PUTRA KARANGANYAR: MENCARI KEBAIKAN MENUJU KESEMPURNAAN HIDUP (mersudi becik,nggayuh sampurnaning urip). "dengan ilmu hidup menjadi mudah,dengan iman hidup makin terarah, dengan seni dan senyum hidup makin indah,dengan olahraga hidup makin terjaga"
Rabu, 07 Desember 2016
Artikel Koran Kompas: Pendidikan Penyembuh Kemiskinan?
Artikel Koran Kompas: Pendidikan Penyembuh Kemiskinan?: RISET terbaru para ahli ekonomi menyebutkan pendidikan hanya menyumbang sedikit, yaitu sekitar 16,1% per tahun, pertumbuhan produk domestik...
Minggu, 20 November 2016
Berita Gojek: 4 Bidadari cantik ini siap layani pengguna ojek on...
Berita Gojek: 4 Bidadari cantik ini siap layani pengguna ojek on...: Layanan ojek online memang sedang booming di Jakarta dan beberapa wilayah di sekitarnya. Tak hanya banyak peminat di sektor pengguna j...
Jumat, 18 November 2016
Dedi Fahriadi: ETIKA MENCAPAI LABA YANG LAYAK
Dedi Fahriadi: ETIKA MENCAPAI LABA YANG LAYAK: A. Pertanggungjawaban Sosial Apakah pertanggungjawaban suatau badan usaha pada masyarakat? Tahun 1776 Adam Smith memperkenalkan doktrin u...
ETIKA MENCAPAI LABA YANG LAYAK
A. Pertanggungjawaban Sosial
Apakah pertanggungjawaban suatau badan usaha pada masyarakat?
Tahun 1776 Adam Smith memperkenalkan doktrin untuk memperoleh laba usaha semaksimal mungkin. Doktrin ini menjelaskan bahwa penampilan usahawan adalah baik jika ia meningkaykan efeisensi kerja dan mengurangi biaya agar dengan demikian laba maksimal tercapai.
Keinginan para usahawan untuk memperoleh laba memaksa mereka melakukan persaingan bebas. Tindakan ini dilakukan dengan alasan demi kepentingan masyarakat dengan cara mengurangi biaya dan harga barang atau jasa.
Sejak bisnis beroperasi di dunia kemiskinan dan kelaparan, efesiensi ekonomik menempatkan dirinya pada prioritas tertinggi dan harus merupakan misi bisnis tunggal.
Fungsi bisnis adalah ekonomik, bukan sosial. Nilai ekonomik merupakan satu-satunya tolak ukur sebagai keberhasilan bisnis pemimpin atau manajer perusahaaan yang dipercayakan oleh para pemegang saham.
Pengaruh bisnis terasa diseluruh masyarakat, di bidang pendidikan, di rumah, di pasar, bahkan dalam pemerintahan. Ia melebur menjadi nilai-nilai sosial. Maka dengan demikian proses kombinasi aktivitas sosial dari bidang bisnis akan memberikan konsentrasi kekuatan yang berlebihan.
Milton Friedman seorang ekonom pernah membuat suatu argumentasi yang keras bahwa pertanggngjawaban sosial adalah : suatu tindakan dari suatu badan yang diakui sebagai badan hukum yang tidak pantas. Sudah tentu banyak alasan yang kelihatan sah dalam argumentasi terhadap bisnis yang diasumsikan sebagai pertanggungjawaban sosial.
Pandangan yang paling ekstrim pada kenyataannya adalah golongan kiri yang meyakini, bahwa bisnis meru[akan suatu lembaga yang tidak disukai. Dengan demikian masyarkarat bisnis sudah berang tentu jangan diberikan kekuasaan yang berlebihan.
B. Pertanggungjawaban Dunia Bisnis
Golongan masyarakat barat tradisional berpendapat bahwa dunia bisnis sifatnya ekonomik. Peranan ini didukung oleh para ahli ekonomi yang berpendapat bahwa nilai-nilai ekonomik pada suaru pasaran bebas, sangat bermanfaat bagi umat manusia, jika barang dan jasa diproduksi secara lebih efisien.
Setiap usahawan yang baik harus melakukan kebiasaannya yang cermat unutk mengenal dan lalu dapat menyajikan kebutuhan masyarakatnya. Dasar semua bisnis ialah bahwa usahawan menyajikan kepuasan yang tak ternilai demi memenuhi kebutuhan masyarakat.
Para usahawan berharap mempertahankan kebebesan dalam meberikan keputusan agar mereka dapat memlihara inisiatif dalam menemuka pasar dan keinginan masyarakat. PP dapat mendorong usahawan berkembahg, namun dapat menjadi suatu pelayanan yang salah pada rakyat dan kemungkinan merangsang kebebasan bisnis.
Pengendalian harga, UU penentuan upah terendah (UMR) adalah contoh campur tangan pemerintah, sebagai jawaban terhadap kepentingan sosial. Dapat ditemukan, bahwa biaya untuk mengadakan UU atau PP diperleh dari penduduk dan pengusaha dalam bentuk pajak.
C. Etika Laba
Tugas suatu generasi menciptakan lembaga-lembaga ekonomi untuk masyarakat dan pribadi. Dunia bisnis disorot oleh masyarakat yang serba kritis dan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi. Benar atau tidak pendapat masyarakat sebagai penentu untuk keadilan ekonomi.
”Bisnis tak dapat lepas dari usaha yang haus akan laba”, namun yang harus kita pahami adalah :
1.Tidak berarti membenarkan pendapat yang menghalalkan bahwa usaha mengumpulkan laba tanpa batas
2.Kita harus mengikat usaha dengan mengenakan atau membatasinya pada aturan-aturan moral, karena semua hubungan antar manusia harus dijadikan penuntun.
3.Wajar kalau bisnis mengejar laba,akan tetapi dapat dipetanggngjawabkan kepada masyarakat. Cara menghindari campur tangan pemerintah dalam dunia bisnis adalah dengan membatasi laba yang diperoleh di dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.
4.Tidak adil apabila kita membuat suatu definisi bisnis mencari laba sebagai sasaran pokok
D. Etika Kesadaran Pertanggungjawaban Sosial
Bisnis harus berpegang pada kesadaran sosial yang ikut memikirkan kemakmuran masyarakat dan bukan hanya kemakmuran para pengusaha saja.
Apabila organisasi bisnis mengabaikan pertanggungjawaban sosial, maka pastilah akan dicap sebagai suatu kegagalan di bidang bisnis. Organisasi yang perprinsip unutk kepentingan sendiri tanpa mengindahkan kepentingan orang lain, maka pada akhirnya akan di tuduh melakukan kecurangan.
Suatu bisnis atau lembaga lain menjadi wajib sosial atau tidak, jika lembaga tersebut dapat atau tidak memberi pengeluaran (output) yang lebih besar daripada input. Jika pendapatan bersihnya lebih besar dari pengeluaran dengan sendirinya lebih baik unutk masyarakat.
ETIKA MENCAPAI LABA YANG LAYAK
A. Pertanggungjawaban Sosial
Apakah pertanggungjawaban suatau badan usaha pada masyarakat?
Tahun 1776 Adam Smith memperkenalkan doktrin untuk memperoleh laba usaha semaksimal mungkin. Doktrin ini menjelaskan bahwa penampilan usahawan adalah baik jika ia meningkaykan efeisensi kerja dan mengurangi biaya agar dengan demikian laba maksimal tercapai.
Keinginan para usahawan untuk memperoleh laba memaksa mereka melakukan persaingan bebas. Tindakan ini dilakukan dengan alasan demi kepentingan masyarakat dengan cara mengurangi biaya dan harga barang atau jasa.
Sejak bisnis beroperasi di dunia kemiskinan dan kelaparan, efesiensi ekonomik menempatkan dirinya pada prioritas tertinggi dan harus merupakan misi bisnis tunggal.
Fungsi bisnis adalah ekonomik, bukan sosial. Nilai ekonomik merupakan satu-satunya tolak ukur sebagai keberhasilan bisnis pemimpin atau manajer perusahaaan yang dipercayakan oleh para pemegang saham.
