Sabtu, 17 Maret 2012

PROF. WIDJOJO NITISASTRO

Prof. Dr. Widjojo Nitisastro (lahir 23 September 1927 – meninggal di Jakarta, 9 Maret 2012 pada umur 84 tahun) adalah Menteri Indonesia yang dikenal sebagai arsitek utama perekonomian orde baru. Ia sempat diangkat sebagai Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional periode 1971-1973 dan Menko Ekuin sekaligus merangkap sebagai Ketua Bappenas pada periode 1973-1978 dan 1978-1983.
Widjojo sering dianggap sebagai pemimpin Mafia Berkeley— julukan yang diberikan kepada sekolompok menteri bidang ekonomi dan keuangan yang menentukan kebijakan ekonomi Indonesia pada masa awal pemerintahan Presiden Suharto.
Riwayat
 Masa muda dan pendidikan
Widjojo berasal dari keluarga pensiunan penilik sekolah dasar. Ayahnya adalah seorang aktivis Partai Indonesia Raya (Parindra), yang menggerakkan Rukun Tani.[1] Ketika pecah Revolusi Kemerdekaan di Surabaya, ia baru duduk di kelas I SMT (setingkat SMA). Pada tahun 1945, Widjojo bergabung dengan pasukan pelajar yang kemudian dikenal sebagai TRIP. Ia bertempur dengan gagah berani dan nyaris gugur di daerah Ngaglik dan Gunung Sari Surabaya.[1]
Seusai perang, Widjojo sempat mengajar di SMP selama 3 tahun. Ia kemudian memutuskan untuk melanjutkan pendidikan tingginya di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) dan mengkhususkan diri pada bidang demografi.[2] Ketika masih menjadi mahasiswa di FEUI, bersama seorang ahli dari Canada Prof. Dr. Nathan Keyfiz, Widjojo menulis sebuah buku berjudul "Soal Penduduk dan Pembangunan Indonesia". Kata pengantarnya ditulis oleh Mohammad Hatta. Hatta menulis, "Seorang putra Indonesia dengan pengetahuannya mengenai masalah tanah airnya, telah dapat bekerja sama dengan ahli statistik bangsa Canada. Mengolah buah pemikirannya yang cukup padat dan menuangkannya dalam buku yang berbobot." Buku ini sangat populer di kalangan mahasiswa ekonomi.[1] Widjojo lulus dengan predikat Cum Laude.[1]
Sebagai salah satu mahasiswa paling cemerlang di kampusnya, Widjojo kemudian mendapat kesempatan untuk berkuliah di University of California at Berkeley atas beasiswa dari Ford Foundation. Ia lulus pada tahun 1961 dan kembali ke Indonesia untuk mengajar di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (SESKOAD).
 Awal karier
Saat Widjojo lulus dari UCB, Indonesia yang berada di bawah pemerintahan Presiden Soekarno menjalankan politik demokrasi terpimpin. Di bawah politik ini, perekonomian Indonesia cenderung mengarah pada sosialisme/komunisme yang mempercayai bahwa pemerintah mengetahui segalanya tentang perekonomian dan karenanya pemerintah harus memiliki kontrol penuh atas perekonomian—karena itu, mekanisme pasar diabaikan. Pemerintah Soekarno juga tidak mempercayai analisis-analisis ekonomi ala Barat, terutama AS. Soekarno bahkan dengan bangga bahwa ia benar-benar tidak paham (illiterate ) tentang analisis ekonomi.[3]
Perekonomian Indonesia saat itu menjadi kacau, dengan tingkat inflasi yang sangat tinggi. Harga barang rata-rata pada tahun 1965 adalah tujuh kali harga rata-rata di tahun 1964.[3] Widjojo menyampaikan pendapatnya kepada pemerintah untuk mengubah paradigma ekonomi Indonesia. Saat inaugurasinya sebagai profesor ekonomi Universitas Indonesia pada 10 Agustus 1963, Widjojo membacakan pidato berjudul "Analisis Ekonomi dan Perencanaan Pembangunan."[3] Ia menyampaikan saran agar memasukkan analisis ekonomi dalam pembuatan kebijakan pemerintah. Ia juga menyarankan adanya kombinasi mekanisme pasar dan intervensi pemerintah alih-alih membiarkan pasar terlalu bebas atau sebaliknya membuat pemerintah terlalu berkuasa.[3]
Namun secara politis, posisi Widjojo dan kawan-kawannya sebagai seorang lulusan asal Amerika Serikat—yang memiliki ideologi bertentangan dengan ideologi sosialis/komunis—sangat sulit. Keadaan diperparah dengan meningkatnya tensi antara Indonesia dengan AS, Inggris, Malaysia, dan Singapura. Soekarno melancarkan konfrontasi terhadap Federasi Malaysia karena menganggap negara itu sebagai negara boneka bentukan Inggris.[3] Pendapat Widjojo akhirnya tidak didengar oleh Pemerintahan Soekarno.[3]
 "Mafia Berkeley"
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Mafia Berkeley
Pada tahun 1966, Jenderal Soeharto mengambil alih kekuasaan di Indonesia dari Presiden Soekarno melalui Supersemar. Meskipun belum menjadi presiden hingga dua tahun berikutnya, Soeharto mulai membangun dasar-dasar pemerintahan yang nantinya akan disebut sebagai rezim Orde Baru. Pada akhir Agustus 1966, Soeharto mengadakan seminar di SESKOAD untuk mendiskusikan masaldah ekonomi dan politik serta bagaimana Orde Baru akan mengatasi permasalahan itu. Ekonom-ekonom FEUI, yang diketuai oleh Widjojo Nitisastro, mengikuti seminar itu.
Dalam seminar, para ekonom mempresentasikan ide mereka serta rekomendasi kebijakan kepada Soeharto. Soeharto kagum akan ide mereka dan dengan cepat meminta mereka untuk bekerja sebagai Tim Ahli di bidang Ekonomi dan Keuangan.[4] Pengangkatan ini menjadi awal karier Widjojo di dunia politik. Di kemudian hari, tepatnya pada tahun 1970, ia dan beberapa ekonom lulusan University of California at Berkeley lainnya dituduh sebagai Mafia Berkeley yang dibentuk oleh CIA untuk menanamkan paham ekonomi liberalisme di Indonesia.[5]
 Karier politik
Pada usianya yang relatif muda, 39 tahun, ia dipercaya sebagai ketua tim penasihat ekonomi presiden (1966). Ia juga beberapa kali duduk sebagai menteri kabinet pada posisi yang sesuai dengan bidang tugasnya, yaitu ekonomi. Pada 1968 ia menjadi Ketua Badan Perancang Pembangunan Nasional (Bappenas). Sejak tahun 1971 hinga 1973, ia diangkat menjadi Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional. Kemudian secara berturut-turut, dari tahun 1973 hingga 1983, ia menjabat sebagai menteri Ekuin merangkap Ketua Bappenas.[1]
Tahun 1984, Widjojo menerima penghargaan dari Universitas Berkeley, California, AS, yakni Elise Walter Haas Award. Perhargaan tradisi tahunan universitas tersebut diberikan kepada bekas mahasiswa asing yang jasa-jasanya dianggap menonjol. Dan Widjojo merupakan orang Indonesia pertama yang menerima penghargaan ini.[1]
Pada awal tahun 1980-an namanya sempat mencuat sebagai bakal calon wakil presiden periode 1983-1988. Ia dicalonkan oleh Forum Studi dan Komunikasi (Fosko), suatu organisasi beranggotakan bekas aktivis angkatan 66. Namun ia menolak.[1]
Pengaruhnya melemah pada era kepemimpinan Habibie, yang pemikiran ekonominya bertentangan dengan perekonomian Widjojo. Ia kembali ke pemerintahan sebagai Penasehat Ekonomi Presiden setelah pertanggungjawaban Habibie ditolak oleh MPR, dan masih menjabat hingga kini.
Ketika Gus Dur menjabat Presiden, Widjojo diminta untuk memimpin Tim Ekonomi Indonesia pada pertemuan Paris Club pertengahan April 2000. Misi tim ini adalah membicarakan penjadwalan kembali pembayaran utang RI, untuk priode April 2000 hingga Maret 2002 senilai 5,9 milyar AS. Permintaan tim ini disetujui kelompok donor yang beranggotakan 19 negara itu. Ekonom Mohammad Sadli Profesor memuji peranan Widjojo Nitisastro dalam keberhasilan tim itu. Menurut Sadlli, 95 persen kerja delegasi Indonesia adalah arahan Widjojo.[1]
 Pemikiran ekonomi
Pemikiran ekonomi yang dianut Widjojo berdasar dari pemikiran Keynes yang menyarankan kombinasi antara mekanisme pasar dan intervensi pemerintah.[3] Konsep ekonomi Widjojo—yang kerap disebut pers sebagai Widjojonomics—menekankan prinsip kehati-hatian yang "sangat" (prudent).[1] Pemikiran Widjojo diuraikan dalam buku Pengalaman pembangunan Indonesia: Kumpulan tulisan dan uraian Widjojo Nitisastro (2010).[6]
 Karier
*       Perencana pada Badan Perencanaan Negara (1953-1957)
*       Direktur Lembaga Ekonomi dan Riset UI dan Dekan FE UI (1961-1964, 1964-1968)
*       Guru Besar Ekonomi UI (1964 --1993)
*       Dosen Seskoad (sejak 1962)
*       Dosen Lemhanas (sejak 1964)
*       Direktur Lembaga Ekonomi dan Kebudayaan Nasional (Leknas), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (1964-1967)
*       Ahli PBB bagi penilaian pelaksanaan dasawarsa Pembangunan II dan anggota Governing Council of United Nations Institute of Development (1967)
*       Ketua Bappenas (1967-1971)
*       Ketua Delegasi Rescheduling Utang RI (1967)
*       Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional (1971-1973)
*       Menko Ekuin merangkap Ketua Bappenas (1973-1978 dan 1978- 1983)
*       Penasihat Bappenas (1983 -- sekarang)
*       Penasehat Pemerintah RI
*       Penasehat Ekonomi Presiden (1993-sekarang)
 Karya
Karya tulis penting:
*       Soal Penduduk dan Pembangunan Indonesia (bersama Prof. Dr. Nathan Keyfiz)
*       Population Trends in Indonesia
*       The Socio Economic Basic of the Indonesian State
*       The Role of Research in a University
 Penghargaan
*       Elise Walter Haas Award dari Universitas Berkeley, AS (1984)
*       Piagam Hatta (1985)
*       Penghargaan Kependudukan (1992)
 Referensi
1.      ^ a b c d e f g h i (Indonesia) Arsitek Ekonomi Orba yang Masih Cemerlang. Tokoh Indonesia. Diakses 5 Februari 2010.
2.      ^ (Indonesia) Profil Prof. Dr. Widjojo Nitisastro di Tempo. Diakses 5 Februari 2010.
3.      ^ a b c d e f g (Inggris) Ananta, Aris. Widjojo Nitisastro and changes to development paradigms. The Jakarta Post. Diakses 5 Februari 2010.
4.      ^ (Inggris) Dick, Howard (2002). The Emergence of a National Economy: An Economic History of Indonesia 1800-2000. Crow's Nest, NSW, Australia: Allen and Unwin. hlm. 196. 
5.      ^ (Indonesia) Boediono Bela Widjojo Nitisastro Soal Tuduhan Mafia Berkeley. Tempo Interaktif. Diakses 4 Februari 2011.
6.      ^ Widjojo Nitisastro (2010), Pengalaman pembangunan Indonesia: Kumpulan tulisan dan uraian Widjojo Nitisastro, Kompas Penerbit Buku, Jakarta. Ada ringkasan dalam karangan Peter McCawley, 'Review article: Widjojo Nitisastro and Indonesian development', Bulletin of Indonesian Economic Studies, 41(1), April 2011, pp. pp. 87-103.

