Rabu, 29 Januari 2014

MENGGAPAI KESADARAN JIWA

Menggapai Kesadaran Jiwa

Tjiptadinata Effendi




Kesadaran jiwa atau dalam bahasa yang lebih keren, disebut :” Pencerahan”.Dalam bahasa Inggeris ,bisa disamakan dengan kata:” enlightenment- illumination- awareness “ Diterjemahkan secara bebas:”Terlepas atau melepaskan diri dari kegelapan.(segala sesuatu yang bersifat negatif).Pengertian negatif,tentu tidak perlu dijelaskan secara panjang lebar disini,karena semua orang memahami,bahwa sesuatu yang negatif,cendrung bermuara kepada sesuatu yang tidak benar atau tidak tepat sasaran.

Kata “pencerahan “ sudah amat sering kita dengarkan,malahan mungkin sudah kita ucapkan. Namun,hanya sebatas sebuah sebutan. Seakan kata tersebut,hanya sebatas pencitraan diri.Karena banyak orang berpikir,pencerahan itu hanya untuk orang orang saleh. Padahal,justru kita yang termasuk kelompok “orang orang biasa”inilah yang seharusnya belajar untuk menapaki jalan menuju kepada pencerahan diri. Akibatnya,semakin lama ,kata pencerahan semakin kehilangan maknanya..Dan tidak lebih dari sebatas dipahami sebagai salah satu kata gaul saja

Jadikanlah Alam Terkembang ,Sebagai Guru.

Hidup ini adalah sebuah Universitas Multidimensional,dimana kita bisa belajar segala macam ilmu tentang hidup.Setiap detik dalam hidup kita,adalah peluang untuk bisa belajar. Bahkan tidak berlebihan bila dikatakan ,dalam setiap tarikan nafas,tersirat satu ayat pembelajaran diri yang tak ternilai,yakni :”Belajar Menyukuri Hidup”. Tapi sayangnya ,banyak diantara kita yang terlalu sibuk dengan hal hal yang berada diluar diri,yang menguras,tidak hanya energy kita,tetapi juga segala daya daya hidup dalam diri.

Kita berpacu dalam mencari rejeki, berpacu dalam menggali ilmu pengetahuan,berpacu mencari kekayaan ,popularitas diri,jabatan dan sebagainya..Yang tentunya tidak ada masalah ,selama dalam batas kewajaran. Namun, begitu asyiknya ,sehingga kita lupa,apa sebenarnya yang kita cari didalam hidup ini? Apa makna kehidupan bagi kita? Dalam kata lain ,kita terhanyut dalam kegalauan hidup,yang pada akhirnya akan menyebabkan kita kehilangan arah hidup. 

Buktinya,setiap hari kita menyaksikan melalui pemancar televise,membaca di surat kabar ataupun dimedia elektronik lainnya, tentang perilaku manusia yang sudah menghancurkan harkat kemanusiaan itu sendiri. Bahkan suka ataupun tidak,kita harus menerima kenyataan,dalam hal kesetiaan,tidak jarang,manusia kalah dari makluk ciptaan Tuhan yang selama ini kita anggap berada dibawah derajat manusia.

Contoh nyata:” Takkan harimau memakan anaknya sendiri.” ,tetapi manusia melakukan hal tersebut. Sesungguhnya amat banyak contoh contoh lain.Namun akan terasa sangat melukai perasaan,bila saya ungkapkan disini.

Memaknai Tujuan Hidup Kita.

Memahami arti kehidupan ,merupakan kalimat yang amat sederhana,tetapi sebenarnya cukup banyak orang yang tidak memahami makna dari kalimat tersebut. Pertanyaannya mudah:” Apa arti kehidupan buat saya pribadi?” ,ternyata banyak orang yang tidak dapat menjawab secara serta merta.Nah,bila orang tidak tahu apa tujuan dan makna kehidupan bagi dirinya sendiri,bagaimana mungkin bisa memahami hal hal yang berhubungan dengan orang lain.

Memahami ,mengapa manusia harus hidup berbagi? Memahami bahwa semua orang butuh uang, tetapi uang bukan segala galanya. Mencapai pencerahan diri ,bahkan mampu membuat orang, mengembalikan setumpuk uang,yang diberikan kepadanya,karena mengetahui bahwa ada banyak orang lain yang lebih membutuhkan . 

