Senin, 06 Mei 2013

Hilangnya Rasa Malu


Hilangnya Rasa Malu
Kodirun

Rasulullah Muhammad saw pernah bersabda, “
Iman memiliki enem puluh lebih cabang. Malu adalah satu cabang dari Iman.” (HR. Bukhari, Muslim, dan abu Dawud). 

Malu atau rasa malu dapat diartikan dengan kusut atau ciutnya jiwa seseorang sehingga tidak mampu dan tidak kuat untuk melakukan hal-hal yang bersifat buruk atau tercela.
 

Orang yang malu tidak kuasa melihat dirinya hina di hadapan Allah, atau orang lain, bahkan di hadapan dirinya sendiri.




Orang yang memiliki rasa malu sesungguhnya sangat mulia di hadapan Allah, orang lain, dan dirinya sendiri. Karena kedudukannya yang sangat mulia tersebut sebaiknya setiap orang mukmin tetap memelihara rasa malu yang dimiliknya.
Karena jika rasa malu hilang dari seseorang maka akan mengakibatkan seseorang binasa atau mengalami malapetaka yang sangat besar.

Rasulullah SAW berabda, “
Sesungguhnya Allah tatkala hendak membinasakan seorang hamba, Allah mencabut rasa malu darinya. Ketika Allah telah mencabut rasa malu darinya, orang itu tidak akan mendapati dirinya kecuali dia dibenci dan membenci orang lain. Ketika tidak mendapati dirinya kecuali dibenci dan membenci orang lain akan dicabut amanah (kepercayaan) darinya. Ketika amanah telah dicabut darinya dia tidak mendapati dirinya kecuali dia berkhianat dan dikhianati oleh orang lain. Ketika tidak mendapati dirinya kecuali dia berkhianat dan dikhianati, akan dicabut darinya rahmat. Ketika telah dicabut rahmat darinya,  tidak mendapati dirinya kecuali dia dikutuk dan dilaknat. Ketika tidak mendapati dirinya kecuali dia dikutuk dan dilaknat, maka akan dicabut darinya tali agama Islam.” (HR. Ibnu Majah)

Dari hadis tersebut dapat diketahui, sumber malapetaka yang menimpa setiap orang adalah hilangnya rasa malu. Orang yang tidak punya rasa malu biasanya akan mudah sekali melakukan hal-hal yang bersifat negatif menurut kacamata agama.
 

Munculnya korupsi, perselingkuhan, perzinahan, pencurian, pelecehan seksual, dan perbuatan jahat lainnya yang banyak terjadi di republik kita tercinta ini semuanya diakibatkan hilangnya rasa malu pada setiap pelakunya.

Perlu kita ketahui, derajat malu yang paling tinggi adalah malu kepada Allah SWT. Orang yang beriman kepada Allah dapat dipastikan dalam dirinya masih memilki rasa malu, terutama kepada Allah SWT.
 

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “
Malu dan iman adalah satu pasang, jika salah satunya hilang maka yang lain juga hilang.” (HR. Al-Hakim). Nah, sekarang bagaimana dengan kita masing-masing, masihkah ada rasa malu dalam diri kita? Wallahu a’lam.

Jumat, 19 April 2013

AKU CANTIK SIAPA PEDULI


Aku Cantik Siapa Peduli



sumber (http://site.secretsolution.my)

Aku cantik, tapi siapa peduli?
Kecantikan hanya sebuah hegemoni
Lambat laun kan memudar pasti
Apalah arti cantik
Tapi hatinya berduri
Jiwanya tak bernurani
Hanya kan jadi berhala
Dalam lautan puja dan puji
Terlena kenistaan rayuan basi
Merelakan kehormatan harga diri
Melupakan semua hakikat suci

Cantik dalam biasan cermin
Bukanlah cantik yang kuingini
Ia hidup dalam kebohongan duniawi
Menjadikannya ratu dari segala dengki
Membuat persepsi berharga mati
Aku cantik, tapi siapa peduli?
Kau puji wajahku halus bak kain sutera
Kau bilang mataku bulat, sebulat rembulan senja
Lalu, apa hatiku meninggi?
Kucakar wajah yang katamu kain sutera
Kucongkel mata yang kau bilang rembulan senja

Aku benar-benar benci rayuan kata
Aku benci pujian mata
Tak ayal semua kan sirna
Cantik yang kau kira
Bukanlah kecantikan sebenarnya
Wanita cantik itu sengsara
Hidupnya dipenuhi jebakan dosa
Jadi jangan kau kira
Aku suka kau bilang cantik
TA, 18 April 2013

Jumat, 12 April 2013

Wanita (harus) Materialistik !