Pengaruh bisnis terasa diseluruh masyarakat, di bidang pendidikan, di rumah, di pasar, bahkan dalam pemerintahan. Ia melebur menjadi nilai-nilai sosial. Maka dengan demikian proses kombinasi aktivitas sosial dari bidang bisnis akan memberikan konsentrasi kekuatan yang berlebihan.
Milton Friedman seorang ekonom pernah membuat suatu argumentasi yang keras bahwa pertanggngjawaban sosial adalah : suatu tindakan dari suatu badan yang diakui sebagai badan hukum yang tidak pantas. Sudah tentu banyak alasan yang kelihatan sah dalam argumentasi terhadap bisnis yang diasumsikan sebagai pertanggungjawaban sosial.
Pandangan yang paling ekstrim pada kenyataannya adalah golongan kiri yang meyakini, bahwa bisnis meru[akan suatu lembaga yang tidak disukai. Dengan demikian masyarkarat bisnis sudah berang tentu jangan diberikan kekuasaan yang berlebihan.
B. Pertanggungjawaban Dunia Bisnis
Golongan masyarakat barat tradisional berpendapat bahwa dunia bisnis sifatnya ekonomik. Peranan ini didukung oleh para ahli ekonomi yang berpendapat bahwa nilai-nilai ekonomik pada suaru pasaran bebas, sangat bermanfaat bagi umat manusia, jika barang dan jasa diproduksi secara lebih efisien.
Setiap usahawan yang baik harus melakukan kebiasaannya yang cermat unutk mengenal dan lalu dapat menyajikan kebutuhan masyarakatnya. Dasar semua bisnis ialah bahwa usahawan menyajikan kepuasan yang tak ternilai demi memenuhi kebutuhan masyarakat.
Para usahawan berharap mempertahankan kebebesan dalam meberikan keputusan agar mereka dapat memlihara inisiatif dalam menemuka pasar dan keinginan masyarakat. PP dapat mendorong usahawan berkembahg, namun dapat menjadi suatu pelayanan yang salah pada rakyat dan kemungkinan merangsang kebebasan bisnis.
Pengendalian harga, UU penentuan upah terendah (UMR) adalah contoh campur tangan pemerintah, sebagai jawaban terhadap kepentingan sosial. Dapat ditemukan, bahwa biaya untuk mengadakan UU atau PP diperleh dari penduduk dan pengusaha dalam bentuk pajak.
C. Etika Laba
Tugas suatu generasi menciptakan lembaga-lembaga ekonomi untuk masyarakat dan pribadi. Dunia bisnis disorot oleh masyarakat yang serba kritis dan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi. Benar atau tidak pendapat masyarakat sebagai penentu untuk keadilan ekonomi.
”Bisnis tak dapat lepas dari usaha yang haus akan laba”, namun yang harus kita pahami adalah :
1.Tidak berarti membenarkan pendapat yang menghalalkan bahwa usaha mengumpulkan laba tanpa batas
2.Kita harus mengikat usaha dengan mengenakan atau membatasinya pada aturan-aturan moral, karena semua hubungan antar manusia harus dijadikan penuntun.
3.Wajar kalau bisnis mengejar laba,akan tetapi dapat dipetanggngjawabkan kepada masyarakat. Cara menghindari campur tangan pemerintah dalam dunia bisnis adalah dengan membatasi laba yang diperoleh di dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.
4.Tidak adil apabila kita membuat suatu definisi bisnis mencari laba sebagai sasaran pokok
D. Etika Kesadaran Pertanggungjawaban Sosial
Bisnis harus berpegang pada kesadaran sosial yang ikut memikirkan kemakmuran masyarakat dan bukan hanya kemakmuran para pengusaha saja.
Apabila organisasi bisnis mengabaikan pertanggungjawaban sosial, maka pastilah akan dicap sebagai suatu kegagalan di bidang bisnis. Organisasi yang perprinsip unutk kepentingan sendiri tanpa mengindahkan kepentingan orang lain, maka pada akhirnya akan di tuduh melakukan kecurangan.
Suatu bisnis atau lembaga lain menjadi wajib sosial atau tidak, jika lembaga tersebut dapat atau tidak memberi pengeluaran (output) yang lebih besar daripada input. Jika pendapatan bersihnya lebih besar dari pengeluaran dengan sendirinya lebih baik unutk masyarakat.
Sabtu, 22 Oktober 2016
##Bagaimana Cara Menjadi Orang yang Lebih Spiritual?##
##Bagaimana Cara Menjadi Orang yang Lebih Spiritual?##
Banyak orang sering bingung antara spiritualitas dengan religius. Ada yang hidup menjalankan keduanya, beragama dan spiritual, ada juga yang beragama tanpa mengerti spiritual, atau menjadi spiritual tanpa beragama. Agama adalah alat untuk mencapai spiritualitas. Agama adalah jalan kepada Tuhan. Spiritualitas juga merupakan jalan menuju Tuhan. Hanya saja keduanya memiliki perbedaan dalam pendekatan. Mari kita kaji lebih banyak, baca terus….
Anda berlatih ilmu tertentu ingin memiliki kesaktian atau kelebihan, apakah itu menunjukkan Anda adalah orang spiritual? Tidak.
Anda berdoa setiap hari, tak pernah absen menjalankan ritual agama, apakah itu menunjukkan Anda adalah orang spiritual? Tidak.
Anda melakukan Yoga dan bermeditasi setiap hari, apakah ini sudah berarti Anda adalah orang spiritual? Tidak juga.
Anda masuk kedalam komunitas agama tertentu dan mengikuti ajaran sesuai golongan itu, apakah ini berarti Anda adalah orang spiritual? Juga tidak.
Anda berdoa setiap hari, tak pernah absen menjalankan ritual agama, apakah itu menunjukkan Anda adalah orang spiritual? Tidak.
Anda melakukan Yoga dan bermeditasi setiap hari, apakah ini sudah berarti Anda adalah orang spiritual? Tidak juga.
Anda masuk kedalam komunitas agama tertentu dan mengikuti ajaran sesuai golongan itu, apakah ini berarti Anda adalah orang spiritual? Juga tidak.
Lantas apa spiritual itu?
Sebenarnya ada perbedaan cukup jelas yang membedakan antara orang religius dengan spiritual. Kita bisa mengujinya dengan satu pertanyaan saja. Jika pahala dan dosa tidak ada apakah Anda masih mau tunduk pada aturan Tuhan, masih hidup harmonis dengan semua makhluk, masih mau melayani sesama? Pertanyaan yang sungguh sederhana, tapi sangat esensil. Jadi mari kita cermati.
Sebenarnya ada perbedaan cukup jelas yang membedakan antara orang religius dengan spiritual. Kita bisa mengujinya dengan satu pertanyaan saja. Jika pahala dan dosa tidak ada apakah Anda masih mau tunduk pada aturan Tuhan, masih hidup harmonis dengan semua makhluk, masih mau melayani sesama? Pertanyaan yang sungguh sederhana, tapi sangat esensil. Jadi mari kita cermati.
Ada 3 golongan besar manusia di Bumi ini :
1. Kelompok orang yang mematuhi aturan Tuhan karena mengejar pahala.
Mereka menjalankan ritual, berbuat baik pada sesama demi pahala. Kelompok ini adalah orang yang mematuhi aturan Tuhan karena takut dengan dosa. Mereka takut dengan kengerian siksa neraka jika membangkang pada Tuhan. Akhirnya mereka dengan terpaksa mematuhi aturan-aturan Tuhan dan melayani sesama karena ‘ketakutan’.
1. Kelompok orang yang mematuhi aturan Tuhan karena mengejar pahala.
Mereka menjalankan ritual, berbuat baik pada sesama demi pahala. Kelompok ini adalah orang yang mematuhi aturan Tuhan karena takut dengan dosa. Mereka takut dengan kengerian siksa neraka jika membangkang pada Tuhan. Akhirnya mereka dengan terpaksa mematuhi aturan-aturan Tuhan dan melayani sesama karena ‘ketakutan’.
