PUTRA KARANGANYAR: MENCARI KEBAIKAN MENUJU KESEMPURNAAN HIDUP (mersudi becik,nggayuh sampurnaning urip). "dengan ilmu hidup menjadi mudah,dengan iman hidup makin terarah, dengan seni dan senyum hidup makin indah,dengan olahraga hidup makin terjaga"
Jumat, 30 Agustus 2013
Rabu, 28 Agustus 2013
❤ Niar Ningrum ❤: About Niar
❤ Niar Ningrum ❤: About Niar: Assalamuallaikum :) Resmi laman about ini dibuat 1 Agustus 2012, bulan Agustus itu penuh cerita kehidupan. :) Tak Kenal Maka Tak Sayan...
Minggu, 25 Agustus 2013
Jumat, 09 Agustus 2013
ASUMSI ADALAH NALAR TERENDAH
Asumsi
Adalah Nalar Terendah
ASUMSI
ADALAH NALAR TERENDAH……
.
Esther Susianti
Tidak
dapat di pungkiri lagi bahwa kegagalan, kemarahan, pertengkaran dan sebagainya
biasanya di sebabkan oleh karena kita suka berasumsi daripada bertanya dengan
jelas, ataupun tidak terjadinya keselarasan dalam komunikasi, salah pengertian
karena persepsi masing-masing yang berbeda. Hal- hal kecilpun kadang bisa
menjadi hal- hal yang besar dan bila hal itu dalam kebaikan akan menjadi
sesuatu yang mendatangkan kebaikan,tetapi bagaimana bila hal itu menjurus
kepada hal yang buruk, pasti tentunya akan menjadi lebih buruk lagi dan bahkan
bisa membahayakan jiwa manusia. Hal inilah yang sering menjadi pemicu keretakan
dalam hubungan ataupun yang dapat menimbulkan perasaan tidak senang bahkan anti
antara satu dengan yang lainnya di antara sesama manusia.
Semakin
majunya zaman, dengan manusia semakin bergantung kepada tekhonogi, semakin
instan pula segala sesuatu yang di hasilkan, semakin langka pula manusia
mengenali dan memahami masing-masing pribadi orang, yang hanya banyak menuntut
orang lain untuk memahami dirinya daripada dirinya memahami orang
lain. Seperti di gunung media, seberapa banyak sekarang, orang-orang yang
menggunakan twieter, facebook dan youtube untuk berkomunikasi ,berbisnis,
ataupun untuk sensasi yang lainnya
.Mereka akan saling memfollow satu dengan
yang lain untuk kepentingan masing-masing. Public figure sudah pasti
mengharapkan banyak follower, maka dia akan semakin popular. Bila apa yang di
bagikan oleh public figure tersebut hal-hal yang membangun mental dan keyakinan
yang baik, sudah pasti akan mendampaki terbangunnya suatu bangsa yang damai
sejahtera, tetapi apabila yang di bagikan bagaimana menjadi kaya secara instant
maka dampaknyapun akan terjadi dengan bermacam-macam reaksi, seperti orang yang
hanya focus kepada diri sendiri, menjadi bernafsu untuk berinvestasi tanpa
menghitung resiko yang ada, atau kekecewaan dan kemarahan ketika terjadi
kerugian atau penipuan.
Berbagai beritapun dapat kita dengar dan tonton sekarang
ini, sehingga apabila begitu banyak berita buruk yang terjadi, sebagian akan
terdampaki menjadi resah, ketakutan atau mencontoh hal-hal buruk tersebut,
tetapi apabila persepsi yang benar terjadi, maka akan terjadi kewaspadaan tanpa
keresahan yang menimbulkan pembelajaran dan empati untuk orang-orang yang di
rugikn tanpa pengutukan. Semua ini kembali kepada masing-masing kedewasaan
berpikir seseorang, bukan kepintaran belaka.
