PUTRA KARANGANYAR: MENCARI KEBAIKAN MENUJU KESEMPURNAAN HIDUP (mersudi becik,nggayuh sampurnaning urip). "dengan ilmu hidup menjadi mudah,dengan iman hidup makin terarah, dengan seni dan senyum hidup makin indah,dengan olahraga hidup makin terjaga"
Minggu, 12 Mei 2013
Senin, 06 Mei 2013
Hilangnya Rasa Malu
Hilangnya Rasa Malu
Kodirun
Rasulullah Muhammad saw pernah bersabda, “Iman memiliki enem puluh lebih cabang. Malu adalah satu cabang dari Iman.” (HR. Bukhari, Muslim, dan abu Dawud).
Malu atau rasa malu dapat diartikan dengan kusut atau ciutnya jiwa seseorang sehingga tidak mampu dan tidak kuat untuk melakukan hal-hal yang bersifat buruk atau tercela.
Orang yang malu tidak kuasa melihat dirinya hina di hadapan Allah, atau orang lain, bahkan di hadapan dirinya sendiri.
Orang yang memiliki rasa malu sesungguhnya sangat mulia di hadapan Allah, orang lain, dan dirinya sendiri. Karena kedudukannya yang sangat mulia tersebut sebaiknya setiap orang mukmin tetap memelihara rasa malu yang dimiliknya.
Karena jika rasa malu
hilang dari seseorang maka akan mengakibatkan seseorang binasa atau mengalami
malapetaka yang sangat besar.Rasulullah Muhammad saw pernah bersabda, “Iman memiliki enem puluh lebih cabang. Malu adalah satu cabang dari Iman.” (HR. Bukhari, Muslim, dan abu Dawud).
Malu atau rasa malu dapat diartikan dengan kusut atau ciutnya jiwa seseorang sehingga tidak mampu dan tidak kuat untuk melakukan hal-hal yang bersifat buruk atau tercela.
Orang yang malu tidak kuasa melihat dirinya hina di hadapan Allah, atau orang lain, bahkan di hadapan dirinya sendiri.
Orang yang memiliki rasa malu sesungguhnya sangat mulia di hadapan Allah, orang lain, dan dirinya sendiri. Karena kedudukannya yang sangat mulia tersebut sebaiknya setiap orang mukmin tetap memelihara rasa malu yang dimiliknya.
Rasulullah SAW berabda, “Sesungguhnya Allah tatkala hendak membinasakan seorang hamba, Allah mencabut rasa malu darinya. Ketika Allah telah mencabut rasa malu darinya, orang itu tidak akan mendapati dirinya kecuali dia dibenci dan membenci orang lain. Ketika tidak mendapati dirinya kecuali dibenci dan membenci orang lain akan dicabut amanah (kepercayaan) darinya. Ketika amanah telah dicabut darinya dia tidak mendapati dirinya kecuali dia berkhianat dan dikhianati oleh orang lain. Ketika tidak mendapati dirinya kecuali dia berkhianat dan dikhianati, akan dicabut darinya rahmat. Ketika telah dicabut rahmat darinya, tidak mendapati dirinya kecuali dia dikutuk dan dilaknat. Ketika tidak mendapati dirinya kecuali dia dikutuk dan dilaknat, maka akan dicabut darinya tali agama Islam.” (HR. Ibnu Majah)
Dari hadis tersebut dapat diketahui, sumber malapetaka yang menimpa setiap orang adalah hilangnya rasa malu. Orang yang tidak punya rasa malu biasanya akan mudah sekali melakukan hal-hal yang bersifat negatif menurut kacamata agama.
Munculnya korupsi, perselingkuhan, perzinahan, pencurian, pelecehan seksual, dan perbuatan jahat lainnya yang banyak terjadi di republik kita tercinta ini semuanya diakibatkan hilangnya rasa malu pada setiap pelakunya.
