Jumat, 23 Desember 2016

Pesan Natal Bersama PGI dan KWI Tahun 2016

Pesan Natal Bersama PGI dan KWI Tahun 2016

| Jumat, 25 November 2016 ~ 10:23 AM | Penulis: PGI ~ Berita PGIUtama
 
 
 

“Hari Ini Telah Lahir Bagimu Juruselamat, Yaitu Kristus, Tuhan di Kota Daud” (Lukas 2:11)
Saudari-Saudara umat Kristiani di Indonesia,
Salam sejahtera dalam kasih Kristus.
Setiap merayakan Natal hati kita dipenuhi rasa syukur dan sukacita. Allah berkenan turun ke dunia, masuk ke dalam hiruk-pikuk kehidupan kita. Allah bertindak memperbaiki situasi hidup umat-Nya. Berita sukacita itulah yang diserukan oleh Malaikat: “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (Luk 2:11). Belarasa Allah itu mendorong kita untuk melakukan hal yang sama sebagaimana Dia lakukan. Inilah semangat atau spiritualitas inkarnasi.

Keikutsertaan kita pada belarasa Allah itu dapat kita wujudkan melalui upaya untuk menyikapi masalah-masalah kebangsaan yang sudah menahun. Dalam perjuangan mengatasi masalah-masalah seperti itu, kehadiran Juruselamat di dunia ini memberi kekuatan bagi kita.
 Penyertaan-Nya menumbuhkan sukacita dan harapan kita dalam mengusahakan hidup bersama yang lebih baik. Oleh karena itu, kita merayakan Natal sambil berharap dapat menimba inspirasi, kekuatan dan semangat baru bagi pelayanan dan kesaksian hidup, serta memberi dorongan untuk lebih berbakti dan taat kepada Allah dalam setiap pilihan hidup.

Saudari-saudara terkasih,
Kita akan segera meninggalkan tahun 2016 dan masuk tahun 2017. Ada hal-hal penting yang perlu kita renungkan bersama pada peristiwa Natal ini. Sebagai warga negara kita bersyukur bahwa upaya pembangunan yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia semakin memberi harapan bagi terwujudnya keadilan dan kesejahteraan yang merata. 
Walaupun belum sesuai dengan harapan, kita sudah menyaksikan adanya peningkatan dan perbaikan pelayanan publik, penegakan hukum, pembangunan infrastruktur, dan peningkatan kualitas pendidikan. Kita dapat memandangnya sebagai wujud nyata sukacita iman sebagaimana diwartakan oleh malaikat kepada para gembala, “aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa” (Luk 2:10).

Memang harus kita akui bahwa masih ada juga segi-segi kehidupan bersama yang harus terus kita perhatikan dan perbaiki. Misalnya, kita kadang masih menghadapi kekerasan bernuansa suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA). Masalah korupsi dan pungli juga masih merajalela, bahkan tersebar dari pusat hingga daerah. Kita juga menghadapi kemiskinan yang sangat memprihatinkan. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa angka kemiskinan per Maret 2016 masih sebesar 28,01 juta jiwa. 
Keprihatinan lain yang juga memerlukan perhatian dan keterlibatan kita untuk mengatasinya adalah peredaran dan pemakaian narkoba. Data Badan Narkotika Nasional (BNN) tahun 2015 memperlihatkan bahwa pengguna narkoba terus meningkat jumlahnya. Pada periode Juni hingga November 2015 terjadi penambahan sebesar 1,7 juta jiwa, dari semula 4,2 juta menjadi 5,9 juta jiwa. Semakin banyaknya pengguna narkoba itu tidak lepas dari peran produsen dan pengedar yang juga bertambah.