PROF. WIDJOJO NITISASTRO

PROF. WIDJOJO NITISASTRO

Jumat, 16 Maret 2012

SIKAP MUNAFIK

SIKAP MUNAFIK

Saya temukan hal-hal sehubungan dengan sikap munafik antara lain sebagai berikut:



A.SIKAP MUNAFIK MENOLAH HUKUM ALLAH
KH. Abdul Rasyid AS (Pimpinan Perguruan As Syafiiyyah)


Firman Allah SWT:

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya Telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? mereka hendak berhakim kepada thaghut[312], padahal mereka Telah diperintah mengingkari thaghut itu. dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah Telah turunkan dan kepada hukum Rasul", niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.(QS. An Nisa 60-61).

Tafsir

Imam Jalalain dalam tafsir Jalalain menerangkan, tatkala terjadi perselisihan antara seorang Yahudi dan seorang munafik, orang munafik itu mengajak kepada gembong Yahudi Ka’ab bin Al Asyraf untuk menghukumi masalah keduanya.  Sedangkan orang Yahudi itu justru mengajak kepada Nabi saw. Lalu keduanya mendatangi beliau saw.  Nabi lalu memutuskan bahwa yang menang dalam perkara tersebut adalah orang Yahudi itu.  Orang munafik itu tidak rela.  Lalu keduanya mendatangi  Umar bin Khaththab r.a. dan orang Yahudi itu menceritakan semua kejadian itu kepadanya.  Lalu Umar bin Khaththab r.a. bertanya kepada orang munafik: Apakah benar demikian?
Orang munafik itu menyatakan benar.  Lalu Umar membunuhnya.
Allah SWT berfirman:

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya Telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? mereka hendak berhakim kepada thaghut”.

Thagut dalam ayat ini menurut tafsir Jalalain adalah Ka’ab bin Al Asyraf.  Padahal mereka telah diperintahkan untuk mengkufuri dia, yakni tidak berwala kepadanya.  Dan setan hendak menyesatkan mereka dengan kesesatan yang jauh dari kebenaran.  Dan bila dikatakan kepada mereka marilah kalian kepada hukum yang diturunkan Allah dalam Al Quran dan kepada Rasul agar dia menghukum di antara kalian  maka engkau akan melihat orang-orang munafik benar-benar menghalang-halangi manusia untuk mendatangi engkau (wahai Rasul) sehingga datang kepada yang lain.

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan bahwa firman Allah SWT di atas merupakan penolakan Allah SWT terhadap sikap orang munafik yang mengklaim  bahwa mereka beriman kepada hukum yang diturunkan oleh Allah kepada Rasul-Nya dan para Nabi terdahulu.  Orang munafik itu ingin berhukum untuk memutuskan berbagai perselisihan dengan selain kitabullah dan sunnah Rasul-Nya. 

Imam Ibnu Katsir menerangkan bahwa sebab turunnya ayat ini adalah tentang seorang dari kalangan Anshar dan seorang dari kalangan Yahudi bersengketa.  Yahudi berkata: antara aku dan anda adalah Muhammad.  Sedangkan orang Anshar itu berkata: anatara aku dan engkau adalah Ka’ab bin Al Asyraf.  Ada yang mengatakan ayat tersebut turun berkenaan dengan sekelompok kaum munafik berhukum kepada hukum jahiliyah.  

Ada juga menyatakan ayat itu turun berkenaan dengan yang lain.  Namun ayat itu bersifat lebih umum dari semua itu.  Ini merupakan celaan terhadap orang yang mengganti Kitabullah dan As Sunnah lalu berhukum kepada selain keduanya yang batil tentunya.  Inilah yang dimaksud dengan thagut di sini.  Oleh karena itu, Allah SWT berfirman: “Mereka berkehendak untuk berhukum kepada thagut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengkufurinya dan setan berkehendak menyesatkan mereka dengan kesesatan yang jauh.  Dan bila dikatakan kepada mereka marilah kepada apa yang diturunkan Alalh dan kepada Rasul maka engkau melihat orang-orang munafik benar-benar menghalangi manusia darimu”

Sikap Munafik Menolak Hukum Allah

Firman Allah “mereka benar-benar menghalangi manusia darimu”, yakni menolakmu seperti orang-orang yang takabur.  Sebagaimana penolakan orang-orang musyrik dalam  firman-Nya:
Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang diturunkan Allah". mereka menjawab: "(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya"….” (QS. Luqman 21).

Sikap kaum munafik dan kaum musyrik itu berbeda dari sikap orang-orang mukmin yang dikatakan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:

Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar, dan kami patuh". dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung.(QS. An Nuur 51).

Sasaran hukum Allah SWT yang diputuskan oleh Rasulullah saw. dalam ayat di atas adalah untuk seluruh warga negara, yakni untuk mengatasi persolan di antara sesama kaum muslimin maupun antara kaum muslimin dengan kaum non muslim yang menjadi warga negara daulah Islamiyyah di kota Madinah pada waktu itu.

Kenapa terhadap orang non muslim yang menjadi warga negara daulah Islamiyyah diterapkan hukum Allah SWT?  Itulah perintah Allah SWT.  Sebagaimana dalam firman-Nya:

Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. dan Sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (QS. Al maidah 49).

Ibnu Abbas r.a. dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kata “mereka” dalam ayat di atas maksudnya adalah kaum Yahudi Bani Quraizhah, Yahudi Bani Nadlir, dan Yahudi Khaibar yang minta keputusan hukum kepada Rasulullah saw. 

Dan dalam asbabun nuzul dari firman Allah SWT dalam surat An Nisa di atas justru orang Yahudi merasa sreg dengan berhukum kepada Rasulullah saw. Salah satu sebabnya karena beliau tidak menerima suap dalam mengadili perkara.  Dan Yahudi itu menolak berhukum tokoh Yahudi, Ka’ab bin al Asyraf, karena suka menerima suap dalam mengadili perkara.  

Kesimpulan
Orang-orang munafik menolak hukum-hukum Allah SWT karena sesungguhnya mereka adalah kufur di dalam hatinya walaupun penampilan luarnya muslim.  Ayat di atas mengungkap sikap mereka yang ironis, yakni menghalangi orang non muslim untuk berhukum kepada Rasulullah saw. Na’udzubillahmindzalik!





Waspadai sikap Munafik pada diri kita

uji Syukur yang tak terhingga marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT, atas nikmat Islam dan iman yang telah dikaruniakannya kepada kita sehingga kita dapat mengenal jalan yang lurus menuju keridlo’annya.
Sholawat serta salam semoga terlimpahkan kepada rosul Muhammad SAW  Khotaminnabiyyiina-beserta keluarga, sahabat serta umatnya hingga yaumul akhir.
Pada  kesempatan kali ini  “Admin” mencoba merangkum materi pembahasan  Taklim yang telah berjalan 4 (empat) kali pertemuan. Oleh karenanya, melalui penulisan ini admin mencoba mengambil sumber lain  dari berbagai situs internet agar lebih mendalam lagi. Semoga maksud paparan dari pak ustad dapat lebih sinergi dengan hasil rangkuman  tulisan ini. Insya Alloh.
Medio, Rabu,  16 Pebruari 2011

CIRI-CIRI ORANG MUNAFIK
Melalui firman Alloh Swt dalam awal surat Al-Baqoroh  telah menginformasikan kepada kita bahwa manusia terbagi menjadi tiga sifat, yaitu Orang yang bertaqwa, Orang Kafir dan Orang Munafik, yang menarik jika kita cermati Alloh menerangkan sifat-sifat munafik lebih banyak dibandingkan sifat-sifat yang lainnya, yakni 13 (tiga belas) ayat.
Perlu diwaspadai bahwa sifat munafik dapat bersinggah di hati siapa saja termasuk kepada seorang yang mengatakan dirinya mengaku telah “beriman”. Karakter orang munafik antara lain disebutkan Alloh Swt dalam Surat Al-Baqoroh ayat 14 yang artinya: “Dan  bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengakatan: “Kami telah beriman”. Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok”.
Sangat berbahaya dampak yang ditimbulakan oleh perilaku orang munafik, sehingga Alloh Swt. mengingatkan kepada kita agar hati-hati supaya  tidak terjerumus dalam kesesatan yang nyata.  Yakni masuk ke dalam golongan orang-orang fasik dengan berbagai ancamannya.



