Kamis, 06 Oktober 2016

Rhieza daelami: bencana dan cara menghadapinya

Rhieza daelami: bencana dan cara menghadapinya: Secara geologis letak wilayah Indonesia yang dilalui oleh dua jalur pegunungan muda dunia yaitu Pegunungan Mediterania di sebelah bara...





BENCANA DAN CARA MENGHDAPINYA:
 
 
Secara geologis letak wilayah Indonesia yang dilalui oleh dua jalur pegunungan muda dunia yaitu Pegunungan Mediterania di sebelah barat dan Pegunungan Sirkum Pasifik di sebelah timur menyebabkan Indonesia banyak memiliki gunung api yang aktif dan rawan terjadi bencana. Bencana alam yang sering terjadi di wilayah Indonesia antara lain : banjir, kemarau panjang, tsunami, gempa bumi, gunung berapi dan tanah longsor.

Masih jelas dalam ingatan kita rentetan kejadian bencana alam yang banyak menyebabkan terjadinya korban jiwa, seperti tragedi tsunami di Aceh dan Nias, gempa bumi dahsyat di tasikmalaya serta padang, tanah longsor di cianjur, bahkan banjir di berbagai daerah yang kerap datang setiap musim hujan.


Banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat dalam mengantisipasi terjadinya bencana alam. Mulai dari persiapan peralatan untuk mendeteksi terjadinya bencana seperti misalnya pada bencana tsunami dan gunung meletus, pembuatan jenis bangunan yang tahan terhadap bencana gempa, pengelolaan tata kota dan kesadaran warga masyarakat untuk menanggulangi bencana banjir ataupun pemeliharaan daerah hulu sungai dan pegunungan serta hutan untuk mencegah terjadinya tanah longsor.

Untuk masalah yang berkaitan dengan keadaan lingkungan, tentu hal ini juga membutuhkan peran serta aktif dari masyarakat dalam menjaga dan melestarikan lingkungan yang dapat dimulai dari lingkungan disekitar tempat tinggalnya. 


Seringkali karena bencana alam datang secara tiba-tiba, kita menjadi panik dan tidak tahu apa yang harus dilakukan, yang terpikirkan adalah untuk segera lari menyelamatkan diri. Masalah yang lain-lain seperti rumah dan harta benda tidak akan terpikirkan sama sekali. Walaupun demikian tidak ada salahnya untuk mempersiapkan diri terhadap kemungkinan terjadinya bencana, dengan cara mengumpulkan dokumen-dokumen penting yang ada didalam rumah. Hal ini dimaksudkan apabila bencana sudah selesai, maka para korban bencana pun masih harus tetap melanjutkan hidup dan dokumen tersebut dapat digunakan untuk bekal melanjutkan hidup.

Sebaiknya satukan dokumen-dokumen penting yang ada didalam 1 tas yang mudah untuk dibawa keluar saat akan menyelamatkan diri. Dokumen-dokumen tersebut dapat berupa : 
Ijasah pendidikan.
Surat kepemilikan tanah, rumah, kendaraan dll.
Akte lahir dan kartu keluarga.
Polis Asuransi beserta nomor agen yang dapat dihubungi.
Surat wasiat.
Nomor telepon anggota keluarga.

Apabila terjadi kejadian bencana, maka rasa panik, bingung dan ketakutan akan segera menyerang. Tak jarang jatuhnya korban jiwa lebih karena disebabkan ketakutan dan kepanikan yang terjadi bukan karena akibat langsung dari terjadinya bencana. Berikut hal-hal yang dapat dijadikan pedoman untuk menghadapi terjadinya bencana supaya dapat menghindari adanya korban jiwa. 
 
 
 
Bencana Gempa Bumi
 

Jika gempa bumi menguncang secara tiba-tiba, berikut ini 10 petunjuk yang dapat dijadikan pegangan di manapun anda berada. 
 
