Senin, 02 Juli 2012
Mayat Itu Berjalan Lagi Bukan sebagai Kuntilanak
http://dahlaniskan.wordpress.com/
APA kabar PT Kertas Leces (Persero)? Yang sudah lebih dari dua tahun mati suri? Yang selama itu nasib karyawannya tidak menentu? Yang diyakini tidak akan bisa hidup lagi kalau tidak digerojok uang negara Rp 200 miliar?
Sejak dua minggu lalu pabrik kertas yang sangat besar yang berlokasi di selatan Probolinggo ini mulai siuman. Tanda-tanda kehidupan sudah mulai kelihatan. Suara mesin sudah kembali menderu.
Leces hidup lagi!
Bukan sebagai mayat berjalan, tapi sebagai pasien yang sudah bisa dipaksa berjalan.
Semula negara sudah setuju kembali menggerojokkan Rp 200 miliar ke Leces. Tapi, ketika saya diangkat menjadi menteri BUMN, rencana penggerojokan itu saya minta ditunda. Saya ingin melihat dulu apakah benar persoalan pokoknya pada modal. Apakah bukan pada manajemen. Ini harus saya pelajari dulu agar negara tidak mudah begitu saja menggerojokkan dana ratusan miliar rupiah.
Belum tentu dengan dana tersebut pabrik kertas, atau bisnis apa pun yang lagi kesulitan, bisa diselamatkan. Kadang satu manajemen memiliki kecenderungan mencari jalan yang paling mudah. Alasan ketidakcukupan modal adalah kambing hitam yang sangat lezat disate dan disuguhkan. Tapi, dari pengalaman saya, belum tentu akar masalahnya ada di modal. Sering kali pokok persoalannya terjadi di manajemen itu sendiri.
Memang banyak yang sewot ketika saya menyetop pengucuran dana itu. Untuk apa distop? Kan sudah disetujui? Tinggal dicairkan? Kok bodoh amat diberi uang ratusan miliar rupiah tidak segera ditangkap?
Tentu saya tidak akan tergoyahkan dengan penilaian seperti itu. Kalau memang ada jaminan dengan pencairan dana tersebut Leces pasti hidup, saya pun akan langsung setuju. Masalahnya, jaminan pasti hidup itu yang tidak ada.
Terbukti gerojokan uang ratusan miliar rupiah pada tahun-tahun yang lalu juga tidak berhasil menghidupkan Leces. Uang itu habis lagi dan habis lagi. Dan kecenderungannya akan minta lagi dan minta lagi.
Untuk Leces, saya melihat persoalan pokok di manajemen. Itu bisa saya rasakan ketika saya bermalam di kompleks pabrik kertas Leces pada malam Idul Adha lalu. Saya melihat manajemen sudah betul membangun boiler baru berbahan bakar batu bara. Itu akan membuat biaya energi Leces jauh lebih murah. Saya salut dengan pemikiran dan langkah itu.
Tapi, untuk menghidupkan Leces tidak cukup hanya dengan satu langkah. Dia membutuhkan puluhan, bahkan ratusan terobosan. Itulah sebabnya diperlukan manajemen yang lebih kuat.
Tidak gampang menemukan tim manajemen yang tangguh. Apalagi, untuk “dijerumuskan” ke dalam perusahaan yang sedang pingsan. Tim manajemen yang kuat tentu ingin masuk ke perusahaan yang besar dan bagus.
Leces rupanya masih bernasib baik. Seseorang yang bernama Budi Kusmarwoto mau dijebloskan ke situ. Pengalamannya yang panjang saat menjadi direktur anak perusahaan PLN (PT PLN Engineering) memudahkan dia menganalisis kondisi Leces.
Orangnya juga tidak egois. Ketika diminta membentuk dream team untuk manajemen Leces, Budi tidak serta merta mengajak rombongan dari luar masuk ke Leces. Budi memilih orang-orang dalam untuk menjadi timnya.
Sebagai mantan Dirut PLN tentu saya mengenal Budi dengan baik. Antusiasmenya meledak-ledak. Gairah kerjanya tidak pernah padam. Kecintaannya kepada pekerjaan membuat moto hidupnya hanya kerja, kerja, kerja! Antusiasme itu yang juga terlihat menular ke seluruh tim Leces sekarang ini.
Sebagaimana saya, Budi juga berpandangan ini: untuk menghidupkan Leces tidak perlu gerojokan dana dari kas negara. Kini Leces hidup lagi tanpa mendapat modal baru satu rupiah pun. Kalau kelak Leces berhasil maju kembali, seluruh karyawannya tentu akan sangat bangga: bisa maju tanpa modal! Karyawan bisa menunjukkan bahwa tambahan modal bukan segala-galanya!
Tentu, karena sudah telanjur disetujui, Budi tetap berharap agar dana Rp 200 miliar itu bisa cair. Bukan lagi untuk modal, tapi untuk membayar utang lama. Pada masa lalu, Leces meninggalkan utang hampir Rp 1 triliun. Manajemen Leces berhasil melakukan negosiasi: kalau Leces mau bayar Rp 150 miliar, utang hampir Rp 1 triliun itu dianggap lunas.
Utang yang sudah berumur lebih dari 10 tahun itu harus dibayar. Kalau tidak, utang itu akan memusingkan manajemen baru yang sedang dituntut untuk maju.”
Budi juga berencana menggunakan dana sisanya untuk membangun hutan tanaman industri. Untuk mencukupi bahan baku Leces di masa depan. Tentu saya setuju dengan dua rencana itu: bayar utang dan hutan tanaman industri.
Persoalannya, belum tentu anggaran yang sudah disetujui untuk modal bisa dialihkan untuk membayar utang. Di sinilah BUMN akan selalu kalah lincah dengan swasta.
Apa pun kasus menghidupkan kembali Leces ala Budi akan menjadi perhatian saya. Maksud saya, perusahaan seperti galangan kapal IKI Makassar yang juga sudah lama mati bisa hidup kembali dengan cara yang sama. Demikian juga, pabrik PT Iglas yang lagi dalam kesulitan.
Kelak, kalau Leces sudah sehat, harus segera di-go public-kan. Industri kertas tidak lagi menempati posisi strategis bagi negara. Tidak selayaknya lagi negara terus menggerojokkan dana untuk industri seperti Leces. Semakin banyak modal publik masuk ke dalamnya akan semakin baik.
Leces memang belum teruji akan menjadi perusahaan yang pasti akan hidup sehat. Masih harus dilihat dalam satu periode tertentu.
Tapi, setidaknya Leces kini sudah kembali berjalan: bukan sebagai kuntilanak, tapi sebagai badan yang sudah lengkap dengan rohnya. Roh antusias dan roh penuh kiat! (*)
Dahlan Iskan
Menteri BUMN
PUTRA KARANGANYAR: MENCARI KEBAIKAN MENUJU KESEMPURNAAN HIDUP (mersudi becik,nggayuh sampurnaning urip). "dengan ilmu hidup menjadi mudah,dengan iman hidup makin terarah, dengan seni dan senyum hidup makin indah,dengan olahraga hidup makin terjaga"
Selasa, 03 Juli 2012
Senin, 02 Juli 2012
Media Indonesia - Carilah Ilmu hingga ke Mal
Media Indonesia - Carilah Ilmu hingga ke Mal
Amanda, 21, bersama Rara, 20, dan Mesty, 21, asyik mengobrol di sebuah kafe di Plaza Festival, kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Mereka membahas ujian akhir semester yang sudah di depan mata. Di atas meja, di sela-sela gelas dan penganan, terserak laptop, buku-buku teks, dan catatan kuliah.
Menunggu kuliah sembari menyeruput kopi atau minuman dingin di kafe menjadi aktivitas lazim buat ketiga mahasiswa Jurusan Manajemen Bisnis, Universitas Bakrie itu. Lokasi kampus yang berada dalam Plaza Festival, sebelumnya dikenal sebagai Pasar Festival, membuat mereka bisa dengan mudah berpindah dari ruang kelas ke kafe.
Universitas Bakrie, semula bernama Bakrie Management School, sejak berdiri pada 2006 lalu, memang membuka ruang kelas dalam Plaza Festival. Langkah serupa juga dilakukan Binus University International yang pada September nanti akan membuka 21 ruang kelas di lantai 6 FX Lifestyle Center, Sudirman, Jakarta Selatan, lengkap dengan coffee shop dan lounge.
Buat pihak kampus, memboyong kursi, papan tulis, peranti proyektor, serta ruang perpustakaan ke mal menjadi solusi buat memperoleh fasilitas infrastruktur yang paripurna.
"Daya tampung di kampus The Joseph Wibowo Center di kawasan Hang Lekir, Senayan, Jakarta Selatan, tak sebanding dengan pertumbuhan jumlah mahasiswa. Yang bermasalah sekali tempat parkir,” ujar Dekan Fakultas Creative Media dan Technologies Binus University, Minaldi Loeis.
Lokasi mal yang di pusat perkantoran Jakarta itu, kata Minaldi, juga memudahkan para pengajar di kampus yang mengirim mahasiswanya ke berbagai universitas luar negeri, di antaranya ke Australia dan Korea, untuk memperoleh gelar ganda itu.
"Dosen-dosen kami banyak para profesional di bidangnya, dan mayoritas berkantor di kawasan Sudirman-Thamrin dan sekitarnya. Karena itu, FX kami anggap sangat strategis,” kata Limandi.