Yang mungkin bagi kebanyakan orang ,dianggap suatu kebodohan , Pencerahan diri memang hanya dapat dimengerti dengan hati. Karena pikiran kita adalah sejajar dengan egoism . Pikiran selalu mencari alasan untuk pembenaran diri,kendati sudah jelas kita bersalah. Sedangkan di dalam hati kita ,ada nurani atau suara hati yang menjadi control diri. Yang akan menegor ,bila kita melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani.

Perlu waktu

Pembelajaran ini tidak akan dapat terwujud secara spontanitas,melainkan butuh penggodokan
Proses pembelajaran diri,akan menjadikan kita manusia yang semakin memahami karunia agung Sang Mahakarya dalam diri kita masing masing,dalam memaknai dan mengisi setiap sisi kehidupan kita. .Agar dapat dimanfaatkan ,tidak hanya untuk meningkatkan taraf kesadaran diri kita, tetapi tidak kalah pentingnya adalah membuka hati kita untuk peduli akan sesama kita, tanpa melihat suku,bangsa dan agama yang di imaninya.

Dengan menapaki jenjang kesadaran jiwa,maka sebagai manusia,kita memiliki kekuatan dan kemampuan diri,untuk mematahkan belenggu diri yang kita ciptakan sendiri,melalui
Sepotong kemampuan diri yang bernama intelektual,ternyata tidak ada apa apanya,bila dibandingkan dengan misteri kehidupan yang begitu multikomplit. Di mana rambu rambu batas kemampuan manusia,adalah sejauh mana pikirannya mengalir dan sejauh mana keyakinannya pada diri sendiri dan keyakinannya pada Sang Pencipta..

Oleh karena itu ,adalah sangat naif, bila segala sesuatu peristiwa hidup, dipertanyakan logikanya bagaimana? Seakan akan logika adalah segala galanya dalam kehidupan manusia. Padahal ada banyak kenyatan hidup yang tak terpungkiri,yang tidak dapat dihitung secara matematika atau dilogikakan.

Contoh: Seorang yang menyandang gelar sarjana, logikanya, hidupnya pasti lebih sejahtera daripada orang yang tidak pernah duduk dibangku kuliah. Tetapi kenyataannya, cukup banyak sarjana yang menganggur atau menjadi tukang beca,sementara tidak sedikit orang yang sukses, walaupun tidak pernah duduk disekolah tinggi.

Mencapai pencerahan atau kesadaran jiwa ,tentulah tidak semudah mengucapkannya. Perlu pemahaman yang mantap,penghayatan akan maknanya dan tekad untuk meraihnya. Mungkin saja harus melalui perjalanan panjang yang melelahkan ,sebelum mampu menembus tirai misteri kehidupan itu sendiri,yaitu memaknai hidup untuk menjadi manusia yang berguna ,tidak hanya bagi keluarga,tapi juga bagi orang lain.Gajah mati meninggalkan gading. Harimau mati meninggalkan belang. Manusia mati meninggalkan nama.

Untuk dapat dikenang orang,tidak harus menjadi orang besar,seperti Bung Karno atau Sudirman. Setiap orang dapat menjadi manusia yang dikenang,tidak hanya ketika masih hidup, tetapi juga ketika sudah tiada lagi di dunia ini.

Untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama, tidak ada batasan suku,budaya,kepercayaan ataupun sebagai seorang manusia,kita diberikan kebebasan oleh Sang Pencipta, untuk memilih : menjadi manusia yang dikenang karena bermanfaat bagi orang lain, atau menjadi manusia yang dilupakan,karena kehadirannya di dunia ini tidak berarti apapun bagi sesama.

 Peta jalan ada ditangan kita,terpulang kita akan mengambil arah yang mana. Mari kita memilih jalan hidup yang benar,agar tidak akan jadi sesalan seumur hidup.

Catatan: tulisan ini sama sekali tidak bermaksud mengurui sana sini, Semata mata untuk sharing ,sesuai dengan motto Kompasiana: “sharing and connecting “.

Wollongong, 28 Januari,2014

Tjiptadinata Effendi.


http://filsafat.kompasiana.com/2014/01/29/menggapai-kesadaran-jiwa-631243.html

Menggapai Kesadaran Jiwa


Kesadaran jiwa atau dalam bahasa yang lebih keren, disebut :” Pencerahan”.Dalam bahasa Inggeris ,bisa disamakan dengan kata:” enlightenment- illumination- awareness “ Diterjemahkan secara bebas:”Terlepas atau melepaskan diri dari kegelapan.(segala sesuatu yang bersifat negatif).Pengertian negatif,tentu tidak perlu dijelaskan secara panjang lebar disini,karena semua orang memahami,bahwa sesuatu yang negatif,cendrung bermuara kepada sesuatu yang tidak benar atau tidak tepat sasaran.