Di dalam rumah

Getaran akan terasa beberapa saat. Selama jangka waktu itu, anda harus mengupayakan keselamatan diri anda dan keluarga anda. Masuklah kebawah meja untuk melindungi tubuh anda dari jatuhan benda-benda. Jika anda tidak memiliki meja, lindungi kepala anda dengan bantal.
Jika anda sedang menyalakan kompor, maka matikan segera untuk mencegah terjadinya kebakaran.
 
Di sekolah

Berlindunglah di bawah kolong meja, lindungi kepala dengan tas atau buku, jangan panik, jika gempa mereda keluarlah berurutan mulai dari jarak yang terjauh ke pintu, carilah tempat lapang, jangan berdiri dekat gedung, tiang dan pohon.
 
Di luar rumah

Lindungi kepada anda dan hindari benda-benda berbahaya. Di daerah perkantoran atau kawasan industri, bahaya bisa muncul dari jatuhnyakaca-kaca dan papan-papan reklame. Lindungi kepala anda dengan menggunakan tangan, tas atau apapun yang anda bawa.
Di gedung, mall, bioskop, dan lantai dasar mall
Jangan menyebabkan kepanikan atau korban dari kepanikan. Ikuti semua petunjuk dari petugas atau satpam.
 
Di dalam lift

Jangan menggunakan lift saat terjadi gempa bumi atau kebakaran. Jika anda merasakan getaran gempa bumi saat berada di dalam lift, maka tekanlah semua tombol. Ketika lift berhenti, keluarlah, lihat keamanannya dan mengungsilah. Jika anda terjebak dalam lift, hubungi manajer gedung dengan menggunakan interphone jika tersedia.
 
 
Di kereta api
 

Berpeganganlah dengan erat pada tiang sehingga anda tidak akan terjatuhseandainya kereta dihentikan secara mendadak. Bersikap tenanglah mengikuti penjelasan dari petugas kereta. Salah mengerti terhadap informasi petugas kereta atau stasiun akan mengakibatkan kepanikan.
 
 
Di dalam mobil
 

Saat terjadi gempa bumi besar, anda akan merasa seakan-akan roda mobil anda gundul. Anda akan kehilangan kontrol terhadap mobil dan susah mengendalikannya. Jauhi persimpangan, pinggirkan mobil anda di kiri jalan dan berhentilah. Ikuti instruksi dari radio mobil, jika harus mengungsi maka keluarlah dari mobil, biarkan mobil tak terkunci.
 
 
 
Di gunung/pantai
 

Ada kemungkinan longsor terjadi dari atas gunung, menjauhlah langsung ke tempat aman. Di pesisir pantai, bahayanya datang dari tsunami. Jika anda merasakan getaran dan tanda-tanda tsunami tampak, cepatlah mengungsi ke dataran yang tinggi.
 
 
Bencana Banjir Bandang
 

Banjir bandang adalah banjir yang datang secara tiba-tiba yang disebabkan oleh karena tersumbatnya sungai maupun karena pengundulan hutan disepanjang sungai sehingga merusak rumah-rumah penduduk maupun menimbulkan korban jiwa. 

Yang Harus Dilakukan Saat Banjir 
 
Matikan aliran listrik di dalam rumah atau hubungi PLN untuk mematikan aliran listrik di wilayah yang terkena bencana.
Mengungsi ke daerah aman sedini mungkin saat genangan air masih memungkinkan untuk diseberangi.
 
Hindari berjalan di dekat saluran air untuk menghindari terseret arus banjir. Segera mengamankan barang-barang berharga ketempat yang lebih tinggi.
Jika air terus meninggi hubungi instansi yang terkait dengan penanggulangan bencana seperti Kantor Kepala Desa, Lurah ataupun Camat.

Yang Harus Dilakukan Setelah Banjir 
 
 
Secepatnya membersihkan rumah, dimana lantai pada umumnya tertutup lumpur dan gunakan antiseptik untuk membunuh kuman penyakit.
Cari dan siapkan air bersih untuk menghindari terjangkitnya penyakit diare yang sering berjangkit setelah kejadian banjir.
 