Rosululloh  SAW telah memberikan gambaran tentang sifat-sifat orang munafik sebagaimana sabdanya, yang artinya:
Abu Hurairah r.a. berkata: Nabi saw. bersabda: Tanda seorang munafik itu tiga: Jika berkata-kata dusta, jika berjanji menyalahi janji, jika diamanati khianat.  (Bukhari, Muslim).
Artinya, jika seseorang telah melakukan salah satu ciri dari karakter orang munafik tersebut dapat dikatakan sudah pantas mendapat lebel fasik. Umpanya, jika seorang PNS yang telah disumpah dengan penyataan janji tidak akan menerima apapun pemberian berkaitan dengan tugas jabatannya. Kemudian mendapatkan sesuatu (pemberian/hadiah) atas tugas jabatannya yang dilarang peraturan perundang-undangan (PP 53 Tahun 2010 tentang Disiplin PNS). Maka seorang PNS tersebut disamping melanggar peraturan negara, juga telah melanggar kaidah syar’i atas sumpah janjinya dengan menggunakan atas nama Alloh Swt.
Maka, jika setiap orang memahami bahaya akibat kemunafikannya pasti akan menjauh dan sejauh-jauhnya, kemudian akan melahirkan pribadi mutaqin. Orang yang jujur, amanah dalam melaksanakan tugas kedinasannya.


Kamis, 08 Maret 2012

SURVEY&PENDAPAT TREND PERILAKU MASYARAKAT URBAN DAN GERAKAN MEMBANGUN KAMPUNG HALAMAN

SURVEY&PENDAPAT TREND PERILAKU MASYARAKAT URBAN DAN GERAKAN MEMBANGUN KAMPUNG HALAMAN



Yanti B. Sugarda

 Pecinta Gaul

Mayoritas masyarakat urban dewasa  mulai aktif berorganisasi sejak masa sekolah, mulai dari organisasi kepramukaan dan klub olahraga hingga organisasi siswa intra sekolah,  koran sekolah dan kelompok rohani. Ketika dewasa, kebanyakan dari mereka berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan  kelompok.

Tiga perempat dari masyarakat urban mengikuti pengajian atau kegiatan mesjid sebulan sekali, sementara dua pertiga tergabung dalam organisasi-organisasi komunitas tertentu dan organisasi kewanitaan dan asosiasi orang tua murid dan guru.

Peneliti: 12 Grup Media Besar Kuasai Indonesia

Jakarta (ANTARA) - Para Peneliti dari Centre for Innovation Policy and Governance (CIPG) mengumumkan hasil riset bahwa ada 12 grup besar yang menguasai hampir seluruh kanal media di Indonesia.



 
"Hasil penelitian kami bekerja sama dengan lembaga non pemerintah Hivos Asia Tenggara menunjukkan bahwa ada 12 grup media besar yang menguasai Indonesia," kata Peneliti CIPG Yanuar Nugroho didampingi peneliti lainnya yakni Dinita Andriani Putri dan Muhammad Fajri Siregar di Jakarta, Kamis.
Dia menjelaskan, grup tersebut adalah MNC Media Group, Jawa Pos Group, Kompas Gramedia Group, Mahaka Media Group, Elang Mahkota Teknologi, CT Corp, Visi Media Asia, Media Group, MRA Media, Femina Group, Tempo Inti Media dan Beritasatu Media Holding.



Dia mengatakan, meskipun konsentrasi kepemilikan media semacam itu bukanlah monopoli namun struktur industri seperti itu mempunyai implikasi serius dalam konteks ruang publik dalam bermedia.
Para peneliti, tambah Yanuar, menilai bahwa konsentrasi kepemilikan berdampak tak hanya pada keputusan redaksi lewat intervensi pemilik melalui "agenda setting" namun corak industri media juga mengakibatkan terjadinya uniformitas isi media karena prinsip pasar dan mengejar rating.
Dalam konteks tersebut, kata dia, pemusatan kepemilikan tersebut bisa jadi disebabkan oleh tidak tegasnya regulator.



"Lembaga penyiaran publik seperti TVRI dan RRI seharusnya menjadi pilihan untuk mengimbangi media swasta baik dalam sisi konten maupun jangkauan penyiaran sehingga saat industri media mengedepankan aspek komersil dari pemberitaan, penyiaran publik harusnya bisa tampil lebih strategis dan bebas dari kepentingan modal dan berpihak ke publik," katanya.
Aspirasi publik yang tidak tertampung di media arus utama mendorong munculnya media komunitas dan media online alternatif meskipun pada perkembangannya terhambat oleh regulasi yang kurang mendukung.
"Internet sebagai salah satu harapan bagi partisipasi warga dalam bermedia melalui jejaring sosial dan blog juga terhambat oleh ketidakmerataan infrastrukturnya yang masih terpusat di Indonesia bagian Barat," katanya.



Riset CIPG dan HIVOS menegaskan bahwa pemerataan infrastruktur media dan penguatan institusi media publik adalah sarana untuk mengembalikan ruang publik dalam bermedia.
"Tentu saja hal ini perlu di dukung oleh pemerintah lewat kebijakan media yang memadai dan juga keterlibatan masyarakat dalam menuntut haknya dalam bermedia," katanya.

http://id.berita.yahoo.com/peneliti-12-grup-media-besar-kuasai-indonesia-151410514.html

Renungan Harian Kristen: Memberi Dengan Tulus (Tentang Persepuluhan)

Renungan Harian Kristen: Memberi Dengan Tulus (Tentang Persepuluhan): Alkitab berkata, " Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan di...

KRISTOLOGI DAN YESUS SANG PEMBEBAS:sebuah artikel

Kristologi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Kristologi adalah cabang ilmu teologi yang membicarakan tentang posisi Yesus Kristus di dalam agama Kristen.[2] Makna Kristologi bagi umat Kristiani selalu berkembang dari masa ke masa, dan tidak pernah mengalami tahap selesai, karena selalu dihubungkan dengan konteks umat Kristiani oleh para pemikirnya.[3][4][5]Makna kehadiran Kristus bagi orang Kristen diyakini sebagai pemelihara dan penyelamat dunia terkait dengan setiap persoalan hidup.[6] Tema-tema seperti feminisme, Teologi pembebasan atau kemerdekaan adalah tema-tema yang saat ini sedang populer pada zaman modern, di mana umat Kristen terus merenungkan makna Kristus itu.[6] Tema-tema itu disebabkan adanya penindasan oleh perang, "eksklusivisme", kesenjangan sosial di masyarakat, dan sistem negara yang terkadang tidak adil pada seluruh ciptaan, termasuk alam.[7][5] Kristologi yang dihayati dalam kondisi alam yang rusak karena pemanasan global disebut Kristologi Ekologi.[8][9] Kristologi yang berfokus pada seluruh ciptaan disebut Kristologi Kosmik.[9] Bahkan Yesus Kristus diuraikan diberikan delapan belas gambaran terkait dengan budaya adat-istiadat yang terus berubah.[5]

 Kristologi dalam Ilmu Teologi

Dalam pembagian cara lama dan ilmiah, Kristologi dimasukkan dalam rumpun Teologi Sistematika-Dogmatika.[2].[10][4] Kristologi bagi umat Kristen merupakan penyataaan (wahyu) Allah kepada manusia melalui kedatangan Kristus.[7] Kata 'Kristologi' berasal dari bahasa Yunani, Χριστός= kristos = Kristus dan λόγος =logos = logi = kata-kata = ilmu, singkatnya; Ilmu tentang Kristus, pembicaraan tentang Kristus ini terkait dengan umat Kristen memahaminya dalam kehidupan sehari-hari; Yesus pada masa lampau hingga masa kini, selama perjalanan itulah maka terus digeluti karena masih relevan dengan masalah-masalah di setiap zaman.[2] Kristologi dan ajaran Trinitas tidak dapat dipisahkan satu terhadap yang lainnya, baik dalam sejarah, sistematika dan dogmatika.[11][10] Selain itu, aspek penting lain yang menyertai pembicaraan ini adalah mengenai keselamatan atau soteriologi.[2]
Pembicaraan tentang Kristus ini merupakan ajaran Kristen yang memercayai Yesus Kristus sebagai Tuhan.[12] Perdebatan tentang Ketuhanan Yesus juga masih berlangsung sampai saat ini.[4][6] Hal ini tampak dalam perdebatan seputar paham Trinitas (Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus) yang berbeda-beda.[4] Perdebatan tersebut paling tampak dalam pemikiran Ireneus, Tertulianus dan Origenes.[3][4] Perdebatan tentang keilahian mengenai kemanusiaan Kristus dan Keilahian Kristus terus terjadi.[13] Setidaknya bisa kita ketahui dari uraian seorang tokoh besar Gereja Katolik Roma, Karl Rahner pada tahun 1960an yang menguraikan Yesus adalah seratus persen Allah dan seratus persen manusia.[13] Di Indonesia, kita bisa membandingkan pendapat dua orang teolog saat ini, Joas Adiprasetya dalam bukunya Berdamai dengan Salib yang menggugat Ionaes Rahmat dalam buku Soteriologi Salib.