Faktor lokasi itu juga yang membuat Wahyu, 25, mengambil program pascasarjana di Universitas Pelita Harapan yang berkampus di Plaza Semanggi, Jakarta Selatan.
“Karena pagi saya kerja di kawasan Sudirman juga, baru bisa kuliah sore, kalau pilih kampus yang jauh mungkin belum bisa lanjut kuliah sampai sekarang,” ujar Wahyu.
Fenomena ini, kata Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia, Handaka Santosa, menunjukkan Jakarta dan beberapa kota besar di negeri ini tengah mengarah ke model superblok yang sebelumnya telah diadopsi negara maju. "Semua fasilitas ada di satu tempat, tidak hanya sarana belanja, tetapi ada kantor dan sekolah. Tujuannya, efisiensi waktu, menunjang gaya hidup masyarakat urban yang sibuk,” kata Handa yang juga CEO Plaza Senayan.
Namun, berbeda dengan negara-negara lain, pembangunan superblok itu idealnya didukung sistem transportasi yang sempurna. "Agar lebih efisien,” tegasnya.
Di Indonesia, superblok yang dikawal pihak swasta telah membuat Amanda bisa menghirup kopi sembari menikmati alunan musik lembut di kampus seusai menyelesaikan kuis yang lumayan menguras konsentrasi dari dosennya. Namun setelah seluruh jam kuliah tuntas, para dosen dan mahasiswa itu mesti berpikir keras untuk mencari ruas jalan menuju rumah yang kemacetannya lebih bisa ditoleransi. (M-1)
Amanda, 21, bersama Rara, 20, dan Mesty, 21, asyik mengobrol di sebuah kafe di Plaza Festival, kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Mereka membahas ujian akhir semester yang sudah di depan mata. Di atas meja, di sela-sela gelas dan penganan, terserak laptop, buku-buku teks, dan catatan kuliah.
Menunggu kuliah sembari menyeruput kopi atau minuman dingin di kafe menjadi aktivitas lazim buat ketiga mahasiswa Jurusan Manajemen Bisnis, Universitas Bakrie itu. Lokasi kampus yang berada dalam Plaza Festival, sebelumnya dikenal sebagai Pasar Festival, membuat mereka bisa dengan mudah berpindah dari ruang kelas ke kafe.
Universitas Bakrie, semula bernama Bakrie Management School, sejak berdiri pada 2006 lalu, memang membuka ruang kelas dalam Plaza Festival. Langkah serupa juga dilakukan Binus University International yang pada September nanti akan membuka 21 ruang kelas di lantai 6 FX Lifestyle Center, Sudirman, Jakarta Selatan, lengkap dengan coffee shop dan lounge.
Buat pihak kampus, memboyong kursi, papan tulis, peranti proyektor, serta ruang perpustakaan ke mal menjadi solusi buat memperoleh fasilitas infrastruktur yang paripurna.
"Daya tampung di kampus The Joseph Wibowo Center di kawasan Hang Lekir, Senayan, Jakarta Selatan, tak sebanding dengan pertumbuhan jumlah mahasiswa. Yang bermasalah sekali tempat parkir,” ujar Dekan Fakultas Creative Media dan Technologies Binus University, Minaldi Loeis.
Lokasi mal yang di pusat perkantoran Jakarta itu, kata Minaldi, juga memudahkan para pengajar di kampus yang mengirim mahasiswanya ke berbagai universitas luar negeri, di antaranya ke Australia dan Korea, untuk memperoleh gelar ganda itu.
"Dosen-dosen kami banyak para profesional di bidangnya, dan mayoritas berkantor di kawasan Sudirman-Thamrin dan sekitarnya. Karena itu, FX kami anggap sangat strategis,” kata Limandi.
Faktor lokasi itu juga yang membuat Wahyu, 25, mengambil program pascasarjana di Universitas Pelita Harapan yang berkampus di Plaza Semanggi, Jakarta Selatan.
“Karena pagi saya kerja di kawasan Sudirman juga, baru bisa kuliah sore, kalau pilih kampus yang jauh mungkin belum bisa lanjut kuliah sampai sekarang,” ujar Wahyu.
Fenomena ini, kata Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia, Handaka Santosa, menunjukkan Jakarta dan beberapa kota besar di negeri ini tengah mengarah ke model superblok yang sebelumnya telah diadopsi negara maju. "Semua fasilitas ada di satu tempat, tidak hanya sarana belanja, tetapi ada kantor dan sekolah. Tujuannya, efisiensi waktu, menunjang gaya hidup masyarakat urban yang sibuk,” kata Handa yang juga CEO Plaza Senayan.
Namun, berbeda dengan negara-negara lain, pembangunan superblok itu idealnya didukung sistem transportasi yang sempurna. "Agar lebih efisien,” tegasnya.
Di Indonesia, superblok yang dikawal pihak swasta telah membuat Amanda bisa menghirup kopi sembari menikmati alunan musik lembut di kampus seusai menyelesaikan kuis yang lumayan menguras konsentrasi dari dosennya. Namun setelah seluruh jam kuliah tuntas, para dosen dan mahasiswa itu mesti berpikir keras untuk mencari ruas jalan menuju rumah yang kemacetannya lebih bisa ditoleransi. (M-1)
Media Indonesia - Target Penurunan Angka Kemiskinan Meleset
Media Indonesia - Target Penurunan Angka Kemiskinan Meleset
JUMLAH warga miskin di Indonesia pada Maret 2012 tercatat 29,13 juta jiwa atau 11,96% dari total penduduk. Angka itu berarti hanya turun 0,53% ketimbang jumlah penduduk miskin satu tahun sebelumnya (Maret 2011) yang mencapai 12,49%.
Dengan demikian, penurunan angka kemiskinan 1% dalam kurun satu tahun yang ditargetkan oleh pemerintah tidak tercapai.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat faktor yang mengurangi jumlah penduduk miskin, antara lain, upah harian nominal buruh tani dan bangunan yang meningkat pada triwulan I 2012, yakni 4,81%. Kenaikan nilai tukar petani juga menjadi faktor pendorong berkurangnya jumlah warga miskin.
"Indeks kedalaman kemiskinan turun dari 2,08 menjadi 1,88, sedangkan indeks keparahan kemiskinan turun dari 0,55 menjadi 0,47. Turun sedikit, tetapi menunjukkan penduduk yang tadinya berada di ujung bawah kini mendekati garis kemiskinan walau masih dikategorikan miskin," kata Kepala BPS Suryamin dalam konferensi pers, kemarin.
Suryamin memaparkan jumlah penduduk miskin yang naik kelas selama Maret 2011 ke Maret 2012, yakni 399,5 ribu orang di perkotaan dan 487 ribu orang di perdesaan. Dengan demikian, kini persentase penduduk miskin di perkotaan turun menjadi 8,78% dari sebelumnya 9,23%. Adapun di perdesaan turun dari 15,12% dari 15,72%.
Dalam menanggapi laporan BPS, Direktur Indef Enny Sri Hartati menilai pertumbuhan ekonomi 6,3% secara year on year pada triwulan I 2012 jika dibandingkan dengan akhir periode sama tahun lalu tidak mampu menekan kemiskinan secara signifikan. Kemiskinan hanya turun 0,53%, yakni dari 12,49% menjadi 11,96%.
Dia juga mempertanyakan dasar perhitungan kemiskinan yang tidak sesuai realitas kebutuhan.
"Rata-rata (kebutuhan penduduk yang berada di) garis kemiskinan itu Rp250 ribu per kapita per bulan. Makanan Rp182 ribu dan di luar makanan Rp65 ribuan. Kini, katakan beli obat batuk saja Rp20 ribu, belum buku sekolah anak. Ini tidak rasional," tegas Enny.
Setidaknya standar garis kemiskinan yang diberlakukan sama dengan Bank Dunia, yakni US$2 per kapita per hari. Angka itu, dengan asumsi nilai tukar 9.400 per dolar AS, berarti Rp564 ribu per kapita per bulan, atau di atas patokan BPS sebesar Rp248.707 per kapita per bulan. (GA/X-15)
JUMLAH warga miskin di Indonesia pada Maret 2012 tercatat 29,13 juta jiwa atau 11,96% dari total penduduk. Angka itu berarti hanya turun 0,53% ketimbang jumlah penduduk miskin satu tahun sebelumnya (Maret 2011) yang mencapai 12,49%.
Dengan demikian, penurunan angka kemiskinan 1% dalam kurun satu tahun yang ditargetkan oleh pemerintah tidak tercapai.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat faktor yang mengurangi jumlah penduduk miskin, antara lain, upah harian nominal buruh tani dan bangunan yang meningkat pada triwulan I 2012, yakni 4,81%. Kenaikan nilai tukar petani juga menjadi faktor pendorong berkurangnya jumlah warga miskin.
"Indeks kedalaman kemiskinan turun dari 2,08 menjadi 1,88, sedangkan indeks keparahan kemiskinan turun dari 0,55 menjadi 0,47. Turun sedikit, tetapi menunjukkan penduduk yang tadinya berada di ujung bawah kini mendekati garis kemiskinan walau masih dikategorikan miskin," kata Kepala BPS Suryamin dalam konferensi pers, kemarin.