Perlu kita ketahui, derajat malu yang paling tinggi adalah malu kepada Allah SWT. Orang yang beriman kepada Allah dapat dipastikan dalam dirinya masih memilki rasa malu, terutama kepada Allah SWT.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Malu dan iman adalah satu pasang, jika salah satunya hilang maka yang lain juga hilang.” (HR. Al-Hakim). Nah, sekarang bagaimana dengan kita masing-masing, masihkah ada rasa malu dalam diri kita? Wallahu a’lam.
Jumat, 19 April 2013
AKU CANTIK SIAPA PEDULI
Aku cantik, tapi siapa peduli?
Kecantikan hanya sebuah hegemoni
Lambat laun kan memudar pasti
Apalah arti cantik
Tapi hatinya berduri
Jiwanya tak bernurani
Hanya kan jadi berhala
Dalam lautan puja dan puji
Terlena kenistaan rayuan basi
Merelakan kehormatan harga diri
Melupakan semua hakikat suci
Cantik dalam biasan cermin
Bukanlah cantik yang kuingini
Ia hidup dalam kebohongan duniawi
Menjadikannya ratu dari segala dengki
Membuat persepsi berharga mati
Aku cantik, tapi siapa peduli?
Kau puji wajahku halus bak kain sutera
Kau bilang mataku bulat, sebulat rembulan senja
Lalu, apa hatiku meninggi?
Kucakar wajah yang katamu kain sutera
Kucongkel mata yang kau bilang rembulan senja
Aku benar-benar benci rayuan kata
Aku benci pujian mata
Tak ayal semua kan sirna
Cantik yang kau kira
Bukanlah kecantikan sebenarnya
Wanita cantik itu sengsara
Hidupnya dipenuhi jebakan dosa
Jadi jangan kau kira
Aku suka kau bilang cantik
…
TA, 18 April 2013
Selasa, 16 April 2013
Jumat, 12 April 2013
Wanita (harus) Materialistik !
Wanita
(harus) Materialistik !
Oleh : Restu Putri Astuti
Materialistik adalah sifat kebendaan atau
keduniawian yang dimiliki oleh manusia.Sifat materialistik timbul karena
desakan kebutuhan. Wanita (harus) materialistik, bukanlah sekedar ungkapan.
Mungkin selama ini di masyarakat materialistik identik dengan sifat
menghambur-hamburkan uang untuk kesenangan. Kaum wanita memang dianugerahi
sifat yang cenderung menilai segala sesuatu dengan panca indra. Hal ini
terlihat dari pusat-pusat perbelanjaan yang selalu dipadati oleh kaum hawa.
Lihat saja dari segi penampilan yang modis. Walaupun hanya sekedar jalan atau
memang bertujuan untuk belanja. Uang memang bukan prioritas utama tetapi uang
kebutuhan yang tidak dapat dihindari.
Wanita (harus) materialistik, bukan untuk
dirinya sendiri tetapi untuk masa depan keluarganya. Karena bukan untuk dia
(wanita), terutama anak-anak. Seperti yang kita pahami, kebutuhan seperti
sandang, pangan dan sekolah semakin meningkat tiap tahunnya. Jika tidak
diimbangi dengan sumber pendapatan yang cukup maka tidak mungkin didapatkan
semua kebutuhan dasar berkualitas. Padahal anak-anak itu menjadi masa depan
bangsa kita. Sebenarnya sifat materialistik tidak bisa diukur melalui materi
saja (kekayaan) tetapi bagaimana kita menyadari hati kita pun harus kaya. Kaya
pemikiran dan kaya tindakan yang positif.
Kaum wanita harus menyadari perannya yang berat
dalam memikul tanggung jawab sebagai seorang istri dan ibu. Menyeimbangkan
pekerjaan domestik rumah tangga, mendidik anak, bahkan bekerja menjadi hal yang
sulit tanpa mengorbankan sesuatu. Untuk itu, wanita harus menyadari zaman
sekarang bukanlah sebelum era Kartini yang masih rendah emansipasi wanitanya.