Dalam
segala hal memang di perlukan pengertian, tetapi bagaimana akan terjadi pengertian
apabila tidak pernah terjadi komunikasi yang selaras ? komunikasi selaras juga
perlu di dukung oleh pemahaman masing-masing orang dalam memandang. Bila
pandangan orang satu dengan yang lain tidak dapat saling melengkapi, di situlah
terjadinya celah asumsi yang mendatangkan salah pengertian dan bila di biarkan
akan semakin membangun tembok perseteruan.
Seperti dalam perkawinan, apabila
pandangan satu dengan yang lain berbeda dan timbul asumsi-asumsi yang di bangun
oleh perasaan marah,gelisah dan iri hati, bila tidak cepat di bereskan maka
tidak heran akan terjadi permusuhan, pengkhianatan ataupun perceraian. Dan yang
buruk lagi akan terjadi pertikaian yang memakan korban. Hal inipun juga dapat
terjadi di tingkat perusahaan, organisasi,ataupun Negara. Akar permasalahannya
adalah asumsi yang menjadi persepsi yang salah dalam berkomunikasi dan menjalar
kepada tindakan.
Sangat
di sayangkan apabila hanya karena asumsi, akan mengorbankan ketenangan diri
sendiri bahkan orang lain yang tidak bersalah. Mari mulailah terus
memperbaharui pikiran kita, bukan hanya dengan pengetahuan intelektual saja,
tetapi Spiritual yang benar untuk menguasai emosi kita di terapkan kepada
pilihan-pilihan yang benar. Seseorang memang rata-rata mempunyai watak
kepribadian dan mental yang berbeda-beda.
Ada orang bertype dominan, intim,
stabil dan cermat. Secara mentalpun ada orang berada di golongan rendah
dan yang paling banyak jumlahnya, yaitu yang cepat menyerah, ada pula di
golongan menengah, yang rajin mencapai target tetapi setelah itu cepat puas
diri dan mendirikan kemahnya, dan mental yang paling tanggung adalah seseorang
yang tidak akan cepat puas dengan pencapaiannya sehingga dia akan terus menerus
belajar dan memperbaharui pola pikirnya dengan tiada hentinya sehingga mampu
mencapai kemaksimalan melewati batas dirinya sendiri.
Yang
sering terjadi dalam salah persepsi adalah ketika terjadi pertemuan antar
seorang yang berbeda type dan mental, sudut pandang mereka yang berbeda
menyebabkan komunikasi yang tidak seimbang sehingga tidak ada keselarasan dan
akhirnya kerengganganpun tak dapat di elakkan lagi karena asumsi yang satu
beranggapan negative dengan yang lainnya.
Ah ironi sekali, bila ini terjadi di
dalam keluarga kita sendiri, tetapi orang yang berpengertian pasti berkepala
dingin sehingga dapat memahami dan mencairkan suasana yang kaku. Yang di
butuhkan adalah kesabaran dan rendah hati untuk mengalah.
Dalam
pengkelompokan, dapat diumpamakan terbagi menjadi dua: yaitu kelompok ayam dan
kelompok rajawali.
1) Dalam kelompok ayam, di ibaratkan bahwa mereka
mempunyai sayap untuk
terbang namun karena kesukaannya sedikit-sedikit ribut
berkokok membuat
pandangan matanya rendah dan sempit sehingga dia tidak mau
berupaya
melatih sayapnya untuk terbang tinggi.
Seperti amsal berkata
bahwa yang terpenting untuk berhasil adalah hikmat,sedangkan hikmat terlalu
tinggi bagi orang bodoh. Suatu hardikan lebih masuk pada orang berpengertian
daripada seratus pukulan pada orang bebal.Hikmat tinggal di dalam hati orang
yang berpengertian tetapi tidak di kenal di dalam hati orang bebal.Bibir orang
bebal menimbulkan perbantahan, dan mulutnya berseru meminta pukulan. Orang
bebal dibinasakan oleh mulutnya, bibirnya adalah jerat bagi nyawanya.
