Kamis, 13 Maret 2014

A WORKS: KEPEMIMPINAN PERSPEKTIF PSIKOLOGI

A WORKS: KEPEMIMPINAN PERSPEKTIF PSIKOLOGI: Kepemimpinan ( LeaderShip ) Kepemimpinan adalah kemampuan dari seseorang untuk mempengaruhi orang lain. Orang yang memimpin disebut sebag...



KEPEMIMPINAN
PERSPEKTIF PSIKOLOGI
1.      
Kepemimpinan
(LeaderShip)
Kepemimpinan adalah kemampuan dari seseorang untuk mempengaruhiorang lain. Orang yang memimpin
disebut sebagai pemimpin atau leader. Sebagai suatu proses social,
kepemimpinan meliputi segala tindakan yangdilakukan seseorang atau sesuatu badan, yang menyebabkan
gerak dari warga
masyarakat.
Atribut sentral dari kepemimpinan adalah pengaruh social (Burn,
2004; Chemes, 2001). Pemimpin adalah orang yang paling mempengaruhi perilaku dankeyakinan
kelompok. Dia adalah
orang yang memulai aksi, member perintah, mengambil keputusan, berperan sebagai
suri tauladan, dan berada
di garis depan dalam kelompoknya.
Ada beberapa
definisi tentang kepemimpinan menutut para tokoh, di antaranya yaitu:

1.      
Menurut Boring,
Langeveld, dan Weld
Kepemimpinan adalah
hubungan individu terhadap bentuk suatu kelompok dengan maksut untuk dapat
menyelesaikan beberapa tujuan.
2.      
Menurut George R.
Terry
Kepemimpinan adalah
aktivitas mempengaruhi orang-orang agar dengan suka rela bersedia menuju
kenyataan tujuan bersama.
3.      
Menurut H. Ghoidamer
dan E.A. Shils
Kepemimpinan adalah
tindakan perilaku yang dapat mempengaruhi tingkah laku orang-orang lain yang
dipimpin.
4.      
Menurut John Ptiffner
Kepemimpinan merupakan
seni dalam mengkoordinasikan dan mengarahkan individu atau kelompok untuk mencapai
suatu tujuan yang dikehendaki.
Dari beberapa
perumusan yang berbeda-beda tersebut ternyata bahwa di dalam setiap masalah
kepemimpinan akan selalu terdapat adanya tiga unsur:
1.      
Unsur manusia
Yaitu manusia sebagai
pemimpin ataupun yang dipimpin. Bagaimana hubungan antara mereka itu
dalam suatu kepemimpinan, bagaimana sifat seorang pemimpin dan syarat-syarat
kepemimpinan itu tanpa melupakan bagaimana seharusnya manusia itu sebagai
manusia.
2.      
Unsur sarana
Yaitu segala macam
prinsip dan teknik kepemimpinan yang dipakai dalam pelaksanaannya. Termasuk
bekal pengetahuan dan pengalaman yang menyangkut individu itu sendiri dan
kelompoknya. Dasar ilmu pengetahuan yang digunakan seperti psikologi,
sosiologi, manajemen, dll.
3.      
Unsur tujuan
Yaitu sasaran akhir ke
arah mana kelompok manusia akan digerakkan untukmenuju maksut tertentu.
Ketiga unsur tersebut selalu ada dalam
pelaksanaannya dan terjalin erat satu sama lain. (Wiyono Hadikusumo, 1973).
Teori-teori Pemimpin
dan Kepemimpinan:
1.      
Greatman Theory
Kelompok teori ini
mempelajari sifat-sifat yang menonjol dari para pemimpin yang berhasil.
Kelompok ahli ini menjurus pada teori traits of leadership.
2.      
Environmental theory
Pemimpin itu timbul
sebagai akibat dari waktu, tempat dan keadaan. Pandangan ini menempatkan factor
lingkungan yang menyebabkan timbulnya pemimpin.
3.      
Humanistic Theory
Teori ini lebih
melihat pada fungsi kepemimpinan untuk mengatur individu atau kelompok yang
dipimpinnya, untuk merealisasikan motivasinya agar dapat bersama-sama mencapai
tujuannya. Focus dari teori ini adalah bahwa individu atau kelompok yang
dipimpin adalah makhluk social yang mempunyai perasaan, kemampuan, serta
kebutuhan-kebutuhan tertentu.
Ada dua bentuk
kepemimpinan, yaitu kepemimpinan formal dan kepemimpinan informal.
Organisasi besar seperti perusahaan bisnis atau sekolah memiliki organisasi
formal yang menunjukkan garis resmi rantai komando dan pedoman tentang pola
pengambilan keputusan dan pengawasan. Pada hal lain, beberapa kelompok tidak
punya pimpinan formal sama sekali. Kelompok pertemanan mengilustrasikan pola
kepemimpinan informal. Satu orang mungkin lebih menonjol dan berpengaruh
daripada orang lain dalam diskusi kelompok dan karenanya lebih kuat dalam
pengambilan keputusan.
Individu dapat menjadi
pemimpin kelompok melalui berbagai cara. Beberapa pemimpin diangkat karena
pangkat atau kedudukannya, misalnya letnan tentara. Dalam beberapa kasus,
seorang anggota kelompok pelan-pelan tampil sebagai pemimpin, misalnya ketika
orang sering berinteraksi dalam kelas, beberapa orang biasanya muncul sebagai
pemimpin informal karena pendapatnya yang berpengaruh dan diakui oleh mayoritas
anggota kelompoknya. Dan sebagian lainnya menentukan pemimpin melalui jalur pemilihan.
Klasifikasi
kepemimpinan
Menurut eksperimen
Lewin, Lippit, dan White cara kepemimpinan dapat dibagi menjadi 3 macam, yaitu:
1.      
Kepemimpinan otoriter
Pemimpin ini
menentukan segala-galanya. Semua aktifitas kelompok dijalankan atas instruksi
pemimpin. Anggota kelompok hanya sebagai pelaksanan perintah pemimpin.
Pemimpin yang otoriter
memiliki kekuatan yang absolute. Dia menentukan kebijaksanaan kelompok, ia
sendiri yang membuat sebagian besar perencanaan, dia yang menentukan kegiatan
kelompok, yang menentukan reward dan punishment bagi anggotanya. Oleh karena
itu nasib setiap individu di dalam kelompok berada di tangan pemimpin.
Sikap pemimpin
otoriter seakan-akan ia tidak mau turut serta dengan interaksi kelompok. Ia
hanya berhubungan dengan anggota-anggotanya ketika memberikan instruksi
mengenai langkah kegiatan, setelah itu ia menyendiri. Ia terpisah dari kelompok
dan tidak mencampurkan diri denganmereka.
2.      
Kepemimpinan
demokratis
Dalam kepemimpinan ini
terdapat kerjasama antara pemimpin dan anggotanya dalam menentukan tujuan
kelompok serta perencanaan langkah-langkah pekerjaan. Semua kegiatan kelompok
dijalankan atas keputusan bersama.
Pemimpin menempatkan
anggota kelompok sebagai sahabat dan bukan sebagai pekerja. Apabila ada
kesalahan anggota, maka pemimpin akan memperingatkan dengan cara yang bijak.
3.      
Kepemimpinan Laissez faire
Pemimpin pada tipe
kepemimpinan ini bersifat pasif, dia tidak berpartisipasi dengan kegiatan
kelompok. Dia menyerahkan segalanya kepada anggota, tidak pernah menegur
kesalahan anggotanya, tapi selalu bersikap baik.
Dia tidak mengambil
inisiatif apapun di dalam kegiatan kelompok, dia berada di tengah-tengah
kelompok tetapi tidak berinteraksi dan berlaku seperti penonton saja.
Setelah diadakan
penelitian melalui questioner, maka pada umumnya cara kepemimpinan demokratis
paling disukai oleh anggota kelompok. Sebanyak 95% anggota kelompok memilih
pimpinan yang demokratis. Ada juga yang memilih cara laissez faire dan yang
paling sedikit di antaranya memilih cara kepemimpinan yang otoriter.
Perbedaan kelompok
otoriter dan demokratis:

No.

Perbedaan

Otoriter

Demokratis

1.

Pembuat kebijakan

pemimpin

Keputusan bersama

2.

Teknik dan langkah-langkah pencapaian tujuan

Didekte oleh pemimpin

Pemimpin mengusulkan beberapa alternative yang dapat
dipilih dan menerima saran.

3.

Pembagian tugas

Ditentukan pemimpin

Anggota bebas memilih temankerja serta mengadakan pembagian tugas

4.

Sifat dalam pemberian reinforecement (reward 7 punishment)

Subjektif

Objektif

5.

Hubungan antara pemimpin & anggota

Lebih tunduk

Lebih bersifat teman

6.

Kemandirian Anggota jika pemimpin absen

Menurun tajam

Sedikit turun

2.      
Pemimpin
Ada banyak studi empiris yang membandingkan karakteristik
pemimpin dan pengikutnya (Burn, 2004). Ditemukan beberapa kualitas yang
membedakan pemimpin dengan pengikutnya.
1.      
Pemimpin cenderung
unggul dalam kemampuan membantu kelompok meraih tujuan. Pemimpin tergantung
situasinya, mungkin mempunyai keunggulan intelektual, keahlian politik,
kekuatan fisik, atau keterampilan tinggi yang relevan dengan aktifitas dan
tujuan kelompok.
2.      
Pemimpin cenderung
punya keterampilan interpersonal yang membantu menyesuaikan interaksi kelompok.
Secara umum mereka lebih kooperatif, terorganisir, artikulatif, dan sensitive.
Pemimpin cenderung ramah, empatik, dan stabil secara emosional (Hogan, Curphy,
& Hogan, 1994).
Menurut kaum dinamika
kelompok perlu adanya beberapa ciri dan kecakapan umum yang harus dimiliki oleh
seorang pemimpin agar interaksi kelompok dapat berjalan lancar dan produktif.
Ciri-ciri tersebut adalah:
1.      
Social perception
(penglihatan social)
Social perception
adalah kecakapan untuk melihat dan memahami akan perasaan-perasaan, sikap-sikap
dan kebutuhan-kebutuhan anggota kelompoknya.
2.      
Ability in abstract
(kecerdasan yang tinggi)
Hasil penelitian
menunjukkan bahwa para pemimpin mempunyai kecakapan untuk berpikir secara
abstrak yang lebih tinggi dari pada anggota-anggota kelompok yang mereka
pimpin. Pada berbagai penelitian pada bidang tentara Inggris dan pada bidang
industry menyatakan bahwa kecerdasan umum dan mental adaptability adalah
sifat-sifat yang secara nyata dimiliki oleh pemimpin yang tepat.
3.      
Emotional stability
(keseimbangan perasaan)
Keseimbangan perasaan
(emosional) merupakan factor penting dalamusaha kepemimpinan untuk dapat
mengendalikan emosi-emosinya yang egois dan memahami anggota-anggota yang
dipimpin.
Menurut William Foote
Whyte ada 4 faktor yang menentukan seseorang menjadi pemimpin:
1.      
Operational leadership
Orang yang paling
banyak inisiatif, dapat menarik dan dinamis, menunjukkan pengabdian yang tulus,
serta menunjukkan prestasi kerja yang baik dalam kelompoknya.
2.      
Popularity
Orang yang banyak
dikenal mempunyai kesempatan yang lebih banyak untuk menjadi pemimpin.
3.      
The assumed
representative
Orang yang dapat
mewakili kelompoknya mempunyai kesempatan besar untuk menjadi pemimpin.
4.      
The prominent talent
Individu yang memiliki
bakat kecakapan yang menonjol dalam kelompoknya mempunyai kesempatan untuk
menjadi pemimpin.
Setiap individu
mempunyai kecakapan dan kemampuan untuk menjadi pemimpin, hanya saja kemampuan
ini memiliki jenjang serta tingkat perbedaan antara yang satu dengan lainnya.
Perbedaan itu disebabkan oleh:
1.      
Perbedaan kualitas
pengetahuan yang dimiliki
2.      
Perbedaan kesempatan
3.      
Perbedaan lingkungan
yang kondusif
Pada umumnya tugas
pemimpin adalah mengusahakan agar kelompok yang dipimpinnya dapat merealisasikan
tujuannya dengan baik dalam bekerjasama yang produktif.
Menurut Floyd Ruch ada
tiga tugas bagi pemimpin, yaitu:
1.      
Structuring the
situation (member struktur yang jelas pada berbagai macam situasi)
2.      
Controlling group behavior
(mengawasi tingkah laku kelompok)
3.      
Spokesman of the group
(juru bicara dari kelompok)

3.      
Gender
Dan Kepemimpinan Wanita
Peran gender tradisional menghadirkan dilemma bagi pemimpin
wanita. Pemimpin pria sering dipandang memiliki kualitas positif, seperti
tegas, asertif, dan berkemampuan untuk mengembangkan diri. Tetapi mungkin
ketika pemimpin wanita mengadopsi gaya yang serupa, mereka mungkindilihat
secara negative, dianggap tidak feminine, dan kurang hangat. (Ayman &
Frame, 2004; Eagly, Makhijani & Klonsky, 1992).
Wanita dapat menghindari evaluasi negative ini dengan
menunjukkan kehangatan, keramahan, dan perhatian dalam membantu orang lain
menggapai tujuannya(Carli, 2001). Tidak mengejutkan pemimpin wanita jarang
mengadopsi sikap asertif dan gaya berorientasi tugas. Namun pria dan wanita
tidak berbeda dalam menggunakan pendekatan interpersonal dan demokratis dalam
kepemimpinannya.
Ada tiga konsep
tentang peranan pria dan wanita dalam
 rumah tangga, yaitu:
1.      
Konsep tradisional
·        
Penghargaan tinggi
pada laki-laki
·        
Perempuan sebagai ratu
domestic/ratu rumah tangga
2.      
Konsep egaliter
Kebebasan penuh untuk
beraktualisasi diri pada laki-laki dan perempuan.
3.      
Konsep moderat
·        
Kompromi antara konsep
tradisional dan egaliter
·        
Boleh beraktualisasi
diri tanpa meninggalkan tugas sebagai suami dan istri.