Kita juga harus bekerja keras untuk mendewasakan dan meningkatkan kualitas demokrasi. Penyelenggaraan Pemilu merupakan salah satu sarananya, seperti Pemilihan Umum Kepala Daerah serentak (Pilkada serentak) yang akan dilaksanakan tanggal 15 Februari 2017 di 101 daerah terdiri atas 7 provinsi, 76 kabupaten, dan 18 kota. Peristiwa itu akan menjadi ujian bagi partisipasi politik masyarakat dan peningkatan kualitas pelaksana serta proses penyelenggaraan pesta demokrasi tersebut. 
Tantangan-tantangan tersebut, sebagaimana juga masalah lainnya, harus kita hadapi. Jangan sampai persoalan-persoalan sosial dan kemanusiaan itu membuat kita merasa takut. Kepada kita, seperti kepada para gembala, malaikat yang mewartakan kelahiran Yesus mengatakan “jangan takut” (Luk 2:10).

Saudari-saudara terkasih,
Marilah kita jadikan tantangan-tantangan tersebut kesempatan untuk mengambil prakarsa dan peran secara lebih nyata dalam menyikapi berbagai persoalan hidup bersama ini. Kita ciptakan hidup bersama yang damai dengan terus melakukan dialog. Kita lawan korupsi dan pungli dengan ikut aktif mengawasi pelaksanaan dan pemanfaatan anggaran pembangunan. Kita atasi problem kemiskinan, salah satunya dengan meningkatkan semangat berbagi. Kita lawan narkoba dengan ikut mengupayakan masyarakat yang bebas dari narkoba, khususnya dengan menjaga keluarga kita terhadap bahaya barang terlarang dan mematikan itu.

Kita tingkatkan kualitas demokrasi kita melalui keterlibatan penuh tanggungjawab dengan menggunakan hak pilih dan aktif berperan serta dalam seluruh tahapan dan pelaksanaan Pilkada. Kita juga berharap agar penyelenggara Pilkada dan para calon kepala daerah menjunjung tinggi kejujuran dan bersikap sportif, menaati semua aturan yang sudah ditentukan dan aktif berperan menjaga kedamaian demi terwujudnya Pilkada yang berkualitas. Kita tolak politik uang. Jangan sampai harga diri dan kedaulatan kita sebagai pemilih kita korbankan hanya demi uang.

Kita syukuri kehadiran Yesus Kristus yang mendamaikan kembali kita dengan Allah. Inilah kebesaran kasih karunia Allah, sehingga kita layak disebut sebagai anak-anak Allah (1Yoh 2:1). Di dalam Yesus Kristus kita memperoleh hidup sejati dan memperolehnya dalam segala kelimpahan (Yoh 10:10). Kita syukuri juga berkat yang telah kita terima sepanjang tahun yang segera berlalu.

Kita sampaikan berkat sukacita kelahiran Yesus Kristus ini kepada sesama kita dan seluruh ciptaan. Kita mewujudkan karya kebaikan Allah itu melalui perhatian dan kepedulian kita terhadap berbagai keprihatinan yang ada dengan aktif mengupayakan pembangunan yang berkelanjutan dan yang ramah lingkungan. Dengan demikian, perayaan kelahiran Yesus Kristus ini dapat menjadi titik tolak dan dasar bagi setiap usaha kita untuk lebih memuliakan Allah dalam langkah dan perbuatan kita.
SELAMAT NATAL 2016 DAN TAHUN BARU 2017
Jakarta, 10 November 2016
Atas nama
PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA (PGI)
KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA (KWI)
Pdt. Dr. Henriette T.H-Lebang (Ketua Umum)
Pdt. Gomar Gultom (Sekretaris Umum)
Mgr. Ignatius Suharyo (Ketua)
Mgr. Antonius Subianto B (Sekretaris Jendral)
 
 

Rabu, 07 Desember 2016

Minggu, 20 November 2016

Jumat, 18 November 2016

Dedi Fahriadi: ETIKA MENCAPAI LABA YANG LAYAK

Dedi Fahriadi: ETIKA MENCAPAI LABA YANG LAYAK: A. Pertanggungjawaban Sosial Apakah pertanggungjawaban suatau badan usaha pada masyarakat? Tahun 1776 Adam Smith memperkenalkan doktrin u...