Kata “pencerahan “ sudah amat sering kita dengarkan,malahan mungkin sudah kita ucapkan. Namun,hanya sebatas sebuah sebutan. Seakan kata tersebut,hanya sebatas pencitraan diri.Karena banyak orang berpikir,pencerahan itu hanya untuk orang orang saleh. Padahal,justru kita yang termasuk kelompok “orang orang biasa”inilah yang seharusnya belajar untuk menapaki jalan menuju kepada pencerahan diri. Akibatnya,semakin lama ,kata pencerahan semakin kehilangan maknanya..Dan tidak lebih dari sebatas dipahami sebagai salah satu kata gaul saja


Jadikanlah Alam Terkembang ,Sebagai Guru.


Hidup ini adalah sebuah Universitas Multidimensional,dimana kita bisa belajar segala macam ilmu tentang hidup.Setiap detik dalam hidup kita,adalah peluang untuk bisa belajar. Bahkan tidak berlebihan bila dikatakan ,dalam setiap tarikan nafas,tersirat satu ayat pembelajaran diri yang tak ternilai,yakni :”Belajar Menyukuri Hidup”. Tapi sayangnya ,banyak diantara kita yang terlalu sibuk dengan hal hal yang berada diluar diri,yang menguras,tidak hanya energy kita,tetapi juga segala daya daya hidup dalam diri.


Kita berpacu dalam mencari rejeki, berpacu dalam menggali ilmu pengetahuan,berpacu mencari kekayaan ,popularitas diri,jabatan dan sebagainya..Yang tentunya tidak ada masalah ,selama dalam batas kewajaran. Namun, begitu asyiknya ,sehingga kita lupa,apa sebenarnya yang kita cari didalam hidup ini? Apa makna kehidupan bagi kita? Dalam kata lain ,kita terhanyut dalam kegalauan hidup,yang pada akhirnya akan menyebabkan kita kehilangan arah hidup. 

Buktinya,setiap hari kita menyaksikan melalui pemancar televise,membaca di surat kabar ataupun dimedia elektronik lainnya, tentang perilaku manusia yang sudah menghancurkan harkat kemanusiaan itu sendiri. Bahkan suka ataupun tidak,kita harus menerima kenyataan,dalam hal kesetiaan,tidak jarang,manusia kalah dari makluk ciptaan Tuhan yang selama ini kita anggap berada dibawah derajat manusia.


Contoh nyata:” Takkan harimau memakan anaknya sendiri.” ,tetapi manusia melakukan hal tersebut. Sesungguhnya amat banyak contoh contoh lain.Namun akan terasa sangat melukai perasaan,bila saya ungkapkan disini.


Memaknai Tujuan Hidup Kita.


Memahami arti kehidupan ,merupakan kalimat yang amat sederhana,tetapi sebenarnya cukup banyak orang yang tidak memahami makna dari kalimat tersebut. Pertanyaannya mudah:” Apa arti kehidupan buat saya pribadi?” ,ternyata banyak orang yang tidak dapat menjawab secara serta merta.Nah,bila orang tidak tahu apa tujuan dan makna kehidupan bagi dirinya sendiri,bagaimana mungkin bisa memahami hal hal yang berhubungan dengan orang lain.Memahami ,mengapa manusia harus hidup berbagi? Memahami bahwa semua orang butuh uang, tetapi uang bukan segala galanya. 


Mencapai pencerahan diri ,bahkan mampu membuat orang, mengembalikan setumpuk uang,yang diberikan kepadanya,karena mengetahui bahwa ada banyak orang lain yang lebih membutuhkan . Yang mungkin bagi kebanyakan orang ,dianggap suatu kebodohan ,
Pencerahan diri memang hanya dapat dimengerti dengan hati. Karena pikiran kita adalah sejajar dengan egoism . Pikiran selalu mencari alasan untuk pembenaran diri,kendati sudah jelas kita bersalah. Sedangkan di dalam hati kita ,ada nurani atau suara hati yang menjadi control diri. Yang akan menegor ,bila kita melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nPerlu waktu

Pembelajaran ini tidak akan dapat terwujud secara spontanitas,melainkan butuh penggodokan

Proses pembelajaran diri,akan menjadikan kita manusia yang semakin memahami karunia agung Sang Mahakarya dalam diri kita masing masing,dalam memaknai d
urani.