Karya yang lebih baru tentang kepemimpinan
transformasional (Transformasional leadership) telah menimbulkan pertanyaan
menarik tentang kepemimpinan wanita. Pertama, wannita lebih tinggi nilainya
dalam gaya kepemimpinan transformasional. Kedua, wanita lebih tinggi skornya
dalam penggunaan imbalan, seperti pemberian perhatian dan pujian kepada bawahan
jika mereka bekerja baik. Dua pendekatan kepemimpinan ini memungkinkan wanita
untuk menjadi pemimpin yang kompeten yang mampu menyelesaikan tugas sekaligus
disukai anak buahnya.



Jumat, 07 Maret 2014

KEPEMIMPINAN DAN MANAJEMEN BERBASIS SPIRITUAL

KEPEMIMPINAN DAN MANAJEMEN BERBASIS SPIRITUAL
Bandung, 4 Juni 2013

"Spiritualitas juga sangat erat berkaitan dengan konsep jiwa, sehingga menentukan suatu prinsip bahwa esensi hidup ini bukanlah materi belaka. Maka spiritualitas tanpa jiwa tidak masuk akal...."



Masih banyak orang yang belum faham betul tentang apa yang dimaksud dengan spiritualitas. Menurut kamus Merriam Webster “spiritualitas memiliki pengertian tentang sesuatu yang sangat religius, atau sesuatu yang berkaitan dengan semangat dan hal-hal sakral”. Tentu saja melalui pencarian dan pengalaman hidup, seseorang memiliki kebebasan untuk memaknai tentang pengertian spiritual ini. Pengertian spiritual ini juga sering dikaitkan dengan agama, terutama yang berkaitan dengan pertanyaan: apakah agama itu merupakan tujuan dari spiritualitas, atau sebaliknya bahwa agama adalah sarana dan/atau prasarana untuk mencapai tujuan spiritual? Spiritualitas juga sangat erat berkaitan dengan konsep jiwa, sehingga menentukan suatu prinsip bahwa esensi hidup ini bukanlah materi belaka. Maka spiritualitas tanpa jiwa tidak masuk akal. Konsep jiwa digunakan untuk membedakan antara manusia dengan hewan. Tentu saja dalam dunia hewan kita tidak akan berbicara tentang nilai-nilai kemanusiaan, kontemplasi, belas kasih dan hati nurani, atau diwakili dalam satu kata disebut jiwa.

Namun manusia sebagai mahluk material-biologis tidak terlepas dari sifat hewaniah, secara faktual manusia memiliki sisi naluri hewaniah sehingga berlomba mengejar kepentingan material. Bahkan adanya sifat hewaniah ini menjadi sejarah dan evolusi tentang kisah kemanusiaan. Sebaliknya, tidak diragukan lagi - bagi mereka yang bukan penganut faham atheis - bahwa kita semua mengakui berasal dari Tuhan. Jika kita gagal untuk memahami hal ini, kita tidak akan berhubungan dengan sejarah kita sendiri dan karena itu akan terasing dari jiwa kita sendiri. Oleh karena itu bagaimana pertamakali kita menjadi manusia? Para evolusionis akan berkata bahwa hal itu telah terjadi melalui seleksi alam. Para kreasionis akan mengatakan bahwa kita telah diciptakan sebagai model atau representasi ideal dari Tuhan. Tulisan suci Weda mengkonfirmasi bahwa representasi ideal bukanlah wujud atau bentuk tertentu.
Dalam kepercayaan Hindu, Tuhan dapat direpresentasikan dalam simbol ikan (Matsya) atau babi hutan (Varaha), dan bisa juga berupa matahari, bulan dan langit. Begitu juga bisa memiliki bentuk manusia atau bentuk spiritual seperti Vishnu dengan empat lengan. Dengan demikian kita diciptakan bukan dalam konsep bentuk, akan tetapi sebagai konsep ruhaniah. Dengan adanya model atau representasi tersebut, tidak lain untuk mencerahkan esensi spiritualitas kita yang ideal. Jika pertanyaannya bagaimana roh ideal kita dihadirkan, maka jawaban yang jauh lebih mudah adalah dari penderitaan kita di dunia material. 

Semangat dan cita-cita yang dibentuk akan menjadi apa yang ada pada kita sekarang. Dan kini dunia tengah bingung dan tidak pasti tentang kelangsungan hidup dan masa depan budaya. Apakah kita akan mengalami degradasi atau kita akan bangkit dari abu pengalaman peperangan yang mengerikan dan segala pembusukan sosial? Banyak yang skeptis tentang pertanyaan esensi jiwa, tentang cita-cita dan nilai-nilai kemanusiaan, bahwa hal tersebut masih bisa diharapkan. Dewasa ini orang lebih suka berpegang pada simplifikasi dari pandangan evolusi Darwinisme, dengan semboyan survival of the fittest sambil mengenakan dasi dan mobil mentereng . Kita kembali harus mendefinisikan jiwa kita yang menjamin nilai-nilai kemanusiaan kita: melebarnya konflik tentang nilai-nilai kemanusiaan dapat mengaburkan visi yang jelas tentang masa depan. Hanya dari kejelasan demikian, kita bisa berbicara tentang spiritualitas tercerahkan dan jiwa masyarakat yang terbebaskan.