Kristus sebagai Mesias


Melalui pendekatan biblis atau Hermeneutika Alkitab, ditemui sebutan bahwa Yesus adalah Mesias.[6] Hal ini diperoleh dari Alkitab, khususnya dalam Perjanjian Baru (Bahasa Yunani; Kristus) yang pada Perjanjian Lama disebut Mesias (Bahasa Ibrani.[6]

[sunting] Mesias dalam Perjanjian Lama

Mesias dalam Perjanjian Lama berarti keluarga Daud, raja yang selalu berjaya digantikan Mesias dalam Perjanjian Baru menjadi raja yang dibangkitkan dari kematian.[6] Raja kerajaan yang gilang gemilang pada masa akhir dan lambat laun akan menjadi pemimpin religius, bukan pemimpin politik.[14]
Kata "Kristus" memiliki arti yang sama dengan Mesias yang artinya adalah "Yang Diurapi".[14] Di dalam ajaran Kristen, kelahiran Yesus juga sudah dinubuatkan semenjak zaman nabi-nabi dalam Alkitab Perjanjian Lama: Natan, Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, Hagai dan Zakharia.[14] Mesias di dalam Perjanjian Lama dinanti oleh orang Israel untuk memulihkan bangsa Israel dari berbagai masalah, terutama politik.[14] Jadi hadirnya Mesias adalah sebagai "solusi" dalam masa krisis; Masa Israel ditawan oleh bangsa-bangsa lain.[14]

Mesias dalam Perjanjian Baru

Dari berbagai istilah tentang Kristus pada orang-orang pada masa Awal Masehi sudah beragam. [6] Informasi lain, Yesus disebut sebagai Mesias dari Israel, Mesias adalah Kristus disebutkan Paulus sebanyak 270 kali dan variasi nama Yesus Kristus atau Kristus Yesus sebanyak 109 kali.[7] Nama itu menunjuk pada : Allah, Tuhan atau kata ganti yang menjurus pada Allah.[7]

Ia bertanya pada mereka, "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?"
Petrus menjawab, "Engkau adalah Mesias (bahasa Inggris: You are The Christ.)

Demikian juga kata Marta dalam Injil Yohanes:

Engkau adalah Mesias, Anak Allah, Dia yang datang ke dalam dunia


Injil Yohanes dilihat sangat khusus dalam pandangan Kristologi, bahwa Firman atau λόγος, Allah sendiri menjadi manusia, dalam wujud Kristus.[12] Di sini dijelaskan bahwa Kristus yang adalah Yesus itu adalah Allah sendiri, Ketuhanan Yesus merupakan pusat Teologi Perjanjian Baru, menurut Miller, "Yesus adalah Allah".[12]

Kristologi dari Zaman ke Zaman

Abad Pertama Masehi (Kristologi menurut Perjanjian Baru)

Kristologi yang ditemukan dari Injil berpusat pada sejarah kehidupan Yesus dalam tindakan-tindakannya.[6][7] Hal tersebut dapat dilihat melalui beberapa pernyataan tokoh-tokoh di dalam kitab-kitab Perjanjian Baru: .[6][7] Jawaban-jawaban tentang siapa Yesus, adalah sebagai berikut:[7]
*         Paulus : Yesus adalah Kristus yang disalibkan dan dibangkitkan.[7]
*         Markus : Yesus adalah Mesias.[7]
*         Matius : Yesus adalah Musa baru, pengajar hukum baru.[7]
*         Lukas : Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, adalah Juru Selamat semua orang.[7]
*         Yohanes - Yesus adalah Sabda Allah yang menjelma sebagai manusia.[7]
Yesus pada zaman-Nya dikenal sebagai orang Nazaret yang bertindak revolusioner, sebagai orang Yahudi yang melampaui Hukum Taurat.[6] Dari ajaran-ajarannya itulah, orang-orang (Kristen) dari zaman Perjanjian Baru hingga saat ini mempercayai-Nya sebagai Tuhan.[6]

Kristologi Abad 2 - 11)

Pada abad kedua, Kristologi belum terlalu diperdebatkan, namun sudah terdapat banyak pertanyaan ontologis tentang Ketuhanan Yesus.[6] Masyarakat waktu itu ingin sekali mengetahui siapa Yesus sebenarnya, dalam kaitannya dengan Allah.[6] Kemudian secara hakekat, terdapat tokoh bernama Arius yang mengatakan bahwa Allah tetap Allah, dan hanya ada satu, Allah tidak mungkin ada bersatu (sehakikat) dengan sesuatu yang terbatas. Menyebut Yesus "Anak Allah" sama artinya menghujat Allah karena yang ilahi dan tak terbatas disatukan dengan yang jasmani dan terbatas.[6]

Kristologi-Logos

Kristologi-Logos ini terdapat dalam Injil Yohanes 1:1-4 bahwa fungsi logos ada dua: kosmomologis yaitu sebagai penciptaan dan revelatoris-soteriologis yang artinya Penyelamat melalui Pewahyuan.[10] S. Ignasius dari Antiokhia menyebutkan Yesus "Sang Logos" yang mana Logos (sabda) itu tidak lagi berdiam diri, melainkan menyatakan diri untuk menyelamatkan.[10] Jadi bagi Ignasius, Sabda adalah keseluruhan tujuan komunikasi, revelatoris-soteriologis, bukan fungsi kosmologis.[10] Ajaran Kristologis-Logos ini ada dua, yaitu yang klasik dan yang modern.[10]

[Arianisme

Arianisme adalah ajaran yang dikeluarkan oleh Uskup Arius pada tahun 300.[10] Dister menganggapnya sebagai kecenderungan manusia untuk mempersempit misteri Allah.[10] Arius menganggap Yesus sebagai ciptaan saja, walaupun paling agung, hal ini dipengaruhi dengan gambaran Allah pada dirinya, lalu dia menyimpulkan "Yesus bukan Allah".[10]

Nestorianisme

Nestorianisme adalah ajaran yang dikeluarkan oleh Uskup Nestorius pada tahun 400.[10] Menurut Nestorius, Putra Allah di surga dan manusia Yesus di bumi bukanlah satu pribadi yang sama, melainkan dua pribadi.[10] Keduanya memang berkaitan satu sama lain, tapi toh tinggal tetap dua.[10] Akal budi manusia ingin mempertahankan gambaran Allah yang "murni", surgawi dan rohani.[10] Maka Allah Putra dipisahkan dari Yesus yang pernah berkeliling di dunia ini.[10]

Monofisitisme

Monofisitisme adalah ajaran yang meyakini bahwa Yesus hanya satu kodrat, yaitu ilahi.[10] Monofisit berasal dari Bahasa Yunani, νόμος yaitu satu, dan φύσης berarti kodrat, jadi Kristus hanya memiliki satu kodrat, hal ini bertentangan dengan Nestorianisme.[10] Yesus yang berjalan-jalan di bumi sebenarnya adalah Allah, kemanusiaan Yesus dianggap hanya semu saja.[10]
Kristologi pada Abad 4 dan 5 Masehi di mana Konsili Nikaia (Nicea), Efesus dan Khalsedon adalah doktrin Kristus yand dirumuskan pada tiga konsili itu.[6] Konsili Nicea, Efesus dan Khalsedon adalah upaya untuk membela iman mereka dari berbagai pengajaran di atas.[10]

Konsili-Konsili


Konsili Pertama Nicea
Konsili Nicea (325) Dalam Konsili Nicea, para uskup dari Timur memutuskan bahwa sebutan Allah digunakan bukanlah untuk kehormatan saja.[6] Dalam Syahadat Nicea yang masih didaraskan dan dinyanyikan gereja dewasa ini, Yesus diakui sebagai "Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah benar dari Allah benar; dilahirkan, bukan dijadikan, sehakekat dengan Bapa." [6] "Jika syahadat ini tidak benar, kita tidak akan diselamatkan oleh Yesus." Demikian kata mereka. [6] Konsili Nicea memelihara Gereja dari bidaah Arianisme.[10] Yesus dari Nazaret, Sang Kristus, Allah betul-betul menyatakan diri di bumi kita ini.[10] Konsili Kontantinopel pada tahun 281 juga berpikir demikian, Para Uskup dari Timur berpikir bahwa kita (umat Kristen) diselamatkan oleh Allah yang mengambil sepenuh-penuhnya apa yang menjadi sifat kodrat manusia.[6] Jika ada sesuatu yang tidak diambil dalam penjelmaan, maka sesuatu itu tidak ditebus.[6] Maka, Yesus benar-benar seutuhnya manusia menjadi kebenaran yang menyelamatkan.[6] Maka Konsili ini meneguhkan pandangannya dalam Syahadat Nicea Konstantinopel
Namun di lain pihak ada beberapa orang yang cenderung menekankan keilahian Yesus sehingga mereka tidak melihat bahwa ia benar-benar manusia.[6]

Sebab Ia makan, bukan untuk keperluan tubuh, yang kesegaran dan keutuhannya dijaga oleh suatu daya kekuatan suci, tetapi untuk keperluan agar mereka yang ada bersama-Nya tidak mempunyai pikiran yang lain tentang diri-Nya



Tuhan kita merasakan beratnya tekanan penderitaan tetapi tidak merasakan sakitnya; paku-paku menembus daging-Nya seperti suatu benda melewati udara tanpa rasa sakit



Barang-barang pertengahan terbentuk ketika sifar-sifat yang berbeda digabungkan menjadi satu dalam satu barang, misalnya sifat-sifat keledai dan kuda dalam bagal (peranakan keledai), dan sifat-sifat warna putih dan hitan dalam warna abu-abu. Akan tetapi, dalam makhluk pertengahan sifat-sifat yang berbeda-beda itu tidak berada sepenuhnya, tetapi hanya sebagian-sebagian saja; jadi, Ia bukan sepenuhnya manusia dan bukan pula sepenuhnya Allah, melainkan pembauran Allah dan manusia
—Uskup Apollinarius

