di elakkan lagi karena asumsi yang satu beranggapan negative dengan yang lainnya.

 Ah ironi sekali, bila ini terjadi di dalam keluarga kita sendiri, tetapi orang yang berpengertian pasti berkepala dingin sehingga dapat memahami dan mencairkan suasana yang kaku. Yang di butuhkan adalah kesabaran dan rendah hati untuk mengalah.

Dalam pengkelompokan, dapat diumpamakan terbagi menjadi dua: yaitu kelompok ayam dan kelompok rajawali.

1) Dalam kelompok ayam, di ibaratkan bahwa mereka mempunyai sayap untuk   
    terbang namun karena kesukaannya sedikit-sedikit ribut berkokok membuat 
    pandangan matanya rendah dan sempit sehingga dia tidak mau berupaya 
     melatih sayapnya untuk terbang tinggi.

 Seperti amsal berkata bahwa yang terpenting untuk berhasil adalah hikmat,sedangkan hikmat terlalu tinggi bagi orang bodoh. Suatu hardikan lebih masuk pada orang berpengertian daripada seratus pukulan pada orang bebal.Hikmat tinggal di dalam hati orang yang berpengertian tetapi tidak di kenal di dalam hati orang bebal.Bibir orang bebal menimbulkan perbantahan, dan mulutnya berseru meminta pukulan. Orang bebal dibinasakan oleh mulutnya, bibirnya adalah jerat bagi nyawanya.

2) Dalam kelompok rajawali, di ibaratkan bahwa mereka memiliki sudut pandang 
    yang begitu jauh dan tajam sehingga mereka lebih senang membangun 
    sarangnya di tempat yang tinggi di atas dasar sebuah batu.

 Apabila terjadi badai yang di umpamakan adalah sebuah tantangan, dia akan semakin berani dan tertantang untuk badai itu membawanya terbang tinggi dengan melewati badai tersebut. Seperti amsal berkata, berilah orang bijak nasihat, maka ia  akan menjadi lebih bijak, ajarilah orang benar, maka pengetahuannya akan bertambah.

 Hati orang berpengertian memperoleh pengetahuan, dan telinga orang bijak menuntut pengetahuan. Bibir orang bijak menaburkan pengetahuan, tetapi hati orang bebal tidak jujur.

Siapa bergaul dengan dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang.mahkota orang bijak adalah kepintarannya, tajuk orang bebal adalah kebodohannya.

Dalam penuturan di atas, semoga pemahaman yang benar dapat kita ambil untuk merefleksikan diri kita berada di dalam kelompok yang mana saat ini, dan keputusan apa yang kita inginkan terjadi pada diri kita di saat ini untuk saat mendatang.




Selasa, 06 Agustus 2013

IDUL FITRI HARI KEMENANGAN

IDUL FITRI HARI KEMENANGAN

 Mengapa Idul Fitri disebut-sebut sebagai ‘Hari Kemenangan’ ? Jawaban atas pertanyaan ini
bias ditelusuri melalui 2 (dua) pengertian berikut ini :

Pertama, dari kata idul fithri itu sendiri yang berarti kembali ke fitrah, yakni ‘asal kejadian’,
atau ‘kesucian’, atau ‘agama yang benar’. Maka setiap orang yang merayakan idul fitri dianggap
sebagai cara seseorang untuk kembali kepada ajaran yang benar, sehingga dia bisa memperoleh
kemenangan.

Kedua, dari kata ‘minal ‘aidin wal faizin’ yang berarti ‘semoga kita termasuk orang-orang
yang kembali memperoleh kemenangan’ . Karena menurut para ahli, kata al-faizin diambil dari kata
fawz, sebagaimana tersebut dalam Al-Qur’an, yang berarti ‘keburuntungan’ atau ‘kemenangan’.

Menurut Quraish Shihab, bila kata fawz dirujukkan kepada Al-Qur’an, ditemukan bahwa
hampir seluruh kata itu kecuali Al-Qur’an surat An-Nisa : 73 mengandung makna ‘pengampunan dan
keridhaan Allah serta kebahagiaan surgawi’. Kalau begitu, maka bisa dipahami bahwa kata ‘minal
‘aidin wal faizin’ sesungguhnya bermakna do’a, yakni ‘semoga kita termasuk orang-orang yang
memperoleh ampunan dan ridha Allah SWT sehingga kita bisa mendapatkan kenikmatan
surga-Nya’.

Makna lain dari kata idul fitri sebagai hari kemenangan adalah karena pada hari itu seluruh
kaum muslimin dan muslimat baru saja menuntaskan kewajiban agamanya yang paling berat yaitu
menahan hawa nafsu melalui ibadah Ramadhan. Karena itu, barangsiapa mampu menuntaskan
ibadah Ramadhan itu selama sebulan penuh, tentu dia akhirnya keluar sebagai pemenang dalam
ujian kesabarannya itu. Bukankah di bulan puasa segenap umat Islam diuji kesabarannya dalam
menahan diri dari godaan hawa nafsu, baik nafsu syahwat maupun nafsu makan dan minum di siang
hari ? Itulah sebabnya, usai kita melakukan ibadah puasa, lalu diakhiri dengan perayaan idul fitri,
adalah tidak lain dari upaya merayakan kemenangan jiwa kita sendiri.

