Kamis, 31 Mei 2012

TIP MENULIS UNTUK BLOGER: dari artikel terpilih

Tips Menulis Postingan yang Baik


Sebagai seorang blogger dalam menulis sebuah postingan, kalian tidak boleh menggurui, egois, dan merasa pintar. Ini dikarenakan, semua akan dinilai oleh pembaca. Seharusnya seorang blogger harus menyajikan sebuah postingan yang baik, agar pembaca bisa mengetahui atau memahami apa yang disampaikan oleh kalian dalam postingan tersebut.

Adapun tips-tipsnya seperti berikut :

1. Keserasian dalam menggunakan kata demi kata, kalimat demi kalimat. Keserasian dalam mengolah kata itu akan berdampak pada alur tulisan, sehingga pembaca bisa terbius dengan membacanya. Selain itu, emosional pembaca pun kan terbawa.

2. Tulisan harus jelas dan padat.
Dalam menggunakan singkatan juga harus benar jangan hanya asal menyingkat. Contoh; “saya sngt kecewa dengan adanya…… “. “Sngt” yang seharusnya ditulis “sangat” dengan jelas tanpa disingkat, karena bila disingkat belum tentu orang yang membacanya mengetahui maksud yang kalian tulis, terlebih ketika orang asing ingin menerjemahkan tulisan kalian ke bahasa inggris atau bahasa lainnya, pastinya ini tidak akan bisa diterjemah kan.

3. Tulisan harus sesuai dengan logika.
Jadi tulisan yang kalian yang akan di posting harus sesuai dengan logika, dalam artian tulisannya masuk akal. Contohnya; “ seorang pengendara sepeda motor mengalami kecelakaan setelah menyalip angkutan umum”, ini contoh yang masuk akal, sedangkan yang tidak masuk akal. “
seorang pengendara sepeda motor mengalami kecelakaan setelah menyalip kapal laut ”, mana ada sepeda motor yang bisa menyalip kapal laut, jenis transportasinya saja berbeda, sepeda motor transportasi darat, sedangkan kapal laut transportasi laut.

4. Penulisan tidak perlu di ulang-ulang agar terhindar dari kesan bertele-tele.
Sebuah tulisan yang banyak menggunakan kata yang di ulang-ulang akan menimbulkan kesan yang bertele-tele, sehingga pembaca pun akan merasa bosan.

5. Menerima Kritikan dan mau memperbaikinya.
Segala sesuatu di dunia ini tentunya tak ada yang sempurna, begitu juga sebuah postingan, terkadang kalian lupa menambahkan satu huruf, atau salah huruf, dan biasanya ada juga yang salah menulis suatu tempat. Bila ada seseorang mengkritiknya atau kalian sendiri sadar akan kekurangan itu maka segera di ganti atau di update lagi.

6. Harus bisa menyusun bahasa penulisan menjadi kesatuan yang utuh dan tidak terputus-putus. Dalam menulis postingan kalian tentunya mengacu pada tema pembahasan, jangan sampai meloncat ke pembahasan lainnya, Tentunya ini akan membuat pembaca merasa jenuh karena pembahasan yang meluas kemana-mana.

Oke sobat dotter’s, semoga tips yang saya bagi ini bisa bermanfaat untuk kalian, dan tentunya bisa menambah wawasan tentang bagaimana cara membuat postingan yang baik.
Terima kasih banyak


7 Tips Menjadi Blogger


Sobat dotter’s, bertekad menjadi seorang blogger tentunya menjadi sebuah acuan agar kalian akan terus meng update blognya secara kontinyu, baik dalam keadaan sedih atau senang kalian akan konsisten meng updatenya. Karena seorang blogger sejati itu akan selalu meng update blognya dalam kondisi atau situasi apapun.

Disini saya akan berbagi tips agar kalian bisa menjadi blogger yang konsisten dalam meng up date blognya. Disimak yah


Minat
Minat adalah sebuah dorongan yang datang dari dalam diri sendiri untuk melakukan sesuatu. “Apakah kamu mempunyai minat untuk menjadi seorang blogger?…” itu perlu kalian tanyakan pada diri kalian dulu sebalum terjun langsung menjadi  seorang blogger, karena bila kalian tak ada minat, maka kalian akan melakukannya dengan setengah-setengah.

Disiplin
Untuk menjadi seorang blogger tentunya dibutuhkan kedisiplinan dalam meng update blog nya. Tak mengenal kondisi atau situasi apapun bila waktunya untuk memposting maka lakukanlah. Karena dengan disiplin, waktu kalian pun akan tertata.

Stamina
Menjadi seorang blogger itu butuh stamina juga loh, justru kalian membutuhkan stamina yang banyak karena otak kalian dituntut untuk berfikir cepat, atau di tuntut untuk mengeluarkan ide-ide segar. Karena dengan menjaga kebugaran tubuh, tetunya kalian menjaga konsistensi posingan kalian juga.

Spesialis
Saat kalian memutuskan untuk menjadi seorang blogger tentunya sudah menentukan mau menjadi seorang blogger spesialis apa, contoh membahas seputar asmara, motivasi, atau kuliner. Karena nantinya postingan kalian akan ter arah tidak acak kadut pembahasannya.

Mood
Sebagai seorang blogger tentunya membutuhkan mood untuk memposting, jadi mood nya itu harus dijaga. Dan mood itu sesuatu yang ditunggu melainkan sesuatu yang harus diciptakan.

Tempat
Tempat bukanlah suatu persoalan yang menghalangi kalian untuk meng update blog, karena tempat seperti apapun malah bisa untuk sebuah bahan postingan, tinggal kalian mau ambil di sisi mananya saja sesuai konten pembahasannya.

Alat
Inilah hal yang sangat penting dan tak bisa di pisahkan dari seorang blogger yaitu, keyboard, mouse, PC, modem/akses internet, dan komputer/laptop. Karena tanpa alat kita tidak bisa meng update blog.
Nah, itulah tips dari saya. Semoga sedikit banyak bermanfaat bagi sobat-sobat dotter’s. Mulailah dari sekarang, jangan nunggu besok


Sumber: “Curahkan Gairah menulis” Ratna Dewi Pudiastuti






Menulis dengan Otak Dingin tapi Hati Hangat

Menulis dengan Otak Dingin tapi Hati Hangat

oleh Sutomo Paguci



http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2012/06/01/menulis-dengan-otak-dingin-tapi-hati-hangat


Mencoba memahami para komentator aktif di kompasiana baik yang sependapat dengan penulis maupun yang tidak sependapat. Para pengecam yang pedas ini kuklik akun Kompasiananya, kubaca artikelnya, dan kuajak berteman. Sekarang masih menunggu tanggapan. Hallo?
Penasaran mau melihat seberapa dewasa sikap para pengkritik itu. Apakah menganggap pihak yang kontra dengan pemikirannya sebagai musuh?
Aku sendiri penulis yang cukup bersemangat. Otak seperti bergemuruh menumpahkan segala kesumat pikiran. Treet-tret-tret tuts berbunyi dengan cepat. Otak menumpahkan segala kegelisahan pikiran ke ujung sepuluh jari. Ya, aku mengetik dengan sepuluh jari sambil mata terpejam. Suatu keahlian yang telah berpuluh tahun ku asah sejak SMP dulu.
Kadang kasihan melihat kawan yang begitu besemangat menulis, ide-idenya gemuruh seperti air terjun, tapi tak diimbangi kecepatan menulis. Ia menulis dengan dua ujung jari telunjuk kiri dan kanan. Nampaknya sih cepat bahkan brutal, tetapi sebenarnya lambat. Secepat apapun penulis dengan dua telunjuk tidak akan mampu mengalahkan sepuluh jari yang bergerak refleks seperti pendekar Dhanapati yang menggunakan ajian menjelma jadi sepuluh dalam “Puncak Dendam Dhanapati” buah karya Kompasianer Ken Hirai itu.
Bunyi tuts komputer yang dihajar dengan dua ujung jari kira-kira begini: tak-tuk tak-tuk tak-tuk. Sedangkan bunyi tuts yang digagahi sepuluh jari kira-kira begini: tret-tret-tret-treeeeet! Bablas. Satu artikel pendek selesai dalam 15 menit.
Wah kok jadi ngelantur nih. Rahasia menulis dengan otak dingin tapi hati hangat di Kompasiana segera dimulai! Otak boleh panas tapi hati tetap dingin. Tapi saya lebih merasa pas dengan istilah “hangat” untuk hati, yaitu sebentuk perasaan yang menangkap rasa kata denga antusias dan humor.
Saya sendiri tidak berpretensi harus mempertahankan apa yang saya pikirkan dengan hati penuh amarah, dendam, kebencian dan angkara murka anak manusia. Untuk apa? Cuma tulisan pemikiran aja kok dibawa serius banget. Setuju, ambil. Tidak setuju, ya tinggalkan. Walau aku orangnya agak sinis, tapi menghargai pemikiran yang berlawanan.
Kalau ada yang meninggalkan jejak digital di akun saya–umpamanya corong liberal, kafir, antek AS, antek Yahudi, Islamophobia, dst–bagaimana? Ya, santai aja. Dipikirin tapi tak masuk ke hati. Yang tahu apakah benar semua stigma itu adalah diri kita sendiri. Ikuti aja kata Stephen R Covey, kita yang memutuskan.
Begitupun ketika orang mengkritik konten tulisan, wah, ini wajib dipikirkan benar-benar. Dipikirkan dengan otak terbuka bahkan terngaga. Jangan-jangan kritik itu benar. Jika benar, ya perbaiki lain kali. Jika pun tidak benar, ya tetap berterima kasih sudah berpartisipasi.
Otak ini memang dibiarkan terbuka dengan segala ide: fundamental, literal, liberal, kapital, demokratis, ortodok, dan lain-lain. Sejauh ini ia membaca blog/web http://islamlib.com dan http://ulil.net. Sebaliknya dia juga membaca dengan serius blog http://IndonesiatanpaJIL.com. Dia membaca timeline #IndTanpaFPI, juga membaca timeline #IndonesiaTanpaJIL di twitter.
Sejauh ini Otak berusaha keras memahami alur pemikiran seumpama #IndonesiaTanpaJIL, Abu Bakar Ba’asyir, Irene Handono, Habib Rizieq. Namun pemikiran tersebut belum memuaskan logika si Otak. Habisnya, pemikiran mereka lebih banyak bernuansa provokasi, kebencian, bahkan kekerasan. Tapi si Otak akan tetap berusaha menyelami pemikiran mereka.
Sebaliknya. Logika si Otak yang terbuka itu justru terpuaskan oleh tulisan-tulisan tokoh Indonesia seperti Quraish Shihab, Gus Dur, Ulil Abshar Abdalla, Said Agil Siradj, Syafii Maarif, Abdul Moqsith Ghazali, Luthfi Assyaukanie, Adnan Buyung Nasution, Todung Mulya Lubis, Abdurahman Saleh, Yusril Ihza Mahendra, Budiarto Shambazy, Andrea Hirata, Habiburrahman El Shirazy, Anis Baswedan, Pipih Nugraha, Dewa Gilang, Arab Kere, Katrokelana, Hanung DW Nugrahanto, dan Kompasianer senada lainnya.
Di tengah pertarungan pemikiran pro dan kontra itu, akhirnya si Otak bersandar pada Cinta. Siapa saja tokoh dunia yang memancarkan cinta dalam gerakannya? Nabi Muhammad, sudah tentu. Mahatma Gandhi, ya. Nelson Mandela, ya juga.
Sudah dulu menulisnya. Lagi sibuk.

