Senin, 01 April 2013

Dinamika Sastra Pop Pesantren


Dinamika Sastra Pop Pesantren
Oleh: Linda S Priyatna 

Sabtu, 30 Maret 2013
Secara kualitatif, dinamika sastra pesantren bisa kita analisis. Salah satunya adalah melalui pelbagai macam perubahan serta pergeseran corak orientasi paradigmatik yang menjadi substansi dalam karya sastra yang bersangkutan. Maka, bertambahlah 'spesies' baru, khazanah sastra pesantren mutakhir; sastra pop pesantren dan sastra pesantren yang subversif. Keberadaan dua spesies baru ini tidak hanya melengkapi dan menemani kanon sastra pesantren yang sudah ada, tetapi juga di banyak sisi menyimpan suatu potensi dialektis dan kritis baginya; intertextual clash (benturan intertekstual).
Sebagaimana kita kenal dari jejak historisnya, sastra pesantren kita dikenal sebagai genre sastra yang giat mengangkat tema-tema nilai esoterik keagamaan; Cinta Illahiyyah, pengalaman-pengalaman sufistik, cinta sosial (habluminannaas), atau ekspresi dan impresi transendental keindahan alam semesta (makrokosmos).
Mayoritas begitu kental dengan nuansa religius. Ini terlihat begitu jelas dalam karya-karya sastrawan pesantren tahun 90-an Acep Zamzam Noor, D Zawawi Imron, Zainal Arifin Toha, Jamal D Rahman, Abi-dah el-Khaeliqi, Kuswaidi Syafi'ie, Faizi L. Kaelan dan sastrawan-sastrawan lain yang ruang kreasi mereka bertempat di lingkungan geografis yang bernama pesantren.
Akibat kentalnya nuansa tasawwuf, sastra pesantren sering di-identikan dengan sastra sufistik atau sastra profetik (nubuwwah). Dengan kata lain, karakter sastra sufistik telah menjadi kanon sastra (mainstream literature) dalam tradisi kesusasteraan pesantren. Dengan Cinta Ilahiyyah dan spirit religius yang menjadi grand theme, paradigma estetika utama dalam etos berkreasi, sastra pesantren sebenarnya membawakan relevansi yang cukup signifikan terhadap vitalitas tradisi keilmuan di pesantren itu sendiri; sastra pesantren menjadi salah satu media alternatif bagi para apresian untuk mengenal dunia tasawwuf.
Dengan apresiasi yang kontinyu, paling tidak sedikit demi sedikit nilai estetika dan kearifan humanis-teologis yang inheren dalam karya sastra dapat membentuk suatu sikap yang eklektik dalam beragama bagi para apresian, salah satunya dicirikan dengan terbangunnya sinergitas pemahaman terhadap fiqih dan tasawwuf.
Dengan kentalnya nuansa Cinta Illahiyah ini pula, lengkaplah sudah sastra pe-santren sebagai subjek mayoritas dari keluarga besar sastra Indonesia yang mengusung dan meng-eksplorasi simbol-simbol serta nilai religiusitas (Islam). Sekalipun tentu saja, secara hakiki nilai-nilai sufistik dan profetik tidak bersifat ekslusif untuk golongan tertentu, melainkan juga terbuka luas untuk kalangan non-pesantren.
Dewasa ini ada perkembangan yang cukup menarik; bahwa kalangan sastrawan pesantren ternyata tidak hanya menjadikan ke-tasawwuf-an sebagai grand theme dalam etos kreativitasnya; satu persatu mulai terlihat adanya keliaran, muntahan-muntahan kegelisahan untuk merambah ke sisi-sisi lain. Sastra pesantren berada dalam kegelisahan yang panas. Di sinilah saya melihat munculnya genre sastra pesantren yang subversif.
Yang paling ekstrim barangkali adalah novel Mairil (Pilar Media, Yogyakarta; 2005) karangan Syarifuddin yang sedemikian berani mengangkat sisi gelap pesantren; yakni abnormalitas perilaku seksual yang terjadi di pesantren (mairil; homoseksual). Detail-detail ilustrasi peristiwa yang diangkat dari fakta itu dina-rasikan sedemikian vulgar.
Boleh dika-ta-kan novel ini subversif terhadap tradisi pesantren; bukankah seksualitas dan cinta lawan jenis menjadi suatu hal yang (di) tabu (kan) di pesantren? Faktanya; pembatasan pergaulan lawan jenis yang berlebihan merupakan faktor uta-ma dari disorientasi seksual yang terjadi di pesantren. Meskipun tidak bisa tidak, di sisi lain novel ini potensial menciptakan suatu bias eksternal; dimana ia mengundang stigma buruk kalangan masyarakat terhadap pesantren sebagai institusi pendidikan berbasis agama.
Sayangnya, kritisitas novel Mairil ini tidak diimbangi dengan kebaruan corak dan wawasan estetika. Prestasi dari novel Mairil adalah kualitas dokumenter (Faruk HT, 2000) dimana ia berhasil mendongkrak sisi tersembunyi pesantren sebagai suatu sistem yang dinamis, dan bukan kualitas literer; kualitas stilistika, capaian estetika sastrawinya masih cenderung nge-pop.
Namun, inilah satu bentuk muntahan otokritik baru. Revolusioner terhadap kultur pesantren yang mayoritas cenderung patriarkhal dan mono-referen (hanya terpaku pada sistem referensi pemahaman tunggal). Secara implisit, dapat kita interpretasikan bahwa kehadiran novel Mairil berusaha membuka cakrawala baru pemahaman tentang cinta; bahwa Cinta Illahiyah -yang sufistik- tidak begitu saja dengan gampang diraih secara instant.
Demi kesuksesan dalam perjalanan mendaki tangga-tangga cinta, seorang insan mesti sabar dalam melewati tahapan-tahapan dimensional dari Jalan Cinta. Bukankah Ibn 'Arabi, sang maestro sufi itu pernah memberikan formulasi tentang Jalan Cinta; Cinta alami (cinta lawan jenis dan unifikasi makrokosmis), Cinta Ruhani, dan Cinta Illahi. Dan Cinta Alami menempati posisi yang amat vital; bukankah Ibn Arabi juga mampu menelurkan banyak karya lantaran motivasi psikologis yang kuat dari Nidzam, seorang wanita Baghdad yang dicintainya?
Karenanya jatuh cinta terhadap lawan jenis adalah manusiawi dan tak bisa ditinggalkan. Di wilayah sosio-internal, novel Mairil kiranya layak untuk mendapat perhatian dari kalangan elite pesantren. Suatu tantangan untuk berintrospeksi; bagaimana merekontruksi dan merevisi kembali penataan lingkungan pergaulan (millieu) antar lawan jenis, atau mulai mempertimbangkan pendidikan seksual yang efektif dan proporsional bagi santri-santrinya. Secara kuantitatif, sastra pop pesantren semakin menyemarakkan industri perbukuan. ***