Sejauh ini, di seluruh dunia, hampir semua konsep telah diambil dari nilai-nilai sekuler dan materialistik yang telah berkembang dalam dunia komersial kompetitif. Manajemen tak sekadar berkaitan dengan dunia bisnis dan industri, akan tetapi juga melingkupi semua aspek usaha atau kerja manusia. Oleh karena itu, sudah saatnya bahwa para ilmuwan manajemen menengok kembali pada esensi spiritualis manusia, baik yang melandasi kebijakannya, cita-citanya maupun ide dari konsep spiritual dan filosofinya. Hal ini menjadi penting karena planet ini dan penghuninya harus diselamatkan dari kecenderungan memburuk yang hadir hampir di semua lapisan masyarakat, yang bahkan dapat membahayakan kehidupan planet ini. Kita harus mulai mengkritisi kembali tentang konsep kepemimpinan yang berasaskan pada kebijakan konvensional, yang ditransmisikan melalui lembaga pendidikan dan pelatihan, yang mengajarkan pengetahuan tingkat rendah yang hanya berdasarkan pada alat indera, akal dan pikiran. Pengembangan harus ditingkatkan ke arah pengetahuan tingkat tinggi yang “membungkam pikiran” dan membuka spiritualitas. Para tokoh bijak telah menemukan misteri alam – mikro dan makro kosmos - tanpa peralatan apapun, seperti evolusi, kecepatan cahaya, gerakan planet, gravitasi, dan usia bumi.

Dewasa ini para sarjana dan ilmuwan dari seluruh dunia tengah mencari solusi untuk masalah yang menimpa planet, hewan dan manusia. Konsep kebijakan, kepemimpinan, manajemen, administrasi dan lain sebagainya, dewasa ini tidak mampu menangkap tren memburuk yang terjadi di segala sektor. Suatu era dimana setiap tindakan, transaksi dan/atau interaksi lebih bersifat komersial, hampir semua motivasi didasarkan pada kepentingan diri sendiri, yang akhirnya bermuara pada eksploitasi manusia, dan hal ini sedang berlaku di seluruh dunia. Dalam segala sektor, kepemimpinan cenderung untuk menghancurkan umat manusia daripada mengangkatnya ke derajat dan martabat yang lebih tinggi. Paul Sweezy, seorang pemikir sosialis dengan sarkasme telah menulis bahwa "Para pengusaha telah menciptakan korporasi, sedangkan para manajer diciptakan oleh korporasi. Para pengusaha mencuri dari korporasi sedangkan manajer mencuri untuk kepentingan korporasi ". Secara jujur harus diakui, bahwa bukti dari fenomena ini dapat terlihat pada setiap sektor dan bidang kegiatan manusia. Skandal dan manipulasi – baik secara laten atau manifes – telah umum berlangsung di beberapa organisasi. Korupsi misalnya, telah menjadi rangkaian cerita sehari-hari. Fundamentalisme dan ekstremisme telah melahirkan terorisme dan militansi. Kecenderungan radikalisme ini tidak dapat ditampung oleh konsep-konsep kepemimpinan dan manajemen konvensional.

Dalam organisasi formal, kegiatan para supervisor, manajer, eksekutif, pejabat, administrator dan lain sebagainya kewenangannya berasal dari undang-undang dan aturan. Sementara esensi kewenangan seorang pemimpin seharusnya lahir dari nilai-nilai rohani dan jasmani mereka. Para manajer perlu menyerap kualitas esensial kepemimpinan yang akan meningkatkan efektivitas mereka. Gandhi, Mao, Lincoln, dan bahkan Khomaeni adalah para pemimpin dengan sejumlah cita-cita dan nilai-nilai. Pemimpin dan manajer seyogyanya merupakan penguasa bijak dengan nilai-nilai luhur dan cita-cita. Dalam organisasi formal, baik pemerintah dan non-pemerintah, yang diwakili oleh para pemimpin politik, ekonomi, bisnis, sosial, pendidikan, ilmu pengetahuan, agama dan sebagainya, bahkan supervisor, pengawas, manajer, eksekutif, pejabat dan administrator memperoleh kewenangannya berdasarkan konstitusi, aturan, dan konvensi. 

Sementara para pemimpin informal di semua bidang usaha manusia mendapatkan wewenangnya berdasarkan kualitas dan tindakan mulia mereka, yang merupakan perpaduan dari atribut, kredibilitas dan integritas, serta kontribusi mereka kepada masyarakat dengan pelayanan, dedikasi dan komitmen tanpa pamrih untuk cita-cita dan kesejahteraan umat manusia, lingkungan dan alam. Orang dengan kategori demikian telah memiliki kualitas kepemimpinan tertentu, yang akan meningkatkan efektivitas mereka sebagai manajer dan administrator. Oleh karena itu, efektivitas manajerial mereka ditopang oleh keunggulan dalam bidang moral dan kualitas kepemimpinan yang etikal, sehingga mereka menjadi pemimpin yang baik serta dikagumi dan dipuja oleh masyarakat. 
Sepanjang sejarah, setiap negara memiliki pemimpin original yang menjalankan otoritas tidak hanya didukung oleh organisasi formal, akan tetapi juga didukung oleh masyarakat luas. Gandhi bukanlah anggota dari Partai Kongres, namun “fatwa”nya telah mewarnai hukum dan partai, dan begitu juga yang terjadi di Iran dalam masa kepemimpinan Imam Khomaeni. Seluruh masyarakat di India secara sukarela mengikuti cita-cita non-kooperasi terhadap penjajah dengan gerakan satyagraha. Sri Satya Sai Baba dan Amritanandamayi memiliki penggemar di seluruh dunia. Dengan karisma mereka, para pengikutnya bersedia melaksanakan pekerjaan sosial secara sukarela, demikian pula dengan Sri Ravi Shankar dan ratusan biksu lainnya yang telah memiliki organisasi di seluruh dunia. Para pengikut memuja guru dan melaksanakan misi mereka. Orang dengan kapasitas demikian dapat dianggap sebagai pemimpin spiritual. Sebagian besar umat mereka menerima nilai-nilai etika dan moral dan melaksanakan pelayanan tanpa pamrih, pengakuan dan kompensasi.

Mao Tse Tung adalah termasuk seorang pemimpin politik yang dikagumi jutaan umat manusia, yang tidak hanya melakukan misi membebaskan Cina dari penindasan asing, akan tetapi juga membantu dalam membangun kembali negara Cina. Salah satu contoh pengaruh kepemimpinannya adalah berkenaan dengan kunjungan Nixon ke negara Cina. Mao diberitahu bahwa kunjungan Nixon ke Cina harus ditunda karena mereka sulit menyingkirkan salju di jalan-jalan Peking. Mao pergi ke Radio Peking dan meminta warga untuk membersihkan salju dari jalan. Maka jutaan warga bergerak dalam upaya menyingkirkan salju tersebut. Dalam arena politik masa kini - termasuk di Indonesia - hampir tidak ada lagi orang yang mampu menginspirasi orang lain. Sebagian besar reputasi para pemimpin di tingkat legislatif kita didominasi oleh catatan pelanggaran moral. Sebagian dari mereka adalah korup, dan dalih dari korupsi tersebut adalah dampak dari sistem ekonomi-politik yang tidak pantas dari para aparatur birokrasi negara. Kurangnya kepemimpinan etik telah membuat pemerintah mengembangbiakan parasit yang meggerogoti wibawa pemerintahan itu sendiri.