2) Dalam kelompok rajawali, di ibaratkan bahwa
mereka memiliki sudut pandang
yang begitu jauh dan tajam sehingga mereka lebih
senang membangun
sarangnya di tempat yang tinggi di atas dasar sebuah batu.
Apabila terjadi badai yang di umpamakan adalah sebuah tantangan, dia akan
semakin berani dan tertantang untuk badai itu membawanya terbang tinggi dengan
melewati badai tersebut. Seperti amsal berkata, berilah orang bijak nasihat,
maka ia akan menjadi lebih bijak, ajarilah orang benar, maka pengetahuannya
akan bertambah.
Hati orang berpengertian memperoleh pengetahuan, dan telinga
orang bijak menuntut pengetahuan. Bibir orang bijak menaburkan pengetahuan,
tetapi hati orang bebal tidak jujur.
Siapa bergaul dengan dengan orang bijak
menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang.mahkota
orang bijak adalah kepintarannya, tajuk orang bebal adalah kebodohannya.
Dalam
penuturan di atas, semoga pemahaman yang benar dapat kita ambil untuk
merefleksikan diri kita berada di dalam kelompok yang mana saat ini, dan
keputusan apa yang kita inginkan terjadi pada diri kita di saat ini untuk saat
mendatang.
Selasa, 06 Agustus 2013
IDUL FITRI HARI KEMENANGAN
IDUL FITRI HARI KEMENANGAN
Mengapa Idul Fitri disebut-sebut sebagai ‘Hari Kemenangan’ ? Jawaban atas pertanyaan ini
bias ditelusuri melalui 2 (dua) pengertian berikut ini :
Pertama, dari kata idul fithri itu sendiri yang berarti kembali ke fitrah, yakni ‘asal kejadian’,
atau ‘kesucian’, atau ‘agama yang benar’. Maka setiap orang yang merayakan idul fitri dianggap
sebagai cara seseorang untuk kembali kepada ajaran yang benar, sehingga dia bisa memperoleh
kemenangan.
Kedua, dari kata ‘minal ‘aidin wal faizin’ yang berarti ‘semoga kita termasuk orang-orang
yang kembali memperoleh kemenangan’ . Karena menurut para ahli, kata al-faizin diambil dari kata
fawz, sebagaimana tersebut dalam Al-Qur’an, yang berarti ‘keburuntungan’ atau ‘kemenangan’.
Menurut Quraish Shihab, bila kata fawz dirujukkan kepada Al-Qur’an, ditemukan bahwa
hampir seluruh kata itu kecuali Al-Qur’an surat An-Nisa : 73 mengandung makna ‘pengampunan dan
keridhaan Allah serta kebahagiaan surgawi’. Kalau begitu, maka bisa dipahami bahwa kata ‘minal
‘aidin wal faizin’ sesungguhnya bermakna do’a, yakni ‘semoga kita termasuk orang-orang yang
memperoleh ampunan dan ridha Allah SWT sehingga kita bisa mendapatkan kenikmatan
surga-Nya’.
Makna lain dari kata idul fitri sebagai hari kemenangan adalah karena pada hari itu seluruh
kaum muslimin dan muslimat baru saja menuntaskan kewajiban agamanya yang paling berat yaitu
menahan hawa nafsu melalui ibadah Ramadhan. Karena itu, barangsiapa mampu menuntaskan
ibadah Ramadhan itu selama sebulan penuh, tentu dia akhirnya keluar sebagai pemenang dalam
ujian kesabarannya itu. Bukankah di bulan puasa segenap umat Islam diuji kesabarannya dalam
menahan diri dari godaan hawa nafsu, baik nafsu syahwat maupun nafsu makan dan minum di siang
hari ? Itulah sebabnya, usai kita melakukan ibadah puasa, lalu diakhiri dengan perayaan idul fitri,
adalah tidak lain dari upaya merayakan kemenangan jiwa kita sendiri.