Dengan menapaki jenjang kesadaran jiwa,maka sebagai manusia,kita memiliki kekuatan dan kemampuan diri,untuk mematahkan belenggu diri yang kita ciptakan sendiri,melalui
Sepotong kemampuan diri yang bernama intelektual,ternyata tidak ada apa apanya,bila dibandingkan dengan misteri kehidupan yang begitu multikomplit. Di mana rambu rambu batas kemampuan manusia,adalah sejauh mana pikirannya mengalir dan sejauh mana keyakinannya pada diri sendiri dan keyakinannya pada Sang Pencipta..
Oleh karena itu ,adalah sangat naif, bila segala sesuatu peristiwa hidup, dipertanyakan logikanya bagaimana? Seakan akan logika adalah segala galanya dalam kehidupan manusia. Padahal ada banyak kenyatan hidup yang tak terpungkiri,yang tidak dapat dihitung secara matematika atau dilogikakan.
Contoh: Seorang yang menyandang gelar sarjana, logikanya, hidupnya pasti lebih sejahtera daripada orang yang tidak pernah duduk dibangku kuliah. Tetapi kenyataannya, cukup banyak sarjana yang menganggur atau menjadi tukang beca,sementara tidak sedikit orang yang sukses, walaupun tidak pernah duduk disekolah tinggi.
Mencapai pencerahan atau kesadaran jiwa ,tentulah tidak semudah mengucapkannya. Perlu pemahaman yang mantap,penghayatan akan maknanya dan tekad untuk meraihnya. Mungkin saja harus melalui perjalanan panjang yang melelahkan ,sebelum mampu menembus tirai misteri kehidupan itu sendiri,yaitu memaknai hidup untuk menjadi manusia yang berguna ,tidak hanya bagi keluarga,tapi juga bagi orang lain.Gajah mati meninggalkan gading. Harimau mati meninggalkan belang. Manusia mati meninggalkan nama.
Untuk dapat dikenang orang,tidak harus menjadi orang besar,seperti Bung Karno atau Sudirman. Setiap orang dapat menjadi manusia yang dikenang,tidak hanya ketika masih hidup, tetapi juga ketika sudah tiada lagi di dunia ini. Untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama, tidak ada batasan suku,budaya,kepercayaan ataupun usia.
Sebagai seorang manusia,kita diberikan kebebasan oleh Sang Pencipta, untuk memilih : menjadi manusia yang dikenang karena bermanfaat bagi orang lain, atau menjadi manusia yang dilupakan,karena kehadirannya di dunia ini tidak berarti apapun bagi sesama. Peta jalan ada ditangan kita,terpulang kita akan mengambil arah yang mana. Mari kita memilih jalan hidup yang benar,agar tidak akan jadi sesalan seumur hidup.
Catatan: tulisan ini sama sekali tidak bermaksud mengurui sana sini, Semata mata untuk sharing ,sesuai dengan motto Kompasiana: “sharing and connecting “.

Wollongong, 28 Januari,2014
Tjiptadinata Effendi.

an mengisi setiap sisi kehidupan kita. .Agar dapat dimanfaatkan ,tidak hanya untuk meningkatkan taraf kesadaran diri kita, tetapi tidak kalah pentingnya adalah membuka hati kita untuk peduli akan sesama kita, tanpa melihat suku,bangsa dan agama yang di imaninya.

Kamis, 23 Januari 2014

SECANGKIR KOPI-SEPIRING UBI: Memupuk Keharmonisan Rumah Tangga

SECANGKIR KOPI-SEPIRING UBI: Memupuk Keharmonisan Rumah Tangga: Memupuk Keharmonisan Rumah Tangga Rumah tangga yang harmonis adalah dambaan semua orang. Namun membangun keluarga yang harmon...



Memupuk Keharmonisan Rumah Tangga


Rumah tangga yang harmonis adalah dambaan semua orang. Namun
membangun keluarga yang harmonis tentu tidaklah mudah, karena pada dasarnya
hubungan dua individu antara laki-laki dan perempuan atau hubungan suami-istri
keduanya memiliki kehendak dan karakter yang berbeda. Ibarat laki-laki datang
dari planet Mars sedang seorang perempuan berasal dari planet Venus. Dua planet
yang memiliki watak dan karakter yang sangat berbeda. Sampai kapanpun tidak
akan pernah keduanya berjalan dalam satu orbit yang sama. Nah untuk itu dalam
membina keluarga yang harmonis diperlukan ilmu dan tips-tips khusus. Berikut
beberapa tips yang mungkin cocok untuk kita coba.