Wanita (harus) Materialistik !

Oleh : Restu Putri Astuti

Materialistik adalah sifat kebendaan atau keduniawian yang dimiliki oleh manusia.Sifat materialistik timbul karena desakan kebutuhan. Wanita (harus) materialistik, bukanlah sekedar ungkapan. Mungkin selama ini di masyarakat materialistik identik dengan sifat menghambur-hamburkan uang untuk kesenangan. Kaum wanita memang dianugerahi sifat yang cenderung menilai segala sesuatu dengan panca indra. Hal ini terlihat dari pusat-pusat perbelanjaan yang selalu dipadati oleh kaum hawa. Lihat saja dari segi penampilan yang modis. Walaupun hanya sekedar jalan atau memang bertujuan untuk belanja. Uang memang bukan prioritas utama tetapi uang kebutuhan yang tidak dapat dihindari.





Wanita (harus) materialistik, bukan untuk dirinya sendiri tetapi untuk masa depan keluarganya. Karena bukan untuk dia (wanita), terutama anak-anak. Seperti yang kita pahami, kebutuhan seperti sandang, pangan dan sekolah semakin meningkat tiap tahunnya. Jika tidak diimbangi dengan sumber pendapatan yang cukup maka tidak mungkin didapatkan semua kebutuhan dasar berkualitas. Padahal anak-anak itu menjadi masa depan bangsa kita. Sebenarnya sifat materialistik tidak bisa diukur melalui materi saja (kekayaan) tetapi bagaimana kita menyadari hati kita pun harus kaya. Kaya pemikiran dan kaya tindakan yang positif.



Kaum wanita harus menyadari perannya yang berat dalam memikul tanggung jawab sebagai seorang istri dan ibu. Menyeimbangkan pekerjaan domestik rumah tangga, mendidik anak, bahkan bekerja menjadi hal yang sulit tanpa mengorbankan sesuatu. Untuk itu, wanita harus menyadari zaman sekarang bukanlah sebelum era Kartini yang masih rendah emansipasi wanitanya. Wanita dituntut meningkatkan kompetensi dirinya sendiri. Jangan sampai menjadi wanita yang tak produktif. Wanita harus cerdas dan berjiwa sosial tinggi, agar mampu berinteraksi dengan masyarakat. Percuma berwajah cantik rupawan, tetapi tidak pernah nyambung jika diajak bicara. Wanita (harus) sebagai tiang negara, karena dari wanita lah, generasi penerus dilahirkan.



Tentunya kaum lelaki yang memandang sinis wanita materialistik diindikasikan tidak mampu berusaha kerja keras untuk memenuhi kebutuhan. Padahal jelas-jelas, wanita menuntut kaum lelaki untuk bekerja keras, bekerja cerdas, dan bekerja ikhlas untuk kebaikan keluarganya. Dalam berkeluarga, keinginan setiap orangtua adalah mengetahui putra-putrinya bisa lebih baik dalam segala hal. Wanita juga jangan menjadi wanita yang bergantung pada kaum lelaki. Harus bisa mandiri, terutama mandiri dalam hal pendapatan. Sungguh indah, jika kita kaum wanita bisa mendidik anak dengan baik tanpa mengorbankan kebahagiaan keluarga tetapi juga mampu berdaya secara ekonomi. Wanita memang materialistik!



Wanita (harus) Materialistik !
Oleh : Restu Putri Astuti
Materialistik adalah sifat kebendaan atau keduniawian yang dimiliki oleh manusia.Sifat materialistik timbul karena desakan kebutuhan. Wanita (harus) materialistik, bukanlah sekedar ungkapan. Mungkin selama ini di masyarakat materialistik identik dengan sifat menghambur-hamburkan uang untuk kesenangan. Kaum wanita memang dianugerahi sifat yang cenderung menilai segala sesuatu dengan panca indra. Hal ini terlihat dari pusat-pusat perbelanjaan yang selalu dipadati oleh kaum hawa. Lihat saja dari segi penampilan yang modis. Walaupun hanya sekedar jalan atau memang bertujuan untuk belanja. Uang memang bukan prioritas utama tetapi uang kebutuhan yang tidak dapat dihindari.

