Kamis, 12 April 2012

MELIHAT DARI SISI LAIN I

Kehidupan ini memang kadang di rasa tidak adil. Coba bayangkan barangkali 80% penduduk Indonesia ini hanya mampu menikmati kurang dari 20% dari kekayaan yang di miliki oleh Nusantar ini, sementara lebih dari 80% kekayaan negeri ini dinikmati hanya kurang dari 20% penduduk ini. Azas keadilan sosial dari Pancasila hanya sekadar slogan saja. Coba banyangkan bagaimana masyarakat kelas bawah berjuang memperebutkan kue rejeki dari pagi sampai malam hanya sekadar untuk urusan perut belaka.




Senin, 09 April 2012

Menulis Variasi? Siapa Takut!

Menulis Variasi? Siapa Takut!

Agus Pribadi

http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2012/04/03/menulis-variasi-siapa-takut/?ref=signin?ref=signin


Menulis sesuai bidang keahlian memang bisa menjadikan penulis semakin ahli. Namun menulis variasi atau lebih dari satu jenis tulisan tidaklah mengapa. Lebih dari satu jenis tulisan bisa dibuat oleh seorang penulis, misalnya : artikel, pusi, cerpen, reportase dan lain sebagainya.
Menulis variasi dapat menghilangkan penulis dari kejenuhan. Berbagai jenis tulisan yang ditulis, membuat penulis dapat menikmati tulisan-tulisan yang dibuatnya. Jika sedang jenuh menulis fiksi, dapat beralih sejenak ,menulis nonfiksi. Demikian sebaliknya. Hal itu membawa manfaat berikutnya yaitu : produktif dalam menulis. Dengan berganti-ganti tulisan, maka berbagai jenis tulisan pun dapat tercipta.
Namun demikian, menulis variasi hendaknya jangan dipaksakan. Menulislah sesuai yang disukai dan dikuasai. Biasanya suka karena kuasa. Menyukai karena menguasai. Namun hal itu tidaklah statis tetapi dinamis. Jika belum bisa menulis reportase jangan dipaksakan untuk terus menulis reportase. Sekali dua kali bolehlah untuk berlatih menulis jenis tulisan itu. Demikian juga jika belum bisa menulis tulisan lainnya, jangan dipaksakan untuk terus menulisnya.
Biasanya ada beberapa jenis tulisan yang dikuasai oleh seorang penulis. Misalnya saya, agak lancar menulis artikel opini dan cermin (cerita mini). Sedangkan untuk artikel reportase saya kurang menguasai. Hal itu membuat saya sering berganti-ganti dari menulis cermin atau cerpen (fiksi) kemudian menulis artikel opini (nonfiksi). Sedangkan tulisan reportase saya masih dalam tahap belajar dan belajaran.
Apapun jenis tulisannya, yang terpenting adalah menghasilkan tulisan. Tak perduli dimana pun tulisan itu berada. Hal itu karena sejatinya tugas penulis adalah menulis (menghasilkan tulisan), dimana pun medianya.
Selamat menulis!
Banyumas, 3 April 2012

Minggu, 08 April 2012

PASKAH:dari beberapa artikel terpilih

MISTERI PASKAH DAN KELUARGA


Oleh: C. Dwi Atmadi

Ada banyak hal hal yang dapat diceritakan tentang hidup berkeluarga. Manis-pahitnya pengalaman sulit terlupakan: ketika menjadi pengantin yang cantik dan segar-bugar; ketika kelahiran anak pertama yang sangat menggembira­kan sampai menetes air mata bahagia pada sang bapak yang sering kelihatannya sulit terharu; Ketika dibius oleh harapan dan cita-cita yang penuh suka-cita sampai terpatahkan oleh keteledoran sendiri; ketika mulai terkejut akan keaslian-keaslian karakter pasangan yang mengganggu keharmonisan dan prestasi kerja yang sungguh membanggakan; dari ketidakpastian yang menggerogoti perasaan samapi terciptanya kemantapan yang melegakan.
Susah dan senang silih berganti. Begitulah kira-kira yang diungkapkan dalam kitab Pengkotbah 3: 1-5, bahwa untuk segala jenis pengalaman ini ada ’waktu’-nya di dalam kehidupan manusia. Tinggallah sekarang bagaimana setiap orang mau mengatur sikap pribadi untuk menghadapinya.
Sebagai manusia Yesus pun hidup dalam irama gelombang yang sama seperti kita; bahkan kadang-kadang kelihatannya begitu konyol. Namun demikian ada sikap dasar tertentu yang menjadikan pahit-getirnya pengalaman merupakan butir-butir kebajikan yang sangat bernilai, dikagumi dunia, dijunjung tinggi melebihi segala makhluk; bahkan menjadi Tuhan atas hidup dan mati. Itulah irama perjuangan hidup yang membentuk Misteri Paskah-Nya.
Jangan salah mengerti, misteri paskah bukan hanya berkaitan dengan peristiwa Yesus bangkit dari kubur pada hari Minggu pagi-pagi buta. Misteri Paskah adalah rangkuman dari tiga misteri sekaligus, yakni: sengsara, wafat dan dimakamkan sertas bangkit pada hari ketiga. Hari ketiga merupakan puncak dari rentetan peristiwa sebelumnya yang tidak dapat dipisahkan. Jelasnya ada Trihari Paskah yakni: Jum’at, Sabtu dan Minggu. Hari Kamis Putih, Ekaristi peringatan Perjamuan Tuhan adalah pintu masuk ke dalam ketiga hari penting itu, dengan suatu perayaan Paskah ritual-simbolik dalam rupa roti dan anggur.
Hikmah Paskah
Sungguh, puncak hidup Yesus diwarnai oleh gelombang pengalaman yang luar biasa. Lalu kita dapat bertanya: Apakah kiranya hikmah yang dapat dipetik untuk hidup berkeluarga kita masing-masing? Sudah tentu banyak sekali! Sekurang-kurangnya, janganlah menolak salib. Sebab hanya dengan melalui salib kita menemukan sukses dan kebahagiaan. Janganlah berputus asa karena penderitaan, sebab apabila dihadapi dengan sikap dasar yang positif maka buahnya akan berlimpah.
Namun demikian perlu dipertanyakan lagi: Apakah cocok memperbandingkan suka-duka Yesus dengan suka-duka rumah tangga kita? Ingat saja bacaan dari Efesus 5: 2a.21-33 yang sering dipakai untuk Ekaristi Pernikahan, bahwa cinta suami terhadap isteri dihubungkan Rasul Paulus dengan misteri cinta Kristus kepada Gereja-Nya. Kita diajak untuk menghargai keluhuran hidup rumah tangga dan karena itu diajak untuk membina hidup rumah tangga seperti Kristus penuh cinta, perhatian dan tanggung jawab terhadap kita umat-Nya; dan bahkan tak terpisahkan.
Inilah dua dunia dalam pola berbeda, namun demikian bertumpu pada hakekat dan dasar kesatuan nilai yang sama-sama dikejar, yakni keselamatan, kekudusan, kebahgiaan menurut kehendak Bapa surgawi. Memang hidup perkawinan dan keluarga terpanggil ke arah tujuan sama seperti Kristus dan dalam Kristus, sebagai bagian dari Gereja-Nya yang kudus.
Di dalam misteri Paskah Kristus, kita mau melihat bahwa sebagian beban yang dipikul demi kebaikan bersama antara bapak, ibu dan anak tak akan sia-sia. Seringkali orang sulit bersabar. Orang cepat gelisah dan khawatir. Akan urusan ini dan itu; ingin cepat menikmati perubahan situasi yang lebih menguntung­kan. Namun pada dasarnya kita perlu cukup tenang untuk memandang segala­-galanya dalam sikap iman yang transendental. Konkretnya tidak melulu terbelenggu oleh kerumitan persoalan, maka yakinlah bahwa salib-salib kita akan diubah Tuhan menjadi berkat yang  melimpah, seperti kata rasul Paulus:
Segala penderitaan yang kita alami ini sangat kecil dan sementara, tak sebanding dengan kelimpahan rahmat dari Tuhan yang sangat mengerti persoalan kita masing-masing (bdk Ibr 12: 10-11).
Semoga perayaan Misteri Paskah kali ini sungguh membawa fajar suka cita yang menerangi cakrawala hidup berumah tangga kita menuju harapan dan cita-cita sebagai orang Katolik sejati sesuai arahan Arah Dasar KAS 2011-2015. Tuhan memberkati .*