Selasa, 29 Mei 2012

RADIKALISME ORMAS MELUNTURKAN RASA NASIONALISME?

SUARA ISLAM Online - RADIKALISME ORMAS MELUNTURKAN RASA NASIONALISME?

Irfan S ‘Awwas
Ketua Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin


Di Indonesia, radikalisme dan nasionalisme adalah dua istilah yang eksistensinya telah didahului oleh proses sejarah. Radikalisme dalam pengertian politik adalah orientasi politik mereka yang menghendaki perubahan revolusioner dalam pemerintahan dan masyarakat. Karena itu, kolonial Belanda yang menjajah Indonesia selama 350 tahun, memosisikan semua gerakan noncooperative sebagai anggota perusak, kelompok nonloyalis, ekstrimis dan radikalis.

Bung Karno dituduh kelompok radikal oleh Belanda. Pejuang Palestina dituduh radikal bahkan teroris oleh agresor zionis Israel. Begitupun, pejuang Thaliban dituding sebagai kelompok radikal atau teroris oleh Amerika. Menuduh ormas-ormas Islam sebagai kelompok radikal berdasarkan stigma global, adalah kezaliman.

Menggunakan isu terorisme atau radikalisme untuk memecah belah umat Islam melalui kategorisasi sektarianisme seperti di atas jelas kezaliman. Karena, radikalisme pada dasarnya tidak mempunyai agama. Juga, bukan merupakan identitas suatu ideologi. la bisa berada di berbagai ruang. Kita bisa menemukan radikalisme pada tubuh militer, pada komunitas keagamaan, ideologi sekuler, kaum liberal dan demokrasi.

Menyatukan kata radikalisme atau terorisme dengan Islam sehingga menjadi radikal Islam atau teroris Islam, merupakan radikalisme dan terorisme yang sebenarnya. Karena radikalisme maupun terorisme bukanlah Islam. Sebagaimana juga menyatukan kata moderat atau liberal dengan Islam, itu bukanlah Islam. Karena, setiap istilah yang disatukan dengan Islam seperti di atas, akan berupaya melakukan identifikasi berdasarkan karakteristik masing-masing gerakan atau orientasi ideologinya. Al-Qur’an maupun Sunnah Rasulullah Saw. tidak pernah membuat identifikasi adanya Islam moderat, Islam radikal, ataupun Islam liberal.

Akar radikalisme bisa bermacam macam. Bisa disebabkan nafsu berkuasa, ketidakadilan, atau diskriminasi yang dialami sekelompok orang. Radikalisme yang didasarkan ideologi tertentu tidak lebih berbahaya dibandingkan radikalisme yang dilahirkan militerisme yang dilandasi nafsu berkuasa. Tidak lebih berbahaya dibanding radikalisme demokrasi, radikalisme budaya, etnik dsbnya. Bahkan di masa sekarang, radikalisme atau terorisme bisa dilakukan oleh negara ataupun orang per orang mnelalui teknologi.

Radikalisme pada komunisme akan semakin dahsyat bila berbaur dengan militerisme. Seperti yang pernah kita alami pada 1965 1966. Radikalisme yang bersemayam pada kelompok zionis akan semakin berbahaya setelah ia bersentuhan dengan militerisme sebagaimana dilakukan Israel terhadap bangsa Palestina, Amerika terhadap Iraq, Uni Soviet terhadap Afghanistan.
Di Indonesia, radikalisme ideologi pernah dialami saat PKI memberontak, 1966. Radikalisme demokrasi, terjadi pada kasus pemekaran wilayah di Medan yang dengan teriakan hiteris membunuh Ketua DPRD di ruang parlemen. Kasus Sampit, beberapa tahun yang lalu adalah contoh radikalisme etnis. Radikalisme sparatis di Indonesia seperti kerusuhan OPM di Papua, Aceh, juga RMS di Maluku.

Di negara-negara berlabel demokrasi, radikalisme bahkan lebih jahat daripada yang terjadi di negeri kita. Presiden Prancis dari Partai Konservatif Nicolas Sarkozy melarang wanita muslimah mengenakan jilbab dan burqa, karena dianggap bertentangan dengan nilai-nilai sekuler Prancis. Pemerintah Swiss menunjukkan kebencianya terhadap Islam secara radikal, dengan melarang adanya menara masjid supaya suara adzan tidak terdengar keluar masjid.
Sebelum Prancis, Jerman ‘lebih maju’ lagi. Tahun 2007, Pengadilan administratif Jerman mengesahkan larangan mengenakan jilbab di wilayah North Rhine-Westphalia. Sebelumnya, pengadilan yang sama juga memutuskan untuk mendukung larangan berjilbab. Dari 16 negara bagian di Jerman, delapan negara bagian menyatakan melarang jilbab. Bahkan Belanda mengesahkan sebuah undang-undang yang melarang menyembelih binatang tanpa dibius, yang sesuai prinsip memotong hewan secara Islam. Bukankah contoh di atas membuktikan kebencian kaum sekuler terhadap Islam ditunjukkan secara radikal dan anarkis?

Dampak buruk dari wacana stigmatisasi ini, suasana saling curiga bahkan adu domba di antara warga masyarakat terasa sekali. Orang-orang barat menghadapi Islam secara biadab dan paranoid. Jilbab dan menara masjid saja ditakuti melebihi ketakutannya terhadap bom Hirosima dan Nagasaki. Bahkan jenggot saja dianggap dapat meruntuhkan kekuasaan negara, sehingga muncul istilah jahat, jenggot teroris, preman berjubah.

Oleh karena itu, jika sekarang rezim SBY di era reformasi ini, memosikan ormas agama yang menghendaki perubahan reformatif dan ideologis dianggap radikal yang dapat melemahkan rasa nasionalisme, hal itu sangat berlebihan. Sama saja menganggap kucing sebagai harimau. Apakah berarti kekuatan kolonialis dan imperialis sedang mengcengkeram taringnya di NKRI?

Radikalisme dan Nasionalisme


Lalu, bagaimana dengan nasionalisme?. Berdasarkan kamus bahasa Indonesia, nasionalisme berarti perasaan cinta bangsa sendiri. Inti dari nasionalisme adalah menempatkan masalah bangsa dan negara di atas masalah pribadi, masyarakat, maupun agama. Nasionalisme juga berarti bagaimana melihat masyarakat Indonesia sebagai bagian keseluruhan atau kesatuan.
Adanya mafia anggaran, pesta pora mafia proyek, rekening gendut para penguasa, merajalelanya aji mumpung, pengrusakan lingkungan (illegal logging), kelompok-kelompok masyarakat yang beringas sehingga tidak segan-segan berkelahi antar kelompok bahkan bila perlu dengan aparat penegak humum. Apakah mereka dapat disebut berjiwa nasionalis?

Pejabat-pejabat korup juga berkelompok ketika merampok uang negara, kelompok tersebut tidak pernah melakukan gerakan fisik secara radikal tetapi aksi vokalnya sangat radikal terutama koruptor yang anggauta DPR. Kelompok inilah yang paling berbahaya; selalu berteriak-teriak tentang pentingnya Nasionalisme, tetapi disisi lain merampok uang negara sehingga menyengsarakan rakyat. Anggota parpol juga ikut menjarah uang negara untuk menghidupi partainya. Apakah mereka juga disebut nasionalis NKRI?
Di Indonesia, semangat nasionalisme berarti memahami dan menerapkan nilai-nilai Pancasila sebagai filosofi dan ideologi negara. Sila pertama Pancasila berbunyi: “Ketuhanan YME”, yang juga tercantum dalam UUD 1945 pasal 29 ayat 1 sebagai dasar negara. Pertanyaannya, bagaimana persepsi kaum nasionalis terhadap sila pertama Pancasila ini?