Wanita (harus) materialistik, bukan untuk dirinya sendiri tetapi untuk masa depan keluarganya. Karena bukan untuk dia (wanita), terutama anak-anak. Seperti yang kita pahami, kebutuhan seperti sandang, pangan dan sekolah semakin meningkat tiap tahunnya. Jika tidak diimbangi dengan sumber pendapatan yang cukup maka tidak mungkin didapatkan semua kebutuhan dasar berkualitas. Padahal anak-anak itu menjadi masa depan bangsa kita. Sebenarnya sifat materialistik tidak bisa diukur melalui materi saja (kekayaan) tetapi bagaimana kita menyadari hati kita pun harus kaya. Kaya pemikiran dan kaya tindakan yang positif.

Kaum wanita harus menyadari perannya yang berat dalam memikul tanggung jawab sebagai seorang istri dan ibu. Menyeimbangkan pekerjaan domestik rumah tangga, mendidik anak, bahkan bekerja menjadi hal yang sulit tanpa mengorbankan sesuatu. Untuk itu, wanita harus menyadari zaman sekarang bukanlah sebelum era Kartini yang masih rendah emansipasi wanitanya. Wanita dituntut meningkatkan kompetensi dirinya sendiri. Jangan sampai menjadi wanita yang tak produktif. Wanita harus cerdas dan berjiwa sosial tinggi, agar mampu berinteraksi dengan masyarakat. Percuma berwajah cantik rupawan, tetapi tidak pernah nyambung jika diajak bicara. Wanita (harus) sebagai tiang negara, karena dari wanita lah, generasi penerus dilahirkan.
Tentunya kaum lelaki yang memandang sinis wanita materialistik diindikasikan tidak mampu berusaha kerja keras untuk memenuhi kebutuhan. Padahal jelas-jelas, wanita menuntut kaum lelaki untuk bekerja keras, bekerja cerdas, dan bekerja ikhlas untuk kebaikan keluarganya. Dalam berkeluarga, keinginan setiap orangtua adalah mengetahui putra-putrinya bisa lebih baik dalam segala hal. Wanita juga jangan menjadi wanita yang bergantung pada kaum lelaki. Harus bisa mandiri, terutama mandiri dalam hal pendapatan. Sungguh indah, jika kita kaum wanita bisa mendidik anak dengan baik tanpa mengorbankan kebahagiaan keluarga tetapi juga mampu berdaya secara ekonomi. Wanita memang materialistik!


Wanita (harus) Materialistik !
Oleh : Restu Putri Astuti
Materialistik adalah sifat kebendaan atau keduniawian yang dimiliki oleh manusia.Sifat materialistik timbul karena desakan kebutuhan. Wanita (harus) materialistik, bukanlah sekedar ungkapan. Mungkin selama ini di masyarakat materialistik identik dengan sifat menghambur-hamburkan uang untuk kesenangan. Kaum wanita memang dianugerahi sifat yang cenderung menilai segala sesuatu dengan panca indra. Hal ini terlihat dari pusat-pusat perbelanjaan yang selalu dipadati oleh kaum hawa. Lihat saja dari segi penampilan yang modis. Walaupun hanya sekedar jalan atau memang bertujuan untuk belanja. Uang memang bukan prioritas utama tetapi uang kebutuhan yang tidak dapat dihindari.
Wanita (harus) materialistik, bukan untuk dirinya sendiri tetapi untuk masa depan keluarganya. Karena bukan untuk dia (wanita), terutama anak-anak. Seperti yang kita pahami, kebutuhan seperti sandang, pangan dan sekolah semakin meningkat tiap tahunnya. Jika tidak diimbangi dengan sumber pendapatan yang cukup maka tidak mungkin didapatkan semua kebutuhan dasar berkualitas. Padahal anak-anak itu menjadi masa depan bangsa kita. Sebenarnya sifat materialistik tidak bisa diukur melalui materi saja (kekayaan) tetapi bagaimana kita menyadari hati kita pun harus kaya. Kaya pemikiran dan kaya tindakan yang positif.
Kaum wanita harus menyadari perannya yang berat dalam memikul tanggung jawab sebagai seorang istri dan ibu. Menyeimbangkan pekerjaan domestik rumah tangga, mendidik anak, bahkan bekerja menjadi hal yang sulit tanpa mengorbankan sesuatu. Untuk itu, wanita harus menyadari zaman sekarang bukanlah sebelum era Kartini yang masih rendah emansipasi wanitanya. Wanita dituntut meningkatkan kompetensi dirinya sendiri. Jangan sampai menjadi wanita yang tak produktif. Wanita harus cerdas dan berjiwa sosial tinggi, agar mampu berinteraksi dengan masyarakat. Percuma berwajah cantik rupawan, tetapi tidak pernah nyambung jika diajak bicara. Wanita (harus) sebagai tiang negara, karena dari wanita lah, generasi penerus dilahirkan.
Tentunya kaum lelaki yang memandang sinis wanita materialistik diindikasikan tidak mampu berusaha kerja keras untuk memenuhi kebutuhan. Padahal jelas-jelas, wanita menuntut kaum lelaki untuk bekerja keras, bekerja cerdas, dan bekerja ikhlas untuk kebaikan keluarganya. Dalam berkeluarga, keinginan setiap orangtua adalah mengetahui putra-putrinya bisa lebih baik dalam segala hal. Wanita juga jangan menjadi wanita yang bergantung pada kaum lelaki. Harus bisa mandiri, terutama mandiri dalam hal pendapatan. Sungguh indah, jika kita kaum wanita bisa mendidik anak dengan baik tanpa mengorbankan kebahagiaan keluarga tetapi juga mampu berdaya secara ekonomi. Wanita memang materialistik!