Wanita dituntut meningkatkan kompetensi dirinya sendiri. Jangan sampai menjadi
wanita yang tak produktif. Wanita harus cerdas dan berjiwa sosial tinggi, agar
mampu berinteraksi dengan masyarakat. Percuma berwajah cantik rupawan, tetapi
tidak pernah nyambung jika diajak bicara. Wanita (harus) sebagai tiang negara,
karena dari wanita lah, generasi penerus dilahirkan.
Tentunya kaum lelaki yang memandang sinis wanita
materialistik diindikasikan tidak mampu berusaha kerja keras untuk memenuhi
kebutuhan. Padahal jelas-jelas, wanita menuntut kaum lelaki untuk bekerja
keras, bekerja cerdas, dan bekerja ikhlas untuk kebaikan keluarganya. Dalam
berkeluarga, keinginan setiap orangtua adalah mengetahui putra-putrinya bisa
lebih baik dalam segala hal. Wanita juga jangan menjadi wanita yang bergantung
pada kaum lelaki. Harus bisa mandiri, terutama mandiri dalam hal pendapatan.
Sungguh indah, jika kita kaum wanita bisa mendidik anak dengan baik tanpa
mengorbankan kebahagiaan keluarga tetapi juga mampu berdaya secara ekonomi.
Wanita memang materialistik!
Wanita
(harus) Materialistik !
Oleh : Restu Putri Astuti
Materialistik adalah sifat kebendaan atau
keduniawian yang dimiliki oleh manusia.Sifat materialistik timbul karena
desakan kebutuhan. Wanita (harus) materialistik, bukanlah sekedar ungkapan.
Mungkin selama ini di masyarakat materialistik identik dengan sifat
menghambur-hamburkan uang untuk kesenangan. Kaum wanita memang dianugerahi
sifat yang cenderung menilai segala sesuatu dengan panca indra. Hal ini
terlihat dari pusat-pusat perbelanjaan yang selalu dipadati oleh kaum hawa.
Lihat saja dari segi penampilan yang modis. Walaupun hanya sekedar jalan atau
memang bertujuan untuk belanja. Uang memang bukan prioritas utama tetapi uang
kebutuhan yang tidak dapat dihindari.
Wanita (harus) materialistik, bukan untuk
dirinya sendiri tetapi untuk masa depan keluarganya. Karena bukan untuk dia
(wanita), terutama anak-anak. Seperti yang kita pahami, kebutuhan seperti
sandang, pangan dan sekolah semakin meningkat tiap tahunnya. Jika tidak
diimbangi dengan sumber pendapatan yang cukup maka tidak mungkin didapatkan
semua kebutuhan dasar berkualitas. Padahal anak-anak itu menjadi masa depan
bangsa kita. Sebenarnya sifat materialistik tidak bisa diukur melalui materi
saja (kekayaan) tetapi bagaimana kita menyadari hati kita pun harus kaya. Kaya
pemikiran dan kaya tindakan yang positif.
Kaum wanita harus menyadari perannya yang berat
dalam memikul tanggung jawab sebagai seorang istri dan ibu. Menyeimbangkan
pekerjaan domestik rumah tangga, mendidik anak, bahkan bekerja menjadi hal yang
sulit tanpa mengorbankan sesuatu. Untuk itu, wanita harus menyadari zaman
sekarang bukanlah sebelum era Kartini yang masih rendah emansipasi wanitanya.
Wanita dituntut meningkatkan kompetensi dirinya sendiri. Jangan sampai menjadi
wanita yang tak produktif. Wanita harus cerdas dan berjiwa sosial tinggi, agar
mampu berinteraksi dengan masyarakat. Percuma berwajah cantik rupawan, tetapi
tidak pernah nyambung jika diajak bicara. Wanita (harus) sebagai tiang negara,
karena dari wanita lah, generasi penerus dilahirkan.