ETIKA MENCAPAI LABA YANG LAYAK
A. Pertanggungjawaban Sosial

Apakah pertanggungjawaban suatau badan usaha pada masyarakat?
Tahun 1776 Adam Smith memperkenalkan doktrin untuk memperoleh laba usaha semaksimal mungkin. Doktrin ini  menjelaskan bahwa penampilan usahawan adalah baik jika ia meningkaykan efeisensi kerja dan mengurangi biaya agar dengan demikian laba maksimal tercapai.
Keinginan para usahawan untuk memperoleh laba memaksa mereka melakukan persaingan bebas. Tindakan ini dilakukan dengan alasan demi kepentingan masyarakat dengan cara mengurangi biaya dan harga barang atau jasa.
Sejak bisnis  beroperasi di dunia kemiskinan dan kelaparan, efesiensi ekonomik menempatkan dirinya pada prioritas tertinggi dan harus merupakan misi bisnis tunggal.
Fungsi bisnis adalah ekonomik, bukan sosial. Nilai ekonomik merupakan satu-satunya tolak ukur sebagai keberhasilan bisnis pemimpin atau manajer perusahaaan yang dipercayakan oleh para pemegang saham.

Pengaruh bisnis terasa  diseluruh masyarakat, di bidang pendidikan, di rumah, di pasar, bahkan dalam pemerintahan. Ia melebur menjadi nilai-nilai sosial. Maka dengan demikian proses kombinasi aktivitas sosial dari bidang bisnis akan memberikan konsentrasi kekuatan yang berlebihan.

Milton Friedman seorang ekonom pernah membuat suatu argumentasi yang keras bahwa pertanggngjawaban sosial adalah : suatu tindakan dari suatu badan yang diakui sebagai badan hukum yang tidak pantas. Sudah tentu banyak alasan yang kelihatan sah dalam argumentasi terhadap bisnis yang diasumsikan sebagai pertanggungjawaban sosial.
Pandangan yang  paling ekstrim pada kenyataannya adalah golongan kiri yang meyakini, bahwa bisnis meru[akan suatu lembaga yang tidak disukai. Dengan demikian masyarkarat bisnis sudah berang tentu jangan diberikan kekuasaan yang berlebihan.

B. Pertanggungjawaban Dunia Bisnis
Golongan masyarakat barat tradisional berpendapat bahwa dunia bisnis sifatnya ekonomik. Peranan ini didukung oleh para ahli ekonomi yang berpendapat bahwa nilai-nilai ekonomik pada suaru pasaran bebas, sangat bermanfaat bagi umat manusia, jika barang dan jasa diproduksi secara lebih efisien.

Setiap usahawan yang baik harus melakukan kebiasaannya yang cermat unutk mengenal dan lalu dapat menyajikan kebutuhan masyarakatnya. Dasar semua bisnis ialah bahwa usahawan menyajikan kepuasan yang tak ternilai demi memenuhi kebutuhan masyarakat.

Para usahawan berharap mempertahankan kebebesan dalam meberikan keputusan agar mereka dapat memlihara inisiatif dalam menemuka pasar dan keinginan masyarakat. PP dapat mendorong usahawan berkembahg, namun dapat menjadi suatu pelayanan yang salah pada rakyat dan kemungkinan merangsang kebebasan bisnis.

Pengendalian harga, UU penentuan upah terendah (UMR) adalah contoh campur tangan pemerintah, sebagai jawaban terhadap kepentingan sosial. Dapat ditemukan, bahwa biaya untuk mengadakan UU atau PP diperleh dari penduduk dan pengusaha dalam bentuk pajak.

C. Etika Laba      
Tugas suatu generasi menciptakan lembaga-lembaga ekonomi untuk masyarakat dan pribadi. Dunia bisnis disorot oleh masyarakat yang serba kritis dan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi. Benar atau tidak pendapat masyarakat sebagai penentu untuk keadilan ekonomi.