Konsili Efesus Konsili Efesus tahun 431 memelihara gereja dari bidaah Nestorianisme. [10] Konsili Efesus mewartakan bahwa - betapapun besarnya kodrat Ilahi dan kodrat insani - hanya ada satu pribadi saja dalam Yesus Kristus, di dalam manusia Yesus kita menemukan Allah.[10] Untuk mengungkapkan misteri Kristus ini dengan setegas-tegasnya, maka Konsili Efesus memberikan gelar Teotokos kepada Maria, artinya "Bunda Allah".[10]

Menurut Konsili Khalsedon Konsili Khalsedon tahun 451 memelihara gereja dari bidaah monofisitisme.[10] Jika Nestorianisme mengatakan satu pribadi Yesus hanya Ilahi saja, maka Konsili Khalsedon mengggarisbawahi kemanusiaan Yesus dengan menegaskan bahwa dalam diri Yesus yang satu dan tunggal itu hadirlah bukan saja kodrat ilahi, tetapi juga kodrat insani seluruhnya.[10] Di dalam manusia yang sungguh-sungguh, nampak pula Allah yang sungguh-sungguh.[10] Sama luhurnya dengan Allah yang dekat, tergerak oleh belas kasihan, berjuang melawan kejahatan.[10] Di sini, keilahian dan kemanusiaan Yesus tidak tercampur, tidak tergantikan, tidak terpisahkan, tidak terbagi, hal ini nanti diteruskan oleh Karl Rahner.[15] Jadi, Yesus adalah simbol Allah, kata Roger Haight.[15]
Dari ketiga pernyataan Magisterium Gereja mengenai kristologis, maka misteri Allah menjadi terbuka, tidak dipersempit oleh akal budi, orang Kristen menemukan inti sari misteri Allah yang sebenarnya.[10] Hati manusiawi Yesus itu hati Allah.[10]

Abad Pertengahan - Reformasi

Selama Abad pertengahan hingga masa reformasi, ajaran tentang Kristus tidak terlalu banyak berubah, ditandai dengan tafsir filsafat saja oleh orang-orang Yunani.[16] Luther dididik dalam teologi Skolastik, namun berkat pengajaran yang ia terima dari Bapa Gereja Agustinus, dia kemudian merencanakan sebuah perubahan besar.[16] Ia menolak Skolastik bukan karena metodenya, namun karena isi ajarannya.[16] Dengan Roma 1:16-17 dia menemukan "Keadilan Allah" (iustitia Dei)di mana menurutnya sudah tidak ada lagi pada Gereja Roma.[16] Keadilah Allah adalah bahwa setiap manusia dihukum sesuai dengan perbuatannya, namun diselamatkan oleh kasih karunia Allah di dalam Kristus.[16] Pengakuan tertinggi bahwa Kristus yang benar itu mampu menyelamatkan manusia yang berdosa sebagai ajaran yang tertinggi.[16]

Modern

Teologi memang selalu mengikuti perkembangan, tidak komprehensif namun framentaris, kontekstual, multikultural, dapat diterima oleh budaya setempat.[17] Teologi Kristen yang berpusat pada kristologi juga demikian, perjumpaan dengan Kristus selalu dialami dalam konteks tertentu, mengindahkan kenyataan hidup umat (Kristen) yang dilayani yang berada dalam pluralisme konteks.[17]
Kristologi dalam perjumpaan dengan umat beragama lain dapat membantu umat Kristen membaca Kristus dengan lebih luas, Kristus dalam Filipi 2:7-8 menyatakan Kristus sebagai manusia, bahkan hamba.<[17] Ini komentar dari umat Buddha di Srilanka.[17] Dari Umat Islam, Kristus adalah Nabi, mengikuti Yesus berarti mengikuti nabi dan hidup profetis, menjadi saksi Allah dalam berbela rasa terhadap penderitaan mansuia.[17] Kristus bukan milik ekslusif Gereja lagi, namun terbuka bagi kehidupan universal.[17]

Isu-isu pada zaman modern yang harus dijawab oleh Teologi (Kristologi) sangat beragam, pluralisme, ke[miskin]]an, perang, penderitaan, bencana alam dsb.[17][18] John Hick mengutip pandangan Knitter tentang keunikan Yesus dalam lima hal; 1. Agama lain mungkin juga menjadi bagian dari karya Allah yang ingin menyelamatkan manusia, namun tidak senyata-nyata seperti Kristus, agama lain lebih pada kemungkinan-kemungkinan atau probabilitas.[18] 2. Dalam dialog antar iman: Kristus sebagai wahyu sangatlah kuat, bahkan terus membuka ruang untuk didiskusikan.[18] 3. Allah sungguh-sungguh berkarya dalam Kristus[18] 4. Kristus Memedulikan keadilan sosial, dan di sini kasih Kristus dilihat secara hubungan mutualis karena kasih-Nya dibutuhkan dalam situasi ini, yaitu sebagai [Teologi Pembebasan|pembebas]].[18] Dalam pandangan Yesus sebagai Anak Allah adalah Juruselamat secara universal.[18] 5. Tuhan sebagai muara akhir yang transenden dan misteri, hal ini melengkapi kriteria Tuhan yang tidak bisa dijangkau manusia.[18] Kristologi sangat bersifat soteriologis kontekstual yang membangun suatu komunitas manusiawi antar iman.[17] Kristologi juga ditemukan dalam Christo-Praxis dan Christo-doxi yang terus menerus dan kontekstual.[19] Di sini Kristologi dihadapkan pada mamon yaitu kekuatan materialisme yang membawa kehidupan berpusat pada harta benda.[19]

Krsitologi Feminis

Kristologi Feminis adalah Kristologi yang memakai pendekatan feminis, yakni dari kacamata ketidakadilan, penindasan dan penderitaan.[17] Kristologi ini dibagi menjadi dua; di Barat disebut Kristologi ekofeminis dan di Timur disebut Kristologi feminis Kosmis.[17] Allah umat Kristen yang selama ini didominasi oleh kaum laki-laki karena dalam diri Yesus yang laki-laki kemudian digeser menjadi Kristus yang menyimbulkan keduanya.[17] Kata logos yang tadinya dalam Injil Yohanes 4:1-42 adalah maskulin yang menjadikan kecenderungan patriarkal, maka dipahami sebagai sofia dalam perspektif feminis.[17] Hal ini diperoleh dari kehidupan Yesus yang sangat menghargai kaum perempuan, dalam karya-karyanya, bahkan ketika Dia bangkit, perempuanlah yang pertama kali melihat kuburnya yang kosong.[17] Simbol sofia digunakan oleh Paulus untuk menggambarkan Yesus sebagi hikmat Allah dalam I Korintus 1:24[17] Kristologi feminis-kosmis mengajak umat Kristen untuk mendengarkan korban ketidakadilan dan menginternalisasikan jeritan itu menuju praksis solidaritas.[17]

Dimensi Kristologi

Ketuhanan Yesus (Keilahian Kristus) "Yesus adalah Tuhan", hal ini diyakini umat Kristen dan Katolik.[13] Ini problem terbesar bagi orang Kristen ketika diperhadapkan dengan orang-orang beragama lain.[13] Inilah yang membedakan umat lain, sebab tidak sama dengan tokoh-tokoh panutan agama lain seperti Krisna, Muhammad, Sang Budha, Konfusius atau Lao Tse.[13] Namun Yesus Kristus diyakini umat Kristen sebagai satu-satunya jalan keselamatan. [13] Keilahian Kristus adalah hakekat Kristus sebagai Tuhan. Sebutan "Tuhan Yesus" dimulai dari teologi di negara-negara Barat. "Jesus Lord" diartikan Tuhan Yesus.

[sunting] Kemanusiaan Yesus


Yesus manusia dari Buku Imanuel karya Tom Jacobs
Pada abad-abad pertama dan kedua, Bapa-bapa Gereja lebih memikirkan hakekat keilahian Kristus, tidak terlalu dijelaskan tentang kemanusiaan-Nya.[11]Seperti yang diyakini oleh Athanasius yang mengakui jiwa Kristus, namun tidak benar-benar meyakini kemanusiaan Kristus, dia berpusat pada soteriologi melalui logos itu.[20] Namun pembicaraan dalam masyarakat sangatlah kuat akan hakekat, yaitu "se-hakekat" (homo-usios), atau serupa hakekatnya (homoi usios), atau serupa saja (homoios)[20] Pernyataan pertama oleh Konstantinopel, dengan filsafat Yunani, bahwa Kristus tidak akan bisa menyelamatkan manusia sebagai Allah, kalau dia tidak juga menjadi manusia.[16] Hal ini bertolak dari Injil-Injil yang menceritakan Yesus sebagai manusia.[16] Jadi manusia sebenarnya dapat diilahikan melalui persatuan dengan Kristus melaui Perjamuan Kudus.[16]Namun paham ini segera ditolak oleh seseorang bernama Apollinaris dari Laodikia (meninggal kira-kira 390 M.) yang menyatakan bahwa dalam kemanusiaan Kristus Logos ilahi menggantikan akal budi manusiawi, dan mengurangi kemanusiaan dalam Kristus.[16] Namun ia segera menyadari bahaya yang memporak-porandakan kesatuan keila-hian dan kemanusiaan Kristus. Sebagai seorang yang teguh mempertahankan konfesi Nicea dan teman seperjuangannya Athanasius. Dia menolak hakekat Kristus sebagai manusia.[11] Namun kayakinan ini nanti akan mengalami penentangan oleh Konsili-konsili (Efesus dan Khalsedon)yang mengutuknya, sehingga pengikutnya kembali ke gerja resmi dan sebagian mengikuti dalil monofisitisme.[11][21] Ajarannya disebut oleh Gereja Roma dekat dengan doketisme.[21] Ajaran ini dikuatirkan oleh Konsili Khalsedon dengan alasan jika Kristus tidak sepenuh-penuhnya manusia, maka mustahil manusia dipersatukan dengan Allah. Sejarah gereja Oleh [22] Nestorius dari Cyrillus juga tidak mengakui hakekat kemanusiaan Kristus, apalagi ada sebutan Bunda Allah bagi Maria, hal ini tidak masuk akal banginya.[22] Jika Yesus melakukan tindakan yang penuh kuasa (mujizat) maka sebenarnya yang bertindak adalah Allah, jika Yesus sengsara dan mengalami mati, maka dia adalah manusia.[22] Namun hal ini bukanlah merupakan keesaan, melainkan keduaan, sebab hakekat mereka tidaklah sama.[22] Yang sama antar Yesus dan Allah adalah kehendaknya, sebab Merek berkasih-kasihan, katanya.[22]
Maka untuk meredam semua perdebatan yang sudah sangat memuncak ini, diadakanlah Konsili Khalsedon di seberang Konstantinopel, dengan pernyataan:[22]
Kristus bukan bertabiat satu (Alexandria) namun juga bukan bertabiat dua (Antiokhia) melainkan, "Ia bertabiat dua dalam satu oknum", kedua tabiat ini "tidak bercampur dan tidak berubah" (melawan Eutyches) dan "tidak terbagi dan tidak terpisah" (melawan Nestorius) Dengan demikian Gereja mengaku bahwa sebenarnya keadaan Yesus Kristus itu tinggal satu rahasia yang tidak dapat dipahami oleh akal budi manusia