Filed Under: Fokus

 2.MENGHAYATI MISTERI PASKAH

Tuhan sungguh bangkit, halelluya! Selamat Paskah kepada Saudara-saudari sekalian! 
Di tengah-tengah hiruk pikuknya dunia modern ini dan betapa kemelutnya situasi ekonomi, politik, hukum, sosial serta budaya bangsa dan negara kita dewasa ini, baiklah kita mengambil sedikit waktu untuk merenungkan arti dan realitas ‘misteri Paskah’ dalam kehidupan seorang Kristiani. Sadarkah kita masing-masing bahwa panggilan Kristiani kita adalah untuk menghayati atau menjalani hidup ‘misteri Paskah’? Apakah kita melihat bahwa panggilan untuk ‘mati’ bersama Kristus sebenarnya merupakan sebuah undangan yang memberi kehidupan? Apakah kita mempunyai visi kebangkitan yang membuat ‘mati sehari-hari terhadap diri kita sendiri’ sebagai anugerah, sebagai karunia dari Allah, sebagai pengalaman yang membebaskan? Menghayati ‘misteri Paskah’ dalam dunia seperti ini berarti menjadi ‘tanda lawan’: berpikir, bersikap dan berperilaku bertentangan dengan budaya yang berlaku (counter-culture). Dapatkah atau mampukah kita mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari kita? Sebagai seorang Kristiani (yang Katolik, kalau mau ditambahkan sedikit embel-embel), apakah ‘mati terhadap diri sendiri’ telah membuat kita masing-masing menjadi seorang insan yang lebih bebas-merdeka, menjadi seorang pribadi yang kehidupan sehari-harinya lebih berpusat pada Kristus? Dalam tradisi Fransiskan yang kita profesikan, bagian mana dari realitas ‘kematian-kebangkitan’ ini memainkan perannya? Apa saja yang telah diwariskan oleh Bapak Serafik kita dalam tulisan-tulisannya? Apakah artinya semua itu bagi kita masing-masing sebagai seorang Kristiani dan sebagai seorang Fransiskan sekular? 
Dalam tulisan ini, kalau saya katakan ‘kematian’, maka hal ini bukan berarti akhir dari kehidupan fisik, melainkan berarti suatu transformasi karena dipengaruhi oleh visi akan kehidupan yang lebih agung. Sejalan dengan itu, ‘kebangkitan’ bukanlah bangkit dari keadaan yang busuk dan tak berguna, melainkan pengalaman hidup yang mendalam: hidup dan mengalami Kerajaan Allah, di sini dan pada saat ini. Tentu saja arti paling dalam dari ‘misteri Paskah’ adalah kematian dan kebangkitan Yesus Kristus sendiri, tetapi dalam kesempatan ini dipakai juga untuk menunjukkan ‘kematian sehari-hari terhadap diri sendiri’, suatu pertobatan yang terus-menerus, penerimaan hidup ini – meskipun dengan segala pertanyaan yang menyertainya, dan juga ketidakpastian masa depan yang dihadapi. 
Tentu saja contoh yang paling sempurna diberikan oleh kehidupan Tuhan Yesus sendiri. Sabda-Nya yang kita baca dan renungkan dalam Injil tidak hanya berbicara mengenai realitas kehidupan yang dihayati-Nya, tetapi juga mengundang kita untuk menghayatinya bersama dengan Dia. “Setiap orang yang mau mengikut Aku harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena siapa saja yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi siapa saja yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya” (Luk 9:23-24). “Sesungguhnya aku berkata kepadamu: Jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah” (Yoh 12:24). 
Menjadi orang Kristiani berarti mengikut jejak Yesus Kristus. Sadarkah kita akan implikasi dari pernyataan ini? Apabila kita menghadiri Misa Kudus, bukankah ini berarti menghadiri ‘perayaan misteri Paskah’? Bukankah liturgi merupakan sebuah sumber yang kuat bagi kita untuk merangkul cara hidup sehari-hari yang ‘mati terhadap diri sendiri’, agar dapat bangkit bersama Kristus dalam pengalaman penghayatan hidup Kerajaan Allah di bumi ini? Bacalah dan renungkanlah kembali AD OFS, khususnya Fasal 2 Artikel 8. 
Ada yang mengatakan, bahwa kehidupan Fransiskus dari Assisi tidak lebih dan tidak kurang adalah sebuah kehidupan Kristiani. Nah, kalau begitu apa bedanya dengan sebagian besar umat Kristiani lainnya? Bedanya adalah dalam hal intensitas dan imajinasi dalam penghayatan hidup Kristianinya. Bagi Fransiskus ‘misteri Paskah’ sungguh merupakan sebuah realitas; begitu nyata dalam kehidupannya sehingga tubuhnya sendiri pun ditandai dengan stigmata suci Tuhan Yesus Kristus sendiri. Dalam bagian-bagian awal riwayat hidupnya yang ditulis oleh Beato Thomas dari Celano, kita dapat membaca betapa kuat hasrat Fransiskus untuk dapat mengidentifikasikan dirinya dengan Yesus, untuk dapat menghayati ‘misteri Paskah’, untuk merangkul realitas ‘kematian-kebangkitan’ itu. Pada tahap-tahap awal hidup pertobatannya ini Fransiskus mengalami penghinaan, penolakan, penganiayaan, cemoohan, kehilangan hak waris dari orangtuanya dan lain sebagainya. Akhirnya Fransiskus pun bahkan mati terhadap berbagai sifat dan sikap yang biasanya melekat pada seorang anggota keluarga borjuis …… dia mencium seorang kusta: suatu tindakan yang sebelumnya tak mampu dilakukannya, meskipun bukan berarti bahwa dulu – sebelum peristiwa tersebut – dia membenci orang kusta. 
Seluruh hidup Fransiskus merupakan sebuah pendakian menanjak menuju transformasi total ke dalam Kristus yang tersalib. Hidupnya tahap demi tahap menjadi suatu keikutsertaan dalam ‘misteri salib yang agung dan ajaib’ (lihat LegMaj, Lampiran Pasal X:8 – dalam terjemahan bahasa Indonesia terdapat pada hal. 101; Omnibus, hal. 786-787). Cara Fransiskus menghayati ‘misteri Paskah’ adalah dari hari ke hari ‘mati’, dari menit ke menit ‘mati’, sehingga Kristus dapat hidup lebih penuh dalam dirinya. Berikut ini yang ditulis oleh Thomas dari Celano, “Fransiskus sudah mati bagi dunia, tetapi Kristus hidup dalam dia. Kenikmatan-kenikmatan dunia baginya adalah salib yang menyiksa, karena ia membawa salib Kristus, yang telah berakar dalam di hatinya” (2Cel 211). Bagi Fransiskus ‘mati’ bukan berarti ‘mati demi mati itu sendiri’, melainkan ‘mati’ sebagai sebuah sarana untuk bersatu dengan Tuhan, sebuah keikutsertaan dalam kehidupan Kristus sendiri. Fransiskus adalah seorang pencinta. Karena Fransiskus begitu mengasihi Yesus Kristus, tidak ada ‘kematian’ yang begitu sulit atau berada di luar jangkauannya; matanya selalu terpaku pada Tuhan Yesus yang tersalib. Visi ini dan cintakasih inilah yang merupakan kekuatan motivasi dalam kehidupan Fransiskus. Setelah setiap tindakan asketismenya – setiap tindakan ‘mati’ terhadap dirinya sendiri – Fransiskus mengalami sebuah hidup dalam Kristus yang lebih mendalam; dia menjadi lebih mengakar dalam Kristus sehingga dengan demikian mampu menghayati hidup Kerajaan Allah di bumi ini. 
Ada banyak contoh dalam kehidupan Fransiskus yang menunjukkan penghayatannya akan ‘misteri Paskah’, namun yang terlebih penting adalah tulisan-tulisannya bagi kita perihal realitas ini. Dia telah mewariskan kepada kita sebuah undangan yang sekaligus merupakan sebuah tantangan. Dia memberikan isyarat kepada kita, bahwa kita harus ‘mati’ untuk dapat ‘bangkit’. Seperti Tuhan dan Gurunya (Yesus), Fransiskus mengundang kita untuk menyangkal diri kita sendiri. Dia menjanjikan Kerajaan Allah dan keselamatan dari Allah, apabila kita juga mempunyai keberanian untuk menghayati ‘misteri Paskah’ dengan mengikuti jejak Tuhan Yesus Kristus. 
Undangan Fransiskus bagi orang-orang untuk hidup pertobatan dapat ditelurusi dalam Anggaran Dasar Tanpa Bulla (AngTBul), teristimewa dalam bab I, III dan IX. Penekanan kerendahan hati dan kemiskinan sebagai cara untuk memeluk ‘misteri Paskah’ dapat dilihat dalam AngTBul V, VI, VII dan XI. Kalau kita melihat apa yang ditulis dalam AngTBul, ‘mati terhadap diri sendiri’ menuntut suatu pertobatan hati, sebuah hati yang berubah, suatu pengolahan sikap-sikap dan nilai-nilai sebagai tanda lawan, dan visi di mana Tuhan disembah di atas segala-galanya
Fransiskus percaya bahwa ‘kematian’ dalam segala bentuknya membuka telinga hati kepada Allah, membebaskan kita dari diri kita sendiri, mempertajam visi kita dan penghargaan kita atas nilai segala kehidupan, serta memberikan kita sukacita dan damai di hati yang tidak dapat direbut oleh siapa pun karena memang berakar dalam Allah kita: “Dan hendaklah mereka menjaga diri, jangan sampai mukanya tampak sedih dan muram seperti orang munafik; tetapi hendaklah mereka nampak bersukacita dalam Tuhan dan riang gembira serta penuh rasa terima kasih sebagaimana mestinya” (AngTBul VII:16). 