Profesor Hazairin, SH menafsirkan ps 29 ayat 1 UUD ’45 itu, bahwa di negara yang berdasarkan Ketuhanan YME tidak boleh ada UU atau aturan yang bertentangan dengan agama. Apakah kaum nasionalis termasuk menyetujui penafsiran Hazairin ini? Lalu bagaimana dengan kenyataan di atas? Inilah dilema kehidupan berbangsa di Indonesia. Benarlah firman Allah:

“Jika Kami berkehendak menghancurkan suatu negeri, maka Kami jadikan orang-orang yang suka berbuat durhaka di negeri itu sebagai pemimpin, lalu pemimpin itu berbuat kerusakan di negerinya. Akibat perbuatan rusak pemimpin mereka, maka turunlah adzab kepada mereka dan Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (Qs. Al-Israa’, 17:16

Jadi, eksistensi pemimpin jahat yang tidak peduli nasib rakyatnya, koruptor, ahli selingkuh, ahli maksiat, sesungguhnya merupakan hukuman bagi bangsa yang tidak mau tunduk pada syari’at Allah Swt.

Korban Terjemah Harfiyah Al-Qur’an

Akhir-akhir ini berkembang opini, Indonesia hari ini seakan menjadi zona terbuka bagi kuliah kekerasan yang bersumber dari Kitab Suci. Dengan proyek deradikalisasi, umat Islam telah disandera dengan stigma radikal, tapi malah membebankan tanggung jawab berat ini pada tokoh agama.

Adalah satu tragedi jika rakyat yang berorientasi pada penegakan syari’at Islam di lembaga Negara dituding sebagai kelompok radikal. Sama tragisnya bila Kitab Suci Al Qur’an diposisikan sebagai pemicu radikalisme.

Munculnya gagasan deradikalisasi agama akhir-akhir ini, dan kemudian dilembagakan menjadi BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme), sebenarnya berangkat dari apriori ini. Namun, Ustadz menemukan fakta sebaliknya. Bukan Al-Qur’an yang memicu radikalisme, melainkan terjemah harfiyah Al-Qur’an yang paling berjasa menumbuh kembangkan bibit radikal.
Kesimpulan ini, tentu saja bukan tanpa hujjah. Telaah dan koreksi yang dilakukan Amir Majelis Mujahidin, Ustadz Muhammad Thalib, dibantu asisten penerjemahnya Slamet Suripto, terhadap karya puluhan ulama, yang telah beredar jutaan eksemplar selama 45 tahun ini, dan kita yakini sebagai suatu kebenaran, memang luar biasa sulitnya. Bagai menarik helai rambut dalam tumpukan tepung. Hasilnya, adalah terbitnya Al Qur'an Tarjamah Tafsiriyah ini yang kami sebut karya monumental.

Dalam kesempatan ini, kami akan memberikan beberapa contoh koreksi yang diharapkan dapat memberikan pemahaman yang komprehensif dan mencegah timbulnya salah tafsir tentang jihad dan terorisme.

Pertama, hubungan antar umat beragama, Qs. Al-Baqarah, 2:191

“Wahai kaum mukmin, perangilah musuh-musuh kalian di mana pun kalian temui mereka di medan perang dan da­lam masa perang. Usirlah musuh-musuh kalian dari negeri tempat kalian dahulu diusir"

Qs. At-taubah (9): 5), tarjamah Harfiyah Depag/Kemenag: Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah ditempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang.

Kalimat ‘bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka’, seolah-olah ayat ini membenarkan untuk membunuh musuh di luar zone perang. Hal ini, tentu sangat berbahaya bagi ketenteraman dan keselamatan kehidupan masyarakat. Karena pembunuhan terhadap musuh di luar zone perang sudah pasti menciptakan anarkhisme dan teror; suatu keadaan yang  tidak dibenarkan oleh syari'at Islam.

Maka Tarjamah tafsiriyahnya: „Wahai kaum mukmin, apabila bulan-bulan haram telah berlalu, maka umumkanlah perang kepada kaum musyrik di mana saja kalian temui mereka di tanah Haram. Perangilah mereka, kepunglah mereka, kuasailah mereka, dan awasilah mereka dari segenap penjuru. Jika kaum musyrik bertaubat, lalu melakukan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang kepada semua makhluk-Nya.“



Terjemah harfiyah di atas bertentangan dengan fakta sejarah dan akhlak Nabi Saw yang terpuji. Pada edisi revisi berubah menjadi, “Dan siapa yang kamu ingini untuk menggaulinya dari istri yang telah kamu sisihkan, maka tidak ada dosa bagimu.”

Apakah revisi ini hanya redaksional, lalu terjemah mana yang boleh digunakan, apakah dua-duanya boleh? Sebenarnya ayat ini hanya berkaitan dengan kebebasan Nabi saw. untuk menetapkan jadwal giliran bermalam pada istri-istri beliau.

Tarjamah Tafsiriyahnya: Wahai Nabi, engkau boleh menangguhkan giliran bagi istrimu mana saja yang engkau kehendaki. Engkau boleh mendahulukan giliran bagi istrimu mana saja yang engkau kehendaki. Kamu tidak berdosa meminta penukaran jadwal giliran bermalam kepada siapa saja di antara istrimu.
Keempat, perempuan telanjang, Qs. An-Nur, 24:60 :

Terjemah Harfiyah Depag: “Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka….”

Dalam foot note dijelaskan, menanggalkan pakaian maksudnya: pakaian luar yang kalau dibuka tidak menampakkan aurat. Dalam bahasa Indonesia, kata menanggalkan pakaian berarti telanjang; sedang aurat berarti kemaluan. Apakah benar ayat ini membolehkan perempuan menopause telanjang di depan umum, hanya mengenakan BH dan celana dalam? Na’udzubillahi min dzalik.

Tarjamah Tafsiriyahnya: Perempuan-perempuan yang sudah tidak haidh dan tidak lagi ingin berhubungan seksual, maka mereka tidak berdosa melepaskan kerudung pelengkap pakaian mereka, selama kepala, leher dan dada tetap tertutup. Tetapi jika mereka tetap mengenakan kerudung pelengkap, hal itu lebih baik. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui niat mereka.

Ilusi Sekularisme

Sistem hukum dan perundang-undangan sekuler yang diterapkan pemerintah, untuk menegakkan keadilan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat, hanyalah ilusi. Terjadinya pembiakan kriminalitas, disharmonisasi kehidupan, dekadensi moral serta pembusukan terhadap nilai-nilai kemanusiaan, membuktikan bahwa hukum sekuler tidak mampu memberikan pengayoman, ketentraman, keadilan dan rasa aman kepada masyarakat. Kasus korupsi sudah lama coba diatasi dengan pendekatan sekularistik, secara formalitas dan legalitas, tetapi mengabaikan kenyataan dalam masyarakat bahwa kejahatan kian meluas, penyalahgunaan jabatan, mafia dan demoralisasi hukum merajalela.

Melalui perangkat normatif seperti lembaga hukum, kepolisian, kejaksaan, kehakiman, lembaga Satgas hukum, pengacara dll, kaum sekuler merasa yakin dapat mengatasi problem kehidupan. Karena itu, dalam urusan publik sekularisme menolak intervensi hukum Allah, tidak peduli dengan sepak terjang dan segala hal yang dapat meruntuhkan moral dan mental manusia, sebagaimana yang menjadi larangan keras dalam hukum Allah. Seperti khamer yang dapat merusak akal, kebebasan seksualitas yang merusak moral dan rasa tanggungjawab manusia, perjudian yang mendorong manusia hidup boros dan hura-hura dan menimbulkan mental curang. Semua perbuatan dosa ini dapat menyuburkan tindak pidana korupsi yang oleh sekularisme tidak diberantas secara formal.

Kekuatan yang dapat menanamkan kontrol pribadi yang dibutuhkan manusia, mengendalikan dirinya tanpa intervensi orang lain tidak dimiliki sekularisme. Sebab sekularisme tidak percaya dengan Tuhan dan akhirat, yang dalam hukum Allah dijadikan sebagai pokok pangkal mengendalikan jiwa dan akal manusia agar tidak berbuat dosa apapun.

“Wahai Muhammad, katakanlah kepada manusia, “Yang diharamkan oleh Tuhanku adalah semua perbuatan keji yang tampak maupun yang tersembunyi, perbuatan dosa, perbuatan zalim, melanggar hak orang lain dengan dalih yang tidak benar, dan menyekutukan Allah; sedangkan Allah tidak menurunkan pembenaran atas perbuatan-perbuatan itu. Wahai manusia, kalian mengatakan sesuatu atas nama Allah, padahal sebenarnya kalian tidak mengetahui hal itu.” (Qs. Al-A’raf, 7:33)

Syari’ah Islam tidak hanya berbicara masalah hukum dan hukuman, melainkan juga berfungsi untuk membimbing, mengayomi, menjamin keselamatan dan keamanan serta kesejahteraan manusia, baik sebagai individu, masyarakat, bangsa dan Negara. Mengapa bangsa Indonesia tidak kembali kepada Islam yang rahmatan lil Alamin, dan tidak hanya memperlat Islam untuk meneguhkan eksistensi diri dan membersihkan diri dari rasa malu pada manusia?