Suryamin memaparkan jumlah penduduk miskin yang naik kelas selama Maret 2011 ke Maret 2012, yakni 399,5 ribu orang di perkotaan dan 487 ribu orang di perdesaan. Dengan demikian, kini persentase penduduk miskin di perkotaan turun menjadi 8,78% dari sebelumnya 9,23%. Adapun di perdesaan turun dari 15,12% dari 15,72%.
Dalam menanggapi laporan BPS, Direktur Indef Enny Sri Hartati menilai pertumbuhan ekonomi 6,3% secara year on year pada triwulan I 2012 jika dibandingkan dengan akhir periode sama tahun lalu tidak mampu menekan kemiskinan secara signifikan. Kemiskinan hanya turun 0,53%, yakni dari 12,49% menjadi 11,96%.
Dia juga mempertanyakan dasar perhitungan kemiskinan yang tidak sesuai realitas kebutuhan.
"Rata-rata (kebutuhan penduduk yang berada di) garis kemiskinan itu Rp250 ribu per kapita per bulan. Makanan Rp182 ribu dan di luar makanan Rp65 ribuan. Kini, katakan beli obat batuk saja Rp20 ribu, belum buku sekolah anak. Ini tidak rasional," tegas Enny.
Setidaknya standar garis kemiskinan yang diberlakukan sama dengan Bank Dunia, yakni US$2 per kapita per hari. Angka itu, dengan asumsi nilai tukar 9.400 per dolar AS, berarti Rp564 ribu per kapita per bulan, atau di atas patokan BPS sebesar Rp248.707 per kapita per bulan. (GA/X-15)
Sabtu, 30 Juni 2012
radio gglink : http://radiogglink.com
Bagi penggemar radio http://radiogglink.com/ MONGGO dipun pirsani , silahkan di lihat inilah sebagian dari awak penyiarnya. Biasa saya dengar hanya suaranya, nah kali ini Si EMBAK berkenan memberikan fotonya. Beribu terima kasih atas kiriman fotonya.
Ada mbak Colin, ada Mbak Candra Kirana, ada Mbak Rinjani..., Tapi sayang yang mana-mana saja ya?......??????
Waduh..., bingung aku je!!!.
Kebon Jeruk, Sabtu-06-2012
Jumat, 29 Juni 2012
Jumat, 22 Juni 2012
Macet, Banjir, dan Peluang Usaha: Selamat Ulang Tahun, Jakarta
Macet, Banjir, dan Peluang Usaha: Selamat Ulang Tahun, Jakarta
Jakarta masih jadi lokasi yang merindukan. Di sinilah jutaan orang dari berbagai suku memulai kehidupan, bahkan menciptakan kehidupan baru.
Dalam "Profil Etnik Jakarta" oleh Lance Castles, Jakarta di tahun 1815 hanya memiliki 45.000 orang penduduk. Jumlah ini hanya bertambah menjadi 72.000 di tahun 1893. Angka pertumbuhan ini jauh di bawah daripada tingkat pertumbuhan penduduk Pulau Jawa secara keseluruhan.
Gelombang pertama imigrasi besar-besaran ke Jakarta terjadi akibat pembangunan Pelabuhan Tanjung Priok, perluasan fungsi pemerintahan di bawah pengaruh Politik Etis, dan pertumbuhan penduduk Jawa yang cepat. Di tahun 1930, gelombang imigran tersebut mengubah karakter penduduk dan melipatkangandakan jumlahnya menjadi 435.00 jiwa.
82 tahun kemudian, jumlah anak-anak Jakarta bertambah lebih dari 20 kali lipat. Namun, mereka menuntut Jakarta harus sama nyamannya ketika saudara-saudara mereka lebih sedikit. Tuntutan utamanya adalah melepaskan dua masalah: macet dan banjir. Sedang di saat bersamaan, dia dituntut harus terus membuka bentangan untuk peluang usaha berbagai anak bangsa yang mendiami tanahnya.
Macet merupakan masalah pertama yang diucapkan tiap kali nama Jakarta disebut. Bukan keinginan Jakarta ketika anak-anaknya mampu meningkatkan pertumbuhan kendaraan bermotor lima hingga sepuluh persen setiap tahun dengan motor sebagai penyumbang terbesar. Bukan maksud Jakarta pula saat pengelolanya (Pemerintah) hanya bisa menambah satu persen pertumbuhan jalan tiap tahunnya.
Kemacetan, ketika kendaraan saling menumpuk di jalanan, menurunkan dua masalah lain berikutnya, polusi udara dan stres para penggunanya. Danang Parikesit sebagai Pakar Transportasi pernah menyatakan, masyarakat Jakarta menghabiskan enam hingga delapan persen PDB untuk biaya transportasi. Di mana idealnya menurut standar internasional adalah hanya empat persen dari PDB. Ini artinya banyak biaya yang harusnya bisa dialokasikan untuk hal lain, "menguap" di udara Jakarta dalam bentuk polusi.
Tertahan di jalanan selama berjam-jam terasa sekali membuat kesal, stres, dan yang paling menyebalkan adalah waktu yang terbuang. Situasi bertambah tidak nyaman karena kita tertahan bersama ratusan -bahkan ribuan- orang yang sedang memiliki mood sama. Tak heran jika bertukar kata makian terjadi saat kemacetan.
Dengan demikian, anak-anak Jakarta berhasil menggabungkan kemacetan, polusi, biaya, dan masalah kesehatan dalam satu waktu yang sama. Ditaksir oleh Yayasan Pelangi, paduan semua ini memakan biaya kesehatan Rp12,8 triliun tiap tahunnya.
Banjir jadi hal berikut. Letak geografis Jakarta dan curah hujan yang mencapai 2.000 milimeter per tahun merupakan faktor pemicunya. Menurut Kepala Bidang Pemeliharaan Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta Tarjuki, ada 62 titik banjir di Ibu Kota . Titik terbanyak berada di Jakarta Utara dengan 19 titik.
Namun, ada faktor pemicu tambahan yakni perubahan tata guna lahan di sekitar Ibu Kota. Pembangunan di Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi mengurangi infiltrasi air ke tanah dan mempercepat waktu tempuh hujan.
Dalam wawancara dengan National Geographic Traveler Juni 2012, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo coba mengurangi dampak buruk lingkungan ini dengan pertumbuhan Ruang Terbuka Hijau (RTH). "Kami mendapatkan data bahwa RTH Jakarta terbentang sebesar sembilan persen dari keseluruhan luas Jakarta . Kami berusaha meningkatkan jadi 14 persen," kata Fauzi.
Ditambahkannya, Jakarta tengah dipersiapkan untuk waktu yang akan datang dengan mempertimbangkan jumlah, karakteristik, dan kemampuan penduduknya. Ukuran yang harus digunakan adalah relevansi apa yang harus disediakan kota dengan kebutuhan penduduk di dalamnya.
"Orang Jakarta itu spontan dan jarang punya prasangka buruk. Orang Jakarta itu sangat adaptif, akan begitu banyak perubahan singgah dan pergi," ujar Fauzi lagi.
Dengan beragam masalah di dalamnya, Jakarta masih jadi lokasi yang merindukan. Di sinilah jutaan orang dari berbagai suku memulai kehidupan, bahkan menciptakan kehidupan baru. Mengutip perkataan dari Fauzi Bowo, "Jakarta is everything."
(Zika Zakiya. Sumber; pelbagai sumber)
Rabu, 20 Juni 2012
Dr. Yusuf Al-Qardhawi:hakikat dari tasawuf&tasawuf diantara pemuji dan pengelak
HAKIKAT DARI TASAWUF
Dr. Yusuf Al-Qardhawi
http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Fatawa/TasawufManusia.html
Pertanyaan:
Apa sebenarnya arti kata tasawuf hakikat dan hukumnya
menurut Islam?
Apakah benar di antara orang-orang ahli tasawuf ada yang
tersesat dan menyimpang?
Jawab:
Arti tasawuf dalam agama ialah memperdalam ke arah bagian
rohaniah, ubudiah, dan perhatiannya tercurah seputar
permasalahan itu.
Agama-agama di dunia ini banyak sekali yang menganut
berbagai macam tasawuf, di antaranya ada sebagian orang
India yang amat fakir. Mereka condong menyiksa diri sendiri
demi membersihkan jiwa dan meningkatkan amal ibadatnya.
Dalam agama Kristen terdapat aliran tasawuf khususnya bagi
para pendeta. Di Yunani muncul aliran Ruwagiyin. Di Persia
ada aliran yang bernama Mani'; dan di negeri-negeri lainnya
banyak aliran ekstrim di bidang rohaniah.
Kemudian Islam datang dengan membawa perimbangan yang paling
baik di antara kehidupan rohaniah dan jasmaniah serta
penggunaan akal.
Maka, insan itu sebagaimana digambarkan oleh agama, yaitu
terdiri dari tiga unsur: roh, akal dan jasad. Masing-masing
dari tiga unsur itu diberi hak sesuai dengan kebutuhannya.
Ketika Nabi saw. melihat salah satu sahabatnya
berlebih-lebihan dalam salah satu sisi, sahabat itu segera
ditegur. Sebagaimana yang terjadi pada Abdullah bin Amr bin
Ash. Ia berpuasa terus menerus tidak pernah berbuka,
sepanjang malam beribadat, tidak pernah tidur, serta
meninggalkan istri dan kewajibannya. Lalu Nabi saw.
menegurnya dengan sabdanya:
"Wahai Abdullah, sesungguhnya bagi dirimu ada hak (untuk
tidur), bagi istri dan keluargamu ada hak (untuk bergaul),
dan bagi jasadmu ada hak. Maka, masing-masing ada haknya."