Waspada terhadap kemungkinan binatang berbisa seperti ular dan lipan atau binatang penyebar penyakit seperti tikus, kecoa, lalat, dan nyamuk.
Usahakan selalu waspada apabila kemungkinan terjadi banjir susulan.
 
 
Bencana Tanah Longsor
 

Longsoran merupakan salah satu jenis gerakan massa tanah atau batuan, ataupun percampuran keduanya, menuruni atau keluar lereng akibat dari terganggunya kestabilan tanah atau batuan penyusun lereng tersebut. Tanah longsor terjadi karena ada gangguan kestabilan pada tanah/batuan penyusun lereng.

Strategi dan upaya penanggulangan bencana tanah lonsor : 
 
Hindarkan daerah rawan bencana untuk pembangunan pemukiman dan fasilitas utama lainnya.
 
Mengurangi tingkat keterjalan lereng.
 
 
Meningkatkan/memperbaiki dan memelihara drainase baik air permukaan maupun air tanah. Fungsi drainase adalah untuk menjauhkan airn dari lereng, menghidari air meresap ke dalam lereng atau menguras air ke dalam lereng ke luar lereng. Jadi drainase harus dijaga agar jangan sampai tersumbat atau meresapkan air ke dalam tanah.
Pembuatan bangunan penahan, jangkar (anchor) dan pilling.
 
Terasering dengan sistem drainase yang tepat (drainase pada teras - teras dijaga jangan sampai menjadi jalan meresapkan air ke dalam tanah).
 
Penghijauan dengan tanaman yang sistem perakarannya dalam dan jarak tanam yang tepat (khusus untuk lereng curam, dengan kemiringan lebih dari 40 derajat atau sekitar 80% sebaiknya tanaman tidak terlalu rapat serta diseling-selingi dengan tanaman yang lebih pendek dan ringan , di bagian dasar ditanam rumput).
Mendirikan bangunan dengan fondasi yang kuat.
Melakukan pemadatan tanah disekitar perumahan.
 
 
Pengenalan daerah rawan longsor.
Pembuatan tanggul penahan untuk runtuhan batuan (rock fall).
Penutupan rekahan di atas lereng untuk mencegah air masuk secara cepat kedalam tanah.
Pondasi tiang pancang sangat disarankan untuk menghindari bahaya liquefaction.
Utilitas yang ada didalam tanah harus bersifat fleksibel.
Dalam beberapa kasus relokasi sangat disarankan.
 
 
 
Bencana Tsunami
 

Tsunami dapat diartikan sebagai gelombang laut dengan periode panjang yang ditimbulkan oleh gangguan impulsif dari dasar laut. Gangguan impulsif tersebut bisa berupa gempa bumi tektonik, erupsi vulkanik atau longsoran. Kecepatan tsunami yang naik ke daratan(run-up) berkurang menjadi sekitar 25-100 Km/jam dan ketinggian air tsunami yang pernah tercatat terjadi di Indonesia adalah 36 meter yangterjadi pada saat letusan gunung api Krakatau tahun 1883. 

Di Indonesia pada umumnya tsunami terjadi dalam waktu kurang dari 40 menit setelah terjadinya gempa bumi besar di bawah laut. Adanya tsunami tidak bisa diramalkan dengan tepat kapan terjadinya, akan tetapi kita bisa menerima peringatan akan terjadinya tsunami sehingga kita masih ada waktu untuk menyelamatkan diri.

Penyelamatan diri saat terjadi tsunami
 

Jika berada di sekitar pantai, terasa ada guncangan gempa bumi, air laut dekat pantai surut secara tiba-tiba sehingga dasar laut terlihat, segeralah lari menuju ke tempat yang tinggi (perbukitan atau bangunan tinggi) sambil memberitahukan teman-teman yang lain.