2. Kelompok manusia yang memiliki ego tinggi, demi kepentingan sendiri.
Di planet ini, meskipun manusia sudah diiming-imingi dengan pahala serta diancam dengan dosa, tetapi masih banyak manusia menyakiti alam, Bumi tempat tinggalnya, manusia lain, bahkan dirinya sendiri. Polusi di tanah, air, udara, juga di tingkat ether dari pikiran dan emosi negatif manusia. Penganiayaan, pemerkosaan, pembunuhan, anarki, kompetisi, penipuan, diskriminasi, ketidakpedulian. Bahkan manusia tipe ini bersuka ria atas semua itu. Ini sungguh memprihatinkan.
Di planet ini, meskipun manusia sudah diiming-imingi dengan pahala serta diancam dengan dosa, tetapi masih banyak manusia menyakiti alam, Bumi tempat tinggalnya, manusia lain, bahkan dirinya sendiri. Polusi di tanah, air, udara, juga di tingkat ether dari pikiran dan emosi negatif manusia. Penganiayaan, pemerkosaan, pembunuhan, anarki, kompetisi, penipuan, diskriminasi, ketidakpedulian. Bahkan manusia tipe ini bersuka ria atas semua itu. Ini sungguh memprihatinkan.
3. Kelompok orang-orang yang mematuhi aturan Tuhan, hidup harmonis, melayani sesama , tumbuh dari hatinya.
Semua yang mereka lakukan adalah buah ketulusan, bukan karena pahala dan dosa. Mereka melakukannya demi kepentingan bersama. Kelompok terakhir inilah yang disebut dengan manusia spiritual. Mereka sadar dan mengerti inti spiritualitas adalah Kasih dan Kesadaran Universal. Mereka paham bahwa setiap makhluk adalah satu. Dalam hatinya ada keyakinan bahwa jika mereka melayani sesama, mereka akan dilayani, jika mereka menyakiti, mereka akan disakiti, itu sudah jadi ketetapan Tuhan, prinsip dasar, karma, tak perlu iming-iming pahala atau ancaman dosa, murni kesadaran.
Semua yang mereka lakukan adalah buah ketulusan, bukan karena pahala dan dosa. Mereka melakukannya demi kepentingan bersama. Kelompok terakhir inilah yang disebut dengan manusia spiritual. Mereka sadar dan mengerti inti spiritualitas adalah Kasih dan Kesadaran Universal. Mereka paham bahwa setiap makhluk adalah satu. Dalam hatinya ada keyakinan bahwa jika mereka melayani sesama, mereka akan dilayani, jika mereka menyakiti, mereka akan disakiti, itu sudah jadi ketetapan Tuhan, prinsip dasar, karma, tak perlu iming-iming pahala atau ancaman dosa, murni kesadaran.
Dari penjelasan singkat diatas kita bisa menyimpulkan, jika seseorang sudah sampai pada tahap spiritualitas tertentu maka dia akan bisa naik ke tahap pembelajaran berikutnya. Jika pertanyaan yang tadi kita lontarkan pada setiap kelompok manusia di atas, maka kita akan bisa menerka bahwa kelompok ketiga yang akan bisa menjawab dengan yakin, teguh dan tanpa sedikitpun ragu bahwa meskipun ada atau tidak pahala dan dosa, mereka akan senantiasa hidup menaati aturan Tuhan, selaras dengan seluruh makhluk dan melayani sesama dengan tulus.
Jadi, bagaimana belajar menjadi orang yang lebih spiritual?
Spiritual tak ada hubungannya dengan agama manapun. Berbeda dengan religius, spiritualitas adalah murni kualitas jiwa seseorang. Seberapa selaras dia dengan Penciptanya, seberapa harmonis kehidupannya dengan semua makhluk di dunia. Seharusnya agama-agama yang ada di Bumi dijadikan alat untuk mencapai tahapan spiritual, bukan alat untuk saling memusuhi, serta memerangi pemeluk agama lainnya.
Manusia Bumi masih belum mengerti apa arti spiritualitas sesungguhnya. Mereka masih berpikir dalam kotak-kotak yang sempit, belum mampu berpikir universal. Mereka tak menyadari bahwa mereka tak hidup sendiri di alam semesta yang amat luas ini. Hal penting yang harus Anda ingat sendiri ketika Anda mencari pencerahan spiritual adalah, Anda harus berjalan dengan cara Anda sendiri untuk mencari pengalaman, pengalaman inilah yang nantinya menjadi pencerahan. Jangan ikuti apapun atau siapa pun jika Anda tidak merasa nyaman atau bertolak belakang dengan keyakinan Anda, biarkan jiwa yang menuntun Anda. Anda adalah tuan dari takdir Anda sendiri, dan Andalah orang yang menciptakan realitas kehidupan Anda.
Jika Anda ingin menjadi orang yang spiritual, maka biarkan ketulusan menjadi cahaya pembimbing Anda – kebaikan terhadap diri sendiri, terhadap sesama, terhadap hewan dan seisi planet ini. Terimalah bahwa hakikatnya kita semua memiliki cahaya kasih bersumber dari Tuhan yang hadir di dalam diri kita, dan belajarlah untuk menghormati kasih itu sehingga Anda dapat mengetahui dan mengalami kesatuan.
Jumat, 21 Oktober 2016
##membagikan saja dari pak Pranowo Budi Sulistyo##
##membagikan saja dari pak Pranowo Budi Sulistyo##
Urip Iku Urup
Hidup itu tidak redup
ia gemilang terang benderang
laksana Batara Surya menerangi bumi
selalu memberi tak pernah meminta
dan Batara Candra memantulkan cahya di malam hari
slalu pancarkan kedamaian kepada siapa saja
bukan seperti saat kepala Kalarahu mencaplok keduanya
hingga menimbulkan kegelapan dan ketakutan
Hidup itu tidak redup
ia gemilang terang benderang
laksana Batara Surya menerangi bumi
selalu memberi tak pernah meminta
dan Batara Candra memantulkan cahya di malam hari
slalu pancarkan kedamaian kepada siapa saja
bukan seperti saat kepala Kalarahu mencaplok keduanya
hingga menimbulkan kegelapan dan ketakutan
Nyala terang dalam gelap adalah berkah bagi makhluk disekelilingnya
Kata petuah agama sebaik baiknya manusia adalah
yang mampu memberi banyak manfaat kepada manusia lain
khairunnas anfa ‘uhum linnas
sehingga sudah pasti seburuk-buruk orang adalah
yang selalu menebarkan ancaman bagi masyarakat sekitarnya
keberadaannya tidak diinginkan
hadirnya menghalangi terang
kegelapan menaunginya
yang mampu memberi banyak manfaat kepada manusia lain
khairunnas anfa ‘uhum linnas
sehingga sudah pasti seburuk-buruk orang adalah
yang selalu menebarkan ancaman bagi masyarakat sekitarnya
keberadaannya tidak diinginkan
hadirnya menghalangi terang
kegelapan menaunginya
Urip Iku Urup
maka jadilah cahaya bagi orang orang disekitarmu
maka jadilah cahaya bagi orang orang disekitarmu
Petuah bijak Sang Pemenang
Arthur Ashe, pemain Wimbledon legendaris sekarat karena AIDS yg berasal dari darah yg terinfeksi virus ketika operasi jantung pada 1983. Dia menerima surat dari para penggemarnya, salah satu dari mereka ada yg menyampaikan:
“Mengapa Tuhan memilih Anda untuk mendapatkan penyakit yg buruk seperti ini??”
Terhadapnya, Arthur Ashe menjawab:
Lima puluh juta anak mulai bermain tenis,
Lima juta dari mereka belajar bagaimana bermain tenis,
Lima ratus ribu belajar tenis secara profesional,
Lima puluh ribu bertanding dalam turnamen,
Lima ribu mencapai Grand Slam,
Lima puluh mencapai Wimbledon,
Empat mencapai semifinal,
Lima juta dari mereka belajar bagaimana bermain tenis,
Lima ratus ribu belajar tenis secara profesional,
Lima puluh ribu bertanding dalam turnamen,
Lima ribu mencapai Grand Slam,
Lima puluh mencapai Wimbledon,
Empat mencapai semifinal,
Dua mencapai final,
dan ketika saya menggenggam pialanya,
saya tak pernah bertanya pada Tuhan,
“Kenapa (harus) saya?”