Ketika sebagian dari para sahabat Nabi saw. bertanya kepada
istri-istri Rasul saw. mengenai ibadat beliau yang luar
biasa. Mereka (para istri Rasulullah) menjawab, "Kami amat
jauh daripada Nabi saw. yang dosanya telah diampuni oleh
Allah swt, baik dosa yang telah lampau maupun dosa yang
belum dilakukannya."
Kemudian salah seorang di antara mereka berkata, "Aku akan
beribadat sepanjang malam." Sedang yang lainnya mengatakan,
"Aku tidak akan menikah." Kemudian hal itu sampai terdengar
oleh Rasulullah saw, lalu mereka dipanggil dan Rasulullah
saw. berbicara di hadapan mereka.
Sabda beliau:
"Sesungguhnya aku ini lebih mengetahui daripada kamu akan
makrifat Allah dan aku lebih takut kepada-Nya daripada kamu;
tetapi aku bangun, tidur, berpuasa, berbuka, menikah, dan
sebagainya; semua itu adalah sunnah Barangsiapa yang tidak
senang dengan sunnahku ini, maka ia tidak termasuk
golonganku."
Karenanya, Islam melarang melakukan hal-hal yang
berlebih-lebihan dan mengharuskan mengisi tiap-tiap waktu
luang dengan hal-hal yang membawa manfaat, serta menghayati
setiap bagian dalam hidup ini.
Munculnya sufi-sufi di saat kaum Muslimin umumnya
terpengaruh pada dunia yang datang kepada mereka, dan
terbawa pada pola pikir yang mendasarkan semua masalah
dengan pertimbangan logika. Hal itu terjadi setelah masuknya
negara-negara lain di bawah kekuasaan mereka.
Berkembangnya ekonomi dan bertambahnya pendapatan
masyarakat, mengakibatkan mereka terseret jauh dari apa yang
dikehendaki oleh Islam yang sebenarnya (jauh dari tuntutan
Islam).
Iman dan ilmu agama menjadi falsafah dan ilmu kalam
(perdebatan); dan banyak dari ulama-ulama fiqih yang tidak
lagi memperhatikan hakikat dari segi ibadat rohani. Mereka
hanya memperhatikan dari segi lahirnya saja.
Sekarang ini, muncul golongan sufi yang dapat mengisi
kekosongan pada jiwa masyarakat dengan akhlak dan
sifat-sifat yang luhur serta ikhlas. Hakikat dari Islam dan
iman, semuanya hampir menjadi perhatian dan kegiatan dari
kaum sufi.
Mereka para tokoh sufi sangat berhati-hati dalam meniti
jalan di atas garis yang telah ditetapkan oleh Al-Qur,an dan
As-Sunnah. Bersih dari berbagai pikiran dan praktek yang
menyimpang, baik dalam ibadat atau pikirannya.
Banyak orang yang masuk Islam karena pengaruh mereka, banyak
orang yang durhaka dan lalim kembali bertobat karena jasa
mereka. Dan tidak sedikit yang mewariskan pada dunia Islam,
yang berupa kekayaan besar dari peradaban dan ilmu, terutama
di bidang makrifat, akhlak dan pengalaman-pengalaman di alam
rohani, semua itu tidak dapat diingkari.
Tetapi, banyak pula di antara orang-orang sufi itu terlampau
mendalami tasawuf hingga ada yang menyimpang dari jalan yang
lurus dan mempraktekkan teori di luar Islam, ini yang
dinamakan Sathahat orang-orang sufi; atau perasaan yang
halus dijadikan sumber hukum mereka.
Pandangan mereka dalam masalah pendidikan, di antaranya
ialah seorang murid di hadapan gurunya harus tunduk patuh
ibarat mayat di tengah-tengah orang yang memandikannya.
Banyak dari golongan Ahlus Sunnah dan ulama salaf yang
menjalankan tasawuf, sebagaimana diajarkan oleh Al-Qur'an;
dan banyak pula yang berusaha meluruskan dan
mempertimbangkannya dengan timbangan Al-Qur'an dan
As-Sunnah. Di antaranya ialah Al-Imam Ibnul Qayyim yang
menulis sebuah buku yang berjudul: "Madaarijus-Saalikin ilaa
Manaazilus-Saairiin," yang artinya "Tangga bagi Perjalanan
Menuju ke Tempat Tujuan." Dalam buku tersebut diterangkan
mengenai ilmu tasawuf, terutama di bidang akhlak,
sebagaimana buku kecil karangan Syaikhul Islam Ismail
Al-Harawi Al-Hanbali, yang menafsirkan dari Surat
Al-Fatihah, "Iyyaaka na'budu waiyyaaka nastaiin."
Kitab tersebut adalah kitab yang paling baik bagi pembaca
yang ingin mengetahui masalah tasawuf secara mendalam.
Sesungguhnya, tiap-tiap manusia boleh memakai pandangannya
dan boleh tidak memakainya, kecuali ketetapan dan
hukum-hukum dari kitab Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah saw.
Kita dapat mengambil dari ilmu para sufi pada bagian yang
murni dan jelas, misalnya ketaatan kepada Allah swt, cinta
kepada sesama makhluk, makrifat akan kekurangan yang ada
pada diri sendiri, mengetahui tipu muslihat dari setan dan
pencegahannya, serta perhatian mereka dalam meningkatkan
jiwa ke tingkat yang murni.
Disamping itu, menjauhi hal-hal yang menyimpang dan
terlampau berlebih-lebihan, sebagaimana diterangkan oleh
tokoh sufi yang terkenal, yaitu Al-Imam Al-Ghazali. Melalui
ulama ini, dapat kami ketahui tentang banyak hal, terutama
ilmu akhlak, penyakit jiwa dan pengobatannya.
TASAWUF DIANTARA PEMUJI DAN PENGELAK
Dr. Yusuf Al-Qardhawi
Pertanyaan:
Kapan lahir dan berkembangnya ilmu tasawuf, dan apa
pula keistimewaanya?
Apa alasan orang-orang yang menolaknya dan bagaimana
dalilnya bagi orang-orang yang memujinya?
Jawab:
Masalah tasawuf ini pernah dibahas, tetapi ada baiknya untuk
diulang kembali, sebab masalah ini amat penting untuk
menyatakan suatu hakikat dan kebenaran yang hilang di antara
orang-orang yang mencela dan memuji tasawuf tersebut secara
menyeluruh.
Dengan penjelasan yang lebih luas ini, sekiranya dapat
membuka tabir yang menyelimuti bagian yang cerah ini,
sebagai teladan bagi orang yang hendak meninjau ke arah itu,
misalnya ahli suluk yang berjalan ke arah Allah.
Di zaman para sahabat Nabi saw, kaum Muslimin serta
pengikutnya mempelajari tasawuf, agama Islam dan hukum-hukum
Islam secara keseluruhan, tanpa kecuali.
Tiada satu bagian pun yang tidak dipelajari dan
dipraktekkan, baik lahir maupun batin; urusan dunia maupun
akhirat; masalah pribadi maupun kemasyarakatan, bahkan
masalah yang ada hubungannya dengan penggunaan akal,
perkembangan jiwa dan jasmani, mendapat perhatian pula.
Timbulnya perubahan dan adanya kesulitan dalam kehidupan
baru yang dihadapinya adalah akibat pengaruh yang
ditimbulkan dari dalam dan luar. Dan juga adanya
bangsa-bangsa yang berbeda paham dan alirannya dalam
masyarakat yang semakin hari kian bertambah besar.
Dalam hal ini, terdapat orang-orang yang perhatiannya
dibatasi pada bagian akal, yaitu Ahlulkalam, Mu'tazilah. Ada
yang perhatiannya dibatasi pada bagian lahirnya (luarnya)
atau hukum-hukumnya saja, yaitu ahli fiqih. Ada pula
orang-orang yang perhatiannya pada materi dan foya-foya,
misalnya orang-orang kaya, dan sebagainya.
Maka, pada saat itu, timbullah orang-orang sufi yang
perhatiannya terbatas pada bagian ubudiah saja, terutama
pada bagian peningkatan dan penghayatan jiwa untuk
mendapatkan keridhaan Allah dan keselamatan dari
kemurkaan-Nya. Demi tercapainya tujuan tersebut, maka
diharuskan zuhud atau hidup sederhana dan mengurangi hawa
nafsu. Ini diambil dari pengertian syariat dan takwa kepada
Allah.
Disamping itu, kemudian timbul hal baru, yaitu cinta kepada
Allah (mahabatullah). Sebagaimana Siti Rabi'ah Al-Adawiyah,
Abu Yazid Al-Basthami, dan Sulaiman Ad-Darani, mereka adalah
tokoh-tokoh sufi. Mereka berpendapat sebagai berikut:
"Bahwa ketaatan dan kewajiban bukan karena takut
pada neraka, dan bukan keinginan akan surga dan
kenikmatannya, tetapi demi cintanya kepada Allah
dan mencari keridhaan-Nya, supaya dekat
dengan-Nya."
Dalam syairnya, Siti Rabi'ah Al-Adawiyah telah berkata:
"Semua orang yang menyembah Allah karena takut
akan neraka dan ingin menikmati surga. Kalau aku
tidak demikian, aku menyembah Allah, karena aku
cinta kepada Allah dan ingin ridhaNya."