Dalam era globalisasi seperti saat ini, seluruh transaksi dan/atau interaksi telah dikomersialisasikan. Hal ini didukung oleh media, dengan mengelu-elukan bintang film dan selebritis yang memiliki penggemar besar. Bahkan partai politik memanfaatkan mereka sebagai ikon untuk mengumpulkan suara mereka. Para pemilih dalam pilkada disuap dengan uang, dan dengan bujukan hedonisme lainnya. Dengan demikian kurang ada kesempatan lagi bagi para pemimpin politik tulen yang bakal muncul di negara kita. Para politisi membeli dan mempengaruhi media untuk mempengaruhi sikap dan nilai-nilai masyarakat. 
Pertimbangan komersial telah menjadi motivasi dominan di kalangan pelaku media. Oleh karena itu, kepemimpinan yang tulus dalam melayani rakyat sulit untuk muncul di bidang politik dan media. Meski tengah muncul fenomena baru di luar prediksi masyarakat tentang kepemimpinan gaya Jokowi di Indonesia yang memberikan harapan akan perubahan. Seorang pemimpin harus memiliki banyak kualitas mulia, seperti kejujuran, integritas, kerendahan hati, tidak mementingkan diri sendiri, dedikasi, komitmen, patriotisme, pelayanan tanpa pamrih, dan penuh pengorbanan, yang seharusnya sektor pendidikan tinggilah yang dapat menghasilkan pemimpin mulia seperti demikian. Dalam tradisi budaya kita terdahulu, ulama dan guru masih dianggap sebagai orang yang patut dihormati diatas rata-rata orang pada umumnya.

Dalam tradisi masa lalu seorang ulama atau pendeta adalah penasehat raja atau kaisar, dan mereka adalah orang yang sangat berpengetahuan dan bijaksana, benar-benar tanpa pamrih, diberkahi dengan cita-cita luhur, memiliki integritas dan kejujuran, serta meninggalkan kesenangan duniawiah untuk melayani umat manusia. Banyak risalah yang ditulis oleh para orang bijak dan filsuf, yang mendedikasikan hidup mereka untuk kesejahteraan umat manusia, lingkungan dan alam. Mereka adalah orang yang menjaga diri dari kehidupan duniawiah, dengan tinggal terpencil di pelosok desa - dengan memimpin pesantren, gereja dan pure - berlatih spiritual untuk mencapai tingkat tertinggi berkenaan dengan pengetahuan tentang kosmos.

Kontribusi mereka terhadap umat manusia terasa ke seluruh dunia, dan diantara kalangan pemikir demikian adalah antara lain Ibnu Al-Arabi, Al Ghazali, Ibnu Sinna, Arnold Toynbee, Will Durant, Laotze, Confusius, Soekarno, Hatta, Sidharta Gautama, Thoreau, Emerson, Frawley, Rolland dan Basham. Ratusan penemuan di bidang sains dan matematika yang sering dikaitkan dengan ilmuwan barat, sumbernya ditemukan oleh orang bijak kuno dan orang-orang suci.
Dalam 100 tahun terakhir, telah ada pertumbuhan spektakuler dalam sains dan teknologi yang membawa kemakmuran bagi sekitar sepertiga penduduk dunia. Namun secara bersamaan, planet bumi ini telah dijarah dan dirampok oleh sekelompok manusia. Hutan telah menghilang, tanah menjadi gersang dan tidak subur, serta pemanasan global dapat membawa malapetaka ke seluruh penjuru dunia. Polusi telah melampaui batas toleransi. Jutaan hewan mengalami penderitaan yang tak terbayangkan, sebagian lagi digunakan untuk makanan, pekerjaan, eksperimentasi dan hiburan. Manusia sendiri telah menjadi sakit. Disamping terjangkit HIV, manusia telah menjadi kesepian dan terasing. Keluarga telah terfragmentasi.


Manusia menderita karena ketegangan, kecemasan, ketakutan dan rasa tanpa tujuan. Lebih banyak uang dibelanjakan untuk persenjataan yang bisa berakibat pada penghancuran umat manusia ketimbang untuk mengangkat derajat kemanusiaan pada tingkat yang lebih tinggi. Tren tersebut diperparah lagi oleh krisis keuangan dan ekonomi , resesi, manipulasi dari kalangan politisi dan para pelaku bisnis, meningkatnya kekerasan dan kejahatan, sensualitas dan seksualitas sembarangan yang vulgar terus meningkat dalam kehidupan publik. Perkembangan yang luar biasa di bidang transportasi, komunikasi, televisi, internet, ponsel, komputer dan lain sebagainya, seyogyanya mendidik umat manusia untuk menjalani hidup mulia dan melahirkankan keharmonisan dan kedamaian. 

Sayangnya, yang terjadi justeru sebaliknya. Kesemua peralatan dan gadget tersebut sebagian malah telah digunakan untuk mendistorsi pikiran dan menyesatkan umat manusia. Kepemimpinan dan manajemen spiritual dan etika sebaiknya mampu menangkap tren yang memburuk ini, bahkan harus mampu membalikkan situasi tersebut. Untuk tujuan ini, kepemimpinan dan manajemen spiritual dan etika perlu meresapi dan menyerap setiap aktivitas, sikap dan perilaku manusia, dalam kaitannya dengan transaksi dan/atau interaksi dalam konteks organisasi dan administrasi. Kita harus mencari solusi untuk masalah yang melanda umat manusia. Indonesia bersama negara lain perlu mempelopori kepemimpinan spiritual dan inspiratif bagi seantero dunia, sekaligus merombak semua sektor dan segmen masyarakat - baik dibidang politik, ekonomi, sosial, pendidikan, ilmu pengetahuan, budaya, bisnis dan administrasi publik - dan kesemuanya perlu menyerap konsep kearifan lokal yang mungkin belakangan ini sudah dianggap konservatif dan ketinggalan jaman sebagai sumber pencerahan.