Jogjakarta, 28 Maret 2012

Senin, 28 Mei 2012

PENDIDIKAN HUMANIORA&PENGARUH SISTIM PENDIDIKAN KOLONIAL DI INDONESIA

PENDIDIKAN HUMANIORA

http://id.netlog.com/abdulhakimelhamidy/blog/blogid=97302#blog

.
PENDIDIKAN HUMANIORA

Pendidikan humaniora adalah suatu bahan pendidikan yang mencerminkan keutuhan manusia dan membantu agar manusia menjadi lebih manusiawi, yaitu membantu manusia untuk mengaktualkan potensi-potensi yang ada, sehingga akhirnya terbentuk manusia yang utuh, yang memiliki kematangan emosional, kematangan moral dan kematangan spiritual.

Setiap bangsa pasti ditandai dengan pluralitas agama dan budaya. Kehidupan dalam iklim yang berbeda ini diharapkan manusia atau setiap pribadi itu memiliki dimensi individual dan sosial. Hal ini sangat berkaitan dengan bagaimana hidup bersama orang lain, mengembangkan kepekaan untuk saling menghormati dan menghargai.

Dalam mencapai kesempurnaan kehidupan setiap individu memiliki akal dan budi atau yang lazim disebut pikiran dan perasaan yang memungkinkan munculnya tuntutan-tuntutan hidup manusia yang lebih daripada tuntutan hidup makhluk lain dan memungkinkan munculnya karya-karya manusia yang sampai kapanpun tidak pernah akan dapat dihasilkan oleh makhluk lain.

Berdasarkan uraian di atas kita mengetahui bahwa tujuan dari pendidikan humaniora adalah untuk membimbing manusia menjadi manusia seutuhnya dan mengembalikan nilai-nilai kemanusiaan yang semakin terkikis, untuk kehidupan yang lebih sempurna.

A. Pengertian Humaniora
Menurut bahasa latin, humaniora disebut artes liberales yaitu studi tentang kemanusiaan. Sedangkan menurut pendidikan Yunani Kuno, humaniora disebut dengan trivium, yaitu logika, retorika dan gramatika. Pada hakikatnya humaniora adalah ilmu-ilmu yang bersentuhan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang mencakup etika, logika, estetika, pendidikan pancasila, pendidikan kewarganegaraan, agama dan fenomenologi.

B. Pentingnya Mempelajari Pendidikan Humaniora
Berbagai macam kasus kekerasan yang terjadi di dalam kehidupan bermasyarakat, tindakan anarkis dan pelanggaran nilai kemanusiaan bahkan sudah menjadi keseharian. Indikatornya adalah pendidikan belum berperan signifikan dalam proses membangun kepribadian bangsa yang berjiwa sosial dan kemanusiaan. Tampaknya, manusia harus lebih “dimanusiakan” lagi. Keterpurukan bangsa yang berlarut-larut juga berhubungan dengan kegagalan pendidikan di masa lalu yang mengakibatkan terjadinya proses dehumanisasi.

Gagasan dan langkah menuju pendidikan yang berorientasi kemanusiaan merupakan salah satu upaya mengembalikan nilai-nilai kemanusiaan yang semakin terkikis. Melalui pendidikan de-humaniora diharapkan manusia dapat mengenal dirinya, kemanusiaannya yang utuh, dan tidak hanya dapat menundukkan lingkungan alam fisik melalui kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pada prinsipnya, pendidikan humaniora bertujuan membuat manusiawi/untuk keselamatan dan kesempurnaan manusia.

C. Latar Belakang Pendidikan Humaniora

1. Pengertian kebudayaan

Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia untuk memenuhi kehidupannya dengan cara belajar, yang semuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat.

Untuk lebih jelas dapat dirinci sebagai berikut :
a. Kebudayaan adalah segala sesuatu yang dilakukan dan dihasilkan manusia yang meliputi kebudayaan material dan kebudayaan non material.
b. Kebudayaan itu diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.
c. Kebudayaan itu adalah kebudayaan manusia dan hampir semua tindakan manusia adalah kebudayaan.
2. Manusia sebagai pengemban nilai-nilai

Di muka telah dijelaskan bahwa adanya akal dan budidaya pada manusia, telah menyebabkan adanya perbedaan cara dan pola hidup di antara keduanya. Oleh karena itu, akal dan budi menyebabkan manusia memiliki cara dan pola hidup yang berdimensi ganda, yakni kehidupan yang bersifat material dan kehidupan yang bersifat spiritual. Manusia dimanapun dia berada dan apapun kedudukannya selalu berpengharapan dan berusaha merasakan nikmatnya kedua jenis kehidupan tersebut.

Hal di atas sebagaimana kodrat dari Tuhan bahwasanya manusia memang ditakdirkan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar mereka saling mengenal. Saling mengenal di sini diartikan bahwasanya agar mereka yang berbeda-beda itu bisa saling melengkapi dalam artian memberi dan menerima.

Kemajuan dan perkembangan yang hanya terbatas pada kemajuan material saja akan menimbulkan kepincangan pada kehidupan manusia. Kehidupan mereka kurang sempurna, dimensi di dalamnya akan hilang, karena batin mereka kosong akibatnya tidak akan memperoleh ketenteraman, ketertiban hidup, melainkan justru dapat lebih rusak karenanya.

Material dan spiritual adalah dua hal yang saling melengkapi. Dua hal ini bagaikan jasad dan ruh. Kebahagiaan material akan menunjang jasmani kita, sedangkan kebahagiaan spiritual akan menunjang ruhani kita.

3. Manusia sebagai makhluk termulia

Kalau kita lihat dari segi bentuk fisiknya maupun yang ada di sebaliknya, tidak berlebihan kalau manusia menyatakan dirinya sebagai makhluk termulia. Di antara makhluk-makhluk lain ciptaan Tuhan.

Beberapa keistimewaan yang dimiliki manusia dibanding dengan makhluk yang lain, adalah :
a. Manusia mampu mengatur perkembangan hidup makhluk lain dan menghindarkannya dari kepunahan.
b. Manusia mampu mengubah apa yang ada di alam ini
c. Manusia memiliki ilmu pengetahuan yang karenanya kehidupan mereka makin berkembang dan makin sempurna
d. Semua unsur alam termasuk makhluk-makhluk lain dapat dikuasai manusia dan dimanfaatkan untuk keperluan hidupnya.

4. Budaya sebagai sarana kemajuan dan sebagai ancaman

Filsuf Hegel dalam abad ke-19 membahas budaya sebagai keterasingan manusia dengan dirinya sendiri. Dalam berbudaya, manusia tidak menerima begitu saja apa yang disediakan oleh alam, tetapi mengubahnya dan mengembangkannya lebih lanjut.

Dengan akal dan dayanya, manusia berusaha untuk merubah sesuatu yang bersifat bahan mentah, yang disediakan oleh alam menjadi bahan jadi yang bisa dimanfaatkan untuk kelangsungan hidup mereka. Dengan selalu berfikir dan mencoba, menjadikan manusia menjadi maju. Lain halnya dengan mereka yang tidak berminat untuk selalu berfikir dan mencoba. Pasti, akan terlihat sekali perbedaan antara keduanya.

Selain sebagai kemajuan budaya juga bisa menjadi ancaman. Budaya merupakan bahaya bagi manusia sendiri, yang dimaksud umpama tekhnik, peradaban, pabrik berasap, udara yang penuh debu, kota yang kotor, hutan yang masih kotor, kediktatoran akal dan budaya yang tamat. Baginya budaya itu menguasai, menyalahgunakan, menjajah dan mematikan.

Begitulah keadaannya jika manusia mengembangkan kebudayaannya tanpa memperhatikan etika. Akan terlihat sekali perbedaan antara pengembangan kebudayaan yang memperhatikan etika dan yang tidak.

D. Metode Pendidikan Humaniora

Tugas pendidikan masa kini, pertama-tama bukannya mengajarkan “apa yang paling baik diketahui dan dipikirkan pada masa lampau”, akan tetapi yang lebih penting adalah menyajikan informasi dan orientasi terhadap masa kini, dan khususnya orientasi terhadap masa depan di mana nantinya para siswa akan hidup di dalamnya. Dengan pendidikan seperti itu, mereka akan memiliki kepekaan dan kemampuan-kemampuan untuk mengambil bagian secara kreatif di berbagai kehidupan masa mendatang.
Mengingat masa lampau tidak akan memberikan kesegaran pada masa kini dan yang akan datang.
Sesuai dengan maqolah dalam buku “Laa Tahzan” bahwasanya hari ini adalah milik anda. Yang perlu kita fikirkan adalah hari ini, marilah kita hadapkan diri kita pada kejadian sekarang. Boleh juga kita menoleh masa lampau, sekedar untuk pelajaran. Kita bisa mengoreksi diri kita dengan melihat kesalahan-kesalahan pada masa lampau. Namun hanya sebatas itu, jangan kita terlalu larut dalam kejadian masa lampau.

Pendidikan humaniora adalah pembinaan kualitas kepribadian anak didik, yaitu untuk mencapai tujuan pengembangan “pribadi seutuhnya”, maka perlu untuk disajikan program-program kegiatan belajar-mengajar yang sifatnya non-verbal, sehingga memungkinkan anak didik untuk mengembangkan kesadaran kepekaannya, serta kemampuan-kemampuan lainnya untuk menikmati kehidupan aktual dan bukan lagi terkungkung hanya di dalam lingkungan dunia intelek yang serba abstrak.
Hal tersebut sangat penting, seseorang yang hanya intelek, tidak akan seimbang jika tidak disertai dengan kecakapan. Orang yang tidak cakap tidak akan mampu menunjukkan dan mengembangkan keintelekannya. Begitu pula orang yang cakap tapi tidak intelek. Dia mampu menunjukkan dan mengembangkan sesuatu. Akan tetapi, dia tidak punya sesuatu atau materi atau bahan untuk ditunjukkan dan dikembangkan.