Kemudian pandangan mereka itu berubah, dari pendidikan
akhlak dan latihan jiwa, berubah menjadi paham-paham baru
atas Islam yang menyimpang, yaitu filsafat; dan yang paling
menonjol ialah Al-Ghaulu bil Hulul wa Wahdatul-Wujud (paham
bersatunya hamba dengan Allah).
Paham ini juga yang dianut oleh Al-Hallaj, seorang tokoh
sufi, sehingga dihukum mati tahun 309 H. karena ia berkata,
"Saya adalah Tuhan."
Paham Hulul berarti Allah bersemayam di dalam makhluk-Nya,
sama dengan paham kaum Nasrani terhadap Isa Al-Masih.
Banyak di kalangan para sufi sendiri yang menolak paham
Al-Hallaj itu. Dan hal ini juga yang menyebabkan kemarahan
para fuqaha khususnya dan kaum Muslimin pada umumnya.
Filsafat ini sangat berbahaya, karena dapat menghilangkan
rasa tanggung jawab dan beranggapan bahwa semua manusia
sama, baik yang jahat maupun yang baik; dan yang bertauhid
maupun yang tidak, semua makhluk menjadi tempat bagi Tajalli
(kasyaf) Al-Haq, yaitu Allah.
Dalam keadaan yang demikian, tentu timbul asumsi yang
bermacam-macam, ada yang menilai masalah tasawuf tersebut
secara amat fanatik dengan memuji mereka dan menganggap
semua ajarannya itu baik sekali. Ada pula yang mencelanya,
menganggap semua ajaran mereka tidak benar, dan beranggapan
aliran tasawuf itu diambil dari agama Masehi, agama Budha,
dan lain-lainnya.
Secara obyektif bahwa tasawuf itu dapat dikatakan sebagai
berikut:
"Tasawuf ada dalam Islam dan mempunyai dasar yang
mendalam. Tidak dapat diingkari dan disembunyikan,
dapat dilihat dan dibaca dalam Al-Qur'an, Sunnah
Rasul saw. dan para sahabatnya yang mempunyai
sifat-sifat zuhud (tidak mau atau menjauhi
hubudunya), tidak suka hidup mewah, sebagaimana
sikap khalifah Umar r.a, Ali r.a, Abu Darda',
Salman Al-Farisi, Abu Dzar r.a. dan lainnya."
Banyak ayat Al-Qur'an yang menganjurkan agar mawas diri dari
godaan yang berupa kesenangan atau fitnah dunia.
Tetapi hendaknya selalu bergerak menuju ke jalan yang
diridhai oleh Allah swt. dan berlomba-lomba memohon ampunan
Allah swt, surga-Nya dan takutlah akan azab neraka.
Dalam Al-Qur,an dan hadis Nabi saw. juga telah diterangkan
mengenai cinta Allah kepada hamba-hamba-Nya dan cinta
hambaNya kepada Allah. Sebagaimana disebutkan dalam ayat
Al-Qur,an:
"Adapun orang-orang yang beriman cintanya sangat
besar kepada Allah ..." (Q.s. Al-Baqarah: 165).
"... Allah mencintai mereka dan mereka pun
mencintai-Nya ..." (Q.s. Al-Maidah: 54).
"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang
berjihad di jalan Allah dalam barisan yang teratur
(tidak tercerai-berai) ..." (Q.s. Ash-Shaff: 4).
Diterangkan pula dalam Al-Qur'an dan hadis mengenai masalah
zuhud, tawakal, tobat, syukur, sabar, yakin, takwa,
muraqabah (mawas diri), dan lain-lainnya dari maqam-maqam
yang suci dalam agama.
Tidak ada golongan lain yang memberi perhatian penuh dalam
menafsirkan, membahas dengan teliti dan terinci, serta
membagi segi-segi utamanya maqam ini selain para sufi.
Merekalah yang paling mahir dan mengetahui akan penyakit
jiwa, sifat-sifatnya dan kekurangan yang ada pada manusia,
mereka ini ahli dalam ilmu pendidikan yang dinamakan Suluk.
Tetapi, tasawuf tidak berhenti hingga di sini saja dalam
peranannya di masa permulaan, yaitu adanya kemauan dalam
melaksanakan akhlak yang luhur dan hakikat dari ibadat yang
murni semata untuk Allah swt. Sebagaimana dikatakan oleh
Al-Imam Ibnul Qayyim Al-Jauzi, yaitu: "Ilmu tasawuf itu,
kemudian akan meningkat ke bidang makrifat perkenalan,
setelah itu ke arah khasab ungkapan dan karunia Allah. Hal
ini diperoleh melalui pembersihan hati nurani.
Akhirnya, dengan ditingkatkannya hal-hal ini, timbullah
penyimpangan, tanpa dirasakan oleh sebagian ahli sufi."
Di antara yang tampak dari penyimpangan sebagian orang-orang
sufi adalah sebagai berikut:
1. Dijadikannya wijid (perasaan) dan ilham sebagai ukuran
untuk dasar pengetahuan dan lain-lain; juga dapat dijadikan
ukuran untuk membedakan antara yang benar dan salah.
Sehingga sebagian ada yang berkata, "Aku diberi tahu oleh
hati dari Tuhanku (Allah)."
Berbeda dengan ungkapan dari ahli sunnah bahwa apabila
mereka meriwayatkan ini dari si Fulan, si Fulan sampai
kepada Rasulullah saw.
2. Dibedakannya antara syariat dan hakikat, antara hukum
Islam dan yang bebas dari hukumnya.
3. Dikuasai oleh paham Jabariah dan Salabiah, sehingga dapat
mempengaruhi iman dan akidah mereka, dimana manusia mutlak
dikendalikannya. Maka tidak perlu lagi melawan dan selalu
bersikap pasif, tidak aktif.
Tidak dihargainya dunia dan perkembangannya. Apa yang ada di
dunia dianggapnya sepele, padahal ayat Al-Qur,an telah
menyatakan:
"... dan janganlah kamu melupakan akan nasibmu
(kebahagiaanmu) dari (kenikmatan) dunia ..."
(Q.s. Al-Qashash: 77).
Pikiran dan teori di atas telah tersebar dan dipraktekkan
dimana-mana, dengan dasar dan paham bahwa hal ini bagian
dari Islam, ditetapkan oleh Islam, dan ada sebagian,
terutama dari golongan intelektual, keduanya belum mengerti
benar akan hal itu karena tidak mempelajarinya.
Sekali lagi kita tandaskan, bahwa orang sufi dahulu, selalu
menyuruh jangan sampai menyimpang dari garis syariat dan
hukum-hukumnya.
Ibnul Qayyim berkata mengenai keterangan dari tokoh-tokoh
sufi, "Tokoh-tokoh sufi dan guru besar mereka, Al-Junaid bin
Muhammad (297 H.), berkata, 'Semua jalan tertutup bagi
manusia, kecuali jalan yang dilalui Nabi saw.'"
Al-Junaid pun berkata:
"Barangsiapa yang tidak hafal Al-Qur'an dan
menulis hadis-hadis Nabi saw. maka tidak boleh
dijadikan panutan dan ditiru, karena ilmu kita
(tasawuf) terikat pada kitab Al-Qur'an dan
As-Sunnah."
Abu Khafs berkata:
"Barangsiapa yang tidak menimbang amal dan segala
sesuatu dengan timbangan Al-Kitab dan As-Sunnah,
serta tidak menuduh perasaannya (tidak membenarkan
wijid-nya), maka mereka itu tidak termasuk
golongan kaum tasawuf."
Abu Yazid Al-Basthami berkata:
"Janganlah kamu menilai dan tertipu dengan
kekuatan-kekuatan yang luar biasa, tetapi yang
harus dinilai adalah ketaatan dan ketakwaan
seseorang pada agama dan syariat pelaksanaannya."
Kiranya keterangan yang paling tepat mengenai tasawuf dan
para sufi adalah sebagaimana yang diuraikan oleh Al-Imam
Ibnu Taimiyah dalam menjawab atas pertanyaan, "Bagaimana
pandangan ahli agama mengenai tasawuf?"
Ibnu Taimiyah memberi jawaban sebagai berikut,
"Pandangan orang dalam masalah tasawuf ada dua,
yaitu:
Sebagian termasuk ahli fiqih dan ilmu kalam
mencela dan menganggap para sufi itu ahli bid'ah
dan di luar Sunnah Nabi saw.
Sebagian lagi terlalu berlebih-lebihan dalam
memberikan pujian dan menganggap mereka paling
baik dan sempurna di antara manusia setelah Nabi
saw. Kedua-duanya tidak benar. Yang benar ialah
bahwa mereka ini sedang dalam usaha melakukan
pengabdian kepada Allah, sebagaimana usaha
orang-orang lain untuk menaati Allah swt. Dalam
kondisi yang prima di antara mereka, ada yang
cepat sampai dan dekat kepada Allah, orang-orang
ini dinamakan Minal muqarrabiin (orang-orang yang
terdekat dengan Allah), sesuai dengan ijtihadnya;
ada pula yang intensitas ketaatannya sedang-sedang
saja. Orang ini termasuk bagian kanan: Min
ashhaabilyamiin (orang-orang yang berada di antara
kedua sikap tadi)."