1.      Buatlah komitmen jangka panjang
Komitmen jangka panjang berarti tujuan bersama antara suami dan
istri. akan dikemanakan arah bahtera kehidupan mereka. Jika visi dan 
 misi telah jelas berkomitmenlah masing-masing
untuk bisa menggapai apa yang direncanakan bersama. Semisal contoh pasangan
suami-istri menginginkan menjadi pasangan dunia akhirat, tidak hanya sekedar
rukun sampai kakek-nenek atau istilah Jawanya
 rukun kadya Mimi lan Mintuna, hal ini tentunya diperlukan landasan ideology
yang kuat karena menurut saya cinta saja tidak cukup mampu melanggengkan
hubungan suami-istri.

2.      Saling mempercayai
Percaya berarti tidak saling berprasangka. tentunya prasangka
adalah tentang sesuatu yang buruk. Supaya keluarga menjadi harmonis hendaknya
kita mampu mengubah prasangka-prasangka tersebut menjadi khusnudzon saja.
Karena 
 Dalam sikap prasangka
hampir selalu jauh dari kebenaran. Dan lebih mendasar lagi kita harus
mempercayai bahwa hubungan suami-istri adalah suatu ikatan langit yang menjadi
amanah bersama yang dalam bahasa al Qur’an disebut
 “Miitsaaqon Gholiidhon”

3.      Terbuka untuk curhat
Hubungan suami istri bukanlah seperti hubungan atasan dan
bawahan, bukan pula seperti hubungan antara juragan dan anak buah, posisi istri
bukan didepan suami untuk memberikan komando juga bukan dibelakangnya yang
memungkinkan untuk ditekan. Namun hubungan suami-istri adalah hubungan relasi
yang saling melengkapi, saling mendukung, berjalan beriringan dan saling
mengingatkan. Sehingga perlu adanya usaha untuk menjadikan iklim keluarga kita
cair dan terbuka. Jika ada masalah perlu dibicarakan bersama, atau saling
curhat dalam bahasa gaulnya.

4.      Saling memaafkan dan berorientasi solusi
Memaafkan orang lain berarti memaafkan diri sendiri. Orang yang
susah memberi maaf seperti menyerahkan dirinya pada cengkeraman monster yang
akan menyakiti hati dan fisiknya sendiri. Oleh karena itu jika salah satu
pasangan berbuat khilaf hendaknya pasangan mendo’akan dengan sepenuh hati dan
mencari solusi agar segera kembali ke jalan yang benar, senantiasa 
 berlapang dada dan memaafkan, karena
bagaimanapun juga manusia tidak ada yang luput dari dosa.



5.      Saling memberi hadiah pada moment-moment
tertentu
تهادوا وحبّوا...
Begitulah lisan mulia Rosululloh mencontohkan agar kita saling
memberi hadiah agar kita saling mencintai. Memberi adalah bentuk fisik
perhatian kita kepada pasangan, karena kadang kala pasangan kita merasa
dihargai dan dicintai jika kita memberikan sesuatu yang membuatnya surprise
(Receiving Gifts). Walau mungkin hadiah itu nilainya kecil secara ekonomis,
namun hal seperti itu memberikan nilai istimewa di hati pasangan kita.

6.      Menyempatkan diri berdua dengan pasangan
Bagaimanapun juga hubungan antara suami-istri tentu ada rasa
jenuh, apalagi jika pekerjaan dan rutinitas menumpuk, sibuk dengan urusan
keuangan dan mengurus anak kadang membuat hidup menjadi hambar. Banyak susahnya
daripada senangnya. Orang Jawa bilang
 “Kawin kuwi senenge sak klenteng, susahe sak rendeng” (Menikah itu senangnya sebesar klenteng (biji
randu) sedang susahnya senjang masa penghujan). Oleh karena itu pasangan suami
– istri harus pandai-pandai mencari moment yang menjadikan mereka berdua
mengingat romantisme percintaan mereka. Oleh karena itu menyempatkan diri
berdua dengan pasangan di tempat-tempat yang indah, dinner diluar kota berdua
akan mengingatkan masa dimana bunga-bunga cinta bermekaran akan membuat suasana
keluarga menjadi harmonis dan bahagia tentunya.