Bagi Fransiskus tidak cukuplah kalau para anak rohaninya saja yang menghayati ‘misteri Paskah’ ini. Dia menugaskan saudara-saudaranya juga untuk memanggil orang-orang lain pula guna menghayati realitas ‘kematian-kebangkitan’ ini: “…… minta dan mohon dengan rendah hati, semoga kita semua bertekun dalam iman yang benar dan dalam pertobatan, sebab kalau tidak demikian, tidak seorang pun dapat diselamatkan” (AngTBul XXXIII:7). Kita lihat bahwa AngTBul mencerminkan realitas yang dihayati dalam hidup Fransiskus sendiri: memeluk/merangkul ‘mati terhadap diri sendiri’ setiap hari. Hidup pertobatan dilihat oleh Fransiskus bukan sebagai sebuah beban, tetapi suatu pembebasan dan keikutsertaan dalam hidup Yesus Kristus sendiri. Sebagai Fransiskan, apakah kita memperkenankan budaya dan masyarakat mendikte dan mengontrol nilai-nilai dan visi Fransiskan kita? Apakah kita juga suka tergelincir ke dalam enaknya kebanggaan, kesuksesan, kepemilikan harta atau pun ilmu pengetahuan dan lain sebagainya? Sudah lupakah kita bagaimana untuk ‘mati’? 
Bagi Fransiskus misteri ‘kematian’ bersama Kristus agar dapat bangkit bersama dengan-Nya kepada hidup yang baru adalah sesuatu yang sungguh riil dan dia menghadapinya dengan penuh semangat. Dia tidak melihat hidup pertobatan sebagai sekadar suatu tindakan batiniah dan niat baik, tetapi sebagai suatu cara konkret untuk mengungkapkan tindakan mengikuti Kristus. Banyak nasihat yang diberikannya kepada para saudara dina berpusat pada tema ini. Lihat misalnya Petuah-petuah (Pth) V, khususnya ayat 8: Warisan dan sukacita yang kita miliki adalah hidup penuh rasa syukur, mati setiap hari dengan memikul salib secara penuh kemauan serta cintakasih. Dalam Pth VI Fransiskus juga memberikan petuah kepada kita masing-masing untuk ‘mati’, untuk memeluk/merangkul salib – dalam mengikuti jejak Yesus Kristus, bukan hanya sekali saja, tetapi sebagai pilihan harian untuk mengikuti Dia dalam pengalaman ‘kematian-kebangkitan’ ini. Sekarang marilah kita lihat Pth X dan XIV. Dapatkah kita menghayati nilai-nilai yang diajukan oleh Fransiskus dalam kedua petuah ini? 
Bagi Fransiskus penyangkalan diri secara total penting sebagai sebuah sarana untuk mengidentifikasikan diri dengan Yesus Kristus secara total. Oleh karena itu tidak ada batas bagi ‘mati’ yang disarankan olehnya kepada kita: semua harus diberikan, segala bentuk ‘kematian’ yang dimungkinkan harus dipeluk/dirangkul. Dia menulis kepada seluruh Ordo: “Karena itu janganlah menahan sesuatu pun yang ada padamu bagi dirimu sendiri, agar kamu seutuh-utuhnya diterima oleh Dia, yang memberikan diri-Nya seutuhnya bagi kamu” (SurOrd 29). Kita tidak usah melekat atau lengket pada apa pun, tidak usaha takut pada ‘kematian’ macam apa pun, kalau kita berpengharapan untuk diterima oleh Tuhan Yesus. Oleh karena panggilan kita sebagai Fransiskan adalah untuk memberi kesaksian tentang Kabar Baik Tuhan kita Yesus Kristus lewat kata-kata dan perbuatan, maka kita pun seharusnya menyadari perlunya untuk menghayati kata-kata Bapak Fransiskus ini: “Bertekunlah dalam ketertiban dan ketaatan yang suci serta penuhilah apa yang telah kamu janjikan kepada-Nya dengan niat yang baik dan teguh” (SurOr 10). Untuk tertib dan taat, seseorang harus tahu bagaimana rasanya ‘mati’, suatu pengalaman penyerahan diri, kebebasan untuk melepaskan segala kepentingan diri sendiri. 
Fransiskus melihat Ekaristi bukan saja sebagai peringatan akan sengsara, kematian dan kebangkitan Yesus, tetapi juga sebagai suatu keikutsertaan dalam misteri ini. Dia mengkontemplasikan kehadiran-nyata Kristus dalam Ekaristi sebagai kehadiran terus-menerus di atas bumi ini dari penebusan yang terlaksana pada kurban salib. Dia menulis kepada seluruh Ordo: “Karena itu aku mohon kepada kamu semua, Saudara-saudara, dengan mencium kakimu dan dengan kasih sebesar-sebesarnya, agar kamu, sesuai dengan kemampuanmu, menyatakan segala hormat dan khidmat kepada Tuhan dan Darah Mahakudus Tuhan kita Yesus Kristus; di dalam Dia, segala sesuatu yang ada di surga dan di bumi diperdamaikan dan dipersatukan kembali dengan Allah Yang Mahakuasa” (SurOr 12-13). 
Dalam Surat kedua kepada kaum Beriman (2SurBerim), Fransiskus mengundang kaum beriman untuk menghayati ‘misteri Paskah’. Dia mengingatkan mereka akan perayaan Paskah Tuhan, penderitaan-Nya di taman Getsemani, kematian-Nya terhadap kehendak sendiri dan penerimaan-Nya akan kehendak Bapa. Fransiskus mengingatkan kita bahwa kurban Tuhan Yesus di kayu salib adalah demi kita semua, dan pengosongan diri-Nya bersifat total dan lengkap. Fransiskus meyakinkan kembali para pembaca suratnya itu bahwa sebagai orang-orang Kristiani, panggilan mereka adalah untuk ‘mengikuti jejak langkah Tuhan kita Yesus Kristus’ melalui cara ‘mati terhadap diri sendiri’. Ketika berbicara mengenai ‘kematian terhadap hasrat kedagingan’ dan menghayati suatu hidup pertobatan, Fransiskus berkata: “Dan semua orang, pria maupun wanita, apabila melakukan hal-hal itu dan bertekun hingga akhir, maka Roh Tuhan akan tinggal pada mereka dan akan memasang tempat tinggal dan kediaman di dalam mereka. Maka mereka akan menjadi anak-anak Bapa surgawi, yang karya-Nya mereka laksanakan” (2SurBerim 48-49). Bukankah dalam hal ini Fransiskus menjamin pengalaman kebangkitan, di sini dan sekarang? 
Banyak lagi yang dapat diketemukan dalam tulisan-tulisan Fransiskus perihal ‘misteri Paskah’ dalam pengertian tulisan ini. Dengan begitu banyak cara Fransiskus mencoba meyakinkan para pembaca tulisan-tulisannya, bahwa menghayati ‘misteri Paskah’ adalah rahasia untuk memperoleh keselamatan, janji akan Kerajaan Allah, pengalaman memerdekakan diri sendiri bagi Allah, pengalaman realitas ini merupakan  pengasah visi yang membawa seseorang untuk sampai pada ketergantungan penuh pada Allah dan mendorong rasa hormat terhadap segala sesuatu. Dia telah menulis dengan banyak cara untuk menerangkan bahwa para pengikutnya harus memeluk/merangkul salib, untuk mengalami bukan saja harus bersedia ‘mati’, tetapi siap untuk begitu dengan penuh rasa cinta. Setiap hari kita dipanggil untuk ‘mati’ dengan berbagai cara yang berbeda-beda: ‘mati terhadap hasrat-hasrat alamiah kita’ dengan melakukan ulah-tapa dan puasa, ‘mati terhadap kemauan kita’ dengan mendengarkan orang lain, memberi serta bersikap penuh ketaatan, ‘mati terhadap diri sendiri’ dengan berserah-diri di luar batas akal. Pesan Fransiskus adalah sebuah undangan untuk menjadi ‘tanda lawan’, untuk menjadi terpisah dari orang banyak, untuk mengembangkan sikap-sikap yang tidak selalu dapat diterima oleh masyarakat
Apabila ‘mati terhadap diri sendiri’ ini merupakan bagian vital dari warisan dan misi Fransiskan, barangkali kita perlu merefleksikannya, baik secara pribadi maupun sebagai persaudaraan, untuk menemukan dan menemukannya kembali. 
Pada akhir hidupnya, Fransiskus berpesan: “Saudara-saudaraku, kita harus mulai melayani Tuhan Allah kita, sebab hingga kini sedikit saja yang telah kita lakukan” (LegMaj XIV:1). Barangkali ada semacam ‘kematian’ tertentu dalam hal setiap kali kita ‘mulai lagi’, dalam arti tidak terjebak dalam rasa puas diri atas hasil yang telah dicapai dan lain sebagainya. Barangkali kita perlu melihat setiap hari sebagai permulaan dari proses ‘kematian’ kita. Barangkali kita perlu menemukan – tidak sekadar dengan intelek kita, tetapi dengan kehidupan kita sendiri – arti dari ‘kehidupan baru lewat kematian’. Kepada kita telah diwariskan undangan untuk ‘mati’, untuk menghayati pengalaman ‘kematian’ yang tetap. Apakah kita mempunyai cukup visi dan pengalaman ‘kebangkitan’ untuk menerima undangan ini? Apakah cintakasih kita cukup besar sehingga mampu memeluk segala macam ‘kematian’? Apakah kita cukup berakar dalam Tuhan untuk menjadi ‘tanda lawan’ dalam masyarakat, menjadi orang-orang yang hidup bagi Kerajaan Allah yang akan datang dan yang sudah ada di muka bumi? 
Cilandak, 16 April 2010  
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