Jadi ketika sekarang saya sakit,
bagaimana bisa saya menanyakan kepada Tuhan,
“Kenapa (harus) saya?”
Kebahagiaan membuatmu tet
ap manis.
Cobaan membuatmu kuat.
Kesedihan membuatmu tetap menjadi manusia.
Kegagalan membuatmu tetap rendah hati.
Kesuksesan membuatmu tetap berpijar.
Namun, hanya iman yg membuatmu tetap melangkah.
Cobaan membuatmu kuat.
Kesedihan membuatmu tetap menjadi manusia.
Kegagalan membuatmu tetap rendah hati.
Kesuksesan membuatmu tetap berpijar.
Namun, hanya iman yg membuatmu tetap melangkah.
Kadang engkau merasa tidak puas terhadap kehidupanmu
sementara banyak orang di dunia ini memimpikan bisa hidup sepertimu.
sementara banyak orang di dunia ini memimpikan bisa hidup sepertimu.
Anak kecil di ladang memandang pesawat terbang di atasnya,
dan memimpikan bisa terbang,
tetapi sang pilot di pesawat itu memandang ladang di bawahnya
dan memimpikan bisa pulang ke rumah.
dan memimpikan bisa terbang,
tetapi sang pilot di pesawat itu memandang ladang di bawahnya
dan memimpikan bisa pulang ke rumah.
Begitulah hidup.
Nikmatilah hidupmu.
Jika kekayaan adalah rahasia kebahagiaan,
tentu orang-orang kaya akan menari-nari di jalanan.
Tapi ternyata
Hanya anak2 miskinlah yg melakukannya.
tentu orang-orang kaya akan menari-nari di jalanan.
Tapi ternyata
Hanya anak2 miskinlah yg melakukannya.
Jika kekuatan memang menjamin keamanan,
tentu orang-orang penting akan berjalan tanpa pengawalan.
tentu orang-orang penting akan berjalan tanpa pengawalan.
Tapi ternata
Hanya mereka yg hidup sederhana yg bisa tidur nyenyak.
Jika kecantikan dan kepopuleran memang membawa kita pada hubungan yang ideal,
tentu para selebriti pasti punya kehidupan perkawinan yg terbaik.
tentu para selebriti pasti punya kehidupan perkawinan yg terbaik.
Hiduplah sederhana
Berjalanlah dengan rendah hati.
Dan mencintailah dengan tulus
Berjalanlah dengan rendah hati.
Dan mencintailah dengan tulus
Ketika Negara-Bangsa Menjadi "Gila"!
Dalam sejarah negara-bangsa Asia, ada tiga negara memiliki kekejaman terhadap bangsa sendiri yang tidak terbayangkan dan menjadi momok sejarah mengerikan. Ketiga negara ini adalah Indonesia dengan peristiwa traumatis 1965 menyebabkan kematian dan kesengsaraan yang melewati batas kemanusiaan, bukan hanya pada pertikaian ideologi dan politik, melainkan juga melebar menjadi sentimen ras Tionghoa Indonesia yang dibelenggu dari akar peradabannya.
Negara lain adalah Tiongkok dengan Revolusi Kebudayaan yang tahun ini berusia 50 tahun, ketika kegilaan ideologi dan politik merasuk seluruh bangsa, menghancurkan tidak hanya elemen-elemen kontra-revolusioner, tetapi juga menghilangkan peradaban lama merusak hubungan antarkeluarga, antarguru, antardesa, dan semua yang berbau kapitalis. Seluruh Tiongkok terhenti, Revolusi Kebudayaan yang "memakan anak sendiri" mereda sampai meninggalnya Mao Zedong, pemimpin karismatik campuran komunis, dewa, dan revolusioner.
Kekejaman Asia lainnya adalah "ladang pembantaian" di Kamboja ketika rezim Khmer Merah membantai seperlima bangsa Khmer dengan korban tewas lebih dari dua juta orang. Kediktatoran Kamboja di bawah Pol Pot ingin membangun komunis Kamboja, bercita-cita membangun dari "masyarakat titik nol" bangsa Khmer dengan membantai rakyat, elite, dan cendekiawan di penjara Tuol Sleng di ibu kota Phnom Penh atau di kawasan Choueung Ek yang tidak jauh dari ibu kota.
Apa hasil pembantaian, pembunuhan, penyiksaan, kelaparan, kesengsaraan di Indonesia, Tiongkok, dan Kamboja dalam peristiwa sekitar 50 tahun lalu itu? Di Indonesia, muncul kekuasaan militer otoriter berkuasa selama tiga dekade, memenjarakan semua lawan ideologi dan politik tanpa proses peradilan. Walaupun kekuasaan ini secara perlahan meredam kemiskinan dan bekerja keras meningkatkan kesejahteraan, kekuasaan militer otoriter mengancam kebebasan intelektual, menekan kebebasan ilmiah, dan mengancam hak asasi siapa pun.
Revolusi Kebudayaan di Tiongkok berhenti dengan wafatnya Mao Zedong pada tahun 1976 dan diadilinya Empat Sekawan pimpinan istri Mao, Jiang Qing. Kaum "elite mandarin" Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang ditawan, disiksa, dan disengsarakan melalui kerja paksa, pelan-pelan bangkit dan kembali berkuasa di bawah Deng Xiaoping merancang modernisasi ekonomi yang tidak pernah terjadi dalam sejarah modern Tiongkok.
Khmer Merah di bawah Pol Pot digulingkan dalam perang saudara dukungan Vietnam yang menyerang Kamboja tahun 1979. Para pemimpin Khmer Merah mulai dari Pol Pot, Khieu Samphan, dan lainnya dihukum mati atau seumur hidup melalui peradilan internasional di bawah PBB. Kepala penjara Tuol Sleng, Kaing Guek Eav, yang bertanggung jawab atas pembantaian 14.000 orang, dihukum mati pada tahun 2010.
Di Kamboja, pertikaian Khmer Merah menghasilkan aristokrasi politik baru, mengembalikan kejayaan kerajaan Champa. Hun Sen yang nama aslinya Hun Bunal sebelum menjadi Khmer Merah pada tahun 1972, menjadi politisi Asia Tenggara yang paling berkuasa dan memiliki gelar "Samdech Akka Moha Sena Padei Techo", gelar aristokrasi dan supremasi militer.
Pertikaian ideologi politik di Indonesia menghadirkan konglomerasi kerja sama kelompok militer dan pengusaha. Di Tiongkok muncul kelas kapitalis baru menjadi anggota PKT. Baik di Tiongkok maupun Indonesia, pertikaian ideologi politik menghasilkan korupsi sebagai momok baru masyarakat. Di Indonesia, komunisme menjadi "hantu merah," di Tiongkok komunisme menjadi "Chinaisme" menguasai ekonomi dan perdagangan dunia.
Benedict Anderson, Indonesianis terkenal dalam bukunya, Imagined Communities (London, 1983), mungkin benar menyiratkan bentuk yang disebut reduksionisme ideologi dalam menentang kompleksitas fenomena nasional negara-bangsa.
Menurut Anderson, rasa memiliki dan sentimen solidaritas nasional tidak dengan sendirinya membentuk komunitas nasional. Kapasitas materialisme historis ternyata tidak mampu mengatasi fenomena nasional dalam menghadapi modernisasi ekonomi dan globalisasi teknologi. Gila! ●
|
Berteologi tak Mudah tentang Penyelenggaraan Tuhan
Berteologi tak Mudah tentang Penyelenggaraan Tuhan
SELAMA berlangsungnya IYD 2016 di Manado, saya sering menulis betapa indah ‘penyelenggaraan Tuhan’ yang telah membuat acara IYD itu begitu lancar, khususnya dari segi cuaca yang sangat baik, tidak hujan dan tidak panas. Juga harus disebutkan, selama sepekan itu tidak pernah mati lampu.