Jika sedang berada di dalam perahu atau kapal di tengah laut serta mendengar berita dari pantai telah terjadi tsunami, jangan mendekat kepantai. Arahkan perahu ke laut. Jika gelombang pertama telah datang dan surut kembali, jangan segera turun ke daerah yang rendah. Biasanya gelombang berikutnya akan menerjang. Jika gelombang telah benar-benar mereda, lakukan pertolongan pertama pada korban. 
 
 
 
Bencana Gunung Berapi
 

Letusan gunung api adalah merupakan bagian dari aktivitas vulkanik yang dikenal dengan istilah "erupsi". Hampir semua kegiatan gunung api berkaitan dengan zona kegempaan aktif, sebab berhubungan dengan batas lempeng. Pada batas lempeng inilah terjadi perubahan tekanan dan suhu yang sangat tinggi sehingga mampu melelehkan material sekitarnya yang merupakan cairan pijar (magma). Magma akan mengintrusi batuan atau tanah di sekitarnya melalui rekahan- rekahan mendekati permukaan bumi.

Jika Terjadi Letusan Gunung Berapi 
 
 
Hindari daerah rawan bencana seperti lereng gunung, lembah dan daerah aliran lahar.
Ditempat terbuka, lindungi diri dari abu letusan dan awan panas. Persiapkan diri untuk kemungkinan bencana susulan.
 
Kenakan pakaian yang bisa melindungi tubuh seperti: baju lengan panjang, celana panjang, topi dan lainnya.
Jangan memakai lensa kontak.
Pakai masker atau kain untuk menutupi mulut dan hidung.
Saat turunnya awan panas usahakan untuk menutup wajah dengan kedua belah tangan.
 

Setelah Terjadi Letusan Gunung Berapi 
 
 
Jauhi wilayah yang terkena hujan abu.
Bersihkan atap dari timbunan abu. Karena beratnya, bisa merusak atau meruntuhkan atap bangunan.
Hindari mengendarai mobil di daerah yang terkena hujan abu sebab bisa merusak mesin.
 
 
 