http://www.suarakarya-online.com/news.html?category_name=Budaya

Kamis, 21 Maret 2013

STEFANUS BENNYANTO

Ini salah satu contoh keluarga harmonis yang taat dalam beriman. Mesra kan???

Lihatlah foto-fotonya??? Asyik to???










STEFANUS BENNYANTO


Ini adalah salah satu kemesraan dalam keluarga  yang taat dalam beriman.

Silahkan simak foto-fotonya.


Sabtu, 16 Maret 2013

Tips Agar Tidak Khawatir di Hack di Kompasiana


Tips Agar Tidak Khawatir di Hack di Kompasiana

Baru-baru ini Kompasiana di hebohkan dengan adanya seorang hacker yang mencoba menghack blog keroyokan ini. Syukurnya sang hacker konon katanya tidak merusak dan hanya menitipkan tulisannya untuk dikoleksi para kompasianer yang katanya telah di “hack.”
Sebenarnya ini peringatan untuk kita para kompasianer harus waspada jika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan di Kompasiana. Sebagai penumpang gratis kita juga harus berjaga-jaga dan waspada jika ada orang yang ingin berbuat jahat terhadap akun kita atau ada orang yang mau merusak kendaraan yang kita tumpangi ini.
Berikut saya akan membagikan tips agar kita tidak terlalu khawatir jika terjadi sesuatu di Kompasiana yang kita cintai ini.
  • Usahakan mengetik artikel di MS Word atau program pengolah kata kesayangan teman-teman dan simpan di harddisk laptop atau gatget kita masing-masing sebelum di publish di kompasiana.
  • Bagi yang memakai hp simpan tulisan dalam bentuk draft pesan atau draft SMS.
  • Jangan menyimpan inbox yang bersifat rahasia di Kompasiana, jika ada segera backup atau simpan ke hardisk laptop anda, dan segera hapus inbox yang bersifat rahasia itu dari dasboard Kompasiana.
  • Lakukan penggantian password secara berkala, agar kita lebih yakin bahwa password kita aman dan hanya kita sendiri yang tahu.
  • Jika memungkinkan buatlah blog pribadi di wordpress atau blogspot untuk mempublish tulisan-tulisan kita sendiri sebelum di posting di kompasiana. Sehingga jika kompasiana terjadi hal-hal yang buruk, misalnya tutup atau down maka kita masih memiliki media blog pribadi kita.
Semoga admin dan tim web developer Kompasiana segera menutup lubang-lubang keamanannya agar tidak disusupi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Kita hanya bisa mendoakan agar Kompasiana menjadi media yang langgeng dan bisa berjaya selama-lamanya.
Demikian tips-tips sederhana ini semoga bermanfaat.
Salam-Kompasiana



Sakramen Ekaristi: Sumber dan Puncak Hidup Katolik (sharing pemahaman pribadi seorang awam Katolik)

  Sakramen Ekaristi: Sumber dan Puncak Hidup Katolik (sharing pemahaman pribadi seorang awam Katolik)   Sakramen Ekaristi adalah salah...