Pendamaian Kristus

Pendamaian Kristus berarti Kristus sebagai pendamai antara Allah dengan manusia.[23] Pendamaian ini diperlukan karena hubungan manusia dan Allah sudah putus disebabkan dosa-dosa manusia.[21] Antara Allah yang kudus dan manusia yang berdosa terdapat jarak yang memisahkan.[21] Jadi Kristus diutus untuk datang ke dunia, sehingga hubungan itu bisa dipulihkan.[21] Makna Kristus sebagai Sang Pendamai dilalui dengan peristiwa penyalibannya di bukit Golgota.[21] Dari peristiwa inilah Kristologi terkait pendamaian yang dilakukan Kristus di kayu salib dibicarakan.[23][21]

[sunting] Kristus Sang Pembebas

Kristus Sang Pembebas adalah makna yang selalu hadir terkait dengan penderitaan yang ingin dientaskan oleh Kristus.[24] Mulai dari istilah Mesias dalam Perjanjian Lama dan Kristus dalam Perjanjian Baru, selalu dikaitkan sebagai pembebas.[24] Kematian Kristus di kayu Salib adalah wujud tindakan Allah untuk menebus dosa manusia terkait akibat dosa yaitu maut.[24][25]

Tokoh-tokoh Kristologi

Para pemikir yang menghuni pada 'ruang' pemikiran Kristologi ini sangat banyak, terbentang dari Bapa-bapa Gereja abad kedua, Abad ke empat, reformasi bahkan hingga sekarang.

Anselmus dari Cantebury

Anselmus adalah [teolog]] dan filsuf yang hdip pada Abad Pertengahan.[21] Berasal dati Italia, terkenal dengan pemikiran Skolastisismenya. [21] Karya yang paling terkenal berjudul [[Cur Deus Homo (Mengapa Allah menjadi Manusia).[21]Di dalam konteks sosiologis feodalisme, Anselmus menelaah mengapa Allah menjadi manusia dan harus mati untuk menyelamatkan kita? Sebab, tidak adalah cara lain untuk meyelamatkan? [6][21] Menurut Anselmus, bahwa Yesus Kristus wafat untuk melakukan silih (ganti) atas dosa; tanpa penyilihan itu tatanan alam semesta akan kacau balau untuk selamanya.[6][21] Dengan jalan itu, baik keadilan, anugerah maupun kasih Allah dipenuhi dan disempurnakan.[21] Anselmus memulai teologinya dari keyakinannya bahwa seseorang bisa berteologi hanya setelah dia beriman [21] fides quarens intellectum. Iman ini mencakup sikap iman fides qua creditur maupun isi iman fides quae creditur. [17] Dengan demikian, obyek teologi sebenarnya adalah peristiwa perjumpaan dan komunikasi Allah dan manusia berlangsung melalui Yesus Kristus dalam Roh Kudus merupakan realitas dinamik yang terus berlangsung di seluruh sejarah Gereja.[17]

Thomas Aquinas (1225-1274)

Thomas Aquinas adalah tokoh Skolastik yang terbesar di abad pertengahan dari Italia.[21] Ia adalah seorang Katolik yang saleh, mengenyam pendidikan di berbagai sekolah Katolik dan mengajar Filsafat dan Teologi di Paris.[21] Pemikirannya tentang kodrat manusia adalah, bahwa manusia menjadi tidak sempurna ketika jatuh dalam dosa, dan diselamatkan Allah melalui rahmat adikodrati yang ditawarkan Gereja.[21]

Martin Luther (1483-1546)

Martin Luther adalah seorang imam Katolik di Jerman pada era Reformasi, dialah yang membawa pembaharuan agama, sehingga Gereja Lutheran terbentuk.[21] Ajarannya tentang Kristus adalah bahwa setiap orang Kristen tidak bebas dari Kristus, melainkan bebas dalam Kristus.[21]

[sunting] Yohanes Kalvin (1509-1564)

Yohanes Kalvin adalah seorang pemimpin reformasi gereja di Swiss.[21] Dia dilahirkan di kota Noyon, Perancis. Dia ahli hukum dan teologi, dia banyak membantu gereja di Jenewa ketika reformasi, dia djuga dikenal dalam sumbangannya terhadap pembaharuan Mazmur Jenewa.[21] Seperti halnya Luther, dia mengajarkan bahwa manusia dibenarkan hanya oleh iman atau Sola Fide.[21] Keselamatan didapat dari Allah sebagai karunia di dalam Kristus.[21]
Terkait dengan dalilnya dalam Trinitas, yaitu Bahwa Allah Bapa sebagai asal perbuatan, Putera sebagai asal dari hikmat, maksud dan kehendak dan Roh Kudus sebagai kekuatan dan dorongan untuk berbuat..[26] Tidak satu pun dari ketiga oknum ini bekerja sendirian.[26]
Tabiat Kristus; Keallahan-Nya dan kemanusian-Nya sangat dipertahankan oleh Kalvin, Kristus adalah perantara bagi manusia.[26] Kristus adalah benar-banar Allah.[26]
Dalam diri Kristus, seolah-olah Allah memperkecil Diri-Nya untuk dapat mendapatkan daya mengerti manusia yang picik itu
[26]
Tujuan tertinggi kemanusiaan Kristus ialah:
Tuhan Yesus telah mengenakan diri Adam, telah memakai nama-Nya untuk sebagai gantinya taat kepada Bapa, untuk menyerahkan daging tubuh kita selaku korban bagi pemenuhan penghakiman Allah yan gadil dan dalam dagin gitu melunaskan hukuman, yang seyogyanya kita yang menerimanya. Pendeknya, andaikata Ia Allah saja, tak mungkin Ia dapat mati, dan andaikata Ia hanya manusia, tak dapat Ia mengalahkan maut. Itulah sebabnya Ia telah mempersatukan tabiat [insani]] dan Ilahi dalam diri-Nya, untuk menyerahkan tabiat insani yang tak berdaya itu kepada maut dan untuk dengan tabiat Ilahi-Nya bergumul daengan maut dan memperoleh kemenangan bagi kita, demi untuk menebus dosa manusia
[26]
Perbedannya dengan Luther adalah penghargaan terhadap kemanusaiaan Yesus itu, bahwa kehadiran dalam Perjamuan Kudus secara transubtansiasi merendahkan kemanusiaan Kristus.[26]

Karl Rahner (1904-1984)

Karl Rahner dilahirkan di keluarga Katolik Bavaria - Jerman Barat, terdidik dalam ketaatan.[13] Pada Perang Dunia II tidak dikenal, namun tahun 1960 pada Konsili Vatikan II menjadi pusat perhatian dalam teologi modern.[13] Teologinya dianggap sebagai aliran neo-skolastisisme yang dipengaruhi Aquinas.[13] Karl Rahner dalam berkristologi ingin menekankan pada "sesuatu" yang berasal dari dialektis (perjumpaan) antara simbol dan penyimbolan, terkhusus pada simbol Yesus.[15] Simbol menurut Rahner adalah "sesuatu yang menjadi perantara sesuatu lain dari dirinya sendiri.[15] Petunjuk penting adalah bahwa Yesus adalah benar-benar dari Allah untuk dunia.[15] Kristologi Thomas Aquinas yang berpusat pada inkarnasi Allah pada diri Yesus.[27] Karl Rahner menyebutnya, Yesus sebagai "Tuhanku dan Allahku".[27] Melalui teori simbol (Yunani : σύμβολο) bahwa melalui yang ada saat ini, maka kita bisa mendapati yang lain.[28] Melalui kemanusiaan Kristus yang terbatas, kita mendapati Allah yang tak terbatas.[13] Bagi Rahner, Kedatangan Kristus bukan karena semata-mata harus mengampuni dosa manusia, melainkan karena rahmat.[28] Seandainya Adam tidak berdosa, Rahner mengandaikan Kristus tetap akan datang kedunia, meninggal, dan bangkit kembali.[28] Rahner tidak menolak kenyataan atau daya tarik dosa dan kejahatan, ia juga tidak menyangkal bahwa inkarnasi, salib, dan kebangkitan kembali berkaitan dengan pengampunan dosa.[13] Tetapi itu semua bukanlah pokok persoalannya; Kristus tidak bisa dilihat hanya sebagai obat bagi dosa-dosa kita.[28] Dosa, seperti yang dilihat oleh Rahner, tidak bisa menjadi motor penggerak cerita tentang keterlibatan Allah dengan dunia.[13]
Kristologi Rahner sebenarnya bertolak dari Konsili Khalsedon.[13] Kristologi yang dirumuskan pada akhir masa perjuangan politik, gereja sehingga dapat diterima sebagian besar perserta Konsili, di mana dalam Kristus ada kemanusiaan dan keilahian secara bersamaan.[13] Kristus dan rahmat menjadi pemikiran yang cemerlang dari Karl Rahner, Allah bisa dilihat dari kemanusiaan Kristus dan bermula dari kemanusiaan 'kita'.[28] Di sinilah perbedaan kristologinya dengan Karl barth.[13] Menurut Barth, Allah tidak bisa dikenal dari sekadar membicarakan manusia.[28]