Soal lampu, tentu bisa diatur oleh panitia dengan PLN supaya tidak ada pemadaman selama IYD. Setelah IYD selesai, Manado hampir setiap hari hujan dan mati lampu juga. Maka selama sepekan IYD itu, saya merasa kagum dan bersyukur bahwa cuaca sangat mendukung. Cuaca itu adalah faktor alam yang di luar kontrol manusia, sehingga lebih mudah untuk dihayati sebagai ‘penyelenggaraan’ Tuhan.
Sungguhkah penyelenggaran Tuhan?
Kemarin petang, saya menemani Pastor Jan van Paassen MSC dan Pastor Jacobus Wagey MSC makan malam sambil menonton TV berisi berita tentang perang di Suriah, khususnya liputan tentang kota Aleppo yang sudah hancur. Pastor Jan yang dalam usia 85 tahun dan masih sehat, berfikiran jernih, pendengaran masih normal dan mata belum katarak, bisa membaca tanpa kacamata, menunjuk pada berita itu dan mengatakan kepada saya: “Sulit memahami ‘penyeleggaraan Tuhan’ di Aleppo itu”.
Saya diam dan tidak bisa menjawab. Karena di dalam hati saya juga bertanya: Mengapa hal itu diizinkan oleh Tuhan untuk terjadi? Mengapa Tuhan tidak mencegah supaya hal-hal buruk itu tidak terjadi?
Kalau malapetaka akibat perang masih bisa dimengerti karena sebagian besar peristiwa itu disebabkan oleh perbuatan manusia sendiri. Perang-perang di Suriah, Afganistan, Irak dan gerakan ISIS itu terjadi karena perbuatan manusia sendiri yang dengan kebebasannya melakukan tindakan itu.
Yang lebih sulit dimengerti adalah badai dan taufan yang setiap kali terbentuk di lautan kemudian menyerang daratan dan menewaskan ribuan orang di Haiti dan banjir bandang di Amerika. Setelah bencana taufan selesai, Haiti diserang wabah kolera karena keadaan yang porak-poranda tanpa makanan dan kebersihan. Mengapa Tuhan mengizinkan taufan dan badai itu selalu terjadi? Dalam hal ini, sulit mengerti ‘penyelenggaraan Tuhan’.
Jawaban
Saya mempunyai jawaban kepada pastor Jan van Paassen tadi. Namun jawaban saya itu juga mengandung risiko keliru atau tersesat.
Jawaban saya ialah: “Mengapa Tuhan tidak menciptakan saya dan Pastor Jan van Paassen sebagai penduduk di Aleppo itu dan sudah menjadi korban perang dan kini sudah meninggal. Atau juga menjadi penduduk Haiti dan sudah hilang tersapu oleh badai itu. Mengapa Tuhan menempatkan kami bukan sebagai bagian dari para korban yang ada di dalam berita TV itu, melainkan sebagai penonton berita TV itu?”
Hal ini juga sulit diterangkan dan sulit dimengerti. Namun kami lebih mudah merasakan kebaikan Tuhan dan penyelenggaraan Tuhan, karena kami dalam posisi yang diuntungkan.
Atau saya bisa mencoba untuk berteologi begini. Belum tentu siapa yang lebih diuntungkan. Siapa tahu para korban itu, baik korban perang maupun korban bencana alam, dalam sekejap telah berpindah dari dunia yang fana ini dan masuk dalam kehidupan abadi yang penuh kedamaian dan kebahagiaan tanpa takut lagi ada bahaya kematian. Tuhan berbelas kasih kepada para hamba-Nya yang menderita sengsara akibat perang yang dilakukan oleh manusia atau oleh badai yang terbentuk karena fenomena alam.
Mereka yang meninggal itu masuk ke dalam surga dan diampuni segala dosanya, mengingat nasibnya yang malang di dunia. Sedangkan kami yang hidup enak-enak sebagai penonton TV, masih harus melanjutkan penderitaan di dunia ini yang disebabkan oleh dosa-dosa da kerapuhan fisik.
Namun teologi semacam ini ada bahaya untuk disalahmengerti sebagai pemikiran yang membenarkan perang dan menganggap badai sebagai hal yang baik. Dan kematian sebagai akibat perang dan badai dianggap lebih baik daripada hidup di dunia ini.
Saya melihat bacaan pertama hari Minggu nanti tentang Musa yang mengangkat tangannya dan pasukan Israel menjadi kuat, ada kaitannya dengan ‘penyelenggaraan Tuhan dan usaha dari manusia’.
Setiap kali Musa mengangkat tangannya pasukan Israel menjadi lebih kuat sehingga orang Amalek kalah. Tetapi kalau Musa menurunkan tangannya, karena sudah lelah, maka orang Amalek lebih kuat dan Israel kalah. Untuk mengatasi masalah itu, Musa duduk di batu dan kedua tangan Musa ditopang oleh Harun dan Hur, sehingga tangan Musa tidak bergerak turun sampai matahari terbenam dan Israel menang perang.
Tangan Musa
Karena orang Israel melihat hubungan antara tangan Musa dan “nasib tentara Israel’ itu, maka Harun dan Hur mencari akal supaya tetap bisa mempertahankan tangan Musa tetap terangkat ke atas. Tangan Musa itu dianggap berhubungan langsung dengan berkat Tuhan. Kalau tangan Musa terangkat, maka berkat Tuhan turun dan Israel kuat dalam perang. Kalau tangan Musa turun, maka berkat Tuhan pergi dan Israel kalah dalam perang.
Dalam cerita itu mungkin mau dikatakan bahwa diperlukan usaha, kreativitas dan ketekunan manusia supaya berkat Allah juga terjadi. Karena Harun dan Hur bertahan sampai petang untuk menopang tangan Musa dan tentu Musa sendiri terus berusaha untuk bisa mengangkat tangannya ke atas dibantu topangan Harun dan Hur, maka tentara Israel berhasil mengalahkan pasukan Amalek. Kisah ini menarik untuk berteologi tentang hal- hal fana di dunia ini dipakai oleh Tuhan sebagai sarana untuk melaksanakan karya keselamatan Allah.
Hal yang sama dikatakan oleh Yesus dalam bacaan Injil tentang perlunya terus beriman dan tetap berdoa. Jangan lelah untuk beriman dan berdoa. Dan Allah akan membenarkan hamba-Nya yang tidak pernah berhenti utuk beriman dan berdoa.
Dan pertanyaanya adalah: siapakah yang mampu untuk tetap beriman dan berdoa terus-menerus? Sedangkan Musa saja tidak mampu dan kelelahan. Musa perlu dibantu oleh Harun dan Hur dengan menopang tangannya supaya ia tetap mampu beriman dan berdoa. Apalagi kita, kita juga lelah untuk beriman dan berdoa terus-menerus. Kita juga butuh ditopang oleh sesama supaya mampu bertahan, seperti Musa.
Dan pertanyaan Yesus pada akhir injil itu membuat kita berefleksi diri: “Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia menemukan iman di bumi?”(Luk. 18:8).
Jangan-jangan di seluruh bumi ini, tidak ada iman yang pantas untuk menyambut kedatangan Anak Manusia itu! Janga- jangan semuanya kosong, tidak ada iman dan tidak ada doa yang benar.
Untuk mengecek hal itu, cukuplah setiap orang melihat dirinya sendiri
Senin, 17 Oktober 2016
PUSTAKA DHAMMA: DUKUN VS ROHANIWAN
PUSTAKA DHAMMA: DUKUN VS ROHANIWAN: Oleh : Tanhadi Mungkin banyak kita jumpai perilaku seorang Rohaniwan bertindak seperti layaknya seorang Dukun, hal ini ‘sepertinya’ bu...
Sampai disini timbul suatu pertanyaan : “ Apa Beda antara ‘Dukun Hitam dan Dukun Putih’ tersebut ?