Selain hal-hal di atas, pendidikan humaniora juga mementingkan masalah spiritual. Manusia tak cukup hanya kaya, tampan, cantik dan berkecukupan. Orang yang tersebut tidak akan tenang hatinya tanpa adanya ketenteraman hati. Hal ini dapat dicapai dengan selalu mendekatkan diri pada sang khaliq dan mensyukuri nikmat-Nya.

KESIMPULAN
1. Pendidikan humaniora adalah pendidikan yang berorientasi untuk mendidik manusia menjadi manusia seutuhnya.
2. Prinsip pendidikan humaniora bertujuan membuat manusia lebih manusiawi atau untuk keselamatan dan kesempurnaan manusia.
3. Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia untuk memenuhi kehidupannya dengan cara belajar, yang semuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat. Dengan adanya kebudayaan inilah yang melatarbelakangi pendidikan humaniora.
4. Bahwasanya manusia diberkahi adanya akal dan budi daya yang menyebabkan cara dan pola hidup yang berbeda diantara keduanya. Dan dengan adanya akal dan budidaya manusia adalah sebagai pengemban nilai-nilai moral baik yang bersifat material maupun spiritual.
5. Dalam metode pendidikan humaniora, anak didik dikenalkan pada pengembangan material dan spiritua


SISTEM PENDIDIKAN INDONESIA MASIH TERPENGARUH SISTEM PENDIDIKAN KOLONIAL

http://id.netlog.com/abdulhakimelhamidy/blog/blogid=41401


Oleh: Abdul Hakim El Hamidy

Pendahuluan

Masa Penjajahan Belanda bisa dikatakan adalah salah satu pondasi berbagai sistem yang berlaku di Indonesia. Mulai dari sistem birokrasi pemerintahan, perekonomian, pendidikan, bahkan hingga tata cara pengairan masih banyak bergantung pada sarana-sarana pengairan peninggalan Belanda.
Dari sekian banyak sistem yang ditinggalkan Belanda di Indonesia, salah satu hal yang penting untuk dikaji adalah perubahan sistem pendidikan di Indonesia. Hal ini disebabkan pendidikan bisa dikatakan salah satu poin penting dalam pembangunan negara dan peningkatan kesejahteraan rakyat pada umumnya.
Sistem pendidikan yang baik sedikit banyak akan dapat meningkatkan, apalagi jika dijalankan dengan semestinya. Oleh karena itu, perlulah kita mempelajari perubahan sistem pendidikan di Indonesia pada masa kolonial serta implikasinya pada sistem pendidikan saat ini.

Pendidikan Indonesia Sebelum Masa Kolonial

Komunitas Paduraksa, sebuah komunitas pemerhati sejarah budaya Indonesia, dalam sebuah tulisan berjudul "Sedikit Uraian Sejarah Pendidikan Indonesia", mengelompokkan pendidikan Indonesia berdasarkan waktu keberadaannya menjadi tiga. Yang pertama adalah pendidikan Indonesia pada masa Hindu-Budha, pendidikan pada masa Islam, dan pendidikan pada zaman kolonial.
Pada masa Hindu-Budha, dikatakan di uraian tersebut pula, mengutip dari tesis Agus Aris Munandar yang berjudul "Kegiatan Keagamaan di Pawitra Gunung Suci di Jawa Timur Abad 14—15 (1990)", pendidikan dikenal dengan istilah "Karsyan", sebuah tempat yang diperuntukan bagi petapa dan untuk orang-orang yang mengundurkan diri dari keramaian dunia dengan tujuan mendekatkan diri dengan dewa tertinggi.
Karsyan sendiri dibagi menjadi dua bentuk yaitu patapan dan mandala. Di mana patapan adalah tempat mengasingkan diri, atau bertapa, bagi seseorang dengan tujuan mencari petunjuk tentang apa yang dia inginkan. Sedangkan mandala adalah sebuah tempat suci untuk para pendeta, murid, dan mungkin pengikutnya untuk kegiatan keagamaan, dan pembaktian diri pada agama dan nagara.

Pada masa Islam, menurut tulisan Komunitas Paduraksa, pendidikan yang ada bisa dikatakan merupakan adaptasi dengan sistem pendidikan pada masa Hindu Budha.
Adaptasi antara sistem mandala dan uzlah (menyendiri) tampakpada tampak pada sistem pendidikan yang mengikuti sistem patapan, saat guru dan murid berada dalam satu lingkungan permukiman yang disebut pondok pesantren, dimana pondok pesantren tersebut biasanya jauh dari keramaian dan terkesan menyendiri (Schrieke, 1957: 237; Pigeaud, 1962, IV: 484—5; Munandar 1990: 310—311).

Pada pendidikan masa Hindu-Budha dan pendidikan masa Islam, menurut saya tujuan dari pendidikan adalah untuk mencari jati diri dan tujuan hidup.
Pencarian pengetahuan tentang untuk apa dirinya itu harus hidup. Hal-hal yangdiajarkan juga sebatas pemikiran-pemikiran tentang manusia, ilmu-ilmu keagamaan ditambah ilmu-ilmu perdagangan dan pengolahan alam.
Terlihat dari tujuan belajar pada masa Hindu-Budha, yaitu mencari petunjuk tentang apa yang diinginkan, baik baik buruknya hingga cara pencapaiannya. Sedangkan saat pendidikan masa Islam, tidak jauh berbeda dengan sistem mandala dimana merupakan tempat “belajar bersama”, mempelajari untuk apa manusia hidup, hubungannya dengan Tuhan dan juga hubungan dengan alam sekitar dan sebagainya.


Pendidikan Indonesia Pada Masa Kolonial

Saat Belanda masuk ke Indonesia, pendidikan yang ada diawasi secara ketat oleh Belanda. Hal tersebut dikarenakan Belanda tahu bahwa melalui pendidikan gerakan-gerakan perlawanan halus terhadap keberadaan Belanda di Indonesia pada saat itu dapat muncul dan menyulitkan Belanda saat itu. Usaha Belanda untuk membatasi pendidikan terhadap kalangan pribumi terus berlanjut, hingga saat muncul kritik dari para kaum humanis Belanda.
Sindiran dan kritik para kaum humanis yang dituangkan dalam tulisan seperti Max Havelaar (Max Havelaar: Or the Coffee Auctions of the Dutch Trading Company, Multatuli, 1860) sedikit banyak telah memaksa Belanda untuk memberlakukan politik etis (Ethical Policy - ‘Ethische Politiek), atau juga dikenal sebagai politik balas budi, pada sekitar tahun 1901.

Tiga poin utama dalam politik etis Belanda pada masa itu adalah irigasi, migrasi, dan edukasi. Dalam poin edukasi, pemerintah Belanda mendirikan sekolah-sekolah gaya barat untuk kalangan pribumi. Akan tetapi keberadaansekolah-sekolah ini ternyata tidak menjadi sebuah saran pencerdasan masyarakatpribumi. Pendidikan yang disediakan Belanda ternyata hanya sebatas mengajari para pribumi berhitung, membaca, dan menulis. Setelah lulus dari sekolah, akhirnya mereka dipekerjakan sebagai pegawai kelas rendah untuk kantor-kantor Belanda di Indonesia.

Pada masa ini pula, pendidikan-pendidikan rakyat juga turut muncul. Sekolah-sekolah rakyat seperti Taman Siswa dan Muhammadiyah muncul dan berkembang. Jadi dapat dikatakan pada masa tersebut terdapat tiga tipe jalur pendidikan yang berbeda. Pertama adalah sistem pendidikan dari masa Islam yang diwakili dengan pondok pesantren, pendidikan bergaya barat yang disediakan oleh pemerintah Hindia-Belanda, dan terakhir pendidikan "swasta pro-pribumi" seperti Taman Siswa, Muhammadiyah, dan lain-lain. Meskipun demikian, pada dasarnya banyak kemiripan dalam sistem pendidikan ala Hindia-Belanda dan pendidikan yang disediakan oleh kaum-kaum "pro-pribumi".

Sistem Pendidikan Indonesia Saat Ini Masih Terpengaruh Sistem Pendidikan Kolonial

Disebutkan di atas bahwa pendidikan pada masa kolonial bertujuan untuk mengisi kekosongan pegawai rendahan di kantor-kantor Belanda. Pada saat ini, bisa dikatakan sistem pendidikan yang ada hampir mirip tujuannya dengan sistem pada saat kolonial. Yaitu menciptakan manusia yang siap kerja, entah itu menjadi buruh, pegawai negeri, karyawan rendahan, dan sebagainya. Pendidikan yang diberikanpun tipenya sama, kalau dahulu untuk menjadi pegawai rendahan hanya butuh bisa baca tulis dan berhitung, saat ini ilmu yang diberikan dalam pendidikan seakan-akan hanyalah ilmu untuk pengisi kurikulum dan mengejar nilai akademis atau gelar. Sekalinya diberikan pengetahuan yang dapat diterapkan, ilmu tersebut diberikan dalam bentuk jadi, tidak perlu dipikirkan kembali.
Bisa dikatakan pendidikan Indonesia saat ini seakan-akan hanya memberikan buku pedoman bagaimana harus bergerak tanpa harus berfikir.
Akibatnya, keberadaan kaum-kaum pribumi Indonesia saat ini juga tidak jauh-jauh dari posisi "pegawai rendahan" seperti tujuan pemberian pendidikan pada masa kolonial. Salah satu penyebab utamanya adalah kekurangan pengalaman bagaimana harus berfikir yang seharusnya distimulasi pada saat pendidikan berlangsung.
Penyebab lainnya adalah dangkalnya impian yang muncul tentang tujuan dari pendidikan tersebut. Tersebar secara umum di masyarakat, tujuan pendidikan adalah supaya kelak dapat bekerja dan mencari uang. Tidak terbersit pemikiran dimana ilmu yang didapatkan pada saat pendidikan berlangsung tersebut akan dipergunakan. Dan dengan jalan apa ilmui- lmuyang didapat di dalam pendidikan akan berguna nantinya.