Tentunya kaum lelaki yang memandang sinis wanita
materialistik diindikasikan tidak mampu berusaha kerja keras untuk memenuhi
kebutuhan. Padahal jelas-jelas, wanita menuntut kaum lelaki untuk bekerja
keras, bekerja cerdas, dan bekerja ikhlas untuk kebaikan keluarganya. Dalam
berkeluarga, keinginan setiap orangtua adalah mengetahui putra-putrinya bisa
lebih baik dalam segala hal. Wanita juga jangan menjadi wanita yang bergantung
pada kaum lelaki. Harus bisa mandiri, terutama mandiri dalam hal pendapatan.
Sungguh indah, jika kita kaum wanita bisa mendidik anak dengan baik tanpa
mengorbankan kebahagiaan keluarga tetapi juga mampu berdaya secara ekonomi.
Wanita memang materialistik!
Wanita
(harus) Materialistik !
Oleh : Restu Putri Astuti
Materialistik adalah sifat kebendaan atau
keduniawian yang dimiliki oleh manusia.Sifat materialistik timbul karena
desakan kebutuhan. Wanita (harus) materialistik, bukanlah sekedar ungkapan.
Mungkin selama ini di masyarakat materialistik identik dengan sifat
menghambur-hamburkan uang untuk kesenangan. Kaum wanita memang dianugerahi
sifat yang cenderung menilai segala sesuatu dengan panca indra. Hal ini
terlihat dari pusat-pusat perbelanjaan yang selalu dipadati oleh kaum hawa.
Lihat saja dari segi penampilan yang modis. Walaupun hanya sekedar jalan atau
memang bertujuan untuk belanja. Uang memang bukan prioritas utama tetapi uang
kebutuhan yang tidak dapat dihindari.
Wanita (harus) materialistik, bukan untuk
dirinya sendiri tetapi untuk masa depan keluarganya. Karena bukan untuk dia
(wanita), terutama anak-anak. Seperti yang kita pahami, kebutuhan seperti
sandang, pangan dan sekolah semakin meningkat tiap tahunnya. Jika tidak
diimbangi dengan sumber pendapatan yang cukup maka tidak mungkin didapatkan
semua kebutuhan dasar berkualitas. Padahal anak-anak itu menjadi masa depan
bangsa kita. Sebenarnya sifat materialistik tidak bisa diukur melalui materi
saja (kekayaan) tetapi bagaimana kita menyadari hati kita pun harus kaya. Kaya
pemikiran dan kaya tindakan yang positif.
Kaum wanita harus menyadari perannya yang berat
dalam memikul tanggung jawab sebagai seorang istri dan ibu. Menyeimbangkan
pekerjaan domestik rumah tangga, mendidik anak, bahkan bekerja menjadi hal yang
sulit tanpa mengorbankan sesuatu. Untuk itu, wanita harus menyadari zaman
sekarang bukanlah sebelum era Kartini yang masih rendah emansipasi wanitanya.
Wanita dituntut meningkatkan kompetensi dirinya sendiri. Jangan sampai menjadi
wanita yang tak produktif. Wanita harus cerdas dan berjiwa sosial tinggi, agar
mampu berinteraksi dengan masyarakat. Percuma berwajah cantik rupawan, tetapi
tidak pernah nyambung jika diajak bicara. Wanita (harus) sebagai tiang negara,
karena dari wanita lah, generasi penerus dilahirkan.
Tentunya kaum lelaki yang memandang sinis wanita
materialistik diindikasikan tidak mampu berusaha kerja keras untuk memenuhi
kebutuhan. Padahal jelas-jelas, wanita menuntut kaum lelaki untuk bekerja
keras, bekerja cerdas, dan bekerja ikhlas untuk kebaikan keluarganya. Dalam
berkeluarga, keinginan setiap orangtua adalah mengetahui putra-putrinya bisa
lebih baik dalam segala hal. Wanita juga jangan menjadi wanita yang bergantung
pada kaum lelaki. Harus bisa mandiri, terutama mandiri dalam hal pendapatan.
Sungguh indah, jika kita kaum wanita bisa mendidik anak dengan baik tanpa
mengorbankan kebahagiaan keluarga tetapi juga mampu berdaya secara ekonomi.
Wanita memang materialistik!