Karl Barth (1886-1968)

Karl Barth adalah teolog dari Swiss pada era reformasi di abad 20, dia membawa pembaharuan yang besar dari teologi abad 19.[21] Dia belajar teologi di Jerman.[21] Teologinya disebut dialektis, sebab berawal dari Allah yang ada di Sorga dan suci, dia mengirimkan Kristus yang begitu dekat di dunia yang hina, sehingga pertemuan dua hal yang bertentangan ini disebut dialektis.[21]
Kristologi Barth dimulai dari pre-eksistensi Kristus, Kristus menjadi sentral teologinya.[21] Tuhan Allah menyatakan anugerahnya dalam Kristus sekaligus mengikatkan diri-Nya pada Kristus.[21] Pemulihan manusia ditentukan pada pemilihan Tuhan Allah terhdap Kristus, Allah memilih Kristus sekaligus Tuhan Allah memilih manusia sebagai sekutu-Nya.[21]

Gustavo Gutierrez

Gustavo Gutiérrez Merino, O.P. (lahir di Lima, Peru, 8 Juni 1928; umur 82 tahun) adalah seorang teolog Peru dan imam Dominikan, Amerika Latin.[24] Dalam bukunya yang sangat terkenal Teologi Pembebasan terjemahan dari judul asli Liberation of Theology tahun 1971, dia meyatakan bahwa penindasan oleh kapitalisme harus dilawan.[24] Bagi dia, Amerika Latin lebih membutuhkan pembebasan dibanding pembangunan.[24] Kristus harus dimaknasi sebagai pembebas dari segala penindasan dan ketidakadilah yang sedang berlangsung.[24] Sebelum Gutierrez juga telah ada seorang martir yang menerbitkan buku yang isinya sangat kotroversi, yaitu Imam Kolumbia Camillo Torres yang menyatakan bahwa "setiap orang Katolik yang tidak revolusioner hidup dalam dosa dan layak dihukum mati".[24] Banyak buku-buku yang diterbitkan pada zaman Gutierrez ini bertema tentang pembebasan.[24]
Kristologi pembebasan memiliki landasan yang kuat berakar pada pemahaman bahwa Kristus adalah Sang pembebas.[24] Pembebasan tersebut dilihat sebagai wujud kesatuan dengan Yesus Kristus sebagai Pembebas, wujud penyembahan kepada Allah yang mendengarkan jeritan umat-Nya dan menghendaki keadilan.[25]
Teologi Guiterrez bisa kita lihat dalam salah satu kutipan berikut ini: [25]

Berlaku adil berarti menjadi setia pada perjanjian. Kesetiaan berarti kekudusan. Keadilah dalam Kitab Suci adalah pengertian yang membawa bersama relasi dengan kaum miskin dan relasi dengan Allah. Hanya dalam jalan ini dicapai kekudusan. Setia pada perjanjian berarti mempraktekkan keadilan yang berlaku dalam tindakan Allah yang membebaskan kaum tertindas

Lihat Pula

*       Trinitas
*       Teologi Sistematika
*       Teologi Pembebasan
*       Konsili

Referensi

1.                              ^ Who do you say that I am? Essays on Christology by Jack Dean Kingsbury, Mark Allan Powell, David R. Bauer 1999 ISBN 0-664-25752-6 page xvi
2.                              ^ a b c d (Indonesia)C Groenen., Pustaka Teologi Sejarah Dogma Kristologi,Yogyakarta: Kanisius, 1998
3.                              ^ a b (Indonesia) Louis Berkhof., Teologi Sistematika - Doktrin Allah, Surabaya: Pusat Literatur Kristen Momentum (LRII) 1993
4.                              ^ a b c d e Nico Syukur Dister., Teologi Sistematika - Allah Penyelamat, Yogyakarta: Kanisius, 2004
5.                              ^ a b c (Inggris)Jaroslav Pelikan., Images of Christ: His Place in The History of Culture, New Haven, CN: Yale University Press, 1985
6.                              ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x (Inggris)Johnson. Elizabeth., Kristologi di Mata Kaum Feminis,Yogyakarta: Kanisius, 2003
7.                              ^ a b c d e f g h i j k l (Inggris) Martin Hengel., Studies in Early Christology, Scotland: T&T Clark Ltd, 1995
8.                              ^ Celia Drummond Deane., Teologi Dan Ekologi, Yogyakarta: BPK Gunung Mulia, diterjemahkan oleh Robert P. Borong- Cetakan ketiga 2006
9.                              ^ a b (Indonesia)J Sudarminta. dkk., Dunia, Manusia dan Tuhan, Yogyakarta: Kanisius 2008 Hlm. 42-44
10.                          ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z aa ab ac (Indonesia)Nico Syukur Dister., Kristologi - Sebuah Sketsa, Yogyakarta: Kanisius
11.                          ^ a b c d (Indonesia)Bernard Lohse., Pengantar Sejarah Dogma Kristen, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006 Hlm 90
12.                          ^ a b c (Indonesia)Mangapul Sagala. ., Firman Menjadi Daging, Jakarta: Perkantas 2009
13.                          ^ a b c d e f g h i j k l m n o (Inggris)Karen Kylbi., Karl Rahner - terjemahan, Yogyakarta: Kanisius, 2001
14.                          ^ a b c d e (Indonesia)S.M. Siahaan., Pengharapan Mesias dalam Perjanjian Lama, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001
15.                          ^ a b c d e (Inggris)Anne M. Clifford., di tulis oleh Robert Masson - The Clash of Christologcal Symbols dalam Christology; Memory, Inquiry, Practice, USA: The College Theology Society 2003 Hlm. 63-86
16.                          ^ a b c d e f g h i j (Indonesia)Christian De Jonge., Gereja Mencari Jawab, Jakarta: BPK Gunung Mulia 2003
17.                          ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q (Indonesia)Jurnal Filsafat Iman., Menguji Omongan Agama, Yogyakarta: Kanisisus, 1997
18.                          ^ a b c d e f g (Inggris) John Hick., Dalam Dialog dengan Paul F. Knitter Dialogues in the philosophy of religion New York: Palgrave, 2001
19.                          ^ a b (Inggris)Aloysius Pieris., Universality and Christianity, Vidyajyoti 1993 Hlm. 591-599
20.                          ^ a b Tom Jacobs, SJ., Imanuel: Perubahan Dlm. Perumusan Iman Akan Yesus Kristus, Yogyakarta: Kanisius 2000
21.                          ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z aa ab ac (Indonesia)F.D. Wellem., Riwayat Hidup Singkat tokoh-tokoh dalam Sejarah Gereja, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1987
22.                          ^ a b c d e f (Indonesia)H. Berkhof,I.H. Enklaar., Sejarah Gereja, Jakarta: BPK Gunung Mulia, Cetakan-9 2009
23.                          ^ a b Joas Adiprasetya., Berdamai dengan Salib, Jakarta: Grafindo dan UPI STT Jakarta, 2010
24.                          ^ a b c d e f g h i j (Indonesia)Tony Lane., Runtut Pijar - Cet. 7, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007
25.                          ^ a b c Y. W. Wartaya Winangun., Tanah sumber nilai hidup, Yogyakarta: Kanisius, 2004
26.                          ^ a b c d e f g (Indonesia) W.F. Dankbaar., Calvin- Hidup dan Karjanja, Jakarta: Badan Penerbit Kristen 1967
27.                          ^ a b (Inggris)Brian Davies., The thought of Thomas Aquinas,New York: Oxford University Press, 1992
28.                          ^ a b c d e f (Inggris) Karl Barth., The Word of God and The Word of Man, USA: Peter Smith Publisher Inc 1958