Jumat, 23 September 2016

Politik Pengabdian

Politik Pengabdian

 
Sekitar hampir dua tahun lalu, salah satu isyarat politik dari PDI Perjuangan untuk mengusung Joko Widodo sebagai kandidat presiden dalam Pilpres 2014 adalah saat Megawati Soekarnoputri memerintahkan pada Joko Widodo untuk membacakan teks Dedication of Life, yang ditulis Soekarno pada tahun 1966, dalam Rakernas PDI Perjuangan di Ancol pada 6 Agustus 2013.
Teks itu sungguh menarik karena di dalamnya Presiden Soekarno menegaskan makna politik sebagai sebuah pengabdian. Politik sebagai dedikasi hidup kepada Tuhan YME, negara, rakyat, dan bangsa Indonesia.
Ikrar politik sebagai pengabdian, yang dua tahun lalu sempat diucapkan Presiden Joko Widodo, ini patut kita renungkan kembali di tengah mulai tumbuhnya kekecewaan politik terhadap lambatnya komitmen pemerintah untuk merealisasikan agenda-agenda publik. Serangkaian aspirasi yang menjadi kepentingan bersama sebagai warga republik, seperti komitmen pemerintah atas pemberantasan korupsi dan pemenuhan hak-hak ekonomi dan sosial warga.
Padahal, komitmen politik sebagai dedication of life mensyaratkan pemahaman akan kehendak warga negara sebagai poros utama politik. Sebuah poros politik bernegara, yang di dalamnya tebersit kepercayaan bahwa keberlangsungan tatanan kekuasaan yang adil membutuhkan dukungan kekuatan publik untuk menghadapi hambatan dan sandera politik maupun belenggu oligarki untuk memenuhi janji dan komitmen politiknya.
Malapraktik kekuasaan
Seruan yang menekankan politik sebagai pemenuhan kehendak publik adalah antitesa dari karakter politik yang masih melekat di Indonesia saat ini, yang meletakkan laku politik semata- mata sebagai ajang negosiasi maupun pertarungan kepentingan di kalangan aliansi-aliansi elite politik dominan. Suatu negosiasi dan pertarungan untuk memperoleh dan mempertahankan otoritas kekuasaan dan kemakmuran maupun penciptaan politik patronase berbasis material, sekaligus berbasiskan penguasaan dan pemanfaatan otoritas dan sumber daya publik (Jeffrey Winters, 2011; Robison dan Hadiz, 2003).
Saat ini, dalam konteks kepemimpinan politik, kepercayaan akan kekuatan kolektif warga sebagai sumber daya politik untuk menghadapi segenap hambatan politik agaknya tengah redup. Oleh karena itu, harus dinyalakan kembali.
Berlangsungnya indikasi malapraktik kekuasaan yang berlangsung dalam pertarungan di antara aparat penegak hukum adalah contoh kasus yang cukup terang. Keresahan publik atas indikasi kriminalisasi terhadap petinggi KPK maupun hakim Komisi Yudisial oleh aparat elite kepolisian, yang tidak direspons dengan tindakan tegas oleh presiden, adalah perwujudan dari fenomena di atas.
Di sisi lain, absennya langkah tegas dari pemimpin untuk mengamankan program pemberantasan korupsi dari tendensi malapraktik kekuasaan di atas memperlihatkan bahwa presiden lebih mempersepsikan politik sebagai upaya membangun keseimbangan politik elite dan mengabaikan kehendak warga sebagai tujuan laku politik dan modal politik utama untuk mempertahankan wibawa kekuasaan.
Sepertinya hal yang patut direnungkan kembali oleh Presiden Joko Widodo adalah bahwa ia terpilih lebih disebabkan oleh antusiasme dukungan warga yang telah jenuh dengan suasana elitisme politik yang terbangun selama ini. Warga pun lalu menginginkan perubahan karakter kekuasaan yang lebih berpihak pada agenda publik. Kemunculan Joko Widodo sebagai elite politik mencerminkan harapan publik akan terwujudnya politik yang lebih baik alih-alih sebagai penyambung suara kemapanan elite politik.
Kesadaran bahwa pada awalnya Presiden Joko Widodo muncul sebagai ikon publik yang mendambakan sebuah perubahan politik ketimbang figur politisi yang melengkapi oligarki kekuasaan adalah hal penting. Dengan kesadaran akan pemahaman politik di atas, maka presiden akan menyadari bahwa kuat dan lemahnya sumber daya kekuasaannya sangat bergantung pada dukungan publik terhadap inisiatif yang ia bangun daripada pembentukan konsesi-konsesi politik elite yang selalu berubah- ubah sesuai dengan logika pragmatis kepentingan.
Hanya dengan keyakinan untuk membangun kembali kekuatan kolektif akar rumput sebagai sumber daya politik utama untuk merealisasikan agenda publik, maka wibawa pemerintahan dapat terselamatkan. Tentu saja melalui dukungan dan partisipasi warga di tengah belenggu kepentingan dari kalangan elite politik yang menghalangi pelaksanaan agenda-agenda reformis dari pemerintahan.
Panggilan politik
Selain tampil sebagai bentuk gugatan, titik cerah tidak sepenuhnya hilang. Seruan menempatkan politik sebagai pengabdian masih tumbuh bersemi dalam dimensi lain wajahpolitik kita. Proses regenerasi politik masih terus berjalan pada arah yang tepat menuju kemajuan nilai-nilai republik.
Di tengah kegusaran publik atas dinamika politik kekuasaan yang enggan berubah dari karakter elitismenya, sikap optimisme di kalangan kaum muda untuk menjadikan jalan politik sebagai panggilan pengabdian tengah tumbuh dan bersemi.
Saat ini kita menyaksikan munculnya lapisan politisi muda usia 30-an tahun yang berani menerabas zona nyaman mereka. Mereka terpanggil untuk masuk dalam dunia politik dengan membawa perspektif baru tentang politik sebagai pemenuhan komitmen publik.
Di tapal batas kota Jakarta, misalnya, ada anak muda, seperti Dimas Oky Nugroho. Ia adalah seorang konsultan pembangunan dan aktivis sosial yang maju sebagai kandidat wali kota Depok dengan pemahaman politik sebagai tindak pelayanan publik dan merawat kebinekaan. Di PDI Perjuangan muncul intelektual progresif muda NU, Zuhairi Misrawi, yang masuk ke dunia politik untuk memajukan agenda pluralisme dan toleransi sosial.
Selain itu kita juga menyaksikan aktivis ormas Muhammadiyah yang selama ini bergelut di ranah intelektual, seperti Raja Juli Antoni. Ia kini menjadi sekretaris jenderal sebuah partai baru, Partai Solidaritas Indonesia (PSI), sebuah partai yang mengedepankan isu-isu kaum muda dan semangat kebersamaan sebagai platform politiknya.
Kemunculan sekumpulan politisi muda dengan ikrar politik sebagai pengabdian memang tak menjamin bahwa mereka tidak akan terserap oleh logika kekuasaan dominan. Namun demikian, kekhawatiran tersebut dapat diminimalisir bila angkatan politisi muda ini menyadari bahwa ideal- ideal politik yang mereka bangun hanya bisa dirawat dengan kemampuan mewujudkan political virtue (keadaban politik).
Dalam konteks ini, kapasitas politik mereka ditantang untuk membangun kesadaran kolektif dan kemauan mengorganisasikan kekuatan kolektif warga sebagai sandaran sumber daya politik utama. Juga keberanian dan kecerdasan menghadapi kecenderungan korup dan intoleran dari kekuatan politik lainnya pada waktu dan tempat yang tepat. Sebab, kapasitas dan keberanian politik seperti itulah yang dibutuhkan oleh warga negara dari pemimpin yang dipilihnya. (AIRLANGGA PRIBADI KUSMAN)
 