*) Disalin dengan sedikit perbaikan dari Memorandum Minister Persaudaraan OFS Santo Ludovikus IX (Sdr. Frans Indrapradja OFS) nomor Min/09/2000 tanggal 7 Mei 2000. Sumber utama tulisan adalah tulisan Sr. Joanne Brazinski OSF, The Paschal Mystery in the Writings of Saint Francis, Majalah TAU edisi May 1981).



Tetap Segar Ala Susi Susanti

http://id.omg.yahoo.com/blogs/stylefactor/tetap-segar-ala-susi-susanti-070601642.html



Sang legenda di kantor Yahoo! Indonesia. Foto: Bernard Chaniago/Yahoo! Indonesia
Untuk wanita yang baru menginjak awal umur 40-an, legenda bulutangkis Susi Susanti masih terlihat segar. Padahal aktivitasnya kali ini lebih bervariasi ketimbang masa-masa pertandingannya di tahun 90-an selain menjadi ibu bagi tiga buah perkawinannya dengan sesama peraih medali emas, Alan Budikusuma.
Pemenang medali emas pada Olimpiade tahun 1992 di Spanyol ini kini menjalankan usaha spa dan pijat berstandar atlet yang sudah memiliki beberapa cabang di Jakarta. Selain itu, dia juga menjalankan labelnya bernama Astec yang memproduksi raket berteknologi tinggi.
Bagi Susi, yang terpenting dalam menjaga kesegaran tubuh adalah hidup seimbang. Caranya adalah dengan berolahraga teratur dan isi hidup dengan sesuatu yang positif, "ini akan memberikan dampak bagus untuk diri sendiri dan orang lain." Susi menambahkannya dengan poin di bawah ini.
Olahraga berkualitas
Berolahraga bagi Susi Susanti bukan hanya soal meraih prestasi, tapi untuk membangun kualitas tubuh yang baik.
Bagi mantan atlet seperti Susi, mengatur intensitas olahraga sangat penting karena akan membuat tubuh tidak drop tiba-tiba. Penghentian olahraga yang signifikan membuat kondisi jantung turut memburuk.
Makan tak berlebihan
Jangan terlalu kenyang merupakan poinnya. Yang jelas jargon "Empat sehat, lima sempurna" mesti terus dijalankan sampai kapan pun. Pasokan gizi masuk dengan baik ke tubuh sehingga kesehatan terjaga.
Berpikir positif dan bersyukur
"Saya pasti bisa mengalahkannya," ungkap Susi saat akan berhadapan dengan semua lawannya di arena. Cara berpikir positif akan memacu kita melakukan yang terbaik untuk mencapai sesuatu. Tak lupa bersyukur pada Tuhan bahwa kita masih diberikan kesempatan terbaik berada di dunia.
Baca juga:
Hubungan Kesehatan Rambut dengan Olahraga Fisik
[GALERI] Kecantikan Atlet di Tengah Arena Olimpiade 2012
[GALERI] Penampilan Michael Phelps di Luar Arena Renang
Perawatan Kulit untuk Anda yang Hobi Renang
Mencegah Masalah Kulit Bagi Si Pencinta Olahraga

Kamis, 05 April 2012

Babak semifinal mempertemukan antara Bayern Munchen vs Real Madrid dan Chelsea vs Barcelona. 2 partai semifinal ini akan digelar pada 18 dan 19 April 2012 untuk leg 1 serta 25 dan 26 April 2012 untuk leg 2.Yup, ada 4 klub besar Eropa yang bertanding dibabak semifinal Liga Champions 2012 ini, mereka akan berebut dan berjuang habis-habisan demi melangkah ke partai final Liga Champions musim 2012/2012 ini.
Chelsea VS Barcelona Semifinal Liga Champions 2012Keempat tim yang bertanding dibabak semifinal Liga Champions 2012 ini adalah yang menang dibabak perempatfinal sebelumnya, dimana Bayern Munchen lolos setelah mengalahkan Merseille, Real Madrid mengalahkan Apoel FC, Chelsea mengalahkan Benfica dan Barcelona mengalahkan AC Milan.
Jadwal Semifinal Liga Champions 2012
  • Bayern Munchen vs Real Madrid -> 18 April dan 26 April 2012
  • Chelsea vs Barcelona -> 19 April dan 25 April 2012
Waktu sudah disesuaikan dengan waktu Indonesia
Prediksi Semifinal Liga Champions 2012
Semifinal Liga Champions 2012Prediksi babak semifinal Liga Champions 2012, pertandingan baik itu leg 1 dan Leg 2 akan berlajan super ketat, dan klub yang akan menang dan lolos ke babak final adalah Real Madrid dan Barcelona. Akan terjadi El Classico (Real Madrid VS Barcelona) di partai final Liga Champions musim ini yang akan digelar di Allianz Arena nanti. Namun langkah Mardrid dan Barca tidak akan mudah. Karena mereka akan bertarung sengit di babak semifinal ini. Madrid akan memang atas Bayern Munchen dengan agregat tipis, karena Munchen juga akan berjuang habis-habisan mengingat partai final akan digelar di Allianz Arena yang merupakan kandang mereka. Sedang Barcelona akan mengalahkan Chelsea dengan agregrat yang juga tipis.
Bagaimana prediksi anda? Siapa yang akan lolos dan menang serta mengalahkan ke final dari babak semifinal Liga Champions 2012 ini?
Deni Andriana

Jadwal dan Prediksi Semifinal Liga Champions 2012 | Goyang Karawang

Jadwal dan Prediksi Semifinal Liga Champions 2012 | Goyang Karawang




Babak semifinal mempertemukan antara Bayern Munchen vs Real Madrid dan Chelsea vs Barcelona. 2 partai semifinal ini akan digelar pada 18 dan 19 April 2012 untuk leg 1 serta 25 dan 26 April 2012 untuk leg 2.Yup, ada 4 klub besar Eropa yang bertanding dibabak semifinal Liga Champions 2012 ini, mereka akan berebut dan berjuang habis-habisan demi melangkah ke partai final Liga Champions musim 2012/2012 ini.
Chelsea VS Barcelona Semifinal Liga Champions 2012Keempat tim yang bertanding dibabak semifinal Liga Champions 2012 ini adalah yang menang dibabak perempatfinal sebelumnya, dimana Bayern Munchen lolos setelah mengalahkan Merseille, Real Madrid mengalahkan Apoel FC, Chelsea mengalahkan Benfica dan Barcelona mengalahkan AC Milan.
Jadwal Semifinal Liga Champions 2012
  • Bayern Munchen vs Real Madrid -> 18 April dan 26 April 2012
  • Chelsea vs Barcelona -> 19 April dan 25 April 2012
Waktu sudah disesuaikan dengan waktu Indonesia
Prediksi Semifinal Liga Champions 2012
Semifinal Liga Champions 2012Prediksi babak semifinal Liga Champions 2012, pertandingan baik itu leg 1 dan Leg 2 akan berlajan super ketat, dan klub yang akan menang dan lolos ke babak final adalah Real Madrid dan Barcelona. Akan terjadi El Classico (Real Madrid VS Barcelona) di partai final Liga Champions musim ini yang akan digelar di Allianz Arena nanti. Namun langkah Mardrid dan Barca tidak akan mudah. Karena mereka akan bertarung sengit di babak semifinal ini. Madrid akan memang atas Bayern Munchen dengan agregat tipis, karena Munchen juga akan berjuang habis-habisan mengingat partai final akan digelar di Allianz Arena yang merupakan kandang mereka. Sedang Barcelona akan mengalahkan Chelsea dengan agregrat yang juga tipis.
Bagaimana prediksi anda? Siapa yang akan lolos dan menang serta mengalahkan ke final dari babak semifinal Liga Champions 2012 ini?
Deni Andriana

Cerita Malam Pertama Pengantin | Goyang Karawang

Cerita Malam Pertama Pengantin | Goyang Karawang



Ini ada beberapa cerita malam pertama pengantin baru, cerita dewasa ‘seks’ pernikahan sepasang pengantin baru, dimana sang mempelai wanita atau sang isteri begitu polosnya. Sehingga ketika malam pertama berlangsung sang suami harus membimbing dulu agar sang isteri paham. Namun setelah sang isteri paham, sang suami malah yang jadi kewalahan menghadapi isterinya di malam pertama tersebut.
Kartun Pengantin BaruCerita malam pertama pengantin ini seru dan menarik untuk dibaca. Mungkin ini bisa bermanfaat khususunya bagi para calon pengantin. Sebuah trik atau tips yang bisa diterapkan jika menghadapi situasi dan kondisi yang sama nantinya. Bagaimana cerita malam pertama pengantin baru ini, silahkan simak kisah selengkapnya berikut ini!
Sepasang pengantin baru sedang bersiap menikmati malam pertama mereka. Pengantin perempuan berkata, “Mas, aku masih perawan dan tidak tahu apa-apa tentang seks. Maukah Mas menerangkannya lebih dulu sebelum kita melakukannya?”
“Seks itu sederhananya begini?., kita umpamakan penjara, punya kamu selnya dan punyaku penjahatnya. Di penjara, penjahat harus dimasukkan ke dalam sel,” terang pengantin lelaki. Lalu mereka pun mulai bercumbu mengarungi lautan asmara.
Ketika sudah selesai dan si pengantin lelaki sedang berbaring akan memejamkan mata, si pengantin perempuan berkata, “Mas, penjahatnya lepas.”
Pengantin lelaki pun mulai lagi memasukkan ‘penjahatnya’. Rupanya si pengantin perempuan sangat menikmati hubungan asmara yang baru pertama ini ia rasakan. Setiap kali selesai, ia selalu mengatakan bahwa penjahatnya lepas atau melarikan diri, keluar dari selnya.
Setelah sekian kali, si pengantin lelaki dengan nafas terengah-engah berkata, “Dik, penjahat yang ini tidak menjalani hukuman seumur hidup.”
Itulah cerita malam pertama pengantin baru yang mudah-mudah bermanfaat bagi yang ingin membaca cerita humor dewasa, dan semoga juga menjadi inspirasi bagi para calon pengantin baru. Cerita ini saya kutip dari forum humor di internet.
Deni Andriana