Cobalah rasakan pada saat bulan puasa tetapi kita tidak berpuasa, lantas tibalah saatnya
hari Raya Idul Fitri, apa kira-kira yang harus kita sambut ? Tidak ada. Sebab, orang yang tidak
berpuasa di bulan Ramadhan, maka pada saat tiba idul fitri, dia akan menyambut hari kemenangan
itu dengan sikap dingin, hambar, hampa, seolah tidak terjadi apa-apa. Sementara orang yang
berpuasa, apalagi sampai sebulan penuh, pasti merayakannya dengan penuh kenikmatan. Inilah
kemudian bisa dipahami bahwa mengapa Al-Qur’an mengisyaratkan bahwa orang yang merayakan
idul fitri itu seolah dia memperoleh ampunan dan ridha Allah sehingga dia bisa mendapatkan
kenikmatan surgawi.
Menurut saya, kenikmatan surgawi tidaklah semata-mata dalam pengertian material, yaitu
surga yang dijanjikan oleh Allah di yaumil akhir nanti, tetapi juga bermakna spiritual, yaitu berupa
konsep tentang kebahagiaan dan kenikmatan hidup yang diperoleh manusia setelah dia mampu
menuntaskan suatu pekerjaan berat yang dibebankan kepadanya. Dan kenikmatan spiritual itu bisa
diperolehnya di dunia. Bukankah kenikmatan hidup itu terasa kian besar manakala kita mampu
keluar dari kesulitan hidup dengan selamat ? Seolah-olah kita dihadapkan pada sebuah kesulitan besar laksana keluar dari lubang jarum kemudian masuk ke lapangan terbuka, sehingga kita bisa menikmati udara segar dan hawa sejuk.
Tiada lagi kepengapan dan kepenatan yang mengepung jiwa kita.
Sesungguhnya metafora ‘lapangan terbuka’ akan mampu memberikan kepada kita
kenikmatan hidup yang membahagiakan. Itulah yang disebut-sebut sebagai kemampuan manusia
untuk memperoleh kemenangan sejati dalam ber’idul fitri. Seolah di Hari Fitri semua persoalan yang
mengganjal kehidupan, terselesaikan. Apakah kamu tidak ingin Alah memaafkan kamu ?
Allah adalah Maha Pemaaf lagi Maha Penyayang (Al-Qur’an, An-Nur : 22). Mudah-mudahan di Hari Raya
Idul Fitri ini, kita pun kembali termasuk orang-orang yang kembali memperoleh keridhaan Allah dan
menikmati keindahan surga-Nya, sebagai bukti bahwa kita ‘menang’ dalam mengatasi segala ujianNya. Wallahua’lam.
Inilah hakikat Idul Fitri yang mengisyaratkan adanya upaya manusia untuk kembali
kepangkuan Tuhannya, atau kembali ke asal usul yang menciptakan manusia, yaitu Allah SWT itu
sendiri. Kembali ke Tuhan dalam keadaan putih bersih setelah melakukan tawbatan nashuha.
Gerak upaya kembali ke asal adalah sebuah jargon yang mengindikasikan adanya ikhtiar
sadar manusia untuk melakukan penyegaran moral tatkala manusia hendak melakukan transformasi
social kehidupannya. Karena, setiap gerak ke depan ia selalu membutuhkan langkah kembali ke
belakang, agar gerak ke depan bias memiliki daya jangkau yang lebih jauh dan panjang. Tanpa
gerak kembali ke belakang besar kemungkinan lompatan ke depan tidak memiliki daya tumpu yang
kuat, sehingga jangkauan yang tercapaikan pun akan sangat dekat dan pendek.
Ilustrasi ini menggambarkan, bahwa setiap gerak maju betapapun hebatnya selalu
membutuhkan langkah mundur sebagai proses persiapan, ancang-ancang , bahkan penyegaran,
agar dia dapat lebih leluasa menata kembali arus nafas sehingga mampu melesat ke depan secara
lebih ringan.