T. Krispurwana Cahyadi SJ: Teresa, Kesucian Saat Gelap

T. Krispurwana Cahyadi SJ: Teresa, Kesucian Saat Gelap
 
 
 
Bunda Teresa mengatakan, seandainya ia menjadi orang suci, ia ingin menjadi orang suci bagi mereka yang mengalami kegelapan di dunia ini. Bunda Teresa melihat, semakin lama semakin banyak orang yang mengalami kegelapan dan kecemasan. Memang panggilannya adalah untuk menjadi terang Tuhan bagi dunia dewasa ini. Dunia yang lebih ditandai dengan kegelapan, kekerasan, dan perpecahan. Dalam bahasa Paus Fransiskus, dunia ini adalah dunia yang lebih menghidupi budaya penyingkiran dan globalisasi ketidakpedulian. Masyarakat terkotak-kotak, masuk dalam suasana pembeda-bedaan. Kesatuan tidak terbangun, karena kasih dan pelayanan satu sama lain tidak ditumbuhkan. Itulah kegelapan yang meli puti dunia ini.
 
Maka, Bapa Suci Yohanes Paulus II menggambarkan Bunda Teresa bagai orang Samaria yang baik hati (Luk 10:25-37). Dikatakannya bahwa dia adalah contoh pribadi yang setia menyapa, serta tanpa pamrih melayani siapa saja yang ditemuinya, mereka yang sakit, menderita, dan tidak dihargai keberadaannya.
 
Mencintai, Melayani
Semakin seseorang berani keluar dari diri sendiri, dari kelompok dan kemapanan diri, ia akan semakin mampu menjadi seperti orang Samaria itu, semakin mau melayani. Kasih tidak berlambat dan terlambat untuk membantu, tanpa mau peduli dan memperhitungkan siapakah sesama yang membutuhkan itu, demikian bisa dikatakan. Kasih senantiasa mau segera menyapa, siapa saja. Malahan semakin seseorang berani melayani mereka yang di luar dirinya, yang berada di luar batas kemapanan dirinya, entah karena perbedaan keyakinan, etnis, status, ataupun tingkat sosialnya, semakin kasih itu nyata dan tulus.
 