 Cobalah rasakan pada saat bulan puasa tetapi kita tidak berpuasa, lantas tibalah saatnya
hari Raya Idul Fitri, apa kira-kira yang harus kita sambut ? Tidak ada. Sebab, orang yang tidak
berpuasa di bulan Ramadhan, maka pada saat tiba idul fitri, dia akan menyambut hari kemenangan
itu dengan sikap dingin, hambar, hampa, seolah tidak terjadi apa-apa. Sementara orang yang
berpuasa, apalagi sampai sebulan penuh, pasti merayakannya dengan penuh kenikmatan. Inilah
kemudian bisa dipahami bahwa mengapa Al-Qur’an mengisyaratkan bahwa orang yang merayakan
idul fitri itu seolah dia memperoleh ampunan dan ridha Allah sehingga dia bisa mendapatkan
kenikmatan surgawi.

 Menurut saya, kenikmatan surgawi tidaklah semata-mata dalam pengertian material, yaitu
surga yang dijanjikan oleh Allah di yaumil akhir nanti, tetapi juga bermakna spiritual, yaitu berupa
konsep tentang kebahagiaan dan kenikmatan hidup yang diperoleh manusia setelah dia mampu
menuntaskan suatu pekerjaan berat yang dibebankan kepadanya. Dan kenikmatan spiritual itu bisa
diperolehnya di dunia. Bukankah kenikmatan hidup itu terasa kian besar manakala kita mampu
keluar dari kesulitan hidup dengan selamat ?  Seolah-olah kita dihadapkan pada sebuah kesulitan besar laksana keluar dari lubang jarum kemudian masuk ke lapangan terbuka, sehingga kita bisa menikmati udara segar dan hawa sejuk.

Tiada lagi kepengapan dan kepenatan yang mengepung jiwa kita.
 Sesungguhnya metafora ‘lapangan terbuka’ akan mampu memberikan kepada kita
kenikmatan hidup yang membahagiakan. Itulah yang disebut-sebut sebagai kemampuan manusia
untuk memperoleh kemenangan sejati dalam ber’idul fitri. Seolah di Hari Fitri semua persoalan yang
mengganjal kehidupan, terselesaikan. Apakah kamu tidak ingin Alah memaafkan kamu ?

 Allah adalah Maha Pemaaf lagi Maha Penyayang (Al-Qur’an, An-Nur : 22). Mudah-mudahan di Hari Raya
Idul Fitri ini, kita pun kembali termasuk orang-orang yang kembali memperoleh keridhaan Allah dan
menikmati keindahan surga-Nya, sebagai bukti bahwa kita ‘menang’ dalam mengatasi segala ujianNya. Wallahua’lam.

 Inilah hakikat Idul Fitri yang mengisyaratkan adanya upaya manusia untuk kembali
kepangkuan Tuhannya, atau kembali ke asal usul yang menciptakan manusia, yaitu Allah SWT itu
sendiri. Kembali ke Tuhan dalam keadaan putih bersih setelah melakukan tawbatan nashuha.

 Gerak upaya kembali ke asal adalah sebuah jargon yang mengindikasikan adanya ikhtiar
sadar manusia untuk melakukan penyegaran moral tatkala manusia hendak melakukan transformasi
social kehidupannya. Karena, setiap gerak ke depan ia selalu membutuhkan langkah kembali ke
belakang, agar gerak ke depan bias memiliki daya jangkau yang lebih jauh dan panjang. Tanpa
gerak kembali ke belakang besar kemungkinan lompatan ke depan tidak memiliki daya tumpu yang
kuat, sehingga jangkauan yang tercapaikan pun akan sangat dekat dan pendek.

 Ilustrasi ini menggambarkan, bahwa setiap gerak maju betapapun hebatnya selalu
membutuhkan langkah mundur sebagai proses persiapan, ancang-ancang , bahkan penyegaran,
agar dia dapat lebih leluasa menata kembali arus nafas sehingga mampu melesat ke depan secara
lebih ringan.

 ‘Idul Fitri pun memiliki makna yang sama, yaitu sebagai langkah mundur untuk proses
persiapan dalam menghadapi tantangan hidup yang mungkin jauh lebih hebat dan berat di masamasa yang akan datang. Namun jauh lebih penting lagi adalah gerakan memacu meningkatkan
moral sosial kita yang suci, murni, dan sejati itu, baik di mata manusia maupun di mata Allah SWT.

Wassalam.

Dikutip dari buku : “Noktah Pengharapan Manusia” .
http://www.depnakertrans.go.id/microsite/korpri/uploads/doc/kultum18.pdf

  3 EKONOM INDONESIA   DAN PEMIKIRANNYA   3 tokoh ekonom Indonesia pasca-reformasi, sekedar sampling acak,   berfokus pada pemulihan kri...