‘Idul Fitri pun memiliki makna yang sama, yaitu sebagai langkah mundur untuk proses
persiapan dalam menghadapi tantangan hidup yang mungkin jauh lebih hebat dan berat di masamasa yang akan datang. Namun jauh lebih penting lagi adalah gerakan memacu meningkatkan
moral sosial kita yang suci, murni, dan sejati itu, baik di mata manusia maupun di mata Allah SWT.
Wassalam.
Dikutip dari buku : “Noktah Pengharapan Manusia” .
http://www.depnakertrans.go.id/microsite/korpri/uploads/doc/kultum18.pdf
Mengapa Idul Fitri disebut-sebut sebagai ‘Hari Kemenangan’ ? Jawaban atas pertanyaan ini
bias ditelusuri melalui 2 (dua) pengertian berikut ini :
Pertama, dari kata idul fithri itu sendiri yang berarti kembali ke fitrah, yakni ‘asal kejadian’,
atau ‘kesucian’, atau ‘agama yang benar’. Maka setiap orang yang merayakan idul fitri dianggap
sebagai cara seseorang untuk kembali kepada ajaran yang benar, sehingga dia bisa memperoleh
kemenangan.
Kedua, dari kata ‘minal ‘aidin wal faizin’ yang berarti ‘semoga kita termasuk orang-orang
yang kembali memperoleh kemenangan’ . Karena menurut para ahli, kata al-faizin diambil dari kata
fawz, sebagaimana tersebut dalam Al-Qur’an, yang berarti ‘keburuntungan’ atau ‘kemenangan’.
Menurut Quraish Shihab, bila kata fawz dirujukkan kepada Al-Qur’an, ditemukan bahwa
hampir seluruh kata itu kecuali Al-Qur’an surat An-Nisa : 73 mengandung makna ‘pengampunan dan
keridhaan Allah serta kebahagiaan surgawi’. Kalau begitu, maka bisa dipahami bahwa kata ‘minal
‘aidin wal faizin’ sesungguhnya bermakna do’a, yakni ‘semoga kita termasuk orang-orang yang
memperoleh ampunan dan ridha Allah SWT sehingga kita bisa mendapatkan kenikmatan
surga-Nya’.
Makna lain dari kata idul fitri sebagai hari kemenangan adalah karena pada hari itu seluruh
kaum muslimin dan muslimat baru saja menuntaskan kewajiban agamanya yang paling berat yaitu
menahan hawa nafsu melalui ibadah Ramadhan. Karena itu, barangsiapa mampu menuntaskan
ibadah Ramadhan itu selama sebulan penuh, tentu dia akhirnya keluar sebagai pemenang dalam
ujian kesabarannya itu. Bukankah di bulan puasa segenap umat Islam diuji kesabarannya dalam
menahan diri dari godaan hawa nafsu, baik nafsu syahwat maupun nafsu makan dan minum di siang
hari ? Itulah sebabnya, usai kita melakukan ibadah puasa, lalu diakhiri dengan perayaan idul fitri,
adalah tidak lain dari upaya merayakan kemenangan jiwa kita sendiri.
Cobalah rasakan pada saat bulan puasa tetapi kita tidak berpuasa, lantas tibalah saatnya
hari Raya Idul Fitri, apa kira-kira yang harus kita sambut ? Tidak ada. Sebab, orang yang tidak
berpuasa di bulan Ramadhan, maka pada saat tiba idul fitri, dia akan menyambut hari kemenangan
itu dengan sikap dingin, hambar, hampa, seolah tidak terjadi apa-apa. Sementara orang yang
berpuasa, apalagi sampai sebulan penuh, pasti merayakannya dengan penuh kenikmatan. Inilah
kemudian bisa dipahami bahwa mengapa Al-Qur’an mengisyaratkan bahwa orang yang merayakan
idul fitri itu seolah dia memperoleh ampunan dan ridha Allah sehingga dia bisa mendapatkan
kenikmatan surgawi.