Yang penting adalah bagaimana orang melayani. Pelayanan itu bukan demi sesuatu, melainkan demi pribadi seseorang. Kalau hanya demi sesuatu, pelayanan kasih bisa merupakan pelayanan dengan pamrih tertentu, didasarkan kepada suatu kepentingan tertentu atau pula ditujukan hanya kepada golongan atau kelompok tertentu pula. Namun kalau pelayanan itu adalah demi pribadi seseorang, pelayanannya lebih merupakan pelayanan demi kasih, kasih yang berani melintasi segala batas ataupun kategori. Kasih tidak hendak melayani diri sendiri, melainkan keluar dari diri sendiri. Tidak mengherankan jika Bapa Suci Yohanes Paulus II mengatakan tentang apa yang dibuat Bunda Teresa sebagai kesaksian yang diberikan di tengah dunia, yang sudah akrab dengan perilaku egoisme, hedonisme, nafsu akan uang, dan ambisi untuk mengejar prestise serta kekuasaan.
 
Inti spiritualitas Bunda Teresa dari Kalkutta terungkap dalam rumusan, “Aku haus” (Yoh 19:28). Digambarkan di dalamnya betapa Tuhan itu haus, haus akan kasih; Tuhan haus untuk mencintai dan dicintai. Yesus datang untuk menyatakan kasih Allah, dan Dia menemukan kasih-Nya ditolak; Dia mengharapkan agar umat manusia mencintai Tuhan, tetapi mereka memilih menolak mencintai-Nya. Pengalaman cinta yang ditolak itu adalah pengalaman Tuhan yang berseru, “Aku haus!” Maka menemukan kasih Kristus yang mengorbankan dirinya, yang menderita haus karena cinta-Nya ditolak, senantiasa berarti pula menjumpai sesama yang juga mengalami penolakan, yang tidak dicintai ataupun yang menderita kesepian di tengah dunia kehidupan ini.
 
Jalan Gelap
Bunda Teresa betapapun menyadari mendapatkan panggilan Tuhan untuk menjadi terang Tuhan, namun ia justru mengalami kegelapan. Tidak jarang ia mengalami kekosongan dan kesepian, bertanya apakah sebenarnya yang menjadi kehendak Tuhan. Ia menyebut itu sebagai kegelapan yang mencekam atau kesepian yang mendalam. Pengalaman ditolak, tidak diinginkan, diabaikan, dan tidak dicintai, adalah pengalaman kemiskinan yang paling mencekam. Ia mengalami semua hal itu.
 
Tidak jarang dialaminya, doa-doanya seakan kering dan datar, tidak mendatangkan inspirasi rohani, tidak menimbulkan gerak jiwa yang menumbuhkan sukacita. Walaupun demikian, kesetiaan akan iman bahwa Tuhan yang memanggil itu setia, menjadikannya tetap bertahan dan berjuang. Pernah ia mengatakan hal itu sebagai iman yang buta, iman yang tidak mau peduli akan hal lain, tak ingin melihat apapun, sehingga hanya percaya, walaupun lorong jalan yang dilaluinya terasa gelap pekat.
 
Maka Bunda Teresa menuliskan kemudian, kalau kegelapan dan pengalaman jauh terpisah dari Tuhan ini merupakan sesuatu yang berguna baginya, ia memohon agar Tuhan tanpa ragu memberikan itu semua kepadanya, agar dirinya tidak semakin terpisah dari Yesus. Betapapun berat dan menyakitkan, Bunda Teresa kemudian perlahan mencintai kegelapan tersebut, pengalaman sepi tanpa penghiburan rohani.
 
Pengalaman itu disebut Paus Benediktus XVI sebagai pengalaman akan Tuhan yang diam. Allah dirasakan seakan begitu jauh, tidak bereaksi, bahkan dirasa oleh manusia tidak ada. Dalam pengalaman itu orang bertanya, di manakah Tuhan, mengapa Dia diam saja?
 