”Bisnis tak dapat lepas dari usaha yang haus akan laba”, namun yang harus kita pahami adalah :
1.Tidak berarti membenarkan pendapat yang menghalalkan bahwa usaha mengumpulkan laba tanpa batas
2.Kita harus mengikat usaha dengan mengenakan atau membatasinya pada aturan-aturan moral, karena semua hubungan antar manusia harus dijadikan penuntun.
3.Wajar kalau bisnis mengejar laba,akan tetapi dapat dipetanggngjawabkan kepada masyarakat. Cara menghindari campur tangan pemerintah dalam dunia bisnis adalah dengan membatasi laba yang diperoleh di dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.
4.Tidak adil apabila kita membuat suatu definisi bisnis mencari laba sebagai sasaran pokok

D. Etika Kesadaran Pertanggungjawaban Sosial
Bisnis harus berpegang pada kesadaran sosial yang ikut memikirkan kemakmuran masyarakat dan bukan hanya kemakmuran para pengusaha saja.
Apabila organisasi bisnis mengabaikan pertanggungjawaban sosial, maka pastilah akan dicap sebagai suatu kegagalan di bidang bisnis. Organisasi yang perprinsip unutk kepentingan sendiri tanpa mengindahkan kepentingan orang lain, maka pada akhirnya akan di tuduh melakukan kecurangan.

Suatu bisnis atau lembaga lain menjadi wajib sosial atau tidak, jika lembaga tersebut dapat atau tidak memberi  pengeluaran (output) yang lebih besar daripada input. Jika pendapatan bersihnya lebih besar dari pengeluaran dengan sendirinya lebih baik unutk masyarakat.

Sabtu, 22 Oktober 2016

##Bagaimana Cara Menjadi Orang yang Lebih Spiritual?##

##Bagaimana Cara Menjadi Orang yang Lebih Spiritual?##
Banyak orang sering bingung antara spiritualitas dengan religius. Ada yang hidup menjalankan keduanya, beragama dan spiritual, ada juga yang beragama tanpa mengerti spiritual, atau menjadi spiritual tanpa beragama. Agama adalah alat untuk mencapai spiritualitas. Agama adalah jalan kepada Tuhan. Spiritualitas juga merupakan jalan menuju Tuhan. Hanya saja keduanya memiliki perbedaan dalam pendekatan. Mari kita kaji lebih banyak, baca terus….
Anda berlatih ilmu tertentu ingin memiliki kesaktian atau kelebihan, apakah itu menunjukkan Anda adalah orang spiritual? Tidak.
Anda berdoa setiap hari, tak pernah absen menjalankan ritual agama, apakah itu menunjukkan Anda adalah orang spiritual? Tidak.
Anda melakukan Yoga dan bermeditasi setiap hari, apakah ini sudah berarti Anda adalah orang spiritual? Tidak juga.
Anda masuk kedalam komunitas agama tertentu dan mengikuti ajaran sesuai golongan itu, apakah ini berarti Anda adalah orang spiritual? Juga tidak.
Lantas apa spiritual itu?
Sebenarnya ada perbedaan cukup jelas yang membedakan antara orang religius dengan spiritual. Kita bisa mengujinya dengan satu pertanyaan saja. Jika pahala dan dosa tidak ada apakah Anda masih mau tunduk pada aturan Tuhan, masih hidup harmonis dengan semua makhluk, masih mau melayani sesama? Pertanyaan yang sungguh sederhana, tapi sangat esensil. Jadi mari kita cermati.
Ada 3 golongan besar manusia di Bumi ini :
1. Kelompok orang yang mematuhi aturan Tuhan karena mengejar pahala.
Mereka menjalankan ritual, berbuat baik pada sesama demi pahala. Kelompok ini adalah orang yang mematuhi aturan Tuhan karena takut dengan dosa. Mereka takut dengan kengerian siksa neraka jika membangkang pada Tuhan. Akhirnya mereka dengan terpaksa mematuhi aturan-aturan Tuhan dan melayani sesama karena ‘ketakutan’.
2. Kelompok manusia yang memiliki ego tinggi, demi kepentingan sendiri.
Di planet ini, meskipun manusia sudah diiming-imingi dengan pahala serta diancam dengan dosa, tetapi masih banyak manusia menyakiti alam, Bumi tempat tinggalnya, manusia lain, bahkan dirinya sendiri. Polusi di tanah, air, udara, juga di tingkat ether dari pikiran dan emosi negatif manusia. Penganiayaan, pemerkosaan, pembunuhan, anarki, kompetisi, penipuan, diskriminasi, ketidakpedulian. Bahkan manusia tipe ini bersuka ria atas semua itu. Ini sungguh memprihatinkan. 
3. Kelompok orang-orang yang mematuhi aturan Tuhan, hidup harmonis, melayani sesama , tumbuh dari hatinya.
Semua yang mereka lakukan adalah buah ketulusan, bukan karena pahala dan dosa. Mereka melakukannya demi kepentingan bersama. Kelompok terakhir inilah yang disebut dengan manusia spiritual. Mereka sadar dan mengerti inti spiritualitas adalah Kasih dan Kesadaran Universal. Mereka paham bahwa setiap makhluk adalah satu. Dalam hatinya ada keyakinan bahwa jika mereka melayani sesama, mereka akan dilayani, jika mereka menyakiti, mereka akan disakiti, itu sudah jadi ketetapan Tuhan, prinsip dasar, karma, tak perlu iming-iming pahala atau ancaman dosa, murni kesadaran. 
Dari penjelasan singkat diatas kita bisa menyimpulkan, jika seseorang sudah sampai pada tahap spiritualitas tertentu maka dia akan bisa naik ke tahap pembelajaran berikutnya. Jika pertanyaan yang tadi kita lontarkan pada setiap kelompok manusia di atas, maka kita akan bisa menerka bahwa kelompok ketiga yang akan bisa menjawab dengan yakin, teguh dan tanpa sedikitpun ragu bahwa meskipun ada atau tidak pahala dan dosa, mereka akan senantiasa hidup menaati aturan Tuhan, selaras dengan seluruh makhluk dan melayani sesama dengan tulus.
Jadi, bagaimana belajar menjadi orang yang lebih spiritual?