Analisis Isi (Metode Kuantitatif) | Goyang Karawang

Analisis Isi (Metode Kuantitatif) | Goyang Karawang

Analisis isi lazimnya disebut sebagai sebuah metode kuantitatif karena melibatkan penghitungan dan penjumlahan fenomena. Namun, ia juga dapat digunakan untuk mendukung kajian-kajian mengenai sesuatu yang sifatnya lebih ”kualititatif” dalam penelitian kualitatif.
Salah satu keuntungan analisis isi adalah ia memungkinkan untuk menghasilkan fakta-fakta dan angka-angka yang dapat digunakan sebagai bukti argumen kita. Kita bisa menghitung jumlah kisah, jumlah citra, atau kejadian-kejadian yang disebutkan oleh subjek-subjek tertentu.
Tahapan-Tahapan Analisis Isi :
  1. Susun hipotesis
  2. Baca sebanyak mungkin
  3. Definisikan objek analisis
  4. Definisikan kategori-kategori
  5. Buat sebuah lembar koding untuk merekam temuan-temuan
  6. Uji kategori-kategori koding
  7. Kumpulkan data
  8. Jumlahkan temuan-temuan
  9. Tafsirkan data
  10. Hubungkan kembali dengan pertanyaan
  11. Tampilkan temuan-temuan
Sumber refensi : How To Do Media and Cultural Studies (Panduan untuk Melaksanakan Penelitian dalam Kajian Media dan Budaya), Karya Jane Stokes, Penerbit Bentang/2006.
Deni Andriana

Jumat, 23 Maret 2012

NILAI-NILAI PENDIDIKAN DALAM KEBUDAYAAN WAYANG

NILAI-NILAI PENDIDIKAN DALAM KEBUDAYAAN WAYANG

 
PENDAHULUAN

WAYANG adalah salah satu puncak seni budaya bangsa Indonesia yang paling menonjol di antara banyak karya budaya lainnya. Budaya wayang meliputi seni peran, seni suara, seni musik, seni tutur, seni sastra, seni lukis, seni pahat, dan juga seni perlambang. Budaya wayang, yang terus berkembang dari zaman ke zaman, juga merupakan media penerangan, dakwah, pendidikan, hiburan, pemahaman filsafat, serta hiburan.
Menurut penelitian para ahli sejarah kebudayaan, budaya wayang merupakan budaya asli Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Keberadaan wayang sudah berabad-abad sebelum agama Hindu masuk ke Pulau Jawa. Walaupun cerita wayang yang populer di masyarakat masa kini merupakan adaptasi dari karya sastra India, yaitu Ramayana dan Mahabarata. Kedua induk cerita itu dalam pewayangan banyak mengalami pengubahan dan penambahan untuk menyesuaikannya dengan falsafah asli Indonesia.
Penyesuaian konsep filsafat ini juga menyangkut pada pandangan filosofis masyarakat Jawa terhadap kedudukan para dewa dalam pewayangan. Para dewa dalam pewayangan bukan lagi merupakan sesuatu yang bebas dari salah, melainkan seperti juga makhluk Tuhan lainnya, kadang-kadang bertindak keliru, dan bisa jadi khilaf. Hadirnya tokoh panakawan dalam_ pewayangan sengaja diciptakan para budayawan In­donesia (tepatnya budayawan Jawa) untuk mem­perkuat konsep filsafat bahwa di dunia ini tidak ada makhluk yang benar-benar baik, dan yang benar-benar jahat. Setiap makhluk selalu menyandang unsur kebaikan dan kejahatan.



Rumusan Masalah
1. Bagaimana Sejarah Wayang?
2. Apakah Nilai – nilai Pendidikan Islam yang terkandung dlam kebudayaan wayang?

ANALISIS

Saat ini bangsa Indonesia sedang mengalami krisis multidimensi yang diakibatkan oleh krisis moral. Krisis multidimensi ini terjadi berkepanjangan karena moralitas bangsa Indonesia sebagian besar telah rusak, hal ini terlihat dari aktivitas pelanggaran hukum yang semakin merajalela. Krisis moral diduga berawal dari semakin jauhnya bangsa Indonesia terhadap kebudayaan yang ada dan semakin maraknya budaya-budaya asing yang kurang sesuai dengan budaya asli bangsa Indonesia. Masuknya budaya-budaya asing yang kurang sesuai ini terjadi dari lemahnya karakter bangsa Indonesia yang mengakibatkan daya saring terhadap budaya asing yang masuk ke Indonesia. Bahkan saat ini para penerus generasi bangsa merasa lebih senang bila menerapkan budaya-budaya asingdaripada budaya kita sendiri. Hal ini terlihat dari gaya berpakaian maupun gayadalam bertingkah laku.



Pertunjukkan wayang di Indonesia kurang disukai karena cara pengemasan pertunjukan wayang yang kurang menarik. Pertunjukkan wayang ditayangkan malam hari sampai menjelang subuh. Hal ini menyebabkan pertunjukan wayang lebih diminati oleh sebagian kecil masyarakat. Padahal banyak nilai-nilai luhur yang dapat dipelajari dari pertunjukan wayang. Bagi kebanyakan anak muda, image pertunjukan wayang bukanlah suatu trend yang patut diikuti. Hal ini menyebabkan anak-anak muda cenderung tidak memiliki ketertarikan pada seni pertunjukan wayang. Durasi pertunjukan wayang yang terlalu lama menyebabkan rasa bosan bagi penontonnya. Selain itu pertunjukkan wayang sering menggunakan bahasa daerah yang kental, sehingga hanya orang-orang tertentuyang dapat memahami isi cerita dari pertunjukan wayang.

Berdasarkan berbagai keterbatasan tersebut, maka langkah-langkah yang dapat diambil adalah dengan mengubah pengemasan pertunjukan wayang kulit tanpa merubah isi dan juga nilai-nilai ajaran di dalamnya. Kemasan yang dapat diubah adalah jam tayang pertunjukan, durasi pertunjukan, dan bahasa penyajiannya. Jam tayang pertunjukan dapat diganti menjadi lebih awal sehingga akan lebih banyak orang yang dapat menyaksikan pertunjukan wayang. Durasi pertunjukan juga dapat dikurangi tanpa mengurangi isi cerita dan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya sehingga penonton tidak akan cepat bosan selama pertunjukan berlangsung. Bahasa yang digunakan dalam pertunjukan sebaiknya menggunakan bahasa Indonesia sehingga bukan hanya orang Jawa yang dapat
mengerti jalan ceritanya. Selain itu, perpaduan seni dalam pertunjukan wayang kulit juga dapat dilakukan tanpa mengubah ajaran moral yang dapat diambil didalamnya. Masyarakat akan senang menyaksikan, sehingga masyarakat dapat menerima pendidikan moral dengan senang.


Dengan demikian pertunjukan wayang kulit dapat menjadi sarana untuk memberikan pendidikan moral yang menyenangkan, karena suasananya menghibur penonton. Selain memperoleh hiburan dengan seni yang dimainkan oleh dalang dengan wayang kulit serta lagu-lagu iringan oleh para sinden atau penyanyi lagu-lagu yang mengiringi kisah cerita dalam pewayangan, penonton juga mendapatkan pendidikan moral.

A.Sejarah Wayang

Ada dua pendapat mengenai asal – usul wayang. Pertama, pendapat bahwa wayang berasal dan lahir pertama kali di Pulau Jawa, tepatnya di Jawa Timur. Pendapat ini selain dianut dan dikemukakan oleh para peneliti dan ahli-ahli bangsa Indonesia, juga merupakan hasil penelitian sarjana-sarjana Barat. Di antara para sarjana Barat yang termasuk kelompok ini, adalah Hazeau, Brandes, Kats, Rentse, dan Kruyt.
Alasan mereka cukup kuat. Di antaranya, bahwa seni wayang masih amat erat kaitannya dengan keadaan sosiokultural dan religi bangsa Indonesia, khususnya orang Jawa. Panakawan, tokoh terpenting dalam pewayangan, yakni Semar, Gareng, Petruk, Bagong, hanya ada dalam pewayangan Indonesia, dan tidak di negara lain. Selain itu, nama dan istilah teknis pewayangan, semuanya berasal dari bahasa Jawa (Kuna), dan bukan bahasa lain.


Sementara itu, pendapat kedua menduga wayang berasal dari India, yang dibawa bersama dengan agama Hindu ke Indonesia. Mereka antara lain adalah Pischel, Hidding, Krom, Poensen, Goslings, dan Rassers. Sebagian besar kelompok kedua ini adalah sarjana Inggris, negeri Eropa yang pernah menjajah India.
Namun, sejak tahun 1950-an, buku-buku pe­wayangan seolah sudah sepakat bahwa wayang memang berasal dari Pulau Jawa, dan sama sekali tidak diimpor dari negara lain. Budaya wayang diperkirakan sudah lahir di Indo­nesia setidaknya pada zaman pemerintahan Prabu Airlangga, raja Kahuripan (976 -1012), yakni ketika kerajaan di Jawa Timur itu sedang makmur-makmur­nya.