Tapi sebaliknya Orang yang hendak ke Vihara, dia melakukannya secara ‘Terbuka’…dan ketika ada yang bertanya, ia akan segera menjawab : “ Saya mau ke Vihara”.
Nah…Agama pun demikian, Bila di dalam ajaran agama itu ada yang dirahasiakan, pasti ada sesuatu disitu yang salah/ magis dan bukan benar-benar Religius.
(Cullakammavibhanga Sutta; Majjhima Nikaya 135)
"Bagaikan kota di perbatasan yang dijaga ketat,
yang dikitari oleh benteng-benteng yang kuat.
Demikianlah hendaknya engkau menjaga dirimu,
jangan sampai membiarkan dirimu tergelincir
agar kesedihan tak menyusul sesampai di neraka"
( Dhammapada, Sukha Vagga XV-204)
AJARAN SANG BUDDHA
Inilah kunci bagi siapapun yang ingin meraih kesuksesan menggapai cita-citanya. Di dalam berusaha mencapai cita-cita, alih-alih menyibukkan diri dengan uncaran doa-doa berjam- jam, kita hendaknya selalu penuh keyakinan, ketekunan/semangat, perhatian, konsentrasi, dan kebijaksanaan, dalam berusaha dan berdaya-upaya meraih cita-cita, hingga apa yang kita cita-citakan itu berhasil.
Semoga artikel ringan ini dapat memberikan manfaat,
Sadhu…Sadhu…Sadhu….
Sumber :
DUKUN VS ROHANIWAN
Oleh : Tanhadi
Mungkin banyak kita jumpai perilaku seorang Rohaniwan bertindak seperti layaknya seorang Dukun, hal ini ‘sepertinya’ bukan hal yang asing/aneh di mata umatnya…, bahkan para umatnya menggebu-gebu bertanya ini dan itu sehubungan dengan hal ramal-meramal nasib, rejeki , jodoh dan hal-hal gaib lainnya.
Bagaimana dengan kita sendiri sebagai umat Buddhis? tentu saja masih banyak diantara umat Buddhis sendiri yang juga melakukan hal itu bukan? (kalau ini berdasarkan pengamatan langsung dari saya sendiri..), jangan-jangan diantara kita juga masih banyak yang sering bertanya soal nasib, rejeki dan jodoh kepada para bhikkhu atau romo ya? hehe….
Sekarang apa sih bedanya kita beragama Buddha dan tidak beragama Buddha ?
Kebanyakan jawabnya : “ Pasti beda !”
Kebanyakan jawabnya : “ Pasti beda !”
Alasannya juga bervariatif, al; “ Karena saya beragama Buddha, makanya saya bisa jadi seperti sekarang ini, coba kalau saya tidak beragama Buddha…pasti saya sudah jadi begitu..bla…bla…bla….”
Berbicara tentang ke-agamaa-an, seringkali orang berbicara sesuatu yang berbau mistis dan erat kaitannya dengan sesuatu yang berurusan dengan ‘sesuatu yang gaib’, misteri semacam itulah yang membuat seseorang kadang memeluk suatu agama dengan kuatnya, ada juga yang hanya karena menyaksikan hal-hal magis/mujizat lalu terpikat dengan agama tsb…dan masih banyak lagi alasan-alasan lainnya bagi yang pada awalnya beragama maupun yang tidak beragama sehingga akhirnya ia memeluk suatu agama tertentu.
Sebagai Contoh :
1). Sang Buddha dalam riwayat hidupnya pernah bermeditasi dibawah pohon beringin/banyan, kemudian Beliau dikunjungi oleh seorang perempuan muda kaya raya bernama Sujata. Sujata ingin membayar kaul kepada dewa pohon karena permohonannya supaya diberi seorang bayi laki-laki terkabul. Hari itu Sujata mengirim pelayannya ke hutan untuk membersihkan tempat di bawah pohon di mana ia ingin mempersembahkan makanan yang lezat-lezat kepada dewa pohon. la agak terkejut waktu pelayannya dengan tergesa-gesa kembali dan memberitahukan:”O, nyonya, dewa pohon itu sendiri telah datang dari kayangan untuk menerima langsung persembahan nyonya. Beliau sekarang duduk bermeditasi di bawah pohon. Alangkah beruntungnya bahwa dewa pohon berkenan untuk menerima sendiri persembahan nyonya.”
Sujata gembira sekali mendengar berita itu. Setelah makanan selesai dimasak, berangkatlah Sujata ke hutan. Sujata merasa kagum melihat dewa pohon dengan wajah yang agung sedang bermeditasi. la tidak tahu, bahwa orang yang dikira sebagai dewa pohon sebenarnya adalah pertapa Gotama. Dengan hati-hati makanan ditempatkan ke dalam mangkuk dan dengan hormat dipersembahkan kepada pertapa Gotama yang dikira Sujata adalah dewa pohon.
Sujata gembira sekali mendengar berita itu. Setelah makanan selesai dimasak, berangkatlah Sujata ke hutan. Sujata merasa kagum melihat dewa pohon dengan wajah yang agung sedang bermeditasi. la tidak tahu, bahwa orang yang dikira sebagai dewa pohon sebenarnya adalah pertapa Gotama. Dengan hati-hati makanan ditempatkan ke dalam mangkuk dan dengan hormat dipersembahkan kepada pertapa Gotama yang dikira Sujata adalah dewa pohon.
Pertapa Gotama menyambut persembahan itu. Setelah selesai makan, terjadilah percakapan antara pertapa Gotama dan Sujata seperti di bawah ini:
“Dengan maksud apakah engkau membawa makanan ini?”
“Tuanku yang terpuja, makanan yang telah aku persembahkan kepada Tuanku adalah cetusan rasa terima kasihku karena Tuanku telah meluluskan permohonanku agar dapat diberi seorang anak laki-laki.”
Kemudian pertapa Gotama menyingkap kain yang menutupi kepala bayi dan meletakkan tangannya didahinya sambil memberi berkah:\
“Semoga berkah dan keberuntungan selalu menjadi milikmu. Semoga beban hidup akan engkau terima dengan ringan. Aku bukanlah dewa pohon, tetapi seorang putra raja yang telah enam tahun menjadi pertapa untuk mencari sinar terang yang dapat dipakai untuk memberi penerangan kepada manusia yang berada dalam kegelapan. Aku yakin dalam waktu dekat ini Aku akan berhasil memperoleh sinar terang tersebut. Dalam hal ini persembahan makananmu telah banyak membantu, karena sekarang badanku menjadi kuat dan segar kembali. Karena itu dengan persembahan ini engkau akan mendapat berkah yang sangat besar. …….
2). Demikian pula ketika pintu atau jendela tiba-tiba bergerak menutup sendiri secara pelahan-lahan karena hembusan angin, namun karena seringkali terpengaruh oleh omongan teman-teman dan saudara-saudaranya, maka kita mengira itu adalah kerjaan makhluk halus yang sedang menggoda...dsb. Hal-hal semacam ini sering merupakan pengaruh dari persepsi kita sendiri.., mengapa ? Karena apa-apa yang kita lihat, realitasnya benda itu kan tidak masuk ke dalam mata kita , yang masuk adalah cahayanya, cahaya masuk kedalam mata diubah menjadi sinyal aliran listrik lewat syaraf-syaraf sampai ke sel-sel di otak.., sinyal itu diterjemahkan membentuk bayangan di otak kita dan kita pu melihat bayangan itu . Jadi yang kita lihat itu adalah bayangannya, bukan benda yang nyata itu…Karena itulah kita sering ‘salah lihat’ hehehe…kalau debu masuk ke mata dalam bahasa jawa disebut ‘kelilipen’, tapi kalau benda itu berupa batu sebesar bola volly masuk kemata ..bayangin sendiri deh, hehe….
Mendengar juga begitu.., bila indera kita ada cacat atau terganggu, maka pasti kita tidak bisa mendengar seperti orang normal, bila indera keliru ‘menangkap’ bayangan itu, maka persepsi kita pun juga akan keliru.