Spiritual tak ada hubungannya dengan agama manapun. Berbeda dengan religius, spiritualitas adalah murni kualitas jiwa seseorang. Seberapa selaras dia dengan Penciptanya, seberapa harmonis kehidupannya dengan semua makhluk di dunia. Seharusnya agama-agama yang ada di Bumi dijadikan alat untuk mencapai tahapan spiritual, bukan alat untuk saling memusuhi, serta memerangi pemeluk agama lainnya.
Manusia Bumi masih belum mengerti apa arti spiritualitas sesungguhnya. Mereka masih berpikir dalam kotak-kotak yang sempit, belum mampu berpikir universal. Mereka tak menyadari bahwa mereka tak hidup sendiri di alam semesta yang amat luas ini. Hal penting yang harus Anda ingat sendiri ketika Anda mencari pencerahan spiritual adalah, Anda harus berjalan dengan cara Anda sendiri untuk mencari pengalaman, pengalaman inilah yang nantinya menjadi pencerahan. Jangan ikuti apapun atau siapa pun jika Anda tidak merasa nyaman atau bertolak belakang dengan keyakinan Anda, biarkan jiwa yang menuntun Anda. Anda adalah tuan dari takdir Anda sendiri, dan Andalah orang yang menciptakan realitas kehidupan Anda.
Jika Anda ingin menjadi orang yang spiritual, maka biarkan ketulusan menjadi cahaya pembimbing Anda – kebaikan terhadap diri sendiri, terhadap sesama, terhadap hewan dan seisi planet ini. Terimalah bahwa hakikatnya kita semua memiliki cahaya kasih bersumber dari Tuhan yang hadir di dalam diri kita, dan belajarlah untuk menghormati kasih itu sehingga Anda dapat mengetahui dan mengalami kesatuan.
 

Jumat, 21 Oktober 2016

##membagikan saja dari pak Pranowo Budi Sulistyo##

##membagikan saja dari pak Pranowo Budi Sulistyo##
 
Urip Iku Urup
Hidup itu tidak redup
ia gemilang terang benderang 
laksana Batara Surya menerangi bumi
selalu memberi tak pernah meminta
dan Batara Candra memantulkan cahya di malam hari
slalu pancarkan kedamaian kepada siapa saja
bukan seperti saat kepala Kalarahu mencaplok keduanya
hingga menimbulkan kegelapan dan ketakutan