Menurut saya, kenikmatan surgawi tidaklah semata-mata dalam pengertian material, yaitu
surga yang dijanjikan oleh Allah di yaumil akhir nanti, tetapi juga bermakna spiritual, yaitu berupa
konsep tentang kebahagiaan dan kenikmatan hidup yang diperoleh manusia setelah dia mampu
menuntaskan suatu pekerjaan berat yang dibebankan kepadanya. Dan kenikmatan spiritual itu bisa
diperolehnya di dunia. Bukankah kenikmatan hidup itu terasa kian besar manakala kita mampu
keluar dari kesulitan hidup dengan selamat ? Seolah-olah kita dihadapkan pada sebuah kesulitan besar laksana keluar dari lubang jarum kemudian masuk ke lapangan terbuka, sehingga kita bisa menikmati udara segar dan hawa sejuk.
Tiada lagi kepengapan dan kepenatan yang mengepung jiwa kita.
Sesungguhnya metafora ‘lapangan terbuka’ akan mampu memberikan kepada kita
kenikmatan hidup yang membahagiakan. Itulah yang disebut-sebut sebagai kemampuan manusia
untuk memperoleh kemenangan sejati dalam ber’idul fitri. Seolah di Hari Fitri semua persoalan yang
mengganjal kehidupan, terselesaikan. Apakah kamu tidak ingin Alah memaafkan kamu ?
Allah adalah Maha Pemaaf lagi Maha Penyayang (Al-Qur’an, An-Nur : 22). Mudah-mudahan di Hari Raya
Idul Fitri ini, kita pun kembali termasuk orang-orang yang kembali memperoleh keridhaan Allah dan
menikmati keindahan surga-Nya, sebagai bukti bahwa kita ‘menang’ dalam mengatasi segala ujianNya. Wallahua’lam.
Inilah hakikat Idul Fitri yang mengisyaratkan adanya upaya manusia untuk kembali
kepangkuan Tuhannya, atau kembali ke asal usul yang menciptakan manusia, yaitu Allah SWT itu
sendiri. Kembali ke Tuhan dalam keadaan putih bersih setelah melakukan tawbatan nashuha.
Gerak upaya kembali ke asal adalah sebuah jargon yang mengindikasikan adanya ikhtiar
sadar manusia untuk melakukan penyegaran moral tatkala manusia hendak melakukan transformasi
social kehidupannya. Karena, setiap gerak ke depan ia selalu membutuhkan langkah kembali ke
belakang, agar gerak ke depan bias memiliki daya jangkau yang lebih jauh dan panjang. Tanpa
gerak kembali ke belakang besar kemungkinan lompatan ke depan tidak memiliki daya tumpu yang
kuat, sehingga jangkauan yang tercapaikan pun akan sangat dekat dan pendek.
Ilustrasi ini menggambarkan, bahwa setiap gerak maju betapapun hebatnya selalu
membutuhkan langkah mundur sebagai proses persiapan, ancang-ancang , bahkan penyegaran,
agar dia dapat lebih leluasa menata kembali arus nafas sehingga mampu melesat ke depan secara
lebih ringan.
‘Idul Fitri pun memiliki makna yang sama, yaitu sebagai langkah mundur untuk proses
persiapan dalam menghadapi tantangan hidup yang mungkin jauh lebih hebat dan berat di masamasa yang akan datang. Namun jauh lebih penting lagi adalah gerakan memacu meningkatkan
moral sosial kita yang suci, murni, dan sejati itu, baik di mata manusia maupun di mata Allah SWT.
Wassalam.
Dikutip dari buku : “Noktah Pengharapan Manusia” .
http://www.depnakertrans.go.id/microsite/korpri/uploads/doc/kultum18.pdf
Rabu, 31 Juli 2013
Gelora Nusantaraku Sakti: PENGENALAN DIRI ANDA YANG SEBENAR-BENARNYA
Gelora Nusantaraku Sakti: PENGENALAN DIRI ANDA YANG SEBENAR-BENARNYA: Membaca kata-kata yang berbunyi: "PENGENALAN DIRI ANDA YANG SEBENAR-BENARNYA" jika saja hanya sepintas saja, maka bukanlah merupa...