Pada sisi yang lain, bahwa dewasa ini tengah terjadi perkembangan positif yang berlangsung di arena dunia bisnis. Istilah spiritual seperti "semangat tim," "semangat kompetitif," "semangat kerjasama," dan "esprit de corps" telah menjadi tema menarik di beberapa organisasi, baik bisnis maupun publik. Begitu juga pola pikir kewirausahaan mulai dijelaskan dengan melibatkan dimensi metafisik, sehingga muncul idiom semangat kewirausahaan, suatu praktek inovatif dan energik untuk mengidentifikasi atau menciptakan kesempatan dan mengambil tindakan yang ditujukan untuk mewujudkan keberhasilan. Spiritualitas di tempat kerja sebetulnya telah berkembang selama bertahun-tahun di dalam organisasi bisnis. Disadari, semangat para pekerja memiliki pengaruh langsung pada produktivitas, sehingga organisasi bersedia menghabiskan dana dalam jumlah besar untuk menciptakan lingkungan kerja yang nyaman, menyenangkan, dan bahkan mewah. Ketika ketulusan dan motif yang murni digabungkan kedalam keterampilan kepemimpinan dan manajemen, serta dibarengi dengan pengambilan keputusan secara konsisten, hasilnya adalah sebuah organisasi yang kuat dan sangat termotivasi.
 

Dalam mencari solusi bisnis, seseorang harus inovatif agar berdampak positif tidak hanya terhadap para pekerja, akan tetapi juga terhadap rekan kerja. Spiritualitas di tempat kerja tidak lagi sekedar sebuah konsep, akan tetapi telah menjadi metode praktis untuk mencapai kesuksesan bisnis. Apalagi dewasa ini sejumlah fakta semakin membuktikan bahwa ada hubungan yang relatif kuat antara pikiran dan tubuh. Berbagai studi telah menunjukkan bahwa berapa banyak orang yang memiliki penyakit, seperti penyakit jantung atau kanker, sekaligus juga adalah penderita depresi sebagai bagian dari suatu lingkaran setan. Suatu penyakit fisik dapat berakibat pada depresi emosional, yang pada gilirannya menghasilkan stres yang memperburuk kondisi fisik yang mendasarinya. Yang lebih menarik adalah temuan ilmu pengetahuan modern yang menunjukkan fakta sebaliknya, dimana kebiasaan dan sikap positif dapat meningkatkan kesehatan fisik manusia, yang pada gilirannya berdampak pada umur yang panjang. Dari pengamatan ilmiah dan berbagai percobaan telah menunjukkan bahwa teknik pengobatan alternatif, seperti meditasi, ritual, dan bahkan doa dapat mengubah perjalanan penyakit terminal, mengurangi ketergantungan pada perawatan medis, dan bahkan meminimalkan kunjungan ke rumah sakit. Pendek kata, spiritualitas dan semua yang berkaitan dengannya sangat penting untuk menciptakan kesehatan jasmani dan rohani yang baik.
 

Jika kita termasuk orang yang menganut konsep bahwa "Semua materi memiliki Pencipta" maka logikanya bahwa, yang merupakan sumber dari segala ciptaan adalah kekuatan yang lebih tinggi yang memancarkan energi positif, ketimbang kekuatan energi negatif. Dengan demikian, kita perlu mengembangkan cara untuk menarik dan menghubungkan energi yang lebih tinggi sebagai bahan bakar untuk kebugaran fisik, pikiran , jiwa, dan rohani yang positif.

Sebagai para pelaku bisnis yang tengah mencari kesuksesan, kita harus mempertimbangkan metode dan teknik yang terhubung dengan daya yang lebih tinggi tersebut. Organisasi yang mempraktekkan psikologi positif dan telah berinvestasi untuk program motivasi para pekerja telah terbukti berhasil menuai manfaat dalam bentuk peningkatan kinerja yang dilaporkan sendiri melalui pengukuran kepuasan kerja. Hasil ini umumnya diterjemahkan ke dalam peningkatan rasio penjualan (ROS), pengembalian aset (ROA) dan pengembalian investasi (ROI). Landasan filosofi ini telah menjadi bagian dari budaya di sejumlah organisasi bisnis, dimana hasil positif dapat ditunjukkan melalui tolok ukur keuangan dan non keuangan. Para manajer dan staf mereka yang terlibat dalam praktik "spiritualitas di tempat kerja" telah memancarkan nilai-nilai kerja dan etika moral yang kuat.
 

Berlatih spiritualitas di tempat kerja dapat menciptakan “win-win solution” bagi semua pihak yang terkait. Para wirausahawan, pengusaha atau investor , manajer dan para pekerja, dan bahkan pelanggan tidak lagi perlu mempertanyakan motif dibalik
pemberian pelayanan yang tersedia. Suatu evaluasi terhadap strategi yang telah dikembangkan selama 25 tahun pada sejumlah organisasi bisnis ini telah membuktikan bahwa, pengembangan spiritual di tempat kerja telah menjadi alat kepemimpinan dan manajemen yang sederhana dan relatif murah, yang mampu menggantikan imbalan finansial yang relatif mahal, dengan melatih para pekerja bermotivasi tinggi dan menumbuhkan rasa hormat yang besar antara satu dengan lainnya. Banyak organisasi menghabiskan jutaan dolar untuk mengembangkan lingkungan kerja yang konon dirancang untuk memelihara pikiran positif para pekerja dalam rangka kepentingan mengoptimalkan produktivitas. Asumsinya bahwa jutaan dolar yang telah diinvestasikan tersebut pada gilirannya akan menyebabkan profitabilitas yang lebih tinggi dan keunggulan atas para pesaing. Pada prinsipnya, manusia ingin diperlakukan secara adil, merata, dan terhormat.

Para manajer tidak boleh mengabaikan kebutuhan akan rasa keadilan yang dituntut oleh para pekerja ketika mereka didorong untuk memaksimalkan keuntungan. Artinya semua keputusan harus menjamin keadilan dan kesetaraan yang akan meningkatkan tingkat kepercayaan dan meningkatkan transaksi dan/atau interaksi antara manajer dan para pekerja. Jika rasa saling menghormati dan cinta ditingkatkan, maka transaksi dan/atau interaksi antara manajer dan para pekerja akan menghasilkan kolaborasi yang sukses. Apabila situasi dan kondisi tersebut berhasil diciptakan, maka para pemimpin dan manajer tidak perlu lagi menghabiskan waktu yang berharga untuk mempertanyakan dan mengevaluasi lagi ketulusan motif supervisor dan tim kerja mereka.

 Waktu bisa dialokasikan untuk memberi kesempatan yang lebih luas bagi tumbuhnya kreativitas, inovasi, dan produktivitas yang lebih tinggi dengan sukses besar. Tempat kerja dapat dijadikan ruang sosial-ekonomi dan susila. Jika seseorang pekerja tiba di tempat kerja dengan pikiran bahwa dia akan dipergunakan sebagai alat dan bukan sebagai kontributor untuk kemajuan organisasi , tentu hasilnya akan sulit ditebak. Seorang pekerja yang merasa kinerja mereka memiliki dampak pada pembentukan organisasi dan bermanfaat bagi komunitas yang lebih besar, akan memancarkan kepercayaan dan kebanggaan diri yang membuatnya merasa berkontribusi kepada organisasi secara tak ternilai.