Karya sastra yang menjadi bahan cerita wayang sudah ditulis oleh para pujangga Indonesia, sejak abad X. Antara lain, naskah sastra Kitab Ramayana Kakawin berbahasa Jawa Kuna ditulis pada masa pemerintahan raja Dyah Balitung (989-910), yang merupakan gubahan dari Kitab Ramayana karangan pujangga In­dia, Walmiki.


Selanjutnya, para pujangga Jawa tidak lagi hanya menerjemahkan Ramayana dan Mahabarata ke bahasa Jawa Kuna, tetapi menggubahnya dan menceritakan kembali dengan memasukkan falsafah Jawa kedalamnya. Contohnya, karya Empu Kanwa Arjunawiwaha Kakawin, yang merupakan gubahan yang berinduk pada Kitab Mahabarata. Gubahan lain yang lebih nyata bedanya derigan cerita asli versi In­dia, adalah Baratayuda Kakawin karya Empu Sedah dan Empu Panuluh. Karya agung ini dikerjakan pada masa pemerintahan Prabu Jayabaya, raja Kediri (1130 – 1160).

Wayang sebagai suatu pergelaran dan tontonan pun sudah dimulai ada sejak zaman pemerintahan raja Airlangga. Beberapa prasasti yang dibuat pada masa itu antara lain sudah menyebutkan kata-kata “mawa­yang” dan `aringgit’ yang maksudnya adalah per­tunjukan wayang.

B. Kelahiran Wayang Kulit

Mengenai saat kelahiran budaya wayang, Ir. Sri Mulyono dalam bukunya Simbolisme dan Mistikisme dalam Wayang (1979), memperkirakan wayang sudah ada sejak zaman neolithikum, yakni kira-kira 1.500 tahun sebelum Masehi. Pendapatnya itu didasarkan atas tulisan Robert von Heine-Geldern Ph. D, Prehis­toric Research in the Netherland Indie (1945) dan tulisan Prof. K.A.H. Hidding di Ensiklopedia Indone­sia halaman 987.3


Kata `wayang’ diduga berasal dari kata `wewa­yangan’, yang artinya bayangan. Dugaan ini sesuai dengan kenyataan pada pergelaran Wayang Kulit yang menggunakan kelir, secarik kain, sebagai pembatas antara dalang yang memainkan wayang, dan penonton di balik kelir itu. Penonton hanya menyaksikan gerakan-gerakan wayang melalui bayangan yang jatuh pada kelir. Pada masa itu pergelaran wayang hanya diiringi oleh seperangkat gamelan sederhana yang terdiri atas saron, todung (sejenis seruling), dan kemanak. Jenis gamelan lain dan pesinden pada masa itu diduga masih belum ada.

Sejak saat itulah cerita – ­cerita Panji, yakni cerita tentang leluhur raja-raja Majapahit, mulai diperkenalkan sebagai salah satu bentuk wayang yang lain. Cerita Panji ini kemudian lebih banyak digunakan untuk pertunjukan Wayang Beber. Tradisi menjawakan cerita wayang juga diteruskan oleh beberapa ulama Islam, di antaranya oleh para Wali Sanga. Mereka mulai mewayangkan kisah para raja Majapahit, di antaranya cerita Damarwulan.


Masuknya agama Islam ke Indonesia sejak abad ke-15 juga memberi pengaruh besar pada budaya wayang, terutama pada konsep religi dari falsafah wayang itu. Pada awal abad ke-15, yakni zaman Kerajaan Demak, mulai digunakan lampu minyak berbentuk khusus yang disebut blencong pada pergelaran Wayang Kulit.
Sejak zaman Kartasura, penggubahan cerita wayang yang berinduk pada Ramayana dan mahabarata makin jauh dari aslinya. Sejak zaman itulah masyarakat penggemar wayang mengenal silsilah tokoh wayang, termasuk tokoh dewanya, yang berawal dari Nabi Adam. Sisilah itu terus berlanjut hingga sampai pada raja-raja di Pulau Jawa. Dan selanjutnya, mulai dikenal pula adanya cerita wayang pakem. yang sesuai standar cerita, dan cerita wayang carangan yang diluar garis standar. Selain itu masih ada lagi yang disebut lakon sempalan, yang sudah terlalu jauh keluar dari cerita pakem.

Memang, karena begitu kuatnya seni wayang berakar dalam budaya bangsa Indonesia, sehingga terjadilah beberapa kerancuan antara cerita wayang, legenda, dan sejarah. Jika orang India beranggapan bahwa kisah Mahabarata serta Ramayana benar-benar terjadi di negerinya, orang Jawa pun menganggap kisah pewayangan benar-benar pernah terjadi di pulau Jawa.

C. Nilai-nilai Pendidikan yang terkandung Dalam Budaya Wayang

Lewat pertunjukkan wayang melalui tokoh serta ceritanya mempunyai peran dalam pembinaan dan pendidikan untuk membangun karakter bangsa.Karena wayang menjadi salah satu kekayaan tradisi bangsa Indonesia,sudah seharusnya dilestarikan dan dimanfaatkan dalam pembentukan budaya bangsa yang akan jadi potret orang Indonesia sampai kapanpun.
Nilai-nilai filosofi yang terkandung dalam pewayangan selalu mengajak masyarakat untuk berbuat baik dan menhindari kejahatan,serta menanamkan kepada masyarakat semangat “amar ma’ruf nahi mungkar” atau istilah dalam pewayangan “memayu hayuning bebrayan agung”,sesuai dengan ajaran agama dan kepercayaan masing-masing.

Dalam kisah pewayangan ini yang patut diteladani adalah peran tokoh Sri Rama dan Arjuna yang memilki sifat selalu mengedepankan kebenaran dan keadilan,dalam penampilanya rapi,penuh dengan senyum,tutur bahasanya halus,tingkah lakunya terukur dan tampak tidak berminat membuat orang susah terhadap siapapun.

Peran kepemimpinan tokoh A biasa yang juga patut diteladani,karena paada waktu ia menjadi penguasa di negeri Astina selalu mencintai dan memberi perhatian kepada rakyatnya,memiliki kepribadian yang kuat dan konsisten,memiliki visioner dan integritas yang tinggi,sehingga ia dicintai dan dipercaya oleh pengikutnya.

Dalam menjalankan kepemimpinan hendaknya berlandaskan pada kepemimpinan “Hasta Brata” yang terdapat 8 (delapan) laku nilai-nilai watak kepemimpinan yang meniru sifat-sifat keutamaan alam semesta,yaitu:
1. Bumi yaitu seorang pemimpin harus setia memberi kebutuhan-kebutuhan hidup kepada siapa saja,sabar(bumi sebagai sumber kehidupan).
2. Air yaitu pemimpin harus selalu turun ke bawah(rakyat) untuk melihat dan memberi kesejukan serta tidak menempatkan diri lebih tinggi dan lebih rendah daripada siapapun,karena air bertabiat rata.
3. Angin yaitu pemimpin harus sanggup menghembus siapa saja tanpa pandang bulu dan tanpa pilih kasih.
4. Bulan yaitu pemimpin harus dapat menerangi siapapun yang sedang kegelapan sehingga dapat memberikan kesejahteraan,keindahan dan harapan.
5. Matahari yaitu pemimpin harus memberi petunjuk sebagai sumber kekuatan yang menghidupkan.
6. Samudra yaitu pemimpin harus memberi kasih sayang dan kebebasan tak terbatas,karena samudra luas dan tak bertepi.
7. Gunung yaitu pemimpin harus kukuh dan kuat untuk melindungi rakyatnya.
8. Api yaitu pemimpin harus mampu membakar dan memberi kehangatan(mampu memberantas kejahatan dan memberi kenikmatan).

Dengan harapan muatan tulisan diatas,dapat menyadarkan masyarakat akan pentingnya kearifan nilai-nilai budaya lokal dalam membangun sosok watak bangsa yang memiliki budaya unggul,baik keunggulan bidang spiritulitas,intelektualitas,disiplin dan ethos kerja,yang selanjutnya diharapkan dapat mendorong terwujudnya cita-cita reformasi untuk memenuhi harapan kita

Dalam dunia pewayangan kita juga mengenal beberapa hal diantaranya kata brahmana, ksatria, wisya, sudra. Dengan mengenal tingkat status sosial maka masing-masing tokoh bisa mengenal dirinya sebagai apa dan harus bagaimana dalam bersikap dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari dalam dunia pewayangan.

Misal Seorang Brahmana dalam membawakan diri harus :
a. Sumeh : ramah tamah terhadap siapapun dan selalu bermuka jernih. Murah senyum.
b. Sareh : tidak mudah emosi, semua diatasi dengan kebijaksanaan.
c. Waleh : selalu berterus terang dan tidak ada yang dirahasiakan.
d. Sumeleh : percaya kepada keadilan Tuhan. Berpegang pada siapa yang menanam dia yang akan menuai.
e. Aja remeh : tahu untuk tidak bertindak nistha, seperti menipu, maling, membunuh, main perempuan dan lain-lain.