Di antara golongan itu ada yang salah, ada yang berdosa,
melakukan tobat, ada pula yang tetap tidak bertobat. Yang
lebih sesat lagi adalah orang-orang yang melakukan kezaliman
dan kemaksiatan, tetapi menganggap dirinya orang-orang sufi.
Masih banyak lagi dari ahli bid'ah dan golongan fasik yang
menganggap dirinya golongan tasawuf, yang ditolak dan tidak
diakui oleh tokoh-tokoh sufi yang benar dan terkenal.
Sebagaimana Al-Junaid dan lain-lainnya.
Wallaahu A'lam.
Indeks Islam | Indeks Qardhawi | Indeks Artikel | Tentang Pengarang
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Dr. Yusuf Al-Qardhawi
http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Fatawa/TasawufManusia.html
Pertanyaan:
Apa sebenarnya arti kata tasawuf hakikat dan hukumnya
menurut Islam?
Apakah benar di antara orang-orang ahli tasawuf ada yang
tersesat dan menyimpang?
Jawab:
Arti tasawuf dalam agama ialah memperdalam ke arah bagian
rohaniah, ubudiah, dan perhatiannya tercurah seputar
permasalahan itu.
Agama-agama di dunia ini banyak sekali yang menganut
berbagai macam tasawuf, di antaranya ada sebagian orang
India yang amat fakir. Mereka condong menyiksa diri sendiri
demi membersihkan jiwa dan meningkatkan amal ibadatnya.
Dalam agama Kristen terdapat aliran tasawuf khususnya bagi
para pendeta. Di Yunani muncul aliran Ruwagiyin. Di Persia
ada aliran yang bernama Mani'; dan di negeri-negeri lainnya
banyak aliran ekstrim di bidang rohaniah.
Kemudian Islam datang dengan membawa perimbangan yang paling
baik di antara kehidupan rohaniah dan jasmaniah serta
penggunaan akal.
Maka, insan itu sebagaimana digambarkan oleh agama, yaitu
terdiri dari tiga unsur: roh, akal dan jasad. Masing-masing
dari tiga unsur itu diberi hak sesuai dengan kebutuhannya.
Ketika Nabi saw. melihat salah satu sahabatnya
berlebih-lebihan dalam salah satu sisi, sahabat itu segera
ditegur. Sebagaimana yang terjadi pada Abdullah bin Amr bin
Ash. Ia berpuasa terus menerus tidak pernah berbuka,
sepanjang malam beribadat, tidak pernah tidur, serta
meninggalkan istri dan kewajibannya. Lalu Nabi saw.
menegurnya dengan sabdanya:
"Wahai Abdullah, sesungguhnya bagi dirimu ada hak (untuk
tidur), bagi istri dan keluargamu ada hak (untuk bergaul),
dan bagi jasadmu ada hak. Maka, masing-masing ada haknya."
Ketika sebagian dari para sahabat Nabi saw. bertanya kepada
istri-istri Rasul saw. mengenai ibadat beliau yang luar
biasa. Mereka (para istri Rasulullah) menjawab, "Kami amat
jauh daripada Nabi saw. yang dosanya telah diampuni oleh
Allah swt, baik dosa yang telah lampau maupun dosa yang
belum dilakukannya."
Kemudian salah seorang di antara mereka berkata, "Aku akan
beribadat sepanjang malam." Sedang yang lainnya mengatakan,
"Aku tidak akan menikah." Kemudian hal itu sampai terdengar
oleh Rasulullah saw, lalu mereka dipanggil dan Rasulullah
saw. berbicara di hadapan mereka.
Sabda beliau:
"Sesungguhnya aku ini lebih mengetahui daripada kamu akan
makrifat Allah dan aku lebih takut kepada-Nya daripada kamu;
tetapi aku bangun, tidur, berpuasa, berbuka, menikah, dan
sebagainya; semua itu adalah sunnah Barangsiapa yang tidak
senang dengan sunnahku ini, maka ia tidak termasuk
golonganku."
Karenanya, Islam melarang melakukan hal-hal yang
berlebih-lebihan dan mengharuskan mengisi tiap-tiap waktu
luang dengan hal-hal yang membawa manfaat, serta menghayati
setiap bagian dalam hidup ini.
Munculnya sufi-sufi di saat kaum Muslimin umumnya
terpengaruh pada dunia yang datang kepada mereka, dan
terbawa pada pola pikir yang mendasarkan semua masalah
dengan pertimbangan logika. Hal itu terjadi setelah masuknya
negara-negara lain di bawah kekuasaan mereka.
Berkembangnya ekonomi dan bertambahnya pendapatan
masyarakat, mengakibatkan mereka terseret jauh dari apa yang
dikehendaki oleh Islam yang sebenarnya (jauh dari tuntutan
Islam).
Iman dan ilmu agama menjadi falsafah dan ilmu kalam
(perdebatan); dan banyak dari ulama-ulama fiqih yang tidak
lagi memperhatikan hakikat dari segi ibadat rohani. Mereka
hanya memperhatikan dari segi lahirnya saja.
Sekarang ini, muncul golongan sufi yang dapat mengisi
kekosongan pada jiwa masyarakat dengan akhlak dan
sifat-sifat yang luhur serta ikhlas. Hakikat dari Islam dan
iman, semuanya hampir menjadi perhatian dan kegiatan dari
kaum sufi.
Mereka para tokoh sufi sangat berhati-hati dalam meniti
jalan di atas garis yang telah ditetapkan oleh Al-Qur,an dan
As-Sunnah. Bersih dari berbagai pikiran dan praktek yang
menyimpang, baik dalam ibadat atau pikirannya.
Banyak orang yang masuk Islam karena pengaruh mereka, banyak
orang yang durhaka dan lalim kembali bertobat karena jasa
mereka. Dan tidak sedikit yang mewariskan pada dunia Islam,
yang berupa kekayaan besar dari peradaban dan ilmu, terutama
di bidang makrifat, akhlak dan pengalaman-pengalaman di alam
rohani, semua itu tidak dapat diingkari.
Tetapi, banyak pula di antara orang-orang sufi itu terlampau
mendalami tasawuf hingga ada yang menyimpang dari jalan yang
lurus dan mempraktekkan teori di luar Islam, ini yang
dinamakan Sathahat orang-orang sufi; atau perasaan yang
halus dijadikan sumber hukum mereka.
Pandangan mereka dalam masalah pendidikan, di antaranya
ialah seorang murid di hadapan gurunya harus tunduk patuh
ibarat mayat di tengah-tengah orang yang memandikannya.
Banyak dari golongan Ahlus Sunnah dan ulama salaf yang
menjalankan tasawuf, sebagaimana diajarkan oleh Al-Qur'an;
dan banyak pula yang berusaha meluruskan dan
mempertimbangkannya dengan timbangan Al-Qur'an dan
As-Sunnah. Di antaranya ialah Al-Imam Ibnul Qayyim yang
menulis sebuah buku yang berjudul: "Madaarijus-Saalikin ilaa
Manaazilus-Saairiin," yang artinya "Tangga bagi Perjalanan
Menuju ke Tempat Tujuan." Dalam buku tersebut diterangkan
mengenai ilmu tasawuf, terutama di bidang akhlak,
sebagaimana buku kecil karangan Syaikhul Islam Ismail
Al-Harawi Al-Hanbali, yang menafsirkan dari Surat
Al-Fatihah, "Iyyaaka na'budu waiyyaaka nastaiin."
Kitab tersebut adalah kitab yang paling baik bagi pembaca
yang ingin mengetahui masalah tasawuf secara mendalam.
Sesungguhnya, tiap-tiap manusia boleh memakai pandangannya
dan boleh tidak memakainya, kecuali ketetapan dan
hukum-hukum dari kitab Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah saw.
Kita dapat mengambil dari ilmu para sufi pada bagian yang
murni dan jelas, misalnya ketaatan kepada Allah swt, cinta
kepada sesama makhluk, makrifat akan kekurangan yang ada
pada diri sendiri, mengetahui tipu muslihat dari setan dan
pencegahannya, serta perhatian mereka dalam meningkatkan
jiwa ke tingkat yang murni.
Disamping itu, menjauhi hal-hal yang menyimpang dan
terlampau berlebih-lebihan, sebagaimana diterangkan oleh
tokoh sufi yang terkenal, yaitu Al-Imam Al-Ghazali. Melalui
ulama ini, dapat kami ketahui tentang banyak hal, terutama
ilmu akhlak, penyakit jiwa dan pengobatannya.
TASAWUF DIANTARA PEMUJI DAN PENGELAK
Dr. Yusuf Al-Qardhawi
Pertanyaan:
Kapan lahir dan berkembangnya ilmu tasawuf, dan apa
pula keistimewaanya?
Apa alasan orang-orang yang menolaknya dan bagaimana
dalilnya bagi orang-orang yang memujinya?
Jawab:
Masalah tasawuf ini pernah dibahas, tetapi ada baiknya untuk
diulang kembali, sebab masalah ini amat penting untuk
menyatakan suatu hakikat dan kebenaran yang hilang di antara
orang-orang yang mencela dan memuji tasawuf tersebut secara
menyeluruh.
Dengan penjelasan yang lebih luas ini, sekiranya dapat
membuka tabir yang menyelimuti bagian yang cerah ini,
sebagai teladan bagi orang yang hendak meninjau ke arah itu,
misalnya ahli suluk yang berjalan ke arah Allah.