Senin, 01 April 2013

Dinamika Sastra Pop Pesantren


Dinamika Sastra Pop Pesantren
Oleh: Linda S Priyatna 

Sabtu, 30 Maret 2013
Secara kualitatif, dinamika sastra pesantren bisa kita analisis. Salah satunya adalah melalui pelbagai macam perubahan serta pergeseran corak orientasi paradigmatik yang menjadi substansi dalam karya sastra yang bersangkutan. Maka, bertambahlah 'spesies' baru, khazanah sastra pesantren mutakhir; sastra pop pesantren dan sastra pesantren yang subversif. Keberadaan dua spesies baru ini tidak hanya melengkapi dan menemani kanon sastra pesantren yang sudah ada, tetapi juga di banyak sisi menyimpan suatu potensi dialektis dan kritis baginya; intertextual clash (benturan intertekstual).
Sebagaimana kita kenal dari jejak historisnya, sastra pesantren kita dikenal sebagai genre sastra yang giat mengangkat tema-tema nilai esoterik keagamaan; Cinta Illahiyyah, pengalaman-pengalaman sufistik, cinta sosial (habluminannaas), atau ekspresi dan impresi transendental keindahan alam semesta (makrokosmos).
Mayoritas begitu kental dengan nuansa religius. Ini terlihat begitu jelas dalam karya-karya sastrawan pesantren tahun 90-an Acep Zamzam Noor, D Zawawi Imron, Zainal Arifin Toha, Jamal D Rahman, Abi-dah el-Khaeliqi, Kuswaidi Syafi'ie, Faizi L. Kaelan dan sastrawan-sastrawan lain yang ruang kreasi mereka bertempat di lingkungan geografis yang bernama pesantren.
Akibat kentalnya nuansa tasawwuf, sastra pesantren sering di-identikan dengan sastra sufistik atau sastra profetik (nubuwwah). Dengan kata lain, karakter sastra sufistik telah menjadi kanon sastra (mainstream literature) dalam tradisi kesusasteraan pesantren. Dengan Cinta Ilahiyyah dan spirit religius yang menjadi grand theme, paradigma estetika utama dalam etos berkreasi, sastra pesantren sebenarnya membawakan relevansi yang cukup signifikan terhadap vitalitas tradisi keilmuan di pesantren itu sendiri; sastra pesantren menjadi salah satu media alternatif bagi para apresian untuk mengenal dunia tasawwuf.
Dengan apresiasi yang kontinyu, paling tidak sedikit demi sedikit nilai estetika dan kearifan humanis-teologis yang inheren dalam karya sastra dapat membentuk suatu sikap yang eklektik dalam beragama bagi para apresian, salah satunya dicirikan dengan terbangunnya sinergitas pemahaman terhadap fiqih dan tasawwuf.
Dengan kentalnya nuansa Cinta Illahiyah ini pula, lengkaplah sudah sastra pe-santren sebagai subjek mayoritas dari keluarga besar sastra Indonesia yang mengusung dan meng-eksplorasi simbol-simbol serta nilai religiusitas (Islam). Sekalipun tentu saja, secara hakiki nilai-nilai sufistik dan profetik tidak bersifat ekslusif untuk golongan tertentu, melainkan juga terbuka luas untuk kalangan non-pesantren.
Dewasa ini ada perkembangan yang cukup menarik; bahwa kalangan sastrawan pesantren ternyata tidak hanya menjadikan ke-tasawwuf-an sebagai grand theme dalam etos kreativitasnya; satu persatu mulai terlihat adanya keliaran, muntahan-muntahan kegelisahan untuk merambah ke sisi-sisi lain. Sastra pesantren berada dalam kegelisahan yang panas. Di sinilah saya melihat munculnya genre sastra pesantren yang subversif.