Kastra Sudra dalam dunia pewayangan menggambarkan kawula alit yang penuh dengan kekurangan baik secara fisik maupun mental spiritual, sehingga mereka digambarkan dalam bentuk yang tidak sempurna. Misal seperti tokoh dibawah ini.

Nala Gareng, secara fisik dia diberi kekurangan: mata kero, sikil pencik, tangan ceko, irung menthol. Petruk (wudel bodhong, irung bangir, awak bungkuk), Bagong (pawakan cebol, lambe doble, irung pesek), Semar (secara fisik sama dengan Bagong), Bilung (orang kerdil, banyak borok, kudisan), Togog juga demikian adanya, semuanya ini menggambarkan kawula alit yang penuh dengan kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan. Tokoh-tokoh inilah yang dapat melengkapi dunia pertunjukan wayang kulit sehingga semakin komplit dan dapat diterima disemua kalangan masyarakat. Dengan tokoh2 sudra inilah para dalang mampu memberikan kritik-kritik yang pedas terhadap tatanan masyarakat dan pemerintahan yang tidak sesuai dengan norma.

D. Pendapat Para Ahli Kebudayaan Tentang Nilai Pendidikan Dalam Kebudayaan Wayang

Menurut Amir (1997), nilai-nilai yang terdapat dalam wayang, oleh sejarahnya yang teramat panjang, merangkum nilai-nilai yang berasal dari system etika purba, Hinduisme/Budhisme, Islam, aliran-aliran kepercayaan/kebathinan dan lain-lain. Ajaran wayang purwa banyak mempengaruhi cara berpikir dan perilaku masyarakat penggemarnya (Jawa).

Seorang pemerhati wayang di Yogyakarta, Tjipto Haribowo memandang kesenian wayang kulit dapat dipakai sebagai sebuah media pembelajaran hidup mulai dari sensitivitas, sensibilitas, etika, demokratisasi, atau bahkan pembelajaran bagaimana hidup dalam suasana pluralisme (Rahman, 2008).

Pancasila sebagai filsafat hidup bangsa maupun sebagai dasar negara/ideologi negara adalah sebuah kesadaran; artinya kita meyakini nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dengan penuh kesadaran. Ini juga berarti adanya kesadaran bahwa eksistensi kita sebagai bangsa dan negara yang sangat beragam ini adalah sebuah potensi, jika dikelola dengan baik dengan meng-implementasikan nilai-nilai Pancasila di berbagai bidang: kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi, pendidikan, hukum, sejarah, ekonomi, industri dan sebagainya maka niscaya akan membuat kita menjadi sebuah bangsa dan negara yang besar (Arifin, 2008).

KESIMPULAN

Secara lahiriah, kesenian wayang merupakan hiburan yang mengasyikkan baik ditinjau dari segi wujud maupun seni pakelirnya. Namun demikian dibalik seni pakeliran yang tersurat ini terkandung nilai adiluhur sebagai santapan rohani secara tersirat. Peranan seni dalam pewayangan merupakan unsur dominan. Akan tetapi apabila dikaji secara mendalam dapat ditelusuri nilai-nilai edukatif yang sangat penting dalam kehidupan manusia.

Unsur-unsur pendidikan tampil dalam bentuk pasemon atau perlambang. Oleh karena itu, kemampuan seseorang dalam melihat nilai-nilai tersebut tergantung juga dari cara menghayati dan mencerna bentuk-bentuk simbol atau lambang dalam pewayangan. Dalam lakon-lakon tertentu misalnya lakon yang diambil dari Serat Ramayana maupun Mahabarata sebenarnya dapat diambil pelajaran yang mengandung pendidikan. Peranan kesenian wayang sebagai sarana penunjang pendidikan kepribadian bangsa, rasanya perlu mendapat tinjauan secara khusus. Berdasarkan sejarahnya, kesenian wayang jelas lahir di bumi Indonesia.

Berbicara mengenai kesenian wayang dalam hubungannya dengan pendidikan kepribadian bangsa tidak dapat lepas dari tinjauan kesenian wayang itu sendiri dengan falsafah hidup bangsa Indonesia yaitu Pancasila. Pancasila sebagai falsafah negara dan pandangan hidup bangsa Indonesia merupakan cirri khusus yang dapat membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa lain. Pancasila adalah norma yang mengatur tingkah laku dan perikehidupan bangsa.



Wayang merupakan suatu bentuk seni gabungan antara unsur seni seni rupa dengan menampilkan tokoh wayangnya yang diiringi dengan gending atau irama gamelan, diwarnai dialog (antarwacana), menyajikan lakon dan pitutur atau petunjuk hidup manusia dalam falsafah. Sehingga pertunjukan wayang kulit di daerah jawa dapat menjadi sarana hiburan sekaligus sebagai sarana pendidikan
yang dapat memperbaiki moralitas penduduk jawa dan bangsa Indonesia secara umum. Perbaikan moral merupakan faktor yang sangat penting untuk mengentaskan bangsa Indonesia dari krisis multidimensi yang berkepanjangan. Sehingga pertunjukan wayang kulit dapat menjadi solusi untuk memperbaiki kondisi bangsa Indonesia.

Dengan membudayanya pertunjukan wayang kulit di Indonesia khususnya Tanah Jawa akan berdampak pada:
1. Melestarikan budaya Jawa sebagai budaya daerah yang menopang kuatnya budaya nasional.
2. Dapat menyaring budaya-budaya asing yang masuk, yang mana budaya asing yang baik artinya yang sesuai dengan budaya kita, kita terima dan yang tidak sesuai tidak kita terima.
3. Melindungi generasi Indonesia agar tidak terkontaminasi dengan budaya asing yang kurang baik.
4. Memperbaiki perilaku bangsa Indonesia karena pertunjukan wayang selalu berisi tentang ajaran-ajaran kehidupan yang benar sesuai dengan nurani.
5. Rasa cinta dan bangga terhadap tanah air dan bangsa akan semakin meningkat dibenak generasi Indonesia pada khususnya dan masyarakat indonesia pada umumnya, sehingga akan berdampak pada lancarnya pembangunan Indonesia menjadi negara yang lebih baik.

http://ekodariyanto.wordpress.com/2012/03/20/nilai-nilai-pendidikan-dalam-kebudayaan-wayang/

Selasa, 20 Maret 2012

Hidup Bahagia Jakob Oetama

Hidup Bahagia Jakob Oetama

saya temukan tulisan Pak Dahlan Iskan sbb:

Dahlan Iskan

http://dahlaniskan.wordpress.com/2011/10/03/hidup-bahagia-jakob-oetama

Manis Pembawaannya, tapi Keras Hatinya
Kalau hidup dimulai dari umur 40 tahun (life begins at fourty), Pak Jakob Utama, pemilik grup Kompas-Gramedia itu, baru mulai hidup lagi untuk yang kedua kalinya pada 27 September minggu lalu.
Jarang ada berita wartawan merayakan ulang tahun ke-80 seperti Pak Jakob Oetama. Yang sering adalah berita wartawan mati muda: sakit lever karena bekerja tidak teratur, terkena kanker karena tiap malam stres terkena deadline, terbunuh di medan pergolakan atau terlibat kecelakaan lalu lintas.
Rasanya kini tinggal tiga wartawan yang berusia di atas 80 tahun: Jakob Oetama dan Herawati Diah. Memang, ada tokoh seperti Harjoko Trisnadi yang juga lebih dari 80 tahun dan sangat sehat. Tapi, dia lebih dikenal sebagai pengusaha pers daripada wartawan, meski awalnya juga wartawan.
Yang lumayan banyak adalah calon wartawan berumur 80 tahun: Fikri Jufri (75, Tempo), Rahman Arge Makassar (76), Lukman Setiawan (76, Tempo), Ja”far Assegaf (78, Media Indonesia), dan beberapa lagi.
Ini berarti rekor usia wartawan terpanjang kini dipegang Ibu Herawati Diah. Beliau lahir pada 3 April 1917, yang berarti tahun ini berusia 94 tahun. Pak Rosihan Anwar sebenarnya juga hampir mencapai 90 tahun. Tapi, tak disangka-sangka dia meninggal mendadak pada usia 89 tahun, 14 April lalu.
Mungkin karena beda generasi, saya tidak akrab dengan dua tokoh pers yang dikaruniai usia yang begitu panjang. Saya mengenal Ibu Herawati Diah karena sempat berhubungan bisnis sekitar lima tahun, tapi terbatas hanya bicara perusahaan. Yakni, ketika suaminya, B.M. Diah, pemilik harian Merdeka yang juga mantan Menteri Penerangan, menyerahkan pengelolaan harian Merdeka yang lagi pingsan kepada saya pada 1994.