Senin, 29 Juli 2013
TB GRAMEDIA KARAWACI SAMBUT PENGUNJUNG DENGAN RAMAH
silahkan berkunjung ke TB Gramedia Karawaci, pasti anda akan di sapa dengan ramah pleh si Mbak yang cantik ini....
monggooooo...., selamat pagi..., selamat siang...., terimakasih atas kunjungannya...., dlll
monggooooo...., selamat pagi..., selamat siang...., terimakasih atas kunjungannya...., dlll
Selasa, 23 Juli 2013
MENGHARGAI ANAK SEBAGAI PRIBADI
Menghargai
Anak sebagai Pribadi
Suko Waspodo
Sebagai orangtua pasti ingin memiliki anak-anak yang kreatif dan
untuk itu peran sertanya sangat penting. Orangtua yang menginginkan anak-anak
kreatif seharusnya menghargai anak-anak mereka sebagai pribadi (person)
yang penting. Mereka diperlakukan sebagai anggota keluarga yang sejajar.
Pendapat mereka didengarkan dan ditanggapi. Perasaan-perasaan mereka diberi
tempat dan diterima dengan wajar. Usul-usul mereka diperhitungkan.
Keputusan-keputusan mereka mengenai beberapa hal yang sudah dikuasai seperti
warna pakaian, macam permainan dan olahraga, kegiatan di luar rumah, hobby,
dihargai.
Namun sikap dan perlakuan orangtua itu tidak permisif: “anak-anak
diperbolehkan berbuat apa saja”, acuh tak acuh, “apa-apa saja sama saja” atau
memanjakan: “membiarkan anak atau memenuhi kehendak anak-anak, biar mereka
senang, juga yang tak wajar”, tetapi penuh perhatian, cinta, dan pembinaan.
Anak-anak dihargai dengan disertai keinginan agar bertindak pantas. Anak-anak
dipercaya dengan harapan agar hidup bertanggung jawab.
Anak-anak diberi
kemungkinan untuk mengambil keputusan dengan catatan agar keputusan dibuat
secara bertanggung jawab dan berani bertanggung jawab pula atas akibat-akibat
dari keputusan yang sudah mereka ambil. Ini berarti dalam proses mengambil
keputusan dalam bidang yang di atas kemampuan mereka, anak-anak dibantu dengan
pertimbangan-pertimbangan yang diperlukan.
Dari sikap dan perlakuan orangtua itu, ada tiga akibat
penting yang terjadi pada anak.
Pertama, karena dihargai, harga diri dan kepercayaan diri mereka
berkembang.
Kedua, karena dilatih mengambil keputusan, mereka semakin cakap
dalam hal mengambil keputusan.
Ketiga, karena dilatih bertanggung jawab, rasa tanggung jawab
anak-anak dibina.
Demikianlah hal-hal yang perlu diperhatikan oleh orangtua yang
menginginkan anak-anak yang kreatif. Menghargai anak sebagai pribadi sehingga
hal ini menjadi dasar bagi mereka untuk hidup yang produktif dan perilaku yang
efektif di kemudian hari.
Selamat menyambut Hari Anak Nasional. Salam damai penuh cinta.
***
Solo, Selasa, 23 Juli 2013
Suko Waspodo
Langganan:
Postingan (Atom)
3 EKONOM INDONESIA DAN PEMIKIRANNYA 3 tokoh ekonom Indonesia pasca-reformasi, sekedar sampling acak, berfokus pada pemulihan kri...
-
Gendhing Jawa - Javanese Gamelan Notation New notation website new! Pélog Lima Pélog Nem Pélog Barang Sléndro Nem Sléndro Sanga Sl...

