Selasa, 02 April 2013
Senin, 01 April 2013
Dinamika Sastra Pop Pesantren
Dinamika Sastra Pop Pesantren
Oleh: Linda S Priyatna
Sabtu, 30 Maret 2013
Oleh: Linda S Priyatna
Sabtu, 30 Maret 2013
Secara kualitatif, dinamika sastra pesantren bisa kita analisis.
Salah satunya adalah melalui pelbagai macam perubahan serta pergeseran corak
orientasi paradigmatik yang menjadi substansi dalam karya sastra yang
bersangkutan. Maka, bertambahlah 'spesies' baru, khazanah sastra pesantren
mutakhir; sastra pop pesantren dan sastra pesantren yang subversif. Keberadaan
dua spesies baru ini tidak hanya melengkapi dan menemani kanon sastra pesantren
yang sudah ada, tetapi juga di banyak sisi menyimpan suatu potensi dialektis
dan kritis baginya; intertextual clash (benturan intertekstual).
Sebagaimana
kita kenal dari jejak historisnya, sastra pesantren kita dikenal sebagai genre
sastra yang giat mengangkat tema-tema nilai esoterik keagamaan; Cinta
Illahiyyah, pengalaman-pengalaman sufistik, cinta sosial (habluminannaas), atau
ekspresi dan impresi transendental keindahan alam semesta (makrokosmos).
Mayoritas
begitu kental dengan nuansa religius. Ini terlihat begitu jelas dalam
karya-karya sastrawan pesantren tahun 90-an Acep Zamzam Noor, D Zawawi Imron,
Zainal Arifin Toha, Jamal D Rahman, Abi-dah el-Khaeliqi, Kuswaidi Syafi'ie,
Faizi L. Kaelan dan sastrawan-sastrawan lain yang ruang kreasi mereka bertempat
di lingkungan geografis yang bernama pesantren.
Akibat
kentalnya nuansa tasawwuf, sastra pesantren sering di-identikan dengan sastra
sufistik atau sastra profetik (nubuwwah). Dengan kata lain, karakter sastra
sufistik telah menjadi kanon sastra (mainstream literature) dalam tradisi
kesusasteraan pesantren. Dengan Cinta Ilahiyyah dan spirit religius yang
menjadi grand theme, paradigma estetika utama dalam etos berkreasi, sastra
pesantren sebenarnya membawakan relevansi yang cukup signifikan terhadap
vitalitas tradisi keilmuan di pesantren itu sendiri; sastra pesantren menjadi
salah satu media alternatif bagi para apresian untuk mengenal dunia tasawwuf.
Dengan
apresiasi yang kontinyu, paling tidak sedikit demi sedikit nilai estetika dan
kearifan humanis-teologis yang inheren dalam karya sastra dapat membentuk suatu
sikap yang eklektik dalam beragama bagi para apresian, salah satunya dicirikan
dengan terbangunnya sinergitas pemahaman terhadap fiqih dan tasawwuf.
Dengan
kentalnya nuansa Cinta Illahiyah ini pula, lengkaplah sudah sastra pe-santren
sebagai subjek mayoritas dari keluarga besar sastra Indonesia yang mengusung
dan meng-eksplorasi simbol-simbol serta nilai religiusitas (Islam). Sekalipun
tentu saja, secara hakiki nilai-nilai sufistik dan profetik tidak bersifat
ekslusif untuk golongan tertentu, melainkan juga terbuka luas untuk kalangan
non-pesantren.
Dewasa
ini ada perkembangan yang cukup menarik; bahwa kalangan sastrawan pesantren
ternyata tidak hanya menjadikan ke-tasawwuf-an sebagai grand theme dalam etos
kreativitasnya; satu persatu mulai terlihat adanya keliaran, muntahan-muntahan
kegelisahan untuk merambah ke sisi-sisi lain. Sastra pesantren berada dalam
kegelisahan yang panas. Di sinilah saya melihat munculnya genre sastra
pesantren yang subversif.