Mendengar juga begitu.., bila indera kita ada cacat atau terganggu, maka pasti kita tidak bisa mendengar seperti orang normal, bila indera keliru ‘menangkap’ bayangan itu, maka persepsi kita pun juga akan keliru.
Didalam ke-agama-an, persepsi-persepsi inilah yang berbeda-beda, yang satu menganggap ‘sesuatu itu’ ajaib, tapi yang lainnya menganggap biasa-biasa saja.
Tapi kalau kita ditanya : “Apakah agama Buddha mengakui dan percaya adanya makhluk-makhluk halus? Gaib-gaib ?” , tentu saja jawabnya : ‘YA, Percaya’ !
Nah…Kesulitannya adalah bagaimana kita dapat untuk membedakan mana yang ‘kerjaan’ makhluk halus dan mana yang cuman sekedar angin berhembus sehingga pintu itu tertutup sendiri…?, ini adalah soal kemampuan batin kita, kita yang tidak memiliki kemampuan batin ini tidak akan bisa membedakannya.
3). Didalam Petavatthu
(uragavagga 1.1 - Khettupamapetavatthuvannana), ada seorang wanita penghibur, sulasa namanya. Ia ‘menghilang’ diculik oleh dewa pohon yang penuh nafsu birahi dan keinginan yang besar, dewa itu lalu menimbulkan kebutaan pada Sulasa dan membawa Sulasa ke alamnya. Setelah hidup secara intim dengan Sulasa selama tujuh hari, dewa itu kemudian berterus terang tentang identitasnya. Sementara itu, ibu Sulasa, yang tidak dapat melihat anaknya, pergi ke sana ke mari sambil menangis. Orang-orang yang melihatnya berkata, 'Y.M. Mahamoggallana memiliki kemampuan batin yang luar biasa. Beliau pasti tahu di mana Sulasa berada. Pergilah ke sana untuk bertanya.' 'Baik, sahabat'. Si ibu lalu menghadap Sang Thera dan menanyakan hal itu. Sang Thera berkata, 'Tujuh hari dari sekarang, kamu akan melihat Sulasa di pinggir kerumunan orang ketika Sang Buddha sedang mengajarkan Dhamma di Mahavihara di Hutan Bambu.'
Sulasa kemudian berkata kepada devaputta itu, 'Tidaklah pantas bila aku berdiam di alammu. Hari ini adalah hari ketujuh, dan ibuku yang tidak dapat melihatku sudah amat khawatir dan sedih. Bawalah aku kembali ke sana, dewa.' Dewa itu lalu membawa kembali Sulasa ketika Sang Buddha sedang mengajarkan Dhamma di Hutan Bambu dan meletakkan Sulasa di tepi kerumunan orang, sedangkan dia berdiri tak terlihat (di sampingnya). Ketika melihat Sulasa, orang-orang berkata, 'Wahai Sulasa, kemana saja kamu selama berhari-hari? Karena kamu tidak kelihatan, ibumu merasa amat cemas dan sedih seperti orang kebingungan.' Sulasa pun menceritakan kejadian itu kepada orang-orang itu ……
Contoh-contoh tersebut diatas adalah suatu gambaran yang terkait dengan magis/kepercayaan terhadap hal-hal gaib yang sangat mempengaruhi pola pikir dan batin seseorang dalam menganutsuatu agama tertentu, sehingga hal-hal yang tidak bisa dipikirkan tersebut menjadi sesuatu yang cukup hanya untuk ‘di Iman-i ‘ saja.
Didalam Buddhisme tidak mengenal soal ‘keimanan’ ini, Umat Buddhis lebih memaknai agama sebagai suatu pedoman hidup berdasarkan ‘keyakinan’ (saddha) . Keyakinan disini bukan berarti kepercayaan yang membabi-buta atau asal percaya saja, akan tetapi suatu “keyakinan yang didasarkan pada pengertian yang muncul karena bertanya dan menyelidiki “ ( Vimamsaka Sutta,MN).
Didalam Buddhisme tidak mengenal soal ‘keimanan’ ini, Umat Buddhis lebih memaknai agama sebagai suatu pedoman hidup berdasarkan ‘keyakinan’ (saddha) . Keyakinan disini bukan berarti kepercayaan yang membabi-buta atau asal percaya saja, akan tetapi suatu “keyakinan yang didasarkan pada pengertian yang muncul karena bertanya dan menyelidiki “ ( Vimamsaka Sutta,MN).
Karena keyakinan ini muncul berdasarkan pengertian, maka keyakinan umat Buddha pada sesuatu yang diyakini adalah tidak sama kualitasnya. Tidak ada pengertian yang sama dari orang yang berbeda-beda, akibatnya kualitas keyakinan setiap individu pun berbeda-beda.
PRAKTEK MAGIS DAN RELIGIUS
PRAKTEK MAGIS DAN RELIGIUS
Didalam prakteknya, kedua hal tersebut sangatlah berbeda, sebagai contoh : Didalam menghadapi suatu pertandingan kejuaraan sepak bola dunia (FIFA) yang baru saja berlalu misalnya,… ‘Orang yang beragama’ tapi lebih suka pergi ke Dukun, dan yang satu lagi pergi ke Rohaniwan untuk tujuan yang sama, yaitu : Untuk menjadi juara !.
** Yang pergi ke Dukun :
** Yang pergi ke Dukun :
-Team tersebut mendatangkan ‘Dukun Hitam’ (sebut saja begitu….) dan mereka diberi jimat-jimat yang konon sudah ‘di isi’ dengan mantra-mantra gaib.
** Yang pergi ke Rohaniawan :
- Team tersebut mendatangkan ‘Dukun Putih’ (Rohaniwan) dan mereka ‘diajak’ bersama-sama untuk…” Marilah kita berdoa kepada Tuhan agar……….dst.”
Sampai disini timbul suatu pertanyaan : “ Apa Beda antara ‘Dukun Hitam dan Dukun Putih’ tersebut ?
Mereka sama-sama ‘mengharapkan’ Teamnya menang dan Team yang lain kalah, Sebenarnya Tujuan mereka berdua adalah sama, hanya ritualnya saja yang berbeda..!
Bila doa-doa dari Rohaniwan itu sudah dipanjatkan kepada Tuhan, apakah berarti Team tersebut PASTI MENANG ? atau karena kemanjuran daripada RITUALNYAKAH yang menyebabkan salah satu diantara Team tersebut menjadi Juaranya?
Tentu saja semuanya itu “TIDAK BENAR”, yang paling menentukan untuk menjadi pemenang adalah USAHA dari Team itu sendiri, bukan karena ritual-ritual tsb.
Kalau saja Team yang didampingi oleh Rohaniwan itu menang…semua pasti menganggap bahwa itu adalah hasil dari doa-doa mereka yang telah ‘Dikabulkan’ oleh Tuhan.., TAPI..Kalau team itu ternyata kalah dari team yang didampingi sang Dukun…? hehehehe….masa Tuhan kalah ama Dukun?
KERAHASIAAN
Pada umumnya, orang yang pergi ke Dukun pasti melakukannya dengan ‘Diam-diam’ dan tidak ingin perbuatannya itu diketahui oleh orang lain… “Rahasia pribadi” dan kalaupun ada yang bertanya, ia pasti berbohong ketika menjawabnya…, gak mungkin ia terang-terangan bilang : “ Saya mau ke Dukun !”
Pada umumnya, orang yang pergi ke Dukun pasti melakukannya dengan ‘Diam-diam’ dan tidak ingin perbuatannya itu diketahui oleh orang lain… “Rahasia pribadi” dan kalaupun ada yang bertanya, ia pasti berbohong ketika menjawabnya…, gak mungkin ia terang-terangan bilang : “ Saya mau ke Dukun !”
Tapi sebaliknya Orang yang hendak ke Vihara, dia melakukannya secara ‘Terbuka’…dan ketika ada yang bertanya, ia akan segera menjawab : “ Saya mau ke Vihara”.