Selamat Mencoba dan Salam Harmonis - Bahagia.
Jwt.



SECANGKIR KOPI-SEPIRING UBI: “ 11 T” Konsep Kejawen Untuk Meraih “Kawruh dan N...

SECANGKIR KOPI-SEPIRING UBI: “ 11 T” Konsep Kejawen Untuk Meraih “Kawruh dan N...: “ 11 T”  Konsep Kejawen Untuk Meraih “Kawruh dan Ngelmu”             Para leluhur kita orang Jawa mewejang bagaimana agar kita ma...



“ 11 T”  Konsep Kejawen Untuk Meraih “Kawruh dan Ngelmu”
            Para leluhur kita orang Jawa mewejang bagaimana agar kita mampu meraih kawruh dan Ngelmu guna mengarungi samudra kehidupan dan melanglang jagad gedhe maupun jagad cilik yang telah dibentangkan oleh Tuhan dihadapan kita.
            Salah satunya adalah kita harus menempuh jalan strategi   dengan apa yang disebut “11 T” yakni :

1.      Tekad yang bermakna punya niat untuk melakukan sesuatu yang baik
2.      Teguh adalah gigih dalam mewujudkan niat tersebut
3.      Taat disiplin terhadap apa yang telah kita niatkan
4.      Tabah berarti berani dan sabar
5.      Taberi yang bermakna rajin
6.      Tlaten atau tekun terhadap niat yang telah kita canangkan
7.      Teliti
8.      Tanggen, tahan dan tidak goyah terhadap halangan dan rintangan
9.      Tanggon, memiliki kepercayaan diri yang kuat
10.  Takonan, berani bertanya baik secara lisan maupun dengan banyak membaca
11.  Tirakat atau laku prihatin

Dalam Serat Wedhatama yang ditulis oleh Mangkunegara IV dinyatakan bahwa untuk memperoleh ngelmu manusia harus menempuh laku, “Ngelmu iku kalakone kanthi laku” laku disini adalah mesubudi dan mesuragaMesubudi berarti membersihkan pekerti atau kelakuan dengan mengekang hawa nafsu dan angkara murka, sedang mesuragaberarti membersihkan badan dari kekotoran dan segala unsur negatif.
Melaksanakan tirakat dengan mesubudi dan mesuraga dengan jalan mengurangi kesenangan lahiriah maupun batiniah seperti makan, minum, tidur, mengendalikan segala nafsu yang tidak baik, dan meningkatkan ketaqwaan kepada Allah semata. Semua itu harus ditempuh untuk hamemasah, hamemasuh tajeming kalbu (mengasah, mensucikan ketajaman kalbunya) guna mencapai kawaskithaning cipta (kewaskitaan cipta/ intelegensi hati).
Semoga dengan langkah-langkah tersebut diatas kita mampu menjadi manusia yang utama, berbudi luhur, selaras lahir dan batinnya. Jwt

Senin, 20 Januari 2014

CINTA SEJATI?

CINTA SEJATI?

Cinta sejati?
Hemmm, siapapun pasti selalu mendambakan cinta sejati dalam hidupnya. Cukup punya satu cinta, bersatu selamanya, sampai hayat lepas dari badan.
Apa sih ukuran cinta sejati itu?
Setidaknya ada tujuh pilar yang menopangnya, yaitu:

1). Menjadi sahabat terbaik,

2). Memiliki lembih banyak kesamaan/kecocokan antara keduanya,

3).Kepentingan suami/istri adalah diatas segalanya,

4).Cinta tumbuh tak bersyarat(menerima apa adanya),

5).Saling mau mendengar dan mengerti,

6).Selalu ada dalam suka dan duka

7). Kuatnya kontak batin yang mendalam

Sangat pasti, ini bukanlah pekerjaan yang mudah. Oleh karena itu, tidak semua pasangan bisa meraih kehidupan cinta sejati mereka. Tetapi , tidak berarti cinta sejati itu tidak bisa di perjuangkan, tentunya.
Iman , harapan , kasih yang diejawantahkan, diwujudnyatkan dalam kehidupan sehari-hari melalui hal-hal kecil sampai yang esensial, itu sangat pasti.





  3 EKONOM INDONESIA   DAN PEMIKIRANNYA   3 tokoh ekonom Indonesia pasca-reformasi, sekedar sampling acak,   berfokus pada pemulihan kri...