Di zaman para sahabat Nabi saw, kaum Muslimin serta
pengikutnya mempelajari tasawuf, agama Islam dan hukum-hukum
Islam secara keseluruhan, tanpa kecuali.
Tiada satu bagian pun yang tidak dipelajari dan
dipraktekkan, baik lahir maupun batin; urusan dunia maupun
akhirat; masalah pribadi maupun kemasyarakatan, bahkan
masalah yang ada hubungannya dengan penggunaan akal,
perkembangan jiwa dan jasmani, mendapat perhatian pula.
Timbulnya perubahan dan adanya kesulitan dalam kehidupan
baru yang dihadapinya adalah akibat pengaruh yang
ditimbulkan dari dalam dan luar. Dan juga adanya
bangsa-bangsa yang berbeda paham dan alirannya dalam
masyarakat yang semakin hari kian bertambah besar.
Dalam hal ini, terdapat orang-orang yang perhatiannya
dibatasi pada bagian akal, yaitu Ahlulkalam, Mu'tazilah. Ada
yang perhatiannya dibatasi pada bagian lahirnya (luarnya)
atau hukum-hukumnya saja, yaitu ahli fiqih. Ada pula
orang-orang yang perhatiannya pada materi dan foya-foya,
misalnya orang-orang kaya, dan sebagainya.
Maka, pada saat itu, timbullah orang-orang sufi yang
perhatiannya terbatas pada bagian ubudiah saja, terutama
pada bagian peningkatan dan penghayatan jiwa untuk
mendapatkan keridhaan Allah dan keselamatan dari
kemurkaan-Nya. Demi tercapainya tujuan tersebut, maka
diharuskan zuhud atau hidup sederhana dan mengurangi hawa
nafsu. Ini diambil dari pengertian syariat dan takwa kepada
Allah.
Disamping itu, kemudian timbul hal baru, yaitu cinta kepada
Allah (mahabatullah). Sebagaimana Siti Rabi'ah Al-Adawiyah,
Abu Yazid Al-Basthami, dan Sulaiman Ad-Darani, mereka adalah
tokoh-tokoh sufi. Mereka berpendapat sebagai berikut:
"Bahwa ketaatan dan kewajiban bukan karena takut
pada neraka, dan bukan keinginan akan surga dan
kenikmatannya, tetapi demi cintanya kepada Allah
dan mencari keridhaan-Nya, supaya dekat
dengan-Nya."
Dalam syairnya, Siti Rabi'ah Al-Adawiyah telah berkata:
"Semua orang yang menyembah Allah karena takut
akan neraka dan ingin menikmati surga. Kalau aku
tidak demikian, aku menyembah Allah, karena aku
cinta kepada Allah dan ingin ridhaNya."
Kemudian pandangan mereka itu berubah, dari pendidikan
akhlak dan latihan jiwa, berubah menjadi paham-paham baru
atas Islam yang menyimpang, yaitu filsafat; dan yang paling
menonjol ialah Al-Ghaulu bil Hulul wa Wahdatul-Wujud (paham
bersatunya hamba dengan Allah).
Paham ini juga yang dianut oleh Al-Hallaj, seorang tokoh
sufi, sehingga dihukum mati tahun 309 H. karena ia berkata,
"Saya adalah Tuhan."
Paham Hulul berarti Allah bersemayam di dalam makhluk-Nya,
sama dengan paham kaum Nasrani terhadap Isa Al-Masih.
Banyak di kalangan para sufi sendiri yang menolak paham
Al-Hallaj itu. Dan hal ini juga yang menyebabkan kemarahan
para fuqaha khususnya dan kaum Muslimin pada umumnya.
Filsafat ini sangat berbahaya, karena dapat menghilangkan
rasa tanggung jawab dan beranggapan bahwa semua manusia
sama, baik yang jahat maupun yang baik; dan yang bertauhid
maupun yang tidak, semua makhluk menjadi tempat bagi Tajalli
(kasyaf) Al-Haq, yaitu Allah.
Dalam keadaan yang demikian, tentu timbul asumsi yang
bermacam-macam, ada yang menilai masalah tasawuf tersebut
secara amat fanatik dengan memuji mereka dan menganggap
semua ajarannya itu baik sekali. Ada pula yang mencelanya,
menganggap semua ajaran mereka tidak benar, dan beranggapan
aliran tasawuf itu diambil dari agama Masehi, agama Budha,
dan lain-lainnya.
Secara obyektif bahwa tasawuf itu dapat dikatakan sebagai
berikut:
"Tasawuf ada dalam Islam dan mempunyai dasar yang
mendalam. Tidak dapat diingkari dan disembunyikan,
dapat dilihat dan dibaca dalam Al-Qur'an, Sunnah
Rasul saw. dan para sahabatnya yang mempunyai
sifat-sifat zuhud (tidak mau atau menjauhi
hubudunya), tidak suka hidup mewah, sebagaimana
sikap khalifah Umar r.a, Ali r.a, Abu Darda',
Salman Al-Farisi, Abu Dzar r.a. dan lainnya."
Banyak ayat Al-Qur'an yang menganjurkan agar mawas diri dari
godaan yang berupa kesenangan atau fitnah dunia.
Tetapi hendaknya selalu bergerak menuju ke jalan yang
diridhai oleh Allah swt. dan berlomba-lomba memohon ampunan
Allah swt, surga-Nya dan takutlah akan azab neraka.
Dalam Al-Qur,an dan hadis Nabi saw. juga telah diterangkan
mengenai cinta Allah kepada hamba-hamba-Nya dan cinta
hambaNya kepada Allah. Sebagaimana disebutkan dalam ayat
Al-Qur,an:
"Adapun orang-orang yang beriman cintanya sangat
besar kepada Allah ..." (Q.s. Al-Baqarah: 165).
"... Allah mencintai mereka dan mereka pun
mencintai-Nya ..." (Q.s. Al-Maidah: 54).
"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang
berjihad di jalan Allah dalam barisan yang teratur
(tidak tercerai-berai) ..." (Q.s. Ash-Shaff: 4).
Diterangkan pula dalam Al-Qur'an dan hadis mengenai masalah
zuhud, tawakal, tobat, syukur, sabar, yakin, takwa,
muraqabah (mawas diri), dan lain-lainnya dari maqam-maqam
yang suci dalam agama.
Tidak ada golongan lain yang memberi perhatian penuh dalam
menafsirkan, membahas dengan teliti dan terinci, serta
membagi segi-segi utamanya maqam ini selain para sufi.
Merekalah yang paling mahir dan mengetahui akan penyakit
jiwa, sifat-sifatnya dan kekurangan yang ada pada manusia,
mereka ini ahli dalam ilmu pendidikan yang dinamakan Suluk.
Tetapi, tasawuf tidak berhenti hingga di sini saja dalam
peranannya di masa permulaan, yaitu adanya kemauan dalam
melaksanakan akhlak yang luhur dan hakikat dari ibadat yang
murni semata untuk Allah swt. Sebagaimana dikatakan oleh
Al-Imam Ibnul Qayyim Al-Jauzi, yaitu: "Ilmu tasawuf itu,
kemudian akan meningkat ke bidang makrifat perkenalan,
setelah itu ke arah khasab ungkapan dan karunia Allah. Hal
ini diperoleh melalui pembersihan hati nurani.
Akhirnya, dengan ditingkatkannya hal-hal ini, timbullah
penyimpangan, tanpa dirasakan oleh sebagian ahli sufi."
Di antara yang tampak dari penyimpangan sebagian orang-orang
sufi adalah sebagai berikut:
1. Dijadikannya wijid (perasaan) dan ilham sebagai ukuran
untuk dasar pengetahuan dan lain-lain; juga dapat dijadikan
ukuran untuk membedakan antara yang benar dan salah.
Sehingga sebagian ada yang berkata, "Aku diberi tahu oleh
hati dari Tuhanku (Allah)."
Berbeda dengan ungkapan dari ahli sunnah bahwa apabila
mereka meriwayatkan ini dari si Fulan, si Fulan sampai
kepada Rasulullah saw.
2. Dibedakannya antara syariat dan hakikat, antara hukum
Islam dan yang bebas dari hukumnya.
3. Dikuasai oleh paham Jabariah dan Salabiah, sehingga dapat
mempengaruhi iman dan akidah mereka, dimana manusia mutlak
dikendalikannya. Maka tidak perlu lagi melawan dan selalu
bersikap pasif, tidak aktif.
Tidak dihargainya dunia dan perkembangannya. Apa yang ada di
dunia dianggapnya sepele, padahal ayat Al-Qur,an telah
menyatakan:
"... dan janganlah kamu melupakan akan nasibmu
(kebahagiaanmu) dari (kenikmatan) dunia ..."
(Q.s. Al-Qashash: 77).
Pikiran dan teori di atas telah tersebar dan dipraktekkan
dimana-mana, dengan dasar dan paham bahwa hal ini bagian
dari Islam, ditetapkan oleh Islam, dan ada sebagian,
terutama dari golongan intelektual, keduanya belum mengerti
benar akan hal itu karena tidak mempelajarinya.
Sekali lagi kita tandaskan, bahwa orang sufi dahulu, selalu
menyuruh jangan sampai menyimpang dari garis syariat dan
hukum-hukumnya.
Ibnul Qayyim berkata mengenai keterangan dari tokoh-tokoh
sufi, "Tokoh-tokoh sufi dan guru besar mereka, Al-Junaid bin
Muhammad (297 H.), berkata, 'Semua jalan tertutup bagi
manusia, kecuali jalan yang dilalui Nabi saw.'"