Setelah B.M. Diah meninggal dan saham Merdeka beralih ke putranya, kerja sama itu berakhir. Sebagian besar pengelolanya, di bawah pimpinan Margiono, kemudian mendirikan Rakyat Merdeka. Margiono, yang masih memimpin Rakyat Merdeka sampai sekarang menjadi ketua umum PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) pusat.
Lima tahun sering rapat bersama, saya bisa menarik kesimpulan mengapa Ibu Herawati Diah bisa berusia begitu panjang. Hatinya sangat baik, berpikirnya longgar, bicaranya sangat terkontrol, dan pembawaannya sangat tenang. Disiplinnya sangat tinggi, termasuk dalam hal makanan. Karena itu, Ibu Herawati terjaga langsing sampai sekarang. Ibu Herawati bisa mewakili sosok wanita intelektual yang bergaya elegan. Beliau tercatat sebagai wanita pertama Indonesia yang sekolah di luar negeri (Amerika Serikat).
Mengapa saya juga tidak akrab dengan Pak Jakob Oetama? Di samping beda generasi, kami berbeda tempat tinggal. Pak Jakob di Jakarta, sedang saya berbasis di Surabaya. Tapi, penyebab utamanya adalah karena kami berdua termasuk orang yang sangat fokus ke perusahaan masing-masing. Kami berdua sama-sama lebih mementingkan sibuk memajukan perusahaan masing-masing daripada misalnya menghadiri pesta-pesta, atau bergentayangan di kafe atau rapat-rapat organisasi. Begitu sulit kami menemukan kesempatan berinteraksi.
Beliau memang sangat lama menjadi ketua umum SPS (Serikat Penerbit Surat Kabar, kini bernama Serikat Perusahaan Pers), namun tidak pernah habis-habisan mempertaruhkan waktunya di situ. Beliau termasuk tokoh yang tidak mau menjadikan organisasi pers sebagai batu loncatan untuk berkarir di politik.
Karena itu, beliau enak saja ketika akhirnya meminta saya agar mau dipilih sebagai ketua umum SPS untuk menggantikannya. Sikap saya juga mirip itu. Saya tidak akan mau dicalonkan sepanjang beliau masih mau menjadi ketua umumnya. Bahkan, ketika suatu saat saya dicalonkan menjadi ketua PWI Jatim, saya mengajukan syarat: asal PWI jangan terlalu aktif.



Itu saya maksudkan agar tugas wartawan yang utama tidak terganggu oleh gegap gempita organisasi. Saya tidak ingin PWI-nya maju, tapi mutu koran merosot. Saya juga tidak malu kalau kantor PWI menjadi sepi. Sebab, itu berarti mereka sibuk menggali berita.
Pak Jakob adalah contoh dari sedikit orang yang bisa fokus. Sejak pikiran sampai tindakan. Godaan-godaan di luar pers tidak pernah meruntuhkan kefokusannya mengurus media. Padahal, sebagai pemimpin dan pemilik grup media nasional yang terbesar dan paling berpengaruh, pastilah begitu banyak rayuan dan iming-iming.
Beliau tidak tergoda sama sekali. Beliau terus saja konsentrasi mengurus Kompas dan grupnya. Karena itu, kalau pada akhirnya kita menyaksikan Kompas-Gramedia begitu sukses, kita tidak boleh melupakan bahwa itulah hasil nyata dari karya orang yang sangat fokus.



Generasi yang lebih muda (meski sekarang saya sudah tergolong generasi tua) memberikan dua penilaian kepada Jakob Oetama. Beliau dikecam sebagai wartawan penakut. Bukan sosok wartawan pejuang yang gagah berani menantang maut, seperti Mochtar Lubis (Indonesia Raya), atau Rosihan Anwar (Pedoman), atau Tasrif (Abadi), Aristides Katoppo (Sinar Harapan), Nono Anwar Makarim (Kami), Goenawan Mohamad (Tempo), dan beberapa lagi.
Di pihak lain dia dipuji sebagai wartawan yang santun, mengurus anak buah (termasuk kesejahteraan wartawan) dengan baik, dan sosok yang sangat menonjol tepo seliro-nya. Beliau juga tokoh yang kalau berbicara di depan umum lebih mengedepankan filsafat daripada masalah-masalah yang praktis. Misalnya, filsafat kritik. Sampai-sampai di era Orba itu muncul berjenis-jenis filsafat kritik. Ada kritik pedas macam Mochtar Lubis, kritik manis model Jakob Oetama, atau kritik jenaka model Goenawan Mohamad.
Kepribadian yang manis seperti itulah yang membuat pemerintah Orde Baru sangat percaya kepada Jakob Oetama. Sebuah kepercayaan yang ternyata juga tidak mutlak dan tulus. Pada suatu saat Kompas ikut dibredel juga, meski kemudian diizinkan terbit kembali. Tentu salah Orba juga mengapa memercayai Jakob Oetama. Padahal, di balik kehalusan dan kemanisannya itu tetaplah dia seorang wartawan yang asli. Manis hanyalah pembawaannya. Sikap batinnya tetaplah keras.


Kepercayaan yang begitu tinggi dari pemerintahan Orde Baru itu bukan tidak ada ruginya bagi Kompas. Setidaknya menurut saya. Akibat kepercayaan itu regenerasi di pucuk pimpinan Kompas menjadi terhambat. Umur 37 tahun saya sudah berhenti menjadi pemimpin redaksi Jawa Pos. Ini agar berganti kepada generasi yang lebih muda. Umur 39 tahun saya sudah berhenti menjadi pemimpin umum Jawa Pos. Pak Jakob Oetama terus menjadi pemimpin redaksi dan pemimpin umum sampai usia hampir 70 tahun.
Saya tahu itu bukan kehendak beliau sendiri. Siapa pun tahu bahwa untuk mengganti pemimpin redaksi, saat itu, harus minta izin menteri penerangan. Pemerintah merasa lebih tenang kalau Kompas dipimpin Jakob Oetama daripada misalnya tokoh muda yang mungkin lebih radikal.
Bagi saya pribadi Jakob Oetama adalah “lawan” yang harus saya hormati, tapi juga harus saya kalahkan. Saya menempatkan diri sebagai “penantangnya”. Baik dalam bidang jurnalistik maupun dalam bidang bisnis pers. Sebagai penantang saya merasakan bukan main susahnya hidup di luar dominasi Kompas. Kompas sudah menjadi koran dan koran sudah menjadi Kompas. Semua minta agar koran itu harus seperti Kompas. Bahkan, kalau ada wartawan baru keinginannya menulis ternyata juga harus seperti gaya Kompas.
Tentu saya tidak suka semua itu. Kalau hanya mengikuti Kompas, selamanya hanya akan menjadi ekornya. Tidak akan bisa menjajarinya. Karena itu, saya mengambil jalan yang sangat berbeda. Bukan dari ibu kota menguasai nusantara, tapi dari nusantara menguasai Indonesia. Di bidang jurnalistik juga harus berbeda. Jawa Pos memilih jurnalistik bertutur. Untuk wartawan baru saya langsung mencekokkan doktrin “jangan ketularan penyakit Kompas”.
Kata “penyakit” di situ terpaksa saya pakai bukan karena gaya Kompas itu jelek, tapi hanya karena harus dihindari. Agar wartawan Jawa Pos benar-benar punya gaya yang berbeda. Maafkan saya pernah menggunakan kata penyakit itu, Pak Jakob. Tentu saya tidak akan tersinggung kalau ada pihak lain menggunakan istilah yang sama: penyakit Jawa Pos.
Memang di kalangan pers sempat muncul istilah “perang total” Kompas-Jawa Pos. Tapi, itu hanya di permulaan. Pada akhirnya semua orang tahu bahwa Kompas dan Jawa Pos bergerak di medan yang berbeda. Kompas dengan majalah-majalahnya yang luar biasa, dengan toko bukunya yang the best dan biggest, dengan hotel-hotelnya yang meluas dan dengan bidang usaha yang meraksasa ternyata punya pasarnya sendiri.
Demikian juga Jawa Pos dengan koran-koran daerahnya, pabrik kertasnya, dan jaringan TV lokalnya juga punya dunianya sendiri. Keduanya masih terus membesar tanpa ada salah satu yang kalah. Inilah dinamisnya persaingan yang sehat. “Pertempuran” itu telah berakhir.
Bukan hanya karena masing-masing sudah menempati makom-nya, tapi juga karena masing-masing sudah tua. Pak Jakob sudah 80 tahun. Sudah memilih dan memiliki CEO baru yang sangat andal, Agung Adiprasetyo. Saya sudah 60 tahun dan Jawa Pos juga sudah dipimpin Azrul Ananda yang berumur 34 tahun. Pak Jakob mungkin sudah tinggal menjadi pendetanya di Kompas dan bahkan saya sudah bukan siapa-siapa lagi di Jawa Pos, kecuali hanya pemegang sahamnya.


Hasil pertempuran itu sudah final: saya tidak mampu mengalahkan Pak Jakob Oetama. Kompas Group masih jauh lebih gede daripada Jawa Pos Group meski koran Jawa Pos sudah tidak kalah besar dari koran Kompas.


Yang lebih penting: saya melihat Pak Jakob sangat berbahagia dalam hidupnya. Dia mengerjakan bidang yang sangat disenanginya. Dia berhasil menjadi kaya raya. Dia diberi rahmat sangat panjang usianya. Belum tentu saya bisa sebahagia Pak Jakob Oetama. Belum tentu saya bisa membahagiakan orang lain sebesar dan sebanyak yang dilakukan Pak Jakob Oetama. Belum tentu juga saya bisa mencapai usia 80 tahun seperti Pak Jakob Oetama.(*)

Sakramen Ekaristi: Sumber dan Puncak Hidup Katolik (sharing pemahaman pribadi seorang awam Katolik)

  Sakramen Ekaristi: Sumber dan Puncak Hidup Katolik (sharing pemahaman pribadi seorang awam Katolik)   Sakramen Ekaristi adalah salah...