Bagi Paus Benediktus XVI pengalaman itu, di satu sisi, berguna untuk memahami pengalaman mereka yang tidak percaya akan Tuhan. Di sisi lain, ini merupakan cermin pergumulan hati untuk senantiasa terbuka akan Allah, untuk senantiasa bergulat mencari-Nya. Jalan kesucian senantiasa memuat di dalam dirinya, ruang ragu dan bertanya. Suatu proses yang mengajak kita untuk melangkah lebih lanjut, walau masih terasa remang-remang dan tak pasti. Tetapi kita percaya bahwa Tuhan mengiringi jalan, menuntun untuk melangkah, demikian ungkap Paus Fransiskus.
 
Pesan bagi Kita
Pertama, tanda kesucian di abad media. Bunda Teresa adalah orang suci di tengah budaya media. Pengalaman malam gelap yang ia alami justru melindungi hatinya agar tidak menjadi korban media; terjebak dalam kecenderungan untuk hanya memandang dan membesar-besarkan diri sendiri. Kesucian tidak pernah mengantar orang kepada ambisi akan ketenaran, atau naluri untuk mencari pujian.
 
Pengalaman kegelapan Bunda Teresa memurnikanya di tengah berbagai pujian orang, serta sorotan media akan hidup dan karyanya. Perhatian media akan dirinya, pujian serta penghargaan yang diterima akan mudah menggoda orang untuk puas diri, memandang diri dan memusatkan segala kepada dirinya sendiri.
 
Kedua, kita menemukan, banyak orang merasa tahu pasti apa yang menjadi kehendak Tuhan atas dirinya, tidak sedikit orang merasa diri pula mengatasnamakan Tuhan untuk mengadili dan menghukum yang lain. Beragama justru tidak menjadikan orang rendah hati, tetapi malahan membuat orang semakin picik, sok suci, serta merasa diri paling baik dan paling benar.
 
Bunda Teresa justru mengalami pergulatan untuk memastikan dan meyakini apa yang sebenarnya menjadi kehendak Tuhan. Ia tidak pernah merasa serba tahu, karenanya tidak pernah pula merasa diri pantas dan hebat. Baginya, beriman justru membawa kepada sikap rendah hati, semangat untuk terus mau mencari dan menegaskan kehendak Allah, sikap untuk selalu mau berbagi.
 
Ketiga, salah satu ungkapan terkenal dari Bunda Teresa adalah, “Tuhan memanggil kita bukan untuk sukses, melainkan untuk setia.” Tidak jarang orang mencari ukuran sukses, menjadi terkenal dan dipuji menjadi impiannya. Namun kriteria sukses seperti itu menjebak, sehingga orang mudah jatuh jika impian akan sukses itu tidak segera terpenuhi. Bunda Teresa memperlihatkan bahwa akhirnya yang terpenting adalah kesetiaan dalam menapaki jalan kehendak Allah, tanpa perlu bermimpi menjadi terkenal atau dipuji. Kesetiaan itulah inti dari pergumulan hidup setiap umat beriman. Kesetiaan itu tidak pernah akan lepas dari pengalaman salib.
 
Bunda Teresa dari Kalkuta menjadi saksi untuk itu, yang kesaksiannya layak untuk selalu kita dalami. Kesetiaan dalam menapaki perjalanan hidup dengan tetap berakar mendalam pada Tuhan, mewujudkannya dalam pelayanan kasih kepada dan demi kemuliaan Allah yang lebih besar.
 
T. Krispurwana Cahyadi SJ
Direktur Pusat Spiritualitas Girisonta, Moderator KKIT Indonesia
 

Sakramen Ekaristi: Sumber dan Puncak Hidup Katolik (sharing pemahaman pribadi seorang awam Katolik)

  Sakramen Ekaristi: Sumber dan Puncak Hidup Katolik (sharing pemahaman pribadi seorang awam Katolik)   Sakramen Ekaristi adalah salah...