Organisasi yang memberdayakan para pekerja dengan memberikan rasa keadilan, pemerataan, dan rasa hormat, dalam jangka panjang akan memiliki keuntungan yang sangat besar, ketimbang organisasi yang membatasi para pekerjanya dan menuntut kinerja terbaik agar mereka pantas diberi keadilan, pemerataan, dan kehormatan.

Para pemimpin dan manajer di perusahaan dewasa ini, mulai dari tingkat organisasi pemula sampai pada organisasi kompleks yang sudah mapan, perlu mengambil gagasan segar untuk mengevaluasi tujuan organisasinya kembali. Seorang pakar dalam praktik kepemimpinan dan manajemen spiritual menjelaskan bahwa doa dan meditasi merupakan obat untuk membersihkan arteri yang tersumbat pada jiwa kita. Tentu saja kebutuhan setiap individu ataupun tim kerja berbeda-beda, seumpama selera akan makanan dan minuman yang bervariasi.

Setiap orang memiliki kehidupan serta fenomena dan isu-isu yang berbeda, namun terdapat satu hal yang menyatukan kita – terutama ketika kita berada di tempat kerja - yaitu bahwa semua orang bersedia memberikan kontribusi yang terbaik dengan menghargai segala kontribusi mereka, dengan rasa saling menghargai dan menghormati, sehingga akan menciptakan dunia menjadi tempat yang lebih baik untuk hidup dan ditempati. Pada akhirnya, kepuasan di tempat kerja akan dibesarkan oleh rasa pemenuhan spiritual, sebagai entitas yang sangat berharga.

Dampak dari spiritualitas terhadap individu adalah terbentuknya mentalitas baru yang bercirikan orientasi yang lebih holistik, altruistik, pelayanan kepada manusia, komitmen pada kebenaran, dan bentuk-bentuk perilaku luhur lainnya, serta kesadaran diri (self awareness). Pengendalian diri, optimisme, dorongan berbuat yang terbaik, dan prakarsa, kesemuanya ini terkait dengan self leadership and management, yang juga adalah dampak lain dari spiritualitas. Mentalitas semacam itu sangat penting bagi akselerasi perubahan organisasi bisnis. Sesungguhnya tidak ada peningkatan produktivitas jika tidak ada perbaikan dalam self-awareness ataupun self-leadership and management.
 

Produktivitas merupakan fungsi dari social-management. Sebelum bisa efektif mengelola transaksi dan/atau interaksi antar individu dan tim kerja secara timbal balik, diperlukan terlebih dahulu manajemen diri sendiri yang efektif (self-leadership and management). Dengan demikian, efektivitas sosial kepemimpinan dan manajemen memerlukan efektivitas dalam self-leadership and management. Untuk memahami self-leadership and management ini dan dampaknya terhadap social-leadership and management dan produktivitas organisasi, penting terlebih dahulu untuk difahami kecerdasan spiritual dan kecerdasan emosional secara individual, yakni dua bentuk kecerdasan selain kecerdasan intelegensi, yang belakangan ini dipandang menentukan kinerja individu.

 Dua bentuk kecerdasan ini, selain terkait satu dengan lainnya, juga sangat penting dalam meningkatkan efektifitas kepemimpinan dan manajemen diri dan sosial, dan dalam konteks ini adalah efektivitas dalam mencapai keberhasilan leadership and management organization itu sendiri, baik pada organisasi bisnis dan bahkan juga pada organisasi publik.



Rabu, 05 Maret 2014

Senin, 03 Maret 2014

WANITA PERKASA


WANITA PERKASA

http://fiksi.kompasiana.com/puisi/2014/03/02/wanita-perkasa-635867.html


Cahaya Lestari
Bagi sebagian wanita
Luka itu indah dan menguatkan
Seperti luka masa lalu yang membuatnya tegar
Terbiasa mengatasi luka dan menjadi kebal karenanya
.
Bagi kebanyakan wanita
Duka itu manis dan membangun
Melewati kisi hati bagaikan semilir desir angin
Tenang meneduhkan dan mengobati sampai ke akarnya
.
Siapa bilang wanita itu lemah
Ia lebih kuat dari satria di medan perang
Tak kan bunuh diri hanya karena tak tahan terkena panah
.
Siapa bilang wanita itu rapuh
Ia masih bisa hasilkan tetes terakhir potongan jeruk
Yang tak mampu dilakukan oleh tangan kekar para lelaki
.
Siapa bilang wanita mudah terluka
Karena baginya luka itu indah dan menguatkan
Ia akan memeluk luka dan menjadikannya sembuh
.
Siapa bilang wanita mudah berduka
Karena baginya duka itu manis dan membangun
Ia akan mendekap duka dan menjadikannya bahagia
.
Sungguh
Wanita itu lebih perkasa dari kaum adam
Kehalusan rasa yang membuat pria terkelabui
Kelembutan jiwa membuat semesta terselimuti

Jumat, 28 Februari 2014

Kekecewaan yang Menjadi Kekuatan

Kekecewaan yang Menjadi Kekuatan


http://cara-mengatur-keuangan-keluarga.blogspot.com/2013/01/kekecewaan-yang-menjadi-kekuatan.html


Menuju kesuksesan atau hidup yang lebih baik, kegagalan pasti hadir. Kecewa karena gagal bisa Anda jadikan kekuatan melalui cara-cara menggunakan kekecewaan yang benar.


Bagi seorang pemenang, kekecewaan, kekalahan atau kegagalan memberi inspirasi kepada mereka untuk terus belajar dan take action sehingga mereka lebih baik dan lebih kuat. Bagi pecundang, kekecewaan, kekalahan atau kegagalan menghentikan mereka.

Mengutip John D. Rockefeller, “Saya selalu berusaha mengubah setiap bencana menjadi peluang.” Menurut ayah kaya Robert Kiyosaki, “ Hanya orang bodoh yang berharap semua berjalan sesuai dengan keinginannya.”


Siap untuk kecewa bukan berarti menjadi seorang pecundang yang kalah atau pasif. Dengan siap secara mental dan emosional serta finansial mempersiapkan diri menghadapi kejutan yang mungkin kita tidak inginkan maka kita bisa bertindak dengan tenang dan bijaksana ketika keadaan tidak sesuai dengan keinginan kita.


Dengan kata lain kita harus siap dengan kemungkinan terburuk dan selalu berjuang (termasuk dalam hal ini belajar, mempunyai impian) dengan konsisten dan persisten untuk mencapai yang terbaik.