Yang
paling ekstrim barangkali adalah novel Mairil (Pilar Media, Yogyakarta; 2005)
karangan Syarifuddin yang sedemikian berani mengangkat sisi gelap pesantren;
yakni abnormalitas perilaku seksual yang terjadi di pesantren (mairil;
homoseksual). Detail-detail ilustrasi peristiwa yang diangkat dari fakta itu
dina-rasikan sedemikian vulgar.
Boleh
dika-ta-kan novel ini subversif terhadap tradisi pesantren; bukankah
seksualitas dan cinta lawan jenis menjadi suatu hal yang (di) tabu (kan) di
pesantren? Faktanya; pembatasan pergaulan lawan jenis yang berlebihan merupakan
faktor uta-ma dari disorientasi seksual yang terjadi di pesantren. Meskipun
tidak bisa tidak, di sisi lain novel ini potensial menciptakan suatu bias
eksternal; dimana ia mengundang stigma buruk kalangan masyarakat terhadap
pesantren sebagai institusi pendidikan berbasis agama.
Sayangnya,
kritisitas novel Mairil ini tidak diimbangi dengan kebaruan corak dan wawasan
estetika. Prestasi dari novel Mairil adalah kualitas dokumenter (Faruk HT,
2000) dimana ia berhasil mendongkrak sisi tersembunyi pesantren sebagai suatu
sistem yang dinamis, dan bukan kualitas literer; kualitas stilistika, capaian
estetika sastrawinya masih cenderung nge-pop.
Namun,
inilah satu bentuk muntahan otokritik baru. Revolusioner terhadap kultur
pesantren yang mayoritas cenderung patriarkhal dan mono-referen (hanya terpaku
pada sistem referensi pemahaman tunggal). Secara implisit, dapat kita
interpretasikan bahwa kehadiran novel Mairil berusaha membuka cakrawala baru
pemahaman tentang cinta; bahwa Cinta Illahiyah -yang sufistik- tidak begitu saja
dengan gampang diraih secara instant.
Demi
kesuksesan dalam perjalanan mendaki tangga-tangga cinta, seorang insan mesti
sabar dalam melewati tahapan-tahapan dimensional dari Jalan Cinta. Bukankah Ibn
'Arabi, sang maestro sufi itu pernah memberikan formulasi tentang Jalan Cinta;
Cinta alami (cinta lawan jenis dan unifikasi makrokosmis), Cinta Ruhani, dan
Cinta Illahi. Dan Cinta Alami menempati posisi yang amat vital; bukankah Ibn
Arabi juga mampu menelurkan banyak karya lantaran motivasi psikologis yang kuat
dari Nidzam, seorang wanita Baghdad yang dicintainya?
Karenanya
jatuh cinta terhadap lawan jenis adalah manusiawi dan tak bisa ditinggalkan. Di
wilayah sosio-internal, novel Mairil kiranya layak untuk mendapat perhatian
dari kalangan elite pesantren. Suatu tantangan untuk berintrospeksi; bagaimana
merekontruksi dan merevisi kembali penataan lingkungan pergaulan (millieu)
antar lawan jenis, atau mulai mempertimbangkan pendidikan seksual yang efektif
dan proporsional bagi santri-santrinya. Secara kuantitatif, sastra pop
pesantren semakin menyemarakkan industri perbukuan. ***
Minggu, 31 Maret 2013
Blog Jhons: CARA MEMPERCEPAT KONEKSI INTERNET
Blog Jhons: CARA MEMPERCEPAT KONEKSI INTERNET: http://www.aingindra.com/2011/10/cara-mempercepat-koneksi-internet.html
Rabu, 27 Maret 2013
Langganan:
Postingan (Atom)
3 EKONOM INDONESIA DAN PEMIKIRANNYA 3 tokoh ekonom Indonesia pasca-reformasi, sekedar sampling acak, berfokus pada pemulihan kri...
-
Gendhing Jawa - Javanese Gamelan Notation New notation website new! Pélog Lima Pélog Nem Pélog Barang Sléndro Nem Sléndro Sanga Sl...




.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)