Nyala terang dalam gelap adalah berkah bagi makhluk disekelilingnya
Kata petuah agama sebaik baiknya manusia adalah
yang mampu memberi banyak manfaat kepada manusia lain
khairunnas anfa ‘uhum linnas
sehingga sudah pasti seburuk-buruk orang adalah
yang selalu menebarkan ancaman bagi masyarakat sekitarnya
keberadaannya tidak diinginkan
hadirnya menghalangi terang
kegelapan menaunginya
 
 
Urip Iku Urup
maka jadilah cahaya bagi orang orang disekitarmu
 
Petuah bijak Sang Pemenang
Arthur Ashe, pemain Wimbledon legendaris sekarat karena AIDS yg berasal dari darah yg terinfeksi virus ketika operasi jantung pada 1983. Dia menerima surat dari para penggemarnya, salah satu dari mereka ada yg menyampaikan:
“Mengapa Tuhan memilih Anda untuk mendapatkan penyakit yg buruk seperti ini??”
 
Terhadapnya, Arthur Ashe menjawab:
Lima puluh juta anak mulai bermain tenis,
Lima juta dari mereka belajar bagaimana bermain tenis,
Lima ratus ribu belajar tenis secara profesional,
Lima puluh ribu bertanding dalam turnamen,
Lima ribu mencapai Grand Slam,
Lima puluh mencapai Wimbledon,
Empat mencapai semifinal,

Dua mencapai final,
dan ketika saya menggenggam pialanya,
saya tak pernah bertanya pada Tuhan,
“Kenapa (harus) saya?”
Jadi ketika sekarang saya sakit,
bagaimana bisa saya menanyakan kepada Tuhan,
“Kenapa (harus) saya?”
 
Kebahagiaan membuatmu tet
 
ap manis.
Cobaan membuatmu kuat.
Kesedihan membuatmu tetap menjadi manusia.
Kegagalan membuatmu tetap rendah hati.
Kesuksesan membuatmu tetap berpijar.
Namun, hanya iman yg membuatmu tetap melangkah.
Kadang engkau merasa tidak puas terhadap kehidupanmu
sementara banyak orang di dunia ini memimpikan bisa hidup sepertimu.
Anak kecil di ladang memandang pesawat terbang di atasnya,
dan memimpikan bisa terbang,
tetapi sang pilot di pesawat itu memandang ladang di bawahnya
dan memimpikan bisa pulang ke rumah.
 
Begitulah hidup.
Nikmatilah hidupmu.
Jika kekayaan adalah rahasia kebahagiaan,
tentu orang-orang kaya akan menari-nari di jalanan.
Tapi ternyata
Hanya anak2 miskinlah yg melakukannya.
Jika kekuatan memang menjamin keamanan,
tentu orang-orang penting akan berjalan tanpa pengawalan.



Tapi ternata
Hanya mereka yg hidup sederhana yg bisa tidur nyenyak.
Jika kecantikan dan kepopuleran memang membawa kita pada hubungan yang ideal,
tentu para selebriti pasti punya kehidupan perkawinan yg terbaik.
Hiduplah sederhana
Berjalanlah dengan rendah hati.
Dan mencintailah dengan tulus
 
 

Ketika Negara-Bangsa Menjadi "Gila"!

Dalam sejarah negara-bangsa Asia, ada tiga negara memiliki kekejaman terhadap bangsa sendiri yang tidak terbayangkan dan menjadi momok sejarah mengerikan. Ketiga negara ini adalah Indonesia dengan peristiwa traumatis 1965 menyebabkan kematian dan kesengsaraan yang melewati batas kemanusiaan, bukan hanya pada pertikaian ideologi dan politik, melainkan juga melebar menjadi sentimen ras Tionghoa Indonesia yang dibelenggu dari akar peradabannya.
 
Negara lain adalah Tiongkok dengan Revolusi Kebudayaan yang tahun ini berusia 50 tahun, ketika kegilaan ideologi dan politik merasuk seluruh bangsa, menghancurkan tidak hanya elemen-elemen kontra-revolusioner, tetapi juga menghilangkan peradaban lama merusak hubungan antarkeluarga, antarguru, antardesa, dan semua yang berbau kapitalis. Seluruh Tiongkok terhenti, Revolusi Kebudayaan yang "memakan anak sendiri" mereda sampai meninggalnya Mao Zedong, pemimpin karismatik campuran komunis, dewa, dan revolusioner.
 