Nah…Agama pun demikian, Bila di dalam ajaran agama itu ada yang dirahasiakan, pasti ada sesuatu disitu yang salah/ magis dan bukan benar-benar Religius.
MELATIH DIRI UNTUK MEMBUANG KE-AKU-AN
Didalam ajaran Agama Buddha, kita justeru bertujuan untuk melatih membuang “ke- Aku- an” dan memikirkan untuk orang lain.
Namun sebaliknya dengan pergi ke Dukun, justeru disini orang tsb. mempertebal ke-Aku-annya.., pokoknya sang Dukun harus memenuhi apa yang diinginkannya…’ saya maunya begini dan begitu… asal berhasil, berapapun akan saya bayar !”
KETAATAN
Kalau yang jalur agama (orang yang melaksanakan ibadahnya dengan benar), Ia akan menunjukkan kesediaan untuk taat dan akan mengikuti ajaran-ajaran kebaikan dari agama tersebut.
Kalau yang jalur agama (orang yang melaksanakan ibadahnya dengan benar), Ia akan menunjukkan kesediaan untuk taat dan akan mengikuti ajaran-ajaran kebaikan dari agama tersebut.
Tapi kalau yang percaya ke Dukun, Ia malah meminta dan memaksakan keinginannya.
HUKUM ALAM
HUKUM ALAM
Kalau yang agama ; Kita mentaati hukum –hukum alam yang ada (Niyama) dsb.
Tapi kalau pakai Jalur Dukun ; Ia malah memanipulasi mengubah hukum alam.
MANFAAT
Kalau yang jalur agama ; Perbuatan yang dilakukannya adalah juga untuk kebaikan dan kebahagiaan orang lain.
Tapi kalau pakai Jalur Dukun ; Ia malah memanipulasi mengubah hukum alam.
MANFAAT
Kalau yang jalur agama ; Perbuatan yang dilakukannya adalah juga untuk kebaikan dan kebahagiaan orang lain.
Tapi kalau yang pakai jalur Dukun ; Perbuatannya itu adalah semata-mata untuk keuntungan dan kepentingan dirinya sendiri, perkara orang lain hancur egp..pokoknya saya makmur…
Tapi kadang ada yang lucu juga kalau kita amati…., Orang yang pergi untuk keagamaan ternyata ‘mirip’ perilakunya seperti ketika pergi ke Dukun…, yaitu ketika ditanya untuk apa sih ke Vihara ?, jawabannya : “Berdoa dong…supaya dapat jodoh, rejeki tambah banyak, umur panjang…dan agar ‘ saingan’ saya itu lho biar cepet bangkrut dan mampus…abis dia sering jahatin saya sih…..!”
Yang menjadi pertanyaan adalah : “Apakah seorang Dukun bisa menutup rejeki musuhnya?
Rejeki seseorang didapat dari Usaha dan pengaruh Karma masing-masing. Si Dukun tidak akan bisa menutup rejeki seseorang, tapi ia bisa mengganggu dengan mematangkan karma buruk seseorang JIKA yang dituju adalah orang yang lemah atau kehilangan kesadarannya, atau memang karma buruk orang tsb. bertepatan sedang berbuah. Jika Orang yang dituju itu Kuat, maka upaya si Dukun tidak akan mampu menembus dan mengganggunya, karena bila orang yang dituju sedang melakukan dan menerima Karma-karma baik, maka Karma akan berjalan tanpa ada satu kekuatan apapun yang dapat mengubahnya, Karma itu sendirilah yang menjadi pelindungnya.
Rejeki seseorang didapat dari Usaha dan pengaruh Karma masing-masing. Si Dukun tidak akan bisa menutup rejeki seseorang, tapi ia bisa mengganggu dengan mematangkan karma buruk seseorang JIKA yang dituju adalah orang yang lemah atau kehilangan kesadarannya, atau memang karma buruk orang tsb. bertepatan sedang berbuah. Jika Orang yang dituju itu Kuat, maka upaya si Dukun tidak akan mampu menembus dan mengganggunya, karena bila orang yang dituju sedang melakukan dan menerima Karma-karma baik, maka Karma akan berjalan tanpa ada satu kekuatan apapun yang dapat mengubahnya, Karma itu sendirilah yang menjadi pelindungnya.
Semua mahluk hidup mempunyai kamma sebagai milik mereka,
mewarisi kammanya sendiri, lahir dari kammanya sendiri,
berhubungan dengan kammanya sendiri, dilindungi oleh kammanya sendiri.
Kamma itulah yang membedakan makhluk hidup dalam keadaan rendah atau tinggi."
mewarisi kammanya sendiri, lahir dari kammanya sendiri,
berhubungan dengan kammanya sendiri, dilindungi oleh kammanya sendiri.
Kamma itulah yang membedakan makhluk hidup dalam keadaan rendah atau tinggi."
(Cullakammavibhanga Sutta; Majjhima Nikaya 135)
"Bagaikan kota di perbatasan yang dijaga ketat,
yang dikitari oleh benteng-benteng yang kuat.
Demikianlah hendaknya engkau menjaga dirimu,
jangan sampai membiarkan dirimu tergelincir
agar kesedihan tak menyusul sesampai di neraka"
( Dhammapada, Sukha Vagga XV-204)
AJARAN SANG BUDDHA
Sang Buddha tidak pernah mengajarkan para siswa-Nya untuk berdoa dan berserah diri pada “Maha-Dewa” siapapun namanya, termasuk kepada Sang Buddha sendiri. Kebalikan dari ajaran “berserah-diri” tersebut, Sang Buddha justru mengajarkan para siswa-Nya untuk berusaha, berdaya-upaya dengan kemampuan dirinya sendiri, dengan segenap-tenaga, hingga meraih kesuksesan. Untuk itulah, Sang Buddha memberikan rumusan bagi para siswa-Nya supaya berhasil dengan sukses meraih apa yang dicita-citakan, yang disebut dengan “Panca-Bala” :
“Pañcimani, bhikkhave, balani. Katamani pañca ?
Saddhabala, viriyabala, satibala, samadhibala, paññabala. “
Saddhabala, viriyabala, satibala, samadhibala, paññabala. “
Inilah o para Bhikkhu, lima kekuatan. Apakah lima kekuatan itu?
Kekuatan keyakinan (Saddhabala),
Kekuatan ketekunan/ semangat (viriyabala),
Kekuatan perhatian (satibala),
Kekuatan samadhi/konsentrasi (samadhibala),
Kekuatan Kebijaksanaan (paññabala).
Kekuatan keyakinan (Saddhabala),
Kekuatan ketekunan/ semangat (viriyabala),
Kekuatan perhatian (satibala),
Kekuatan samadhi/konsentrasi (samadhibala),
Kekuatan Kebijaksanaan (paññabala).
Inilah kunci bagi siapapun yang ingin meraih kesuksesan menggapai cita-citanya. Di dalam berusaha mencapai cita-cita, alih-alih menyibukkan diri dengan uncaran doa-doa berjam- jam, kita hendaknya selalu penuh keyakinan, ketekunan/semangat, perhatian, konsentrasi, dan kebijaksanaan, dalam berusaha dan berdaya-upaya meraih cita-cita, hingga apa yang kita cita-citakan itu berhasil.
Semoga artikel ringan ini dapat memberikan manfaat,
Sadhu…Sadhu…Sadhu….
Sumber :
- Inspirasi Judul Topik dari : ceramah Dhamma - Dr. Krishnanda W. Mukti
- Kuddhaka Nikaya- Sutta Nipata
- Majjhima Nikaya - Vimamsaka Sutta, Cullakammavibhanga Sutta
- Dhammapada, Sukha Vagga
Langganan:
Postingan (Atom)
3 EKONOM INDONESIA DAN PEMIKIRANNYA 3 tokoh ekonom Indonesia pasca-reformasi, sekedar sampling acak, berfokus pada pemulihan kri...
-
Gendhing Jawa - Javanese Gamelan Notation New notation website new! Pélog Lima Pélog Nem Pélog Barang Sléndro Nem Sléndro Sanga Sl...