Jumat, 25 Mei 2012

MAKNA AJARAN DEWA RUCI


Orang Jawa menganggap cerita wayang merupakan cermin dari pada kehidupannya.

Dewa Ruci yang merupakan cerita asli wayang Jawa memberikan gambaran yang jelas mengenai hubungan harmonis antara Kawula dan Gusti, yang diperagakan oleh Bima atau Aria Werkudara dan Dewa Ruci.


Pencarian air suci Prawitasari


Guru Durna memberitahukan Bima untuk menemukan air suci Prawitasari. Prawita dari asal kata Pawita artinya bersih, suci; sari artinya inti. Jadi Prawitasari pengertiannya adalah inti atau sari dari pada ilmu suci.


Hutan Tikbrasara dan Gunung Reksamuka


Air suci itu dikatakan berada dihutan Tikbrasara, dilereng Gunung Reksamuka. Tikbra artinya rasa prihatin; sara berarti tajamnya pisau, ini melambangkan pelajaran untuk mencapai lendeping cipta (tajamnya cipta). Reksa berarti mamalihara atau mengurusi; muka adalah wajah, jadi yang dimaksud dengan Reksamuka dapat diartikan: mencapai sari ilmu sejati melalui samadi.


1. Sebelum melakukan samadi orang harus membersihkan atau menyucikan badan dan jiwanya dengan air.2. Pada waktu samadi dia harus memusatkan ciptanya dengan fokus pandangan kepada pucuk hidung. Terminologi mistis yang dipakai adalah mendaki gunung Tursina, Tur berarti gunung, sina berarti tempat artinya tempat yang tinggi.Pandangan atau paningal sangat penting pada saat samadi. Seseorang yang mendapatkan restu dzat yang suci, dia bisa melihat kenyataan antara lain melalui cahaya atau sinar yang datang kepadanya waktu samadi. Dalam cerita wayang digambarkan bahwasanya Resi Manukmanasa dan Bengawan Sakutrem bisa pergi ketempat suci melalui cahaya suci.


Raksasa Rukmuka dan Rukmakala


Di hutan, Bima diserang oleh dua raksasa yaitu Rukmuka dan Rukmala. Dalam pertempuran yang hebat Bima berhasil membunuh keduanya, ini berarti Bima berhasil menyingkirkan halangan untuk mencapai tujuan supaya samadinya berhasil.Rukmuka : Ruk berarti rusak, ini melambangkan hambatan yang berasal dari kemewahan makanan yang enak (kemukten).Rukmakala : Rukma berarti emas, kala adalha bahaya, menggambarkan halangan yang datang dari kemewahan kekayaan material antara lain: pakaian, perhiasan seperti emas permata dan lain-lain (kamulyan)Bima tidak akan mungkin melaksanakan samadinya dengan sempurna yang ditujukan kepada kesucian apabila pikirannya masih dipenuhi oleh kamukten dan kamulyan dalam kehidupan, karena kamukten dan kamulyan akan menutupi ciptanya yang jernih, terbunuhnya dua raksasa tersebut dengan gamblang menjelaskan bahwa Bima bisa menghapus halangan-halangan tersebut.


Samudra dan Ular


Bima akhirnya tahu bahwa air suci itu tidak ada di hutan , tetapi sebenarnya berada didasar samudra. Tanpa ragu-ragu sedikitpun dia menuju ke samudra. Ingatlah kepada perkataan Samudra Pangaksama yang berarti orang yang baik semestinya memiliki hati seperti luasnya samudra, yang dengan mudah akan memaafkan kesalahan orang lain.Ular adalah simbol dari kejahatan. Bima membunuh ular tersebut dalam satu pertarungan yang seru. Disini menggambarkan bahwa dalam pencarian untuk mendapatkan kenyataan sejati, tidaklah cukup bagi Bima hanya mengesampingkan kamukten dan kamulyan, dia harus juga menghilangkan kejahatan didalam hatinya.


Untuk itu dia harus mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:


Rila : dia tidak susah apabila kekayaannya berkurang dan tidak iri kepada orang lain.
Legawa : harus selalu bersikap baik dan benar.
Nrima : bersyukur menerima jalan hidup dengan sadar.
Anoraga : rendah hati, dan apabila ada orang yang berbuat jahat kepadanya, dia tidak akan membalas, tetap sabar.
Eling : tahu mana yang benar dan salah dan selalu akan berpihak kepada kebaikan dan kebenaran.
Santosa : selalu beraa dijalan yang benar, tidak pernah berhenti untuk berbuat yang benar antara lain : melakukan samadi. Selalu waspada untuk menghindari perbuatan jahat.
Gembira : bukan berarti senang karena bisa melaksanakan kehendak atau napsunya, tetapi merasa tentram melupakan kekecewaan dari pada kesalahan-kesalahan dari kerugian yang terjadi pada masa lalu.
Rahayu : kehendak untuk selalu berbuat baik demi kepentingan semua pihak.
Wilujengan : menjaga kesehatan, kalau sakit diobati.
Marsudi kawruh : selalu mencari dan mempelajari ilmu yang benar.
Samadi .
Ngurang-ngurangi: dengan antara lain makan pada waktu sudah lapar, makan tidak perlu banyak dan tidak harus memilih makanan yang enak-enak: minum secukupnya pada waktu sudah haus dan tidak perlu harus memilih minuman yang lezat; tidur pada waktu sudah mengantuk dan tidak perlu harus tidur dikasur yang tebal dan nyaman; tidak boleh terlalu sering bercinta dan itu pun hanya boleh dilakukan dengan pasangannya yang sah.
Legawa : harus selalu bersikap baik dan benar.Nrima : bersyukur menerima jalan hidup dengan sadar.Anoraga : rendah hati, dan apabila ada orang yang berbuat jahat kepadanya, dia tidak akan membalas, tetap sabar.Eling : tahu mana yang benar dan salah dan selalu akan berpihak kepada kebaikan dan kebenaran.Santosa : selalu beraa dijalan yang benar, tidak pernah berhenti untuk berbuat yang benar antara lain : melakukan samadi. Selalu waspada untuk menghindari perbuatan jahat.Gembira : bukan berarti senang karena bisa melaksanakan kehendak atau napsunya, tetapi merasa tentram melupakan kekecewaan dari pada kesalahan-kesalahan dari kerugian yang terjadi pada masa lalu.Rahayu : kehendak untuk selalu berbuat baik demi kepentingan semua pihak.Wilujengan : menjaga kesehatan, kalau sakit diobati.Marsudi kawruh : selalu mencari dan mempelajari ilmu yang benar.Samadi .Ngurang-ngurangi: dengan antara lain makan pada waktu sudah lapar, makan tidak perlu banyak dan tidak harus memilih makanan yang enak-enak: minum secukupnya pada waktu sudah haus dan tidak perlu harus memilih minuman yang lezat; tidur pada waktu sudah mengantuk dan tidak perlu harus tidur dikasur yang tebal dan nyaman; tidak boleh terlalu sering bercinta dan itu pun hanya boleh dilakukan dengan pasangannya yang sah.Legawa : harus selalu bersikap baik dan benar.Nrima : bersyukur menerima jalan hidup dengan sadar.Anoraga : rendah hati, dan apabila ada orang yang berbuat jahat kepadanya, dia tidak akan membalas, tetap sabar.Eling : tahu mana yang benar dan salah dan selalu akan berpihak kepada kebaikan dan kebenaran.Santosa : selalu beraa dijalan yang benar, tidak pernah berhenti untuk berbuat yang benar antara lain : melakukan samadi. Selalu waspada untuk menghindari perbuatan jahat.Gembira : bukan berarti senang karena bisa melaksanakan kehendak atau napsunya, tetapi merasa tentram melupakan kekecewaan dari pada kesalahan-kesalahan dari kerugian yang terjadi pada masa lalu.Rahayu : kehendak untuk selalu berbuat baik demi kepentingan semua pihak.Wilujengan : menjaga kesehatan, kalau sakit diobati.Marsudi kawruh : selalu mencari dan mempelajari ilmu yang benar.Samadi .Ngurang-ngurangi: dengan antara lain makan pada waktu sudah lapar, makan tidak perlu banyak dan tidak harus memilih makanan yang enak-enak: minum secukupnya pada waktu sudah haus dan tidak perlu harus memilih minuman yang lezat; tidur pada waktu sudah mengantuk dan tidak perlu harus tidur dikasur yang tebal dan nyaman; tidak boleh terlalu sering bercinta dan itu pun hanya boleh dilakukan dengan pasangannya yang sah.