Al-Junaid pun berkata:
"Barangsiapa yang tidak hafal Al-Qur'an dan
menulis hadis-hadis Nabi saw. maka tidak boleh
dijadikan panutan dan ditiru, karena ilmu kita
(tasawuf) terikat pada kitab Al-Qur'an dan
As-Sunnah."
Abu Khafs berkata:
"Barangsiapa yang tidak menimbang amal dan segala
sesuatu dengan timbangan Al-Kitab dan As-Sunnah,
serta tidak menuduh perasaannya (tidak membenarkan
wijid-nya), maka mereka itu tidak termasuk
golongan kaum tasawuf."
Abu Yazid Al-Basthami berkata:
"Janganlah kamu menilai dan tertipu dengan
kekuatan-kekuatan yang luar biasa, tetapi yang
harus dinilai adalah ketaatan dan ketakwaan
seseorang pada agama dan syariat pelaksanaannya."
Kiranya keterangan yang paling tepat mengenai tasawuf dan
para sufi adalah sebagaimana yang diuraikan oleh Al-Imam
Ibnu Taimiyah dalam menjawab atas pertanyaan, "Bagaimana
pandangan ahli agama mengenai tasawuf?"
Ibnu Taimiyah memberi jawaban sebagai berikut,
"Pandangan orang dalam masalah tasawuf ada dua,
yaitu:
Sebagian termasuk ahli fiqih dan ilmu kalam
mencela dan menganggap para sufi itu ahli bid'ah
dan di luar Sunnah Nabi saw.
Sebagian lagi terlalu berlebih-lebihan dalam
memberikan pujian dan menganggap mereka paling
baik dan sempurna di antara manusia setelah Nabi
saw. Kedua-duanya tidak benar. Yang benar ialah
bahwa mereka ini sedang dalam usaha melakukan
pengabdian kepada Allah, sebagaimana usaha
orang-orang lain untuk menaati Allah swt. Dalam
kondisi yang prima di antara mereka, ada yang
cepat sampai dan dekat kepada Allah, orang-orang
ini dinamakan Minal muqarrabiin (orang-orang yang
terdekat dengan Allah), sesuai dengan ijtihadnya;
ada pula yang intensitas ketaatannya sedang-sedang
saja. Orang ini termasuk bagian kanan: Min
ashhaabilyamiin (orang-orang yang berada di antara
kedua sikap tadi)."
Di antara golongan itu ada yang salah, ada yang berdosa,
melakukan tobat, ada pula yang tetap tidak bertobat. Yang
lebih sesat lagi adalah orang-orang yang melakukan kezaliman
dan kemaksiatan, tetapi menganggap dirinya orang-orang sufi.
Masih banyak lagi dari ahli bid'ah dan golongan fasik yang
menganggap dirinya golongan tasawuf, yang ditolak dan tidak
diakui oleh tokoh-tokoh sufi yang benar dan terkenal.
Sebagaimana Al-Junaid dan lain-lainnya.
Wallaahu A'lam.
Artikel Dr. Yusuf Qardhawi
ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
http://www.pengobatan.com/kerejekian/rahasia_kerejekian.html
RENUNGAN :
KEBAHAGIAAN DALAM PERKAWINAN
2. Jangan berteriak satu kepada yang lain kecuali rumah sedang terbakar.
3. Jika ada satu orang yang harus menang dalam perselisihan, maka biarlah partner Anda yang menang.
4. Jika harus mengkritik partner anda maka hanya boleh dilakukan dengan sikap kasih.
5. Jangan menggali kembali kesalahan2 pada masa yang telah lampau.
6. Lebih baik tidak memberi waktu kepada orang lain, daripada tidak memberi waktu kepada partner Anda.
7. Jangan tidur jika masih ada perselisihan yang belum selesai.
8. Berkatalah sesuatu yang manis atau pujian kepada partner Anda sekuarang2nya sekali sehari.
9. Jika berbuat sesuatu yang salah, akuilah kesalahan itu dan minta maaf.
10. Jangan lupa perselisihan memerlukan dua orang, dan biasanya yang salah adalah orang yang paling banyak bicara.
* Anda dan partner harus menyadari bahwa perselisihan dalam keluarga adalah hal biasa, bagaimana cara menyikapinya dengan sebaik2nya dengan partner Anda dan selalu berusaha mencari jalan keluar yang terbaik, agar jangan sampai ada penyesalan dikemudian hari....
Senin, 18 Juni 2012
Wajah RSBI di Daerah Saya
http://edukasi.kompasiana.com/2012/06/19/wajah-rsbi-di-daerah-saya/
A. Dardiri Zubairi
Seandainya pagi tadi [jam 06.25] saya tidak nelpon teman saya yang kebetulan menjadi salah seorang anggota Dewan Pendidikan Kabupaten [DPK], pasti saya tidak akan tahu bahwa Rintisan Sekolah Bertar[i]af Internasiol [RSB] itu memberatkan APBD dan juga menyiman banyak masalah. Makin yakin saya, RSBI yang memang sudah banyak yang menolak, kehadirannya makin kontroversial. Penting kemendikbud meseriusi untuk ditutup saja.
Saya menelpon teman saya sebenarnya untuk keperluan mengundangnya dalam acara pelatihan. Ia bilang tidak bisa, karena dalam 1 minggu ini ia bersama anggota DPK lainnya sedang melakukan monitoring di 2 RSBI di [satu SMP, satu SMA] daerah kami. Menurutnya, banyak kabar RSBI dalam menerima siswa baru mengeluarkan kebijakan yang tidak bisa dibenarkan.
Salah satu RSBI, misalnya, atas dasar kesepakatan bersama komite sekolah menentukan SPP perbulan 250 ribu. Belum lagi uang masuknya yang pasti tinggi. Menurut teman saya, DPK sekarang melakukan monitoring apakah benar keputusan itu diambil atas dasar kesepakatan suka rela dengan Komite Sekolah? termasuk DPK juga melakukan monitoring terhadap kemungkinan adanya pungutan dan permainan dalam penerimaan siswa baru.
Saya makin kaget ketika teman saya memberi informasi bahwa RSBI memperoleh dana pendampingan 500 juta dari APBD. Kalau 2 RSBI berarti 1 milyar tiap tahunnya. Belum lagi dana pendampingan dari APBN. Betul, bahwa dana pendampingan APBD untuk –mungkin—RSBI diperoleh dari dana dari perimbangan pusat. Tetapi masalahnya, bukankah hal ini membebani dana 20% untuk pendidikan? Pada hal, di kabupaten saya banyak infra struktur pendidikan yang sampai saat ini masih belum terselesaikan.
Satu lagi, soal anak miskin masuk RSBI. Dalam pidato Bupati seringkali dengan manis mengatakan bahwa RSBI harus menerima 20% anak miskin dari total jumlah siswa baru yang diterima dan dananya akan ditanggung APBD. Faktanya, di satu RSBI dari total 60 bangku yang disediakan untuk siswa miskin, baru ada 15 orang yang mendaftar. Di sini, kata teman saya, kemungkinan RSBI tidak pernah mesosialisasikan bahwa ada hak 20% bagi siswa miskin diterima di RSBI.
Nah, berapa APBD di daerah saya menganggarkan untuk 20% anak miskin yang diterima di RSBI? Pemerintah Daerah menganggarkan 250 juta untuk 60 orang di satu RSBI. Karena ada 2 RSBI, berarti APBD menggarkan 500 juta untuk 120 siswa di tingkat SMP dan SMA.
Nah, berarti dari APBD untuk 2 RSBI di kabupaten saya mengeluarkan 1,5 milyar tiap tahuannya. Satu angka yang sangat fantastis dan gemerlap di saat infrasturktur pendidikan di sekolah-sekolah pinggiran masih banyak yang rusak.
Tentang kualitas RSBI? Saya tidak tahu. Tetapi tahun kemarin [2011] ketika rombongan Bupati melakukan sidak di salah satu RSBI, muridnya ketahuan bawa HP ketika ujian sedang berlangsung [baca: surabayapost.co.id] . Berita itu menjadi HL di media-media lokal. Sementara pada UN tahun ini, siswa SD terpaksa mengikuti UN di bekas kandang ayam, karena tanah lokasi SD masih menjadi sengketa [nuonline].
Dalam pendidikan, memang ada anak singkong dan anak keju[?].
Matorsakalangkong
Sumenep, 19 juni 2012
http://heniroadvertisingandpublishing.blogspot.com
http://heniroadvertisingandpublishing.blogspot.com/2012/03/manfaat-buku-untuk-kesehatan
Cuplikan Date 14(Novelet in Triangle Love)
Cuplikan Nyanyian Dua Hati(novelet di Triangle Love)
Langganan:
Postingan (Atom)
Sakramen Ekaristi: Sumber dan Puncak Hidup Katolik (sharing pemahaman pribadi seorang awam Katolik)
Sakramen Ekaristi: Sumber dan Puncak Hidup Katolik (sharing pemahaman pribadi seorang awam Katolik) Sakramen Ekaristi adalah salah...
-
Gendhing Jawa - Javanese Gamelan Notation New notation website new! Pélog Lima Pélog Nem Pélog Barang Sléndro Nem Sléndro Sanga Sl...











KOMENTAR TERAKHIR