Singkatnya, kita semua melakukan kesalahan. Kita semua merasa kesal dan kecewa ketika keadaan tidak sesuai keinginan kita. Namun perbedaannya terdapat pada cara kita memproses kekecewaan itu secara internal. Ayah kaya meringkasnya seperti ini. Ia berkata, “ukuran keberhasilanmu ditentukan oleh kekuatan hasratmu; besarnya mimpimu; dan caramu menghadapi kekecewaan selama perjalanan.”


Banyak orang yang menggunakan kekecewaannya seperti membangun tembok mengelilingi mereka sehingga mereka tidak berkembang lagi. Tetapi ada juga yang menggunakan kekecewaan sebagai pondasi atau batu pijakan untuk tumbuh menjadi lebih baik.


Bagaimana caranya menggunakan kekecewaan, kekalahan atau kegagalan menjadi kekuatan. Yaitu dengan menggunakan pertanyaan di bawah ini :


- Apa yang harus saya pelajari dari kejadian ini sehingga besok saya menjadi lebih baik?


- Saya harus belajar apa sedemikian sehingga bila menghadapi hal yang sama, saya akan jauh lebih berhasil?


- Siapa yang bisa membantu saya untuk menghadapi masalah yang sama sedemikian sehingga menjadi lebih mudah berhasil?


Semoga bermanfaat,





Tung Desem Waringin

Jangan Lupa Ribuan Orang Telah Membaca Artikel Berikut Ini

GUNAWAN MUHAMAD, PEMIKIR KEBUDAYAAN

Goenawan Mohamad
Author profile

born
in Batang, Pekalongan, Indonesia 
July 29, 1941

gender
male

website

twitter username

genre


About this author

Ia seorang jurnalis dan sastrawan yang kritis dan berwawasan luas. Tanpa lelah, ia memperjuangkan kebebasan berbicara dan berpikir melalui berbagai tulisan dan organisasi yang didirikan-nya. Tulisannya banyak mengangkat tema HAM, agama, demokrasi, korupsi, dan sebagainya. Seminggu sekali menulis kolom “Catatan Pinggir” di Majalah Tempo.

Pendiri dan mantan Pemimpin Redaksi Majalah Berita Tempo kelahiran Karangasem Batang, Pekalongan, Jawa Tengah, 29 Juli 1941, ini pada masa mudanya lebih dikenal sebagai seorang penyair. Ia ikut menandatangani Manifesto Kebudayaan 1964 yang mengakibatkannya dilarang menulis di berbagai media umum.

Ia juga pernah menjadi Nieman fellow di Universitas Harvard dan menerima penghargaan Louis Lyons Award untuk kategori Consience in Journalism dari Nieman Foundation, 1997. Secara teratur, selain menulis kolom Catatan Pinggir, ia juga menulis kolom untuk harian Mainichi Shimbun (Tokyo).

Ia menulis sejak berusia 17 tahun, dan dua tahun kemudian menerjemahkan puisi penyair wanita Amerika, Emily Dickinson. Sejak di kelas VI SD, ia mengaku menyenangi acara puisi siaran RRI. Kemudian, kakaknya yang dokter (Kartono Mohamad, mantan Ketua Umum PB IDI) ketika itu berlangganan majalah Kisah, asuhan H.B. Jassin. “Mbakyu saya juga ada yang menulis, entah di harian apa, di zaman Jepang,” tutur Goenawan.



Pada 1971, Goenawan bersama rekan-rekannya mendirikan Majalah Mingguan Tempo, sebuah majalah yang mengusung karakter jurnalisme majalah Time. Di sana ia banyak menulis kolom tentang agenda-agenda politik di Indonesia. Jiwa kritisnya membawanya untuk mengkritik rezim Soeharto yang pada waktu itu menekan pertumbuhan demokrasi di Indonesia. Tempo dianggap sebagai oposisi yang merugikan kepentingan pemerintah sehingga dihentikan penerbitannya pada 1994.

Goenawan Mohamad kemudian mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), asosiasi jurnalis independen pertama di Indonesia. Ia juga turut mendirikan Institut Studi Arus Informasi (ISAI) yang bekerja mendokumentasikan kekerasan terhadap dunia pers Indonesia. ISAI juga memberikan pelatihan bagi para jurnalis tentang bagaimana membuat surat kabar yang profesional dan berbobot. Goenawan juga melakukan reorientasi terhadap majalah mingguan D&R, dari tabloid menjadi majalah politik.

Ketika Majalah Tempo kembali terbit setelah Pak Harto diturunkan pada 1998, berbagai perubahan dilakukan seperti perubahan jumlah halaman namun tetap mempertahankan mutunya. Tidak lama kemudian, Tempo memperluas usahanya dengan menerbitkan surat kabar harian bernama Koran Tempo.

Setelah terbit beberapa tahun, Koran Tempo menuai masalah. Pertengahan bulan Mei 2004, Pengadilan Negeri Jakarta Timur menghukum Goenawan Mohamad dan Koran Tempo untuk meminta maaf kepada Tomy Winata, (17/5/2004). Pernyataan Goenawan yang dimuat Koran Tempo pada 12-13 Maret 2003 dinilai telah melakukan pencemaran nama baik bos Arta Graha itu.

Goenawan yang biasa dipanggil Goen, mempelajari psikologi di Universitas Indonesia, mempelajari ilmu politik di Belgia dan menjadi Nieman Fellow di Harvard University, Amerika Serikat. Goenawan menikah dengan Widarti Djajadisastra dan memiliki dua anak.

Selama kurang lebih 30 tahun menekuni dunia pers, Goenawan menghasilkan berbagai karya yang sudah diterbitkan di antaranya kumpulan puisi dalam Parikesit (1969) dan Interlude (1971), yang diterjemahkan ke bahasa Belanda, Inggris, Jepang, dan Prancis. Sebagian eseinya terhimpun dalam Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang (1972), Seks, Sastra, dan Kita (1980), dan Catatan Pinggir (1982).

Hingga kini, Goenawan Mohamad banyak menghadiri konferensi baik sebagai pembicara, narasumber maupun peserta. Salah satunya, ia mengikuti konferensi yang diadakan di Gedung Putih pada 2001 dimana Bill Clinton dan Madeleine Albright menjadi tuan rumah.

(from tokohindonesia.com)(less)


 https://www.goodreads.com/photo/author/617860.Goenawan_Mohamad

http://www.menpan.go.id

http://www.menpan.go.id/


Rabu, 26 Februari 2014

  3 EKONOM INDONESIA   DAN PEMIKIRANNYA   3 tokoh ekonom Indonesia pasca-reformasi, sekedar sampling acak,   berfokus pada pemulihan kri...