Pertemuan dengan Dewa Suksma Ruci


Sesudah Bima mebunuh ular dengan menggunakan kuku Pancanaka, Bima bertemu dengan Dewa kecil yaitu Dewa Suksma Ruci yang rupanya persis seperti dia. Bima memasuki raga Dewa Suksma Ruci melalui telinganya yang sebelah kiri. Di dalam, Bima bisa melihat dengan jelas seluruh jagad dan juga melihat dewa kecil tersebut.


Pelajaran spiritual dari pertemuan ini adalah :Bima bermeditasi dengan benar, menutup kedua matanya, mengatur pernapasannya, memusatkan perhatiannya dengan cipta hening dan rasa hening.Kedatangan dari dewa Suksma Ruci adalah pertanda suci, diterimanya samadi Bima yaitu bersatunya kawula dan Gusti.Di dalam paningal (pandangan didalam) Bima bisa melihat segalanya segalanya terbuka untuknya (Tinarbuka) jelas dan tidak ada rahasia lagi. Bima telah menerima pelajaran terpenting dalam hidupnya yaitu bahwa dalam dirinya yang terdalam, dia adalah satu dengan yang suci, tak terpisahkan. Dia telah mencapai kasunyatan sejati. Pengalaman ini dalam istilah spiritual disebut “mati dalam hidup” dan juga disebut “hidup dalam mati”. Bima tidak pernah merasakan kebahagiaan seperti ini sebelumnya. Mula-mula di tidak mau pergi tetapi kemudian dia sadar bahwa dia harus tetap melaksanakan pekerjaan dan kewajibannya, ketemu keluarganya dan lain-lain.Arti simbolis pakaian dan perhiasan BimaBima mengenakan pakaian dan perhiasan yang dipakai oleh orang yang telah mencapai kasunyatan-kenyataan sejati.Gelang Candrakirana dikenakan pada lengan kiri dan kanannya. Candra artinya bulan, kirana artinya sinar. Bima yang sudah tinarbuka, sudah menguasai sinar suci yang terang yang terdapat di dalam paningal.Batik poleng : kain batik yang mempunyai 4 warna yaitu; merah, hitam, kuning dan putih. Yang merupakan simbol nafsu, amarah, alumah, supiah dan mutmainah. Disini menggambarkan bahwa Bima sudah mampu untuk mengendalikan nafsunya.Tusuk konde besar dari kayu asemKata asem menunjukkan sengsem artinya tertarik, Bima hanya tertarik kepada laku untuk kesempurnaan hidup, dia tidak tertarik kepada kekeyaan duniawi.Tanda emas di antara mata.Artiya Bima melaksanakan samadinya secara teratur dan mantap.Kuku PancanakaBima mengepalkan tinjunya dari kedua tangannya. Melambangkan :1. Dia telah memegang dengan kuat ilmu sejati.2. Persatuan orang-orang yang bermoral baik adalah lebih kuat, dari persatuan orang-orang yang tidak bertanggung jawab, meskipun jumlah orang yang bermoral baik itu kalah banyak.Contohnya lima pandawa bisa mengalahkan seratus korawa. Kuku pancanaka menunjukkan magis dan wibawa seseorang yang telah mencapai ilmu sejati.Sumber : karatonsurakarta.blogspot.com


DENGERIN LAGU MELALUI WINAMP YANG ADA LIRIKNYA

Bagi teman2 yang suka dengerin lagu sambil kerja, eh.... kerja di depan komputer sambil dengerin lagu silahkan kunjungi situs di bawah ini dan unduh/download dan jalankan instruksinya. Anda pasti bisa.

http://topan.web.id/lirikwinamp















Kamis, 24 Mei 2012

KETIKA BERMITRA DENGAN ORANG LAIN

Thomas jefferson berkata, "Sebatang lilin tidak kehilangan apa-apa, ketika lilin itu menyalkan lilin lain." Inilah sifat sejati sebuah kemitraan. Saya pikir tidak semua orang berpendapat seperti itu. Mereka percaya bahwa berbagi berarti kehilangan sesuatu, tetapi saya pikir itu tidak benar.

Setiap orang memiliki satu dari dua pola pikir:kelangkaan atau kelimpahan. Orang yuang memiliki pola pikir kelangkaan percaya bahwa hanya terdapat sedikit sumberdaya untuk melanjutkan perjalanan, jadi ia harus memanfaatkan dengan hati-hati setiap sumberdaya sehingga tidak ada yang terbuang dari apa yang dimiliki dan melindungi sebaik-baiknya apa pun yang ia miliki.

Orang yang memiliki pola pikir kelimpahan percaya bahwa akan selalu tersedia cukup sumberdaya untuk menempuh perjalanan. Jika meiliki sebuah ide, bagikanlah, dan Anda akan selalu mendapat ide baru. Jika Anda hanya meiliki sepotong kue, biarkanlah orang lain memakannya, Anda masih bisa membuat kue lain.

Saya percaya bahwa dalam hal ini, Anda mendapatkan apa yang Anda harapkan dari kehidupan. Anda dapat menimbun milik Anda yang sedikit itu dan tidak menerima apa-apa lagi. Atau, Anda dapat memberikan apa yang Anda miliki, dan Anda mendapat ganjaran yang melimpah. Sikap Andalah yang membuat perbedaan itu.

Jadi jika Anda bermitra dengan orang lain dan berbagi dengan murah hati, melalui bebagai cara Anda akan menerima kembali lebih dari yang Anda berikan.
                                   
                                                                                _Winning with People

Renungkan bagaimana pola pikir Anda tentang kelangkaan atau kelimpahan memengaruhi kepemimpinan (sikap diri) Anda.


diambil dari Maxwell Daily Reader HC: bacaan Inspirasional 365 hari..., BIP,2011, Jakarta
http://www.gramediaonline.com/
 
  

Perjuangan Perempuan Desa; Tiada Pernah Berakhir

Perjuangan Perempuan Desa; Tiada Pernah Berakhir


Perempuan pedesaan memiliki peran yang besar dalam mengatur kondisi keuangan dalam rumah tangga. Dimana mayoritas rumah tangga petani berada pada posisi subsistensi ditandai; secara struktural kondisi kehidupan yang cenderung minimalis dengan melakukan usaha-usaha kecil untuk bisa bertahan hidup dan secara kultural petani enggan mengambil resiko untuk mengatasi permasalahan subsistensinya. Upaya bertahan hidup ini merupakan kondisi yang erat dengan garis kemiskinan, ditandai dengan kekhawatiran kekurangan pangan.
Pada saat ini daya beli rumah tangga petani semakin menurun karena pendapatan yang diperoleh dari sektor pertanian ini tidak bisa mencukupi untuk ditukar dengan kebutuhan-kebutuhan subsisten, atau nilai tukar petani sangat rendah terhadap kebutuhan-kebutuhan subsisten. Kebutuhan subsisten tersebut dapat dikategorikan sebagai berikut;

Tabel 1. Pengeluaran Bulanan Rumah Tangga Petani


No
Item
Harga
Frekuensi
Total
Keterangan
1.
Beras
5.000
31 hari
155.000
Asumsi untuk 3 anggota keluarga
2.
Sayur, buah dan lauk
10.000
31 hari
310.000
Lauknya; tahu, tempe,telur
3.
Minyak goreng
9.500
4 liter
38.000
-
4.
Minyak tanah
3.000
10 liter
30.000
Asumsi masak menggunakan kompor minyak tanah
5.
Belanja bulanan
150.000
1 kali
150.000
Pembelian; sabun,odol,sikat
6.
Bayar listrik
50.000
1 kali
50.000
Termasuk untuk air
7.
Kegiatan sosial
25.000
5 kali
125.000
Nyumbang
8.
Jimpitan dan ronda
1.000
31 hari
31.000
Tidak termasuk arisan
9.
Sangu anak
5.000
31 hari
155.000
Rincian; sekolah, main, ngaji
10.
Lain-lain
50.000
1 kali
50.000
Menjenguk tetangga sakit
TOTAL
1.094.000