Kekejaman Asia lainnya adalah "ladang pembantaian" di Kamboja ketika rezim Khmer Merah membantai seperlima bangsa Khmer dengan korban tewas lebih dari dua juta orang. Kediktatoran Kamboja di bawah Pol Pot ingin membangun komunis Kamboja, bercita-cita membangun dari "masyarakat titik nol" bangsa Khmer dengan membantai rakyat, elite, dan cendekiawan di penjara Tuol Sleng di ibu kota Phnom Penh atau di kawasan Choueung Ek yang tidak jauh dari ibu kota.
 
Apa hasil pembantaian, pembunuhan, penyiksaan, kelaparan, kesengsaraan di Indonesia, Tiongkok, dan Kamboja dalam peristiwa sekitar 50 tahun lalu itu? Di Indonesia, muncul kekuasaan militer otoriter berkuasa selama tiga dekade, memenjarakan semua lawan ideologi dan politik tanpa proses peradilan. Walaupun kekuasaan ini secara perlahan meredam kemiskinan dan bekerja keras meningkatkan kesejahteraan, kekuasaan militer otoriter mengancam kebebasan intelektual, menekan kebebasan ilmiah, dan mengancam hak asasi siapa pun.
 
Revolusi Kebudayaan di Tiongkok berhenti dengan wafatnya Mao Zedong pada tahun 1976 dan diadilinya Empat Sekawan pimpinan istri Mao, Jiang Qing. Kaum "elite mandarin" Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang ditawan, disiksa, dan disengsarakan melalui kerja paksa, pelan-pelan bangkit dan kembali berkuasa di bawah Deng Xiaoping merancang modernisasi ekonomi yang tidak pernah terjadi dalam sejarah modern Tiongkok.
 
Khmer Merah di bawah Pol Pot digulingkan dalam perang saudara dukungan Vietnam yang menyerang Kamboja tahun 1979. Para pemimpin Khmer Merah mulai dari Pol Pot, Khieu Samphan, dan lainnya dihukum mati atau seumur hidup melalui peradilan internasional di bawah PBB. Kepala penjara Tuol Sleng, Kaing Guek Eav, yang bertanggung jawab atas pembantaian 14.000 orang, dihukum mati pada tahun 2010.
 
Di Kamboja, pertikaian Khmer Merah menghasilkan aristokrasi politik baru, mengembalikan kejayaan kerajaan Champa. Hun Sen yang nama aslinya Hun Bunal sebelum menjadi Khmer Merah pada tahun 1972, menjadi politisi Asia Tenggara yang paling berkuasa dan memiliki gelar "Samdech Akka Moha Sena Padei Techo", gelar aristokrasi dan supremasi militer.
 
Pertikaian ideologi politik di Indonesia menghadirkan konglomerasi kerja sama kelompok militer dan pengusaha. Di Tiongkok muncul kelas kapitalis baru menjadi anggota PKT. Baik di Tiongkok maupun Indonesia, pertikaian ideologi politik menghasilkan korupsi sebagai momok baru masyarakat. Di Indonesia, komunisme menjadi "hantu merah," di Tiongkok komunisme menjadi "Chinaisme" menguasai ekonomi dan perdagangan dunia.
 
Benedict Anderson, Indonesianis terkenal dalam bukunya, Imagined Communities (London, 1983), mungkin benar menyiratkan bentuk yang disebut reduksionisme ideologi dalam menentang kompleksitas fenomena nasional negara-bangsa.
 
Menurut Anderson, rasa memiliki dan sentimen solidaritas nasional tidak dengan sendirinya membentuk komunitas nasional. Kapasitas materialisme historis ternyata tidak mampu mengatasi fenomena nasional dalam menghadapi modernisasi ekonomi dan globalisasi teknologi. Gila! ●
 

  3 EKONOM INDONESIA   DAN PEMIKIRANNYA   3 tokoh ekonom Indonesia pasca-reformasi, sekedar sampling acak,   berfokus pada pemulihan kri...