BELA RASA YESUS SANG PEMBEBAS

Membaca Perjanjian Baru dengan memperhatikan konteks peristiwa atau cerita yang dituliskan oleh para penyaksi iman, maka kita akan disuguhkan sebuah cerita yang sangat menarik sekaligus menantang akal dan iman yang tentunya akan membuat kita benar-benar tergugah tetapi sekaligus “menggugat”. Gugatan ini akan nampak saat diri kita masuk dan menyelami setiap peristiwa atau cerita yang tertuang dalam Alkitab. Kemudian dalam benak kita pasti muncul pertanyaan, adakah hubungan konteks cerita atau peristiwa dalam Alkitab khususnya Perjanjian Baru dengan Bela rasa Yesus Nasareth? Dalam tulisan inilah saya hendak mengungkapkan realitas hubungan yang dimaksud itu. Pertama, Perjanjian Baru merupakan salah satu sumber dari “Yesus Sejarah” atau yang biasa disebut dengan Yesus Historis dan Yesus Pra Paskah. Kedua, bela rasa Yesus sebagai sang pembebas dapat kita lihat dari ungkapan-ungkapan atau kesaksian iman yang berapi-api dari para penulis injil yang sungguh-sungguh yakin bahwa kehadiran dan kedatangan Yesus adalah membawa misi pembebasan bagi rakyat dengan membebaskan mereka dari ketidakadilan-ketidakberdayaan ekonomi-sosial. Karena itu menurut saya, adalah logis bila tugas yang diemban Yesus justru hadir dari realitas “akar rumput” sebagai bagian dari bentuk solidaritas dengan penderitaan dari kaum marjinal yang selalu mempertanyakan nilai-nilai dari struktur ketidakadilan dari akarnya. Yesus melihat sekaligus merasakan betapa pedihnya penderitaan, siksaan, sampai penghukuman yang berakhir dengan kematian yang dialami oleh orang-orang sekitarnya hanya karena mereka sangat berbeda dengan kalangan elite masyarakat dengan kedudukan atau status sosial-religiusnya. Karena itu Yesus dengan lantangnya menegur, memberikan peringatan sekaligus bertindak secara proporsional demi menjaga harkat dan martabat manusia yang sangat berharga dimata Allah.
Memang, paradigma berpikir secara kritis dari Yesus pada waktu itu muncul untuk menantang sekaligus memberikan perlawanan terhadap konsepsi berpikir yang kaku dan menindas terhadap bangsa Yahudi. Tidak dapat dipungkiri bagi para penulis Perjanjian Baru khususnya para penulis Injil dengan terang mengisahkan bahwa Yesus sangat radikal dalam segala tindakan yang real dan konkret untuk mengubah dan menata kembali tatanan dunia sosial masyarakat Yahudi yang telah banyak bermuatan kepentingan. Menurut Borg, bagi Yesus bela rasa adalah suatu sifat pokok Allah dan sifat moral utama dari suatu kehidupan yang berpusat pada Allah. Karena itu, bela rasa merupakan ringkasan padat pengajaran-Nya baik mengenai Allah maupun mengenai Etika (Marcus J. Borg: 2003; 51). Karena itu, bela rasa Yesus merupakan etos kerjanya yang bermuara pada misinya untuk membebaskan rakyat. Dan hal ini sangat berbeda dengan etos Yudaisme abad pertama yang berusaha untuk meniru kekudusan Allah dengan melegitimasi sistem adat dan ketahiran sebagai barometer untuk melihat orang atau kelompok tertentu dari masyarakat kudus atau tidak. Akibatnya, rakyat justru terpolarisasi dalam sebuah struktur hierarkis masyarakat yang sangat brutal dan menindas. Dalam kesaksian Alkitab khususnya Perjanjian Baru dalam Lukas 6:27 "Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; adalah kritikan sekaligus penentangan Yesus terhadap pemahaman Yudaisme abad pertama yang sangat mengutamakan aturan-aturan mengenai hukum kekudusan yang absolut misalnya dalam kitab Keluaran 22:31 “Haruslah kamu menjadi orang-orang kudus bagi-Ku: daging ternak yang diterkam di padang oleh binatang buas, janganlah kamu makan, tetapi haruslah kamu lemparkan kepada anjing", merupakan aturan mutlak bagi masyarakat Yahudi yang hanya mengasihi sesama anggota umat perjanjian yang dianggap kudus dan tahir. Karena itu dalam praksisnya, Yesus dengan tegas dan berwibawa menolak pemahaman ini, sebab dengan mengasihi musuh, berarti bukan hanya orang Israel yang dikasihi melainkan juga bagi para penduduk lainnya termasuk yang dianggap kafir sekalipun.
Bahkan, tuduhan yang keras dengan beraninya diungkapkan oleh Yesus terhadap elite masyarakat Yahudi yang didominasi oleh kalangan Saduki, Farisi bersama ahli-ahli Taurat yang lebih mengutamakan hal-hal yang ritual dan lahiriah ketimbang hal-hal yang bersifat moral dan etis yang lebih menjunjung nilai-nilai kemanusiaan. Yesus membuat mereka mengetahui bahwa bukan pada persoalan tahir atau tidaknya seseorang atau bukanlah hal yang seremonial belaka, tetapi lebih pada kemurnian moral. Sama seperti sanggahan Yesus kepada elite agama Yahudi "Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku” (Mrk 7:6). Karena itu bagi Yesus persoalan ketahiran dalam realitas kehidupan, bukanlah pada perkara lahiriah semata, melainkan justru terletak pada batin atau nurani. Dengan demikian, secara langsung Yesus berani mengkritik sekaligus memprotes sistem ketahiran bangsa Yahudi yang mengutamakan batas-batas lahiriah. Menurut Yesus “Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia, Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia. Yesus berkata pula kepada mereka: "Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri (Mrk 7:7-9). Lebih jauh lagi kalau kita belajar dari perumpamaan yang populis mengenai perumpamaan Orang Samaria Yang Murah Hati digunakan oleh Yesus sebagai bentuk sikap kritis sekaligus bijaksana terhadap tindakan atau perbuatan si Imam dan si Lewi yang dengan sistem ketahirannya tidak akan mau menolong orang yang sedang sekarat bahkan hampir mati. Namun, bagi orang Samaria yang dari sistem ketahiran bangsa Yahudi dianggap sebagai najis dan kotor, justru menunjukkan tindakan yang berbela rasa. Karena itu Yesus bertanya “Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?" Jawab orang itu: "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!" (Luk 10:36-37).
Bela rasa Yesus dengan gagasan sistem pembebasan tentunya secara terbuka dan berhadap-hadapan dengan sistem lama yang telah berakar dalam tradisi diubah dan ditentang hanya untuk kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat Yahudi lainnya. Dengan begitu, jelaslah tulisan para penyaksi iman mengenai etos bela rasa Yesus yang menonjol sebagai suatu gerakan suatu pembebasan yang menyerang sistem ketahiran Yahudi yang tertutup dan menindas. Akibatnya, pada satu pihak posisi dari elite pemimpin agama Yahudi yang selama ini langgeng dan aman-aman, menjadi goyang dan terancam. Dan di lain pihak, Yesus menghadapi konsekuensinya saat Ia harus rela dikorbankan dengan hasil konspirasi politik, tetapi juga Ia mau mengorbankan diri demi tujuan dan misinya. Kalau demikian yang dialami Yesus dalam zamannya, bagaimana dengan kita zaman kita sekarang ini yang dengan sistem sosial, politik dan ekonomi yang selalu menindas baik secara psikis maupun fisik? Maka jawabannya terletak pada Yesus yang berbela rasa dengan sesamanya tanpa memandang siapa saja ia, yang lawan pun dikasihi-Nya. Karena itu segala bentuk penderitaan dan kemiskinan yang selalu mewarnai kehidupan manusia di dunia ini, baik pada zaman Yesus maupun pada zaman sekarang harus membuat kita dengan berani dan tegas menunjukkan sikap untuk membebaskan masyarakat dan jemaat yang mungkin mengalami penyaliban. Karena dengan demikian maka kita telah dan sedang merombak segala bentuk sistem ketahiran masa kini yang selalu membuat “manusia tersalib”. Hanya melalui penghayatan inilah kita akan dapat memahami bagaimana Yesus menghayati kasih Allah yang dibagikan-Nya kepada dunia, sekalipun salib menjadi akhir dari perjuangan-Nya. Ini adalah kenyataan bahwa Yesus menghayati tentang Allah sebagai Bapa-Nya dalam pewartaan Perjanjian Baru secara khusus tuturan kitab-kitab Injil yang melahirkan suatu bentuk perjuangan praksis pembebasan dalam pelayanan dan karya-Nya untuk melepaskan rakyat dari segala sistem penindasan yang berlaku. Semua tindakan dan karya-Nya adalah bukti bahwa Ia tetap setia terhadap panggilan-Nya yang selalu terhayati dalam kenyataan hidup-Nya. Karena itu, inilah suri teladan dan sekaligus praksis kehidupan bagi kita dalam menghadapi situasi dunia dan gereja, jemaat dan masyarakat disekitar kita.
Menghayati karya dan pelayanan Yesus, maka hati nurani selalu tersentuh. Sebab sentuhan itu selalu mengajak kita menyelami ke dasar nurani dan pikiran kita untuk melihat Yesus sebagai Sang Pembebas dengan bela rasa-Nya dalam sanubari kita. Sebab bukan seremonial dan ritual belaka yang menjadi penekanan Yesus, melainkan langsung pada praksisnya. Karena perjuangan Yesus ini adalah murni gerakan moral untuk membebaskan orang-orang miskin dan terpinggirkan tanpa pamrih dan tanpa membedakan manusia dari segala ikatan primordial apapun. Ia selalu menentang struktur dan sistem sosial yang tidak adil, dimana ada suatu perbudakan, maka itu berarti disitu pula ada tirani kekuasaan sebagai alat raksasa yang selalu menindas. Dan inilah yang selalu ditentang Yesus sebagai solusi melaksanakan praksis politik bagi misi-Nya dalam membangun sistem kehidupan masyarakat yang damai dan adil serta sejahtera dari Allah. Dengan demikian syaloom itu akan membuat setiap umat menyadari eksistensi mereka sebagai umat pilihan Allah.
Munculnya realitas sejarah tentang orang-orang miskin dan terpinggirkan, orang-orang yang disiksa sampai dibunuh, memperlihatkan kepada kita bahwa sisi kehidupan manusia yang bobrok dan rusak. Sebab segala sistem dan struktur yang telah dirancang, dibuat dan dilaksanakan sendiri oleh manusia justru telah menghasilkan kemiskinan dan marjinalisasi secara besar-besaran dan mengglobal. Oleh karena itu kesadaran akan realitas “manusia yang tersalib” menggugah mentalitas kita untuk melihat apa yang dilakukan Yesus sebagai tokoh sentral pembebasan dalam iman percaya kita. Praksis pembebasan inilah yang menjadi inti usaha untuk menciptakan suatu masyarakat dan jemaat yang damai dan aman. Sebagaimana pula bela rasa-Nya yang telah diwujudkan Yesus dan dibagikan-Nya secara gratis dengan mengasuransikan diri-Nya hanya dan demi kesejahteraan manusia. S E M O G A
ERICK PATONAUNG, S.Th.
http://erickpatonaung.blogspot.com/2009/04/bela-rasa-yesus-sang-pembebas.html

Sakramen Ekaristi: Sumber dan Puncak Hidup Katolik (sharing pemahaman pribadi seorang awam Katolik)

  Sakramen Ekaristi: Sumber dan Puncak Hidup Katolik (sharing pemahaman pribadi seorang awam Katolik)   Sakramen Ekaristi adalah salah...