Sumber : Wawancara dengan Petani di Desa Bokoharjo, Prambanan, Sleman, Yk



Setiap bulan seorang RTP dengan kurang lebih memiliki satu orang anak harus mencukupi kebutuhan subsistensinya sejumlah Rp 1.049.000 selama sebulan dan setahun sejumlah Rp 13.128.000 selama setahun, dengan rincian sebagian besar kebutuhan untuk makan dan sosial.
Untuk memenuhi kebutuhan subsistensi itu, mengandalkan dari hasil pertanian pasti hasilnya tidak cukup. Selama 1 tahun dengan tiga kali musim tanam,mayoritas musim tanam I, menghasilkan padi, rata-rata kepemilikan lahan sekitar 500 m2 hanya menghasilkan beras kurang lebih 4-5 karung beras; pada musim tanam II, tanaman padi hasilnya berkurang, menjadi 3-4 karung karena pasokan air yang berkurang dan musim tanam III lahan menghasilkan tanaman palawija. Hasil panen pada musim tanam I dan II digunakan RTP untuk cadangan atau stok pangan, kecuali pada kondisi terpaksa dijual, sedangkan palawija yang dikonversi dalam bentuk uang untuk mencukupi beraneka ragam kebutuhan rumah tangga petani.
Hasil panen selama 1 tahun itu dengan 3 kali musim tanam digunakan RTP untuk memenuhi kebutuhan subsisten, yakni kebutuhan harian makan dan kebutuhan sosial selama satu tahun. Upaya untuk memenuhi kebutuhan tersebut karena kekurangan dari hasil penen, beraneka usaha dilakukan petani dengan melakukan berbagai macam pekerjaan serabutan; tukang bangunan, buruh tani, berdagang, beternak, membangun usaha-usaha mikro dan mengadu nasib menjadi TKI/TKW di luar negeri. Pada kondisi kekurangan memenuhi kebutuhan subsistensi RTP ini, peran perempuan pedesaan di sektor ekonomi sangat dominan. Pembagian kerja yang nampak, perempuan menutupi kebutuhan subsistensi, sedangkan petani menutupi kebutuhan-kebutuhan simpanan untuk kepentingan jangka panjang, misalnya; membangun rumah, sekolah anak-anak, kendaraan, dan kebutuhan tak terduga.
Mbah Wagirah (56), perempuan buruh tani di Pelemsari, Bokoharjo, Prambanan. Dia adalah penjaga subsistensi rumah tangga dengan mengandalkan tenaga untuk mendapatkan penghasilan dari sektor pertanian. Pekerjaan rutin yang menjadi penopang hidupnya; tandur yakni menanam padi, matun yakni panen padi, ndaut yakni membersihkan tanaman padi dari gulma dan rumput-rumput liar, menanam palawija, panen palawija dan bekerja serabutan di desa; rewang tetangga yang punya hajat (mantu), menjemur padi dan membantu orang-orang kaya di desa untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Bekerja di sektor pertanian, buruh tandur Mbah Wagirah mendapatkan upah Rp 5.000 dengan sekali mendapat snack dan makan siang, upah tersebut lebih rendah daripada buruh laki-laki Rp 6.000 dengan sekali snack dan makan siang. Pekerjaan matun mendapat upah 1/6 dari hasil panen dibagi dengan jumlah orang yang matun, misalnya hasil panen 6 kwintal, maka buruh matun mendapatkan 1/6 dari 6 kwintal yakni 1 kwintal = 100 kg. Jika buruh matunnya sebanyak 10 orang, maka Mbah Wagirah mendaptkan jatah 100/10, yakni 10 kg sekali matun. Sedangkan pekerjaan menanam atau panen palawija Mbah Wagirah mendapatkan upah Rp 5.000-Rp 10.000 sekali bekerja. Perempuan buruh tani seperti Mbah Wagirah ini, dengan hanya mengandalkan tenaga bekerja di sektor pertanian, sangat sulit untuk mendapat uang cash berapa pun jumlahnya dan hasil pertanian pun juga tidak melimpah karena sawah yang dimiliki kurang lebih 250-500 m2. Pekerjaan matun, tandaur dan menama palawija bersifat musiman. Kalau tidak ada pekerjaan itu, mereka pasti menganggur.
Produktivitas yang rendah di sektor pertanian, menjadi penyebab kurangnya minat generasi muda melanjutkan pekerjaan ini. Perempuan di Bokoharjo bisa dihitung dengan jari yang mau bekerja di sektor ini. Mbak Atun (29) merupakan satu-satunya perempuan di dusun Pelemsari  yang mau menggeluti kotornya lumpur pertanian. Petani perempuan ini bersama dengan suami mengelola sawah yang disewa dari salah seorang perangkat desa Bokoharjo seluas 1.000 m2 dengan uang sewa senilai Rp 1.000.000 per tahun. Selama musim tanam I dan II ditanami padi dan pada musim tanam III ditanami kacang tanah. Dia berani berspekulasi menanam tanaman sayur mayur; sawi, bayam, cabe dan kacang panjang di sawah yang bisa dia jual sewaktu-waktu membutuhkan uang dan menguntungkan ketika harga sayur mayur mahal, meskipun pada kondisi cuaca buruk hasilnya merugi karena tanaman holtikultura tersebut lebih banyak yang membusuk. Untuk menambal kebutuhan rumah tangga, bagi Mbak Atun, peranian bukan merupakan satu-satunya pekerjaan yang diandalkan. Dengan tenaganya Mbak Atun masih beternak sapi; mencari rumput dan ngombor (memberi makanan tambahan berupa dedak atau polar) setiap hari, memandaikan sapi tiga hari hari sekali dan memeriksakan kesehatan sapi kepada mantri hewan juga dia lakukan. Tidak tanggung-tanggung, sapi peliharaannya ada 3 ekor. Berdesak-desakan dengan petani lain ketika memandikan sapi di kali, tidak malu dia lakukan untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga. Pekerjaan bertani dan beternak itu dia lakukan sendiri karena suaminya menjalankan bisnis lain, yakni blantik kambing. Terkadang Mbak Atun juga meminta bantuan buruh tani untuk membantu tandur, matun dan daut. Penghasilan dari bertani dan beternak Mbak Atun gunakan untuk simpanan membeli tanah, membangun rumah yang dikerjakan mboko sithik dan membiayai sekolah kedua anak perempuannya. Sementara itu, bisnis blantik sapi yang dijalankan oleh suaminya tidak hanya sekedar bisnis jual beli semata tetapi juga pra jual beli, yakni perawatan dan penggemukan kambing. Sehingga pekerjaan mencari rumput harus dilakukan oleh suami Mabk Atun ini. Setengah dari luas rumahnya didesain untuk kandang penggemukan kambing. Bau kambing, kotoran ternak dan suara hewan peliharaan selalu menemani Mbak Atun dan keluarganya. Istilah jorok, bau dan tidak higienis tidak dia kenal karena usaha seperti itu dia lakukan untuk mengatasi subsistensi ruamh tangganya.
Rumah tangga Mbak Atun merupakan cerminan keluarga muda di desa yang mau bertani. Mayoritas rumah tangga muda lain di pedesaan enggan menekuni pekerjaan bertani. Diantaranya rumah tangga Iyem (28), anak seorang buruh tani miskin di dusun. Alasan mengapa rumah tangga Iyem tidak bertani; tidak memiliki lahan pertanian, tidak pernah diajari oleh orang tuanya bertani, hasil pertanian yang dijalankan oleh orang tua selama ini tidak mencukupi kebutuhan subsistensi keluarga dan pertanian itu tidak bergengsi serta jorok. Bagi Iyem yang berpendidikan hanya lulusan SMP untuk mendapatkan pekerjaan formal di desa atau merantau ke kota besar sangat lah berat, sehingga pekerjaan yang dilakukannya selama ini cenderung serabutan, demikian juga suaminya; pelayan toko, rewang tetangga, pabrik tegel, buruh bangunan, tukang semprot nyamuk demam berdarah ataupun membantu pekerjaan rumah tangga keluarga kaya di dusun. Pekerjaan serabutan dan tidak tidak tetap itu menjadikan keluarga Iyem “kekurangan” dan hidup dengan sangat bersahaja. Akan tetapi sedikit demi sedikit rumah tangga tesebut mampu mengumpulkan uang untuk membangun rumah sederhana yang belum dilepo, belum berlantai tegel, perabotan rumah tangga ala kadarnya dan memili simpanan untuk biaya sekolah kedua anak laki-lakinya.
Demikian halnya dengan rumah tangga Mbak Yuni (32) yang tidak bergelut di sektor pertanian. Harapan rumah tangga Yuni ini lebih tinggi daripada Iyem. Cita-cita dan harapan itu diwujudkan dengan menjadi TKI/TKW di Malaysia. Bagi pasangan suami istri ini, mengadu nasib di luar negeri adalah pilihan yang dianggap mendatangkan kesejahteraan keluarga, bahkan pasangan rumah tangga ini memulai perjumpaan di Malaysia juga, ketika sama-sama masih bekerja di pabrik. Untuk bisa bekerja di Malaysia tidaklah murah. Orang tua Mbak Yuni harus mengeluarkan uang jutaan rupiah yang diperoleh dari menjual sapi simpanan dan pinjaman sana-sini dari keluarga dan tetangga lain, bahkan ketika pada kondisi kepepet dan tidak mempunyai simpanan lain, tanah warisan orang tua terpaksa direlakan dijual dan mereka menggarap lahan sewa milik pejabat desa untuk mempertahankan subsistensinya. Setelah kontrak selama 2 tahun di Malaysia, pasangan ini memutuskan tidak bekerja lagi di luar negeri karena mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi dan mulai memilih bekerja di negeri sendiri walaupun hasilnya tidak seberapa dan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan subsistensi rumah tangga. Pulang kampung, rumah tangga Mbak Yuni sudah mampu membangun rumah menengah dengan bahan-bahan serba mahal dan membuka usaha kelontong dan berjualan sayuran keliling setiap pagi hari. Pendapatan kecil, pasti dan rutin yang dia geluti mampu mencukupi kebutuhan subsistensi keluarganya pada skala kecil.


Mbah Wagirah, Mbak Atun, Iyem dan Yuni merupakan bagian dari perempuan-perempuan pejuang di pedesaan untuk bisa bertahan hidup. Perempuan ini tidak mengenal kesetaraan gender dan perjuangan gerakan perempuan, tetapi dalm praktek sosial dan ekonominya, kesetaraan dan perjuangan sudah mereka lakukan untuk bisa hidup seperti orang-oarang kaya desa dan gaya hidup orang kota yang mereka ketahui dari berbagai macam iklan di televeisi, satu-satunya hiburan yang mereka miliki. Mereka terus berjuang untuk menyejahterakan keluarga, masyarakat sekitarnya dan demi anak-anak mereka sebagai penerus perjuangan suci perempuan-perempuan desa.  (*)



Sakramen Ekaristi: Sumber dan Puncak Hidup Katolik (sharing pemahaman pribadi seorang awam Katolik)

  Sakramen Ekaristi: Sumber dan Puncak Hidup Katolik (sharing pemahaman pribadi seorang awam Katolik)   Sakramen Ekaristi adalah salah...