Yang paling ekstrim barangkali adalah novel Mairil (Pilar Media, Yogyakarta; 2005) karangan Syarifuddin yang sedemikian berani mengangkat sisi gelap pesantren; yakni abnormalitas perilaku seksual yang terjadi di pesantren (mairil; homoseksual). Detail-detail ilustrasi peristiwa yang diangkat dari fakta itu dina-rasikan sedemikian vulgar.
Boleh dika-ta-kan novel ini subversif terhadap tradisi pesantren; bukankah seksualitas dan cinta lawan jenis menjadi suatu hal yang (di) tabu (kan) di pesantren? Faktanya; pembatasan pergaulan lawan jenis yang berlebihan merupakan faktor uta-ma dari disorientasi seksual yang terjadi di pesantren. Meskipun tidak bisa tidak, di sisi lain novel ini potensial menciptakan suatu bias eksternal; dimana ia mengundang stigma buruk kalangan masyarakat terhadap pesantren sebagai institusi pendidikan berbasis agama.
Sayangnya, kritisitas novel Mairil ini tidak diimbangi dengan kebaruan corak dan wawasan estetika. Prestasi dari novel Mairil adalah kualitas dokumenter (Faruk HT, 2000) dimana ia berhasil mendongkrak sisi tersembunyi pesantren sebagai suatu sistem yang dinamis, dan bukan kualitas literer; kualitas stilistika, capaian estetika sastrawinya masih cenderung nge-pop.
Namun, inilah satu bentuk muntahan otokritik baru. Revolusioner terhadap kultur pesantren yang mayoritas cenderung patriarkhal dan mono-referen (hanya terpaku pada sistem referensi pemahaman tunggal). Secara implisit, dapat kita interpretasikan bahwa kehadiran novel Mairil berusaha membuka cakrawala baru pemahaman tentang cinta; bahwa Cinta Illahiyah -yang sufistik- tidak begitu saja dengan gampang diraih secara instant.
Demi kesuksesan dalam perjalanan mendaki tangga-tangga cinta, seorang insan mesti sabar dalam melewati tahapan-tahapan dimensional dari Jalan Cinta. Bukankah Ibn 'Arabi, sang maestro sufi itu pernah memberikan formulasi tentang Jalan Cinta; Cinta alami (cinta lawan jenis dan unifikasi makrokosmis), Cinta Ruhani, dan Cinta Illahi. Dan Cinta Alami menempati posisi yang amat vital; bukankah Ibn Arabi juga mampu menelurkan banyak karya lantaran motivasi psikologis yang kuat dari Nidzam, seorang wanita Baghdad yang dicintainya?
Karenanya jatuh cinta terhadap lawan jenis adalah manusiawi dan tak bisa ditinggalkan. Di wilayah sosio-internal, novel Mairil kiranya layak untuk mendapat perhatian dari kalangan elite pesantren. Suatu tantangan untuk berintrospeksi; bagaimana merekontruksi dan merevisi kembali penataan lingkungan pergaulan (millieu) antar lawan jenis, atau mulai mempertimbangkan pendidikan seksual yang efektif dan proporsional bagi santri-santrinya. Secara kuantitatif, sastra pop pesantren semakin menyemarakkan industri perbukuan. ***

http://www.suarakarya-online.com/news.html?category_name=Budaya

  3 EKONOM INDONESIA   DAN PEMIKIRANNYA   3 tokoh ekonom Indonesia pasca-reformasi, sekedar sampling acak,   berfokus pada pemulihan kri...